Dengan tajam Warisan menyoroti kemerosotan kepercayaan terhadap masyarakat yang dikuasai oleh laki-laki dan praktek-praktek dalam masyarakat tersebut. Apa yang terjadi kalau kematian merenggut suami seorang istri? Apakah keluarga suami mewarisi seluruh harta yang telah dikumpulkan oleh pasangan itu? Nyonya Mudenda berpendapat: tidak terhadap keputusan ini... tapi mau tak mau ia harus melewawati tata cara yang sangat menusuk hati, yaitu tidur dengan adik iparnya untuk "membersihkan" arwah almarhum suaminya. Ia menggunakan seorang pengacara dan berjuang dalam pertempuran hukum mendapatkan apa yang sebenarnya merupakan hak warisnya.
Sebuah sastra dari benua Afrika yang pertama kali saya baca—bahkan satu satunya dalam hidup saya.
Warisan dimulai dengan Moya yang menghadapi persidangan tentang hak waris mendiang suaminya yang baru saja meninggal, dalam hukum di negaranya, hak waris menitikberatkan ke keluarga suami tanpa memperdulikan posisi istri dan keluarga yang ditinggalkannya.
Moya adalah perempuan yang menggugat dan melawan budaya patriarki yang mengakar kuat di masyarakat. Ia gagal bersekolah dan terpaksa menikahi orang yang tidak ia cintai di usia SMP karena budaya dan ayahnya gagal menyekolahkannya demi anak laki-laki dalam keluarganya bisa sekolah.
Meskipun demikian, Moya selalu berusaha keras agar tak bergantung hidup dengan suaminya, Udenda yang juga tidak menjadi suami yang bertanggung jawab. Sehingga, seharusnya harta waris suaminya adalah hartanya.
Moya melawan melalui pendidikan kepada anak anaknya, meskipun anak anaknya pada suatu masa gagal, namun Moya tetap percaya.
Secara keseluruhan, Novel ini membawa kita ke budaya patriarki yang sangat berat pada tahun 50 sampai 60an di benua Afrika.
Warisan bisa berarti dua hal disini, pertama warisan sebagai alur cerita dimana Moya berusaha mempertahankan apa yang menjadi miliknya, kedua patriarki sebagai warisan budaya yang perlu kita ubah perlahan.
Pesan di akhir cerita menutup kesimpulan dengan apik, dan lengkap serta menjaga pace nya agar tetap nyaman dibaca.
sebuah novel tipis yang kental sekali menyoroti perbedaan hak antara pria-wanita, untuk bersekolah, perkawinan, perlindungan hukum, dan tentu saja, warisan. dituturkan sepenuhnya satu dimensi dari sudut pandang seorang wanita yg seumur hidupnya terjajah oleh ayah dan suaminya, kini memilih berjuang melindungi keluarganya, saat sepotong tanah milik alm suaminya hendak diserahkan pada ayah dan adik sang suami.
sebenarnya topik yg diangkat cukup dalam mengiris persoalan-persoalan feminisme, tp cara penyampaiannya terasa dijejalkan begitu saja pada pembacanya. tidak ada balutan emosi yang menjangkarkan pembaca pada karakter tokoh utamanya. membaca novel ini malah mengingatkan saya pada sebuah kolom kisah nyata di salah satu majalah wanita.
ttg edisi bhs indonesianya: terjemahannya lumayan apik, kalimatnya mengalir lancar, mudah dinikmati dan tanpa typo. seep! yang kurang justru perkenalan terhadap pengarangnya. saya sampai harus nembolak balik halaman hanya untuk mencari negeri asal pengarang dan setting cerita ini (zambia ternyata, baru ketemu di halmn situs GR). blurb-nya di sampul blkg tidak menyebutkan, halmn ttg pengarang menyebutkan gelar dan profesi pengarang tanpa biodata lain, sedangkan pengantarnya berlama-lama menjelaskan definisi feminisme dan satu-satunya penanda geografis yg dituliskan adalah 'Afrika' tanpa penjelasan lebih lanjut. sebenarnya saya malah tidak yakin apakah pengarangnya ini perempuan atau laki-laki lo #eh
Novel tipis, tetapi ketika dibaca benar-benar bikin merinding. Tentang feminisme yang kentara. Bagaimana Moya sangat membenci para lelaki. Sebenarnya kebencian itu mulai nampak ketika ayahnya menikahi istri muda hingga dua kali(istri kedua dan ketiga yang lima tahun lebih tua darinya), dan lama-kelamaan mencampakkan ibunya yang istri pertama. Lalu melarangnya sekolah dan mengawinkannya. Lalu kebenciannya kepada keluarga suaminya yang mengambil semua hartanya...