Cerita ringan dari kaum eksil. Tetapi nampaknya tidak seringan itu jika menilik detil jalan mereka hingga sampai ke sebrang. Soal lama yang tak kunjung tuntas. Cerita Sobron menuntaskannya dengan senyum.
Kisah hidup yang sulit tapi mengajarkan untuk tidak menyerah begitu saja pada situasi. Gaya tulisannya unik, seperti membaca diari yang begitu personal.
Baca tulisan Sobron Aidit, apapun itu, selalu ninggalin satu kesan yang nggak bisa berubah sampai detik ini. Kesan kalau seakan-akan bisa dengar cerita yang dia tulis, langsung dari orangnya. Bahasanya kayak orang ngomong face-to-face.
Mulai dari cerita hidupnya di Tiongkok, jadi pencari suaka politik ke Perancis, suka-duka buka restoran di Perancis, diikuti intel selama liburan di Indonesia, semuanya. Salut, sih, sama konsistensi tulisannya.
Cantik sekali gaya bahasa dan pembawaan pak sobron, sangat jenaka dan enak dibaca. melalui pengalaman bapak dalam menjalankan restoran, berlibur ke Indonesia dan beberapa pengalaman tidak mengenakkan menjadi eksil menjadi pembuka wawasan saya bagaimana eksil sebenarnya. tulisannya enak dan mudah dicerna seakan akan diajak bicara langsung terhadap beliau, salah satu buku yang saya syukuri dibaca tahun ini.
Sobron Aidit, as an exile himself, managed to show us how hard it is to live in exile. To be away from the land that (even after what they did to him) he still loves so much.