Goodreads Indonesia discussion

166 views
Klub Buku GRI > Baca Bareng Buku "Garis Perempuan" oleh Sanie B Kuncoro

Comments Showing 1-50 of 175 (175 new)    post a comment »
« previous 1 3 4

message 1: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Hai Temans,

Baca bareng bulan ini adalah Buku Garis Perempuan oleh Sanie B Kuncoro Kenapa buku ini, karena Bulan April nanti kita akan merayakan Hari Kartini dan Klub Buku akan membahas buku Garis Perempuan ini bersama penulisnya. Jadi bakalan seru jika kita baca bukunya dulu khan? Apalagi buku ini berkisah mengenai pengembaraan 4 perempuan dalam menemukan makna hidupnya. Cocok khan dibaca buat Kartinian? Dan denger-denger buku ini membahas mengenai Ke-perawan-an...eeehhhhmmm bakal cocok sama buku Non Fiksi yang kita baca bareng juga. Pasti seru nih.

Nah, buat yang mulai baca dan sedang membaca, jangan lupa share disini yah, mengapa buku ini seru atau dimana letak tidak serunya. Bagi-bagi kesan-kesannya yah. Dan buat yang sudah selesai baca jangan lupa Copy-paste Link reviewnya disini.

Semoga suka dan selamat membaca.

Terima kasih.


message 2: by Truly (last edited Mar 02, 2010 04:00PM) (new)

Truly (uyi_adi) | 1688 comments Yang masih belum punya bukunya, silahkan menghubungi agen untuk harga khusus GRI he he he
*tetap usaha*


message 3: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Gue Dukung Mbak Truly. Hari ini aku yang ambil yah...hehehe.


message 4: by Truly (new)

Truly (uyi_adi) | 1688 comments Siap..........!
Ntar sms aja aku buat pengaturan lebih lanjut
*agen dan bandar bernegosiasi pengiriman*


message 5: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Siap Mbak :D


ijul (yuliyono) (ijul) | 1201 comments *mata mengerling berputar-putar melihat agen dan bandar bertransaksi*

semoga semua lancar, mbak berduaaaaa.........btw, terkait Hari Kartini dan buku Garis Perempuan ini, makhluk yang berjenis laki-laki teteup boleh berpartisipasi, kan??


message 7: by Truly (new)

Truly (uyi_adi) | 1688 comments Boleh lah.....
Sebenarnya, akan lebih menyenangkan jika membeli beberapa buku ini lalu dibagikan kepada para perempuan sebagai tanda apresiasi *ngantri paling depan*


ijul (yuliyono) (ijul) | 1201 comments *ngecek kulkas, ada simpenan duwit nganggur gak ya?*


message 9: by Mia Prasetya (new)

Mia Prasetya (miaqueen) | 111 comments Asyiik bisa ikutan baca bareng GRI lagi :) *nunggu kiriman mbak Truly ahhh*


message 10: by Truly (new)

Truly (uyi_adi) | 1688 comments Sabar.....segera yah
Mau dikirim dulu apa ntar nunggu di ttd sama pengarangnya pas bookclub?


message 11: by Mia Prasetya (new)

Mia Prasetya (miaqueen) | 111 comments Ditunggu aja mbak, kan biar dapet tanda tangannya hehe. Thx ya mbak Truly..


message 12: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Jyah..Queen Mia, Sebulan lagi dong. Khan baru bulan depan ketemu Mbak Sanie-nya.


message 13: by Truly (new)

Truly (uyi_adi) | 1688 comments Mia... solusi termudah adalah beli lagi ntar si swap
or minjem punya orang biar bisa ikutan diskusi he he he


message 14: by Mia Prasetya (new)

Mia Prasetya (miaqueen) | 111 comments Oalahh maap maap ga mudeng ni, udah seneng mau baca buku bareng :D Yawdah mbak, diriku ga nunggu tanda tangan mbak Sanienya hihi.
Book swap ya? Hmmm, agak susah ni di sini, musti mengerahkan anggota Gr seBali hehe..


message 15: by Truly (new)

Truly (uyi_adi) | 1688 comments Ok begitu buku aku dapat aku kirim yah
Eh.... gimana kalo pembatasnya aku comot?
ntar minta ttdnya disana, terus dikirim ke Bali
Tinggal dilaminating aja
Buku bisa dapat cepat, ttd juga dapat ^_^
*trik yang sering dipakai*


message 16: by Dewayanie (new)

Dewayanie prasetio | 42 comments kapan sih acara bareng Sanie_nya temans...?

ini link review aku ya....:)
http://www.goodreads.com/review/show/...


message 17: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments aku sudah bacaaa! *bangga*


message 18: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Reviewnya bagi disini dong Mbak Endah...hehehe.


message 19: by Ditta (new)

Ditta | 422 comments tanggal 11 ini mba sanie ke jakarta loh,,
bisa di"culik" ga ya??


message 20: by Roos (last edited Mar 03, 2010 11:42PM) (new)

Roos | 2991 comments Waaaaaaaaaaaaaahhh, diculik ajah yuk Dit...hehehe.


message 21: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments agenda Susan dgku salah satunya adalah ke toko buku di pojokan TIM itu. Ada yg mau ikut?


message 22: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Oiya, FYI, mbak susan kemarin ultah :)


message 23: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Atas permintaan Roos :

Perempuan. Makhluk yang konon diciptakan dari seruas tulang rusuk pria ini memang selalu menarik untuk dibincang, ditulis, dibahas, ditelanjangi (pakai tanda petik, ya). Dan mungkin yang paling tepat melakukannya adalah perempuan itu sendiri. Apalagi jika menyangkut hal-hal yang hanya dimiliki dan dialami oleh perempuan. Misalnya, keperawanan. Siapa yang lebih paham tentang “rahasia besar” ini kecuali para perempuan?

Apakah hari ini isu keperawanan masih memiliki arti penting? Bisa jadi ya, setidaknya dalam novel perdana Sanie B Kuncoro ini. Novel dengan seting sebuah daerah di Jawa Tengah ini, bertutur ihwal empat orang gadis dalam memandang dan menyikapi makna keperawanan. Bagi Ranting, Gendhing, Tawangsri, dan Zhang Mey, keperawanan bisa menjadi sebuah anugerah atau justru malapetaka.

Siapakah sebenarnya yang paling berhak dan berkepentingan dengan keperawanan seorang perempuan? Mestinya, perempuan itu sendiri sebagai pemilik yang sah. Namun, pada kenyataannya, sering kali seorang atau banyak perempuan terpaksa harus kehilangan miliknya yang (mungkin) paling berharga itu demi sesuatu yang sesungguhnya tidak dia inginkan. Umpamanya, yang dialami Ranting.

Gadis miskin ini menghadapi dilema. Ia harus melunasi utang puluhan juta untuk biaya operasi ibunya. Ranting, karena kemiskinannya, tak punya banyak pilihan. Jika hanya mengandalkan hasil jualan karak (semacam kerupuk yang terbuat dari beras), seumur hidupnya pun utang itu tak akan pernah terbayar. Tetapi, dia juga tidak mungkin membiarkan ibunya dalam penderitaan terus menerus. Sementara itu, ada seorang lelaki yang menawarkan jalan keluar: bersedia membayarkan utangnya asalkan Ranting mau dijadikan istri ketiga. Sungguh pilihan yang sulit.

Tak jauh dari Ranting, ada seorang gadis lain yang mengalami nasib nyaris serupa. Gadis itu, Gendhing, berada pada kondisi sosial ekonomi yang hanya sedikit saja di atas Ranting. Berkat kerja keras orang tuanya–ayahnya tukang becak dan ibunya kuli cuci pakaian–Gendhing agak lebih beruntung ketimbang Ranting karena bisa menyelesaikan SMA-nya sehingga ia bisa bekerja di salon milik majikan ibunya sambil terus mencari peluang kerja yang lebih baik.

Celakanya, sebelum sempat mewujudkan cita-cita, Gendhing terbentur sebuah masalah. Seperti Ranting, ia pun terpaksa pasang badan untuk menyelamatkan orang tuanya dari belitan utang. Lagi-lagi, solusi yang disodorkan pada seorang perempuan yang terjepit adalah sebuah barter pelunasan utang dengan penyerahan dirinya, entah sebagai istri kesekian atau sekadar “simpanan”.

Dalam kasus Ranting dan Gendhing, akar masalahnya adalah kemiskinan. Kedua gadis ini sadar betul tubuh perawan mereka memiliki nilai jual yang tinggi. Pada para lelaki yang terobsesi tidur dengan para perawan, Ranting dan Gendhing menemukan pembeli yang bersedia membayar mahal. Terjadilah sebuah transaksi dan saat itu keperawanan hanyalah sebuah komoditi.

Lain halnya dengan Tawangsri dan Zhang Mey. Kedua wanita ini barangkali jauh lebih beruntung daripada dua sahabat mereka. Sri dan Zhang (mengapa bukan Mey?) tidak mesti bergulat dengan kemiskinan. Orang tua mereka berada pada level sosial ekonomi menengah atas. Sementara Ranting dan Gendhing harus bermandi keringat mengais rezeki, Sri dan Zhang menikmati dunia kampus tanpa harus memikirkan biayanya. Bagi Sri dan Zhang, tersedia lebih banyak pilihan, termasuk menentukan kepada siapa tubuh perawan mereka akan dipersembahkan. Mungkin untuk kekasih sebagai bukti cinta atau kepada suami di malam pengantin.

Pilihan Sanie pada tema “perawan” ini, mungkin berdasarkan pengamatannya terhadap sekitar. Penulis yang berumah di Solo ini, barangkali menemukan fakta bahwa keperawanan masih merupakan sesuatu yang dianggap penting. Baik oleh perempuan atau pun (lebih-lebih) lelaki, khususnya pada masyarakat Timur. Di novelnya ini, Sanie mengambil latar budaya Jawa dan Cina, dua kultur yang sangat karib dengannya. Sebagi seorang peranakan Cina yang lahir dan besar di Solo, Sanie tentu sangat memahami persoalan-persoalan yang ia tampilkan, baik kultural maupun sosial ekonominya.

Dengan gaya menulisnya yang khas–romantis melankolis, sehingga kadang terkesan berlarat-larat dengan kalimat–Sanie mengurai kisahnya menjadi empat bagian inti yang masing-masing menceritakan keempat tokoh utamanya. Pembagian ini memudahkan pembaca mengikuti alur novel yang linier. Latar budaya Jawa dan Tionghoa, cukup terwakilkan. Beberapa ungkapan dan dialog dalam kedua bahasa berhasil menghidupkan cerita. Untuk para pembaca yang tidak paham bahasa Jawa dan Mandarin, jangan khawatir, penulis langsung menerjemahkannya di situ juga, tak perlu repot-repot melirik catatan kaki. Alhasil, novel ini lumayan menarik untuk dicermati. Sangat perempuan. Banyak hal yang mengundang untuk didiskusikan lebih lanjut.

Terlepas dari kisah keempat dara tadi, saya pun masih sering “menemukan” pria (dan banyak!) yang mencari seorang calon istri perawan. Bagi mereka, ada semacam sebuah kebanggaan jika berhasil menjadi yang pertama memerawani perempuan yang menjadi istri mereka. Keperawanan juga menjadi bukti kesucian seorang perempuan. Seolah-olah para wanita “suci” ini benar-benar belum pernah tersentuh kulit lelaki dan sebaliknya, jika sudah tidak perawan berarti perempuan tersebut bermoral bejat. Dan kita tahu, stigma ini tidak berlaku buat para lelaki.

Ini hanya masalah kultur yang notabene hasil ciptaan manusia (baca: lelaki). Sejak dulu, para perawan sudah diposisikan sebagai korban. Lihat saja ritual-ritual agama kuno yang selalu menyajikan seorang perawan di altar sebagai persembahan kepada para dewa. Atau pada masa yang lebih moderen lagi, perawan-perawan kerap dijadikan upeti kepada para raja atau sebagai pampasan perang. Pada abad 21 ini, hal serupa masih berlanjut dalam kemasan yang sedikit berbeda. Terjadi pada perempuan-perempuan tak berdaya seperti Ranting dan Gendhing. Kalau begini, sebuah anugerah atau bencanakah menjadi seorang perawan? Ternyata, tak semata-mata soal pilihan.***


message 24: by Truly (new)

Truly (uyi_adi) | 1688 comments Muantap........!
*murid kasih hormat sama suhu*


message 25: by Beatrice C. (new)

Beatrice C. (beatricecwalter) | 171 comments Baru dibeli tadi malam di tengah guyuran hujan.
Dan baru tiba di halaman 27, akan beranjak ke halaman 28.
Luar biasa. Tiap halaman buku ini seakan mewakili perasaan tiap insan perempuan belia yang akan beranjak dewasa kelak.

Aku selalu menemukan quote-quote menarik di tiap halaman, seperti:

"Imajinasi adalah sebuah kemerdekaan, dimiliki setiap orang, dengan atau
tanpa realisasi..." (hal.4)

"...Tidak semua adat kebiasaan harus dilakukan, tapi kalau ada kemampuan untuk melaksanakannya, ya selayaknya dilakukan...." (hal.23-24)

"...karena setiap perempuan adalah perawan." (tagline hal.13 & kalimat di hal.23)

dan sekarang lanjut menjajaki halaman 28.


message 26: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Waaaaaaaaaaahhh...mantap nih Bea.


message 27: by Mia Prasetya (new)

Mia Prasetya (miaqueen) | 111 comments Baca bareng kedua saya bareng GRI.
http://www.goodreads.com/review/show/...

Hmm harus ada seru ga serunya ya mbak Roos :)
Serunya : Kalimatnya bagus-bagus, persahabatan yang tak pupus oleh waktu. Saya sangat suka kisah hidup Ranting dan Gendhing.

Tidak serunya : nah sebaliknya kisah hidup Tawangsri dan Zhang Mey tidak sekuat kedua temannya entah kenapa sepertinya porsi Ranting dan Gendhing lebih besar.
Endingnya kurang seru dikit :p


message 28: by Ayu, Moderator (new)

Ayu Yudha (ayu_yudha) | 1280 comments Mod
hwaaaa.... bukunya bagus, dengan bahasa yg indaah.
blm bikin review nih.

karna mbak drama queen udah komentar soal wanita2nya diatas, saya mau komentar soal prianya ajah.

diantara sekian banyak tokoh pria yang hadir, saya kok malah paling suka sama suaminya si Ranting yah?? :p


message 29: by Mia Prasetya (new)

Mia Prasetya (miaqueen) | 111 comments Iyah!! Setuju yu, berasa dewasa dan pengertian ya? Walo dah punya 3 istri huhu... Jenggala, yang semestinya bisa menarik perhatian saya, duda nak satu yang perhatian tapi koq berasa kurang gregetnya :P


message 30: by Ayu, Moderator (new)

Ayu Yudha (ayu_yudha) | 1280 comments Mod
sepakat bgt.. kl si Jenggala itu emang keknya msh terikat bgt sm ex. istrinya itu deh..


message 31: by Speakercoret (new)

Speakercoret | 2570 comments hush hush... belom kelar baca niiiiiih *njitak yudha ma dq*


message 32: by Mia Prasetya (new)

Mia Prasetya (miaqueen) | 111 comments *elus elus bekas jitakan mbak Mute* Udah sampai mana mbak :p spoiler ayu sama saya spoiler ringan koq :D


message 33: by ijul (yuliyono) (new)

ijul (yuliyono) (ijul) | 1201 comments sejak serah terima dari mbak Truly pas nobar Alice in Wonderland, buku ini belum kesentuh lagi....duhh....smangat baca saia lagi anjlok ke titik nadir...gaswattttt.....padahal kan saia juga ngebet pengen ikut bahas buku ini April ntar.....


message 34: by e.c.h.a, Moderator (new)

e.c.h.a (rezecha) | 2012 comments Mod
Kelar baca buku ini, walau ada keenganan untuk menutup buku ini.

Monggo...ini review gw http://www.goodreads.com/review/show/... Masih ada yang ganjel klo sdh ngomongin perempuan.


message 35: by Indri (new)

Indri Juwono (indrijuwono) | 2862 comments sudah baca dan mereview, entah kenapa tidak ada laki2 yang saya suka di novel ini.

membaca ini jadi inget sahabat2 masa kuliah yang sekarang sudah nyebar di medan, bali, solo, banjarmasin, apalagi kami bertujuh berbeda etnis, suku, agama dan tingkat ekonomi. dulu kami sering membahas tentang cinta dan perempuan.. miss u girls..

jadinya karya sanie yang maaf 'hanya' seputar jawa dan cina ini agak kurang karena lebih pada paparan ekonomi yang memaksa keadaan. yah, karena saya dulu sering membahas soal adat, etnis dan agama bersama2, yang menjadi pertimbangan akan jodoh.

Karena itu justru karakter Zhang Mey terasa mewakili sekali dengan nasib kami.. (ketika itu)
:))
*obrolan pajamas party*


message 36: by Mia Prasetya (new)

Mia Prasetya (miaqueen) | 111 comments Setuju banget mbak Indri, dengan karakter Zhang Mey yang mewakili nasib mbak dengan teman-teman. Saya berasa juga gitu, inget jaman kuliah, kami ber8 etnis dari Jawa, Kupang, Arab, Cina dan Batak, pjamas pary ya ga jauh jauh dari masalah adat, etnis plus jodoh.
Mungkin karena novel ini sangat perempuan, kesan laki-laki di sini hanya sebagai pelengkap cerita saja.


message 37: by Indri (new)

Indri Juwono (indrijuwono) | 2862 comments ahaa DQ, sahabat2 gw juga Batak medan, Batak jakarta, Jawa, Cina, Menado-sunda, Bali. gw sendiri Jawa Sunda..

iyaah, kl ketemu ngomongin jodoh dan kesulitan nyari jodoh seetnis n seagama seperti tuntutan ortu.. terutama cewek2 Batak n Bali ini.. Yang Bali lbh repot, karena dia kastanya brahmana, yang mana populasinya dikit kaan..

Tinggal satu nih yang blum, yang batak karena harus nyari orang batak lagi yang.. (duh syaratnya banyak juga ya keluarga dia)
eh, tiba2 teringat Jimmy.. :))


message 38: by Mia Prasetya (new)

Mia Prasetya (miaqueen) | 111 comments Oh iya bener, memang yang kasta tinggi di Bali repot, teman saya juga sampai sekarang belum nikah gara-gara stuck pacarnya 'ga ada nama depan'.


message 39: by Wirotomo (new)

Wirotomo Nofamilyname | 2396 comments udah .... atas nama cinta nggak apa-apa dong turun kasta :-)

tapi susah ya kalau tidak mendapat restu keluarga. kemarin ada teman yg nanya (dia jauh lebih muda dari aku) mengenai ortunya yg sudah dgn gamblang melarang dia berhubungan dengan pacarnya yg sekarang.
aku cuma bilang "ikuti kata hatimu". mana yg paling diinginkan oleh hatimu ... tapi yah aku bilang juga sih, pernikahan yg nggak direstui keluarga itu jarang yg berakhir bahagia (bahkan romeo & juliet pun tidak ;-)) ... sigh....

ah jadi pingin baca buku ini. mau pesen ama Mbak Truly ah. ;-) eh atau ada yg mau minjemin....


message 40: by Indri (new)

Indri Juwono (indrijuwono) | 2862 comments menurut gw mah, 'ikuti kata hatimu' tuh susaah..
bener, keluarga jd pertimbangan jg, gimana2 kan kita kenal keluarga lebih lama drpd kekasih, kecuali kalau keluarganya begitu cuek, sehingga bebas menentukan pilihan.. gak peduli bahwa pilihannya itu terkenal, kaya, dan cakep..

laah, jd curcol begini..
cinta dan rasional, tidaklah mudah..


message 41: by Ayu, Moderator (new)

Ayu Yudha (ayu_yudha) | 1280 comments Mod
untung orang jawa gak banyak tuntutan.
asalkan seagama aja udah di-ok-in laah..

*pake dodot peri*


message 42: by Speakercoret (new)

Speakercoret | 2570 comments tergantung keluarganya juga kali yud, temen gw susah tuh.. keluarganya masih kolot bener, berapa kali pacaran akhirnya nyerah juga, nerima dijodohin ma orangtuanya


message 43: by Indri (new)

Indri Juwono (indrijuwono) | 2862 comments lah, gw ga boleh waktu pacaran sama orang padang..
walopun gw jawa..

jdnya langsung putus..


message 44: by Ayu, Moderator (new)

Ayu Yudha (ayu_yudha) | 1280 comments Mod
masa sih? kirain semua orang jawa sama2 nge-bebasin anaknya..

@kak mute: dijodohin sm org mana?
@kak indri: emang knapa dgn org padang?


message 45: by aldo zirsov (new)

aldo zirsov (aldozirsovlibrary) | 376 comments ayu-si-peri-kecil wrote: "@kak indri: emang knapa dgn org padang?"

mungkin karena alasan2 di tulisan berikut ini Ayu:
http://www.goodreads.com/story/show/2...

lolz...


message 46: by Wirotomo (last edited Mar 17, 2010 04:11AM) (new)

Wirotomo Nofamilyname | 2396 comments nggak Ayu, itu mah tergantung ortunya.
kalo Ibuku syaratnya cuma asal seagama. Itupun cuma krn alm. ayahku agak "keras" soal itu. jadi Ibuku nggak enak kalau nanti mantunya beda agama. jadi kalo Bapakku alm nggak gitu, mungkin Ibuku bener2 terserah aku milihnya. :-)

Ah tapi itu pun ndapetinnya susah... padahal udah bebas. hehehe....


mengenai mengapa orang Padang (Minang sih tepatnya) agak dihindari dalam hal perjodohan karena kita semua sudah diracuni stereotype mengenai orang Minang seperti yg ditulis Aldo itu hehehe... padahal belum tentu bener juga sih. Paling nggak 3 temanku yg orang Minang nggak begitu, tapi asal anda tahu aku punya kurang lebih 50 teman Minang, dan sialnya di luar 3 orang itu memang begitu sifatnya hahaha.....


message 47: by Speakercoret (new)

Speakercoret | 2570 comments aldozirsov wrote: "ayu-si-peri-kecil wrote: "@kak indri: emang knapa dgn org padang?"

mungkin karena alasan2 di tulisan berikut ini Ayu:
http://www.goodreads.com/story/show/2......"


hehehehe baru baca *ngakak guling2*


message 48: by Ayu, Moderator (new)

Ayu Yudha (ayu_yudha) | 1280 comments Mod
hahaha... note-nya bener2 lucu mas aldo. itu based on survey yah? :p @mas tomo: hehe.. tmnku yg org pdg juga ga gt2 bgt kok. tp ya memang ada sih org pdg yg bersifat sperti 30 poinnya mas aldo itu.. :)


message 49: by Indri (new)

Indri Juwono (indrijuwono) | 2862 comments bukan cuma padang ayu..
semuanya kali, pokoknya harus orang jawa.

nggak tau tuh nyokap gw, dulu begitu.. mungkin supaya penyesuaian adat istiadatnya gak sulit ya.

padahal kl gw sih yang penting engineer ato dokter, haha *evilgrin*
dan yang mengerti kelakuan gw yang ajaib ini,.. dan jadi temen ngobrol yang oke..


message 50: by Thesunan (new)

Thesunan | 511 comments gw pernah pacaran sama orang jawa, dan keluarganya gak setuju, sempet backstreet dan akhirnya berpisah karena tetap gak dapat persetujuan... padahal udah era 2.0 gitu loohh.... masih aja sibuk dengan ke-suku-an


« previous 1 3 4
back to top

unread topics | mark unread


Books mentioned in this topic

Garis Perempuan (other topics)

Authors mentioned in this topic

Sanie B. Kuncoro (other topics)