Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kapitan Pedang Panjang

Rate this book
Beberapa hari ini pedang panjang Eyang Djagad bersinar. Membuat aku sedikit ketakutan. Bahkan, aku melarang Rose untuk masuk kekamarku.
Aku mencoba menyimpan pedang itu ke dalam lemari, namun sinarnya justru kian kuat dan berpendar, seakan-akan lemariku menjadi sebuah lemari ajaib yang bersinar. Jadi, kembali aku keluarkan dan pedang itu kembali bersandar di pojok kanan di depan tempat tidurku. Aku mulai ketakutan, memikirkan kemungkinan hantu Rendra kembali.

Syut! Syut! Syut!

Aku melihat orang yang menyerangku pindah menyerang Kapten Darmo. Ia kewalahan menghadapi enam orang. Aku datang membantunya, tapi kemudian seseorang muncul dengan topi lebar berbulu dan bersenapan pendek kemudian menembak Kapten Darmo.

Dooor!

"Kapten!"


Kapten Darmo terkapar berlumuran darah. Aku mendekati dan memangku kepalanya. Aku tidak sempat berkata apa-apa. Hanya menyerahkan pedang panjangnya yang penuh darah ke tanganku. Lalu ia menghembuskan napasnya sebelum aku sempat menuntunnya berdoa.

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun...

265 pages, Paperback

First published September 22, 2010

2 people are currently reading
37 people want to read

About the author

Fira Basuki

35 books152 followers
Fira Basuki (born June 7, 1972) is a well-known Indonesian novelist. Arguably her most famous work is her trilogy debut consisting of Jendela-Jendela (The Windows), Pintu (The Door) and Atap (The Roof). The trilogy concerning the journeys of Javanese brother and sister Bowo and June; from graduating high school, studying abroad in the US, their meta-physical experiences (especially Bowo's "second sight" and aura-reading capabilities), relationships with people of different nationalities (especially June's Tibetan husband), and their return home to Indonesia.

Her novel, Brownies, was adapted to a movie which was nominated for Best Picture at the 2005 Indonesian Film Festival, eventually losing out to Gie (though Brownies did earn a Best Director Citra award for Hanung Bramantyo). She recently launched to widespread media acclaim a popular biography on media person Wimar Witoelar, her first work in non-fiction.

Her latest novel, scheduled to be published July 2007, is entitled Astral Astria. As per August 2007, she works as Chief Editor at the Indonesian edition of Cosmopolitan Magazine.

(http://en.wikipedia.org/wiki/Fira_Basuki)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
11 (11%)
4 stars
31 (33%)
3 stars
33 (35%)
2 stars
17 (18%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 17 of 17 reviews
Profile Image for Lina Maharani.
275 reviews15 followers
March 25, 2023
MENEBAS RASA DGN IKHLAS

Djagad di buku ini adalah sosok yang penuh perjuangan di masa hidupnya, tak terkecuali aneka persoalan pelik yg hrs dia putuskan sendiri. Petualang Djagad ke berbagai penjuru negeri sebagai seorang pelaut memberikan excitement yg seru. Perjalanan Laras juga tak kalah seru terutama ketika mengunjungi India dan menemukan dirinya kembali. Dibayangkan perjalanan itu bak perjalanan spiritual, Maharani di India sama seperti nama belakang saya.

Inti cerita buku ini sebenarnya ada pada diri Laras, bagaimana ia melalui kehidupan yang pelik dengan bayang2 Rain di sepanjang kehidupan dewasanya. Karena apapun persoalan yang ia hadapi, selalu ada nama Rain yang disebut. Seperti sebuah mantra wajib, hanya dengan menyebutkan namanya seketika hidup ini terasa berarti. mungkin begitu ya.

Bagaimana keluarga ini menyelesaikan persoalan dari masing-masing anak dengan orang tua juga cukup menarik. Khas dengan pemikiran keluarga jawa, Laras dan keluarganya adalah salah satu gambaran bagaimana keluarga jawa mengelola konflik. Tiap anak punya karakternya masing-masing dan orangtua Jawa akan cenderung membersamai anak mereka hingga akhir hayat mereka. termasuk ketika si anak menghadapi masalah rumah tangga, orangtua akan senantiasa mengulurkan tangan krn anak2 mereka adlh dunia mereka.
Profile Image for R-Qie R-Qie.
Author 4 books9 followers
July 17, 2017
Terbagi dalam tiga bagian berjudul: Gagang, Bilah, Sarung. Menggunakan sudut pandang aku bergantian antara Djagad dan Laras berupa catatan harian.
Awalnya cukup seru. Terutama bagian Djagad yang menggunakan latar waktu dan sejarah tahun 1940-an. Akan tetapi, di akhir bagian pertama dan seterusnya penulis seakan kehilangan fokus. Ceritanya melebar ke mana-mana. Ini sebenarnya mau cerita tentang apa sih? Hal yang paling tidak nyambung menurut saya adalah tentang pencurian yang dilakukan OB di kantor Laras. Sama sekali tak nyambung ke mana-mana. Hanya diceritakan sekilas dan berlalu begitu saja. Penyelesaian masalah bertubi-tubi yang menimpa Laras diselesaikan dengan begitu mudah tanpa rintangan berarti. Lalu dua kali dalam dialog, penulis salah menulis nama tokoh yang seharusnya Laras menjadi Astria. Awalnya saya mau memberi bintang 3, lalu 1, tapi pada akhirnya 2 karena bagian Djagad cukup konsisten dibanding bagian Laras yang amburadul.
Profile Image for Ahmad Rofai.
62 reviews5 followers
November 16, 2017
Hmm ini buku ketiga yang aku baca ditulis oleh Fira Basuki.
Novel yang berjudul "Biru" cukup membuat aku merasa tertarik untuk membaca karya dia; untuknya novel ini ada di perpusat UI, jadi ya tinggal ciduk terus baca kwkw.

sebenarnya pengen nulis panjang, tapi apa daya.
otak aku merasa stuck buat berpikir.
intinya novel ini berhasil membuat aku lebih banyak bertanya2 mengenai kebenaran adanya kuda terbang.

Lelananging Juga juga mungkin akan menjadi list rencana nama anak aku kedepan nanti.
bukan hanya karena karakter dalam novel sebagai orang yang bebas dan tidak mau terkekang.
memilih belajar dengan banyak cara (terutama caranya mendalami pengalaman hidup) sebagai modal memahami dunia.
Profile Image for Alfa.
57 reviews
July 22, 2017
Sebagai penggemar berbagai hal yang berhubungan dengan perkapalan klasik, saya suka ide dan tema yang dipilih untuk buku ini. Cukup sampai sana. Saya suka berbagai mitologi muncul dalam buku ini, tapi saya tidak suka bagaimana semuanya… digabungkan. Bab-bab awal buku ini memang menghibur, tapi saya merasa segalanya sangat… bertele-tele tanpa plot yang jelas. Mungkin hanya saya saja, tapi penggambaran 1940-nya masih terasa seolah mengandung anakronisme—tho I can’t point exactly which part of it makes it feels too anachronistic. Mungkin vibe-nya, mungkin perasaan saya saja.
Profile Image for Truly.
2,770 reviews13 followers
May 4, 2022
Buku yang lama tertimbun.
Menarik!
Sesuatu yang unik. Begitulah cinta, selalu menjadi bumbu dalam sebuah kisah, namun membawa dampak luar biasa pada tokohnya.
Profile Image for Faj.
238 reviews
September 12, 2023
Terlalu berekspektasi tinggi mengira ini novel fantasi berbalut sejarah, rupanya lebih condong ke romansa.
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
July 24, 2013
Namaku Lelananging Djagad, artinya lelaki yang amat lelaki atau sebutan lain untuk Arjuna. Aku lari dari keluargaku yang ningrat untuk mencari pengalaman hidup. Aku tidak mau disekolahkan ke negeri Belanda, negeri penjajah yang merampas harta negeriku. Aku menceburkan diri ke lautan, dengan nahkoda Kapten Darmo, dan kapalnya Sembrani, si pemilik Pedang Panjang. Kapten Darmo berkata bahwa Sembrani si kuda terbang akan menuntun jalannya di lautan. Jika sedang dalam keputusasaan, Sembrani akan muncul, dan menolongmu.

Aku bertempur melawan Belanda di lautan, sesaat sebelum kemerdekaan tanah air yang kucintai ini. Lepas dari tawanan tentara Belanda aku ditahan oleh Jepang, kaum kuning kecil yang datang dari timur dan ingin menguasai tanahku juga lautku. Semua demi kekuasaan. Diselamatkan Sekutu, aku merapat. Kembali ke Surabaya, menjejak tanah kembali. Dan bertemu dengan Kemuning, nenekmu, Laras.

Ombak bergulung-gulung. Gelap gulita, petir menyambar-nyambar. Padahal baru saja kami berjalan, kenapa sudah diterjang ombak seperti ini. Kapal Sembrani, demikian kuberi nama seperti Kapal Jung Jawa yang dulu dimiliki Kapten Darmo, bergoyang ke kiri kanan terempas ombak.
“Gulung layaaaar!” teriakku.
Satu per satu layar digulung dengan susah payah karena angin seperti menentangnya. Sebagai nahkoda pun aku tidak akan berfungsi banyak karena kemudi bergerak sendiri ke kiri dan ke kanan. Keadaan jadi gelap gulita, semua cahaya di kapal mati. Kami mati-matian mengeluarkan air dari kapal.
Ya, Gusti! Jangan biarkan kapal ini terbalik!
(h.86)


Namaku Laras Maharani Djagad. Aku orang tua tunggal yang sedang membaca buku harian kakekku. Hidupku tidak bisa dibilang normal. Aku mengejar cinta seorang Rain, yang kukenal dan berpisah, dan berusaha merebut cintanya. Aku tahu Rain ada, dan bersamaku, tapi apakah hatinya untukku? Sementara aku terus membangun karirku, bepergian ke luar negeri, untuk memantapkan hatiku apakah aku memilihmu, Rain. Tapi apakah kau memikirkanku di kala aku memikirkanmu? Apakah kau bisa menerimaku dan Rose, yang juga merindukan seorang ayah?

Ada garis hidup yang harus dijalani. Ada kebetulan yang mungkin terjadi. Ada kaitan yang di luar nalar kita. Ada petunjuk yang datang dari mimpi. Masa lalu dan masa kini, tak berbeda, hanya dipisahkan oleh hitungan waktu. Ada doa yang harus dipanjatkan. Pedang warisan ini harus berjalan ke mana ia harus berada. Ini adalah jalan pedang mencari tuannya.

Ketika saatnya lepas, maka harus ikhlas. Karena takdir sudah menyuratkan demikian.

Aku membaca buku dengan plot baju mundur yang menarik. Mengenang petualangan Djagat, meriuh dengan pelarian Laras. Mengikuti ombak dan Sembrani Djagat, dan gemuruh hati Laras. Mereka sama-sama kuat dalam dunianya masing-masing. Dalam perjuangan, atau dalam pesta. Masalah itu bisa dibuat, bisa juga tak terprediksi. Namun bahagia itu diciptakan.
Profile Image for Awal Hidayat.
195 reviews36 followers
December 3, 2014
"Lihatlah kita, tidak pernah nyata. Cintaku seperti berjalan-jalan sendiri, tak kau temui. Entah sudah berapa kali aku merasa cinta ini beku berkepanjangan. Kadang aku berkhayal cinta kulempar ke awan. Malam-malam aku menyebut Tuhan. Kuserahkan. Perasaan. Melebur dalam taburan. Bintang impian. Memohon Tuhan menyalakan. Bintang gemerlapan. Tanda harapan. Bisa jadi kenyataan." – hlm. 131

Setiap bertemu senja aku mengingatmu. Karena merahnya langit senja seperti memarnya hatiku yang kau lempar ke semesta. Menunggu cinta.” – hlm. 216

Kegemaran saya dalam membaca, di antaranya ialah mencocok-cocokkan keadaan pelakon dalam plot dengan diri sendiri. Seperti dalam buku ini, merasa mirip dengan Laras yang juga suka mencocok-cocokkan sesuatu. Belum pula, dengan kebetahan Laras menunggu kekasihnya, dan sempat ikut dalam pelarian yang dikasihinya pula.

Kalau sudah seperti demikian, saya biasanya akan suka dengan ceritanya. Sebab ada hubungan emosional di dalamnya. Terlepas dari subjektifitas itu, Fira Basuki sepertinya akan menjadi salah satu dari sedikit penulis perempuan Indonesia kesukaan saya. Bahasanya dan penggambarannya yang mendetil, dan cerita yang tidak biasa, unik, khas. Alur maju-mundur (cantik, cantik) pula menjadi kekuatan yang semakin membuat saya jatuh hati. Love and reccommend this superb book!

Sesungguhnya manusia itu hanya debu di jagad raya. Semakin kita tahu, semakin kita tidak mengerti.” – hlm. 228

Kalau kamu takut, itu hal biasa. Justru orang yang takut dan merasa tidak mampu sebenarnya menyimpan kekuatan. Mereka yang sombong dan merasa bisa, justru tidak ada apa-apa.” – hlm. 228

Profile Image for Jusmalia Oktaviani.
Author 4 books4 followers
November 22, 2016
Fira Basuki adalah salah satu penulis yang saya 'lewatkan'--dalam masa-masa apatis saya terhadap penulis nasional beberapa tahun silam. Kali ini, saya yang mulai menebus satu-satu ketertinggalan itu, menemukan kegairahan dan optimisme dari tulisan Fira Basuki ini. Saya menjadi yakin bahwa penulis Indonesia sebenarnya banyak yang bagus, dan Fira Basuki adalah salah satunya. Sedikit menyesal rasanya kenapa saya baru berkenalan dengan karyanya di masa kini, tidak di beberapa tahun silam.

Apakah buku ini worth-to-read? Tentunya iya. Banyak hal, terutama keterkaitan dengan kepercayaan masyarakat kita, yang akan dibahas dalam novel ini. Jangan bayangkan novel ini sebagai novel sejarah, karena akan ada pertemuan antara masa lalu dan masa kini dalam tulisan ini.

Buku ini membuat saya dengan senang hati akan membaca lagi karya Fira Basuki yang lain.
Profile Image for Ochie Motskee.
40 reviews24 followers
December 12, 2011
Cara Fira bercerita memang selalu mengagumkan. Saya seperti diajak belajar budaya dan sejarah Indonesia di masa lampau tanpa merasa digurui. Saya pun tak bisa berhenti berimajinasi.

Walaupun sebenarnya menarik, tetapi alur yang datar-datar saja sempat membuat saya bosan membacanya. Bahkan sempat saya selingi dengan membaca buku lain dahulu. Timeline yang meloncat-loncat juga beberapa kali membuat saya harus kembali lagi ke halaman sebelumnya.

Terakhir, sebenarnya saya agak kurang puas dengan hubungan emosional antara Laras dan Rain. Konfliknya kurang terbangun padahal Laras adalah salah satu tokoh utama di buku ini.

Secara keseluruhan, saya tetap suka buku ini, karena topik dan cara bercerita yang berbeda dengan novel fiksi yang banyak beredar sekarang.
Profile Image for Ayu Fitri.
Author 8 books12 followers
April 2, 2013
Buku ini pakai alur maju-mundur lho. Banyak adegan flashback yang digabung dengan present time. Tentu butuh keahlian khusus untuk melakukannya. Dan FirBas sangat pintar sekali dalam menuliskan adegan-adegan yang ada di buku ini :)
Profile Image for Mufika Rosati.
2 reviews
June 15, 2014
gagang, bilah dan sarung.
gagang adalah tambatan untuk akhirnya memilih kehidupan. bilah adalah alat yang dapat melukai jalannya kehidupan. dan sarung adalah penutup bilah agar tak lagi melukai.
Profile Image for Amalia Fajarwati.
33 reviews6 followers
July 24, 2014
Saya kagum pengetahuannya yg melengkapi bagian besar cerita. Tidak mungkin kan hal yg diceritakan sedetail itu semuanya hanya asal-asalan saja. :)
Profile Image for Jacq Jacq.
Author 24 books24 followers
May 5, 2017
Seru. Isinya macam-macam. Tapi, benang merah atau entah-apa-itu-nya (?) kurang kuat.
Profile Image for Ilfa.
9 reviews
April 15, 2017
beli buku ini saat ada diskon akhir tahun gramedia. harganya 20ribu. baru sempet kebaca di kereta Lodaya Pagi saat perjalanan menuju ke Bandung. karena malas bawa buku tebel akhirnya bawa novel yang lumayan tipis ini. karena suka dengan cerita petualangan, rasanya baca ini pengen banget punya kakek seorang pejuang. hahahaha. punya warisan turun temurun yang bakal bisa dikenal sepanjang hayat. *impossible* Aku suka novel dengan alur cerita campuran. karena dengan begitu akanada banyak hal yang terungkap. cerita romance nya bikin gregetan. saat mas Rain dengan masa lalunya yang mengobrak abrik emosiku saat membaca cerita cintanya mbak Laras. Aku lebih excited dengan alur cerita kehidupan mbak laras daripada alur cerita Djagag dan lika liku pernikahannya huehehehe....
Displaying 1 - 17 of 17 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.