Goodreads Indonesia discussion

note: This topic has been closed to new comments.
59 views
Usulan & Ajakan > Undangan Temu Penulis: Cok Sawitri

Comments Showing 1-11 of 11 (11 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Endah (last edited Jan 07, 2009 09:06PM) (new)

Endah (perca) | 658 comments COK SAWITRI : “Pada dasarnya saya anak penurut.”

Para pemenang Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2007 telah diumumkan pekan silam. Salah satu finalisnya adalah Cok Sawitri dengan karyanya Janda dari Jirah. Beberapa hari setelah ‘pesta’ itu usai, Cok masih tinggal di Jakarta untuk menyelesaikan satu dua urusan. Pada Senin (21/1) ia bersedia menerima saya dan seorang wartawati dari sebuah majalah wanita ternama ibukota di tempatnya menginap, rumah besar di bilangan Kayu Putih, Jakarta Timur. Petang itu Cok tampil santai dengan kaus oblong hitam dipadu celana pendek. Rambut panjangnya digelung. Wajahnya polos tanpa riasan make up apa pun.

Cok adalah kependekan dari Cokorda, nama yang harus disandangnya sebagai keturunan kasta Brahmana Ksatria. Lahir di Sidemen, Karangasem, Bali pada 1 September 1968 sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Sejak masih di TK ia telah senang membaca. Tradisi membaca di keluarga besarnya memungkinkan ia mendapatkan banyak bahan bacaan. Tak heran jika pada usia yang masih sangat belia, SMP kelas 2, puisinya sudah dimuat di Bali Post. “Kelas 3 SD puisiku sudah bagus. Sudah dipuji guru,” tutur Cok mengenang masa awal “percintaannya” dengan puisi. Ia ingat betul, puisi yang dibacakannya di depan kelas itu adalah tentang neneknya.

Tak berhenti pada puisi, Cok mulai mencoba menulis cerpen. Cerpen perdananya yang dimuat di koran lokal, Karya Bakti, berjudul “Kulkul”. Ketika itu ia sudah duduk di bangku SMA di mana ia menjabat pula sebagai ketua OSIS. Ia juga sempat menerbitkan sebuah majalah sekolah bertajuk Tika. Dan sampai sekarang majalah tersebut masih eksis.

“Perjumpaannya” dengan Calon Arang yang lebih suka disebutnya Rangda Ing Jirah, terjadi kira-kira sepuluh tahun lalu. Dimulai tatkala ia yang kuliah di jurusan Administrasi Negara diminta membantu seorang profesor sahabat ayahnya yang tengah melakukan penelitian bidang sosial ekonomi. “Tugas saya menghitung ada berapa sapi di satu desa. Seperti sensus,” cerita Cok sembari mengisap kreteknya dengan nikmat. Lantaran desa yang ditelitinya dekat dengan rumah kakeknya, maka Cok jadi sering singgah setiap usai mengerjakan tugasnya.

Di rumah itu Cok banyak mendapatkan cerita menarik dari seorang tantenya ikhwal sejarah dan silsilah keluarga yang kelak membawanya pada kisah Calon Arang. Untuk lebih memuaskan rasa ingin tahunya, Cok lantas menguliknya dari lontar-lontar milik keluarga. Sayangnya, ia tidak bisa membaca lontar-lontar yang ditulis dalam bahasa Kawi tersebut. Dan tidak sembarang orang boleh membaca atau mendengarkan pembacaannya.

“Tapi saya kan cucu kesayangan. Saya lalu merayu tante saya,” Cok memaparkan lebih lanjut kisahnya. Maka Cok pun diwinten (dibersihkan) melalui sebuah upacara adat untuk akhirnya diizinkan mendengarkan pembacaan lontar-lontar itu. Dan ternyata ia mampu menafsirkan dengan baik naskah-naskah kuno tersebut. Barangkali itu karena, “Pada dasarnya aku anak penurut,” ujar Cok dengan mimik serius, “ kalau aku belajar aku sangat mendengarkan, lho,” lanjutnya lagi seperti ingin meyakinkan.

Namun, baru pada 1992 tercipta puisi “Namaku Dirah” sebagai hasil penelitiannya yang panjang . Empat tahun kemudian puisi tersebut dikembangkan menjadi pementasan teater 4 episode berjudul Pembelaan Dirah.

Novelnya sendiri sesungguhnya tidak pernah ia rencanakan. Itu terjadi pada 4 hari menjelang tahun baru 2006. Dalam 4 hari itu ia menyelesaikan draf novel Calon Arang yang sangat berbeda dengan versi-versi sebelumnya. Setahun berikutnya, draf tersebut diterbitkan–utuh, tanpa diedit sedikit pun, kecuali untuk urusan salah ketik–sebagai novel liris berjudul Janda dari Jirah.

“Apa hebatnya novel Latin? Karena punya ciri khas. Apa hebatnya Hemingway? Karena dia punya ciri khas. Apa kecirian sastra Indonesia kalau tidak berani bermain di prosa liris?” Cok memberikan alasan sehubungan dengan gaya yang dipilihnya dalam menulis novelnya itu. Dan bagaimana kalau kelak ada yang ingin menerjemahkan Janda dari Jirah ke dalam bahasa Inggris? “Oh, pasti (akan) sakit jiwa translaternya,” sahut Cok.

Sebenarnya masih banyak hal yang ingin kami percakapkan dengan pemilik nama kecil Lilies ini. Tetapi malam yang kian menua memaksa kami menyudahinya.***



message 2: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Po blm baca ya si Janda? :D


message 3: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Whoaaaaaaaaaaaaa....bukuku dah kemana-mana dan aku belum baca...huehueheuheu...*wah bisa minta TTD yah?*




message 4: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments dan poto2 bareng ya, roos *siyap2 pose narsis ah...*


message 5: by Pra (new)

Pra  (vlatonovic) | 1185 comments buku yang bagus


message 6: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments menampilkan sisi calon arang dari perspektif berbeda


message 7: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Aku waktu beli suka banget ma covernya....hehehehe.
Tapi kok ya mood bacanya suka lari-larian yah.


message 8: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Roos, ntar datang kan?


message 9: by Ditta (new)

Ditta | 422 comments wah,,,telat!!!!baru tau,,,
tp gpp deh,,buku barunya kan mau keluar, jadi ada kmungkinan bisa ketemu dan mud2 kali ini bisa masuk KLA juga,,,


message 10: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Maaf Mbak Endah...selain hujan lebat...ada temanku yang main kerumah...maaf yah gak bisa nemenin.


message 11: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments gpp Roos :)


back to top
This topic has been frozen by the moderator. No new comments can be posted.