Goodreads Indonesia discussion

50 views
Sobat Perpus > Koin Sastra tuk PDS HB Jassin (Kisah Tragis PDS HB Jassin)

Comments Showing 1-3 of 3 (3 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Nyonya (new)

Nyonya Buku (nyonyabuku) | 103 comments okey... what can we do..

Mereka punya "friends of PDS HB Jassin gag si?"

bikin acara gitu.. Sepekan HB Jassin... kritikus sastra paling disegani, karenanya paling diingini...


message 2: by Yonathan (new)

Yonathan (yonathanrahardjo) | 12 comments tertarik ngomen prokontra sikap yang 'idealis' atau 'sok idealis' penanggungjawab pds itu, Ini sikap pendiri PDS yang beda dengan pengelola tentang satu acara: Gaya Taufiq Ismail Membungkam… (oleh Martin Aleida)
Untuk kepentingan “dakwah”-ny...a, Taufiq Ismail telah menggunakan pengaruh teman-teman dekatnya untuk membungkam apa yang dia tuduhkan sebagai orang-orang “Lekra generasi kegita.” Stigma lama ini menimpa anak-ana...k muda yang bergabung dalam Bumi Tarung Fans Club, yang menyelenggarakan acara diskusi senirupa, sebagai bagian dari kampanye informasi publik menyongsong ulangtahun ke-50 dan pameran akbar Bumi Tarung, yang akan digelar di Galeri Nasional, Jakarta, September mendatang.
Diskusi tersebut berlangsung di Pusat Dokumentasi HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Sabtu, 12 Maret yang baru lalu, dengan mengetengahkan pembicara EZ Halim (kolektor), Hardi (pelukis), Sihar Ramses Simatupang (wartawan-sastrawan), dan Amrus Natalsya (bos Bumi Tarung). Menjelang diskusi, anggota Bumi Tarung, pelukis semiliar, Joko Pekik, juga berbicara mengenai pengalamannya selama bergelut dalam kelompok pelukis yang bermarkas di Yogyakarta awal 1960-an itu, termasuk penderitaannya selama meringkuk dalam tahanan rezim yang simbolisasinya dia visualkan di atas kanvas dalam bentuk babi hutan: Celeng.
Taufiq Ismail --begitulah sejauh yang saya amati -- berusaha, termasuk menggunakan intimidasi, untuk membatalkan pertemuan yang dihadiri hampir 100 undangan itu. Sekitar jam 10 pagi di hari Sabtu itu, Ajip Rosidi menelepon saya yang sedang bersiapa-siap mengajar di Lembaga Pendidikan Jurnalistik Antara. “Martin,” kata Ajip, yang saya duga berbicara dari rumahnya, di Pabelan, Magelang, “saya dengar ada diskusi di PDS yang diadakan Lekra generasi ketiga, ya?!” Saya katakan, setahu saya, itu adalah diskusi yang diadakan oleh sekelompok pemuda yang menamakan diri ‘Bumi Tarung Fans Club’ sebagai bagian dari kegiatan menongsong pameran besar Bumi Tarung yang akan berlangsung September.
Ajip tidak mengatakan dari siapa dia mendengar informasi itu. Dia lantas mengeluh dan meminta bantuan saya untuk membatalkan diskusi tersebut. Bagaimana perasaan HB Jassin di dalam kuburan. Dia yang dulu diserang oleh Lekra, sekarang tempatnya malahan jadi gelanggang pertemuan orang-orang Lekra. Dan, apa kata keluarga Jassin kalau mendengar acara itu, demikianlah keluhan Ajip. Saya katakana saya bukan anggota panitia diskusi itu. Lantas, dia memahami mengapa saya tak bisa mencegah berlangsungnya diskusi. Dia kemudian menimpakan kesalahan pada Endo Senggono, kapala PDS HB Jassin, yang tidak memberikan laporan kepadanya. PDS HB Jassin berada di bawah sebuah yayasan yang didirikan oleh Ajip Rosidi bersama HB Jassin (ketika kritikus ternama ini masih hidup).
Kapada Ajip saya berjanji untuk menghubungi Amrus Natalsya, dan meyampaikan keberatannya terhadap diskusi yang akan berlangsung di PDS pukul 02.00 siang itu. Ketika saya telepon, dan saya sampaikan keberatan Ajip terhadap rencana diskusi itu, Amrus tidak berkomentar, dan kami sepakat untuk bertemu di PDS sebelum acara yang sudah dijadwalkan dimulai. Setibanya di PDS Jassin, saya langsung menemui Endo Senggono dan menanyakan apakah diskusi akan tetap berlangsung, karena Ajip ingin acara itu batal. Endo, yang murah senyum itu, sambil kedua ketiaknya bergelayut pada tongkat penyangga tubuhnya, berkata: “Jalan terus… Kalau dibatalkan malah bisa bikin masalah berkepanjangan. Kita lihat saja nanti,” katanya. Saya terharu mendengar keputusannya itu. Dia berdiri di atas tongkat ketiaknya, tetapi dia lebih tegak dari saya, kata saya dalam hati. Dia mengeluarkan undangan, yang juga saya terima. Katanya, di mana ada kata Lekra di sini, di undangan ini? “Bumi Tarung itu pimpinan Amrus, dan Amrus kan anggota Akademi Jakarta!” lanjutnya menguatkan pijakan sikapnya.
Endo mengutarakan penyesalannya kepada saya bahwa Taufiq Ismail hanya mengirimkan pesan singkat (SMS), yang meminta acara supaya dibatalkan, tetapi samasekali tak bisa dihubungi untuk diajak bicara. Kemudian, saya menemui Rini, salah seorang staf PDS Jassin, yang terpaksa datang (ditemani anak gadisnya) pada hari libur itu, karena dia, katanya, mendapat perintah lisan dari Taufiq Ismail, melalui telepon genggam, “supaya membatalkan diskusi tersebut.” Menurut Rini, Taufiq mengatakan jika diskusi tidak dibatalkan PDS Jassin bisa dikenakan pasal pidana, karena Lekra adalah organisasi terlarang.
Menurut Rini, dia sempat bertanya dari mana Taufiq Ismail mendengar berita bahwa “Lekra generasi ketiga” akan menyelanggarakan diskusi di PDS Jassin, yang dijawab Taufiq dari “orang yang bisa dipercaya.”
Kata mati, “Jalan terus…” dari Endo saya sampaikan kepada Amrus Natalsya. Begitulah, diskusi itu dimulai dan disudahi dengan damai. Saya deg-degan juga – mungkin juga Endo – jangan-jangan Taufiq Ismail akan mengirimkan “orang yang bisa dipercaya”-nya dengan tutup kepala khusus, membawa pedang terhunus, untuk membubarkan pertemuan. Syukurlah, tidak, dan Joko Pekik bisa pulang ke habitatnya di Yogyakarta tanpa kehilangan jenggot barang seujung rambut pun.
Sebagai seorang pegiat kebuadayaan yang berwibawa, saya kira Goenawan Mohamad layak mendapatkan informasi mengenai niat buruk dari seorang sastrawan yang berkobar-kobar puisi dan pidatonya untuk memberangus kehendak terpuji dari anak-anak muda penggemar kesenian. Setelah membaca SMS saya mengenai niat Taufiq Ismail untuk membatalkan diskusi di PDS HB Jassin itu, Goenawan mengatakan: “Kita lawan saja. Dia nggak punya hak apa pun.” Kemudian saya jelaskan kepadanya, bahwa Taufiq ingin memanfaatkan Ajip Rosidi (salah seorang pendiri PDS HB Jassin) untuk membatalkan diskusi itu, yang dia jawab dengan lantang: “Pokoknya mereka nggak bisa menyetop kalian!” Saya menemukan kekuatan pada kata-kata yang terpateri di layar HP saya, dan saya biarkan kata-kata itu terus berkedip di situ sampai sekarang.
Hari Senin, 14 Maret 2011, KOMPAS menurunkan berita di halaman dua dengan judul “Komunisme Masih Dianggap Ancaman.” Laporan dari sebuah diskusi yang berlangsung di Jakarta. Di dalam diskusi itu, Taufiq Ismail dilaporkan sebagai mengatakan, bahwa “…komunisme telah membantai 120 juta manusia di 75 negara sepanjang 1917-1991, lebih besar dari korban seluruh perang dunia dan perang lokal pada abad ke-20, sebanyak 38 juta orang.”
Membaca ucapannya itu, dengan berkelakar saya ingin bertanya kepada Taufiq, apakah angka “120 juta manusia” itu sudah dikorting TIGA juta “komunis,” jumlah yang dikatakan Sarwo Edhi kepada wartawan setelah kembali dari operasi penumpasan G30S akhir 1965. Paling tidak dua kali saya diundang untuk berbicara di dalam diskusi mengenai G30S di Univesitas Indonesia. Duduk bersama Taufiq Ismail. Undangan yang datang, terutama para mahasiswa, tidak mendapat apa-apa. Karena Taufiq hanya menyampaikan angka-angka pembantaian yang terjadi pada zaman Stalin di Uni Soviet, dan Kamboja. Yang hadir dibuat munafik, karena Taufiq samasekali tidak menyinggung manusia-manusia Indonesia yang dibantai menyusul gagalnya G30S. Agaknya, yang tiga juta, sebagaimana yang dikatakan Sarwo Edhi, atau sekitar 500.000 sebagaimana yang diyakini para peneliti asing dan 10.000 yang dibuang ke Pulau Buru serta ratusan ribu yang ditahan tanpa proses hukum selama belasan tahun adalah BUKAN MANUSIA!
Martin Aleida, penulis pegiat kesenian


message 3: by Silvana (new)

Silvana (silvaubrey) | 1424 comments mau nyumbang tp itu rekeningnya bank mandiri cabang mana ya?


back to top