Jump to ratings and reviews
Rate this book

Three Old Sundanese Poems

Rate this book
Preserved on undated palm-leaf manuscripts, Old Sundanese texts are generally in poor condition and unavailable to a wider audience. There are limited texts in any form of Sundanese, and only limited knowledge of Old Sundanese. In presenting three long Old Sundanese poems, Noorduyn and Teeuw, in a heretofore unequalled English-language study of Old Sundanese literature, bring to the light works of importance for further linguistic, literary and historical research.
The three poems, The Sons of Rama and Rawana , The ascension of Sri Ajnyana and The story of Bujangga A pilgrim's progress were undiscovered before this book. The first two were found in a nineteenth-century manuscript collection of the former Batavian Society and are now in the National Library of Indonesia in Jakarta, while the third was donated to the Bodleian Library in Oxford as early as 1627, though it was not identified as an Old Sundanese poem until the 1950s.

Paperback

First published January 1, 2006

41 people want to read

About the author

J. Noorduyn

7 books1 follower
Jacobus (Koos) Noorduyn

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
10 (58%)
4 stars
6 (35%)
3 stars
1 (5%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for ukuklele.
465 reviews21 followers
October 29, 2024
Buku ini menelaah tiga naskah puisi Sunda Kuna dari abad ke-16, yaitu Para Putera Rama dan Rawana, Pendakian Sri Ajnyana, dan Kisah Bujangga Manik: Jejak Langkah Peziarah. Isinya bukan hanya transkripsi dan translasi melainkan juga interpretasi mengenai masyarakat Sunda Kuna.

Bab 1, "Pendahuluan", mengenai proses dalam mendapatkan naskah dan mencoba untuk memahami artinya dengan penomoran, penyusunan, dan seterusnya. Ada pula latar mengenai Noorduyn yang awalnya ditugaskan untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa daerah Sulawesi. Hanya saja karena situasi politik yang tidak aman, ia dipindahkan ke Jawa Barat untuk merevisi Alkitab terjemahan Sunda, dan entah bagaimana (saya kurang menangkap) sampai ke naskah-naskah kuno sebagaimana dipaparkan dalam buku ini. Sepertinya karena dalam tugasnya itu ia harus mengumpulkan bahan mengenai bahasa tersebut sebanyak-banyaknya maka naskah ini ditemukan, dan sudah tugasya sebagai peneliti untuk menyelidikinya.

Bab 2, "Bentuk Bahasa dan Puisi", mengenai pola kata dalam naskah, diperbandingkan dengan bahasa Sunda Modern, Jawa Kuna, Melayu, dan Jawa Modern, yaitu bahasa-bahasa yang berdekatan. Didapatkan kesimpulan bahwa perbedaan antara bahasa Sunda Kuna dan Sunda Modern jauh lebih kecil ketimbang perbedaan antara bahasa Jawa Kuna dan Jawa Modern. (Artinya, tidak banyak perubahan dalam bahasa Sunda daripada Jawa?)

Bab 3, "Isi dan Analisis", adalah bab yang paling mudah diikuti sebab membeberkan rangkuman cerita dalam naskah.

Para Putera Rama dan Rawana

Cerita menyangkut putra-putra Rama ini rupanya saya sudah pernah baca di Lawa dan Kusya karangan Djokolelono. Cerita ini memiliki variasi. Dalam naskah Sunda Kuna yang dibahas di buku ini, nama putra-putra Rama adalah Bujanggalawa dan Puspalawa, lalu mereka bertarung dengan putra-putra Rawana, yaitu Manabaya dan Megananda. Sedangkan dalam buku Djokolelono, nama mereka adalah Lawa dan Kusya, ceritanya pun hanya sampai pertemuan dengan sang ayah, Sri Rama.

Pendakian Sri Ajnyana

Cerita ini mengingatkan pada kisah nabi-nabi serta mengandung tema pergulatan spiritual manusia untuk membebaskan diri dari hasrat-hasrat duniawi, menyucikan diri dari dosa.

Kemiripannya dengan kisah nabi yang pertama-tama adalah dengan Nabi Adam. Baik Sri Ajnyana maupun Nabi Adam sama-sama harus turun dari langit (kahyangan/surga) ke bumi karena telah berbuat suatu kesalahan. Kemudian dengan kisah Nabi Muhammad, persisnya kejadian Isra Mikraj, ketika Sri Ajnyana mengunjungi berbagai-bagai jenis kahyangan dan menemui sosok-sosok langit (sebagaimana Nabi Muhammad berjumpa nabi-nabi lain).

Apakah cerita ini memang terpengaruh oleh ajaran Islam yang mulai masuk ke sana? Toh ditemukan kata "Meukah" yang sepertinya merujuk ke Makkah yang itu. Selain itu ada "lima cara suci" yang serta-merta mengingatkan pada rukun Islam (halaman 155). Mungkinkah naskah ini menginterpretasikan ajaran Islam yang baru masuk itu menurut kepercayaan lama?

Betapapun terasa ada kemiripan dengan ajaran Islam, dalam analisis dikatakan bahwa kepercayaan dalam cerita ini sesungguhnya berasal dari ajaran Syiwaisme, Buddha, serta kepercayaan lokal pra-Hindu, di antaranya bahwa manusia pada dasarnya jahat dan kehidupan di dunia pada dasarnya adalah samudra penderitaan. Sedangkan menurut Islam, manusia diciptakan bukan sebagai perusak belaka--sebagaimana yang mula-mula diasumsikan malaikat--melainkan juga dengan potensi berbuat kebaikan.

Maka baik cerita putra-putra Rama maupun Sri Ajnyana seperti pelokalan dari kepercayaan impor, mungkin sebagaimana penulis Indonesia sekarang mengarang dalam pengaruh sastra Barat atau Jepang, misalkan, disesuaikan dengan konteks lokal.

Kisah Bujangga Manik: Jejak Langkah Peziarah

Cerita ini, kalau dalam bahasa sekarang, ibarat travel vlog oleh Bujangga Manik, sejenis sigma male abad 15 yang lebih terpikat pada perahu daripada perempuan, memutus generational trauma dengan orang tua (ibu dan nenek) yang toxic, selalu menghindari keramaian dan tidak menyukai small talk, berkelana untuk bertapa dari satu tempat ke tempat lain, hingga moksanya.

Namun, bukan hanya wanita yang dihadapi oleh Bujangga Manik sebagai ujian. Dia melihat dirinya sendiri sebagai orang kasar dan mudah naik darah yang menghindari orang banyak sebisa mungkin dan selalu mencari ketenangan dan kesendirian. Bahkan pada permulaan teks ini pun dia secara ketus menimpali pertanyaan orang-orang di jalan yang penasaran dan melontarkan padanya pertanyaan yang amat khas dikemukakan oleh orang Indonesia manakala hendak memulai percakapan: 'hendak ke mana?' Dia menjawab: 'aku tak mau menjawab pertanyaan itu'. (halaman 191 atau 204/569)


Seandainya hidup pada zaman sekarang, mungkin Bujangga Manik bakal terus-terusan menatap layar smartphone dengan memakai headphone untuk menangkal keisengan orang kepo. Saya yakin banyak di antara generasi sekarang yang bakal merasa relate dengan Bujangga Manik :v

Tokoh utama cerita ini adalah Einzelgänger sejati, yang menempuh caranya sendiri dan benar-benar mengetahui apa yang harus dia lakukan demi mencapai tujuannya yang tertinggi. Pembimbingnya adalah buku-bukunya semata .... (halaman 194 atau 207/569)


Cerita Bujangga Manik pun mengingatkan pada kisah Siddhartha Gautama, sebab mereka sama-sama pangeran yang meninggalkan harta, kedudukan, dsb, untuk menjalani kehidupan asketis dan menggapai kearifan.

Dalam hal perjalanan spiritual untuk mencapai penyucian jiwa, cerita ini agak mirip dengan yang Sri Ajnyana walaupun lebih mendetail. Kembali saya kaitkan dengan Islam yang juga memiliki istilah tazkiyatunnafs. Namun, dalam Islam, sekalipun penyucian jiwa itu penting, diajarkan pula untuk tetap memperhatikan kehidupan sosial, melalui bakti kepada orang tua, pernikahan, silaturahmi, salat berjamaah, berakhlak karimah dengan sesama, dst. Hidup tak hanya untuk diri sendiri sekalipun demi kesucian jiwa, perlu ada keseimbangan antara menarik diri dan bersosialisasi. Memang cara yang ditempuh Bujangga Manik kalau menurut standar Islam bakal dianggap ekstrem. Tanpa usah disengaja, perjalanan spiritual dengan sendirinya bakal mengasingkan, terlebih makin dekat ke akhir zaman di mana yang batil dianggap benar, tipu daya dipandang realita, maksiat disebut maju. Upaya-upaya untuk tetap memelihara kehidupan sosial malah menegaskan keterasingan itu, tetapi entah bagaimana harus tetap dilakukan sebatas yang dituntunkan agama.

Di antara ketiga karya dalam buku ini, Bujangga Manik memang yang paling kaya. Cerita ini lebih dari sekadar catatan perjalanan secara fisik yang mencakup sejarah lokal, menunjukkan betapa kosmopolitan dunia pelayaran nusantara pada suatu masa, melainkan juga secara spiritual yang meliputi individualisme, drama dengan orang tua, antiromance, dan to hell with other people (mengingat sikapnya yang cenderung asosial, memang sudah selayaknya Bujangga Manik butuh banyak healing dengan solo traveling ke sana-sini). Di klub buku yang saya ikuti, kisah Bujangga Manik yang berkali-kali mengemuka, sepertinya lebih karena unsur traveling dan sejarah lokal yang memang ada kalangan penggemarnya tersendiri.

Di belakang buku ada lampiran yang meneliti tempat-tempat yang dilalui Bujangga Manik, membandingkannya dengan keadaan kontemporer. Teks diperkirakan berasal dari abad ke-15 atau 16, sebab disebut kata "Demak" yang menunjukkan negara merdeka (bukan bagian dari Majapahit) dan notabene negara Islam pertama di Jawa. Disebut pula "Malaka" yang menunjukkan cerita terjadi setelah 1400, sebab sampai waktu itu pelabuhan tersebut belum dibuka.

Tradisi pemuda Sunda menuntut ilmu agama di Jawa, seperti yang dilakukan Bujangga Manik, tampak terus berlangsung, setelah beratus-ratus tahun lamanya Jawa berganti agama mayoritas. Saya telah beberapa kali membaca tentang orang Sunda yang merantau atau mengirimkan anaknya untuk belajar di pesantren di Jawa. Di antaranya termasuk teman saya sendiri yang sebetulnya masih keturunan Jawa tapi besar di Bandung. Beberapa pesantren di Jawa yang terkenal misalnya Gontor, Pabelan, dan Assalam. Maka cerita Bujangga Manik menunjukkan bahwa sejak ratusan tahun lalu, zaman pra-Islam, Jawa sudah padat penduduk dan jadi pusat belajar agama.
Profile Image for mahatmanto.
545 reviews38 followers
January 2, 2012
saya cuma ngejar bagian yang mengulas kisah perjalanan BUJANGGA MANIK.
ini kisah perjalanan dan deskripsi mengenai tempat-tempat di jawa, dari barat ke timur sampai ke bali, lalu balik ke pakuan menyusuri sisi selatan jawa.
Profile Image for Ilham Nurwansah.
17 reviews
May 24, 2016
Kajian yang rinci mengenai struktur bahasa Sunda kuna. Uraian yang sangat menarik dengan mengumpulkan data-data kebahasaan mulai dari fonologi, morfologi, sintaksis hingga paralelisme antar bait. Sangat menolong saya dalam pengerjaan skripsi dan tesis.
1 review
July 15, 2020
An interesting book to look for references of old literature while reading history.
Displaying 1 - 4 of 4 reviews