Jump to ratings and reviews

Keretakan dan Ketegangan

Keretakan dan Ketegangan, karangan Achdiat K. Mihardja, berisi 12 cerita pendek. Setiap cerita memiliki tema dan isi tersendiri. Pada umumnya cerita-cerita tersebut menggambarkan konflik jiwa dalam menghadapi masalah-masalah.

Pengarang Achdiat K. Mihardja terkenal dengan romannya Atheis. Tidak berbeda dengan karangan termashur itu, Keretakan dan Ketegangan juga telah berhasil menarik perhatian para pembacanya. Konflik jiwa serta liku-liku jalan pikiran para tokohnya selalu menyinggung falsafah hidup, yang menyebabkan buku ini berbobot.

Karya sastra semacam ini mempunyai peran yang penting dalam meriapkan perkembangan sastra Indonesia.

176 pages, Paperback

First published January 1, 1956

Loading...
Loading...

About the author

Achdiat K. Mihardja

15 books43 followers
ACHDIAT K. Mihardja dilahirkan di Cibatu, Garut, 6 Maret 1911. Setelah tamat HIS, melanjutkan ke MULO di Bandung, terus ke AMS-A di Bandung juga. Karena bertengkar dengan salah seorang guru, dia pindah ke AMS-A juga di Solo, tetapi mengambil jurusan Ketimuran, sekelas antara lain dengan Tatang Sastrawiria dan Amir Hamzah.

Para siswa yang pada masa itu belajar di Solo banyak yang aktif dalam gerakan kebangsaan. Achdiat pun bersama dengan Amir Hamzah, Armijn Pane, Tatang Sastrawiria, dan lain-lain aktif dalam organisasi "Indonesia Moeda" yang baru didirikan (30 Desember 1930) sebagai realisasi keputusan Kongres Pemuda (1928) yang membubarkan organisasi-organisasi pemuda daerah seperti Jong Java, Sekar Roekoen (organisasi pemuda Sunda), Jong Celebes, Jong Soematera, dan lain-lain. Meskipun secara resmi Indonesia Moeda tidak ikut-ikutan dalam politik, tetapi organisasi itu merupakan persemaian kesadaran rasa kebangsaan para anggotanya. Setamat AMS (1932), Achdiat pindah ke Jakarta. Mula-mula bekerja sebagai guru Taman Siswa, kemudian menjadi editor surat kabar Bintang Timoer dan majalah Penindjauan bersama Sanoesi Pane dan Armijn Pane. Keduanya milik P.F. Dahler, orang Belanda yang pernah menjadi guru Achdiat di AMS, yang menaruh simpati kepada perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Ia mengarang novel Atheis yang menjadi salah satu dari kanon sastra Indonesia. Atheis melukiskan konflik kerohanian yang dialami oleh bangsa kita akibat masuknya berbagai paham filsafat dan paham sosial yang berbenturan sesamanya. Pendeknya dalam roman itu Achdiat berhasil memotret dan merekam gejolak masyarakat yang terjadi di Indonesia pada akhir masa penjajahan Belanda sampai zaman Jepang.

Tidak hanya roman Atheis (1949) yang ditulis Achdiat untuk memperkaya sastra Indonesia. Dia pun banyak menulis cerita pendek dan esai. Kumpulan cerita pendeknya Keretakan dan Ketegangan (1956) mendapat Hadiah Sastra Nasional dari BMKN (1957). Di samping itu, ada Kesan dan Kenangan (1960) yang juga merupakan kumpulan cerita pendek. Dia juga banyak menulis drama baik asli maupun saduran, antara lain Bentrokan Dalam Asrama (1952), Keluarga Raden Sastra (1954), Pakaian dan Kepalsuan (1956), roman Debu Cinta Bertaburan (1973), Belitan Nasib (1975), Pembunuhan dan Anjing Hitam (1975), dan Pak Dullah in Extremis (1977). Setelah lama tidak mengumumkan tulisan, pada 2005, Achdiat menerbitkan roman pendek Manifesto Khalifatullah.

Dia jugalah yang menyusun Polemik Kebudayaan (1948) yang memuat berbagai pendapat para bapak pendiri bangsa kita seperti Dr. Soetomo, Sanoesi Pane, S. Takdir Alisjahbana, Ki Hadjar Dewantara, Dr. Amir, Dr. Poerbatjaraka, dan lain-lain mengenai kebudayaan nasional dan hari depan bangsa Indonesia.

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
16 (47%)
4 stars
8 (23%)
3 stars
7 (20%)
2 stars
1 (2%)
1 star
2 (5%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for wrtnbytata.
238 reviews4 followers
September 19, 2022
“[…] sesungguhnya manusia itu selalu merupakan teka-teki yang setiap waktu bisa memberikan macam-macam keganjilan yang tak terduga […]”

As the title says, this book shows how one lose his principles and souls that break then form a creak, also a tension of the social life back then. There are 12 short stories with the same theme and all of them are told in a sarcastic way to show a social gap and coruption.

The stories told in a way that readers in the present era aren’t familiar with — in terms of vocabularies and style. But it somehow interests me to imagine how people back then hold a conversation.

Profile Image for Awanama.
85 reviews6 followers
November 5, 2012
Coba sandingkan manusia dengan gelas atau kaca jendela. Bila dibandingkan, mereka punya kesamaan: keduanya rapuh. Memang, gelas dan kaca jendela merupakan benda padat. Tapi, cobalah goncang mereka. Biar pun, misalnya, tidak sampai pecah, setidaknya goncangan itu akan meninggalkan retakan. Manusia tak jauh beda. Goncangan yang dialaminya berasal dari ketegangan akibat pelbagai sebab.

Seperti gelas mau pun kaca jendela, manusia itu rapuh, tak peduli mereka itu laki atau perempuan, kaya atau miskin. Hal itu makin kentara tatkala mereka mengalami ketegangan, seperti yang dirasakan Martini saat kebohongan Herman terungkap, atau saat sebuah kenyataan yang tak terduga muncul, seperti yang dialami Sudirun dan Salim, mau pun saat mengalami kejadian yang menggoncangkan keyakinan, yang dirasakan Sudiro. Prasangka atas anggapan orang lain pun menimbulkan ketegangan dalam diri Hamid dan Nani, begitu pula kesepian yang dirasakan Dahlan.

Walau sama-sama rapuh, tidak seperti gelas dan kaca jendela, manusia bukanlah benda, melainkan makhluk hidup. Mereka tidak begitu saja membiarkan diri mereka “pecah”, seperti gelas atau pun kaca jendela, saat digoncang ketegangan. Ketika itu terjadi, mereka punya kemampuan untuk mempertahankan diri. Kejadian itu akan memicu mereka untuk merenung atau pun bertindak.

Itulah yang dituturkan Achdiat dengan berbagai cara. Ada kalanya dia bertutur dalam alur maju-mundur. Di kesempatan lain, seperti saat bercerita tentang Martini, dia bolak-balik antara masa lalu dan masa kini. Penyisipan komentar Usin terhadap dialog antara mertuanya dengan wartawan bisa dibilang cukup unik, pun narasi berlapis dalam kisah Sudiro. Satu lagi, penyisipan lagu dalam beberapa cerita juga patut dihitung dalam penilaian atas keretakan dan ketegangan.

Semua cerpen dalam Keretakan dan Ketegangan menunjukan bahwa manusia itu begitu rapuh. Saking rapuhnya, saat suatu ketegangan menggoncangnya, ada yang menjadi gila, bahkan ada pula yang sampai membunuh.
Profile Image for Mark.
1,284 reviews
August 26, 2011
Achdiat Karta Mihardja is one of Indonesia’s most important writers from the 1940’s. His novel entitled Atheis (1949) is a significant work within the history of Indonesian literature, and later won an award from the Indonesian government in 1969.

His book of short stories, Keretakan dan Ketegangan (1956), won the National Literature prize from the National Council on Culture (Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional or BMKN) in 1957.

Like most of literature from that era, Keretakan dan Ketegangan has vocabulary and style that readers of this present era might feel difficult to understand. However, the recurring issue of corruption in his short stories still find resonance with present day Indonesia.
Profile Image for Lussy Albayinnah.
9 reviews79 followers
September 17, 2016
Tak biasa rupa-rupanya kesakitan mereka itu. Maka, jangan pernah terpaksa merasakan diri melakoni kisah hidup yang paling sedih.
Displaying 1 - 4 of 4 reviews