Mei 1998 Siapapun yang mengalaminya tak ada yang bisa melupakan kengerian dan kaos yang terjadi saat itu. Bagi yang berhasil lolos dengan selamat, insiden itu akan selalu terpatri dalam memori mereka yang terdalam bersama semua luka dan kenangan akan orang-orang tercinta yang menjadi korban. Di antara mereka itu adalah Hasan Tandoyo.
Seorang pengusaha muda yang kembali ke rumahnya yang porak-poranda hanya untuk mendapati ibu yang sangat dicintainya sudah mati dibunuh para perusuh yang menjarah rukonya; dan adiknya yang bungsu mengalami guncangan jiwa akibat diperkosa oleh beberapa orang.
Apa yang akan Anda lakukan andaikan Anda adalah Hasan Tandoyo? Cobalah Anda berjalan dengan mengenakan sepatunya. Bagaimana rasanya andai yang terbunuh adalah ibu Anda, dan yang diperkosa adalah saudara Anda.
Selama ini barangkali Anda tidak pernah memikirkannya. Mungkin sekarang ini saatnya untuk mulai merenungkan...
Berawal dari menerjemahkan novel-novel Agatha Christie, S. Mara Gd mulai menulis novel pertamanya, Misteri Dian yang Padam pada tahun 1984 (diterbitkan tahun 1985). Tokoh yang diciptakannya adalah seorang kapten polisi bernama Kosasih dan sahabatnya yang punya latar belakang hitam, Gozali. Sejak itu novel-novel tentang petualangan dua serangkai, Kosasih dan Gozali, dalam melacak para kriminal mengalir terus. S. Mara Gd memadukan logika dan humor dalam bahasa sehari-hari yang menarik, di sana-sini diwarnai oleh dialog Suroboyo-an. Lokasi ceritanya umumnya mengambil tempat di Surabaya dan sekitarnya.
Nvl ini adl salah satu novel paling luar biasa yg pernah aku baca. Totally change my life, my opinion about Indonesia. I fall in love with Indonesia for the 1st time after reading this novel. For the first time in my life, I declare that I'm not only a Chinese but I'm an INDONESIAN! Selain itu nilai2 lain yg diungkap jg amat sangat luar biasa, speechless, mending baca sendiri n let your life changed!!!
Lengsernya Orde Baru sekaligus menurunkan jabatan presiden Soeharto memicu peristiwa-peristiwa besar seperti penjarahan, pemerkosaan, penculikan, pembunuhan. Sampai detik ini tragedi tersebut masih meninggalkan luka mendalam terutama bagi masyarakat keturunan China.
Buku ini lebih banyak menceritakan bagaimana Hasan dan Lani mengobati trauma atas kejadian memilukan di tahun 98 tersebut. Aku suka bagian dimana yapping antara Hasan dan dr. Gatot ataupun dr. Gatot bersama anaknya. Caci maki Hasan tentang periode Soeharto yang banyak merugikan China, bukan sekedar rasisme chindo tapi juga dari segi ekonomi. China yang lebih maju secara ekonomi tapi harus disepak oleh sesama WNI karena dianggap ancaman.
Ucapan-ucapan Hasan dan dr. Gatot yang berani dan begitu blak-blakkan membahas soal Soeharto, Habibi, Orde baru, ekonomi sempat membuat aku kaget karena ditulis begitu jujur dan apa adanya, tapi sekaligus juga membuka wawasan baru dengan bahasa yang lebih ringan.
Sayangnya ada beberapa dialog dr. Gatot yang kurang aku suka, terutama saat beliau membawa-bawa nama Tuhan. Seolah tragedi yang dialami Hasan cukup untuk di tawakal-kan (pasrahkan) saja tanpa perlu melakukan perlawanan. Dan aku juga kurang suka bagaimana semua tokoh menyudutkan Lani sebagai korban pemerkosaan yang harus dirahasiakan. Padahal korban bukanlah aib, dan mereka berhak mendapat keadilan.
Beberapa bulan yang lalu memulai membaca buku ini, ga tau kenapa kayak ga dapet feel-nya, mau DNF juga sayang karena sudah terlanjur baca sampai halaman 200an. Sebenernya bukan karena ga bagus, mungkin menurutku karena temponya yang lambat dan kayak bukan gaya nya bu S. Mara Gd, yang biasa aku baca di buku-buku sebelumnya yang serial detektif mungkin.
Membahas kerusuhan Mei 1998, kerusuhan yang melengserkan Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto, bagaimana warga keturunan Cina banyak menjadi korban kerusuhan, baik pengerusakan properti milik mereka, hingga kejahatan seksual perkosaan yang banyak dialami oleh kaum perempuan keturunan Cina kala itu.
Hasan Tandoyo, seorang keturunan cina yang merupakan pengusaha kelas menengah yang menjadi tokoh utama dalam buku ini, ia menjadi salah satu korban kerusuhan tragedi Mei 1998, yang menewaskan ibu serta adik perempuannya, Lani ikut menjadi korban perkosaan. Dikisahkan trauma yang mendalam yang dialami oleh Hasan dan para korban lain yang menjadi korban tragedi kerusuhan 1998 yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia kala itu.
"Kenapa Tuhan membiarkan orang-orang jahat itu menghancurkan kita dulu? Kenapa Tuhan tidak menghalangi niat jahat mereka?" "Sering Tuhan itu bekerja dengan cara yang tidak kita mengerti, San. Barangkali Tuhan membiarkan hal itu terjadi untuk menguji kita, siapa di antara kita yang memang benar-benar mencintai Tuhan dan berpegang teguh pada iman. Pada waktu makmur, pada waktu hidup enak, berpegang pada iman itu gampang. Semua orang bisa. Tapi justru pada waku kesusahan dan bencana datang, pada waktu nyawa kita terancam, baru terlihat siapa yang benar-benar kokoh imannya dan siapa yang tidak." (halaman 177-178)
Tema yang diangkat bagus. Tentang korban pengrusakan dan penjarahan serta pemerkosaan pada tahun 1998. Mengambil sudut pandang orang pertama, kita akan diajak menelisik jauh ke dalam pikirannya dan perasaannya selama ini. Bagaimana kaumnya yang minoritas didiskrimasi, dianggap tidak mau membaur, dan tidak diakui sebagai warga negara. Padahal mereka sudah tinggal di Indonesia selama berpuluh-puluh generasi. Namun negara seolah enggan mengakui mereka. Fokus cerita lebih kepada pemulihan pasca tragedi tersebut. Bagaimana sikap Hasan setelah kehilangan ibu dan adik perempuannya. Sayangnya dialog dalam buku ini sangat panjang. Bahkan dialog antara 2 tokoh bisa sampai 5 halaman sehingga membuat dialog terkesan kurang natural. Apalagi dialognya ada yang diulang-ulang. Rasanya seperti membaca naskah novel sebelum diedit.
Luar biasa..Begitu detail penggambaran catatan sejarah yang ada di novel ini..Kejadian 98, itu terjadi ketika saya masi remaja..belum gitu mengerti sebabnya..Lewat novel ini, saya mendapatkan sudut pandang lebih netral..
Buku ini beda dari tulisan S. Mara Gd yg biasanya bertema kasus pembunuhan. Penulis mencurahkan isi hatinya tentang tragedi Mei 98 yg terjadi di negara kita waktu itu. Lebih spesifik, penulis mengisahkan tragedi yang menimpa sebuah keluarga keturunan Cina, keluarga Tandoyo.
Plot berlangsung dari tanggal 12 sampai 21 Mei 1998, di Surabaya. Saat itu sedang ramai demonstrasi di Jakarta, menuntut Presiden Soeharto untuk mundur. Hasan hendak ke Jakarta untuk membeli persediaan barang untuk usaha tokonya. Meski ibunya yang punya firasat buruk melarang, Hasan tetap berangkat ke Jakarta. Sampai di Jakarta, kerusuhan pecah, tapi Hasan bisa menghindarinya dan baik-baik saja. Justru ibu dan adiknya di Surabaya yang jadi korban.
Pada hari yang sama dengan kerusuhan di Jakarta, rupanya hal serupa juga disebar ke beberapa kota, termasuk Surabaya. Orang2 yg tak dikenal tiba2 muncul (diangkut dengan truk) dan membuat kekacauan, merusak dan menjarah toko2, dan sasaran utamanya adalah orang-orang keturunan Cina. Rumah/toko milik keluarga Tandoyo pun tak luput dari sasaran. Para perusuh merusak dan menjarah toko, tapi yang lebih biadab adalah mereka membunuh Nyonya Tandoyo dan memperkosa Lani.
Selanjutnya adalah efek yang muncul dari kejadian yang menimpa keluarga Tandoyo. Lani yang merasa dirinya sudah tercemar, tidak ingin hidup lagi. Hasan jadi membenci semua orang pribumi yang menurutnya bertanggung jawab karena telah melakukan kekejian pada keluarganya.
Kalo dari kualitas cerita, sebenarnya ga bagus2 banget, dialognya panjang2 dan ga natural. Tapi buku ini mengingatkan kita dan memberi gambaran apa yang terjadi waktu itu, yang dialami oleh orang2 keturunan, diskriminasi yang mereka alami sejak dulu, ketakutan yang mereka alami.
Karakter lain yang ada di buku ini ada Dokter Gatot Sukmono, dan putrinya, Dewi, yang merawat Lani. Mereka menjadi perwakilan dari orang pribumi yang berpikiran jernih, yang ingin menjembatani prasangka buruk antar orang2 keturunan dan pribumi.
Gw jadi inget, sama orang-orang, khususnya cewek2 Cina yang gw kenal, dan gw suka. Membayangkan kejadian seperti itu pernah terjadi pada orang2 seperti mereka... This kind of tragedy must never happen again.