Pembaca Buku Pramoedya discussion

69 views
Suatu Hari di Bojong Gede (Rumah Pramoedya)

Comments Showing 1-26 of 26 (26 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Pandasurya (last edited May 17, 2010 08:48PM) (new)

Pandasurya | 224 comments Berikut ini adalah tulisannya bung Daniel Mahendra

BOJONGGEDE, 12 JULI 2005

Pintu gerbang besar rumah nomor 9 itu kubuka pelan. Halaman luas terpampang di depan mata. Di sisi kanan terhampar kolam renang dalam beberapa ukuran. Di pinggirnya dilengkapi dengan berbagai mainan anak. Persis taman kanak-kanak saja. Di sisi kiri suara gemericik air menambah segar atmosfir suasana.

Aku berjalan perlahan menaiki teras rumah bertingkat "enam" itu. Pintu ruang tamu terbuka menganga. Sepi. Kulihat mbak Titi sedang bicara di telpon di ruang makan dalam. Iya tersenyum menyuruh masuk. Aku hanya mengangguk.

Aku urung masuk. Aku kembali turun dari teras. Melihat suasana sekitar. Mata kutebar ke setiap sudut halaman. Cukup sejuk meski matahari menyorot gerah. Ladang ada di ujung halaman. Aku berjalan ke samping rumah. Mengitari garasi mobil. Tiba-tiba kulihat pak Pram sedang berdiri di bagian samping rumah. Di samping sebuah meja. Aku tersenyum melambaikan tangan. Ia tertawa lebar. Aku menghampirinya. Ia berjalan mendekat. Membuka pintu besi pembatas.

Kaus oblong putih, tampak tak cukup bersih. Dililit sarung warna biru yang digulung sebatas perut. Aku menyalaminya. Memeluknya. Seperti biasa ia terkekeh-kekeh dengan tawa tuanya. Jenggotnya tak terurus, batinku dalam hati. Dan tubuhnya, begitu kurus sekali. Sangat kurus!
"Masuk!" ujarnya.

Mbak Titi menyambutku. Aku teringat sebungkus plastik buah apel dan jeruk yang tadi sempat kubeli dalam perjalanan ke Bojong, yang lalu kuserahkan pada si mbak.
"Apa ini?" tanya mbak Titi. Aku hanya nyengir. Pak Pram tertatih-tatih masuk dari dapur.

Aku sudah duduk di samping ruang tamu. Di bawah tangga menuju perpustakaan. Pak Pram mengeluarkan sebatang Djarum Super dari bungkusnya yang kulihat tinggal beberapa. Aku langsung mengeluarkan Gudang Garam Surya 16 dari kantung ransel hitamku. Acaranya: merokok bersama.

Soal merokok bersama, aku selalu teringat cerita bung Alfred Ticoalu yang selalu menikmati kenyamanan merokok bersama pak Pram. Apalagi selama pak Pram keliling Amerika tahun 1999 lalu. Itu mulut nggak ada hentinya! Persis sepur!

Ya, acaranya memang merokok bersama pagi itu. Aku dalam perkunjungan santai. Mbak Titi keluar membawa beberapa gelas air mineral. Pak Pram minta yang dingin. Merokok bersama pun disambung dengan bincang- bincang santai.

Sesekali mbak Titi ikut duduk bergabung. Ngobrol tentang apa saja. Tentang merokoknya yang tak pernah henti. Tentang olah pernafasan setiap mau tidur. Tentang rasa malas makan yang kini menghinggapinya. Tentang ensiklopedinya yang belum kelar-kelar. Ngobrol tentang jalan ke Bojonggede yang menurut pak Pram tidak manusiawi. Ngobrol tentang Jakarta. Ngobrol tentang ibunya. Ngobrol tentang TBC. Ngobrol tentang keinginannya menulis surat tuntutan pada Harto (istilah pak Pram menyebut Soeharto, mantan Presiden RI). Namun tangannya sudah tak kuat lagi. Ngobrol tentang apa saja.


message 2: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 224 comments Rata-rata memang tema lama. Dan semua pernah diobrolkan. Hanya hal- hal keseharian saja yang tampaknya bisa dianggap up to date. Mbak Titi datang lagi ke meja membawa sesisir pisang. Batang kedua pun dibakar. Aku mencomot sepucuk pisang.
"Beli atau dari ladang ini, Mbak?" tanyaku.
"Beli!" jawab mbak Titi.
Aku ngakak. Pak Pram hanya bengong. Tak tau apa yang kutertawakan dengan mbak Titi karena pendengarannya, menurutnya, semakin hari semakin memprihatinkan. Merasa tidak enak, kujelaskan pada kupingnya.

Aku minta ijin melongok perpustakaan di lantai atas. Pak Pram hanya mengangguk. Aku menaiki tangga. Di dalam perpustakaan kulihat Sisi, cucu pak Pram, sedang di balik meja. Mengguntingi kliping koran. "Halo! Apa kabar...?" sapaku pada Sisi. Ia tersenyum.

Sejenak aku tenggelam dalam perpustakaan. Mbak Titi kemudian menyusulku. Terlibat dalam obrolan serius. Soal tumpukan naskah- naskah setengah jadi, potongan-potongan ketikan, tulisan-tulisan pak Pram yang bertebaran, berceceran, tak menyambung satu sama lain. Kadang berupa 1 paragraf, 2 atau 3 paragraf ketikan, yang menurut mbak Titi bisa dijadikan buku jika dikumpulkan. Tumpukan itu menggunung. Di berbagai laci dan meja.

"Bisa jadi buku kan?" sela mbak Titi.
"Tapi musti dicari rantai pengikatnya, Mbak, karena berupa potongan- potongan tak berkorelasi satu sama lain."
"Kadang dia ngetik dua paragraf lalu ditinggal. Tidak mau lagi melanjutkan."

Kulihat beberapa potongan itu. Salah sebuah yang kubaca, berupa catatan harian saat pak Pram berkunjung keliling Amerika tahun 1999 lalu. Hwuaa!! Ini sama seperti yang ditulis bung Alfred Ticoalu saat menemani pak Pram selama keliling itu. Bedanya, ini catatan harian versi Pram. Kalau yang ditulis bung Alfred, tentu dari sudut pandang bung Alfred. Wah, aku tersenyum ingat bung Alfred jadinya.


message 3: by Pandasurya (last edited May 17, 2010 08:39PM) (new)

Pandasurya | 224 comments Kembali ngobrol serius dengan mbak Titi. Ribuan buku dan dokumen di perpustakaan ini mulai dirapihkan penempatannya. Sisi punya tugas segunung nih, batinku. Ensiklopedi yang pak Pram susun bertebaran di mana-mana. Sudah mulai dikategorikan berdasarkan sub-sub tema.

Bosan di perpustakaan, aku ke teras perpustakaan. Mbak Titi sudah turun. Memandang pemandangan ladang yang luas membentang. Kolam renang tampak terhampar dari atas sini. Kemudian aku berdiri bersandarkan pagar teras, memandang ke dalam perpustakaan. Musti ada kerja besar untuk mengerjakan dokumen di perpustakaan itu, batinku. Aku menarik nafas.

Aku kembali tenggelam dalam perpustakaan. Bosan pun menghampiri. Aku turun ke lantai bawah. Kulihat pak Pram masih saja dengan rokok entah batang keberapa. Tiba-tiba kulihat bu Maemunah, istri pak Pram, lewat melintas dari gerbang luar. Habis jalan-jalan kata mbak Titi tadi. Tangannya menjinjing kantung plastik. Habis belanja tampaknya. Aku berdiri menemuinya. Ia masih saja tersenyum dengan segala kecantikan masa tuanya.

Mbak Titi mengajak makan Siang. Aku mengajak pak Pram turut. Ia tidak mau. Kupaksa, tetap saja tidak mau. "Nggak ada selera," alasannya. Wah, bandel juga ini orang! batinku. Bu Maemunah mengajak makan bersama. "Makan sana..." seru pak Pram padaku. Memang bandel!

Acara merokok bersama pun dilanjutkan. Kami berdua sudah seperti kereta api. Mbak Titi hanya bisa menutup hidung kalau melewati meja kami. Aku hanya ngengir.

Aku teringat dengan rencana kawan-kawan milis MP untuk berkunjung ke Bojong. Seperti sudah kukomunikasikan pada mbak Titi beberapa saat lalu. Akhirnya mbak Titi menyepakati pada Minggu 24 Juli 2005. Juga tentang rencana pergi ke Eropa bersama pak Pram bulan Agustus nanti.

Kembali terlibat obrolan serius dengan mbak Titi. Soal buku Tetralogi yang belum rampung. Tentang cetak ulang Arok Dedes, Perburuan, Menggelinding 2, juga tentang cerpen pak Pram, "Tailalat", yang sedang kuterjemahkan dalam beberapa bahasa daerah di Indonesia, dan diterbitkan dalam bentuk buku.

Mbak Titi masuk lagi ke dapur. Keluar membawa beberapa gelas minuman 'Frutang' dingin. "Ada yang dingin?" lagi-lagi Pak Pram minta yang dingin. "Sering sekali haus saya." Aku membukakan satu gelas. Ia langsung menegukya.

"Tidur sini Daniel... " tiba-tiba mbak Titi menawarkan. Aku hanya nyengir. Dalam hati aku berkata, biar kawan-kawan lain juga menikmati keakraban ini.

-(mungkin bersambung, mungkin juga tidak)-


Depok, 13 Juli 2005
11.00 wib


D.M


message 4: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 224 comments BOJONGGEDE, 12 JULI 2005, II

"Tidur di sini Daniel…" ujar mbak Titi. Dalam hati aku bersorak. Berarti aku ada tempat menginap malam ini! Sejak dini hari tadi aku tiba pukul setengah satu pagi di terminal Depok. Pagi-pagi benar sudah bersiap ke stasiun UI untuk naik kereta listrik menuju Bojonggede.

Rumah ini besar, di punggung bukit, dengan halaman luas serta pekarangan hampir satu hektar. Disiram matahari dari pagi-siang-dan sore. Kalau siang hari pekarangan memang terasa menyengat. Tapi di teras muka justru begitu adem dan nyaman.

Untuk orang seperti aku, yang begitu membutuhkan teritori pribadi serta kerap merasa tak aman jika berada di antara banyak orang, rumah dengan tembok besar serta terlindung seperti ini sungguh nyaman. Kita bisa melakukan banyak hal tanpa harus diketahui banyak orang.

Di teras depan ruang tamu ada 3 meja kayu bundar. Dengan jarak terpisah-pisah. Sungguh nyaman duduk-duduk santai di teras ini. Apalagi sembari merokok. Di tembok sebelah kiri terpampang poster-poster wajah Pram dengan berbagai macam ukuran. Aku geli melihat poster-poster itu. Itu bisa dilakukan karena Pram seorang Pramoedya Ananta Toer.

Ia memasang poster wajahnya dalam berbagai ukuran besar dan kecil di tembok teras ruang tamu rumahnya. Orang lain bisa saja melakukan hal serupa. Tapi jika aku memasang poster wajahku di tembok teras rumahku, dengan berbagai ukuran besar dan kecil semacam itu, boleh jadi aku disebut orang gila! Barangkali.

Di ruang tamu sebelah kiri ada seperangkat meja kursi tamu lengkap. Tapi rasanya tak nyaman duduk di situ. Apalagi sembari merokok santai. Terlalu formil! Temboknya juga dihiasi foto-foto Pram dari berbagai macam ukuran. Mungkin pemberian dari banyak orang. Ada foto saat Pram dianugerahi penghargaan, lukisan wajahnya, foto Pram selagi muda, foto keluarga besar, dan yang paling menarik: foto Pram dan Ibu Maemunah di masa tua. Mereka tertawa lebar. Tampak mesra sekali. Ibu Mae menggamit Pram yang duduk. Mereka tampak bahagia di foto itu.


message 5: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 224 comments Ruang tamu itu cukup besar. Selain seperangkat meja kursi tamu formil itu, di sisi kanan (atau tengah), ada lagi meja kayu bundar. Tepat di samping tangga menuju lantai atas. Di sisinya berdiri tinggi sebuah lemari kaca. Berisi berbagai penghargaan dari seluruh penjuru dunia. Ada medali, souvenir, foto, macam-macam. Di seberang meja kayu bundar teronggok sebuah keyboard yang kesepian.

Masuk sedikit ke ruang makan ada seperangkat mesin fotocopy. Ruang makan ini memang bisa menyambung kemana-mana. "Waktu rumah ini jadi, kita lupa bikin dapur!" kata pak Pram tertawa lebar mengenang saat- saat awal mendirikan rumah ini.

Aku menyulut batang rokok lagi. Pak Pram masih menyeruput `frutang' dinginnya. Aku melirik. Kulihat tadi ia baru saja mematikan batang rokoknya yang kesekian. Isengku kumat. Kusorongkan bungkus rokok Djarum Super di meja mendekati dadanya. Ia melirikku. Tapi mengambil juga sebatang. Aku tertawa dalam hati. Jadinya ia menyulut lagi. Saat kuceritakan hal ini pada Nissa Cita, kawanku di Depok, ia menyumpahi aku habis-habisan. "Jahat sekali kamu!!" Aku hanya ngakak.

Aku memang paling suka menggoda orang yang sudah berusia lanjut. Terkadang orang dengan usia lanjut seperti itu memang pingin digoda. Kelakuannya manja dan ingin selalu dihibur atau diperhatikan. Meski itu tak pernah diucapkannya. Aku merasa menganggap pak Pram seolah seperti kakekku sendiri. Sebagai satu-satunya cucu yang merokok, bersama kakekku dari pihak ibu aku bisa menyeruput kopi sembari merokok bersama. Tak ada cucu kakekku bisa melakukan itu. Begitulah aku melihat pak Pram, yang umurnya tak beda jauh dengan kakekku.

Aku tak berani menganggap pak Pram sebagai temanku. Apalagi sahabat. Aku ragu. Apakah pantas hal itu disematkan padaku. Karena aku toh hanya salah satu dari sekian banyak anak muda yang kebetulan mengaguminya. Pram memang kuangggap guruku. Meski ia tak mau dianggap begitu. Kalau disebut teman, ada banyak orang yang lebih pantas menyandang kapasitas itu. Mereka lebih hebat, lebih dekat, juga barangkali lebih terhormat. Meski Pram tetap saja sederhana. Tak banyak meminta. Lebih banyak merendah malah memberi. Pram adalah sumber. Tapi bagi semua orang yang membaca karyanya, tentu Pram adalah seorang teman sejati. Entahlah, aku malas mempersoalkan hal ini. Sementara Pram terus saja mengepul.


message 6: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 224 comments "Imbangi merokokmu dengan olah pernafasan sebelum tidur," katanya tiba-tiba. Hal ini sudah dan selalu ia katakan sejak bertahun lamanya saat pertama kali bertemu di rumah Utan Kayu dulu. Aku mendengarkan saja. "Minum vitamin C, untuk melawan nikotin. Kamu akan sehat-sehat saja meski merokok." lanjutnya.

"Ibu saya meninggal usia tigapuluh lima tahun karena TBC. Adik juga. Waktu meninggal saya ciumi dia. Heran saya. Kenapa saya tidak tertular TBC. Waktu itu TBC tak ada obatnya." kenang pak Pram. "Luar biasa sekali ibu saya!"

Ia kemudian bercerita tentang ibunya. Cerita pula tentang masa kecil yang harus menggembala kambing. Juga tentang ayahnya yang direktur sekolah dimana ia bersekolah di sana, "Tapi saya tidak naik kelas tiga kali. Malu sekali bapak saya!"

Cerita ini tak hanya kubaca di buku Cerita Dari Blora atau Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Tapi juga berkali-kali dari mulutnya. Ya, orang tua memang kadang kerap menceritakan hal-hal yang sebetulnya sudah pernah ia ceritakan. Aku mendengarkan saja.

Kemudian obrolan bergeser pada penerbitan naskah-naskahnya. Tentang dokumentasi ensiklopedi yang sudah lagi menggunung. Setiap hari masih ia kerjakan. Saat aku datang tadi tangannya masih penuh lem. Ia baru saja menbundel dokumentasi ensiklopedi itu. Dikerjakan sendiri jilidan itu. Di perpustakaan atas tadi kulihat bundelan- bundelan itu sudah terbagi-bagi dalam beberapa tema. Ia masih tekun mengerjakan itu. "Tidak tau ini apa Titi ada dana. Tahun ini tidak ada pemasukan sama sekali." ujarnya lirih. Diam-diam aku tercekat. Tidak ada pemasukan sama sekali? tanyaku dalam hati.

Pram memang bukan orang kaya. Juga bukan orang miskin. Rumah ini memang mentereng. Berdiri kokoh tanpa tanding di kampungnya. Dilengkapi kolam renang, ladang yang luas, serta tadi kulihat sebuah mobil di garasi. "Tapi ini kan dikasih orang duitnya. Waktu keliling Amerika tahun sembilan-sembilan lalu, setiap bicara di satu kota, saya dikasih duit. Banyak sekali duitnya. Saya pulang bawa banyak duit." ceritanya sembari tertawa. "Saya bangun rumah di sini."

"Siapa yang merancang bangunannya?" tanyaku.
"Saya sendiri. Tapi lupa bikin dapur waktu itu. Hahaha!!"

Dari beberapa penerbit di luar ia memang masih mendapatkan royalti dengan baik. Tapi tidak semua penerbit berlaku lancar. Pram memang tidak pernah meminta. Memberi malah. Ia kadang mengecam penerbit luar yang tidak memperlakukan bukunya dengan semestinya.


message 7: by Pandasurya (last edited May 17, 2010 09:00PM) (new)

Pandasurya | 224 comments "Kini saya tidak bisa menulis lagi. Mengetik saja tidak kuat. Menulis dengan pulpen saja tidak kuat. Keinginan menulis selalu saja ada. Tak pernah henti."
"Kenapa tidak dilisankan saja? Lalu di-teks-kan oleh orang, barangkali?"
"Lain! Lisan itu lain. Lisan itu mendatar. Menulis itu mendalam.
Lain! Sudah habis kekuatan saya."
"Kan masih suka push-up? Sport?"
"Nggak. Sudah habis kekuatan. Ya jalan-jalan saja sekitar rumah. Saya bangun jam setengah lima pagi. Tidurnya kan jam delapan atau jam sembilan malam. Sudah nggak bisa sport. Mencangkul saja sudah tidak kuat. Biasanya sehari bisa mencangkul enam sampai delapan jam. Habis kekuatan saya. Habis!"
"Iya tapi jam satu malam suka bangun…" mbak Titi menimpali dari arah dapur.
Pak Pram hanya melirik.

Aku sempatkan menanyakan lebih lanjut pada mbak Titi tentang rencana undangan ke Eropa Agustus nanti. Menurut mbak ia sudah mengkomunikasikannya. "Tapi coba tanyakan lagi, siapa tau dia berubah pikiran." ujar mbak Titi.

Aku mendekatkan mulutku pada telinganya, "Gimana Pak, tentang undangan kawan-kawan saya di Belanda?" pelan serta hati-hati aku bicara.
"Saya sudah tidak kuat! Tidak kuat! Habis kekuatan saya. Tidak bisa saya."
Aku hanya tersenyum mencoba mengerti. Mbak Titi juga.
"Biar nanti saya informasikan pada kawan-kawan di sana." tukasku.
"Sudah nggak kuat saya. Mau gimana…"
Aku mencoba memahami. Dalam hati ada lantunann lagu Enya menari-nari gulana. Berarti pupus pula harapanku ke luar negeri bersamanya.


message 8: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 224 comments Rencananya sahabatku Heri Latief yang tinggal di Amsterdam bersama kawan-kawannya memang hendak mengadakan peringatan 60 tahun kemerdekaan Indonesia di Belanda. Menurut bung Heri tak hanya di Belanda. Juga Perancis, Swiss dan beberapa negara Eropa. Ia berencana mengundang Pram ke sana. Beberapa kawan di Eropa sudah mulai mempersiapkan acara tersebut. Paling tidak bersama mbak Titi, bertiga kami akan berangkat. Tapi semua tentu tergantung pak Pram. Kalau pak Pram tak kuat, siapa yang bisa memaksanya?

"Saya sudah bicara pelan-pelan." ujar mbak Titi. "Tapi ya tergantung dia." Ya-ya-ya. Aku pun tak bisa apa-apa. Kabar ini musti secepatnya kuinformasikan pada sahabatku Heri Latief. Saat kuceritakan pada Nissa Cita, kawanku di Depok, ia bersorak girang. Sangat girang!
"Berarti kamu nggak jadi berangkat juga!" serunya bukan alang kepalang.
Sialan! Batinku. Vivi pun pasti akan bersorak seperti Nissa, pikirku nyengir. Padahal ingin sekali aku pergi bersama pak Pram. Di usianya yang 80 ini.

Dan aku hanya bisa melempar senyum pada mbak Titi. Seperti biasa mbak Titi hanya tersenyum tanpa ekpresif. Air muka mbak Titi memang selalu datar. Sulit membedakan mana saat ia bahagia-mana saat ia bersedih. Wajahnya selalu sama. Kalau bahagia ya seperti itu, begitu pula kalau sedih. Kuperhatikan wajah anak keempat pak Pram ini, garisnya mirip sekali dengan Ibu Mae.

Yah. Aku tak jadi pergi ke Eropa bersama pak Pram. Namun barangkali, aku akan tetap sering datang kemari. Dua minggu lagi aku pun kemari lagi. Semoga ia sehat-sehat saja. Meski kesehatannya memang tampak makin memburuk dari sebelumnya. "Sehari untuk obatnya saja menghabiskan seratus ribu." ujar mbak Titi. Sebulan berarti 3 juta,pikirku.

Nah, begitulah.

(entah bersambung, mungkin juga tidak)

Depok-Jakarta, 14 Juli 2005
Kamis, 16.10 wib


D.M.


message 9: by Aveline (new)

Aveline Agrippina (agripzzz) | 4 comments Betapa hebatnya Pram mempengaruhi kita, membuat kita candu akan kata-kata dan terlebih dari itu, kita mendapatkan esensi hidup dari semua ceritanya


message 10: by Indartini (new)

Indartini | 1 comments Mas Pandu, diterusin dong ceritanya....


message 11: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 224 comments ahaha..diam2 Amang dan Indartini ini bersekongkol yah rupanyah..*nuduh*
baiklah, Pandasurya akan meneruskan ceritanyah..
lebih tepatnya cerita dari bung Daniel Mahendra..


message 12: by Pandasurya (last edited May 25, 2010 01:51AM) (new)

Pandasurya | 224 comments SUATU MALAM DI BOJONGGEDE
oleh Daniel Mahendra

Berlomba Dengan Matahari Senja

Rabu siang tanggal 24 Agustus lalu sejatinya aku hendak bertolak ke Bojong, tapi siapa nyana, pekerjaan tak kunjung usai. Orang berdatangan silih ganti urusan, dari mulai soal pameran buku, penerbitan buku, hingga distributor buku.

Hingga sore hari pun pekerjaan tak kunjung usai. Aku mulai kelabakan. Kapan berangkatnya nih! Semua orang sibuk di MALKA. Sibuk. Sibuk. Bergerak. Hidup. Hingga usai Maghrib aku baru bertolak ke Terimanal Leuwipanjang, diantar Deni.

Betul saja, di tengah perjalanan, sabun cair, sikat gigi, handuk dan beberapa pucuk buku ketinggalan. Terpaksa mampir ke rumah.

Sampai Terminal Leuwipanjang, bis tujuan Depok telah habis tandas. Kalau mau ke arah Bogor, malas rasanya. Aku timbang-timbang, nekat tetap pergi atau besok pagi saja?

Kukontak Mbak Titi (Astuti Ananta Toer), kalau aku kehabisan bis di terminal. "Besok saja. Sore nggak pa-pa." ujarnya di ujung telpon. Akhirnya aku kembali ke MALKA sembari masygul.

Esoknya aku bersiap. Buku untuk pameran di Tasikmalaya sudah dikirim. Aku berangkat ke Terminal Leuwipanjang. Mampir dulu di Kartika Sari, beli kue pisang molen untuk oleh-oleh keluarga di Bojong. Jam 12 siang bis menderu!

Lewat Cipularang aku tenggelam dalam buku "Sam Po Kong" karya Remy Sylado yang super tebal itu (1111 halaman). Keluar pintu tol Bekasi jam 2 tepat. Hanya 2 jam perjalanan dari Bandung. Tapi Cibubur-Depok memakan waktu 2,5 jam lamanya. Sialan!

Sampai terminal Depok 16.30 wib. Mataku jelalatan cari warung makan. Bukan apa-apa, dari pagi aku lupa makan dan memang tak sempat makan. Bis tak ngaso di Purwakarta. Aku makan seperti kesetanan. Tanpa basa-basi aku melesat ke Stasiun UI. Tak sempat mampir ke rumah Rizal, kawanku, untuk sekadar istirahat mandi.

Naik kereta ekonomi menuju Stasiun Bojonggede. Isinya, Masyaallah! Kereta sudah seperti roti selai isi kacang: penuh meluber berjubel- jubel. Tapi aku tersenyum-senyum sendiri dalam hati: ini yang kucari dalam setiap perjalanan!

Tiba-tiba hujan deras tak kenal ampun. Kereta makin pengap. Sampai Stasiun Bojonggede hujan masih menggila. Mbak Titi SMS. Kujawab: kehujanan di stasiun. Lalu aku mencari warung rokok. "Surya 16" yang kucari tak kutemukan. Akhirnya kupilih "Djarum Super" saja. Aku naik ojek menuju rumah Pram. Biar cepat.

"Rumah siapa ini, Bang?" tanya tukang ojek penasaran, "Besar amat!"
"Pram! Penulis." jawabku tersenyum sembari mengeluarkan beberapa lembar ribuan.
Aku mengibas-ngibaskan kemejaku yang sedikit basah. "Makasih Bang!" teriaku.


message 13: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 224 comments 17.30 aku tiba. Kubuka gerbang. Sepi. Tapi pintu ruang tamu terbuka. Aku berjalan menuju teras depan. Tiba-tiba seorang lelaki tua nongol di pintu. Aku melambaikan tangan sambil membuka sendal gunungku di tangga. Menaiki teras. Pak Pram menyambutku.

"Sendirian?"
"He-eh!"
"Masuk."
"Ya."
"Sudah makan?"
"Tadi di terminal Depok.
"Makan lagi sana."
"Masih kenyang ah."

Pak Pram menyalakan lampu ruang tamu. Di dapur kulihat Ibu Mae dan Mbak Titi sedang menonton tv. Kulambaikan tangan. Ibu Mae tersenyum, Mbak Titi berdiri menghampiri.

"Kopi ya?" tawar Mbak Titi. Aku hanya nyengir. Kini duduk berdua dengan Pak Pram di meja samping tangga. Ia mulai mengeluarkan "Djarum Super"-nya. Aku pun mengeluarkan.

"Lho sama!" ujarnya mengomentari merk rokokku. Aku hanya tersenyum. Malam itu kami berdua ngobrol di meja. Sembari menyeruput kopi. Kepulan asap menguasai atmosfir.

Pram masih saja seperti biasanya: memakai celana kaos biru, atasan oblong, kaus kaki, selop kulit, dan sarung tangan. Kedinginan, katanya.

"Tadi sempat dengar petir?"
"Enggak. Kenapa memang?"
"Tadi ada petir, keras sekali! Luar biasa sekali!"

Pram mulai cerita tentang tragedi 40 tahun lalu itu. Isi pembicaraan ini dapat disimak dalam buku "Tragedi 65" yang Insyaallah akan terbit pada 30 September 2005 nanti.

Saat bercerita suara Pram terkadang keras, meledak, geram, tapi juga tersenyum, tertawa pun ngakak.

Ia bercerita tentang siapa yang musti bertanggungjawab atas Tagedi 65. Ia mulai menunjukkan hipotesa atas sebuah konspirasi. Ia bercerita tentang korban-korban atas Tagedi 65. Ia bercerita tentang apa yang ditanggungnya atas Tragedi 65. Ia bercerita tentang mentalitet sebuah bangsa. Ia bercerita tentang Soekarno. Tentang angkatan muda. Tentang tuntutan yang harus terus dilanjutkan atas kejadian itu. Ia bercerita dan terus bercerita.


message 14: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 224 comments Kami ngobrol cukup lama. Entah sudah berapa batang yang Pak Pram bakar. Aku pun tak kalah rakusnya.

"Makan sana!" tukasnya lagi.
"Masih kenyang saya..."
"Kan jarak makan di terminal sudah lama."
"Ya tapi belum lapar."
"Enak makannya di terminal?"
"Yah, tadi makan cuma untuk ngisi perut aja. Nggak cari rasa."
Pram ngakak.

Mbak Titi keluar dari dapur menuju ruang tamu. Duduk berhadapan denganku.

"Nginep sini ya." ujar Pak Pram.
Dalam hati aku bersorak.
"Iya, nginep sini saja." timpal Mbak Titi.
"Di lantai lima." tambah Pak Pram.
Aku mengangguk.

Kali ini obrolan santai-santai saja. Rokok terus mengepul. Isi kopi tinggal setengah. Jarum pendek mulai merangkak ke angka delapan. Pak Pram bangkit. Ke kamar mandi. Biasa, kencing. Ia memang musti bolak- balik kamar mandi buat buang air kecil.

Keluar kamar mandi, Pak Pram menghampiriku di meja. "Saya tidur duluan ya..."
Aku mengangguk.
Ia mulai menaiki tangga. Ke lantai 2, kamar sebelah perpustakaan.

Dan warna hitam malam mulai menyelimuti Bojonggede. Tiba-tiba hujan kembali turun. Suaranya ditingkah dengan angin yang datang dari samping bukit. Aku memandang keluar. Berarti aku memang musti tinggal di sini, batinku.

Malam makin gelap.

Obrolan Yang Menyenangkan.

Pak Pram sudah masuk kamar di lantai 2. Aku masih duduk di samping tangga. Ibu Mae sudah membereskan dapur. Ditemani Mbak Rina, adik Mbak Titi, kini ia mulai menyalakan tv ruang tamu. Nonton sinetron. Aku ke kamar mandi.

Keluar kamar mandi Mbak Titi sudah mengajakku ngobrol di meja tempat semula.

"Gimana dengan 'Bumi Manusia'?" tanyaku memulai.
"Itu dia... Masih belum."
"Ha?" aku terbelalak.
"Tunggu sebentar." tukasnya beranjak ke perpustakaan di lantai 2.

Tak berapa lama ia sudah kembali. Membawa segepok majalah berisi foto-foto Indonesia jaman Hindia Belanda dulu.

"Saya membayangkan cover 'Bumi Manusia' seperti ini..." terangnya sembari menunjukkan foto-foto dalam majalah yang sudah lagi ia beri tanda.

Semua majalah ia beberkan di meja. Ada foto kereta kuda, gedung- gedung khas Hindia Belanda di abad pergantian. Ada foto lelaki berpakaian Madura yang ia bayangkan sebagai Darsam. Ada foto perempuan yang ia bayangkan seperti Annelies. Dan malam itu kami terlibat obrolan panjang, serius, saling tukar argumen, saling mengemukakan alasan, saling beradu pandangan soal penggambaran cover Tetralogi terbitan terbaru dari Lentera Dipantara, terutama Bumi Manusia.

Malam makin merembet. Dan kami masih saja terus memperbincangkan seluruh konsep cover Tetralogi, terutama Bumi Manusia. Sementara di samping ruang tamu, Ibu Mae dan Mbak Rina sedang tenggelam dalam sinetron. Akhirnya perbincangan soal cover Bumi Manusia pun kami hentikan.

"Kalau nanti sudah mau makan bilang ya..." ujar Mbak Titi. "Saya mau nonton sinetron dulu ya..." ujar Mbak Titi nyengir. Aku hanya mengangguk tertawa.


message 15: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 224 comments Aku memilih duduk di teras. Sendirian. Mengepulkan, tentu saja, rokok. Malam makin sunyi. Tetangga sekitar sudah tak terdengar lagi. Alunan musik malam makin kentara. Yang terdengar di sini tak lain kecipak air mancur di samping teras dan dentuman nyanyian Rhoma Irama di tv. Rupanya Ibu Mae, Mbak Titi dan Mbak Rina sedang memelototi si raja dangdut itu. Sesekali kudengar mereka menimpali dengan cerita soal Bang Rhoma atas kehidupan pribadinya.

Tiba-tiba listrik mati. Rumah menjadi gelap. Tegangan tak kuat. Aku mencari saklar pusat di samping rumah. Menggeser kembali. Ibu Mae pun kembali menikmati lengkingan Bang Rhoma.

Penggunaan listrik di rumah ini memang terhitung besar. Selain penerangan, listrik digunakan untuk hal-hal yang sangat membutuhkan daya tak kecil. Pak Pram dan Ibu Mae, karena faktor usia, musti menggunakan air panas untuk mandi. Belum lagi kolam renang yang airnya musti terus dipelihara. Belum mesin foto-copy. Sementara daya di rumah ini tak begitu besar. Sehingga listrik mati menjadi hal biasa di rumah besar ini.

Aku kembali melamun sendiri. Suasana di sini tenang. Sangat tenang. Begitu tenang. Jauh dari keramaian. Tak ada hiruk pikuk. Tak ada bising kendaraan. Tak ada pengap udara. Tak ada orang saling memaki. Tak ada yang menjengkelkan hati. Aku betul-betul menikmati dalam kesendirianku melamun di teras depan.

Cukup lama aku melamun. Waktu terus merembet. Tiba-tiba Mbak Titi nongol di balik pintu.

"Makan?"
"Nanti deh Mbak. Belum begitu lapar."

Mbak Titi pun ikut menemani duduk di teras. Malam makin menunjukkan wajah aslinya. Kali ini obrolan mulai ke hal-hal sederhana namun bersifat pribadi.

Mbak Titi mulai cerita tentang kehidupannya sebagai anak bukan seorang sastrawan. Melainkan bercerita sebagai anak seorang lelaki pada umumnya yang kebetulan bernama Pramoedya Ananta Toer.

Bagaimana kehidupan rumah tangga Pak Pram dan Ibu Mae. Bagaimana cerita jika mereka sedang "berantem". Bagaimana sikap Pak Pram terhadap anak-anaknya. Terhadap Ibu Mae dan adik-adiknya.

Ya, cerita lebih mengarah pada hal-hal kehidupan keluarga dan pribadi Mbak Titi sendiri. Terkadang aku harus menyorongkan kupingku untuk mendengar suara Mbak Titi agar lebih jelas. Karena ia kadang bercerita dengan suara lirih. Terkadang penuh kesedihan, terkadang dengan mata berkaca-kaca, terkadang sembari menghela nafas, terkadang tersenyum getir.

Ah kehidupan si manusia. Hanya pribadi-pribadi pemberani yang berani melebur masuk ke dalamnya. Bertahan untuk tetap menjadi manusia. Bukan untuk kalah atau menang, namun lebih untuk tetap menjaga martabat sebagai seorang manusia. Manusia mana tak punya masalah? Semua memiliki segi-seginya sesuai dengan warna serta tingkat kesulitan yang tak pernah seorang pun dapat mengira.

Dan perempuan di sebelahku kembali bercerita soal masa kecilnya, masa mudanya, masa dewasa, masa mandiri, dan masa kehidupan yang entah berakhir kapan nanti.

Pukul 22.30 Mbak Titi mengajak makan. Perutku pun sudah mulai berbisik meminta. Kami berjalan ke dapur. Kulihat Ibu Mae tertidur di depan tv di ruang tamu. Dalam tampak tidurnya, betapa masih begitu cantiknya Ibu Mae. Mbak Rina sudah entah kemana. Tidur pasti.

Aku makan bersama Mbak Titi. Sayur nangka dan ikan acar. Ibu Mae yang masak. Makan kali ini baru kurasakan betapa nikmatnya. Di meja makan obrolan berganti soal terbitan karya-karya Pak Pram. Soal masa depan penerbit Lentera Dipantara, soal Hasta Mitra, soal jam kerja Mbak Titi yang kini total fokus pada Penerbit Lentera Dipantara, soal editing naskah Pak Pram, soal koreksi naskah Pak Pram, soal percetakan, soal desain isi, dan banyak lagi.

Usai makan, kami masih saja melanjutkan obrolan tentang penerbitan. Bahkan makin pelik. Tak berapa lama Mbak Titi membereskan meja. Aku membantu sebisanya.

Mbak Titi mulai mencuci piring. Aku melongok-longok 2 meja kerja Pak Pram yang kini berada di dapur. Di atasnya penuh dengan tumpukan ribuan kliping.

"Kenapa di dapur?"
"Sengaja. Biar dekat dan selalu ketemu Ibu." jawab Mbak Titi.
"Kalau di perpustakaan pasti tenggelam sendirian dan jarang ke bawah ya?"
"He-eh."

Dan malam pun makin membelah malam.

D.M.

Depok, 26 Agustus 2005
Jum'at, 19.55 wib

UI, Depok, 26 Agustus 2005
Jum'at 22.09



message 16: by Aveline (new)

Aveline Agrippina (agripzzz) | 4 comments DM? Daniel Mahendra? Bukankah dia penulis Epitaph? Dan kalau tak salah juga pernah kabarnya dia salah seorang editor buku PAT.

Kalau ya, tak heran aku dengan kedekatan seorang DM dengan PAT sampai sebegitunya.


message 17: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 224 comments Menghabiskan Malam

Seusai makan malam dan obrolan di meja makan, Mbak Titi mengajakku melihat kamar yang bakal menjadi tempat inapku malam ini. Di lantai 5.

Kami menaiki tangga. Di lantai 2 tampak sebuah kamar dalam keadaan pintu terbuka. Berputar ke kiri, menaiki anak tangga lagi, lantai 3, merupakan ruang perpustakaan dimana terdapat kamar Pram di dalamnya (pada tulisan sebelumnya aku salah menuliskan lantai perpustakaan serta kamar Pram. Perpustakaan dimana ada kamar Pram di dalamnya merupakan lantai 3 dari rumah berlantai 6 ini).

Sampai di lantai 5, aku mendapat kamar pertama di pojok samping depan anak tangga. Di sebelahnya ada sebuah kamar besar serta kamar mandi di muka tangga. Mbak Titi mempersilahkan aku memilih kamar. Kupilih yang kecil. Kamar satunya terlalu besar dan luas untuk kutempati seorang diri. Apalagi di lantai 5! Sendiri pula! Aku memilih yang aman-aman saja (cerita-cerita “aneh” atau “ganjil” di rumah ini akan kuceritakan di tulisanku berikutnya). Pertimbanganku memilih kamar dengan ukuran kecil ternyata kusyukuri pada keesokan harinya!

Setelah meletakkan ransel, aku memeriksa kamar mandi. Ternyata Mbak Titi dan aku tidak menemukan saklar lampu kamar mandi. Lebih dari 10 menit kami habiskan untuk mencari gerangan di mana saklar lampu kamar mandi. “Saya lupa di mana tombolnya.” aku Mbak Titi. “Jarang ke lantai ini sih.” Aku hanya tertawa. Akhirnya kita simpulkan: kamar mandi tampa lampu malam ini! Mbak Titi pun turun.

Di kamar yang kecil terdapat sebuah tempat tidur ukuran sedang. Cukup untuk dua orang dewasa. Diselimuti seprei rumbai yang tampak bersih dengan dua bantal besar. Ada lemari laci juga ukuran sedang dengan dua kopor besar terkurap lelap di atasnya.

Di sisinya teronggok kursi plastik dengan sehelai sajadah menggantung di punggungnya. Selembar sarung kotak-kotak berdiam diri di dudukannya. Tak ada cermin di kamar ini, sehingga aku musti ke kamar sebelah untuk berkaca.

Setelah memeriksa keadaan kamar, kembali aku turun ke bawah. Kulihat Ibu Mae duduk di depan tv ruang tamu. Posisinya menghadap tv, namun matanya sudah terlelap. Mbak Rina sudah tak ada di sana. Mbak Titi, dimana Mbak Titi ya… Tak kulihat. Aku menuju teras depan rumah. Kembali duduk di sana dan tentu saja: membakar rokok. Melamun lagi seperti tadi.


message 18: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 224 comments Aku jalan-jalan di halaman rumah. Melihat-lihat keadaan. Betapa sunyi daerah sini. Terutama rumah ini. Penghuninya hanya empat orang: Pak Pram, Ibu Mae, Mbak Titi dan Mbak Rina. Anak-anak Pak Pram lainnya bertebaran di Jakarta.

Dulunya di rumah ini ada dua orang satpam yang berjaga di malam hari. Tapi justru dengan adanya satpam, keamanan malah tak begitu terjamin. Sebuah traktor kecil sempat hilang dulu di ladang. Hasil ladang pun kerap lenyap. Jagung, singkong atau pisang sering amblas dari pohonnya. Kini semua urusan rumah dipegang penuh oleh Mbak Titi.

Malam makin hitam. Saat jalan-jalan di halaman, Mbak Titi keluar dari rumah. Tampak seperti mencari-cari sesuatu di teras. Lalu kembali masuk ke ruang tamu. Kudengar sebuah pembicaraan:

“Gembok gerbang di mana, Mi?” tanya Mbak Titi.Ada sebuah jawaban yang kurang begitu kentara, tapi itu suara Ibu Mae.

Mbak Titi keluar lagi. Mencari sebuah pot kembang dimana tergeletak seonggok gembok di situ. Aku menghampiri. Membantu mengunci gerbang depan yang dilindungi keteduhan tanaman merambat.

Kami sempat berbincang di gerbang. Sembari mengelilingi halaman, Mbak Titi bercerita asal-muasal sejarah tanah serta rumah ini. Tanah ini dibeli Mbak Titi untuk dijadikan rumah peristirahatan di pinggiran Jakarta. Dulu harganya masih lagi Rp 6.000 per meter. Bayangkan: Rp 6.000 per meter! Tapi dulu tak seluas tanah yang sekarang ini. Setelah dibeli Mbak Titi, tetangga-tetangga sebelah mulai menjual tanahnya pula. Tentu sudah tak 6.000 perak lagi. Sedikit demi sedikit hingga seluas sekarang ini.

Dengan alasan ingin memberi kejutan untuk Pak Pram, Mbak Titi sempat merahasiakannya. Tapi Pak Pram curiga, kenapa Astuti sering pulang pergi Jakarta-Bojong. Lama-lama Pak Pram ingin ikut: gerangan ke mana Titi pergi. Akhirnya ketahuan juga: Astuti telah membeli sebidang tanah luas di Bojong. Melihat itu, Pak Pram ingin ikut bersumbang biaya. “Aku nggak mau pulang ke Jakarta. Aku mau tinggal di sini.” ucap Mbak Titi menirukan Pak Pram saat pertama kali ke Bojonggede. Perlu diketahui juga, dulunya di tanah ini hanya terdapat rumah panggung dari kayu di ujung ladang.

Mbak Titi bercerita, bahwa tanah ini sejatinya akan dibangun untuk tempat tinggal seluruh anak Pak Pram. Tanah yang kini dijadikan kolam renang serta kolam ikan semestinya untuk dibangun rumah bagi adiknya. Sementara rumah besar yang berdiri megah di seberang kolam renang dibangun dengan persiapan fondasi untuk 10 tingkat. Awal dibangun hanya satu tingkat. Karena Pak Pram memutuskan tinggal di Bojong dan tak mau lagi tinggal di Jakarta, tingkat-tingkat berikutnya pun dibangun.

Kini rumah besar tersebut berlantai 6. Bidang miring yang merupakan bukit membuat rumah ini berlantai 6. “Rencananya satu lantai untuk satu anak,” ujar Mbak Titi. “Tapi memang nggak mungkin kalau semua adik-adik tinggal di sini semua. Mereka kan juga punya keluarga. Padahal saya sudah menyiapkan kapling untuk masing-masing. Ya supaya jangan sampai ada yang rebutan. Tapi adik-adik saya baik semua. Mereka nggak pernah mempersoalkan itu.” terang Mbak Titi panjang lebar.

Malam makin larut. Kami berbincang di samping kolam renang di bawah tenda payung di seberang rumah besar. Sesekali ada kepak kelelawar di antara pohon-pohon di halaman. Suasana begitu sunyi. Senyap. Tapi dari dalam rumah terdengar dentuman suara tv begitu keras.

Pukul 23.00 kami masuk ke dalam rumah. Kulihat Ibu Mae sedang memegang kemoceng membersihkan organ di dapur (atau ruang makan, atau ruang tengah, atau ruang kerja Pak Pram atau banyak lagi yang bisa disebutkan penggunaan ruang belakang itu!).

“Ibu…” seruku kaget. “Malam-malam kok bersih-bersih?”Yang ditanya menyahut begitu mesranya. Manis sekali senyumnya. “Iya… habis kotor…” sahutnya lembut.

Gerbang telah dikunci. Pintu ruang tamu pun sudah tertutup. Kami pun bersiap ke kamar masing-masing. Aku pamit pada Ibu Mae dan Mbak Titi untuk naik ke lantai 5. Aku pun meniti tangga. Melewati lantai 3 tempat dimana Pak Pram telah terlelap di sana.

Demi mengingat tak ada lampu di kamar mandi, akhirnya pasrah malam ini aku tak mandi sejak kepergianku dari Bandung pagi hari tadi. Ya sudah, cukup gosok gigi saja. Korek gas pun jadi lenteraku.

Tak berapa lama aku masuk kamar. Kusibak gorden, kulihat genting atap persis di depanku. Di sampingnya tampak desa Bojong dengan kerlap-kerlip lampunya. Aku malas membakar rokok.

Teringat pada buku “Sam Po Kong” karya Remy Sylado di ranselku, aku pun tenggelam dalam pelayaran muhibah Ceng Ho, utusan Kaisar Ming dari Cina yang berlayar ke seantero Nusantara pada tahun 1400-an itu. Aku tenggelam dalam nuansa kerajaan Majapahit di saat Wikramawardhana, menantu Wayam Wuruk, masih lagi berseteru dengan Wirabumi, anak selir Hayam Wuruk dalam berebut tahta Majapahit (dalam sejarah dicatat sebagai Perang Paregreg: 1406).

Lelap pun menjemputku.

Malam makin kelam…

Malka, Bandung, 28 Agustus 2005, Minggu, 15.55 wib


message 19: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 224 comments Pisang Goreng Pagi Hari

Aku terbangun sekitar pukul 05.30 wib. Tapi rasanya mataku masih diganduli batu sebesar gunung. Aku masih lagi tergeletak di tempat tidur. Terang sudah mulai mengetuk pintu. Tapi aku betul-betul turun dari tempat tidur pukul 07.30. Keluar kamar langsung masuk kamar mandi. Ternyata masih malas mandi.

Turun dari lantai 5, di ruang tamu kulihat Pak Pram sedang membaca koran: Kompas dan Jakarta Post. Kuucapkan selamat pagi. Ia tersenyum.

“Dingin di atas?”

“Tidak. Biasa saja. Seperti di Bandung saja.”

“Sarapan sana!” lagi-lagi makan yang ditawarkan.Pak Pram memang paling gemar menyuruh orang makan. Kalo datang siang disuruhnya makan. Datang malam juga disuruh makan. Pagi turun dari tidur lagi-lagi yang pertama diucapkan makan. Padahal dia orang yang paling malas makan. Paling banter makan cuma pagi hari dia. Siang sampai malam cuma rokok-rokok-dan rokok belaka dia.

Kulongok dapur, tak ada siapa-siapa. Kutinggalkan Pak Pram di ruang tamu. Aku menuju teras. Di pintu gerbang depan kulihat Mbak Titi dan Ibu Mae sedang belanja sayur. Belum ada yang mandi. Kuputuskan jalan-jalan di sekitar halaman saja. Menikmati udara pagi Bojonggede.

Mengitari halaman, aku turun tangga ke bagian bawah rumah, dimana terdapat kandang angsa, kolam ikan dan kolam renang. Aku duduk di pinggir kolam ikan. Ada Gurame, Mujair, Mas, dicampur jadi satu. Rombongan katak tidur di atas batang akar yang mengapung di atas air. Indahnya sajak pagi ini.

Di kejauhan kulihat Mbak Rina (Arina Ananta Toer) berjalan menuju gerbang ladang. Masuk ke kandang ayam, yang luasnya lebih luas dari ruang tamu rumah depan. Kususul dia. Masuk kandang ayam. Obrol-obrol soal ayam sembari memberi pakan ayam. Keluar kandang aku diajak ke ladang di belakang rumah. Luas sekali ladang ini. Kalau untuk camping ratusan orang kurasa cukup. Kalau mau bikin pasar malam pun bisa. Tapi ladang ini kan “bukan pasar malam”. Haha!

Di sana kulihat tempat Pak Pram biasa membakar sampah. Ya, hanya membakar sampah belaka yang sekarang mampu Pak Pram lakukan. Kerja fisik seperti mencangkul atau memangkas pohon sudah tidak lagi dapat ia lakukan. Ya, jadi jangan lagi membayangkan ladang di Bojonggede masih dirawat oleh Pak Pram. Kemerosotan fisik telah merengggut kekuatan tubuhnya. Tapi, jangan sekali-kali mengatakan di kupingnya kalau ia sudah tua. Bisa tak terima dia. Hahaha! Ia memang selalu sok merasa muda terus.

Beberapa saat kebelakang Ibu Mae atau anggota keluarga lain suka jengkel dengan ulah Pak Pram karena suka menebang pohon tanpa kejelasan maksud. Kadang rumpunan pohon pisang sudah tumbang ditebangi. Atau mengga dipangkasi. Setelah itu, ya sudah. Pohon-pohon itu hanya jadi korban penebangan saja. “Papi tu’ suka nebang-nebang kagak jelas gitu. Pada abis tu’ po’on!” seru Ibu Mae suatu kali dalam logat Betawi yang kental.


message 20: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 224 comments Pak Pram bangun cukup pagi. Sekitar jam 04.30 atau 05.00 ia sudah turun tempat tidur. Menyeruput kopi lalu menyulut rokok. Setelah itu sarapan. Setelah sarapan, ia mulai membacai koran-koran hari itu. Setelah ia baca, ia tandai, baru kerja kliping dari koran yang telah ia baca.

Dari Ladang aku masuk dapur. Menyeruput kopi yang telah dibikinkan Ibu Mae. Tak tau apa yang musti kukerjakan, aku berjalan ke ruang tamu. Menemani Pak Pram kerja kliping.

Dari caranya bekerja aku salut bukan main. Banyak kawan-kawan ya mengatakan aku sangat keterlaluan dalam menyimpan dokumentasi. Majalah baru tak kan kubiarkan kubaca tanpa alas di meja. Musti dilapisi dulu agar cover majalah tak kotor atau terlipat. Buku pun musti laksana baru terus-menerus. Untuk hal-hal seperti itu aku memang berlebihan dan tak bisa ditawar-tawar (termasuk jadi menjengkelkan orang-orang yang membaca dengan semangat normal). Tapi melihat cara kerja Pak Pram, kurasa aku tak ada apa-apanya.

Kerja Pak Pram cukup rapi. Sangat rapi. Rapi sekali. Ia menandai berita yang musti ia gunting dengan pulpen. Setelah itu ia mulai mengguntingi. Cara kerjanya, karena faktor usia, sangat lamban. Tapi begitu rapi. Sangat rapi. Setelah diguntingi, ia lipat dengan alas yang sudah terformat ukurannya. Sisi berita yang telah ia gunting, ia lem dengan lipatan kertas putih. Sehingga semua ukuran kliping berukuran sama persis. Baru setelah itu ia tumpuk. Setelah ditumpuk, ia gelangkan dengan kertas menyimpul. Jadinya, kliping koran hari itu tampak rapi, bersih, dan terjaga.

Aku membantu mengumpulkan kliping-kliping koran yang telah lagi ia guntingi. Atau lebih tepatnya membacai: gerangan berita apa saja yang ia kumpulkan. Kadang aku bertanya, kenapa ini diambil, atau kenapa berita itu tak diambil. “Ya tinggal begini ini kerja saya setiap hari.” Cukup lama aku menemaninya kerja kliping di ruang tamu. Sembari merokok? Tentu saja! Kami berlomba-lomba dalam hitungan batang. Pada hitungan kesekian, ia hendak mencomot bungkus rokoknya, ternyata habis. Matanya jelalatan, hendak mengambil bungkus rokokku yang masih setengah isi di ujung meja. Aku ngakak saja. Dan pisang goreng hasil ladang pun jadi sarapan pagi ini.

Usai kerja kliping, ia membereskan meja. Ini tak kalah menakjubkan. Ia memberesi semua bekas guntingan kecil koran yang tak terpakai dan membuangnya ke dalam asbak. Teliti, rapi, bersih. Nyaris tak ada sisa guntingan koran yang tak terpakai ia biarkan di atas meja. Hal terkecil sekalipun. Cara kerjanya cermat sekaligus mengagumkan. Gunting, cutter, lem, sendok lem, ia susun kembali. Cara kerjanya membuatku iri.

Baru setelah itu aku dan Pak Pram duduk-duduk di teras rumah. Lagi-lagi menyulut rokok. Ngobrol tanpa isi. Sisi, cucu Pak Pram, datang. Ia bekerja di perpustakaan Pak Pram di lantai 3. Rumahnya di Citayam. Hanya beberapa kilo saja dari Bojonggode. Bekerja dari pukul 09.00 pagi hingga 17.00 sore. Ia menaiki teras, mencium pipi Pak Pram, kembali turun ke halaman, masuk dapur, menyapa Ibu Mae, Mbak Titi dan Mbak Rina, lalu naik ke atas.

Bosan ngobrol di teras, aku menyusul Sisi ke perpustakaan. Ia senang aku datang. Mimiknya berbeda saat melihatku di teras ketika ada Opanya, dibanding ketika melihatku di perpustakaan atas. Ketika di depan Opanya tampak betapa ia menjaga sikap. Begitu melihatku di perpustakaan, kelakuan aslinya kumat: centil! Hahaha!

Pagi itu kuhabiskan waktu cukup lama di perpustakaan. Diselingi obrolan dengan Sisi, aku “mengobrak-abrik” perpustakaan Pak Pram. Apa saja kubacai. Kulongoki. Sisi bekerja mendata dokumentasi kliping Pak Pram yang segunung itu di meja tengah. Aku berputar-putar dari rak ke rak.

Kutemukan sebuah naskah berjilid. Dulu aku pernah melihat naskah itu di sini. Tapi malas kulongok. Kali ini kuambil naskah berjilid bungkus hijau itu. Di depannya tertulis “Saman”, tanpa ada nama penulisnya. Tentu kawan-kawan tau naskah siapa itu. Di halaman pertama dan kedua tampak beberapa coretan serta koreksi tulisan Pram dengan pulpen tinta merah. Ia membetulkan letak koma, mencoret beberapa kata, membubuhkan tanda tanya, dll. Aku tersenyum saja melihat naskah terkoreksi itu. Toh naskah itu kini telah terbit dan dicetak berulang-ulang kali. Best seller!


message 21: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 224 comments Tiba-tiba Pak Pram masuk ke ruang perpustakaan sembari menyeret sendal kulit. Melihatku ia mengulum senyum. Kelakuannya bikin aku ingin tertawa. Persis anak kecil hendak naik ranjang. Tanpa mengucapkan apa-apa ia masuk kamar, yang letaknya persis di sebelah perpustakaan. Tidur dia!

Dari lantai 3 kulihat sebuah mobil memasuki halaman. Suara musik berdentum-dentum keras dari dalam. “Om Yudhi datang,” seru Sisi. Rupanya Mas Yudhi (Yudhistira Ananta Toer), anak bungsu Pak Pram, datang dari Jakarta. Aku kembali tenggelam di perpustakaan. Sisi turun ke bawah. Lalu kembali ke atas membawa sepiring pisang goreng yang langsung kuserbu. Aku kembali tenggelam di perpustakaan. Cukup lama.

Kupikir, kok santai-santai sekali aku hari ini. Aku pun naik ke lantai 5. Mandi. Usai mandi aku mengemasi ranselku. Aku harus pulang. Pulang adalah yang terbaik. Aku termasuk orang yang merasa “berdosa” jika mendapati diri tak mengerjakan apa-apa. Tiba-tiba aku rindu Bandung. Pekerjaan di Bandung menungguku. Aku turun. Di lantai 3 aku berpamitan pada si centil Sisi.

Hari sudah siang. Di ruang tamu kulihat Ibu Mae, Mbak Titi dan Mbak Rina sedang tenggelam dalam tayangan tv. Tak kulihat Mas Yudhi. Aku berjalan ke teras. Matahari sedang menyiram rumah besar ini dengan teduhnya.

Tak berapa lama Pak Pram turun. Ngeloyor ke dapur. Ibu Mae berdiri, beranjak dari ruang tamu. “Sana makan sama Pak Pram!” suruhnya. Aku bersorak girang.

Pak Pram sudah menekuri meja makan. Ibu Mae mengambilkan aku nasi dari ricecoocer. Kemudian menyodorkan gelas tinggi besar pada Pak Pram. Dan gelas ukuran sedang padaku. Dan berdua aku pun makan siang bersama Pak Pram. “Wah, hari ini banyak lalapnya!” serunya girang. Yang dimaksud lalap bukanlah lalap dalam pengertian sambal dan lalapan. Melainkan sayur!

Setiap dari suapnya ia selalu menggigit bawah putih. Sambil makan ia bercerita soal khasiat bawah putih yang dapat menyembukan luka. Maklum, penyakit gula Pak Pram di atas 600.

Di meja makan rumah sendiri, cara makan Pak Pram cukup rapi. Rapi sekali. Ia menyendok setiap suapnya dengan sangat teliti. Baru setelah itu sendok ia lolohkan pada mulutnya. Begitu rapi. Tak ada yang tertumpah.

Usai makan ia menggasak jeruk. Ia menyodorkan jeruk padaku. Karena berkali-kali menyodorkan jeruk, jadinya aku pun menggasak jeruk, meski sedang tak ingin-ingin amat.

Kuputuskan pulang siang ini. Namun ternyata rencana tinggal jadi rencana. Nyatanya aku harus menunda kepulanganku hingga sore hari. Apa yang terjadi?

Malka, Bandung, 17 September 2005, Sabtu, 03.00 wib


message 22: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 224 comments Matahari Pamit Pulang

Pak Pram bercerita, saat di Pulau Buru cara bersetubuh penduduk pedalaman Buru seperti halnya (maaf) binatang “Seperti binatang saja, dari belakang.” terang Pak Pram sembari mencontohkan dengan kedua belah tangannya ditumpukan jadi satu. Ketika terjadi persetubuhan antara Tapol lelaki dan perempuan pedalaman Buru, cerita menjadi seru.

Si perempuan pedalam buru berteriak lantang, “Kena semua!!” seru Pak Pram menirukan.

“Apanya yang kena semua?” tanyaku bego.

“Ya kena semua, karena posisi si perempuan kan terlentang di bawah. Sementara si lelaki menindihnya dari atas. Kena semua, teriak si perempuan. Kan beda dengan cara mereka sebelumnya, dari belakang.”Mendengar itu aku ngakak bukan kepalang. Lelaki tua di depanku ini rasanya bukan seorang sastrawan besar saja. Ia seperti lelaki biasa pada umumnya. Bercerita, berkelakar, berseloroh. Dan yang diceritakan soal posisi bersetubuh pula. Ada-ada saja! Tapi segalanya menjadi tampak alami dan manusiawi. Pram ya lelaki juga. Ya suami, ya ayah, ya kakek, ya apa adanya.

Usai makan siang bersama Pak Pram, Mbak Titi mengajakku ngobrol di teras. Tak berapa lama Mas Yudhi bergabung. Kami ngobrol cukup lama. Mulai dari hal-hal biasa hingga pada topik yang sangat serius.

Hal-hal biasa menyangkut obrolan “cerita-cerita seram” di rumah ini. (obrolan soal bagaimana Mbak Titi dan Mas Yudhi bercerita tentang pengalaman mereka selama Pak Pram di Pulau Buru, akan aku rawikan di tulisanku kemudian: “Tiga Harmal di Utan Kayu“).

Hari terus merangkak. Kami ngorbol tak ada habisnya. Segelas kopi disodorkan Mas Yudhi untukku. Ia turut menyulut rokok. Soal “cerita-cerita seram” di rumah ini, yang sejatinya hendak kutuliskan di sini, dengan berbagai pertimbangan, kuurungkan. Akan lebih baik kuceritakan secara lisan saja kalau memang tersempat bertemu. Selain akan terasa lebih greget, kupikir tak baik menceritakan secara tertulis bahwa di rumah Bojonggede tak sekali dua ada “kejadian atau cerita seram”. Itu mengapa di tulisanku sebelumnya, aku bersyukur memilih kamar ukuran kecil di lantai 5 ketimbang kamar besar. Tapi pada dasarnya, di rumah ini aman-aman saja kok.

Obrolan terus berlanjut. Diselingi antara rokok, kopi, dan setumpuk majalah terbitan Belanda sebagai bahan pembicaraan serius. Kami berbincang pula soal pekerjaan. Obrolan menjadi sangat-sangat serius. Matahari sudah mulai condong. Aku ngeloyor ke kamar mandi, sembari berpikir, kapan aku pulang…


message 23: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 224 comments Kulihat Pak Pram sedang membaca sebuah majalah. Aku lupa melihat majalah apa. Ya, sejatinya Pak Pram masih lagi bisa membaca. Tidak seperti yang selalu ia seru-serukan pada publik: “Membaca saja saya sudah tidak bisa.” Nyatanya ia masih selalu melalap bacaan. Koran dan majalah masih ia lalap. Bahkan setiap ada orang mengiriminya buku, kalau menarik, ia pasti membacanya. Buku apa pun itu. Memang tampak kesulitan karena kondisi mata. Tapi senyatanya ia masih suka membaca.

Kalau Mbak Titi pulang dari toko buku, sudah dapat dipastikan: buku parkir ke kamar Pak Pram terlebih dahulu. Bahkan Pak Pram suka “mengambili” buku-buku yang baru dibeli Mbak Titi yang bahkan dibaca oleh Mbak Titi saja belum. Kalau Mbak Titi mendapati buku barunya raib di kamar, sudah dapat dipastikan: buku sedang parkir ke kamar Pak Pram. Hingga kadang Mbak Titi kerap membeli buku dua biji dalam setiap judul. Bukan apa-apa, Pak Pram memang suka “nyolong” buku baru dari kamar putrinya itu. Kalau sudah seperti itu ia kerap lupa mengembalikan. Asyik ia baca saja sendiri.

Keluar kamar mandi kudapati Mbak Titi masih duduk di teras. Mas Yudhi dan Ibu Mae sedang ke ladang. “Aku pulang Mbak,” dan kami pun berjalan ke ladang, pamit pada Ibu Mae dan Mas Yudhi.

Kembali lagi ke teras, kugendong ranselku. Kulirik ruang tamu, Pak Pram sedang terkapar dengan santainya di lantai ruang tamu. Ia tergeletak tidur, dengan mulut terbuka dan lengan menutupi mata, sementara kakinya terbuka lebar. Aku tertawa melihat itu. Ya, bagaimana tidak, ia seorang Pramoedya Ananta Toer, tapi ia pun seorang lelaki biasa pula. Seorang lelaki tua yang bisa tergeletak di lantai ruang tamunya sendiri lengkap dengan dengkurannya. Ia seorang manusia.

Aku betul-betul memutuskan pulang sore ini. Kutinggalkan rumah Bojong. Aku berlomba dengan matahari senja. Aku berkejaran dengan sinarnya. Menyetop angkot menuju stasiun Bojonggede, meluncur ke Depok.

Isi kereta jurusan Jakarta pada jam sesore ini sungguh melegakan. Tidak penuh berdesak-desakan. Seorang pengamen tunanetra dengan tape tergantung di leher melenakan aku. Lagunya Titip Rindu Buat Ayah-nya Ebiet G Ade. Tanpa sadar aku mengikuti liriknya dalam gumaman. Aku betul-betul menikmati sajak sore ini. Tiba-tiba aku ingin cepat-cepat pulang ke Bandung.

Sampai Depok, rasanya kelelahan datang mengetuk pintu tubuh. Kuputuskan menginap di rumah kawanku Rizal. Baru besok pagi-pagi benar meluncur naik ke Bandung. Tapi Rizal belum pulang kantor. Aku sedang malas mengobrol. Kuputuskan tidak mengontak Nissa Cita atau Arnelis di Depok sebagai kawan mengobrol. Entah sedang di mana mereka. Kepala terasa penuh, banyak yang ingin ditumpahkan. Kumasuki sebuah warnet. Aku menunggu Rizal hingga malam. Selesai sudah cerita Suatu Malam di Bojonggede. Cerita selanjutnya Tiga Harmal di Utankayu. Perkunjungan-perkunjungan berikutnya masih terus berlanjut. Lebih erat, lebih akrab, lebih mesra.

Begitulah.

Rumah Malka, 25 September 2005, Minggul, 17.41 wib.


message 24: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 224 comments Aveline wrote: "DM? Daniel Mahendra? Bukankah dia penulis Epitaph? Dan kalau tak salah juga pernah kabarnya dia salah seorang editor buku PAT.

Kalau ya, tak heran aku dengan kedekatan seorang DM dengan PAT sampai..."


yup betul sekali Aveline..DM itu Daniel Mahendra penulis novel Epitaph..


message 25: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 224 comments Pram dan Rumah Bojonggede
oleh Daniel Mahendra

Apa yang terjadi dengan kediaman Pram di Bojonggede sejak 100 hari sepeninggal Pram? Tidak terjadi apa-apa. Rumah itu tetap kukuh berdiri. Tetap 6 lantai tingginya. Tetap lapang halamannya. Tetap luas ladangnya. Tetap rindang pepohonannya. Tetap cerewet angsanya. Tetap berkecipak kolam ikannya. Sama saja. Tak ada yang beda. Bedanya: sudah tak ada Pramoedya Ananta Toer tinggal di sana.

Pada hari-hari biasa saat Pram masih lagi hidup, rumah ini dihuni oleh empat orang. Maemunah Thamrin, istri Pram. Astuti Ananta Toer, anak keempat Pram. Arina Ananta Toer, anak kelima Pram, dan Pram sendiri. Pram dan Ibu Maemunah menempati kamar di lantai 3. Astuti di lantai 2. Sementara Arina di lantai 4. Sejak Pram meninggal, Astuti berinisiatif menemani Ibu Maemunah di kamar lantai 3 lantas mengosongkan kamarnya di lantai 2. Sehingga kini praktis rumah berlantai 6 ini dihuni hanya oleh 3 orang perempuan.

Pada siang hari rumah dan lingkungan sekitar tetap berjalan seperti biasa. Ada Arif, lelaki berumur 25 tahunan, yang bertugas mengurus segala urusan rumah hingga kebun. Dari mencuci mobil hingga mengganti air kolam renang. Dari mengepel lantai (enam lantai tentu saja. Bayangkan!) hingga memangkas rumput halaman. Sejak pagi Arina sudah bisa dipastikan mendekam di kandang, bermesraan dengan ayam-ayam kesayangannya. Astuti lebih banyak di perpustakaan atau di meja kerja depan tv. Sementara Ibu Maemunah mendapat jatah: menonton tv, meski kalau diperhatikan, lebih banyak tidurnya ketimbang menyaksikan acara tv.

Sejak kepergian Pram, di rumah ini jarang sekali terjadi kegiatan masak. Makan sesukanya saja. Masak untuk sendiri saja. Begitu pun ketika aku tinggal di sana untuk beberapa lama. Kalau mau makan ya menggoreng telur atau tahu. Sesekali Ibu Maemunah memang masak. Meski itu berupa semur tahu, urap daun pepaya yang diambil dari ladang, atau balado ikan asin, yang sungguh mati nikmat dimakan dengan kepulan nasi hangat.

Praktis demikian kegiatan sehari-hari di rumah Bojonggede sepeninggal Pram. Kalau matahari sudah pamit pada senja, dan malam mulai menurunkan selimut hitamnya, keheningan rumah ini mulai terasa. Sangat terasa. Ibu Maemunah dan Arina selepas Isya sudah siap di depan tv. Astuti juga di depan tv, mungkin bedanya ia cukup duduk memisah di meja bulat, bekerja atau apa saja. Biasanya mengoreksi naskah-naskah ayahnya yang hendak diterbitkan.

Kalau sudah seperti itu, aku suka berjalan-jalan seorang diri di halaman rumah atau nongkrong di teras depan, sembari merokok. Dulu Pram masih bisa diajak merokok atau bercerita di teras depan rumah. Meski di masa tuanya Pram terhitung tidur cukup cepat, tapi selepas Isya, Pram masih suka menyisakan waktu untuk melamun sembari merokok di depan rumah.


message 26: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 224 comments Kesunyian memang sangat terasa di malam hari sejak Pram tiada. Dulu aku selalu tidur di lantai 5. Meski banyak kudengar cerita-cerita minor tentang rumah ini berupa “penampakan-penampakan”, tapi tak satu pun pernah kualami. Kala ada Pram, tentu saja aku berani tidur di lantai 5, meski sendiri. Karena Pram, dalam semalam bisa sampai 5 kali ke kamar mandi. Penyakit diabetesnya mengharuskan ia bolak-balik sebanyak itu. Atau terkadang Pram suka turun ke lantai dasar pada jam 2 pagi. Meski hanya mendengar suara pintu dibuka, aku merasa aman dan tak sendirian, karena itu pasti Pram. Tapi kini, aku memilih lebih baik tidak tidur daripada harus mendekam sendirian di lantai 5. Untungnya kamar Astuti di lantai 2 kosong dan tak ditempati. Jadinya aku memilih tidur di kamar lantai 2 saja.

Kamar Pram dan Ibu Maemunah di lantai 3 sangat luas. Selepas pintu masuk terdapat ruang paviliun yang terdiri dari kamar mandi dan ruang kerja. Masuk lagi lebih ke dalam, baru kamar Pram sesungguhnya. Teramat luas dengan dua tempat tidur ukuran double. Langit-langitnya langsung menempel pada atap genting. Terdapat banyak jendela sehingga saat pagi datang, kamar ini cukup mendapat siraman matahari. Tak ada hiasan dinding di dalamnya.

Ada sebuah AC menempel di dinding. Sebuah meja hias lengkap dengan kaca berdiam sendirian di antara dua tempat tidur. Beberapa lemari pakaian dan sebuah pintu yang dapat diakses ke teras, malah dapat langsung turun ke halaman belakang. Dari jendela atau terasnya, kita dapat melihat perumahan penduduk di desa sekitar.

Kalau kebetulan lewat Bojonggede, mampirlah ke Jalan Warung Ulan. Berkunjunglah. Kalau ada buah nangka masak, akan bertambah nikmat berbincang dengan penghuni rumah sembari mencomoti buah nangka, dan berceloteh kenangan tentang Pram.

Namun kini rumah bernomor 9 itu sudah ditinggal oleh seorang lelaki bernama Pramoedya Ananta Toer.

-Dia telah pergi ke tempat ke mana setiap orang akan dan sedang pergi. (Rumah Kaca)-

Bandung, 16 Agustus 2006.


back to top