Goodreads Indonesia discussion

99 views
Buku & Membaca > Pendidik “Wajib” Menulis Buku

Comments Showing 1-23 of 23 (23 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Kurnia (new)

Kurnia Effendi | 10 comments Seorang profesor wajib menulis buku minimal sekali dalam setahun. Itu yang berlaku di luar negeri, di negara-negara yang menjunjung intelektualitas. Ada kemungkinan, gelar profesor yang disandang seseorang sebagai tanda pengabdiannya terhadap almamater akan dicabut kembali jika tak pernah berkarya. Loyalitas terhadap keilmuan ditunjukkan dengan dua cara: mengajar di kampus dan menulis buku (disertasi).

Bagaimana yang terjadi di Indonesia? Mungkin secara moral, masing-masing profesor menyadari adanya ‘tuntutan’ untuk memberi sumbangsih ilmu. Profesor Maman S. Mahayana, sebagai contoh, setiap tahun menerbitkan buku yang berkaitan dengan sastra Indonesia. Berupa himpunan sejumlah kolom yang pernah ditulisnya dalam surat kabar, atau tinjauan kritis mengenai salah satu genre sastra dalam kurun waktu tertentu.

Menulis buku memang tidak mudah. Minimal tidak semudah kita bicara dalam diskusi informal. Tulisan dalam buku mengandung argumentasi yang dapat dipertanggungjawaban. Bahkan andaikata itu merupakan karya fiksi, selalu ada logika berpikir dalam pembuatannya. Walaupun fiksi fantastik semacam Harry Potter, terdapat logika cerita fantastic juga. Buku ilmiah tentu lebih memerlukan hipotesis dan riset mendalam dalam penyusunannya. Artinya, pendapat sang penulis layak untuk diuji.

Untuk sampai pada tingkat menyampaikan pendapat tertulis, baik itu merupakan resensi (menimbang karya tulisan orang lain), telaah, tesis dan antitesis, ataupun rumusan baru; diperlukan kemampuan menyusun deskripsi yang runut dan komunikatif. Syarat pertama adalah cara menggunakan bahasa yang benar dan komunikatif, baru dinilai isinya.

Kadar intelektual seseorang mudah dilihat dari cara membuat artikel atau opini. Ilmu atau pendapat serumit apapun, dengan keterampilan penulisan yang efektif dan efisien akan lebih mudah dipahami. Dalam hal ini, “njlimet” tidak berbanding lurus dengan kecerdasan seseorang.

Baru saja usai, Pusat Perbukuan di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional menyelenggarakan lomba penulisan buku pengayaan untuk siswa SD, SMP, atau SMA. Peserta adalah para guru, dosen, atau tenaga pendidik, baik yang masih aktif maupun sudah pensiun. Jenis buku dibagi dalam dua kategori besar, yakni fiksi dan nonfiksi. Masing-masing kategori dibagi lagi menjadi beberapa genre. Karya nonfiksi yang meliputi ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan keterampilan; baru diselenggarakan dalam dua tahun terakhir. Sebelumnya, jenis buku yang dilombakan hanya meliputi karya fiksi (novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, dan naskah drama). Dari tiap sub-jenis itu masih dikelompokkan sesuai segmentasinya: untuk siswa SD, SMP, atau SMA.

Menurut dokumentasi yang dicatat oleh panitia, peserta lomba tahun 2008 merupakan yang terbanyak dalam 20 tahun penyelenggaraan, yakni mencapai 900 naskah. Lomba ini dimulai sejak 1988, mengalami pasang surut jumlah peserta. Untuk menentukan para pemenang yang naskahnya berhak diterbitkan sebagai buku, Pusbuk (Pusat Perbukuan) membentuk dewan juri. Mereka terdiri dari para akademisi dalam bidang bahasa dan sastra, para sastrawan, dan jurnalis. Jumlah juri yang direkrut cukup banyak mengingat jenis karya yang dilombakan juga beragam. Apalagi tahun ini, booming peserta akan menambah tugas pembacaan.

Setiap sub-jenis buku dinilai oleh 5 sampai 7 juri. Masing-masing juri membaca antara 20 sampai 30 buku, dan diminta untuk mengajukan antara 3 sampai 6 nominasi untuk dicalonkan sebagai pemenang.

Prosesnya tidak mudah, karena saringan penilaian berlapis-lapis. Mula-mula panitia (yang terdiri dari para karyawan Pusbuk) akan meneliti dari persyaratan administrasi. Jumlah halaman minimum, latar belakang pengarang, format buku, menjadi batu sandungan pertama. Setelah itu, dewan juri akan membaca satu persatu dengan bekal kriteria sebagai parameter penilaian.

Karena ini buku pengayaan, naskah merupakan bahan bacaan yang akan memperkaya wawasan siswa di luar mata pelajaran formal yang diterimanya dalam kelas. Kategori fiksi sudah pasti merupakan hasil karya kreatif yang berangkat dari imajinasi. Isu yang diangkat mungkin merupakan fakta sosial yang terjadi (kontekstual) namun bukan merupakan berita faktual. Sedangkan kategori nonfiksi, lebih berpijak pada realitas dan pengungkapan pendapat keilmuan (alam, sosial, maupun teknis) yang dapat dibuktikan dan mudah dipraktikkan.

Juri dituntut untuk memahami dan menguasai bahan yang akan dinilainya. Setelah lolos sebagai nominasi, masih ada tahap penilaian oleh tim keamanan. Pada fase ini, karya akan ditinjau dari sisi politis, sara, dan bahaya pornografi. Pada penjelasan awal, panitia sudah membekali dewan juri pandangan tentang communitarian culture sebagai nilai-nilai yang dibawa dalam sebuah karya.

Apa sebenarnya maksud dan tujuan dari Pusbuk menyelenggarakan lomba tersebut setiap tahun? Apalagi dengan hadiah yang tidak kecil bagi pemenangnya, antara 15 dan 17 juta. Buku itu bahkan kemudian diterbitkan dalam jumlah banyak untuk memenuhi perepustakaan sekolah di seluruh Indonesia.

Pertama, perlunya para siswa mendapatkan bahan bacaan yang sesuai dengan kahausan mereka dalam memenuhi wawasan diri. Kedua, perlunya guru dan tenaga pendidik memiliki kemampuan menulis dan menyampaikan gagasan secara komunikatif. Ketiga, banyak potensi lokal yang perlu diangkat demi kelestarian dan sosialisasi bagi generasi berikutnya (peserta dari seluruh Indonesia). Ini semua merupakan bagian dari pendidikan yang menjadi tanggungjawab kita bersama.

Tahap terakhir penilaian adalah wawancara dengan para calon pemenang. Di sini menunjukkan prosesi dari gagasan awal menjadi sebuah buku tidak berlangsung main-main. Dari wawancara ini akan diketahui, apakah karya tersebut merupakan tulisan asli (bukan plagiarisme atau ditulis oleh orang lain) yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pengumuman dilaksanakan pada tanggal 1 Desember 2008 melalui TVRI, namun penyerahan hadiah diwakili secara simbolik oleh beberapa orang saja. Biaya penyelenggaraan, mulai dari pengumuman (melalui surat, brosur, dan website), penggandaan materi, honor dewan juri, konsumsi dan akomodasi bagi pemenang, serta hadiah, tentu tidak kecil. Biaya besar ini merupakan anggaran yang sudah ditetapkan sejak awal tahun sebagai anggaran pendidikan.

Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa pendidikan memang tidak murah, oleh karena itu harus bermanfaat untuk melanjutkan wawasan generasi berikutnya. Lebih penting lagi: budaya menulis harus lekat pada seorang pendidik. (Kurnia Effendi)



message 2: by Bunga Mawar, Moderator (new)

Bunga Mawar (verad) | 953 comments Mod
betul! *udah nulis buku tapi ga tau nasibnya*


message 3: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments njilemet tdk berbanding lurus dengan kecerdasan seseorang.

Tapi banyak juga sih penulis yang merasa hebat dengan membuat tulisan yg njelimet. semakin njelinet semakin keren :D


message 4: by lita (new)

lita padahal cerita menarik ga harus ditulis dengan tulisan yang njelimet..*maklum lemot* :D


message 5: by Mel (new)

Mel | 720 comments njelimet berbanding lurus dengan panjang pendek tulisan gak.


message 6: by gieb (new)

gieb | 743 comments jika tidak menemukan buku yang kamu cari di toko buku. tulislah sendiri buku itu. -smile.




message 7: by Mel (new)

Mel | 720 comments dan belilah sendiri.


message 8: by gieb (new)

gieb | 743 comments atau minta dibelikan.


message 9: by miaaa, Moderator (new)

miaaa | 2354 comments Mod
lebih seru dibelikan sih :D


message 10: by lita (new)

lita enaknya diberi, tanpa pernah meminta :))


message 11: by Mel (new)

Mel | 720 comments kapan dong lit aku akan kau beri tanpa kuminta..
*mulai ngelunjak. haha


message 12: by gieb (new)

gieb | 743 comments lita, itu namanya hadiah. hehe.


message 13: by Kurnia (new)

Kurnia Effendi | 10 comments gieb wrote: "jika tidak menemukan buku yang kamu cari di toko buku. tulislah sendiri buku itu. -smile.

"
ini ucapan menarik seorang Tony Morrison ya?





message 14: by Kurnia (new)

Kurnia Effendi | 10 comments Amang "Po" wrote: "yuk nulis buku..."

Ajakan yang sangat-sangat-sangat positif dan menarik. Raanya tahun ini aku mau menerbitkan 2-3 buku... supaya jadi profesor, hehe


message 15: by Kurnia (new)

Kurnia Effendi | 10 comments Endah wrote: "njilemet tdk berbanding lurus dengan kecerdasan seseorang.

Tapi banyak juga sih penulis yang merasa hebat dengan membuat tulisan yg njelimet. semakin njelinet semakin keren :D"


Tapi tentu ada yang njlimet tapi menarik. Misalnya Ulysses... eh, betul nulisnya begitu?



message 16: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 716 comments Dalam hal ini, “njlimet” tidak berbanding lurus dengan kecerdasan seseorang.

masih inget dengan sebuah pertanyaan, "kalau skripsimu dirangkum dalam satu kalimat, bagaimana bunyi kalimat itu?" Itu pertanyaan yang berkesan dari seorang senior. Gak usah bangga dengan tilisan ngejembreng panjang tapi gak jelas thesisnya :D

smart is simple. parsimony ceuk text book mah!


message 17: by Andri (new)

Andri (clickandri) | 665 comments kalo tidak berbanding lurus, apakah bisa diartikan berbanding terbalik ?

jadi inget kolom kang Eep di Tempo minggu ini.. setelah selesai baca... gw cuma bergumam.. gara-gara titik dua.. bisa jadi kolom satu halaman... dasar orang pinter..

-andri-


message 18: by [deleted user] (new)

iya Jenderal Nanto,
kalu nyusun tesis/disertasi panjang2 tapi kagak bisa bikin abstraksi tesis, ancur dah :D

gue rasa profesor, juga dosen, mestinya rajin menulis, karena itu artinya dia rajin meneliti dan rajin membaca hasil penelitian orang, kagak cuma ngebacot doang di depan kelas, dan saking banyaknya hasil penelitian, mau ga mau dia rajin menulis buku/artikel.


message 19: by Dharwiyanti (new)

Dharwiyanti | 162 comments Kurnia wrote: "Amang "Po" wrote: "yuk nulis buku..."

Ajakan yang sangat-sangat-sangat positif dan menarik. Raanya tahun ini aku mau menerbitkan 2-3 buku... supaya jadi profesor, hehe"


relasinya ga bisa dibalik oom =))

masalah menulis ini kayaknya berkaitan dengan perut ya. para pendidik kita masih harus memanfaatkan waktunya untuk kejar setoran, sehingga nggak sempat membaca dan menulis. sebagian ada juga yang sengaja nggak disempatkan, mungkin :)




message 20: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 716 comments @ yanti, gue pernah diskusikan itu dengan seorang kawan, "kita ini gila apa yah? bekerja di sebuah bidang yang belum di hargai oleh negaranya?"

Itu belum seberapa ketus dibandingkan ucapan supir taksi yang pernah gue ajak ngobrol. Anaknya mau masuk jurusan Biologi, "Ngapain masuk biologi? Mau apa nanti? Emang negara sudah kaya apa? mau ngasih dana riset yang gede buat Biologi?"

Gue cuma nyengir. Gak mau mbantah atau kasih penjelasan, walaupun sinisme si pak supir tidak bisa dibenarkan begitu saja. Gue cuma plirak-plirik badan sendiri, apa ada tanda-tanda lembaga yang melekat di badan gue. Gue gak bilang apa-apa soal kerjaan gue, kok dia kayak ngomongin gue? hahaha


message 21: by Dharwiyanti (new)

Dharwiyanti | 162 comments ahahaha.. emang sih elo ga ada tampang peneliti. eh, salah fokus ya gue?

*maap oom, mmaaaaa'aaaaaaaaaap*


message 22: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments @Nanto: udah ada nih korban menjebloskan diri sendiri ke biologi...hahaha... Eh, mustinya bilang ke supir taxi kalo yg kasih dana buat riset malah dari luar negeri.


message 23: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 716 comments @ yanti, elo ngikutin jejak temen gue yang komentarnya beda ndiri dari temen2 yang lain, "elo jadi PNS???????"

Hahahaha dan lo yang kedua...


back to top