Goodreads Indonesia discussion

53 views
Klub Buku GRI > Klub Buku GRI #11: "Mencicip Kesenangan Lewat Kuliner dan Travelling"

Comments Showing 1-30 of 30 (30 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by ana (new)

ana (anaazusa) | 582 comments wow! k Ijul laris banget jadi penulis lpm..
*ngikik*


message 2: by e.c.h.a, Moderator (new)

e.c.h.a (rezecha) | 2011 comments Mod
icip icip icip icip :)


ijul (yuliyono) (ijul) | 1200 comments ana "a kecil" wrote: "wow! k Ijul laris banget jadi penulis lpm..
*ngikik*"


*kedip-kedip*...kecuali kawin-laris yaaa....hikz


message 4: by miaaa, Moderator (new)

miaaa | 2354 comments Mod
hidup hiccup! *ga nyambung*


message 5: by Speakercoret (new)

Speakercoret | 2571 comments ijul (yuliyono) wrote: "ana "a kecil" wrote: "wow! k Ijul laris banget jadi penulis lpm..
*ngikik*"

*kedip-kedip*...kecuali kawin-laris yaaa....hikz"


mmm kalo kawin juga laris, poligami dong? #lugu


message 6: by Felly (new)

Felly (flasmana) | 106 comments nampak rame ...sigh
gua di bandung


message 7: by miaaa, Moderator (new)

miaaa | 2354 comments Mod
bawa buku eurotrip buat minta tandatangan ah ;D


message 8: by e.c.h.a, Moderator (new)

e.c.h.a (rezecha) | 2011 comments Mod
Gue bawa buku siapa ya untuk tanda tangan hahahaha


message 9: by Ditta (new)

Ditta | 422 comments e.c.h.a wrote: "icip icip icip icip :)"

emang ada makan2nya segala?? *ngarep*


message 10: by Bunga Mawar, Moderator (new)

Bunga Mawar (nverad) | 1042 comments Mod
e.c.h.a wrote: "icip icip icip icip :)"

maksudnya ada persembahan icip icip icip icip dari klub pengunyah yah? :p


message 11: by e.c.h.a, Moderator (new)

e.c.h.a (rezecha) | 2011 comments Mod
Makan-makan..ada dong. Bayar masing-masing tapinya ya hahahahahaha


message 12: by an (new)

an (drogini) | 488 comments Harun Harahap wrote: "Banyak hadiah menanti anda, ditunggu kedatangannya yah… "

bharap hadiah na makanan ;)
-pengunyah banget-


message 13: by Sweetdhee (new)

Sweetdhee | 1593 comments lpm nya mana?


message 14: by Bunga Mawar, Moderator (new)

Bunga Mawar (nverad) | 1042 comments Mod
ehm... ada yang nungguin kemunculan penulis lpm... *kabur tergopoh2*


message 15: by e.c.h.a, Moderator (new)

e.c.h.a (rezecha) | 2011 comments Mod
ini foto-foto dari acara kemarin...

http://www.flickr.com/photos/bacaitus...


message 16: by Speakercoret (new)

Speakercoret | 2571 comments Bunga Mawar wrote: "ehm... ada yang nungguin kemunculan penulis lpm... *kabur tergopoh2*"

*numpangngikik*


message 17: by miaaa, Moderator (new)

miaaa | 2354 comments Mod
pake dicoret segala ketua hahaah
*ikut nunggu lpm sambil makan bakso malang*


message 18: by Sweetdhee (new)

Sweetdhee | 1593 comments *ngeliatin bakso malang kak miaaa sambil ngiler
*melirik tajam ke bu guru dan jeng mumut


message 19: by ijul (yuliyono) (new)

ijul (yuliyono) (ijul) | 1200 comments *ngetik sambil dengerin rekaman sambil nyemil taro*
*nyesep green tea*

mohon bersabar sebentar ya, temans, malam ini *sambil ditemani suara takbiran bertalu-talu* lapantanya diselesaikan *cross my heart*


message 20: by Ayu, Moderator (new)

Ayu Yudha (ayu_yudha) | 1291 comments Mod
*ngembat taronya ijul*
buruan jul, lpm-nya... :p


message 21: by ijul (yuliyono) (last edited Nov 16, 2010 08:54PM) (new)

ijul (yuliyono) (ijul) | 1200 comments Belajar bertoleransi dengan traveling

Paruh Pertama – Dongeng dari Perjalanan

Traveling bukan sekadar mengisi waktu luang dengan melancong ke tempat-tempat menarik demi memuaskan hasrat ingin mengabadikan diri dalam sebuah foto sebagaimana terpampang pada brosur-brosur perjalanan wisata. Traveling juga tak hanya melulu berkutat pada persoalan seberapa banyak dan seberapa jauh daerah jelajah yang bisa dirambah, melainkan juga diharapkan mampu menghadirkan sensasi rasa yang memantik sisi spiritual dalam diri masing-masing traveler.

Bulan November 2010, diskusi Klub Buku GRI mengangkat tema wisata jalan dan jajan bertajuk “Mencicip Kesenangan Lewat Kuliner dan Traveling“ yang dipandu oleh Mia Fiona dengan menghadirkan 3 orang pembicara yaitu Matatita (Tales from the Road, Eurotrip), Rini Harjanti (Rp3 jutaan keliling India dalam 8 hari), dan Dewi Fita (The Food Traveler’s Guide series: Romantic Places, Jajanan Malam Jakarta di Bawah 15 Ribu, Jajanan Spektakuler Bandung di Bawah 15 Ribu, Jajanan Unik Yogya-Solo di Bawah 10 Ribu). Bertempat di TMBookstore Depok Town Square, acara kurang lebih dimulai pukul dua siang dan berakhir pukul empat sore. Untuk rangkuman jalannya acara, silakan menyimak laporan pandangan mata (lapanta) berikut ini:

Diskusi dimulai dengan sebuah pertanyaan dari moderator tentang awal para pembicara menjadi “suka-jalan”.

Matatita (Tita) menyebutkan bahwa dia tidak hanya sekadar pengin jalan, namun baginya traveling adalah sarana untuk mengenal etnis dan budaya yang beragam, tak hanya yang ada di luar negeri, tapi juga di daerah-daerah lain di negeri sendiri (Indonesia). Masa kecilnya yang sering diajak orang tua ke museum, galeri, dan situs purbakala sampai dengan keputusannya untuk mengambil jurusan anthropologi (yang bukan termasuk pilihan populer) pada waktu kuliah, makin memupuk minatnya untuk ber-traveling. Prinsip dasar traveling baginya adalah untuk mendapatkan experience of different culture.

Rini Harjanti (Rini) juga mengungkapkan hal yang hampir senada, bahwa dengan traveling ia dapat mengenal dan memahami dengan lebih baik budaya lain. Dengan latar belakang keluarga hardcore traveler yang dari kecil telah berpetualang bersama ke beberapa tempat dengan nuansa backpaker, termasuk tidur ngemper di Malaysia/Singapura, membantu membentuk pribadinya sehingga tak lagi didera ketakutan ketika harus “berjalan” sendiri. Ia ingat pada sebuah kutipan yang menyebut bahwa orang datang ke sebuah negara memang bukan untuk menjadi nyaman di negara itu, negara itu adalah nyaman untuk warga negaranya sendiri. Traveling juga mengujinya untuk keluar dari zona nyaman (comfort zone).

Dewi Fita (Tata): Semua orang suka makan, namun kategori penyuka makanan bisa dibagi menjadi dua, yaitu orang yang suka mencoba makan makanan baru dan yang tidak (nyaman dengan comfort zone-nya). Ia sendiri merasa termasuk orang yang suka mencoba makan makanan baru yang lucu-lucu dan yang aneh-aneh. Suatu ketika, saat bertukar ide untuk membuat buku di tempat kerjanya (penerbit bukuné), yang mana at that moment yang booming adalah acara-acara kuliner tapi belum dalam bentuk buku. Kemudian, Tata bersama rekan mendapat ide menulis buku selepas menonton sebuah acara kuliner di salah satu channel TV kabel tentang jajanan dengan harga di bawah US$1 yaitu berupa buku tentang jajanan murah di Jakarta.

Mia kemudian menelisik lebih dalam tentang kebudayaan-kebudayaan baru yang ditemui selama dalam perjalanan, termasuk makanannya, yang mungkin membawa perubahan bagi diri para pembicara.

Tita: yang jelas membuat kita menjadi lebih bijak (wise), karena ketika kita bertemu dengan orang lain yang berbeda kebudayaan membuat kita berusaha menahan diri dan menghargai mereka. Tita mencontohkan kasus ternak babi di Papua yang mendapat posisi istimewa dalam kehidupan bermasyarakat warga setempat, sementara mungkin oleh orang lain babi dianggap sebagai hewan yang menjijikkan. Dengan melihat culture yang berbeda dapat membuat kita sadar bahwa apa yang kita yakini baik buat kita belum tentu baik bagi mereka (orang lain).

Rini: selain menjadi lebih bijak, traveling bisa membuat level toleransi kita menjadi lebih tinggi. Rini kemudian bercerita tentang keadaan backpaking hostel yang ditempati oleh beraneka ragam karakter backpaker yang mana menuntut kita untuk bertenggang rasa. Di samping itu, perjalanan juga dapat mempertemukan kita dengan orang-orang hebat (kisah hidupnya) yang dapat memberi pencerahan, meskipun tak jarang ada kalanya kita bertemu dengan orang-orang yang agak ‘gila’.

Tata: mempelajari makanan itu hampir mirip dengan mempelajari budaya, mempelajari karakteristik orang-orangnya. Tata menyebutkan bahwa melalui makanan di pelbagai daerah, ia dapat lebih mengenal dan memahami budaya mereka.

Selanjutnya moderator menanyakan soal persiapan sebelum jalan+jajan, termasuk riset pendahuluan.

Tita: menyebutkan bahwa riset dilakukan berdasarkan ketertarikan pribadi, karena Tita lebih menyukai independent traveling ketimbang yang berame-rame, mengingat, menurut pengakuannya, ia memiliki selera yang agak berbeda sehingga takut nggak klop seandainya ‘jalan-bareng’. Baginya, destinasi yang dipilih (negara) terpengaruh imajinasi pribadi atas suatu negara. Contoh, ketika traveling ke Eropa, ia meniatkan diri ke Athena (Yunani), namun karena tiket yang ada harus ke Paris, Tita mencari akal untuk bisa ke Athena ketika telah berada di Eropa. Ia juga tak ragu untuk membuka-baca guide-book yang ada untuk memantapkan destinasi yang ingin ditujunya.

Rini: tiket dan informasi tempat-tempat yang akan dikunjungi adalah persiapan awalnya. Namun, Rini bukan termasuk traveler yang menetapkan jadwal kunjungan harian yang detail di tempat yang ditujunya. Ia juga bukan tipe traveler yang melakukan reservasi tempat menginap sebelum berangkat.

Tata: riset merupakan salah satu tahapan yang penting dalam penyusunan food traveling book karena adanya deadline waktu yang telah ditetapkan pada target tertentu.

Mia: menanyakan standar “enak” yang digunakan dalam menentukan kualifikasi suatu makanan mengikuti standar siapa.

Tata: Ia menjelaskan bahwa sebelum turun ke lapangan, tim mengumpulkan informasi yang berisikan rekomendasi (tempat) makanan enak, minimal tiga rekomendasi, untuk dicoba. Dan ketika mencicip pun, Tata tidak sendirian, apalagi selalu ada fotografer yang bertugas menjepret menu-menu makanan tersebut.

Mia: prioritas kunjungan ketika telah tiba di tempat yang dituju.

Tita: termasuk orang yang tidak terpengaruh oleh brosur-brosur wisata, sesuaikan dengan inovasi dan ketersediaan waktu yang dimiliki. Pesannya: pergilah ke tempat yang benar-benar sesuai dengan interest, eksplorasi maksimal, sehingga mendapatkan pengalaman yang berbeda dengan orang lain.

Rini: traveling is a journey, not a destination. Jadi, sebenarnya tidak penting kamu sudah ke mana, tapi yang penting pengalaman kamu saat melakukan perjalanan itu. Rini bercerita soal kunjungannya ke India, terkait dengan penulisan bukunya, bahwa ia tidak menjadwalkan melihat Taj Mahal (Agra) dan lebih banyak menghabiskan waktu di Sungai Gangga (sampai mendapatkan pengalaman mencengangkan ketika melihat mayat yang dilarung di sungai Gangga yang sedang dipatuki burung gagak).

Mia: sudut pandang kita tidak dapat dipakai di negara atau daerah lain. Terkait hal tersebut, Mia menanyakan kepada para pembicara perkara attitude traveler ketika tiba di tempat yang dituju.

Tata: dikaitkan dengan food traveling, cukup pakai standar tingkah laku yang biasa. Sikap terbuka menerima hal-hal baru yang tidak terduga, semisal ketika hendak meliput satu tempat makan ternyata mereka tidak mau diliput, menjadi penting sebagai manisfetasi menghormati orang lain.

Rini: menghormati budaya orang lain itu penting. Menurutnya, apabila kita menganggap diri kita seorang traveler, kita harus menghormati budaya orang lain, di manapun.

Tita: menghormati budaya orang lain mungkin gampang diucapkan, namun terkadang sulit diimplementasikan, tergantung masing-masing pribadi dalam beradaptasi dengan lingkungan tempat yang dikunjungi. Tita menceritakan usahanya menahan diri untuk tidak jijik ketika melihat penduduk lokal Kamboja yang mengonsumsi serangga goreng.


message 22: by ijul (yuliyono) (last edited Nov 16, 2010 09:06PM) (new)

ijul (yuliyono) (ijul) | 1200 comments Paruh kedua – Interaksi Pengunjung dan Pembicara

Berikutnya, moderator memberikan kesempatan kepada pengunjung yang ingin bertanya atau memberi tanggapan atas topik yang dibahas.

Ijul: a). background dari Tita dan Rini (termasuk aktivitas keseharian); b). adakah perbedaan antara traveling sebelum dan sesudah pendokumentasian (buku), apakah kenikmatan “jalan” berkurang dengan adanya ‘beban’ membukukan traveling yang dijalani.

Rini: sudah menjadi traveler sejak lama, dan punya traveling blog yang mengisahkan perjalanannya (cuapcuapnabi.blogspot.com). Latar belakang Rini menulis buku Rp3 jutaan keliling India dalam 8 hari adalah untuk mengikuti kompetisi penulisan buku traveling yang diadakan oleh penerbit Bentang. Meskipun demikian, ia mengaku agak ‘egois’ ketika menetapkan tempat-tempat yang dikunjunginya selama di India, disesuaikan dengan kesenangannya. Beban menulis pun tidak begitu terasa karena ia telah terbiasa menulis di blog, dan dalam prosesnya ia menulis pada waktu-waktu yang tepat (sesuai dengan moodnya). Strategi yang dipilihnya adalah dengan mengombinasikan antara tugas dan kenimatan ber-traveling.

Tata: beban terberatnya adalah di saat penulisan, bagaimana caranya menyampaikan apa yang kita rasakan (atas makanan) agar dapat dirasakan oleh orang lain. Sisi objektivitas atas kualitas sajian (makanan) harus benar-benar dijaga agar pembaca yakin bahwa yang disajikan itu benar-benar enak bukan karena penulisnya yang bilang sajian itu enak.

Tita: kesehariannya adalah bekerja di bidang kreatif (grafis) sehingga mempunyai watu luang yang lumayan. Sedangkan untuk tulis-menulis, Tita memang telah menggemarinya sejak kecil di mana ia sering menulis cerpen untuk majalah-majalah. Tak lupa pula ia merambah dunia blog untuk mengasah kemampuan menulisnya, selain sebagai medianya untuk bercerita seputar perjalanannya (matatita.com/). Berbicara soal buku traveling di tanah air, menurutnya yang diminati pasar masih yang bernuansa how to, bukan buku traveling yang mengisahkan ‘seni’ berjalannya itu sendiri. Dia mencontohkan perbedaan respon pasar atas bukunya Tales from the Road (nuansa seni jalan) dan Eurotrip (how to), di mana dari angka penjualan buku Eurotrip lebih bagus.

Uci: bagaimana cara menghindari ‘beban’ mendokumentasikan traveling yang dilakukan?

Tita: Setelah buku terbit, label travel writer ternyata tidak membuat orang-orang di sekitar Tita bertanya soal penulisan bukunya tapi lebih sering mempertanyakan ke mana lagi ia akan ‘jalan-jalan’ dan hal tersebut agak menganggunya.

Rini: beban lebih kepada kesibukan hariannya yang adalah karyawan kantoran. Menurutnya selalu akan terjadi pergesekan antara kepentingan penerbit (orientasi komersial) dengan penulis (idealis). Sedangkan soal buku traveling Indonesia yang maish berkutat di ranah how to, Rini berpendapat bahwa tren traveling tanah air memang terbilang masih sangat baru sehingga traveler pemula memang lebih banyak menginginkan semacam buku panduan ber’jalan’.

Tata: karena ide datangnya dari penerbit yang telah diriset dengan membaca pasar sehingga buku memang dibuat untuk memuaskan pembaca.

Tita: menambahkan pemikiran tentang ihwal traveling menjadi tren yang menjadi kegemaran baru. Tita membandingkan soal waktu dan tujuan awal traveling dari traveler luar negeri dan dalam negeri, termasuk perjalanan ziarah ke makam-makam para wali yang dilakukan oleh beberapa orang di Indonesia.

Mia: menyambung pertanyaan dengan mengaitkan cerita traveling bernuansa ziarah itu dengan spiritual journey.

Tita: menurutnya bisa juga itu termasuk dalam kategori tersebut, namun spiritual journey tidak harus selalu dikaitkan dengan agama tertentu. Dia pribadi selalu mendapat sensasi mencerahkan jiwa sebagai pejalan ketika melakukan traveling ke pelbagai tempat.

Rini: baginya traveling itu ‘me’ time, spending time with herself, dikaitkan dengan aktivitas kesehariannya yang sering bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang. Pada saat traveling ia menikmati kesendirian (sehingga bisa fokus ketika menjumpai hal-hal unik di tempat-tempat yang dituju). Tak jarang, rutinitas penduduk lokal di suatu tempat ikut membangkitkan perasaan mendalam di hatinya, termasuk hubungan pribadinya dengan Tuhan.

Tata: kalau soal makanan, mungkin spiritualnya lebih kepada hal-hal yang ditemui ketika berkunjung. Misal, ketika ke satu rumah makan nasi gudeg yang buka malam hari, di mana pelanggan banyak namun penjualnya tetap melayani tanpa tergesa-gesa, suasana tersebut membuatnya seolah terlempar ke masa-masa sebelum modernitas menggerus negeri, di mana semua hal kelihatannya harus dilakukan serba cepat.

Asrudin: a). rencana anggaran untuk traveling ke luar negeri?, b). ketika melakukan independent traveling, apa tidak takut hilang (nyasar)?

Tita: memberikan komparasi biaya yang dikeluarkan untuk jalan dari Jakarta – Papua dengan traveling ke luar negeri, terbukti masih lebih murah jalan-jalan ke Eropa. Termasuk pula dia juga membandingkan kelancaran sarana dan prasarana yang ada. Soal ketakutan ‘nyasar’, di luar negeri justru lebih aman, mudah dijangkau, dan tersedia banyak pilihan, disesuaikan dengan keinginan dan ‘kantong’ masing-masing. Sedangkan traveling di Indonesia, selain relatif lebih mahal (tiket pesawat, dsb), juga agak mengerikan pada sisi cuaca ekstrim yang tak terduga (pengalaman di Papua) atau juga sisi keamanan di daerah pedalaman (dihadang ‘intel gadungan’ di Papua juga). Tita bahkan menyimpulkan, bila seorang traveler bisa survive ‘jalan’ di Indonesia, maka traveling di negara lain itu mudah.

Rini: memberikan tips, sebelum ber-traveling ke luar negeri, buatlah passport dan credit card (untuk hunting tiket online). Soal mengatasi ketakutan, tingkatkan saja kewaspadaan, percaya pada insting pribadi ketika menghadapi situasi yang hampir mengarah ke ketidaknyamanan.

Indira: a). selain background masa kecil dan sisi akademis, apa latar belakang lain yang membuat Tita memutuskan menulis traveling book bergaya Tales from the Road yang memang lain dari buku traveling kebanyakan.; b). adakah pengalaman buruk berhubungan dengan travel agent, baik waktu di Indonesia maupun ketika tiba di negara (daerah) tujuan; c). bagaimana menyikapi pandangan miring orang-orang bahwa buku kuliner yang diterbitkan hanya sekadar follower dari yang sudah ada (Jalansutera, Bondan Winarno)

Tita: Tales (from the Road) ditulis berdasarkan interest pribadi (idealis). Tita berusaha konsisten pada apa yang dia sukai, bahkan terkhusus buku ini ia bertendensi untuk mengangkat almamater pribadinya (kampusnya – jurusan anthropologi).

Tata: kalau untuk buku kuliner, bisa dibilang buku yang diterbitkan bukune adalah pioner. Dan, buku yang terbit juga lahir dari orang awam yang suka makan (bukan ahli), yang menyajikan pengalaman mencicip-cicip rasa, tidak sampai detail bumbunya.

Rini: merencanakan perjalanan sendiri. Dia lebih memilih mencari informasi sendiri di tempat tujuan, namun apabila tampak ribet ia mengombinasikannya dengan ikut one day trip yang disediakan oleh pengelola di daerah tujuan. Rini secara khusus menyebutkan menghindari ‘membeli’ paket perjalanan wisata.

Tita: menambahkan tips untuk lebih teliti mencari penyedia one day trip yang tepercaya (dan murah).

Indira: menyambung pertanyaan soal perbandingan independent traveling dengan yang memanfaatkan jasa travel agent.

Tita: kembali kepada tujuan melakukan traveling. Jika ingin mengikuti semua promosi wisata, lebih baik pilih ikut paket yang disediakan travel agent. Sedangkan kalau ingin mendapatkan sensasi pribadi yang lebih dalam, independent traveling lebih mengasyikkan.

Rini: tergantung masing-masing orang. Intinya, traveling dititikberatkan pada kualitas atau kuantitas. Terkadang ketika ikut paket perjalanan, dengan segala aturan ‘jalan’ ketika tiba di lokasi yang harus selalu bergabung dengan kelompok, sehingga mengurangi interaksi dengan penduduk lokal, yang mana menurut Rini, interaksi tersebut merupakan salah satu kenikmatan ber-traveling yang dicarinya.

Rhe: a). sampai dengan saat ini, culture daerah mana yang paling berkesan?; b). apakah ada perubahan yang dialami, dan seperti apa perubahan dimaksud?

Tita: semua tempat meninggalkan kesan yang mendalam baginya. Kesan makin bertambah apabila akses untuk menjangkau lokasi tersebut mudah.

Rini: ketika perjalanan ke India, kebetulan sedang berlangsung festival Holi yang hanya berlangsung satu kali dalam setahun. Keikutsertaannya dalam festival tersebut meninggalkan kesan yang mendalam baginya.

Ana Kecil: traveling guide untuk moslem traveler

Rini: dikaitkan pada makanan, lebih baik silakan cari restoran vegetarian jika sedang ber-traveling, dan ingatkan penjualnya untuk tidak menggunakan bahan+bumbu masak yang tidak diinginkan (misalnya: minyak babi). Untuk tempat tinggal, biasanya di lokasi backpaking, selalu disediakan female dorm, jadi tidak menjadi masalah.

Tita: memang ebnar, mencari makanan halal sama susahnya dengan mencari makanan untuk tipe vegetarian. Selain makanan, yang perlu dipertanyakan adalah apakah kita mempermasalahkan hal-hal tertentu terkait keyakinan masing-masing, misalnya soal kunjungan ke gereja-gereja. Jadi, pilihlah lokasi yang ingin dikunjungi sesuai dengan yang diinginkan.

Roos: kejadian paling tidak menyenangkan ketika melakukan traveling (jalan+jajan)

Tita: kejadian yang tidak menyenangkan bagi Tita lumayan banyak, namun ia mencoba untuk selalu berpikir bahwa itu menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah perjalanan (perjuangan).

Rini: pengalaman perjalanan yang tidak menyenangkan adalah ketika ia pernah ditolak terbang oleh salah satu maskapai penerbangan. Ia menceritakan perjuangannya yang panjang nan berliku untuk bisa mencapai Guam, salah satu teritori Amerika Serikat yang tidak memerlukan visa untuk berkunjung. Menurutnya, traveling itu kesusahan dan kesenangannya itu berbanding lurus.

Tata: belum pernah mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan ketika melakukan food traveling, mungkin hanya pada kebosanan pada satu menu yang diolah dari bahan sama, atau juga ketika menemukan menu yang tidak sesuai dengan ekspektasi awal.

Sebelum diskusi ditutup, moderator melontarkan pertanyaan tentang next step yang akan diambil (direncanakan) oleh masing-masing pembicara

Tata: belum ada rencana pasti, sedangkan untuk penerbit bukune sedang menjajaki kemungkinan menerbitkan buku-buku traveling.

Rini: sedang menulis buku kedua, tentang Jakarta, tapi konsep utuhnya sedang didiskusikan.

Tita: sedang menulis buku tentang UK trip, cover sudah di-approve oleh penerbit tapi isinya sedang disusun. Sedangkan proyek idealis adalah untuk menulis buku serupa Tales fro the Road yang khusus Nusantara.

Selepas diskusi, acara dilanjutkan dengan kuis dan foto-foto bareng, pengunjung dan pembicara.

Hmm, bagi saya pribadi, traveling sudah menjadi mimpi yang ingin sekali segera terealisasi. Tidak muluk-muluk ingin langsung ke luar negeri, eksplorasi tempat-tempat menawan di dalam negeri saja sudah cukup. Danan Toba (Medan) dan eksotisme Raja Ampat (Papua) adalah dua tempat impian untuk traveling bagi saya, hehehe….. Mari galakkan menabung untuk persiapan membiayai traveling sekaligus mencicip aneka makanan di masing-masing tempat yang dikunjungi.

Sampai jumpa pada diskusi klub buku Goodreads Indonesia pada kesempatan berikutnya. Terima kasih.


message 23: by Sweetdhee (new)

Sweetdhee | 1593 comments wew.. Lpmnya lengkap
*ngelirik yg br bangun tidur sambil keplak-keplok


message 24: by Sweetdhee (new)

Sweetdhee | 1593 comments pengen ke Tibet!
tapi setelah keinginan nae haji tercapai tentunya.
Ah.. Pengen jalan2....


message 25: by Indri (new)

Indri Juwono (indrijuwono) | 2862 comments LPMnya mewakili buat gw yang cuma lewat doang sbg cameo dan kepaksa malah ikut episode kejar2an di toko buku untuk kesekian kalinya..


message 26: by Sweetdhee (new)

Sweetdhee | 1593 comments oia, untuk sementara ke Tebet juga gapapa..
daripada ga ada..
huehehehehehehe

Harun Harahap wrote: "Ngapain ke tebet? Mau wiskul ma Naga?"


message 27: by miaaa, Moderator (new)

miaaa | 2354 comments Mod
whoooooooooooaaaa jul gimana kalau lpm tiap bulan dikau saja hahahaha :p

sebenarnya masih banyak pertanyaan tuh yg pengen diajukan tapi lain kali saja deh hehe


message 28: by owl (new)

owl (buzenk) | 1651 comments :( nyesel kemaren ga dateng
*nangis guling2


message 29: by Speakercoret (new)

Speakercoret | 2571 comments owl wrote: ":( nyesel kemaren ga dateng
*nangis guling2"


|-(


message 30: by an (new)

an (drogini) | 488 comments tumben lpm na cuma 2 ronde?

-ngikik-


back to top