Goodreads Indonesia discussion

145 views
Klub Buku GRI > Baca Bareng Buku Puisi "Sub Rosa" Poems oleh Aurelia Tiara

Comments Showing 1-50 of 224 (224 new)    post a comment »
« previous 1 3 4 5

message 1: by Roos (last edited Aug 31, 2010 03:52PM) (new)

Roos | 2991 comments Hai Temans,

Setelah ber-Adonis ria, bulan September ini kita baca bareng buku puisi Sub Rosa Poems oleh Aurelia Tiara. Buku ini sudah diterbitkan 4 tahun yang lalu yaitu 2006, tapi gak ada salahnya kalau kita baca bareng pada bulan virgin ini. Tidak berhubungan sebenarnya, hanya buku puisi ini sudah agak susah didapatkan di toko buku, jadi buat yang pengen baca bisa baca disini. Atau kalau mau lihat lengkapnya bisa main-main ke Blognya Seorang Senja di Blog Puisi Aurelia Tiara

Dan buat teman-teman yang mempunyai informasi tambahan mengenai buku ini ataupun mengenai penulisnya, silahkan share di thread ini yah. Pokoknya wajib bagi-bagi informasi dan ilmunya. Dan buat yang mempunyai bukunya, boleh lho bantuin ngetik, dengan cara judul di-bold dan halaman ditulis di belakang Judul dengan tanda kurung, bisa dilihat nanti contoh dari roos yah.

Bagi yang sudah pernah, sedang ataupun akan membaca buku ini, boleh kok dishare di thread ini pengalamannya, apa kesan-kesannya setelah membaca.

Selamat membaca dan semoga suka!

Terima kasih.


message 2: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Dan sedikit mengenai Aurelia Tiara, roos ambil dari halaman terakhir dari Buku Sub Rosa ini.

AURELIA TIARA WIDJANARKO,
Lahir di Jakarta, 18 Juni 1983. Menjalani pendidikan formal SD, SMP, dan SMU di bawah naungan yayasan Tarakanita. Mengambil gelar S1 di FISIP Universitas Pelita Harapan dengan minor jurnalistik, lulus dengan predikat summa cum laude dalam jangka waktu tiga tahun. Di 2006 ini, Tiara tengah menyelesaikan S2 di Presetya Mulya Business School, sekaligus menjadi dosen di almamater terdahulunya. Ia juga bekerja sebagai managing director majalah Device dan sedang sibuk mengurus pembukaan INDEX, toko music apparel miliknya. Menjadi model dan pemain film, berlatih vokal hingga bermain musik seakan belum cukup menyita waktunya. Namun menulis dan menikmati indahnya buana di balik lensa kamera tetap menjadi nafasnya. Kesibukan terakhir saat buku ini dibuat adalah bergabung di dalam IKANS (Ikatan Abang None Selatan).


Blogsite : seorangsenja.blogspot.com
Email : aurelia_tiara@yahoo.com


message 3: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Dan beberapa endorsement mengenai buku maupun penulisnya:

Menulis adalah terapi jiwa, keseimbangan emosional dan rasio. Walaupun Tiara menunjukkan sikap hati-hati di dalam perjalanan hidupnya, yang terbias di balik lirik-liriknya tetap dapat ia sampaikan dalam tutur yang indah dan puitis.

Setiap generasi melahirkan ekspansi gaya tata bahasa, maupun gaya metafora. Tiara adalah salah seorang wakil generasinya, yang kadang dapat menginspirasi bagi generasi sebelum dan sesudahnya.

Ketika seseorang sudah berani menulis, dan sudah berani membagi tulisannya, maka akan terasahlah isi benak yang masih bertumpuk, hingga menulis menjadi sebuah keindahan, yang tak kan pernah berhenti. Terus berkarya! (Inggrid Widjanarko)
-----


KATANYA seorang romantis tidak realistis dan seorang realistis tidak mungkin bisa romantis. Tapi Tiara menjumpalitkan pendapat itu. Puisi –puisinya realistis romantis, dan menginspirasi kita untuk merasakan sesuatu yang lain dibaliknya. Kesedihan tidak jadi duka, kebencian dia jadikan sebuah lelucon, tapi bisa kita rasakan keresahannya.

Catatan : Saya pernah dua kali membacakan beberapa puisi milik Tiara di sepan temu nasional aktifis perempuan Indonesia. (Jajang C. Noer).
-----

(diri)MU – TIARA
Part 1: gemuruh deru burung baja membelah angkasa...
berdecit lingkaran bundar penopangnya beradu tanah.
Dan,BERHENTI. Tak sabar sesosok melangkah riuh
dalam langkahnya yang ke puluh ratus juta dalam beda
berganti-ganti rasa dan warna, melenguh tiap kali
kumpulan jiwa di depannya menghalang, menghadang.
Cuma satu ingin, kembali secepat kilat mengejut bumi,
menyentuh sebuah indah.

Part 2 :gemerincing kunci-kunci terangkat dari senyap
penghujung tas. Membuka baja pelindung
bangunan teduh bernama rumah. Melesat sesosok
menuju ruangan teraman di muka bumi untuk dirinya.
KAMAR. Dibenamkan sejiwa, raga dan hati ke dalam
SUB ROSA.

Part 3: tak perlu menunggu lama...22 menit sudah
berlalu. Penghujung buku ujung kukuku...ahh,
mengapa waktu begitu pesat bergerak? Kusesali 22 menit
itu. Kusesali karena sedang kurasakan indah...sedangku
termangu seperti menatap Firdaus yang berpelangi,
kadang menimbulkan kejut yang asyik...kerjap tak
percaya...walau juga kerut tak sefaham dan beberapa
tak membongkar rasaku...ujung kuku membuka lembar
terakhirmu.

WHATTTT? 23 TAHUN HIDUPMU DI BUMI?
Dan indahmu telah menantang,memaksa untuk
meresap, menjalar, menggetar, melegakan sukma?
Duhai, Sang Indah ciptaan indah pencipta yang indah...
semaikan terus kepedihan menjadi indah, kegalauan
menjadi kesan, kebimbangan menjadi pesan dan
kemenangan menjadi rendah hati...karena kau adalah
INDAH dan SEJUK yang telah lama dinanti BUMI...
maka berdirilah di atasnya dengan KOKOH tanpa
kehilangan GEMULAImu. Wahai Bumiiiiii...
SELAMAT ATAS PEROLEHAN KELAHIRAN YANG
INDAH INI. (Peggy Melati Sukma)
-----

Tiara membangun bait-baitnya dengan diksi yang begitu pribadi sehingga membaca kumpulan puisi ini membuat saya merasa seperti sedang mengintip catatan rahasia orang lain. Lewat penggunaan imaji yang mudah dicerna tanpa menjadi klise, Tiara mengajak kita untuk mengunjungi perasaan yang pernah singgah di hati. Mengingat kembali gejolak yang pernah membuatnya berdenyut juga meradang. Membuka kenangan bahkan luka lama. Oleh karena itu, saya jadi curiga: bukannya sedang berbicara tentang emosi-emosinya sendiri, Tiara justru ingin membongkar rahasia kita. Tidsk perlu merasa kecolongan karena menurut saya, inilah salah satu keajaiban puisi. Ia mampu menggelar perbincangan tentang hal-hal yang paling intim tanpa harus mengundang ketidaknyamanan, dan inilah yang terjadi dalam puisi-puisi Tiara. Ya, Sub Rosa membebaskan rahasia tetapi tetap menjaga pintumu terkunci. (Gratiagusti Chanaya Rompas; komunitas Bunga Matahari)


message 4: by Roos (last edited Aug 31, 2010 03:43PM) (new)

Roos | 2991 comments Lalu apakah Sub Rosa itu:

Sub Rosa / kb. Di bawah bunga mawar / sebuah pembicaraan tidak terbuka bagi umum bila digantungkan bunga mawar di pintu ruang pertemuan.

Penemuan rasa, perjalanan, rindu, klimaks, ingkar, dan ikhlas. Tak semua kisah cinta berakhir bahagia, pun tak mengubah kenyataan kita (pernah) bahagia. Inilah rangkaian kata menjadi kalimat, saat rasa menguasai layaknya codein, dan tak ada lagi yang perlu disembunyikan...


message 5: by Roos (last edited Aug 31, 2010 03:44PM) (new)

Roos | 2991 comments Yakkks...kita mulai langsung saja, dua puisi dulu yah.

Wrananipun (hal.13)

Alasanku hari ini adalah enggan.
Tatap muka sungguh berat,
bahkan lebih dari sekarung bara.

Rupanya kita terserok,
lalu ramai-ramai masuk kotak.
Keluar saat malam tiba,
dan kelir terpasang rapih,
dengan berpuluh mata siaga.

Dari dulu sudah begitu,
kita hanya lakon belaka.
Iku ularana den kepanggih,
tahukah apa yang kau cari?


message 6: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Kalimat Sakti (hal.14)

Tiupkan mantra,
pada kelopak yang berat,
ucapkan aku sayang kamu,
dan dunia kembali berwarna.

Dan bangun saja taman bunga,
di sisiran pantai penuh karang,
lalu di balik telinga puan,
tersiar indah seantero buana.

Pernah percaya,
hati keras dan mata hati,
pada kekuatan cinta.


message 7: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Lanjuuuuuuuuuut....

Anak Harapanku (hal.15)

Hari ini tanaya mati,
melompat keluar dari rahim,
dengan jantung tak berdenyut.

Bilik harapan penuh sesak,
nafas tak lagi leluasa.
Begitu banyak asa,
dan sedikit oksigen.


message 8: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Lafal Lidahmu (hal.16)

Gilang gemilang,
dengan wangi cendana.
Nestapa dalam balutan sutera.

Pengarang bunga kata,
Karamkan jantung hati.


message 9: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Sudut dan Subjek (hal.17)

Terang-terang laras,
saat semua lengkap.
Sampai muncul riak,
dan itu menggangguku,
tapi tidak untukmu.

Matari jatuh,
kau sembunyikan cahaya,
di kantung celana,
semua masih terang-terang laras.


message 10: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Sadagati (hal.18)

Rindu bercermin,
pada diri yang berontak,
bukan berarti tak bertolak.

Dahaga rasa,
tuangkan pada lensa,
pun kanvas manusia.


message 11: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Kau (juga) Sebuah Mimpi (hal.19)

Selamat pagi,
udara dingin,
secangkir kopi.

Kau masih melesak,
terlelap di sofa sebelah.
rampai-rampai mimpi,
berserakan di baju.

Selamat pagi,
percakapan beku,
secangkir pupur.


message 12: by Roos (last edited Sep 02, 2010 03:21PM) (new)

Roos | 2991 comments Pas banget puisi diatas pagi2...:-p


message 13: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Panggung di Atas Sungai (hal.20)

Linang, berkilau-kilau.
Sebulan penuh lampu sorot,
hulu ke hilir, melincir perlahan.

Bukan musim limbat,
tapi malam ini digelar satu judul,
tentang ceraian mimpi.


message 14: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Langitku (hal.21)

Kuseka pilu di lembar akhir,
buku-buku susuri tangga kata.

Terima kasih tuk malam tadi,
aku rupanya tak merekayasa kerlip mimpi,
yang kubangun di langit orang lain.


message 15: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Tujuh (hal.22)

Samskara, ingin dekati sempurna,
bulat hingga hitungan ketujuh.
mungkin itu hanya ingin-inginan,
angan yang berlebih-lebihan.


message 16: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Tiket Satu Arah (hal.23)

Nanti kita pasti bersama,
duduk bergelung rapatkan kaki,
mungkin dengan secangkir kehangatan,
yang selalu kubuatkan untukmu,
dan kau bagi dua denganku.

Di suatu fajar, entah bukit yang mana,
di suatu senja, entah semburat yang mana,
mungkin juga suatu malam,
entah khayal atau bukan.


message 17: by Ayu, Moderator (new)

Ayu Yudha (ayu_yudha) | 1290 comments Mod
artinya wrananipun sama sadagati itu apa sih kak roos? puisinya bagus2. aku suka yg anak harapanku sama tiket satu arah.. :)


message 18: by Ayu, Moderator (new)

Ayu Yudha (ayu_yudha) | 1290 comments Mod
eh yang kau (juga) sebuah mimpi juga mantaps.. :p


message 19: by Helvry (new)

Helvry Sinaga | 366 comments Roos wrote: "Tiket Satu Arah (hal.23)"
Like This!


message 20: by an (new)

an (drogini) | 488 comments entah khayal atau bukan


message 21: by Abdyka (new)

Abdyka Wirmon (abdyka_wirmon) | 286 comments hohohoho.. saya punya buku ini.

saya sangat bersemangat, ini untuk pertama kali sejak saya gabung GRI akhir bisa ikut klub baca baca bareng bulanan :D

kalo ga salah beli buku itu awal 2007, disebuah Bazaar pernah ilang trus ketemu lagi *nyelip dibelakang lemari* dan sekarang... kayaknya ilang lagi *ngubek2 lemari*


message 22: by Roos (new)

Roos | 2991 comments @Dyka: Dykaaaaaaaaaaaaaaa....bantuin ngetik dong...hehehe...*nodong tiada tara*


message 23: by Roos (new)

Roos | 2991 comments @Ayu: tahan dulu yah penasarannya...belum nemu yang bisa jawab euy...hehehe. Sabar yah...hehehe.

Untuk sementara aku lanjutin dulu yah.


message 24: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Sebuah Penghormatan (hal.24)

Aku merindumu.
Ya, saat ini saja.

Karna pernik kecil darimu,
yang biasa kusematkan pada topi.

Dengan berat yang buatku merunduk,
tapi bukan tunduk,
lebih dalam dan dalam lagi.


message 25: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Kosongnya Langit (hal.25)

Semua kembali berjatuhan,
dari secarik dua penanggalan,
tak luput dari ingatan.
semua kecuali satu.

Jika mendung bisa tergusur,
oleh bayu semudah kapas muka,
ku ingin resah digulung langit,
tak apa walau nanti tanpa bintang,
dan juga sinar bulan.


message 26: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Rindu yang Sederhana (hal.26)

Aku rindukan kau,
saat pandang melayang,
usik malam yang senggamai bulan.

Bahkan pada letupan air mendidih,
yang lukai punggung tanganku.
Menyaru rasa yang menggedor dada,
perih dan begitu melegakan.

Aku rindukan kau,
sesederhana itu.


message 27: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Abhiniwesa (hal.27)

Pagi tak usah lagi kupungut kau,
yang berlepasan dari mimpi semalam.
Kau telah lekat di dalam benak,
pun tiap inci ku memandang.


message 28: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Tiada-ku dan –mu (hal.28)

Masuklah citarasaku dalam papir di sakumu.

Yang kau gulung itu adalah rasa,
dari aku yang berdetak karenamu.
Candui aku, nikmati tiap sesapmu,
karna aku adalah kamu.

Bernafaslah dengan lega, dariku.
mari kita bagi dua, tiap-tiap hari,
yang tersisa untukku.

Sehingga tak pernah kudengar lagi,
satu pergi tinggalkan kosong.


message 29: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Surut Tak (ha.29)

Nanti, saat bumi tak lagi bundar,
penuh koyak dan atmosfer beku,
aku ingin tetap disini.

Atau mungkin disana,
terlelap selagi menanti,
menggenggam erat jemarimu.

Satu dan dua, untuk kerut di dahi,
dan juga lipatan di bawah dagu.
Takkan ada yang luntur darimu,
sama seperti rasa tak dicuri waktu.


message 30: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Asamadhi (hal.30)

Buyar sampai kerikil,
tanah pecah jadi debu,
dan angin membawa pergi.

Setinggi menara,
sekokoh benteng,
depa demi depa,
meranggas

Samadinya buyar,
pisah raga dari rasa,
mati dalam perang.


message 31: by an (new)

an (drogini) | 488 comments lanjut.....

Terang Sinar Bulan (hlm. 31)

Jalan bintang-bintang,
yang tak ranum jelaga,
jenuh dengan kilat.

Sinar matahari, fajar,
api, halilintar, dan kau.

Kau yang jyotimaya,
bukan sekedar serat belaka,
nanti kita lahirkan jyosna.


message 32: by Ayu, Moderator (new)

Ayu Yudha (ayu_yudha) | 1290 comments Mod
@kak roos: makin banyak yang pengen kutanyain artinya nih.. segera cari yang bisa jawab ya. hehehe :p

*duduk manis nungguin puisi yang lain*


message 33: by an (new)

an (drogini) | 488 comments ikutan nanya, jyotimaya ma jyosna itu arti na apa ya? ;)


message 34: by an (new)

an (drogini) | 488 comments Dalam dan Serambi (hlm. 32)

Nyaris jadi majenun.
Untung saja aku diingatkan,
tuk menyapu serambi kalbu,
lalu dicuci bersih-bersih,
sampai kalis kembali.


message 35: by an (new)

an (drogini) | 488 comments Dearest champ... (hlm. 33)

Nampaknya ini putaran terakhir.
Entah dengan urutan pelari,
hanya kua yang kulihat,
di tengah debu dan strip putih itu.

Aku tunggu di garis akhir ya!
Siap memelukmu seutuhnya.
dengan peluh dan rasa kecewa,
pun air mata serta mendali.


message 36: by an (last edited Sep 04, 2010 10:18PM) (new)

an (drogini) | 488 comments sambil menunggu yang punya rumah pulang:

Belati Rindu (hlm. 34)

Bila nanti kau ditikam rindu,
sampai-sampai habis nafasmu,
ketahuilah bahwa aku sudah menjelma,
menjadi serpihan yang mengering,
di sudut matamu...


message 37: by an (new)

an (drogini) | 488 comments nb: serihan mengering di sudut mata tu belekan kan ya nama na?


message 38: by an (new)

an (drogini) | 488 comments satu puisi lagi sebelum pulang:

Kata Pulang (hlm. 35)

Kucari kau kemana-mana,
pagi saat kulelap tak sambut matari,
malam kian kentara kubaru terjaga.

Kucari kau kemana-mana,
bahkan dalam dekap kicau kenari,
yang kukenal hampir belasan tahun,
nyaris seusang sepatu tua di sudut kamar.


message 39: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Berikut penjelasan dari Om Anto, mengenai kata Wrananipun:

Kata yang adanya cuma di kamus, bukan di percakapan sehari-hari. Ya memang kata-kata jawa [kuna], tapi sudah kata jadian sehingga agak sulit mengatakan dengan tepat apa maksud penyairnya memilih judul dengan istilah2 kuna itu.

Wrananipun, itu kayaknya berkata dasar WRANA yang berarti kelir, penyekat, yang juga bisa berarti representasi, wakil, pengganti. Mirip kasus wayang di mana bayangan pada kelir itu adalah representasi dari tokoh2 yg diceritakan dalam pertunjukan wayang itu.
dalam puisi yg berjudul wrananipun ini, penyair menggunakan idiom yang dikenal dalam dunia wayang: masuk kotak, muncul tengah malam, 'ularana den kapanggih' [carilah hingga ketemu] yaitu adegan terakhir di setiap pertunjukan wayang kulit ketika dalang mengeluarkan boneka [golek] yang tujuannya mengingatkan penonton utk 'nggoleki'[mencari] makna dari kisah yg berusan ia pentaskan.

Semoga bisa menjelaskan maksudnya. Seandainya Penyairnya bisa ikut gabung, bisa kita tanyakan langsung yah.

@Ayu: tapi jangan diartikan secara harfiah, bahasa puisi berbeda dengan bahasa sehari-hari soalnya.


message 40: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Ada lagi masih dari sumber yang sama:-p
SADAGATI itu artinya tujuan yang abadi. The eternal goal.
ABHINIWESA itu konon berarti menggumuli, memikirkan secara mendalam, masuk hingga ke dalam-dalamnya.


message 41: by Roos (new)

Roos | 2991 comments @Rhe: tahan dulu yah...mau nanya ke narasumber juga...hehehe. Lanjut dulu yah...

Humor (hlm. 36)

Sekali ini lelucon sebuah kata.
Membuatku tertawa,
entah di kilasan yang mana.

Malam itu aku dan kau,
di tengah kerumunan para absurd.
Serasi nampaknya, begitu adanya,
macam titik dirunut garis.

Aku mulai merindu,
masih kau dan kata populis itu,
yang tlah bergandeng mesra,
bahkan sedari awal.

Sungguh janggal,
aku dan kau,
bahkan rasa ini.


message 42: by Roos (last edited Sep 05, 2010 03:20PM) (new)

Roos | 2991 comments Rasionalitas Bercinta (hlm. 39)

Sebidang angan tepat di jantung hati,
gembur dan siap tuk ditanami.

Dalam partikel halus dan kasar,
mereka bukan sasaran tembak.

Air mata pun bukanlah skor di papan,
yang digurat dengan kapur.


message 43: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Soliter (hlm. 40)

Rintik di sudut mata,
menghambur begitu saja.
Rupanya duka dan suka cinta,
seiring sejalan dalam tiap tarikan nafas.

Terang sebelum mendung,
renik sebelum lebat,
sepanjang jalan.


message 44: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Akhir Persinggahan (hlm. 41)

Daun disiakan pohon yang menua.
Ah, perjalanan yang melegakan,
di sore hari, yang masih terik.

Terdengar ricuh di ujung gang,
arak-arakan semalam suntuk,
lampion warna jingga sayup-sayup cahaya.

Diam-diam masih mencintaimu,
di tempat kenangan kita.


message 45: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Duniaku (hlm.42)

Gombal gambil dengan kata,
mereka adalah mati,
tak sisakan debat kusir,
bahkan jika nyawa bertahta.

Teriak spontan pada kertas buram,
coret dan tambahkan awalan,
maka kini resmi kita tlah pisah.

Ah, bukan frase sesendok teh,
pun segunung kalimat retoris banyaknya.

Karna kita adalah kita!
Tak pernah merasa dikalahkan,
apalagi merasa menang mutlak,
pun bersyarat.

Cinta adalah rasa,
yang tak bernominal.
Walau aku hanya di dunia (ku).


message 46: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Junjung (atau Jinjing) Cinta (hlm 43)

Pandangku tinggi, pegal leher dibuatnya.
Bintang gemerlap yang erat pada matari,
oh, kujadikan dia langitku.

Bunga setaman terkikik,
pelanduk menatap bingung,
dan mereka terpana..

Ada angsa rupawan yang jatuh gila,
mengapa, aku bertanya.

Dia berkaca pada muka laut,
dengan riak ombak dan halus pasir.

Keliru dan percaya,
semua bintang bertempat di langit,
oh, junjunganku...


message 47: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Selintas Mimpi (hlm. 44)

Aku ini hanya mimpi,
yang ditenunkan olehnya,
pada selembar kesabaran.

Mingkin nanti, dingin mendesakku,
aku tersebar antara batu-batu jalanan.

Tak usah dicari,
aku ini sebuah mimpi.


message 48: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Anak Kunci yang Hilang (hlm. 45)

Sekeping saja, sembuh sudah retakan yang ada.
Benang sutera tenggelam dalam bilur sepanjang bulan Juni,
aku pernah berlabuh, dan kini aku istirahatkan berontakku.

Aku pungut rasa yang tak terbilang,
dalam kotak kenangan yang kau berikan.

Indah janjimu, hidupkan aku kembali.


message 49: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Dejavu (hlm. 46)

Membayang di balik mata ini,
lembaran memori setumpuk tebalnya.

Sungguh ingat genggam tangan,
lewati penggalan arus lalu lintas,
dan aku, percaya.

Kupetakan jingkat kaki dalam tari unicorn,
dalam sinar rembulan dan tampias air,
kakiku basah, dan mataku basah..

Sematkan ini pada telinga kanamu,
aku telah jatuh lagi dalam rasa,
kepadamu.


message 50: by Roos (last edited Sep 07, 2010 03:29PM) (new)

Roos | 2991 comments Esensi Manusiaku (hlm. 47)

Aku lantunkan keriaan dalam hati,
akan suka dan pujian pada sang waktu.

Dia tinggalkan kita disana,
isolasi rasa dan mungkin memori,
lewat puluhan frame tak tergantikan.

Semu yang bertik tok,
bergema layaknya tawa,
merasa paling kuasa.

Nyaris subuh saat kutarik nafas dalam-dalam,
hari ini aku tak boleh luput mencintaimu.

Barang sedikit pun, sedetik pun,
seinci pun meleset dan tak melesat,
sampai ke jantung hatimu.


« previous 1 3 4 5
back to top