Goodreads Indonesia discussion

Seno Gumira Ajidarma
This topic is about Seno Gumira Ajidarma
98 views
Buku & Membaca > Kontroversi: Dodolitdodolitdodolibret Cerpen Terbaik Kompas 2011

Comments Showing 1-7 of 7 (7 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Helvry (new)

Helvry Sinaga | 366 comments hohoho..yang mau baca cerpennya, ada tukang kliping yang mengarsipkan cerpen kompas minggu di

cerpenkompas.wordpress.com

silakaenn


message 2: by Aveline (new)

Aveline Agrippina (agripzzz) | 269 comments Cerpen yang statusnya masih kontroversial lagi.


message 3: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Gila juga yah...jd ini tho kontroversinya...ckckck. *geleng2 kepala*


message 4: by miaaa, Moderator (new)

miaaa | 2354 comments Mod
woooooooooooaaaa
blum baca nih keduanya jadi penasaran hmmm


message 5: by Helvry (new)

Helvry Sinaga | 366 comments Sumber: http://cerpenkompas.wordpress.com/201...
Dodolitdodolitdodolibret

Kiplik sungguh mengerti, betapapun semua itu tentunya hanya dongeng.

“Mana ada orang bisa berjalan di atas air,” pikirnya.

Namun, ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa, maka ia harus belajar membaca doa secara benar.

”Bagaimana mungkin doanya sampai jika kata-katanya salah,” pikir Kiplik, ”karena jika kata-katanya salah, tentu maknanya berbeda, bahkan jangan-jangan bertentangan. Bukankah buku Cara Berdoa yang Benar memang dijual di mana-mana?”

Adapun dongeng yang didengarnya menyampaikan pesan, betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan di atas air.

Kiplik memang bisa membayangkan, bagaimana kebesaran jiwa yang dicapai seseorang setelah mampu membaca doa secara benar, akan membebaskan tubuh seseorang dari keterikatan duniawi, dan salah satu perwujudannya adalah bisa berjalan di atas air.

Namun, ia juga sangat sadar sesadar-sadarnya, pembayangan yang bagaimanapun, betapapun masuk akalnya, tidaklah harus berarti akan terwujudkan sebagai kenyataan, dalam pengertian dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.

”Dongeng itu hanyalah perlambang,” pikirnya, ”untuk menegaskan kebebasan jiwa yang akan didapatkan siapa pun yang berdoa dengan benar.”

Justru karena itu, semenjak Kiplik memperdalam ilmu berdoa, kepada siapa pun yang ditemuinya, ia selalu menekankan pentingnya berdoa dengan benar. Adapun yang dimaksudnya berdoa dengan benar bukanlah sekadar kata-katanya tidak keliru, gerakannya tepat, dan waktunya terukur, selain tentu saja perhatiannya terpusat, melainkan juga dengan kepercayaan yang mendalam dan tak tergoyahkan betapa sedang melakukan sesuatu yang benar, sangat benar, bagaikan tiada lagi yang akan lebih benar.

Kebahagiaan yang telah didapatkannya membuat Kiplik merasa mendapatkan suatu kekayaan tak ternilai, dan karena itulah kemudian ia pun selalu ingin membaginya. Setiap kali ia berhasil membagikan kekayaan itu, kebahagiaannya bertambah, sehingga semakin seringlah Kiplik menemui banyak orang dan mengajarinya cara berdoa yang benar.

Ternyata tidak sedikit pula orang percaya dan merasakan kebenaran pendapat Kiplik, bahwa dengan berdoa secara benar, bukan hanya karena cara-caranya, tetapi juga karena tahap kejiwaan yang dapat dicapai dengan itu, siapa pun akan mendapatkan ketenangan dan kemantapan yang lebih memungkinkan untuk mencapai kebahagiaan.

Demikianlah akhirnya Kiplik pun dikenal sebagai Guru Kiplik. Mereka yang telah mengalami bagaimana kebahagiaan itu dapat dicapai dengan berdoa secara benar, merasa sangat berterima kasih dan banyak di antaranya ingin mengikuti ke mana pun Kiplik pergi.

”Izinkan kami mengikutimu Guru, izinkanlah kami mengabdi kepadamu, agar kami dapat semakin mendalami dan menghayati bagaimana caranya berdoa secara benar,” kata mereka.

Namun, Guru Kiplik selalu menolaknya.

”Tidak ada lagi yang bisa daku ajarkan, selain mencapai kebahagiaan,” katanya, ”dan apalah yang bisa lebih tinggi dan lebih dalam lagi selain dari mencapai kebahagiaan?”

Guru Kiplik bukan semacam manusia yang menganggap dirinya seorang nabi, yang begitu yakin bisa membawa pengikutnya masuk surga. Ia hanya seperti seseorang yang ingin membagikan kekayaan batinnya, dan akan merasa bahagia jika orang lain menjadi berbahagia karenanya.

Demikianlah Guru Kiplik semakin percaya, bahwa berdoa dengan cara yang benar adalah jalan mencapai kebahagiaan. Dari satu tempat ke tempat lain Guru Kiplik pun mengembara untuk menyampaikan pendapatnya tersebut sambil mengajarkan cara berdoa yang benar. Dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, dari lembah ke gunung, dari sungai ke laut, sampai ke negeri-negeri yang jauh, dan di setiap tempat setiap orang bersyukur betapa Guru Kiplik pernah lewat dan memperkenalkan cara berdoa yang benar.

Sementara itu, kadang-kadang Guru Kiplik terpikir juga akan gagasan itu, bahwa mereka yang berdoa dengan benar akan bisa berjalan di atas air.

”Ah, itu hanya takhayul,” katanya kepada diri sendiri mengusir gagasan itu.

***

Suatu ketika dalam perjalanannya tibalah Guru Kiplik di tepi sebuah danau. Begitu luasnya danau itu sehingga di tengahnya terdapatlah sebuah pulau. Ia telah mendengar bahwa di pulau tersebut terdapat orang-orang yang belum pernah meninggalkan pulau itu sama sekali. Guru Kiplik membayangkan, orang-orang itu tentunya kemungkinan besar belum mengetahui cara berdoa yang benar, karena tentunya siapa yang mengajarkannya? Danau itu memang begitu luas, sangat luas, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih luas, seperti lautan saja layaknya, sehingga Guru Kiplik pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

”Danau seluas lautan,” pikirnya, ”apalagi yang masih bisa kukatakan?”

Maka disewanya sebuah perahu layar bersama awaknya agar bisa mencapai pulau itu, yang konon terletak tepat di tengah danau, benar-benar tepat di tengah, sehingga jika pelayaran itu salah memperkirakan arah, pulau itu tidak akan bisa ditemukan, karena kedudukannya hanyalah bagaikan noktah di danau seluas lautan.

Tiadalah usah diceritakan betapa lama dan susah payah perjalanan yang ditempuh Guru Kiplik. Namun, akhirnya ia pun sampai juga ke pulau tersebut. Ternyatalah bahwa pulau sebesar noktah itu subur makmur begitu rupa, sehingga penghuninya tiada perlu berlayar ke mana pun jua agar dapat hidup. Bahkan, para penghuninya itu juga tidak ingin pergi ke mana pun meski sekadar hanya untuk melihat dunia. Tidak terdapat satu perahu pun di pulau itu.

”Jangan-jangan mereka pun mengira, bahwa dunia hanyalah sebatas pulau sebesar noktah di tengah danau seluas lautan ini,” pikir Guru Kiplik.

Namun, alangkah terharunya Guru Kiplik setelah diketahuinya bahwa meskipun terpencil dan terasing, sembilan orang penduduk pulau sebesar noktah itu di samping bekerja juga tidak putus-putusnya berdoa!

”Tetapi sayang,” pikir Guru Kiplik, ”mereka berdoa dengan cara yang salah.”

Maka dengan penuh pengabdian dan perasaan kasih sayang tiada terkira, Guru Kiplik pun mengajarkan kepada mereka cara berdoa yang benar.

Setelah beberapa saat lamanya, Guru Kiplik menyadari betapa susahnya mengubah cara berdoa mereka yang salah itu.

Dengan segala kesalahan gerak maupun ucapan dalam cara berdoa yang salah tersebut, demikian pendapat Guru Kiplik, mereka justru seperti berdoa untuk memohon kutukan bagi diri mereka sendiri!

”Kasihan sekali jika mereka menjadi terkutuk karena cara berdoa yang salah,” pikir Guru Kiplik.

Sebenarnya cara berdoa yang diajarkan Guru Kiplik sederhana sekali, bahkan sebetulnya setiap kali mereka pun berhasil menirunya, tetapi ketika kemudian mereka berdoa tanpa tuntunan Guru Kiplik, selalu saja langsung salah lagi.

”Jangan-jangan setan sendirilah yang selalu menyesatkan mereka dengan cara berdoa yang salah itu,” pikir Guru Kiplik, lagi.

Guru Kiplik hampir-hampir saja merasa putus asa. Namun, setelah melalui masa kesabaran yang luar biasa, akhirnya sembilan orang itu berhasil juga berdoa dengan cara yang benar.

Saat itulah Guru Kiplik merasa sudah tiba waktunya untuk pamit dan melanjutkan perjalanannya. Di atas perahu layarnya Guru Kiplik merasa bersyukur telah berhasil mengajarkan cara berdoa yang benar.

”Syukurlah mereka terhindar dari kutukan yang tidak dengan sengaja mereka undang,” katanya kepada para awak perahu.

Pada saat waktu untuk berdoa tiba, Guru Kiplik pun berdoa di atas perahu dengan cara yang benar.

Baru saja selesai berdoa, salah satu dari awak perahunya berteriak.

”Guru! Lihat!”

Guru Kiplik pun menoleh ke arah yang ditunjuknya. Alangkah terkejutnya Guru Kiplik melihat sembilan orang penghuni pulau tampak datang berlari-lari di atas air!

Guru Kiplik terpana, matanya terkejap-kejap dan mulutnya menganga. Mungkinkah sembilan penghuni pulau terpencil, yang baru saja diajarinya cara berdoa yang benar itu, telah begitu benar doanya, begitu benar dan sangat benar bagaikan tiada lagi yang bisa lebih benar, sehingga mampu bukan hanya berjalan, tetapi bahkan berlari-lari di atas air?

Sembilan orang penghuni pulau terpencil itu berlari cepat sekali di atas air, mendekati perahu sambil berteriak-teriak.

”Guru! Guru! Tolonglah kembali Guru! Kami lupa lagi bagaimana cara berdoa yang benar!”

Ubud, Oktober 2009 /
Kampung Utan, Agustus 2010.

*) Cerita ini hanyalah versi penulis atas berbagai cerita serupa, dengan latar belakang berbagai agama di muka bumi.


message 6: by [deleted user] (new)

Dodolit: Juara atau Plagiat atau Apa?
A.S. Laksana
Kolom Ruang Putih, Jawa Pos Minggu, 3 Juli 2011

Karena tidak bisa hijrah secara fisik dari situasi yang runyam dan satgas-satgas bentukan Presiden, saya memerlukan tindakan mengambil jarak cukup dalam benak saja. Apa yang ingin saya sampaikan tentang pemancungan Ruyati dan pembentukan satgas, misalnya, sudah diwakili oleh komentar satu kalimat dari seorang pembaca berita online, “Negara ini dikelola seperti dalam situasi darurat saja,” Tentang Ruhut Sitompul, sudah diwakili oleh Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, “Ruhut itu pelawak.” Tentang Presiden SBY, saya jadi gagu setelah munculnya SMS dari “Nazaruddin”.

Maka agar lebih tenteram pikiran, saya ingin menggunakan kesempatan kali ini untuk menjawab saja pertanyaan yang minggu ini banyak diajukan ke saya. Yakni tentang terpilihnya cerpen "Dodolitdodolitdodolibret" karya Seno Gumira Ajidarma sebagai cerpen terbaik buku kumpulan cerpen pilihan Kompas tahun ini. Ada perdebatan yang cukup seru tentang itu. Dari semua pertanyaan yang saya terima (sebetulnya itu semua pertanyaan antarkawan saja), dan juga dari lontaran pertanyaan dalam pembicaraan umum, saya mendapati bahwa persoalannya bisa diringkas saja dalam 2 kelompok berikut ini. Pertama, cerpen itu plagiat atau tidak. Kedua, apakah ia layak menang.

Untuk pertanyaan pertama, jawaban saya tidak. Apa yang dilakukan Seno dengan cerpen Dodolibret ini bukanlah praktek plagiarisme. Seno sudah memberikan pengumuman di akhir cerita bahwa “Cerita ini hanyalah versi penulis atas berbagai cerita serupa, dengan latar belakang berbagai agama di muka bumi.”

Untuk pertanyaan kedua, apakah ia layak menang, jawaban saya juga tidak. Ia tidak layak dipilih sebagai pemenang, terutama jika itu atas nama Seno Gumira Ajidarma. Menurut saya, Seno bukan penulis cerita ini.

Kisah tentang orang yang berjalan di atas air, dengan plot, setting, dan karakter yang persis seperti itu, sebenarnya sudah menjadi cerita yang nyaris klise. Pesan moralnya juga sebenarnya sudah tidak memiliki kekuatan lagi. Dalam "Robohnya Surau Kami", AA Navis juga menyampaikan pesan moral yang serupa tentang kelirunya keberagamaan yang dihayati hanya sebatas syariat.

Pada waktu cerpen Dodolit baru dimuat di Kompas, pertanyaan di seputar plagiarisme Seno sebenarnya sudah pernah ditulis orang di sebuah blog. Masalah yang sama sekarang muncul lagi. Akmal Nasery Basral membuat catatan serius yang disiarkan di facebook-nya tentang kesamaan cerita Dodolit dengan cerpen Tolstoy "Tiga Pendeta". Catatan berjudul "Dodolit Dodol Tolstoy" itu cukup rinci. Hanya rasa-rasanya Akmal tidak tepat ketika mengakhiri tulisan itu dengan pertanyaan apakah cerpen tersebut plagiat atau bukan.

Memang, ketika dibandingkan dengan cerita Tolstoy maupun cerita sufi tentang orang yang berjalan di atas air, cerita Seno sama. Namun, dengan pengumuman yang ia buat di akhir cerita, kita tahu bahwa Seno menggarap cerita itu dengan menggunakan cerita lain sebagai rujukan. Ia kemudian mengembangkan plot yang sama, setting yang sama, karakter-karakter yang sama, dan “pesan moral” yang sama dengan cerita lain yang ia gunakan sebagai rujukan itu--yakni cerita serupa dari “berbagai agama di muka bumi.”

Pengumuman yang dibuat oleh Seno menjadi tameng ampuh yang menghindarkannya dari tuduhan bahwa ia telah melakukan praktek kriminil plagiarisme. Namun tameng pengaman itu terasa agak berlebihan. Dengan satu rujukan saja, entah itu cerita sufi atau cerita Tolstoy, Seno bisa menulis ulang cerita Dodolit dalam bentuk yang seperti itu. Artinya, ia tidak memerlukan pengembaraan untuk menelusuri cerita-cerita serupa dari berbagai agama di muka bumi.

Dengan mempertimbangkan dua hal, yakni pengumuman yang dibuat oleh penulisnya dan segala elemen penceritaan yang identik antara Dodolit dan cerita(-cerita) rujukannya, saya tidak menganggap itu plagiarisme. Namun ia juga bukan karya Seno. Nyaris tidak ada campur tangan Seno kecuali menceritakannya kembali. Kalaupun ada yang orisinil, itu adalah pemberian nama Kiplik untuk tokoh utamanya. Di luar itu, tidak ada tafsir atau hal baru di sana.

Dalam memperlakukan cerita semacam ini, saya kira majalah anak-anak Bobo atau Si Kuncung punya cara yang lebih baik dibandingkan Kompas. Mereka akan memberikan label di bagian bawah: “Dituturkan kembali oleh Kak Seno Gumira Ajidarma.” Dan pada cerita-cerita yang “dituturkan kembali oleh kakak”, anda tidak akan pernah menjumpai klaim bahwa si kakak adalah pengarangnya.

Alasan yang belakangan ini menjadi dasar bagi saya untuk menjawab bahwa mestinya Dodolit tidak menjadi pemenang. Tentu saja cerita itu bagus. Dibandingkan dengan sebagian besar cerita yang ada di buku kumpulan yang sama ia lebih bagus. Diceritakan kembali oleh kakak-kakak yang lain, dengan nama tokoh bukan Kiplik melainkan Gendon, misalnya, kemungkinan cerita itu akan tetap bagus meskipun pesan moralnya sudah menjadi klise. Selain itu, kehebatan orang yang bisa berjalan di air juga sudah dimentahkan oleh kisah sufi yang lain, yang menyatakan bahwa jika kualitas tertinggi keberagamaan adalah sekadar membuat orang bisa berjalan di air, ikan pun mampu melakukannya. Apa istimewanya?

Akhirnya, catatan ini saya tutup dengan rasa heran saya terhadap pernyataan kritikus sastra Arif Bagus Prasetyo. Ia menyebutkan kunci keunggulan Dodolit dibandingkan 17 cerpen lainnya sebagai berikut, “...dengan cerita yang isinya relatif singkat hanya sekitar 40 alinea, begitu banyak lapisan makna yang disajikan Seno.” Lebih jauh dalam epilognya untuk buku tersebut, Arif juga menulis, “...kisah Kiplik dapat dimaknai sebagai parabel religius yang mengabarkan pesan bahwa syariat tidak menggaransi tercapainya makrifat....”

Saya kira ini bukan temuan istimewa, atau sesuatu yang unik, yang menjadikan sebuah cerita punya kekuatan literer. Cerita rujukan Seno bahkan sudah menjadi semacam dongeng rakyat yang mudah ditebak dan Seno menceritakannya kembali dengan cara yang tetap mudah ditebak: orang yang merasa paling benar dalam beragama ternyata keliru, yang dianggap keliru ternyata justru yang lebih benar.

Mengenai keringkasan dan lapisan makna, tampaknya Arif perlu tahu bahwa cerita sufi yang sama, dengan pesan yang sama, hanya memerlukan paling banter empat atau lima dan bukan 40 paragraf.


message 7: by Indres (new)

Indres (felis) Eh, sebenarnya kalau mau mengadaptasi ulang (seperti yang Seno lakukan), karya yang diadaptasi mesti disebutkan bukan, walaupun kisah aslinya taruhlah folklore yang sudah terkenal?


back to top