Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pramoedya Ananta Toer Luruh dalam Ideologi

Rate this book
Bagaimanakah dan sejak kapan serta lantaran apakah sasterawan terkemuka Pramoedya Ananta Toer menjadi Kiri, menggabungkan kerja-kerja sastra dengan politik?

Buku yang semula adalah disertasi Savitri Scherer ini menjawabnya. Savitri bukan saja menjelajahi biografi Pram, tetapi juga hubungan antara dunia nyata dan dunia fiksinya. Savitri pun tak merasa cukup hanya membongkar struktur kompleks mediasi antara Pram dan dunia kreatifnya dengan memperhatikan suasana juga kekuatan-kekuatan sosial, kebudayaan, politik yg gegap gempita oleh pertarungan ideologi dan semangat zaman penuh intrik polemik pemenjaraan dari periode 1950–1980 yang dialami serta mempengaruhinya. Lebih jauh Savitri menelusuri pandangan-pandangan sosial dan politik Pram untuk memahami karir sastranya, seraya menilai tanggapan-tanggapannya terhadap norma-norma sosial dan sastra pada masanya.

Sebab itu sekali lagi Savitri dengan buku ini –seperti buku yang sebelumnya telah ditulis Keselarasan dan Kejanggalan –menyumbangkan suatu model sejarah pemikiran yang bukan saja kaya informasi, tetapi juga membuat kedirian Pram dapat lebih dalam dipahami.

187 pages, Paperback

First published January 1, 1981

6 people are currently reading
90 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
15 (28%)
4 stars
28 (53%)
3 stars
8 (15%)
2 stars
1 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Helvry Sinaga.
103 reviews31 followers
February 6, 2012
Buku ini adalah disertasi Savitri di Australian National University (ANU) Tahun 1981. Tiga puluh tahun setelah tesis ini terbit, barulah tesis tersebut keluar dari ranah akademis menuju ke pembaca umum. Menarik sekali bila mengingat bahwa Pram pada saat tersebut masih diawasi oleh Pemerintah Orde Baru karena Pram dianggap menyebarkan paham Marxisme-Leninisme lewat tulisan-tulisannya. Saat itu, tidak ada yang berani mengkritisi pemerintah, terutama tidak ada yang mengkritisi apa yang salah dengan karya-karya Pram, tindakan pemberangusan buku-buku berbau kiri oleh Kejaksaan Agung seolah dibenarkan, tanpa pernah mengkritisi dulu apa isinya Namun, tulisan tak pernah mati. Ia menyuarakan peristiwa-peristiwa tersembunyi tanpa mengenal rasa takut.

Hampir seluruh karya fiksi Pram merupakan kisah nyata yang diambil dari sekitar orang-orang Pram. Inilah upaya Savitri untuk merekonstruksi kehidupan sekitar 1950-1965 melalui karya-karya Pram. Tesis ini terbit sebelum selesainya tetratologi Pulau Buru, karena itu Savitri hanya membatasi periode karya Pram hingga sampai Bumi Manusia.

Jika meresensi buku adalah suatu kegiatan memberi apresiasi atau kritik pada suatu buku, maka apa yang dilakukan Savitri melalui buku ini lebih dari itu, ia menggali konteks kehidupan Pram melalui peristiwa sejarah dan karya-karyanya serta menyusun keping-keping sejarah tersebut. Tentu hal ini bukan hal yang mudah, mengingat karya-karya Pram pastinya sulit diperoleh di Indonesia akibat tindakan semena-mena Kejaksaan Agung yang membredel karya Pram. Bayangkan, sebuah mikrofilm berisikan cuplikan cerita Gadis Pantai, didokumentasikan oleh ANU, dan tidak ada satupun salinannya di Indonesia. Sungguh suatu penyelamatan aset bangsa yang luar biasa. Karena itu, siapa yang tidak kagum dengan HB Jassin, yang dengan inisiatifnya mengumpulkan dan mendokumentasikan karya sastrawan Indonesia dengan biaya sendiri. Dampaknya baru terasa sekarang, apa jadinya bila tidak ada Pusat Dokumentasi Sastra Jassin? barangkali tidak ada warisan sastra bagi generasi sekarang atau bahkan harus mencari ke seluruh perpustakaan yang ada di dunia! Savitri mengutip apa yang disampaikan Jassin pada pidato penerimaan gelar Doktor Honoris Causa di Universitas Indonesia (14 Juni 1970): sebagai pewaris budaya dunia, para penulis akan mempromosikan sifat universal kemanusiaan dan bukan kecenderungan-kecenderungan budaya tertentu yang terbatas hanya pada satu bangsa.

Bahasan mengenai universalisme tersebut diulas oleh Savitri dalam Bab "Polemik Sastra". Dari bahasan tersebut, kita dapat mengetahui bahwa ada 'pertentangan' antara kelompok kritikus sastra yang menamakan dirinya Gelanggang serta lembaga kebudayaan bentukan PKI: Lekra. Kelompok Gelanggang umumnya terdiri dari orang-orang berpendidikan tinggi dan pemikirannya berorientasi ke barat, sementara Lekra sebaliknya, terdiri dari orang yang tidak berkecukupan dan tulisan-tulisannya mencerminkan kebudayaan lokal. Savitri mencatat, Lekra sering dituding menggunakan pendekatan yang "tidak sehat", "tidak ilmiah," "aneh" atau "dogmatis." Sementara pada umumnya, para penulis Lekra mengambil nilai budaya lokal. Selain itu, pendidikan umum Penulis Lekra 'kurang' dan kemampuan bahasa asing mereka minim dibanding para penulis Gelanggang.

Pram sendiri menolak keindahan bersastra. Ia berpendapat bahwa sastra itu ditulis untuk mencapai tujuan yang diharapkan, bagaimana nanti karya sastra itu ditafsirkan atau dimaknai, itu di luar kendali si penulis. Karena itu ia menolak kritik sastra "formalis" yang cuma berkutat pada keseimbangan estetika bentuk dan struktur suatu karya. "Keadilan, kemanusiaan, kebudayaan, dan idealisme lebih penting bagi manusia ketimbang keindahan." Dan Pram mengalami sendiri karyanya dikritik, misalnya oleh Balfas pada cerita Ketjapi (1965). Balfas mengkritik pengisahan cerita tersebut terlalu sentimentil.



Saya sendiri menyambut baik keberadaan buku ini terlepas dari masih banyak karya-karya Pram yang belum saya baca, dan saya masih belum memiliki pengetahuan yang memadai dalam dunia sastra Indonesia baik dari sisi teknis maupun dari sisi sejarah, namun menurut saya dengan membaca buku ini sangat baik untuk menambah pemahaman akan bagaimana cara meresensi dengan mengaitkannya dengan konteks sejarah. Satu hal yang mungkin membuat kegelisahan Pram adalah pada generasi sekarang minimnya cinta akan tanah air, termasuk mencintai karya sastra Indonesia? Apalagi tidak ada suatu rehabilitasi dari Pemerintah akibat pemusnahan karya-karya Pram, akibatnya berapa banyak generasi sekarang yang tahu tentang Minke? Meski belum semua karya Pram yang belum dikaji di buku ini, barangkali buku-buku lain akan melengkapi apa pemikiran dan konteks yang terjadi saat itu. Karya ilmiah seperti yang dibuat Savitri ini adalah suatu warisan yang sangat berharga. Saya yakin masih banyak tesis lain yang dibuat oleh mahasiswa baik di Indonesia maupun luar Indonesia, tentang karya sastrawan Indonesia, hendaknya diterbitkan dalam bentuk buku yang dapat dimengerti orang awam, supaya generasi sekarang dapat mengenal Indonesia lewat pemikiran tokoh sastra Indonesia.


------------------------------------------------------------
Savitri Scherer alumnus Cornell University (master sejarah) dan Australian National University (doktor sastra). Sebelumnya telah menulis Keselarasan dan Kejanggalan: Pemikiran-pemikiran Priayi Nasionalis Jawa Abad XX (Sinar Harapan, 1985). Sejak 1984 dia menjadi koresponden Kompas di Australia, dan kemudian di Prancis. Di sana dia bergabung sebagai peneliti dalam kelompok Archipel, jurnal kajian Indonesia di bawah EFEO (Ecole francaise d’Extreme-Orient), Paris. Sekarang ia tinggal bersama suaminya di Prancis .

PS. Review ini dibuat dalam rangka ulangtahun Pram: 6 Februari 1925-6 Februari 2012

Helvry | 6 Februari 2012

Profile Image for Kahfi.
140 reviews17 followers
March 28, 2019
Secara garis besar buku ini ingin menjelaskan pergesaran ideologi Pramoedya dalam mempergunakan sastra. Dalam buku ini digambarkan dengan jelas bagaimana Pramoedya sebagai manusia yang terpengaruh oleh aktivitas politik di jaman nya sekalipun ada anggapan bahwa ia seorang dogmatis tulen.

Yang terpenting dari buku ini adalah sistematisasi penulisan yang membuat pembaca dapat memahami runutan perubahan pemikiran Pramoedya dan kaitan nya dengan produk kreatif yang dihasilkan.

Selain itu, buku ini juga memberikan kontribusi menyeluruh mengenai perkembangan sastra Indonesia modern dari awal pasca kemerdekaan sampai 1965, dan bagaimana sastra juga diperebutkan dan menjadi medan pergulatan pemikiran intelektual.
Profile Image for Cintya Faliana.
42 reviews12 followers
December 8, 2020
Disertasi yang dibukukan ini menjadi upaya Scherer untuk memahami langkah kesusastraan Pramoedya, melalui pembacaannya terhadap tulisan Pram di berbagai media dan karyanya yang diterbitkan. Tidak hanya itu, aktivitas politik Pram juga turut dianalisis sebagai faktor yang melatarbelakangi lahirnya nilai-nilai dalam karya sastra Pram.

Bagian paling menarik tentu saja perdebatan kelompok sastra terhadap kondisi politik Indonesia yang dibahas singkat oleh Schrer dalam Bab 7, Mempertanyakan Prasangka-Prasangka Konvensional, dan Bab 9, Konfrontasi Ideologi dan Sastra. Perdebatan di surat kabar antara anggota Lekra dan kelompok Gelanggang dibahas secara padat dan jelas. Termasuk 'kesadaran politik' Pram dalam beberapa karya sastranya ditunjukkan dengan cukup mendetail. Untuk orang awam dan tidak terlalu banyak membaca Pram seperti saya, bagian ini sangat membantu dalam memahami konteks dinamika sosial politik yang juga mempengaruhi dunia sastra Indonesia.
Profile Image for Yoga Pradipta.
30 reviews4 followers
September 25, 2012
Buku yang merupakan disertasi Savitri Scherer ini menggambarkan dan memetakan pengaruh politik dan bagaimana pendirian Pram pada masa 60-an ke atas secara gamblang. Dalam buku ini dijelaskan perseteruan antar penulis karena pengaruh ideologi dan juga menelaah beberapa karya Pram sehingga cukup mudah untuk dimengerti
Profile Image for Jiwa Rasa.
407 reviews56 followers
June 12, 2012
Melihat pegangan dan pandangan politik Pramoedya melaui tulisan dan tindakan beliau sekitar s Lekra vs Manikebu
Profile Image for Setadipa.
99 reviews3 followers
April 4, 2013
perspektif lain utk melihat sisi mbah Pram dari pergulatannya menjadi seorang yg idealis, menarik karena ada opini Ajip yg bisa menyeimbangkan ketokohan si mbah
Profile Image for Kidung Swara.
2 reviews
November 4, 2013
Sederhananya, buku ini memberikan gambaran yang gamblang tentang pengaruh sastra terhadap perkembangan politik pasca kemerdekaan. Dan subjek yang memang paling tepat adalah Pramoedya.
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.