Kastil Fantasi discussion

73 views
CerBul > [Lomba] CerBul KasFan (November '15)

Comments Showing 1-8 of 8 (8 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Magdalena Amanda, Momod Usil (last edited Nov 23, 2015 07:06PM) (new)

Magdalena Amanda | 2330 comments Mod
Astaganaga. Maafkan keterlambatan ini. :v

“Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi – Edisi November 2015”

Lomba CerBul diadakan sebagai ajang latihan, eksperimen, sekaligus unjuk kreativitas, bagi teman-teman yang suka menulis atau pengen juga coba-coba mulai menulis. Lomba ini diadakan setiap bulan, dengan tema yang berbeda-beda.
Lombanya santai-santai saja, tidak perlu saling jotos atau gigit-gigitan, meskipun lempar-melempar cabe masih diperbolehkan dan memberi masukan/saran untuk perkembangan teknik menulis tentunya sangat dianjurkan.

Dan sebagai pemanis, layaknya perlombaan pada umumnya, pemenang CerBul juga akan mendapatkan hadiah!

Aturan main umumnya:

(Biar gak keliatan terlalu wall of text saya masukin tag spoiler)

(view spoiler)

=====

Oke, kali ini soalnya adalah ...

Buatlah sebuah cerita yang berkaitan dengan CULTURE SHOCK .

Silakan ngobrol atau tanya lagi jika ada yang gak jelas di topik komentar.

Informasi terkait Penjurian Reguler oleh Momod, silakan dilihat di dalam tag spoiler.
(view spoiler)

Hadiah reguler Edisi Soal Moderator:

(1) Pemenang pertama edisi soal dari moderator berhak memilih 1 (satu) buku fiksi fantasi lokal atau terjemahan dari daftar buku currently reading grup.

Untuk CerBul edisi Juni, daftar currently reading yang termasuk ke dalam pilihan adalah currently reading bulan Oktober, November, dan Desember.

Daftar buku currently reading diganti setiap awal bulan dan dapat dilihat di halaman muka/group home (di bawah/setelah bagian keterangan grup).

(2) Pemenang kedua akan mendapatkan hadiah hiburan. ^^

Tidak ada penjurian oleh juri tamu untuk edisi ini.

Keterangan terkait juri tamu dapat dilihat di edisi-edisi sebelumnya.


Timeline lomba :

Posting Cerita: 24 November - 20 Desember 2015
Masa Penjurian: 20 - 29 Desember 2015
Pengumuman Pemenang: 30 Desember 2015


Mari menulis fantasi!
;)

PS.
Kami, para momod, mengundang siapa pun yang tertarik untuk mendonasikan hadiah atau mempromosikan karyanya dengan ikut men-sponsori pelaksanaan lomba CerBul atau berpartisipasi dengan men-"juri tamu". Silakan menghubungi/mengirim PM ke moderator.
Terima kasih! :D


message 2: by Magdalena Amanda, Momod Usil (last edited Dec 30, 2015 06:12AM) (new)


message 3: by Kenji (last edited Dec 26, 2015 12:44AM) (new)

Kenji Reifa | 34 comments Dunia Derita yang Menyenangkan

Apakah aku akan dapat merasakannya jika aku mati?

Dengan pakaian gothic dan sebuah parasol hitam, Cherish berdiri sendirian di balik pagar sebuah jembatan. Wajahnya putih dan kaku, seperti boneka yang terbuat dari salju – hanya saja tanpa senyuman. Dua sisi bibir Cherish terjahit ke masing-masing kulit pipinya. Ia tak ingin tersenyum. Senyum baginya adalah sebuah ironi kepalsuan. Ia tak pernah merasa benar-benar bahagia. Apalah arti kebahagiaan jika kau tak pernah tahu apa itu penderitaan.

Maskara meluntur di bawah dua kelopak matanya. Bukan karena air mata, namun karena Cherish sengaja membuat dirinya seolah tampak menangis.

Aku ingin menderita… bisiknya pelan.

Salju semakin menumpuk di atas parasol Cherish. Jemari yang menggenggam pagar jembatan terasa makin membeku. Cherish sengaja membiarkan jemarinya beku agar ia dapat merasakan sakit. Di pergelangan tangannya pun tampak banyak bekas sayatan pisau dan silet. Sang masochist sengaja membuat dirinya menderita. Namun dari semua penderitaan itu, tak ada satupun yang dapat memuaskan hasrat hatinya.

Udara dingin menusuk kulit dan langit menggelap oleh awan hitam. Perjalanan Cherish untuk mencari penderitaan mungkin akan berakhir sampai di sini. Di sebuah jembatan batu tua yang orang-orang namakan sebagai Jembatan Bahagia.

Cherish menatap sebuah jurang di bawah jembatan, jurang itu tampak seperti pintu masuk menuju dunia lain. Dunia yang mungkin akan lebih menyenangkan dari dunia tempatnya tinggal. Dunia kematian dimana ia dapat merasakan sebuah sensasi bernama penderitaan dan rasa sakit. Ah, memikirkannya saja sudah membuat hati Cherish berdegup kencang. Gadis itu pun segera menaiki pagar jembatan lalu menjatuhkan diri dalam keheningan malam.

***

Cherish terbangun di atas hamparan rumput hitam. Ia meraih parasolnya lalu berdiri. Apakah ia telah sampai di neraka? Cherish melihat ke sekelilingnya. Tidak, tempat ini tidak seperti neraka. Ia pun mendesah kecewa. Tempat ini lebih mirip dunia dongeng yang sering Cherish baca ketika ia masih kecil. Ketika ia masih dapat menikmati kebahagiaan dan kegembiraan. Tapi ada yang berbeda. Dunia dongeng ini terasa lebih seperti dirinya. Suram, gelap, dan sepertinya menyenangkan.

Tak jauh dari tempat Cherish terbangun, terdapat sebuah patung wajah gadis raksasa yang sedang menangis. Wajah itu terlihat familiar. Air matanya berwarna merah dan mengalir menjadi sebuah sungai. Karena haus, Cherish pun meraup air sungai itu dengan dua tangannya lalu meminumnya. Rasanya seperti campuran darah dan air mata. Rasa yang tidak asing, pikir Cherish.

“Hai nona!” panggil sebuah suara bernada tinggi dari arah belakang. Cherish berbalik dan melihat seekor kelinci hitam dengan setelan tuxedo.

“Tuan kelinci seperti di dongeng!” pupil mata Cherish membesar.

“Siapakah gerangan dirimu nona? Apakah kau penghuni dunia derita ini?” tanya tuan kelinci.

Tanpa menghiraukan pertanyaannya, Cherish segera melompat dan memeluk erat tubuh tuan kelinci, “Lucu sekali. Bolehkan aku mencekikmu hingga sekarat?” tanya Cherish. Sisi bibir terjahitnya sedikit terangkat.

Tuan Kelinci terlihat girang, “Betapa baik hatinya dirimu nona! Tentu saja! Dengan senang hati!”

“B.. bolehkah?!”

Lalu dengan sekuat tenaga, Cherish mencekik leher si kelinci hingga wajahnya membiru.

“Cu.. cukup… aku bisa mati…” pinta sang kelinci. Cherish pun melepaskan tangannya.

“Terima kasih. Di duniaku, mereka akan marah ketika aku ingin menyakiti seseorang,” ucap Cherish.

“Dunia yang aneh. Orang-orang seharusnya senang jika mereka tersakiti!”

“Ya, seharusnya begitu! Aku datang dari dunia yang aneh. Tunggu, apakah di dunia ini aku boleh menyakiti siapapun?”

“Tentu saja! kita akan bahagia jika menderita! Menyakiti seseorang adalah perwujudan rasa kasihmu pada sesama!”

“Logis sekali.”

“Kalau begitu, ikuti aku. Akan kuperkenalkan kau pada si kucing menderita.”

Cherish pun mengikuti si kelinci yang meloncat-loncat menuju sebuah kota yang terdiri dari ratusan domino hitam-putih raksasa. Kota itu bak miniatur domino yang terjajar secara acak. Di setiap bangunan domino terdapat beberapa jendela dan sebuah cerobong asap. Sungguh tempat yang tidak nyaman untuk tinggal! Pikir Cherish.

Dengan parasol hitamnya, Cherish berjalan dengan langkah ringan. Di jalanan kota, ia mendadak berhenti karena seorang pengemis yang meminta-minta penderitaan kepadanya.

“Tolong… buatlah aku lebih menderita…” pinta si pengemis berjas rapih.

“Kasihan sekali dirimu. Apakah selama ini hidupmu tidak menderita?” tanya Cherish.

“Hidupku selalu dipenuhi keberuntungan. Aku memiliki wajah yang tampan dan memiliki segunung kekayaan. Bukan hanya itu, aku pun mempunyai tubuh yang sehat dan sebuah cinta sejati.”

“Betapa tragisnya!”

“Tolonglah nona… dapatkah kau membuatku menderita? Tidak banyak orang yang mau menolong orang beruntung sepertiku…”

“Baiklah. Bagaimana jika aku mengambil kedua bola matamu?”

“Ya! betul sekali! Dengan begitu aku akan buta dan hidup menderita. Tolong, segera lakukan!”

Cherish mengeluarkan pisau kecil dari saku gaun hitamnya lalu mencongkel kedua mata si pengemis. Si pengemis berteriak kencang ketika urat matanya terputus. Namun setelah itu ia tertawa histeris sambil berteriak bahwa dirinya buta dan menderita. Orang-orang di sekitar segera memeluk si pengemis dan mengelu-elukannya. Ia digotong oleh sebuah keranda emas menuju sebuah istana yang terbuat dari emas pula. Sepanjang perjalanan, orang-orang melempari bunga seraya memuji si pengemis bak seorang yang suci.


message 4: by Kenji (last edited Dec 26, 2015 12:37AM) (new)

Kenji Reifa | 34 comments Cherish berbalik pada tuan kelinci, “Tuan kelinci, mengapa mereka tidak menyakiti diri mereka sendiri? Betapa merepotkannya jika harus meminta orang lain untuk menyakiti dirimu sendiri.”

“Dalam adat dunia ini, seseorang tidak boleh menyakiti diri mereka sendiri. Hanya orang lain atau takdir yang dapat membuat mereka menderita. Namun kau tahu, semua orang disini egois. Mereka tidak ingin melihat orang lain menderita.”

“Kejam sekali. Kita harusnya saling menyakiti satu sama lain!”

“Betul nona! Ah, sebaiknya kita segera pergi ke tempat kucing menderita. Dia yang akan menentukan apakah kau boleh tinggal di dunia ini atau tidak.”

“Baiklah. Aku ingin sekali tinggal di dunia ini!”

Mereka pun berjalan melewati pusat kota. Sudah menjadi kebudayaan di dunia Derita, bahwa orang yang menderita dianggap sebagai orang terhormat yang pantas menjadi panutan. Para pemimpin di dunia ini adalah orang yang mempunyai derita paling mengenaskan dibandingkan yang lain. Selain itu, di dunia ini pun penderitaan dianggap sebagai sebuah berkah. Sedangkan kebahagiaan adalah bencana. Aturan adat itu sudah menjadi warisan turun temurun di dunia Derita.

Orang-orang akan menemukan kenikmatan dan kepuasan yang tak terkira ketika mereka menderita. Karena menderita adalah sebuah kehormatan. Sebuah sumber akan pengakuan sejati. Orang-orang akan mengenalmu. Orang-orang akan memerhatikanmu. Kau tidak akan merasa sendirian jika menderita. Dunia yang begitu sempurna bagi Cherish. Tempat ini malah lebih baik dari neraka. Tempat tujuannya semula.

Dari kejauhan, terlihat sebuah bangunan besar yang terlihat seperti bola benang. Sepertinya itulah tempat tinggal si kucing menderita. Cherish dan tuan kelinci masuk ke dalam bangunan aneh itu. Ternyata bukan hanya kucing menderita saja yang ada di tempat itu, namun ada juga para pemimpin yang lain. Seperti babi menderita, burung menderita, juga ikan koki menderita. Semua tampak menyedihkan. Apalagi ikan koki menderita. Ia tampak engap-engapan ketika memaksakan diri untuk bernafas di darat. Mereka semua sedang berkumpul untuk merencanakan derita apa yang akan mereka wujudkan pada negeri yang mereka pimpin.

Setelah saling memperkenalkan diri, kucing menderita pun mendekati Cherish. Kakinya pincang dan ia hanya mempunyai satu mata.

“Derita apa yang kau miliki hingga kau merasa pantas untuk tinggal di dunia ini? wahai nona kecil,” tanya si kucing menderita.

Cherish terdiam sesaat. Suasana berubah tegang. Sudah menjadi adat pula di dunia ini jika mereka kedatangan tamu yang hidupnya tidak menderita, maka kepala tamu itu akan dipenggal agar keberuntungannya tidak menular pada warga dunia Derita.

“Aku tak dapat merasakan derita ataupun rasa sakit. Semua yang kulakukan hanyalah berpura-pura agar terlihat normal,” ucap Cherish, “Ibuku mengutukku agar aku selalu gembira dan tak merasakan penderitaan seumur hidup. Tapi bukan itu keinginanku. Aku hanya ingin hidup normal.”

Cherish mengambil pisau kecil dari kantung gaunnya lalu mengiris lengannya. Keluar darah segar namun tak ada sedikitpun mimik nyeri di wajah Cherish.

Suasana menjadi riuh.

Seseorang yang bahkan tak dapat merasakan derita meski ia menginginkannya! Sungguh ironis! Sungguh kejam takdir yang nona kecil itu miliki!

Lihatlah perjuangannya untuk merasakan penderitaan! Nona itu sudah berusaha agar dirinya menderita! Namun ia tak pernah dapat merasakannya! Sadis sekali!

Ini adalah penderitaan terhebat yang pernah kudengar dalam sejarah dunia Derita! Nona itu pantas untuk menjadi seorang pemimpin! Seorang contoh teladan untuk dunia ini! perjuangannya untuk menderita harus menjadi contoh untuk semuanya!


Setelah melakukan rapat, akhirnya para pemimpin memutuskan untuk menjadikan Cherish sebagai ratu mereka. Sejak saat itu Cherish menjelma sebagai ratu baik hati yang selalu membuat rakyatnya menderita. Semua warga dunia Derita sangat mencintainya. Meski ia tak memperoleh derita yang diinginkannya, namun setidaknya kini Cherish tak merasa kesepian lagi.

TAMAT

©Kenji Reifa 2015


message 5: by Dini (last edited Dec 20, 2015 01:40AM) (new)

Dini Afiandri (dresco_alcione) | 544 comments “Seni yang Tak Kasat Mata”

Percayakah kau pada keajaiban? Aku percaya, bahkan tugasku adalah membuatmu percaya, karena pekerjaanku berkaitan erat dengan keajaiban.

Namaku Arliana. Tapi di panggung dan dunia pertunjukan, aku lebih dikenal dengan nama Lilian. Aku murid angkatan pertama dan satu-satunya murid wanita di sekolah seni sulap Pentagram. Sekolah ini milik Franz Lumiere, seorang pesulap ternama di dunia internasional, dan hanya sepuluh murid yang paling serius yang bisa dinyatakan lulus setelah bertahun-tahun belajar di sini.

Sebetulnya itu perkara mudah, karena murid yang terdaftar resmi di Pentagram memang tidak sampai sepuluh orang. Pada awalnya yang mendaftar cukup banyak, tapi lama kelamaan berkurang karena langsung terlihat siapa yang menekuni sulap sekedar untuk hobi, dan siapa yang betul-betul punya bakat dan ketekunan.

Sekolah ini didirikan di salah satu rumah pribadi milik Franz. Di ruang utama yang berkarpet biru tua, hampir setiap dinding diisi rak-rak tinggi berisi berbagai buku sulap, buku-buku ilmu pengetahuan dan fiksi yang berkaitan, dan biografi pesulap-pesulap ternama. Satu sisi dinding memuat satu rak besar berisi kaset video VHS tentang berbagai rahasia sulap maupun video pertunjukan profesional. Sebuah meja bulat rendah dengan taplak hitam diletakkan di tengah-tengah ruangan, di atasnya ada replika bola kristal dan bola prisma yang mengeluarkan efek listrik bila disentuh.

Di sebelah kanan, ada sebuah panggung mini berlantai kayu yang dilengkapi dengan tata lampu dan spesial efek sederhana untuk kami melatih aksi pertunjukan kami. Di dekat tangga, ada pintu di balik permadani Persia yang mengarah ke gudang tempat penyimpanan berbagai jenis alat sulap dan properti panggung.

Terakhir, seakan-akan semua dekorasi itu tak cukup, sebuah altar dengan lilin yang selalu menyala memuat satu tengkorak kepala manusia asli yang tidak boleh disentuh sembarangan. Aku pernah bertanya pada Franz apa kegunaannya, tapi ia tak mau memberitahu. Murid-murid yang lain berasumsi macam-macam kalau Franz termasuk sekte pemuja setan, tapi bagiku, altar itu hanyalah satu dari sekian banyak rahasia sulapnya yang belum mampu kutandingi.

Murid-murid yang telah melewati tahap belajar awal dipersilahkan untuk bekerja magang di restoran hotel milik Franz. Di sana, kami rutin bergantian bermain sulap jarak dekat dari meja ke meja, menghibur para tamu sepanjang sore di akhir pekan. Pekerjaan ini dimaksudkan untuk melatih kemampuan tampil dan berbicara dengan lancar di muka umum, sebelum kemudian mengambil spesialiasi sulap yang lebih besar lagi.

Aku bekerja seperti itu selama enam bulan lamanya, sebelum akhirnya aku mengungkapkan keinginan terbesarku pada Franz bahwa aku ingin belajar sesuatu yang lebih dari itu, yaitu seni magis yang sesungguhnya.

“Pesulap mana yang tidak ingin menciptakan keajaiban sejati dengan tangannya? Maksudku, itu yang kita semua dambakan, Fra. Sesuatu yang lebih dari sekedar memukau penonton,” jelasku panjang lebar. Aku menghirup teh bergamot milikku yang telah dingin.

Guruku menatapku penuh arti. Angin dari teras restoran memainkan rambutnya yang tebal, ikal, dan hitam pekat. Franz menyulut rokok hitamnya. Sebagai seseorang yang terobsesi dengan warna itu, segala sesuatu yang ada di diri Franz memang hitam. Bajunya, mobilnya, tas, kopi, rokok, hingga cat dinding rumahnya, semua segelap malam. Hanya hatinya yang tidak kelam, karena aku tahu Franz sangat baik dan dermawan.

Ia menghisap dan menghembuskan asap dua kali sebelum akhirnya menjawab.

“Aku punya seorang mentor,” Franz memulai. “Namanya Eugene du Jinn. Beliau seorang bizarrist. Kalau kau serius, aku bisa memperkenalkanmu padanya.”

Fra membuktikan kesungguhan kata-katanya, dan beberapa minggu setelah itu, aku ditugaskan untuk menjemput Mr. Eugene di bandara. Franz tidak hadir karena ada pertunjukan di luar kota. Mr. Eugene orang Inggris asli, beliau tinggal di Winchester. Ternyata ia seorang pria enam puluhan dengan postur tegap dan janggut kecoklatan yang rapi menutupi seluruh dagu, sewarna dengan rambutnya. Matanya coklat keemasan dan wajahnya selalu berseri-seri, jauh sekali dari bayanganku akan para bizarrist yang umumnya selalu terlihat suram.

Saat itu masih jam makan siang. Eugene bilang dia tidak sabar ingin mencicipi makanan Indonesia yang terkenal, karena itu baru kedua kalinya ia ke Indonesia. Dengan penuh percaya diri, aku membawanya ke restoran Padang. Awalnya, beliau bersemangat hendak mencicipi rendang yang beberapa tahun lalu sempat dinobatkan UNESCO sebagai makanan terenak sedunia. Aku menjelaskan padanya bahwa meski makanan yang terhidang di meja sangat banyak, itu bukan berarti kita memesan semuanya, dan kita cukup mengambil lauk yang kita suka. Mr. Eugene memperhatikan piring-piring itu satu per satu.

“Piring ini isinya apa?”

“Itu balado kentang dengan ampela. Jeroan ayam.”

Alisnya terangkat. “Kalau yang ini?”

“Itu gulai kaki sapi”

Ia ternganga selama beberapa detik. Aku mulai merasa aku salah pilih restoran.

“Kalau yang di sana itu?”

“Er.... Itu... Gulai otak sapi.”

“Otak sapi! Demi Gaea!” Mr. Eugene bergidik ngeri, lalu tertawa sambil menggeleng-geleng. “Kemarikan piring berisi rendang itu, kalau kari otaknya, berikan saja pada zombie.

Aku merasa ingin melakukan sulap menghilangkan diri saat itu juga. Aku yakin Fra pasti marah kalau ia tahu mentornya tidak dijamu dengan baik. Aku minta maaf dengan canggung padanya. Mr. Eugene tertawa saja, sambil memuji kelezatan rendang yang ia makan. Lalu, setengah bercanda aku bertanya apa di Inggris tidak ada makanan yang aneh-aneh.

“Sebetulnya ada. Di Winchester ada resep makanan lokal, sejenis semur yang memakai ginjal domba. Ada juga yang suka membuat acar dari kaki babi. Bukan favoritku,” kata Eugene di sela-sela kunyahan. Kali ini, giliranku yang bergidik.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. “Tadi anda bilang ‘demi Gaea’. Gaea itu apa?” tanyaku.

Eugene tersenyum simpul. “Itu entitas dewi bumi yang kupuja. Aku seorang wiccans.

Aku hanya tahu wiccans dan witchcraft dari buku sulap yang kubaca. Memang, di luar negeri terutama di Inggris dan Amerika, wiccans termasuk aliran kepercayaan, bahkan agama. Tapi aku tidak menyangka suatu saat aku akan bertemu seorang wiccans tulen.

Lalu, kata-kata beliau berikutnya membuat otakku membeku.

“Franz juga seorang wiccans. Apa dia tidak pernah memberitahumu?”


* * *


Mr. Eugene tinggal di Indonesia selama lebih dari sebulan. Dia hadir di setiap sesi latihan kami, juga datang ke restoran Franz untuk menyaksikan penampilan kami ke pengunjung. Di Pentagram, Fra memutarkan video pertunjukan Eugene di Amerika. Aku gemetar menonton setiap aksinya. Di atas panggung, Eugene sangat berbeda. Sangat mistis. Video itu membuatku membulatkan tekad untuk belajar lebih banyak mengenai bizarre magic.

Kemudian tibalah hari itu. Minggu-minggu terakhir sebelum Eugene kembali bertolak ke negara asalnya. Fra memanggilku ke ruang kantornya ketika kami tengah asyik berlatih repertoir sulap David Blaine. Kabar yang ia kemukakan mengubah hidupku untuk selamanya.

“Lee,” Fra memanggilku dengan nama akrab, dan hanya dia yang memanggilku begitu. “Mr. Eugene sebetulnya datang ke sini tidak sekedar untuk liburan dan mementori kalian. Dia mencari seseorang yang kompeten untuk menjadi pewaris ilmunya.” Fra memberi jeda sejenak.

“Aku sudah merekomendasikanmu.”

Aku diam saja. Mungkin seharusnya aku lebih gembira.

“Kamu ‘kan ingin belajar rahasia levitasi lebih jauh padanya. Menurutnya, kamu punya bakat. Mr. Eugene akan menanggung semua biayamu selama di Inggris. Kamu bisa menonton setiap show secara langsung, mempelajari semua ilmu dan rahasia langsung dari beliau. Kalau setuju, ikutlah dengannya pertengahan bulan depan. Aku pribadi menyarankanmu untuk ikut.”

Ada jeda yang sangat panjang di antara kami. Fra menatapku dengan heran.

“Lee?” suaranya terdengar khawatir. “Apa kabar ini terlalu mendadak?”

Aku tertawa getir. “Tidak, Fra, aku berterima kasih. Memang itu yang kuinginkan. Belajar jauh dari sini, meninggalkan Pentagram dan rekan-rekanku yang lain, mendapat guru yang lebih baik, dan tidak lagi dibimbing olehmu.”

Sebetulnya yang ingin kukatakan adalah aku tidak ingin berpisah darinya, tapi aku tidak membiarkan diriku mengatakan itu.

“Lee, dengarkan aku...”

“Terima kasih untuk semuanya selama ini, Fra,” potongku. “Katakan pada Eugene, tawarannya kuterima.”

Kata-kataku membungkamnya. Aku keluar dari ruangan, dan Franz tidak mencegahku. Aku pulang lebih cepat sebelum kelas selesai hari itu. Terlalu banyak yang harus kupikirkan, dan terlalu banyak yang harus kulepaskan dalam waktu yang sangat singkat. Aku ingin fokus pada tujuanku semula dan cepat-cepat melaluinya.


* * * *


message 6: by Dini (last edited Dec 20, 2015 01:46AM) (new)

Dini Afiandri (dresco_alcione) | 544 comments Visaku diurus tepat waktu dan secepat kilat, hari keberangkatan pun tiba.

Sekali lagi, aku menemui Mr. Eugene di bandara. Verona, istri Eugene, ternyata telah datang ke Jakarta seminggu sebelumnya untuk menjemput. Ketika aku mengulurkan tanganku untuk bersalaman, wanita tua itu tiba-tiba melompat ke depan dan menciumku tepat di bibir. Aku kaget sekali, tentu saja. Hampir saja aku menamparnya andaikan aku tidak ingat siapa beliau.

Eugene menarikku ke samping dan berbisik minta maaf. Ia menjelaskan kalau itu karena istrinya pernah menjadi seorang penganut hippies. Aku hanya bisa mengangguk. Kejutan apa lagi kira-kira yang akan kudapati setelah ini? Semoga saja tidak terlalu aneh.

Dering ponselku mengembalikanku ke dunia nyata. Nomornya tidak kukenali. Aku menjawabnya dengan agak ragu.

“Ini aku. Jangan ditutup,” itu suara Fra. “Lihat isi tas tanganmu.”

Aku mengernyit, tapi menurut. Ketika aku membuka tas yang kusampirkan ke bahu, tempat aku menaruh paspor dan dompet, aku menemukan setangkai mawar hitam. Mawar sungguhan, dan warna hitam itu asli, bukan cat. Ciri khas Fra. Entah kapan ia menaruhnya dalam tasku, karena ketika aku berangkat tadi, mawar itu belum ada.

“Kamu curang, Fra,” ucapku setengah merajuk.

Di seberang sana, Fra terkekeh pelan.

“Kamu curang,” aku bersikukuh. “Bagaimana kalau aku tidak suka dengan budaya dan orang-orang di sana? Bagaimana kalau aku tidak cocok dengan cara hidup mereka?”

Pada akhirnya, seperti biasa, Fra menenangkanku. Ia memahami ketakutanku, dan kembali mengingatkanku akan mimpi-mimpiku yang selalu aku utarakan padanya.

“Jangan lupakan asalmu, Lee. Baik-baiklah di sana. Jangan kembali sebelum jadi hebat.”


* * * * *


Asap kabut berwarna biru dan putih mengalir menutupi lantai kayu panggung. Pencahayaan sengaja dibuat minim. Suara gendang bertalu-talu bagaikan musik kematian. Seiring melodi yang mencekam, seorang wanita bertudung hitam muncul di tengah-tengah asap, seolah mewujud begitu saja di tengah udara terbuka. Ia mengenakan jubah hitam dan ikat pinggang etnik dengan batu rubi merah di tengah-tengahnya. Wajahnya sebagian tertutup tudung, sama sekali tanpa senyuman. Lengannya terentang bersama hentakan musik yang semakin mendirikan bulu roma.

Pelan tapi pasti, ia melangkah turun dari panggung, mendekati kerumunan orang yang menonton. Seakan-akan dikomando, orang-orang itu menyingkir memberi jalan dan mengelilingi wanita itu dalam satu lingkaran. Sang wanita mengulurkan tangan pada seorang pemuda yang mengenakan jas abu-abu. Begitu tangan mereka bersentuhan, tiba-tiba saja wanita itu memerangkap wajah sang pria, mencengkram dahi si pemuda yang tiba-tiba saja jatuh pingsan. Dua orang asisten si wanita menangkap tubuh pemuda itu, lalu membaringkannya tanpa daya di lantai.

Perlahan-lahan, tubuh itu mulai mengambang di udara seiring dengan lambaian tangan si wanita hitam, berhenti sampai batas pinggang. Tangan wanita itu sedikit bergetar ketika ia mengepalkan tangan di atas kepala dan mengangkat tubuh itu lebih jauh, lebih tinggi... Melewati kepala para audiens yang tercengang menahan napas.

Dari sisi kanan dan kiri, muncul tiga orang lagi yang membawa obor. Bersama-sama, mereka berjalan dalam satu iring-iringan. Si wanita memimpin di depan, berdiri tepat di bawah tubuh korbannya, seakan-akan membuktikan bahwa tidak ada penopang apapun yang membantu sihirnya. Tubuh itu terus melayang melewati berbagai benda di lapangan di samping panggung itu. Melewati pepohonan, meja dan kursi yang tertata di teras, hingga berhenti tepat di sisi kolam renang.

Wanita itu masuk ke dalam kolam hingga dadanya tertutup air. Lalu di bawah perintahnya, tubuh itu melayang di atas kolam renang hingga ke tengah-tengah. Terdengar jerit kekaguman beberapa penonton. Di udara terbuka ataupun di sekeliling kolam sama sekali tidak tampak tali, tiang, atau apapun, yang membuat hal itu menjadi mustahil.

Terdengar satu suara lecutan keras, dan tubuh si pemuda mendadak menghilang begitu saja. Sang wanita juga menghilang seolah ditelan air kolam. Para penonton tidak bisa memercayai mata mereka. Sebuah lampu sorot besar menyinari kolam renang yang kosong dengan air yang tenang hingga ke dasarnya. Tidak tampak tanda-tanda keberadaan si penyihir maupun sang korban.

Hanya sedetik kemudian, cahaya berpindah ke atas panggung, dan di sana berdiri si wanita, tidak lagi mengenakan jubah hitam, melainkan gaun panjang bertatahkan batu rubi merah menyala di sekujur tubuh. Wanita itu tersenyum lebar. Ia menunjuk ke tengah kerumunan, dan di sana, si pemuda telah berdiri dan bertepuk tangan dengan begitu alami, seolah tidak menyadari apa yang telah terjadi barusan.

Ladies and gentlemen, berikan aplaus yang meriah untuk Lilian the Brilliant!”

Para penonton bersorak riuh rendah. Tepuk tangan yang seolah tanpa akhir bergemuruh dari setiap sisi, menyambut lahirnya seorang bintang baru di dunia pertunjukan tanah air.

Di sisi lain di seberang panggung, agak jauh dari hiruk pikuk dan cahaya itu, seorang pria bersetelan jas hitam sedang bertepuk tangan sendirian, menatap dan menyaksikan itu semua dari awal hingga akhir. Rambut ikalnya yang dulu mengagumkan kini telah dihiasi helaian uban di dekat telinga. Sinar kebanggaan terpancar jelas dari kedua bola matanya.

Bravo, Lee.”

Di belakang pria itu, di atas meja belakang panggung yang menjadi ruang rias Lilian, ada sebuah pot tanah berisi serumpun bunga mawar hitam yang masih berembun. Di antara kelopak dan duri mawar itu, ada sepucuk amplop hitam berkilat. Isinya selembar kertas yang memuat bahasa bunga, arti dan simbol dari mawar hitam.

Sampai kapan pun, selamanya kau tetap milikku.


message 7: by Ahmad (new)

Ahmad Alkadri (alkadrii) | 157 comments Hal Paling Penting yang Harus Dilakukan Kalau Kita Nyasar

-Part I-

Hal paling penting yang harus dilakukan kalau kita tersasar adalah tetap tenang. Panik tidak akan membantu, tergesa-gesa tidak akan memecahkan masalah. Tetap tenang. Semua orang yang sering traveling pasti akan menyarankan dan melakukan hal yang sama. Namun, sayangnya, Ferry bukan orang yang sering traveling. Ini adalah pertama kali baginya traveling di Eropa, dan solo traveling pula. Maka, ia pun panik, gelisah, memeriksa petanya berkali-kali.

Ferry sedang dalam perjalanan dari Luxembourg ke Vianden, sebuah kota wisata yang berjarak satu jam dengan menggunakan kereta. Tapi, karena harga tiketnya agak mahal (maklum, musim liburan), ia pun memutuskan untuk naik bus. Masalahnya? Dia harus transit, ganti bus. Namun, saat dia turun di halte di mana seharusnya dia tinggal berjalan seratus meter ke halte berikutnya yang akan menjadi tempat bus menuju Vianden berhenti, dia tidak menemukannya. Lebih buruk lagi, saat dia mencoba kembali ke halte tempat dia turun, dia tidak menemukannya juga. Seolah-olah kedua halte itu hilang ditelan bumi. Itu, atau, kemungkinan terbesarnya: dia nyasar. Dia salah turun barusan, dan dia kini tersasar.

Maka, sebagai orang yang masih pemula dalam urusan traveling, ia pun melakukan satu-satunya hal yang terpikirkan olehnya: terus berjalan. Toh, berdasarkan peta di tangannya, Vianden tinggal berjarak 7 km lagi. Tapi, lagi-lagi Ferry menghadapi masalah: yang pertama, jalan di hadapannya bercabang--sama sekali tidak sama seperti di peta. Yang kedua, dia lupa bahwa saat ini sedang musim dingin. Siang sangat pendek, hanya dari pukul 9 sampai 17. Dan sekarang, sudah pukul berapa sekarang?

Dia mengeluarkan ponselnya, menekan tombol lock di sisinya. Klik. Tidak ada reaksi. Ah, satu kesalahan lagi: dia lupa mencolokkan baterainya ke charger semalam! Baterainya habis! Gawat!

Tanpa sarana untuk mengetahui waktu, ia pun mendongak ke langit. Sayangnya, matahari tidak tampak, tersembunyi di balik awan. Di musim dingin, hal ini sangat biasa; seringkali, seharian penuh bahkan matahari tidak tampak sepenuhnya. Dengan kondisi yang mulai menggelap, jalan bercabang yang tidak ada di peta, dan suhu kian menurun, Ferry pun menyadari satu hal: I am fucked. Truly and fully fucked.

Akhirnya, dia pun memutuskan untuk mengambil jalan yang sebelah kanan. Dia terus berjalan, berharap akan segera mencapai Vianden. Atau mungkin tak perlu Vianden; kota apapun juga boleh saat ini, batinnya. Tapi, dia juga tahu bahwa hal itu sulit dia dapatkan. Luxembourg adalah negara kecil dengan hanya beberapa kota dan didominasi oleh alam terbuka. Di antara kota Luxembourg dan Vianden terbentang lembah yang kosong. Peta di tangannya memberitahunya hal tersebut. Dia benar-benar dalam masalah, sangat besar, dan dia...

Ia mengerjap.

Di hadapannya, jalan raya mulai menurun. Ia berdiri di atas sebuah lembah hijau berkabut, dengan sungai yang mengalir membelah... sebuah kota. Kota kecil, sungguhan, dengan bangunan-bangunan dan menara gerejanya.

Bagian kecil dari dirinya, satu titik yang masih waras dan rasional yang berada di sudut otaknya, mulai beraksi. Apakah itu adalah Vianden? Tidak, tidak mungkin, karena Vianden berada di sebuah bukit, bukan di bawah lembah, dan ada sebuah kastil yang menjulang tinggi di atas bukitnya. Tapi, kalau itu bukan Vianden, apa? Di antara Luxembourg dan Vianden tidak ada kota, 'kan? Atau...?

Ini sangat aneh, kata bagian kecil dirinya itu, tapi Ferry tidak lagi mendengarkan. Sebagian besar dirinya, yang merasa kelaparan, kelelahan, dan kedinginan, mendorongnya untuk bergegas ke kota itu. Jaraknya sangat pendek; cukup menuruni jalan raya tersebut, dan dia akan tiba. Jantungnya berdegup kencang, rasa panik dan gelisah yang dari tadi menyelimutinya mulai memudar. Aku selamat, begitu kata-kata yang terus bergaung di dalam kepalanya, menguasai dirinya. Aku selamat.

***

Rumah-rumah dengan tiga hingga empat lantai berdiri di kanan-kiri jalanan utama yang terbuat dari cornblock. Beberapa toko, cafe, dan kantor memajang produk-produk mereka di jendela. Para pejalan kaki bergegas di trotoar, membawa barang-barang mereka, seolah tidak ada satu menit pun yang boleh terbuang sia-sia. Mendongak ke atas, ke deretan bangunan tersebut, Ferry juga bisa melihat cat mereka yang sudah memudar, tanaman merambat yang memenuhi dinding-dindingnya, dan sisa-sisa warna-warni yang pastinya membuat kota itu jauh lebih cantik apabila dipandangi di musim selain musim dingin.

Dia melihat ke kanan-kiri, memandangi orang-orang. Serombongan anak remaja membawa kayu log di seberang jalan. Sepasang kakek-nenek berjalan bersama anak kecil yang sepertinya adalah cucu mereka yang melompat-lompat, yang mengatakan sesuatu kepada keduanya yang membuat mereka terkekeh. Mereka membawa kotak yang dibungkus rapi, berjalan di belakang rombongan remaja itu.

Ferry melambatkan langkahnya. Dia menyadari bahwa semua pejalan kaki yang melangkah di kanan-kiri trotoar sepertinya menuju ke arah yang sama. Tak hanya itu, mereka semua membawa barang-barang yang serupa: kotak yang dibungkus rapi, kayu, bir, makanan, minuman, dan lain sebagainya. Ke mana tujuan mereka?

Rasa penasaran menguasainya. Dia mengikuti orang-orang itu, berjalan seiring dengan arus. Ternyata, tidak terlalu jauh: di tengah-tengah kota, berdiri sebuah katedral berwarna merah muda dengan sebuah pohon tinggi di halamannya. Di sanalah para pejalan kaki berkumpul, menaruh barang-barang mereka, mengobrol. Mereka yang masih muda, dan terutama para pria, bersama-sama sedang bekerja keras menumpuk kayu-kayu satu sama lain membentuk sesuatu mengelilingi pohon tersebut.

Api unggun, otak Ferry memberitahunya. Mereka sedang mendirikan api unggun.

Suara tawa orang-orang di halaman tersebut membuatnya kembali tersadar. Ia menoleh ke kanan-kiri, menyadari adanya sebuah halte bus tepat di depan katedral itu. Dia menyeberang jalan, bergegas menghampiri halte itu untuk memeriksa nama kota, nama halte, rute, atau jadwal bus. Namun, tidak ada jadwal bus. Tidak ada indikasi bus nomor, atau jurusan apa, yang melewati halte itu. Nama halte pun ditulis dengan aksara yang tidak ia kenal. Ada beberapa huruf yang ia sepertinya tahu--'Я' dan 'Л'--dari aksara cyrillic. Tapi, kalau yang lainnya?

Sialan, di mana aku sebenarnya? Dia membatin keras-keras. Menoleh ke kanan-kiri, ke aliran orang yang bergegas, dia sadar bahwa tak ada cara lain. Menarik napas dalam-dalam, dia pun menghampiri salah satu dari mereka, seorang pria yang berjalan bersama seorang perempuan.

"Bonjour, Monsieur? Madame? Excusez-moi?" Dia berkata. "Permisi, maaf?" Dia mengulangi dalam Bahasa Inggris.

Luxembourg adalah negara yang ganjil. Ada tiga bahasa resmi yang digunakan setiap harinya: Inggris, Perancis, dan Jerman. Meski mayoritas penduduknya bisa berbahasa Inggris, Perancis tetap menjadi bahasa keseharian. Apabila kau datang ke sebuah toko dan menyapa penjaga tokonya dengan Bahasa Inggris, bisa jadi dia tidak akan memahamimu. Maka, kemampuan berbahasa Perancis juga vital. Tapi, ada juga beberapa kota kecil yang hanya bisa berbahasa Jerman. Dan Ferry sadar bahwa seandainya mereka menjawabnya dengan Bahasa Jerman, dia akan tamat karena dia tidak bisa berbahasa Jerman sama sekali.

"Ya?" jawab si pria dalam Bahasa Inggris.

Syukurlah, batin Ferry. "Maaf, saya sedang mencari bus menuju Vianden," dia berkata. "Apakah Anda bisa memberitahu saya bus apa yang harus saya ambil, dan apakah halte ini--"

"Tidak ada bus," kata si perempuan dengan suara yang jernih. Ferry menoleh kepadanya, menatap mata kelabunya. Rambutnya sangat pirang, menjuntai hingga melampaui bahunya, dan ia tersenyum, melanjutkan, "Tidak ada bus yang lewat sini."

Ferry menatapnya, ragu-ragu. Dia memutuskan untuk bertanya, ke si pria. "Kalau begitu, jalan menuju..."

"Tidak ada," kata pria itu, mengangkat bahunya. "Kota ini tidak menuju ke mana-mana."

Ferry mengerjap. "Maksud Anda?"

"Tidak ada jalan. Ini jalan terakhir," kata pria itu, mengayunkan lengannya ke kanan kirinya, ke jalan utama kota itu.

"Okay..." Ferry berkata pelan. Dia merasa ada yang hilang dari penjelasan mereka. Sepertinya, mereka berdua sama-sama tidak begitu fasih berbahasa Inggris. Mungkinkah kalau dalam Bahasa Perancis, mereka bisa menjawab dengan lebih jelas? Kemampuan Bahasa Perancisnya masih menengah ke bawah, tapi apa boleh buat.

"Monsieur, Madame," dia memulai, "Est-ce que vous pouvez me dire le nom de cette ville?"

"Tentu saja. Namanya--" kemudian perempuan itu menyebut sebuah kata yang terdiri atas banyak konsonan, banyak huruf R, K, H, dan S. Ferry sama sekali tidak menangkapnya.

"Er--" Dia menoleh ke si pria. "Namanya... apa, maaf?"

"Nama kota ini--" pria itu mengatakan kata yang sama, dan kali ini suaranya seolah berasal seluruhnya dari tenggorokannya, dan Ferry mengerjap.

"D'accord..." Ferry menoleh ke kanan. Dia menunjuk ke nama yang ada di halte bus. "Ini--apakah ini adalah nama kota ini?"

"Ya, benar," kata mereka berdua bersamaan.

"Oke..." Ferry meraba-raba kantung celananya. Dia sama sekali tidak bisa menangkap kata-kata mereka. Seandainya ada pulpen...

"Kau orang asing," kata si perempuan.

Ferry mendongak kepada mata kelabu yang menatapnya lekat-lekat. "Er," tenggorokannya terasa kering. Dia berdeham. "Iya, benar."

"Anda ingin ke Vianden?" tanya perempuan itu lagi, masih dengan senyum samarnya yang mengingatkan Ferry terhadap lukisan seorang gadis yang terdapat di Louvre, dikagumi oleh seluruh dunia sebagai mahakarya.

"Benar..." Ferry menjawab. "Apakah Anda tahu jalan menuju ke sana?"

Senyum perempuan itu bertambah lebar. "Namaku Chloe," katanya pelan. "Siapa namamu?"

"Ikut dengan kami," kata si pria. Dia melingkarkan lengannya ke bahu perempuan itu, dan menariknya mendekatinya. "Pesta akan segera dimulai."

"Ah--aku..." Ferry hendak menolak, tapi dia menyadari bahwa matahari sepertinya hampir terbenam. Langit sudah menggelap. Lampu-lampu jalanan menyala dengan cahaya yang redup, dan jalanan mulai sepi dari pejalan kaki.

"Semua orang ada di altar malam ini," kata pria itu. "Tidak ada tempat yang buka. Ikutlah dengan kami."

Perempuan itu masih tersenyum kepadanya, tapi ekspresi pria itu mulai masam--seolah hal terakhir yang dia inginkan adalah Ferry ikut dengan mereka, dan bahwa sebenarnya ajakan itu hanyalah formalitas. Tapi, Ferry tetap mengangguk, sebagian karena ia tahu dia tidak punya pilihan, dan mungkin, setidaknya, setelah acara api unggun di tengah kota ini selesai, orang-orang akan pulang ke tempat masing-masing dan dia bisa menginap di salah satu hotel di kota itu.


message 8: by Ahmad (last edited Dec 25, 2015 08:56AM) (new)

Ahmad Alkadri (alkadrii) | 157 comments -Part II-

"Jadi, siapa namamu?"

Ferry tidak menyadari perempuan itu telah kembali ke sampingnya. Beberapa jam sudah berlalu sejak pesta api unggun dimulai. Balok-balok log kayu disusun mengelilingi pohon hitam yang berada di halaman katedral, membuatnya seolah-olah menjadi pusat api unggun, meski anehnya, pohon itu tidak tampak terbakar atau terpengaruh oleh apinya. Panas yang dipancarkan cukup untuk menghangatkan seisi halaman, hingga mencapai Ferry, yang berdiri agak di belakang kerumunan guna menghindari orang-orang yang berlalu-lalang sembari menolak tawaran bir setiap beberapa menit sekali.

"Namaku Ferry." Dia menjawab dalam Bahasa Inggris juga. Sedetik kemudian, sepasang pria gemuk mendongakkan kepala mereka ke udara, mengangkat obor di tangan mereka, dan menyemburkan bir dari mulut mereka. Lidah api raksasa membumbung di udara, tinggi, dan orang-orang yang berada di sekeliling mereka bertepuk tangan riuh.

"Ramai, ya? Selalu begini setiap bulan." Chloe menoleh padanya lagi. "Ini pertama kalinya kamu datang ke soirée seperti ini?"

"Tidak... tidak juga." Ferry melihat seorang perempuan, remaja, memisahkan diri dari kerumunan, bergabung dengan dua pria gemuk tersebut. Dia menerima botol bir hijau dari mereka, menenggaknya beberapa kali sementara teman-temannya bertepuk tangan menyemangati. Salah satu pria gemuk tersebut memberinya sebatang obor. "Aku pernah menyaksikan acara serupa di Perancis."

"Perancis? Kamu pernah ke sana?" tanya Chloe.

"Sebenarnya, aku sedang studi di sana." Ferry menyaksikan perempuan itu, bersama si dua lelaki gemuk, menyemburkan lidah api besar ke udara, menerangi hampir seluruh kota. Hampir semua orang bertepuk tangan, lebih keras dari sebelumnya. Api unggun pun seolah bertambah terang dan panas. "Program Master di Paris. Empat semester. Aku sudah menyelesaikan tiga semester, dan karena ini semester terakhirku, aku memutuskan untuk jalan-jalan."

"Kamu sering traveling sendiri sebelumnya?" tanya Chloe sebelum ia ikut menenggak birnya.

"Er, sebenarnya tidak." Ferry menggaruk-garuk kepalanya. "Ini pertama kalinya."

"Oh. Dan kamu sendiri saja, padahal ini pertama kalinya...?"

"Iya. Tadinya, aku sudah ada rencana untuk ikut bersama teman-temanku. Kami akan traveling bersama-sama keliling Eropa. Tapi, ada beberapa masalah, jadinya aku terpaksa jalan-jalan sendiri, dan..."

"Kamu tersasar." Chloe menurunkan botol dari mulutnya, mengernyit, dan mengusap bibirnya.

"Er, iya." Ferry tersenyum malu. "Apa boleh buat, tapi untunglah aku menemukan kota ini."

"Kota apa yang jadi tujuanmu?" Chloe bertanya sembari menyodorkan birnya padaku.

"Ah, tidak, aku tidak--"

"Minumlah."

"Tidak, aku tidak minum bir," kata Ferry cepat-cepat. "Agamaku--"

"Minumlah. Kamu bakal butuh ini sebentar lagi," kata Chloe.

Ferry ingin menolaknya lagi, tapi dia melakukan satu kesalahan sederhana: dia mendongak menatap wajah Chloe. Senyum gadis itu menghilang, hanya sekejap tapi sangat kentara, dan tatapannya pun berubah, dan selama sejenak itu pun bulu kuduk Ferry merinding, seolah ada seseorang yang meniupkan angin dingin dari belakang secara langsung. Ferry pun menerima botol itu, menenggak isinya, yang--di luar dugaannya--terasa tawar.

Setelahnya, dia menurunkan botol itu, menatap label 'Jägermeister' di permukaannya yang sudah memudar. Bingung. Matanya terangkat, dan dari antara kerumunan dia bisa menyadari adanya beberapa orang yang mengalihkan pandangan mereka darinya, seolah selama beberapa detik terakhir mereka mengamatinya dan kini, setelah ia meminum bir itu, mereka berpaling darinya dan kembali ke obrolan dan keramaian mereka masing-masing.

"Itu bukan bir." Chloe menjawab satu pertanyaan yang paling berkecamuk dalam benaknya. "Dan juga bukan minuman yang mereka mau kamu minum."

Ferry mengerjap. "Apa maksud--"

"Rendahkan suaramu dan tatap aku. Minum satu teguk lagi."

Masih tidak mengerti, tapi mendapati tatapan mata dan nada suara yang sama lagi dari Chloe, Ferry mematuhinya. Dia meminum isi botol itu lagi.

"Kamu tahu hal apa yang harus kamu lakukan kalau kamu tersasar di jalan?"

"Er--" Ferry menelan ludah. "Apa hubungannya dengan--"

"Tetap tenang. Jangan panik."

"O-oke," angguk Ferry.

"Aku mau kamu dengarkan aku baik-baik, oke?" Chloe menenggak botol bir miliknya sendiri, dan menghela napas panjang-panjang. "Beberapa menit lagi, Soirée ini akan benar-benar dimulai. Apa pun yang kamu lihat, apa pun yang kamu dengar, aku mau kamu tetap berlari. Terus berlari sepanjang jalanan ini, menuju ke arah kamu datang tadi. Kamu mungkin akan merasa jalanannya tidak berakhir, atau dingin terlalu menusuk, atau ribuan orang mengejar-ngejarmu, tapi jangan hiraukan semua itu. Tetap lari."

"Tapi--"

"Tenang," ulang Chloe, tersenyum. "Ingat?"

"B-baik." Ferry mengangguk buru-buru. "Akan kuingat. Tapi--kamu tidak--"

"Aku tidak bisa ikut, aku sudah menjadi bagian dari mereka."

"Tapi, kalau begitu..." Ferry menelan ludah lagi, mengerling takut ke arah kerumunan penduduk yang, dia menyadari, kini telah selesai bernyanyi-nyanyi dan sedang membentuk lingkaran mengelilingi api unggun. "Kenapa kamu memberitahukan ini padaku? Apa yang sebenarnya akan terjadi?"

"Dua alasan: pertama, karena ada kemungkinan kamu bisa selamat. Kamu harus tahu, sudah lama kami tidak bertemu dengan manusia luar, kami harus memenuhi rasa lapar kami dengan menculik dan melahap hewan-hewan liar. Pemerintah tidak pernah mengusut hal itu; sepertinya mereka memang sengaja membiarkan kami di sini. Mereka sangat peduli. Mereka pasti tidak ingin kami makan manusia. Mereka meniadakan pemukiman penduduk dalam radius puluhan kilometer dari area ini. Jadi, karena kami sudah sangat lama tidak mengejar manusia, mungkin agak sulit untuk menangkapmu. Itulah sebabnya para penduduk ingin kamu lemah dan mabuk--supaya kamu tidak bisa lari, supaya kamu bisa dimangsa dengan mudah. Sehingga, kalau kamu terus lari, mungkin kamu bisa selamat."

Awan di atas tersibak. Bersinar dengan cahaya peraknya, menerangi daratan, pegunungan, kota kecil itu, dan desa itu dengan sedemikian terang, sang purnama menampakkan dirinya. Para penduduk desa gemetar, dan di hadapan Ferry, Chloe mulai berubah.

"Dan alasan yang kedua... adalah..." Chloe menyeringai, mulutnya bertambah lebar, pupil matanya menyempit. Bulu-bulu bermunculan di tubuhnya. "Aku... suka perburuan."

Dan kemudian, mendarat dengan empat kaki, berdiri di hadapan Ferry adalah seekor hewan yang bukan lagi Chloe, besar dan berwarna kelabu, sama seperti puluhan orang penduduk desa yang masih ada di sekeliling api unggun. Mereka semua menoleh, perlahan-lahan, ke arahnya, menatapnya. Beberapa memamerkan geligi mereka, menggeram-geram.

"Lari."

Chloe melolong kepada sang purnama bersama dengan para penduduk desa lainnya. Ferry berbalik, dan, meninggalkan seluruh barang bawaannya di tanah, mulai berlari.


back to top