Goodreads Indonesia discussion

85 views
Buku & Membaca > Kiat Menjadi Percaya Diri

Comments Showing 1-3 of 3 (3 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Hendra (new)

Hendra Surya (hendrasurya) | 18 comments Orang tua mana yang tidak ingin anaknya, seperti bocah ajaib pengukir sejarah dunia. Sebut saja seperti Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Marie Curie dan lain-lain, atau seperti Bagas Rahman Dwi Saputra atau Bagas Icil (penyanyi idola cilik 2013). Taufik Hidayat (pemain bulutangkis) dan pintarnya seperti BJ Habibie. Paling-tidak, anak punya semangat dan keberanian untuk mencontoh perilaku tokoh-tokoh tersebut meraih prestasi dalam hidupnya maupun mengaktualisasikan segenap kemampuan anak.
Namun kini yang jadi persoalan, bagaimana mewujudkan harapan-harapan orang tua tersebut menjadi suatu kenyataan? Jika kita perhatikan, anak bermasalah dengan percaya dirinya. Anak selalu mengeluh tak punya kemampuan apa-apa. Ketika belajar anak mudah menyerah dan mengeluh sulit belajar. Jika diminta untuk melakukan sesuatu, anak takut secara berlebihan dan merasa tak yakin dapat melakukannya. Apalagi keberanian anak payah. Kita sering direpotkan oleh perilaku anak di saat ada banyak teman sebaya di dekatnya. Anak malah takut bermain bersama dan anak terus berlindung di balik tubuh orang tuanya. Anak tak punya keberanian berkomunikasi dengan orang lain. Untuk menyampaikan keinginannya saja anak tak berani. Apalagi berbicara di depan banyak orang. Tidak itu saja, kita pun sering direpotkan banyak hal karena anak tidak punya keberanian untuk melakukan/memenuhi sendiri setiap keinginan maupun kebutuhannya.
Tentunya kita tidak dapat memungkiri anak yang tidak memiliki percaya diri, akan menghambat perkembangan prestasi intelektual, keterampilan maupun kemandirian anak. Anak jadi tidak cakap dalam segala hal. Anak tidak punya keberanian untuk mengaktualisasikan segenap kemampuan yang dimilikinya. Kita tentu tidak menginginkan, jika anak menjadi serba tergantung pada orang lain, terutama dari orang tuanya. Kalau anak serba tergantung, bagaimana nantinya setelah dewasa?
Mengingat begitu pentingnya membangun kemampuan percaya diri pada perkembangan anak sebagai sumber energi (kekuatan) diri anak untuk dapat mengaktualisasikan dirinya secara utuh, maka anak membutuhkan bantuan kita. Peran orang tua sangat vital dalam menumbuhkan percaya diri anak karena orang tualah yang Paling berpengaruh dan terdekat hubungannya dengan anak. Tapi banyak terjadi, orang tua kurang menyadari perannya dalam membangun percaya diri anak. Malah sebaliknya, orang tualah menjadi penyebab tidak berkembangnya percaya diri anak karena anak terlalu dimanja, tidak dibina dan dilatih. Kita kurang menyadari anak mengalami kesulitan membangun percaya dirinya.
Kemungkinan lain, kita salah menanggapi ketidakmampuan anak mengembangkan percaya dirinya karena terlalu merepotkan orang tua. Tidak jarang kita bertindak reaktif pada anak yang tidak memiliki percaya diri. Kita kerap kali marah-marah, menjewer, memukul, mencubit atau berkata kasar yang sangat memojokkan anak. Padahal, sikap reaktif kita tersebut tidak langsung mengubah anak menjadi percaya diri. Malah, sebaliknya. Anak semakin tidak mampu mengembangkan percaya dirinya dan anak menjadi sangat tertekan. Akibatnya anak menjadi semakin tidak berdaya (hopeless).
Oleh karena itu, kita harus membantu anak memahami kesulitan, kelemahan dan hambatannya dalam membangun percaya dirinya. Kemudian kita mencarikan solusi untuk mengatasi hambatan anak dalam membangun percaya dirinya.
Untuk itu, buku ini memuat petunjuk-petunjuk praktis dan efektif untuk mengatasi hambatan membangun percaya diri pada anak. Secara keseluruhan dalam buku ini memberi petunjuk-petunjuk kepada kita:

Cara mengembangkan konsep diri positif anak.
Cara mengembangkan kemampuan membangun penampilan diri anak.
Cara mengembangkan kemampuan anak mampu berbuat sesuatu.
Cara mengeksplorasi kemampuan intelektual atau belajar anak.
Cara mengembangkan kemampuan menghadapi ujian.
Cara mengembangkan kemampuan kreativitas anak.
Cara mengembangkan kemampuan berbicara anak.
Cara mengembangkan kemampuan mendengar anak.
Cara mengembangkan kemampuan bergaul atau bersosialisasi anak.
Cara mengembangkan kemampuan pengendalian diri, menangani konflik atau tekanan.
Cara mengembangkan kemampuan mandiri anak.

Sistematis pengulasan yang dipergunakan buku ini cukup sederhana dan mudah dipahami oleh pembaca. Buku ini disajikan tidak seperti buku referensi yang bersifat teoritis, melainkan mengungkap hal-hal nyata, praktis dan dilengkapi dengan contoh kasus. Pengulasan buku ini hanya meliputi 3 aspek, yaitu tinjauan latar belakang masalah, “mengapa” timbul masalah yang menyebabkan terjadinya kesulitan membangun percaya diri pada anak, dan “bagaimana” cara mengatasi masalah yang muncul tersebut.
Tentunya, setelah kita mampu memahami dan dapat mempraktekkan petunjuk-petunjuk dalam buku ini, maka kita pun mengetahui bagaimana menyikapi perilaku, melakukan pendekatan dan mengarahkan perilaku anak dengan baik. Oleh karena itu, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk merasa kuatir atau cemas terhadap kemampuan percaya diri anak.
Untuk mengetahui petunjuk luarbiasa buku ini, maka Anda dapat mengklik link di bawah ini:
http://www.wayang.co.id/index.php/tok...


message 2: by Awan (new)

Awan (yonkyunior) | 67 comments ada asap berarti ada apinya juga.

klo mau bikin orang percaya diri, siapapun itu mau kecil ato udah dewasa.

yang dilihat adalah lingkungan dan orang2 didekatnya.

apakah kita patut dicontoh?
introspeksi diri dan ngerubah mindset aja bisa efeknya membahana.


message 3: by Hendra (new)

Hendra Surya (hendrasurya) | 18 comments Bagaimana menjadi contoh dan mengubah mindset, itulah gunanya sangat urgen belajar dari berbagai cermin dn salah satunya belajar dari berbagai buku...


back to top