Kastil Fantasi discussion

81 views
CerBul > [Lomba] CerBul KasFan (Agustus '15)

Comments Showing 1-14 of 14 (14 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Fredrik, Momod Galau (new)

Fredrik Nael (fredriknael) | 2447 comments Mod
Merdekaaa~!
(Semata-mata karena ini di-posting pas tanggal 17 Agustus aja sih... :D)

“Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi – Edisi Agustus 2015”

Lomba CerBul diadakan sebagai ajang latihan, eksperimen, sekaligus unjuk kreativitas, bagi teman-teman yang suka menulis atau pengen juga coba-coba mulai menulis. Lomba ini diadakan setiap bulan, dengan tema yang berbeda-beda.
Lombanya santai-santai saja, tidak perlu saling jotos atau gigit-gigitan, meskipun lempar-melempar cabe masih diperbolehkan dan memberi masukan/saran untuk perkembangan teknik menulis tentunya sangat dianjurkan.

Aturan main umumnya:

1) Cerita yang disertakan harus mengandung unsur fantasi/science fiction.

2) Penjiplakan karya orang lain dilarang keras.

3) Setiap peserta hanya boleh mengikutsertakan satu entri cerita. Semua cerita di-post sendiri oleh penulisnya di topik ini. Entri-nya boleh juga di-post di tempat lain (misalnya di blog pribadi), namun diharapkan menyertakan juga keterangan kalau ceritanya sedang dilombakan di grup Kastil Fantasi (beri tautan ke thread ini).

4) Panjang cerita maksimal dua post yang harus di-post secara berurutan. Tidak ada panjang minimal. Sebagai info, maksimal karakter (termasuk spasi) dalam satu post di Goodreads adalah 12.000 karakter. Perlu diperhatikan kalau panjang karakter di software (MSWord, dll) dan Goodreads bisa berbeda, misalnya saja tulisan dengan huruf miring/italic memakai kode HTML yang menghabiskan tujuh karakter lagi (untuk masing-masing bagian yang di-italic).

5) Cerita ditulis menggunakan tata bahasa yang baik. Tidak diperkenankan memakai bahasa singkat-singkat ala SMS atau bahasa alay.

6) Semua cerita yang di-post akan tetap menjadi milik peserta. Bila ingin dikembangkan lebih jauh/serius (misalnya dibuat novel) atau dilombakan di tempat lain, silakan saja.

7) Komentar untuk cerita yang dilombakan tidak dilakukan di topik soal ini, melainkan di topik komentar.
Apabila ada yang menulis komentar di sini, komentarnya akan dihapus. Kedua topik dipisah demi alasan kerapian.

8) Bila ada pertanyaan, bisa langsung dilayangkan ke topik komentar.

======

Kali ini CerBul kedapatan tantangan khusus dari Klaudiani!

Jadi... berhubung ybs sepertinya sedang senggang (#eh xP), kita ditantang dengan tema soal darinya~
Nah, sebagai pertanggungjawaban karena telah menyusahkan >.< *plak, ybs juga akan menjadi juri tamu edisi ini, sekaligus juga menyediakan hadiah khusus untuk pemenang favorit pilihan jurtam!

Yaaa... mungkin bisa dibilang kalau edisi ini merupakan edisi khusus Klaudiani! xD XD xD #halah


Soal CerBul edisi ini adalah:

Buatlah sebuah cerita fabel anak!


Cerita fabel yang dimaksud adalah cerita fabel seperti yang merujuk pada KBBI (bukan arti dari bahasa Inggris), yakni cerita dengan karakter hewan, menggambarkan perilaku manusia, dan berisi pesan. ^^

Seperti biasa, nuansa ceritanya bebas, boleh petualangan, komedi, romance, horor, dst., selama masih menjawab tema soal edisi ini.
Silakan berimajinasi sebebas-bebasnya. :)

Pertanyaan dan diskusi, langsung ke topik komentar.


Informasi terkait Penjurian Reguler oleh Momod, silakan dilihat di dalam tag spoiler.
(view spoiler)

Hadiah penjurian reguler bulan ini:

(1) Pemenang pertama berhak mendapatkan voucher belanja toko buku Gramedia senilai 50k.

(2) Pemenang kedua akan mendapatkan hadiah hiburan. ^^


Penjelasan terkait Penjurian Khusus oleh "Juri Tamu", silakan dilihat di dalam tag spoiler.
(view spoiler)

Hadiah dari juri tamu edisi ini:

Jurtam edisi ini adalah Klaudiani, dan pemenang cerita terfavoritnya akan mendapatkan hadiah voucher belanja toko buku Gramedia senilai 100k! :D


Timeline lomba:

Posting Cerita: 17 Agustus - 10 September 2015
Masa Penjurian: 11 - 26 September 2015
Pengumuman Pemenang: 27 September 2015


Mari menulis fantasi!
;)

PS.
Kami, para momod, mengundang siapa pun yang tertarik untuk mendonasikan hadiah atau mempromosikan karyanya dengan ikut men-sponsori pelaksanaan lomba CerBul atau berpartisipasi dengan men-"juri tamu". Silakan menghubungi/mengirim PM ke moderator.
Terima kasih! :D


message 2: by Fredrik, Momod Galau (last edited Sep 11, 2015 10:05PM) (new)

Fredrik Nael (fredriknael) | 2447 comments Mod
Daftar Cerita:

1. SANGKAR EMAS by Erwin Adriansyah

2. Lagu Midi by Ryan Dachna

3. REGI DAN NAT by Stezsen

4. Kucing dan Anjing by Florensia Meilanie

5. TUAN BENGKUNANG SANG DETEKTIF SATWA by Cygnus Peterschild

6. MOCHI SI PEMBERANI by Andry Chang

7. Warisan dari Utara by Anindito Alfaritsi

8. PERSIDANGAN KELINCI by Runa Hin

9. BUNI-RUNGGA by Mahfudz Asa

~


message 3: by Erwin (last edited Sep 10, 2015 05:30AM) (new)

Erwin Adriansyah | 634 comments SANGKAR EMAS


Sang gadis berusia 19 tahun berambut pendek dalam balutan piyama sederhana menarik selimut hingga menutupi badan anak perempuan 4,5 tahun berambut keriwil yang terbaring di ranjang, “Cah ayu bobo, ya,” suara remaja tersebut mengalun merdu mengiringi kecupan lembut di dahi asuhannya.

Cah ayu mengamit tangan pengasuhnya, “Iqi, cerita, dong.”

Iqi hanya tersenyum. Sejak menempati kamarnya sendiri dua tahun lalu, Cah ayu memang kian jarang meminta dongeng sebelum tidur, namun tiada salahnya juga menuruti permintaannya, “Mau cerita apa? Tujuh iblis bersaudara? Atau biawak kembar? Atau empat dewa bejat?” disebutnya kisah-kisah favorit si gadis kecil.

Namun anak itu menggeleng, “Bosen.”

“Terus mau cerita apa?”

Cah ayu memikirkannya sejenak, “Sangkar emas.”

Sontak jantung Iqi bak berhenti berdetak, “Uh, sangkar emas?”

Pertanyaan tadi disambut anggukan mantap, “Sangkar emas.”

Cepat Iqi menenangkan perasaannya, “Kamu tau cerita itu dari mana?”

Sehabis merenung sebentar, jawaban meluncur, “Nggak tau, kayaknya aku pernah denger cerita itu duluuuuuu banget.”

Si remaja mengerising getir. Cah ayu memang pernah mendengarnya karena dulu Iqi sendiri yang menceritakannya, sekali saja, saat anak itu masih bayi berusia beberapa bulan. Entah kenapa dia melakukannya, mungkin sekadar curahan hati atau impuls belaka. Tentu Iqi sama sekali tak mengira Cah ayu akan mengingatnya, apalagi bertahun-tahun kemudian, tapi sudahlah.

“Oke,” sahibulhikayat berdeham, lantas memulai, “dahulu kala, ada seekor burung gereja kecil. Dia hidup hutan rimba bersama mamanya, papanya, kakak adiknya, om tantenya, kakek neneknya, pokoknya satu keluarga mereka lengkap.”

Si pendengar terkikik, “Pasti hutannya luas banget, ya, sampe muat burung sebanyak itu.”

Mau tak mau Iqi tersenyum, “Nggak luas-luas banget, sih, namanya juga burung, jadi, ya, gitu, deh, tapi memang tempatnya indah banget.”

Tanpa bisa dicegah, benak pendongeng langsung menggambarkan taman-taman dan hutan hijau asri berseri dialiri sungai-sungai mungil lagi jernih. Pada pusatnya terdapat istana megah dengan menara-menara menjulang menembus langit biru berhias patung-patung pualam agung nan elok.

“Kenapa?” Cah ayu menanggapi diamnya sang pengasuh.

Buru-buru Iqi membuang bayangan tadi dari sanubarinya, “Nggak apa-apa. Tadi sampe mana?”

“Hutannya indah.”

Pencerita mengangguk membenarkan, “Iya, dan di hutan itu mereka hidup bahagia.”

Cah ayu menimpali, “Tapi?”

Mata Iqi memejam ketika sosok itu muncul dari sudut terkelam mimpi terburuknya, “Tapi suatu hari kemudian seorang pemburu muncul.”

Hanya satu, manusia, perempuan, namun betapa kehancuran yang diakibatnya demikian hebat. Tiada bala tentara di langit dan bumi yang sanggup menghentikannya.

“Pemburu itu manahin binatang-binatang.”

Muka Cah ayu meringis, “Jahat banget, apa nggak ada yang ngelawan?”

“Banyak, harimau, gajah, rusa, bahkan burung-burung juga melawan,” Iqi menjawab sambil sedapat mungkin mengabaikan bayangan entah berapa banyak kaumnya, bangsa iblis, peri, serta naga astral berguguran laksana lalat di hadapan wanita laknat itu. “Tapi mereka bukan tandingan si pemburu dengan segala senjata hebatnya.”

“Aku nggak suka cerita ini,” celutuk bocah tersebut.

Sebenarnya Iqi juga tak suka, karena itulah ia menawarkan, “Cah ayu mau Iqi cerita yang lain?”

Akan tetapi nona kecil menggeleng, “Nggak, aku mau denger sampe selesai.”

“Oke.”

“Terus gimana?”

“Sadar nggak ada yang bisa ngalahin dia, pemburu itu membakar hutan rimba.”

“Jahat.”

“Iya.”

“Apa mereka semua … mati?”

“Sebagian besarnya, sisanya kocar-kacir melarikan diri. Banyak juga yang terluka dan dibiarin begitu aja biar mati,” tanggapan pencerita sukses menyembunyikan kepedihannya.

“Terus?”

“Di antara yang terluka tadi, ada satu burung gereja kecil. Sayapnya patah dan dia nggak bisa nyelamatin diri dari kebakaran besar itu. Sampai akhirnya ada naga yang mungut dia, ngebawa dia ke tempat tinggalnya buat dirawat terus diasuh sampai akhirnya dia pulih seperti semula.”

“Terus?”

“Burung kecil ini sangat bersyukur atas kebaikan hati si naga, tapi jauh di dalam hatinya dia tau hidupnya sekarang nggak lebih dari sangkar emas.”

Mata kecokelatan Cah ayu melebar mendengar dua kata itu, “Maksudnya sangkar emas?”

“Iya, dia disayang, dimanja, dididik, dikasih segala yang dibutuhkannya untuk jadi apa pun yang dia mau, tapi dia nggak merdeka, nggak bisa bebas ke mana-mana, terpenjara. Padahal, cacat atau enggak, dan seenak apa pun sangkarnya, burung itu selayaknya hidup bebas di alam liar.”

“Apa naga yang ngerawat burung gereja itu nggak ngebolehin dia pergi?”

Iqi menggeleng, “Boleh, cuma si burung gereja merasa nggak ada tempat lagi untuk dia di luar sana, dan mungkin itu yang membuat dia merasa terkurung.”

“Apa dia sedih?”

“Mungkin sesekali, tapi dia tau, hutannya udah nggak ada, keluarganya juga, karena itu, pelan-pelan dia mulai belajar untuk mencintai sangkar emasnya, belajar bersyukur bahwa nasibnya jauh lebih baik dari binatang-binatang lain yang mati di hutan, atau lebih buruk lagi, ditangkep terus entah diapain sama pemburu. Dia bersyukur bahwa dia masih hidup dan sehat, bahwa mungkin nanti dia bisa mengubah nasibnya.”

“Gitu?”

“Iya,” jawab Iqi khidmat seraya mengamini ucapannya sendiri dalam hati. Sadar tak lagi yang bisa disampaikannya, ia meneruskan, “Nah, Cah ayu, kamu tau pesan moral dari cerita ini?”

Anak kecil itu memikirkannya sebentar, “Bahwa hal buruk sering menimpa orang-orang baik, tapi terlepas dari segalanya, yang hidup harus belajar bersyukur karena masih punya kesempatan untuk mengubah nasib.”

Iqi mencubit hidung Cah ayu, “Pinter, didikan siapa, sih?”

“Didikan mama.”

Bibir Iqi terkembang.

“Sama didikan Iqi juga.”

Alhasil sang gadis yang lebih tua terkekeh riang, “Ih, kamu pinter, deh, ngambil hati orang. Ya, udah, tidur, ya, udah malem,” sekali lagi dikecupnya kening Cah ayu.

Ketika Iqi berjalan ke pintu, “Iqi,” suara Cah ayu terdengar lagi, “apa Iqi bahagia di sini?”

Dia menoleh dan tersenyum tulus, “Selalu. Selamat tidur, Cah ayu.”

“Selamat tidur, Iqi.”

Iqi pun berlalu seraya menutup pintu. Kakinya mengayun santai di koridor serta menuruni anak tangga. Sesampainya di bawah, pandangannya menemukan seorang wanita berpakaian rok pensil dan blazer kelabu berambut kecokelatan lurus sebahu duduk di bar mini di ruang keluarga ditemani sebotol minuman keras.

“Cah ayu udah tidur, Qi?” sosok tadi bertanya tanpa menoleh lalu menyeruput gelasnya.

Si pengasuh bergerak mendekati, “Udah, gimana acaranya, Bu?”

Ibu menoleh, mukanya masam jenaka, “Boring bingitz!”

Iqi menyeringai lebar, “Cemunguth!”

“Bangsat!” sang majikan memaki kemudian menggeser seloki kosong di meja ke arah asistennya. “Gimana Cah ayu di sekolah tadi?”

Si remaja duduk dan menuangkan isi botol ke gelasnya, “Tadi bikin origami terus kayaknya tambah akrab sama Azea,” kemudian mulai menyesap. “Mereka berdua lucu, deh, ke mana-mana gandengan tangan.”

Wanita yang lebih tua terkikik, “Sayang cewek, kalo cowok bisa dijodohin, tuh.”

Dara muda hanya tertawa kecil lantas kembali menikmati minumannya.

“Kalo kamu?” pertanyaan itu mendadak terlontar dari bibir Ibu.

Iqi melirik atasannya, “Hm?”

“Masih suka kangen, ya, sama …” Ibu memiringkan kepala seolah menunjuk ke tempat yang tak pernah ada.

Iqi langsung tersadar bahwa pastilah majikannya mendengar pembicaraannya dengan Cah ayu, “Oh, itu, nggak, kok, cuma tadi nggak tau kenapa Cah ayu tanya soal itu, jadi, ya, agak kepikiran aja,” jawabnya jujur.

“Aku nggak mau kamu merasa terkungkung atau apa,” kata Ibu pelan, “kalo kamu mau balik ke ‘sana’, atau sekedar pergi dari sini, aku nggak bisa, nggak mau, dan nggak akan ngelarang.”

“Nggak,” Iqi menggeleng, “lagian,” diantarkannya seloki ke bibirnya demi menikmati cairan memabukkan itu lagi, “mau balik atau pergi ke mana? Firdaus tinggal puing, Eden rata dengan tanah, Nirwana sekadar abunya aja udah nggak ada lagi.”

Hening, lalu, “Suatu hari nanti kamu, aku, Cah ayu, Bapak, kita semua, bakal balik ke sana,” Ibu mengulurkan gelasnya.

Terdengar denting syahdu ketika wadah minuman keduanya bertemu, “I’ll drink to that,” sahut Iqi takzim.

Cheers,” Ibu menanggapi dan kedua perempuan beda usia itu serempak menghabiskan minuman mereka. Si majikan berdiri, “Aku mau mandi terus tidur, kamu?”

Setelah memikirkannya sebentar, Iqi merespons, “Paling mau cari udara seger sebentar.”

Setelah menepuk punggung asistennya, “Good night,” Ibu berlalu.

Nighty night.”

Sendirian, Iqi bangkit menuju balkon. Dingin angin malam menerpa wajahnya tatkala membuka pintu kaca. Di ketinggian pencakar langit berpuluh lantai di atas tanah, tak ada yang melihatnya melebarkan keempat pasang sayap akbarnya lalu melesat ke angkasa.

Di cakrawala, di antara binar redup rembulan purnama dan kelap-kelip metropolitan, Iqi meringkuk, pikirannya berkelana. Di dunia tanpa sihir ini, bila mau, makhluk sepertinya atau Ibu atau Bapak dapat berkuasa penuh, tapi … apa bedanya dari sang pemburu dalam ceritanya tadi?

Meski demikian, tetap saja dunia ini pada dasarnya tak lebih dari sebuah kurungan. Dia bebas pergi ke mana pun, kapan pun, melakukan apa pun, tapi hatinya enggan berada di sini. Ini bukan dunianya, bukan rumahnya … dan Iqi ingin pulang.

Mata keemasannya memejam, berusaha menghalau tangisan yang sudah mengumpul. Suatu hari nanti … entah kapan … ia akan bebas ….

Pergi meninggalkan sangkar emas ini ….


Pulang ….


message 4: by Ryan (last edited Aug 18, 2015 09:43PM) (new)

Ryan Dachna | 40 comments Lagu Midi

Midi si bebek kagum dengan lagu para burung. Mungkin bagi para penghuni dahan kombinasi nada-nada mereka hanya sebuah sapaan atau peringatan, namun ketika mereka tertangkap telinga Midi ia membayangkan hal lain. Muncul di benaknya langit biru yang cerah, ia dan teman-teman bebeknya bermain air sementara orangtua mereka mencari makan di antara alang-alang di tepi danau. Ceria ... begitulah lagu para burung.

Banyak yang tidak tahu ini tapi di kala ia sendiri Midi mencoba meniru lagu para penghuni dahan. Awalnya ia tertawa sendiri mendengar hasil tiruannya, tapi itu hanya membuat si bebek tambah penasaran. Terus ia mencoba sampai ia bisa meniru naik turunnya cuitan para burung dengan suara parau miliknya.

Kali ini ia mencoba sesuatu yang baru. Midi memejamkan mata dan membayangkan danau yang tenang di bawah sentuhan cahaya purnama. Ia melagukan nada-nada yang sekiranya cocok. Bila tidak sesuai ia akan mengulangnya dari awal. Terus begitu ia lakukan. Ketukan lagu itu disamakan dengan detak jantungnya. Dan setelah berkali-kali mencoba, ia berada di dalam danau yang dibangkannya. Nyanyian jangkrik menambah kekayaan lagu Midi, Suara ombak kecil yang menyapu tepi danau memberikan ritme yang tenang. Midi tersenyum dan menitikkan air mata.


Tiga bulan berlalu dan Midi lebih kaya empat lagu. Ia mempunyai lagu tentang hujan, tentang bermain bersama teman-temannya, tentang kebaikan ayah ibunya, dan lagu yang diciptakannya pertama kali: danau di bawah purnama. Bagi Midi mendengarkan nyanyiannya sendiri adalah pengalaman yang menyenangkan. Di dalam hatinya ada sebuah dorongan untuk membagi alunan nada-nada yang dirangkainya kepada makhluk lain. Midi merasa bersalah bila sesuatu yang ia gemari itu tidak diketahui hewan lain, seolah ia menyembunyikan sebuah pemandangan indah dari mereka.

Midi pun membuat poster-poster tentang sebuah ‘Pentas Nyanyian oleh Midi Bebek’ dan menempelnya di berbagai tempat. Ia berharap seluruh isi hutan dan danau datang agar ia bisa membagikan lagunya berikut semua perasaan yang terkandung di dalam kepada sebanyak mungkin makhluk. Bahkan para burung.

Masalahnya adalah, siapa sih yang pernah mendengar bebek bernyanyi?

Para hewan hutan dan danau menertawakan poster Midi. “Mendingan aku tidur sambil mangap,” kata seekor buaya. “Benar,” kata seekor babi hutan, “suaramu ngorok lebih merdu daripada suara bebek.” Terus mereka tertawa tanpa sadar Midi ada di sana untuk mendengar olokan mereka.

“Lagu kita yang kaya apa sih?” tanggapan para burung juga tidak menyenangkan. Bagi mereka yang mereka lakukan hanya sekedar bentuk komunikasi. Beberapa burung jantan bahkan tersinggung melihat poster Midi. “Si bebek ini mau ngerayu betina-betina kita? Enak aja!” kata seekor burung jantan. Midi yang sembunyi di bawah pohon mendengar celotehan itu dan air matanya mulai tidak tertahan.

Ia menangis pulang hanya untuk menerima ejekan dan tawa dari teman-teman bermainnya. Hati bebek kecil itu hancur dan ia ambruk di pelukan orangtuanya, lalu memejamkan mata.


Ada sebuah perahu kecil manusia yang terombang-ambing badai. Tadi pemiliknya berharap bisa memancing dengan tenang di tengah danau, namun langit mempunyai rencana yang lain. Ketika angin besar menempeleng perahu itu ke sana kemari dan ombak tinggi mengancam untuk menelannya, si pemilik perahu tidak bisa melakukan apa-apa kecuali berdoa.


“Kaya apa si lagu anak Papa?” tanya Papa Midi, “Coba kamu nyanyi di sini. Biar Papa dengar.”


Manusia itu bernyanyi kepada langit, menceritakan seluruh hidupnya. Kebaikan yang dibalas kebaikan, janji yang terpenuhi maupun belum, juga dosa-dosanya yang tidak sedikit. Wajahnya yang basah tidak membedakan mana air hujan mana air mata, namun dadanya memanas. Penyesalan dan syukur tercampur aduk, seperti air danau yang kacau. Si manusia akhirnya mengatakan bahwa ia siap. Ia telah hidup. Ia menyambut apapun yang datang setelahnya.


Yang pertama merasakan malu adalah para burung. Terinspirasi lagu mereka? Benarkah? Mereka yakin mereka tidak pernah bersuara seindah itu. Hewan hutan juga ikut malu. Suaranya memang parau, tapi mereka meremehkan kemampuannya merangkai nada. Warna-warna emosi yang pernah mereka rasakan disapu oleh bebek kecil itu menjadi sebuah lukisan. Gambarnya adalah seorang manusia di atas perahu kecil yang menyerahkan dirinya pada langit di tengah badai hebat. Mereka menitikkan air mata. Ketika Midi berhenti mereka menyahutkan pujian. Hanya itu yang bisa mereka berikan.

Midi kaget, malu, tapi juga senang. Mereka semua ada di sana. Tapi bagaimana bisa? Bukankah mereka tidak mau menonton? Ia melihat wajah mereka satu persatu berharap ada jawaban di sana. Yang dilihatnya, jauh di belakang mereka kakaknya tersenyum.


message 5: by Stezsen (new)

Stezsen | 297 comments REGI DAN NAT

Regi Si Tikus Coklat sangat suka membaca. Ia tinggal bersama Papa, Mama, Kakek, dan Nenek Tikus dalam liang dinding yang hangat. Ada banyak pintu di lorong itu. Yang hijau ke kamar Regi. Yang mearh ke kamar Papa. Yang ungu ke kamar Nenek. Dan yang biru ke perpustakaan!

Sebetulnya perpustakaan itu bukan milik Keluarga Tikus, tapi punya Tyr Sang Bijak. Keluarga Regi memang tinggal dalam dinding Kastil Tyr.

Regi biasa mengendap-endap di balik pintu biru. Kalau tak ada suara gumam Tyr yang berat, Regi akan membuka pintu dan melompat keluar. Hupla! Dia sudah sampai di perpustakaan. Pintu biru tersamar sebagai bongkahan bata biasa dari sisi sebelah sini. Yang tahu soal itu cuma Keluarga Tikus dan Pan Si Perkutut.

Pan tinggal dalam sangkar emas di meja perpustakaan. Kakinya tinggal satu, tapi nyanyiannya tetap riang dan merdu. Dialah yang mengajari Regi membaca. Katanya, “Meski tinggal dalam sangkar, aku bisa merasakan petualangan hebat lewat buku-buku.”

Itu benar. Apalagi, Tyr Sang Bijak punya banyak sekali buku. Mulai buku memasak, ramuan ajaib, sampai buku cerita. Dari semuanya itu, Regi paling suka membaca buku petualangan. Apalagi kisah Ksatria Peterain yang gagah berani dan Lori, sahabatnya yang setia.

Suatu hari Regi sedang asyik membayangkan Ksatria Peterain menyelamatkan Putri Osald dari kastil Penyihir Jahat. Ia melompat dan menari sepanjang lorong liang. Mulutnya sibuk dengan cerita yang sudah dihafalnya di luar kepala.

“Kadal Mata Satu! Kuusir kau dengan Api! Lalu Peterain menunduk, mengayunkan pedangnya. Hah! Hah! Kadal Mata Satu terguling. Peterain mendaki lereng yang curam. Melompati semak belukar. Hup! Hup! Huplaaaaah!” Gedebak. Gedebuk.

Regi tersandung kakinya sendiri lalu jatuh menabrak pintu. Ia mengusap-usap hidungnya yang benjut. Sakit sekali. Tapi kemudian ia menyadari sesuatu. Pintu di depannya hitam!

Regi belum pernah melihat pintu hitam di liang Keluarga Tikus.

Ia berpikir, “Kalau masuk ke sana, apa aku akan menemukan harta karun? Atau jangan-jangan singgasana Raja? Atau penjara bawah tanah? Atau sarang macan bersayap?”

“Aaah.” Regi mengusap wajahnya. Sekarang dia merasa seperti Ksatria Peterain. Dia penasaran. Dia ingin sekali menjalani petualangan seru seperti pahlawan keren di dalam buku.

Regi memutuskan untuk membuka pintu. Tapi kenopnya tak bisa diputar. “Pasti karatan karena lama tak dipakai,” pikirnya.

Regi menggedor-gedor pintu. Menubruknya dengan bahu. Menyundulnya dengan kepala. Pintu tidak terbuka. Ia terus memutar. Menarik. Mendorong. Berlari sekencangnya lalu menabrak pintu kuat-kuat. Blak!

Pintu menjeblak terbuka. Regi meluncur jatuh. Menggelinding di atas meja kayu hitam yang tinggi besar. Akhirnya dia menumbuk piring kuningan. Lalu berhenti. Regi duduk terbengong, mengucek mata. Dia berada di tempat aneh.

Ruangan itu remang-remang. Ada jendela bundar kecil yang teralinya bengkok-bengkok menyeramkan. Di bawah jendela itu ada meja lain dari batu kelabu. Ada gelas-gelas dan labu besar dari kaca, berisi air warna-warni. Ada piring-piring kuningan, jambangan logam, dan kotak-kotak dengan tulisan aneh. Ada buku-buku tua di atas meja.

Regi berbinar melihat buku besar bersampul kulit di atas meja kayu. Buku itu lebih tebal dari tinggi badan Regi, jadi halaman-halamannya tidak kelihatan. Sekarang Regi benar-benar penasaran apa isinya.

“Halo.” Sebuah suara memanggil dari belakang.

Regi menoleh kaget.

Ada sangkar kuningan persegi panjang. Di atapnya ada sebuah anak kunci. Di dalamnya bukan burung perkutut, melainkan seekor tikus! Bulunya hitam mengkilap. Badannya kurus. Sabuk putih melingkari lehernya.

Regi melongo. Dia tak pernah tahu ada tikus lain di kastil ini selain keluarganya.

“Um. Haai.” Regi melambai. ”Namaku Regi. Keluargaku tinggal di liang dalam dinding itu. Senang berkenalan denganmu.” Regi membungkuk lalu menyodorkan tangannya. Dia memasang senyum yang paling manis.

Tikus Hitam tertegun sebentar. Lalu mengulurkan tangannya lewat jeruji. “Namaku Nat. Senang berkenalan denganmu juga,” katanya.

Mereka pun berjabat tangan. Jari-jari Nat panjang, tapi lebih kurus dari tangan Regi yang gemuk.

Nat kelihatannya tertarik sekali pada liang di dalam dinding. “Jadi kau dan keluargamu tinggal di sana. Kukira di dalam sana gelap sekali.”

“Oh, tidak,” kata Regi. “Kakek dan Papa memasang banyak lentera di sepanjang lorong.”

“Lalu kau sampai ke sini karena –“

“Yah. Main Ksatria Peterain.” Regi mengira Nat akan menertawainya. Atau mengomelinya seperti Papa. Menurut Papa, Regi kerjanya cuma membaca dan jarang membantu mengumpulkan remah-remah roti.

Tapi Nat cuma bertanya, “Siapa itu Peterain?”

“Um. Dia ksatria hebat yang ada di buku.” Regi menyengir lebar.

“Buku?” Nat mencondong badan sampai moncongnya keluar dari jeruji. “Kau bisa membaca buku?”

“Em. Yap.”

“Wow. Kukira cuma manusia yang bisa baca buku.”

Sekarang Regi tahu Nat menyukai kemampuannya. Hidungnya mengembang dan dadanya mulai membusung. “Ah, tidak juga. Pan Perkutut di perpustakaan bisa baca buku. Dia yang mengajariku membaca. Katanya, kalau membaca buku, kita bisa melihat dunia tanpa keluar dari kamar.”

“Benarkah? Kalau begitu, seperti apa di luar sana?”

“Yah, macam-macam! Misalnya dari buku-buku itu.” Regi bersemangat melompat ke atas tumpukan buku di meja. Tetapi dia tak mengenali huruf-huruf tua yang berderet di sana. “Aah. Yah. Aku tidak pernah baca buku ini.” Ia menyengir. “Tapi buku-buku di perpustakaan banyak dan keren.”

“Seperti apa? Seperti apa?” Nat duduk tak sabar dalam sangkarnya.

“Kau benar-benar mau dengar?”

Nat mengangguk.

Regi melompat riang dari tumpukan buku menuju sangkar Nat. Baru kali ini ada tikus yang memintanya bercerita! Dia sangat senang mendapat pendengar.

“Kalau begitu, akan kuceritakan tentang Ksatria Peterian,” kata Regi. “Tapi ceritanya panjang, jadi kau harus sabar.”

Ternyata Nat pendengar yang baik. Dia terpesona menikmati cerita Regi. Padahal tikus coklat itu baru menceritakan babak awal Ksatria Peterian yang ingin menyelamatkan Putri Osald.

Tak terasa langit di luar jendela memerah. Regi menutup ceritanya dengan Peterian yang berkuda menuju Rawa Kosong bersama Lori.

“Sayang sekali sudah mau malam. Aku harus pulang sekarang. Mama pasti kuatir.” Regi berdiri. Dia melihat wajah Nat yang muram. “Kalau kau mau aku bisa kembali besok dan menceritakan lanjutannya.”

Wajah Nat berubah cerah. “Janji?”

“Ksatria Regi tak pernah ingkar janji.”

Kedua tikus itu tersenyum dan berjabat tangan sebelum berpisah.

Regi tak sabar ingin menceritakan petualangannya pada Papa dan Mama. Keluarga Tikus sedang duduk bersama untuk makan malam.

“Percaya tidak, tadi siang aku menemukan pintu hitam,” kata Regi dengan mulut penuh keju dan roti.

Di luar dugaan Kakek Tikus melotot. “Kau tidak membukanya, kan?”

Regi nyaris tersedak. “Um. Tidak.” Dia menggosok-gosok kaki di bawah meja sambil menatap piring. “Aku mau buka pintunya, sih. Tapi tidak bisa.”

Papa dan Kakek sama-sama menggumam panjang. “Bagus.”

Kakek mengeluarkan sebuah kunci kecil dari saku bajunya. “Kunci pintu itu ada di sini,” katanya. “Tikus kecil tidak boleh masuk ke pintu hitam.”

Regi menelan ludah. Dia sudah menutup lagi pintu itu rapat-rapat. Tapi tetap saja kenop dan kuncinya rusak. Dia tak bisa tidur semalam-malaman.

Untungnya Keluarga Tikus terlalu sibuk mencari makan selama musim panas. Tak ada yang memperhatikan pintu hitam lagi. Regi memutuskan tak akan memberitahu Papa Mama soal teman barunya. Setiap sore yang cerah, ia menyelinap lewat pintu hitam untuk menemui Nat di sangkarnya.

Regi membuat Nat terpesona pada Ksatria Peterain. Mereka berangan menembus Hutan Hitam, menumpang kapal bajak laut besar, membunuh serigala jahat. Nat selalu sedih ketika malam tiba dan Regi akan pergi. Padahal petualangan Peterain belum selesai.

Dua hari menjelang musim gugur, Regi tidak datang. Nat kecewa menunggu sahabatnya muncul dari balik dinding. Bulu hitamnya kusam.

Besoknya Regi muncul. Dia buru-buru minta maaf. “Papa menyuruhku membantu mengumpulkan remah roti. Sebentar lagi sudah musim gugur. Kami pasti semakin sibuk.”

“Tidak apa.” Nat tersenyum lemah.

Regi memperhatikan sahabatnya yang lesu. “Kau tidak apa-apa?”

“Perutku sakit kemarin. Tapi sekarang sudah baikan.” Nat merapat ke jeruji sangkar. “Petualangan Peterain masih panjang?”

“Um. Mungkin kita bisa selesai sebelum musim dingin nanti.”

Mata Nat berbinar. “Aku penasaran dengan akhir ceritanya.”

“Aku mau meringkasnya, sih. Tapi lebih enak menikmati semua petualangannya, kan.”

“Yah, kau benar. Aku tidak mau kelewatan petualangan di Gua Kelelawar.”

Jadi Regi melanjutkan kisah Peterain. Nat menghela nafas lega saat akhirnya Peterain lolos dari jerat ular berkepala delapan. Dia bertanya-tanya apa Padang Bunga Matahari benar-benar ada seperti dalam cerita.

“Kau juga penasaran, kan,” Regi setuju. “Aku selalu ingin jadi Ksatria seperti Peterain dan bertualang keliling dunia. Tapi Papa bilang aku tak bisa keluar kalau tak becus mengumpulkan remah roti.”

“Kalau begitu kau harus rajin mengumpulkan remah roti. Mungkin kau bisa jadi kuat seperti Peterain,” kata Nat.

“Ah, benar juga.” Regi menyandar di jeruji sangkar Nat, menatap jendela.

“Aku juga ingin melihat keluar, tapi badanku terlalu lemah untuk berjalan jauh.” Nat duduk. Juga memandang jendela.

Lalu lonceng di luar berdentang empat kali.

Nat mengambil mangkok dalam sangkarnya. Isinya cairan ungu. Dia meminumnya sampai habis.

“Apa itu?” tanya Regi. Tapi kemudian dia sadar kalau isi mangkok itu berwarna sama dengan cairan dalam botol besar di samping sangkar.

“Ini ramuan obatku,” kata Nat. “Tuan Tyr yang membuatnya.”

Regi terkejut. “Tuan Tyr sering ke ruang ini?” Meskipun tinggal di kastil Tyr, Regi hanya pernah melihat pria bijak itu sekilas saja.

Nat mengangguk. “Tuan Tyr kadang ke sini. Beliau pasti sibuk karena putrinya sakit.”

Regi tidak tahu Tuan Tyr punya seorang putri. Dia berdiri. Mengamati botol cairan ungu di samping sangkar. Ada label kertas bertuliskan huruf kuno di sana. Regi bertanya-tanya apa arti tulisan di botol itu. Dia ingat model huruf yang sama juga dipakai di buku tua di atas meja.

“Kalau begitu mulai besok aku akan rajin mengumpulkan remah roti,” kata Regi. “Kau juga jangan lupa minum obat supaya cepat sembuh. Nanti kita bisa bertualang bersama. Aku jadi Peterain. Kau jadi Lori.”

“Tapi aku tidak bisa menulis,” kata Nat. Mana mungkin dia menjadi Lori yang selalu mencatat semua petualangan sahabatnya dalam buku.

“Tenang saja. Setelah kau sembuh, aku bisa mengajakmu ke perpustakaan. Pan Perkutut pasti mau mengajarimu menulis.” Regi tersenyum lebar.

Tak lama senja tiba dan hari menjadi gelap.

Regi menepati janjinya mengumpulkan remah roti. Papa dan Mama senang karena Regi semakin rajin. Kabar buruknya, Regi tak bisa sering-sering datang menemui Nat. Musim gugur sudah berakhir tapi kisah Peterain belum selesai.


message 6: by Stezsen (new)

Stezsen | 297 comments Suatu hari Regi menemukan Nat tertidur dalam sangkar. Regi tak ingin mengganggu sahabatnya. Dia memutuskan untuk pergi. Regi berbalik, mendaki tumpukan buku-buku tua untuk kembali ke liang dindingnya.

Tiba-tiba suara Nat memanggil, “Oh, Reg!” Tikus hitam itu bangun, menggosok mata. “Maaf, aku ketiduran.”

“Tidak apa-apa,” kata Regi. Dia kembali ke sisi sangkar Nat. “Kukira aku mengganggu tidur siangmu, jadi –“

“Oh. Tidak. Tidak.” Nat bersusah payah duduk. “Aku cuma sedikit pusing hari ini.”

Regi cemas karena sahabatnya kusam. Dia melihat isi botol obat di samping sangkar sudah habis.

“Tuan Tyr tahu kalau kau pusing?” tanya Regi.

Nat menggeleng. “Tuan Tyr sibuk. Tiga hari ini dia tidak kemari. Mungkin besok beliau datang, obatku, kan, sudah habis.”

“Ooh –“ Regi ingin sekali bisa membantu. Tapi sekarang cuma itu yang bisa dia katakan.

“Hei, aku baik-baik saja,” kata Nat. “Setiap kali kau cerita soal Peterain, badanku rasanya lebih sehat.”

“Benarkah?”

Nat mengangguk. “Apa petualangan Peterain masih panjang?”

Regi memainkan jari-jarinya. “Um. Kukira kita bisa selesai sebelum musim dingin ini. Tapi belakangan ini aku, kan, sibuk dan jarang datang. Jadi, um. Masih agak lama.”

“Tapi aku bisa menyingkatnya sekarang untukmu!” tambah Regi buru-buru.

“Jangan!” seru Nat. “Aku mau dengar semuanya.” Nat duduk di samping jeruji sangkarnya, memeluk kaki. Dia siap menikmati petualangan Peterain.

Regi bercerita tentang Peterain yang terdampar di Pulau Raksasa. Lori membantu Peterain melewati jebakan Laba-laba di Kebun Labu. Mereka akhirnya sampai ke Tebing Batu Hitam. Di kejauhan tampak Kastil Maut tempat Penyihir Jahat menyekap Putri Osald.

Nat menggenggam jeruji sangkarnya erat-erat. “Lalu – Peterain akhirnya bertemu putri?”

“Ah, ya. Putri memang ada di istana itu. Tapi sebelumnya Peterain harus melewati Laut Kematian dan pasukan Jurang Kelabu,” kata Regi. Dia menoleh ke jendela. “Oh, langit sudah gelap sekarang. Aku harus pulang. Besok aku pasti datang lagi!”

Nat melambaikan tangannya. Regi menghilang ke dalam liang dinding.

Nat tak sabar menunggu pagi datang. Tapi malam itu kepalanya sakit sekali.

Keesokan harinya, Regi terkejut karena mata Nat merah. Nat bilang sakit kepalanya memang semakin parah sementara Tuan Tyr belum datang juga. Tapi dia meminta Regi melanjutkan kisah Peterain.

“Oh, ayolah! Kau sakit sekali hari ini,” kata Regi. “Aku tidak bisa cerita tentang Peterain sementara kau sakit kepala.” Dia melompat turun dari meja tinggi itu sambil berseru, “Tunggu! Aku akan mencarikan obat untukmu!”

Regi sudah berulang kali mengamati huruf-huruf yang tertera di botol obat Nat. Dia tidak tahu apa artinya. Tapi dia sudah hafal bentuknya. Regi yakin dia bisa mencari obat yang serupa di rak botol Tuan Tyr.

Regi mengamati setiap botol. Membersihkan label-label yang berdebu. Menyelinap di antara piring-piring timbangan besar. Dia mencari dari sudut ke sudut. Mulai dari rak yang paling pendek di dekat lantai sampai yang paling tinggi di dekat atap.

Nat menunggu dengan sabar dalam sangkar.

“Kau menemukan sesuatu?” tanya Nat.

“Tidak,” jawab Regi. Lesu.

Regi duduk di tepi rak ketiga dari atas. Obat itu benar-benar tidak ada. “Aku akan pergi mencari Tuan Tyr,” katanya. “Dia pasti tahu di mana membeli obatmu itu.”

Nat menggeleng lalu tengkurap di sangkarnya. “Tuan Tyr biasanya meramunya di meja di bawah jendela itu.”

Regi menoleh ke meja batu panjang di bawah jendela bundar. Di atasnya banyak botol, mangkok, piring, dan kertas, Regi meluncur dengan lincah ke lantai. Lalu pelan-pelan memanjat meja batu itu.

“Kalau kita mencampur semua cairan di botol-botol ini, mungkin kita bisa mendapatkan obatmu,” katanya.

Tentu saja Nat tidak percaya.

Tapi Regi sudah sibuk menimbang-nimbang cairan mana yang harus dimasukkannya lebih dulu. Dia melewati mangkok tembaga besar dan gelas aneh segitiga. Ada kertas-kertas berserakan di bawah gelas itu.

“Hei! Lihat yang kutemukan!” seru Regi girang. “Aku menemukan resep obatmu!”

“Kukira kau tak bisa membaca tulisan kuno itu,” kata Nat.

“Memang tidak. Tapi ada terjemahan di sampingnya.”

Regi menarik kertas besar kekuningan sekuat tenaga. Hup! Bruk! Dia jatuh terguling. Kertas itu menutupi wajahnya.

Regi bangun dengan senyum mengembang. Nama obat Nat tercantum besar-besar dengan huruf kuno. Di sampingnya tertulis terjemahan: PARCENIA. Lalu di bawahnya ada dua kolom penuh tulisan. Yang kiri memakai huruf kuno. Yang kanan tulisan tangan Tuan Tyr dalam Bahasa Umum. Regi girang bukan kepalang.

“Pasti Tuan Tyr sudah lama meneliti obatmu ini. Lihat. Terjemahannya dicoret dan dibenahi di sana sini.” Regi mulai membaca.

“Tiga tetes Urudia dan empat sendok Emuli. Bakar dengan api biru selama sembilan belas menit. Tambahkan delapan puluh sendok kecil Disadio dan lima cangkir Orobirin. Diamkan selama seratus hari. Tambahkan Estia tumbuk dan kacang Lopon. Berikan pada yang berhati tulus selama tiga ratus enam puluh hari dan dia akan – mati –?”

Kertas itu jatuh dari tangan Regi.

Regi menoleh pada Nat yang terbaring muram di sangkar.

“Maaf aku tak memberi tahumu,” kata Nat lemah.

“Jadi Tuan Tyr – mengurungmu di sini untuk meracunimu sampai mati?”

“Tidak, Reg. Kau tidak mengerti –“

“Kenapa dia melakukan ini padamu?” teriak Regi marah.

Regi melompat turun dari meja batu. Memanjat meja kayu tinggi tempat sangkar Nat berada. Regi menggulingkan botol Parcenia di samping sangkar sampai jatuh berkeping-keping di lantai. Dia mengambil kunci kuningan dari atap sangkar. Lalu turun dan membuka pintu sangkar lebar-lebar.

“Ayo kabur!” katanya.

Nat tidak mau keluar. “Kau tidak mengerti, Reg, aku –“

“Aku bisa menggendongmu sampai ke liang.” Regi menarik tangan Nat. “Papa dan Kakek pasti marah karena aku masuk ke pintu hitam. Tapi mereka pasti senang menerimamu sebagai keluarga.”

“Tidak!” Nat melepaskan tangannya. “Aku tidak bisa.” Tikus hitam itu menatap sahabatnya sedih. “Parcenia harus diberikan pada mereka yang berhati tulus, Reg. Kau mengerti? Aku yang menyerahkan diriku kemari.”

Mulut Regi menganga lebar.

“Tapi kenapa?” tanya Regi lemah.

Nat terduduk di dalam sangkar, menyandar jeruji. “Putri Tuan Tyr menyelamatkan aku yang terkubur salju musim dingin. Dia memberi aku makan dan memeliharaku sampai sembuh. Tahun lalu dia terserang penyakit aneh. Kata Para Bijak sakitnya hanya bisa disembuhkan hati tulus yang mengecap Parcenia. Harus ada yang minum ramuan itu sampai hatinya mengeras dan diberikan untuk Putri. Jadi aku menarik tangan Tuan Tyr dan menyodorkan tanganku.”

Regi jatuh berlutut.

“Aku tidak kuat dan hebat seperti Peterain,” kata Nat. “Tapi kalau aku tetap di sini, Putri akan selamat, kan.”

“Sudah berapa lama kau di sini?” tanya Regi pelan.

“Aku tidak pintar menghitung hari. Tapi aku sudah di sini dari musim dingin tahun lalu.”

Regi terdiam.

“Kalau kau menulis ceritaku di buku seperti Lori, mungkin aku akan jadi keren seperti Peterain.” Nat melepas sabuk putih dari lehernya. Dia memberikan sabuk itu pada Regi. “Tolong kembalikan ini pada Putri,” katanya. Lalu tersenyum.

Regi mengambil sabuk putih itu.

Tok. Tok. Tok. Suara langkah berat terdengar di luar.

“Tuan Tyr datang. Kau harus pergi sekarang,” kata Nat. “Beliau pasti tidak suka kau mengacak-acak meja dan rak botolnya.”

Regi menggenggam sabuk putihnya dengan dua tangan.

“Selamat tinggal.” Nat melambai.

“Selamat tinggal,” sahut Regi pelan.

Kemudian mereka berpisah.

***

Ketika musim semi tiba Putri Tyr telah sehat kembali. Gadis kecil itu bisa mengunjungi perpustakaan seperti dulu. Sang putri menemukan sebuah buku baru di atas meja. Di sampulnya ada gambar seekor tikus hitam yang tak asing lagi sedang tersenyum. Sebuah sabuk putih kecil tergeletak di samping buku itu. Putri Tyr mengangkat sabuk itu. Dia mengenalinya. Dia menatap tikus hitam di sampul buku, membalas senyumnya.

Lalu sang putri membuka halaman pertama.

Kisah Nat – Seorang Pahlawan
oleh Regi


TAMAT


message 7: by Florensia (new)

Florensia Meilanie | 37 comments Kucing dan Anjing


Si Putih adalah seekor kucing rumahan yang terlahir dari ibunya yang merupakan seekor kucing Persia. Dengan bulu tebal berwarna putih yang menyelimuti seluruh tubuhnya, dari atas kepala sampai ke ujung ekor, membuat dirinya begitu disayangi oleh Randi, pemiliknya.

Dari awal sejak dirinya lahir, si Putih begitu diperhatikan oleh pemiliknya, diberi makan makanan enak dan mahal, diberikan tempat tidur yang bagus, dan juga dirawat layaknya raja. Si Putih begitu menyayangi pemiliknya sehingga ia bersikap begitu penurut dan ramah kepada setiap makhluk yang penampilannya begitu mirip dengan sang pemilik, manusia.

Walau demikian, si Ibu tidak menyukai sikap si Putih yang begitu penurut dan akhirnya mengomeli anaknya itu, “Putih! Kamu tidak boleh bersikap begitu baik! Kalau nanti Randi terbiasa dengan sikapmu yang begitu baik, nanti ia akan menjadi kurang ajar!” jelas sang Ibu membuat si Putih menjadi bingung.

“Tapi, Ibu, kenapa begitu? Randi sudah begitu baik padaku, kenapa aku tidak boleh baik kepadanya?” tanyanya lagi.

“Kita adalah dewa dan sudah selayaknya para manusia itu bersikap demikian kepada kita,” jawab sang Ibu membuat si Putih mengangguk mengerti.

=oOo=

Di sisi lain, di rumah sebelah milik Pak Tomo, terdapat seorang anjing kecil bernama Kukis. Si Kukis adalah anjing Beagle yang imut dan taat dengan setiap perintah yang dikeluarkan oleh Pak Tomo.

Sejak usianya belia, Pak Tomolah yang Kukis lihat setelah ibunya yang langsung meninggal setelah melahirkan dirinya dan beberapa adik-adiknya yang lain.

Walau ibunya meninggal, tapi Kukis tidak sedih karena ada Pak Tomo yang sungguh baik hati merawat dirinya dan adik-adiknya. Pak Tomo setiap hari memberi Kukis dan adik-adiknya makan daging kalengan yang selalu dibeli oleh Pak Tomo setiap pulang dari kantor.

Terkadang, adik-adik Kukis yang lahir lebih lambat beberapa menit darinya selalu iseng dan senang membuat kekacauan di dalam rumah Pak Tomo, hal ini membuat Kukis marah dan mengomeli mereka, “Kalian ini tidak boleh seperti itu!”

“T-tapi, kenapa?” tanya si Bungsu yang merupakan adik Kukis paling kecil.

“Manusia adalah dewa yang baik karena telah memberi kita makan dan tempat tinggal. Kita harus bersikap baik kalau tidak ingin hidup dengan penderitaan!” jelas Kukis membuat adik-adiknya mengangguk.

=oOo=

Setelah Kukis dan Putih beranjak dewasa, mereka tanpa sengaja bertemu ketika sedang bermain dan dengan iseng melewati lubang yang berada di bawah pagar yang membatasi rumah Randi dan Pak Tomo.

Awalnya, keduanya tidak saling membenci karena mereka bahkan tidak mengenal satu sama lain. Akan tetapi, yang pertama angkat suara adalah si Putih dengan sikap angkuh yang ia dapatkan dari hasil didikan ibunya.

“Hei, kau, makhluk aneh! Kenapa kau tidak memujaku?” tanya si Putih membuat Kukis bingung.

“Hah? Memujamu? Kau pikir kau ini dewa? Dewa yang kupuja adalah para manusia yang mengurusku dengan begitu baik!” jelas Kukis membuat Putih tertawa.

“Dasar, makhluk bodoh! Kaumku adalah dewa sebenarnya! Oleh karena itu para manusia memuja kami dan memberi kami makan!” balas Putih membuat Kukis geram.

“Kau jangan asal bicara, ya!”

“Kau yang jangan asal bicara!”

Kesal dengan perbedaan pendapat dan pengertian mereka mengenai manusia dan dunia ini, Putih dan Kukis pun selalu bertengkar dan berkelahi setiap kali mereka bertemu satu sama lain. Inilah alasan kenapa para kucing dan anjing selalu bertengkar setiap kali mereka bertemu.

Jadi, menurut kalian, siapa yang salah?

KUCING DAN ANJING
BY: FLORENSIA_MEILANIE


message 8: by Satyacaraka (last edited Sep 09, 2015 12:55PM) (new)

Satyacaraka | 172 comments TUAN BENGKUNANG SANG DETEKTIF SATWA


Tuan Arnab dan Nyonya Karil sama sekali tidak senang.

Pagi ini adalah hari kelima musim panen, dimana wortel-wortel di ladang akan menjadi gemuk dan merah pada puncaknya. Hari ini, seharusnya Tuan Arnab bersama Nyonya Karil akan sibuk memanen seladang penuh wortel dan menggelar pesta panen pribadi pada malam nanti. Namun, melihat ladang yang porak poranda dan penuh lubang membuat lumbung mereka terpaksa kosong hingga musim panen selanjutnya.

Nyonya Karil berteriak histeris dan menghambur menuju ladang. Tuan Arnab tahu ini adalah perbuatan Tuan Roden si Tikus Tanah.

Beberapa bulan lalu, saat sepasang kelinci itu menanam bibit wortel pada barisan-barisan yang teratur, seekor tikus tanah muncul dari lubang di tanah dan menawarkan sebuah perjanjian: Tuan Roden menginginkan sebagian dari hasil panen wortel di ladang itu. Tentu saja Nyonya Karil yang tamak itu tidak setuju.

“Sudah kubilang, seharusnya kita setuju dengan perjanjian Tuan Roden,” kata Tuan Arnab sambil berjalan lemas menuju ladang.

“Apa?” Nyonya Karil di ujung ladang menjadi berang. “Kita yang bersusah payah merawat wortel kita, dan kau mau saja tikus tanah itu mendapat seperempat ladang? Aku tidak akan rela dimanfaatkan begitu saja!”

“Sekarang kau tahu akibatnya, ‘kan? Kita malah tidak mendapatkan apa-apa!” Tuan Arnab ikut meninggi. “Dan Tuan Roden akan kembali lagi setiap puncak panen untuk merampas lagi!”

“Cukup!” teriak Nyonya Karil. “Kita akan meminta bantuan kepada Tuan Bengkunang.”

“Tuan Bengkunang? Sang Detektif Satwa itu? Aku tidak pernah memercayainya. Kau ingat riwayat nenek moyangnya dulu, ‘kan—si kancil yang suka mengelabui hewan lain?” ujar Tuan Arnab.

“Itu hanya legenda, kenapa kau selalu berpikir kolot?” Nyonya Karil berpindah kesana-kemari, memunguti sisa-sisa wortel dalam pelukannya. “Sekarang dia membantu hewan-hewan lain yang kesusahan seperti kita, dan semua kasus yang ia tangani selalu berhasil dengan bagus.”

“Tapi …,” kata-kata Tuan Arnab terputus.

“Yang jelas, setelah ini kita akan pergi mengirimkan surat untuk meminta bantuannya!” sela Nyonya Karil ketus, sambil membawa sepelukan wortel rusak ke dalam lumbung.

___

“Selamat datang di sarang kami, Tuan Bengkunang,” salam Nyonya Karil sambil tersenyum lebar, menampakkan dua gigi depannya yang menawan. “Silakan masuk.”

“Baiklah,” sahut Tuan Bengkunang singkat.

Nyonya Karil melesat ke dapur, digantikan oleh Tuan Arnab yang sedikit was-was kepada kancil itu, kemudian bersalaman.

“Saya sudah membaca surat Anda. Tapi, bisakah diceritakan lagi, kasus apa yang akan saya hadapi?” tanya Tuan Bengkunang.

“Jadi begini,” Tuan Arnab berdehem sekilas, “Tuan Roden si Tikus Tanah beberapa waktu lalu menyampaikan perjanjian kepada kami bahwa ….”

Nyonya Karil mengeraskan batuknya dengan sengaja dari dapur.

“Maksud saya, Tuan Roden telah mencuri hampir seluruh wortel siap panen kami dan memporak-porandakan ladang kami, seperti yang Anda lihat di luar,” jelas Tuan Arnab.

Nyonya Karil kembali dengan sepiring wortel yang dipotong kecil-kecil.

“Jadi, kami mohon bantuan Tuan Bengkunang untuk menghentikan Tuan Roden agar tidak mencuri wortel kami lagi pada musim panen berikutnya,” kata Tuan Arnab.

“Hmmm,” Tuan Bengkunang segera memikirkan solusinya.

Nyonya Karil yang menunggu dengan penuh harap.

“Kapan kalian bisa menanam bibit wortel kembali?” tanya Tuan Bengkunang.

“Secepatnya,” sahut Nyonya Karil.

“Saya sudah memikirkan penyelesaiannya,” kata Tuan Bengkunang sambil tersenyum.

___

Tak lama setelah konsultasinya dengan Tuan Bengkunang, Tuan Arnab dan Nyonya Karil segera memperbaiki ladang mereka dan mulai menanam bibit wortel. Mereka tetap merawat wortel mereka dengan baik seperti biasa. Sesekali Tuan Bengkunang datang berkunjung untuk melihat perkembangan ladang wortel dan memeriksa lumbung, lalu menyusun rencananya.

“Jadi, Anda berdua yakin bahwa Tuan Roden tidak akan datang sebelum hari kelima musim panen?” tanya Tuan Bengkunang.

“Tentu saja. Dia akan datang pada dini hari kelima karena kualitas wortel tidak akan sebaik pada hari itu. Dia juga menginginkan keuntungan yang maksimal,” jawab Nyonya Karil sebal.

“Baiklah,” Tuan Bengkunang memutuskan, “Anda berdua bisa berbagi tugas. Sebelum hari itu, carilah sebatang pohon dan potong-potong menjadi seukuran wortel, kemudian rendam semuanya selama sehari semalam, agar menjadi lunak menyerupai wortel.”

Tuan Arnab dan Nyonya Karil mengangguk-angguk.

“Setelah itu, pada hari keempat panen, ambil semua wortel asli dan simpan ke dalam lumbung, kemudian tanam wortel palsu itu untuk mengelabuhi Tuan Roden. Dengan begitu, Anda berdua tetap akan memiliki wortel-wortel Anda dan membuat Tuan Roden jera,” kata Tuan Bengkunang mengakhiri penjelasannya.

“Baiklah,” kata mereka berdua.

“Oh ya, hampir lupa, sebelum Anda menyimpan hasil panen, pastikan untuk menggelar selembar kain tebal yang lebar sebagai alas untuk mencegah penciuman Tuan Roden dari dalam tanah,” tambahnya.

“Lalu, upah apa yang tuan minta jika rencana ini berhasil?” tanya Tuan Arnab.

“Bagaimana dengan setengah hasil panen?” tawar Tuan Bengkunang.

Nyonya Karil terlihat menimbang-nimbang dan mendiskusikannya dengan suaminya. “Sepakat,” jawabnya bersikeras, meskipun Tuan Arnab terlihat tidak setuju karena mencurigai sesuatu. “Asalkan rencana ini dapat berhasil,” lanjut Nyonya Karil.

___

Musim panen pun tiba. Sebelum hari kelima datang, Tuan Arnab dan Nyonya Karil segera bekerja dan melaksanakan rencana Tuan Bengkunang. Pada hari keempat, segera setelah sehari semalaman merendam wortel-wortel palsunya, Nyonya Karil pun menggelar selembar lebar kain tebal di lumbung mereka dan memaneni wortel-wortel, sementara Tuan Arnab bertugas menanam wortel palsu di tempat wortel asli ditanam sebelumnya. Mereka menyelesaikan itu semua sore hari sebelum matahari terbenam.

Keesokan harinya, Tuan Arnab dan Nyonya Karil cepat-cepat bangkit dari tempat tidurnya dan melihat keadaan ladang. Mereka terkejut mendapati ladang kembali porak-poranda.

“Kupikir wortel palsu itu akan mengelabuhi Tuan Roden dan meninggalkan ladang kita tanpa menyentuhnya!” kata Nyonya Karil gusar.

“Lihatlah,” kata Tuan Arnab sambil mengambil sebatang kayu yang tergeletak, “Tuan Roden memang tidak menyentuh wortel palsu kita. Dia hanya merusak ladang kita!”

“Periksa lumbung!” Nyonya Karil semakin histeris dan segera berlari ke lumbung di belakang sarangnya, di sisi lain ladang.

Betapa terkejutnya mereka berdua saat tahu lumbung itu kosong melompong. Wortel-wortel mereka lenyap bersama kain tebal yang dijadikan alas. Mereka hanya menemukan secarik pesan.

Terima kasih atas hasil panennya. Kami akan sangat menikmatinya.

Nyonya Karil mengamuk bagai kelinci gila.

Tuan Arnab yang lebih bisa mengendalikan emosinya menemukan segenap keganjilan yang sangat kentara. Tidak ada lubang di tanah atau pun dinding lumbung mereka, dan pintu lumbung terkunci seperti biasa

Pencurinya jelas bukan hanya Tuan Roden.

“Sudah kubilang untuk tidak mempercayai kancil itu, ‘kan!” Tuan Arnab meledak saat itu juga. “Dia bekerjasama dengan tikus tanah itu!”

Nyonya Karil terus saja berguling-guling, tidak bisa menerima kenyataan, terlebih lagi menyesal karena mempercayakan hasil panennya yang berharga kepada orang yang salah.

“Kau ingat, ‘kan, Tuan Bengkunang pernah memeriksa lumbung kita? Dia mempelajari seluruhnya, bahkan kunci lumbungnya!” Tuan Arnab menumpahkan segala kemarahannya, dan setelah ia tahu kecurigaannya terbukti, ia semakin geram.

Jerit tangis Nyonya Karil tetap saja tak berhenti, bahkan semakin nyaring.

Tanpa bicara lagi, Tuan Arnab segera bergegas untuk mendatangi sarang Tuan Bengkunang.

Namun, sebelum Tuan Arnab meninggalkan ladang, dari dalam hutan tidak jauh dari sarangnya, Tuan Bengkunang muncul bersama Tuan Roden dengan tangan terikat, didampingi oleh seekor siamang. Dua siamang lainnya berjalan di belakang mereka sambil membawa sebuntal kain raksasa.

Tuan Arnab tidak mengerti apa yang terjadi. Dengan murka, ia berlari menerjang Tuan Bengkunang, yang segera ditenangkan oleh siamang pendamping Tuan Roden.

“Tolong biarkan saya menjelaskan terlebih dahulu, tuan,” kata Tuan Bengkunang.

“Kau …,” meronta-ronta dalam rengkuhan siamang itu, Tuan Arnab pun akhirnya melemas.

“Maaf sebelumnya tidak memberitahukan Anda sebelumnya, tapi ini adalah bagian dari rencana,” jelas Tuan bengkunang dengan tenang.

“Rencana apa maksudmu?”

Nyonya Karil keluar dari lumbung dan menghampiri mereka dengan ganas. Seekor siamang yang lain segera menenangkannya.

“Untuk menghentikan Tuan Roden agar berhenti merampas hasil panen ladangmu, saya berpura-pura bekerjasama dengannya untuk mendapatkan wortel-wortel aslimu. Dengan begitu, saya bisa mengawasi pergerakannya, dan bersama dengan Tim Detektif Satwa saya, kami bisa menangkap Tuan Roden dengan segera,” jelas Tuan Bengkunang.

Tuan Roden menunduk lesu, terlihat kecewa karena dikhianati.

“Jadi, ini, kami kembalikan semua hasil panen Anda berdua, tak kurang sedikit pun,” kata Tuan Bengkunang, “dan kami akan mengamankan Tuan Roden sehingga tidak akan mengganggu kalian lagi.”

Tuan Arnab dan Nyonya Karil membutuhkan waktu beberapa saat sebelum akhirnya berubah reaksi. Mereka berdua pun senang dan berterima kasih kepada Tuan Bengkunang karena berhasil membantu mereka dengan cara yang cerdik. Sesuai perjanjian, Tuan Bengkunang membawa pulang setengah bagian wortel-wortel dalam buntalan raksasa itu.

___

“Harus kuakui, wortel mereka memang sangat lezat,” kata Tuan Roden sambil mengunyah sebatang wortel dengan lahap.

“Masih ada cukup banyak yang bisa kita nikmati,” kata Tuan Bengkunang, juga menikmati sebatang wortel.

“Kau seharusnya meminta upah lebih banyak,” kata salah seekor siamang, melahap habis sebatang dan mengambil satu lagi.

“Kau tahu, ‘kan, kelinci betina itu sangat tamak dan kikir. Aku tak yakin dia akan setuju,” jawab Tuan Bengkunang.

“Siapa peduli? Lagipula aku sudah merusak ladangnya lagi. Orang tamak memang harus dihukum,” kata Tuan Roden.

“Selanjutnya, siapa lagi?” tanya siamang kedua.

“Aku ingin apel. Ada tupai rakus yang mempunyai satu kebun penuh apel yang menggiurkan di tepi barat Sungai Besar,” kata siamang ketiga.

“Oh ayolah, aku tidak terlalu suka apel,” kata Tuan Roden. “Di selatan ada juga keluarga menjangan serakah dengan kebun penuh bayam dan kangkung.”

“Jangan bayam lagi, aku bosan,” protes siamang kedua.

Tuan Bengkunang menghirup nafas dalam-dalam, mencium timbunan wortel segar yang mereka dapatkan. Satu setengah ladang wortel akan cukup untuk beberapa bulan. Tapi karena Tuan Bengkunang adalah Tuan Bengkunang, maka ia tak akan menunggu hingga persediaannya habis. Ia akan dengan senang hati kembali membantu menyelesaikan permasalahan para satwa.

___


message 9: by Andry (new)

Andry Chang (vadis) | 134 comments MOCHI SI PEMBERANI
Andry Chang

"Hei, apa-apaan ini, Mochi?" Marmut paling besar dan berbulu paling panjang, cantik dan lebat bernama Milan membentak. "Anak baru dilarang makan sepiring denganku!"

Itu sungguh sambutan kasar bagi Mochi, marmut berbulu putih-hitam-coklat yang baru saja bergabung dalam kandang marmut di rumah Yulia.

Majikan lama Mochi, seorang pemilik penangkaran marmut baru saja memberikan marmut jenis American Guinea Pig itu pada Yulia. Kakak Yulia memberinya nama Mochi, karena marmut itu sungguh lucu, menggemaskan dan nyaris bulat-empuk seperti makanan kesukaan sang kakak, kue mochi.

Tentu saja Mochi protes, "Apa masalahnya? Saudara-saudariku di penangkaran tak keberatan kok berbagi piring makanan denganku!"

"Beda lagi aturannya!" sergah Milan. "Di sini akulah yang berkuasa, karena akulah yang paling cantik!"

"Juga paling tua," celetuk seekor marmut besar lain yang berbulu serba coklat.

"Jaga moncongmu, Yamyam! Mau jatah jagung, pellet dan rumput segarmu kukurangi?" Pellet adalah makanan pokok khusus marmut, kelinci, hamster dan hewan-hewan pengerat sejenisnya.

Yamyam mendekat pada Mochi dan menggiringnya menjauh, mencegah bentrokan dengan "Ratu" Milan. Ia hanya menjawab, "Sudahlah, biar aku yang mengajari si anak baru ini sopan-santun."

Mochi berujar, "Tapi aku lapar...!"

"Sst, ikuti aku saja." Yamyam lantas menunjukkan sisa jagung dan rumput di sudut kandang. Tanpa permisi dan basa-basi, Mochi langsung mengerati makanan itu. Yamyam menggelengkan bagian kepalanya, marmut kecil itu benar-benar kelaparan.

Tak lama kemudian, Mochi bersendawa dan berbaring, berguling-guling riang. "Ah, ini baru hidup. Perut penuh, hatipun lega. Makasih Kak Yamyam."

"Sama-sama." Yamyam tersenyum. "Asal kau ingat untuk bersikap sopan pula pada Milan."

"Ya, akan kucoba." Mochi lantas mengerutkan dahi. "Aku hanya tak mengerti, apa yang membuat Milan bersikap seperti tadi? Marmut paling tua dan paling besar di penangkaran saja tak sekasar itu."

Yamyam lantas menghela napas dan berbaring berhadap-hadapan dengan Mochi di lantai kandang. Tuturnya, "Begini, anak muda. Saat Milan baru bergabung dalam kandang ini, sudah ada tiga marmut lain yang lebih tua darinya tinggal di sana, yaitu Jetta, Paris dan Milky."

"Wah, banyak juga. Nona Yulia sangat gemar memelihara marmut, ya."

"Benar, dia sungguh penyayang binatang. Nah, Milky yang pernah jadi Juara Tiga Kontes Guinea Pig Show memusuhi Milan yang bulu-bulu panjangnya berwarna lebih cerah dari Paris. Milky ingin menunjukkan wibawanya agar Milan tunduk padanya. Baru setelah Jetta, Paris dan terakhir Milky pergi ke 'surga marmut', Milan baru melampiaskan sakit hatinya itu dengan memusuhi marmut-marmut baru setelahnya."

Mochi menegadahkan kepalanya tanda mengerti. "Oh, jadi begitu sebabnya. Jadi kau salah satu 'musuh' Milan juga, dong?"

"Tidak juga. Aku datang saat Milky masih hidup. Jadi Milky memusuhiku pula dan Milan menganggapku 'saudara senasib'. Jadi kaulah yang pertama disikapi keras oleh Milan."

"Aduh, mana enak hidup begini?" keluh Mochi. "Lebih baik aku berteriak, minta pindah saja dari sini."

"Percuma saja. Kau akan dipindahkan ke kandang yang lebih kecil, dan tinggal di sana selama berminggu-minggu ukuran waktu manusia. Apa kau mau sendirian saja?"

Mochi menggeleng cepat. "Tidak! Tidak, aku ingin bersama Yamyam!"

Yamyam menyentuhkan ujung moncongnya di pipi Mochi sambil berkata, "Nah, kalau begitu mulai sekarang jaga sikapmu. Menjauhlah dulu dari Milan. Bila ia menyerangmu, larilah, jangan lawan dia. Cepat atau lambat sikap Milan akan melunak, dan akhirnya ia akan menerimamu sebagai anggota keluarganya."

"Baik, Kak Yamyam, akan kuingat terus pesanmu ini," tanggap Mochi, senyum tersungging di wajah imutnya.

==oOo==

Beberapa hari kemudian, di tengah malam waktu manusia, lampu di ruang tamu tempat kandang marmut berada telah dipadamkan.

Walaupun memiliki indera penglihatan yang cukup tajam, marmut seperti Mochi masih cukup kesulitan mengenali setiap jengkal dan sudut kandang ini. Kecuali mungkin mangkuk berwarna cerah dan penuh berisi pellet di tengah sana.

Karena amat lapar, tanpa pikir panjang Mochi berlari cepat ke arah mangkuk itu. Namun karena terlalu cepat, si marmut kecil malah menabrak sesosok gumpalan besar berbulu lebat di sisi lain mangkuk.

"Aduh!" Si gumpalan besar bangkit dan menghadapkan wajahnya pada si penabrak. Ternyata dia Milan!

Keringat dingin Mochi bercucuran. Belum pernah ia melihat wajah marmut yang biasanya lucu menggemaskan ini jadi buas mengerikan. Apalagi Milan kini jadi seperti singa yang mengaum buas,

"Kurang ajar! Kau sengaja menunggu sampai aku tidur nyenyak, lalu menyerangku dengan diam-diam?! Kau harus kuberi pelajaran, Mochi!"

Mochi gemetaran dan bercicit, "Ampun, aku tak sengaja, Kak Milan! Mana berani aku yang kecil ini melawan kakak?"

"Bohong! Jangan banyak alasan! Biar kuhajar kau agar kau jera!" Sambil bercicit ganas, Milan menerjang ke arah Mochi. Perut samping Mochi terkena serudukan moncong Milan, si marmut kecil bahkan sampai terpental, sakitnya bukan kepalang.

Mochi bangkit dan terhuyung-huyung. Melihat samar-samar sosok Milan kembali mengejarnya, si marmut kecil berbalik dan ambil langkah seribu lagi dengan kaki-kaki mungilnya.

Namun aneh, pintu kandang marmut terbuka lebar. Apakah Yulia lupa menutupnya sebelum pergi tidur, setelah main dengan ketiga marmutnya tadi?

Panik, tanpa pikir panjang Mochi melesat bagai rusa, melewati ambang pintu kandang. Tujuannya adalah secercah cahaya lampu yang sengaja dibiarkan tetap menyala di dapur.

Dengan lincah Mochi lari melewati kaki-kaki meja dan kursi ruang tamu. Melintasi ruang makan menuju dapur, ada banyak kaki meja-kursi yang tinggi-tinggi. Dalam keremangan itu kepala Mochi membentur kaki salah satu kursi. Mochi roboh, kedua kaki depannya mengelus-elus moncongnya yang ngilu.

"Kena kau!" Dalam sekejap, Milan kembali menerjang bagai singa hendak menerkam rusa. Sebaliknya, Mochi berkelit dengan amat gesit dan lari terus ke tempat terang.

"Awas kalau kutangkap nanti!" Milan kembali ketinggalan. Larinya agak lamban, mungkin karena ia banyak dimanja dan makan terlalu banyak hingga jadi tambun.

Di ruang dapur yang masih benderang inilah Mochi menghentikan langkahnya. Ia berbalik, berniat bicara dan menyelesaikan masalah dengan si marmut tua, berupaya mencegah perkelahian antara sesama hewan kesayangan satu majikan.

Gawatnya, Milan sudah gelap mata. Bercicit ganas, ia menyerbu ke arah Mochi yang tak sempat menghindar. Detik berikutnya, Milan menekan marmut yang lebih kecil di tanah, bobotnya menindih Mochi hingga bercicit-cicit panjang dan nyaring.

"Ya, bercicitlah keras-keras! Pastikan kau ingat ini sebagai pelajaran paling menyakitkan seumur hidupmu!" Milan tertawa dibuat-buat seperti bos penjahat di film-film laga.

Tiba-tiba terdengar suara cicit serak lain. "Wah, wah, ada dua tamu yang datang mengacau pesta."

Milan terlonjak mundur, Mochi berbalik dan melihat si pembicara. Ternyata mereka adalah tikus kelabu gelap bertubuh sedikit lebih kecil daripada Milan.

"Apa maksudmu? Ini rumah manusia, dan kami juga penghuni di sini!" bentak Milan. "Salah, aku yang penghuni, yang satu ini tamu tak tahu diri."

"Dan kami ini tamu tak diundang," ujar tikus kedua. "Oh ya, Bob! Aku punya usul bagus!"

"Apa itu, Bib?" tanya Bob.

Bib menjawab, "Si gendut itu tadi bilang dia penghuni, kan? Kalau kita lenyapkan si penghuni ini, tak ada lagi yang akan menjaga makanan para manusia itu, dan kita bakal pesta-pora sepuas-puasnya!"

Bob mengangguk. "Lebih bagus lagi, kita akan jadikan mereka kudapan untuk pesta kita malam ini!"

Kedua tikus itu menoleh pada kedua marmut sambil menyeringai, memperlihatkan deretan taring runcing dan gigi-gigi pahat yang bahkan lebih besar daripada milik Milan.

Nyali Milan ciut seketika. "Ngg, tak bisakah kita bicarakan ini dulu, teman-teman? Aku akan biarkan kalian 'pesta' setiap hari, pura-pura tak tahu dan tak memberitahu majikanku tentang ulah kalian."

"Apa kami kelihatan seperti bisa diajak kompromi?" Sambil bercicit nyalang, Bib dan Bob menerjang ke arah Milan. Si marmut tambun berusaha menghindar dan lari, namun kedua tikus itu terlalu cepat baginya.

Bib menorehkan goresan di tubuh Milan dengan cakar-cakarnya yang runcing dan panjang. Sementara gigitan Bob nyaris menghunjam kulit Milan, kalau tak ditahan dan diredam bulu-bulunya yang tebal.

Bisa jadi Milan hanya beruntung saja, karena saat berikutnya, serangan bergantian kedua tikus itu benar-benar membuatnya kewalahan.

Puncaknya adalah saat Bob berhasil mencakar wajah Milan hingga berdarah, meninggalkan bekas luka yang takkan hilang. Pupus sudah harapan Milan untuk melampaui Milky si marmut berprestasi.

"Menyebalkan! Ini balasanku!" Milan menyeruduk Bob keras-keras hingga membentur perabotan dapur.

Namun tiba-tiba tampak Bib melompat tinggi-tinggi, siap menerjang Milan dengan dahsyat. Tahu dirinya takkan sempat menghindar, wajah Milan pucat seketika.

Dalam detik penentuan itulah, Mochi si marmut cilik melesat bagai peluru, menghantam tubuh Bib hingga terpental jauh.

"Bib! Kakakku, biar kubalaskan dendammu pada mereka!" Bob menangis haru. Padahal Bob hanya mengambil kesempatan untuk merebut semua jasa Bib, tak sedikitpun sudi berbagi dengan makhluk sesamanya. Ia menerjang ke arah si marmut kecil, yaitu Mochi.

Melihat gigi pahat Bob yang amat tajam dan besar, wajah Mochi pucat-pasi. Namun satu serudukan keras Milan membuat tikus itu terpelanting dan terbentur keras di tabung gas dapur.

Melihat kedua marmut siap menyerang kedua tikus yang belum siap itu, terpaksa Bib dan Bob melarikan diri. "Tunggu pembalasan kami!" ancam Bob.

"Justru kalianlah yang bakal celaka begitu majikan kami menyadari masalah tikus dari keadaan kami ini." Milan hanya setengah berbisik, jadi hanya Mochi yang mendengarnya. Lalu Milan berkata, "Terima kasih sudah menyelamatkanku ya, Mochi."

Mochi tersenyum. "Sama-sama, kakak juga menyelamatkanku. Kita ini saudara semajikan 'kan? Wajar bila kita saling membela."

"Ya, kau benar," ujar Milan akhirnya. "Mulai saat ini, aku akan selalu bersikap baik padamu, Mochi."

==oOo==

Maka, hidup sebagai marmut jadi amat indah bagi Mochi, Milan dan Yamyam.

Beberapa bulan kemudian waktu manusia, Milan berangkat ke surga marmut. Sebelum itu, ada dua marmut baru yang bergabung dalam kandang di rumah Yulia. Yang satu marmut putih besar bernama Paipai, dan marmut kecil yang warna bulunya mirip Mochi diberi nama Mocha.

Walau Mochi dan Yamyam terus berusaha untuk bersikap ramah, kali ini justru Mocha dan Paipailah yang berulah dan memusuhi para "penghuni lama". Bagaimana cara Mochi mengatasi masalah ini? Mungkin kisah ini akan kututurkan di lain kali.


message 10: by Anindito (new)

Anindito Alfaritsi (alfare) | 519 comments Warisan dari Utara

Pada zaman dahulu, seekor ayam jago hidup bersama ayam-ayam lainnya di Kerajaan Hutan. Bersama para ayam jantan yang lain, si Ayam Jago setiap pagi berkokok untuk membangunkan para penghuni hutan.

Namun berbeda dari kebanyakan ayam, si Ayam ini terbiasa untuk tidur lebih awal, dan karenanya ia sering bangun lebih pagi dibandingkan ayam-ayam jantan lain. Lalu karena dirinya jadi punya waktu sebelum jadwal berkokoknya setiap pagi, si Ayam kemudian terinspirasi untuk mencoba mengisi waktu paginya dengan berlatih kungfu sebelum fajar.

Karena rajin berlatih, tahu-tahu saja tenaga dalam si Ayam sudah terlatih. Di samping itu, si Ayam jadi menguasai jurus-jurus macam Cakar Api dan Sayap Angin. si Ayam juga merasa badannya lebih bugar dan suara berkokoknya di waktu pagi juga menjadi lebih keras.

Merasakan manfaat dari bangun pagi dan berlatih kungfu, si Ayam menjadi semakin semangat berlatih. Tapi suara berkokok si Ayam sudah sedemikian kerasnya, sampai-sampai dia menjadi merasa tak enak dengan ayam-ayam jantan lain yang menjadi teredam suaranya.

Akhirnya si Ayam memutuskan untuk pindah ke wilayah utara hutan yang dihuni lebih sedikit ayam, karena medannya yang lebih susah ditempuh. Kemudian di sana, si Ayam mulai bekerja dengan berkokok setiap pagi. Kehadirannya pun disambut karena binatang-binatang lain penghuni hutan di wilayah itu jarang-jarang bisa mendengar suara berkokok ayam secara jelas.

Hari demi hari berlalu. Si Ayam lama-lama menjadi terkenal sebagai salah satu ayam dengan suara berkokok paling lantang yang pernah ada.

Lalu suatu hari, seekor Beruang Kutub datang dari balik pegunungan ke hutan wilayah utara. Si Beruang Kutub rupanya telah mendengar kabar tentang si Ayam, dan dia datang jauh-jauh dari kampung halamannya agar bisa bertemu dengannya.

Beruang Kutub ini rupanya juga telah mendalami kungfu. Hanya saja karena dirinya beruang sedangkan si Ayam adalah ayam, aliran kungfu yang dipelajari si Beruang Kutub berbeda dari aliran kungfu yang dipelajari si Ayam.

Meski demikian, si Beruang Kutub rupanya telah dititipkan untuk mengajari suatu ilmu jurus pamungkas dari suatu aliran kungfu yang mirip dengan yang dipelajari si Ayam. Jurus pamungkas itu dititipkan pada si Beruang Kutub oleh sahabat lamanya, mendiang Guru Elang yang tinggal di Gunung Tinggi.

Guru Elang pada zaman dulu dikenal sangat sakti. Bahkan setelah kehilangan sebelah sayapnya, kesaktian Guru Elang tidak sirna, dan beliau bahkan semakin jago berpedang. Tapi Guru Elang ternyata jatuh sakit dan meninggal sebelum sempat menemukan murid yang bisa mewarisi ilmunya. Karenanya, Guru Elang kemudian menitipkan jurus pamungkas dari ilmu kungfunya agar dapat diwariskan pada si Beruang Kutub.

Kalau-kalau kalian salah paham, si Beruang Kutub tidak mewarisi ilmu kungfu milik mendiang Guru Elang. Alasannya karena dirinya seekor beruang, dan bukan burung. Jadi Guru Elang hanya memberitahu Beruang Kutub tentang cara menguasainya saja.

Akhirnya, sesudah bertemu si Ayam, si Beruang Kutub pun menjelaskan maksudnya. Si Ayam merasa senang sekaligus terhormat karena mendapat kesempatan untuk meningkatkan kualitas kungfunya.

"Tapi Ayam, aku peringatkan ya. Latihan untuk menguasai jurus pamungkas Guru Elang benar-benar susah." kata si Beruang Kutub.

"Siap, Beruang Kutub! Saya akan berusaha!" kata si Ayam.

"Yakin benar-benar siap?" tanya si Beruang Kutub.

"Siap!" jawab si Ayam.

"Tak ada lagi pertanyaan?" tanya si Beruang Kutub lagi.

"...Sebenarnya ada." ungkap si Ayam, sesudah terdiam beberapa lama. "Kalau Guru Elang sudah memberitahu cara menguasai ilmunya, kenapa Beruang Kutub tak pernah mencoba menguasainya sendiri?"

"Karena aku adalah mamalia! Sedangkan kamu dan Guru Elang adalah unggas!" jawab si Beruang Kutub tegas.

Si Beruang Kutub kemudian menjelaskan bahwa sebelum ia bisa mengajarkan jurus pamungkas Guru Elang, ia harus menguji tingkat kemampuan si Ayam dulu. Karenanya, mereka kemudian berlatih tanding.

Segera di awal pertarungan, si Beruang Kutub melepaskan jurus penyamaran diri. Tapi sesudah beberapa lama dibuat tertegun, si Ayam berhasil menemukan keberadaan si Beruang Kutub dan balas melancarkan serangan. Serangan Cakar Tanah dari si Ayam secara mantap kemudian diterima oleh si Beruang Kutub.

Si Beruang Kutub terkejut.

"Luar biasa. Bagaimana mungkin kau secepat itu bisa membaca jurus penyamaranku?"

Si Ayam terdiam beberapa lama.

"Alasannya karena kondisi alam hutan ini yang hijau berbeda dari kondisi kampung halaman Beruang Kutub yang penuh salju! Jadi hanya menutupi hitamnya hidung saja masih kurang cukup untuk memberikan penyamaran!"

"Benar juga! Bagaimana mungkin selama ini aku bisa tak menyadarinya!" timpal si Beruang Kutub yang tubuhnya berwarna putih dengan terkesima.

Akhirnya semenjak hari itu, si Ayam dan si Beruang Kutub setiap pagi berlatih kungfu bersama. Si Beruang Kutub mengalami sedikit kesulitan bangun pagi, berhubung dirinya bukan ayam. Tapi sedikit demi sedikit, jurus pamungkas yang dulu dikuasai Guru Elang mulai ia wariskan kepada si Ayam.

"Nama jurus pamungkas Guru Elang adalah Phoenix." Demikian si Beruang Kutub menjelaskan. "Inti ajarannya adalah bagaimana menyelubungkan tubuh dengan aura tenaga dalam, dan kemudian menggerakkan seluruh tubuh dengan kecepatan tinggi untuk menghancurkan kendaraan penghancur milik musuh."

Si Ayam sedikit kebingungan dengan apa yang dimaksud si Beruang Kutub dengan kendaraan penghancur. Tapi si Beruang Kutub kemudian menjelaskan bahwa soal itu tidak penting.

"Inti awal ajarannya adalah soal bagaimana menyelubungi seluruh tubuh dengan aura tenaga dalam. Kebetulan Guru Elang dulu berhasil mengajarkan caranya padaku karena kebiasaanku untuk menyelubungi tubuhku sendiri dengan aura agar tidak terlalu panas. Hawa panas yang kualirkan agak mirip dengan hawa panas yang dihasilkan oleh jurus Phoenix." Demikian si Beruang Kutub menjelaskan kembali.

Tapi berhubung si Ayam adalah ayam, bukan Phoenix jurus pamungkas yang akan ia kuasai. Melainkan suatu bentuk jurus turunan yang dilandaskan pada filosofi yang sama, yakni C-Phoenix.

Setiap hari si Ayam dan si Beruang Kutub rajin berlatih agar ilmu yang dulu telah dipelajari Guru Elang tidak hilang secara sia-sia.

Kemudian pada suatu hari, Bos Serigala tiba-tiba saja mengumpulkan semua binatang di wilayah utara hutan untuk memberikan sebuah pengumuman.

"Ada pohon besar yang tumbang di lereng gunung, yo. Batangnya yang besar jadi menghalangi jalan, yo. Masalahnya nanti kayaknya mau banjir, yo. Curahan airnya nanti bisa menjadi aliran, yo. Batang pohon besar itu mesti disingkirkan, yo. Tapi enggak ada binatang yang cukup kuat di sekitar sini, yo." Bos Serigala yang suka musik rap menjelaskan situasinya pada semua binatang.

Meski sempat sedikit kebingungan, akhirnya semua binatang mengerti kalau rupanya ada batang pohon besar tumbang yang merintangi salah satu jalan sempit di lereng gunung yang biasanya menjadi saluran aliran air di kala hujan. Bos Serigala dan Profesor Burung Hantu memperkirakan bahwa aliran air yang timbul dapat meluap ke arah pemukiman akibat halangan batang pohon itu. Sementara, tidak ada binatang yang cukup kuat untuk memindahkannya, dan jalan di lereng gunung terlalu sempit untuk memungkinkan para binatang memindahkannya bersama-sama.

Si Beruang Kutub dengan ilmu tenaga dalamnya kemudian mencoba. Tapi hasilnya ternyata tetap sia-sia.

"Sial! Ilmuku ternyata masih belum cukup tinggi!" Si Beruang Kutub menyesalkan.

Si Ayam ikut mencoba dengan mempraktekkan jurus pamungkas barunya, walau jurus itu sebenarnya masih belum sepenuhnya ia kuasai. Hasilnya juga gagal. Batang pohon tumbang itu tak bergerak, dan si Ayam malah sempat balik terlempar.

"Huwaaa!"

Para binatang di wilayah utara mulai pasrah. Mereka juga merasa yakin bahwa satu-satunya yang mungkin bisa memindahkan batang pohon itu hanyalah Pak Badak yang legendaris. Tapi Pak Badak tinggalnya jauh di Padang Rumput, di wilayah barat hutan. Sementara hujan deras di wilayah itu diperkirakan terjadi malam itu.

Sampai kemudian seekor tupai mengatakan, "Andai saja kita bisa langsung melewati Jurang Besar sekarang dan meminta Pak Badak untuk datang. Mungkin Pak Badak akan sempat tiba sebelum hujan!"

Jurang Besar adalah jurang curam yang memisahkan wilayah utara dengan Padang Rumput. Ukurannya teramat besar. Semua binatang yang hadir di sana diam-diam setuju dengan perkataan si Tupai.

Lalu kemudian si Ayam berkata, "Aku belum menyerah! Aku akan coba melakukannya!"

Seluruh binatang pun terkejut.

"Kamu serius, Ayam?" tanya si Beruang Kutub.

Si Ayam pun mengutarakan bahwa walaupun C-Phoenix yang dipelajarinya tak memiliki daya hancur jurus Phoenix yang seharusnya, jurus pamungkas miliknya tersebut di sisi lain memberinya kecepatan luar biasa.

Akhirnya, semua binatang dengan berdebar menyaksikan bagaimana si Ayam akan mencoba melompati Jurang Besar demi sampai ke Padang Rumput. Si Beruang Kutub dengan sukarela akan melontarkan si Ayam dengan tenaga dalamnya, sehingga si Ayam memiliki kecepatan awal lebih besar.

"Ayam, berjuanglah!"

"Kamu pasti bisa!"

"Jangan menyeraah!"

Semua binatang pun menyemangati si Ayam.

"Oke!" sahut si Ayam.

Lalu dengan satu teriakan lantang, akhirnya si Beruang Kutub, dengan sekuat tenaga ditambah dukungan tenaga dalamnya, kemudian melontarkan si Ayam ke udara. Si Ayam sudah siap, dan dengan sigap mengepakkan sayapnya, melepaskan tenaga dalamnya, dan melancarkan jurus C-Phoenix.

Sekejap berikutnya, sosoknya seakan membesar, dan si Ayam mewujud seakan menjadi bola api. Lalu semua binatang dengan kagum bersorak saat melihat bagaimana si Ayam melesat.

Pada saat itulah, si Beruang Kutub, yang terengah-engah karena mengerahkan kekuatannya, dengan terharu menyadari, bahwa ilmu Guru Elang telah berhasil diturunkan sepenuhnya pada si Ayam.

"Ayam, akhirnya kau berhasil menguasainya! Seperti inilah seharusnya! Meski berbeda dari jurus Phoenix yang kulihat dulu, jurus C-Phoenix milikmu yang telah sempurna benar-benar tak kalah hebatnya!" sahut si Beruang Kutub bangga.

Semua binatang yang berkumpul menyaksikan bagaimana sosok si Ayam melayang turun dengan lancarnya ke Padang Rumput, yang hijaunya samar-samar tampak di balik kabut dan awan.

...Pada saat itu juga para binatang tiba-tiba menyadari bahwa sebenarnya si Ayam tak perlu pergi. Mereka bisa saja meminta salah satu burung yang hadir untuk terbang melintasi Jurang Besar untuk membawa pesan ke Pak Badak. Tapi mereka terlambat menyadarinya, dan sudah terlanjur terbawa suasana dengan keseriusan si Ayam.

Namun terlepas dari itu, mereka semua bersorak sorai saat melihat bagaimana Pak Badak akhirnya terlihat berderap dari kejauhan, beberapa jam sebelum senja datang. Si Ayam, yang kelelahan, tampak menunggang di atas punggungnya, melambai-lambaikan sayapnya ke arah mereka.

Dengan tenaga luar biasa Pak Badak yang konon menyamai gajah, batang pohon itu berhasil dipindahkan, dan bencana berhasil terhindarkan.


message 11: by Runa Hin (new)

Runa Hin | 18 comments PERSIDANGAN KELINCI

Stuart, sang kelinci berbulu putih berlari kecil sambil mendekap sebuah buku besar bersampul cokelat dengan kedua tangannya. Dia memasuki ruang sidang. Kuping panjangnya sedikit bergerak-gerak ketika melintasi deretan-deretan bangku para penonton sidang yang sedang berkasak-kusuk di kiri kanan-nya. Ini kasus-nya yang ke-dua puluh tiga. Kelinci muda itu bisa saja memecahkan lagi rekor kegagalan-nya bila kalah lagi hari ini. Tapi dia tidak perduli. Tidak juga dengan omongan kelinci-kelinci di sekitarnya. Suatu saat dia pasti akan jadi seekor Pembela yang berhasil. Jadi Stuart belum akan menyerah.

Tidak lama setelah Stuart duduk di kursi-nya, sang hakim memasuki ruangan sidang dikawal dua kelinci berseragam biru gelap dengan topi hitam. Para tamu sidang berdiri menghadap sang hakim. Stuart juga buru-buru berdiri, sebagai tanda penghormatannya pada sang hakim.

Sang hakim sudah terlihat sangat tua. Dia batuk beberapa kali ketika berjalan menuju meja tinggi-nya. Kelinci tua itu seharusnya sudah pensiun, pikir Stuart. Tapi mau bagaimana lagi, jarang ada kelinci lain yang mau menggantikan posisi itu. Setidaknya sampai kelinci tua itu meninggalkan dunia.

Sang hakim duduk di mejanya kemudian mengetuk-ketukan palunya beberapa kali untuk menenangkan para penonton sekaligus menandakan kalau sidang sudah dimulai. Setelah itu dia diam beberapa saat. Tidak terlalu jelas, tapi matanya seperti terpejam di balik kacamata bulatnya. Stuart hampir berpikir dia tertidur lagi sampai sang hakim mulai bersuara. “Ehm,, ehm,, persilahkan si tersangka masuk,” katanya pada salah satu asisten berseragam biru-nya.

“Persilahkan si tersangka masuk!” seru keras si asisten.

Pintu ruangan sidang kembali terbuka dan sepasang kelinci memasuki ruangan. Mereka terlihat sedih. Seekor kelinci hitam besar mengantar mereka masuk di bilik kecil terbuka di sebelah kiri meja sang hakim. Para tersangka masuk kedalam bilik dan duduk dengan tenang di dalamnya.

“Ehm,,ehm,, persilahkan si penuntut masuk,” kata sang hakim lagi pada asistennya.

“Mereka sudah ada di dalam, yang Mulia,” kata si asisten berbisik dengan raut wajah kesal. Sang hakim sudah berkali-kali memintanya memanggil penuntut masuk ke ruangan sidang. Padahal rapat dewan sudah memutuskan semua peserta sidang sudah harus masuk duluan ke ruang sidang sebelum hakim, kecuali tersangka dan saksi. Alasannya adalah untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

Misalnya pada kasus yang lalu di mana si penuntut, Tuan Tim tidak jadi menuntut karena ternyata lobak-nya tidak dicuri tapi terjatuh sendiri dari sepedanya. Lobak besar itu terguling dan masuk ke rumah tetangganya. Tuan Tim bersikukuh kalau tetangganya mencuri, tapi tetangganya malah marah dan menuduh dia sengaja menuduhnya. Jadi mereka bersepakat untuk ikut sidang.

Malam hari sebelum sidang, Tuan Tom, saudara Tuan Tim, berkunjung ke rumahnya. Dia datang untuk mengobrol. Tom tidak tahu mengenai keributan ini. Tidak sengaja dia bercerita tentang lobak Tim yang dia lihat jatuh terguling masuk ke rumah tetangganya. Tuan Tim tadi-nya tidak percaya, tapi saudaranya tidak mungkin bohong padanya. Lagipula lobak-nya juga sudah kembali, jadi dia tidak mempermasalahkannya lagi.

Keesokannya Tuan Tim lupa memberitahukan pada dewan kalau dia tidak jadi menuntut karena sibuk memanen wortel-wortel-nya yang sudah ranum. Sang hakim dan para penonton sudah menunggu-nya berjam-jam. Beberapa jam-nya sang hakim sampai sempat tertidur. Begitu dia terbangun, dia baru membubarkan persidangan. Benar-benar hari yang tidak menyenangkan untuk banyak kelinci, kecuali sang hakim yang terlihat lebih segar ketika sudah terbangun.

Sejak saat itu peraturan persidangan sedikit diubah oleh dewan. Bila penuntut tidak menampakan diri setelah sang hakim duduk di kursinya, maka sang hakim berhak langsung membubarkan sidang. Bila penuntut mau melakukan sidang lagi dia harus menunggu 3 hari baru bisa mengajukan lagi.

“Oh,” komentar kata sang hakim datar. Dia mengangguk kemudian memukul palu-nya sekali.

“Penuntut, silahkan,” kata sang hakim.

Dua kelinci berbulu abu maju ke depan. “Anak-anak keluarga Edward merusak tanaman wortel kami,” kata salah satu kelinci hampir menangis.

Para penonton berseru haru, sebagian terkejut. Segala pelanggaran yang berhubungan dengan wortel adalah pelanggaran yang paling berat. Tidak ada kelinci yang mau menerima hukumannya.

“Kami sibuk mengurusi bayi-bayi kelinci kami jadi tidak sempat mengawasi kebun. Anak-anak mereka sering main di dekat kebun kami. Padahal aku sudah memberitahu mereka supaya memperhatikan anak-anak mereka yang nakal itu,” kata kelinci betina itu sambil terisak. Kelinci abu pasangannya memeluknya lalu menepuk-nepuk bahunya.

Enam ekor kelinci-kelinci putih kecil duduk di barisan kursi panjang paling depan menggeleng-gelengkan kepalanya. Kelinci ke-tujuh, si bungsu bertubuh mungil tampaknya tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Sambil tersenyum manis dan memperlihatkan dua gigi depannya, dia menggoyang-goyangkan kaki pendeknya yang tergantung dengan jarak yang cukup jauh dari lantai. Pastinya anak kelinci itu tidak akan bisa turun sendiri dari kursi tanpa bantuan kelinci lain.

Sang hakim hanya mengangguk kemudian mempersilahkan pasangan kelinci abu untuk kembali duduk di tempatnya.

Sang jaksa berdiri dari kursinya. Dia mengibas-ngibas lembut jas-nya dengan kedua telapak tangannya seolah hal itu bisa membuat jas panjang hitamnya terlihat lebih berkilau lagi dari sekarang, merapikan dasi kupu-kupunya lalu memberi hormat pada sang hakim. Dia mendekati bilik pasangan tertuduh.

“Anak-anak kalian yang merusak kebun keluarga Robin,kan? “ tanya sang jaksa sedikit melotot.

“Sepertinya bukan,” jawab kelinci putih jantan ragu.
Sang jaksa ganti memelototi kelinci putih betina yang hanya menggeleng.

“Yang mulia, mohon panggilkan saksi pertama,” kata si jaksa.

Sang hakim megangguk pada asisten-nya yang kemudian
berseru,” Saksi pertama masuk!”

Seekor kelinci paruh baya berkemeja kotak-kotak masuk ke dalam ruangan. Asap mengepul-ngepul dari batang cerutunya. Sang hakim langsung batuk-batuk bukan main. Salah satu kelinci berseragam biru mendekati saksi pertama kemudian memelototinya. Si saksi menyengir kemudian dengan malu-malu memberikan cerutunya pada si kelinci berseragam biru.

“Kau didenda dua lusin wortel,” kata si kelinci berseragam biru dengan tegas.

Si saksi tidak bisa menyembunyikan raut kecewanya. Mulutnya terbuka lebar. Dia pasti sudah mematikan cerutunya kalau bukan karena si kelinci hitam besar di depan yang menyuruhnya buru-buru masuk ke ruang sidang. Akhirnya dia mengatupkan kembali mulutnya kemudian berjalan gontai masuk ke bilik terbuka di sebelah kanan sang hakim. Seharusnya memang dari dulu dia menghentikan kebiasaan merokoknya. Entah sudah berapa kali dia kena denda karena kebiasaan buruknya itu.

“Saksi Pertama,” panggil si jaksa. “Apa kau melihat kejadiannya?”

Si saksi tampak tidak yakin kemudian menjawab,” Aku melihat anak-anak mereka masuk ke kebun itu melompat-lompat ke sana sini. Tapi karena mengantuk aku tertidur di kursi goyangku. Waktu aku bangun kebun itu sudah porak poranda!”

“Berapa lama kau tertidur? “ tanya si jaksa.

Si Saksi Pertama berpikir sejenak. Gundukan lubang rumahnya tinggi dan berada tepat di seberang rumah Tuan dan Nyonya Robin. Sehari-hari dia memang suka bersantai di atas gundukan bukit kecilnya. Dari sana dia bisa melihat sekeliling lingkungan tetangganya. Dia akhirnya mengangguk juga.

“Tidak lama. Mungkin hanya beberapa menit,“jawab si saksi.

“Bagimana kau tahu kau tidur tidak lama?” sela Stuart.

“Aku melihat Nyonya Beatrice menjemur sprei merah muda,” kata Saksi Pertama dengan yakin. “Sebelum aku tertidur dia sedang mengambil sprei besar itu dari baki. Dan setelah aku terbangun jemuran sprei-nya sudah rapi dan dia sedang menjepit jepitan terakhirnya di lembaran kain itu.”

“Baik, sudah cukup,” kata si Jaksa. “ yang Mulia, bisa kita lanjutkan ke Saksi Kedua?”

Sang Hakim mengangguk. Asisten berseragam biru berseru memanggil Saksi Kedua.

Saksi Kedua masuk. Ya, dia Nyonya Beatrice, si tetangga sebelah rumah keluarga Robin. Celemek rendanya masih menempel di rok panjangnya. Dia tampaknya juga terburu-buru sampai lupa melepas celemeknya. Tubuhnya sangat montok sampai-sampai dia sedikit kesulitan saat memasuki pintu bilik yang tidak terlalu besar.

“Saksi Kedua, kau ada di sana saat kejadian kan?” tanya sang jaksa.

“Bisa dibilang begitu,” jawab Nyonya Beatrice tidak ramah.

“Apa kau melihat langsung kelinci-kelinci kecil itu merusak kebun milik Tuan dan Nyonya Robin?” tanya sang jaksa.

“Waktu itu aku sedang sibuk dengan jemuran cucianku jadi tidak terlalu memperhatikan,” kata Nyonya Beatrice. Seperti keluarga-keluarga kelinci pada umumnya, Nyonya Beatrice juga memiliki halaman berumput yang luas ditambah lagi petak-petak kebun wortelnya. Jadi walaupun dibilang tetangga sebelah rumah, bisa jadi Nyonya Beatrice tidak sadar apa yang sedang terjadi dengan kebun tetangga walaupun saat itu dia sendiri sedang berada di halaman berumputnya.

“Hmm..” gumam si jaksa. “Kalau tidak salah rumah Tuan dan Nyonya Robin bersebelahan dengan bukit. Begitu halnya dengan Rumah Tuan Teddy, si Saksi Pertama”

Nyonya Beatrice mengangguk.

“Jadi siapapun yang menuju ke rumah mereka sudah pasti melalui rumah nyonya,” kata si jaksa.

Sekali lagi Nyonya Beatice mengangguk.

“Jadi pasti nyonya sadar kalau waktu itu ada yang pergi ke arah kediaman mereka, bukan?”

Dia mengangguk lagi. Tentu saja seharusnya dia sadar karena jemurannya menghadap ke arah jalan.

“Apa anda melihat kelinci lain?” tanya si jaksa.
Kali ini Nyonya Beatrice menggeleng

Si jaksa tersenyum. “Yang Mulia, kurasa kita sudah tahu siapa pelakunya.”

Sang Hakim hanya mengangguk. Stuart terlihat berpikir keras. Kalau sang hakim sampai mengetukkan palunya selesai sudah semuanya. Stuart bahkan belum melakukan apa-apa! Sang Hakim meraih palu di atas mejanya. Dengan panik Stuart mengangkat tangannya. ”Keberatan, Yang Mulia!“ serunya dengan suara yang cukup keras. Stuart sendiri sedikit terkejut dengan suaranya sendiri. Baru kali ini dia berani meyela sang hakim yang sudah mau menyudahi persidangan.

Pandangan banyak mata yang tertuju padanya membuat bulu di telapak tangannya sedikit basah. Stuart berdeham untuk menenangkan dirinya. “ Yang Mulia, para saksi tidak melihat langsung jadi mungkin saja ada faktor lain ..”

“Misalnya?” tanya hakim.

“Angin atau…” jawab Stuart sedikit terburu-buru.

“Tidak ada angin besar di musim ini,” potong si Jaksa. “Yang Mulia, tidak perlu buang-buang waktu. “

“Nyonya Beatrice mungkin tidak melihat, tapi anak-anak kelinci sebanyak itu setidaknya berisik, bukan begitu?” tanya Stuart.

Nyonya Beatrice terlihat ragu.

“Kerusakan kebun Tuan dan Nyonya Robin cukup parah. Tanamannya hancur seperti terinjak-injak dan tertindih,” kata Stuart. “Apa nyonya tidak mendengar sama sekali keributan itu? “

Nyonya Beatrice masih terdiam.

“Setidaknya ada sesuatu yang tertangkap di telinga anda?” desak Stuart.

“Hanya tertawaan dan becandaan anak-anak,” akhirnya
dia menjawab singkat.

“Hanya itu?” tanya Stuart sambil memicingkan

matanya. “Mereka tertawa dan bercanda sambil sengaja merusak kebun milik keluarga Robin?” tanya Stuart.

“Mereka tidak sengaja… “ kata-kata Nyonya Beatrice terhenti. Dia seperti tidak berani menatap mata Stuart.

“Tidak sengaja?”ulang Stuart

Nyonya Beatrice terlihat murung dan terdiam lama. Anak-anak kelinci Tuan dan Nyonya Robin terlihat sama murungnya. Telinga mereka sampai terkulai ke bawah, tentu saja kecuali si bungsu. Dia tampak tenang dan sesekali menguap.

“Itu tidak penting. Pelaku tetaplah pelaku,” si jaksa mengotot. “Jawaban Nyonya Beatrice sudah jelas.


message 12: by Runa Hin (new)

Runa Hin | 18 comments “Tapi..”

Si jaksa mengacungkan telapak tangannya pada Stuart mengisyaratkannya untuk berhenti bicara. “Tuan Stuart, kau sudah cukup membuang-buang waktu kami,” katanya dengan angkuh. “Yang Mulia, silahkan …” lanjut si jaksa sedikit mendesak dang hakim untuk mengetukkan palunya.

Sang hakim menganguk lalu mulai mengangkat palunya perlahan.

“Tu.. tunggu dulu..” kata Stuart.” Nyonya Beatrice, anda berbohong kan?” desak Stuart.

“Tuan Stuart , anda sudah keterlaluan!” Si jaksa benar-benar terlihat marah kali ini. “Kau sungguh kelinci yang tidak tahu sopan santun. Kau bahkan tidak menghormati Yang Mulia dengan menyelanya berkali-kali!” Sang jaksa bicara sambil menunjuk-nunjuk ke arah sang hakim.

Stuart menunduk dengan perasaan kacau balau. Tangannya mengepal. Mungkin kalau tidak di depan banyak orang bisa jadi dia sudah menangis. Tapi yang membuat dia paling kesal adalah persidangan kelinci yang menurutnya tidak adil. Selama ini sebagai pengacara, sebenarnya dia merasa tidak terlalu berguna. Stuart menghirup napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya. Dia sudah bertekad untuk mengeluarkan isi hatinya kali ini. Entah bagaimana nanti nasibnya.

“Kalaupun kelinci-kelinci kecil itu pelakunya tapi kurasa penting mengetahui penyebab tindakan mereka. Menurutku persidangan kelinci yang berjalan selama ini tidak benar. Yang dipentingkan hanya hasil akhir tanpa melihat prosesnya. Itu tidak adil. Faktor luar bisa saja dipertimbangkan untuk meringankan hukuman mereka. Kurasa itu lebih adil.”

Para penonton mulai ribut. Mereka terlihat berdebat satu sama lain. Ada kelinci yang menangguk-angguk ada yang menggeleng. Ada juga yang kebingungan dan hanya melihat-lihat reaksi dari kelinci-kelinci lain.

Si jaksa tersenyum sinis. “ Tuan Stuart, apa kau sudah benar-benar putus asa karena selalu kalah dalam persidangan.” Kelinci yang sudah jauh lebih senior dari Stuart itu hanya menggeleng-geleng.

“Semuanya tenang!” seru si hakim sambil memukul-mukul palunya. “Tuan Stuart, walaupun masih muda kurasa kau sudah cukup mengerti dengan peraturan persidangan, bukan?”

Stuart mengangguk kemudian kembali menunduk.

“Ada yang mau kau sampaikan lagi sebelum sidang ditutup?” tanya sang hakim sambil mengangkat sebelah alis putih panjangnya. “Aku tidak mau dipotong lagi.”

“Aku hanya mau bertanya pada Nyonya Beatrice. Katanya dia tidak melihat kejadian itu tapi bagaimana dia bisa tahu kalau anak-anak kelinci itu tidak sengaja…” suara Stuart cukup pelan tapi masih bisa terdengar oleh semua kelinci.

Sang hakim menghela napas. “Baiklah, kalau tidak ada lagi yang mau disampaikan,” kata sang hakim tidak terlalu mengacuhkan Stuart. Dia mengangkat palunya lagi.

“Memang bukan salah mereka sepenuhnya,” sela Nyonya Beatrice sebelum palu sang hakim sempat terketuk di atas meja. “Jemuranku terbang terbawa angin sampai ke kebun Tuan dan Nyonya Robin. “ Wajah Nyonya Beatrice terlihat mulai memerah. “Anak-anak kelinci yang baik hati itu menolongku menangkap sprei merah muda itu. Tapi tidak disangka ketika mereka berhasil menangkap spreiku, angin bertiup membawa anak-anak kelinci itu ke sana kemari. Mereka terjatuh dan terguling-guling tapi akhirnya berhasil mengembalikan sprei merah muda itu ke tanganku. “Nyonya Beatrice selesai bicara kemudian menangis.

Sang hakim terharu seperti sebagian besar para penonton. Tapi sidang tetap harus diakhiri. Palu diketukan dan anak-anak kelinci keluarga Edward dinyatakan bersalah. Tentu saja mereka harus menerima hukumannya. Seluruh hasil kebun wortel keluarga Edward harus diberikan pada keluarga Robin selama 1 tahun. Itu berarti mereka tidak akan makan wortel selama 1 tahun! Oh, bagi kelinci itu hal yang sangat menyakitkan. Dan mereka juga tidak boleh melanggar atau hukuman mereka bisa saja ditambah jadi 1 tahun lagi.

Persidangan selesai dan semua penonton pulang. Sang hakim juga keluar dari ruangan dituntun kedua pengawalnya. Yang terakhir tinggal si jaksa dan Stuart. Si jaksa hanya memandang Stuart sebelah mata dan tersenyum dengan puas keluar dari ruangan sidang. Stuart keluar terakhir dari ruangan itu sambil berpikir mungkin dia harus mengganti profesinya.

***

Stuart menyiram tanaman-tanaman wortelnya yang masih pendek-pendek. Dia tersenyum puas. Dulu dia bisa mendapat bayaran cukup banyak wortel sampai dia tidak perlu menanam lagi. Yah, waktu bekerja sebagai pengacara dia juga tidak akan punya banyak waktu untuk menanam wortel. Sebenarnya dia memang lebih suka bekerja sebagai pengacara daripada menanam sendiri wortelnya. Tapi mau bagaimana lagi dia sudah tidak lagi jadi pengacara.

Seekor anak kelinci berlari dengan riang ke arah kebun Stuart sambil berteriak-teriak memanggil namanya.

“Hei, hei pelan-pelan Poo,” kata Stuart sambil mendekati anak kelinci itu.

Anak kelinci itu memegang dadanya sambil terengah-engah. Setelah sedikit tenang dia mulai melompat-lompat. “Stuart .. Stuart.. ,” katanya dengan ceria. “Para dewan mengubah peraturan persidangan!”

Stuart menelengkan kepalanya. Sebelah telinga panjangnya menekuk.

“Kau ingat kasus terakhirmu?” tanya Poo.

Stuart mengangguk kecil. Bukan hal yang mau dia ingat sebenarnya.

“Sejak sidang itu banyak kelinci yang setuju dengan pendapatmu. Sebagian para dewan juga. Mereka mengadakan pemungutan suara pagi ini dan kau mau tahu hasilnya?” tanya si Poo. Jawaban Stuart tidak penting. Anak kelinci itu tetap saja akan memberitahukan jawabannya. “Penyebab pelanggaran bisa dipertimbangkan sebagai keringanan hukuman.”

“Benarkah?” tanya Stuart tidak percaya.

“Tentu saja. Telingaku tidak akan salah,” kata anak kelinci sambil mengelus-elus kedua kuping panjangnya dengan bangga.

“Kau menguping lagi?” tanya Stuart sambil memicingkan matanya.

“Ahahahha..tidak sengaja,” kata Poo malu-malu. Ayah Poo adalah salah satu anggota dewan dan anak kelinci nakal yang satu ini memang suka menguping rapat dewan. “Kau akan suka yang satu ini,” kata Poo. “Hukuman keluarga Edward diperingan. Mereka diperbolehkan menikmati seperenam hasil kebun mereka,” kata Poo berbisik di telinga Stuart. “Ini rahasia. Besok akan diumumkan.” Anak kelinci itu menyengir lebar. “Dan ini ada surat panggilan untukmu dari para dewan.”

Stuart menerima surat itu. Dia senang sampai tidak bisa berkata-kata. Saking senangnya tanpa sadar dia memeluk Poo dengan sangat kencang. Untung saja dia sadar sebelum Poo kehabisan napasnya. Stuart meminta maaf pada Poo lalu bergegas menganti pakaiannya. Dia tersenyum menatap dirinya sendiri di depan kaca sambil mengenakan setelan jas yang sudah lama tidak dikenakannya.


message 13: by Mahfudz (new)

Mahfudz D. (mahfud_asa) | 305 comments BUNI-RUNGGA

Kebakaran itu membesar dengan cepat, menyambar sangkar-sangkar burung yang tergantung pasrah di beranda rumah si Pemelihara. Buni hanya bisa bersyukur dia telah berhasil lolos dan tidak lagi terjebak dalam salah satu sangkar itu, tapi dia tidak bisa langsung terbang pergi. Masih ada seekor burung kenari yang terjebak di salah satu sangkar, namanya Rungga. Buni dan Rungga memang jarang akur, tapi Buni tidak bisa membiarkan burung kuning kecil itu mati terpanggang api di depan matanya. Buni harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya, tapi apa yang bisa dilakukan oleh seekor burung jalak suren sepeti dirinya menghadapi api sebesar itu?

***

Hari masih sangat pagi saat Buni mulai uring-uringan. Dia sangat kesal saat kicau nyaring Rungga memaksanya bangun dari tidur pulas.

“Kamu ini apa-apaan sih, Rung?” omel Buni kesal.

Burung kenari kecil itu langsung terdiam begitu mendengar teriak kesal Buni. “Apa-apaan kenapa?”

“Menyanyi keras sepagi ini.” Buni masih sangat kesal, nada suaranya sama sekali tidak menurun. “Matahari bahkan belum muncul. Kalau mau pamer suara, tunggu sampai ada manusia di rumah ini yang bangun. Percuma pamer suara ke aku. Aku sama sekali nggak terkesan.”

“Siapa yang mau pamer,” kilah Rungga ikut kesal. “Lagian siapa yang menyanyi keras-keras? Kamunya saja yang sok sensitif. Bilang saja kalau kamu iri sama suaraku.”

Kalau sudah ditodong dengan pernyataan itu, Buni tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Dalam hati, Buni mengakui kalau memang ada perasaan iri pada Rungga. Buni ingin bisa bernyanyi seindah Rungga, sangat ingin, tapi Buni merasa malu untuk meminta Rungga mengajarinya. Karena itu, dia memilih bersikap agak tidak ramah pada Rungga untuk menyamarkan rasa malu dan irinya.

“Dan, aku saranin, sebaiknya kamu buang jauh-jauh rasa iri itu,” ujar Rungga dengan nada yang sudah kembali tenang. “Rasa itu cuma bikin kamu murung dan kepengin marah-marah terus. Lagian, rasa itu nggak pantas kamu tujukan ke aku. Gimanapun, jenismu nggak akan pernah bisa menyanyi seindah jenisku.”

Buni makin terdiam, menahan murka. Dasar burung kecil sombong.

***

Ini adalah kesempatan bagi Buni untuk mencoba berlatih bernyanyi. Hari ini dia sendirian, Rungga sedang pergi. Pemelihara, manusia yang memelihara mereka, membawanya pergi tadi, pagi-pagi sekali. Entah apa yang ingin manusia itu lakukan pada Rungga. Ada harapan dalam diri Buni agar Pemelihara tidak membawa pulang Rungga. Terdengar jahat mungkin, tapi sepertinya hidup Buni akan lebih tenang tanpa Rungga.

“Aaaaaaaa....” Buni mencoba berlagu, tapi dia langsung berhenti begitu menyadari suaranya sama sekali tidak terdengar merdu, lebih seperti teriakan asal-asalan.

Mungkin harus sedikit diperhalus, pikir Buni. Dia kemudian mencoba memperhalus suaranya, tapi suaranya tidak terdengar lebih baik. Tetap saja terdengar seperti teriakan asal. Setelah berkali-kali mencoba dan hasilnya tak kunjung membaik, Buni pikir dia memang tidak berbakat menyanyi. Dia sudah hendak berhenti mencoba saat tiba-tiba Rungga muncul, dalam sangkar yang ditenteng Pemelihara. Buni langsung terdiam, berharap Rungga tidak sempat mendengarnya bernyanyi. Sayangnya, Buni tidak seberuntung itu.

“Kamu tahu nggak?” tanya Rungga, perasaan Buni mulai tidak nyaman. “Suaramu benar-benar mengerikan.”

“Apa-apaan, sih kamu? Baru juga datang sudah...”

“Aku saranin lagi, ya?” potong Rungga. Pemelihara menggantung sangkar Rungga di tempatnya biasa sebelum meninggalkan Buni dan Rungga berdua. “Nggak usahlah repot-repot latihan sembunyi-sembunyi kayak tadi. Suaramu nggak bakal jadi lebih baik, kok.”

Sebenarnya Buni sudah mencoba menahan diri untuk tidak marah, tapi ejekan Rungga selalu berhasil memancing emosinya. Tapi semarah apa pun, Buni tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak bisa melukai Rungga secara fisik, karena mereka selalu berada di sangkar yang berbeda. Padahal, kata-kata saja tidak akan pernah bisa membuat Rungga terluka. Buni benar-benar berharap, suatu hari dia punya kesempatan untuk beradu fisik dengan Rungga. Tubuh Buni yang berbulu hitam-putih jelas lebih besar dari tubuh mungil Rungga. Cakar dan paruhnya juga terlihat lebih kokoh. Pertarungan fisik jelas satu hal yang bisa Buni unggulkan. Buni cukup percaya diri untuk yang satu ini.

“Ngomong-ngomong, Buni, sudah tahu kabar gembira hari ini?” tanya Rungga membuyarkan rencana di benak Buni.

Buni menoleh, sedikir penasaran, walau sebenarnya dia juga tidak yakin ingin mendengar kabar gembira itu. Kabar gembira bagi Rungga, bisa jadi kabar buruk bagi Buni.

“Aku baru saja menang kontes menyanyi yang diadakan para manusia,” ujar Rungga. “Lagi,” tambahnya menekankan.

Benar saja, bukan kabar baik bagi Buni. Bisa dibilang kabar buruk malah, karena setelah Rungga menang kontes menyanyi, biasanya Rungga akan dipindah ke sangkar yang lebih besar dan lebih indah. Dia akan bisa terbang sedikit bebas di sangkar barunya. Sambil mengejek Buni yang tetap terkungkung di sangkar bututnya, tentu saja. Belum lagi makanan-makanan lezat yang akan Rungga terima. Ah, Buni selalu iri melihat perbedaan nasib mereka. Ini salah satu alasan kenapa Buni sangat ingin bisa bernyanyi.

“Dan, makanan lezat siap dihidangkan,” teriak Rungga girang begitu melihat Pemelihara masuk dengan kantung transparan penuh cacing.

Buni hanya bisa menelan ludah membayangkan betapa nikmatnya cacing-cacing mungil itu saat menggeliat di paruhnya. Lembut dan hidup.

“Aku harap Pemelihara mau sedikit mengasihanimu,” lanjut Rungga sombong. “Tapi, aku lebih berharap aku bisa menghabiskan jatah kemenanganku sendiri.” Rungga tertawa menyebalkan.

Sial!

***

Rungga adalah tipe burung yang akan berlama-lama mengenang kemenangannya. Matahari sudah tergelincir lebih dari lima kali, tapi dia masih saja menyombong tentang bagaimana hebatnya dia saat kontes bernyanyi itu. Tak jarang dia bahkan memperagakan bagaimana cara dia menyanyi. Pada malam pertama pascakontes itu, Buni masih sedikit bisa menolelir kebiasaan buruk Rungga. Bahkan, malam itu, meski dia kesal luar biasa dengan Rungga, tapi dia menikmati cerita dan nyanyian Rungga. Sekarang, setelah Rungga mengulang cerita dan nyanyian yang sama lebih dari lima kali, Buni mulai muak.

“Rung, Diam!” bentak Buni kasar.

Rungga langsung terdiam, sempat terkejut untuk beberapa waktu sebelum menemukan kembali kemampuan bicaranya. “Memangnya kenapa kalau aku nggak diam?”

Buni berpikir sejenak. Dia ingin menjawab dengan kalimat yang sangat kasar. Setidaknya, sekali ini, dia ingin membungkam Rungga dengan kata-katanya. “Tetangga Pemelihara mungkin bising dan kesal mendengar ocehanmu berhari-hari ini. Dia mungkin sedang ke sini, membawa logam tajam, dan akan mencincangmu hidup-hidup.”

Rungga terlihat berpikir sejenak, lalu tiba-tiba matanya membuka lebih lebar. Sepertinya dia baru menyadari bahwa kemungkinan hal itu bisa saja terjadi. Tak berapa lama, tubuh kenari kecil itu terlihat bergetar. Bulu kuning yang biasanya berkilau, seolah melusuh dengan cepat.

“Apa itu mungkin?” tanya Rungga terdengar panik.

Buni merasa menang. Dia tidak pernah melihat wajah Rungga tampak semengenaskan itu. Buni sangat bahagia, dia tidak ingin hal ini berlalu begitu saja. Karena itu, alih-alih menjawab pertanyaan Rungga, Buni justru memberi opsi siksaan yang lebih mengerikan.

“Atau bisa jadi dia akan membakarmu hidup-hidup,” terang Buni. “Melihat bulu kuningmu terbakar sebelum kamu mati dengan penuh kesakitan pasti akan membuatnya senang.”

Bulu Rungga makin kusut, Buni membusungkan dada bangga.

***


message 14: by Mahfudz (new)

Mahfudz D. (mahfud_asa) | 305 comments Nyaris seperti inilah yang Buni bayangkan beberapa hari yang lalu saat dia menakuti Rungga tentang terbakar hidup-hidup. Bedanya, dia tidak membayangkan dirinya juga akan terjebak dalam sangkar yang mulai dilahap api. Perbedaan yang lain, Buni juga tidak benar-benar ingin hal ini terjadi.

Buni tidak tahu persis bagaimana bisa api itu bermula. Dia hanya sempat mendengar suara-suara asing dan kelebatan bayangan manusia. Mulanya dia tidak sadar apa yang manusia itu lakukan, tapi begitu dia melihat dan merasakan keberadaan api di sekitarnya, dia mulai panik. Dia mencoba kabur, mengepakkan sayap, kelabakan ke sana-kemari, tapi tiada hasil. Sangkarnya terlalu kokoh.

Beberapa waktu berlalu, api makin membesar. Di antara kobaran api, Buni mendengar teriak panik Rungga. Saking paniknya, kata-kata Rungga sampai tidak terdengar jelas. Ada perasaan senang dan menang dalam diri Buni, tapi bagaimana dia bisa merasa menang saat dirinya pun bisa terpanggang hidup-hidup?

Buni semakin giat mencoba untuk kabur. Dia benturkan tubuhnya ke sana-kemari. Berkali-kali mencoba, masih tiada hasil. Pada percobaan yang entah keberapa kali, dia baru berhasil mematahkan satu jeruji sangkar yang terbuat dari bambu. Dia melihat jeruji itu sudah berwarna kehitaman, bekas dijilat api. Dari situlah dia mendapat ide.

Buni mengamati pintu sangkarnya. Untung, api sudah menjilati bagian pintu sangkar, sehingga bagian itu terlihat sedikit rapuh. Lagi pula, jeruji bagian pintu lebih pendek daripada bagian lain, sehingga kemungkinan bisa lebih mudah dirusak. Buni menggunakan cara yang sama untuk menjebol pintu. Menumbukkan tubuh dan menggunakan cakarnya berkali-kali. Beberapa jeruji patah setelah belasan kali tumbukan. Saat akhirnya sebuah lubang kasar tercipta di pintu, tenaga Buni sudah nyaris habis. Tapi, dia memaksakan diri keluar secepat mungkin dari sangkarnya. Potongan jeruji bambu yang tajam sempat melukai tubuhnya, tapi akhirnya dia bisa keluar.

Buni bebas dari kungkungan api. Tapi saat dia hendak terbang menjauh, suara teriakan Rungga kembali mencapai pendengarannya. “Buni, tolong! Tolong aku, Buni!”

Seketika itu, Buni langsung menoleh ke arah sangkar Rungga. Burung kenari itu terlihat mengenaskan. Wajahnya jauh lebih mengenaskan dibanding saat Buni menakutinya beberapa hari yang lalu. Kali ini, bukan hanya ketakutan yang tampak di wajah Rungga, tapi juga derita dan putus asa. Tiba-tiba, muncul rasa bersalah di hati Buni. Menyusul rasa bersalah, sebuah pikiran aneh juga tiba-tiba menyelusup. Bagaimana kalau kebakaran ini terjadi karena ucapan Buni waktu itu? Bagaimana jika ternyata entah bagaimana ucapan Buni dijadikan nyata oleh penguasa alam semesta? Jika memang seperti itu, kebakaran ini jelas-jelas salah Buni dan dia harus melakukan sesuatu untuk membantu Rungga. Meski dia benci setengah mati dengan Rungga, tapi dia tidak ingin dihantui rasa bersalah kalau harus melihat Rungga terbakar hidup-hidup di depan matanya.

Seketika itu, Buni langsung berbalik arah ke sangkar Rungga dan membenturkan tubuhnya pada sangkar itu. Tiada hasil. Berkali-kali Buni mencoba hal yang sama, masih tanpa hasil. Lalu, dia sadar. Jeruji sangkar Rungga terbuat dari bahan yang berbeda dari sangkarnya, entah jenis kayu apa. Yang jelas, jauh lebih kokoh, bahkan setelah nyaris hangus terlahap api.

“Nggak bisa,” teriak Buni terengah-engah. Hawa panas semakin membantu menguras tenaganya. “Sangkarmu terlalu kokoh.”

“Terus apa yang harus aku lakuin?” tanya Rungga makin terdengar mengenaskan. Tubuh kecilnya tampak kabur di antara kobaran api.

Menyuruh Rungga membenturkan tubuh ke jeruji sangkar jelas bukan pilihan. Tubuh kecil itu tidak akan mampu. Harus ada cara lain. Hal lain selain kekuatan fisik. Suara. Ya, suara adalah kekuatan Rungga.

“Teriak sekencang-kencangnya!” perintah Buni. “Bangunkan Pemelihara!”

Tapi, cara itu pun gagal. Suara Rungga hanya menang di indah saja, tidak di kekuatannya. Lagi pula, dalam keadaan seperti ini Rungga bahkan nyaris tidak bisa berucap dengan benar.

“Kurang lantang!” perintah Buni. “Teriak selantang mungkin!”

“Aku nggak bisa,” balas Rungga. Suaranya pecah.

“Coba!” Buni terus memerintah. “Aku juga akan ikut berteriak.”

Maka, dengan kemampuan yang tersisa dari dua burung itu, dua teriakan akhirnya saling menyahut ramai. Rungga tampaknya mengerahkan semua kemampuannya. Buni pun tidak mau kalah. Dia berteriak sangat keras, hingga menenggelamkan suara Rungga dan suara lain di sekelilingnya.

Setelah berteriak beberapa waktu, Buni mendengar derap langkah, cepat dan terburu-buru. Saat melihat wajah Pemelihara, Buni tahu usahanya tidak sia-sia. Rungga akan selamat. Pemelihara tidak akan membiarkan Rungga mati.

Mungkin sudah saatnya Buni pergi, mumpung masih ada kesempatan. Bebas dari sangkar, berarti bebas dari Rungga juga. Dari dulu, hal itulah yang paling Buni inginkan, terlepas dari kenyataan bahwa ternyata Buni tidak sebenci itu pada Rungga saat keduanya dihadapkan pada maut.

***

“Aku dengar kabar,” ujar Buni. Kini dia tengah mengunjungi Rungga. Setelah beberapa waktu tidak bertemu sejak kejadian malam itu, Buni mendapati dirinya bahagia bertemu Rungga, meski dia tidak akan pernah mengakuinya secara terang-terangan. “Seekor pleci bilang kalau kamu mau ngomong sesuatu ke aku.”

Rungga mengangguk. Tidak seperti dulu, Rungga kini terlihat lebih pendiam. Sepertinya dia mengalami masa yang sulit setelah kejadian itu. Berbeda dengan Buni, setelah kejadian itu, Buni mendapatkan dunia baru untuk dijelajahi, dengan teman-teman baru pula. Dia nyaris tidak mengalami masa-masa sulit, kecuali beberapa hari saat dia nyaris mati kelaparan di luar sangkar. Namun, hal itu hanya terjadi beberapa hari saja, sebelum dia bertemu dengan kawanan jalak suren seperti dirinya. Keluarga baru, Buni menyebutnya seperti itu.

“Aku mau minta maaf,” ujar Rungga akhirnya bersuara, namun terdengar lemah dan tidak bersemangat. “Dulu aku sering membanggakan suaraku, tapi saat kejadian itu suaraku bahkan nggak keluar. Aku pasti sudah mati kalau nggak ada kamu.” Rungga terdiam sejenak. “Dan, ironisnya, justru suaramulah yang menyelamatkanku, suara yang dulu sering aku hina mati-matian.”

Terbawa dalam suasana emosional seperti ini membuat Buni tidak tahu harus berkata apa. Dia berpikir, tapi yang keluar dari paruhnya hanya sebaris kalimat pendek. “Aku juga minta maaf. Aku juga sering berkata sangat kasar padamu.”

Keduanya terjebak dalam diam untuk beberapa waktu yang lama, terjebak dalam pikiran masing-masing, membuat Buni merasa tidak nyaman. Untunglah Rungga punya inisiatif untuk memulai obrolan lagi.

“Setelah kejadian itu, kamu pergi ke mana?” tanya Rungga. Nada suaranya terdengar lebih santai.

Awalnya Buni sempat ragu, tapi setelah beberapa saat dia mulai menceritakan petualangannya di luar sangkar. Rungga terlihat begitu penasaran dengan dunia luar, sehingga Rungga menanyakan banyak sekali pertanyaan. Dan untungnya, pertanyaan-pertanyaan yang Rungga tanyakan bukan sesuatu yang sulit untuk Buni jawab. Tanpa mereka sadari, waktu berlalu begitu cepat. Sore sudah menjelang.

“Aku bisa datang lagi besok kalau kamu mau,” pungkas Buni. Harus Buni akui, dia menikmati percakapan ini. “Sekarang sudah sore. Aku harus pulang ke kawananku.”

Rungga mengiyakan. “Aku tunggu.”

***

“Gimana kabar kenarimu?” tanya seorang pria paruh baya berjaket parasut warna merah-hitam.

“Masih agak pendiam, tapi sudah lebih baik dibanding beberapa minggu lalu,” jawab sang lawan bicara, matanya melirik ke arah beranda dan menemukan burung kenari kuningnya tampak sedang berbincang asyik dengan teman lamanya. “Agak sedikit trauma, tapi aku yakin Rungga bakal kembali seperti sebelum kejadian itu.”

“Lalu, apa kamu sudah tahu siapa yang tega ngelakuin itu?”

Si pemilik kenari menggeleng. “Mungkin ada yang tidak suka Rungga menang di kontes kicau beberapa minggu lalu.”

“Dan, bagaimana dengan jalak surenmu, si Buni?”

Pemilik kenari menunjuk pohon rambutan di dekat beranda, tempat kandang kenarinya tergantung. Di sana bertengger seekor burung jalak suren berwarna hitam-putih. Burung itu tampak sedang berkicau asyik, yang ditimpali dengan kicauan yang sama cerianya oleh si kenari di kandang. Kedua burung itu tampak sangat bersemangat dan bahagia.

“Bukannya itu Buni?”

“Ya.”

“Lalu, kenapa nggak kamu tangkap lagi?”

Si pemilik kenari tersenyum. “Dia sudah bebas. Lagipula, beberapa hari ini dia selalu datang mengunjungi teman lamanya. Dan sejak kunjungan Buni, Rungga makin membaik dari hari ke hari. Kebebasan mungkin balasan yang setimpal bagi Buni karena telah membantu menyembuhkan Rungga.”

~Selesai~


back to top