Kastil Fantasi discussion

99 views
CerBul > [Lomba] CerBul KasFan (Januari '15)

Comments Showing 1-16 of 16 (16 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Fredrik, Momod Galau (last edited Feb 15, 2015 11:41AM) (new)

Fredrik Nael (fredriknael) | 2447 comments Mod
Edisi ini merupakan edisi terakhir CerBul Season 3! x)

Di tahun-tahun sebelumnya, biasanya edisi terakhir diisi dengan Edisi Epik, namun karena edisi sebelum ini merupakan Edisi Spesial, maka Edisi Epik kali ini terpaksa libur... :P #alesan

TAPIII... soal edisi ini asalnya giliran dari saya dan dijamin gak akan kalah epik!


“Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi – Edisi Januari 2015”

Lomba CerBul diadakan sebagai ajang latihan, eksperimen, sekaligus unjuk kreativitas, bagi teman-teman yang suka menulis atau pengen juga coba-coba mulai menulis. Lomba ini diadakan setiap bulan, dengan tema yang berbeda-beda.
Lombanya santai-santai saja, tidak perlu saling jotos atau gigit-gigitan, meskipun lempar-melempar cabe masih diperbolehkan dan memberi masukan/saran untuk perkembangan teknik menulis tentunya sangat dianjurkan.

Dan sebagai pemanis, layaknya perlombaan pada umumnya, pemenang CerBul juga akan mendapatkan hadiah!

Aturan main umumnya:

1) Cerita yang disertakan harus mengandung unsur fantasi/science fiction.

2) Penjiplakan karya orang lain dilarang keras.

3) Setiap peserta hanya boleh mengikutsertakan satu entri cerita. Semua cerita di-post sendiri oleh penulisnya di topik ini. Entri-nya boleh juga di-post di tempat lain (misalnya di blog pribadi), namun diharapkan menyertakan juga keterangan kalau ceritanya sedang dilombakan di grup Kastil Fantasi (beri tautan ke thread ini).

4) Panjang cerita maksimal dua post yang harus di-post secara berurutan. Tidak ada panjang minimal. Sebagai info, maksimal karakter (termasuk spasi) dalam satu post di Goodreads adalah 12.000 karakter. Perlu diperhatikan kalau panjang karakter di software (MSWord, dll) dan Goodreads bisa berbeda, misalnya saja tulisan dengan huruf miring/italic memakai kode HTML yang menghabiskan tujuh karakter lagi (untuk masing-masing bagian yang di-italic).

5) Cerita ditulis menggunakan tata bahasa yang baik. Tidak diperkenankan memakai bahasa singkat-singkat ala SMS atau bahasa alay.

6) Semua cerita yang di-post akan tetap menjadi milik peserta. Bila ingin dikembangkan lebih jauh/serius (misalnya dibuat novel) atau dilombakan di tempat lain, silakan saja.

7) Komentar untuk cerita yang dilombakan tidak dilakukan di topik soal ini, melainkan di topik komentar.
Apabila ada yang menulis komentar di sini, komentarnya akan dihapus. Kedua topik dipisah demi alasan kerapian.

8) Bila ada pertanyaan, bisa langsung dilayangkan ke topik komentar.

======

Mengakhiri CerBul Season 3, sekaligus memulai tahun 2015 dengan penuh kehangatan (Berpelukaaan~!!! *ditendang), maka berikut inilah tema soal episode finale-nya...

Soal CerBul edisi ini adalah:

Buatlah sebuah cerpen yang menginspirasi pembaca!


Catatan Tambahan:

1. Inspirasi yang dimaksud dapat berupa inspirasi untuk apa aja. Silakan berkreasi~

2. Cerita yang memberikan inspirasi tidak harus diisi dengan "kuliah"/"ceramah" oleh para karakternya.
Boleh saja inspirasi yang diberikan ditulis dengan subtil, namun tetap bisa ditangkap oleh pembaca.

*)Perlu diingat bahwa selera pembaca berbeda-beda, mungkin ada yang suka membaca sesuatu yang ditulis terang-terangan, mungkin ada juga yang suka cerita dengan makna tersirat.
Saran saya, penulisannya disesuaikan aja dengan "tone" ceritanya. ^^

Seperti biasa, nuansa cerita bebas, boleh petualangan, romens, komedi, horor, dst., selama masih menjawab tema soal edisi ini.
Silakan berimajinasi! :)

Pertanyaan dan diskusi, langsung ke topik komentar.


Penjurian Reguler oleh Momod

Ada 5 aspek penilaian yang menentukan pemenang yang akan mendapatkan hadiah reguler di setiap edisi, yakni:
- Menjawab Soal
- Plot
- Karakter
- Setting
- Teknis

Alih-alih 3 besar atau 5 besar seperti sebelum-sebelumnya, pada tahun ini, moderator akan mengumumkan shortlist untuk mengapresiasi cerita-cerita yang mendapat penilaian tertinggi. Jumlah cerita yang masuk ke dalam shortlist dapat bervariasi di setiap edisinya (tergantung hasil penilaian). :)

Hadiah reguler Edisi Soal Moderator:

(1) Pemenang pertama edisi soal dari moderator berhak memilih 1 (satu) buku fiksi fantasi lokal atau terjemahan dari daftar buku currently reading grup.

Untuk CerBul edisi Januari, daftar currently reading yang termasuk ke dalam pilihan adalah currently reading bulan Desember, Januari, dan Februari.

Daftar buku currently reading diganti setiap awal bulan dan dapat dilihat di halaman muka/group home (di bawah/setelah bagian keterangan grup).

(2) Khusus edisi ini, pemenang kedua berhak menentukan soal CerBul untuk edisi soal dari peserta berikutnya! x)


Penjurian Khusus oleh "Juri Tamu"

Untuk edisi ini, tidak ada juri tamu.
Namun, rencananya akan ada hadiah spesial untuk satu kegiatan khusus terkait edisi ini. Semoga jadi dilangsungkan~ >.<

Keterangan tentang Juri Tamu (jurtam) dapat dibaca di pengumuman lomba edisi-edisi sebelumnya.


Timeline lomba:

Posting Cerita: 16 19 Januari - 13 Februari 2015
Masa Penjurian: 14 Februari - 28 Februari 2015
Pengumuman Pemenang: 01 Maret 2015


Mari menulis fantasi!
;)

PS.
Kami, para momod, mengundang siapa pun yang tertarik untuk mendonasikan hadiah atau mempromosikan karyanya dengan ikut men-sponsori pelaksanaan lomba CerBul atau berpartisipasi dengan men-"juri tamu". Silakan menghubungi/mengirim PM ke moderator.
Terima kasih! :D


message 2: by Fredrik, Momod Galau (last edited Feb 13, 2015 11:39PM) (new)

Fredrik Nael (fredriknael) | 2447 comments Mod
Daftar Cerita:


1. Padang Amru by Grande_Samael

2. Sebuah Kitab Mantra by Aninsane

3. The Plus Sign at the End of the Universe by Dan T.D.

4. Ibu Guru Kami Sakti Sekali by Andry Chang

5. Sakura Musim Semi yang Singkat by Dini Afiandri

6. Aku Mengubah Kekasihku Menjadi Keset by F.J. Ismarianto

7. Ambisi by Tomi Sularso

~

======

Cerita Bonus (Tidak Dilombakan): Bentala – Imaji (Edisi Revisi - 2015)


message 3: by Fredrik, Momod Galau (last edited Jan 20, 2015 09:28PM) (new)

Fredrik Nael (fredriknael) | 2447 comments Mod
Bentala – Imaji

Apalah gunanya impian bila tidak diwujudkan?

Dia masih mengatakan hal-hal lain setelahnya, masih berkaitan dengan cita-cita, membangun masa depan. Namun penjelasannya tak lagi menyita perhatianku. Ada perasaan janggal yang muncul begitu kalimat itu terucapkan. Aku pernah mendengarnya, sebelum ini.

Lalu perempuan itu melakukannya lagi. Mengucapkan kata lain. Yang mengoyak memoriku.

Imajinasi.

Maka ingatan-ingatan pun tak terbendung lagi. Bak ombak yang mengisi lautan kehampaan. Bergulung-gulung. Dari segala arah. Karena kutahu, mereka sebenarnya tak pernah pergi. Mereka hanya dipendam. Ditenggelamkan bahkan. Oleh sesuatu. Oleh seseorang. Olehku.

Latar-latar berubah. Pencahayaan seolah meredup seiring dengan memudarnya orang-orang yang berada dalam ruangan. Detil-detil kecil mengikuti kemudian, dan serbuk-serbuk bercahaya kebiruan muncul pada permukaan-permukaan.

Kemudian aku mendengarnya. Karena pada akhirnya bunyi-bunyian. Kepolosan dalam kegigihan yang terpancar dari suaranya. Sang bocah laki-laki yang tak mau menyerah. Gelakan tawanya. Sesenggukannya. Kegembiraanku. Penderitaanku.

Bersamaan dengan terisi penuhnya kekosongan, aku pun jatuh ke dalam kenangan-kenangan yang pernah kualami. Ke dalam dunia masa lalu-ku. Ke dalam fantasi masa depan-nya.

Imaji.

***

Bocah lelaki itu menyapukan pandangan ke sekelilingnya. Dari ketinggian di tempatnya berdiri, desa tempat tinggalnya tampak hening. Hanya serbuk-serbuk terang yang memberi cahaya redup kebiruan pada hampir seluruh permukaan atap-atap dan jalan-jalan di antara rumah-rumah. Tak ada sumber penerangan lain. Lentera api tidak diperbolehkan menyala pada waktunya beristirahat. Semua sunyi, kecuali di tempat ini, di mana dua orang bocah dan seekor hewan peliharaan mereka berada.

“Kak Aji! Kak Aji!” Suara tertahan seorang anak perempuan memanggil.

“Ssst!” Aji, si bocah lelaki, mendelik ke arah adik sepupunya yang berdiri menunggu di bawah. “Kenapa lagi, Ela?”

“Hati-hati,” balas si kecil. Namun wajahnya justru terlihat lebih seperti penasaran daripada cemas.

Aji mengiyakan, entah untuk keberapa kalinya sekarang. “Ela berjaga-jaga ya!”

Ela mengangguk bersemangat, lalu menambahkan, “Kamu juga berhati-hati ya, Chip!”

Chip, sejenis hewan pengerat bertelinga lebar yang belum lama ini menjadi peliharaan mereka, berpaling singkat saja sebelum kembali menengadahkan kepalanya dan sibuk membaui udara dengan hidung mungilnya.

“Chip tidak ikutan kok,” tegas Aji.

Ela tidak langsung percaya. “Masa sih? Lalu kenapa dia ada di atas sana juga?” protesnya.

Aji hanya membalas dengan senyuman. Tak ada waktu untuk berdebat. Ia segera mengeluarkan benda yang sudah susah payah dipanggulnya selama memanjat ke atas atap balai pertemuan.

Benda itu sepasang. Terbungkus di dalam kantong akar panjang. Masing-masing terbuat dari kulit buruan yang disulam rapi sepanjang satu bentang, berlebar satu setengah lengan, dan diikatkan pada rangkaian tulang-belulang yang disusun Aji sampai menyerupai anggota tubuh yang dimiliki tiruan makhluk khayalan itu. “Sayap”, begitulah Ibu menyebut pasangan benda itu.

Mendadak Aji merasa cemas. Jantungnya berdebar tak karuan membayangkan waktu yang telah dilaluinya untuk mempersiapkan sepasang sayap itu, dan kini ... ia akan menggunakannya.

Menjadi yang pertama mengepakkan sayap. Terbang.

Di ujung kegelapan angkasa, jauh melampaui Padang Kabut, tampak enam lingkaran bercahaya. Para Penjaga. Sumber cahaya abadi. Ke sanalah Aji ingin pergi, meninggalkan kegelapan abadi dunia manusia.

Menuju cahaya.

Aji melepaskan jalinan tali yang diikatkan pada lengannya dan menggunakannya untuk membuat sambungan pada kedua sayap. Setelah mengeratkan ikatan, Aji membentangkan kedua benda itu dan memakaikannya ke punggung.

Inilah saatnya.

Aji menengok ke sepupunya yang tengah menatap dengan terpana. “Siap?”

Ela mengangguk.

Aji melemaskan otot-ototnya. Mencoba gerakan satu dua kali, lalu mulai berlari ke arah ujung atap. Kata-kata ibunya tentang sesuatu yang berada nun jauh di sana. Tentang mimpi-mimpi. Tentang warna-warni dan langit bercahaya. Semuanya berkelebat dalam benak Aji.

Dan Aji pun melompat.

Tekanan dari angin menerpa kedua sayap. Aji mengepak kuat-kuat berkali-kali. Mulanya ada gerakan ke atas, yang membuatnya bersemangat. Namun, hal itu tak bertahan lama. Aji langsung merasakan ada hal yang salah. Banyak hal. Saat tubuhnya meluncur jatuh, meski seberapa kuat pun ia mengepak. Saat kedua lengannya melemas. Saat terdengar suara-suara. Robekan. Benturan. Dan terakhir, jeritan.

Aji tak ingat apa-apa sesudahnya.

***

Namun aku ingat semuanya.

Kubasuh wajahku dengan air yang mengalir dari keran, lalu kutatap bayanganku di cermin. Hanya aku. Aku di masa ini. Aku yang sekarang.

Entah kenapa aku begitu gelisah, pikirku heran. Apakah karena kata-kata perempuan itu? Padahal dia hanya berbicara biasa saja, seperti seharusnya: mencoba menarik perhatian para peserta seminar, mempresentasikan institusi yang diwakilinya, dan menjual masa depan cerah yang dijanjikan. Dia bahkan tidak berbicara langsung kepadaku.

Aku mengelap kering wajahku, membawa tas laptopku, dan meninggalkan toilet. Di luar, seminar sepertinya sudah selesai karena para hadirin telah keluar dari aula dan memenuhi koridor perantara yang telah dipersiapkan dengan berbagai sajian hotel untuk sesi istirahat.

Aku butuh udara segar, pikirku sambil mengingat kembali arah menuju lobi. Namun belum sempat aku beranjak, seseorang berjalan menghampiri toilet, melewatiku, sebelum akhirnya tampak ragu-ragu dan berhenti.

Perempuan itu. Yang tadi berdiri di atas panggung. Yang kata-katanya masih menghantuiku.

“Presentasiku semeyakinkan itu, ya?” tanyanya, bukan dengan nada angkuh, melainkan penasaran.

“Apa?” jawabku spontan, terkejut.

Dia mendekat selangkah. “Tadi kamu terlihat begitu terpengaruh ...” Dia melirik ke label nama yang tergantung pada bagian dada kemejaku, lalu mengerutkan dahinya.

“Tala,” kataku mendahului. “Panggil saja ‘Tala’.” Dan bisa kurasakan wajahku memanas begitu aku menyadari arti kalimat yang baru saja diucapkannya. Rupanya dia memang memerhatikanku sewaktu presentasi tadi.

“Presentasinya bagus sekali!” tambahku kelewat cepat.

Sepertinya dia tak menyadari kegugupanku karena dia melirik lagi ke arah label namaku, tampak menimbang-nimbang ingin menanyakan sesuatu. Akan tetapi, seolah teralihkan, dia mengatakan sesuatu yang lain, “Ayahmu ... dia pengusaha yang hebat. Aku turut berduka cita, Tala.”

Nama keluargaku. Tak diragukan lagi. Nama belakang yang kuwarisi dari mendiang Ayah memang sebegitu terkenalnya di negara ini, dan semua orang sepertinya mengharapkanku untuk menggantikan posisinya. Menjadi dia.

Sekonyong-konyong aku teringat pada pesan darinya bertahun-tahun lalu, yang pada akhirnya membawaku masuk ke dalam dunianya.

Namamu Bentala. Bumi. Tetap jejakkan kakimu di sana. Kau akan hidup nyaman. Bahagia.

Bahagia.

“Maaf,” sela perempuan itu, mengalihkan pembicaraan, “tidak makan?”

Aku melirik ke arah jamuan dan menggeleng. “Butuh udara segar.”

“Oh, kebetulan! Tunggu di sini!” Dia lalu menitipkan berkas map presentasinya kepadaku—yang menerimanya dengan enggan—dan bergegas masuk ke toilet sambil membawa telepon selulernya.

Aku melihat map yang kupegangi itu. Di bagian depannya tercetak nama dan logo perusahaannya. Logo itu bentuknya berupa sesuatu yang abstrak, semacam wujud dalam sketsa hitam-putih. Ada kata-kata slogan di bawahnya: “Gapai cita-citamu! Raih kebahagiaan!”

Aku tersenyum miris. “Yang benar saja,” ledekku. Tapi entah kenapa, aku menunggu.

Sambil berdiri di sana, kuperhatikan orang-orang. Para pengusaha. Istri-istri para pengusaha. Manajer-manajer perusahaan. Asisten-asisten manajer perusahaan. Entahlah. Mereka semua tampak serupa. Ada aura yang sama yang terpancar dari cara mereka berdiri, berpikir, dan berinteraksi dengan orang lain. Dan aku tertawa lirih begitu melihat bayanganku sendiri dalam cermin besar di dekat pintu toilet. Aku membaur dengan sempurna, pikirku. Aku tampak persis seperti mereka. Seperti sosok-sosok yang dulu sekali pernah kucela dan kupertanyakan. Siapa yang sangka?

“Cita-citamu, Ayah. Cita-cita mereka. Kebahagiaan kalian.”

***

Aji menatap nanar ke luar jendela. Ke langit yang senantiasa gelap. Ke jalan-jalan yang dilalui penduduk desanya. Anak-anak. Orang-orang dewasa. Orang-orang tua. Lentera-lentera api di ujung-ujung jalan. Atap datar rumah-rumah. Semua orang menjalankan kebiasaan mereka. Hal-hal yang berulang setiap kali.

Suara bibinya terdengar samar bagai latar. “Aji? Nak?”

Aji mengangguk pelan. Tak banyak yang ingin ia katakan. Tak ada yang dapat ia banggakan. Ia sepenuhnya merasa malu. Seluruh bagian tubuhnya sakit setelah ia terjatuh dari atap balai pertemuan. Dan kaki kanannya...

Tapi ada hal lain yang membuatnya menderita lebih dari segalanya.

Aji menatap tiruan makhluk khayalan itu yang tergeletak di atas meja di samping ranjang. Hewan bersayap yang berwarna keabu-abuan. Melihatnya membuat Aji ingin menangis. Namun ia menahannya dengan menggigit bibir bawahnya.

Bibi membantu Aji berbaring, membelai kepalanya, dan mengecup keningnya. “Sekarang kau beristirahatlah, Nak.”

Aji tak yakin kapan bibinya pergi. Ia terlalu letih. Ia hanya ingin tidur dan melupakan semuanya.


Kali berikutnya Aji terbangun, ia mendapati Paman telah berada di dalam kamar. Paman mengenakan pakaian penambang lengkap dengan tanah yang telah mengering serta debu sampai ke wajahnya. Sosoknya yang besar memenuhi pandangan Aji.

“Sudah merasa baikan?” tanya Paman sambil membantu Aji duduk.

“Sedikit.”

“Baguslah.”

“Paman, bagaimana keadaan Ela? Aji belum melihatnya lagi,” kata Aji lirih.

Paman terkekeh pelan. “Ela ada di luar. Dia tak berani masuk, tapi dia selalu mengamatimu. Mungkin sekarang dia sedang berusaha menguping.”

Aji menatap nanar ke arah pintu yang sedikit terbuka. Tak lama, ia pun terisak. “Maafkan Aji, Paman.”

“Sudah, sudah.” Paman merangkul Aji. “Paman paham betapa kau menginginkannya, dan kau sudah mencobanya. Tak ada yang perlu disesali.”

“Aji merepotkan Paman dan Bibi.”

Paman menggeleng. “Kau seperti ibumu, Nak. Dengan khayalan-khayalannya. Mimpi-mimpinya...” Sesaat, Paman tampak larut dalam lamunannya. “Kau tahu, menjadi penambang bukanlah hal yang buruk. Semua anak lelaki bercita-cita menjadi penambang. Aku. Teman-temanmu. Tidak ada yang lebih membanggakan dan membahagiakan daripada bekerja di tambang dan pulang dengan peluh dan debu.” Paman menunjuk dirinya sambil terkekeh lagi.

Aji hanya sesenggukan.

Paman mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap linangan air mata Aji.

“Kapan pun kau siap untuk kembali ke tambang, kau beritahu Paman ya, jagoan kecil?”

Usai mengatakan itu, Paman pergi dan meninggalkan Aji sendirian.

Aji bergeser sedikit dan menggapai meja kecil di samping ranjang untuk mengambil cangkir air. Namun ia malah mendapati benda lain yang menghadap ke arahnya. Tiruan makhluk khayalan berwarna abu-abu itu….


Makhluk apa itu, Bu?

Dia seekor burung, sayang.

Burung?

Dia dan teman-temannya yang lain, baik yang kecil maupun yang besar, menguasai langit-langit di masa lampau.

Apa maksud Ibu?

Mereka terbang.

Kening Aji berkerut.

Terbang?

Ibu tersenyum. Senyum khasnya yang manis.

Ya! Dengan sepasang tangan ini. Namanya sayap. Mereka bisa dikepakkan, dan burung-burung akan mengudara. Naik, naik, semakin tinggi meninggalkan tanah. Terbang.



message 4: by Fredrik, Momod Galau (new)

Fredrik Nael (fredriknael) | 2447 comments Mod
Ibu berpaling ke arah enam lingkaran bercahaya yang menggantung di kejauhan. Tatapannya penuh harap.

Ke mana burung-burung sekarang, Bu? Mengapa Aji tak pernah melihat mereka?

Ibu membelai wajah Aji. Sentuhan tangan Ibu terasa begitu lembut dan hangat.

Mereka masih ada, sayang. Di suatu tempat di balik lingkaran-lingkaran bercahaya itu.

Para Penjaga?

Ibu mengangguk.

Di balik semua kegelapan ini, ada langit yang bercahaya. Hewan-hewan berbagai rupa. Warna-warni kehidupan. Di tanah. Di air. Di udara. Dan untuk mencapainya, manusia hanya perlu terbang. Menuju cahaya.

Seperti burung-burung?

Ibu mengangguk lagi.

Aji menyentuh tiruan burung itu. Bahan apa pun yang menjadikan tiruan itu terasa janggal di tangan.

Ibu lalu menyerahkan burung itu kepada Aji.

Sekarang, dia menjadi milikmu dan akan senantiasa menemanimu.

Benarkah, Bu?

Benar.

Luapan kegembiraan memenuhi hati Aji. Ia mengambil burung itu dan mulai bermain-main dengan mengepak-ngepakkan sepasang sayapnya sambil berlarian ke sana kemari.

Lihat, Bu! Dia terbang meluncur ke angkasaaa!



Mengingat kenangan itu hanya semakin memperburuk perasaan Aji. Dengan kesal, ia pun merenggut burung itu dan mencampakkannya jauh-jauh.

***

Sebaliknya, perasaanku sendiri sedikit membaik.

Kami sekarang duduk di balkon kafe sambil menyesap kopi. Perempuan itu, yang sampai kini aku belum tahu namanya, bercerita tentang organisasinya, tentang kegiatannya, tentang bagaimana dia berusaha keras selama beberapa tahun terakhir sampai bisa sesukses sekarang, sampai dia berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya untuk membantu orang lain mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Padahal dia tampak masih sangat muda, bahkan mungkin lebih muda dariku, namun dia terlihat menikmati hidupnya.

“Sejujurnya, aku terinspirasi oleh tulisan-tulisan, kisah-kisah, bahkan cerita-cerita fiksi yang sungguh ajaib. Fantasi.” Dia meletakkan cangkir kopinya dan melanjutkan, “Bukankah para penulis fiksi, mereka seringkali merefleksikan kehidupan mereka di dalam karya-karya? Terkadang penuh harapan. Dan satu di antaranya ... sungguh berkesan buatku.” Dia lalu menatapku. Lama.

Aku jadi salah tingkah dan tanpa sengaja menumpahkan kopi ke meja.

“Kamu percaya pada keajaiban?” tanyanya tiba-tiba. Aku belum sempat memikirkannya sewaktu dia melanjutkan lagi, “Bagaimana dengan takdir?”

Aku tak mampu berkata-kata.

Lalu dia mencondongkan tubuhnya ke arahku dan berbisik, “Apa impianmu, Tala?”

Apa sih maksudnya? Apakah dia melakukan ini pada setiap orang yang baru dia kenal?

Seolah memahami kebingunganku, dia tersenyum dan mundur. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari dompetnya dan menyerahkannya kepadaku. Aku menerimanya. Kartu nama.

“Aku membantu orang lain mewujudkan impiannya,” ulangnya, padahal aku sudah tahu. “Dan mengenai dirimu, Tala,” dia bangkit dan melirik arlojinya sesaat, sebelum tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya, “kita pasti akan mengobrol lagi.”

Kemudian dia pergi. Begitu saja. Dan aku sadar, aku masih menahan napas.

Ternyata tidak ada identitas pada kartu nama itu selain nama perusahaan, logonya yang aneh, slogan, dan sebuah alamat situs web.

Karena penasaran, aku mengeluarkan dan menyalakan laptopku, lalu memasukkan alamat itu ke peramban. Aku segera dibawa ke sebuah blog yang berisi kalimat-kalimat motivasi. Sebagian rasanya begitu kukenal.

Lalu aku pun melihatnya. Salah satu judul pranala dalam daftar “Inpirasi Terbesar” di kolom sisi kanan.

Bentala – Imaji

Aku pun merinding.

Karena itu adalah blogku sendiri.

Yang isinya telah lama kutinggalkan. Yang pernah menjadi masa laluku sekaligus masa depanku. Tulisan-tulisanku. Duniaku. Impianku.

Imaji-ku.

***

Aji menghentikan pekerjaan menambangnya dan menghapus keringat yang membasahi keningnya. Tangannya agak pegal dan kakinya sedikit kaku. Namun inilah kehidupan di tambang, dan Aji harus membiasakan diri.

Tetesan keringat kembali mengalir. Kali ini sampai ke bibirnya. Aji jadi teringat rasa haus. Di setiap wilayah penambangan, biasanya ada sumber-sumber mata air, entah sumur atau kolam kecil. Untuk wilayah ini, mereka punya sebuah sumur bertepi di gua utama. Aji bersyukur karena paling tidak ia dapat bersandar sejenak di sana nanti.

Aji meletakkan alat tatahnya, membawa lentera apinya, dan berjalan dengan tertatih-tatih meninggalkan lorong. Semenjak insiden di balai pertemuan, kaki kanan Aji cacat. Meski tidak lagi sakit, kesulitan itu membuat limbung setiap kali ia harus berjalan.

Begitu keluar dari lorong, sekelebat, Aji melihat sosok seorang anak perempuan yang bersembunyi di balik dinding sumur.

“Ela?” panggil Aji ragu-ragu.

Ternyata itu memang Ela. Begitu mendengar panggilan Aji, dia cepat-cepat pergi.

Kini, Aji sudah tidak berbicara dan bermain lagi dengan Ela sesering dulu. Bukannya tidak mau, tetapi karena harus pergi ke tambang dari awal sampai akhir waktu bekerja, ia selalu pulang dengan keletihan dan tak punya banyak waktu selain untuk beristirahat. Belum lagi, kondisi kakinya yang tak mendukung.

Mungkin Ela kesepian dan memutuskan untuk mengunjungi tambang, pikir Aji.

Aji pun mendekati sumur. Pada mulanya ia tidak melihatnya, namun benda itu semakin nyata dalam setiap langkah. Ada sesuatu yang tergantung di rangka pengungkit sumur. Benda itu berwarna keabu-abuan. Bersayap sepasang.

“Oh, Ela!” Hati Aji rasanya getir. Cepat-cepat ia menghampiri sumur.

Namun sewaktu ia menjulurkan tangan untuk mengambil tiruan burung itu, Aji menyadari satu hal yang janggal. Tidak ada tali yang menggantungnya. Tiruan burung itu melayang dengan sendirinya.

Aji mengerjap-ngerjapkan matanya. Tak percaya.

Tiruan burung itu tetap mengambang di udara.

Satu kepakan. Dua kepakan. Dan seterusnya. Tiruan burung itu mendadak bergerak. Hidup.

Kemudian untuk pertama kali dalam hidupnya, Aji melihatnya sendiri: bagaimana sesuatu itu terbang. Begitu elok gerakan kedua sayap itu. Menapak udara, bergerak naik perlahan-lahan. Keanggunan yang diciptakannya.

Serbuk-serbuk terang tertarik dan terlepaskan lagi oleh hembusan angin yang terbentuk oleh kepakan. Dan Aji dapat melihat dengan jelas melalui pergerakan serbuk-serbuk itu, bagaimana udara mengalir dan hempasan tercipta. Maju. Mundur. Maju. Mundur. Tekanan yang mendesak bagian-bagian tubuh. Sudut yang tepat. Bentuk sempurna dari sayap yang tidak hanya menyeimbangkan, melainkan juga memudahkan aliran udara.

Begitu agung semuanya. Begitu indah terbang itu.

Semakin tinggi, semakin tinggi tiruan burung itu mengangkasa. Meninggalkan jejak-jejak cahaya dari serbuk-serbuk terang. Sampai akhirnya kegelapan langit menelannya.

Aji tertawa, meski menitikkan air mata. Sekarang ia pun paham.

***

Itulah entri terakhir blog-ku. Tertanggal enam tahun yang lalu. Di bagian komentar, ada banyak yang menanyakan tentangku. Tentang Aji.

Dengan tangan gemetar, aku menekan panah turun dan membaca semua komentar. Aku tak percaya ada banyak kepedulian di sana, yang tak pernah kuketahui, karena sudah lama berselang sejak terakhir kali aku mengunjungi blog ini.

Dari sekian banyak pemberi komentar, memang ada satu yang cukup sering dan mencolok. Perempuan itu. Yang menggunakan nama perusahaannya. Komentar terakhirnya adalah “Berbahagialah, Tala.” yang dikirim satu jam yang lalu. Dari dalam toilet.

Aku begitu terharu akan semua ini. Sungguh. Ingin sekali aku melakukan sesuatu. Namun terkadang, khayalan hanyalah khayalan—

Sesuatu mendarat di tengah meja.

Seekor burung. Abu-abu.

Aku menggeleng. Rasanya tidak ada yang salah dengan minumanku. Tetapi burung itu tidak beranjak. Pastinya bukan sesuatu yang terlihat aneh bagi para pengunjung kafe yang lain, kecuali bagiku, karena burung itu berada tepat di hadapanku dan terlihat jelas bahwa dia hanyalah sebuah tiruan dari kertas yang sangat mirip dengan wujud aslinya.

Burung kertas.

Bagai mendapat pencerahan, aku pun tahu apa yang harus kulakukan. Apa yang harus Aji lakukan.

Dengan perasaan lega bercampur tegang, aku mengucap lirih, “Berbahagialah ... Tala.”

Lalu burung itu menjejak kuat, melompat, dan mengepakkan kedua sayapnya.

Burung kertas itu benar-benar terbang.

Aku memandanginya sampai titik abu-abu itu menghilang di kejauhan. Lalu aku tersenyum begitu menyadari apa sebenarnya wujud logo perusahaan perempuan itu dan maknanya. Sambil mengamati kembali kartu nama yang tergeletak di atas meja, aku menimbang-nimbang cara yang tepat untuk membalasnya.

***

Membutuhkan beberapa waktu bagi luka untuk disembuhkan. Seperti halnya membutuhkan beberapa waktu untuk melanjutkan suatu perjalanan. Namun semuanya bukan tidak memiliki arti. Ada pelajaran. Ada pendewasaan. Ada semangat lain yang berkobar lebih besar. Dan bila kita mengusahakan, pada akhirnya pasti akan ada jalan.

Seharusnya begitu, bukan?

Maka Aji merencanakan dan mengerjakan. Dan ia akan melakukannya. Lagi. Kali ini menuju Tebing Temaram, tempat paling berangin di seantero wilayah keenam desa manusia.


“Tempat ini baunya aneh,” ujar Ela setelah mereka memasuki Hutan Bebatuan Besar.

“Ela selalu bilang begitu,” balas Aji sambil membantu sepupunya memanjat undakan tinggi.

Ela mengerang seraya menarik tubuhnya ke atas. “Aduuuh! Wahai batu, kau menyebalkan!” keluhnya.

Aji tergelak. “Chip tidak tampak kesulitan,” balasnya setelah bersusah sendirian dengan kakinya dan bawaan di punggungnya.

Chip berhenti berjalan, menegakkan telinganya, dan menengok ke belakang begitu mendengar namanya disebut. Matanya yang bulat besar menampakkan kebingungan sesaat yang segera saja terlupakan. Dia kembali memimpin perjalanan.

Ela buru-buru menyusul, tak mau ketinggalan.

Meski sedikit banyak hafal arah, Aji tak mau mengambil risiko tersesat. Ia berhenti sejenak dan menanda sesuai ajaran ibunya dengan menjejakkan telapak tangannya keras-keras ke permukaan dinding batu. Serbuk-serbuk terang yang tersebar melekat lebih erat di antara celah-celah permukaan dan warnanya berubah menjadi kekuningan. Aji tak tahu sebabnya, karena ada banyak hal yang memang belum ada penjelasannya, seperti kejadian melayang dan terbangnya tiruan burung di sumur tambang itu yang dibantah Ela mati-matian.

Mereka meneruskan perjalanan dengan memanjat dan menapaki sekian ratus bentang sampai akhirnya mencapai tebing. Dari bibir tebing, seluruh Padang Kabut menjulang di hadapan. Tak ada apa pun yang terlihat sejauh mata memandang. Jurang tampak tak berdasar. Angkasa tampak tak berujung. Semua hanyalah kabut pekat dan tebal. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah Para Penjaga, enam lingkaran bercahaya di kejauhan, lebih tinggi daripada Padang Kabut. Tiap-tiap Penjaga memiliki nama yang berbeda, namun semuanya mengeluarkan berkas-berkas sinar yang sama yang berwarna nila terang. Berkas-berkas itulah sumber serbuk-serbuk terang yang secara berkala terbawa angin menembus kabut dan tersebar ke tanah manusia.

“Kak! Ada angin cahaya!” seru Ela yang langsung berlari mendekati bibir tebing bersama Chip. Aji menyusul perlahan. Angin cahaya membawa serbuk-serbuk terang yang berkilauan ke arah tebing.

“Indahnya!” ujar Ela begitu angin itu menerpa mereka. Dia kemudian berlarian bersama Chip sambil bermain-main dengan bintik-bintik bersinar itu.

“Elaaa! Katanya mau membantu Kak Aji?” panggil Aji, setengah berteriak melampaui deru angin.

“Nanti sajaaa!”

Aji tertawa. Ia lalu menurunkan kantong akar yang dipanggulnya. Kali ini isinya berbeda. Kali ini, Aji sudah siap menghadapi apa pun yang akan terjadi. Karena inilah cita-citanya. Kebahagiaannya.

Terbang.

Menuju cahaya.

Karena apalah gunanya impian bila tidak diwujudkan?

Maka Aji pun membuka kantong itu.

~


message 5: by Grande_Samael (new)

Grande_Samael | 513 comments Padang Amru

Sejauh mata memandang adalah padang gersang yang luar biasa. Matahari bersinar terik di langit. Burung-burung raksasa pemakan bangkai beterbangan menebar teror dari angkasa. Manusia yang tak terhitung jumlahnya melangkah beriringan menyusuri jalan panjang tak berujung.

Inilah Amru, padang kematian Mahadewa Tamon.

Berdasarkan hukum sang dewa, manusia dengan amal kebaikan yang tinggi akan langsung pergi ke surga bersama malaikat-malaikat pantheon putih. Sebaliknya manusia dengan amal keburukan yang tinggi akan langsung dijebloskan ke neraka jahanam untuk dijadikan bahan bakar abadi. Sementara manusia yang amal kebaikan dan keburukannya terlalu sulit untuk dipertimbangkan, terdampar di tempat ini.

Sesuai titahNya, kami diharuskan berjalan menyebrangi Amru. Selama itu kami akan merasakan panas, lapar, sakit, tapi tak akan pernah mat karenanyai. Kecuali, jika jantung kami ditelan oleh makhluk-makhluk buas penghuni padang ini. Namun itu bukan berarti akhir dari penderitaan, karena sesaat setelahnya kami akan dihidupkan di titik awal untuk mengulang perjalanan.

Tapi, maha suci Tamon dengan segala tingkahnya. Ia menjanjikan kepada siapa pun yang berhasil menyebrangi Amru, maka diberi kesempatan untuk terlahir kembali ke dunia.

Hanya saja aku tak tahu apa akan pernah berhasil. Entah sudah berapa lama aku melakukan ini. Berjalan, kelaparan, mati, dihidupkan, berjalan lagi, kelaparan lagi, mati lagi, dihidupkan lagi, siklus berulang yang tiap kali membuatku makin pesimis.

Yah kalau dipikir lagi, apa pula arti hidupku di dunia selain penyesalan. Aku bukan apa-apa, hanya sampah gelandangan. Pengotor pemandangan. Meski mendapat kesempatan kedua, jika memang takdir sudah menentukan, aku tak lebih hanya akan menjadi sampah untuk yang kedua kali.

Kurasa lebih baik di sini, meringkuk dalam keabadian. Tak perlu lagi aku bekerja membanting tulang. Tak ada orang yang perlu kubahagiakan. Terutama, tak usah aku berjuang mati-matian untuk mengangkat derajat diri. Setidaknya di sini aku tak sendiri.

Aku pun bergerak ke tepi lalu duduk memeluk lutut. Kusembunyikan wajah ini, agar buruknya tak terlihat oleh Yang Maha Benar Tamon.

“Trohan! Trohan! Selamatkan diri kalian!”

Tiba-tiba aku mendengar sebuah teriakan nyaring. Lekas aku mengangkat lemah kepala ini, untuk menyaksikan ribuan orang yang mulai lari berhamburan ke berbagai arah.

Trohan?

Seketika itu aku mendengar ringkikan melengking. Suaranya menyebar di sepanjang Amru mengisyaratkan kematian. Pelan-pelan aku juga merasakan daratan bergetar.

Aku pun berdiri membangkitkan tubuh yang sudah kering seperti korek api. Kulempar pandangan jauh ke ujung jalan sebelah sana.

Astaga.

Maha benar Tamon dengan segala tingkahnya.

Saat ini, aku menyaksikan makhluk yang sebelumnya hanya pernah kudengar dari cerita-cerita para utusan, dan kulihat dari mimpi-mimpi terburuk. Di sana, seekor kuda raksasa berkulit hitam tengah menelan manusia-manusia dengan sekali lahap. Urat merah menyembul di seluruh permukaan kulitnya seperti aliran magma. Iris matanya yang berwarna darah itu, akan membuat siapa pun merinding. Siapa lagi kalau bukan sang mahadewa, satu-satunya yang mampu menjinakkan keganasan makhluk itu.

“Lari! Selamatkan diri kalian!”

Secara refleks aku berbalik. Aku melangkah menuju keselamatan, tetapi kaki lemah ini membuatku terhuyung. Kurasakan langkah-langkah besar di belakang, disertai ringkikan pedih. Lalu semua menjadi gelap. Tubuhku terangkat, kemudian tergelincir menuju sesuatu yang hangat. Untuk selanjutnya tenggelam dalam api neraka.

“Hyaaaaa panaaaaasss!!!”

“Tolooooong!!!”

Ini adalah perut Trohan, sama seperti yang diceritakan para perantara. Di dalamnya adalah tiruan neraka jahanam yang melumat tulang para pendosa menjadi butiran abu.

***

Sekarang manusia-manusia yang tak terhitung jumlahnya berkerumun di lembah awal. Mereka semua takut. Mereka semua putus asa. Mereka semua hancur, memikirkan bagaimana sang kuda raksasa menghalangi jalan menyebrangi Amru. Tak pernah terjadi hal seperti ini sebelumnya. Peluang selamat yang sudah kecil pun berubah menjadi nihil.

Tampaknya aku benar-benar hanya akan meringkuk dalam keabadian. Aku berjalan lunglai menuju tumpukan dua batu yang menandakan gapura awal perjalanan. Di sana aku bersandar lalu menghela nafas. Kutatap langit merah yang menyakitkan mata.

Ayah, kau begitu jahat hingga saat ini pasti sedang dibakar di neraka. Tapi tenang, aku juga tak cukup baik untuk menyusul ibu ke surga. Semoga kau senang jika mengetahui nasibku di tempat ini.

Lalu sesosok pemuda berjalan melewatiku, membuatku terkesima.

“Hei!” Entah mengapa aku memanggilnya. “Mau ke mana kau?”

Pemuda itu berhenti, punggung menghadapku. Jubah lusuh yang ia kenakan agak bergoyang tertiup hembusan angin panas. Kemudian ia berbalik, memperlihatkan rambut merah acak-acakan dan mata yang buta sebelah.

“Tentu saja aku mau menyebrangi padang ini,” katanya mantap. Mungkin ia baru saja mati hingga tak tahu apa yang menunggu di sana.

“Percuma,” kataku. “Ada Trohan.”

“Aku tahu,” jawabnya, tapi tetap berbalik dan melangkah. Apa ia tak paham apa itu Trohan?

“Ia adalah kuda raksasa pemakan jiwa manusia!” seruku seraya mengejar.

“Aku tahu,” katanya lagi. “Aku baru saja dimakan makhluk itu.”

“Lalu kenapa kau masih nekad?”

“Karena aku tak mau duduk diam sepertimu.”

Apa salahnya dengan duduk diam, jika kau tahu apa pun yang kau lakukan tidak akan berhasil. Aku jadi penasaran apa pemuda ini akan bisa selamat. Tapi lebih dari itu, kurasa aku ingin melihatnya celaka.

Aku terus mengikutinya dalam perjalanan panjang, hingga kami tiba di suatu titik di mana Trohan terlihat tengah berbaring menghalangi jalan.

“Lihat itu,” kataku, “bagaimana kau akan melewatinya?”

Pemuda itu tak menjawab. Ia berjalan keluar dari batas jalan menuju padang gersang.

“Hei, tunggu!” Aku berseru mengejarnya. “Kau bisa hilang bila tak mengikuti satu-satunya petunjuk yang diberikan mahadewa Tamon di padang ini!”

“Aku tahu, aku cuma mau mengambil jalan memutar.”

Benar juga. Mengapa tak terpikir olehku. Mungkin saja Trohan hanya mengejar siapa pun yang lewat di dekatnya.

Aku terus mengikuti pemuda itu berjalan cukup jauh hingga sosok besar sang kuda tak terlihat lagi. Jantungku terus berdegup kencang di kali kami berusaha melewati penjagaan. Tapi setelah beberapa lama, masih tak ada tanda-tanda kemunculan Trohan.

“Apa kita berhasil?” bisikku sepelan mungkin, padahal aku tahu kuda itu berada jauh di sana.

“Aku tidak – “

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara ringkikan nyaring sudah terdengar dari arah jalan utama. Kemudian tanah berguncang. Sosok hitam berurat magma itu pun terlihat berlari penuh nafsu. Matanya menyala, dan rahangnya yang dibasahi liur darah terbuka lebar pada kami.

***

“Percuma, kita tak akan bisa!” seruku pada pemuda yang belum menyerah.

“Kita?” Ia berhenti sejenak. “Aku tak pernah mengajakmu.” Lalu ia kembali berjalan meninggalkanku.

Ia benar. Itu haknya untuk melakukan hal sia-sia, dan ia tak pernah mengajakku menuju pada kesia-siaan. Aku sendiri yang mengikutinya. Tapi tak tahu kenapa kedua kaki ini tetap melangkah. Aku rasa orang-orang yang memperhatikan juga mulai mempertanyakan kewarasanku.

Setelah sekian lama, kami kembali sampai di titik di mana kami bisa melihat Trohan tengah berbaring.

“Hei,” tiba-tiba pemuda itu memanggilku. “Siapa namamu?”

“Runa,” jawabku.

“Aku Ibra,” Ia memperkenalkan diri. “Aku tidak tahu tujuanmu tapi karena kau sudah di sini, bagaimana kalau kita bekerja sama?”

“Kau punya rencana?”

“Ya, kita kembali memutar tapi melalui dua sisi berbeda. Trohan hanya bisa mengejar salah satu sehingga peluang yang satunya untuk selamat akan lebih tinggi. Kita perlu berlari secepat mungkin menyerupai angin.”

Ide bagus namun di satu sisi menakutkan. Aku tak bisa membayangkan bagaimana harus menembus padang di luar sana seorang diri.

“Bagaimana?”

“Ah... aku...”

“Kalau kau tidak mau tidak apa-apa, aku tak akan memaksa.”

Aku tidak menjawab, sehingga Ibra memutuskan untuk mencari jalan lain. Kali ini ia berniat memutar lebih jauh agar Trohan tak bisa menyadari keberadaannya. Kemudian pemuda itu pergi, sementara aku tetap tinggal. Aku yang pengecut ini merasa tak pantas terus-terusan mengikutinya.

Aku memperhatikan sosok pemuda itu yang ditelan padang gersang. Setelahnya aku menunggu cukup lama, mengawasi sang Trohan. Apa semua akan berjalan lancar...

Namun tiba-tiba kuda raksasa itu mengangkat kepalanya. Ia bangkit, lalu bergerak ke arah padang gersang yang dituju Ibra. Ternyata semua sia-sia. Aku tahu itu. Tapi entah mengapa aku mulai berlari secepat mungkin menyusuri jalan. Seolah-olah aku tak ingin melepas kesempatan yang telah datang.

Dadaku mulai berdebar keras. Berkali-kali kusebut nama Tamon dalam hati, berharap agar kudanya tak lekas kembali. Setelah berhasil melewati jarak yang kurasa cukup jauh, senyum terbentuk di wajahku. Tapi senyum itu langsung menghilang kala kudengar ringkikan disertai guncangan dari belakang.

Aku memejamkan mata dan tetap berlari. Hingga semua menjadi benar-benar gelap dan kurasakan api neraka membakar tubuhku.

***

“Percuma!” teriakku. “Trohan terlalu cepat! Secepat apa pun aku berlari, ia tetap berhasil menangkapku!”

Ibra tersenyum. “Jadi kau mengikuti rencanaku?”

“Bukannya begitu... Aku cuma melihat kesempatan... Tapi yang jelas hal itu kurang bekerja dengan baik!”

Ibra mengelus-elus dagunya. “Kurang ya... itu karena kita kurang orang.” Usai mengatakannya ia langsung berbalik, menghadap manusia-manusia yang tengah tenggelam dalam keputusasaan. “Semuanya, dengarkan aku!”

Nyaris tidak ada yang menoleh. Mungkin mereka sudah tidak peduli lagi.

“Kita bisa melewati Trohan apabila bekerja sama. Bila! Semua! Bersatu!” seru pemuda itu. Meski tak ditanggapi ia tetap melanjutkan. “Kita harus menyebar di seluruh padang Amru! Sementara Trohan mengejar yang lain, yang lainnya bisa berlari secepat mungkin untuk lewat! Memang pasti akan ada yang tertinggal, tapi pasti akan ada yang bekesempatan lolos!”

Setelahnya keadaan menjadi sunyi. Tak ada yang bereaksi. Kecuali, seorang pria tua yang tiba-tiba berdiri.

“Aku... ikut...” katanya sambil melangkah maju dengan ringkih.

Aku tidak tahu apa pria itu akan berguna, tapi Ibra menerimanya dengan senang hati. Mungkinkah ia bermaksud menjadikannya tumbal...

“Siapa lagi yang ikut?!”

Lalu satu persatu mengajukan diri. Meski pada akhirnya tidak sampai dua puluh orang, tapi itu sudah cukup baik sebagai permulaan. Kami pun berangkat menyusuri jalan Amru hingga sampai ke tempat di mana Trohan menanti. Ibra membuat kami berkumpul dalam lingkaran untuk melakukan diskusi.

“Sebelumnya semua orang langsung berlari mundur ketika Trohan datang, tapi kali ini kita akan berlari maju!” katanya. “Semua harus menyebar di padang gurun, tapi jangan terlalu jauh atau kau akan kehilangan jalan. Beberapa boleh tinggal di sini dan berlari saat kuda itu tak berada di tempat. Dan terakhir,” Ia memberi jeda sejenak, “sebisa mungkin ulur waktu selama saat kalian dikejar, agar memberi kesempatan bagi yang lain.”

Aku sama sekali tak terpikir cara untuk mengulur waktu. Kuda raksasa itu terlalu besar dan cepat.

“Baik, satukan tangan kalian,” Ibra mengulurkan tangannya ke tengah lingkaran. Kemudian ia menanti, sampai orang-orang meletakkan tangannya di sana hingga saling menumpuk. “Selamat berjuang, kuharap ada dari kita yang lolos. Yang tidak lolos, kita akan coba ini lagi!”

Dan begitulah, kami menyebar sesuai rencana. Aku memilih untuk berjalan berdampingan bersama Ibra. Namun tidak lama setelah strategi dimulai, Trohan yang perkasa langsung mengeluarkan ringkikan yang rasanya bisa meruntuhkan langit. Derap-derap langkah kasar itu pun memberikan mimpi buruknya kala terus mendekati kami berdua.


message 6: by Grande_Samael (new)

Grande_Samael | 513 comments “Runa, kau lari ke sana!” seru Ibra seraya berlari ke arah berlawanan dariku. “Kita buat monster ini bingung!”

Aku menurut saja. Dengan sekuat tenaga kulangkahkan kaki sambil sesekali mengintip ke belakang. Sang kuda raksasa tampak bingung, lalu memutuskan untuk mengejar pemuda itu.

“Runa, lari sejauh mungkin, tapi jangan ke arah yang lain!” teriak Ibra. “Pancing ia agar semakin jauh dari jalan!”

Sesaat kemudian pemuda itu ditelan Trohan. Sementara aku tak tahu lagi bagaimana mengartikan perintahnya barusan. Aku kehilangan arah. Yang kutahu, aku harus berlari secepat mungkin karena sang kuda raksasa kini mengejarku.

***

“Sedikit lagi berhasil!” teriak Ibra keras-keras. “Jika kita punya anggota lebih banyak, melewati Trohan tidaklah mustahil! Aku ada ide, kali ini kita harus membuat formasi untuk memancing kuda itu sejauh mungkin. Pada saat itulah, yang lain berlari menuju garis akhir Amru!”

Semua lelah. Semua tidak punya tenaga lagi untuk berteriak. Namun secercah harapan tampak di mata mereka. Kemudian satu persatu yang lain mulai mengajukan diri untuk bergabung dalam misi menjemput kematian. Hingga akhirnya tak kurang dari seratus orang yang berangkat kali ini.

Di dekat Trohan, Ibra menyusun formasi memanjang di mana tim yang bekerja sebagai tumbal harus menjaga jarak saling memanjang hingga ke padang jauh. Fungsinya agar Trohan terus mengikuti seperti tikus yang memakan keju sepotong demi sepotong. Saat keadaan aman, yang lain nya akan maju.

Tapi sesungguhnya aku pesimis. Aku tak yakin bisa berhasil melewati sang kuda raksasa. Karena itu aku mengajukan diri sebagai umpan. Aku terlalu takut menggantung harapan yang terlalu tinggi untuk kemudian kecewa. Biarlah aku mati karena aku sendiri yang memilih untuk itu.

Rencana pun dijalankan. Aku, Ibra, dan setengah orang lainnya membentuk formasi saling memanjang hingga entah ke mana. Saat Trohan menyadari keberadaan orang pertama dan mengejarnya, makhluk itu terus berlari mengikuti manusia terdekat darinya, dan begitu terus hingga giliranku tiba. Aku tak tahu, apakah setengah yang lainnya bisa selamat atau tidak.

***

“Kita perlu lebih banyak orang untuk memancing Trohan lebih jauh!” seru Ibra. Lagi-lagi kami gagal.

“Tapi kuda itu berlari sangat cepat. Sebanyak apa pun rantai manusia yang dibuat, ia akan kembali ke jalan sebelum keringat kami jatuh ke tanah.” Ujar seorang pria skeptis. Ekspresi lelah dan takut terpancar dari wajahnya.

“Kita tidak akan tahu sebelum mencoba!”

“Kita sudah mencobanya – “

“Kita baru mencoba beberapa kali!”

Dan lama-kelamaan aku tak tahan mendengar perdebatan ini. Kepalaku terasa panas, seakan api neraka jahanam di perut Trohan masih tersisa sampai sekarang. Aku bangkit, lalu mendekati pemuda berambut merah itu.

“Apa kau tidak lelah?!” Kukeluarkan keluhanku dalam satu kalimat.

“Apa kalian lelah?” Ia balas bertanya padaku, dan pada kami semua yang mengelilinginya. Aku mengangguk. “Jika berhasil, kalian akan mendapat kesempatan hidup untuk yang kedua kalinya!”

“Tapi ini mustahil,” celetuk seseorang. “Sejak awal ini mustahil!”

Tiba-tiba Ibra menarik kerah orang itu, ia berteriak marah. “Maksudmu janji Tamon hanyalah omong kosong?! Bila ini mustahil, ia tak akan membuat kita mengerjakannya sejak awal!”

Orang itu terdiam, bibirnya bergetar. Ibra pun mendorongnya jauh.

“Maha benar Tamon dengan segala tingkahnya!” seru Ibra. “Aku akan pergi ke sana, meski kalian tidak! Aku akan menuntut janjiNya! Aku tidak akan menyerah dan berakhir di sini!”

“Kalau begitu pergilah!”

Dan ia benar-benar pergi. Seorang diri. Tapi bukankah memang sejak awal ia melakukan ini sendiri. Aku saja yang entah mengapa mengikutinya. Namun sekarang aku sudah belajar dari pengalaman dan memilih untuk melakukan apa yang harusnya kulakukan – duduk meringkuk dalam keabadian.

Setelah entah berapa lama, Ibra kembali ke tempat ini. Beberapa mencemooh. Beberapa menertawai. Namun ia langsung beranjak tanpa kata-kata, lalu terus sampai menghilang di batas cakrawala.

Kemudian ia kembali lagi ke tempat ini. Tapi sepertinya kematian pedih tak membuatnya jera. Ia tetap melangkah tanpa memperlihatkan ketakutan.

Lagi-lagi ia kembali ke tempat ini. Saat itu terjadi orang-orang melirik padanya, menjadikannya bahan perbincangan. Namanya menjadi kosakata baru untuk orang yang melakukan hal sia-sia.

Dan untuk kesekian kali ia kembali ke tempat ini. Aku benar-benar tak tahan lagi menyaksikan kebodohan ini. Ketika ia melewatiku, aku memanggilnya.

“Mengapa Ibra, mengapa?!”

Ia berhenti, tapi tak menoleh.

“Karena aku ingin hidup!”

“Tapi kau tahu ini sia-sia! Kadang di semesta ini ada hal yang tak bisa kau capai meski sekeras apa pun kau mencoba. Takdir tiap orang sudah digariskan, bukankah begitu?!”

“Lalu kau mau aku melakukan apa, hah? Duduk meringkuk sepertimu?”

Tentu saja hal itu sangat menyedihkan. Meringkuk tanpa daya dan mencemooh mereka yang berusaha. Namun keadaan lah yang memaksa kami.

“Selama hidupku...” Suara pemuda itu terdengar, tapi begitu lirih. Tak seperti sebelumnya selama ini. “Selama hidupku aku terus berusaha dan gagal... Bahkan aku mati sebagai orang gagal... Dan kini, aku kembali menjadi jiwa yang gagal...”

Aku tahu itu.

“Tapi... aku menginginkan perubahan!” Tiba-tiba nada suaranya meninggi. “Aku ingin hidup untuk kedua kalinya, meski hanya kegagalan yang menantiku di sana! Biar saja aku terus terjatuh! Biar saja aku terus mengulang dan mati! Biar saja meski Mahadewa Tamon tidak memberiku jalan! Biar saja semua ini berakhir sia-sia! Yang jelas, aku lebih memilih untuk terus berusaha dan gagal daripada hanya duduk diam mengutuki nasib!”

Aku terkesima. Aku tak bisa memahami jalan pikirannya. Aku tak tahu apa bagusnya kegagalan yang berulang.

Sesudah itu, ia kembali berjalan menyusi Amru. Sementara dadaku terasa perih kala memandangi punggungnya yang menghilang di antara padang gersang.

Kutatap ke bawah ke arah kedua telapak tangan ini. Sebenarnya apa sebab penyesalan yang kurasakan selama ini? Apa yang membuatku ingin berjuang, tapi kemudian berhenti? Apakah sama yang kulalui di sini dan yang kulalui di dunia dahulu?

Walau terus gagal... tapi tak pernah berhenti... omong kosong...

“Hei nak, mau ke mana kau?” seseorang bertanya padaku. Aku terkejut, karena pada saat itu aku baru sadar jika kaki ini sudah mulai melangkah.

Aku berpikir sejenak, hingga menemukan jawaban yang tepat untuknya.

“Aku adalah sampah semasa hidup di dunia. Aku tak mau tetap menjadi sampah di tempat ini.”

Dan, aku bergegas menyusul Ibra.


message 7: by Ani (new)

Ani (aninsane) | 21 comments Sebuah Kitab Mantra
by Aninsane


Kampus Brawijaya memang terkenal angker. Malam itu masih jam sembilan, aku sendirian setelah teman-temanku pergi duluan, dan aku masih mengerjakan tugas pemrogaman web di gazebo yang wifinya banter.

Waktu pulang aku melewati mushola kecil, karena itu aku memutuskan untuk sholat isya dulu di sana. Tidak seperti malam biasa, hawa pada malam itu dingin tapi entah bagaimana menenangkan. Air wudhu terasa menyengarkan dan mengusir kantuk di mataku yang lelah mengawasi laptop sedari pagi.

Mushola ini sepi, aku tidak melihat kalau ada orang di bilik pria, tapi di sini, di bilik wanita tidak ada siapa-siapa. Aku memakai mukena dari lemari etalase, lalu mengambil tempat di tengah agak depan untuk sholat.

Karena suasananya sepi dan damai, aku menikmati diriku membaca setiap kata dari surat Al-Fatihah, tanpa terasa aku membacanya lebih keras hingga aku bisa mendengar suaraku sendiri.

Saat aku membaca ayat terakhir, dari belakangku ada seseorang yang menimpali.

"--Amiin,"

Padahal aku yakin tidak ada orang di belakangku tadi. Aku juga tidak mendengar suara orang datang, memakai mukenanya, dan ikut sholat bersamaku. Itu suara wanita dengan suara besar dan serak, seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya.

Ah, bukan apa-apa.

Suara "Amiin" yang menakutkan itu tidak kedengaran lagi pada rakaat selanjutnya. Aku melanjutkan sholat hingga rakaat terakhir.

"Assalamualaikum warahmatullah," aku mengucapkan salam sambil menoleh ke arah kanan. "Assalamualaikum warahmatullah," Kemudian ke kiri.

"Waalaikumussalam,"

Seorang wanita berada tepat di sebelah kiriku—yang tidak ada sebelumnya—memakai mukena putih panjang, dan aku menoleh tepat di depan wajahnya. Mata hitam penuh seperti manik-manik menyambutku dengan senyuman miring di wajah pucatnya yang pecah-pecah seperti kulit wajah boneka rusak.

"ASTAGFIRULLAH HAL ADZIM!!! ALLAHU AKBAR!" aku sontak menjerit dan hendak berlari saat itu juga.

Tapi bagian bawah mukenaku ditarik, aku jatuh berlutut dan tidak berani bangun lagi. Aku bersujud sambil menutupi wajahku dengan kedua tangan sambil mengucap kalimat tasbih berkali-kali.

Aku bisa merasakan wanita itu masih di sana, bunyi gesekan rukuhnya di karpet ketika berjalan terdengar jelas dari belakangku. Aku mulai membaca ayat kursi dengan keras, diiringi isak tangis ketakutan.

"Allahulah ila ha illa hu wal huayyul hayyum! la sinatu wala naumm!..."

Aku membaca ayat kursi berkali-kali hingga tak tahu lagi kapan harus berhenti.

Tiba-tiba suara laki-laki mengejutkanku, "Sampeyan ndak apa-apa, mbak?"

Aku berhenti menangis dan menoleh. Pemuda itu manusia, dia memakai kemeja polos dengan jas mahasiswa dan bawahan celana hitam. Dengan takut aku melihat ke belakang pemuda itu, lalu ke sekeliling ruangan mushola.

"Jin itu sudah pergi, mbak" ucap laki-laki itu menenangkanku.

Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kelihatannya pemuda ini mengusirnya. Sungguh luar biasa. Dia pasti orang sakti.

"Ba... bagaimana?" aku bertanya-tanya persis orang linglung.

Dia hanya tersenyum sebagai jawaban. Saat kupikir laki-laki itu tidak akan menjawab, dia memberitahuku sesuatu. "Kalau mbak baca mantra seperti tadi, mana mempan mbak,"

"Maksud mas? Mantra apa toh mas?"

"Ayat kursi tadi loh mbak,"

"Ayat kursi itu ayat suci mas, bukan mantra!" Kukira dia bercanda.

"Loh, Mbak nggak tahu ya? Al-Quran itu sebenarnya kitab kumpulan mantra."

"Astagfirullah! Al-Quran adalah firman Allah! Sungguh berdosa jika mas menyamakan  Al-Quran dengan kitab mantra!" rasa takutku sekejab menjadi kesal.

"Loh? Bukankah memang begitu? Mbak membaca surat ayat kursi untuk mengusir jin, membacanya berulang-ulang kali seperti mantra sampai jin itu pergi, padahal mbak sendiri tidak tahu alasan kenapa harus membaca ayat kursi. Hanya sekedar didoktrin ayat kursi bisa membakar jin. Ya, persis seperti mantra."

Aku hendak membantah, tapi dia berkata lagi, "Apa mbak pernah berpikir kenapa ayat kursi bisa mengusir jin? Tidak ada kan ayat yang berbunyi: Wahai manusia, bacalah ayat kursi, agar dirimu terhindar dari kejahatan jin."

"Ya karena ayat kursi memang ayat suci, ayat yang bisa membuat jin kepanasan" ujarku.

"Ketika berhadapan dengan jin, jika kita tak lagi takut pada mereka, saat itulah kita menang. Namun jika kita menggunakan akal, saat itulah kita menang selamanya. Karena itu mbak harus tahu ayat kursi itu tentang apa. Bukankah itu tentang kebesaran Allah mbak? Coba dipikir, bagaimana itu bisa mengusir jin?"

"Karena jin takut dengan kebesaran Allah?" aku menjawab sekenanya.

"Kalau memang begitu, kok bisa nggak mempan waktu dibacakan ayat kursi? Bahkan masih mengganggu waktu sholat? "

Pemuda ini benar-benar sesuatu. Dia—untuk pertama kalinya—membuatku mempertanyakan semua hal. Dan aku tak memiliki jawaban. Dia masih saja memberikan pertanyaan padaku—yang seharusnya sangat masuk akal, tapi tak pernah terpikirkan.

Aku hanya bisa merenung, "Mungkin iman saya kurang kuat..."

Dia berjongkok di depanku kemudian berkata, "Bukankah iman itu meyakini dengan sepenuh hati bahwa hanyalah Allah tuhan yang patut disembah? Ayat kursi adalah tentang kebesaran Allah, bahwa Allah adalah Sang Maha Agung lagi Maha Mengetahui yang lebih berkuasa. Membaca ayat kursi adalah supaya anda ingat bahwa Allah selayaknya lebih anda takuti daripada jin yang tidak ada apa-apanya, dan memperkuat iman anda."

Ingat mbak, tujuan jin menggoda adalah untuk melemahkan iman manusia. Mereka membuat manusia lebih takut padanya, bukan pada Sang Pencipta. Bagaimana iman anda bisa lebih kuat jika anda membaca ayat kursi layaknya mantra, berharap mantra yang luar biasa ini bisa membuat jin kepanasan?"

Pemuda itu tersenyum hangat.  "Mbak udah baikan kan? Kalau begitu, mari mbak." Dia berdiri kemudian, sambil mengangkat kedua telapak tangannya yang menempel, ke depan dada, menyiaratkan bahwa dia masih punya wudhu.

Pemuda itu pergi, meninggalkanku sendiri, merenungkan semua ini.

Dan aku mulai mengerti kekacauan dunia. Al-Quran sekarang memang bukan lagi dianggap petunjuk bagi umat manusia, tetapi sebuah kitab mantra--yang hanya dibaca tanpa dimengerti intinya.


message 8: by Dan (new)

Dan T.D. (dantd) | 386 comments The Plus Sign at the End of the Universe

Dasi kuning. Kemeja putih. Jas biru cerah. Celana krem. Patrice Rajayesyes melirik jam dinding bermotif tanda plus di atas televisinya. 6:20. Tersungging senyum bangga di bibir si pria. Hari ini akhirnya dia berhasil memecahkan rekor yang sudah jadi obsesi berbulan-bulan: waktu tersingkat untuk bersiap-siap sebelum berangkat kerja. Dari merapikan kamar tidur sehabis bangun, makan, mandi, hingga berganti pakaian tuntas dalam kurang dari 20 menit. Pasti karena aku berhasil naik panggung saat sesi motivasi akbar mingguan kemarin sore.

Bergegas dia turun dari kamar tidur menuju lantai satu. Ditemuinya sang istri, Merida, dan sang anak semata wayang, Prudencia Positiva, sedang duduk di sofa, menonton televisi. Kartun Minggu pagi yang warnanya agak tidak karuan.

“Seru banget nontonnya,” celetuk Patrice.

“Ayah!” bocah perempuan itu berhenti menonton, berlari kecil menuju si pria yang kemudian mengelus-elus kepalanya.

“Jadi udah sampai mana nih petualangan Kapten Inspirator?”

“Lagi seru-serunya Yah, ngelawanin Lord Nega dia! Tapi biasanya juga Kapten Inspirator menang, dia kan jagoan inspiratif semua anak!”

Si ayah tertawa kecil. “Yaudah, Ayah pergi kerja dulu ya. Oh ya, Meri, ingat hari ini beliin susu ya buat Tiva. Uangnya ada di keranjang dekat kulkas.”

“Eh Ayah, harga susu kan naik dari minggu lalu. Taruh berapa di keranjang?”

“200 ribu pencerah kok. Cukup lah buat beli sekaleng. Kalau harga susu naik, itu artinya orang pabrik susu lebih termotivasi dari kita. Coba deh, tingkatin motivasinya, sering-sering lebih positif, lebih rajin lagi ikut sesi motivasi harian. Yakin nanti bukan cuma harga susu yang turun, harga daging juga.”

“Iya,” jawab Meri pelan.

“Kalau begitu aku pergi dulu. Mana senyum pembangkit inspirasinya?”

Meri pun tersenyum. Agak dipaksakan namun tetap lebar dan segar. Patrice puas melihatnya. “Sampai jumpa lagi,” ujarnya sebelum membuka pintu dan keluar rumah.

Cuaca cerah menyambut Patrice segera setelah dia menutup pintu, membuatnya sedikit risau. 2 kilometer jalan kaki panas-panasan? Nyaris saja dia merengut. Beruntung dia tidak lupa diri dan kembali tersenyum selebar mungkin sambil lanjut berjalan.

“Salam Inspirasi, Kawan Patrice!”

Sebuah suara dari belakang mengagetkannya. “Kukira siapa, ternyata Kawan Wardi. Lain kali salam dari depan saja, aku kan jadi susah membalas kalau tiba-tiba begitu.”

Wardi terkekeh. “Siapa lagi di ketraineran sini yang jadi anggota Brigade Ikhlas Pusat selain kamu, Kawan? Lagi buru-buru nih?”

“Ya begitulah. Ada briefing pagi-pagi di kantor. Kamu sendiri? Lari pagi seperti biasa?”

“Mumpung cerah. Akhir-akhir ini iklimnya sering berawan. Kapan lagi bisa dapat sinar matahari penuh positivitas? Oh ya, sebentar lagi aku putar balik. Duluan ya. Salam Inspirasi!”

“Salam Inspirasi, Kawan!” dan Wardi pun berputar balik, berlari ke arah berlawanan. Meninggalkan Patrice yang menyusuri trotoar ditemani suara langkah pantofel. Mobil-mobil dan motor-motor setengah rusak yang teronggok begitu saja di jalan raya tidak mau menemaninya bergerak. Semua mati kehausan, kehabisan bensin dan oli. Dan setelah Patrice berjalan cukup lama dia juga mulai merasa seperti kendaraan-kendaraan malang itu. Haus. Sialnya dia lupa membawa air dari rumah. Di rutenya menuju kantor sebenarnya ada toko kelontong, tapi air mineral mahal sekali. Lagi-lagi Patrice nyaris terpancing untuk merengut andai dia tidak melihat sebuah baliho di kejauhan. Foto seorang pria botak berkacamata kotak dengan tangan dikepal dan senyum sumringah, dihiasi tulisan di bagian kiri: “APAPUN YANG KAU BUTUHKAN, INSPIRASI AKAN MEMBUATNYA DATANG. –SANG MAHA MOTIVATOR-“. Tapi makin jauh Patrice berjalan makin sulit baginya menjaga senyum. Bibir mulai kering, rasa capek makin memberatkan, dan keringat membuat ketiak bau tak sedap. Barulah dia kembali menyunggingkan bibir ketika terdengar suara mobil dari jauh. Patrice menengok ke belakang. Toyota putih metalik yang terlihat cukup baru. Mobil itu menepi dan keluarlah seorang pria gemuk dengan pakaian persis si pejalan kaki.

“Saudara Irawan! Salam Inspirasi!”

“Salam Inspirasi juga, Saudara Patrice! Mau numpang?”

“Tentu,” cepat-cepat Patrice naik ke dalam jok belakang mobil. Irawan sendiri duduk di jok depan.

“Gimana, enak kan ACnya?” tanya Irawan bangga segera setelah mobil kembali melaju.

“Iya Pa- eh, Saudara, enak.”

“Kebetulan sekali, Saudara Patrice. Sebenarnya ada hal yang ingin kubicarakan denganmu selepas briefing nanti. Tapi lumayan, di sini juga lebih banyak privasi. Kedap suara. Rokok?”

Marlboro? Gila, dari mana ini orang dapat beginian?

“Kaget? Kebetulan dapat banyak waktu razia positivisasi kemarin malam. Ambil beberapa, sisanya kasih ke Departemen Kesucian. Bukannya Saudara juga bisa punya dua televisi karena razia?”

“Bukan itu, Saudara Irawan. Tapi siapa yang bisa punya barang semahal itu?”

“Ada… manusia negatif yang punya stok. Entah dapat dari mana. Sekarang paling juga diintero- ehm, dipurifikasi di Unit 777. Sudah, nikmati saja.”

Ragu-ragu Patrice mengambil sebatang dari bungkusnya, menyalakan batang rokok itu dengan geretan Irawan, dan mengisapnya. Keras sekali, beda dari rokok V-Plus jatah kantor. Namun setelah dua tiga kali menghirup, rasanya jadi enak.

“Nah, sekarang…” Irawan membuka jendela mobil, membiarkan asap rokok keluar sebelum dia melanjutkan, “Sebenarnya briefing nanti tipu-tipu, Saudara. Yah, bukan pertama kalinya ini terjadi kan?”

“Jadi hanya pengumuman untuk menyiapkan Seminar Motivasi ‘the Ways of Success’ dadakan di Monumen Api Inspirasi? Apa yang…”

“Rileks Saudara, mobil ini tidak disadap atau dipasangi CCTV seperti tempat-tempat lain.”

“Ada pengumuman baru dari Sang Maha Motivator?”

“Tiga versi cerita, entah yang mana yang benar. Pertama, pengumuman perang baru melawan para Negatifis Pembelenggu, yang berarti kita akan bekerja di bawah Unit 777. Mengerikan? Berdoalah semoga tidak sampai kejadian. Kedua, penolong Suksesnesia akan menambah motivational impetus.

“Pemerintah pusat mau memotong gaji lagi?”

“Kalau benar kali ini hanya kenaikan harga beras. Ketiga, meski mungkin ini angin surga dari kacung-kacung Departemen Pencerahan, akan ada berkah turun dari langit. Bagi-bagi rampasan lewat pesawat. Tapi kau sendiri tahu kalau hanya situasi genting nan mendesak yang membuat Sang Maha Motivator mau memberi lampu hijau untuk ini, bukan begitu?”

Patrice tidak menjawab. Dihisapnya rokok kuat-kuat sambil memandang ke luar. Apartemen-apartemen kosong, puing-puing bangunan, dan bau tahi yang menghiasi pinggir jalan seolah melengkapi kecemasan di hatinya. Bah, kedua kemungkinan sama-sama gila. Apa kujual saja mesin pemotong rumput kebanggaanku?

“Saudara Patrice?”

Yang ditanya sedikit kaget. “Ah, maaf Saudara. Bisa kembali ke inti masalah?”

***

“…dan targetmu kali ini untuk diikhlaskan adalah Jono Sukarwo, di Jalan Kemandirian Agung nomor 234, Positif Minggu. Mengerti?”

Patrice mengangguk pelan. Syukurlah kali ini penjelasan Untung Pembacot tidak sebertele-tele biasanya. Kalau tidak aku sudah diikhlaskan juga karena tertidur! “Tidak ada penjelasan lagi, Saudara Untung?”

“Tidak.”

“Kalau begitu saya permisi. Lebih cepat lebih baik. Oh iya, menurut Saudara lebih baik pakai Honda atau Mazda ke sana?”

“Jelas Honda, karena joknya-“

“Terima kasih! Salam Inspirasi!” buru-buru Patrice meninggalkan ruangan itu sebelum Untung mulai berceramah lagi. Dalam hati dia berterima kasih pada Irawan yang telah memberitahunya detail-detail profil target serta kesulitan misi yang tidak mungkin diungkapkan Untung dalam briefing tadi. Sudah tradisi Brigade Ikhlas untuk menyembunyikan ‘ekses-ekses rincian’ alias latar belakang si target dan informasi-informasi rahasia lain. Rumor yang beredar, ini gara-gara sempat ada kasus pengkhianatan.

Maka berangkatlah Patrice menaiki Honda merah menuju target. Tak jauh dari markas Brigade Ikhlas ke daerah Positif Minggu. Dia habiskan waktu di perjalanan dengan memikirkan cara pengikhlasan yang tepat, kalau harus, karena dia lebih suka para negatifis diberi sesi motivasi ekstra di Unit 777. Setidak-tidaknya agar jadi urusan mereka saja, bukan urusan dia.

Hanya butuh waktu kurang dari setengah jam untuk tiba di tempat yang dimaksud. Sebuah rumah kecil berhalaman ilalang lebat. Dia tembak gembok yang mengunci pagarnya dengan pistol yang diberi peredam. Perlahan-lahan Patrice melewati pintu pagar dan menyusuri halaman hingga tiba di teras.

“Siapa itu?”

Buru-buru Patrice mendobrak pintu rumah, merangsek masuk ke dalam. Menemukan seorang pria kontet berambut pendek. Ini dia. Tanpa ba-bi-bu ditembaknya paha kiri sang target. Akurat. Sang target langsung berlutut, mengerang kesakitan.

“Aku langsung saja: mau diikhlaskan atau diberi sesi motivasi ekstra?”

“Kalian bajingan… mau menyerah pada kemunafikan dan tirani demi uang!”

“Kamu boleh berbangga menjadi orang ke-1001 yang berkata seperti itu padaku. Tapi sebagai balasan karena kamu tidak merepotkan, akan kubiarkan kamu menonton The Ways of Success di televisi reyotmu itu sebelum kamu memilih,” Patrice menunjuk ke arah satu sudut kamar. Dia tembak paha kanan si target yang membalasnya dengan teriakan kencang sebelum berjalan ke meja di tengah ruangan. Dia ambil remot dan dia nyalakan televisi.

Layar menunjukkan Sang Maha Motivator di sebuah panggung, dikelilingi ribuan orang. “…maka dari itu, saudara-saudaraku yang aku cintai, motivasi kita haruslah ditingkatkan lagi! Untuk itulah saya berusaha meningkatkan motivational impetus anda-anda sekalian! Bukan untuk menyiksa, bukan. Tapi semua obat adalah pil pahit, ya toh? Salam dua jempol.”

“Hidup Sang Maha Motivator! Hidup Sang Maha Motivator! Hidup Sang Maha Motivator!” suara para penonton sampai bergema saking kerasnya. Tepat saat kamera mendekat menuju salah satu penonton yang mengacungkan salam dua jempol, Patrice matikan televisi.

“Sayang sekali, kali ini aku tidak bisa memberimu pilihan. Pulang nanti pasti istriku mengomel soal kenaikan harga beras. Izinkan aku melampiaskan kekesalan ini dengan mengikhlaskanmu.”

“Janga-“ sebuah peluru bersarang di kepala si target sebelum dia dapat menyelesaikan kalimatnya. Patrice buru-buru mengelap noda darah di jasnya dengan sapu tangan dari saku dan keluar dari rumah itu. “Nah, sekarang aku bisa menikmati mobil ini untuk berkeliling sebentar,” gumamnya pada dirinya sendiri. Dia nyalakan mesin mobil dan kali ini dia nyalakan pula radio. Kebetulan sekali radio menyetel lagu favoritnya.

When I find myself in times of trouble
Motivator comes to me
Speaking words of wisdom
Positive



message 9: by Andry (last edited Feb 05, 2015 11:12PM) (new)

Andry Chang (vadis) | 134 comments Ibu Guru Kami Sakti Sekali
Andry Chang

Kata orang, jam-jam pelajaran sekolah adalah waktu paling menjemukan sepanjang hari, bahkan sepanjang masa kecilnya.

Tidak demikian di Sekolah Dasar Paranormal Candradimuka. Setidaknya itu menurut salah satu siswi kelas tiga sekolah itu, Charlotte Lumintang yang akrab disapa Lotte.

Contohnya, suatu hari gadis berparas manis dan rambutnya selalu dikuncir dua itu sedang duduk-duduk bersama siswa-siswi lainnya yang berpakaian seragam batik dalam ruang kelas III-C. Panas matahari terik menyelusup dari jendela-jendela lebar yang tirai-tirainya terbuka di satu sisi dinding kelas.
Sedangkan di atas jendela itu, alat pendingin ruangan berdengung teredam, menangkal hawa panas tadi hingga suasana dalam kelas tetap sejuk.

Sebagai “ratu gosip” di kelas, Lotte selalu bergosip tentang anak-anak di luar gengnya. Juga tentang satu prestasi yang paling ia banggakan – yang pastinya tak berhubungan dengan pelajaran sekolah.

Lotte berkata, “Eh Van, kudengar ada guru baru akan mengajar kita di jam pelajaran ini.”

“Ah, masa’ sih, Lotte?” tanggap Ervan, anak laki-laki bermata jeli, siswa terpandai di kelasnya.

“Bagus sekali kalau begitu!” ujar seorang siswi berambut pendek, berwajah tirus dan terkesan tomboy.

“Aku akan membuat guru itu mengundurkan diri juga, seperti pendahulunya minggu lalu.”

“Oi, Tesla, yang membuat Pak Yakob tak tahan lagi itu Lotte, tahu!” sergah Andrea, gadis teman akrab Lotte sambil menyeka ingus di hidungnya dengan sapu tangan.

Tesla ingin protes, namun disela Gito, anak laki-laki bertubuh gempal yang nampaknya suka mengerjai siswa-siswi lainnya. “Sudahlah! Bagaimana kalau kita bertanding saja. Siapa yang berhasil membuat guru baru itu mundur di hari pertama dia mengajar, dia akan jadi ketua geng kita sampai kita lulus Sekolah Dasar nanti!”

“Setuju!” jawab Lotte penuh percaya diri.

“Siapa takut?” Tesla menatap tajam pada saingan beratnya, Lotte itu.

“Ini akan jadi rekor baru Sekolah Candradimuka!”
celetuk Gito sambil makan jajanan kantin yang ia raup dari dalam kantung plastik besar yang dibawanya.

Hanya Andrea dan Ervan yang diam saja, tak terlalu yakin “ide super nakal” ini bakal berhasil.

Tepat saat itu pula, bel berbunyi. Semua anak dalam kelas cepat-cepat duduk di kursi masing-masing, siap mengikuti pelajaran. Lotte senyum-senyum sendiri. Dua jam pelajaran Matematika kali ini akan menjadi acara yang paling mengasyikkan, pikirnya.

Pintu kelas dibuka, dan seorang wanita masuk. Semua murid menyambut, “Selamat siang, bu guru!”

Tiba-tiba seluruh kelas, bahkan Lotte sendiri tercengang melihat penampilan sang guru. Mengenakan blus, blazer, celana panjang bahan dan sepatu berwarna hijau daun, wanita muda semampai itu lebih mirip model iklan pakaian kantor daripada guru Sekolah Dasar.

Apalagi senyum cantik dan bibir merah merekah di wajah bu guru, saat ia berseru dengan lantang namun terdengar amat merdu, “Perkenalkan, nama saya Renata Handoyo. Saya mengajar Matematika, menggantikan Pak Yakob yang mendadak mengundurkan diri minggu lalu akibat terkena gangguan syaraf.”

Nervous breakdown, bu,” ujar Lotte sok pintar. Tak heran, ia memang selalu jadi juara dua di kelas, tentu dengan rata-rata nilai amat memuaskan.

“Ya, benar,” ujar Bu Renata tanpa menatap anak penceletuk itu. “Jadi, mohon kerjasama kalian semua.”

Setelah semua murid memperkenalkan diri satu-persatu, Renata berkata, “Nah, hari ini kita akan membahas cara mengukur tinggi dan luas suatu benda. Buka buku pelajaran kalian…”

Saat Renata berbalik untuk menuliskan rumus-rumus di papan tulis, wajah Charlotte berubah masam. Tiba-tiba terbit gagasan iseng dalam benaknya.

Dengan sengaja Lotte menggesekkan penggaris besinya pada kaki besi mejanya, membuat bunyi berdecit yang amat keras. Parahnya, bunyi itu diperkeras lagi dengan sihir sehingga semua orang dalam kelas itu menutup telinga. Kapur di tangan bu guru patah. Ia berbalik dan menatap sekeliling dengan wajah jengkel. Ya, kesabaran Bu Renata sedang diuji.

Pandangan Bu Renata terarah tajam pada Lotte, si “penyerang”. Namun, bukan melabrak, sang guru berbalik, mengambil kapur baru dan mulai menulis lagi. Belum, belum saatnya ia “meledak”, pikir Lotte. Serangan tadi baru pemanasan saja. Aku yakin anak-anak lain sudah siap dengan trik masing-masing.

Seperti dugaan Lotte, Ervan dengan cepat beraksi, melemparkan kertas yang diremas menjadi sebesar dan sebentuk bola tenis meja ke arah pengajar. Tentu saja bola bermuatan tenaga dalam itu melesat secepat kilat, sulit dihindari dan bisa menyakiti orang biasa yang terkena.

Namun, Bu Renata bukan orang biasa. Layaknya pendekar tangguh, ia mengayunkan satu tangan dan menangkap bola kertas itu tanpa melihatnya, dan tanpa luka sedikitpun. Lantas, gadis muda itu berbalik dan berjalan ke mejanya, melempar-lempar bola itu di tangannya.

“Nah, perhatikan di papan tulis. Ada tiga jenis ukuran besar suatu benda, yaitu ‘panjang’, ‘lebar’ dan ‘tinggi’-nya.” Bu Renata menjelaskan sambil menunjuk ke gambar benda di papan tulis. “’Panjang’ adalah ukuran sisi mendatar sebuah bidang, sementara ‘lebar’ adalah ukuran sisi tegak-lurusnya, yang pada bidang ini kelihatan miring ke dalam. Dan ‘tinggi’ adalah ukuran sisi tegak-lurus pada permukaan bidang yang menghadap ke kita.”

Renata lalu merentangkan kedua tangannya. “Nah, saat saya berdiri menghadap kalian, panjang ruangan ini sisinya sama dengan bentangan tangan saya ini. Dan lebarnya adalah jarak dari sisi sini,” ia merentangkan satu tangan ke belakang, “ke sisi sana.”

Saat merentangkan tangan ke depan, tiba-tiba Renata melemparkan bola kertas tadi lurus ke arah Jimmy, anak laki-laki yang sedang tidur sambil mendengkur.

Karena menggunakan tenaga dalam seperti Ervan tadi, Jimmy langsung terbangun sambil blingsatan dan memegangi kepalanya yang benjol.

“Aduuh! Siapa yang melemparkan… Oh, Bu Renata? M-maaf, bu!” ujar Jimmy, benar-benar mati gaya dia dirundung derai tawa anak-anak lainnya. Ervan dan Lotte terperangah, belum tentu lemparan bola kertas mereka bisa membuat benjol kepala.

Gawat, Bu Renata lebih sakti daripada yang kukira! Pikir, Lotte! Pikir! batin Charlotte, wajahnya mulai memucat.

Renata berkata, “Sebelum kita melanjutkan, ibu mau tanya, siapa ketua kelas di sini?”

“Lotte, bu! Dia juga juara dua di kelas!” celetuk Tesla. Lotte mendelik sebal pada rivalnya, si juara tiga itu. Buat apa Tessla menyebut soal peringkat kelas segala?

Namun reaksi Bu Renata lebih tak terduga lagi. “Oh ya? Bagus, Lotte. Teruslah belajar dengan giat, ibu yakin kau akan terus berprestasi gemilang.” Bukan hanya kata-katanya yang tak mencela kenakalan Lotte tadi, namun senyum tulus Bu Renatalah yang menghilangkan kerutan di dahi Lotte, mengubahnya menjadi senyum pula.

Namun, pemberian kepercayaan itu bukan tanpa pembuktian. Sang guru memberi soal ukur bidang, dan Lotte memberikan jawaban yang cepat dan tepat.

“Bagus sekali!” puji Renata.

Beberapa anak termasuk Ervan merasa “tercerahkan” oleh penjelasan Lotte tadi. Karena itulah, diam-diam Ervan menulis pesan di atas kertas. Kertas itu lalu dilipat menjadi pesawat kertas. Lagi-lagi, anak laki-laki yang simpatik itu menggunakan tenaga dalam, menerbangkan “pesawat”-nya ke arah sang guru.
Karena tenaga dalam yang digunakan lebih kuat, ditambah bentuk pesawat yang cukup “aerodinamis”, pesawat kertas mengenai belakang kepala Bu Renata.

“Aduh!” seru wanita itu sambil memegangi rambutnya, persis di samping sanggulnya.

Sekilas, Bu Renata tampak bakal melabrak. Namun, saat ia memungut pesawat terbang kertas itu dan membaca pesan di dalamnya, raut wajah guru wanita itu berubah, dan ia kembali menulis soal-soal latihan di papan tulis.

Mata Lotte terbelalak heran melihat semua itu. Kok bisa?

Jawabannya datang dari Andrea yang duduk di baris tengah ruangan. Anak perempuan berjulukan si “Mesin Pilek” ini bersin keras-keras, menyemburkan ingus bermuatan tenaga dalam ke arah sang pengajar. Lebih aneh lagi, Bu Renata dengan sigap merebahkan kepala ke satu sisi bahunya, sehingga peluru ingus mengenai papan tulis.

Walaupun tak melukai atau menyakitkan, terkena ingus tentunya menjijikkan.

Namun posisi ingus itu menerbitkan ide, dan Renata langsung menerapkannya. “Andrea! Ke depan kelas! Coba kamu kerjakan soal hitungan ini!”

Dengan terheran-heran gadis kecil yang sering sekali pilek itu maju dan mengambil kapur. Saat melihat soal yang ditunjuk sang guru, ternyata salah satu angkanya tampak kabur akibat terkena ingusnya sendiri.

Sambil mengernyit jijik Andrea bertanya, “Lebarnya berapa ya, bu?”

Ibu Renata menjawab, “Bersihkan dulu bagian yang tak jelas itu, baru ibu diktekan angkanya. Oh ya, jangan pakai penghapus papan tulis ya.”

Andrea terperanjat. Astaga, tak boleh? Tak ada tisu pula. Terpaksa ia menggunakan tangan kiri untuk membersihkan ingus itu, lalu dengan tangan kanan menuliskan angka soal. Hanya butuh kurang dari semenit, Andrea lantas menulis jawaban yang benar di papan tulis.

“Baiklah kalau begitu,” ujar Renata. Ia kini yakin, Andrea memang cukup cerdas dan akan dapat nilai bagus dalam ulangan nanti.

“Ngg, boleh saya ke kamar kecil, bu?” Bu Renata mengangguk menjawab Andrea. Gadis itu tersenyum girang dan segera melesat keluar kelas. Inilah satu lagi murid kelas yang “tercerahkan” seperti Ervan.

“Baiklah, buka buku latihan Matematika kalian, lalu kerjakan soal-soal latihan nomor 37 di halaman 53-54. Gunakan rumus-rumus yang kalian catat di papan tulis tadi!” Bu Renata kembali beraksi.

Hampir seketika seluruh murid kelas itu jadi sibuk. Sang guru menambahkan, “Waktunya 30 menit!”

Suara-suara keluhan terdengar, namun itu semua seperti anjing menggonggong, kafilah berlalu.

Efeknya sungguh nyata. Anak-anak yang semula mengeluh kini mengerjakan soal demi soal dengan antusias. Dengan rumus-rumus terpampang jelas, mereka hanya perlu berhitung saja. Tugas latihan jadi terasa ringan, ilmu terserap dalam ingatan. Lebih penting lagi, sebagian besar dari mereka kini asyik mengerjakan soal, takkan terpikir untuk mengerjai wali kelas baru di depan sana itu.

Walau demikian, masih saja ada segelintir anak yang berulah. Bu Renata sedang duduk di mejanya, memeriksa pekerjaan rumah saat tiba-tiba suara menguap yang amat keras terdengar. Sontak wanita itu menegadah, dan melihat Jimmy, yang duduk di baris paling belakang ketiduran lagi di atas meja, sambil mendengkur pula. Anak-anak perempuan di kiri-kanan Jimmy tertawa cekikikan saat melihatnya.

Suara dengkuran yang diperkeras dengan tenaga dalam itu jelas amat menggangu, membuat telinga sang guru serasa sedang digergaji. Setelah menoleh sekilas untuk menentukan sasaran, Renata bangkit, melemparkan penghapus papan tulis ke arah sasaran sambil berseru, “Jimmy!”

Penghapus melesat amat deras, tepat mengetuk kepala Jimmy. Anak itu terbangun seketika dari tidurnya, terbatuk-batuk. Kepala dan wajahnya jadi putih semua kena kapur, jadi anak-anak yang melihatnya tertawa lagi.

“Pergi ke belakang, cuci muka sana!” sergah Renata. Dengan amat malu Jimmy yang tadi kepalanya sudah benjol terkena lemparan sebelumnya berjalan ke luar kelas. Sambil tentunya ia mengembalikan penghapus itu di meja guru.

Belum sampai lima menit kemudian, terdengar suara keras kombinasi semacam kentut dan ledakan bom. Dengan sigap Renata bergegas ke sumbernya.

Ternyata si pelaku “peledakan” itu adalah Gito. Ia sengaja mengerahkan kesaktiannya, yaitu Kentut Dewa. Baunya lebih parah dari bangkai tikus yang membusuk. Persebarannya bagai gas beracun, membuat sedikitnya empat anak lain kepusingan, dan dua lagi, termasuk Jimmy pingsan di meja masing-masing.

“Gito, kerjakan latihanmu sambil berdiri di depan kelas!” seru Renata.

Gito dengan santai melenggang, diam-diam berbisik pada Lotte, “Coba lihat apa ibu guru bisa mengatasi ini, heheheh.”


message 10: by Andry (last edited Feb 06, 2015 05:19AM) (new)

Andry Chang (vadis) | 134 comments Menghadapi murid-murid yang semaput dan pingsan ini, apa akal? Haruskah mengirim semuanya ke klinik sekolah? Serangan-serangan amat beruntun dan gila-gilaan ini bisa jadi bakal mengacaukan seluruh hari ini.

Terpaksa Renata mengerahkan kemampuan terbaiknya. Ia merentangkan tangannya dan menggumamkan semacam mantra. Lalu ilusi semacam hujan “mengguyur para korban” gas kentut tadi. Rasa pusing berangsur reda, bahkan anak-anak yang pingsan mulai siuman.

“Oh, sudah waktu istirahat makan siang ya?” ujar Jimmy sambil menguap dan mengusap kedua matanya, disambut derai tawa teman-teman sekelasnya.

Si pelaku, Gito ternganga, perut buncitnya terasa melilit.

Namun dua anak tak ikut tertawa. Yang pertama Tesla, dan yang satu lagi tentunya Charlotte.

Kali ini, Tesla bicara lewat telepati dengan Charlotte dan Ervan. “Aduh, bagaimana ini? Ibu Renata terlalu sakti, kita harus bagaimana lagi supaya bisa mengusirnya?”

Ervan menyahut lewat benak pula, “Sudah begini kalian ingin berusaha mengusir guru lagi? Sudahlah, biarkanlah Ibu Renata terus jadi wali kelas kita.”

“Wah, kalian sepertinya sudah tersihir oleh guru kita yang berpenampilan menarik itu,” cibir Lotte pada Ervan dan Tesla, lalu menyebarkan suara telepatinya ke seantero kelas. “Asal kalian tahu saja, aku tadi sudah membaca pikiran Ibu Renata. Dia ingin kalian berdua terus memberinya peringatan, sehingga aksi semua murid lain termasuk aku bisa ia tangkal dan atasi dengan cepat.”

“Astaga, jadi trik-trik kami gagal gara-gara mereka?” sergah Gito, ekspresi wajahnya mengeras.

“Dasar penjilat guru!” timpal Jimmy.

“Kami tak mau jadi teman kalian lagi, Tesla, Ervan!” Suara batin Andrea terdengar seakan menangis.

Suasana jadi tegang seketika. Kebanyakan anak dalam ruang kelas itu menatap sebal dan benci pada Tesla dan Ervan, sedangkan kedua “penjilat” menatap marah ke arah meja guru.

Hanya Charlotte yang bersedekap, menutupi senyum puas karena fitnahnya kena sasaran.

“Awas kau, Bu Renata! Akan kuserang kau gila-gilaan!” batin Tesla.

Saat itu pula sang guru bangkit dari tempat duduknya dan berjalan perlahan ke arah para murid. Namun yang dihampirinya bukan Tesla ataupun Ervan, melainkan Lotte.

Lotte terperanjat, jangan-jangan Bu Renata telah membaca pikiran semua siswa sejak tadi, termasuk dirinya. Wanita itu menatap tajam mata Lotte, memancarkan telepatinya ke seluruh kelas. “Ibu peringatkan, Charlotte. Kalau kamu coba-coba menyebarkan fitnah atau trik apapun lagi, berdiri kamu di ruang guru sampai waktu pulang sekolah. Dan kamu mungkin akan diskors.”

Kali ini semua tatapan sebal tertuju ke arah Charlotte. Terpaksa gadis kecil itu tertunduk malu sambil berkata dalam hati, “I-iya bu, saya mengerti. Tesla, Ervan, teman-teman semua, saya minta maaf ya.”

“Oh, ya sudahlah,” sahut Ervan mewakili teman-temannya. Anak-anak itu sudah tak menganggap kata-kata Lotte tadi serius lagi.

Tiba-tiba, sebuah pulpen jatuh dari meja Tesla, tepat di depan kaki Bu Renata. Refleks, sang guru membungkuk dan mengambil pulpen itu. Tapi, tubuhnya lantas kejang-kejang seolah tersengat listrik. Tak ayal wanita itu berteriak kesakitan.

Sesaat kemudian, daya listrik pada pulpen itu habis, begitu pula dengan kesabaran sang guru. Renata membentak, “Kurang ajar kamu, Teslaa!” Satu telapak tangannya melayang untuk menampar murid yang sudah amat keterlaluan, menggunakan barang berbahaya ini.

Tiba-tiba telapak tangan Bu Renata berhenti tepat di depan pipi Tesla. Kendali diri sang guru pulih kembali. Rupanya satu suara lagu dering ponsel terdengar di saat yang tepat, jadi penentu berhasil atau gagalnya kiprah pertama guru di “kelas neraka” ini.

Renata menoleh, melihat Lotte mematikan ponselnya sambil berkata, “M-maaf bu. Saya lupa pasang mode diam. Itu tadi SMS berantai jualan barang.”

Kali ini Renata tak marah, malah tersenyum dan mengangguk pada Lotte. Tentu wajah anak kecil itu berubah bingung, tak mengerti maksud sang guru.

Bu Renata kini berseru, “Ayo! Selesai tak selesai, kumpulkan latihan yang kalian kerjakan tadi!”
Semua siswa kasak-kusuk, mengumpulkan buku latihan.

Ada yang terburu-buru menuliskan jawaban soal sebelum mengoperkannya ke depan kelas. Tak lama kemudian, semua buku latihan para murid termasuk Gito mendarat di meja guru. Ibu Renata lantas menyuruh para murid menyalin rumus-rumus matematika dan contoh-contoh soal di papan tulis di buku catatan masing-masing.

Suara-suara obrolan murid tak mengganggu sang guru yang tenggelam dalam “pemeriksaan”-nya. Bahkan si “enam besar”, Lotte, Ervan, Tesla, Andrea, Gito dan Jimmypun tak kunjung mengganggu lagi.

Selang beberapa menit kemudian, Renata berdiri sambil berkata, “Ervan, tolong bagikan buku latihannya. Kali ini kamu dan Lottelah yang menjawab semua soal dengan benar semua. Bagus! Jawaban semua muridpun rata-rata sebagian besar tepat. Teruslah belajar dengan giat, nilai bagus pasti akan kalian dapat di ulangan nanti! Ibu sungguh bangga pada kalian semua!”

Semua anak bersorak-sorai gembira. Lottepun tersenyum tulus, seakan kepuasan dan rasa dihargai seperti ini sudah lama tak ia dapatkan. Mungkin itulah sebabnya ia cenderung mengerjai setiap guru yang mengajarnya. Ia lupa, pelajaran sekolah bisa jadi menyenangkan lewat prestasi, bukan lewat penderitaan orang lain.

Kini, Ibu Renata mengingatkan itu kembali padanya.

Lotte menyimak dengan seksama sang guru menerangkan pelajaran sedikit lebih jauh, juga memberikan pekerjaan rumah.

Hingga tanpa terasa, bel berbunyi tanda dua jam pelajaran usai.

Charlotte tak terburu-buru menyimpan buku-bukunya dalam tas. Setelah semua anak keluar kelas untuk istirahat makan siang, gadis kecil itu berjalan santai di depan Bu Renata yang juga sedang membereskan buku-bukunya. Sambil terus berjalan ke pintu kelas, Charlotte bernyanyi setengah suara.

Ibu guru kami, cantik sekali
Pandai bercerita, asyik sekali
Kami dibimbingnya, dengan s’penuh hati
Jadi orang berguna, di kemudian hari


Didedikasikan untuk semua guru, di manapun mereka berada.


message 11: by Dini (last edited Feb 07, 2015 07:59AM) (new)

Dini Afiandri (dresco_alcione) | 544 comments Sakura Musim Semi yang Singkat

Setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan, dan kegagalan pertamalah yang paling membekas.

Musim semi, musim di mana cinta bersemi, baru saja dimulai. Orang-orang sedang beramai-ramai hatsumode — kunjungan ke kuil pertama kali di tahun baru— dan hanami— piknik bersama sambil melihat bunga— di awal tahun. Bunga sakura baru tampak kuncupnya, hendak bermekaran. Namun angin yang kencang telah siap menggugurkannya, sehingga dipastikan waktu mekarnya akan pendek.

Setelah setahun berjualan dan menyebarkan kebahagiaan di Hakodate, Hokkaido, kedai Mafuya kini pindah dan buka di prefektur Fukuoka, Kyushu. Fao sang koki utama, bersama Marnis si pelayan, serta Kazuma—satu-satunya asisten koki di kedai, kini tengah menghadapi masalah pelik. Beberapa hari yang lalu, datang seorang pria yang ingin mencoba ramen kebahagiaan. Pria itu mengenakan mantel panjang berwarna beige dan topi pet krem keabu-abuan, yang membuatnya tampak seperti seorang detektif yang melompat keluar begitu saja dari serial televisi. Namanya Takeru Yamazaki.

Awalnya, Fao langsung meracik ramen jumbo super spesial andalannya dan menyuguhkannya ke pria tersebut. Pria itu makan hingga tiga mangkuk, tapi tak kunjung ada reaksi yang menandakan ia menjadi lebih bahagia. Bukan hanya itu, tak ada sedikit pun esens kebahagiaan baru yang keluar dari tubuhnya dan masuk ke lonceng angin di atas pintu. Fao merasa curiga. Baru kali ini ada kasus di mana esens kebahagiaan tidak bisa mempengaruhi pelanggan. Apalagi, pria itu juga menolak menceritakan masalah yang sedang ia hadapi.

“Sensei, ini sudah hari ketiga.” Marnis berbisik pada Fao yang berdiri di balik pantri. Wanita itu menyandarkan tubuhnya ke konter, membuat lekuk pinggulnya yang seksi terlihat jelas. “Apa tak ada cara lain agar esensnya bekerja? Menambah dosisnya, mungkin?”

Fao menggerutu. “Itu sudah dosis maksimal,” gumamnya. “Kalau ditambah, akan beresiko membahayakan nyawanya.” Mereka berdua menatap Takeru di meja seberang, yang kini tengah melahap isi mangkuk keempat.

“Mungkin aku harus mencoba resep baru,” gumam Fao.

“Coba saja. Sensei pasti bisa! Ada yang bisa kubantu?” Kazuma yang sedang mengelap piring yang baru dicuci mendadak menyahut.

“Siapa yang perlu bantuanmu? Kau payah.” Fao mengomel.

“Sayang sekali, kalau begitu.” Kazuma meletakkan mangkuk yang sudah kering di rak dan meraih sebuah gelas keramik yang masih basah. “Padahal, aku yakin Takeru-san sedang patah hati.”

Marnis mengangkat sebelah alisnya, tanda tertarik. “Apa yang membuatmu menyimpulkan itu, Kazu?”

Muka Kazuma sedikit memerah mendengar Marnis memanggilnya dengan singkatan itu. Kazuma mengusap rambutnya yang diikat cepol ke belakang dengan agak kikuk.

“Aku hanya memperhatikan tingkah lakunya belakangan ini sejak dia datang ke kedai. Takeru-san memakai kemeja yang kerahnya sudah menguning, dan dasi warna biru di balik mantelnya, jadi mungkin dia karyawan kantoran. Dia selalu meletakkan buku agenda warna hitam di atas meja, lalu selama menunggu makanan pesanannya datang, dia selalu termenung memandangi lambang sulaman sakura pink di sapu tangannya.” Kazuma menjelaskan panjang lebar. “Menurutku, tidak wajar seorang pria punya sapu tangan sefeminin itu, jadi pasti itu milik seorang gadis. Gadis itu yang membuatnya patah hati.”

Marnis tampak terkesan. “Hei, pengamatanmu boleh juga rupanya.”

“Ah, bukan apa-apa.”

“Itu memberiku sebuah ide.”

Marnis mendekati Kazuma, lalu membisikkan sesuatu ke telinganya. Kazuma mengangguk-angguk kecil tanda paham. Di balik pantri, Fao melirik sebal ke arah kedua karyawannya, lalu melanjutkan kerjanya meracik ramen dengan charsiu daging babi hitam Kagoshima untuk disajikan pada Takeru nanti. Ketika ramen itu jadi, Fao menyerahkannya pada Marnis.

Seperti biasa, bahan pelengkap ramen, telur mata sapi, ditangani Kazuma. Pemuda itu membuat api secara spontan dengan kekuatan pyrokinetik miliknya. Ia memecahkan sebutir telur ke atas telapak tangannya yang menyala. Setelah dibalik dan matang, Kazuma meletakkan telur itu ke atas permukaan ramen. Fao melongo ketika melihat telur itu berbentuk hati. Belum sempat dia berkata apa-apa, Marnis mengutak-atik mangkuk itu dan membuat sebentuk tulisan dengan wijen dan daun bawang.

“Hei, itu kan...” Fao hendak protes, tapi Marnis langsung menyela dan memberi isyarat agar Fao menurut saja.

Marnis membawa mangkuk itu tanpa pinggan dan menyajikannya kepada Takeru. Mata pria itu membulat melihat penampilan ramen yang kelewat manis itu. Di samping telur mata sapi bentuk hati, ada tulisan kanji: Ganbatte ne!— bersemangatlah.

Tamu mereka tersenyum kecil dan menghela napas panjang ketika memandang ramen itu. “Saya menyerah. Memang ramen ini belum berhasil membuat saya bahagia, tapi saya kagum dengan usaha kalian,” ujarnya.

Kemudian, dengan lancar Takeru akhirnya menceritakan masalahnya. Ternyata ia memang seorang karyawan kantoran, dan ia memang sedang patah hati. Setiap pergi bekerja, ia selalu satu kereta dengan seorang gadis. Gadis itu selalu duduk sendirian, merajut syal atau membaca. Singkat cerita, gadis itu memikat hatinya. Suatu hari, akhirnya ia memberanikan diri menyapa gadis itu, mengajaknya minum teh bersama.

“Namanya Sayaka. Dia bilang dia tak suka teh ataupun kopi, jadi akhirnya kami berdua mampir ke kedai ramen di pinggir stasiun. Aku sangat gugup ketika kami mengobrol, sampai-sampai gelas es kopiku tersenggol dan tumpah. Sayaka hanya tertawa, lalu menyeka bajuku dengan saputangan miliknya. Saputangan sakura ini.” Takeru menunjuk saputangan merah jambu yang ada di atas meja.

“Aku berjanji akan mencuci dan mengembalikan saputangan itu besoknya, di kereta. Saat itu karena malu, aku sama sekali tak menanyakan nomor telepon ataupun alamatnya. Ternyata setelah pertemuan pertama kami, Sayaka menghilang. Aku tak pernah sempat mengembalikan saputangannya karena dia tidak pernah lagi naik kereta yang sama. Aku ingin bertemu dengannya sekali lagi.” Pria itu menghela napas panjang dengan lesu. “Sangat ingin.”

Marnis dan Fao saling bertukar pandang. “Kalau memang itu sumber masalahnya, apa yang membuatmu datang ke sini?” tanya Fao akhirnya.

“Aku bukan cuma ingin bertemu dengan Sayaka, aku juga tak bisa melupakan rasa ramen yang kumakan saat itu,” jawab Takeru. “Kalaupun tak bisa bertemu, setidaknya aku ingin merasakan kenangan yang sama untuk sekali lagi saja.”

Takeru tak dapat mengingat di stasiun mana mereka turun, dan apa nama ramen yang ia makan. Namun intinya, ia meminta tolong agar Fao membuatkan ramen yang sama. Fao menerima tantangan itu. Takeru pun pergi dengan meninggalkan tip seribu Yen di meja untuk Marnis.


* * * * *


message 12: by Dini (new)

Dini Afiandri (dresco_alcione) | 544 comments Keesokan paginya, Marnis baru akan mulai menyiapkan kedai. Ia teringat kalau kemarin ia meninggalkan tip dari Takeru di dekat kasir, dijepit di bawah boneka kucing pemanggil tamu. Uang itu masih ada di sana. Baru saja Marnis hendak mengambilnya, tiba-tiba di depan matanya, uang itu mendadak mulai menjadi transparan, lalu hilang begitu saja. Marnis terkejut. Kejadian itu membuatnya semakin curiga pada Takeru. Instingnya mengatakan, ada suatu hal yang berbeda dari lelaki itu.

Karena terlalu penasaran, Marnis akhirnya minta izin pada Fao untuk cuti beberapa hari dari kedai. Ia ingin menyelidiki perihal Takeru. Fao awalnya tampak keberatan, ia berkata kalau ia membutuhkan bantuan di kedai, dan tidak baik bagi seorang wanita untuk pergi sendirian. Bagi Marnis, alasan itu sangat konyol.

“Kazuma bisa saja menemaniku, ” celetuk Marnis tiba-tiba.

Fao tampak lebih tidak suka lagi. Ia membalikkan badan membelakangi mereka berdua, berpura-pura mengaduk kuah di atas kompor.

“Ya sudah, pergi saja sana! Mumpung hari kerja dan kedai sepi. Malah bagus kalau kalian pergi, tak ada yang mengganggu konsentrasiku membuat ramen baru,” sahutnya ketus.

“Ya sudah kalau begitu,” Marnis memberengut. “Ayo Kazuma, kita kencan berdua ke kota sebelah.”

“Eh? Ta-tapi nona Marnis...”

Marnis menarik tangan Kazuma dan menyeretnya keluar dari kedai. Fao memandang kepergian keduanya dengan berat hati.


* * * * *


Setelah membawa barang sekedarnya, Marnis dan Kazuma kemudian membeli karcis kereta di stasiun terdekat. Setelah melewati tiga stasiun, mereka turun dan melanjutkan dengan menaiki sepeda sewaan. Kazuma yang mengayuh, Marnis membonceng. Mereka melewati jalan-jalan yang sepi dan kadang menanjak.

“Jadi, mulai dari mana? Ada petunjuk apa pada uang itu?” tanya Kazuma.

“Hmm, saat kuterima, uang itu beraroma air dan lumut.” Marnis meletakkan jari telunjuk di sudut bibirnya, berpikir. “Kita bisa mulai dengan menanyai orang-orang di sepanjang aliran sungai Yanagawa.”

“Oke!” ujar Kazuma. Ia mengayuh sepeda dengan bersemangat. Mereka pun memulai penyelidikan.


* * * * * *


Penyelidikan itu ternyata membutuhkan waktu yang lebih lama dari yang mereka sangka. Mereka akhirnya menyewa dua kamar di losmen murah, lalu melanjutkan penyelidikan esok harinya. Mereka baru mendapat hasil dan kesimpulan pada hari ketiga.

Di hari keempat, mereka kembali ke kedai Mafuya. Malam sudah amat larut ketika mereka tiba. Marnis heran mendapati tulisan “Tutup” di pintu kedai. Dari penjaga kios rokok di depan kedai mereka, Marnis baru tahu kalau hari itu kedai Mafuya tidak buka sama sekali. Ia dan Kazuma lalu masuk ke dalam dengan kunci cadangan milik Marnis.

Wanita itu lebih terkejut ketika mendapati seisi dapur dan kedai amat berantakan. Meja penuh dengan mangkuk-mangkuk berisi berbagai jenis ramen. Ada ramen Tsubamesanjo— ramen dengan topping irisan bawang bombay, ramen Takayama, yaitu ramen dengan kuah katsuobushi rasa kecap asin, ramen Kobe— ramen dengan banyak sekali charsiu di atasnya plus Nira Kimchi sebagai pelengkap, ramen Onomichi yang kuahnya bening dengan kaldu ayam dicampur hidangan laut, bahkan ramen Kagoshima yang kuahnya amat rumit—campuran kaldu ayam, tonkotsu (kaldu tulang punggung babi) serta banyak sayuran plus ditambah gorengan irisan daun bawang, dan masih banyak lagi ramen yang lain.

Fao sedang terduduk lemas di lantai, bersandar ke lemari pendingin. Wajahnya pucat. Tangannya memegang sendok kayu pengaduk. Ia tampak seperti orang linglung.

“Sensei!” Marnis berlari dan langsung memeluk Fao. “Apa yang terjadi?”

Fao bercerita dengan lemah. “Pria itu— dia kemarin datang lagi dan makan ramen baru yang kubuat...” Suaranya terbata-bata.

“Tapi apapun jenis ramen yang kuhasilkan, satu pun tak ada yang memuaskannya. Aku sudah mencoba semua cara. Berbagai kombinasi, berbagai jenis kaldu...” Setitik air mata jatuh di pipi Fao. “...tapi semua gagal. Aku sudah tamat.” Desah napas yang amat berat keluar dari bibirnya.

“Aku gagal sebagai koki maupun ahli alkimia.”

“Belum, Sensei. Belum berakhir! Aku dan Kazuma berhasil menemukan petunjuk ramen apa yang dimakan Takeru-san.” Marnis berkata penuh semangat. Gadis itu berusaha menyemangati tuannya yang sedang patah arang.

Kazuma masih berdiri di dekat pintu, memandang bosnya dengan prihatin. Tampaknya ia sendiri juga syok karena Fao yang biasanya begitu tegar, kini tampak amat terpuruk.

Marnis menjelaskan hasil penyelidikan yang ia dapatkan bersama Kazuma. Sebenarnya, Fao putus asa bukan karena lelah memasak sekian banyak ramen tanpa hasil, melainkan karena sumber semangatnya terlalu lama tidak berada di sisinya.

Malam itu, sang koki kembali berdiri di dapur. Memasak ramen untuk menjawab tantangan tamunya besok. Kedua orang di samping dialah yang memberinya kekuatan untuk bangkit kembali, walau apapun yang terjadi.


* * * * * * *


Keesokan harinya, tepat seminggu sejak Takeru datang ke kedai Mafuya. Fao menyambut kedatangan pria itu dengan lebih serius dari biasanya. Sebelum Takeru sempat berkata apa-apa, Fao meletakkan semangkuk ramen di depan pria itu. Ramen Miyazaki, sejenis ramen yang jarang dikenal di Kyushu. Kuahnya rasa tonkotsu dengan bumbu garam, kecap asin, dan bawang putih. Dimakan bersama asinan lobak.

Takeru menghirup ramennya, dan tertegun.

“Sama,” ucapnya pelan. “Persis sama.”

Fao memandang pelanggannya, wajahnya sangat serius.

“Takeru-san,” Fao memulai. “Ada sesuatu yang harus saya bicarakan.”

Kalimat demi kalimat keluar dari mulut Fao, dan sedikit demi sedikit wajah Takeru berubah. Di akhir penjelasan Fao, Takeru mendadak bangkit berdiri dari kursinya, dan langsung menghambur keluar dari kedai seperti dikejar setan.

Takeru berlari, terus berlari. Kata-kata Fao tak ubahnya lagu dari kaset rusak yang terngiang-ngiang di telinganya.

“Kemarin, dengan petunjuk dari uang yang anda berikan, karyawan saya menyelidiki dan bertanya pada orang-orang di sepanjang sungai Yanagawa. Ada yang memberi informasi bahwa 3 bulan yang lalu, di musim dingin, seorang karyawan ditemukan tewas dibunuh dan mayatnya dibuang ke sungai, di bawah jembatan. Nama pria itu, Takeru Yamazaki. Itu anda.”

Takeru masih terus berlari. Sudah hampir sekilo jauhnya dari kedai itu. Napasnya mulai terengah-engah.

“Anda sudah meninggal, Takeru-san. Karena itulah ramen kami tidak berpengaruh pada anda. Nyatanya, justru esens kebahagiaan yang ada dalam ramen kami yang membuat anda bisa bertahan hingga hari ini.”

Sebuah batu membuatnya tersandung. Takeru jatuh terjerembab ke depan, bertumpu pada lututnya. Tapi dengan cepat, ia berdiri dan melanjutkan larinya. Ia berlari makin kencang. Seiring derap langkahnya, warna tubuhnya mulai menipis, wujudnya mulai memudar dari ujung kaki.

“Kami semua bersedia membantu. Kalau anda bergegas, gadis yang anda cintai sekarang sedang menunggu anda...”

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, Takeru tiba di dekat pintu air bendungan di pinggir aliran sungai. Di sana, di antara pohon-pohon sakura sepanjang tepian sungai yang rumputnya membentuk karpet berwarna merah muda karena tertutup kelopak bunga, berdiri Sayaka. Tak jauh darinya, ada Kazuma. Kazuma lalu menjauh, memberi kesempatan pada mereka untuk berdua saja.

Takeru terus berlari meski ia bisa merasakan ada kekuatan yang menahannya. Sayaka juga berlari ke arahnya. Ketika jarak di antara mereka telah menutup, Takeru jatuh berlutut ke depan. Tangan Sayaka terulur menyentuh bahu sang pria yang kini sudah semakin transparan. Takeru sadar, waktu yang dimilikinya singkat.

“Kau telah memberi cahaya... kepadaku yang hari-harinya suram oleh berjuta kesibukan di tempat kerja,” bisik Takeru. “Meski mungkin sudah terlambat, aku ingin menepati janjiku untuk mengembalikan ini padamu, Sayaka.”

Takeru mengeluarkan saputangan sakura itu dari dalam sakunya. Gadis di hadapannya kini berurai air mata.

“Takeru, kau tak datang di hari kita semestinya bertemu. Aku terus menunggumu hari itu. Besoknya pun aku datang lagi, juga mencarimu di atas kereta. Lalu aku mendengar berita tentangmu, dan aku sedih...” Sayaka terisak. “Aku menyukaimu, Takeru. Aku akan selalu berdoa untukmu.”

Takeru tersenyum. Tersenyum segenap yang ia bisa karena wajahnya pun mulai memudar.

“Aku juga menyukaimu, Sayaka.”

Bahu yang digenggam Sayaka berangsur menghilang, dan akhirnya gadis itu menggenggam udara kosong. Wujud Takeru menghilang sepenuhnya, pecah menjadi kumpulan gelembung warna pelangi, yang kemudian tersebar dan melayang pergi ke arah kedai Mafuya. Saputangan bersulam sakura merah jambu jatuh, tertinggal di atas rumput. Gadis itu memungutnya.

“Selamat tinggal, Takeru-kun.”


* * * * * * * * *


Setelah semua berlalu, Kazuma kembali ke kedai dan menceritakan semuanya pada Fao dan Marnis. Mereka semua bersyukur kedua kekasih itu akhirnya bertemu, dan Takeru bisa pergi ke alamnya dengan tenang. Semula Kazuma hendak mengajak Sayaka ke kedai untuk menghiburnya dengan ramen kebahagiaan, tapi gadis itu menolak dan memilih untuk pulang.

“Hufff.... Sungguh seminggu yang panjang dan melelahkan.” Kazuma menguap dan meregangkan tubuhnya.

“Huh! Rasa lelahmu tak ada apa-apanya dibandingkan denganku,” gerutu Fao.

“Aku lapar, Sensei. Ada makanan apa untuk makan siang?” tanya Kazuma.

Marnis tertawa. “Bersiaplah, kita akan makan berbagai jenis ramen terus-terusan selama seminggu. Aku menyimpan semua ramen yang dimasak Sensei kemarin di kulkas.”

Muka Kazuma seperti habis ditonjok. “Hah? Ramen terus tiga kali sehari selama seminggu? Aduh, Sensei...”

Keluhan Kazuma itu diganjar teguran keras dari Fao dan tawa renyah dari Marnis.

Pengalaman mereka kali ini, menyelesaikan kisah asmara pelanggan yang ternyata arwah penasaran, berlalu dengan cepat seakan tak sabar menanti kisah selanjutnya. Meninggalkan kesan yang berbeda di hati mereka masing-masing. Musim semi itu tampak terlalu singkat bagi mereka, sesingkat kelopak sakura yang hanya mekar sesaat lalu gugur tertiup angin.

Hidup masih terus bergulir.


message 13: by F.J. (new)

F.J. Ismarianto (rean) | 198 comments AKU MENGUBAH KEKASIHKU MENJADI KESET

"Pacarmu pulang kampung, dude?" tanya sahabatku sambil ngupil. Ketika kalian bertemu dengannya, aku bisa jamin kalian akan terheran-heran dengan ukuran lubang hidungnya yang selebar gua. Dia memang biasa ngupil pakai dua jari. Telunjuk dan jari tengah. Waktu aku tanya dulu, kenapa tidak pakai satu jari, jawabnya, "Siji, mana cukup?"

Mendengar pertanyaannya yang gemuk akan rasa penasaran, aku menyemburkan onde-onde isi kacang tanah yang setengah kukunyah. Untung tidak ada orang lewat di depanku, jadi aman dari kena sembur balik atau gampar.

Aku tahu hari ini akan tiba. Hari di mana akan ada seseorang yang menyadari pacarku hilang. Yang sebenarnya bukan hal yang sulit ditebak secara beberapa hari ini dia tidak masuk kuliah dan beberapa kali malam minggu aku lewatkan sendirian di dunia maya. Dengan status dan cuitan yang berharap hujan datang mengguyur jalanan.

"Tidak," jawabku sambil bertanya-tanya dalam hati, Apa khasiat jamu galian rapet yang aku minum dalam rangka mengunci rahasiaku rapat-rapat telah pudar khasiatnya?

"Kenapa, dude?" imbuhku, menggunakan kalimat tanya yang aman dan tidak bersifat terlalu defensif.

Dude adalah panggilan khusus kami untuk menyebut satu sama lain. Pernah sahabatku mengusulkan "dede" sebagai nama panggilan khusus kami. Tapi aku tolak. Takutnya kalau kami sedang ngos-ngosan, terus panggilan tersebut ketambahan huruf "H" di belakangnya, ntar dikira kami pendakwah yang nerima curhat.
Kalau curhatnya benar sih tidak masalah, lha kalau curhatnya singkatan curahan hajat? Masa aku perlu menjelaskannya?

"Akhir-akhir ini aku nggak melihat batang hidung dan batangnya yang lain," kata sahabatku.

"Batangnya yang lain? Emang kamu kira dia cew—"

"Maksudku, batang penanya. Dia kan yang paling rajin nulis catatan di kelas. Pikiranmu butuh disapu tuh. Nggak semua batang mengarah ke “itu” kali," sambungnya sambil cengengesan. "Jadi, kemana dia?"

Selama sesaat aku ragu. Antara cerita, yang akan meringankan beban masalah yang aku tanggung, atau tetap merahasiakannya, dan tersiksa oleh kesalahan yang disebabkan oleh ulahku sendiri.

Aku memutuskan untuk cerita.

"Aku mengubahnya menjadi keset," kataku.

Dia melongo. Jelas menganggapku sedang ngebanyol.

Meski terdengar konyol, itulah kenyataannya. Dan hingga kini aku sedikit menyesalkan kejadian naas itu. Meski, yah, sedikit bagian diriku bersyukur bukan aku yang berubah jadi keset.

Kisah naas ini bermula karena tingkah polah pacarku yang, sumpah, bikin aku sakit hati. Padahal saat masa pedekate dulu dan awal-awal kami merajut kisah kasih kami, dia itu maniiis banget. Bahkan sirup Ojan kalah manis kalau disandingkan dengannya. Tapi setelah hubungan kami berjalan empat bulan, dia berubah. Masih mending kalau perubahannya dikarenakan serangan Negara Api.
Setidaknya—kalau dia jadi korban bakar-bakar dan masih hidup—aku masih mau menerima dia apa adanya walau kulitnya gosong kayak pantat panci. Tapi ini, tak ada hujan tak becek tapi banyak ojek, tiba-tiba saja dia jadi makhluk paling menyebalkan di muka dunia!

Apa jangan-jangan setelah empat bulan ini, dia memutuskan memperlihatkan belangnya? Tapi setahuku kulit pacarku itu semulus dan seputih pualam. Aku juga yakin banget dia bukan siluman macan. Dan terakhir aku cek dia bukan anggota grup penyanyi dangdut, Manis Macan Grup.

“Kamu mengubah pacarmu jadi apa, dude?” Akhirnya kedua jarinya keluar dari hidung. Di ujung telunjuknya, err, pokoknya ada sesuatu. Sesuatu itu diciumnya sebentar sebelum dilemparnya ke balik punggung. Semoga tidak ada orang di belakang kami.

“Kamu sudah mendengarnya tadi,” sungutku. “Sebenarnya, bukan secara langsung sih, dude. Secara aku
tidak punya tongkat sihir yang memilihku—aku sadar aku bukan Heli Copter yang sejak lahir sudah punya darah penyihir di tiap nadinya. Ini kerjaan kakek tua yang entah muncul dari mana yang mengabulkan harapanku."

"Mengabulkan harapanmu?" ulangnya, terdengar setengah tertarik.

"Harapan sepintas lalu sebenarnya. Yang muncul gara-gara otak dan hatiku sedang panas."

"Kamu pasti nyesel banget, ya?"

"Ya," kataku pelan.

"Aku sudah menduganya," sahabatku itu manggut-manggut. "Secara apa guna keset coba? Cuman buat keset doang! Coba kamu
minta dia diubah jadi ferrari atau lambhorgini—"

"Ini bukan saatnya bercanda, dude," kataku setengah berteriak. "Ini masalah serius!"

Dan untuk mempersempit ruang ketidakpercayaannya, aku mengeluarkan keset— yang sudah bisa ditebak benda itu adalah pacarku— dari tasku.

"Oke," katanya setelah beberapa saat, dengan mata terpancang pada keset yang kupegang dengan dua tangan. "Aku mengerti sekarang," katanya lagi. Matanya kini terpejam. Kepalanya mengangguk-angguk. Aku punya perasaan dia akan mengatakan hal yang tidak akan suka kudengar.

Dan ternyata benar. "Kamu diputusin ya?" katanya. "Aku tahu itu bukan hal mudah, dude. Tapi masa sampai bikin mentalmu terganggu gini sih?"

"Mental tergang—"

"Penduduk Indonesia masih banyak yang jomblo, dude. Lupakan dia. Lanjutkan hidup. Cari yang lain."

"Aku tidak—"

"Dan manusia. Apa kata dunia kalau tahu dirimu jatuh cinta pada keset?"

"Aku tidak—“

"Aku bisa membayangkan judul beritanya, Seorang Pemuda Jatuh Cinta Pada Sepotong Keset. Serius, dude, kamu mesti cari yang lain. Yang bisa menerimamu apa adanya, seperti—"

"Enak saja," kata sebuah suara yang sudah sangat familiar bagi kami berdua. Aku bersyukur dia ikut angkat bicara saat ini juga. Setidaknya dengan begini anggapan mentalku terganggu terhapuskan. "Jun baru boleh cari cewek baru, kalau mau dia juga boleh cari cowok baru sekalian, setelah mengubahku kembali menjadi manusia!"

Sahabatku menatap terkejut ke arah keset. Meski aku tak melihatnya, aku tahu muncul sebentuk bibir berwarna merah marun di bagian yang menghadap sahabatku.

"Aku rasa..." kata sahabatku akhirnya, setelah terdiam cukup lama. Kali ini aku melihat kepercayaan di bola matanya. "Aku siap mendengar keseluruhan ceritamu, dude. Tapi dia—" dia menunjuk keset yang merupakan kekasihku "—nggak keberatan, kan?"

Aku tidak tahu, itulah yang hendak kukatakan. Tapi pacarku mendahuluiku dengan berkata, "Aku sama sekali nggak keberatan. Ceritakan semuanya, Jun. Termasuk unek-unekmu. Jangan merasa tak enak hanya karena aku ada di sini. Aku rasa... aku pantas menerimanya dan... berhak tahu. Supaya aku bisa menggunakannya untuk... inspeksi diri."

"Inspeksi? Instropeksi kale," sahut sahabatku sambil tergelak.

Kalau dia punya wajah, wajah pacarku pasti sudah cemberut sekarang seraya menyemburkan, "Suka-suka aku mau ngomong apa. Mulut-mulutku sendiri ini, bukan minjem dari kudanil." Tapi yang mengejutkanku, pacarku malah berkata, "Ya, instropeksi diri. Trims."

Bahkan sahabatku pun melongo. Itu bukan seperti pacarku yang selama ini kukenal. Mungkinkah dengan berhari-hari menjadi keset dia telah mendapat pencerahan?

Aku berdeham untuk menguraikan kekagetanku. "Baiklah, bila kamu menginginkan cerita tanpa sensor."

Pacarku terbahak. "Aku sudah dewasa kali, Jun. Kamu nggak usah sok berlagak kayak badan sensor."

Karena tak ada meja rotan, juga tak ada meja yang terbuat dari akar, malah sebenarnya tak ada meja apapun di sekitar kami, kami duduk di salah satu bangku panjang di halaman kampus di dekat tanaman yang aku rasa namanya kembang sepatu. Kuletakkan tasku di antara aku dan sahabatku, dan menyampirkan keset yang merupakan pacarku di atas tas. Kemudian aku berdeham. Bukan buat gaya- gayaan, tapi sepertinya ada kacang tanah yang nyangkut di tenggorokanku.

"Tak akan ada asap, kalau tidak ada api," dan aku pun mulai bercerita. Aku masih ingat dengan jelas peristiwa itu. Aku bahkan masih hapal beberapa kata yang aku dan pacarku ucapkan.

"Tak akan ada api, kalau tak ada korek api," sahut sahabatku.

"Dan tak akan ada korek api kalau John Walker tak pernah menemukannya!" kataku gemas. "Mau dengar kisahku tidak sih?"

Sahabatku itu cengengesan lagi. Dia memang tak akan pernah bisa benar-benar serius.

"Aku kira kita bisa langsung ke inti masalahnya."

"Ah, itu lebih baik," sambut sahabatku.

"Kamu kan tahu, belakangan ini aku agak muak dengan sikap pacarku yang memperlakukanku bagai jongosnya, seperti yang selama ini kamu bilang."

"Salahmu sendiri. Coba dirimu menuruti saranku untuk memutuskannya sejak—"

Aku memberinya tatapan agar dia menutup mulutnya. Tapi tampaknya dia salah menangkap maksudku. Entah kenapa tiba-tiba pipinya bersemu merah dan... mungkinkah dia sedang tersipu-sipu? Dia tidak...

Aku menggeleng-gelengkan kepala. Membuang jauh-jauh pemikiran yang baru melintas di benakku.

"Suatu hari kami pergi ke mall," aku memulai lagi.

"Ngapain?"

"Ya belanja, dude, masa menumpang mandi?!"

"Benar juga. Secara kan di mall nggak ada sumur juga ladang."

Untung saja aku berhati baik, berbudi luhur, rajin menabung, dan setampan Sicholas Naputra. Kalau tidak, sudah aku jitak kepala sahabatku yang punya penyakit dodol itu dari tadi. Kalau perlu pakai tiang lampu taman yang bertengger sekitar lima langkah dari tempat duduk kami. Selain untuk keberuntungan, siapa tahu pukulan dengan tiang lampu itu bisa menyembuhkan penyakitnya tersebut.

"Kok diam, dude? Katanya mau cerita," kata sahabatku sesaat setelah sadar aku terdiam dua bahasa (karena memang hanya dua bahasa yang kukuasai, bahasa ibu dan bahasa kalbu).

"Percuma," kataku sembari mendesah imut. "Aku ngomong sepatah, dua patah kata langsung kamu sela."

"Oke, oke, aku akan mengunci mulutku," katanya. Dia membuat gerakan seperti menutup risleting sepanjang mulutnya.

"Janji nggak bakal nyela lagi?"

Sahabatku itu mengangguk. Dia mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya membentuk huruf "V", sementara tangan kirinya menggambar silang di depan dada kirinya.

"Suatu hari kami pergi ke mall," ulangku. "Seperti biasa, dia belanja banyak banget. Sudah banyak, minta aku yang bayar, masih juga nyuruh aku yang membawa seluruh belanjaannya."

Sebelah alis sahabatku berkedut. Aku tahu dia hendak mengatakan sesuatu. Aku juga tahu dia hendak mengatakan apa. Setidaknya aku bisa menebaknya.

"Aku tahu itu sudah pekerjaan kita sebagai cowok. Aku tak terlalu keberatan, sampai aku tak sengaja menjatuhkan salah satu tas belanjaannya dan dia mendampratku. Aku tak masalah dia mengatakan aku bego, bodoh, idiot, kurang pintar, tapi kemudian...”

Sahabatku yang telah memfokuskan perhatiannya secara penuh padaku membuat suara “mmm-hmm” yang mirip orang ngeden karena BAB- nya tidak lancar. Tapi aku rasa suara itu bisa diterjemahan sebagai, “Kemudian apa?”

“Kemudian dia menyebutku bukan pacar yang baik. Katanya aku beruntung bisa mendapatkannya sebagai pacar.”

Sebelah alis sahabatku naik, dan salah satu ujung bibirnya tertarik ke belakang. Kalau yang ini aku tahu artinya, “Sudah kubilang, kan?”


message 14: by F.J. (new)

F.J. Ismarianto (rean) | 198 comments “Jelas aku tersinggung. Bukannya aku mau mengungkit-ungkit atau pamer atau apa, tapi selama ini aku baik padanya. Maksudku, aku berusaha menjadi yang terbaik untuknya. Aku selalu tepat waktu. Aku selalu mengantar dan menjemputnya ke kampus tiap hari. Aku ingat kapan kami jadian. Aku memberinya kejutan di kala dia berulangtahun. Aku mengucapkan "I love you" setiap malam sebelum kami beranjak ke peraduan. Tapi apa yang kudapat? Nyaris tidak ada. Bahkan dia hanya membalas kata cintaku dengan, Aku tahu, yang memberi kesan seolah hanya aku yang jatuh cinta di sini. Aku melakukan nyaris segalanya untuknya. Saat dia minta dibelikan rambutan, aku langsung pergi ke kios buah dan membelikannya rambutan. Saat dia minta aku mengantarkan jepit rambut kesayangannya padahal saat itu sudah jam dua dini hari, aku berangkat tanpa ragu, meski aku masih sedikit ngantuk, dan menulikan telingaku dari kata-kata orang rumah agar aku tidak pergi padahal saat itu sedang musim begal motor. Aku selalu menuruti setiap... kemauannya... “ aku menghentikan kalimatku. Mungkin inilah saatnya aku menggunakan “kata-kata itu menampar diriku” tapi aku baru tahu kalimat itu bisa datang dari diri sendiri.

Tidak heran sahabatku sering memanggilku jongos, kacung, babu.

Tidak, kata sebuah suara di dalam diriku, kamu melakukannya secara tak sadar.

Oh, ya?

Iya. Itu bukan salahmu. Itu karena cinta. Cinta membuatmu buta. Cinta buatmu melupakan logika.

Ya, salahkan cinta. Buat terus pembenaran!

Tapi itu memang benar! Kamu telah dibutakan cinta. Kamu tidak mengira kalau cinta tidak punya sisi gelap, kan?

Dan kalau itu benar terus kenapa kamu diam saja? Kenapa tidak menyadarkanku? Kenapa tidak mendekatkan aroma-aroma apa gitu ke hidungku?

Yee, emang situ pingsan?

Ah, kenapa aku jadi berkonflik dengan diri sendiri?

Setelah pacarku mengatakan bahwa aku beruntung pacaran dengannya, harga diriku yang teriris-iris sontak memerintah tanganku untuk membuang semua tas belanjaannya. Bukan di tempat sampah, tentu saja. Secara letaknya jauh. Cukup di lantai, di sekitar kakiku.

Sudah bisa diduga, dia makin marah. Dia memunguti tas belanjanya satu-persatu dengan kemarahan yang menggelegak.

“Aku nggak nyangka dirimu bisa berbuat begini,” kata pacarku setelah berhasil mengumpulkan seperempat tas belanjaannya.

“Aku hanya manusia biasa—“

“Memang aku pernah bilang kamu monyet?” selanya sebelum aku menyelesaikan kalimatku.

“Aku hanya manusia biasa,” ulangku dengan gigi bergemeretak. “Yang
bisa capek dan lelah menghadapi semua tingkah lakumu!”

Dia terdiam. Aku mengira kalimatku meresap ke sel-sel otak dan hatinya dan membuatnya tersadar akan sikapnya, aku sempat nyaris bersorak gembira, tapi kebergemingannya itu kemudian diikuti mata terbelalak. Bukan ketakutan yang membuat matanya sebesar telur naga, tapi rasa tidak percaya dan, aku tidak bisa menemukan istilah lainnya yang lebih halus, keserakahan. Aku melihat ke balik bahuku. Dan benar saja, ada tulisan "SALE UP TO 90%!"

Tas-tas yang sempat dipungutnya berjatuhan. "Ayo kita kesana."

"Tidak," jawabku pendek.

Jawabanku mengejutkannya. "Apa tadi yang kamu bilang?"

"Tidak."

"Tapi ini diskon sembilan puluh persen!"

"Lalu?" tanyaku datar.

"Jarang-jarang ada diskon sebesar itu."

"Aku tidak peduli.”

Aku meresponsnya dengan jawaban dan ekspresi yang sama. Dia mengubah taktik. Ucapan sayang, my honey, my baby, sweetheart berhamburan.

"Stooop!" teriakku. Dan dia berhenti bicara. Orang-orang di sekitar kami memperhatikan kami. Kebanyakan ingin tahu. Tak sedikit yang memandang pacarku dengan tatapan iba, dan tatapan marah di arahkan padaku. Aku tidak peduli apa yang kalian pikirkan! Oke, aku bohong, sebenarnya aku sangat peduli, makanya aku menurunkan nada suaraku satu oktaf di kalimatku berikutnya, "Apa kamu mendengar kalimat yang tadi aku ucapkan?"

"Kalimat apa? Orang daritadi kamu diam saja. Harusnya aku yang tanya, apa kamu mendengar kata-kataku? Sayang?" imbuhnya dengan bonus senyum menawannya yang terkenal maut itu. Saking mautnya, bikin nyamuk yang bersembunyi di tempat-tempat yang tak terjangkau obat nyamuk pun mati.

Kali ini aku tidak menjawabnya. Rasa lelah dan capek menghinggapiku. Mulut kekasihku mulai berbusa lagi, tapi telingaku tak bisa—atau tak mau—menangkap suaranya. Sudut mataku menangkap adanya bangku kosong yang bisa kugunakan untuk duduk, mengistirahatkan fisik, pikiran, dan hatiku.

Pacarku memanggil-manggil, memintaku kembali, mencemaskan tas-tas belanjaannya yang berhamburan di lantai. Nada lembut yang tadi dilontarkan untuk merayu berangsur-angsur menghilang, ditindas lagi oleh nada yang tak salah lagi dibanjiri amarah.

“Saat duduk itulah lelaki tua itu muncul entah darimana,” kataku pada sahabatku. “Berani sumpah, saat aku melihat bangku itu pertama kali dan saat aku berjalan ke sana, lelaki itu belum ada. Tapi bisa jadi mungkin karena saat itu aku capek dan marah sehinngga aku tak terlalu fokus pada sekitar. Selama beberapa detik kami hanya diam. Tak ada yang tergerak untuk memulai obrolan atau basi-basi. Hingga dia berkata, 'Seandainya hari ini hari di mana semua harapanmu dikabulkan, apa yang akan kamu minta?'”

Kedua alis sahabatku terangkat. Dan saat itulah kamu mengatakan harapanmu?

“Saat itulah aku mengatakan harapanku,” tegasku. ”Kataku pada lelaki tua itu, 'Aku ingin dia merasakan apa yang aku rasakan.'”

Aku masih ingat bagaimana proses perubahan pacarku itu. Setelah lelaki tua itu bilang, "Oke-lah kalau begitu,” tubuh pacarku bersinar terang. Seolah- olah ada jutaan lampu neon nemplok di tubuhnya. Namun anehnya, tak ada satu orang pun yang menyadarinya perubahan itu selain aku. Entah karena mereka tidak peduli, atau mata mereka perlu dipasangi kacamata kuda, atau entah secara ajaib mereka memang tidak bisa melihatnya. Padahal kami berada di pusat keramaiaan!

Pacarku sontak menjatuhkan tas-tasnya dan mulai menjerit sejadi-jadinya.

Dia memanggil-manggil namaku. Tidak berulang-ulang. Hanya sekali tapi panjang sekali. Seolah-olah dia sedang berada dalam slow motion mode.

“Juuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuun!”

Kedua tangannya mengusap-usap seluruh badannya. Seolah-olah dengan melakukannya dia bisa mengusir sinar itu pergi meninggalkan tubuhnya. Tapi gerakannya seperti irama musik keroncong. Pelan, kayak orang sedang menggunakan sabun.

Aku meminta tubuhku untuk bergerak, tapi ada suara lain yang menyuruhku untuk tetap diam di tempat dan hanya menatapnya dengan mulut terbuka lebar.

Untuk apa, kata suara lain itu, dia mungkin memang pantas mendapatkannya.

Tapi dia kekasihku. Aku harus menolongnya.

Aku memutar kepalaku, memandang wajah lelaki tua itu yang entah bagaimana tak tampak jelas. Seperti ketika kita melihat seseorang melalui kaca yang buram. Alih-alih menanyakan apakah dia penyebab pacarku histeris, entah kenapa aku malah meluncurkan kalimat, “Kenapa orang-orang tidak bisa melihat—?“

“Tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh tahu,” kata lelaki tua itu sambil tersenyum dan menunjuk ke arah pacarku.

Aku tak ingin memalingkan muka. Tapi ada kekuatan tak kasat mata yang memaksaku untuk melihat proses terakhir sebelum pacarku berubah jadi keset. Tubuh pacarku mendadak kaku. Dia berdiri, dengan tangan melekat pada sisi tubuhnya. Lalu, perlahan-lahan tubuhnya menyusut. Menjadi seukuran remaja. Menjadi seukuran anak baru gede. Menjadi ukuran balita. Setelah itu dia resmi berubah menjadi keset. Keset dari sabut kelapa dengan tulisan WELCOME.

“Selamat menikmati harapanmu,” kata si lelaki tua.

Detik berikutnya aku menoleh ke arahnya, dia sudah menghilang.

Sahabatku yang sudah tak sabar mengomentari “pengalaman ajaibku” membuat gerakan yang menanyakan apakah dia sudah boleh membuka mulutnya.

Aku mengangguk sebagai jawaban.

“Aku hanya penasaran,” itu adalah kalimat pertamanya yang muncul setelah segel imajiner buatannya sendiri dibuka. “Apakah kamu menggunakannya”—dia menatap keset yang merupakan jelmaan pacarku— “sebagai keset di rumah?”

Aku merasakan dilema lagi. Lalu aku memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya, “Ya.”

“Apa?” Mata sahabatku membesar. ”Aku memang tak terlalu suka padanya, dan aku berharap kamu putus darinya, tapi kamu kok tega banget sih, dude.”

“Itu justru aku lakukan karena aku sayang padanya.”

“Dengan menginjak-injaknya?”

“Itu caraku memberinya makan dan minum.”

Mulut sahabatku membentuk huruf “O.” Mungkin sekarang dia paham kenapa hanya mulut pacarku saja yang masih ada dalam bentuknya yang baru.

"Meski kini dia keset, dia masih seorang manusia."

"Dan bagaimana dirimu memberinya makan?"

"Dengan melumuri kakiku dengan makanan, atau bila dia ingin minum, dengan air, seperti kita sedang keset biasa ketika ada makanan yang nyangkut di kaki atau saat sedang kaki kita basah."

“Apa nggak bisa hanya menuangkan....”

“Tidak. Aku sudah pernah coba menuangkan air, tapi air itu hanya melewatinya saja.”

"Rasanya enak kok," kata si keset-pacarku, kembali ikut nimbrung. "Airnya juga terasa segar."

"Apa makanannya nggak terasa kotor? Kakinya Jun kan—"

"Hei!" protesku.

"Nggak," jawab si keset-pacarku. "Atau kalaupun kotor aku tidak merasakannya."

Sahabatku terdiam lagi sejenak. “Apa kamu masih...” tanya sahabatku padaku. Dia sengaja memutus kalimatnya.

“Mencintainya? Tentu saja. Meski dia—”

“Bukan, bukan. Aku tahu kamu masih mencintainya, dude. Kamu membawa dia kemana-mana. Maksudku, dia kan berubah jadi keset, apa kamu... maksudku kalian... “ Dia mengerucutkan semua jari tangannya. Kemudian dia mendekatkan ujung jemari tangan kanan yang berkumpul dengan ujung jemari tangan kiri.

Aku tahu maksudnya dengan jelas.

“Secara...” sahabatku masih terdengar ragu. “Secara dia kan kotor.”

Aku tertawa kecil. “Tidak apa-apa kok. Lagian itu kan kotoranku sendiri.”

Sahabatku manggut-manggut. “Apa usahamu untuk mengubahnya kembali ke bentuk semula?”

“Sejujurnya aku sudah kehabisan akal. Sudah banyak orang pintar yang kudatangi, tak ada satu pun yang berhasil mengembalikannya. Mungkin kamu punya akal?"

“Sudah coba bertanya pada rumput yang bergoyang?”

Ngomong-ngomong soal rumput yang bergoyang, kadang aku bertanya-tanya, kenapa ketika seseorang tak bisa atau malas menjawab pertanyaan yang sulit mereka menyarankan untuk kita bertanya pada mereka? Memang rumput punya mulut yang digunakan bicara? Atau mungkin goyangan mautnya sanggup menciptakan bunyi- bunyian hingga membentuk suara dan bahasa manusia dalam batas tertentu? Tapi kan kalau tak ada angin tak akan ada rumput yang bergoyang. Kecuali ada yang sengaja menggoyangkannya!

“Dirimu nggak coba mencari lelaki tua itu?”

“Apa wajahku seperti orang yang belum melakukannya?” tanyaku dengan suara sedikit meninggi.

“Jujur, wajahmu saat ini sebelas dua belas sama simpanse, dude.” Dan dia pun terkekeh. “Berarti tinggal satu cara.”

“Apa? Jangan-jangan tanya pada angin yang berhembus, ya?”

Sahabatku memasang muka yang serius lagi. “Bukan, dude. Masa sih nggak bisa menebaknya. Padahal hal ini dilakukan oleh kebanyakan manusia saat dirundung masalah.”

Ah.

Aku sangat mengerti maksudnya. Berdoa.

Aku meringis. Dari ekspresiku yang kayak orang nahan curhat, kelihatan jelas aku belum melakukannya. Berdoa, maksudku. Bukan mencurahkan hajat.

"Tapi apa dengan berdoa bisa menjamin dia—" aku menunjuk keset yang merupakan kekasihku "—kembali ke bentuk semula?"

"Aku nggak tahu, dude," jawab sahabatku setelah tawanya benar-benar reda dan, untuk pertama kalinya selama pembicaraan ini muka seriusnya adalah muka serius yang bukan buatan. "Aku nggak tahu," ulangnya. "Tapi bukannya lebih baik mencobanya dulu sebelum menanyakan hasilnya?"

Dan untuk pertama kalinya juga selama pembicaraan ini, dia mengucapkan kalimat yang sangat waras. Mulutku terbuka lebar saking terkesimanya. Mungkin sebenarnya sahabatku ini jauh lebih... Wow—aku tak bisa menemukan istilah yang pas—dari yang diperlihatkannya.

Pacarku bahkan berkata, "Dia nggak sedang kesambet, kan, Jun?"


message 15: by Tomi Sularso (last edited Feb 13, 2015 09:26AM) (new)

Tomi Sularso | 45 comments Ambisi

Malam sudah larut dan Darien belum bisa tidur. Bukan insomnia. Melamun saja. Masih terbayang di kepalanya: hawa dingin yang dibawa gerimis siang hari tadi. Waktu yang seakan berhenti. Dia duduk sendiri, di sudut belakang ruangan, di samping jendela yang basah oleh tempias hujan, sementara di barisan bangku depan orang-orang berkerumun dengan gaduh dan melontarkan pujian demi pujian—yang kini tidak lagi ditujukan padanya.

Semuanya berubah sejak Friedrich datang.

Darien ingat. Dia ingat oleh tawa para mantan pengagumnya. Oleh Friedrich yang menunduk tersipu dan sesekali mengangguk seraya ikut tertawa. “Biasa saja,” Friedrich selalu berkata demikian. “Lukisan kak Darien jauh lebih bagus.”

Darien tidak menjawab. Dia memalingkan wajah dan memandangi bercak-bercak embun di jendela yang mengalir, jatuh, lalu tumpah ke tanah basah. Pura-pura tuli. Tapi itu lebih baik daripada pura-pura mengakui. Dia jengah berbohong, dan tak bisa lagi memasang senyum palsu demi menghalau perasaan kalah dan iri dalam hatinya sendiri—perasaan yang sama saat dia melihat lukisan Friedrich kala pertama kali.

Darien tahu, bahwa dia sudah kalah dari awal.

Pikiran Darien kembali menuju kamarnya yang muram dan berantakan. Di sela-sela jarinya terselip sebatang sigaret yang sudah kelewat pendek. Dia buka bungkus rokok. Habis. Dia melirik arloji: sekarang pukul sebelas. Hm. Kalau tidak salah, ada kios yang masih buka satu blok dari sini.

Darien meraih jaketnya. Berjalan menginjak gumpalan serta sobekan kertas-kertas lecek berserak. Cahaya purnama terpendar menembus kaca jendela, membuat kertas-kertas itu sekilas tampak seperti salju. Namun bagi Darien kertas-kertas itu hanyalah bukti kegagalan—yang dia remas dan robek dengan perasaan getir.

Darien membuka pintu dan dia tidak menemukan lorong tangga yang seharusnya, semestinya, dan sudah sewajarnya ada di sana. Gelap gulita saja. Dia menutup pintu dan mengusap mata dan kemudian membuka kembali pintu itu. Masih sama.

Sejenak Darien mengira kalau dia tengah bermimpi. Atau barangkali otaknya telah membusuk akibat kurang tidur dan lelah berlebihan hingga melahirkan halusinasi. Tapi sebelum dia sempat menampar pipinya sendiri, dia mendengar sebuah suara yang memanggil namanya;

“Tuan Darien Adler. Betul?”

Darien tak segera membalas. Dia mundur satu langkah. Mata memicing dan postur berubah waspada. Hening beberapa saat.

“Ya,” jawab Darien sembari mencengkeram gagang pintu kamarnya. “Siapa kau?”

“Kita sudah bertemu sebelumnya, Tuan. Sore ini. Tentu Anda masih menyimpan kartu nama saya.”

Darien merogoh saku celana—sebuah kartu nama dekil dia temukan tersumpal di dalam. Ronove Balthazar. Salesman.

“Ah, mohon maaf. Permisi sebentar.”

Perlahan terang datang menghapus remang dan menguak segala misteri yang bersembunyi di balik pekatnya hitam. Alih-alih tercerahkan, Darien justru semakin tercengang dengan pemandangan yang dia lihat sekarang.

Darien melihat sebuah ruangan. Bukan. Sebuah toko. Dengan etalase kayu panjang membagi setengah ruangan dan menarik garis pembatas antara pembeli dan penjual. Antara Darien dan pria botak berhidung tajam yang tersenyum menyambut tamunya.

“Mari,” Ronove membungkuk.

Sungguh banyak barang-barang di sini. Ada buku-buku tua yang menumpuk serupa menara. Ada juga peralatan makan, seperti sendok dan garpu dan piring entah dari logam apa, dipajang dalam kabinet bersama stoples-stoples tanpa label yang penuh diisi cairan kental dengan warna-warna cerah. Dan pada dinding toko itu digantung lukisan-lukisan serta kulit bulu hewan yang menguarkan bau apak menyengat.

Darien terkesima—semua ini benar-benar mengejutkan baginya. Sementara Ronove, seperti sudah biasa menghadapi reaksi semacam itu dari tamu-tamunya, segera mengambil langkah pertama.

“Rokok?”

Darien mengambil sebatang dan membakarnya cepat-cepat. Tangannya bergetar. Namun dia merasa lebih tenang sekarang. Mungkin pengaruh nikotin.

“Anda terkejut,” Ronove terkekeh.

“Di mana... di mana ini?”

“Toko saya, tentu saja. Meski wajar bila Anda heran. Di zaman modern ini, tidak semua salesman taat pada tradisi—dan Anda perlu curiga jika berhadapan dengan mereka. Kebanyakan salesman tanpa toko adalah penipu tanpa etika.”

Bukankah justru kau yang lebih mencurigakan.

“Oke,” Darien berdeham. “Oke. Terserah. Terima kasih rokoknya. Sekarang kembalikan lorong tanggaku seperti semula.”

“Anda tidak usah cemas. Setelah urusan kita selesai, lorong tangga Anda pasti akan saya kembalikan—walau saya tak bisa menjelaskan caranya. Rahasia perusahaan.”

“Urusan apa pula? Sebenarnya apa maumu?”

“Menuntaskan perjanjian kita. Ya. Karena Anda, Tuan Darien Adler, menyimpan kartu nama saya... maka Anda adalah pelanggan saya, dan saya—sebagai salesman—punya kewajiban untuk melayani segala kebutuhan Anda.”

Aku bermimpi, pikir Darien. Cuma di mimpi saja peristiwa sejanggal ini bisa terjadi. Tapi Darien memang ingat kalau sore tadi dia bertemu Ronove yang membagikan kartu nama padanya—apa itu mimpi juga? Darien menggeleng. Dia tidak tahu.

“Omong kosong. Tahu apa kau soal kebutuhanku.”

“Naluri salesman, Tuan. Anda seniman, betul? Pelukis, lebih tepatnya.”

Sontak Darien tersedak asap rokok sendiri.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Naluri, Tuan,” Ronove tersenyum sambil mengusap-usap punggung tangan.

“Baiklah. Tidak perlu berlama-lama. Tujuan saya mengundang Tuan ke sini adalah untuk menjual barang. Ini Anda sudah tahu. Tapi saya tidak bakal berani mengusik Tuan bila benda yang akan saya jual hanyalah benda sembarangan. Tentu tidak,” Ronove diam sejenak dan menarik napas panjang—agaknya biar tampak dramatis.

“Saya menawarkan sesuatu yang khusus, Tuan. Sesuatu yang saya rasa sedang sangat dibutuhkan bagi pelukis seperti Anda.”

Ronove mengambil sebuah kotak kayu hitam kecil yang dia taruh tepat di hadapan Darien. Kemudian dia membukanya—sebilah kuas tersimpan di dalamnya.

“Khusus dari mana. Ini cuma kuas biasa.”

“Anda harus mencoba dulu agar bisa membedakan, Tuan,” ucap Ronove seraya menunjuk kanvas yang berada di ujung ruangan. “Mari, silakan dipakai!”

Orang macam ini pasti makin menjadi-jadi jika tidak dituruti, batin Darien.

“Kalau aku menolak?”

“Berarti urusan kita belum selesai, Tuan. Menguji barang adalah hak pembeli, dan sungguh tidak patut andai saya mencabut hak itu dari Anda! Semisal Anda sudah mencoba dan masih tidak puas, itu lain soal, dan saya tak bisa memaksa Anda buat membeli—lagi pula saya seorang salesman, bukan pembegal ataupun pencuri.”

Darien melirik kuas itu. Memang bentuknya cukup unik—cantik, malah. Tangkainya putih bersih mengilat mirip tulang, dengan pucuk bulu yang lurus tiada bengkokan berwarna keemasan. Tergoda juga dia untuk mencoba kuas itu. Dingin menjalar ketika kulit jemarinya menyentuh permukaan tubuh kuas.

Dia ayunkan kuas itu beberapa kali ke udara hampa. Stabil. Tidak ada masalah. Bahkan entah kenapa, Darien merasa yakin. Merasa sanggup. Imaji-imaji datang bertubi-tubi: tentang langit dan samudra dan sosok-sosok manusia, baik yang nyata sampai yang muskil ditulis dalam kata, semua mengalir merasuki kepalanya.

Lalu dia mulai melukis.

Dan Darien tidak pernah melukis seperti ini sebelumnya. Segala ketakutan dan kesulitan bagai lenyap. Dia menggores tanpa ragu, menarik garis demi garis alangkah ringannya, seolah tangannya bernyawa dan berdansa di hamparan polos kanvas. Dia menggambar api. Tanah. Tonggak. Indian. Malam. Bintang. Bayangan. Kehidupan. Kematian. Wajah Darien basah oleh peluh—namun matanya berbinar, dan senyum samar mengembang pada bibirnya.

“Fenomenal, Tuan!” Ronove bertepuk tangan. “Jadi bagaimana? Anda senang?”

Darien memandangi lukisan ciptaannya lekat-lekat—atau lebih tepatnya, ciptaan kuas itu.

“Kuas ini. Kuas inilah yang hebat.”

“Berarti tidak ada masalah,” Ronove terkekeh. “Untuk harganya, bayar saja dengan lukisan Anda.”

“Lukisan ini.”

“Ya. Jika Anda mengizinkan, tentunya.”

Darien diam. Lama. Itu penawaran yang murah—terlalu murah.

“Siapa kau ini sebenarnya?”

Ronove tersenyum simpul.

“Cuma salesman door-to-door biasa, Tuan. Tidak lebih, tidak kurang.”


message 16: by Tomi Sularso (last edited Feb 13, 2015 09:41AM) (new)

Tomi Sularso | 45 comments Sejak malam itu, Darien bolos kuliah. Dia mengurung diri di kamar dan keluar hanya buat mandi atau makan. Lembar-lembar sketsa dan kanvas-kanvas gambar bertebaran menyesaki ruangan, yang lantainya kini kotor ditimpa tumpahan cat serta serpihan serbuk timbal.

Darien seperti kesetanan. Seperti ada kekuatan kasat mata melimpah dalam tubuh, menyuntik adrenalin berlebih, dan mendorongnya agar terus dan terus melukis: hari ini, dia selesai menggambar seekor paus putih yang melayang di angkasa.

Sebentar-bentar dia tengok kalender. Empat hari lagi, 13 Januari—tanggal sebuah lomba lukis ternama di kotanya. Tanggal di mana dia akan kembali jadi raja. Tanggal di mana dia, Darien Adler, akan mengalahkan Friedrich Licht untuk yang pertama dan untuk selama-lamanya.

Darien duduk dan mengamati lukisannya. Sambil merokok, seperti biasa. Asap membubung mengepung penjuru kamar yang sesak. Tangannya meremas-remas kuas. Semua berkat kuas ini, gumam Darien. Tanpa kuas tulang—begitulah nama yang dia berikan—dia tak bakal mampu menggambar sebagus ini, dan tak mungkin sanggup menyaingi Friedrich. Sudah sejak lama Darien tahu bahwa ada batasan yang mustahil dia lampaui, dan hanya karena kuas tulang sajalah dia bisa percaya—kalau dia pun dapat menang melawan Friedrich.

Darien hendak melukis lagi, namun dia sadar kalau dia belum punya formulir pendaftaran lomba. Hm. Kalau tidak salah lembar formulir itu masih ada di kampus—tepatnya di ruangan klub lukis. Dari luar jendela tampak matahari tenggelam perlahan. Klub pasti sepi sekarang, dan berarti dia tak bakal bertemu orang-orang serta menanggapi pertanyaan-pertanyaan sepele mengenai dirinya yang menghilang tanpa alasan.

Maka berangkatlah Darien ke sana dan tidak lama kemudian dia sudah berdiri di depan pintu ruangan klub yang nyaris tertutup. Sayup-sayup dia mendengar bunyi-bunyi dari balik pintu. Seseorang sedang melukis di dalam—namun siapa yang masih melukis hingga selarut ini?

“Kak Darien?”

Friedrich?

“Kau kak Darien, kan?”

Darien diam sebentar. Menimbang-nimbang tindakan selanjutnya. Apa pulang saja? Tidak, dia telah sampai di sini. Lagi pula dia enggan kembali dengan tangan kosong. Tapi kenapa dia merasa demikian gentar?

“Ya. Boleh aku masuk?”

“Oh, silakan!”

Darien masuk dan melihat Friedrich duduk berhadapan pada sebuah kanvas. Dia sedikit lega karena letak kanvas membelakangi pintu dan membuatnya tak dapat melihat apa isi kanvas Friedrich.

“Ada dua minggu kakak tidak datang. Kakak dari mana saja?”

“Sakit,” jawab Darien sekenanya. “Formulir pendaftaran masih ada?”

“Untuk lomba kota?”

“Iya.”

“Hm. Seingatku masih banyak. Coba cek map cokelat di atas meja situ, kak.”

“Sip. Ada.”

“Kakak mau ikut lomba?”

“Kau juga, kan?”

Friedrich mengangguk, lalu tertawa kecil.

“Pasti kalah aku kalau kakak ikut.”

Agak lama Darien melirik Friedrich. Tangannya mengepal. Ingin betul dia membalas kata-kata itu, tapi lidahnya kelu seolah membeku. Bayangan panjang langit petang jatuh menimpa wajah mereka, dan Darien bersyukur tiada orang lain yang tahu bagaimana raut mukanya saat ini.

“Kau tidak pulang?”

Friedrich menggeleng. “Lukisanku belum selesai.”

“Lanjutkan saja di rumah.”

“Aku lebih nyaman melukis di sini,” jawab Friedrich tanpa melepaskan pandangan dari kanvasnya.

“Memang sudah berapa lama kau di sini?”

“Tiga hari, termasuk sekarang.”

Jujur, Friedrich memang tampak kacau. Paling tidak bagi Darien. Dia dapat melihat mata Friedrich yang lelah sekaligus merah, serta rambut menjuntai awut-awutan bagai sulur liar pepohonan. Dan sejak kapan dia sekurus ini?

“Ya, berusaha itu bagus. Tapi jangan memaksakan diri juga.”

“Terima kasih,” Friedrich tertawa lirih. “Hanya saja, aku belum merasa puas. Toh masih ada sisa empat hari lagi sebelum lomba berakhir.”

Darien diam. Belum merasa puas. Belum puas. Jawaban Friedrich berdengung dalam telinganya dan lambat laun berubah menjadi pertanyaan: apakah dia sendiri puas?

“Oke,” Darien memampangkan senyum palsu. “Semoga sukses, kalau begitu. Aku balik dulu.”

Darien berjalan meninggalkan ruangan. Pikiran demi pikiran menyerbu bertubi-tubi, seiring dia melangkah melalui lorong dan koridor kampus yang kian sunyi bersama jatuhnya mentari.

Dia berjalan dan membayangkan banyak hal tentang apa yang akan terjadi nanti saat 13 Januari. Soal menang, itu pasti. Tapi bisakah dia menganggap dirinya benar-benar menang sekarang? Bisakah dia tetap yakin bahwa dirinya pantas buat menang—setelah apa yang dilihatnya barusan?

Darien terus berjalan.

***

“...dan juara pertama adalah... Friedrich Licht, dengan lukisan berjudul Dansa Orang Mati. Selamat!”

Gemuruh aplaus menguasai seisi penjuru auditorium. Lampu sorot dinyalakan. Pujian dan sanjungan diserukan. Panggung riuh oleh suara-suara—kecuali suara Darien, di mana dia duduk di barisan terakhir yang tak terjamah cahaya serta riuh suasana, sosoknya tenggelam ditelan keramaian. Tapi dia sudah melihat semuanya.

Dan dia segera beranjak pergi ketika Friedrich dipanggil dewan juri ke podium demi mengambil hadiah pertama. Selagi berjalan pulang, Darien mengingat-ingat kejadian empat hari yang lalu.

”Anda ingin mengembalikannya?”

“Apa tidak boleh?”

“Ya... ya, itu pun hak Anda sebagai pembeli,” Ronove mengernyitkan dahi. “Tapi saya tidak paham. Apa ada cacat dalam produk saya?”

“Tidak. Kuas ini sempurna.”

“Jadi, kenapa?”

“Mungkin karena kuas ini kelewat sempurna. Mungkin karena aku merasa asing dengan lukisanku sendiri sejak aku memakai kuasmu. Entahlah,” Darien terkekeh singkat. “Atau mungkin... karena aku ingin bertanding dengan kemampuanku yang sebenarnya—bukan dengan bantuan kuas ini.”

Ronove menggaruk-garuk kepala. Tangan kirinya mengetuk-ketuk etalase meja.

“Saya mengerti, Tuan. Tapi saya tidak bisa mengganti lukisan Anda, berhubung Anda sudah membeli kuas saya. Perlu saya tekankan bahwa saya tidak menjanjikan garansi—”

“Ambil. Lukisan itu kuasmu yang menggambar,” sahut Darien seraya melangkah keluar tanpa sekali pun menengok ke belakang.


Darien berhenti sejenak. Rokok di saku dia nyalakan, lalu dia hisap dalam-dalam.

“Yah,” Darien bergumam. “Juara tiga kurasa lumayan juga.”

***

Ronove sedang menyapu lantai ketika seorang remaja berantakan datang memasuki tokonya.

“Ah, selamat malam, Tuan.” sapa Ronove tanpa berhenti menyapu. “Ada yang bisa saya bantu?”

“Aku datang untuk berterima kasih,” si remaja tersenyum lebar. “Berkat kuasmu, aku menang. Juara pertama! Seniorku saja kalah!”

“Saya senang jika Anda puas.”

Remaja itu mengangguk.

“Dengan kuasmu, aku bisa mengalahkan siapa saja—bukan mustahil karyaku kelak dijajarkan oleh legenda-legenda ternama. Seperti Goya atau Monet, barangkali, atau... atau Rembrandt!”

“Ini pasti kuas ajaib, kan? Maaf kalau salah, tapi... apa kau tukang sihir? Siapa kau sebenarnya?”

Ronove tertawa. “Saya cuma salesman door-to-door biasa, Tuan. Tidak lebih, tidak kurang.”

“Be-begitu. Yah, aku ke sini hanya hendak mengabarimu saja. Aku pulang dulu, dan sekali lagi... terima kasih.”

“Tentu, Tuan, tentu. Sama-sama.”

Lalu remaja itu pun keluar, meninggalkan Ronove yang kembali sendirian. Dia melirik jam. Sudah tengah malam.

Ronove memutuskan rihat sebentar—karena bahkan seorang salesman seperti dirinya pun butuh istirahat. Dia cukup gembira. Dalam seminggu dia mendapat dua lukisan baru, dan itu termasuk langka apalagi bila melihat kualitasnya. Dia bakal untung besar. Memang tepat perhitungannya buat mengincar kalangan seniman—tidak bermaksud merendahkan, namun mereka memang mudah diakali. Kuas ajaib? Tukang sihir? Ronove tergelak.

Oh, tapi Ronove tak dapat disalahkan—melakukan promosi gencar serta gembar-gembor berlebihan adalah hak seorang penjual pada pembelinya, dan itu tentu tidak bisa dibilang menipu! Lagi pula, memangnya dia pernah bilang—kalau kuas yang dia jual bukanlah kuas biasa yang dapat kau beli di toko lukis terdekat di kotamu?


back to top