Goodreads Indonesia discussion

507 views
Kabar Para Penulis Kesayangan > Yang Berduka karena WS Rendra Meninggal Dunia

Comments Showing 1-50 of 51 (51 new)    post a comment »
« previous 1

message 1: by Pandasurya (last edited Aug 07, 2009 12:11AM) (new)

Pandasurya | 1361 comments WS Rendra, penyair "Burung Merak" itu wafat 6 Agustus 2009 semalam. Baru beberapa hari lalu juga seniman Mbah Surip meninggal dunia. Dua sosok seniman hebat Indonesia dipanggil Tuhan hanya dalam berbilang hari. Mungkin benar, Tuhan lagi butuh hiburan..

Well, semoga arwah dan amal ibadah keduanya diterima di sisi-Nya, Dia Sang Maha Seniman, tempat kita berpulang. Buat keluarga almarhum juga semoga diberi kekuatan dan ketabahan. Sekali kita belajar tentang kematian, kita belajar tentang kehidupan..

description
*foto: KOMPAS/JULIAN SIHOMBING
Ekspresi WS Rendra dengan "seribu wajahnya" dalam acara pembacaan sajak-sajak "Penabur Benih" di Teater Terbuka TIM, 25-26 Juli 1992.



Buat teman2 GRI yg mau ikut berbela sungkawa, menyampaikan duka cita, sekaligus mengenang karya2 WS Rendra, monggo silakan. Yang mau berbagi cerita ttg Rendra juga monggo silakan.

Izinkan saya memulai dengan mengutip karya Rendra favorit saya yg saya kutip dari ingatan:

"Kemarin dan esok
adalah hari ini
bencana dan keberuntungan
sama saja
Langit di luar,
Langit di badan,
Bersatu dalam jiwa"


"Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata"


gonk bukan pahlawan berwajah tampan (gonk) | 287 comments Mengapa Lekra Menghantam Rendra
sumber : indonesiabuku.com

Rendra yang dikenal hingga akhir hayatnya adalah Rendra si penyair cadas dengan puisi-puisi pamfletnya yang menonjok. Tapi kenapa Lekra menghantamnya ketika masa itu puisi-puisi pamflet berada di masa keemasannya. Rupanya, di usia kepenyairan mudanya, Rendra adalah penyair erotik sebelum banting stir menjadi penyair pamflet saat Lekra sudah terkubur. Dan di mata Lekra, penyair erotik harus menyingkir karena mereka adalah oknum2 penggelap jalannya revolusi.

Indonesia Buku menyalin ulang dokumen Bintang Timur untuk melihat posisi Rendra di masa gebuk-gebukan Lekra vs Manikebu itu. Inilah wajah Rendra sebagai penyair erotik. Sekaligus menjadi alasan kenapa Lekra menghantam Rendra.

Icha Akulara
PUISI EROTIK: Bingkisan Ulangtahun Rendra

Oleh Plato erotik telah dibitjarakan dengan pandjang lebar dalam bukunja jang bernama Sympasion. Baginja eros merupakan pelindung dan pentjipta hasrat asmara murni. Plato memandang eros sebagai satu desakan untuk pengabdian jang meningkat dari tjinta biologis sampai pada taraf keindahan jang tertinggi.

Erotik itu sendiri diangkat dari mite Junani:

Leandrus djatuh tjinta pada Eros. Dari Abidus ia berenang menjeberangi Helespon ke Sestus, untuk bertjumbuan dgn kekasihnja. Pada suatu malam dalam menjeberangi Helespon, ia ditimpa malapetaka tenggelam dilautan. Setelah mengetahui hal ini, Erospun menerdjungkan diri dan mati bersama. Tokoh mite ini lalu dipakai lambang tjinta. Oleh Calille kata erotik digunakan untuk istilah sastra dan mengandung arti birahi.

Eros adalah putera Aphrodite dengan Zeus. Eros dilukiskan sebagai seorang gadis bersajap. Ia selalu bawa panah asmara jang dapat mengobarkan api tjinta. Eros djuga disebut Psyche, lambang semangat mentjinta. Dan selandjutnja erotik merupakan sastra jang mengambil pokok tema tjinta, in malam partem.

Berlawanan dengan Plato, Freud berpendirian bahwa setiap tingkah-laku manusia selalu berdasarkan napsu seksualita. Baginja hasil sastra adalah tumpuan napsu seksualita pengarang jang tak terlampiaskan. Hal ini akan nampak pada beberapa sadjak Rendra, diantaranja:

Anita
Lelaki itu memperkosanja diladang
hudjan gerimis menambah ribut dada dan alang
lalu meninggalkannja dengan dingin mata
menenggalamkan diri bagi bahasa tjinta

Anita
Derai gerimis menampar muka
kutuk membalik mendera dirinja
dadanja jang subur tergontjang2
oleh damba
(BALLADA ANITA)


Adjaran Freud jang mengarah-arah ke pornografi, agaknya sudah membalung sungsum dalam diri Rendra. Segalalanja dilandaskan pada gairah seksualita. Libido diagung-agungkan, seolah2 merupakan satu2nja sumber keindahan. Tapi sebenarnja keindahan jang sedjati tak pernah merusak kemurnian, seperti misalnja sadjak ,,Wadjah Dunia jg Pertama”, jang mengasosiasilan pada kitab Genesis:

Ketika bulan pudar
ia bawa pengantinnja
keatas bukit itu
keduanja telandjang
wadjah dunia jang pertama


Makin lama ia makin kuat ditjekam teori Freud jang serba berlebih2an. Segala-galanja selalu dihubung2kan dengan seksualita. Baginja, alam terasa menggiurkan. Papaja dilihatnja sebagai buahdada, kebun anggur jang sedap adalah bulu dada jang riap, ia melihat bulan menarik pahanja. Alam jang bersolek demikian indahnja pudar telandjang dimata Rendra. Semuanja bergelondjak bergairah dalam dirinja. Oleh Rustandi ia dikatakan penjair cross-boy, ini bisa dimengerti mengingat kenakalan2nja dalam:

……………….
Melenguh lembu-lembu jang terdjaga
bambu-bambu merapat kedinginan
berdesir sungai birahi
putjuk padi mentjium bumi
pohonan hidup dan gemetar
dan bulan menutup wadjahnja
Tanganku mendjemah dadamu
(SERENADA MERDJAN).


Inspirasi tak hanja ditjari dengan gelandangan disepandjang gang2 gelap tok. Adalah sinting seniman2 jg suka nglujur dengan alasan tjari ilham. Ilham memang tak djatuh dari langit bagai embun diwaktu malam, tapi sebaliknja ilham tak bertaburan dipelosok2 kota. Masa2 Chairil, masa mens zonder rentjana, harus kita tinggalkan dengan serentak. Semangat marhaen tak berarti nongkrong dan bertjanda2 dengan penghuni2 gubug, supaja dapat menjanjikan ketjantikan mereka:

Kami sama-sama menuruni malam
sampai disuatu lorong dibungai perempuan
perempuan-perempuan susu laju dirapikan
mata kuju dibinarkan pulasan
(KAMI PERGI MALAM-MALAM)


Dalam ,,Ballada Sumilah” disamping melukiskan betapa kedjantanan dan keberanian seorang patriot, Rendra tjerita tentang nasib seorang gadis. Balada ini tak bisa lepas dari soal-soal seksualita. revolusi hanja sebagai ilustrasi belaka, ia lebih banjak tjerita tentang Belanda jang mau memperkosa Sumilah. Ketjemburuan Samidjo dilukiskan berlebih2an, sehingga kalap nekat dan bunuh diri setjara patriotis, Samidjo gugur demi dendamnja pada Belanda. Sumilah putusasa, bagai Ophelia, ia menerdjunkan diri di palung sungai. Revolusi nampak begitu gelap dalam pandangan Rendra. Seperti sadjak2nja jang lain, balada ini bernafaskan erotik pula:

– O tersobek kulitmu lembut berbungakan darah
kojak mojak badjumu muntahkan dadamu
lenjaplah segala karena tiada kau punja
bunga jang terputih dengan kelopak2 sutera
– Belum lagi! Demi airdaraku merah: belum lagi


Setelah membatja dan mempeladjari beberapa sadjak tersebut, kita bisa menarik kesimpulan bahwa sebagian karja Rendra terkandas pada soal seksualita. Pada satu ketika ia terkungkung dan tak bisa melepaskan diri daripadanja. Ia tidak mampu memberikan asosiasi jang lebih tinggi lagi, seperti jang dimaksud oleh Plato. Kini kita bisa merasakan betapa djeleknja sembojan ,,l art pour art!”

Tapi kita masih bisa merasa beruntung, karena erotika tak tumbuh subur dalam sastra Indonesia. Erotika jang berlebih2an hanja merugikan moralite bangsa kita, jang sedang sibuk dalam taraf pembangunan semesta berentjana. Dan sebaiknja dalam hal ini kita mengikuti pendirian dr. K. Heeroma, jang mengatakan bahwa puisi erotis adalah puisi hina. Sastra jang sematjam inilah jang mesti segera dibabat!

* Dinukil dari lembar “Lentera” Harian Bintang Timur Edisi 2 November 1962.


message 3: by Andri (new)

Andri (clickandri) | 665 comments Mata gw berair Po. Beberapa hari lalu ketika di status bbrp orang mencantumkan info mas Willy lagi dirawat di Harkit, entah kenapa gw punya firasat ini. Saat itu gw cuma bisa berdoa, karena toh kalo gw datang, gw bukan siapa2 buat dia. Tapi dia, jelas siapa-siapa buat gw.

Ketika beberapa tahun silam gw maju utk bersaing di kontes ketua senat, gw pake tagline dari puisinya : "Dan Perjuangan Adalah Pelaksanaan Kata-kata".

Beberapa kali pertemuan gw dengan dia sudah pernah gw tulis di thread waktu kita bahas puisi dia.

Tadi pagi langsung gw bongkar-bongkar album mencari Kantata Takwa, untuk menyimak kembali Kesaksian, Paman Doblang, Rajawali, Nocturno. Full di sepanjang jalan gw ikut bernyanyi, mengenang satu moment ketika gw menjadi satu pelaku di satu momen bersejarah, pertunjukan musik terbesar yang pernah ada di negeri ini, Kantata Takwa!

Selamat jalan mas.. semoga yg ditinggal tetap bisa melaksanakan seperti yang pernah engkau ajarkan, bahwa perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.

-andri-


message 4: by miaaa, Moderator (new)

miaaa | 2354 comments Mod
tadi malam gak sanggup balas sms mas ronny atau amang, soalnya masih terpaku liat breaking news kematiannya di metro tv. seberapa awam pun aku atas puisi, tetap saja rasanya sedih kehilangan seorang penyair besar.


message 5: by Indri (new)

Indri Juwono (indrijuwono) | 2862 comments 'dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata'
salah satu quote favoritku jugaa.. ingat waktu kuliah kita digembleng di pusgiwa fakultas dengan puisi-puisi ini.. kata2 yang mengobarkan semangat..
baca messagenya Panda, Agung, Amang, Andri.. rasanya speechless..
Selamat jalan penyair besar, kematian bukan akhir, karyamu akan selalu dikenang, tetap abadi, selama literasi masih berdiri, selama tidak ada pembodohan bangsa, akan hidup dalam panggung, drama, dan kehidupan sendiri..


message 6: by Palsay (new)

Palsay   | 400 comments turut berduka...


message 7: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments Sampai menjelang akhir hayatnya masih berkarya.... Selamat jalan Rendra..


message 8: by e.c.h.a, Moderator (new)

e.c.h.a (rezecha) | 2011 comments Mod
Turut berduka cita, semoga amal baiknya di terima di sisi-Nya


message 9: by Irwan (new)

Irwan | 75 comments Tertunduk, ikut berduka .....


message 10: by lita (new)

lita seniman sejati, karyanya selalu abadi...sampai ga bisa nahan airmata pas liat beritanya semalam


message 11: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 1361 comments Ini untuk Rendra


Kenyataan Hari Ini
Tak pernah memadai untuk sekadar disesali
Tangis dan tawa lahir terlalu pagi

Di sini
Di bawah langit yang sama
Kemanusiaan bertanya-tanya:
Di mana tempat kita di dunia?


message 12: by owl (new)

owl (buzenk) | 1651 comments turut berduka cita...



message 13: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 1361 comments bagus puisinya, Po, elok..:-)


message 14: by owl (new)

owl (buzenk) | 1651 comments kerennn puisina Mas Amank..
*terharu*


 Δx Δp ≥ ½ ħ  (tivarepusoinegnimunamuhsunegiuq) | 2987 comments reza-echa wrote: "Turut berduka cita, semoga amal baiknya di terima di sisi-Nya"

amin...

*baru liat beritanya tadi pas nonton berita pagi... T.T*


message 16: by Pandasurya (last edited Aug 07, 2009 02:28AM) (new)

Pandasurya | 1361 comments waoow..surat cinta yg bisa bikin "speechless.."

maap, ada sedikit salah ketik, mas amang, bisa di-edit?:-)
Semangat cintaku yang kuta
batgai seribu tangan gaib



message 17: by Wirotomo (new)

Wirotomo Nofamilyname | 2396 comments Turut berduka cita. Walau belum pernah bertemu tapi memang karya2 Rendra sangat menyenangkan untuk dibaca.

Btw "Ia Sudah Bertualang" sepertinya sudah diterbitkan ulang oleh Burungmerak Press deh. Aku kemarin beli nitip Mia, dapat 2 kumpulan cerpen Rendra, Ia Sudah Bertualang dan Kenang-kenangan Seorang Wanita Pemalu (walau sebenarnya ia lebih ngetop sebagai penulis puisi, tapi cerpennya oke juga tuh, waktu aku baca sekilas (masih to-read nih sampai sekarang)).

Alhamdulillah pernah ada seorang Rendra di Indonesia ini.


message 18: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 1361 comments dan takkan pernah ada gantinya...hiks;-(


message 19: by Wirotomo (new)

Wirotomo Nofamilyname | 2396 comments Ah enggak ... saya masih optimis kalau soal itu.
Kita nggak tahu siapa yang akan muncul 10 tahun atau 50 tahun lagi. Insya Allah akan ada penyair yg sehebat Rendra :-)


message 20: by [deleted user] (new)

Tiap penyair besar meninggalkan jejaknya sendiri
tidak ada Rendra yang lain, tapi penyair besar lainnya akan selalu ada
seperti dibilang Rendra sendiri dalam pidatonya di Akademi Jakarta (kalo ga salah inget):
"dalam ilmu silat tidak ada nomor dua,
tapi dalam ilmu surat tidak ada nomor satu"


message 21: by Suryati (new)

Suryati | 220 comments Walaupun saya jarang membaca puisi, apalagi menulis puisi tapi saya mengikuti berita-berita tentang beliau, mengagumi karyanya, buku puisinya yang pernah dibaca bareng di GRI baru saja saya terima Senin kemarin dari Roos. Turut berduka cita, Innalillahi wa innailaihi rojiun, semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT, amin.


message 22: by Indri (new)

Indri Juwono (indrijuwono) | 2862 comments aku dah pernah baca puisi SURAT CINTA ini, dan sekarang membacanya lagi..
mataku berkaca-kaca..
wanita penuh ambisi pun luruh oleh barisan puisi..
oh, why today romantic word come around me??


message 23: by Nanny (new)

Nanny SA | 1353 comments Sangat berduka..


message 24: by Pandasurya (last edited Aug 07, 2009 09:08PM) (new)

Pandasurya | 1361 comments Amang wrote: "Pandasurya wrote: "dan takkan pernah ada gantinya...hiks;-("

Tenang, ada gieb dan panda..."


sekali ini engga salah ketik lagi, mas Amang? yakiiinn??:-p

"apalah artinya sebutir debu di hadapan tuhan dari segala tuhan?"


message 25: by Wirotomo (new)

Wirotomo Nofamilyname | 2396 comments @ Pandasurya:
Bisa jadi yg dimaksud Mas Amang sbg panda ya dirinya sendiri ... hehehe ... eh tapi harusnya nyebutnya "Eks Panda" ya, wong sekarang bukan panda lagi ;-)


message 26: by gieb (new)

gieb | 743 comments Buku 'Ia Sudah Berpetualang' sudah diterbitkan ulang. Aku sendiri punya buku ini yang terbitan 1963.


message 27: by "Mhd Haikal" (new)

"Mhd Haikal" (mhdhaikal) | 126 comments Semoga beliau dapat berhagia di kehidupannya yang baru...


message 28: by Nanto (new)

Nanto (nantosriyanto) | 712 comments Rendra

8 Agustus 2009 ·
Sumber: http://putuwijaya.wordpress.com/2009/...

“Kebudayaan Jawa adalah kebudayan kasur tua!” kata Rendra dengan tandas dalam sebuah diskusi di Yoga pada akhir tahun 60-an, kata seorang budayawan yang diwawancari di televisi itu.

“Banyak orang tersinggung dan kaget. Itu bukan saja terlalu berani tetapi juga kurangajar. Kebudayaan Jawa yang tinggi, berciri kontemplasi dan melahirkan monumen yang mencengangkan dunia seperti Borobudur, Prambananan, buku Nagara Kertagama, Arjuna Wiwaha dan sebagainya itu, bagaimana mungkin hanya sebuah kasur tua?”

“Burung merak dari Solo yang lahir pada 1935 itu kemudian dianggap sebagai orang gila yang besar mulut. Mentang-mentang baru pulang dari Amerika, tak seenak perutnya ia bisa menilai jawa yang begitu dihormati oleh semua orang.”

“Apakah itu yang kemudian menyebabkan Rendra, penyair Ballada Orang-Orang Tercinta itu kemudian diusir dari Yogya ke Jakarta? Tidak. Sama sekali tidak. Ia justru mengeluarkan seruan yang mengejek para seniman yang sudah ramai-ramai hijrah ke Jakarta, mengejar nama dan duit. Ia berseru, berjanji, mirip sebuah sumpah, ia akan terus bertahan di Yogya. Menampik budaya kota, hidup dekat dengan lingkunganserta alam. Dan hadir untuk menunjukkan eksistensi pedalaman.”

‘Tetapi kenapa bidan Bengkel Teater yang tersohor karena ciptaannya yang bernama teater mini-kata itu, tiba-tiba kemudian boyongan ke Jakarta. Ia menghuni sebuah kawasan luas di pinggiran kota Depok. Dalam sebuah wilayah lengkap dengan sawah serta kolam. Bahkan memiliki sebuah pemakaman keluarga yang juga terbuka bagi para seniman. Di situ terbaring maestro piñata artistik Rujito dan miskus yang melejit tiba-tiba menjadi sebuah legenda, si maniak kopi, Si tak gendong-gendong: Mbah Surip Karena ia mengambil tafsir baru.

Mempertahankan tradisi itu, bukan kulitnya, tapi isinya. Hidup di kota pun penting, asal jiwanya tetap jiwa yang alami. Bahkan itu perlu bagi orang kota yang sudah habis-habisan terkena polusi. Ia ke Jakarta untuk menyelamatkan Jakarta!”

“Mas Willy, begitu panggilan akrabnya, tidak kemudian menjadi manusia terkutuk yang dikeluarkan oleh orang yang merasa dirinya orang jawa. Ia bahkan mendapat kemulyaan di malam purnama yang indah, malam Jum’at, menjelang bulan Ramadhan. Dan kepergiannya dihadiri oleh ribuan orang yang mengalir memadati seluruh pelataran kawasan Bengkel Teater sehingga membuat jalanan pun macat.”

“Kenapa? Karena ternyata di balik kata-katanya yang pedas, yang membuat telinga merah, di balik apa yang dimaksudkannya dengan kebudayaan kasur tua, tersimpan niat yang mulia. Dia ingin membebaskan tradisi dari virus-virus jahat, yang dalam perjalanannya menembus zaman sudah dititipkan oleh kekuasaan dan tangan-tangan jahil. Ia ingin membebaskan tradisi dari asesoris dan muatan temporer yang membuat tradisi menjadi beban berat dan menyiksa bahkan melukai para pewaris. Ia ingin mencuci kembali tradisi, sehingga esensinya, rohnya
yang bernama kearifan lokal bersinar kembali dengan gemilang!”

“Si Burung Meraklah yang kemudian memberi tafsir baru terhadap apa yang disebut nrimo, pasrah, gotong-royong dan sebagainya yang sudah diselewengkan menjadi tempat menyembunyikan kemalasan alias didaur-ulang. Dengan memberikan tafsir baru, ia membuat seluruh kebijakan, ilmu hidup yang diturunkan oleh tradisi Jawa menjadi dinamis, alias tidak melempem. Ia membuat tradisi Jawa tidak lagi kolot, melempem, tetapi bernas, aktual dan menyelamatkan para pewarisnya dari benturan-benturan zaman.”

Amat terkejut. Ia memandang orang yang bicara di di layer kaca itu dengan mata tak berkedip. Tak sabar. Ia kemudian mencecer.

“Maksud Bapak, mas Willy sudah membuat kebudayaan jawa kembali pada kearifan lokalnya?”
“Persis!”
“Almarhum membuat kebudyaan jawa menjadi dinamis?”
“Betul Pak Amat.”
“Seperti desa-kala-patra bagi orang Bali?”
“Itu maksud saya! Seratus untuk pak Amat!”
Amat terpekik.
“Yes!”
Tak puas hanya memekik, Amt kemudian menggebrak meja.
“Betul! Makanya dia dinamakan Burung Merak!”
Bu Amat bergegas datang.

“Sabar Pak, sabar. Telat satu menit saja sudah main pukul meja!” kata Bu Amat meletakkan kopi yang dipesan suaminya. “Jangan suka marah, main drama seperti pemain-pemain sioentron itu. Yang wajar-wajar saja.”

Amat memegang tangan istrinya yang mau kembali ke dapur, sambil menunjuk ke televisi.

“Lihat Bu, begitu banyak orang datang dalam pemakaman mas Rendra. Dia itu pantas mendapat bintang Maha Putra!”

“Betul, dengan semua perbuatan, tindakan serta pemikirannya, Mas Willy adalah orang yang mengajarkan kepada kita untuk bersikap berani melawan, “kara wajah di televisi itu lagi.melanjutkan, “dia memberikan toladan untuk berani mengemukakan pendapat, bersikap kritis kepada penguasa yang sudha bertindak sewenang-wenang, karena tidak mengoyomi rakyat dan memikirkan kesejahteraan bangsa, tetapi menumpuk keuntungan untuk dirinya sendiri. Mas Rendra mengajak kita untuk berani berkata jujur. Ia seorang pahlawan!”

Bu Amat nyeletuk.

“Kalau dia memang pahlawan, kenapa tidak dimakamkan di makam pahlawan?”
“Makam Pahlawan? Dia tidak akan mau!”
“Kenapa?”
“Karena dia tidak mau terikat oleh kehormatan. Dia pasti lebih senang lepas-bebas di dalam masyarakat, sehingga bisa bergaul dengan semua orang.”

“Itu kan kata Bapak!”

Bu Amat kemudian ngeloyor kembali ke dapur. Amat tercengang.

“Ya itu kataku. Itu memang kataku. Aku berkata untuk almarhum, sebab dia sudah tidak mampu lagi berkata. Apa salahnya kita menafsirkan apa yang akan dikatakannya, setelah orangnya tidak ada? Apa salahnya akuyang akan mengatakan apa yang hendak dikatakan oleh Michael Jackson, Mbah Surip dan Mas Rendra. Kita harus mengungkapkan apa yang tidak bisa lagi dikatakannya. Betul tidak?’ tanya Amat kemudian kepada Ami ketika Ami kembali dari kampus.
Ami mengangguk acuh tak acuh.

“Itu namanya penafsiran, Pak.”

“Memang. Kita kan harus menafsirkan apa yang sudah dilakukan dan diperbuat oleh almarhum, karena almarhum sendiri sudah tidak sanggup berkata? Orang-orang yang berbicara di televisi itu semua begitu, ketika mengomentari Mbah Surip dan mas Willy. Kita harus memberikan tafsir! Masak tidak boleh?”

“Siapa yang melarang?”
“Ibumu!”
“Apa salah Ibu melarang?”
“Karena Bapakmu tidak mau ada orang berkata lain!” damprat Bu Amat yang muncul kembali sambil membawa pisang goreng.
“Katanya Mas Rendra yang meninggal itu seorang Empu yang mengajarkan murid-muridnya untuk memberi tafsir baru. Kenapa kalau Ibu memberi tafsir baru pada tafsirnya, dilarang?”
“Yes!” teriak Ami tiba-tiba.
“Itu artinya dia orang besar. Orang besar kalau meninggal selalu membuat kita yang ditinggalkannya berpikir. Bertengkar juga berpikir. Jadi Jacko, Mbah Surip dan Mas Rendra itu memang orang hebat. Titik. Ayo sekarang ganti channel tv-nya. Itu ada tembak-menembak dengan teroris yang diduga Nurdin Top! Bukan maunya orang besar saja yang harus diperhatikan, mauku juga!”

Jakarta 7 Agustus


message 29: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 1361 comments menarik2 semua nih artikel dari mas Amang dan cak Nanto..menarik dan penting, layak dikliping sbg dokumentasi bagi dunia sastra kita..


message 30: by [deleted user] (new)

Rendra, (1935-….)
Goenawan Mohamad
TEMPO, edisi 10-16 Agustus 2009

SAYA tak bisa mengerti bagaimana Rendra ”pergi selama-lamanya”, kecuali bahwa jasad itu dimakamkan, 7 Agustus 2009, dalam umur hampir 74. Rendra tak pernah mati: ia telah memberi kita puisi.

Lalu terdengarlah suara
di balik semak itu
sedang bulan merah mabuk
dan angin dari selatan.


Sajak seperti ini ditulis sekitar setengah abad yang lalu. Tapi deskripsinya yang bersahaja dan terang tetap menyembunyikan sesuatu yang seakan-akan baru terungkap secara mendadak buat pertama kalinya hari ini. Rendra menghadirkan yang tak terhingga. ”Tujuh pasang mata peri/terpejam di pohonan”. Imaji seperti itu terus-menerus tak bisa dibekukan oleh tafsir.

Puisi tentu saja bisa beku, juga puisi Rendra. Ini terjadi ketika apa yang tumbuh dan hidup dari dalamnya—yaitu yang fantastis, yang ganjil, yang misterius—ditiadakan. Ini yang terjadi ketika puisi diambil alih perannya oleh ajaran, dengan niat bisa berguna secara efektif. Dan zaman bisa membutuhkan itu: karena keadaan, kita dengan brutal menuntut puisi untuk mati suri.

Saya tak ingin Rendra, yang sebagai penyair rela mengorbankan banyak hal—termasuk apa yang terbaik dari dirinya—harus dikorbankan berkali-kali.

Sebab itu, ketika kini Rendra hanya diingat sebagai suara kritik dan kearifan sosial yang menggugah, saya ingin mengenangnya lebih dari sekadar itu.

***

Di sekolah menengah pertama sekitar tahun 1955, saya terpesona membaca sajak "Litani Domba Yang Kudus" di majalah Kisah. Sajak Rendra ini melantunkan pengulangan yang berbunyi seperti dalam doa, tapi juga seperti permainan anak-anak yang tangkas, dengan imaji yang datang dari khazanah yang terasa akrab—yang datang dari latar agama Katolik yang membesarkan sang penyair. Seperti sebuah sajak lain dari masa ini, yang ditulisnya sekitar hari sakramen pernikahannya dengan Sunarti Suwandi:

Di gereja St Josef
tanggal 31 Maret 1959
di pagi yang basah
seorang malaikat telah turun.
Seorang malaikat remaja
dengan rambut keriting
berayun di lidah lonceng.
Maka sambil membuat bahana indah
dinyanyikan masmur
yang mengandung sebuah berita
yang bagus.
Dan kakinya yang putih indah
terjuntai


Suara itu sungguh berbeda dari corak umum puisi tahun 1950-an lain. Puisi Rendra adalah sebuah kecenderungan naratif yang unik, lincah, cerah, dan acap kali amat manis.

Seorang kritikus, Subagio Sastrowardojo, menunjukkan bahwa dalam sajak-sajak Rendra terdapat pengaruh kuat puisi penyair Spanyol Federico Garcia Lorca, yang di Indonesia waktu itu diperkenalkan dengan bagus oleh Ramadhan K.H. Tapi orang juga bisa mengatakan, dalam puisi Rendra masa itu bergema lagu dolanan anak-anak Jawa. Bagi saya itu menunjukkan, tak seperti Chairil Anwar dan Rivai Apin yang berseru memilih laut dan meninggalkan daratan, Rendra—seperti Lorca, seperti dolanan anak-anak dusun—lebih akrab dengan lanskap yang terdiri dari bukit, jalanan, rumpun, daun, dan burung-burung. Dalam buku Empat Kumpulan Sajak, ada kutipan sepucuk suratnya kepada sahabatnya, D.S. Moeljanto, bertahun 1955, yang menyatakan bahwa ia ingin ”tetap bergantung pada daun-daun, dan air sungai”

Bagi Chairil, Rivai, dan Asrul Sani—mungkin karena mereka datang dari lingkungan yang terbentuk oleh adat merantau—laut adalah kemerdekaan, dengan risiko menghadapi malapetaka dan kesendirian. ”Apa di sini,” kata Rivai Apin memaki tanah asal dalam salah satu sajaknya, ”batu semua!”

Puisi Rendra, sebaliknya, tak merayakan laut, tak menggambarkan diri sebagai kelasi yang hanya singgah di bandar asing dengan perempuan yang cukup dipeluk untuk beberapa saat.

Pada 1953, dalam sebuah pidato tentang Chairil Anwar di hadapan ”sastrawan-sastrawan muda Surakarta”, ia mengecam para seniman yang meniru-niru ”jalang”-nya Chairil Anwar. Para pembuntut macam itu, kata Rendra, hanya ”menjalang dengan otak babinya”.

Rendra tak terbatas mengkritik para epigon Chairil Anwar. Terhadap sikap Chairil sendiri ia menarik garis. ”Konsekuensi dari ajakan melepas nafsu Chairil dalam sajaknya Kepada Kawan,” demikian kata Rendra, ”adalah penghapusan undang-undang, yang berarti lebih dahsyat dari bom atom.”

***

Pandangan itu kemudian berubah; kita memang tak bisa berbicara tentang satu Rendra. Ia kemudian mempesona kita ketika ia berbicara tentang peran soal ”orang urakan”: orang-orang yang, seperti Ken Arok dalam sejarah, berada di luar ketertiban hukum, bahkan merupakan antitesis dari ketertiban sebagai ideologi yang berkuasa, dan dengan posisi itu, para ”urakan” justru berperan untuk pembaharuan, transformasi sosial, dan pembebasan.


message 31: by [deleted user] (new)

Pada akhirnya, posisi ”urakan” bagi Rendra lebih penting dan lebih menarik ketimbang posisi pembela ketertiban. Meskipun ia tak pernah memaki tanah asal sebagai ”batu semua!” sebagaimana Rivai Apin, ia tak pernah tergerak untuk mensakralkan tempat tinggal, rumah, dan negeri asal.

Hubungannya dengan tradisi, dalam hal ini tradisi Jawa, tak akrab. Baginya kebudayaan Jawa adalah sebuah ”kebudayaan kasur tua”: sebuah tempat mandek yang hanya enak buat tidur nyenyak.

Tapi ia melihat tradisi dan masa lalu tak satu. Masa lalu yang dikecamnya adalah ”kebudayaan Jawa baru, yang kira-kira dimulai abad ke-18 atau akhir abad ke-17”. Ada masa lalu lain, yang menurut Rendra dilupakan orang Jawa sendiri. Dalam ”tembang-tembang kuno,” katanya, ”ada ajaran yang mengajak kita untuk mandiri, untuk berdiri sendiri, untuk mengada.”

Rendra tak menyebut dengan jelas ”tembang kuno” mana yang mengajarkan demikian. Ia hanya menyebut kisah Dewa Ruci, kisah tentang Bhima yang mencari dan kemudian menemukan ”dirinya sendiri”. Agaknya yang jadi soal bukanlah tradisi itu sendiri, tapi kemandekan yang mencekik individu. Dalam kebudayaan tradisional yang ada, kata Rendra, ”individu belum diketemukan”.

Pada 1967 ia pergi ke Amerika Serikat, dan hidup di Kota New York. Dari sana datang beberapa puisinya yang matang dan memukau, yang terkumpul dalam Blues Untuk Bonnie. Dalam sepucuk surat yang ditulisnya dari sana, bertanggal 29 Mei 1967, ia mengatakan, ”Perubahan terjadi di dalam saya…. Adapun yang paling memberikan kesan pada kesadaran saya dewasa ini ialah ilmu pengetahuan. Saya merasakan ini sebagai imbangan yang sehat untuk kesadaran mistik dan seni yang ada dalam diri saya”.

Dari sini ia berbicara untuk melaksanakan ”firman modernisasi”. Ia bersuara tentang agar orang Indonesia ”melawan alam”. Ini ditandaskannya kembali ketika ia, bersama awak Bengkel Teater Yogya memperingati Hari Sumpah Pemuda pada 1969. Ia berpidato dengan teks yang ditulis tangan. Ia berbicara bagaimana di Barat kehidupan diatur oleh mesin bikinan manusia, dan bagaimana di Indonesia individu bagaikan sekrup dan gotri yang ditentukan perannya oleh semacam mesin lain, yakni alam. Individu tak bisa merdeka, katanya, karena seluruh hidupnya hanya merupakan onderdil yang sudah ditetapkan status dan tugasnya dalam tradisi. Panggilan zaman yang sekarang adalah melawannya, kata Rendra.

Di sini ada gema yang kembali dari pemikiran yang dibawakan para sastrawan pada 1930-an, terutama oleh S. Takdir Alisjahbana. Suara itu kemudian dilanjutkan Soedjatmoko ketika menulis pengantar buat majalah Konfrontasi pada 1955: ia menjelaskan kenapa harus ada ”konfrontasi” dengan ”faktor-faktor kebudayaan” yang tidak mendukung pembangunan bangsa. Rendra meneruskan ”firman modernisasi” itu.

Tapi dunia modern, sebagaimana dicemaskan Sanusi Pane, seorang penganut Theosofi yang memuja masa lalu India, punya sisi gelap. Tak ada yang baru di sini: Max Weber meramalkan bahwa ”akal instrumental” yang memacu dunia modern pada akhirnya akan membawa manusia ke dalam ”kerangkeng besi”. Mazhab Frankfurt melihat ”Pencerahan” yang membawa ”firman modernisasi” pada akhirnya melahirkan penindasan.

Sanusi Pane memandang sisi gelap itu seraya memegang gambaran tentang ”Timur” dalam idealisasi kaum Orientalis. Akhirnya, sebagai kelanjutan sikap ”anti-Barat”, penyair Madah Kelana itu memuja semangat Jepang yang fasistis.
Berbeda dari Sanusi, kaum intelijensia Indonesia yang hidup dalam dasawarsa 1970 dan 1980 punya acuan lain.

Inilah masa ketika Soedjatmoko, yang agaknya terpengaruh oleh Schumacher, dan Schumacher yang terpengaruh oleh Buddhisme, berbicara tentang perlunya ”teknologi madya”. Ini juga masa ketika Arief Budiman mengedepankan ”teori dependenzia” yang mengecam ”ketergantungan” Dunia Ketiga kepada modal. Ini juga masa ketika Rendra mementaskan Mastodon dan Burung Kondor serta Perjuangan Suku Naga, yang mengkritik ”pembangunanisme” kekuasaan ”Orde Baru”.

Tampak ada perubahan yang tajam dari seruan ”modernisasi” dan ”melawan alam” yang ditulisnya pada akhir 1960-an. Saya tak tahu, adakah perubahan itu mendasar sifatnya dan akan menetap. Dunia sedang bergeser lagi. Semangat ”teknologi madya” yang merupakan ”Gandhisme baru” tampaknya tak bergema lagi, mungkin karena dari ide itu tak ada jawaban bagaimana negeri-negeri miskin akan bertahan menghadapi negeri yang memakai teknologi tinggi. Teori ”dependenzia” sudah ditinggalkan para teoretikusnya sendiri di Amerika Latin. Pembangunan sosialis model RRC zaman Mao digantikan pembangunan ala borjuis dengan gegap-gempita dan mencengangkan dunia.

Rendra belum menjawab pergeseran besar ini. Tapi ia telah memberi kita sebuah kearifan yang boleh dibilang inti dari ”firman modernisasi” yang sering dilupakan. Kearifan itu tersirat dari kata-katanya: ”Kreativitas saya adalah kreativitas orang yang bertanya pada kehidupan.”


message 32: by [deleted user] (new)

***

Puisi bukanlah sebuah pertanyaan, tapi puisi tak ingin menjebak kita dengan jawaban. Seorang penyair akan merasakan gundah ketika orang ramai menuntutnya jadi pemberi fatwa.

Rendra—di pentas selalu karismatis, suaranya memukau—akan dengan gampang berada dalam status itu: seorang penyair yang jadi intelektual publik karena keadaan yang tertekan memaksanya demikian, dan seorang intelektual publik yang kata-katanya berubah jadi khotbah karena orang ramai—dengan dorongan tersendiri— mendesaknya.

Saya kira ada kegundahan itu dalam Khotbah, salah satu sajak yang akan kekal dalam sejarah kesusastraan mana pun.

Fantastis.
Di satu Minggu siang yang panas
di gereja yang penuh orangnya
seorang padri muda berdiri di mimbar.
Wajahnya molek dan suci
matanya manis seperti mata kelinci
dan ia mengangkat kedua tangannya
yang bersih halus bagai leli
lalu berkata:
”Sekarang kita bubaran
Hari ini khotbah tak ada”.


Tapi orang-orang tak beranjak. Mereka tetap berdesak-desakan. Mata mereka menatap bertanya-tanya. Mereka ingin benar mendengar. Mereka pun berdesah, barbareng, dengan suara aneh. Padri itu menyaksikan semua itu dengan cemas:

”Lihatlah aku masih muda.
Biarkan aku menjaga sukmaku.
Silakan bubar.
Ijinkan aku memuliakan kesucian.
Aku akan kembali ke biara
Merenungkan keindahan Ilahi.”


Tapi orang banyak itu tak membiarkannya. Mereka tak mau bubar. Mereka akhirnya mendesak, dan dalam sebuah orgi yang buas dan bernafsu, memperkosa sang padri, mencincang dagingnya, memakannya, dalam suara gemuruh, ”cha-cha-cha, cha-cha-cha…”

Fantastis.

Jakarta, 8 Agustus 2009


message 33: by Nanto (new)

Nanto (nantosriyanto) | 712 comments itu tulisan yang dikembangkan dari essay ultahnya rendra yang ke 70 yah?

linknya ada di sini: http://www.sastra-indonesia.com/2009/...


message 34: by [deleted user] (new)

sepertinya sih iya, ga mungkin nulis dari nol dg deadline semepet itu


message 35: by Nanny (new)

Nanny SA | 1353 comments RENUNGAN UNTUK KITA

KARYA : W.S. Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika orang memuji milikku, bahwa
Sesunggungnya ini hanya titipan,
Bahwa mobilku hanya titipan Nya,
Bahwa rumahku hanya titipan Nya,
Bahwa hartaku hanya titipan Nya,
Bahwa putraku hanya titipan Nya.

Tetapi mengapa aku tak pernah bertanya,
Mengapa Dia menitipkan padaku ?

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini ?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat ketika titipan itu diminta kembali oleh Nya ?

ketika diminta kemBali kusebut itu sebagai musibah
Kusebut sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka, Kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdo’a, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
Aku ingin lebih banyak harta,
Ingin lebih banyak mobil,
Lebih banyak rumah,
Lebih banyak popularitas,
Dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan.
Seolah semua ”derita” adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika
Aku rajin beribadah, maka selayaknya derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta dia membalas ”perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNYa
Yang tak sesuai denganku.

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk Beribadah.......

”Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"



message 36: by gieb (last edited Aug 10, 2009 10:59PM) (new)

gieb | 743 comments Willy
-Iwan Fals

Si anjing liar dari Jogjakarta
Apa kabarmu?
Kurindu gonggongmu
Yang keras hantam cadas

Si kuda binal dari Jogjakarta
Sehatkah dirimu?
Kurindu ringkikmu
Yang genit memaki onar

Di mana kini kau berada?
Tetapkah nyaring suaramu?

Si mata elang dari Jogjakarta
Resahkah kamu?
Kurindu sorot matamu
Yang tajam belah malam

Di mana runcing kokoh paruhmu?
Tetapkah angkuhmu hadang keruh?

Masih sukakah kau mendengar?
Dengus nafas saudara kita yang terkapar
Masih sukakah kau melihat?
Butir keringat kaum (orang) kecil yang terjerat
Oleh slogan slogan manis sang hati laknat
Oleh janji janji muluk tanpa bukti

Di mana kini kau berada?
Tetapkah nyaring suaramu?
Di mana runcing kokoh paruhmu?
Tetapkah angkuhmu hadang keruh?




message 37: by Wirotomo (last edited Aug 11, 2009 07:15AM) (new)

Wirotomo Nofamilyname | 2396 comments @ Mbak Nanny (#50):
Seorang teman mengconfirm bahwa sajak itu bukan karya Rendra. Cuma ada seseorang yang memforward e-mail puisi itu dan melakukan kesalahan dengan menghilangkan nama sang pengarang (Pranoto) dan mengganti judulnya, dan memunculkan nama WS Rendra sebagai pengarangnya, yang sebenarnya hanya dikutip potongan karyanya (kalimat paling terakhir).



Ini kutipan aslinya:


Titipan

Sering kali aku berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,

bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan pada ku ?.
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?.
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini ?.
Adakah aku memiliki hak atas sesuat yang bukan milikku ?.
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh Nya ?.

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita !

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak
popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih.
kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak
sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk
beribadah...

salam, pranoto

"ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja" ( WS Rendra).



message 38: by Aveline (new)

Aveline Agrippina (agripzzz) | 269 comments Raga boleh lepas, tapi jiwa... Dia terselip dalam setiap sajaknya


gonk bukan pahlawan berwajah tampan (gonk) | 287 comments Rendra, Ilmu Silat, Ilmu Surat

Di dalam ilmu silat tidak ada juara nomor dua, di dalam ilmu surat tidak ada juara nomor satu,” begitu kata WS Rendra saat menerima Hadiah Seni dari Akademi Jakarta pada 22 Agustus 1975.

Kalimat itu bagai meringkas sekaligus menujumkan apa yang dilakukannya dalam kebudayaan. Ilmu silat merujuk kepada persaingan kekuatan dan keunggulan; segala petarung lain harus disingkirkan untuk menghasilkan satu pemenang. Ilmu surat sebaliknya berhubung dengan perbedaan- perbedaan dalam pandangan tentang masyarakat dan kebudayaan. Di dalam persaingan kekuatan ada kalah- menang, tetapi di dalam perbedaan selera dan sudut pandang, dua atau tiga pendapat bisa sama-sama diterima.

Ditempatkan dalam konteks yang lebih makro, ilmu silat merujuk kepada persaingan kekuatan dalam politik, dan ilmu surat adalah metafor untuk berbagai nuansa dalam estetik. Siapa yang sempat mengikuti sajak-sajak Rendra, atau menonton pertunjukan teaternya, tak bisa mengelak kesan bahwa sebagai penyair, perhatiannya terhadap masalah kekuasaan mungkin lebih luas dari para politisi, dan keterlibatannya dalam masalah kemasyarakatan mungkin lebih intens dari para ahli ilmu sosial.

Dia menulis tentang mazmur yang dinyanyikan bunga mawar, tetapi juga amat pandai melukiskan pesan pencopet kepada pacarnya, atau perasaan seorang serdadu yang berdoa sebelum bertempur dan membunuh. Dia merekam semua pengalaman hidupnya dalam sajak: surat cinta dan lamaran nikah, doa malam dan doa pagi, cerita tentang mertua kepada ibunda, undangan kawin, pengamatan tentang Jakarta, kesan tentang Hongkong, Pyongyang, dan Moskwa, atau kota-kota lain di dunia yang sempat dikunjunginya, dan pembelaannya yang berani terhadap para pelacur kota Jakarta.

Berulang kali dia berbicara tentang kesadaran alam dan kesadaran kebudayaan. Alam tidak diciptakan manusia dan, karena itu, terhadap alam orang hanya dapat menyesuaikan diri dengan tangkas atau kikuk.

Namun, kebudayaan dan susunan masyarakat dibuat oleh manusia sendiri dan, karena itu, selalu bisa berubah dan dapat diubah. Estetik merupakan kebajikan Rendra dalam berhadapan dengan alam, yang akhirnya menjelma dalam lirik.

Tentu saja pembagian ini terlihat sebagai dikotomi, tetapi dalam praktiknya selalu berlangsung dialektik yang serba intens di antara keduanya. Sungai Ciliwung dilihatnya sebagai ”teman segala orang miskin/timbunan rindu yang terperam” (sajak ”Ciliwung yang manis”). Demikian pun di Sungai Musi ditemukannya ”air yang coklat mengalir lambat bagai mengangkat derita yang sarat” (sajak ”Sungai Musi”). Pada Rendra alam dan masyarakat, lirik dan politik saling menjadi penanda satu sama lain. Dalam ”Sajak Orang Kepanasan” yang garang, kita menemukan kuplet penutup yang sepenuhnya diangkat dari alam ”Karena kami arus kali/dan kamu batu tanpa hati/maka air akan mengikis batu”. Pada sebuah perayaan hari kemerdekaan pada 17 Agustus, para pejabat berpidato dan bendera berkibar di seantero kota, sementara seorang anak yang gemetar karena influenza tidur melengkung dalam keranjang bawang dan bertanya ”apaan sih itu merdeka?” Penyair kita lalu memberi catatan ”ya, apakah artinya sebuah kata yang ditulis di atas pasir?/apalah artinya undang-undang yang dicetak di atas air?” (sajak ”Ketika Udara Bising”).

Pada Rendra kita menemukan sebuah jalan keluar dari dilema estetik yang diajukan oleh para pemikir dari Mazhab Frankfurt: apakah estetik harus menjadi ekspresi dari konflik yang dialami orang-orang yang tak mendapat tempat dalam masyarakat yang mengambil jalan kapitalis, ataukah estetik menjadi tempat pelarian terakhir untuk mereka yang kalah bersaing? Dengan sajak-sajak dan teaternya, Rendra memberi jawaban tegas: estetik tak bisa membenarkan penyairnya melarikan diri dari politik, dan lirik tidak mengharamkan penyair menyampaikan kritiknya. Sajak dan puisi bukan sekadar tempat untuk menyendiri dan mencari sunyi, tetapi dapat (dan kadang harus) dilibatkan dalam perjuangan untuk memperbaiki keadaan masyarakat.

Meski demikian, Rendra menempuh jalan yang lain daripada yang pernah dirintis oleh para seniman Lekra. Politik baginya bukan panglima, tetapi adalah tugas. Seni baginya bukanlah suatu daerah istimewa dengan otonomi khusus yang tak terjangkau oleh sektor kehidupan lain. Seni adalah pekerjaan yang tidak banyak bedanya dengan bertani, bekerja di kantor, atau menjalankan perdagangan. Persoalan yang perlu diperhatikan hanyalah bahwa puisi bukanlah pidato dengan kata-kata indah dan teater bukanlah rally politik. Rendra melakukan percobaan yang penuh risiko: menulis puisi pembangunan tentang siswa sekolah menengah yang hilang akal menghadapi seonggok jagung di kamarnya, karena pikirannya terikat pada buku, dan impiannya mandek pada sepeda motor kawannya. Dalam ”Sajak Sebotol Bir” dia berkata dengan geram ”hiburan kota besar dalam semalam,/sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa!/Peradaban apakah yang kita pertahankan?”.




gonk bukan pahlawan berwajah tampan (gonk) | 287 comments Penyair dan khususnya Rendra melihat dirinya dalam tiga dimensi utama. Pertama, dia berada dalam persoalan yang muncul dari posisi dan penghadapannya terhadap alam. Maka, lahirlah tema-tema seperti hari ini dan esok, makna atau tanpa makna, kekuatan dan kedaifan, kesepian dan kegembiraan, hidup dan maut. Kedua, dia melihat dirinya berhadapan dengan masyarakatnya dengan segala ketegangan dalam hubungan itu: kemerdekaan dan penindasan, keadilan dan eksploitasi, kejujuran dan pengkhianatan, kebaikan dan kejahatan. Ketiga, dia melihat dirinya dalam berhadapan dengan dirinya sendiri dan menghadapi soal-soal seperti otentisitas atau kepalsuan, moralitas atau anarki, harapan atau absurditas, penerimaan atau penolakan.

Dalam berhadapan dengan alam, lahir kegelisahan metafisik yang membawa penyair kepada lirik, yang menerjemahkan gerak-gerik manusia menjadi gerak-gerik alam, dan menjadi saat gerak-gerak lahiriah bermetaformosa menjadi gerak-gerik batin. Dalam ”Doa Orang Lapar” Rendra berkata: ”O Allah,/Kelaparan adalah burung gagak/jutaan burung gagak/bagai awan yang hitam/menghalang pandangku/ke sorgaMu!” Dalam hubungan dengan masyarakat lahir kegelisahan politis, yang membawa penyair kepada dramatik, yang mengintensifkan gerak-gerik batin menjadi tingkah laku lahiriah dalam ukuran dan proporsi yang dilebih-lebihkan: ”Tanganku mengepal/ketika terbuka menjadi cakar/aku meraih ke arah delapan penjuru” (sajak ”Tangan”). Sedangkan dalam berhadapan dengan dirinya, lahir kegelisahan eksistensial yang dapat diungkapkan secara liris maupun secara dramatis. Dalam sajak ”Bumi Hangus” Rendra berkata: ”Di bumi yang hangus hati selalu bertanya/apa lagi kita punya? Berapakah harga cinta?/Di bumi yang hangus hati selalu bertanya/kita harus pergi ke mana, di mana rumah kita?/Di bumi yang hangus hati selalu bertanya/bimbang kalbu oleh cedera/Di bumi yang hangus hati selalu bertanya/hari ini maut giliran siapa?”

Ada satu fasilitas yang dipunyai Rendra dalam ukuran yang berlimpah-limpah, yakni kemampuan yang spontan untuk menciptakan citra-citra yang kaya dan orisinal. Membaca sajaknya selalu berarti menghadapi citra atau pengertian yang dilukiskan dalam citra yang amat dekat dengan pancaindra kita. Rendra tak pernah menuliskan sajak yang gelap, jauh dari kecenderungan untuk memakai kata-kata abstrak yang tanpa warna, bunyi, atau bau hutan. Apa pun yang ditulisnya (bahkan dalam esai-esainya yang memikat) selalu menyebabkan pembaca membayangkan suatu gambaran yang konkret yang menyentuh pengalaman.

Kesanggupan ini rupanya dimungkinkan oleh kedekatan Rendra dengan alam dan pertumbuhan kepenyairannya yang membuatnya lebih awal mengembangkan kesadaran alam sebelum berpindah ke kesadaran kebudayaan atau kesadaran politik. Hidup dan mati bagaikan melaksanakan amanat penyair Goethe: semua idealmu tak dapat menghalangiku, menemukan jati diriku, baik dan buruk seperti alam. Apa yang dikatakannya tentang ibunya dapat diterapkan pada hidup itu sendiri. Berkata: ”Kuciumi wajahmu wangi kopi/dan juga kuinjak sambil pergi/karena wajah bunda adalah bumi/cinta dan korban tak bisa dibagi”. Dan kini, hidup dan mati tak bisa dibagi.

Ignas Kleden Pembaca Sastra
sumber : kompas.com


message 41: by Nanny (new)

Nanny SA | 1353 comments Wirotomo wrote: "@ Mbak Nanny (#50):
Seorang teman mengconfirm bahwa sajak itu bukan karya Rendra. Cuma ada seseorang yang memforward e-mail puisi itu dan melakukan kesalahan dengan menghilangkan nama sang pengaran..."


o gitu ya, sorry.. !

* untung ada Tomo, mksi ya :D


message 42: by [deleted user] (new)

tomopedia saves the day once again!


message 43: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 1361 comments sepakat ama mas Ronny! :-) tomopedia emang top-markotop!


message 44: by miaaa, Moderator (new)

miaaa | 2354 comments Mod
Ronny wrote: "tomopedia saves the day once again!"

berarti sekarang gri punya dua wikipedia berjalan yah, tomo dan nanto hahahaha


message 45: by gieb (new)

gieb | 743 comments pertanyaannya adalah, siapakah pranoto?


message 46: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 1361 comments nah monggo kepada Tomopedia..bisa dijelaskan siapa pranoto ini, mas Tom?


message 47: by Wirotomo (new)

Wirotomo Nofamilyname | 2396 comments Oh Pranoto itu bukan pengarang ngetop kok.
Jadi ceritanya begini, aku dapet e-mail dari temanku yang berisi puisi ini yg katanya dari temannya sesama angggota milis tasawuf (maksudnya ya Pak Pranoto ini). Nah puisi nya ya seperti yang aku kutipkan di atas.

Jadi Pak Pranoto ini temannya dia di milis tasawuf dan milis Thoriqoh Shiddiqiyah, yang sering menulis untuk teman2nya di milis tsb tapi tidak pernah dipublikasikan.

Waktu Pak Pranoto ditanya oleh teman2nya mengenai kesalahan tentang hasil karyanya yang sering diatributkan sebagai karya Rendra di berbagai milis dan e-mail, dia cuma bilang bahwa yang penting adalah anak panah sampai dan tepat mengenai sasaran, tidak penting lewat mana panah itu berjalan dan siapa yg menarik busurnya.
Cukup bijak ya. Jadi memang sebenarnya nggak perlu diributin lagi sih masalah ini. :-)

Tapi aku sebenarnya menginformasikan hanya demi keakuratan data saja. Karena Rendra kan sastrawan ngetop, jadi harus tepat mana yg karyanya dia, mana yg bukan. Karena karyanya dia akan sering diapresiasi. Jangan sampai ada kesalahan.
Begitu.....


message 48: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 1361 comments wah trimakasih, mas Tom, atas inponya yg mencerahkan:-p
tapi saya juga sempat beberapa kali terima imel dari sebuah milis yang isinya adalah karya puisi seseorang bernama Pranoto juga. apakah ini Pranoto yg sama? entahlah..:-) biarkan yang misteri tetap misteri..siapa tau bisa jadi ide cerita buat sinetron/pelem misteri:-p


message 49: by Pra (new)

Pra  (vlatonovic) | 1185 comments sepertinya ada yang panggil nama saya???


ternyata hanya nama yang sama.

*balik kanan*


message 50: by Nanny (last edited Aug 10, 2011 05:19AM) (new)

Nanny SA | 1353 comments @Tomo msg 54
akhir2 ini sy sering mendapat/ melihat lagi puisi ini di email/milis/FB, malah ada yang berkata ini puisi terakhir Rendra. jadi ingat pencerahan di msg 54 & 64.
Bolehkah minta ijin share sm orang lain penjelasan dari Tomo ini ?


« previous 1
back to top