Goodreads Indonesia discussion

35 views
Buku & Membaca > Membangun dan Meruntuhkan Mimpi

Comments Showing 1-6 of 6 (6 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Anwar (new)

Anwar Holid | 14 comments [Resensi]

Membangun dan Meruntuhkan Mimpi
---Anwar Holid

Turiya
Penulis: Maradilla Syachridar
Penerbit: Else-Press, 2011
Tebal: 166 hal.
Jenis: Fiksi
ISBN: 978-602-99145-8-0


Waktu pertama kali lihat novel ini, yang langsung terlintas dalam benakku ialah: "Wah, indah sekali kemasan buku ini!" Dicetak hard cover dengan lay out yang sangat nyaman untuk pembacaan, ditambah ilustrasi menawan, novel ini dalam sekilas pandang saja langsung bikin ngiler orang untuk membacanya, atau minimal untuk mengelus dan membuka-bukanya. Penerbit tampak menyiapkan novel ini dengan matang, memanfaatkan selera seni yang tinggi. Bisa jadi karena seni pula yang menjadi subjek sekunder dalam kisah ini, yaitu musik, seni lukis, dan seni menikmati anggur. Cover gelas bersulang secara terbalik bisa secara persuasif mencerminkan adanya sesuatu yang tumpah, tercecer berantakan. Apa yang berantakan? Mimpi, harapan, cinta, sekaligus persahabatan.

Subjek primer Turiya sebenarnya sederhana: cinta. Maradilla berusaha mengutarakannya dengan cara yang rada rumit untuk menghindari klise, namun upaya itu di awal-awal tampak agak kurang hidup karena beberapa faktor. Yang utama ialah dia ingin menciptakan dunia mimpi yang bisa mempertemukan dua hasrat terpendam, tapi unsur pembentuknya kurang distingtif, meskipun sudah coba diperpekat dengan unsur yang dekat dengan dunia mimpi, yaitu surealisme, dan memperkuatnya dengan setting yang berlokasi di sebuah kota imajiner yang terkesan fantastik. Kesan yang muncul justru adanya persoalan komunikasi, dalam hal ini tiadanya keberanian menyatakan maksud dengan jelas dan keragu-raguan dalam memutuskan sesuatu. Persoalan komunikasi ini menjadi lebih sulit ketika para tokohnya dibiarkan tidak memiliki karakter yang cukup kuat agar cerita berkembang lebih dramatik.

Dwayne, seorang gadis yang sangat terpengaruh oleh mimpi, memendam rasa kepada Millo, seorang pelukis yang menyandarkan proses kreatifnya pada impuls bawah sadar maupun tekanan batin. Hubungan itu jadi serba salah karena di tengah-tengah mereka ada King, seorang pengusaha anggur, yang adalah kawan karib Millo dan justru menginginkan Dwayne. Ketiganya berkawan dekat, sangat kerap menghabiskan waktu maupun aktivitas bersama, namun situasi itu justru membuat mereka kesulitan membedakan apa arti sahabat dan cinta. Mereka takut bila memilih salah satu kedua hal itu justru saling menghancurkan. Mereka sungkan mengungkapkan perasaan secara tegas, apalagi Millo dan King juga memiliki persoalan pribadi yang belum selesai. Awalnya, hasrat Dwayne dan Millo bisa tersalurkan lewat mimpi maupun dunia maya, bahkan mampu memberi energi kreatif kepada Millo untuk mengekspresikannya ke dalam lukisan surealistik. Namun toh mereka akhirnya sadar bahwa di dalam kenyataan, mereka seperti tidak punya keberanian atau peluang untuk menegaskan hubungan terhadap King. Akibatnya, bahkan di dalam dunia imajiner yang sangat lembut, rahasia, dan merupakan satu-satunya tempat mencari rasa aman pun mereka tetap dikejar-kejar rasa bersalah. Mereka baru tahu betapa mahal persahabatan dan cinta ketika terpaksa harus meruntuhkan keduanya dan harus mencari solusi sendiri-sendiri.

Kesulitan komunikasi dan keragu-raguan dalam memilih atau mengambil tindakan
mengingatkanku pada novel Perahu Kertas (Dee), apalagi salah satu tokohnya juga pelukis. Cuma teknik cara bercerita Maradilla jauh berbeda dengan dibandingkan Dee. Dia tampak berambisi menciptakan novelnya sebagai karya serius, bukan kisah cinta gampangan. Ambisi itu diperlihatkan lewat plot yang rada berlapis, ditambah cerita tentang surealisme, musik psikedelik, seni menikmati anggur, juga menggali betapa orang kerap kesulitan menemukan kebahagiaan. Apa lagi Maradilla masih sempat-sempatnya menyerempet isu aborsi---sesuatu yang sekadar jadi bumbu cerita, tapi tidak memperkuat selera tema.

Turiya adalah sejenis novel yang memperlihatkan bahwa pertumbuhan menuju dewasa pada suatu fase tertentu bisa jadi menyakitkan, tapi di sisi lain setelah melalui fase tersebut kita bisa lebih sadar atas pilihan maupun keputusan sendiri.[]

Anwar Holid, penulis Keep Your Hand Moving.

PS: Turiya diterbitkan secara print on demand, tidak tersedia di toko buku umum. Anda bisa memesannya via:
http://www.facebook.com/pages/Turiya-...
http://www.brainmelosa.blogspot.com/
http://maradillasyachridar.com
Twitter: @maradilla


message 2: by e.c.h.a, Moderator (new)

e.c.h.a (rezecha) | 2011 comments Mod
Baru selesai baca Turiya. Setuju dah soal membangun dan meruntuhkan mimpi.

Kisahnya simpel tapi diakhir sukses buat gue memikirkan soal mimpi hehehehe


message 3: by Shahnaz (new)

Shahnaz (priwingsatie) | 66 comments ya ampun... bagus banget ta? aku jadi pingin.. cuma terbatas 100 buku ya?


message 4: by e.c.h.a, Moderator (new)

e.c.h.a (rezecha) | 2011 comments Mod
@Shan..kalau menurut gue sih ceritanya tentang cinta segitiga hanya dikemas dengan banyak memasukkan unsur seni. Kalau gue sih kelar baca buku ini berasa ditampol hahahaha


message 5: by Shahnaz (new)

Shahnaz (priwingsatie) | 66 comments unsur seni? wow... sesuai seleraku :) ditampol itu apa? hehe... bukan jargonku :)


message 6: by e.c.h.a, Moderator (new)

e.c.h.a (rezecha) | 2011 comments Mod
Iya unsur seni..karena salah satu tokoh adalah pelukis jadi banyak banget bahas soal lukisan dan alirannya.


back to top