saya menyambut dengan senang ketika mengetahui buku ini ada di dalam senarai buku-buku yang diterbitkan KITLV. tanpa berpikir panjang, saya pesan ke jakarta dan syukurlah masih tersisa satu kopi di sana. rupanya, banyak juga yang meminati buku ini sehingga rentang waktu dua tahun dari terbitnya hanya tinggal sisa satu saja untuk saya.
ini adalah buku sejarah teknologi, demikian dinyatakan dalam pengantarnya. hal yang langka. sebab, sejarah teknologi jarang ditulis. dan sejarah teknologi di sini disandingkan -atau dihubungkan- dengan praktik kolonialisasi: "technology and society are seen as one seamless fabric and technological development as a social process" [p.17:]. pembangunan jaringan jalan, pengairan sawah, rel kereta api, pelabuhan... semuanya adalah usaha-usaha teknologis yang dilaksanakan untuk menegakkan negara hindia belanda, dan yang kemudian bernama indonesia.
buku ini sendiri menghimpun beberapa penelitian mengenai kontribusi pembangunan infrastruktur dan bangunan publik dalam pembentukan negara kolonial hindia belanda tadi. perencanaan irigasi sawah dan perkebunan tebu, pembangunan jaringan transportasi massal kereta api, pembangunan pelabuhan-pelabuhan eksport, jaringan air bersih di kota, pembuangan air kotor, penanganan banjir... yang kesemuanya berkaitan dengan eksistensi negara kolonial.
ada 10 bab ditambah pengantar dan epilog, yang kaya dengan data dan sumber-sumber yang bisa dilacak balik bagi studi lebih lanjut. saya senang dengan munculnya buku ini, meski saya dapatkan baru dua tahun setelah terbit.
Saya membaca buku ini dengaan sejumlah pertanyaan. Pertama, Indonesia baru ada sejak tahun 1847 menurut Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Dalam buku ini, referensi 'Indonesia' lebih tepat untuk masa setelah itu. Mengapa memaksakan Indonesia, bukan Java dan Sumatra? Kedua, pernyataan tentang 'profits' dan 'prosperity' mengandung ambigu. Untung dan sejahtera bagi siapa? Ketiga, kepada siapa buku ini ditujukan? Dengan materi yang sebagian besar bersumber dari penulis Belanda, ada kesan glorifikasi atas keberhasilan pendudukan (kolonisasi) dalam upaya transfer teknologi ke Indonesia, atau masa setelahnya yang menjadikan Belanda adalah salah satu bangsa yang menguasai teknologi infrastruktur untuk dunia ketiga. Apakah buku ini cerita romantisme bahwa Belanda pernah berbuat kebaikan bagi bangsa-bangsa di Nusantara? Pada sisi Indonesia, pembaca yang lebih kritis akan melihat pada bab yang membahas mengenai hibridisasi teknologi lebih menarik di antara bab lainnya. Bangsa Indonesia bisa belajar untuk mengenal teknologi yang sesuai dengan konteks lokal geografis dan sosial mereka. Bagi saya, buku ini akan berguna apabila menggunakan 'sejarah' ini untuk memikirkan masa depan, bukan untuk dikagumi dan berhenti pada pencapaian masa lampau.
Buku setebal 563 halaman terbitan KITLV ini, bisa dikategorikan dalam buku sejarah terkait kontribusi pembangunan infrastruktur dan bangunan publik di Indonesia antara tahun 1800-2000. Kebetulan membaca karena tugas kantor. Sesekali baca yang agak beda he he he