Goodreads Indonesia discussion

36 views
Arsip GRI 2009 > Berdamai di Tengah Gempuran Israel

Comments Showing 1-3 of 3 (3 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Pra (new)

Pra  (vlatonovic) | 1188 comments Jawa Pos [ Minggu, 11 Januari 2009 :]


Judul buku: Hebron Journal

Penulis: Arthur G. Gish

Penerbit: Mizan Bandung

Cetakan : 1, 2008

Tebal : 550 halaman




Berdamai di Tengah Gempuran Israel

Krisis di Jalur Gaza menjadi perhatian krusial masyarakat dunia hari ini. Tak lain karena tragedi kemanusiaan sedang berlangsung secara kolosal di sana. Dan, dengan bangga, Israel membantai ratusan manusia tak berdosa. Gelombang protes pun terjadi di mana-mana, tetapi kekejaman terus berlangsung tanpa henti. Bahkan seruan perdamaian yang ditiupkan Paus Benediktus XXVI dari Vatikan tidak memberikan pengaruh apa pun bagi Israel. Para pemimpin negara di Timur Tengah juga menyerukan hal yang sama, tetapi konflik panjang yang penuh darah itu telanjur mendarah daging bagi Israel, sehingga pembantaian terus berlangsung tanpa henti. Tragis!

Buku Hebron Journal merupakan catatan dan rekaman perjalanan Arthur G. Gish (penulis buku) dalam memperjuangkan harkat dan martabat kemanusiaan di Palestina. Arthur G. Gish adalah aktivis perdamaian dari Christian Peacemaker Teams (CPT), organisasi sosial kemasyarakatan di AS. Para aktivis CPT dikenal mempunyai komitmen tinggi dengan ajaran Kristiani. Jiwa toleransi dan solidaritas mereka sangat baik, tidak membedakan agama, ras, dan latar sosial. Mereka beraktivitas untuk membela kemanusiaan dan mencari oase perdamaian.

Selama enam tahun (1995-2001) Gish hidup bersama keluarga-keluarga Muslim di Palestina dan melakukan aksi-aksi anti-kekerasan menentang kekejaman zionis Israel. Dalam membela rakyat Palestina, dia tak jarang harus menghadapi bahaya, seperti menghadang tank dan buldozer Israel yang akan meratakan rumah warga dan pasar, atau menghadapi todongan senjata tentara Israel. Gish juga menjembatani hubungan umat Islam, Yahudi, dan Kristen di Palestina yang telah terpecah akibat politik zionis. Gish merangkul pemimpin ketiga agama tersebut dan mengajaknya berdialog untuk mencari solusi strategis tentang perdamaian Israel dan Palestina.

Untuk masuk dalam dialog ketiga agama tersebut, Gish mengikuti segala ritual dan tradisi yang berlaku. Dia tidak canggung dan merasa risi dengan ritual dan tradisi agama lain. Semua itu agar dia bisa mengajak dialog dan menjalin kerja sama lintas agama guna membuka jembatan perdamaian. Dengan rendah hati, Gish mendatangi satu per satu pemimpin agama. Dari perjalanan itulah, dia bisa menjadi seorang aktivis yang dekat dengan para pemimpin agama dan merasa tidak khawatir dengan apa yang dilakukannya, walaupun menghadapi tantangan yang tidak ringan di tengah kekejaman tentara Israel.

Keberanian dalam memperjuangkan perdamaian dan ketidakberpihakannya terhadap kelompok tertentu, menjadikan Gish leluasa bergerak dalam mencipta aliansi perdamaian. Selama enam tahun di Palestina, Gish selalu mengampanyekan anti-kekerasan, cinta, dan kasih sayang bagi Israel dan Palestina. Ajaran Kristiani mengharuskannya selalu berjuang untuk terus menebarkan benih-benih cinta dan kasih sayang kepada siapa pun. Dengan cinta dan kasih sayang itulah, dalam keyakinan Gish, dunia bisa menggapai perdamaian dan ketenteraman. Menurut dia, keserakahan dan kebiadaban adalah hasil dari hilangnya ruh cinta dalam napas keagamaan.

Titik krusial yang dihadapi Gish adalah ketika dia berjuang di Hebron. Salah satu kota tertua di dunia, yang terletak di antara empat gunung di antara perbukitan Yudea, sekitar 30 kilometer di sebelah selatan Yerussalem. Hebron adalah tempat dimakamkannya Abraham dan Sara, Ishak dan Ribka, Yakub dan Lea. Selama berabad-abad, banyak pertempuran yang terjadi di Hebron. Alkitab menyebutnya dalam tujuh puluh kali pertempuran. Sejarah Hebron sangat berpengaruh terhadap peradaban Palestina dewasa ini.

Dan, di Hebron inilah, pergulatan dan perjuangan Gish mendapatkan ujian paling berat. Hebron menjadi titik rentan konflik. Salah sedikit saja akan berakibat fatal terhadap misi perjuangan Gish dalam menyuarakan perdamaian. Hebron hampir sama sensitifnya dengan Jerussalem. Menyentuh kedua kota ini harus superhati-hati, karena ketiga umat --Islam, Yahudi, dan Kristen-- mengklaim kedua kota tersebut sebagai kota suci mereka. Tak pelak, hadir di tengah kedua kota tersebut menjadi pertaruhan yang sangat membahayakan.

Meski begitu, bagi Gish, kondisi itu justru memberi motivasi yang besar dalam menggelorakan perdamaian. Berdiri di tengah api konflik bangsa Palestina dan pembantaian berdarah yang dilakukan bangsa Israel menjadikan Gish selalu berhati-hati dalam melangkah. Gish tidak mau gegabah dan asal bekerja. Di Hebron inilah dia membangun dialog. Dengan dialog, Gish ingin menciptakan persepsi persatuan bangsa Palestina. Karena dengan persatuan, bangsa Palestina bisa menghentikan kebiadaban Israel.

Cacatan dan rekaman perjuangan Gish dalam buku ini menjadi penting untuk dibaca di tengah tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza yang terus bergejolak. Pengalaman hidup Gish menjadi sebuah pergulatan dan pertaruhan yang bisa menjadi pelajaran berharga bagi sebuah perjuangan di medan tragedi kemanusiaan. Spirit menyuarakan perdamaian, cinta, dan kasih sayang, bila jalankan dengan baik akan menjadi penanda baru dalam mencipta peradaban dunia masa depan yang lebih baik dan beradab. (*)

*) Muhammadun A.S., pengelola Perpustakaan Al-Hikmah, Pasucen, Pati



message 2: by Fudz (new)

Fudz (fudz_sakabatou) | 166 comments Sptnya buku ini layak dijadikan pilihan u/ dbaca bulan ini...
Mas Pra,dh t'sedia d toko2 buku blm neh? Gramed msalnya...


message 3: by Andhi (last edited Jan 13, 2009 11:42PM) (new)

Andhi (agustinusandhi) | 165 comments gramed itc cempaka mas juga ada fudz, hari senin msih gue liat ada, banyak malah....kalau belum kelelep kali.....:D gimana sunter dah tergenang lom?


back to top