Goodreads Indonesia discussion

44 views
Buku & Membaca > Kutu Buku

Comments Showing 1-29 of 29 (29 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments “Setiap bulan sedikitnya saya membeli 300 buku,” demikian budayawan Raufik Rahzen (45) bertutur di sebuah perhelatan kutu buku bertajuk “Temu Blogger Buku” di Kafe Matahari/Domus, Jakarta, Sabtu (17/5) pekan lalu. “Kadang-kadang bisa juga sampai 600 buku,” tambahnya lagi seolah belum puas mengejutkan para hadirin yang berjumlah seratusan orang itu dengan angka 300-nya, termasuk saya yang kebetulan bertindak sebagai moderator.

Hah? Enam ratus sebulan? Oh..oh…tetamu yang memadati ruangan bernuansa remang-remang siang itu yang berani-beraninya mengaku kutu buku, kudu menjura seratus kali kepada pria berkaca mata tersebut, lagi-lagi, termasuk saya yang telah dengan sombongnya gembar-gembor ihwal penyakit belanja buku; padahal cuma mampu beli buku lima biji sebulan dan merasa sudah gagah sekali. Buat saya, dan mungkin mayoritas rakyat Indonesia, buku masih menjadi barang mewah yang mahal.

Namun, masih menurut Ketua Yayasan Blora ini, rendahnya minat baca masyarakat kita tidak terkait dengan harga buku yang mahal. Sebab, jika orang sudah suka membaca, ia akan mencari berbagai upaya untuk mendapatkan buku-buku yang ingin dibacanya. Pengagum berat Pramoedya Ananta Toer ini mencontohkan pengalamannya sewaktu masih di kampungnya di Sumbawa dahulu. Ia rela berjalan kaki menempuh jarak sepanjang 35 km demi bisa membaca buku. Sekali lagi, kami dibuat melongo dan akhirnya mesti ikhlas mengakui, bahwa beliau memang pecandu buku sejati.

Buku, semua kita tahu, lewat huruf-huruf di pagina-paginanya telah membukakan jendela bagi mereka yang mengakrabinya. Dan sejarah negeri ini telah mencatat tentang para founding fathers-nya yang kutu buku.

Tengoklah seabad lalu, ketika para pemuda pemberani di sebuah negeri jajahan bernama Hindia Belanda, ramai-ramai berkonggres, membincang nasib tanah air mereka yang merana di bawah kangkangan Belanda. Dimotori oleh seorang dokter lulusan STOVIA–
Sekolah kedokteran zaman itu–Wahidin, terbentuklah organisasi pemuda pertama yang diberi nama Budi Utomo. Keanggotaan awalnya terdiri dari para mahasiswa STOVIA itu. Kemudian pada 20 Mei 1908, bertempat di Yogyakarta, Budi Utomo menggelar konggres pemuda pertama. Kelak, hari itu dicatat dengan tinta emas dalam sejarah Republik ini sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Dua puluh tahun berikutnya, jejak mereka diikuti oleh para penerus dengan mengumandangkan ikrar kebangsaan, yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda, di Batavia. Tepatnya di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond, Lapangan Banteng (28 Oktober 1928). Tokoh-tokoh pemuda yang hadir di antaranya Muhammad Yamin dan Amir Sjarifudin. Sementara itu, lewat caranya sendiri Soekarno, Hatta, dan Sjahrir melakukan perlawanan dengan mendirikan partai politik.

Tengoklah biografi para pemuda pemberani itu: Wahidin, Soekarno, Hatta, Yamin, Sjahrir, dan kawan-kawan. Mereka semua kutu buku. Kesadaran dan pencerahan yang mereka alami di antaranya mereka peroleh lewat bacaan-bacaan : literatur, koran, dan majalah. Mereka para pembaca yang rakus, melahap buku apa saja seperti makhluk dari golongan omnivora. Buku-buku telah membangkitan keberanian mereka untuk berontak, melawani kezaliman pemerintah Belanda. Buku-buku pula yang telah mengobar-ngobarkan semangat mereka untuk merdeka, bebas dari belenggu penjajahan.

Yang lebih membanggakan lagi, mereka tak hanya berhenti pada membaca. Mereka juga menulis; melakukan perlawanan lewat tulisan-tulisan di media massa yang terbit kala itu dan membuat gerah para meneer penguasa. Maka, satu per satu anak-anak “nakal” itu pun ditertibkan dengan jalan dibui atau diasingkan ke sebuah nusa yang jauh dari ibu kota.

Namun, ternyata penjara dan pengasingan tak lantas menyurutkan semangat perlawanan anak-anak muda ini. Dari tempat pembuangan itu, dengan ditemani buku-buku, mereka terus menulis dan menyebarluaskan gagasan kemerdekaan ke dunia luar. Sebab, mereka pasti sepakat, bahwa menulis adalah juga sebuah tindakan revolusioner.

Jika tak segan menoleh lebih ke belakang lagi, kita akan bertemu Kartini, seorang raden ayu berpendidikan sekolah rendah Belanda yang telah mencengangkan dunia lewat surat-suratnya. Surat-surat itu tak semata berisi curahan hati si gadis Jawa, tetapi juga memuat pikiran-pikiran dan keprihatinan Kartini kepada rakyat kecil yang menderita di bawah tindasan para penguasa (Belanda dan priyayi Jawa). Kartini juga memaparkan sikap dan keberpihakannya kepada perempuan pribumi; terikut di dalamnya soal ketidaksetujuannya terhadap poligami.

Dari mana gadis lugu yang sejak umur 12 tahun dipingit itu memiliki kesadaran sedemikian rupa? Dari mana lagi kalau bukan dari buku-buku yang diperolehnya melalui sahabat-sahabat korespondensinya di Nederland.

Mendadak saya iseng membayangkan, andaikata waktu itu teknologi internet dan blog sudah ada, tentu Soekarno, Hatta, Yamin, Sjahrir, Kartini, Tan Malaka, dan gerombolan “anak nakal” lainnya, pasti akan ramai-ramai nge-blog. Dan tentu Indonesia tak perlu menunggu selama 350 tahun plus 3,5 tahun untuk merdeka.

Dan pekan silam, agaknya Taufik Rahzen beserta segenap penyelenggara acara, ingin menyebar-nyebarkan virus dan mengajak sebanyak-banyak orang menjadi kutu buku lewat kebiasaan membaca dan menulis (blog).

Saya akhiri tulisan sok tahu ini dengan mengutip puisi “Sajak Ini Kuberi Judul Buku” milik penyair Hasan Aspahani yang saya cungkil di blognya www.sejuta-puisi.blogspot.com tertanggal 2 April 2004:

Diam-diam aku sedang mempersiapkan
sebuah kematian yang paling sempurna:
dikuburkan di dalam buku. Engkau tahu?
Buku akan hidup abadi. Tak mati-mati!

Barangkali saja, kelak dalam perjalananku
dari halaman-halamanmu, duhai Bukuku,
duhai Kuburku, duhai Kekasih Abadiku,
bisa kutemukan pertanyaan teka-tekimu,
bisa kudengar apa saja yang dikata Waktu.***

(Ditulis untuk memperingati Hari Buku Nasional, 17 Mei 2007)




message 2: by Bunga Mawar, Moderator (new)

Bunga Mawar (verad) | 953 comments Mod
tapi kan buku2 taufik rahzen tidak dibaca semua. dikoleksi sahaja.
*kalo ga salah dengar, dia ngaku begitu*


message 3: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments kan itu memang karakter umum kutu buku, Vera ; menimbun buku :D


message 4: by Mel (new)

Mel | 720 comments jadi moral lesson dari kutu buku ini adalah, mari menimbun buku? lol


message 5: by [deleted user] (last edited Jan 09, 2009 08:59PM) (new)

ya ada dua jenis kolektor buku: yg satu menganggap buku barang antik kaya guci, keramik dsb. yg satu lagi menganggap buku benar2 sebagai buku: dibaca, diberi catatan, dicoret2 di pinggir2nya, rujukannya dicari satu2, ga peduli bukunya sampai kumel ga karuan.
jenis yang kedua ini lebih "kutu buku" sih kalau menurutku


message 6: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments aku jenis yang mana ya? *ngelus-ngelus buku "Anne of Green Gables*


message 7: by Bunga Mawar, Moderator (new)

Bunga Mawar (verad) | 953 comments Mod
Aku ga berani ngaku kutu buku ah.
Timbunan buku di kamarku sebagian milik orang lain... bukan koleksi jadinya, juga ga boleh dicoret2 atau dibikin kumel :)

*tertunduk di depan Mbak Endah dan Mas Ronny*





message 8: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments eh, aku juga suka memberi catatan di buku2 yg kubaca tetapi bukan pada halaman2 di buku tsb. aku menulisnya di "post it" yang berwarna-warni spt permen itu. Jadi kan bukuku tetap mulus :D


message 9: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Vera bukan kutu buku tp rayap buku (karena sangat rakus, bisa menghabiskan 13 buku dalam 1 bulan. Hal yang blm pernah bisa kulakukan) :D


message 10: by Bunga Mawar, Moderator (new)

Bunga Mawar (verad) | 953 comments Mod
haiyaaah... tega banget! Lihat rekorku nanti akhir bulan yah! *mengancam*


message 11: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments sungguh, Ver, kerakusanmu mengerikan :D


message 12: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments Vera, apa sih rahasianya bisa baca buku sebanyak itu? Rekormu hanya bisa kukalahkan kalo aku baca komik hihihi........


message 13: by Bunga Mawar, Moderator (new)

Bunga Mawar (verad) | 953 comments Mod
ya ampuuun... fitnah ini begitu kejam!!! pembunuhan karakter!

Hmm, oke, buat Nurul ini rahasianya, mungkin ga berlaku buat orang lain, tapi mujarab untuk saya: Setiap berniat membaca, saya niatkan bahwa apa yang saya baca akan bermanfaat tidak hanya buat saya, tapi juga buat orang lain... pertama buat murid2 saya, kedua buat fans2 saya, ketiga buat novel yang mau saya bikin dan ga selesai2. Makin banyak yang dibaca, insya Allah makin banyak yang dapat manfaat. Gitu.

Demikianlah. Pojok konsultasi gemar membaca hari ini ditutup. Tok! Tok! Tok!
*lagu tema "Sepatu Kaca" dari Ira Maya Sopha, fade out*


message 14: by Mel (new)

Mel | 720 comments @vera
lagi bikin novel apa..


message 15: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Ver, aku bersedia deh jadi proofreadernya :)


message 16: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 716 comments saya mau ngasih endorsment di belakang kok!

novel terbaik abad ini, MK gak ada sekuku-kukunya, cukup lebay gak? :D


message 17: by [deleted user] (new)

another 'lebay' endorsement: dari sudut kecamatan Parung, lahirlah mahakarya sastra Indonesia


message 18: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments Ayo Vera, semangat baca lagi biar cepet selesai novelnya, kalo perlu bikin rekor baru gitu :D


message 19: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments ikutan nyumbang endorsement : Novel yang mengungkap seluk-beluk reformasi 1998 dari perspektif yang berbeda. Sangat emosional karena ditulis sendiri oleh pelakunya. Ada asmara, ada kengerian, ada isu-isu politik, ada humor pahit.

-Endah Sulwesi, penikmat buku-buku asmara-


message 20: by Bunga Mawar, Moderator (new)

Bunga Mawar (verad) | 953 comments Mod
duodooool tenaaaan...!!!!
*bakal ngelantur nih novel gw*

Koreksi dikit Ron, kebetulan gw agak pandai dikit mengenai geografi Kabupaten Bogor. Walau letaknya di Jalan Raya Parung-Bogor, tempat tinggal dan kerjaan gw tuh di Desa Jampang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor


message 21: by [deleted user] (new)

oke, koreksi: telah lahir, seorang pendekar baru dari Desa Jampang yang lebih memilih bersilat dengan kata-kata. Jurus-jurus sastranya menggetarkan


message 22: by Bunga Mawar, Moderator (new)

Bunga Mawar (verad) | 953 comments Mod
ntar di ujung kalimat lo harus ada asterisk buat keterangan catatan kaki: pendekar yang mengantongi ponsel dengan nada getar


message 23: by Fudz (new)

Fudz (fudz_sakabatou) | 166 comments ei, mba ver. Jdi baca breng buku Hunt for Atlantis g?
Ato jgn2 drimu dh selese duluan lgi...
Btw mba, muridnya dr kalangan mana tuh, SD,SMP ato SMA...
Jd murid2nya yg selama ini bikin jdi getol baca yah...


message 24: by Bunga Mawar, Moderator (new)

Bunga Mawar (verad) | 953 comments Mod
hei fudz... belon... belon dibaca. kan nungguin dirimu.

wah, murid2ku semua udah doyan baca, sama kayak bu gurunya, ditambah lagi perpus sekolah kami yg keren jadi ya bersaing laah... jgn sampe guru dikalahin siswa doong, hehe...


message 25: by Fudz (new)

Fudz (fudz_sakabatou) | 166 comments bener bnget tuh, meski cuma semalam guru harus ttp unggul dri murid2nya..ha..ha..maksa...
ak dah beli bukunya dri 3 hri yang lalu..
Tpi ak mo nyelesein The Book Of Lost Thing dulu,gmn?
Nti ksh kbr y mba, klo dh mo baca...
lwt message d GRI misalnya...
See u then...


message 26: by Speakercoret (last edited Jan 11, 2009 07:29PM) (new)

Speakercoret | 2570 comments mbak vera jangan2 bacanya pas lagi nungguin muridnya ngerjain tugas y *lol*
salut deh mba.. mudah2an kecepatan bikin novelnya kayak kecepatan baca bukunya, sebulan bisa buanyaaak...


message 27: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments enak kali ya jadi muridnya Vera. Dia ga bakal marah kalau kita mencuri-curi membaca pas jam pelajarannya. atau kalau kita datang telat, bilang aja : Bu, saya terlambat bangun karena baca buku anu sampai larut malam. bukunya bagus loh, Bu. Kalau Ibu blm baca, nanti boleh pinjam. Pasti Ibu Guru Vera ga marag :D


message 28: by Bunga Mawar, Moderator (new)

Bunga Mawar (verad) | 953 comments Mod
woooo... jangan salah! Kalo lagi belajar, buku yang tidak berhubungan jangan dibaca di kelas. Kalo masih ada yang nekat, begitu peringatan kedua, buku bersangkutan disita sampe akhir hari, hihi... Jadi kalo emang seru bu gurunya sempat baca kan, hahaha...

Tapi emang minat baca murid2 sekolahku parah banget. Sampe buku perpustakaan banyak yang ga dibalikin, huuu...


message 29: by Indri (new)

Indri Juwono (indrijuwono) | 2862 comments ih.. asyikk.. kalo bukan member, bole maen ke perpusnya n baca juga?? (orang depok kan deket kesanaa..)
masa aku harus daptar skolahnya dulu..


back to top