Goodreads Indonesia discussion

1426 views
Bagaimanakah caranya menjadi penerbit?

Comments Showing 1-39 of 39 (39 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Rintar (new)

Rintar | 74 comments Sahabat-sahabat Goodreads sekalian, saya mau bertanya tentang caranya menjadi penerbit buku.

Pertanyaan saya antara lain:
1. Aspek legal formal apakah yang harus dipenuhi untuk dapat menjadi penerbit buku?
2. Bentuk usaha apa yang cocok bagi usaha penerbitan yang baru saja berdiri?
3. Bagaimana bentuk-bentuk perjanjian dengan penulis?
4. Bagaimanakah penghitungan pajak royalti kepada penulis?
5. Bagaimanakah mendapatkan ISBN untuk buku yang akan diterbitkan?

Demikian pertanyaan dari saya. Atas semua bantuan dari sahabat Goodreads, saya mengucapkan banyak terimakasih.

ttd.
Rintar.


ijul (yuliyono) (ijul) | 1200 comments yg dari penerbit atau yang pernah mengurus soal penerbitan, silakan merapat ke sini...:)


message 3: by [deleted user] (new)

Halo Rintar, saya pengelola penerbit Marjin Kiri. Mungkin bisa membantu sedikit:

1. Aspek legal formal: dengan demokratisasi dan maraknya fenomena self-publishing, sebenarnya perorangan pun bisa menjadi penerbit (maksudnya tanpa badan usaha). Tidak ada aspek legal formal khusus untuk jadi penerbit.

2. Tapi bila mau serius, sebaiknya memang berbadan usaha. Penerbitan saya berbentuk PT, ada teman-teman lain yang berbentuk CV. Tentunya masing-masing ada aturan penyertaan modal dan tanggung jawabnya sendiri-sendiri. Modal awal yang diperlukan juga berbeda. Sesuaikan saja dengan skala, kemampuan, dan misi penerbitan yang hendak dibangun.

3. Perjanjian dengan penulis pada dasarnya memuat:
- klausul bhw kerjasama ini adalah kerjasama penerbitan dan penjualan buku karya si penulis
- bhw karya ini asli dan bukan jiplakan. bila di kemudian hari diketahui karya ini jiplakan dan timbul tuntutan hukum terhadapnya, penerbit dibebaskan dari segala tuntutan itu (ini penting buat penerbit! karena secanggih-canggihnya editor melacak, kita tidak mungkin menjelajah seluruh samudera teks yang ada. selain itu kita juga tidak tahu motivasi tiap-tiap orang yang ingin jadi penulis, apakah penulis serius atau abal2 dsb)
- sistem pembayaran: apakah royalti atau jual putus. bila royalti, berapa persen dari harga jual? pelaporan dan pembayaran tiap brp bulan?
- oplah cetak
- berapa tahun kontrak ini berlaku
- siapa pemegang rights buku ini untuk: 1) terjemahan ke bahasa asing; 2) adaptasi ke bentuk2 lain (film, teater, sandiwara radio dll). Ini klausul tidak wajib ada, tapi sebaiknya diatur dulu biar tidak menimbulkan kebingungan dan tidak enak2an di kemudian hari.

4. Saya kurang jelas. Apakah maksudnya royalti penulis atau pajak atas royalti. Kalau pajak atas royalti, biarkan saja itu urusan penulis masing-masing. Mereka kan sudah ber-NPWP, biarkan pemasukan mereka dipotong oleh pajak pendapatan.

5. Mudah sekali. Kamu cuma perlu ke Perpustakaan Nasional, Salemba, Jakarta Pusat buat mendaftarkan nama penerbitmu untuk pertama kalinya. Kamu akan mendapat nomor kode penerbit yang akan dipakai terus selama penerbitanmu ada. Gratis. Nomor-nomor ISBN selanjutnya bisa diminta tiap kali ada buku baru, atau bisa juga dihitung sendiri dg rumus perhitungan ISBN berdasarkan kode penerbit yang sudah kamu dapat.

Semoga berguna.


message 4: by R.D. (new)

R.D. Villam (villam) | 602 comments @ronny,
informasi yang sangat bermanfaat. :-)


message 5: by [deleted user] (new)

3. bisa. untuk antologi, ada dua:
- kalau antologinya memang penulis keroyokan (artinya saling kenal dan memang mengajukan penerbitan buku secara beramai2), yang teken biasanya satu orang mewakili temen2nya
- kalau penulis antologinya tidak saling kenal (misalnya penerbit menggagas buku kumpulan artikel soal topik A dari penulis yang berbeda2), biasanya jumlah royaltinya jauh lebih rendah daripada royalti buku, karena dianggap royalti artikel saja. Ngurusnya satu-satu dan sangat melelahkan.

4. saya keliru tampaknya. penjelasan bung homer lebih valid.

5. tetap untuk pertama kali harus mendaftarkan kode penerbit dulu ke Perpusnas. setelahnya bisa bikin sendiri, baik ISBN maupun barcodenya. tapi sepengalaman saya, bung homer, sudah sekitar dua tahunan ini pengurusan ISBN di Perpusnas sama sekali gratis.


message 6: by Rintar (new)

Rintar | 74 comments Terimakasih atas penjelasan dari sahabat-sahabat sekalian, terutama dari Sdr.Ronny dan Sdr. Homer. Semoga informasi ini dapat saya gunakan sebaik-baiknya.

Terimakasih.


message 7: by [deleted user] (new)

@homer: tidak perlu, bung.

Pihak kedua: ........ (nama, alamat, no KTP)
yang dalam hal ini bertindak atas nama pribadi dan rekan-rekannya dalam kelompok Penulis ....... (judul buku), untuk selanjutnya disebut Penulis.


message 8: by Uwie (last edited Jun 10, 2012 05:20PM) (new)

Uwie | 5 comments hi semua,
aku newbie neh, sekarang aku lagi belajar nulis.
setelah membaca posting ini, aku jadi tertarik pengen jadi penerbit sendiri untuk tulisan sendiri ...hihihi...
aku mau tanya dong, tetang bentuk usaha orang pribadi, PT, CV atau yayasan punya konsekuensi bisnis dan pajak masing-masing.
tolong diperjelas dong tentang bentuk usaha orang pribadi... apakah itu tetap legal?

kawan2 disini ada yang tau ngga kalo mau buat cv itu ada standard modalnya ngga? kalo ada kira2 brp yaaa? *menghayal sndr, berharap jawabannya tanpa modal :P
salam


message 10: by Uwie (new)

Uwie | 5 comments thanks marchel, keteranganny sgt membantu skali.
tapi mengutip yang kawan rony tulis diatas saya masih agak bingung, 1. Aspek legal formal: dengan demokratisasi dan maraknya fenomena self-publishing, sebenarnya perorangan pun bisa menjadi penerbit (maksudnya tanpa badan usaha). Tidak ada aspek legal formal khusus untuk jadi penerbit.

pertanyaanya; apakah tanpa "penerbit"saya seorang diri tetap bisa mengajukan ISBN (dalam hal ini saya akan menerbitkan buku tanpa penerbit berbadan hukum/diri saya sendiri yang akan menerbitkan dan mencetak)

bisa ngga tuh yaaa....

terima kasih sebelumnya


message 11: by Martha A.H. (new)

Martha A.H. | 60 comments Diskusinya gak dilanjutin nih? Padahal menarik. :)
Bantu jawabin Uwie ya... pls CMIIW...

Setahu saya kalau "hanya" untuk menerbitkan buku saja memang tidak perlu berbentuk badan usaha berbadan hukum. Perorangan (perorangan berarti bukan badan usaha) sudah boleh. Misalkan Anda sudah menulis buku, Anda bisa mencetak sendiri buku tsb (melalui jasa percetakan), kemudian memasarkannya secara pribadi.

Sebetulnya tidak ada keharusan juga sebuah buku memiliki ISBN, walaupun memang disarankan, agar buku Anda teridentifikasi secara internasional.

Kutip sedikit dari Wiki:
International Standard Book Number, atau ISBN (arti harfiah Bahasa Indonesia: Angka Buku Standar Internasional), adalah pengindentikasi unik untuk buku-buku yang digunakan secara komersial. Sistem ini diadopsi sebagai standar internasional ISO 2108 tahun 1970.

ISBN diperuntukkan bagi penerbitan buku. Nomor ISBN tidak bisa dipergunakan secara sembarangan, diatur oleh sebuah lembaga internasional yang berkedudukan di Berlin, Jerman. Untuk memperolehnya bisa menghubungi perwakilan lembaga ISBN di tiap negara yang telah ditunjuk oleh lembaga internasional ISBN. Perwakilan lembaga internasional ISBN di Indonesia adalah Perpustakaan Nasional yang beralamat di Jalan Salemba, Jakarta.


Penulis yang menulis, mencetak, mendaftarkan ISBN, dan memasarkan bukunya sendiri disebut sebagai Self Publisher. Self Publisher seharusnya sah secara legal walaupun tidak berbentuk badan usaha/badan hukum. Bagaimana seorang penulis Self Publisher membayar pajak (dari penghasilan penjualan bukunya)? Ya bayar aja dan lapor melalui jalur pajak perorangan. Kan tiap orang "harusnya" sudah punya NPWP pribadi. :)

Yang perlu berbadan hukum adalah penerbit yg berbentuk perusahaan (badan usaha), yang "membeli" naskah dari para penulis, mengedit, mencetak, mendistribusikan, dan memasarkannya. Wajarlah mereka harus berbadan hukum, karena bentuknya sudah sebuah perusahaan, dengan sekian banyak editor, penerjemah, penata cover dan layout, staf admin, staf marketing, legal, distributor, dll.

Intinya kalau Anda mau nulis buku dan menerbitkannya sendiri, cukup beli ISBN aja ke Perpus Nasional. Dan siapkan modal yang cukup untuk ongkos cetak, distribusi, dan pemasarannya, hehehe.

---
*Sekedar share, tidak bermaksud sok tahu.
MKSMD (Maaf, Kalau Salah Monggo Dikoreksi)... :)


message 12: by Martha A.H. (new)

Martha A.H. | 60 comments Saya juga mau tanya nih, mudah-mudahan ada yang berkenan membagi ilmu...

1. Bagaimana sih prosedur menerbitkan buku berbahasa asing (untuk diterjemahkan)?
2. Untuk ijinnya itu, kita menghubungi penulisnya atau penerbitnya?
3. Bagaimana prosedurnya untuk buku2 yang sudah berakhir masa hak ciptanya, misalnya buku2-nya Gutenberg Project?
4. Bagaimana kita mengetahui apakah sebuah buku sudah habis masa hak ciptanya atau belum?
5. Kalau sudah habis, apakah kita perlu menghubungi penulisnya untuk mendapat ijin menerbitkan ulang, atau jalan saja?

Terima kasih sebelumnya. :)


message 13: by R.D. (new)

R.D. Villam (villam) | 602 comments lho, martha, utk pengurusan ISBN (pendaftaran yg pertama kali), Perpus Nasional mensyaratkan akte notaris untuk bukti sah penerbitnya kan?
jadi ya kalo mau pasang ISBN harus bikin badan usaha dulu, minimal CV, bentuk usaha yg paling gampang.


message 14: by Uwie (new)

Uwie | 5 comments Martha wrote: "Diskusinya gak dilanjutin nih? Padahal menarik. :)
Bantu jawabin Uwie ya... pls CMIIW...

Setahu saya kalau "hanya" untuk menerbitkan buku saja memang tidak perlu berbentuk badan usaha berbadan huk..."


terima ksh mba martha.
bulan agustus lalu aku udh ke perpusnas. tapi mereka tetep minta akte notaris/cv nah aku jadi balik lg. dan sedang merencanakan membuat cv itu. jd tar kpn2 ga repot lg kl mau daftar isbn. :)thanks utk infonya mba


message 15: by Martha A.H. (new)

Martha A.H. | 60 comments Ups, maaf. Saya gak update peraturan terbaru ttg ISBN sebelum menulis komen di atas. Dulu saya bisa minta ISBN tanpa akta notaris, dan sampai sekarang juga tidak pernah diminta akta notaris.

Ternyata sejak Januari 2012 ada peraturan utk penerbit baru hrs melampirkan akta pendiriannya.

Terima kasih utk koreksi dan infonya. :-)


message 16: by R.D. (new)

R.D. Villam (villam) | 602 comments wah ternyata kalo dulu gak perlu akte pendirian ya?
berarti terlambat gue. hehehe...
lumayan juga tuh ongkos buat notarisnya. :-P


message 17: by Martha A.H. (new)

Martha A.H. | 60 comments Turut prihatin. :P

Btw barusan saya lihat buku2nya Mas R.D. di Kastil Fantasi. Wahh harganya bisa murah gitu, apa dicetak offset? Berarti modal awalnya lumayan gede juga ya, kan kena minimal order.


message 18: by R.D. (new)

R.D. Villam (villam) | 602 comments cetak puluhan doang per judul kok, jual via online.
dan modalnya gak gede, sekarang malah udah mulai balik. :-D
belum berani maen ribuan eksemplar dan jualan di toko buku. salah2 bangkrut sebelum berkembang. heuheuheu.


message 19: by Uwie (new)

Uwie | 5 comments Duh, kawan-kawan sorry yaaaaaa... baru buka lagi neh.
Jadi, akhirnya aku buat CV karena pas ke perpusnas pihak perpus menanyakan akte notaris. Karena menjadi salah satu persyaratan untuk mendapatkan ISBN yah akhirnya aku buat deh. Mereka menjelaskan bahwa sekarang membuat ISBN harus memiliki akte notaris kalau tidak memiliki penerbit/kalau mau menerbitkan sendiri. Sementara membuat ISBN tidak dipungut bayaran. Dan sekarang tulisanku udah selesai otw proses ini dan itu... Doain yak (skalian promosi hehe... peaaaace)Semoga info ini membantu yah.


message 20: by Femmy, Pendiri GRI (last edited May 13, 2013 05:04AM) (new)

Femmy | 674 comments Mod
Menjawab pertanyaan Martha di pesan 15:

1. Hubungi pemegang hak cipta buku itu (penulis, agen, atau penerbit) untuk meminta izin menerjemahkan. Nanti ada negosiasi soal uang muka dan persentase royalti, lalu ada kontraknya. Harap dicatat bahwa pemegang hak cipta biasanya hanya memberi hak terjemahan kepada penerbit, tidak kepada penerjemah.

2. Pemegang hak cipta bisa penulis, agen, atau penerbit, tergantung kontrak di antara mereka. Hubungi saja salah satunya, nanti mereka akan merujuk kita ke pihak yang tepat.

3. Kalau buku public domain seperti yang ada di proyek Gutenberg, tidak perlu minta izin siapa-siapa, langsung terjemahkan dan terbitkan saja.

4. Coba hubungi penerbitnya. Kalau bukunya sudah masuk public domain, mereka akan memberi tahu kita.

5. Lihat no. 3. Buku menjadi public domain biasanya 50 tahun (angka tepatnya berbeda-beda di setiap negara) setelah kematian penulisnya, kecuali hak ciptanya diperpanjang oleh keturunannya. Jadi, kalau sudah menjadi public domain, ngga bisa lagi kita menghubungi penulisnya langsung :)


message 21: by Martha A.H. (new)

Martha A.H. | 60 comments Wahh.. makasih untuk informasinya, Mbak Femmy. :)


message 22: by Rizki (new)

Rizki Widya Nur (ririez1004) | 13 comments mau ikut tanya ya.
ayah saya punya sebuah usaha penerbitan entah CV atau PT saya kurang tahu. hanya sebuah penerbitan kecil yang mengelola majalah kedokteran IDI wilayah jateng dan sekitarnya. Karena saya ingin menjadi seorang penulis dan menerbitkan buku, karena sudah punya penerbit kan mending di terbitkan sendiri tapi, saya bingung bagaimana nanti proses pendistibusiannya ya? bisakah langsung ke jenjang nasional?
soalnya biasanya majalah yang dikelola hanya didistribusikan di kalangan RS atau dokter yang dikenal.
o ya buku saya fiksi. apa bisa penerbit yang awalnya hanya untuk kesehatan tiba-tiba nerbitkan novel fiksi?
terimakasih. maaf kalau pertanyaannya aneh. saya kurang jelas ttg penerbitan. terimakasih.


message 23: by Ana (new)

Ana Fauziyah (anafauziyah) | 5 comments Ikut ngerumpi, aku juga berniat menerbitkan buku sendiri, trims ya buat yang udah berbagi info di atas :)


message 24: by Ahsan (new)

Ahsan Rabbani (nashacan) | 3 comments walaupun buku anda yg diterbitkan sendiri masih bisa dijual di toko-toko besar seperti gramedia, tapi setau saya pihak distributor meminta royalti 55% dari harga buku. Dan itu banyak sekali -_- itu pun stok buku harus ada minimal 2000 eks yg dibiayai penulis sendiri. Kan ceritanya penulis+penerbit mandiri :D


message 25: by Femmy, Pendiri GRI (new)

Femmy | 674 comments Mod
Rizki wrote: "saya bingung bagaimana nanti proses pendistibusiannya ya? bisakah langsung ke jenjang nasional?"

Kayaknya harus menghubungi toko buku dan distributor buku. Ada jaringan toko buku yang desentralisasi, yaitu setiap toko buku berhak menentukan buku apa saja yang dibelinya. Ada juga jaringan yang sentralisasi, yaitu toko pusat yang menentukan jenis buku yang kemudian dipajang oleh toko-toko di bawahnya. Ada juga distributor buku yang mengambil buku dari penerbit-penerbit kecil dan mendistribusikannya ke berbagai toko besar maupun kecil.

Rizki wrote: "apa bisa penerbit yang awalnya hanya untuk kesehatan tiba-tiba nerbitkan novel fiksi?"

Bisa saja. Hak menentukan buku apa yang diterbitkan ada sepenuhnya pada pihak penerbit. Tidak ada pihak lain yang bisa menentukan.


message 26: by Tomi (last edited Aug 17, 2013 08:27AM) (new)

Tomi Pakei | 12 comments Kalau yang dimaksud tentang:
1) Buku itu sederhana
2) ISBN
3) Penerbit dan Pencetak
4) Penerbit alternatif
5) Distribusi buku
6) Membukukan blog
7) Royalti buku
8) Menulis keroyokan

mungkin artikel ini bisa membantu:
http://blog.tempointeraktif.com/tips-...


Jannu A. Bordineo (bordineo) | 5 comments ikut nimbrung :)

akta pendirian/notaris penerbit tak harus berbentuk CV atau PT kan? bisa juga kan perusahaan perorangan berakta notaris mengurus ISBN?

soalnya saya bernah berdiskusi dengan Bp. Bambang Trim. intinya, perpusnas hanya mensyaratkan akta notaris penerbit, dan tidak menyatakan penerbitnya harus berbentuk CV atau PT.

jadi saya menyimpulkan, penerbit berbentuk perusahaan perorangan pun juga bisa mengurus ISBN. tapi saya belum mengonfirmasikannya ke pihak perpusnas.


message 28: by Yureny (new)

Yureny Almanar (YurenyAlmanar) | 4 comments Ikutan gabung ya..
Mau jadi penerbit untuk mempublishkan buku karya sendiri?
Kalau aku sih kemarin mencoba di Gramediana.com


message 29: by [deleted user] (new)

Yureny wrote: "Ikutan gabung ya..
Mau jadi penerbit untuk mempublishkan buku karya sendiri?
Kalau aku sih kemarin mencoba di Gramediana.com"


sy akhirnya (lagi) buat akta notaris, bingung akal-akalin no isbn ke penerbit indie yang lain untuk terbitin buku sendiri. rencana cetak sendiri modalin

jalur self-publish online bisa aja cuma kurang praktis, lama dan bagi yang berminat
sebetulnya ada pasar yang lebih luas, pembeli yang tertarik di tempat, itu lebih besar persentasenya deh kalo penulisnya belum punya nama


message 30: by Yureny (new)

Yureny Almanar (YurenyAlmanar) | 4 comments Ooo.. wah saya jadi dapet pencerahan juga ni.
Lalu setelah tercetak, kalau mau memasarkan bukunya untuk bisa masuk ke toko-toko buku besar seperti gramedia kira2 langkahnya seperti apa? Apa kita butuh koneksi orang dalam?


message 31: by [deleted user] (last edited Feb 27, 2014 12:33AM) (new)

Yureny wrote: "Ooo.. wah saya jadi dapet pencerahan juga ni.
Lalu setelah tercetak, kalau mau memasarkan bukunya untuk bisa masuk ke toko-toko buku besar seperti gramedia kira2 langkahnya seperti apa? Apa kita bu..."


harus pakai distributor, sendiri juga bisa cuma ribet urusnya. kmaren sy tanya2, untuk buku pemula paling coba di jabodetabek dan bandung dulu, tergantung jumlah yg di cetak, kalau ribuan kan lebih murah ongkosnya, rencana sih sy seribu eks, itu yang harganya paling beda ke 500eks

tapi balik lagi, ceritanya harus yakin menjual dan laku, jadi kan sekalian bisnis juga, ada resikonya.


message 32: by Yureny (new)

Yureny Almanar (YurenyAlmanar) | 4 comments Owh.. thanks buat infonya nih. Semoga sukses dengan bukunya ya..


message 33: by Iyasiregar (new)

Iyasiregar | 1 comments temen2 disini saya mau tanya . disini ada yang punya pengalaman jual buku di google play book ga ? tlong share dong ..


message 34: by John (last edited Aug 19, 2015 07:55PM) (new)

John  Indonesian People (goodreadscomlestari) | 3 comments kalau Cara dan Rumus Menghitung SHU Koperasi. saya tahu.. hehehe.. becanda. menjadi penerbit perlu belajar terus. Kualitas buku juga harus baik..


message 35: by Choise (new)

Choise | 1 comments Hello goodreads Indonesia,
Saya pendatang baru sebagai penulis buku non fiksi. Saya baru saja rampung menulis satu buku non fiksi berjudul "Managing fleet of concrete trucks".
Adakah agenda pertemuan sesama penulis buku dalam bentuk diskusi atau hal lainnya? Trim's untuk feedbacknya.


message 36: by Pringadi (new)

Pringadi Abdi (pringadias) | 19 comments Hai, salam kenal. Saat ini saya menjadi bagian dari penerbit Exchange, dalam PT Kaurama Buana

Saya akan mencoba menjawab pertanyaanmu.

1. Aspek legal formal apakah yang harus dipenuhi untuk dapat menjadi penerbit buku?

Bentuk penerbit adalah harus berbadan hukum. Selain itu, Anda juga harus mempunyai NPWP Badan, bukan perorangan. Hal ini terkait dengan administrasi dan pelaporan ke depannya.

Jika tidak berbadan hukum, Anda tidak bisa mengajukan ISBN. Jika tidak memiliki NPWP, ini akan merepotkan laporan pajak Anda.

2. Bentuk usaha apa yang cocok bagi usaha penerbitan yang baru saja berdiri?

Setidaknya CV.


3. Bagaimana bentuk-bentuk perjanjian dengan penulis?

Perjanjian dengan penulis adalah per karya. Ada yang namanya surat perjanjian penerbitan. Yah standarlah, isinya tentang hak dan kewajiban penerbit dan penulis.

4. Bagaimanakah penghitungan pajak royalti kepada penulis?

Rata-rata royalti saat ini adalah 10% dari harga buku sebelum kena PPN dikalikan dengan jumlah buku terjual. Setelah itu penulis harus bayar pajak royalti pasal 23 15% jika memiliki NPWP dan 30% bila tidak punya NPWP. Penerbit memungut pajak penulis sehingga yang diterima pajak ialah setelah dikenakan pajak. Bukti potong diserahkan ke penulis.

Tentatif, Anda bisa memberikan uang muka royalti kepada penulis, biasanya sebesar 25% dari total royalti (asumsi semua buku cetakan pertama terjual).

5. Bagaimanakah mendapatkan ISBN untuk buku yang akan diterbitkan?
1. Penerbitmu berbadan hukum
2. Datang ke perpusnas, bawa buku dan informasi bukunya.
3. Biaya administrasinya sekarang apa masih 80.000 ya?

Kirakira begitu


message 37: by Pringadi (new)

Pringadi Abdi (pringadias) | 19 comments Ada perbedaan definisi antara "penerbit" dan "percetakan", "menerbitkan" dan "mencetak" buku.


message 38: by Ahmad (new)

Ahmad  Elqorni (elqorni) | 1 comments Ada info dan aturan terkini dalam menerbitkan ISBN buku ternyata harus punya cv atau penerbitaņ sendirikah?


message 39: by Muhammad (new)

Muhammad Hidayatullah (Muhammadadi130110119) | 1 comments kak saya mau tanya jika kita sebagai self publisher dan ingin mendaftar sebagai anggota ISBN, nanti kita bisa memilih bisa memilih press/publishing di bagian jenis penerbit pada formulir isbn, lalu nanti kita diminta SK Legalitasnya, Nah bagaimana cara saya mengurus legalitasnya, apa saja yang saya butuhkan untuk mengurusnya? Jika ada yang tau dan kakak/abang mohon bimbingannya


back to top