Goodreads Indonesia discussion

45 views
Indonesia belum Punya Infrastruktur Pengetahuan

Comments Showing 1-14 of 14 (14 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by lita (new)

lita Penulis : Mario Aristo
Sumber: http://www.mediaindonesia.com/

JAKARTA--MI: Indonesia secara empirik belum memiliki infrastruktur pengetahuan yang
kuat. Ini tidak menutup kemungkinan sebagai penyebab berbagai evolusi sosial budaya di Indonesia berlangsung dengan kegagapan.

Hal inilah yang menjadi salah satu pembahasan Hans-Dieter Evers, guru besar sosilogi Universitas Bonn, Jerman, dalam kuliah umum "Knowledge for Development" di Universitas Indonesia pada Kamis (15/1) siang.

Evers menilai Jakarta yang merupakan representasi Indonesia memiliki kepribadian ganda. Hal ini dibuktikan dengan adanya areal-areal kumuh dengan infrastruktur tidak memadai selain juga
terdapat megahnya kota yang diisi lalu lintas aktifitas perusahaan-perusaha an multinasional.

"Membangun masyarakat yang mengandalkan pada pengetahuan (knowledge-based society) menjadi sebuah keharusan dalam mengatasi berbagai ketimpangan sosial yang terjadi,"ujar Evers di hadapan ratusan peserta.

Dengan berbekal dan mengandalkan pengetahuan, evolusi ataupun transisi sosial masyarakat Indonesia akan lebih baik, karena menuju perubahan yang lebih baik melalui sebuah inovasi. Hal ini telah terjadi dan dibuktikan melalui penelitian Evers pada negara Ghana dibanding Korea. Pertumbuhan menuju kesejahteraan masyarakat bergerak naik secara signifikan pada Korea yang telah banyak menciptakan sebuah produk inovatif, jauh melebihi negara Ghana yang terlihat statis.

Salah satu hal yang menurut Evers mendukung terciptanya masyarakat yang mengandalkan pengetahuan adalah dengan penggunaan internet. Dalam hal ini, Indonesia menduduki posisi tertinggi dalam jumlah pengguna internet, melebihi Malaysia, dan Filipina. "Sebetulnya selain buku, penggunaan internet dapat mendukung terciptanya pengetahuan baru, yang merupakan sumber daya yang sangat besar," tambah Evers.

Keberpihakan Dieters pada negara-negara berkembang berdasar pada fakta bahwa negara berkembang merupakan sebuah laboratorium sosial yang sangat besar, dimana tersimpan banyak "harta karun" materi penelitian yang unik dan spesifik. Karakternya yang secara geo-sosial paling luas di dunia, namun dengan distribusi ekonomi yang tidak merata, persoalan imigran, evolusi politik dan banyak kasus lain, membuat studi mengenai negara berkembang seperti Indonesia menjadi sangat kompleks.

Kepada Mediaindonesia. com secara khusus Evers menerangkan bahwa Indonesia kini sebenarnya sudah berada di jalur yang tepat untuk mengembangkan sistem pengetahuan agar semakin baik. Hal ini dapat lebih lagi didukung melalui jalinan kerja sama berbagai institusi dengan melakukan penelitian-penelitian, seperti dengan universitas- universitas. Memang diperlukan banyak metodologi untuk mencapai hasil yang diharapkan.

"Yang menjadi indikator dari berhasil tidaknya sebuah knowledge for development terlihat dari dari seberapa besar penelitian-peneliti an yang dilakukan serta produk-produk yang merupakan sebuah inovasi. Sudah sepuluh tahun terkahir ini Indonesia menunjukan perkembangan, setelah sebelumnya stagnan. Saya yakin krisis finansial tidak akan mempengaruhi sektor pengembangan pengetahuan ini." Ujar Evers.

Saat ditanya trik-trik untuk menjadi seorang yang inovatif, Evers menjawabnya, "Bacalah buku, baca buku, dan baca buku...dan jangan gunakan internet hanya untuk bermain." (OL-02)



message 2: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments Ini seperti bos gw dulu ditanya sama stafnya, gimana caranya bisa kaya dia yg peneliti dan punya banyak publikasi. Jawabnya, read...read...and read, but do not read fiction.

Gw cuma nyengir di belakang...... Susah...


message 3: by lita (new)

lita beda kali ya...mentor gua dulu malah menyarankan buat jurnalis untuk sering-sering baca novel fiksi :p


message 4: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments lain bidang bow...


message 5: by [deleted user] (new)

Bosnya ga tau Isaac Asimov kayaknya hehe


message 6: by [deleted user] (new)

mangkanye enakan jadi peneliti fiksi kali ye... apa faksi?


message 7: by eL (new)

eL | 10 comments iya tuh...kayaknya bos nya gak tau si Asimov...
*kok jadi ngrasani orang tho ya..hehehe.. maap..

anyway, banyak peneliti natural science dan social science yang saya kenal, hobi membaca fiksi.


message 8: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments wah, jadi bela bos nih.... :P Kalo soal baca fiksi sih iya. Tapi dia kayanya prihatin liat anak buahnya baca fiksi melulu.. :D Emang, keliatannya ada kecenderungan orang yg bergerak di bidang natural science justeru kurang baca yg ilmiah.

Btw, buat gw sendiri sih berusaha menyeimbangkan kedua kepentingan itu, satu kepentingan karir/ilmu/otak, satu kepentingan jiwa......


message 9: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 716 comments ada buku menarik soal fiksi dan non-fiksi, Politics and the Novel. dan pada intinya saya pun sepakat pada sebuah ide yang menegaskan tidak ada batas jelas antara fakta dan fiksi, kecuali pada yang terakhir kita tidak perlu banyak mengkonfirmasi pada kondisi real.

tergantung kebutuhan sih


message 10: by Coqueline (new)

Coqueline | 608 comments Gue selalu merasa hal yg sama nih. Bagaimana pendidikan dan perkembangan sosial di Indonesia selalu statis, karena emang Indonesia ga punya tradisi intelektual.

Sepanjang sejarah Indonesia pendidikan dan learning itu letaknya elitist, dianggap privilege kaum tertentu. Attitude ini masih kebawa sampe sekarang dimana sekolah itu ga dianggap hak setiap anak, tapi privilege (uang sekolah mahal, masuk sekolah persaingan susah, sekolah didirikan bukan untuk kepentingan anak didik tapi buat bisnis dan prestise, etc).


message 11: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 716 comments wah keren tuh pendapat Coqueline. Gue setuju banget. Pegang buku aja ada yang pernah nyeletukin wah intelek yah? wah kaum elit yah! hahaha mungkin penampilan dan buku harus match kali kata si komentator itu.

tapi ada sebuah learning system yang sederhana yang sebenarnya bisa dimulai dari hal kecil: interaksi, bincang-bincang. kultur yang mendukung hal itu menjadi sebuah media pembelajaran adalah kultur dialogis. Bukan menggurui.

Di banyak perusahaan, pengaturan tempat duduk dan interaksi menjadi bagian dari learning system itu. Bukan cuma dari tour duty.


message 12: by Coqueline (new)

Coqueline | 608 comments Mulai dari yg paling dasar aja, kehausan masyarakat untuk bertanya dan berusaha memecahkan masalah itu rendah banget kok.

Contoh paling ekstrimnya masalah banjir Jakarta tuh. Tiap taun banjir, ga ada yg berinisiatif bertanya 'Kenapa ini terjadi' 'Apa yg bisa diperbuat untuk menanggulangi?' Kalo masalahnya udah lewat dilupakan, kalo kena masalahnya dianggap nasib.


message 13: by Mel (new)

Mel | 720 comments inisiatif tanya mungkin ada ya. solusinya yg gak pernah ada. hehe


message 14: by Andri (new)

Andri (clickandri) | 665 comments Menurut gw Amang lebih maju bbrp langkah dr Evers.. Baca, bersahabat, berbuat! jangan cuma baca, baca, baca... Ya gak Po ?

-andri-


back to top