Goodreads Indonesia discussion

357 views
Buku & Membaca > Mengais Realitas dalam Novel Sejarah

Comments Showing 1-18 of 18 (18 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 712 comments Saya pembaca buku sejarah dan fiksi sejarah. Kebetulan bulan Agustus nanti rencana salah satu buku yang dibahas adalah novel dengan latar sejarah yang kuat (Burung-burung Manyar, Para Priyayi). Selain itu, kebetulan kemaren saya baru mendapatkan buku hasil berburu dari Bung Aldo, ranger nomer wahid di GRI. Bukunya Pak Bambang Purwanto yang berjudul Gagalnya Historiografi Indonesia itu juga sedikit menyinggung soal fakta dalam novel sejarah dan fiksi dalam sejarah. Dari polarisasi dua hal itu, saya kebetulan menemukan artikel di bawah ini.

Dengan judul seperti thread yang saya buat, semoga bisa jadi pengantar, awal diskusi, atau apalah, wong saya mbacanya rada mblinger juga. :D


message 2: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 712 comments Mengais Realitas dalam Novel Sejarah

Oleh Misbahus Surur

Dewasa ini, begitu banyak novel bertemakan sejarah. Novel tersebut tidak sulit kita dapatkan di deretan rak toko buku. Antara lain, novel serial Gajah Mada oleh Langit Kresna Hariadi (LKH), lima jilid yang tebalnya lumayan menguras pikiran. Lalu sebuah novel tentang sejarah kehidupan kongsi dagang zaman Hindia Belanda, VOC, berjudul Rahasia Meede; Misteri Harta Karun VOC, yang ditulis E.S. Ito. Tak ketinggalan novel Diponegoro-nya Remy Sylado, salah satu pengarang yang dikenal setia menekuni genre sejarah, yang sebelumnya sukses dengan duo novel berlatar belakang sejarah, Ca Bau Kan dan Parisj van Java.

Ramainya pasar novel sejarah tersebut, kita harapkan juga meramaikan wacana perbukuan di dalam negeri, khususnya dunia kesusastraan yang masih mengalami kelesuan kritik. Meskipun kenyataannya, novel bergenre sejarah bukan lagi barang baru dalam sejarah novel Indonesia. Kembalinya novel berlatar belakang sejarah ini, tak ayal akan memancing persoalan lama, tentang keafdolan sejarah yang menempel pada sastra: mungkinkah sastra sejarah menjadi rujukan sejarah?

Pada mulanya sastra memang terkait erat dengan masalah kreativitas dan intens dengan wilayah imajiner. Akan tetapi, pada era belakangan, dengan hadirnya metode-metode baru dalam menelaah karya sastra, ternyata dokumen (karya) sastra dapat dijadikan sumber sejarah (buku teks sejarah). Sebagaimana kata Asvi Warman Adam, sejarawan LIPI, kurang tepat bila mengatakan sastra tidak dapat dijadikan sumber sejarah. Dengan alasan, zaman sekarang sebagian orang tidak lagi memandang sastra sebagai kajian estetika secara otonom. Novel genre ini telah menakdirkan sejarah sebagai objeknya, bahkan telah memasrahkan diri untuk berenang pada serakan-serakan sejarah yang sering disembunyikan oleh rentang waktu. Peran baru karya sastra ini masih dipertentangkan, karena walaupun bisa dijadikan sumber sejarah, pada sisi lain karya sastra tetap tidak lepas dari substansinya yang imajinatif sekaligus fiktif.

Menurut Kuntowijoyo, begawan ilmu sejarah yang juga seorang maestro kesusastraan (Pengantar Ilmu Sejarah, 1995), sejarah itu berbeda dengan sastra dalam hal: cara kerja, kebenaran, hasil keseluruhan, dan kesimpulan. Sastra adalah pekerjaan imajinasi, kebenaran di tangan pengarang, dengan perkataan lain bersifat subjektif. Sastra bisa berakhir dengan pertanyaan, sedang sejarah harus memberikan informasi selengkap-lengkapnya. Masih menyoal perbedaannya, menurut Kuntowijoyo, bahasa sejarah adalah bahasa yang sederhana dan langsung, persis seperti dalam bahasa sastra modern. Tidak ada bahasa yang berbunga-bunga. Tidak ada "rambutnya bak mayang mengurai", juga tidak "hutan itu selebat jenggot orang Arab" dan seterusnya.

Bahasa sejarah adalah bahasa sehari-hari. Kalau sejarah melukiskan para gerilyawan minum air, sejarah tidak akan bilang bahwa mereka minum H2O. Dalam pengantar buku Telaah Sastra (2002), Zainuddin Fananie berpendapat dengan keluarnya sastra dari kreativitas imajiner ke wilayah sejarah, maka sastra secara tidak langsung bisa diletakkan sebagai dokumen sejarah atau dokumen sosial yang kaya dengan visi dan tata nilai suatu masyarakat. Dengan begitu, kajian sastra tidak hanya mengulas persoalan sastra saja, melainkan dapat dikembangkan pada telaah-telaah lain yang bersifat multi dan interdisipliner. Penelitian yang memasuki kawasan ini harus punya cukup bekal. Di samping menguasai teori dan metode, peneliti juga harus mumpuni pada bidang yang lain, semisal psikologi, politik, sosiologi, dan sejarah itu sendiri.


message 3: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 712 comments lanjutan 2

Bicara sastra di satu sisi dan sejarah pada sisi lain, mengingatkan kita pada kasus sastra realis, terutama realisme-sosial yang diusung Pramoedya Ananta Toer. Para kritikus sastra pada taraf mula Indonesia, seperti H.B. Jassin, Arief Budiman, Goenawan Mohamad dkk, menyuarakan genre realisme-sosial yang mewarnai karya-karya Pram sebagai karya yang tidak memenuhi ketentuan seni dan sastra. Ini, karena realisme sosial yang tanpa tedeng aling-aling memotret objek, seperti adanya. Kejujuran penulis realisme untuk menggambarkan setiap detail objek tanpa melibatkan perasaan, pikiran, atau keinginannya ke dalam objek yang digambarkan, membuat sastra realisme kena tuduh kehilangan watak khas sastra yang selalu dikelilingi oleh selubung keindahan. Pram bersikeras bahwa keindahan sastra itu bukan dalam mengutak-atik bahasa, tetapi terletak pada kemanusiaan. Artinya perjuangan untuk pengabdian pada kemanusiaan. Bahkan semakin dekatnya sastra realisme sosial dengan realitas, berbuntut polemik panjang di eranya.

Terlepas dari kasus realisme, harus diakui, sastra memang tak pernah jauh berkutat dengan fiksi. Tetapi kita juga tidak bisa menampik, apa yang diolah dan dihasilkan sastra merupakan bentuk peniruan terhadap realita (berangkat dari kenyataan sehari-hari). Dalam hal inilah sastra dikatakan sebagai memesis alam nyata. Seorang pengarang mengolah karya sastra dari apa yang dialami dan dilihatnya. Plato dalam bukunya Republik, yang membicarakan dunia ide, berpendapat, bahwa karya sastra tidak akan sama dengan dunia ide, karena sifatnya meniru. Tiruan sendiri sejatinya tidak akan pernah sama dengan apa yang ditiru (dunia realita). Dalam hal ini Plato membagi realita menjadi tiga tingkatan. Yakni dunia ide, lalu apa yang kita jalani ini (kehidupan sehari-hari), dan tingkatan tiruan (memesis), yang diolah apik oleh ranah kesusastraan. Tingkatan kedua dan ketiga tidak pernah ideal. Karena kebenaran tertinggi menurut Plato hanya ada pada yang ideal (dunia ide).

Karya sastra di satu sisi dibangun atas dasar fakta-fakta yang berkelebat dalam diri pengarang, dan menampilkannya ke permukaan sebagai sebuah fiksi. Pada sisi lain sejarah terkadang menyembunyikan kebenarannya. Dan anehnya banyak yang hanya berani menampilkannya lewat dunia fiksi. Hakikat sejarah pada umumnya adalah kenyataan, tetapi justru kenyataan itulah kadang yang sering dimanipulasi hingga menimbulkan berbagai versi dan terlihat kontroversi. Akhirnya, sejarah akan tergiring dalam ranah subjektif sebagai sebuah kenyataan objektif.

Dalam sastra, teks dan maknanya menjadi otoritas pengarang sepenuhnya. Berbeda dengan sejarah, data-data yang ditampilkan tidak dalam wilayah otoritas pengarang. Data-data sejarah bermula dari pertanyan-pertanyaan yang diajukan sejarawan. Walaupun sejarah berkutat dengan fakta, sejarah tak dapat mengelak dari tuntutan dan kebutuhannya akan corak/pencitraan sastra. Dalam hal ini Kuntowijoyo menyebut sejarah sebagai seni.

Sejarah pernah dianggap sebagai cabang sastra pada zaman romantik. Yakni pada akhir abad 18 dan permulaan abad 19. Penulisannya pun disesuaikan dengan menulis sastra, harus melibatkan emosi. Penulis sejarah dituntut pandai membuat pembaca sejarah seolah hadir dan merasakan sendiri berbagai peristiwa yang ia baca. Sejarah juga memerlukan imajinasi. Sejarawan yang meneliti sejarah harus dapat membayangkan apa sebenarnya, apa yang sedang terjadi, dan apa yang terjadi setelah itu. Ketika sejarawan ingin mempelajari sebuah perlawanan gerilya di hutan, misalnya, ia harus mampu mengimajinasikan tentang hutan, sungai, malam hari, dan seterusnya.


message 4: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 712 comments lanjutn 3


Dalam sejarah, tugas utama sejarawan bukanlah menghafal fakta-fakta di luar kepala saja, akan tetapi yang lebih utama adalah merekonstruksi fakta-fakta sejarah. Untuk itulah akurasi (ketepatan) dan objektivitas adalah dua hal yang harus dipenuhi dalam penulisan sejarah. Cara pengungkapan sejarah yang terbilang apresiatif melalui data-data empiris dan tulisan (narasi) tak berbeda jauh dari pengungkapan karya sastra. Cuma yang dikhawatirkan jika sejarah terlalu dekat dengan seni maka sejarah akan kehilangan keakuratan dan keobjektivitasannya. Menampilkan fakta sejarah dalam kemasan fiksi bukanlah untuk menunjukkan bahwa sejarah yang selama ini kita pahami adalah palsu. Hal tersebut dimunculkan dengan tujuan menawarkan berbagai kemungkinan. Yang dengan itu pula dapat mengganggu kemapanan fakta sejarah yang selama ini ada dan mapan dalam pikiran kita. Dunia yang tertutup oleh akurasi data diobrak-abrik oleh warta kemungkinan-kemungkinan. Layaknya kerja dekonstruksi yang mencurigai adanya berbagai kemungkinan di balik bercokolnya teks otoritatif, dengan menawarkan pembacan ganda terhadap kemapanan logosentrisme.

Terlepas dari polemik di atas, yang bisa menjadi catatan, kita tetap percaya ada kejernihan di balik terjadinya polemik. Ketika karya sastra dapat dijadikan sebagai rujukan sejarah, dengan begitu maka sastra telah membuktikan dirinya sebagai ilmu yang bukan hanya bicara persoalan kreativitas dan rentetan imajinasi, tetapi dapat pula berfungsi sebagai dokumen sejarah. Dari sini, ilmu sastra akhirnya dapat menembus kungkungan kodratnya sebagai ilmu yang mengikat. Di samping sastra sendiri memang tidak pernah lepas dari masalah kemanusiaan yang diolahnya (sastra menjadi satu-satunya kajian yang elegan dalam mengungkap sisi lain diri manusia). Begitu pula kita harus mengusahakan membaca buku sejarah layaknya membaca novel, mengalir dan mudah untuk mencerna. Hal tersebut bisa terwujud dengan menciptakan alur dalam sejarah layaknya yang ada dalam novel, yaitu dengan membaginya dalam tiga tahap: pengenalan, krisis dan solusi. Maka, tak pelak novel sejarah sangat mungkin menjadi salah satu jalan untuk mendalami sejarah. Karena penceritaan dengan latar belakang sejarah, sejauh ini dapat membuat pembaca seakan-akan hidup di zaman sejarah tersebut. Bahkan novel yang dibawakan akan lebih nyaring bila penulisnya adalah pelaku ataupun saksi sejarah itu sendiri.

Konon, novel-novel Pram sangat kental dengan nuansa perjuangan (sejarah), bahkan dengan sangat baik dan berhasil menghipnotis pembacanya, terutama dari kalangan kaum muda (baca: mahasiswa), dikarenakan ia sendiri adalah pelaku sekaligus saksi sejarah yang ia tulis. Mungkin seribu penulis novel sejarah sekarang tak ada yang bisa menandingi cara bertutur Pram.

Terakhir, saat ini ternyata banyak sekali sejarah yang belum ditulis. Salah satu penyebabnya mungkin kentalnya budaya lisan masyarakat. Jika sejarah adalah kenyataan itu sendiri, maka perjalanan hidup kita hari ini dan juga negeri ini harus bisa sampai pada anak cucu kita kelak, meskipun melalui novel. Sejarah seringkali diingkari bahkan dilupakan oleh bangsa ini. Sebab minimnya greget membaca atau dengan alasan yang lain. Sejarah juga amat sering direkayasa, dibelokkan dari relnya demi kepentingan politik semata. Dengan hadirnya novel-novel bermuatan sejarah, kita baru tersadar, betapa sejarah sangat penting untuk menakar arus balik atau maju mundur kehidupan ini. (*)
*) Misbahus Surur, penggiat dunia sastra, tinggal di Malang

Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi 30 Maret 2008

(Sumber: http://esaibuku.blogspot.com/2008/03/...)



message 5: by Indri (new)

Indri Juwono (indrijuwono) | 2862 comments WAh, saya suka sekali dengan thrread ini, karena saya pencinta genre fiksi sejarah. Kenapakenapa? Karena saya dulu tidak suka pelajaran sejarah (dah dibahas ah di thread laen), tapi karena saya pencinta buku, untuk melengkapi pengetahuan saya yang bolong2, maka saya membaca fiksi sejarah, dimana pelakunya adalah tokoh fiktif, sedangkan settingnya benar-benar masa bersejarah.
Salah juga ya sebenarnya, karena seharusnyapun dicross check ke buku2 literatur beneran karena mungkin ada beberapa kejadian yang diversikan berbeda2, kalau memang niat saya untuk menambah pengetahuan.
Jadi ingat ES Ito vs JJ Rizal waktu Jelajah Rahasia Meede, banyak banget sanggahan Rizal terhadap setting yang diungkapkan Ito.
Saya belum membaca karyanya Pram 2x (baca Tetralogi sekali cukup melelahkan), namun karyanya memberikan banyak pandangan bagi saya tentang masa2 yang luput dari pengamatan kurikulum sejarah untuk disampaikan pada muridnya.


 Δx Δp ≥ ½ ħ  (tivarepusoinegnimunamuhsunegiuq) | 2983 comments waduw... sai kemaren2 nemu buku " Gagalnya Historiografi Indonesia".. kirain gak rame.... wakkk... lupa dimana... T,T

*maap OOT :P*
silakan lanjut :)


message 7: by Pra (new)

Pra  (vlatonovic) | 1185 comments Saya suka dengan sumber korannya.

he...he...he....


gonk bukan pahlawan berwajah tampan (gonk) | 287 comments menarik...
Wonokromo Surabaya era 1920-an yang digambarkan PAT bahkan seperti sejarah tertulis.

sejarah lisan/oral history....kayaknya masih baru ya..untuk dibahas di negeri kita. Ada contoh buku2nya tak?




message 9: by [deleted user] (new)

ini contoh sejarah lisan 1965:
http://www.goodreads.com/book/show/19...


gonk bukan pahlawan berwajah tampan (gonk) | 287 comments buku 'Tahun yang Tak Pernah Berakhir' dimaksud sam Ronny di msg #9, versi e-book nya dapat diunduh href="http://sejarahsosial.googlepages.com/... sini


message 12: by Pandasurya (new)

Pandasurya | 1361 comments

Dalam sejarah, tugas utama sejarawan bukanlah menghafal fakta-fakta di luar kepala saja, akan tetapi yang lebih utama adalah merekonstruksi fakta-fakta sejarah. Untuk itulah akurasi (ketepatan) dan objektivitas adalah dua hal yang harus dipenuhi dalam penulisan sejarah...

Konon, novel-novel Pram sangat kental dengan nuansa perjuangan (sejarah), bahkan dengan sangat baik dan berhasil menghipnotis pembacanya, terutama dari kalangan kaum muda (baca: mahasiswa), dikarenakan ia sendiri adalah pelaku sekaligus saksi sejarah yang ia tulis. Mungkin seribu penulis novel sejarah sekarang tak ada yang bisa menandingi cara bertutur Pram.


postingan yg bagus sekali, trimakasih cak Nanto:-)

pastinya saya selalu salut dan makin salut dgn Pram yg menulis Tetralogi, Arus Balik, Arok Dedes, Mata Pusaran, Nyanyi Sunyi di pengasingan pulau Buru tanpa membawa dokumentasi yg memadai dan hanya mengandalkan ingatan..luar biasaa..the one and only-lah..:-)

saya bahkan sempat membayangkan: kenapa tidak semua sejarah itu ditulis dgn gaya bertutur seperti Pram?
pastinya sejarah akan lebih mudah dan enak dinikmati banyak orang:-)



message 13: by Indri (new)

Indri Juwono (indrijuwono) | 2862 comments Aku baca Tetralogi Tariq Ali yang aku pikir adalah sejarah. Pertama karena baca The Book of Saladin A Novel tentang perang salib, dengan penceritaan yang dramatis, dan tokoh-tokoh di dalamnya dengan romansa cinta sedikit.
Kedua aku baca A Sultan in Palermotentang Islam di Sisilia jaman raja Roger II, dan kisah2 pada masa itu, termasuk hukuman untuk Phillip, salah satu orang kepercayaan raja. Buku ini juga banyak cerita cintanya tentang si tokoh utama, sang pembuat peta yang jatuh cinta pada selir raja, namun juga banyak dialog2 soal negara di masa itu.
Buku ketiga yang aku baca The Stone Woman tentang saat2 keruntuhan Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) di Turki, sebenarnya bagus, kalau tidak terlalu banyak kisah cintanya. Jadi kesannya sejarah hanya tempelan belaka.
Nah, yang sedang aku baca ini, Shadows of the Pomegranate Tree mulai dengan cerita di Cordoba, penghancuran budaya Islam dengan membakar naskah2 berbahasa arab atas perintah Ratu Issabella... belum bisa bahas.
Sebagian hal-hal berupa fakta bisa dijadikan acuan sejarah, namun kadang kala karena tokohnya sendiri adalah fiksi (pembuat peta, penasihat, pendukung raja) jadinya suka mengeblur atau terbawa dalam suasana novelnya itu sendiri (adegan cinta-cintaanya)
Buat pembaca sejarah banget, novel2 ini mungkin agak menyebalkan, karena sejarah hanya seperti tempelan saja, sebagai setting, sebagai sesuatu yang diamati si tokoh, karena keterlibatan si tokoh dalam sejarah mungkin tak nampak (karena dia tokoh fiktif).
Kalau untuk pembaca novel, buku ini cukup menghibur, dan dapat pengetahuan sejarah. Namun khawatir dengan pengetahuan sejarah yang cuma sedikit itu tanpa didukung fakta lain dari sumber terpercaya. Kalau memang tertarik dengan sejarahnya, memang bisa dicari referensi lain yang lebih akurat.


message 14: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 712 comments nambahin postingan ronny di msg. 9, buku itu ada e-booknya. main aja ke situsnya elsam yang ada di halaman buku itu ato ke sini http://sejarahsosial.googlepages.com/...

Buat Pandasurya, Pram memang menulis sebagian hanya mengandalkan ingatan. tp dia punya disiplin mengkliping yang sudah dia kembangkan sejak muda deh. jadinya ingatan dia juga berkembang dari kebiasaannya mengkomplasikan dll itu


message 15: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 712 comments oh iya. di bukun John Roos dkk yang disebut ronny yang menarik adalah argumen soal budaya amok.

dalam menjelaskan konflik dan pembantaian tahun 65-66 itu banyak ahli/sarjana merujuk pada teori budaya amuk orang jawa/Indonesia. Termasuk Geertz yang terkenal dengan pembagian priyayi, abangan, dan santri itu. Budaya amuk sendiri secara sederhana adalah kebiasaan memendam marah yang ledakannya akan sangat dahsyat.

tp dalam sejarah lisan yang diungkap buku itu, perananan unsur "ekstra" masyarakat setempat, sebut saja militer, sangat besar. sehingga ada pertanyaan benarkah budaya amuk itu yang menyebabkan sedemikian besar korbannya?


message 16: by ana (new)

ana (anaazusa) | 582 comments ah... tread ini saya jadikan untuk menulis essay tugas!

boleh kan???

keep posting! :P
*orang yang mau enaknya aja.


message 17: by Nura, Moderator (new)

Nura | 394 comments Mod
jadi malu ngaku anak sejarah niy... apalagi ngomongin historiografi hehehe... tapi soal fiksi sejarah yang pertama kali dibaca dulu itu Api di Bukit Menoreh punya SH Mintardja, meskipun nggantung endingnya (blm selesai ditulis jg klo ga salah) mungkin ada yang punya koleksi lengkap... bole pinjem ga? *usaha...*


message 18: by ana (new)

ana (anaazusa) | 582 comments setuju banget kalo sejarah diajarkan dengan bentuk sastra juga.
kayaknya sejarah indonesia kurang diminati, tetapi justru karya sastra jepang yang memuat sejarah jepang banyak banget peminatnya (bahkan ada yang fanatik)




back to top