Goodreads Indonesia discussion

note: This topic has been closed to new comments.
247 views
Bahasa Ibu dan Ancaman Kepunahan

Comments Showing 1-20 of 20 (20 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Pra (new)

Pra  (vlatonovic) | 1185 comments Jawa Pos [ Minggu, 11 Januari 2009 :]

Bahasa Ibu dan Politik Kebudayaan Nasional

Ancaman kepunahan bahasa ibu --atau yang populer disebut bahasa daerah-- terjadi di seluruh Nusantara. Agustus lalu, Multamia RMT Lauder dari Departemen Linguistik Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dalam seminar ''Empowering Local Language Through ICT'' di Jakarta mengungkapkan bahwa dari 742 bahasa daerah di Indonesia, 169 bahasa terancam punah karena berpenutur kurang dari 500 orang. Hanya 13 bahasa saja yang penuturnya lebih dari satu juta orang.

Menghadapi masalah ini, masyarakat lokal di berbagai penjuru Nusantara memberi perhatian --di antaranya-- dengan menggelar kongres bahasa daerah. September 2006 di Semarang diselenggarakan Kongres Bahasa Jawa IV. November 2007 di Bandar Lampung dilangsungkan Kongres Bahasa-Bahasa Daerah Wilayah Barat. Di penghujung 2008, tepatnya 15-19 Desember lalu, di Pamekasan digelar Kongres Bahasa Madura.

Peta persoalan yang dihadapi bahasa ibu terkait dengan ancaman kepunahannya saat ini di antaranya berakar pada problem dokumentasi, fungsi dan sosialisasi, serta kelembagaan. Dokumentasi karya berbahasa ibu kurang digalakkan, sementara orientasi fungsionalnya juga masih penuh tanda tanya, dan sulit pula menemukan lembaga sosial formal maupun nonformal yang secara konsisten mengawal pelestarian bahasa ibu.

Dalam konteks bahasa Madura, tak dapat dimungkiri bahwa pesantren hingga kini menjadi salah satu lembaga yang turut merawat pelestarian bahasa Madura. Selain digunakan sebagai bahasa pengantar terutama dalam pengajian kitab-kitab kuning, di pesantren-pesantren tradisional bahasa Madura dipandang sebagai simbol tatakrama pergaulan sehari-hari. Akan tetapi, peran pesantren dalam melestarikan bahasa Madura saat ini mulai terancam karena transformasi kelembagaan yang dialami pesantren. Banyak pesantren tradisional yang mulai mengadopsi sistem pendidikan formal dan perlahan mulai meninggalkan bahasa Madura sebagai bahasa pengantar keilmuan dan bahasa pergaulan.

Pada titik inilah kita kemudian dapat merasakan tarik-menarik, atau mungkin ruang negosiasi, antara bahasa ibu dan bahasa nasional. Di satu sisi, seperti diuraikan oleh Soedjatmoko (1984: 135-139), di era pembangunan memaknai kemerdekaan, bahasa Indonesia telah menjalankan fungsinya sebagai bahasa kenegaraan, bahasa perantara dalam pergaulan antardaerah, serta menjadi wadah tunggal informasi untuk kemajuan dan pembangunan. Transformasi sosial, seperti meningkatnya mobilitas horisontal dan vertikal, proses urbanisasi serta proses modernisasi, telah memperluas penggunaan bahasa Indonesia.

Di sisi yang lain, bahasa ibu tak mampu menunjukkan secara jelas fungsi praktis dan progresif yang signifikan, terutama dalam iklim perubahan sosial yang begitu cepat dan semakin mendunia. Bahasa ibu tampak ''hanya'' memiliki fungsi sebagai penjaga nilai-nilai kebudayaan lokal. Jadi, semacam fungsi konservasi nilai saja. Itu pun di tengah gerusan zaman yang menantang pendefinisian ulang nilai-nilai kebudayaan lokal tersebut berhadapan dengan nilai dan peradaban global.

Dengan kondisi demikian, tak heran jika berbagai lembaga kultural di masyarakat seperti pesantren, atau juga seni tradisi, yang sebelumnya --mungkin tanpa disadari banyak pihak-- cukup banyak berpartisipasi dan berkontribusi merawat bahasa Madura secara perlahan mulai berkurang peranannya. Kebutuhan dan tuntutan masyarakat terhadap sistem pendidikan pesantren untuk juga ikut mengakomodasi ''sistem negara'' atau untuk menjadi lebih ''modern'' secara dilematis menggiring berkurangnya porsi penggunaan bahasa Madura di pesantren sebagai bahasa keilmuan dan bahasa pergaulan. Sementara itu, seni tradisi semakin kurang diminati, karena desakan kultur global yang berciri monolitik. Politik kebudayaan nasional ternyata berdampak pada peminggiran peran bahasa ibu.

Sampai di sini kita melihat bahwa perhatian dan sikap negara untuk memosisikan bahasa ibu dalam kaitannya dengan bahasa nasional ternyata masih belum cukup jelas. Bahasa ibu tak dipandang sebagai bagian dari masalah nasional. Padahal, daya tahan dan kelestarian bahasa ibu tak cukup hanya dipikirkan dan diselesaikan oleh masyarakat penggunanya saja. Untuk itu, strategi dan politik kebudayaan (nasional) yang akan dikembangkan dengan kenyataan masyarakat yang menggunakan dwibahasa ini (bahasa ibu dan bahasa nasional) sudah semestinya dipertegas.

Di wilayah manakah bahasa ibu akan dikembangkan dan dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari? Siapa dan langkah apa saja yang perlu dilakukan di lapangan? Mungkinkah memperkuat kembali bahasa ibu melalui momen-momen kultural yang secara tradisional dan popular diselenggarakan masyarakat --yang belakangan cenderung digantikan dengan bahasa nasional? Dengan mengeksplorasi pertanyaan semacam ini, nantinya mungkin akan lebih jelas pula jalan keluar terkait dengan pranata sosio-kultural yang secara khusus bergiat melestarikan bahasa ibu tersebut. Artinya, rekomendasi pengembangan dan pembinaan bahasa ibu akan menemukan jangkar kulturalnya dalam kehidupan masyarakat.

Salah satu contoh kecil dari dialektika bahasa ibu dan politik kebudayaan nasional dapat diangkat dari kasus penyerapan istilah asing. Akhmad Baihaqie, seorang lulusan Universitas Al-Azhar Kairo jurusan Bahasa dan Sastra Arab, dalam salah satu tulisannya mempertanyakan mengapa bahasa Indonesia lebih banyak menyerap istilah asing dari bahasa Inggris dan Arab. Mengapa tidak memanfaatkan ratusan bahasa daerah sebagai sumber kata serapan, seperti yang dilakukan Majma Lughah al-Arabiyah (Pusat Bahasa Arab) yang cenderung menghidupkan kembali kosakata arkais dalam khazanah kebahasaan yang mereka miliki untuk digunakan dan dipopulerkan kembali? Politik bahasa seperti dalam contoh ini dapat menjadi gambaran tentang negosiasi antara bahasa ibu dan bahasa nasional.

Perumusan strategi budaya untuk melestarikan kekayaan lokal bahasa ibu ini tampaknya akan lebih baik jika dimulai dari bawah, dari masyarakat penutur bahasa ibu itu sendiri, dengan pelaku-pelaku yang bergiat di lembaga formal maupun nonformal yang bersentuhan langsung dengan pelestarian bahasa ibu. Sepertinya, masalah politik dan strategi kebudayaan bahasa ibu menjadi salah satu agenda strategis yang penting dibicarakan tidak saja oleh para pemerhati bahasa dan budaya daerah, tetapi oleh elemen bangsa yang lebih luas. Wallahualam. (*)

M. Mushthafa, Guru SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep



message 2: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Wah artikel bagus dan menarik nih Pra...sampai sekarang saja diriku masih malu karena tidak bisa menggunakan Bahasa Daerahku ( Jawa ) dengan baik dan benar.

Kalo dipetakan...kira-kira bahasa daerah di Indonesia ada berapa yah...apakah ribuan seperti tiap pulaunya?...*wah gak kuat nih ngitungnya*...hehehehe.


message 3: by lita (new)

lita hiks..aku yang tidak punya bahasa ibu selain bahasa Indonesia, jadi malu...:)


message 4: by miaaa, Moderator (new)

miaaa | 2354 comments Mod
sebenarnya lebih miris mana? ngerti berbagai bahasa ibu tapi tidak benar2 bisa menggunakannya, atau tidak bisa sama sekali?

aku paham ketika keluarga ibu yang dari tanah karo ngomong sesuatu, paham juga keluarga bapak dari tanah simalungun ngomong apa. sedikit ngerti bahasa mandailing dari tapanuli selatan, ngerti juga bahasa toba yg dipakai temen2 sma. tapi masalahnya ketika mau ngomong sendiri kok semua bahasa itu bercampur aduk jadi satu! kalau yang diajak ngomong ngerti sih gak masalah kalau ternyata mereka cuma paham bahasa karo saja gimana? akhirnya tetep pake bahasa indonesia deh ...


message 5: by [deleted user] (new)

Buku bagus sekali tentang kepunahan bahasa-bahasa daerah dan bahaya yg ditimbulkannya: Languages in Danger. Tiap dua minggu ada 1 bahasa punah.

Menurut buku ini ada tiga bahaya dari kepunahan bahasa2 daerah:
1) pengetahuan lokal, terutama etnobotani, yang terkandung dalam bahasa2 itu. Misalnya jamu2an buat pengobatan dsb yg hanya dikenal oleh masyarakat setempat dlm bahasa setempat
2) pandangan dunia yang terkandung dalam bahasa itu (konon suku Dayak punya bermacam2 kata buat menyebut kami/kita, yg bisa menggambarkan betapa komunalnya pandangan dunia mereka)
3) inovasi linguistik bahasa kita sendiri dari persentuhan dg bahasa2 daerah itu.



message 6: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 712 comments di tangerang ada bahasa sunda tangerang, bahasa betawi logat sewan, logat cipondoh. ada bahasa banten yang mirip sama bahasa cerbonan.

di tangerang pernah ada bahasa golok, aing kadek siah!

selain ada juga bahasa kalbu :D *lebaayyyy*


message 7: by Wirotomo (new)

Wirotomo Nofamilyname | 2396 comments Susahnya memang bahasa itu akan tetap ada cuma kalau ada yang menggunakannya atau kalau ada pendirian pusat pengkajian atau apa deh yang meneliti bahasa itu.
Jadi memang pasti ada bahasa yg "kalah" karena tidak digunakan atau terasa tidak perlu untuk diteliti. Cuma mungkin seharusnya Pemerintah harus berupaya ya mendokumentasikan sebelum benar2 punah.

Indonesia kan sekarang sudah menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia, jadi di sekolah2, acara resmi, dsb yang digunakan ya bahasa Indonesia. Teman2ku di yogya yg jelas orang jawa dan tinggal di yogya aja pada nggak bisa yg bhs Jawa halus, bisanya cuma yg ngoko. Apalagi daku yang tinggal di Jakarta. Ibu/Bapak sih tetap pakai bhs Jawa (ngoko) denganku, tapi aku disuruh menggunakan bhs Indonesia, biar di sekolah nggak kaku pakai bhs Indonesia. Jadi memang ribet ya upaya mempertahankan bahasa ibu ... :-)


message 8: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 712 comments ada loh, dalam sebuah berita di majalah (gatra, atau tempo) yang membuat kamus bahasa osing. dia modal sendiri. kebayang tekunnya bikin kamus bahasa osing. coba cek perpus banyuwangi. mungkin ada.


message 9: by Lutfi (new)

Lutfi Retno (LutfiRetnoWahyudyanti) | 185 comments Klo aku seh masih bisa make Bahasa Jawa Kromo alus. Karena dulu pas kecil orangtuaku ngobrol pake bahasa ini. Tapi ne bahasa mulai jarang tak pake mulai SD. Rasanya aneh aja ngomong dengan bahasa yang tertata dan kaya ada jarak sama yang diajak ngomong. Lama2 aku lebih biasa pake bahasa Indonesia yang menurutku nggak pake strata karena menurutku bahasa Jawa Ngoko tu terlalu kasar untuk didengar.


message 10: by Pra (new)

Pra  (vlatonovic) | 1185 comments mungkin semuanya akan terancam dengan bahasa SMS yang bikin pusing kepala.


message 11: by [deleted user] (last edited Jan 28, 2009 04:41AM) (new)

Lucunya, ada penelitian di Inggris (baca di Newsweek ato Economist kapan, lupa) bhw para abege yg nyiptain basa2 SMS aneh itu sebenernya sense of berbahasanya jago. Mereka mudeng banget struktur kalimat dan peka sama bentuk kata. Itu kenapa mereka bisa bikin bahasa2 aneh.


message 12: by Dharwiyanti (new)

Dharwiyanti | 162 comments gue sih masih beranggapan, slang itu memperkaya khasanah suatu bahasa. termasuk bahasa SMS. dia akan datang dan pergi seiring waktu, tapi toh bahasa bakunya tetap dipakai orang.

menurut gue sih bahasa daerah lebih mudah punah dibanding bahasa nasional. coba lihat, dengan makin banyaknya "kawin silang" antar suku, anak2 hasil pernikahan itu biasanya "dipaksa" untuk tidak berbahasa daerah.


message 13: by [deleted user] (new)

pada saat bahasa daerah berangsur punah, bahasa nasional pun terancam dg datangnya bahasa2 "sempalan" akibat benturan2 dlm globalisasi:
kita bisa lihat munculnya sekarang "Indian English" atau kadang disebut "Desi English" atau inggris ala India, yang punya kosakata khas dan sedang dibikin kamusnya (http://www.vsubhash.com/desienglish.asp). Atau Spanglish yang sudah lama dipakai komunitas2 Hispanik di AS dan kalau ga salah udah ada kamusnya.

@ninus
iya itu kadang gw heran. mereka bisa komunikasi lancar dg bahasa ajaib itu, dan ga salah mengartikan singkatan


message 14: by [deleted user] (new)

soal bahasa itu gak bisa lepas dari masalah politik-ekonomi.
transmigrasi sama dengan kolonialisme. kepunahan bahasa suku cuma satu dari sekian tanda roda-roda penindasan yang diberi merek pembangunan".


message 15: by Andri (new)

Andri (clickandri) | 665 comments busyeet.. kepunahan bahasa.. penindasan.. pembangunan... berat banget.. gak ikutan deh..

-andri-


message 16: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 712 comments persoalan bahasa daerah yang punah juga buat gue adalah bahasa daerah itu terjebak di masa lalu. mereka jarang dikontekstualkan dengan kondisi kekinian. ketika kita hanya mencatat dan mendokumentasikan, di satu sisi menolong untuk mencegah hilang begitu saja. namun buat saya pencatatan yang paling canggih adalah ketika bahasa itu dihidupkan di masa kini dengan kekiniannnya pula.

contohnya. bahasa jawa yang katanya berjenjang itu, akan punah karena pengguna kromo alus semakin jarang. itu dikaitkan dengan feodalisme, keberjarakan (komen lutfi) dll. jika kita melihat dari kacamata strukturalisme memang begitu kayaknya.

tapi ada seorang kyai di jateng (sumber majalah tempo atau gatra yang saya baca waktu kuliah). kyai kampung yang menggunakan bahasa kromo untuk berkomunikasi dengan banyak orang. peduli dia pejabat atau tukang becak. praktek ini adalah sebuah terobosan aktor dalam mendobrak struktur yang jumud.

saya bukan ahli bahasa jawa. namun dalam persoalan kebahasaan, "alus" dalam sejumlah bahasa terkait dengan hubungan persona pertama dengan mitra bicaranya, dan juga ada sejenis indirectness (non-verbal masuk di sini).

dalam kasus kyai itu, perspektif saya barusan bisa jadi menggambarkan kyai itu sebagai orang yang menghormati banyak orang. kenapa? karena dalam konsep halus bahasa jawa, sunda dan juga sebenarnya Indonesia, konsep persona pertama halus itu identik dengan merendah. Kulo, abdi, saya. Dengan begitu si kyai telah menggunakan bahasa yang "feodal", "berjarak" untuk sebuah suasana penghormatan. dengan menempatkan mitra bicara dengan posisi di atas.

terobosan berbahasa dan aktualisasi yang menarik buat saya. Egalitarian tidak identik dengan bahasa ngoko saja. tapi bahasa kromo yang digunakan kepada semua manusia. hik banget man!


message 17: by nanto (last edited Jan 28, 2009 09:32PM) (new)

nanto (nantosriyanto) | 712 comments eh lupa. ada film spanglish dengan pas vega sebagai ibu yang gagap berbahasa inggris di sekitara LA gitu


message 18: by Lutfi (new)

Lutfi Retno (LutfiRetnoWahyudyanti) | 185 comments Klo soal Bahasa Jawa nyaris punah, aku bisa nyebut banyak contoh. Adekku yang anak SMP bisa dibilang nyaris ga ngerti Bahasa Jawa padahal dia tinggal di Jogja. Aku rasa hal yang sama terjadi di generasi bawahnya. Anak-anak tetanggaku yang anak SD sekarang juga nggak ada yang pake Bahasa Jawa. Setahuku orangtuanya ngajarin pake Bahasa Indonesia karena lebih praktis aja.

Trus soal Bahasa Indonesia yang mau punah, aku nggak terlalu yakin. Aku lebih percaya klo ni bahasa bakal semakin banyak kosa kata serapannya. Paling banter ni bahasa semakin kacau tata bahasanya karena aturan baku dan engganya nggak jelas.


message 19: by Nanny (new)

Nanny SA | 1353 comments Hasil Ebtanas SMP & SMA beberapa tahun terakhir ini nilai rata2 Bhs.Indonesia lebih rendah dari bhs Inggris lho.
Memang kenyataannya bahasa daerah sudah mulai jarang dipakai oleh anak2 di berbagai daerah di Indonesia. Munculah gejala baru bahasa Indonesia dengan dialek, intonasi dan lafal pengucapan bahasa daerah masing2. Kadang2 lucu kadang2 miris juga dengarnya :)


message 20: by Suryati (new)

Suryati | 220 comments Saya rasa kepunahan bahasa daerah maupun ancaman kepunahan bahasa Indonesia disebabkan berkurangnya penggunaan bahasa tersebut dalam keseharian kita. Saya pikir punahnya bahasa daerah disebabkan hal-hal sebagai berikut :
1. Gencarnya pengajaran bahasa Indonesia yang dilakukan disekolah-sekolah pada era yang lalu yang mewajibkan setiap murid untuk berbahasa Indonesia. Sebagai contoh di kampungku dulu yang berbahasa Indonesia sangat jarang, setiap individu menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa Cirebon baik bahasa Cirebon halus yang disebut dengan bahasa babasan maupun bahasa Cirebon pergaulan yang lebih banyak digunakan oleh anak-anak muda hal dikarenakan tidak banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya bahkan walaupun cuma menamatkan sekolah dasar, sehingga mereka tidak mengenal bahasa Indonesia. Tetapi setelah semua anak umur sekolah sudah memperoleh pelajaran bahasa Indonesia dan orangtuanya pun mengajarkan bahasa Indonesia di rumah kini jarang yang menggunakan bahasa Cirebon dalam komunikasi sehari-hari.
2. Pengaruh media cetak dan elektronik yang sangat besar.Setelah berhasilnya program melek huruf sampai di desa-desa, mereka tentunya mudah memperoleh informasi baik dari media cetak maupun elektronik, TV misalnya. Melalui TV yang tentunya menggunakan bahasa Indonesia mengakibatkan sedikit demi sedikit penggunaan bahasa daerah mulai ditinggalkan karena terkesan kalau berbahasa daerah itu kuno dan gak intelek.Tuduhan seperti ini pernah saya alami, karena sedari kecil kami dirumah selalu berkomunikasi dengan bahasa Indonesia sementara teman-teman masih berbahasa Cirebon, mereka bilang kalau saya sok gaya, sok hebat. Padahal saya berbahasa Indonesia karena Bapak saya memang tidak bisa bahasa Cirebon maklum Bapak orang Ternate yang hanya bisa bahasa Indonesia dan bahasa daerah Ternate tentunya.
3. Perkawinan antar suku, untuk memudahkan komunikasi antar suku maka digunakan bahasa Indonesia yang menjadi bahasa persatuan Indonesia. Karena kalau menggunakan bahasa daerah asalnya belum tentu pasangan maupun anak-anak mereka akan mengerti bahasa tersebut, terutama bahasa yang tidak digunakan dalam lingkungan rumah mereka. Kembali hal ini pernah saya alami, sebagai anak yang lahir dari dua orang yang berbeda suku dan budaya, maka orangtua saya menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan kami dan keluarga besar kami yang ada di Cirebon, sedangkan bahasa Ternate jarang digunakan kecuali kalau ada saudara dari Ternate datang berkunjung.

Untuk menghindari punahnya bahasa daerah sebenarnya pemerintah sudah berupaya dengan memasukkannya dalam bahasa daerah yang wajib diberikan di sekolah-sekolah, seperti di Jawa Barat ada pelajaran bahasa Sunda dan di Cirebon sendiri ada pelajaran bahasa Cirebon. Tetapi sebenarnya yang utama adalah kita harus menggunakannya juga dalam komunikasi sehari-hari.

Mengenai ancaman kepunahan bahasa Indonesia, rasanya masih cukup jauh, bahkan semakin berkembang dengan diserapnya bahasa daerah maupun bahasa daerah lain dalam bahasa Indonesia.

Semua hal diatas diambil dari pengalaman pribadi, kalau untuk mengetahui dengan jelas kenapa bahasa daerah bisa punah yang jelas tentulah melalui penelitian yang cukup mendalam.



back to top
This topic has been frozen by the moderator. No new comments can be posted.