Goodreads Indonesia discussion

142 views
Buku & Membaca > Buku-buku paling dikecam

Comments Showing 1-15 of 15 (15 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by gieb (new)

gieb | 743 comments Buku-buku Paling Dikecam
Minggu, 24 Agustus 2008

Asosiasi Perpustakaan Amerika belum lama ini mengadakan polling seputar buku-buku yang paling dikecam di abad 21. Hasilnya cukup mencengangkan. Betapa tidak, buku serial Harry Potter karangan JK Rowling berada di urutan terdepan di kategori ini. Salah satu buku terlaris sepanjang sejarah ini dianggap banyak orang, terutama para orang tua, tidak pantas dibaca mengingat di dalamnya mengajarkan ilmu sihir pada anak-anak.

Pada daftar berikutnya ada John Steinbeck yang hasil karyanya, Of Mice and Men, diprotes karena memasukkan unsur rasisme dan kata-kata kotor. Selanjutnya terdapat nama Robert Cormier yang dituding menyebarkan paham anti-keluarga melalui buku senarai Captain Underpants yang dikarangnya.

Fenomena yang terjadi di negeri Paman Sam itu merupakan cermin dari tingginya responsibilitas (apresiasi) khalayak pembaca terhadap hasil karya seorang penulis (buku). Kita kembali diingatkan bahwa menulis buku bukan melulu perkara imajinasi dan kreativitas belaka, namun juga harus dilandasi kesadaran bahwa sebuah buku pada akhirnya akan dikonsumsi dan dinilai oleh publik. Konsekuensinya, respons masyarakat akan menakar: apakah ia positif atau buruk untuk dibaca. Kendati, tak selamanya kecaman terhadap sebuah karya menentukan laris-tidaknya buku tersebut di pasaran.

Sejarah bahkan membuktikan, ada beberapa buku yang ramai dikutuk justru kian membuat ia laku terjual. Ada keingintahuan dan rasa penasaran yang besar tatkala sebuah buku didaftarhitamkan oleh pihak tertentu. Kita masih belum lupa saat rezim Orde Baru mengubur buku-buku revolutif karya Soekarno dengan cara melarangnya untuk dijual bebas.

Buku sejenis ini, antara lain Di Bawah Bendera Revolusi, makin diburu oleh khalayak meskipun harus lewat jalur pemasaran “bawah tanah”. Siasat “tiarap” acap menjadi pilihan pasar menghadapi represi yang diberlakukan pihak-pihak tertentu, termasuk penguasa. Ki Pandji Kusmin dengan karyanya, Langit Makin Mendung, layak digolongkan dalam kategori ini.

Yang jelas, persoalan kecam-mengecam buku seperti ini sebenarnya langgam lawas yang pasti akan terus berulang. Sebab, penilaian seseorang atau sebuah pihak hanyalah mewakili sentimen subjektif dan terkesan sepihak. Tergantung siapa yang menilai dan apanya yang dinilai. Dan, setiap penilaian, apa pun itu, sah-sah saja sejauh ia bisa dipertanggungjawabk an alasannya.

Karena itu, siapa pun berhak melakukan pengutukan. Dan tentu yang diharapkan adalah mengecam dengan cara yang elegan, yakni karya dilawan dengan karya. Bukan aksi pengecut yang cenderung hipokrit: mengecam karya sementara ia tak bisa berbuat apa-apa.

Fenomena yang menimpa penerbit LKiS dan sejumlah penerbit di Jogja mungkin relevan dengan konteks ini. Sejak beberapa tahun lampau, kalangan penerbit Jogja sering dicap sebagai “lumbung” dari mekarnya pemikiran sosial keagamaan yang kritis, nakal, dan kekiri-kirian. Buah pena penulis-penulis “oposisi” Timur Tengah semisal Nashr Hamid Abu Zayd, Ali Harb, Abdullahi Anna’im, Abid Aljabiri, Muhammad Syahrur, hingga Mohamed Arkoun, bisa leluasa dinikmati publik, antara lain berkat keberanian penerbit-penerbit Jogja dalam memperkenalkan cakrawala pemikiran baru ke hadapan pembaca.

Bagi sebagian pihak, terutama kalangan muslim tekstualis, upaya ini dirasa patut dikecam lantaran diartikan sebagai upaya “sekularisasi Islam”. Sementara di sebagian pihak yang lain, justru memuji hal itu sebagai dinamisasi pemikiran keislaman yang kaya warna. Sekadar contoh, buku Fiqih Lintas Agama yang oleh sebagian pihak diikhtiarkan sebagai kran pembuka bagi dialog antaragama, justru divonis pihak lain sebagai buku “tabu” yang harus ditutup rapat.

Membincang pengecaman buku sama halnya dengan berbicara tentang kontroversi. Sebuah kontroversi menoleransi munculnya dua sisi penilaian, hitam dan putih. Bergantung dari terminal pemikiran mana ia mengapresiasinya. Kecaman Taufiq Ismail terhadap maraknya karya sastra yang ia sebut beraliran SMS (Sastra Mazhab Selangkangan) yang dipunggawai Hudan Hidayat, Ayu Utami, dan kawan-kawan, tentu tak akan pernah sealur dengan optik penilaian yang dipakai para penentangnya.

Mereka berpandangan sastra adalah khazanah nirbatas, termasuk batas moral sekalipun. Beberapa tahun silam, trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya fenomenal Ahmad Tohari pun tak luput dari kecaman. Sejumlah guru sekolah menilai novel sastrawan asal Banyumas ini diwarnai dengan “visualisasi” adegan mesum yang tak laik dibaca anak usia sekolah. Walaupun kita tahu, karya ini termasuk di antara karya terbaik jagad kesusasteraan Nusantara, toh tak luput dari kecaman.

Awal 2000-an, kejutan dibuat oleh Hartono Ahmad Jaiz. Dua seri bukunya bertajuk Bahaya Pemikiran Gus Dur: Menyakiti Hati Rakyat serta Belitan Tasawuf Iblis: Gus Dur Wali? menyentak kaum nahdliyyin. Pelbagai kecaman serta-merta dialamatkan kepada Hartono. Namun ia bergeming karena merasa apa yang ditulisnya mewakili kebenaran, paling tidak versi dirinya pribadi. Bahkan tak lama berselang ia bersama Abdurrahman Almukaffi membidani dirilisnya buku Rapot Merah Aa Gym: MQ di Penjara Tasawuf. Giliran komunitas pemuja Aa Gym yang berang dan membalas dengan buku yang menggugat balik kebenaran argumentasi Hartono cs.

Yang perlu dicermati, kecaman tak selalu berarti genta kematian bagi para penulis. Aidh Al-Qarni dulu dikecam habis oleh otoritas ulama Arab Saudi. Ia dianggap sok tahu dan masih “anak ingusan”. Namun pasar membuktikan, karya-karya Al-Qarni, antara lain La Tahzan, mampu menjadi karya terlaris di Timur Tengah. Bahkan best seller di banyak negara Islam, termasuk Indonesia.

Sekali lagi, pada batas tertentu, mengecam sebuah buku boleh saja dilakukan. Apalagi demi alasan perbaikan. Para pemerhati dan praktisi pendidikan ramai-ramai mengecam buku-buku pelajaran yang diterbitkan pemerintah pusat yang selama ini dipandang memandulkan kreasi siswa, kering, seragam, dan monoton. Tapi, sampai sekarang, pemerintah tak melakukan revisi yang memadai. Untuk kemajuan, kecaman serupa ini malah harus terus digemakan.

Selama ini unsur SARA (suku, agama, dan ras), moral, pendidikan, dan seksualitas masih menjadi barometer guna mengukur responsibilitas kaum pembaca buku. Harus tertanam kehati-hatian agar penulis tak tergelincir untuk mempermainkan zona yang dianggap berbahaya, semisal batas-batas akidah. Tentu kita masih ingat buku Ayat-Ayat Setan yang dianggap melecehkan pakem keyakinan umat muslim. Jika hal ini yang terjadi, bukan hanya karyanya yang diberangus. Namun sang penulis, Salman Rushdie harus terancam kenyamanan hidupnya karena terus diburu dan dijadikan target pembunuhan.

(Mohamad Ali Hisyam)



message 2: by gieb (new)

gieb | 743 comments kecamlah daku, maka larislah aku. hehe.


message 3: by [deleted user] (new)

yg paling suka mengecam buku dari dulu ya kaum penjaga moral dan agama. amerika latin mengenal novel pertama kali sbg "barang selundupan" krn otoritas Gereja melarang novel masuk ke subbenua itu karena bisa "merusak jiwa".

Iya, gw dah denger lama Harry Potter dianggap mengajarkan ilmu sihir, seperti ada yg mengecam Teletubbies krn dianggap mengajarkan homoseksualitas (tau kan, para tubbies itu senengnya berpeluk2an dan sundul2an perut)


message 4: by Tio (new)

Tio | 32 comments hehheehh gw baru denger kl teletubies di anggap homoseksual..(padahal ada si lala yg jd ceweknya )hahahha emang nya salah kl kita suka peluk2 kan dan sundul2an perut .. lagian yg bisa sundul perut kan cuman Amang dan Po doang.. hahahahha


message 5: by sawung (new)

sawung | 14 comments saya sudah baca ayat-ayat setannya salman rusdi, menurut saya karya itu biasa saja.
KArya yang luar biasa justru midnight childern.


message 6: by [deleted user] (new)

oh betul itu, sawung.
Satanic Verses banding Midnight Children memang ga ada apa2nya. bahkan dibanding Ground Beneath Her Feet pun tetap lebih dahsyat Ground. jadi besar gara2 kontroversi.


message 7: by cindy (new)

cindy | 116 comments prens, bagaimana dengan Da Vinci Code, masuk kategori dikecam gak? melihat banyaknya tanggapan kontra terhadap buku ini, malahan orang jadi bertanya-tanya, apakah karya ini harus dimasukkan ke dalam kategori fiksi atau non-fiksi. Yang pasti sih memang penjualan jadi melambung tinggi.

* * penggemar Severus Snape * *


message 8: by Arinamidalem (new)

Arinamidalem | 146 comments The Da Vinci Code masuk dalam daftar banned book di wiki, banned in Lebanon.tapi kalo browse by..'the da vinci code banned' jadi banyak infonya..

tapinya nih, hunting buku yg paling seru justru dari listing most challenged books or banned book, misal forbidden library.com or list nya wiki or ALA. tapi koq saya belum pernah liat daftar utk buku indo yg dikecam ya? apa memang gak disebar luaskan?


message 9: by Ritsky (new)

Ritsky | 5 comments Kalo buku indo sih, kalo gak salah karangannya Parmoedya tuh. Malah terbit versi Inggrisnya duluan.

Namanya manusia, makin dilarang makin seru!

Tapi heran.. kok buku2 yang isinya rada gak jelas (ex: yang rada2 ero) gitu kok malah gak di banned yah? Kalo yang macem begitu, paling taunya bukunya de Sade yang dibredel, karena terlalu sadis.


message 10: by Mowgli (new)

Mowgli | 11 comments madame syuga~nya ratna sari dewi itu lowh..gak termasuk yg dikecam ya? hehehe..satu hari temen gw bawa aja gitu dari singapore..dia bawa ke kantor..waaahh madame syuga emang berani ya..seru loh liatnya..gak ngerti itu katanya seni..apa semi ya...=P


message 11: by Rintar (new)

Rintar | 74 comments Buku itu seperti obat ..., kalau digunakan tidak sesuai aturan pake bisa-bisa menjadi racun.
tapi kadang juga judul buku memang provokatif, hingga bikin orang lain panas, sperti buku 'Seks Gadis' (Galang press, Andreas Setyawan). Tak kira buku tentang seks, ternyata berisi tentang teori cinta, padahal dah siap-siap saya bikin buku tandinganya: 'Seks Perjaka'.

Pokoknya ... Hidup Bobo!(yang telah menggiatkan minat baca pada anak-anak).


message 12: by [deleted user] (new)

@Lucy: emang de Sade pernah terbit di sini? maksudnya dibredel di mana ya?

Pramoedya bukan Parmoedya. Dan ga pernah ada buku Pram yg terbit versi Inggrisnya duluan


message 13: by Mowgli (new)

Mowgli | 11 comments OOT, yesh thx to BOBO..gara2 BOBO gw jadi doyan baca..bahkan gw berjanji gak bakal ke lain hati..ampe kakak gw ngeledek abis2an..kayaknya gak mungkin lupain coreng, paman gembul, sirik, juwita..dll..tapi bener..pas 3 smp tau2 gw brasa aja BOBO jadi "culun"..hix..sorry BO..


message 14: by [deleted user] (new)

Kadang2 kontroversi dibikin heboh krn ada yg diuntungkan dr kehebohan itu, media dan penerbit misalnya. Terlepas dr itu, nurut gw pembaca ga perlu takut sama buku apapun, termasuk yg dikecam/dilarang/dibakar. Pelarangan buku intinya selalu cuma upaya utk mempertahankan otoritas/kekuasaan/kewenangan tertentu, bukan demi kepentingan pembaca itu sendiri. Yg paling tau kepentingan pembaca kan pembaca sendiri...


message 15: by Risa (new)

Risa | 5 comments Tapi biasanya kalo satu buku dikecam/dilarang, malah jadi laris. Karena orang jadi ingin tahu isi buku itu...



back to top