Goodreads Indonesia discussion

173 views
Twitter @bacaituseru > #NgobrolSore: Berhenti Bilang, "Minat Baca Orang Indonesia itu Rendah"

Comments Showing 1-5 of 5 (5 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

ijul (yuliyono) (ijul) | 1200 comments Mempertanyakan Sikapmu

description

(Minggu, 26 Februari 2012) Timeline @bacaituseru diramaikan dengan #NgobrolSore yang awalnya ingin mneyebarkan link tentang data perpustakaan yang sudah dihimpun kawan goodreaders semua. Obrolan dibuka dengan "mitos" yang menyatakan bahwa minat baca orang Indonesia itu rendah. Lalu, dikemukakan pula tentang kebiasaan membaca buku manual (yang disertakan setiap membeli barang baru, terutama barang elektronik) dan license agreement ketika menginstall suatu aplikasi ke komputer/gadget.

Dan, diskusi pun melebar dan seru. Berikut beberapa cuplikan dari linimasa @bacaituseru

@FandySido Memang masih rendah. Itu krna taraf hidup blum mapan. Org2 perhatiin masalah perut baru membaca

@FandySido Perpustakaan memang banyak. Minatnya yang kurang. Pemerintah tak bisa bekerja sendiri. Komunitas nyata lebih efektif.

@myfloya di indonesia mungkin lebih banyak budaya bercerita (ngomong) daripada harus duduk diam sambil membaca

@sil_VV_a ga setuju @bacaituseru: Salah satu goodreader tadi berpndapat minat baca masih rendah karena urusan perut lbh diutamakan - pinjem bisa kan

@Alinners faktor social network dan gameonline (anak2) jg mmpngaruhi minat baca

@hutankuning soal perpus, yg memadai lokasinya jauh banget dari tempat saya tinggal. padahal begitu ke sana rasanya byk bgt yang mau dibaca

@uciuciuc slh 1 hal yg bikin minat baca rendah krn buku=brg mewah bg sbagian dr kita. akses untuk beli ato bahkan pinjam pun susah.

@wulanparker mo curhat aja, tolong dong dibanyakin perpus yg buka di hari minggu dan sampe malem.. :)) #sakarepedewe

@_harh Tadi ada yang jawab ke @bacaituseru kalo minat baca rendah karena akses untuk beli/pinjem buku itu susah. Coba ditelaah baik-baik kalimatnya

@_harh Dari kalimat tadi, gue menyimpulkan bukan minat bacanya yang rendah tapi akses ke bukunya yang susah. Itulah yang kita cari jalan keluarnya.

@_harh Bukan malah ribut ngurusin minat baca rendah. Nggak usah jauh-jauh ke daerah terpencil. Kota besar di luar pulau Jawa aja akses buku susah

@_harh Kerjasama semua pihak(pemerintah+swasta+komunitas) diperlukan u/ memudahkan akses terhadap buku. Gimana mendistribusikan buku dengan murah

@_harh Kalau harga buku di Kota Manado aja bisa lebih mahal daripada Jakarta. Gimana kabar harga buku di Sangihe Talaud sana?

@_harh Kalau buku mahal, bisa pinjam di TBM dan Perpustakaan lho. Nah tinggal gimana kita bisa menyediakan Perpus&TBM yang menarik buat masyarakat

@_harh Ajak komunitas/masyarakat untuk menggerakkan Perpus/TBM. Jangan cuma dijadikan tempat pinjem buku. Melainkan tempat berorganisasi+diskusi

@_harh "Ssshh, di Perpus nggak boleh berisik!" itu sih dah nggak zaman. Sekarang eranya berdiskusi. Bahkan berkegiatan yang diaplikasikan dari buku

@_harh Taman Bacaan Masyarakat bisa menggerakan masyarakat lokal lho. Bisa bikin kegiatan memasak/bertani/membuat kerajinan dan sebagainya. Seru!

@FandySido @_harh @bacaituseru Setuju. Pertama memang akses buku ke mereka. Itu pasti. Yang kedua, motivasi baca. Buku Jendela Dunia masih berlaku.

@sil_VV_a sibuk, alasan dr orang2 yg gak punya masalah dgn perut @FandySido @bacaituseru tapi d trans jakarta / ruang tunggu sudah banyak yg bc buku:D

@sil_VV_a sebenarnya dgn membuat film dr buku dan kupas buku di TV/media lainnya, plus di sekolah2 ada book reading penting @FandySido

@lucktygs saya gak pernah percaya kalo minat baca rendah di Indonesia.

@lucktygs coba deh ke bookfair atau segala macam pameran buku. pasti rame kan?

@luckygs setiap pameran buku, rata2 stan selalu di padati pengunjung aplg bila weekend, beli buku udah kayak mau beli sayur, rame!!

@cute_truly @lucktygs setuju! Di transjakarta, stasiun kereta yg aku lewati makin banyak yg duduk manis sambil baca

@tyaspalar sering lihat tukang becak, ojek antusias membaca meski hanya koran & bergantian.

@tyaspalar Kadang koran hari ini yg sudah kubaca, kuberi ke mereka. Janitor kantor juga tiap hari nanya aku beli koran nggak, dia mau baca

@luckygs rame ato tidaknya perpustakan, bukan dilihat dari banyak atau tidaknya koleksi bukunya. tergantung kreatif tidaknya pustakawan.

@lucktygs pustakawan itu ibaratnya juru kunci sebuah perpustakan.

@kodhokbathok setuju: baca musti bertujuan. kalo cuma ngabisin waktu dng baca fiksi? wah... msh banyak kerjaan lain!

description

Pas ditanya soal pernahkah kamu baca buku manual barang/license agreement dari suatu aplikasi:

@myfloya aku :) terutama kalo hape

@FandySido Nah, buku manual itu contoh motivasi membaca karena butuh dan perlu.

@Alinners hampir ga pnah dibaca,gatau jg buku manualx kmana :p

@speakercoret aku ngubek2 dulu, kalo mentok baru liat manual book hehehee

@alvina13 sayaa... Ih rasanya seru, biar keliatan ahli. Padahal mah karena dijelasin dipanduannya XD

@palsayfara Saya..wong bungkus gorengan aja sy baca kok..

@xenobeing Biasanya cuma baca hak dan kewajiban ama disclaimernya aja. Bagian awalnya dilompati. :D

@sekarchamdi Tentu saja RT @bacaituseru: Tanya donk, hayoo siapa yang kalo beli tivi atau kulkas atau hape baru, buku manualnya dibaca dulu?

@miss_almayra kalo gak ada fungsi baru ya gak baca manual. selama simbol2 masih sama ngoprek aja.. :p

@hutankuning gak baca buku manual gak selalu berarti minat baca kurang. bisa aja mencerminkan jiwa petualang yg suka eksperimen :p

@annoir_ hampir semua yang ada tulisannya, pasti saya baca!

@dmxyor Biasanya langsung skip :-D

@widwod baca dunk..tp lbi sering dbaca bareng explore barangnya..



Seruuuuu, kann? Nah, yang belum follow Goodreads Indonesia di twitter, sila follow @bacaituseru yaaa


ijul (yuliyono) (ijul) | 1200 comments Note: @lucktygs di facebook: Luckty Giyan Sukarno

Minat Baca Rendah??
by Luckty Giyan Sukarno on Saturday, February 7, 2009 at 11:51pm ·

[image error]

Setiap bulan Februari,
Adalah salah satu bulan yang saya tunggu,

Bukan,
Bukan karena ada valentine tgl. 14 februari

Tapi,
Setiap bulan Februari selalu ada pameran buku di Braga,
Di Landmark tepatnya!

Mengapa selalu ditunggu??
Karena bisa mendapatkan buku dengan harga miring,
Ataupun buku yang susah di cari,
tentunya saya tidak mau melewatkan kesempatan sperti ini,
mumpung masih di Bandung! ;p

setiap pameran buku,
rata-rata setiap stan selalu di padati pengunjung,
terlebih lagi bila weekend sabtu-minggu,
beeehhh...beli buku udah kayak mau beli sayur,
rame bener!!

Ada anak kecil ngubek2 buku pelajaran,
Ada bapak-bapak lagi ngelirik buku kesehatan,
Ada ibu-ibu pilih bacaan buat anaknya,
Ada anak kuliahan cari buku buat kuliah,
Ato...seperti saya...cari buku bagus tapi murah! Hehe!! :D

Nah,
Sapa bilang kalo masyarakat Indonesia tuh minat bacanya kurang??
Wong tiap ke pameran buku selalu ga pernah sepi pengunjung tuh,
Ato...liat aja di Gramed pada baca (walaupun cuma numpang! ;p)

Di kosan juga...
Walaupun pada ga mau beli buku,
Tapi tiap saya beli majalah ato beli buku baru,
Selalu diserbu,
Mau dulu-duluan yang baca,

Jadi sekali lagi,
Sapa bilang kalo masyarakat Indonesia tuh minat bacanya kurang??

Tajuk Rencana yang berjudul “Minat Baca dan Tulis”,
KOMPAS tgl.31 Januari 2009 tertulis:
“saat ini di Indonesia terdapat sekitar 700 toko buku aktif ukuran besar dan kecil. Jumlah ini masih belum memadai untuk melayani 1.000 juta pembeli buku. Dengan sekitar 6.400 percetakan dan sekitar 3.700 perpustakaan saat ini, kita pantas prihatin.”

Selengkapnya baca di sini: http://www.facebook.com/note.php?note...


ijul (yuliyono) (ijul) | 1200 comments 14 Maret 2011 | Kategori : Perpustakaan | Dibaca : 246 kali
Minat baca Masyarakat dan Kendalanya
Oleh : umi perpust

Iqro atau bacalah merupakan ayat Al Qur,an pertama kali di turunkan pada Nabi Muhammad SAW, membaca begitu pentingnya sehingga Allah menurunkan surat Al Alaq hanya untuk menyuruh manusia membaca, dengan membaca akan membuat manusia berilmu, dengan ilmu membuat hidup manusia lebih berkualitas, baik dari segi akhlak maupun kehidupan secara menyeluruh. Ilmu yang baik adalah ilmu yang bisa memberi manfaat dan nilai kepada sesama mahkluk Allah yang ada di dunia. Membaca tidak hanya sekedar membaca secara teksbook saja akan tetapi membaca secara keseluruhan yang terjadi di dunia artinya membaca kondisi alam, lingkungan social, dll, dengan membaca mampu mengasah kepekaan atau insting kita sehingga membuat kita peduli terhadap segala kejadian yang ada terutama di lingkungan sekitar kita.

Indonesia merupakan negara dan bangsa yang besar dengan potensi dan kekayaan yang melimpah ruah, seharusnya Indonesia bisa menjadi Negara maju dalam segala bidang dan makmur dalam perekonomian, namun kenyataannya Indonesia sama dengan negara – negara miskin lainnya yang hanya mengandalkan pada satu sumber. Potensi yang begitu besar baik dari sumber alamnya maupun SDMnya belum tergali dengan baik, ketergantungan yang berkelanjutan pada negara – negara maju menjadikan bangsa ini sulit mengembangkan kreatifitas dan tetap menjadi bangsa pengekor. Kemiskinan, kebodohan akan tetap menjadi lingkaran setan yang akan sulit dicari ujungpangkalnya untuk di urai apabila kita tidak menemukan solusi yang tepat. Keinginan menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan disegani sebenarnya bukan cita – cita yang mustahil, Indonesia memiliki kelebihan – kelebihan yang tidak di miliki oleh bangsa lain, seperti ribuan pulau dengan kekayaan alam yang berbeda – beda, kultur budaya yang tinggi, penduduk yang banyak dan masih banyak keragaman – keragaman lain yang bisa djadikan asset untuk membuat bangsa ini maju dan makmur.

Salah satu sekian ribu cara untuk menjadikan Negara ini maju dan mampu bersaing dengan bangsa lain adalah menjadikan bangsa ini berpenghuni manusia pintar yaitu dengan meningkatkan kesadaran minat membaca. Seringkali kita mendengar kata – kata “Semakin tinggi minat baca seseorang, ia telah turut membuat peradaban menjadi lebih maju.”Tak heran pemerintah makin gencar memobilisasi masyarakat untuk meningkatkan kegemaran membaca, kita sadari minat baca masyarakat kita masih digolongkan rendah. Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006 mempublikasikan, membaca bagi masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan sebagai sumber untuk mendapatkan informasi. Masyarakat Indonesia lebih memilih menonton televisi (85,9%) dan mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca (23,5%)1, artinya, membaca untuk mendapatkan informasi baru dilakukan oleh 23,5% dari total penduduk Indonesia. Beberapa factor kendala sulitnya meningkatkan minat baca pada bangsa ini, antara lain :

Faktor Ekonomi

Ekonomi merupakan faktor utama kekuatan suatu bangsa, dengan perekonomian yang kuat dapat menjamin kesejahteraan masyarakat. Tahun 2010 sampai bulan maret jumlah penduduk miskin di indonesia menurut BPS 31,02 juta jiwa (WWW.bps.go.id). Dengan kemiskinan atau ekonomi yang tidak memberi harapan pada mereka untuk mengeyam pendidikkan maka untuk berpikir kearah peningkatan baca sangat jauh sekali. Masyarakat kita akan terbelenggu dalam kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan bagi mereka adalah hal yang utama.

Faktor pendidikan

Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.

Pendidikan sudah diatur oleh negara dan tertuang pada pasal 31, dan tanpa pengecualian siapapun warga negara ini berhak mendapat pendidikan, namun kenyataannya kita lihat sendiri banyak anak bangsa ini yang tidak mengenyam pendidikkan karena kemiskinan, mahalnya pendidikan. Bagaimana bisa meningkatkan minat baca kalau masyarakat sendiri tidak pernah mengenyam pendidikan. Kita ketahui dunia pendidikan merupakan wadah yang tepat untuk membentuk minat baca mulai dini. Pendidikan memiliki peran penting dalam menciptakan masyarakat cerdas dan mampu membaca. Membaca menurut pengertian secara harfiah yaitu membaca buku, karena pada dunia pendidikan otomatis ditengahnya terdapat pembentukkan minat baca secara tidak langsung.

· Faktor sosial

Pola pikir masyarakat yang menganggap pendidikan tidak memberikan kontribusi jaminan masa depan, salah satu sebab masyarakat menganggap ilmu pengetahuan dan pendidikan tidak terlalu penting. Banyak kasus bahwa mereka yang sekolah dengan pendidikan tinggi ternyata menganggur, sedangkan tanpa pendidikan mereka bisa bekerja dan menghasilkan uang. Persepsi bahwa pendidikan bagi mereka untuk memperoleh jaminan kehidupan yang layak, meningkatkan status sosial menjadikan pendidikan sekedar memperoleh ijasah. Jadi ilmu bagi mereka sekedar alat untuk pencari materi. Maka akan sangat sulit meningkatkan minat baca terhadap masyarakat dengan pola pikir yang sempit.

· Faktor Psikologis

Tingkat kesadaran yang rendah akan pentingnya membaca untuk memperoleh pengetahuan dan wawasan yang luas menjadikan salah satu kendala yang paling sulit diatasi, karena berkaitan dengan minat, kemampuan, kebiasaan dan kemauan yang dikembalikan pada pribadi individu masing – masing. Maka sangatlah perlu penanaman dini pada anak – anak kebiasaan membaca buku dan menjadikan buku teman yang menyenangkan. Minat merupakan keinginan kuat untuk melakukan sesuatu. Secara psikologis keinginan itu berasal dari dalam dirinya atau berkaitan dengan kesadaran diri. Akan tetapi minat bisa diciptakan atau di bina agar menjadi suatu kebiasaan. Dan menjadi tanggungjawab bersama untuk menumbuhkan semua itu, mulai lingkup terkecil seperti keluarga, sekolah, lingkungan sekitar dan masyarakat secara luas.

Akan menjadi omong besar atau bualan saja ketika faktor – faktor pendukung untuk meningkatkan kesadaran minat baca tidak ada pembenahan. Walaupun toh kita akan membangun beribu – ribu gedung sekolah, perpustakaan atau taman baca dengan fasilitas yang bagus tidak akan menjadikan masyarakat meningkatkan minat baca kalau mereka terbelenggu dengan faktor – faktor klise seperti diatas. Menjadi tanggungjawab semua elemen masyarakat untuk ikut berperan serta menjadikan bangsa ini memiliki masyarakat yang cerdas baik secara kualitas maupun kuantitas. (berbagai sumber)

sumber: http://www.lib.umm.ac.id/module.php?v...


ijul (yuliyono) (ijul) | 1200 comments By Riki Kurniawan, on 17-04-2009 09:09
Views : 1406
Favoured : 66

RENDAHNYA MINAT BACA DI INDONESIA

“Membaca adalah jendela dunia” seharusnya menjadi suatu ungkapan yang familiar bagi kita semua dalam konteks yang sebenarnya namun pada kenyataan bahwa membudayakan membaca untuk semua kalangan diindonesia adalah sangat sulit. Hal inilah yang bisa dikatakan menjadi salah satu kelemahan mengapa sulit masyarakat indonesia untuk maju dan dapat bersaing dengan negara berkembang yang lain. Terungkap seperti yang disampaikan oleh Bapak Presiden RI Soesilo B Yudhoyono pada suatu kesempatan, "Kita lebih senang budaya lisan atau tutur. Kita belum menjadi society book reader dan writter,". Mengapa ini bisa terjadi lebih lanjut presiden mengemukakan faktor ketidak seimbangan antara jumlah toko buku dan jumlah penduduk pada suatu tempat dan adanya kesesatan berpikir dalam masyarakat bahwa “tidak perlu teori, yang penting praktek, Banyak yang perpandangan text book thinking tidak baik”. Barangkali itu bisa dikatakan isapan jempol belaka manakala tidak ada data yang valid untuk menunjukkan realitas sosial yang ada mengenai minat baca.

Data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2003 dapat dijadikan gambaran bagaimana minat baca bangsa Indonesia. Data itu menggambarkan bahwa penduduk Indonesia berumur di atas 15 tahun yang membaca koran pada minggu hanya 55,11 %. Sedangkan yang membaca majalah atau tabloid hanya 29,22 %, buku cerita 16,72 %, buku pelajaran sekolah 44.28 %, dan yang membaca buku ilmu pengetahuan lainnya hanya 21,07 %. Data BPS lainnya juga menunjukkan bahwa penduduk Indonesia belum menjadikan membaca sebagai informasi. Orang lebih memilih televisi dan mendengarkan radio.

Malahan, kecenderungan cara mendapatkan informasi lewat membaca stagnan sejak 1993. Hanya naik sekitar 0,2 %. Jauh jika dibandingkan dengan menonton televisi yang kenaikan persentasenya mencapai 211,1 %. Data 2006 menunjukkan bahwa orang Indonesia yang membaca untuk mendapatkan informasi baru 23,5 % dari total penduduk. Sedangkan, dengan menonton televisi sebanyak 85,9 % dan mendengarkan radio sebesar 40,3 %. Angka-angka tersebut menggambarkan bahwa minat penduduk Indonesia masih rendah.

Senada dengan gambaran Badan Pusat Statistik diatas, Presiden Komisaris Kompas Gramedia Jakob Oetama juga mengatakan minat baca Indonesia bahkan lebih rendah dari Vietnam. Jumlah konsumsi kertas cetak di Indonesia juga terendah di antara negara-negara tetangga. Apalagi, angka buta aksara mencapai 18,1 juta. Berbicara mengenai konsumsi cetak juga tidak terlepas dari keberadaan industri di bidang percetakan, penting untuk menciptakan kesebandingan antara industri cetak dengan tingkat konsumsi kertas cetak yang harus berbanding lurus sebagai salah satu upaya meningkatkan minat baca dikalangan masyarakat indonesia. Saat ini di indonesia terdapat sebanyak 7.760 industri cetak. Kondisi itu, jika dibandingkan dengan negara lain, masih tertinggal. China punya sedikitnya 90.000 industri cetak, sedangkan Italia 45.000 industri.

Dalam hal ini para pengusaha di bidang percetakan turut pula memegang peranan penting untuk menaikkan statistik minat baca. Tidak hanya sekedar mencari keuntungan (provit) dengan melihat pasar sesuai prinsip ekonomi dimana supply tergantung dari demand, namun hal itu harus dibalik sehingga masyarakat tergerak untuk membuka buku dan membaca. Faktor lain yang tak kalah penting adalah pemerintah yang memegang peranan untuk melakukan upaya-upaya nyata yang komprehensif sehingga minat baca menjadi lebih besar, antara lain kalau perlu bukan hanya Bantuan Langsung Tunai (BLT) saja yang dibagikan gratis tapi harus pula gratis dalam pembagian Buku-buku pelajaran, koran, majalah, buku bacaan lain ke sekolah-sekolah, universitas, instansi pemerintah, pembuatan perpustakaan dsb.

Kalau warga masyarakat menambah pengetahuannya melalui kebiasaan membaca, akhirnya merata pula peningkatan taraf kecerdasan mereka. Dan kita sama sepakat bahwa perbaikan mutu perikehidupan suatu masyarakat ditentukan oleh meningkatnya taraf kecerdasan warganya. Begitupun dalam konteks tugas kita sekarang sebagai seorang anggota Polri, tidak lain dan tidak bukan untuk meningkatkan profesionalisme dan kompetensi selain melalui pembinaan rohani untuk merubah kultur maka sudah seharusnya diiringi pula dengan meningkatkan minat baca.

sumber: http://www.endradharmalaksana.com/con...


message 5: by Aveline (new)

Aveline Agrippina (agripzzz) | 269 comments @_harh "Ssshh, di Perpus nggak boleh berisik!" itu sih dah nggak zaman. Sekarang eranya berdiskusi. Bahkan berkegiatan yang diaplikasikan dari buku

Sekadar cerita, di Library of Batavia Museum Bank Mandiri Jakarta, kita bebas untuk berbicara, berdiskusi, atau melakukan hal apa pun. Ini juga pernah diutarakan oleh Mbak Sekar (Indonesia Membaca) bila ada kawan dari GRI yang mengikuti diskusi perihal perpustakaan saat Sobat Perpus dilangsungkan pada World Book Day tahun 2011.

Makanya, saya demen banget ke MBM untuk kunjungan ke perpustakaan ini karena kebebasan "dilarang ribut" hanya boleh di negara yang bisu, menurut saya. Menurut saya loh! :D

Di perpustakaan kampus saya kini pun juga berlaku sama. Silakan berdiskusi sebebas apa pun asal tidak mengganggu orang lain saja yang hendak membaca atau mengerjakan tugas.


back to top