Goodreads Indonesia discussion

note: This topic has been closed to new comments.
170 views
Klub Buku GRI > Baca Bareng Buku Puisi: Puisi Dunia 1 - Gema Jiwa Slavia dan Latin

Comments Showing 1-50 of 67 (67 new)    post a comment »
« previous 1

message 1: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Hai temans,

Baca bareng buku puisi hadir kembali. Setelah 1 bulan libur. Dan kali ini buku yang dipilih adalah Buku Puisi Dunia 1: Gema Jiwa Slavia dan Latin karya penyair-penyair dunia.

Buat teman-teman yang mempunyai informasi mengenai Penyair-penyair yang menulis puisi di buku ini ataupun mengenai buku ini dan terjemahannya jangan sungkan untuk share di sini yah.

Bagi yang sudah, sedang dan akan membaca buku ini, silahkan juga share mengenai kesan-kesannya.

Semoga suka dan selamat membaca!

Terima kasih
Tim Klub Buku


message 2: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Kita mulai dari Negara Rusia yah temans...^_^

Eropa Timur: Rusia

PENYAIR YANG TAK DIKENAL (hal.21)

Gerhana mentari

Igor di tepi sungai Donetz – tiba-tiba melihat
Semacam gelita menyelubungi tentaranya;
Ia menengadah mencari mentari benderang;
Tapi, ah! mentari kelihatan seakan bulan sabit,
Bertitik api yang menyala pada tiap tanduknya,
Dan di udara gelap bermunculan bintang-bintang;
Semua yang melihat berkunang-kunang matanya.
“Alamat buruk”, begitu kamit para prajurit.
Orang-orang tua lesu menekurkan kepala:
“Alamat bagi kita: ditawan atau mati”.
Tetapi raja Igor: Kawan-kawan seperjuangan,
Penjara lebih sengsara daripada mati”.
Tapi siapa dapat mengatakan, alamat buruk ini.
Meramalkan kalahnya kita atau kalahnya musuh?
Ayoh, mari pacu kuda kita yang cepat,
Supaya akhirnya kelihatan sungai Don yang biru!
Ia tidak pedulikan alamat mentari,
Demikian besar hasratnya ke sungai besar itu . . . .


message 3: by Roos (new)

Roos | 2991 comments ALEXANDER SERGEJEWITSJ PUSJKIN (hal.22-23)

Kepada penyair

Pantangan, Penyair, mengharap sanjung ‘rang ramai.
Riuh tepuk mereka sebentar mati gemanya;
Lalu kau dengar putusan timbangan Pak Tolol
Dan ketawa khalayak yang bikin hati patah;
Tapi andai kau teguh, tak guncang dan sederhana,
Rajalah engkau dan nasip raja hidup sendiri.
Batin bebas didiri berseru padamu: Teruskan!
Sempurnakan kuntum indah dari mimpi-mimpimu,
Tapi jangan harap-puji atas buah ciptamu.
Puji berakar di batin; hakimnya engkau sendiri,
Dan ambil putusan terkeras terhadap diri sendiri.
Tapi andai kau puas, biar itu kawanan menggonggong,
Peduli mereka meludah dinyala siar mimbarmu
Dan pada tarian asap menyan dari kuilmu.


Elegi

Seperti akibat anggur memberat
Gairah hidup yang mati dari hari-hariku menggila;
Dan seperti anggur yang kian tua kian keras
Lebih berat masa silam itu pada kejatuhanku.
Jalanku suram-suram. Laut masa depan yang menggemuruh
Hanya membawa alamat bagiku: banting tulang dan duka lara...
Tetapi wahai teman, aku tidak inginkan mati!
Aku mau hidup, mimpi dan bertarung lagi!
Dirancah susah, takut dan sengsara.
Aku tahu, aku akan mengecap suka ria.
Aku akan mabuk sekali lagi di puncak dewata,
Digugah mencucurkan air mata oleh renungan punyaku sendiri,
Dan mungkin bila duka penghabisan mendekat datang,
Baru cinta dan senyum-pamitan menggilai menang.


Nabi

Jiwa rengsa karena dahaga rahmat
Kembara daku di gurun tandus
Di simpang jalan tiba-tiba terlihat
Muncul bidadari bersayap enam;
Mataku disentuh jarinya mengelus
Seperti mimpi datang di larut malam
Terkejut laksana mata rajawali
Terbuka nyelang dititis ilham
Tatkala telingaku diraba jari tirus halus
Kudengar segala getaran di cakrawala
Para bidadari melintas di langit tinggi
Hingga serangga nan bergerak dasar samudra
Serta anggur’yang lilit membelit kayu
Dan tatkala ia menjamah mulutku
Direnggutkannya lidahku yang penuh dosa
Dari segala tipu dan pongahnya;
Maka antara bibirku yang telah lena
Dipasang suatu ganti yang mulia.
Serta darah bergelimang antara jarinya
Demi pedangnya meruntas membelah dadaku
Hatiku yang gemetar dirampas pula
Dan di ruang dadaku yang ternganga
Ditaruh bara hidup menyala
Sepantun ‘rang mati terlentanglah daku
Di padang’ pasir, hingga Tuhan datang berseru:
Bangkitlah, nabi, dengarkan firmanku
Penuhi hatimu dengan hikmahku
Arungi daratan dan lautan mara
Dan cetuskan api katamu di hati manusia!


message 4: by Roos (last edited Jul 04, 2011 07:48AM) (new)

Roos | 2991 comments MIKHAIL YURYAWITJ LERMONTOW (hal. 25-26)

Layar di laut

Putih layar itu dan sepi
Pada biru abadi berkabut;
Lari dari apa di pangkalan sendiri?
Apa dicari dalam yang baru?

Ombak-ombak menggila dan angin melulung
Dan tiang-tiang gemeretakan.
Sayang! Ia bukan m’luputi sial
Pun bukan memburu kemujuran.

Di bawahnya: arus, gelombang lazwardi,
Di atasnya: dada cemas mentari.
Tapi ia, pemberontak - mengajak badai
Seakan ada damai di dalam badai.


Ode atas kematian Pusjkin

“Ayoh kamu, turunan yang angkuh dan tidak bermalu
Kaulumuri nama baik bapak-bapakmu,
Kamu, yang terdampar kemari tidak punya apa-apa
Selain kepingan nama yang agung diselamatkan kesempatan
Kamu, khalayak lapar yang berkerumun sekitar mahkota
Algojo kemerdekaan, orang ulung, dan kemegahan
Kamu bersembunyi di balik lindungan undang-undang
Di depan kamu, hukum dan keadilan diharuskan bisu!
Tetapi wahai lintah darat, bagimu menanti kadar Tuhan
Suatu putusan yang menyeramkan
Tidakkah dapat ia kaucapai dengan emas berderingan
Yang tahu segala muslihatmu sebelumnya, bahkan juga segala perbuatan
Dan sia-sialah kamu memanggil saksi mati
Yang haram yang menolongmu lagi;
Juga tidak dengan segala noda darahmu yang membeku
Kamu akan menghapus darah – pujangga yang suci.”


Badik

Kau sungguh kekasihku, badikku putih – baja,
Teman berkilau dan dingin
Ditempa anak Jorja yang ngidam dendam,
Diasah anak sirkas perkasa.

Tangan yang mesra, dalam manis pamitan,
Memberikan dikau, penanda sejenak pertemuan;
Dapun darah ngelimantang pada logammu,
Tangis bersinar - mutiara pilu.

Dan para mata hitam berpaut pada pandangku,
Nampaknya seakan dilinangi sedih cair;
Bagai matamu cerah, dimana nyala gemetar,
Mereka cepat redupnya, lalu gemilang.

Kau bakal lama teman seiringku!
Nasihati daku sampai saat ajalku!
Aku mau jiwaku nanti keras dan setia,
Seperti dikau, temanku berjantung baja.


message 5: by Roos (new)

Roos | 2991 comments SEMEN YAKOWLEWITSJ NADSON (hal.27)

Sanjak

Sahabatku, saudara, manusia yang lesu dan siksa,
Siapa juga engkau, janganlah putus asa.
Walau merajalela dusta dan kejahatan
Di ini bumi yang bersimbah tangis,
Walau cita-cita leluhur kita cemar dan kandas,
Walau tak bersalah, darah kita tumpah, yakin, ya, yakinlah:
Datang saatnya baal nanti mesti mati,
Saat kasih kembali bersinar mewaras!

Wahai sahabatku! Tidak, bukannya mimpi cakrawala terang
Bukan harapan yang sia-sia belaka, lihat sekeliling,
Betapa sang jahat memerintah di malam pekat,
Tapi dunia belum jemu sengsara dan ejekan,
Bosan perlombaan waras dan sia-sia.
Dan dengan tangis berlinang dan do’a di kalbu
Ia nanti nengadah pada Kasih abadi.


message 6: by Roos (new)

Roos | 2991 comments FYODOR SOLOGUB (hal. 28)

Ya, luhur musik dari laguku

Ya, luhur musik dr laguku;
Gema keluhan memenuhnya,
Nafas pahit dir jauh mengejangnya
Dan tak bungkuk punggungku di bawah cambuk.

Kabut-kabut hari menimpa senja.
Pencapai tanah janjian, akupun ikut.
Sia-sia jalan yang ditelan bayang.
Dunia bangkit sekitarku bagai dinding.

Kadang dari negeri jauh itu, bisikan
Sia-sia, guruh jauh laiknya.
Dapatkah pupus sakit lama yang lesi
Dalam lama menunggu sesuatu ajaib?


message 7: by [deleted user] (new)

di buku ini, transliterasinya sepertinya mengubah 'v' yang biasa dikenal jadi 'w': Ivan jadi Iwan dst. Makanya tadi sempet bingung hehe..

Mikhail Lermontov di msg#4, sudah ada satu novelnya (konon karya terbaiknya) diindonesiakan oleh Pak Koesalah Toer dan diterbitkan oleh KPG: Pahlawan Zaman Kita


message 8: by an (new)

an (drogini) | 488 comments ntah memang gaya penyair luar seperti ini atau khusus untuk ini, tapi ketika membaca na seakan membaca ringkasan cerpen :D

-dah ringkasan, cerpen pula-


message 9: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Wah terima kasih informasinya Mas Ronny. Aku lanjut lagi yah.

KONSTANTIN DIMITRIWITSJ BALMONT (hal.29)

Pintu Gerbang

Dua kelana yang lesu mengetok di pintu gerbang.
Lama mereka mengetok, keras-keras dan tabah.
Bulan, lintas gumpalan kabut, sedih memandang
Mereka di bawah; malampun sepi tiada berdesah.

Waktu terhenti, tapi tak hentinya malam buta
Mendorong batas sampai merangkum khatulistiwa,
Telah kering tenaga di tangan mereka yang luka,
Namun, berat dan bisu, gerbang belum membuka.

Tetap saja tutup pintu gerbang yang dikunci,
Bungkem, dingin dan angkuh: bukit batu laiknya.
Si pengembara dua-duanya gemetaran serta pasi,
Bagai kabut mengambang dalam caya purnama.

Dan tahun-tahunpun senyum atas gagal mereka.
Dan telah istirah keduanya di pangkuan pertiwi
Sekalipun ratusan tahun perlahan berlalu,
Hasrat mereka menyala seperti merah lagi.


message 10: by Roos (new)

Roos | 2991 comments IWAN SAWWITSJ NIKITIN (hal 30)

Semalam di sutu kampung

Hawa kesak, asap rabuk penggergajian.
Kotoran meliput segala.

Kaki dan bangku kotor: sarang lawa-lawa
Penghias dinding.

Berpara asap setiap sudut gubuk,
Roti dan air, apak.

Tukang tenun batuk-batuk, kanak-kanak bertangisan-
Larat dan sengsara semata.

Kerja seumur hidup: apa dapat dihabiskan,
Lalu kekuburan si miskin.

Akh sia-sia menuntut ajaran ini:
“Yakinlah jiwaku, beranilah!”


message 11: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Nah ini Iwan yang dimaksud Mas Ronny, kira-kira tahu gak yah, alasan kenapa nama penyairnya juga ikut diterjemahkan?...:)


message 12: by Roos (new)

Roos | 2991 comments ALEXANDER BLOK (hal.31)

Nukilan dari: Yang duabelas

Malam hitam.
Salju putih.
Angin! Angin
Yang berhembus seantero bumi Tuhan.

Angin yang sedang menyalin
Salju putih,
Saudara es menjenguk dari bawah.
Tertarung dan sempoyongan,
Manusia tergelincir dan jatuh,
Tuhan kasihan dengan semua.

Angin memecut di simpang jalan
Dan dingin menggigit sampai ketulang.
Dengan hidung sembunyi di leher baju,
Seorang burjuis berdiri sendirian.

Dan siapa gerangan menyintak rambutnya panjang
Dan seakan menyesali, menggerutu.
“Durjana!
Rusia mati?”


message 13: by Roos (new)

Roos | 2991 comments ILYA EHRENBOURG (hal.32)

Sanjak

Kaukata aku telah bunuh diri. Itu
Temperau dan cemburu. Paris
Bukan Jean de Nivelle, bukan aku, anjingnya.
Betapapun, dari hidup suatu hayat tak pupus;
Aku hidup di sana, di mana, abu-abu dan tua,
Suatu hutan laiknya,
Kota besar itu mengingar dan menyanyi.
Bahkan bahagia sungguh remeh di sana,
Kata di sana mewaras dan merestu,
Orgel biadab di bawah jendela
Meratap dan kemerdekaan tertawa.
Maafkan, aku hidup di rimba itu,
Aku selamat menempuh segala, aku telah hidup,
Dan sampai dikubur aku terus bawa
Kabut-kabut besar Paris.


message 14: by an (new)

an (drogini) | 488 comments suka ma puisi di atas :)

Kaukata aku telah bunuh diri... Aku selamat menempuh segala, aku telah hidup..."


message 15: by Roos (last edited Jul 22, 2011 09:51PM) (new)

Roos | 2991 comments WLADIMIR MAYAKOWSKY (hal.33-34)

Jangan jamah Tiongkok!

Jangan jamah Tiongkok!
Perang,
puteri imperialisma,
mengendap-endap jalannya,
hantu yang mengharungi dunia.
Sorakkan, hai buruh: Jangan jamah Tiongkok!

Hai Macdonald,
jangan sertai
komplotan dan ngaco dengan pidato.
Pulanglah kapal-kapal penempur!
Jangan jamah Tiongkok!

Di pelosok-pelosok perwakilan,
raja-raja takut-takutan
Dan duduk rapi, menenun jaring tipu-dayanya
Kami ‘kan sapu bersih itu jaring lawa-lawa
Jangan jamah Tiongkok!

Kuli,
pantangkan tarik mereka yang adem duduk dalam becamu,
luruskan punggung!
400 juta, kau bukan kawanan hewan.
Pekikkan putera Tiongkok:
Jangan jamah Tiongkok!

Telah saatnya kau-usir
kaum pemeras itu.
Lemparkan mereka dari dinding raksasa Tiongkok!
kami senang menolong mereka yang diperbudak
dalam berjuang, mengejar, dan mengasuh mereka.

Kami bersama kamu, putera-puteri Tiongkok!
Kami buruh, basmi perampok
malam, tembakan sebagai roket
semboyanmu berapi:
Jangan jamah Tiongkok!


message 16: by Roos (new)

Roos | 2991 comments PAWEL ANTOKOLSKY (hal.36)

Seorang bapa Rusia kepada bapa-bapa Jerman

Sekarang kita berdiri di lapang terbuka
Engkau tidak usah balik ke belakang atau menangis
Puteraku pemuda komunis, anakmu seorang fasis
Kesayanganku seorang laki-laki tulen, anakmu algojo
Dalam sehala pertempuran, di tengah api berkobar tak putus
Dalam sedu-sedan seluruh manusia
Pemuda berteriak, seribu kali jatuh, seratus kali bangun
Memanggil anakmu bertanggung jawab atas kejahatannya.


message 17: by Roos (new)

Roos | 2991 comments ALEXANDER TWARDOWSKY (hal.37-38)

Wassili Tierkin

Di tengah tanah air Rusia,
Berjuang melawan angin, dengan dada busung
Melalui padang salju, begitulah Wassili Tierkin.
Ia pergi mengalahkan orang Jerman.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Dalam gemuruh meriam
Seperti keluar dari gerbang naraka
Menuju ke Timur, keluar dari kabut dan bau busuk
Melalui jalan raya, seluruh bangsa menarik diri
Ke Timur, menembus kabut dan asap
Keluar dari penjara gelap gulita

Kembali Eropa ke rumah masing-masing
Sedang kapuk kasur beterbangan di atasnya
Dan kepada serdadu Rusia melihat
Kawan seperjuangan Perancis, Inggris,
Polan dan banyak orang lagi, dengan rasa persahabatan
Bercampur minta maaf dan terima kasih.

Itulah dia yang memerdekakan kita
Ia memakai pici miring, bergambarkan binatang
“Betul saya, katanya . . . . , “Mengapa tidak, saya selalu ada,
Kalau perlu bantuan
Saya tidak banyak kehendak . . . .
Dan tidak kami sesali bendera-bendera lain.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

. . . . Saya tidak lebih baik atau lebih jahat dari orang lain
Akan mati dalam peperangan ini
Tapi, apabila perang habis nanti, hai
Berilah saya tempoh sehari
Berilah kepada saya, hari penghabisan itu

Bersuka-ria dalam keramaian damai seluruh dunia
Mendengar salvo kemenangan
Yang akan menderam di atas Moskau
Berilah saya kesempatan agak sedikit
Untuk berjalan-jalan antara mereka yang hidup
Biarlah saya mengetuk
Jendela rumah di daerah kelahiran
Dan kalau orang keluar
Oh malaikat maut, izinkan saya
Berkata sepatah lagi
Ya, sepatah saja
. . . . Tidak. Tidak akan saya izinkan”
Tierkin gemetar, ia yang telah kaku
Diliputi oleh kain kapan salju.
Enyah engkau penjahat!
Saya masih hidup, serdadu hidup


message 18: by Roos (new)

Roos | 2991 comments ALEXEJ SURKOW (hal.39)

Nukilan dari: lagu hati yang tersinggung,

Bagi kita abad sengsara
Hari lahir dicap besi panas
Dalam ayunan, manusia telah biasa
Menerima nasib jadi serdadu

Angin panas hawa perang
Melalui masa rampas-merampas
Tuan berjalan. Kami enggan
kembali menjadi liar
Dengan impian ketenangan,
persaudaraan dan damai.

Itu warisan kita. Kita ikat
janji dengan waja:
Pagi menyingsing asap bergumpal
Sidang mati akan menuju hidup
Dan hidup tak akan mati,
tak terkalahkan.


message 19: by Roos (last edited Jul 22, 2011 09:44PM) (new)

Roos | 2991 comments ARKADY KULJESJKOW (hal.40)

Permohonan sebuah boneka

Berjalan berat bagi anak-anak.
Jalan jauh mendatangkan lelah.
Tapi aku akan ikut, karena
engkau pergi bersama-sama
Karena saya hanya barang.
Anak kecil minta makan dan minum
Dan mulutnya penuh abu kering
Tapi saya tidak minta apa-apa,
Karena saya boneka, karena saya barang.
Kapal terbang negeri Asing
Menukik ke bawah membunuh anak,
Tapi saya tak usah takut.
Bagi saya ia tak berbahaya,
karena saya barang.


message 20: by Roos (last edited Jul 22, 2011 09:43PM) (new)

Roos | 2991 comments ANATOLI SOFRONOW (hal. 41)

Lima Pelor

Pada musuh kulepas pelor pertama,
Pelor, kecap darahnya,
Agar Dnjeprku sayang dan bumi, inangku,
Berbalas dendamnya, setapak demi setapak

pelorku kedua, - dari bunda asalnya
pembalas siksa ia derita
Kembali aku nanti, ibu tak ada lagi,
Rombongan bedebah telah pukul ia mati

lagi sebuah pelor, - dari kakakku perempuan
Pembalas kekejaman berlaku atasnya
Mereka seret kakakku ke pinggir sungai Dnjepr
Mereka perkosa dengan kejamnya

Pembalas temanku, pelor keempat kulepas,
Ia berjuang di sampingku di Selatan.
O, tangan, tetaplah engkau! M’layanglah pelorku
Balaskan bagiku ajalnya dini saat.

Pelor terakhir penembak mati seorang,
Tepat bersarang dijantung sang fasis,
Pembalaskan tanah air yang kupunya dan jaga
Junjungan hari selama hidupku

Lima pelor kulepas, lalu cepat
Gagang pelor kembali kuisi
Pembuktian pada musuh di medan perang
Betapa kekal setia – Rusiaku.


message 21: by Roos (last edited Jul 26, 2011 11:26PM) (new)

Roos | 2991 comments Eropa Timur: Polandia

ADAM MIKIEWICZ (hal.42)

Dendamnya kepada Tsar

Kala dipaksa ke Siberia jalan kaki,
Akupun kerja paksa dengan rantai di kaki,
Tapi sama-sama dengan kaum pemabuk ini,
Aku mau banting tulang . . . untuk Tsar.

Dalam tambang nanti kupikir begini:
Bahan besi yang kami angkut ini,
Ini besi yang lagi kami cuci,
Bakal jadi kampak . . . untuk Tsar.

Andai bagi teman hidup kupilih isteri,
Akan kupilih seorang wanita Tartar,
Agar dari turunanku nanti terlahir
Seorang algojo . . . untuk Tsar.

Bila aku nanti menjadi petani,
Bibit kusemai: bibit rambut putih,
Hingga bila sampai ajalku nanti,
Sedia bahan tali . . . untuk Tsar.

Serat putih yang abu-abu
Akan tegas m’luncuri tanganku.
Daripada jerat dijalin putraku
Untuk Tsar . . . untuk Tsar.


message 22: by Roos (new)

Roos | 2991 comments JULJAN TUWIM (hal.43)

Doa

Tuhan, lepas lonceng mas berkleneng puas
Di dalam hati kami, lepas Polandia membuka
Hamparan di depan kaki kami yang lesu,
Seperti halilintar meretas udara.

Mari kita cuci kediaman bapa kita
Dari kekalahan, sedih dan dosa kita,
Kala mengemasi batu-batu yang pecah.
Biar miskin asal bersih itu rumah

Yang berdiri dipandan pekuburan
Dan pabila bangkit kembali negeri
Kita, yang seakan bagai mayat terhantar.
Biar ia diperintah kaum yang jujur.

Oleh buruh. Biar rakyat dengan megah
Berdiri di tengah fajar kemerdekaan
Yang baru bersih: limpahkan ke tangannya
Hasil panen dari tetesan jerihnya.

Jangan biar uang berlipat ganda
Bagi mereka yang tidak mau berbagi,
Lempar si berkuasa dari tempat tingginya
Dan lepas si dina menerima warisan.

Beri kami kembali roti Polandia kami
Dan nikmat rasa anggur Polandia:
Apabila kami mati, kuburlah kami
Dalam peti dari pada kayu Polandia.

Dengan sedih dan duka mengabur pandangan,
Kamipun berlutut, di bumi berdoa,
Agar mereka yang tinggal dan bertahan,
Memaafkan mereka yang melarikan diri.


message 23: by Helvry (new)

Helvry Sinaga | 366 comments sedih banget bagian ini:
Agar mereka yang tinggal dan bertahan,
Memaafkan mereka yang melarikan diri.



message 24: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Setuju ma Dek Helvry...sedihnya puisi2 Rusia ini syarat dengan sejarah Perang ma trauma-trauma yang diakibatkannya yah...:(

Sejauh ini faveku masih 'Lima Pelor'. Aku lanjut lagi yah temans...:D


message 25: by Roos (last edited Jul 25, 2011 07:30AM) (new)

Roos | 2991 comments ANTONI SLONIMSKI (hal.44)

Segala

Di manapun kami dijumpa,
Terpencar sekitar dunia,
Di Turkestan, Dakar, Skotia,
Di Lisabon atau di London,
Pasang tetap menghancurkan dan
Punah harap ‘kan balik seg’ra

Apa yang kita perjuangkan?
Hasrat kita apa gerangan?
Merebut hak kita kembali?
Tidak, bukan harta ‘tau nama,
Pun bukan peristiwa fana
Diniat, tapi ujud yang suci

Tujuan bukan hendak kuasa,
Tapi – sekedar nanti dimasa
Depan dapat lagi duduk sama
Bukan untuk memaksa orang
Cakap ‘rang kampung, dengung lalar,
Dan ringkik kuda dipadang senja.

Bukan untuk memaksa orang
Mengikut kita, tapi pulang
Dan hidup di tengah k’luarga,
Makan roti milik sendiri,
Jalan lurus, tak kenal ngeri,
Menyalami gemintang malamnya.

Untuk lintas jendela menjenguk
Kedahan-dahan kayu berperak
Rintik hujan, menjulang basah;
Jalan-jalan dan jumpa dengan
Teman di kaki lima – bersalaman
Tak seberapa – tapi segala.


message 26: by Roos (last edited Jul 26, 2011 11:28PM) (new)

Roos | 2991 comments Eropa Timur: Hongaria

SANDOR PETOFI (hal.45-46)

Kuimpikan hari-hari bersimbah darah

Kuimpikan hari-hari bersimbah darah
Yang bakal pukul dunia hancur – luluh
Dan di atas puingan dunia lama
Membangun lagi dunia baru.

Akh, berbunyi, berbunyi juga hendaknya
Sipongang nafiri untuk pertempuran.
Tanda menyerbu, tanda menyerbu,
Tak ayal lagi lekas diberikan.

Aku melompat dengan bagia di kalbu
Ke atas pelana di punggung kudaku
Lalu menyerbu ke medan pertempuran
Dengan gairah yang t’lah sifat jiwaku

Dan jika dadaku direcai tusukan
Akan ada seorang yang bakal balutnya
‘Kan ada yang bawakan penawar ciuman
Hingga lukaku jadi sembuh olehnya.

Andai aku ditawan, ‘kan ada seorang
Yang cari daku sampai dalam penjara
Dan dengan, ya, bintang timur matanya
Mengenyahkan di sana segala gelita.

Dan andai aku mati di tiang gantungan
Atau maut menyambar di tengah medan
Akan ada seorang yang dnegan tangisnya
Mencuci mayatku bersimbah darah.


Samar senja

Surya meredup bagai sekuntum mawar layu,
Kepala terkulai, lesu, seakan dalam mimpi,
Dan kelopak emasnya mengoraklah perlahan:
Daunan-kemilau bersama merah warna tepi.

Alangkah tentram dunia dan damai bernafas lega
Hanya lonceng-malam berklenengan dari jauh,
Melembut melodis, seperti suara dari surga,
Dari sekuntum bintang, ajaib dan tinggi.


message 27: by Aveline (new)

Aveline Agrippina (agripzzz) | 269 comments Roos wrote: "SANDOR PETOFI (hal.45-46)

Kuimpikan hari-hari bersimbah darah

"


JUARA!


message 28: by Roos (new)

Roos | 2991 comments @Aveline: hahahaha...koment-nya juga JUARA euy, bikin semangat ngetikinnya...hehehe. Lanjut yah...:D


message 29: by Roos (new)

Roos | 2991 comments ENDRE ADY (hal.47)

Padang-padang liar Hongaria

Dalam gemulut rumputan merancah kakiku,
Padang-padang meliar, jerit gagak membingar-
Sambutan suram ini tidak asing bagiku:
Begitu gelagatnya gurun negeri Magiar.

Tanah pupuk yang kudus dengan kening kucecah,
Di bawahnya cacing-cacing pasti mengerat
Duri-duri terkutuk! Semak-semak keparat!
Apa enggan sekuntum kembang tampil ke-caya?

Lintas jaring yang jahat melata itu,
Aku mau dengar semangat bumi yang lena.
Lalu mewangi kembali dan mempesona daku:
Kembang kemaren, dan luruhan k’lopaknya.

Diam di sekitar. Siuran salur yang melintar,
Membelit daku, menutup, lalu menidurkan . . . .
Sedesau angin liwat dengan tawa bergegar
Lintas gurun yang mendesak batas pandangan.


Darah dan emas

Bagi telingaku tiada bedanya,
Apa sedih membelalak, atau berahu mengerang,
Darah mengalir atau emas gemerincing.

Aku tahu dan tetap memegang: Hanya segitu
Dan percuma harta benda selebihnya
Emas dan darah, emas dan darah

Segalanya fana dan semua berlalu
Pangkat, ganjaran, keharuman nama
Yang tetap hidup: emas dan darah

Bangsa-bangsa penyap dan bangun lagi
Tapi, seperti aku: kudus, adalah perwira
Yang tetap menganut: Emas dan darah.


message 30: by Roos (new)

Roos | 2991 comments ATILLA JOZSEF (hal. 48)

Dengan hati suci

Aku tak lagi punya bapa atau ibu,
Tuhan ataupun tanah air,
Buayan ataupun kain kafan,
Ciuman ataupun kekasih.

Telah hari ketiga aku tak makan
Tidak banyak dan juga tidak sedikit.
Usia duapuluh, itulah megahku,
Duapuluh tahun kutawarkan dikau.

Andai tak ada yang mau nerima,
Setan pasti datang memborong.
Dengan hati suci akupun merompak,
Dan kalau perlu, orang kubunuh.

Orang ‘kan tangkap dan gantung aku,
Mengubur daku di tanah suci,
Tapi rumput beracun segera tumbuh
Dari hatiku yang tetap suci.


message 31: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Eropa Timur: Cheko-Slovakia

JOSEF HORA (hal.49)

Musim gugur

Malam perak bangun di tengah dingin yang sedap;
Swara gadis-gadis dilemparkannya kepada angin.
Sabit dari bulan membungkuk untuk mengusap
Rambut yang ditaburi gelap dengan sedikit embun.

Ombak yang kecimpung, swara-swara dalam gelita,
Suatu bayang tercurah di balik tabir cahaya,

Suatu cermin, pada mukanya musim gugur seakan
Menafaskan abu-abu perak dari mimpi-mimpiku.


message 32: by Roos (new)

Roos | 2991 comments FRANTISEK HALAS (hal.50-51)

Stare zeny (fragmen-fragmen)

sore-sore minggu yang sendu
disayukan perempuan-perempuan tua
melenggok ke jendela
lewat kelusuhan
atas kelusuhan ambal
antara meja dan ranjang
cermin dan foto
kursi dan palma titeron

bersandar kerangka di jendela
mereka nanapi jalan raja
dari itulah kesia-siaan
sore-sore minggu

mata dari perempuan-perempuan tua
tiada berlinang dan segan-segan
cemas dan lembut
mata terpaku pada ujung

buah sonder biji
talam sonder ataran
ruang-ruang kelemahan
fragmen-fragmen musik tua
sumur-sumur berisi lumpur
genangan air sonder pembayangan

perempuan-perempuan tua tersandung ke dalam kematian
dan perhentian yang telah begitu sedikit
sepanjang jalan-jalan yang dikenal
hanya debu-debu atas sulaman
ujung ambal yang melekuk
rimah yang jatuh
segala itu perhentian-perhentian
tangan-tangan perempuan-perempuan tua
lupa sekarang mengelus tengkuk laki-laki

rambut kanak-kanak
hanya cukup kuat
untuk pengikat selampai
penghapus air mata

rambut-rambut perempuan-perempuan tua
tiada ia beroleh belaian angin
tiada yang sembunyikan wajahnya
tiada yang membasahi bibirnya
dalam embun bereka
tiada kain buat ketelanjangan siapapun juga
hanya satu lengkung kecil
dapat dibuat dari itu

sore-sore minggu yang mati
sedih karena wajah perempuan-perempuan tua
di mana hanya terbayang
kebosanan dan penyakit
tiada kenangan, tiada renungan
tiada kerinduan, tiada harapan
hanya cacing ketiduran
oh sore-sore minggu yang sedih
atas kuburan perempuan-perempuan tua.


Telah saatnya

Katupkan bibirmu keduanya, diam dan tegas
Nyaris kikis percaya kami dan dari dunia
Kami dipisahkan oleh impian lembut bercampur manis

Tiap kata kami mesti berakhir dalam madu membius
Dalam zaman kabur ini, penuh bimbang dan ragu
Kerap nian dengan kata-kata hidup kami ditebus

Hanya mungkin bergemuruh jatuh menimpa
Kesal khalayak yang numpuk meninggi gemintang
Dan seluruh bangsaku malang berkubur di bawahnya.


message 33: by Roos (new)

Roos | 2991 comments LUDOVIC KUNDERA (hal.53)

Kenyataan-kenyataan

Kalian lihat surya bergumul dengan kabut
rumput merah
jaring lawa digantungi embun
ulat dan kutu jauh dalam bumi

gerbong-gerbong bermuat umbi
jika kereta digerakkan ke sana
dan orang banyak gemetar di kesunyian kampung

intip kalianlah udara musim rontok keanak-anakan
perempuan yang datang
menempuh hujan mengguntur

Kalian lihat angkutan tentara melewati
burung gagak di pemandangan sedih
segala ini

tetapi juga kita lihat ikan-ikan di kolam renang
labah-labah dalam hati kanak-kanak
tabung waktu berisi semut

Kita lihat ketumbuhan gunung
dan kehancurannya jadi debu kabut
dari mana kristal-kristal burung

dan abad pertengahan dengan gerobak dan khadam
dengan uap darah kuda dan api kasar

dan akhirnya kita sampai nun di bumi Moravia
Rue de la Paix
di mana kaca toko menyala
dengan keharuman damai minyak wangi Gemey.


message 34: by Roos (new)

Roos | 2991 comments KAREL HLAVACEK (hal.54)

Kantilena dari dendam

Hari baru senja, telah mersik jari-jari berambut pada tangan hitam
dan di bawah bulan-kuda merah-pucat kedengaran keluhan,
karena segala di sini dusta – juga lilin yang kelip-kelip makin lama makin suram
dan patung-patung suci, yang pucat, termangu kering dan tiada nafsu.

Juga dusta di sini setangkai kembang cantik, yang mengenjang segala dengan kewangian
bulan yang lesu mengira menyalakan mimpi,
jari-jari berambut, berpeluh karena tiada digerak-gerakkan pada tangan hitam
dan di atas segalanya berdusta di sini bulan yang mengeluh dan menangis.

Maka matilah karena lesu bulan yang begitu lama dan iseng mengintip dan meratap
beragam ngeri: maka menyala api dalam tangan dan jari-jari kurus berambut – yang lebih dusta dari yang lain -
sekarang menjangkau lembut sepanjang dinding kelam makin tinggi menjangkau dan merayap pita-pita dari regin dan meraba-raba dan mencari sampai ketekanan-tekanan
lalu memainkan lagu mual, sebuah senandung, yang akhirnya karam dalam sedih sendu.


message 35: by Roos (new)

Roos | 2991 comments VITEZLAV NEZVAL (hal.55-56)

Malam acacia

Hidup hanya punya dua tiga hari bercinta: lalu pohon gigih ini digantungi beratus lebah dan bunga
Waktu malam bulan Juni: jika acacia kembang dan layu
Sungai berdandan tasbih lampu-lampu dan mewangi karena perempuan-perempuan mandi
Jalan-jalan raya tiba-tiba melebar dan berkilauan sebagai salon-salon kecantikan
Titian bergantungan dan manik cahaya-cahaya melingkup air.
Dimana aku berlalu: taman gaib berantuk dengan pelancung;
Orang-orang pergi ke tempat berjanji dengan kebun-kebun dan jalan-jalan, lapangan-lapangan luas dan buleverda
Karena mabuk kepayang lupa aku pada lorong-lorong tua Nove Mesto
Yang dinding-dindingnya kelabu dan perkasa sekarang punya kedaulatan sebuah mahligai.

Wahai malam acacia, malam gunung dan kelembutan yang menggoda, jangan pergi,
Biarlah aku selamanya hauskan cinta dan kota Praha;
Wahai jika berakhir malam bulan Juni, singkat seperti cinta dan kenikmatan tubuh.
Wahai malam acacia, jangan berlalu, sebelum kutiti semua jembatan Praha;
Tiada mencari siapapun, tidak kawan, tidak perempuan, tidak diriku sendiri;
Wahai malam yang punya jejak bakal tempuhan musim panas,
Tiada kunjung pada kerinduanku bernafas dalam rambutmu;
Permata-permata telah merasuki daku, kuselami air sebagai seorang pemukat terkutuk:
Wahai dapat jugalah aku mengucapkan “sampai lain kali”
Wahai malam bulan Juni,
Jika tiada sempat kita lagi berjumpa,
Hiruplah aku dalam pelukanmu, kekasihku yang malang.


Suatu nukilan

Lebih baik berbakti
Dari meminta maut untuk menyerah
Lebih baik berbakti
Dari meminta maut untuk menyerah
Biarpun tiada hentinya hati
Lancung mengajak dan mengarah

Baik menempuh derita
Biarpun tenaga hendak mengakhiri
Biar menempuh derita
Biar tenaga hendak mengakhiri
Darpada seorang dari mereka
Yang membusuk dalam kubur sendiri

Baik dalam perumahan kasih
Tertindas dan terhina
Baik dalam perumahan kasih
Tertindas dan terhina
Daripada malam kembang dan bersih
Dan tiada dipetik oleh tangan manapun juga.


message 36: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Eropa Timur: Yugoslavia

MILAN DEDINAC (hal.57)

Alangkah sepi mereka yang mati

Alangkah sepi mereka yang mati,
Kawan!
Di sini di mana orang mati sendiri.

Betapa suram mereka menjerat diri,
Pelahan,
Masuk hari penuh bencana.

Maut di sini kejam,
Kawan!
Di mana padang terlalu lapang,
Di mana langit tinggi, tinggi di luhur.

Di sini di mana kita sekelumit,
Begitu sengsara ditinggal
Di atas padang hitam
Di bawah langit,
Di mana yang satu menerjuni medan.
Yang lain diam di ambang pintu;
Di mana masuk rumput dan padang
Jalanan lesu menuntun kita.


message 37: by Roos (new)

Roos | 2991 comments PENYAIR TAK DIKENAL (hal.58-59)

Kordonu

Di Kordonu di padang bata,
Ibu mencari mayat anaknya.

Demi jumpa. Di atas kubur ia
Tunduk berkata pada anaknya.

O anakku, biji mata ibunda
Remajamu dulu kemana penyapnya?

Ayahmu menangis, ibu meratap,
Semoga sudi kuburmu menyingkap,

Dan kubur tiba-tiba terbuka,
Si anak bicara dengan bundanya:

Bundaku sayang, hentikan keluh,
Beban tangismu berat bagiku.

Lebih berat ratap-tangismu
Daripada tanah hitam itu,

Ibu, pergilah, sudilah pulang,
Jangan kuburku ibu risaukan.

Ibu sampaikan kepada rakyat
Supaya berjuang agar merdeka.


Pemuda partisan Bosnia

Kami pemuda partisan Bosnia,
Kami cinta tanah air kami,

Kami sukarela Tito, membina
Kemerdekaan Ibu Pertiwi.

Hutan kami tempuh, senjata di tangan,
Bedil: ibu kami, hutan: rumah kami,

Rentak tembakan tak pernah seindah
Yang dilepas pemuda partisan.

Indah dari nyanyi burung: swara mitrayur,
Kerna pelor dilepas gadis-gadis kami.


message 38: by owl (new)

owl (buzenk) | 1651 comments itu ya MILAN DEDINAC. keren! :D


message 39: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Eropa Timur: Yunani

PANTELIS PREVELAKIS (hal.60)

Dua Sanjak

I

Angin-angin merdeka menyepoi sekitarku!
Jasadku bagai kecapi, dibiar terlantar
Canggung berdiri di tengah orkes meratap,
perlahan menggigil,
Dilupa oleh payah dan sedih, oleh derita, dilupa oleh kemestian.

Aku dengarkan gemanya perlahan:
resonator alam semesta,
Jawaban resia, hampir tak kedengaran,
Wahai keajaiban kasih!
pucuk pohon tinggi
Terharu oleh nyanyian burung-burung.

II

Silam mentari masuk ke kamar,
seekor singa merah.
Bayangannya menimpa kaca
dan kurasa cekamnya mesra
menyentuh kakiku telanjang.
Aku membungkuk di bawah meja,
yang dikudusi kerja hari itu,
dan aku lihat ia, mentari itu, mencium kakiku
dengan lidahnya merah.


message 40: by Roos (new)

Roos | 2991 comments GEORGES SEFERIS (hal.61-61)

Panorama Laut Mati

Kita serupa Laut Mati
Sekian depa di bawah muka Laut Egea
Mari bersama daku, kutunjukan dikau panoramanya:

Di Laut Mati
Tiada ikan
Atau rengkam atau janik
Tiada hidup
Tiada makhluk
Yang berperut
Untuk lapar
Yang makan hati
Untuk menderita.

Di sini tempatnya, tuan-tuan!
Di Laut Mati
Penghinaan
Bukan dagangan
Seseorang
Yang hiraukannya

Hati dan pikir
Mengeras dalam garam
Pahit itu
Meri kedunia
Mineral.

Di sini tempatnya, tuan-tuan!
Di Laut Mati
Lawan dan kawan
Anak dan isteri
Dan ibu-bapa
Mencari mereka;

Mereka di Gomorra
Di lubuk terdalam
Amat bagia
Kerna tak usah dengar
Berita.

Dan kini kita teruskan p’lawatan kita
Sekian depa di bawah muka Laut Egea.


message 41: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Eropa Timur: Rumania

HELENE VAVARESCO (hal.63)

Lagu Rumani

Tanganmu telah sentuh jendelaku
Di mana angin menyanyi, dan kamu
Mungkin memegang mentari di tangan.
Dapun jendelaku jadi merah-muda,
Meski di saat turun dan istirahnya
Banyangan tengah malam di jalanan.

Kudamu yang tiada tandingannya
Minum di sumur lama dan terkenanglah
Aku betapa kerap kudamu dahaga;
Adapun telingaku selalu bising
Oleh derak-derik sumur di padang
Dan kudamu yang memuaskan dahaga.

Dua pisau pada ikat pinggangmu
Bicara sesamanya; yakinlah aku
Mereka tahu rahasia nasipku,
Kerna mentari meredup matanya.
Dan jauh dalam sanubariku ada
Pisau-pisau panjang nyiksa jiwaku.


message 42: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Selesai dengan Eropa Timur, sekarang kita jalan-jalan ke Perancis. Ternyata banyak juga penyair-penyair dari Perancis, pantas saja yah kalau Perancis disebut sebagai Negara paling romantis....Hiyaaaaaaaa...^_^


message 43: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Perancis

PIERE VIDAL (hal.71)

Lagu Nafas

Dengan nafas kuhirup udara
Yang rasanya berasal Provenca
Segala di sana menggirang daku
Dan tiap kudengar cakapnya merdu
Akupun ketawa, dan lantas mohon
Tiap kata diulang seratus kali,
Gitu indah terdengar olehku.

Tak pernah didengar cakap gitu manis
Di antara deras arus Rhona dan Venca
Sedari segara hingga Durensa
Adapun tak ada pojok gitu ria
Seperti di antara anak Perancis,
Tumpangan hati sambil ketawa
Yang bikin si murung suka riang.


message 44: by owl (new)

owl (buzenk) | 1651 comments wooo..perancis!


message 45: by an (new)

an (drogini) | 488 comments ada yang berbau-bau masakan ga? :)


message 46: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Jyahaha...OWL Buzenk: kupikir masih ngitungin nama Janda yang super duper panjang itu...hahaha.

@An: salam kenal yah, semoga suka baca bareng di sini, yang berbau masakan??? eehhhmmm perlu manggil Ratatouille...keknya...hehehe. Kita lihat saja nanti yah ada enggaknya, soalnya baru 3 penyair nih dari total 36 Penyair Perancis di buku ini...hehehehe...^_^


message 47: by Roos (new)

Roos | 2991 comments @An: Ya oloooooooooooooooh Rheeeeeeeeeeeee...*getok rhe pake Aki*
Ganti nama pake syukuran traktir2 kek...*manyun baru ngeh*


message 48: by owl (new)

owl (buzenk) | 1651 comments kak roos, sambil baca sambil ngitung XD XD

jyahahaahahha *ketawain kak roos yang ngos2an manggul aki bwt getok rhe*


message 49: by Speakercoret (new)

Speakercoret | 2571 comments Roos wrote: "@An: Ya oloooooooooooooooh Rheeeeeeeeeeeee...*getok rhe pake Aki*
Ganti nama pake syukuran traktir2 kek...*manyun baru ngeh*"


hwahahahahaha


message 50: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Jyahaha...siapa yg mau gotong Aki, orang aku nyuruh si OWL nerbanginnya...hahahah...:-p


« previous 1
back to top
This topic has been frozen by the moderator. No new comments can be posted.