Goodreads Indonesia discussion

117 views
Buku & Membaca > Pembaca Untung Bisa Selektif dan Kreatif -- Ria Febrina

Comments Showing 1-27 of 27 (27 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Setuju!
aku juga paling gerah kalau baca buku banyak salah ketik dan salah eja.


message 2: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Buatku, populer atau yang serius, ga masalah selama karya itu berkualitas, tidak ditulis secara asal-asalan.


message 3: by [deleted user] (new)

ini nih yg gw bilang di thread sebelah tentang adanya anggapan bhw yg disebut sastra ("serius") itu mengandung soal "kebakuan berbahasa, pesan moral yg positif" dsb. rupanya belum selesai2 jg ya anggapan macam ini.

Gw setuju soal tidak boleh mengabaikan kualitas, tapi tulisan ini membebani karya sastra dg sekian banyak tujuan moral.

Kutipan Oscar Wilde dari Dorian Gray: "There is no such thing as a moral or an immoral book. Books are well written or badly written."


message 4: by Mel (new)

Mel | 720 comments nahh. ada yg berhasil menerjemahkan pertanyaan saya selama ini neh di msg #5. monggo dibahas sama para member sekalian. saya menyimak.


message 5: by Mel (new)

Mel | 720 comments jadi film/buku bagus dan jelek ini, harus terkait kandungan pesan moral positif tidak?


message 6: by Mel (new)

Mel | 720 comments Children don't read to find their identity, to free themselves from guilt, to quench the thirst for rebellion or to get rid of alienation. They have no use for psychology.... They still believe in God, the family, angels, devils, witches, goblins, logic, clarity, punctuation, and other such obsolete stuff.... When a book is boring, they yawn openly. They don't expect their writer to redeem humanity, but leave to adults such childish illusions. ~Isaac Bashevis Singer

perlu masuk golongan pembaca seperti anak-anak untuk bisa terlepas dari kandungan pesan moralitas?


message 7: by Dharwiyanti (new)

Dharwiyanti | 162 comments iya, kadang saya 'capek' ngeliat karya sastra yang dibilang harus punya pesan moral, dll dsb. punya pesan moral atau nggak, karya sastra harus mengasyikkan buat dibaca. apa yang didapat oleh pembaca dari karya itu, terserah masing2 lah. terus terang kalau sebuah fiksi sudah terlalu banyak atau terlalu kelihatan 'berkhotbah' saya jadi males bacanya :).

kadang saya mikir juga, bahwa sastra serius seperti Salah Asuhan pun, bisa jadi 'metropop' pada jamannya. ceritanya pun tentang anak muda dan gegar budaya kan? apa bedanya dengan Selebriti-nya Alberthiene Endah?


message 8: by Lee (new)

Lee (rainscent) | 238 comments Di samping itu, mereka juga diberikan kesempatan untuk menilai bagaimana sebuah karya sastra seharusnya.

set dah, sejak kapan cara menilai sastra ada peraturannya?


message 9: by gieb (new)

gieb | 743 comments perbedaan antara sastra serius dan sastra populer, mau tidak mau memang harus ada. dan ini tidak menunjuk kepada kualitas karya masing-masing kutub. karena di tiap kutub pun, baik serius maupun populer ada semacam 'parameter' sendiri untuk menentukan baik dan buruknya kualitas. jadi tidak semua sastra serius itu baik. ada juga yang buruk. dan tidak semua sastra populer itu jelek. ada juga yang baik.

nah, parameter ini tidak timbul otomatis. kita dulu mengenal hb jassin sebagai 'paus' sastra. jika dia bilang karya ini baik, maka semua akan mengikutinya. tentu saja, ada yang pro kontra tentang ini. tetapi tetap saja. jika ada yang mencoba keluar dari mainstream ini, orang akan mencari parameter sendiri. entah itu kepada siapa. teman, pembaca, atau kritikus sastra.

apa peran pembaca? pembaca berwenang dalam menentukan mutu dan tidak mutu sebuah karya. tapi tentu ini bukan sebuah kemutlakan. banyak unsur untuk membentuk sebuah karya itu baik atau jelek. melalui pembaca, sebuah penilaian akan sebuah karya sastra, akan lebih personal. artinya, tidak setiap pembaca mempunyai pengalaman yang sama dalam membaca satu karya sastra. si A berkata bahwa karya ini baik karena mungkin dia sangat interest dengan isu yang ditulis. dll.

oleh karena itu, saya pikir, masih diperlukan kehadiran seorang kritikus sastra, seorang kurator sastra, yang diharapkan bisa 'membedah' sebuah karya itu dengan objektif dan ilmiah. mengabaikan urusan personal. sayangnya, di negeri kita, masih jarang orang semacam ini.

dus, keberadaan sastra serius dan populer, saya pikir, hanya sebuah usaha untuk mengidentifikasi selera pasar. karena semua bisa jadi terbalik sekarang. yang remeh temeh pun bisa ditulis secara 'serius'. dan yang serius pun bisa ditulis dengan 'remeh temeh'. perkara kualitas, banyak unsurnya.

itu saja sih.


message 10: by Dharwiyanti (last edited Jan 11, 2009 10:27PM) (new)

Dharwiyanti | 162 comments suka deh sama sabda tuhan di atas ;).

setuju bahwa kualitas itu banyak unsurnya. dan kualitas juga tidak mutlak.

waktu nonton dangdut di sebuah acara pernikahan, saya mikir, "aduh bajunya norak banget sih. tapi selera penyanyi dangdut emang biasanya rendah ya".
tapi terus saya mikir lagi, apa sih kriteria selera rendah? kenapa saya bisa bilang gaya si penyanyi itu selera rendah, sementara stylenya Sarah Jessica Parker mencerminkan selera tinggi misalnya? apa kriterianya, apa standarnya?

yang penting kancing2nya semua terpasang rapi, jahitannya nggak ada yang lepas2, dan selanjutnya terserah yang ngelihat :).

tapi saya setuju juga, bahwa keberadaan kritikus sastra akan sangat membantu. juga penghargaan2 (award) untuk karya sastra, baik sastra populer maupun sastra serius (entah bagaimanapun dikotominya).


message 11: by Indres (new)

Indres (felis) Ada pertanyaan nih: sebenernya bisa ngga sih kita menyamakan sastra serius seperti seni dan sastra populer seperti kitsch? Kitsch bisa saja dibuat dengan profesional, dengan kata lain, bagus bungkusannya, tapi ya isinya: kitsch.


message 12: by Andri (new)

Andri (ClickAndri) | 665 comments wah.. biar yg lain aja yg jawab mbak.. saya mboten ngertos.. taunya baca doangan..

-andri-


message 13: by Coqueline (last edited Jan 14, 2009 03:25PM) (new)

Coqueline | 608 comments Setuju sama Yanti. Gue juga paling males baca buku yg sarat muatan moral, yg pada akhirnya gue merasa ini buku insults my intelligence. But at the other end of the spectrum, gue juga anti buku2 kelewat ringan ala chick-lit for the same reason... hahaha

Tapi walaupun begitu gue ga anti dengan keberadaan sastra populer.

Mau sastra serius ataupun populer, at the end of the day, orang akan memilih buku yg dirasa related sama dirinya, kepribadian, mood dan kehidupannya.

Sastra populer yg gampang dicerna justru mungkin banget merupakan batu loncatan buat orang yg tadinya segan membaca, lalu mulai baca2 buku sastra populer yg ringan, dan ketika bosan dengan genre sastra ringan beralih ke sastra serius. Atau orang yg segan baca, cuman akan baca sastra populer atau tidak akan baca sama sekali (karena emang tidak berminat). So, masih mending toh baca sastra populer daripada tidak sama sekali?

Ini gue sama sekali ga setuju:
Inilah tugas kritikus sastra, sastrawan, akademisi sastra, serta pemerintah, khususnya pihak pendidikan untuk mengontrol dan memonitorinya. Penerimaan masyarakat terhadap sastra populer dianggap boleh-boleh saja, asalkan melewati standar baku dalam penulisan sebuah karya sastra.

Ini kebiasaan orang Indonesia banget. Keinginan untuk 'mengontrol dan memonitori' seakan2 masyarakat itu sedemikian bodoh dan naif dan ga bisa memutuskan bacaan untuk dirinya sendiri.

If it sells, then it what people wants to read, however rotten. Period. Kenapa harus dikontrol? Biarkan aja mekanisme pasar dan seleksi alam yg menentukan apakah suatu buku bakal dibaca sejuta orang atau 10 orang dan lapuk di toko.



message 14: by Dharwiyanti (new)

Dharwiyanti | 162 comments heiii.. my twin sista! :D

soal muatan moral, sebetulnya gw ga anti banget (garing: iya gw Yanti, bukan Anti). tapi gw anti kalau muatan moralnya disampaikan dengan cara 'berkhotbah' gituuu... gw lebih suka kalau penyampaiannya lebih mengalir dan tersirat dalam jalan cerita. karya2nya Mitch Albom sangat bermuatan moral, sangat spiritual, tapi ya masih enak2 aja buat dibaca. Anak Bajang Menggiring Angin-nya Sindhunata juga begitu.

dan gw setuju banget sama yang lo bilang,

Mau sastra serius ataupun populer, at the end of the day, orang akan memilih buku yg dirasa related sama dirinya, kepribadian, mood dan kehidupannya.

semua orang punya alasannya sendiri2 untuk memilih bacaannya. salah satunya ya, selera, yang nggak ada standarnya. seperti ilustrasi gw di post sebelumnya tentang baju penyanyi dangdut.

If it sells, then it what people wants to read, however rotten. Period. Kenapa harus dikontrol? Biarkan aja mekanisme pasar dan seleksi alam yg menentukan apakah suatu buku bakal dibaca sejuta orang atau 10 orang dan lapuk di toko.

sebenarnya gw setuju banget Cherr.. tapi kok jadi inget sinetron2 di TV Indonesia ya. it's rotten, but it sells. dan kadang gw sampai merasa sinetron harus dikontrol :D.


message 15: by Isman (last edited Jan 14, 2009 10:49PM) (new)

Isman | 67 comments Coqueline wrote: "If it sells, then it what people wants to read, however rotten. Period. Kenapa harus dikontrol? Biarkan aja mekanisme pasar dan seleksi alam yg menentukan apakah suatu buku bakal dibaca sejuta orang atau 10 orang dan lapuk di toko."

Itu memang terdengar ideal. Sayangnya, praktik industri bisa saja mendorong sesuatu yang terdengar ideal menjadi lingkaran setan kecenderungan yang tidak sehat.

Seperti contoh Yanti: sinetron. Kenapa sinetron membludak? Salah satunya karena saat demam telenovela menyebar, pemerintah mengeluarkan solusi industri yang tidak menyeluruh: kandungan tayangan lokal harus minimal 60%. Jadinya, bermunculanlah banyak sinetron yang meniru gaya telenovela.

Ini kebalikan dari masa tayangan nasional hanya TVRI. Kalau dulu tayangan favorit adalah tayangan luar, seperti A-Team, Manimal, atau The Saints. Kini tayangan favorit adalah sinetron. Pola serupa: apa yang paling banyak ditonton orang, menjadi selera umum. Dan itu yang menjadi barometer industri untuk menyajikan bentuk tayangan selanjutnya.

Lingkarannya jadi: banyak sinetron/acara gosip/"reality" show di TV-->karena sedikit pilihan lain, jadinya acara tersebut ditonton banyak orang-->acara tersebut tetap/semakin banyak di TV, dan semakin sedikit pilihan lain.

Acara yang berhasil di negeri asal seperti Desperate Housewives atau Heroes jadinya kurang dilirik karena tidak termasuk jenis tayangan mayoritas.

Gimana dengan buku? Jangan salah. Ini terjadi juga. Minimal di sebuah jaringan toko buku besar (tanpa perlu menyebut nama).

Semua jaringan toko buku ini mendapatkan instruksi bahwa kinerja mereka dihitung dari profit, tidak peduli kualitas buku apa yang mereka jual. Yang penting profit.

Karena itu, toko buku jadi memprioritaskan pembelian buku yang jadi sorotan secara besar-besaran. Misalnya Maryamah Karpov. Bisa dibeli ratusan kopi dan dipajang dalam satu rak khusus.

Kontras dengan itu, buku baru yang terbit dalam periode bersamaan (dan ini bisa sampai 2-3 bulan tergantung kelarisan buku) tanpa sorotan media secara khusus akan diperlakukan begini: taruh di rak buku baru selama seminggu, paling sejumlah 20 atau 30 buku.

Kalau dalam seminggu itu penjualan cukup besar (apa pun definisinya "cukup besar" itu), buku akan dipindahkan ke rak buku laris. Kalau tidak, dikembalikan ke rak yang menurut mereka cocok. Kalau dalam rak ini pun tidak laris manis (apa pun definisinya), buku ini tidak akan dipesan lagi.

Dengan kata lain, kecenderungannya serupa: buku yang dapat sorotan media ditumpuk-->mudah terlihat-->lebih banyak dibeli orang-->makin ditumpuk. Sementara buku yang tidak dapat sorotan media-->bisa terpuruk kembali ke rak dalam waktu seminggu-->sulit dicari, sedikit dibeli-->tidak ada pemesanan-->makin sulit dicari, makin sedikit dibeli.

______________

Kata kuncinya memang "kecenderungan". Jadi walaupun terbelenggu praktik-praktik industri di atas, bisa saja sebuah buku berkualitas menemukan (atau ditemukan?) para pembacanya dan menembus lingkaran setan tersebut. Namun, ini seperti menyuruh orang yang baru pertama kali ikut lomba lari 100 meter di Olimpiade untuk berlari hanya dengan satu kaki. Pada debutnya, malah diberi tantangan yang lebih berat.

Menurut saya, kondisi ideal ini bisa dicapai saat seluruh pasar memiliki akses yang sama pada _seluruh_ pilihan buku (atau tayangan untuk industri TV) yang ada.

Sebagai contoh, Heroes walaupun tidak diminati di TV lokal, tapi sangat diminati di internet oleh para penjelajah web berkebangsaan Indonesia.

Data Amazon.com yang dicantumkan di buku The Long Tail juga menunjukkan contoh bahwa sejumlah buku yang saat di toko termasuk produk tidak laku, ternyata bisa mencetak ratusan penjualan per bulan. Ini karena sasaran pembacanya dapat menemukan buku yang mereka cari sama mudahnya dengan menemukan buku yang sedang populer.

Tapi itu pendapat saya. Bisa saja berbeda.


message 16: by eve (new)

eve | 47 comments Diskusinya "panas" sekali! Saya jadi tertarik untuk ikut nih :-)

Menimpali komentar Coqueline:
Apapun perbedaan yang ada pada "sastra populer" dan "sastra serius", saya percaya pembaca kemungkinan besar berangkat dari "sastra populer" hingga kemudian menguasai cukup ilmu untuk dapat menelaah dan mengapresiasi "sastra serius". Saya, misalnya, memulai dari karya-karya ringan Enid Blyton saat saya duduk di bangku SD hingga sekarang cukup mampu menikmati karya "sastra serius" seperti Orhan Pamuk atau Pramoedya.

Seperti kata Christine Jordis, seorang publisher dari Perancis, yang sempat saya hadiri acara diskusinya di Denpasar beberapa waktu lalu, bahwa mencari pembaca yang baik jauh lebih susah daripada mencari penulis yang baik (mungkin sama konsepnya dengan betapa lebih mudah jadi tukang nyerocos daripada jadi pendengar yang baik ya, sodara-sodari...hehehe).

Kalau saya lihat kecenderungan membaca di Indonesia saat ini, kebanyakan orang masih mengikuti aliran mainstream. Cerita mulut-ke-mulut tentang betapa bagusnya sebuah buku, masih menjadi faktor utama suksesnya buku. Yang kedua, mungkin baru review. Dan saya setuju dengan pendapat Kang Isman, peletakkan buku juga sangat berpengaruh karena tidak semua orang betah lama-lama di toko buku dan rela berjongkok-jongkok ria untuk mencari buku. Cari yang pasti-pasti sajalah. Hence, sinetron Indonesia untuk mengisi waktu malam. Jadi kangen sama film India...

Nah kalau diskusi dengan teman-teman saya dari luar, mereka justru bangga dan senang banget kalau bisa menemukan buku atau karya sastra yang obscure. Makin orang ngga tahu, makin senanglah mereka. Mereka juga tidak peduli dengan review. Kalau bagus ya bagus, jelek ya buang. Sangat individual sekali.

Saya setuju dengan pendapat Gieb, kalau masih diperlukan kritikus yang dapat memperkaya dan memberikan iluminasi pada karya sastra tanah air. Mungkin sama seperti dunia seni kita di Indonesia. Begitu banyak karya yang bagus tapi tidak banyak orang yang bisa mengerti dimana letak 'kebagusannya' itu. Kita butuh Michiko Kikutani Indonesia nih...someone in goodreads, maybe :-)



message 17: by Dharwiyanti (new)

Dharwiyanti | 162 comments Jadi kangen sama film India...

aku juga.. sedih juga, si yayang SRK sekarang udah jarang nongol di TV :(


message 18: by miaaa, Moderator (new)

miaaa | 2353 comments Mod
dulu waktu esde suka nemenin nyokap *rebutan tipi tapi kalah* nonton film india dari tv malaysia , nyokap ngefans ama amitha bachan sih, ehhh tapi sekarang suka kangen juga nonton film india hihi suka minta rekomendasi film2 bagus dari dua teman chat orang india :D


message 19: by Dini (new)

Dini | 119 comments Mbak Yanti,
SRK kemaren nongol di Golden Globe di TV. Demikian sekilas info :)


message 20: by [deleted user] (new)

@eve

mencari pembaca yang baik jauh lebih susah daripada mencari penulis yang baik
wah pengalamanku dlm dunia perbukuan indonesia sangat kebalik tuh.. pembaca kritis2, penulis lokal yg berbobot setengah mampus nyarinya

Kita butuh Michiko Kikutani Indonesia nih
Yes, sepakat! *udah ada tuh yg aku sukai banget di GR ini..*


message 21: by miaaa, Moderator (new)

miaaa | 2353 comments Mod
*ikutan batuk2 kecil di sebelah po* kayanya mia juga tau sapa tuh hohoho


message 22: by Coqueline (new)

Coqueline | 608 comments sebenarnya gw setuju banget Cherr.. tapi kok jadi inget sinetron2 di TV Indonesia ya. it's rotten, but it sells. dan kadang gw sampai merasa sinetron harus dikontrol :D.

Seperti contoh Yanti: sinetron. Kenapa sinetron membludak? Salah satunya karena saat demam telenovela menyebar, pemerintah mengeluarkan solusi industri yang tidak menyeluruh: kandungan tayangan lokal harus minimal 60%. Jadinya, bermunculanlah banyak sinetron yang meniru gaya telenovela.

Proses konsumsi bacaan dan siaran TV itu jauh berbeda, dan ga bisa dibandingan dalam pengontrolannya. Kenapa dimana2, film dikasih rating umur, sedangkan buku engga?

Karena apa yg terjadi di buku itu dicerna pembaca menurut imajinasinya masing2. Siaran TV dan film itu dicerna secara pasif, apa yg diberikan secara visual, ya itu yg masuk ke otak pemirsa.

Belum lagi, kalo gue bicara tentang mekanisme pasar, itu artinya orang kudu beli toh bukunya sebelom lalu baca. Ini proses yg melibatkan kesadaran, niat dan resource. Orang nonton sinetron kan asal muter TV ga ada acara lain, ya nongkrong aja di depan TV. Gue yakin banget kalo untuk nonton sinetron kudu bayar pay-per-view seperti orang beli buku, konsumsi sinetron bakal jauh lebih sedikit. Sinetron populer, karena ga ada pilihan lain, dan relatif gratisan. Sastra populer jadi populer, ga bisa dibilang karena alasan yg sama.

Gue setuju pengontrolan acara TV, tapi tidak dengan buku. Membaca itu proses intimate antara isi buku dan isi pikiran loe, ga perlu dikontrol2 karena emang ga bisa dikontrol apa yg ada di pikiran loe saat loe baca suatu buku.


message 23: by [deleted user] (new)

Pembaca Indonesia, dgn keberadaan satu saja jaringan toko buku nasional, pilihannya jd memang terbatas sih. GRI (dan internet) sebenarnya bisa main di sini. Ada beberapa penerbit kecil yg bukunya bagus tp nggak bisa masuk ke jaringan toko buku besar krn berbagai pertimbangan. Kata kuncinya: etalase. Mereka butuh etalase agar orang tau barang mereka bagus. Tapi sebagai pembaca gw memang nggak selalu tertarik sama buku dgn embel2 best-seller, krn udah tau bhw buku yg paling laris itu yg gitu2 aja, kurang menantang (sotoooyy)...

Di dalem toko buku sendiri ceritanya seru. Rak/display itu medan pertarungan keras. Bisa jadi ada lobi2 yg mesti diadakan supaya penerbit bisa naro bukunya di display tertentu. Bisa jadi orang2 penerbit (checker dlm hal ini) hrs jagain buku dan selalu ngawasin supaya bukunya nggak 'tergeser' dr tempat yg seharusnya. Sementara prosedur dr toko buku sendiri konon kadang2 nggak seragam dan membingungkan (tapi ini mesti dikonfirmasi dulu sih ke orang toko buku :P)


message 24: by Pra (new)

Pra  (vlatonovic) | 1187 comments ehm....ehm....
*kalau ini memang batuk beneran


message 25: by Coqueline (new)

Coqueline | 608 comments Coq, hati-hati dengan definisi mekanisme pasar. Pasar buku di Indonesia belum benar-benar menjalankan prinsip supply-demand. Seringkali demand bukan berasal dari pembaca, melainkan lebih sering dikondisikan/diciptakan. Selera baca pun masih banyak dipengaruhi banyak hal.

Bagaimanapun pengkondisian demand di Indo, at the end of the day tetep aja ini marketing toh, bukan pemaksaan. Ga ada yg bisa memaksa pembaca untuk beli buku yg mereka ga suka (kecuali textbook sekolah).

Dari sini menurut gue solusinya jangan dengan monitorisasi, tapi dengan memberikan kesempatan bagi penerbit2 independent untuk menerbitkan dan memasarkan buku2 mereka. Semakin banyak yg ditawarkan ke masyarakat, lebih baik. Biarkan aja masyarakat yg menentukan kontrol mana buku yg baik mana yg engga.

Begini: apa yang disebut tren dalam dunia buku sesungguhnya harus dicermati dengan baik. Apakah tren itu berdasarkan buku yang banyak dibeli? Apakah berdasarkan buku yang paling banyak dibaca? Atau buku berdasarkan penilaian kritikus? Definisinya masih kacau sekali.

Gue rasa sih bukan hanya di Indonesia, daftar buku2 'terbaik' yg diterbitkan itu biasanya best-seller, atau award winner. Bisa juga sih muncul burst-burst trend seperti ketika suatu buku yg gak gitu populer difilmkan, trus bukunya tau2 masuk daftar best-seller. Atau justru buku2 yg kontroversial dan dilarang, malah akhirnya laku keras.

Bila didasarkan pada bacaan ngetren dibeli, maka jujur saja orang lebih banyak membaca chicklit/bacaan populer. Dan, bila buku yang paling banyak dibaca orang ini disebut sebagai "selera umum", wah terbayang nantinya. Karena atas dasar selera umum itu dijadikan barometer penerbit untuk menyajikan buku yang akan terbit selanjutnya. Sungguh tidak kondusif 'kan dunia baca kita?

Dibilang tidak kondusif juga engga kok. Gimana kalo ternyata suatu saat 'selera umum' ini malah menghasilkan best-seller suatu buku yg termasuk sastra serius (seperti ketika buku 'Saman' ngetrend)? Gak jelek toh kalo besok2 dijadikan barometer untuk menerbitkan buku selanjutnya. It works both ways buat sastra populer dan serius.

Kalaupun ada penerbit yg keukeuh hanya mau menerbitkan chick-lit, suatu saat nanti yg namanya chick-lit udah gak ngetrend, penerbit tersebut bakal kalah saing sama penerbit lain yg lebih ngerti demand public.

Biarkan aja public menikmati trend2 yg lagi ada. Yg namanya trend akan selalu bergulir. 10-20 taun ke depan bakal ketahuan mana buku2 populer saat ini yg masih dibaca orang, mana yg udah ga jelas juntrungannya.


message 26: by eve (last edited Jan 15, 2009 10:31PM) (new)

eve | 47 comments ----Kata kuncinya: etalase. Mereka butuh etalase agar orang tau barang mereka bagus----

Coba click www.zoomii.com. One alternative for a virtual book store, maybe?

Media berperan besar dalam penentuan 'selera umum' di seluruh dunia. Sebagai perbandingan contohnya di Negara Om Sam. 'Selera umum' disana ditentukan oleh misalnya Oprah Book Club. Apapun buku yang dipilih Oprah pasti menjadi bestseller dan 'selera umum'. Hal itu bisa membuktikan anggapan Coqueline bahwa sastra serius pun bisa menjadi populer (siapa yang menyangka bahwa Anna Karenina bisa menjadi bestseller?).

Di Indonesia sendiri, ada acara Kick Andy yang aku rasa menuju arah yang positif dan mempunyai potensi untuk 'mengarahkan' masyarakat menjadi pembaca yang lebih baik.


message 27: by Coqueline (new)

Coqueline | 608 comments Yup, kuncinya emang itu; bagaimana mempopulerkan sastra serius, bukan dengan mengontrol dan menghambat perkembangan sastra populer.


back to top