7 Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint 7 Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint discussion


56 views
Presentasi

Comments Showing 1-4 of 4 (4 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by za (last edited Aug 25, 2016 12:25PM) (new)

za Wah, istilah ini sudah telanjur kebablasan. Apakah presentasi selalu dibuat dengan perangkat lunak Power Point? ;-)

Saya baru tahu ada buku ini. Bisa cerita sedikit, bocoran buku ini? Coba saya tebak. Dosa pertama: membuat pendengar malas mencatat, dan kemudian semua materi presentasi menguap begitu saja.

Ada pemeo seperti ini kurang lebih:

when you see, you get 20%. When you hear, you get 40%. When you write, you get 90%.


message 2: by Isman (last edited Aug 25, 2016 12:27PM) (new) - added it

Isman Menurut saya sih baca dulu saja, za. (Perhatikan bahwa saya tidak meminta beli dulu. Baca aja. Cari contoh di toko buku yang terbuka. Atau pinjam dari teman.) Setahu saya, saya tidak pernah menulis dalam buku tersebut bahwa presentasi selalu dibuat dengan perangkat lunak PowerPoint.

Lantas mengapa judulnya begitu? Itu juga dijelaskan dalam buku. Intinya, yang saya sebut "dosa besar" adalah salah kaprah dalam presentasi. Salah satunya adalah pengkaitan PowerPoint = presentasi itu sendiri.

Memang PowerPoint sudah menjadi ikon dalam presentasi. Tahun 2003 saja sudah ada 4 juta kopi yang terjual resmi. (Belum menghitung yang tidak resmi, hehe.) Dan penggunaannya bukan hanya di kalangan bisnis. Tapi juga di akademik, militer, hingga bahkan kehidupan rumah tangga. (Ada kasus seorang Ibu yang menggunakan PPT kepada anak-anaknya agar lebih disiplin. Kedua anaknya masih trauma sampai sekarang.)

Tapi seperti yang za sampaikan. Presentasi bukanlah PowerPoint. Ini salah satu salah kaprah terbesar.

Lalu, mendorong pendengar untuk mencatat bisa jadi malah membuat inti presentasi itu hilang. Karena fokus perhatian bisa hilang. Namun, tentu saja, ini tergantung jenis presentasinya. Intinya, buku ini tidak mewajibkan bahwa "presentasi itu harus begini atau begitu". Tapi menunjukkan bahwa ada sejumlah salah kaprah. Termasuk berpresentasi itu sendiri. Sebenarnya, kita bahkan bisa saja hanya berdiri di depan ruang dan mengajak hadirin berbicara. Itu juga berpresentasi. Buku ini lebih menunjukkan bahwa ada pilihan lain.

Pilihlah suatu cara karena memang itu yang kita anggap terbaik. Bukan karena kita tidak tahu atau (yang lebih parah) tidak peduli.

Oh, ya, idiom itu ada versi lainnya, Za. Yang saya tahu, "...When you write, you get 60%. When you teach, you get 80%."

Sayangnya, aku kurang setuju juga dengan yang versi ini. Karena kadang kalau kita mengajar kepada orang lain, kita bisa dapat 120% atau bahkan lebih. Ada hal-hal baru yang bisa kita temui.


message 3: by za (last edited Aug 25, 2016 12:40PM) (new)

za Wah sudah 4 juta kopi? Wow! Fantastis. Buku yang sedang mau saya susun, bisa dicetak sampai 500 saja saya sudah akan senang sekali.

Ya, dengan mengajar kita selalu belajar! Maklum, saya sedang ikut berselancar di gelombang Open Source, jadi presentasi kan tidak harus selalu dengan Power Point ;-)


message 4: by Isman (last edited Aug 25, 2016 12:44PM) (new) - added it

Isman Eh, jangan salah paham. Yang 4 juta kopi itu penjualan lisensi MS PowerPoint di seluruh dunia. Kalau buku ini laku segitu banyak sih, super duper Alhamdulillah, haha.

Ya, tentu saja, za. Sayangnya, nama OpenOffice Impress saja orang banyak nggak tahu. Paling keynote di Mac. Intinya sama. Yang menggunakan keduanya pun melakukan salah kaprah serupa.

Banyak pengguna Keynote yang lupa bahwa itu hanyalah alat bantu presentasi yang tampak lebih keren daripada PowerPoint. Kita (sebagai hadirin) nggak butuh efek transisi yang berputar-putar, seperti dinding jatuh, menjadi kubus dll. Kalau itu hanya sekadar buat keren-kerenan. Gunakan semua itu hanya jika kita memiliki pesan sesuai yang ingin kita sampaikan.


back to top