Goodreads Indonesia discussion

331 views
Buku & Membaca > Penerjemah

Comments Showing 1-50 of 142 (142 new)    post a comment »
« previous 1 3

message 1: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Sebagai penggemar berat fiksi, wajar jika minat dan perhatian saya terhadap dunia perbukuan tanah air cukup besar. Saya perhatikan, tahun-tahun terakhir ini, perkembangan perbukuan tanah air sangat menggembirakan. Maksud saya, saya melihat semakin banyak saja pilihan buku yang bisa saya baca.

Dari pengamatan itu, saya menemukan jumlah buku fiksi terjemahan lebih banyak ketimbang buku karya penulis lokal. Gejala apakah ini? Ini bisa berarti banyak. Bisa saja artinya kita memang kurang memiliki penulis fiksi yang baik. Atau dapat juga bermakna, bahwa karya-karya terjemahan lebih diminati dan lebih laku di pasaran. Tentu dengan demikian para pelaku industri perbukuan (penerbit) akan lebih bergairah menerbitkan buku-buku terjemahan, kendati ongkos produksinya jauh lebih mahal ketimbang menerbitkan buku lokal.

Seorang teman yang pernah bekerja sebagai editor di sebuah penerbit besar mengatakan, bahwa penerbit lebih merasa ‘aman’ menerbitkan buku-buku terjemahan yang sudah terbukti best seller di negara asalnya atau buku-buku yang pernah meraih penghargaan daripada harus menerbitkan buku karya penulis lokal yang belum terkenal. Dari aspek bisnis, pertimbangan mereka dapat dimengerti. Siapa pun pedagang tentu hanya ingin dagangannya laku dan memperoleh untung banyak.

Maraknya karya-karya terjemahan berkait erat dengan para penerjemah. Merekalah pemegang peran penting untuk urusan ini. Dari tangan para translater ini kita yang memiliki kemampuan berbahasa asing terbatas dapat turut serta menikmati buku-buku bagus dari belahan dunia lain, dari Eropa hingga Afrika; dari Asia hingga daratan Amerika. Dari novel pemenang Pulitzer, Man Booker Prize, hingga Nobel. Atau novel-novel klasik yang tidak pernah kita bayangkan akan punya kesempatan membacanya dalam bahasa Indonesia.

Pastilah menerjemahkan itu bukan satu perkara mudah. Tidak setiap orang– bahkan yang mengaku penerjemah sekali pun–mampu menerjemahkan dengan baik. Sebab, yang dibutuhkan bukan saja kemahiran berbahasa asing tetapi juga kemampuan menginterpretasi atau menafsirkan dan memahami teks demi mendapatkan “roh” cerita sehingga hasil terjemahan tersebut akan lebih bermutu dan “bernyawa”. Selain itu, tentu juga kudu mengerti dan menguasai bahasa Indonesia dengan baik. Oleh karena itu, nama penerjemah kerap menjadi salah satu faktor utama yang saya pertimbangkan dalam membeli buku-buku terjemahan.

Saat ini, menurut pengakuan seorang teman yang berprofesi sebagai penerjemah lepas, bayaran bagi penerjemah sudah cukup memadai. Biasanya upah mereka dihitung berdasarkan jumlah karakter atau halaman (ukuran kertas A4, spasi ganda, dan font size-nya Times New Roman 12). Angkanya berkisar antara Rp 15.000,00 hingga Rp 19.000,00 per halaman; sedangkan untuk para pemula Rp 10.000,00 per halaman. Dan bagi para penerjemah yang lebih senior lagi, honor tersebut bisa mencapai angka di atas Rp 25.000,00 per halaman. Kira-kira hampir sama besar dengan ongkos membeli hak menerjemahkan dari penerbit asli atau penulisnya (sekitar 500-1000 dolar).

Bisa Anda hitung sendiri berapa besar rupiah yang mereka terima setiap kali menerjemahkan satu novel yang rata-rata memiliki tebal 400-500-an halaman. Lazimnya waktu yang diberikan adalah 1-2 bulan. Jika satu tahun dapat proyek minimal 3 atau 5 buku, cukup membuat liur meleleh juga ya pendapatan para penerjemah itu.

Namun, tak banyak khalayak pembaca yang ngeh akan kehadiran mereka. Apabila buku yang mereka terjemahkan menjadi best seller, yang berkibar-kibar adalah nama pengarangnya. Nama mereka sendiri acap kali terlupakan. Padahal, berkat kerja keras mereka jua kita dapat menikmati buku-buku keren tersebut. Mereka telah “berjasa” menjadi semacam “jembatan” yang mempertemukan para pembaca dengan karya-karya sastra dunia. Bayangkan jika di dunia ini tidak ada profesi yang bernama penerjemah. Mungkin sampai saat ini saya yang tidak bisa ngomong Inggris ini tidak akan pernah membaca novel-novel seindah The Kite Runner, Seratus Tahun Kesunyian, Da Vinci Code, The Catcher In The Rye, Harry Potter, The Namesake, In Cold Blood, dll.

Begitu pun sebaliknya. Jika tak ada penerjemah, bagaimana dunia akan mengenal karya sedahsyat Bumi Manusia, Ronggeng Dukuh Paruk, atau Saman? Barangkali ada baiknya jika kita memberikan penghargaan lebih kepada para penerjemah itu. Misalnya dengan mencantumkan nama mereka di sampul depan buku berdampingan dengan nama penulis aslinya. Bagaimana? Setuju? ***

*terima kasih kepada Antie dan Kris yang telah bersedia menjadi “nara sumber” tulisan ini*


message 2: by Femmy, Pendiri GRI (last edited Jan 02, 2009 08:39PM) (new)

Femmy | 666 comments Mod
Endah wrote: "Barangkali ada baiknya jika kita memberikan penghargaan lebih kepada para penerjemah itu. Misalnya dengan mencantumkan nama mereka di sampul depan buku berdampingan dengan nama penulis aslinya. Bagaimana? Setuju? "

Setuju banget! Xixixixi...


message 3: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments *toss sama Femmy*


message 4: by [deleted user] (new)

Pencantuman nama penerjemah itu standar internasional sebenernya, tapi entah kenapa sulit sekali menuntut itu ke penerbit di sini (padahal tidak nambah ongkos produksi sama sekali). Jangankan di sampul depan, di halaman judul dalam aja jarang sekali penerbit yg mau. Saya dan teman2 di penerbitan saya dulu bikin standar nama penerjemah dicantumkan di cover belakang beserta sinopsis dan halaman judul depan, serta seluruh materi promosi (situs, katalog dsb).
Jadi jelas saya setuju!


message 5: by [deleted user] (new)

Oh ya lupa, Jose Saramago, pemenang Nobel Sastra 1998, bilang: "Sastrawan dengan bahasanya menciptakan sastra nasionalnya masing-masing. Sastra dunia yang sesungguhnya diciptakan oleh penerjemah."


message 6: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Ronny wrote: "Pencantuman nama penerjemah itu standar internasional sebenernya, tapi entah kenapa sulit sekali menuntut itu ke penerbit di sini (padahal tidak nambah ongkos produksi sama sekali). Jangankan di sa..."

oh info yang bermanfaat. aku baru tahu loh, Ron. Thx ya.




message 7: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Ronny wrote: "Oh ya lupa, Jose Saramago, pemenang Nobel Sastra 1998, bilang: "Sastrawan dengan bahasanya menciptakan sastra nasionalnya masing-masing. Sastra dunia yang sesungguhnya diciptakan oleh penerjemah.""

waaaak.....kereeen.




message 8: by [deleted user] (new)

Ya itu bisa dilihat di "International PEN's Declaration on the Rights and Responsibilities of Translators" Pasal 4:
http://www.pen.org/page.php/prmID/333

jadi mungkin belum internasional juga sih, tapi diperjuangkan jadi standar internasional


message 9: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 716 comments di gudrids bukannya dah mulai dengan mencantumkan penerjemah juga?


message 10: by Femmy, Pendiri GRI (new)

Femmy | 666 comments Mod
Yiayia, artikel ini diposting ke milis Bibliophile juga ngga, hihihihi *komporin mode on*

Tapi ada juga lho buku terjemahan yang memasang nama penerjemah di depan. Waktu itu lihat salah satu komik Elex. Entah kenapa ngga semua penerjemah diperlakukan begitu.


message 11: by [deleted user] (new)

Nama penerjemah yang saya tahu pasti ditaruh depan sejak 80-an itu cuma yg kelas kakap aja krn bisa "dijual", misalnya:

H.B. Jassin, misalnya buat Pemberontakan Guadalajara-nya Slauerhoff
http://www.goodreads.com/book/show/33...

Nh.Dini, misalnya buat Sampar-nya Albert Camus: http://www.goodreads.com/book/show/33...


message 12: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Ronny wrote: "Ya itu bisa dilihat di "International PEN's Declaration on the Rights and Responsibilities of Translators" Pasal 4:
http://www.pen.org/page.php/prmID/333

jadi mungkin belum internasional juga sih,..."


akuuurrr.....! (loh? nama penerbit? eh..itu sih AKOER ya? idih, aku kok jd jayus :D)




message 13: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Berlian wrote: "Tapi ada juga penerbit yang mencoba menjual nama penerjemahnya, yang nota bene adalah pengarang ciklit laris( Cintapuccino). Saya terjebak beli bukunya dan menyesal, soalnya terjemahannya bikin lie..."

aku juga pernah lihat sih ada buku terjemahan yang "menjual" nama penerjemahnya. Misalnya, Novel Tanpa Nama (Duong Tu Huong) yang diterjemahkan oleh Sapardi.




message 14: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Femmy wrote: "Yiayia, artikel ini diposting ke milis Bibliophile juga ngga, hihihihi *komporin mode on*

hahahaha..nggak tuh, Fem :D
Sebenarnya ada baiknya juga pencantuman nama penerjemah di cover buku ya. Setidaknya kan para penerjemah itu jadi lebih termotivasi untuk lebih baik lagi.



message 15: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments Setuju banget mbak Endah. Untuk buku2 jenis tertentu, aku kadang masih cari aslinya. Terbayang misalnya Sophie's worldnya Jostein Gaarder. Pertama baca versi Indonesia, pusing setengah mati dan berhenti di jalan. Baru mudeng setelah baca versi Inggrisnya, padahal versi aslinya sendiri berbahasa Norwegia. Jadi buku2 seperti itu mengalami beberapa langkah agar dapat dibaca berbagai manusia di dunia ini. Dan seorang penerjemah harus punya kemampuan menangkap dan memahami suatu cerita. Ayo, terus maju penerjemah Indonesia!


message 16: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Nurul, aku ga pernah sanggup menamatkan Dunia Sophie. Buku yang sulit. Buku Gardner yang paling sulit menurutku. Penerjemahnya siapa ya?


message 17: by [deleted user] (new)

gue cuma mo nyampah doang:
waktu gue ikut pelatihan penerjemah bukunya kerjasama sebuah ikatan para penerbit nasional dan sebuah perhimpunan profesi penerjemah kira-kira dua tahun lalu, salah satu tutornya menunjuk terjemahan buku Of Mice and Men-nya John Steinbeck yang diterjemahkan Pramoedya Ananta Toer (jadi Tikus dan Manusia, Lentera Dipantara) sebagai contoh terjemahan yang kurang baik. Padahal di sampul depan tertera jelas: Alih Bahasa: PAT. weleh.


message 18: by Bunga Mawar, Moderator (new)

Bunga Mawar (verad) | 953 comments Mod
Endah wrote: "Buku Gardner yang paling sulit menurutku. Penerjemahnya siapa ya?"

oh, saya juga ga ngerti Dunia Sophie ini. Bisa jadi memang faktor penerjemah, ya?




message 19: by Wirotomo (new)

Wirotomo Nofamilyname | 2395 comments @Mbaks Nurul, Endah, Vera:
Kalau Dunia Sophie (Sophies Verden dalam bhs Indonesia) memang agak sulit dan mbingungin ya untuk dibaca. Bukan mau nyalahin penerjemahnya (bukuku yg bhs Indonesia sdh kulego saat beli yg bhs Inggris, jadi nggak tahu siapa penerjemah ke bhs Indonesia), soalnya aku maklum ini memang topik berat, membahas hampir semua filsuf2 dunia. Tapi memang Paulette Moller (penerjemah ke bahasa Inggris) lebih berhasil menerjemahkan buku ini menjadi sesuatu yang bisa dimengerti. :-)

Nah penerjemah Indonesia, mestinya menerjemahkan buku ini dari terjemahannya Paulette Moller. Nah mungkin namanya derivatif ke-2 ya pasti nggak sebagus derivatif pertama ya hehe


@Ronny:
Iya baru sadar kalau di buku2 di negara barat (seperti Sophie's World) nama penerjemah ditulis di halaman depan di bawah nama pengarang, walau nggak ada di cover, baik depan maupun belakang.


message 20: by [deleted user] (new)

@James
tapi gue emang ga sreg tuh baca Of Mice and Men terjemahannya Pram. Kaku banget.

@Tomo
emang itu masalahnya buku terjemahan yg ga langsung dari bahasa asli. Biasanya kalo kita teken kontrak terjemahan ada klausulnya yg bilang "harus dari bahasa aslinya"


message 21: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments @Mbak Endah:
Barusan googling, katanya diterjemahkan oleh Rahmani Astuti. Tapi aku gak tau sama sekali siapa beliau ini. Hehe, satu bukunya Gaarder lagi yg gak selesai aku baca adalah 'Maya'. Ini juga baca versi Inggrisnya. Bukan filsafatnya yg sulit dimengerti, tapi rangkaian kalimatnya tak mengundang untuk terus membaca.


@James, Ronny:
Jadi emang belum tentu orang terkenal (atau penulis juga) dapat menerjemahkan sesuatu dengan pas.

Aku punya temen yg penerjemah khusus buku2 wildlife field guide. Dari dulu bergaulnya sama orang2 wildlife sampai ambil gelar lagi di bidang konservasi. Banyak memang yg harus diketahui seorang penerjemah ya...


message 22: by [deleted user] (new)

gue lupa gue denger/baca kalimat ini dari siapa, kemungkinan besar dari Pak Bambang Trim (atau malah Pak Mula, ah beneran lupa gue): "editor mesti punya wawasan seluas samudera, walau cukup secetek ruas jari" hehehe. gue rasa itu juga berlaku buat penerjemah.


message 23: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments lebih parah lagi buku2 terjemahan terbitan penerbit gurem. konon udah ga pake rights, ga diedit pulak. payahlah kita yg membacanya.bedasarkan pengalamanku sih, yg pertama kali kuperhatikan saat membeli buku (lokal atau pun terjemahan) adalah: penulis, penerbit, dan penerjemah. penulis boleh bagus, semisal, hemingway, tp kalau penerbitnya..hmm...yg gurem-gurem itu, aku akan berpikir 200 x dulu utk membeli dan membacanya :D


message 24: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments oya, dalam proses menerjemahkan, jangan dilupakan juga peran editor. di tangan para penyunting ini terjemahan yang kaku bisa disulap jadi keren. tentu saja kalau editornya juga keren. hehehe :D


message 25: by [deleted user] (new)

teori penerjemaha yang dirumuskan Endah itu mungkin bisa dijuluki teori "ekivalensi spiritual/roh" yah? hehehe :D Sapardi Djoko Damono waktu dalam sebuah kongres penerjemahan di Solo beberapa tahun lalu pernah ngomong kira-kira begini (lagi2 gue lupa persisnya dan proseding makalah beliau waktu itu entah ada mana), "terjemahan itu seperti wanita, makin cantik dia, makin tak setia pula dia." :P


message 26: by [deleted user] (new)

wuih, seksis banget SDD :D


message 27: by [deleted user] (new)

hahaha, dan gue lupa waktu itu teman2 penerjemah wanita yang duduk di sekitar gue responsnya gimana. Gue dan temen sekantor gue, yg mestinya juga cenderung patriarki ;p waktu itu sih ngakak pas denger beliau ngomong begitu (apapun makna personal ngakak kami itu huehehe).


message 28: by [deleted user] (new)


on second thought, kutipan itu mungkin saja diambil SDD dari syapa gitu, jadi yg seksis mungkin asal kutipan itu serta org yang ngakak waktu dengernya sambil manggut2 patriarkis :D
tapi aku belum baca terjemahan itu Po. "Tidak setianya" apakah hingga mengubah jalan cerita/karakterisasi atau hanya sejauh non-ekivaliensi pilihan kata, gramatika, dan tekstual?


message 29: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments Untungnya aku bukan penerjemah dan ngakak juga denger komen seperti itu :D

Aku gak tau kalo the Old man and the sea (soalnya cuma pernah baca terjemahan aja) tapi spt Dunia Sophie aja, filsafat yang harusnya diterangkan secara sederhana (karena konteksnya diceritakan untuk si Sophie yang masih anak2), malah menjadi rumit. Jadi muncul satu pertanyaan nih? Apakah ini akibat kendala bahasa Indonesia yang barangkali terlalu kaku?


message 30: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 716 comments menarik pertanyaan mBak nurul, tapi menarik juga pujian untuk Bung Hatta dari Daniel Dakhidae sebagai seorang Indonesia yang fasil mengindonesiakan berjenis istilah latin yang sulit padanannya.

Ini sih kayaknya kembali kepada pendapat di atas soal teknis penerjemahan yang harus menguasai dua bahasa yang diterjemahkannya dengan baik. kayak pendapat sapa itu di atas :D


message 31: by Mel (new)

Mel | 720 comments kebayang. penerjemah yang baik pun saya rasa belum tentu hafal banyak istilah2 baku bahasa indonesia yang kerap dipakai di tiap bidang ilmu (yang kadang menggunakan ungkapan 'tersendiri' jauh dari bahasa inggrisnya) seperti misal dokumen2 untuk bidang telekomunikasi [yang ini sudah pernah saya lewati lol:], atau istilah2 di bidang ilmu ekonomi, sampai ke filsafat atau psikologi. kalau dicampur pula ke novel, kebayang kan. bukan saja harus punya tafsiran, interpretasi dan pemilihan kata yang baik buat novel itu sendiri, tapi ya wawasan terhadap 'istilah2 tak umum' tadi juga perlu diketahui. intinya seh tuntutan jadi penerjemah ini tinggi sekalee yak.

@james
saya rasa ada benernya tuh yg soal tidak setia. [refer ke terjemahan ye :P]


message 32: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments ah, SDD salah tuh. bukannya yang sering tdk setia itu adalah cowo? :D *seksi, eh..seksis lagi ya gue?*


message 33: by [deleted user] (new)

pujian untuk Bung Hatta dari Daniel Dakhidae sebagai seorang Indonesia yang fasil mengindonesiakan berjenis istilah latin yang sulit padanannya
ya, bukan cuma Hatta saja, coba baca Madilog. Tan Malaka menerjemahkan semua istilah teoretis keilmuan dg bahasa sehari-hari, termasuk misalnya kata "koordinat" (tapi gw lupa apa istilah yg ia pakai).

Apakah ini akibat kendala bahasa Indonesia yang barangkali terlalu kaku?
Nah ini menarik. Saya merasa kita dikondisikan secara keliru dari pelajaran di sekolah bhw sastra itu adalah tentang yang indah2, sehingga seringkali jadi lebay akibat nyari2 istilah2 ala Pujangga Baru biar jadi sok indah.

Salah satu akibatnya: kita jadi tidak punya "istilah nasional" buat kata2 kotor. Tanyalah penerjemah mana saja, pasti selalu gamang ketika harus menerjemahkan "fuck", "fuck you" dsb. Paling2 diterjemahkan secara tidak memadai sbg "keparat", "bangsat" (atau dalam artinya yg bukan makian "bersetubuh"). Mana bisa nuansa kalimat "I'd like to fuck you" misalnya diterjemahkan jadi "aku ingin menyetubuhimu/menidurimu" yang sopan abis

Kalau ga salah Banana Publisher pernah pakai "jancuk" (yg mungkin tidak semua orang mengerti), saya sendiri cenderung menjermahkannya sbg "ngen***" (yg juga mungkin tidak semua mengerti).

Bahasa kita jadi terbatas akibat pakem2 yg kita kenakan sendiri (bukan bahasanya yang tidak memadai, tapi kungkungan sosial kita yg harus diubah)
itu menurut saya ya


message 34: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Ron, jadi ingat juga nih, buku terjemahan Banana (khas Yusi banget) yang menerjemahkan "mother fucker" jadi "pukimak" dan menerjemahkan "baby crocodile" menjadi "bajul".


message 35: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 716 comments eh satu lagi, Abdul Rivai pasti mendebat pendapat Mbak Nurul, Abul Rivai yang menulis buku Student Indonesia di Eropa sangat percaya bahasa Melayu yang dipergunakan beragam suku bangsa di Nusantara sangat kaya. Persoalannya adalah penggunaan yang aktif lagi mungkin. Lengkapnya tanya Ronny :D

*Balik karena lupa bawa kopi*


message 36: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments Hehehe.... percaya banget sih kalo bahasa Indonesia itu kaya. Tapi seperti tadi, banyak istilah ternyata juga gak semua orang tau. Dosen Bahasa Indonesia saya dulu (Boen Sri Oemarjati) selalu menyarankan kita memakai Kamus Umum Bahasa Indonesia. Tapi tetap saja alis ini mengerenyit memikirkan kata2 seperti "survival of the fittest" yang terjemahan bakunya menjadi "kesintasan yang terbugar" hahaha.......


message 37: by Lee (new)

Lee (rainscent) | 238 comments Endah wrote: "Ron, jadi ingat juga nih, buku terjemahan Banana (khas Yusi banget) yang menerjemahkan "mother fucker" jadi "pukimak" dan menerjemahkan "baby crocodile" menjadi "bajul"."

Yusi maksudnya Yusi A. Pareanom yang nerjemahin Vernon God Little bukan? terjemahannya lumayan tuh, paling gak cukup oke nangkep nuansa motherf***er dan a**hole yang bertebaran dalam buku itu.

Tapi terjemahan jaman sekarang jauuh lebih baik daripada belasan tahun yang lalu ketika saya masih imut. Masih inget kan buku 5 sekawan dll. yang menerjemahkan ucapan kaget dengan Masya Allah! *SARA pisan..*
Komik2 juga gitu, kayak Doraemon misalnya. Bahkan lebih parah, yang diindonesiaken gak cuman bahasanya, tapi juga setting-nya.

Ini sih terjemahannya udah kebablasan, sampe kita gak boleh untuk berpikir dan belajar tentang kebudayaan yang berbeda (dalam kasus Doraemon dan komik Jepang lainnya)


message 38: by [deleted user] (last edited Jan 05, 2009 12:01AM) (new)

@Ame: gue rasa itu hak si penerjemah/penerbit kali ya, lebih cenderung ke ideologi penerjemahan mana, foreignization atau domestication, atau dalam istilahnya Prof. Hoed, berorientasi pada bahasa sumber atau bahasa sasaran. Dan guesetuju sama pendapat beliau. Setelah memberi contoh dua pemakalah yang "berdialog" dalam sebuah diskusi panel perihal apakah Mr., Ms., Mrs., Auntie, atau Uncle mesti diterjemahkan atau tidak, beliau berpendapat tak ada yang salah dengan dua-duanya. "Keduanya betul karena masing-masing mewakili aspirasi yg ada dalam masyarakat" (hlm. 88). Tinggal pembaca aja lebih banyak suka/beli yg macam mana.

@Ronny: kalo gue memilih jalan serupa, menerjemahkan verba 'fuck' jadi 'ngen***'. Yg gue masih bingung itu kata intensifier/penyengat 'fucking/fuckin'/fucken''', gimana yah?


message 39: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments ngomong-ngomong, aku pgn tahu nih, para penerjemah tuh pakai kamus berapa biji ya?


message 40: by Femmy, Pendiri GRI (last edited Jan 05, 2009 02:04AM) (new)

Femmy | 666 comments Mod
Yang paling sering kupakai (dan kalang-kabut kalau ngga ada):
1. www.thefreedictionary.com
2. KBBI Daring
3. Tesaurus-nya Eko Endarmoko
4. Wikipedia

Kadang ditambah:
5. Echols-Shadily atau www.sederet.com
6. Roget's Thesaurus
7. Kamus Lengkap Indonesia-Inggris dari Alan Stevens
8. Urban Dictionary.com
9. Merriam-Webster (Electronic Edition) kalau internet lagi ngadat
10. Visual Dictionary terbitan Gramedia
11. Glosarium terbitan Pusat Bahasa, edisi elektronik, rangkuman beberapa buku edisi cetak.

Referensi lain kalau diperlukan.


message 41: by [deleted user] (new)

Seru baca thread ini, banyak ilmunya hehee...

Nyambung komen James #18, sama kayak terjemahan SDD dari Steinbeck, Amarah, juga gitu. Terasa nggak terlalu enak dibaca. Jd kesimpulannya sastrawan ulung tak selalu penerjemah top, dan sebaliknya juga.

@Mas Ronny
Serambi juga makai "jancuk" untuk "fuck". Lupa penerjemahnya siapa, judul bukunya Motherless Brooklyn. Di dalem situ banyak kata2 umpatan yg diimprovisasi cukup bagus.




message 42: by [deleted user] (new)

jujur aja, kamus eka bahasa utk bahasa Inggris yg paling sering gue pake: google.com, masukin perintah define:.... Ga cuma perintah itu, sih, ngebuktiin suatu padanan berterima atau tidak juga pake mbah Gugel. pokoknya kalo kagak konek ke Gugel nerjemahin rasanya rada seret.

lainnya nyaris sama dengan mbak Femmy. Edisi elektronik Glosarium Pusat Bahasa emang kudu harus mesti ada. Tambahan, kadang-kadang kalo beruntung ada padanan yg udah dibahas di milis Bahtera (tapi mesti jadi anggota milis) atau situs proz.com.


message 43: by [deleted user] (new)

@Rini Nurul: Sepphoris terjemahannya tergantung si penerjemah, kalo ngambil dari terjemahan Arabnya ya Safuria, kalo dari transliterasi Yunaninya ya "Kota Sepforis."


message 44: by [deleted user] (new)

@ninus,
seru lagi kalo ada Tyas Palar (kmana ibu itu ya?) kapan itu sempet diskusi soal "rambut bunga alang-alang" sama Femmy segala di "rumah" orang. Aku cari2 lagi kok belum ketemu


message 45: by Femmy, Pendiri GRI (last edited Jan 05, 2009 06:59AM) (new)

Femmy | 666 comments Mod
Duh, seru nih pembahasannya. Sayang, lagi dikejar-kejar tenggat. Pepatah yang dikutip Pak Sapardi itu setahuku aslinya begini: Terjemahan itu seperti wanita, dia bisa cantik, bisa setia, tetapi tak mungkin dua-duanya.

Ronny, diskusinya ada di sini.


message 46: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments waduh, banyak juga ya ternyata "kitab suci" para penerjemah ini. Terus nih, manuver apa nih yang kalian lakukan kalau menemukan kata/istilah/idiom dalam bhs asing yg tak ada terjemahan bahasa indonesianya? dibiarkan tetap dlm bhs aslinya atau dicari padanan yang paling dekat?


message 47: by Femmy, Pendiri GRI (last edited Jan 05, 2009 10:31PM) (new)

Femmy | 666 comments Mod
Strateginya macam-macam, bisa dipilih sesuai keperluan. Mona Baker merangkumnya dalam buku In Other Words:

* Translation by a more general word (superordinate)
* Translation by a more neutral/less expressive word
* Translation by cultural substitution
* Translation using a loan word or loan word plus explanation
* Translation by paraphrase using a related word
* Translation by paraphrase using unrelated word
* Translation by omission
* Translation by illustration

Untuk idiom:
* Using an idiom of similar meaning and form
* Using an idiom of similar meaning but dissimilar form
* Translation by paraphrase
* Translation by omission



message 48: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments rrrrgggggghhh........*pusing* :P


message 49: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 716 comments wah obrolannya menarik! saya culang-cileung mendengarkan saja yah!

Nant'S - Awamus Sukanya Makan Kripikus Balados


message 50: by Mel (new)

Mel | 720 comments makanya kasian juga kalo ada penerjemah yang lgs diketok palu masuk golongan gurem. namanya juga belajar kali. menambah jam terbang. (asal jangan belajar nambah jam terbangnya di buku yang mau dibeli pembaca gr gitu ya? lol).




« previous 1 3
back to top