Goodreads Indonesia discussion

117 views
Sobat Perpus > Perpustakaan Daerah yang Merana

Comments Showing 1-24 of 24 (24 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Lutfi (last edited Aug 25, 2016 12:05PM) (new)

Lutfi Retno (LutfiRetnoWahyudyanti) | 185 comments Minggu lalu, saya pergi ke sebuah perpustakaan daerah untuk mendaftarkan beberapa perpustakaan dusun. Saya sempat ngobrol dengan salah seorang petugas perpustakaan. Sebut saja Bapak A.

Bapak A bercerita kalau perpustakaan daerah memiliki banyak kendala yang berkaitan dengan birokrasi. Dalam satu tahun, mereka mendapat anggaran 200 juta untuk membeli buku. Anggaran ini hanya bisa dipakai sekali dalam setahun. Jika ada buku baru, perpustakaan harus menunggu pada saat anggaran turun. Jadi, jangan pernah berharap bisa membaca buku baru di perpustakaan daerah. Pembeliannya pun melalui tender. Sering terjadi, judul buku yang ingin dibeli perpustakaan tidak bisa seluruhnya dipenuhi.

Bapak A bercerita perpustakaan daerah melayani paket peminjaman buku untuk perpustakaan komunitas. Perpustakaan daerah meminjamkan 100 buah buku ke perpustakaan komunitas. Buku-buku ini diputar tiap bulan dengan perpustakaan komunitas di tempat lain.
Saya tertarik dan ingin mendaftarkan perpustakaan dusun dampingan saya untuk paket peminjaman buku. Saya bertanya pada Bapak A, buku seperti apa saja yang bisa dipinjamkan? Bisakah kami meminta buku dengan judul tertentu? Bapak A menjawab tidak bisa. Perpustakaan daerah memiliki SDM terbatas. Mereka tidak punya waktu untuk memilihkan buku. Jadi seratus buku yang akan dipinjamkan tergantung pada stok buku yang ada.

Saat saya bertanya bisakah kami mengajukan jenis buku yang ingin kami pinjam? Bapak A juga berkata, “Silakan saja mengajukan. Tapi jangan berharap banyak bisa terpenuhi. Kami tidak punya banyak tenaga untuk itu.” Bapak A kemudian bercerita tentang pegawai-pegawai di perpustakaan. Mereka adalah tipe pegawai negeri yang tidak mengenal sistem imbalan dan hukuman. Bekerja rajin atau malas, gaji yang mereka terima sama saja tiap bulan. Sejak tahun 2007, perpustakaan daerah tersebut berusaha membuat komputerisasi katalog untuk semua koleksi bukunya. Sistem ini nantinya akan mempercepat dan mempermudah proses peminjaman buku. Bapak A pesimis kalau katalogisasi buku bisa selesai tahun 2008. Pegawai perpus dibayar lembur berdasarkan jam bukan pekerjaan yang bisa mereka selesaikan. Jadi sama saja jika dalam satu jam mereka bisa menyelesaikan lima atau duapuluh buku.

Saya kemudian bercerita tentang museum-museum yang pernah saya kunjungi. Banyak yang tidak terawat. Petugasnya pun malas-malasan. Sepertinya karena mereka juga tidak mendapatkan imbalan dan hukuman atas pekerjaannya. Bapak A bercerita jika perpustakaan dan museum adalah sarana umum yang tidak menguntungkan untuk para pengambil kebijakan. Para pengambil kebijakan lebih memilih untuk memberikan porsi besar ke dinas-dinas yang bisa mendatangkan uang bagi mereka jika nanti ada proyek. Bapak A juga berkata, para pengambil kebijakan ini jarang ada yang tertarik dengan dinas-dinas yang mencerdaskan banyak orang. Mereka justru takut kalau nanti semakin banyak orang cerdas, semakin banyak orang yang memprotes kebijakan yang dibuat pejabat.

Kami kemudian mengambil kesimpulan kalau orang Indonesia itu tidak benar-benar religius. Mereka hanya melakukan ibadah dalam bentuk ritual. Kebanyakan orang Indonesia tidak mengenal konsep kerja itu ibadah. Mereka juga tidak ingat suatu saat nanti mereka akan mati dan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatannya.


message 2: by Evikaye (last edited Aug 25, 2016 12:06PM) (new)

Evikaye | 1 comments Wah, nyata benar kalo Bang Lutfi juga orang Indonesia pada umumnya... hehe. Jangan mencap "orang Indonesia" dong. Kayaknya semuanya kayak gitu. Tulis aja, "Kami kemudian mengambil kesimpulan kalau kebanyakan orang Indonesia itu tidak benar-benar religius..."

Tidak semua orang Indonesia seperti itu kok. Saya kenal banyak orang yang religius banget. Yang mengerti bahwa ibadah (terutama yang muslim, karena saya muslim, dan banyak bergaul dengan muslim) tidak hanya sholat, puasa, zakat, naik haji. Melainkan setiap aspek kehidupan di dunia ini adalah ibadah.

Mulai dari menyapa orang yang dikenal dengan senyum sehingga orang yang disapa merasa berarti, hingga mengerjakan pekerjaan di kantor dengan sebaik-baiknya agar bermanfaat bagi dirinya dan orang lain adalah ibadah.

Asal dilakukan dengan syarat berlaku (syar'i).


message 3: by Ipunk (last edited Aug 25, 2016 12:09PM) (new)

Ipunk | 1 comments Tidak akan menyalahkan siapa-siapa, hanya menekankan kalau kepedulian orang Indonesia terhadap bangsanya sendiri masih sangat kurang, terutama dalam hal "untuk mencerdaskan kehidupan bangsa" seperti dicantumkan dalam pembukaan UUD'45, dan ini sangat disayangken sekali..apalagi buat lembaga pemerintahan yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan melayani masyarakat secara umumnya, seharusnya yang patut dipertanyakan adalah..apakah Indonesia ini sudah benar-benar Merdeka?? untuk bisa membaca saja masih dipersulit, apalagi untuk bisa berekspresi mengutarakan ide-ide yg tujuannya untuk memajukan kesejahteraan umum :)

Lebih lagi disangkutkan dengan Ibadah, sangat jelas sekali di dalam kitab suci agama apapun menganjurkan bahkan memerintahkan penganut-Nya untuk menjaga hubungan secara Horisontal dan selalu mlaksanakan hubungan Vertikalnya.


message 4: by Gharonk (last edited Aug 25, 2016 12:13PM) (new)

Gharonk | 9 comments Hal sama berlaku di perpustakaan daerah tempat saya... Pandaan - Pasuruan...suatu kali saya ingin menyumbangkan buku buku saya ke perpustakaan tersebut, namun apa jawabnya? mereka bilang mereka tidak bisa menerima buku saya karena prosedur nya memang berbelit. Perubahan belum memungkinkan untuk itu sebelum budaya bekerja sebagai ibadah tidak menjadi anutan utama. Akhirnya saya urungkan niat saya sembari berharap saya dapat mendirikan perpustakaan komunitas sendiri di kampung saya sana

Saya berharap kita yang muda muda ini membentuk jaringan perpustakaan komunitas di seluruh indonesia. Misalnya Femmy punya 500 buku yang sudah dibaca dibikinlah perpustakaan di jakarta.. dan dapat dipinjamkan ke perpustakaan komunitas di tempat lain (katakanlah ada enam daerah: di jakarta, surabaya, balikpapan, bandung, makassar, medan)

Saya pribadi insyaallah akan mendirikan perpustakaan komunitas di kampung saya di Pandaan.

Bagaimana yang lain?


message 5: by Femmy, Pendiri GRI (last edited Aug 25, 2016 12:13PM) (new)

Femmy | 674 comments Mod
Setuju. Kalau memang tidak puas dengan perpustakaan yang ada, alangkah baiknya kalau kita yang ikut aktif. Untuk jaringan buku anak, sudah ada organisasi seperti 1001buku.org. Kalau tak ada waktu atau tempat untuk bikin perpustakaan sendiri, bisa juga menyumbang ke mereka.


message 6: by Gharonk (last edited Aug 25, 2016 12:14PM) (new)

Gharonk | 9 comments AKu lebih konsentrasi ke daerah Femmy... disini di Chevron Balikpapan sini ada beberapa engineer muda yang berkehendak untuk mendirikan perpustakaan / rumah buku..

Kalau di jakarta aku yakin sudah banyak teman yang bergerak... semakin terpencil semakin besar driving force buat memajukannya..


message 7: by ratna (last edited Aug 25, 2016 12:32PM) (new)

ratna | 61 comments Setuju dg ide jaringan perpustakaan komunitas. Oya, bisa ngga ya kalo usaha2 komunitas yg sudah dimulai di-list di milis ini? Ngga cuma perpustakaan, mungkin juga toko2 buku khusus terutama di berbagai daerah. Sehingga memudahkan kalau kita ingin mencari buku tertentu, kontak person tertentu, atau berkontribusi. Bisa juga kebutuhan perpustakaan / gerakan tertentu disebutkan juga, jika kebetulan tahu.

Misalnya:

Komunitas 1001 buku

= lokasi?
= kontak person?
= jaringan: setiap taman bacaan anak dapat bergabung utk mendapat tambahan buku, informasi, kontak, dsb.
= menerima: sumbangan buku, relawan


Perpustakaan Batu Api
= lokasi:
Jl. Pramoedya Ananta Toer No. 142A
Jatinangor - Sumedang
= kontak person:
Anton Solihin


Tobucil

= lokasi: Jl. Aceh 56, Bandung
= kontak: tobucil@yahoo.com


yang lain?


message 8: by Lutfi (last edited Aug 25, 2016 12:35PM) (new)

Lutfi Retno (LutfiRetnoWahyudyanti) | 185 comments Lutfi itu cewek, jadi jangan dipanggil bang. Saya juga setuju dengan pendirian perpustakaan komunitas. Rencananya tahun depan saya akan membuatnya di daerah Condong-catur, Yogyakarta.

Untuk teman-teman yang tinggal di Jogja, ada yang mau bergabung dan meminjamkan buku?

salam,
Lutfi Retno Wahyudyanti


message 9: by za (last edited Aug 25, 2016 12:55PM) (new)

za (zakiakhmad) | 11 comments Wow, Mbak Ratna tahu juga Tobucil. Wah seru topik ini. Kebetulan aku pernah tinggal di kota Yogya dan Bandung. Jadi sedikit banyak, tahu atmosfer kota ini.

Di Jakarta, tentu sudah pada tahu, Perpustakaan Diknas Senayan, atau lebih populer dengan nama Library@Senayan. Aku belum menemukan perpustakaan senyaman ini, dengan interior yang sungguh modern. Aku memimpikan di setiap kota ada perpustakaan seperti ini.

Kemarin tak sengaja, di Bandung aku menemukan tempat yang juga nyaman untuk membaca. Persisnya di Reading Lights, Siliwangi.

Senang bisa berkenalan dengan pegiat-pegiat buku Indonesia.


message 10: by [deleted user] (new)

Ttg perpustakaan, seperti halnya dlm banyak masalah lain, emang jgn tergantung sama pemerintah kali ya. Gerakan sipil lebih oke. Kayak GR gini, siapa tau, awal2 cuma diskusi buku, lama2 nerbitin buku yg berguna buat org banyak jg ;)



message 11: by Leli (new)

Leli (lelid) | 309 comments merana karena memang tidak populer ya?
(sama halnya dengan planetarium, sedih)

saya ingat ada ide bagus yang muncul dalam diskusi kopdar di mbah jungkrak yang lalu:
diskusi buku di perpustakaan2 daerah/wilayah,
supaya menghidupkan kembali fungsinya dan sekaligus memberi apresiasi kepada staf2 perpus.(mungkin mereka menjadi apatis kerena merasa tidak memberi kontribusi ke masyarkat?)

mudah2an setelah itu servis dan kenyamanan dapat berkembang.


message 12: by Sylvia (new)

Sylvia (sylnamira) | 513 comments Bener banget Leli, sarana umum seperti perpustakaan juga planetarium jarang dilirik orang sebagai tempat rekreasi. Padahal perpustakaan itu tempat rekreasi juga lho..

Promosi untuk menarik orang datang ke perpus yang masih kurang banget, sehingga masyarakat gak ngerasa perpus itu penting. Mungkin daripada ngandelin dr pemerintah, mulai dari perpus daerahnya itu sendiri, gimana mempromosikan perpus nya, bikin tempatnya nyaman sehingga menarik minat org utk berkunjung.

Ok, mungkin memang kedengaran seperti teori banget, tapi itu hal dasar yang perlu dilakukan. Kalau nanti pengunjung banyak, masa sih pemerintah gak ngelirik utk ngasih kucuran dana yang banyak? *semoga*

Liat aja perpus di senayan yg tadi disebut diatas oleh za. Dulu apa ada yang ngelirik perpustakaan diknas tersebut? Tapi setelah masuk orang-orang yg punya pemikiran maju dan berani, lihatlah sekarang, library@senayan bisa diperhitungkan sebagai perpus yg OK, kan?

So, intinya mulailah dari diri sendiri. Ayo promosikan minat baca.

Ayo ke LIRBARY! :D


message 13: by [deleted user] (new)

Memang harus ada inisiatornya, dan tidak semua perpustakaan daerah begitu. Kota Malang misalnya, perpustakaan umumnya dikunjungi lebih dari 1.000 orang/hari (!!). Mereka mencari buku tidak mengandalkan APBD, tapi menggelar banyak acara diskusi, klub baca, klub bhs Inggris dsb. Memang harus ada inisiatornya.


message 14: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 712 comments library@senayan itu bukannya koleksinya sumbangan dari britcoun dulu. setelah bom kuningan, britcoun yang di widjojo center memindahkan koleksi bukunya. artinya dia meningkat setelah ada kerjasama dengan pihak non-pemerintah. maksudnya kerjasama yang bikin bisa nambah buku via non-anggaran. gitu gak?


message 15: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments Barangkali juga kurang promosi kali ya ke sekolah2. Jaman dulu sih saya ngandelin perpus sekolah dan british council. Kita2 ini di SD-SMA rasanya gak pernah dapat gimana caranya proses pencarian informasi di perpus. Sederhana aja, seperti apa aja sih yang kita bisa dapat dari perpus. Saya aja baru dapet khusus melalui mata kuliah penelusuran literatur. Ingat, perpus itu kan bukan cuma buat cari buku fiksi aja. Itu juga yang membuat perpus tidak populer. Merembetnya ya bisa ke kemampuan analisa yang kurang terasah (terutama dalam membuat laporan) karena kurangnya penggalian informasi.
Bagus juga tuh yang dilakukan perpus umumnya Malang.


message 16: by gieb (new)

gieb | 743 comments kerja ya kerja. kerja kok ibadah. kalau kerja itu ibadah ya harus ikhlas dong gak dibayar. masak ibadah minta imbalan. hehe. analogi saja lho.

gieb.
kera ngalam , ker.


message 17: by [deleted user] (last edited Jun 18, 2008 06:18AM) (new)

kita mimpi sama-sama yuk :D dari blog-nya BookFinder

http://journal.bookfinder.com/archive...

terjemahan bebas:
Robot Pustakawan di Stasiun Transit

Baru nemuin berita ini - sebuah sistem perpustakaan yang agak deket dari sini lagi masang Library-A-Go-Go, semacam sistem pemimjaman buku otomatis di stasiun kereta Pittsburg/Bay Point BART.

“Sebuah mesin yang mirip mesin penjual otomatis ditempatkan pada stasiun itu, dan akan menyimpan stok sekitar 400 buku yang bisa dipinjam secara gratis oleh setiap orang yang memegang kartu perpustakaan Kabupaten Contra Costa [penerj.: di Negara Bagian California] yang masih berlaku. Si pengunjung tinggal memasukkan kartunya, mengakses judul-judul yang tersedia, lalu meminjam paling banyak tiga buku. Sebuah lengan robotik akan mengambilkan buku-buku itu. Semua harus dikembalikan ke mesin itu selambat-lambatnya tiga minggu kemudian. Publik bisa mengakses mesin ini dalam jam operasi normal BART. Dalam stok mesin itu juga disiapkan sejumlah judul fiksi dan nonfiksi.” (siaran pers BART)

teks sumber:
Robot transit librarian

Just came across this—a nearby library system is setting up the Library-A-Go-Go, an automated library book lending system at the Pittsburg/Bay Point BART train station.

“A vending-like machine located at the station will hold some 400 books that can be checked out for free by anyone with a valid Contra Costa County library card. A patron will insert the card, get access to the available titles and check out up to three books. A robotic arm will retrieve the books. They must be returned to the book-lending machine within three weeks. The public will have access to the machine during BART’s normal hours of operation. The stock will include both fiction and nonfiction titles.” (BART press release)


message 18: by Coqueline (new)

Coqueline | 608 comments Gue amat sangat mendukung gerakan perpustakaan swadaya komunitas!

Bener, ga bisa ngandelin pemerintah. Pemerintah sama sekali ga ada inisiatif mencerdaskan bangsa (lah, yg duduk di pemerintah aja banyak yg bodoh, mana mau kalo kebanyakan penduduknya kelewat pinter).

Bangsa Indonesia lagi butuh banget untuk dicerdaskan dikit, abis akhir2 ini kebodohan kok semakin merajalela aja. Nah, gimana caranya supaya kita bikin perpustakaan komunitas yg layak dan modern, tapi juga merakyat, dimana abang2 becak gak segan masuk dan ikutan baca buku, anak pengamen merasa gak out of place kalo ikutan milih2 buku. Soalnya justru golongan ini yg butuh banget akses informasi, bukan hanya abg menengah atas yg biasa keluyuran di mall.

Gue dan beberapa teman dari almameter lagi dalam diskusi untuk mendirikan perpustakaan swadaya di Bandung. Kebetulan gue banyak akses ke buku2 second hand, yg disini harganya bisa dibilang murah banget dibanding di Indo, dengan kondisi masih bagus.

Ada saran buat yg udah berpengalaman mendirikan perpus swadaya gimana operasinya, budget maintenance, jumlah koleksi, dan jenis2 buku yg diminati? Rencananya sih 'tema' perpustakaan kami ini lebih ke scientific. Walaupun gak kolot dan terbuka untuk segala jenis genre lain, tapi gak akan memasukkan buku2 manga, chick-lit, atau buku2 yg gak gitu nyambung sama tema spirit perpusnya, dan karena akses gue ke second hand book banyakan buku bahasa Inggris, mungkin perbandingan antara koleksi Indo : Inggris akan 50:50.

Wahm ternyata seru ngumpul disini... hehehe


message 19: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments Jadi inget, jaman SD dulu pernah bikin perpus kecil2an bareng temen. Kita cuma gabungin koleksi dan minjem sebagian garasi buat tempatnya. Bayarannya cuma Rp 25 perak untuk pinjem bawa pulang buku. Yg dateng sebagian temen sekolah dan lingkungan RT. Kalo sekarang barangkali judulnya from children to children...hehehe....


message 20: by Coqueline (new)

Coqueline | 608 comments Kalo ke perpustakaan bareng2 sambil gatheringan bukannya entar malah bikin brisik perpustakaannya? Hehehe...


message 21: by Coqueline (new)

Coqueline | 608 comments Yah, abis bayangan gue kalo udah kumpul2 gitu mana bisa diem, pasti pada bawaannya ngobrol. But then again, emang gue belom pernah sih ke perpustakaan rame2... hehe

Kalo mau sampe ke Amsterdam, boleh nanti gue bawa ke perpustakaan central Amsterdam yg baru... gede loh, 8 lantai, ada cafe dan restorannya segala (kalo mau dipake buat tempat ngobrol).


message 22: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments Usul yang menarik. Bayangan keberisikan tadi bisa diatasi dgn program yg jelas, abis presentasi perpusnya terus masing2 ngubek buku. Ngobrolnya di luar aja, hehehe.....


message 23: by ratna (new)

ratna | 61 comments Mang, nanti tolong dibuatin jurnal hasil wisata perpustakaan-nya yah ... biar ada arsip alamat2 dan kontak person perpus2, dan yg ngga bisa ikut tetap bisa mengontak dan mengunjungi tuh perpustakaan kapan2

Thanks :)




message 24: by Ariaty (new)

Ariaty | 42 comments @ nurul..
sama dengan apa yg pernah gw lakuin dl..
waktu SD, temen-temen ngumpulin buku koleksi pribadi trus siapin tiker di bawah pohon dihalaman samping sekolah. pas istirahat kita2 pada ngumpul baca bareng..wuiihh serunya..!!

kalo di bilang brisik dan rame bener juga siy..tp kenapa gak pake plester hahaha..
atau sekalian bikin "tim pengingat" untuk gak berisik di sana..
cari aja rekan2 yg agak2 galak tampangnya atau yg biasa kerja jd satpam atau mungkin kita sewa security khusus jitakin yg berisik?
Ups..salah ya..??hi..hi


back to top