Cari Aku di Canti Cari Aku di Canti discussion


35 views
La Runduma

Comments Showing 1-2 of 2 (2 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

Femmy Biarpun bulannya sudah lewat, aku cuma mau tanya, ada yang bersedia menjelaskan, apa inti cerpen pertama dalam kumcer ini?


message 2: by [deleted user] (new)

Fem, menurutku "La Runduma" memang mengangkat topik yg sama sekali tidak baru: perempuan dalam kekangan adatnya, kawin lari dsb. Tapi pengolahannya sangat mengasyikkan. Ada lapis-lapis cerita yg membuat cerpen ini tidak lempeng2 aja sbg cerita yg cuma membahas soal perempuan dalam kekangan adat.

Biasanya dlm cerita bertema demikian selalu ada dikotomi antara kekangan tradisi dengan kebebasan manusia modern. Johra mungkin kelihatan menentang adatnya, tapi menurutku yang lebih tidak ia sukai bukan adatnya itu sendiri, melainkan ketidakpercayaan ayahnya kepada dirinya. Ia masih perawan, bahkan sampai akhir cerita ia masih perawan, tapi "Ayah..., mengapa kau menuduhku tidak perawan?" Gendang itu boleh pecah, tapi kenapa bukan orang lain yang dicurigai tidak perawan, kenapa hrs anak gadisnya sendiri yg setia pada ayahnya? ("suatu pingitan yang aneh dan aku melakukannya karena ayah")

Lapis lainnya yang paling aneh dan menarik adalah percakapan singkat tokoh "saya" dengan "Run". Tidak ada penjelasan lebih. Pembaca menebak2 sendiri siapakah "saya" ini dan apakah Run di sini adalah La Runduma yang sama dg pacar Johra. Tokoh 'saya' bercinta dg Run, dan Johra bahkan sempat mengendus "bau mesum" itu meski ia menyatakan "mafhum pada zaman ini".

Tokoh 'saya' sendiri rela melepas keperawanannya pada Rum krn ia cinta Rum, meski cinta Rum tertambat pada gadis lain, dan Rum "butuh kekasihnya selalu perawan".

Ada gadis yg lari dari ritual adatnya krn didakwa tidak perawan, padahal ia menjaga keperawanannya dan menhormati ayahnya. Ada penjaga adat yg ilmunya sudah tak berlaku di zaman ini ("Pak Maulidun kan punya ilmu, pasti ia dapat menebak siapa yang sudah tidak perawan"). Ada ritual yg terus dijalankan meski anak2 muda melanggarnya sendiri ("Aku mafhum pada zaman ini. Tapi siapakah dua orang muda yang berkasih-kasih itu? Mungkin aku cemburu, sebab kau belum datang dan membawaku pergi")

Namun ada sisi lain dari cerita ini: ada gadis yg naif sekali akan kesetiaan kekasihnya (La Runduma terbukti tidak setia2 amat, ia memadu birahi dg gadis lain), ada ayah yg nasehatnya tetap ada benarnya ("La Runduma itu bajingan, Johra. Percayalah pada bapakmu yang tua ini."). Dan ada Riwa, gadis jelita yg dibilang "sepenuh hati mencintai adat ini", padahal dialah yg paling melanggarnya dg tiada kentara: bercinta dg La Runduma, melepas keperawanannya, namun tetap menjalankan ritual dg muka riang.

Jadi menurutku, cerpen ini berbicara banyak tanpa menjadi cerewet--lebih banyak dari tema pokok yang tampak saat dibaca. Dan itu yang membuatnya melejit dibanding lain-lainnya.


back to top