Alanakyla: Tidak Mencari Pangeran Alanakyla discussion


25 views
REVIEW FROM OTHERS

Comments Showing 1-5 of 5 (5 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Kusumastuti (last edited Jan 22, 2009 01:23AM) (new) - rated it 4 stars

Kusumastuti All reviews from other people, which may not have goodreads account but want to share their opinions.


message 2: by Kusumastuti (last edited Jan 22, 2009 01:23AM) (new) - rated it 4 stars

Kusumastuti From Misyal:

Rasanya tak ada kritikan yang pas, bukunya terasa lugas dan mengalir... Pemilihan kata yang pas disertai nuansa istilah yang berbau eropa menyadarkan pembacanya bahwa penulis novel ini tidak sekadar berandai andai berada di edensor, namun memang hidup dan tinggal disana.

Perancang sampul memang perlu berhati2 agar tidak menjebak pembaca remaja/kanak-kanak untuk membelinya, sekadar mengintip paragraph akhir buku ini akan menyadarkan sie remaja tanggung bahwa buku ini memang untuk "mereka bukan kita".

Alanakyla adalah nama yang tidak umum untuk nama anak maupun judul buku.... Perlu tengokan kedua disertai kesabaran untuk bisa mengejanya...


Kusumastuti From Puguh (contain spoiler):

Novelnya bercerita tentang jalan percintaan Alanakyla. Kyla adalah remaja yang beranjak matang pada era awal 90an. Booming pertumbuhan ekonomi pada masa itu dan pseudo-capitalism di Indonesia membuat kehidupan profesional lebih diagungkan daripada kehidupan keluarga.

Disisi lain Kyla sering dihadapkan pada pengalaman melihat bentuk pernikahan yang didorong lebih karena “Saving Private Asset”, dan alasan lain yang membuat pihak perempuan berada pada posisi tawar yang lemah dan harus mengubur mimpi serta ambisi yang berkaitan dengan kehidupan profesional.

Pengalaman tentang dunia pernikahan yang meletakkan perempuan pada posisi mengalah membuat Kyla ingin memiliki sesuatu yang dapat menjadi bentuk aktualisasi diri. Dalam pandangan Kyla kriteria sukses adalah pencapaian strata dalam tangga kehidupan profesional. Maka usai lulus kuliah, Kyla bekerja sebagai project engineer pada penyedian peralatan dapur besi.

Pendekatan kalah-menang lebih banyak digunakan dalam menjalani kehidupan percintaan Kyla. Ia menempatkan kehidupan percintaannya sebagai korban dunia yang patriaki. Dapat saja hal ini dianggap sebagai reaksi atas cara pandang pasangan Kyla, atau memang sahih karena pengalaman hidup Kyla.

Wibi, adalah pacar Kyla pada periode transisi mahasiswa memasuki kehidupan profesional. Wibi tergolong sama dengan Kyla yang sangat menikmati aktualisasi diri melalui berbagai predikat di dunia profesional dan kehidupan berkeluarga sebagai sesuatu yang bersifat sekunder.

Saat hubungannya dengan Wibi dalam proses menuju titik nadir, perlahan hadir juga lelaki yang pernah Kyla temui saat transit di sebuah penerbangan. Pria yang jauh lebih matang secara usia dan kelihatannya dalam mid-life crisis. Dengan penawaran sebagai ‘pria yang diterlantarkan istrinya’ Kyla akhirnya menerima kontak-kontak singkat dan hadiah-hadiah kecil(namun mahal) dari Raymond Wijaya. Ditambah kematangan dan pengalaman di dunia profesional(dan mungkin pengalaman menangani perempuan muda), Raymon akhirnya membuat Kyla memutuskan untuk menjalin hubungan khusus.

Apalagi setelah Kyla berkesimpulan bahwa ia dikalahkan oleh prioritas profesional Wibi, akhirnya Kyla berpikir bahwa sang kodok yang menjelma pangeran ini tidak sesuai kriterianya dan memilih untuk lebih dekat dengan Ray.

Impian Kyla bahwa pria sematang Ray akan bisa menerima segala resiko termasuk hubungan jarak jauh ketika Kyla ditugaskan di kantor Austria ternyata tidak terjadi. Tetap saja ternyata Ray adalah seorang yang posesif, cemburuan, dan sayangnya berhasil mendapatkan kembali simpati istrinya.

Dan terjadilah dialog-dialog khas pasangan selingkuh yang ketahuan.

Episode cinta berikutnya adalah hadirnya Savir Bovari, teman kuliah lama Kyla. Seorang yang sceptical-adventorous-bohemian. Hubungan Kyla dan Savir selalu berada di twilight zone antara kekasih dan teman. Kawin tak mau, diambil orang pun jangan. Savir sendiri secara emosional bukan orang yang ‘sehat’. Trauma masa lalu dalam menjalin hubungan menjadi hambatan tersendiri. Dan kesukaan Savir terhadap perjalanan dan petualangan, buat Kyla adalah penghalang tersendiri.

Sekelebatan, ketika Savir dan James-temannya-melakukan perjalanan backpacking ke Eropa dan menumpang tidur di appartemen Kyla, James mengutarakan pada Savir tentang ketertarikan James pada Kyla. Hal ini membuat Savir meninjau kembali posisinya di twilight zone. Tetapi tetap, Savir bukan pangeran yang cukup baik karena dinilai tidak punya rencana masa depan yang jelas.

Padahal mungkin dari pengalaman kehidupan yang dilihat Savir selama berbagai petualangannya, sebetulnya Savir adalah jenis orang yang percaya pada kriteria sukses Ralph Waldo Emerson; To laugh often and much; To win the respect of intelligent people and the affection of children; To earn the appreciation of honest critics and endure the betrayal of false friends; To appreciate beauty, to find the best in others; To leave the world a bit better, whether by a healthy child, a garden patch or a redeemed social condition; To know even one life has breathed easier because you have lived.

Seiring memudarnya pamor Pangeran Savir, masuklah tokoh Vigo, seorang fotografer yang dikenal Kyla saat menghadiri pameran foto bersama Savir. Belakangan hari, diketahui Vigo ternyata juga pemilik perusahaan yang menjadi subkontraktor proyek yang ditangani Kyla.

Sebuah kejadian kecelakaan kerja yang merenggut nyawa salah seorang pekerja di area proyek membuat Kyla menjadi lebih dekat secara emosional dengan Vigo dan mempertegas gambaran bagaimana seorang pekerja teralienasi dari dirinya sendiri (Uncle Marx say so...).

Tidak terlalu jelas ‘kriteria’ yang membuat Pangeran Vigo tidak kembali berubah kembali menjadi kodok dimata Kyla. Mungkin kalau saja kerangka waktu novel ini diperpanjang beberapa bulan, maka Kyla akan kembali menemukan kekurangan Vigo dan kembali berkesimpulan bahwa Vigo tidak memenuhi kriterianya.

Andai saja Kyla berpendapat bahwa hubungan dua manusia bukan masalah kriteria, tetapi adalah masalah rasa dan komitmen yang berdasar trust, respect, and sharing. Andai saja Kyla pernah mengerti kalo membina hubungan adalah seperti membeli mobil tua; yang semakin lama digunakan, bukan semakin baik tetapi semakin banyak cacat yang ditemukan, dan selanjutnya tinggal masalah keinginan untuk saling menyesuaikan diri.

Mungkin novel Alanakyla akan jauh lebih tipis....




Kusumastuti Review Cita Cinta 04 edisi 9 Februari 2009 :

Alanakyla, nama yang aneh, tapi mampu menarik perhatian banyak orang, termasuk geng The Rumpies yang memberi pelesetan namanya, Anak Gila.

Sebagai seorang sarjana mesin yang senang berkarier di pabrik baja, Alanakyla termasuk seseorang yang dekat dengan keluarganya.

Walau jodoh bukan prioritas penting dalam hidupnya, bukan berarti Alanakyla jauh dari laki-laki. Namun pandangan hidupnya - terutama mengenai kehidupan cinta . kadang membuat ibunya kurang merasa damai.

Ngga hanya dengan ibunya, Alanakyla pun sering bertentangan dengan hatinya sendiri. Ada ngga, sih, yang bisa mengerti dan memahami prinsip Alanakyla?

Chiclit ini diceritakan dalam bahasa yang ringan dan sederhana. Kejadian-kejadian seru di dalamnya bikin kita ngga sabar ingin segera mengetahui akhir ceritanya...(AP)




Kusumastuti Review dari Grace Wangge:

Akhirnya setelah menunggu dalam hitungan bulan, berkat bantuan Wulan, teman saya yang ‘kembali’ dari Indonesia, sampai juga buku Alanakyla di tangan saya. Novel yang masuk kategori Chick-lit ini special buat saya, karena pengarangnya adalah mbak Kusumastuti, kakak kelas dari satu SMA Santa Ursula Jakarta, yang belum pernah saya kenal wajahnya, tapi kadang saya sapa lewat surat elektronik. Spesial buat saya karena buku ini terbit di Indonesia dari seorang penulis yang tinggal di Austria.

Lalu apakah isinya special juga?

Buku ini mengisahkan kisah cinta seorang perempuan bernama Alanakyla. Seperti namanya yang bukan nama orang kebanyakan, Kyla, begitu panggilannya bukan seorang gadis biasa. Ia adalah sosok gadis mandiri yang berani keluar dari pakem rumusan ‘standard nyaman’ perempuan Indonesia : ‘sekolah secukupnya+kerja kantoran+kawin+punya anak = orangtua bahagia+hidupku juga bahagia’. Ia seorang pemberontak dalam keluarga yang membuat ibunya menyesal karena tidak dapat memfoto-kopi persis putri sulungnya pada diri putri bungsunya ; ia seorang lulusan teknik mesin yang bekerja di pabrik baja, ia belum kawin walau jabatannya sudah tinggi di kantor dan tentu saja bayangan antar jemput anak ke sekolah belum ada di benaknya. Percintaannya dengan pria-pria pun kerap gagal karena ‘ketidakmampuannya’ memenuhi harapan pria-pria itu : wanita dengan standard nyaman. Kyla berbeda, dan ia harus berjuang menghadapi kenyataan bahwa ia berbeda. Satu pelajaran yang saya tangkap berulang-ulang dan saya dapatkan lagi dari buku ini adalah : Tidak pernah mudah menjadi BEDA!

Dari saat pertama saya membaca novel ini, satu hal yang langsung bisa dikenali dari sang penulis adalah cara penulisan yang sangat mengalir, sampai seakan-akan saya menonton sebuah film di depan mata. Mungkin faktor cover depan buku ini juga membantu, pose model di dalamnya benar-benar sesuai bayangan saya akan sosok Kyla. Penulis juga berhasil menggambarkan seorang Kyla, yang walau tomboy, tapi punya kecantikan yang memancar dari dalam dirinya. Langsung terbayang, sosok Kyla yang minus dandan dan aksesoris, tapi tetap atraktif.

Sebagai alumni sebuah sekolah yang isinya perempuan semua dan punya kepala sekolah karismatik yang selalu mengajarkan menjadi perempuan sejati, saya sebenarnya agak mengharapkan mendapatkan Kyla si anak SANUR di novel ini, karakter putri yang mandiri, tidak bergantung pada lelaki (bahkan kadang ‘menyangkal’ keberadaaanya), namun ternyata penulis menggambarkan Kyla, sosok independen yang tetap mawas diri akan ke-perempuan-annya.

Hal lain yang saya suka dari novel ini adalah cara penulis memberikan edukasi soal dunia kerja. Sosok Raymond dan kehidupan Kyla saat bersamanya banyak mengingatkan saya akan masa-masa kerja Kantoran di Jakarta, masalah yang sama, atasan yang berkelakuan sama, Raymond-raymond yang sama. ‘Hadiah’ Raymond untuk Kyla pun bisa dijadikan pelajaran tersendiri untuk para eksekutif muda perempuan yang masih bergulat dengan jenjang karir. Tak hanya itu, dengan mudah saya memahami cara kerja pabrik baja lewat analogy pembuatan kopi, atau mendapat sedikit tambahan ilmu tentang Austria. Menerjemahkan bahasa teknis ke dalam bahasa awam, saya rasa itu keahlian penulis yang cukup handal.

Namun, terus terang saya agak kecewa dengan akhirannya. ‘Too simple to be true’ Ya, maksudnya dengan segala komplikasi yang dihadapin Kyla karena ke'beda'annya itu, saya pikir dia bakal mendapatkan ‘ending’ yang 'beda' juga. Sosok Vigo bagaikan potongan puzzle yang begitu cocok melengkapi kehidupan Kyla, sangat cocok sehingga di halaman-halaman akhir saya mulai membaca dengan melewatkan beberapa halaman, berhubung sudah bisa menebak akhirannya.

Satu lagi yang saya kehilangan adalah peran keluarga dan masa lalu Kyla di novel. Saya pikir di awal, karakter ibu Kyla yang otoriter akan lebih berkembang. Rasionalisasi Indonesia saya mengatakan kalau ibu-ibu seperti ibunya Kyla, tidak akan mungkin membiarkan begitu saja anak gadisnya lepas dari genggaman. Pasti ia akan selalu datang, menyambangi anaknya dan mencoba mengunduh alam pikirannya yang dianggapnya benar ke otak anaknya. Singkatnya, ibu-ibu seperti ibunya Kyla, pasti bakal mengejar anaknya sambil disuruh kawin! Tapi di bab-bab berikutnya, karakter si ibu, mbak Lia dan anggota keluarga lain cuma numpang lewat.
Selain itu beberapa karakter yang ada di bab sebelumnya seakan hilang begitu saja di bab berikutnya. Alur novel jadi seperti melompat, dan walau tidak kentara mirip kumpulan cerita pendek. Hidup Kyla seakan berakhir/berganti lembar yang benar-benar baru di setiap Bab-nya, padahal ya latar belakang dan masa lalu bukankah selalu membayangi masa sekarang? Saya kehilangan proses ke'dewasa'an-nya Kyla.

Terlepas dari itu semua, novel ini romantis, hangat tapi juga membuat otak semakin kaya. Kalau dipikir, novel ini adalah Kyla sendiri, cantik tapi tidak sempurna, beautifully imperfect, membuatnya menjadi salah satu novel yang tidak bisa saya letakkan sebelum sampai di halaman akhir (dan dijuluki ‘autistik’ oleh teman-teman karena saya sibuk membaca sendiri).

Proficiat buat mbak Uti. Terus nulis ya mbak ! Can't wait for another shoot of te-Kyla...:)



back to top