What do you think?
Rate this book


146 pages, Paperback
First published January 1, 2012
Kata Bapak, perempuan yang tidak bisa melahirkan bayi lelaki adalah perempuan sial! Hidup tanpa keturunan lelaki, kiamat! Hidup itu sudah mati tanpa lelaki! Dan si tolol itu percaya. Sipleg tidak bisa menghitung berapa puluh bayi yang dilahirkan mati! Hanya untuk mendapatkan bayi lelaki, perempuan itu membiarkan tubuhnya dititipi daging terus-menerus. Daging yang memakan isi tubuhnya.
(Halaman 60, dalam cerita pendek "Sipleg")
Semua perempuan kampung itu terus bicara. Sipleg hanya diam. Berpikir, apakah perempuan-perempuan hanya bisa bergosip? Ingin tahu semua urusan orang dan bersorak girang atas bencana yang dialami oleh perempuan lain, termasuk dirinya? Apakah perempuan-perempuan itu juga punya perhatian serius pada hidupnya? Hidup seorang perempuan kecil. Sipleg mengigit bibir. Aku juga seorang perempuan! Sama seperti mereka.
(Halaman 64, dalam cerita pendek "Sipleg")
Terlalu banyak jejak tertinggal. Terlalu banyak kebohongan-kebohongan yang terus meluncur di rumah kami. Lelakiku pun menjadi sangat kasar. Kata-kata kotor, fuck you, bangsat, dan berbagai makian lain berhamburan dari bibirnya. Aku ingin membunuhnya! Perempuan itu benar-benar telah mencuci otak dan pikirannya. Aku ingin bertemu dengan perempuan itu! Setiap mengingat sejoli malam itu aku mengigil. Tubuhku tidak lagi mengeluarkan keringat, tetapi api. Api yang siap membakar siapa saja yang mencoba mendekatiku. Yang pasti. Aku luka dan berdarah! Aku tak lagi bisa menangis, mengeluarkan air mata atau air mata darah. Tidak! Air mataku, belatung!
(Halaman 115, dalam cerita pendek "Tiga Perempuan")
"Hidup itu, Geg, harus dilawan. Kalau kita lembek, hidup akan melumat kita. Menelan kita hidup-hidup. Kalau kita kuat, hidup akan berpikir-pikir dulu sebelum memakan kita. Dia takut, ha ha ha." Tawanya terasa getir. Aku terdiam.
(Halaman 141, dalam cerita pendek "Tiga Perempuan")
"Kamu kan nggak pernah beranak, tidak heran tubuhmu indah. Kamu bisa menghabiskan banyak waktu untuk merawat tubuh. Gaji di kantor besar. Rumah ada. Mobil ada. Kurang apa?" Aku terdiam. Setiap sahabatku berkata dengan penuh nada iri pada kehidupan yang sedang kunikmati. Apakah aku bahagia dengan kelajanganku? Aku juga pernah bertanya pada karibku itu, "Apakah perkawinan membuatmu bahagia?"
(Halaman 47, dalam cerita pendek "Pastu")
Selama ini Cok Ratih terus-menerus berusaha menyembuhkan lukaku. Katanya, kehidupan perempuan baru disebut sempurna jika sudah kawin. Perkawinan membuat perempuan sadar arti menjadi istri, juga arti menjadi ibu. Tapi kalau nyatanya kawin malah bikin susah dan rumit, apakah perkawinan masih bisa dijadikan alasan bahwa pohon kebahagiaan itu hanya bisa ditemukan di dalam rumah perkawinan?
(Halaman 55, dalam cerita pendek "Pastu")
Aku menarik napas. Kelak akan kuceritakan dongeng "hikayat menjadi perempuan" pada anak perempuanku Jasmine. Bahwa seorang perempuan harus tumbuh jadi pribadi yang mandiri. Baik fisik maupun material. Jadi, kalau kelak perkawinannya runtuh, dia tetap memiliki income untuk melanjutkan kehidupannya. Perempuan tidak boleh berhenti bekerja.
(Halaman 147-148, dalam cerita pendek "Tiga Perempuan")