Goodreads Indonesia discussion

72 views

Comments Showing 1-11 of 11 (11 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by [deleted user] (new)

Diskusi yang saya ikuti malam ini menarik dan penting untuk dicermati karena hal yang sama mungkin bisa terjadi juga untuk buku2/review2 berbahasa Indonesia.

http://www.goodreads.com/topic/show_g...


message 2: by Bunga Mawar, Moderator (last edited Sep 13, 2008 03:45AM) (new)

Bunga Mawar (nverad) | 1042 comments Mod
Ternyata diskusi di atas itu akarnya panjang ya Mas Ronny. Menelusurinya dengan mengklik tiap link jadi capek, hehehe...

Tapi saya setuju dengan usulan untuk mencermati review dan buku yang punya muatan tidak cocok untuk jadi konsumsi publik. Mungkin GR bisa jadi tempat cocok untuk memulai. Saya sendiri agak-agak kaget waktu membaca seri kedua Harry dan Geng Keriput yang dikategorikan GPU sebagai novel anak-anak. Begitu banyak muatan kekerasannya, baik yang berlangsung, maupun yang dinyatakan. Belum lagi nilai-nilai di dalamnya. Mungkin tidak banyak pengaruhnya bagi kita yang sudah "dewasa", tapi untuk anak-anak...

Yak, silakan didiskusikan...


message 3: by Coqueline (new)

Coqueline | 608 comments Gue sempet ngikutin diskusinya, dan gue berada di kubu yg menolak censorship, apalagi buat hal2 remeh kayak gaya bahasa 'berwarna'.

Jangan sampai Goodreads (Indonesia) malah jadi kayak perpanjangan tangan pemerintah Indonesia yg suka sesuka hati membredel buku dengan alasan 'tidak cocok buat konsumsi publik' tanpa memberi kesempatan terhadap publik untuk meninjau isi bukunya sendiri.


message 4: by [deleted user] (new)

@ vera: semua informasi buat gw layak untuk "konsumsi publik", hanya soal umur yang perlu diperingkat.

posisi gw sendiri di situ jg sama sekali menolak sensor, tp dlm konteks Indonesia sekali lagi gw setuju pemeringkatan umur utk film, buku dsb. ini umum berlaku di mana2 (dan di negara2 yg katanya paling liberal, justru aturan ini ketat sekali).

Analoginya misalnya soal rokok. Di AS ketat sekali penjualannya, kalo org blm 18 ketahuan ngerokok, yg kena bukan cuma dia tapi juga yg jual. Di sini anak2 SMP ngerokok pinggir jalan, polisi ya cuek2 aja.. sama juga soal tabloid2 hot itu. gw lebih concern dg sistem distribusinya drpd mencekal produksinya

Nah khusus soal bahasa ini ada kasus menarik dari Tintin baru terbitan Gramed. Banyak yg protes krn umpatan2 Kapten Haddock di situ jadi kasar sekali dan ga layak untuk anak2, beda dg terbitan Indira dulu. Penerjemah dan penerbit sendiri rupanya juga sudah tidak sepeka dulu. Bahasa gaul sehari2 mereka langsung aja dimasukin tanpa liat siapa audiensnya.

Setau gw ga ada review Ind yg kasar sampai maki2 "ngen***" dsb (nylekit sih iya hehe). Lagian gw percaya yg ikut Goodreads dewasa semua kok..


message 5: by Bunga Mawar, Moderator (new)

Bunga Mawar (nverad) | 1042 comments Mod
betul-betul-betul. Betul lagi buat komen Coq & Ronny.

@Coqueline, maksud saya bukan berarti GR jadi bilang: "hah! ni buku berbahaya, karena ngajak orang ga percaya Tuhan (misalnya!), ayo kita lapor ke kejakgung dan depag agar ditarik!" Toh selama ini di GR kita berdiskusi dengan fair dan terbuka, seperti kata Ronny, kita dewasa semua kok.
Saya berharap GR-ers lebih kritis aja kalau membuat review. Bila ada bacaan yang memang tidak sesuai peruntukkannya, kita bilang lah pada yang lain. Jangan karena kalau sebuah buku bagi kita ini baik2 saja, lalu kita bilang bahwa semua orang akan oke2 juga untuk langsung membacanya. Gitu, mbak! :)

@ Ronny, benar juga, pemeringkatan untuk tayangan TV ato bioskop ato lagu ato buku belum berjalan efektif di Indonesia. Tidak semua orangtua (atau "orang yang lebih tua") punya waktu dan kepedulian penuh atas apa yang dilihat, didengar atau dibaca anak2. Kebanyakan mungkin menganggap kalau acara TV jam 6-9 malam sudah pasti aman, padahal kan... yah tahu sendiri. KPI sendiri baru bisa berkoar setelah tayang. Ini masalah distribusi juga, kan?
Atau kalau melihat buku yang dilabeli "anak2", langsung dianggap anak SD boleh lah baca. Nggak dibaca bareng dulu. Jadinya kayak Tintin itu ya..

Tfs.


message 6: by Coqueline (new)

Coqueline | 608 comments Bila ada bacaan yang memang tidak sesuai peruntukkannya, kita bilang lah pada yang lain. Jangan karena kalau sebuah buku bagi kita ini baik2 saja, lalu kita bilang bahwa semua orang akan oke2 juga untuk langsung membacanya. Gitu, mbak! :)

Masalahnya, kalo kita mulai menimbang2 apa yg ok buat kita tapi mungkin ga oke buat orang lain, itu pake standard siapa? Standard saya? Atau standard anda? Dengan perkecualian beberapa hal ekstrim, kepantasan itu subjektif sekali, dan gue ga setuju dengan pihak2 yg memaksakan standard kepantasannya terhadap orang lain.

Untuk kasus anak2, menurut gue most and foremost, adalah tugas orang tua buat memantau apa yg dikonsumsi anaknya. Kalau orangtuanya ga punya waktu atau keperdulian, well, too bad, but we're not taking over their parental responsibility from them. Jangan lupa, orang tua juga punya filosofi pendidikan yg beda2 terhadap anaknya, ada yg ga keberatan anaknya baca apa aja, ada yg memantau dengan ketat. Jadi, lebih baik kita serahkan aja ke orang tua masing2 soal sensor2an ketidak pantasan buat anak2nya yg maen di GR (atau maen dimana saja).


message 7: by Tyas (new)

Tyas (tyasisamonster) | 85 comments Setuju sama Coqueline. Sekadar tambahan: Nah, masalah apa yang pantas untuk anak-anak itu juga berubah-ubah terus kok. Ingat nggak dongeng-dongeng yang sering kita baca waktu masih kecil (atau sekarang juga masih suka)? Itu sudah menjalani penghalusan yang luar biasa dari versi aslinya. Dulu dianggap dongeng penuh kekerasan itu wajar saja buat anak, malah dijadikan alat pembelajaran moral yang efektif!

Sekarang di Barat, jangan heran kalau trilogi Golden Compass dianggap untuk bacaan anak-anak, meski hal-hal yang mungkin di sini dianggap tabu buat anak-anak - kekerasan lah, atheisme lah - menyarati buku-buku itu.


message 8: by [deleted user] (new)

Baidewai buswai, Goodreads sendiri kan ngelarang anak-anak mendaftar dan bikin akun, bukan?
Di terms kan ada batasan umur minimal 13 tahun.


message 9: by Coqueline (new)

Coqueline | 608 comments Kalau menurut gue sih perlu dibedakan antara kekerasan di buku dan di film. Kalau di film, adegan kekerasan/saru/ dan yg ga pantes2 itu langsung disodorin mentah2 ke mata yg nonton, ngerti ga ngerti. Sementara kalau baca buku, apapun yg terjadi dalam bukunya, proses visualisasi mentalnya terjadi dalam otak si pembaca. Kalau si pembaca emang belom dapet akses akan image2 penuh kekerasan/saru/dll, mau dibaca begimana juga ga bakal bisa membayangkan apa yg terjadi. Dengan kata lain, the mind censors itself from things it can't imagine.

From the same argument, gue mendukung age rating buat film dan game (dan mungkin komik/graphic novel), tapi tidak untuk buku in general. Age rating untuk buku idealnya hanya berfungsi sebagai rekomendasi, bukan aturan baku.


message 10: by Indres (new)

Indres (felis) Soal age rating buat buku, kayaknya yang paling pas nentuin ortu si anak-anak itu sendiri. Kalau kita perhatiin, tiap anak matangnya beda-beda, trus karakter anak juga beda-beda, ada yang gampang banget nerima mentah-mentah nilai yang dibaca dari buku, ada yang cukup kebal dari pengaruh buku yang dia baca.

Lagipula kalau ada age rating, malah bukan membuat semakin penasaran anak-anak itu baca buku-buku yang masih belum diperuntukan untuk kalangannya?




message 11: by [deleted user] (new)

Gue ga kebayang ada age rating untuk buku. Apa yg jadi kriteria? Tapi gue setuju kalo ada supervisi dari orang dewasa (sekolah/orangtua) dalam pemilihan buku2 utk disediakan buat anak2 dan remaja.

Oya, akhir2 ini sempet baca bhw ada trend apokaliptik dlm buku anak2 sedunia. Tema2 destruksi lagi naik pamor. Nah, ini menarik deh. Kalau diandaikan anak2 ga boleh bersentuhan dgn kekerasan, kematian, kesedihan, dan hal2 gelap lainnya, lucu aja bahwa sekarang buku (yg sejak awal sudah diniatkan untuk) anak2 sekarang justru ngangkat itu. Bbrp komentar sih bilang, sbnrnya tema apapun ga masalah, asal penyampaiannya gimana: moralnya menyesatkan atau ngasi harapan atau nampilin nilai2 kayak gimana dan seperti apa.


back to top