Kastil Fantasi discussion

97 views
CerBul > [Lomba] CerBul KasFan (Desember '13)

Comments Showing 1-28 of 28 (28 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Fredrik, Momod Galau (new)

Fredrik (fredriknael) | 2447 comments Mod
Kali ini adalah edisi terakhir soal dari peserta pemenang pengumpulan poin periode tahun lalu! ^^

“Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi – Edisi Desember 2013”

Lomba CerBul diadakan sebagai ajang latihan, eksperimen, sekaligus unjuk kreativitas, bagi teman-teman yang suka menulis atau pengen juga coba-coba mulai menulis. Lomba ini diadakan setiap bulan, dengan tema yang berbeda-beda.
Lombanya santai-santai aja, gak perlu saling jotos atau gigit-gigitan, meskipun lempar-melempar cabe masih diperbolehkan dan memberi masukan/saran untuk perkembangan teknik menulis tentunya sangat dianjurkan.

Dan sebagai bonusnya, setiap bulan akan diberikan poin untuk para peserta yang nantinya dapat ditukarkan dengan hadiah buku pilihan. :)
Tentang poin dan hadiah buku, baca keterangannya di: sini.

Aturan main umumnya:

1) Cerita yang disertakan harus mengandung unsur fantasi/science fiction.

2) Penjiplakan karya orang lain dilarang keras.

3) Setiap peserta hanya boleh menyertakan satu entri cerita. Semua cerita di-post sendiri oleh penulisnya di topik ini. Entri-nya boleh juga di-post di tempat lain (misalnya di blog pribadi), namun diharapkan menyertakan juga keterangan dan link kalau ceritanya sedang dilombakan di sini (grup Kastil Fantasi).

4) Panjang cerita maksimal dua post, yang harus di-post secara berurutan. Tidak ada panjang minimal. Sebagai info, maksimal karakter (termasuk spasi) dalam satu post di Goodreads adalah 12.000 karakter. Perlu diperhatikan kalau panjang karakter di software (MSWord, dll) dan Goodreads bisa berbeda, misalnya saja tulisan dengan huruf miring/italic memakai kode HTML yang menghabiskan tujuh karakter lagi (untuk masing-masing bagian yang di-italic).

5) Cerita ditulis menggunakan tata bahasa yang baik. Tidak diperkenankan memakai bahasa singkat-singkat ala SMS, apalagi bahasa alay.

6) Semua cerita yang di-post akan tetap menjadi milik peserta. Bila ingin dikembangkan lebih jauh/serius (misalnya dibuat novel) atau dilombakan ke tempat lain, silakan saja.

7) Pengomentaran cerita tidak dilakukan di topik soal ini, melainkan di topik komentar.
Apabila ada yang menulis komentar di sini, komentarnya akan dihapus oleh moderator. Kedua topik dipisah demi alasan kerapihan.

8) Bila ada pertanyaan, bisa langsung dilayangkan ke topik komentar.

======

Soal edisi ini dari Katherin! :D

Mengingat ini udah bulan Desember, yang pertama terpikirkan pasti musim salju yang dingin, kan?
Apalagi film Frozen juga sedang diputar di bioskop... (Bebaskan... Bebaskan~)

Semuanya pasti mengharapkan sesuatu yang berhubungan dengan salju, kan?


Maka...

Soal CerBul edisi ini adalah:

Buatlah cerita yang memiliki unsur "panas" untuk menghangatkan tubuh yang kedinginan!


Soalnya ternyata bukan tentang salju! >.<

(Kath: "Nope, sorry, buatku lebih asyik yang ini." XD)

Jadi silakan diinterpretasikan sendiri arti "panas" di sini.
Harap diingat bahwa "panas" tidak selalu berarti sesuatu yang negatif.
Jadi jangan kepikirannya yang kotor-kotor aja yak! xP

Seperti biasa, nuansa ceritanya bebas. Boleh membuat kisah petualangan, horor, komedi, romance, dst. Silakan berimajinasi sebebas-bebasnya.

Pertanyaan dan diskusi, langsung ke topik komentar.


Keterangan tentang edisi soal dari peserta:

1) Pembuat soal diharapkan juga berpartisipasi dan ceritanya juga akan dilombakan dan dinilai oleh para momod.

2) Para momod juga akan berpartisipasi, namun ceritanya tidak ikut dilombakan.
Bila ada momod yang mangkir (ups! xD) atau ceritanya melanggar ketentuan lomba, maka pembuat soal berhak mendapatkan bonus +1 poin CerBul untuk setiap momod yang melanggar. :P


Tidak ada hadiah khusus di edisi ini.
Pemenang pertama akan mendapatkan +6 poin CerBul dan 5 besar yang lainnya akan mendapatkan +3 poin CerBul.

Informasi tentang poin CerBul dan kegunaannya dapat dibaca di: sini


Timeline lomba:

Posting cerita: 16 Desember 2013 – 10 Januari 2014
Masa penjurian: 11 – 24 Januari 2014
Pengumuman pemenang: 25 Januari 2014


Mari menulis fantasi!
;)


message 2: by Fredrik, Momod Galau (last edited Jan 14, 2014 08:09PM) (new)

Fredrik (fredriknael) | 2447 comments Mod
Daftar Cerita:


1. Piknik Keluarga by Erwin Adriansyah
2. Makoto to Kotowari by Narita
3. Eldurishi by Yozora Hikari
4. Knight in a Bowl by Ahmad Alkadri
5. Asisten Istimewa by Dini Afiandri
6. Harapan by Brenda
7. Burn by Fachrul R.U.N.
8. Cerita Sang Ayah by Shelly

9. Songstress by Katherin
10. Pieter Merah by Redtailqueen
11. Kisah April di Musim Dingin by Hasan Irsyad
12. Orang-Orang Biasa by Biondy Alfian
13. Memanggil Winn by Levif
14. Warna Panas by Dian Achdiani
15. You Are My Sunshine by Rifani Magrissa
16. Aku dan Kamu, Keluarga by Ameru

Cerita dari Momod:

1. Kitty by MonDa

~


message 3: by Erwin (new)

Erwin Adriansyah | 632 comments PIKNIK KELUARGA

“Papa, lihat!” seorang gadis cilik dalam balutan ponco hijau menunjuk seekor unggas yang melintas di atas kepala rombongan kecilnya.

Siluet kemerah-merahan tersebut terbang cukup cepat, namun sang ayah yang mengusung ransel paling besar sempat mengenali, “Ah, burung heker, pemakan bangkai.”

Dara mungil itu tercenung, “Pemakan bangkai ….”

“Artinya ada predator,” kakak laki-lakinya menanggapi, “dan predator biasanya menyerang mangsa paling lemah duluan, yang nggak punya bakat.”

“Ma, Kak Prionsa bawel!” si adik menukas cepat.

“Sorcha cuma belum menemukan kemampuan khususnya, Kak,” ibu mereka, anggota terakhir dalam grup, menengahi.

Melihat saudarinya menyeringai penuh kemenangan lantaran dapat dukungan, si sulung melancarkan serangan balik, “Idih, sudah umur tiga belas begitu, jangan-jangan memang nggak ada.”

“Lho, memangnya kenapa?” bapaknya menanggapi kalem, “Papa juga tidak punya sihir spesial.”

Merasa tak enak sendiri, Prionsa cepat-cepat menutupinya, “Papa beda, pinter matematika dan akuntan negara, jadi yaaa ….”

Tersenyum, pria itu memegang pundak putranya, “Kalau begitu, selama Sorcha pintar, dia tak harus memiliki wisaya istimewa, kan?” Kakinya mengayun, “Ayo, nanti kemalaman.”

Keempatnya kembali bergerak menyusuri jalan setapak di tengah kerimbunan hutan. Dilihat dari mana pun, mereka keluarga sempurna nan bahagia. Yang lelaki gagah berperawakan kekar proporsional, berambut cokelat bergelombang, bermata kelabu, hidung mancung dengan rahang kokoh. Yang perempuan anggun rupawan berkat rambut lurus keemasan, mata hijau, serta postur tinggi langsing.

“Kak,” sang bunda berkata, “kan, Mama sudah bilang, tas punggungnya dipakai saja, jangan telekinesis seperti itu.”

Prionsa melirik valis yang mengambang mengikuti tiap gerakannya, “Malas.”

“Kalau nanti ada pemangsa tertarik sama manamu, tanggung risikonya sendiri, ya,” balas wanita berusia 35 tahun tadi.

“Sip, kan, ada mama sama papa ini. Kalau nggak, tinggal umpanin Sorcha,” si bujang terkekeh.

Adiknya serta-merta protes, “Aaah, Kak Prionsa jahat!”

“Masa bodoh. Salah sendiri nggak bisa ngapa-ngapain!”

Melihat keduanya seketika terlibat perang mulut lumayan seru, ibu mereka pelan-pelan menjajari suaminya, Tabir maksimum, enkripsi Deutace, bisiknya. Prionsa mustahil menguping. Seandainya bisa pun, mustahil dia mengerti.

Baguslah.

Omong-omong, kamu serius?

Maksud?


Perempuan itu mendesah, Jangan kira aku nggak nyadar kalau kamu sengaja menuntun kita ke bagian paling berbahaya dari taman nasional ini.

Kamu selalu bisa membuatku terkesan, Nona Neala ó Mordha
, pasangannya yang sebaya menjawab sambil menyeringai.

Bibir Neala merekah bangga, Biar begini-begini aku Mahaguru Magi termuda dalam sejarah. Paras ayunya berubah serius, Jadi, apa pembelaanmu, Tuan Dillon Mac Suibhne?

Kakak benar. Seharusnya Sorcha sudah menunjukkan talentanya
.

Kekasihnya melirik nakal, Hayo, dulu katanya ikhlas jika anak-anak kita terlahir biasa saja.

Sang kepala keluarga mengangkat bahu, Ikhlas, kok. Aku cuma … ingin membantu.

Atau lebih tepatnya penasaran dan tidak sabaran
. Neala mengerising keji, Untung aku sudah menyiapkan ini biar kamu nggak perlu menunggu terlalu lama.

Si istri mengangkat tangan kanannya. Sebuah kubus kecil berpendar keemasan melayang di atas telapaknya.

Dillon membelalak, I … itu ….

Ekstrak mana tingkat tinggi, dalam kata lain, umpan dragon kualitas terbaik
, setengah mati Neala menahan tawa.

Raut pria tersebut mengeras, Sejak kapan kamu mengaktifkannya?

Sejak burung heker tadi lewat
.

Kening Dillon sontak berkerut sementara benaknya memroses variabel baru dalam rencana ini, Sial, bila kalkulasiku benar, mereka akan muncul … terdengar raungan dari kejauhan, sekarang. Dia menoleh ke anak-anaknya yang mendadak terdiam, “Lari!”


message 4: by Erwin (new)

Erwin Adriansyah | 632 comments Keempatnya otomatis tunggang langgang sementara si ibu menjerit “Lepas ranselnya!” dan semuanya patuh.

“Aneh! Naga biasanya tidak ….”

“Nanti, Kak!” Neala menyela putranya lalu mengamati layar hologram transparan yang muncul di depannya serta menampilkan peta berikut tanda panah yang menandakan pergerakan keempatnya, “Oke, di depan ada tempat terbuka di sekitar danau, kita bisa bertarung di situ.”

Sorcha langsung panik, “Ber … bertarung?”

Namun ayahnya malah memikirkan hal lain gara-gara melihat hutan mulai terkuak menunjukkan telaga yang dimaksud kekasihnya, “Danau, itu artinya ….”

Baru saja rombongan meninggalkan kerimbunan belantara, Neala serta-merta menarik suaminya ke kanan sedangkan Prionsa menerjang saudarinya agar menyingkir ke sebelah kiri. Terlambat sedikit saja pastilah mereka sudah dicaplok sesuatu yang menyeruak memanjang menembus permukaan air.

Cahaya matahari sore mengekspos sisik kebiruan pada objek asing yang kini berada di antara orang tua dan anak-anak. Tampak jelaslah sepasang celah insang di sisi kepala kadal bermata keemasan berikut deretan taring menghiasi moncong yang sedikit menganga.

“Naga air,” Dillon mendesis menyelesaikan kalimatnya, tiada meragukan bahwa sebagian besar badannya masih terbenam.

Makhluk tersebut mendadak mendongak. Para manusia refleks menengok ke arah pandangan sang monster hanya untuk menemui empat atau lima siluet di cakrawala kian mendekati mereka dengan kecepatan menakutkan.

“Kak, lindungi Sorcha!” Neala mengamit tangan suaminya dan terbang rendah menyusuri tepian menuju jalan setapak lain di seberang danau.

“Hah, cuma kroco doang,” si kakak terkekeh arogan menyadari ayah ibunya kabur dengan maksud menarik perhatian pendatang-pendatang baru. Akan tetapi, lantaran lawannya sekarang fokus padanya, anak sulung itu berdecak, “Ya, ya, baiklah.” Kedua lengannya terentang ke depan, “Hamba, Prionsa Mac Suibhne, memohon restu alam semesta demi ….”

Naga air seketika mematuk deras. Apa daya, dia malah terpental tercebur lagi ke tasik bak dihantam palu tak kasatmata. Angin pun mendadak bertiup kencang mengiringi kemunculan awan petir.

“Wiwaha Alkimia,” menuntaskan panggilannya, tubuh Prionsa menyala.

Manifestasi kekuatannya bukan kepalang. Corong-corong tornado dan halilintar turun dari langit, sekian banyak pancaran air danau, beberapa pita api yang entah dari mana asalnya, serta tonggak-tonggak tanah pasir, semuanya merasuk ke satu titik di hadapan sang penyihir muda.

Noktah energi tersebut kemudian memanjang membentuk sebuah tongkat. Wujudnya demikian ganjil, laksana akar-akar logam kelabu saling melilit membelit. Ujung atasnya membelah membentuk dua sosok yang menyatu pada bagian pinggang dan saling berhadapan: iblis jantan kelam bersayap selaput dan malaikat perempuan pucat bersayap bulu.

Menyaksikan dari kejauhan, Neala menggeram, “Saatnya serius!” kemudian melesat menyeret suaminya menyusuri jalan setapak.

“Lho, kok, malah jadi kamu yang senewen?” tanya Dillon.

“Menurutmu berapa lama dia bisa bertahan melawan Prionsa?”

“Sekitar dua ….”

Ucapan ayah anak-anak terputus karena sesuatu menyerupai kadal raksasa mendarat berdebam agak jauh di depan. Meski merayap, tinggi punggungnya melebihi orang dewasa. Sepasang tungkai depannya sepertinya merangkap sebagai sayap karena ada tonjolan panjang dari tiap sikunya. Di bagian belakang, ekor reptil melecut pelan mengikuti tiap gerakannya.

Tak jauh di atas, kawanannya terbang berputar-putar. Kibas sayap mereka memenuhi udara, kian menambah suasana mencekam.

Neala melepaskan tangan pasangannya. Sosoknya lenyap, dan seketika muncul di depan kepala naga pertama yang menghalangi jalan. Disentuhnya ruang di antara kedua mata hewan melata itu, membuatnya roboh seketika. Teleportasi lagi, diulanginya rangkaian aksinya pada dragon-dragon lain. Alhasil, mereka turut berdebam berjatuhan laksana lalat, masih bernapas tentunya.

Muncul kembali di sisi suaminya, Neala yang berdenyar redup berkata, “Saatnya melihat sekuat apa anak-anak kita,” kemudian mengangkasa persis komet.

Berkas cahaya tadi lantas meledak menyisakan seekor naga bersisik keemasan nan berkilau bermandikan kilatan petir. Tidak seperti kawanan yang baru dilumpuhkannya, sepasang sayap selaputnya mencuat dari punggung, membentang lebar nan gagah.

Mata hijau Dragan Neala membuka menyaksikan sang naga tirta dibombardir proyektil magis dari segala penjuru. Di samping pelakunya, Sorcha terkurung dalam kubah energi kebiruan.

Tatkala monster air itu tumbang tak sadarkan diri, dragon betina jadi-jadian memutuskan ikut campur. Cakar kirinya terulur, terbungkus kilau kemerahan. Putranya sontak terbungkus aura abang dan tertarik ke udara mendekatinya.

Sekilas kaget, Prionsa mengibaskan tongkat sihirnya. Dia pun teleportasi dan muncul di hadapan penjelmaan ibunya, melayang tanpa beban.

“Hm? Naga astral rupanya,” penyihir muda gagal mengenali makhluk di depannya, “aku tidak tahu ada jenismu di taman ini.”

Kadal siluman mendengus, netranya menyala terang. Nyaris serentak, remaja lelaki terperangkap dalam sebuah bola besar tembus pandang dan tampak jatuh, meski kemudian kembali mengambang di udara.

“Wah, wah, medan anti sihir merangkap anti gravitasi. Ternyata kemampuanmu cuma segini. Ketahuilah ….”

Wiwaha Alkimia tiba-tiba memendek. Bilah logam kelam pun menyeruak di antara sosok malaikat dan iblis. Alih-alih tongkat sihir, Prionsa kini bersenjatakan pedang.

“Aku tak butuh sihir untuk mengalahkanmu,” tandasnya sembari mulai menghantamkan pusaka ke kerangkeng gaibnya.

Bosan dengan sesumbar putranya, Dragan Neala mengaum. Energi murninya mengumpul di dasar perut, perlahan menanjak ke kerongkongan, lantas ditembakkan melalui moncongnya, telak mengenai penjara Prionsa.

Akibatnya sungguh luar biasa. Semesta berguncang diiringi dentuman maha dahsyat. Sebuah titik terlempar menembus gumpalan api berikut asap yang memenuhi angkasa.

Panik, Dillon mengontak istrinya, Hey, bukannya itu agak berlebihan? Dia anak kita!

Berisik
! Dragan Neala menggeram dan mulai melaju turun mengejar, Kalau menahan serangan begitu saja tidak sanggup, dia tak pantas jadi putraku!

Prionsa terhempas ke hutan, menghantam pepohonan sebelum akhirnya terkapar tak sadarkan diri di tepi danau dekat adiknya. Di sisi lain, dragon gadungan mendarat lalu mulai merayap mendekati korbannya.

Menyaksikan semua itu, Sorcha menggedor-gedor tembok mistis yang melindunginya. Air matanya berlinang, namun ibunya mengabaikannya dan malah membuka mulut, siap menelan Prionsa bulat-bulat.

Hampir bersamaan, pancaran dingin menyilaukan berkiblat mengincar sisi kanan Dragan Neala. Sang naga siluman langsung melebarkan sayap menutup diri. Alhasil serangan barusan hanya menghantam dinding tak terlihat yang sepertinya melapisi selaput tersebut.

Sang reptil menengok ke sumber emisi: sebuah meriam indigo besar pada pundak kanan sesosok figur feminin di tengah telaga. Rambut pirangnya lambat laun berganti warna dan mengombak ganjil persis permukaan air di bawah sepatunya. Guratan-guratan samar turut pula mewujud pada kulit mulusnya, membentuk pola serupa sisik hewan melata.

“Jangan. Sentuh. Prionsa!” gadis itu, Sorcha, menjerit.

Bersamaan, senjatanya kembali menyemburkan energi beku. Ibunya sigap merespons menggunakan semburan panasnya. Kekuatan keduanya bertemu, menghasilkan kegemparan dahsyat di langit dan bumi.

Selanjutnya, hening, gelap. Neala hanya mendengar derik serangga dan suara-suara satwa liar di kejauhan ketika pelupuknya mengerjap membuka. Letik, cahaya, berikut kehangatan api unggun selanjutnya menyapa indra-indranya.

“Sudah bangun?” sang suami bertanya.

Wanita tersebut bangkit duduk seraya menggumam tak jelas. Dia mendapati bahwa malam telah tiba dan mereka berada di bibir tebing menghadap ke rimba belantara nan membentang luas di bawah sana.

“Anak-anak?” dia beringsut ke sisi pasangannya.

“Di tenda, pulas.” Dillon mengulurkan gelas logamnya yang mengepul, “Kopi?”

Si istri melirik kemah di belakang mereka, lantas menerima tawaran kekasihnya, “Apa kamu puas?” ucapnya setelah menyesap minuman tersebut.

“Soal apa?”

“Sorcha.”

“Memangnya kenapa?”

“Dia istimewa. Wasilah Sukma dan Reka Cipta Candrasa adalah sihir-sihir kuno tingkat tinggi, butuh cadangan mana tidak sedikit hanya untuk merapal salah satunya. Sorcha malah menggabungkan keduanya serta masih sanggup menembakkan energinya lebih dari sekali,” Neala menjelaskan panjang-lebar.

Lelaki itu memikirkannya sejenak, “Kurasa dia dapat bakat itu darimu.”

“Kurasa begitu.” Neala menyandarkan kepalanya di pundak Dillon, “Dingin, peluk, dong.”

Dillon melingkarkan lengannya di pinggang istrinya, “Omong-omong, soal fantasimu … luar ruangan …. dinaungi bulan dan bintang ….”

Neala terkikik lalu mencubit perut kekasihnya, “Nakal. Jangan lupa, kita harus mengurus pendaftaran sekaligus spesialisasi Sorcha di Akademi Magi. Kalau dia sudah masuk asrama, ….”

Keduanya bertapan dan tersenyum simpul, “Olala.”


message 5: by Narita (last edited Jan 07, 2014 07:41PM) (new)

Narita | 289 comments Makoto to Kotowari

Sakit…

Gelap…

Dingin..

Rasanya sesak, paru-paruku terasa terbakar…

Aku memerhatikan sekelilingku. Tidak ada siapa-siapa. Aku… dimana?

Aku melompat dengan ringan. Seakan tubuhku tak berbobot.

Kemudian… muncul cahaya di kejauhan. Cahaya kecil yang hangat. Aku bergegas mendekatinya penuh semangat. Sebuah api lilin tunggal kecil berpendar kebiruan yang menenangkan. Aku menengadahkan tanganku, menciduknya. Seketika aku dapat mendengar desiran darah mengalir ke seluruh tubuh dan detak lembut jantung yang kurindukan.

“Oi, yang di sana!”

Aku terkejut, tersentak hampir terjengkang ke belakang dan melepaskan cahaya itu dari tanganku. “Siapa?”

“Lepaskan itu.” Dia menghirup udara dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan nikmat. “Api itu tidak bisa menjadi milikmu.”

Cring.

Suara lonceng. Aku menengadah. Seseorang turun perlahan, asap mengepul dari mulutnya. Ah bukan, daripada disebut mulut, lebih tepat merupakan moncong. Tubuhnya diselimuti bulu putih yang berpendar dalam gelap. Ia mengenakan atasan yukata bermotif musim semi dengan paduan warna dan corak mencolok yang bersemangat. Di telinga kirinya tergantung sebelah anting batu giok berbentuk bulan sabit. Matanya berwarna kuning keemasan menatapku tajam. Ia mengisap pipa tembakau panjang bercorak dengan dua cincin emas di tengahnya. Dua lonceng tergantung di ujung pipa. “Mengapa kau berada di sini?”

Aku terpaku, “bagaimana seekor rubah dapat berbicara?” Tanyaku takjub.

“Ah… ya, seekor rubah, tentu saja. Kau bisa memanggilku Kitsune Si Pembersih.” Ia mengetuk-ngetukkan pipanya, membuang abu tembakau. Lalu mengisapnya lagi dan mengembuskan perlahan. “Tentu saja aku bisa berbicara, karena aku ingin berbicara. Lalu bagaimana denganmu? Kau ini apa?” Kitsune menunjukku dengan pipa rokoknya, dua lonceng saling bersentuhan dan menimbulkan bunyi lembut yang nyaring.

“Aku… apa?” Aku menundukkan kepalaku, mengamati tubuhku sendiri. Aku mengangkat tanganku, menggerakkan setiap jarinya, “Manusia.” Jawabku mantap. “Si pembersih? Bagaimana bisa kau menjadi petugas kebersihan?” Aku tertawa geli.

“Yah, aku pun penasaran. Mengapa aku bisa menjadi si pembersih.” Jawaban yang konyol, tapi ia mengucapkannya dengan serius dan dingin.

Kitsune bergeming, ia menatapku datar. Suasana kembali hening. Aku benci ini.

“Jadi, apa maksudmu dengan api ini tidak bisa menjadi milikku. Aku bahkan tidak melihat pemiliknya.”

Ia mendesah berat. “Api itu milik orang lain, tentu saja. Sedangkan milikmu, di sini.” Si rubah mengangkat telunjuknya. Pada ujung kukunya berkobar lemah api berwarna oranye berpendar kebiruan yang tidak berdaya.

“Api itu tidak akan sanggup menghangatkan tubuhku.”

“Begitukah?” Ia terdiam sejenak. “Jadi tidak masalah jika aku meniupnya.”

Aku menatapnya, tidak ada jawaban dariku. “Baiklah jika begitu.” Lanjut Kitsune tenang. Ia meniupnya. Api itu mati.

Seketika aku merasa kehilangan yang amat sangat. Api di depanku bahkan tidak sanggup meredakan rasa sakit yang begitu menusuk. Aku terengah seakan paru-paruku berhenti memompa udara. Aku batuk sejadi-jadinya, berusaha mencari oksigen yang tiba-tiba saja menghilang. Apa ini?

“Api yang ada dalam tanganmu tidak akan berguna. Lepaskan, biarkan ia kembali ke pemiliknya.”

Aku masih berusaha untuk menghirup udara yang bahkan kuragukan ada. “Tidak mau.” Tolakku keras kepala. “Hanya ini yang kumiliki untuk menghangatkan tubuhku. Lagipula di sini gelap. Aku butuh cahaya.” Kueratkan genggamanku.

“Benarkah?”

Cring.

Bunyi lonceng lagi. Aku terkesiap, seketika ruangan gelap ini dipenuhi puluhan, ah mungkin ratusan api lilin yang sama seperti yang berada di tanganku. “Kau tidak akan melepaskannya, meski sudah memiliki cahaya sebanyak ini?” Ia melanjutkan.

“Ini ilusi!” Seruku marah. Aku dipermainkan! Apa-apaan makhluk tidak jelas ini, ia datang begitu saja dan seenaknya memberikan perintah. Aku tidak suka diperlakukan seperti ini!

“Tepat sekali. Ruangan ini, api itu, bahkan dirimu sendiri juga ilusi. Tapi bagaimana denganku, apa aku juga ilusi?”

“Berhenti berputar-putar! Katakan dengan jelas maksud semua ini!”

“Ah…” Ia mengisap dan mengembuskannya lagi. “Masalah ini akan menjadi sangat merepotkan.” Ia melemparkan pipanya kemudian kembali ke dalam genggaman tangannya menjadi sebuah seruling. Seruling dengan ornamen yang sama. “Jika begitu, mari kita melihat kenyataan bersama-sama.” Ia meniupnya.

Cring.

Entah mengapa tinggi badan rubah itu yang semula berada di bawahku, sekarang aku yang lebih kecil dibandingkan dia. Aku bahkan harus mendongakkan kepalaku hanya untuk melihatnya.

“Terkejut? Tentu saja kau terkejut. Itulah bentuk aslimu.”

Cring.

Si rubah menghilang. Kini aku berdiri di tengah ruangan yang dipenuhi cermin. Bayanganku terpantul ke segala arah, dan mengejutkanku sendiri. Aku melihat seekor kucing duduk kebingungan. Menatap ke sana kemari, mengangkat kaki depannya, menggoyangkan ekornya untuk memastikan sesuatu. Aku menjerit, namun yang tertangkap telingaku hanya suara raungan kucing yang kesal.

Ruangan kembali gelap dan kosong.

Sebuah layar besar muncul di tiap sisi; kanan, kiri, depan, belakang, atas dan bawah. Layar besar itu memproyeksikan seekor kucing berwarna putih dengan bercak hitam dan oranye di tubuhnya yang kurus. Duduk di samping jalan, menanti kendaraan berangsur lengang. Tidak jauh dari jarak si kucing, sebuah sepeda motor melaju tak terkendali ke arah si kucing. Tabrakan pun tak dapat dihindari. Si kucing mati di tempat.

Gelap kembali menyelimuti.

“Kau terlalu lama tinggal di dunia dan menyerap kebencian yang seharusnya tidak kau sentuh. Emosimu bercampur dengan emosi manusia sehingga kau kehilangan dirimu sendiri. Pada akhirnya kau terikat dendam dan mencelakai siapapun yang melewati jalan itu.” Kitsune menatap sekelilingnya. “Jiwa-jiwa ini tidak bisa kau gunakan untuk hidup kembali. Kau sudah mati.”

“Diam!” Kemarahan meluap dalam diriku.

“Kau memang berhak untuk marah. Sayangnya kau telah bertindak di luar batas.”

Kelebatan ingatan menyebalkan memenuhi kepalaku, rasanya begitu nyeri. “Kubilang diam!”

“Kebenaran tentang keberadaanmu dan alasan mengapa kau mengumpulkan jiwa sebanyak ini pun sudah kuketahui. Sudah saatnya mengakhiri segalanya. Bukan begitu, Bake Neko-san?” Si rubah melempar seruling yang kemudian berubah menjadi sebuah belati. Ia menarik perlahan pisau belati dari sarungnya. Gesekan dingin yang membuat gigiku ngilu.

Aku meraung marah. Melompat jauh, bersiap menerkam si rubah yang kini terlihat kecil di mataku.


message 6: by Yozora (last edited Dec 20, 2013 10:48AM) (new)

Yozora Hikari | 109 comments Eldurishi

Tersebutlah Dunia, bernama Askharhum, dimana tinggal mahkluk - mahkluk mitos dan manusia, mereka hidup bersama secara harmonis selama ribuan tahun, walau dengan perbedaan masing - masing, Manusia dengan kemampuan sihir atau disebut Hume, Peri yang dijuluki Fae, Manusia setengah hewan dengan nama Werebeast dan Mahkluk transparan dengan intelegensi tinggi yang bernama Athereal, dan beberapa mahkluk mitos lainnya.

Keempat ras tersebut mendominasi ibukota Urbem yang merupakan jantung dari Askharhum, Athereal dengan kepandaiannya menjalankan pemerintahan, berbagai macam Werebeast dengan kekuatan fisiknya menjadi pelindung keamanan, para Fae dengan kecantikan tiada tara menjadi pusat penghiburan para mahkluk di ibukota, dan kebanyakan Hume menjadi penggerak perekonomian. Berkat kerjasama yang terjalin diantara keempat mahkluk tersebut, Urbem menjadi kota yang makmur dan akhirnya menyandang gelar tertinggi di Askharhum sebagai Ibukota.

Kemakmuran Ibukota Urbem dan keberhasilan keempat ras mitos untuk menjadikan Urbem sebagai Ibukota, menyebabkan iri hati yang teramat sangat di hati Ledas, Ledas merupakan mahkluk mitos bernama Paagos yaitu mahkluk dengan komposisi manusia dengan tubuh seperti bagaikan pahatan es, Paagos tidak mempunyai jantung di tubuhnya dan hanya dapat hidup di negara dengan iklim bersuhu dingin, Ledas juga merupakan Mayor Kota Sidzulvili, yang dahulunya adalah kota yang mendapatkan gelar Ibukota. Ledas menjalankan pemerintahan dengan tangan besi, meningkatkan perekonomian dangan sistem kerja paksa dan menjalankan keamanan secara keras untuk penduduk kotanya, Sidzulvili menjadi salah satu kota terkaya dikarenakan tambang batu berharga yang tersebar di wilayahnya.

"Yang Mulia Ledas, Izotza telah hadir untuk menghadap" Sahut salah satu Paagos wanita kepada Ledas.

"Izotza, akhirnya kau datang, bagaimana keadaanmu hari ini?" Ledas menyapa Izotza dengan senyuman khasnya yang terkesan dingin.

"Terima Kasih atas kekhawatirannya, namun itu tidak perlu, kita tidak perlu berbasa - basi seperti ini, jikalau yang akhirnya Yang Mulia ingin tanyakan adalah bagaimana perkembangan Climate Machine yang sedang dikerjakan tersebut"

Tamparan keras langsung melayang ke wajah Izotza.
"Kau tidak perlu mengeluarkan kata - kata yang menyinggung seperti itu, terutama terhadap saya, kau mengerti Izotza!?" Jawab Ledas dengan marah, wajah tampannya yang sempurna seperti pahatan es kini tampak seperti iblis dingin.

Izotza yang hanya dapat terpana akhirnya menjawab. "Maafkan saya Yang Mulia, hal tersebut tidak akan terulang lagi"

Ledas, dengan senyum yang kembali tersungging di bibirnya berkata. "Baiklah, sampai dimana kita tadi?"

"Perkembangan dari Climate Machine sudah mencapai tahap akhir, dalam dua malam, rencana Yang Mulia bisa dapat dijalankan, dan dengan kesuksesan Climate Machine..."

"Urbem bisa menjadi milikku" Jawab Ledas memotong perkataan Izotza.

Festival selama seminggu penuh sedang terjadi di Urbem, merayakan tahun pertama gelar Ibukota yang berhasil direbut Urbem dari Sidzulvili, diantara kemeriahan festival, terlihat 4 mahkluk muda yang
berbeda ras sedang berbincang - bincang di salah satu kedai minum, Manna si Hume, Yosei si Fae, Tora si Werebeast dengan aspek harimau dan Draugur sang Athereal. Mereka sudah menjadi sahabat semenjak kecil, tidak terpisahkan walau dengan adanya perbedaan ras.

"Jadi, kita hanya akan berbincang - bincang tanpa jelas selama seminggu tanpa melakukan apapun?" Manna, yang merupakan satu-satunya perempuan di kelompok berkata dengan wajah bosan.

"Oh, jangan pesimis Manna, kau tahu tujuan kita datang disini adalah membicarakan tentang menghabiskan waktu selama libur festival" Sahut Yosei.

"Yosei, tidak perlu sekeras itu terhadap Manna, kau tidak mau kalau sampai dia membakar sayapmu lagi dengan sihirnyakan?" Tora berkata terhadap Yosei.

"Oh tenang saja, saat ini suasana hatiku tidak dalam keadaan ingin membakar sesuatu kok, bagaimana kalo sayap Yosei kuperkecil saja?" Manna tersenyum dengan liciknya.

Draugur akhirnya menengahi "Oh sudahlah kalian berdua, Manna kau masih dalam tahap novice jadi jangan mengeluarkan sihir yang macam-macam, Yosei, sudah cukup Manna membakar, merusak dan memudarkan warna sayapmu, jadi tidak perlu memancing perkelahian, dan Tora, berhenti memberi ide yang aneh untuk Manna"

"Siap Chief!" Ketiga mahkluk lainnya menjawab secara serentak.

"Oke, kembali ke tujuan semula, bagaimana kalo kita pergi menjelajah ke Hutan Varys saja?"

"Draugur kamu gila yah? kamu tahukan hutan itu terlarang untuk penduduk Urbem, selain para pendiri kota?" Tora menjawab sambil terkejut.

"Justru karena itu kita harus kesana"

"Jadi tujuan sebenarnya kau ingin ke hutan itu untuk menyelidiki dan memuaskan rasa ingin tahumu? oke aku ikut." Manna berkata sambil tersenyum.

"Jikalau Manna memutuskan ikut maka aku harus ikut" Yosei serta merta menjawab.

"Baiklah aku juga ikut, harus ada yang menjaga kalian bertiga" Tora kemudian berkata dengan enggan sambil memperhatikan para sahabatnya.

"Besok siang kita berangkat, kita berkumpul di pembatas nomor 5 di pinggiran Ibukota"

"Mengapa harus disana Draugur? bukannya disana besok adalah pusat festival? daerah itu akan ramai dengan orang" Manna bertanya dengan wajah heran.

"Justru karena itu kita harus kesana." Senyum menghiasi wajah Draugur.

Hari kedua festival Ibukota, jalanan dipenuhi oleh hampir seluruh mahkluk Ibukota, Manna yang terlambat untuk berkumpul di tempat tujuan berlari secepat mungkin sambil menghindari para mahkluk yang memadati daerah pinggiran Ibukota.

"Permisi, maaf permisi" Kata Manna sambil berlari di kerumunan.
Tanpa dia sadari, Manna menoleh ke arah para penari Fae yang sedang menghibur beberapa mahkluk yang berkerumunan di sekitar kedai minum dan kemudian berhenti untuk memperhatikan sosok yang tampaknya tidak asing.

"Eh, bukannya itu?"

"Manna! darimana saja kamu? kau terlambat untuk berkumpul di tempat perjanjian?" Yosei menegur Manna sambil memegang tangannya.

"Eh!? oh maaf Yosei, kau tahukan Mamaku harus diberi pengertian dulu, lagipula orang tua kita merupakan yang paling sibuk di saat perayaan seperti ini" Manna meminta maaf sampai akhirnya dia sendiri melupakan tujuannya untuk berhenti di tempat tersebut.

"Sudahlah, yang penting kamu sudah datang, ayo, yang lain sudah menunggu"

"Iyah"

Setelah akhirnya mereka bereempat bertemu, Draugur telah berhasil membukakan jalan untuk mereka melewati kemanan yang berada di sekitar pagar pembatas untuk menuju hutan Varys. Mereka menyelusuri hutan dengan tanpa tujuan yang jelas dengan Draugur memimpin di depan, sampai akhirnya mereka berada di puncak hutan Varys, dimana mereka dapat melihat kebawah, ke pemandangan Ibukota yang gemerlap walaupun di siang hari.

"Cantiknya..." Sahut Manna terkagum - kagum.

Ketiga Mahkluk lainnya hanya memandang dengan perasaan puas, hingga akhirnya Yosei bertanya kepada Draugur "Hei, Draugur, darimana kau tahu kalo pinggiran kota bagian pembatas nomor 5 akan setengah kosong dari penjaga keamanan? dan sepertinya kaupun sudah hafal dengan area hutan ini?"

"Hmm... pertanyaan yang bagus Yosei" Tora yang pendiam akhirnya juga angkat bicara.

"Oh yang benar kalian!? apakah hal itu belum jelas juga? saya tahu bagian pembatas nomor 5 akan setengah kosong dari penjaga karena memang setiap tempat yang dipadati orang yang penuh dengan kegembiraan cenderung akan membuat keamanan yang sedang bertugas melemah dan akan larut dalam suasana keramaian tersebut"

"Masuk akal" Manna berkata membela Draugur.

"Terima Kasih Manna, dan kalau soal mengapa sepertinya saya hafal area hutan ini, karena ini bukan pertama kalinya saya masuk ke hutan ini"

"Hah!? kau bercandakan!?" Teriak Manna, Tora dan Yosei
bersamaan.

Draugur tersenyum melihat tingkah ketiga sahabatnya, dan kemudian berkata "Tidak, saya tidak sedang bercanda, oh ayolah, kalian tahu bahwa saya paling tidak suka bercanda, ayo, aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian"

Sesaat setelah Draugur memberikan pernyataannya, terdengar suara aneh dari bawah di pusat Ibukota. Mereka bereempat kemudian menoleh ke bawah sumber suara aneh tersebut.

"Astaga!! APA YANG TERJADI!?" Manna berteriak histeris.

"Seluruh... seluruh... seluruh Ibukota dipenuhi es" Yosei hanya dapat memandang terpana.

"Tidak, kawan - kawan lihat, bukan hanya Ibukota, hampir seluruh daerah yang terlihat ditutupi es!" Tora berteriak setelah memperhatikan keadaan sekitar dengan wajah penuh kengerian.

Selama beberapa menit mereka hanya bisa terpana, putus asa menatap ke bawah, dimana Ibukota kini sudah menjadi lautan es.

Manna menangis tersedu - sedu, Yosei merangkulnya namun matanya tak pernah lepas dari pemandangan penuh kengerian di Ibukota, begitu juga Tora dan Draugur.

"Tidak akan ada yang bisa kalian lakukan kalau hanya menatap dan menangis seperti itu!!" Terdengar suara teguran suatu mahkluk dari belakang mereka.

Terkejut, mereka spontan menoleh ke belakang, ke sumber suara tersebut. terlihat dari pandangan mereka Athereal yang sudah berumur namun mata yang hampir transparan tersebut masih penuh dengan kebijaksanaan dan kecerdasan di dalamnya.

"Elder" Draugur berkata sambil mencium tangan Athereal tua tersebut.

"Aku khawatir kau tidak akan datang hari ini Draugur, makanya aku sengaja turun dari bukit rumahku secara pribadi, walau akhirnya harus menyaksikan kejadian luar biasa seperti ini"

Elder kemudian menoleh memperhatikan yang lainnya. "Selamat datang di Varys, para sahabat Draugur, walau sebenarnya saya mengharapkan kita dapat bertemu di waktu yang lebih menyenangkan, saya sarankan kita segera kembali ke rumahku, disana kita akan lebih aman"

"Baik Elder, ayo kawan - kawan, siapapun yang melakukan hal tersebut di Ibukota pastinya akan mencari di daerah sekitar untuk penduduk yang tersisa, sebaiknya kita bersembunyi dulu..."

"Bisa saja kamu berbicara setenang itu, kamu tidak lihat bahwa Ibukota... rumah kita... keluarga kita!!" Manna menyela kata - kata Draugur sambil berteriak histeris.

"Tenang dulu Manna, kita semua sedang dalam keadaan terdesak, sebaiknya kalo kita..." Draugur berusaha menenangkan Manna.

"KITA APA? LARI DAN MENINGGALKAN MEREKA DI BAWAH SANA!?" Manna yang terus berteriak dengan mata penuh air mata memberontak dengan liar di dalam dekapan Yosei.

Draugur yang melihat situasi, melirik Yosei. seperti yakin dengan apa yang diminta oleh sahabatnya, Yosei kemudian mendekatkan bibirnya di telinga Manna dan berbisik "spokoynaya zhizn'"

Seketika itu juga Manna menjadi tenang dan hanya duduk terdiam. Mantra penenang mahkluk Fae berhasil menenangkan Manna. setelah keadaan dirasakan telah terkendali, Tora kemudian mengangkat tubuh Manna yang jatuh pingsan, mereka kemudian mengikuti Elder menuju rumahnya di perbukitan yang lebih dalam di Hutan Varys.

Rumah Elder, merupakan khas rumah kecil mahkluk Athereal, modern, namun kecil dan nyaman.

"Kalian untuk sementara aman disini, walaupun terlihat terbuka dan tanpa pengamanan tapi rumah ini sudah diberi sihir pelindung dari salah satu Magi terbaik mahkluk Hume" Kata Elder sambil mempersilahkan mereka masuk.

Tora membaringkan Manna di tempat tidur yang berada di kamar tamu Elder dan kemudian kembali ke ruang tamu merangkap perpustakaan milik Elder. Draugur dan Yosei sudah mengambil tempat untuk duduk bersila di bantal tatami yang tersedia di antara meja segi empat, Tora memilih untuk berdiri menyandar di dinding.

"Bagaimana keadaan sang nona Magi?" Elder bertanya kepada Tora.

"Masih tertidur, tapi setidaknya dia sudah tenang, terima kasih atas perhatiannya"

"Yah, siapapun yang melihat kejadian seperti itu pastilah akan merasa panik, hal tersebut dapat dimaklumi"

"Elder, apakah Elder tahu yang melakukan penyerangan tersebut?" Draugur kemudian bertanya setelah sekian lama hanya terdiam.

"Paagos" Bisik Manna.


message 7: by Yozora (new)

Yozora Hikari | 109 comments Mereka yang berada di ruangan kemudian menoleh melihat Manna, yang ternyata telah sadar dan sekarang berada di ambang pintu ruangan.

"Ah, nona Magi,silahkan duduk, saya menduga saat ini kau pasti masih dalam keadaan setengah sadar karena terkena mantra penenang dari Fae yang sepertinya belum ahli mengucapkan mantra dengan baik" Elder berkata sambil tersenyum dan memapah Manna untuk duduk di salah satu bantal tatami.

Mereka bertatapan agak lama sampai terdengar suara menenangkan tenggorokan dari Elder. "Ehem, baiklah karena sepertinya kalian semua sudah kembali... akrab. Kita harus segera mencari cara untuk membebaskan para penduduk Ibukota dari Paagos, karena kalian
tahu sendiri, Paagos bukan mahkluk yang penuh kasih sayang ataupun perhatian, mereka, Dingin, dalam arti kata harfiah ataupun sebenarnya"

"Jadi? Apakah ada cara untuk melawan mereka? Kita semua tahu kalo

Paagos adalah mahkluk terkuat jikalau berada di iklim dingin, dan tampaknya di sekeliling Ibukota saat ini kita tak bisa merasakan hawa lain selain hawa dingin" Tora yang tadinya hanya diam mendengarkan kini angkat bicara.

Draugur menyambung pembicaraan. "Tora ada benarnya, bagaimana

caranya kita dapat melawan mereka di iklim dingin, kita belum mengetahui penyebab Ibukota dan sekitarnya menjadi seperti sekarang dan bahkan otak dari penyerangan inipun belum jelas"
Manna seperti teringat kejadian, pada saat dia terlambat datang di tempat pertemuan untuk berkumpul, dan sontak mengangkat wajahnya
"Ledas! pasti dia!"
"Ledas? maksudmu Mayor Kota Sidzulvili? apa tujuannya menyerang Ibukota?" Yosei yang kaget mengeluarkan pendapatnya.
"Saya melihatnya di dekat kedai minum di pinggiran Ibukota sewaktu terlambat datang ke tempat berkumpul, saat kau menemukanku Yosei, itulah saat saya melihatnya, namun tak dapat mengenali dengan jelas wajahnya, dia pasti pelakunya!"

"Saya rasa Manna ada benarnya, Ledas punya alasan untuk menghancurkan Ibukota, kalian tahukan kalo gelar Ibukota dulu dipegang oleh Sidzulvili, dan kita semua tahu betapa penting gelar tersebut di Askharhum" Kata Draugur menyela Yosei.
"Walau mungkin alasan tersebut masih belum jelas tapi untuk saat ini kita beranggapan saja seperti itu, dan kita fokus untuk menyelamatkan Ibukota dari Iklim dingin yang menyebabkan penduduk menjadi beku
dan juga penduduk yang ditangkap" Elder mengatakan hal tersebut sambil memandang mereka berempat.
"Namun, kalian tidak akan melawan pasukan Paagos yang berpengalaman di iklim dingin dengan hanya berempat, yang pertama akan kalian lawan adalah Iklim Dingin, kemudian baru kita akan melawan Paagos, dan untuk hal itu kalian harus mencari Eldurishi"
"Eldurishi?" Manna bertanya. "Siapa itu Eldurishi?"
" Eldurishi adalah batu api abadi legenda yang terletak di lembah Aionia, batu legenda yang dapat menghangatkan tubuh walau dari jarak yang sangat jauh, dapat melelehkan gunung es dan dapat membakar seluruh lembah hijau dalam sekejap"Elder menjelaskan. "Namun dikarenakan kekuatannya yang besar, Eldurishi dilindungi dengan sihir yang sangat kuat oleh mahkluk Hume, agar tidak di salah gunakanan oleh para mahkluk Askharhum, mengambil Eldurishi tidak akan mudah"
"Bukannya kita punya Hume disini?" Kata Tora sambil menunjuk Manna.
"Jangan meremehkan sihir tingkat tinggi Hume, nona Magi disini masih muda, saya perkirakan kamu masih dalam tingkat Novice?" Elder bertanya kepada Manna.
"Sebenarnya, semenjak kemarin saya sudah naik peringkat menjadi Magi Level Duobus"
"Kau sudah naik peringkat? kenapa tidak bilang - bilang?" Yosei bertanya dengan tidak menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Harusnya ini menjadi kejutan untuk kalian, pada saat kita selesai berpetualang hari ini, jadi... Kejutan!" Kata Manna sambil tersenyum lemah.
"Wah, wah, nona Magi ini ternyata cerdas, untuk usia semuda ini dapat menembus level Duobus, baiklah, saya rasa kau dapat menangani sihir penembus pelindung di lembah Aionia, namun harus saya katakan lagi, hal itu tidaklah mudah, sihir pelindung tersebut di ciptakan oleh Magi level Desyaat, Magi level tertinggi"

"Saya harus bisa, tidak! Saya pasti bisa" Manna berkata dengan sangat bersemangat.

"Manna, Kau tidak harus melakukannya, kau tahukan? Kita pasti bisa menemukan cara yang lain" Draugur meyakinkan Manna sambil memegang tangannya.

"Tidak Draugur, ini jalan yang terbaik, apa kau tidak percaya dengan kemampuanku? Ayolah, kita sudah lama bersahabat, aku yakin kalianpun tidak akan membiarkan sesuatu terjadi kepadaku" Manna tersenyum sambil melihat ketiga sahabatnya.

"Kami akan selalu melindungimu, percayalah" Tora berkata menenangkan dengan memberikan senyum khas WereBeast.
"Lembah Aionia terletak di bawah tanah, setengah jarak dari inti Askharhum, untuk menuju kesana membutuhkan waktu 10 hari 10 malam dari sini" Elder menjawab.
"Kau bercandakan? Kita tidak mempunyai waktu sebanyak itu!?" Yosei langsung histeris.

Elder yang seperti tidak mendengarkan kata - kata Yosei, kemudian

menekan tombol yang terletak di samping meja belajarnya. Tidak lama kemudian lemari penyimpanan buku yang berada di sudut ruangan terbelah menjadi dua dan menampakkan pintu dengan cahaya keemasan.

"Sinar Teleportasi, kau berhasil menyempurnakannya?" Kata Draugur dengan rasa kagum.

"Yah, bisa kau katakan seperti itu, setidaknya kalian akan menghemat waktu dengan menggunakan alat ini"

"Alat apa ini?" Tanya Tora dengan penuh keheranan.

"Bisa dikatakan jikalau kita menggunakan alat ini, kita dapat langsung berada di tempat tujuan" Draugur menjelaskan.

"Alat ini aman digunakan? Kau yakin Draugur?" Kini Yosei yang bertanya sambil terus memandang Sinar Teleportasi dengan perasaan takjub.

"Saya yakin, karena alat inilah yang menyebabkanku sering berkunjung ke rumah Elder, bisa dikatakan ini proyek kami berdua" Kata Draugur sambil tersenyum.

"Kalau Draugur sudah berkata aman, maka pastilah alat ini aman, ayolah kawan - kawan" Manna mengajak Tora dan Yosei ke depan Sinar Teleportasi.

"Seperti biasa, Tim pembela Draugur langsung angkat bicara" Ejek Yosei.

Manna hanya memutar bola matanya.

"Sebelum kalian pergi, nona Magi, ini buku yang kau perlukan untuk mematahkan sihir pelindung di dalamnya juga ada beberapa sihir yang berguna untuk digunakan" Elder memberikan buku bersampul kulit berwarna hijau kepada Manna.

Kemudian Elder memberikan tas ransel kepada Draugur. "Ini sedikit bekal, kita tidak tahu apa yang kalian akan hadapi nantinya, di dalamnya sudah kutaruh transmisi pencari sinar untuk kalian gunakan kembali ke sini"

"Terima kasih Elder, kawan - kawan, saatnya berangkat" Draugur melangkah melewati sinar teleportasi diikuti Manna, Yosei dan Tora.

Elder hanya dapat berdoa untuk keselamatan mereka di perjalanan.

Setelah mereka berempat keluar dari terowongan sinar
teleportasi, sinar itu kemudian menghilang tanpa jejak. di hadapan mereka kini terlihat bukit kecil yang dikelilingi sungai bersinar.

"Eldurishi pasti ada di baliknya" Kata Tora sambil tetap mengawasi keadaan sekitar.
Yosei kemudian mencoba menyebrangi sungai tersebut.
"Yosei, Jangan!" Manna memperingatkan Yosei.
Sesaat setelah tubuh Yosei menyentuh sinar dari sungai tersebut, dia

terlempar beberapa meter, sinar dari sungai tersebut menolak untuk di tembus.
"Apa - apaan!?" Kutuk Yosei yang berusaha bangun setelah terlempar oleh cahaya dari sungai tersebut.
"Aurora Borealis, salah satu pelindung terkuat yang dirapalkan oleh Magi level Desyaat" Kata Manna sambil membantu Yosei berdiri.

"Jadi sinar dari sungai itu yang merupakan pelindungnya, level Desyaat merupakan level tertinggi di Magi, Manna, apa kau bisa menanganinya?" Draugur bertanya sambil terus meneliti sinar dari sungai tersebut.

"Serahkan padaku" Manna menoleh ke Draugur sambil tersenyum optimis.

"Hati - hati Manna" Yosei merasa khawatir.

Manna hanya mengangguk sambil memegang buku sampul hijau tersebut, dia mencari cara untuk menghancurkan Aurora Borealis tersebut.

"Dapat!" kata Manna. "Kawan - kawan tolong mundur agak jauh ke belakangku, saya tidak tahu efek apa yang ditimbulkan sihir ini"

"Tidak!" Mereka bertiga serempak berkata.

"Kami sudah janji untuk melindungimu,apapun yang terjadi kita semua akan tetap bersama" kata Tora.

"Jangan bodoh, memangnya saya akan biarkan kamu menghadapi bahaya apapun itu sendirian?" Tegas Yosei.

"Kau tidak akan menyingkirkanku semudah itu" Kata Draugur sambil tersenyum.

Manna terharu mendengar kata - kata para sahabatnya, air mata haru menghiasi matanya, dia cepat - cepat menghapusnya sebelum terlihat oleh kawan - kawannya.

"Dasar keras kepala!" Manna berbicara dengan senyuman di wajahnya. "Baiklah, jangan jauh - jauh dariku"

Tora kemudian berdiri di samping kiri Manna, dan Draugur berada di tepat di belakang Manna, Yosei berdiri di samping kanan Manna.

Manna mulai merapalkan sihir penghancur pelindung. "All-öflugur verndari hlífðar eilíft, izbavit'sya ot vsekh vechnaya, eyðileggja AURORA BOREALIS!"

Ledakan dahsyat terdengar dari sinar pelindung tersebut, sinar yang tadinya lembut, kini seperti meledak keatas karena sihir penghancur, kemudian sinar tersebut menghilang begitu juga sungai dangkal yang
mengitari bukit kecil tersebut. Saat itu juga Manna jatuh pingsan.

Setelah beberapa saat, Manna kemudian terbangun namun masih dalam keadaan lemah, dia hanya dapat menatap ketiga sahabatnya yang berwajah khawatir.

"Apakah berhasil?" Tanya Manna.

"Ya, kau berhasil Manna, seorang Magi level Duobus merapalkan sihir level Desyaat" Kata Draugur dengan tersenyum.

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Yosei dengan penuh kecemasan.

"Selain tidak bisa bergerak karena lemas, sepertinya sih tidak kekurangan satupun" Manna menenangkan Yosei sambil tersenyum.

"Kalau begitu, mari ku gendong" Tora yang tidak menunggu persetujuan Manna langsung membopongnya.

"Oke, gerakan yang sigap kawan" Kata Yosei geli.

Mereka kemudian berjalan ke arah bukit. yang terlihat hanya bukit kecil yang berupa gundukan, tidak terlihat adanya batu sama sekali.

"Dimana Eldurishinya?" Tanya Manna keheranan.

Beberapa saat kemudian tanah di sekitar mereka bergoyang, sambil menjaga keseimbangan, mereka melihat dengan takjub saat bukit kecil tersebut terbelah menjadi beberapa bagian, dari balik belahan tersebut

terpancar sinar berwarna merah terang.

"Apa... yang... terjadi?" Yosei berkata sambil tergagap.

Bukit tersebut kemudian terbuka lebar dengan cahaya berwarna merah menyilaukan, dari dalam bukit itu kini muncul seekor Naga besar. Mereka seakan tidak dapat berbicara setelah melihat sendiri Naga itu muncul diantara mereka. Naga dengan sisik berwarna kemerahan dan Jingga, mata berwarna kuning keemasan dan sayap
yang terentang sangat panjang.

"Siapa yang berani membangunkanku dari tidurku yang panjang?" Naga itu bersuara membahana dan lantang sambil memperhatikan keempat sahabat tersebut.

Mereka semua tak bisa berbicara dengan jelas, Draugur hanya terdiam dan terus menatap sang Naga, Yosei hanya melongo dan melotot kepada Naga itu, Tora, walaupun tidak membiarkan Manna lepas dari gendongannya juga tidak dapat mengeluarkan kata - kata yang pantas, Manna kemudian memberanikan diri untuk berbicara.

"Mohon maaf, saya yang menghancurkan Aurora Borealis yang ada disini, karena kami mengira bahwa Aurora Borealis itu melindungi benda yang kami cari, seperti yang saya ketahui sihir pelindung sekuat itu pasti menyimpan sesuatu yang berharga" Jawab Manna dengan halus.

"Oh yah, Magi muda, seperti yang kalian lihat, Aurora Borealis itu untuk melindungiku agar tidak terbangun" Sang Naga berbicara.

"Tampaknya kami salah sangka, maafkan kami, namun apakah kau tahu dimana kami bisa menemukan Eldurishi?" Tanya Draugur berhati - hati.

Sang Naga itu kemudian menjawab sembari memperhatikan keempat sahabat tersebut dengan mata menilai. "Kalian sedang menatapnya, akulah Eldurishi"


Yozora


message 8: by Ahmad (last edited Jan 02, 2014 04:50AM) (new)

Ahmad Alkadri (alkadrii) | 157 comments Knight in a Bowl

"Kau bisa mengenainya?"

Endril menoleh ke pria di sampingnya. Mereka sedang berlutut, bersembunyi di balik semak-semak, mengintip dari sela dedaunan. Sebilah busur berada di tangannya, dan ia baru saja meraih anak panah di punggungnya.

"Tentu saja, Arthur," jawab Endril, mengangkat alisnya. "Tapi..."

"Tapi apa?"

Mengernyit kecil, ia menjawab, "Aku tak tahu. Hanya saja, ada seuatu... yang berbeda. Sesuatu yang aneh."

"Kau merasakan bahaya?" bisik seorang perempuan di sebelah kiri Arthur, berlutut dengan sebilah pisau di tangan kanannya. Sebelah lengannya lagi tersembunyi di balik jubah tebal yang ia kenakan, menggenggam sebilah pisau lainnya. Matanya kelabu, dan ia menatap Endril dengan cemas.

"Ya, Vionna," ia berkata pelan. Indera para peri selalu lebih tajam dibandingkan makhluk-makhluk lainnya di Empat Kerajaan, tapi bahkan Endril tidak benar-benar tahu pasti apa bahaya tersebut. Ia merasakannya di pepohonan, menciumnya di udara, dan mendengarnya di sela semilir angin, tapi dia tak tahu. Bahaya baru tersebut terasa asing baginya.

"Oke, jangan pedulikan," kata Arthur. "Fokus. Panah rusa itu dan kita bawa ke perkemahan."

Endril menoleh ke rusa yang mereka temukan, berdiri tiga puluh meter jauhnya. Ia memasang anak panahnya di busur, menariknya, bersiap untuk menembak. Sekali lepas, maka rusa tersebut akan mati. Mereka akhirnya akan mendapatkan makanan.

"Arthur," peri itu berkata pelan, "aku punya firasat buruk. Saranku kita mundur, pergi dari sini, dan mencari di tempat lainnya."

"Oh, ayolah!" sergah Arthur. "Sudah berhari-hari kita tak makan! Kalau kau tak mau menembaknya, biar aku yang membunuhnya!"

Dengan gerakan cepat, ia menghunus pedangnya. Bilahnya tajam, berkilau, dengan ukiran di permukaannya. Pedang Langit, senjata legendaris miliknya, tempaan para kurcaci di Utara. Pedang tersebut berdengung apabila diayunkan, seperti siulan. Atau nyanyian.

Menatap rekannya dengan alis terangkat, Endril berkata pelan, "Kau takkan bisa menyerang rusa sendirian, menggunakan pedang, tanpa membuatnya menyadari keberadaanmu. Dia akan kabur, dan kau tak akan bisa mengejar rusa. Di antara kita, tak ada yang bisa mengejar rusa kecuali aku dan Adalbert.”

"Kalau begitu, tolong aku, bodoh! Panah rusa itu, SEKARANG!"

Suara berkeresak terdengar. Mereka bertiga menoleh, melihat rusa tersebut telah melarikan diri. Semak-semak masih bergoyang menandakan kepergiannya.

Arthur menganga sejenak sebelum mulai berlari mengejar Endril dan Vionna. Mereka melaju dengan cepat, melompati batang-batang pepohonan yang rebah, akar-akar yang berbanir, dan beberapa semak pendek. Jauh di depan mereka, rusa tersebut masih melesat, makin lama makin kencang.

Dengan sebuah perisai besar di punggungnya, pedang pusaka di tangannya, dan baju besi di tubuhnya, sangat sulit bagi Arthur untuk mengikuti Vionna dan Endril. Di antara mereka, hanya si peri yang bisa melaju cukup kencang hingga makin mendekati buruan mereka. Endril melompat ke batang pohon satu ke cabang pohon, melanjutkan pengejaran dari atas, dan memasang anak panah di busurnya: ia membidik, siap menembak -

Ketika rusa tersebut ditelan oleh tanah utuh-utuh.

Mereka bertiga berhenti dalam sekejap. Arthur menganga, kedua pisau Vionna terhunus, dan di atas pohon, Endril masih membidik bukaan di tanah yang baru saja menelan si rusa. Mereka semua membelalak, setengah tidak percaya, sepenuhnya bingung.

"Apa yang terjadi?" tanya Arthur.

Kemudian, suara gemuruh terdengar. Lantai hutan bergetar, dan Endril melompat menjauh. Tanah, batu, dan pasir menyembur dari lubang tersebut, dan sesuatu yang besar, masif, bergerak dari dalamnya.

Endril menyaksikan kepala yang bersisik dengan mata merah membara, mulut yang terbuka dengan gigi-geligi tajam, dan sepasang lubang hidung yang menguarkan asap hitam. Dia mengenali makhluk tersebut. Dengan cepat, ia melompat turun dari pohon, mendarat di belakang Vionna dan Arthur, lalu berseru pada mereka berdua.

"Naga!"

Lidah api menyembur ke udara disertai suara raungan yang menggetarkan hutan. Naga tersebut menoleh, melihat dua manusia dan satu peri yang lari memunggunginya. Mereka berlari cukup cepat, meliuk-liuk di antara pepohonan.

Menelan rusa yang telah dipanggang di mulutnya, naga tersebut menarik seluruh tubuhnya keluar dari tanah, melata di lantai hutan. Kepalanya yang besar, dengan lidah yang bercabang dua, terangkat, dan dia menyemburkan napas apinya lagi.

Endril berhenti berlari tepat saat barisan pepohonan di depan mereka menyala dengan warna merah membara. Ia menoleh ke kanan, namun kepala sang naga berada di sisi tersebut, menjulurkan lidahnya kepada mereka. Sisa tubuhnya berada di belakang. Berarti, hanya tinggal satu kemungkinan untuk mereka bisa berlari.

"Ke sini!" teriak Arthur, sudah melesat ke sisi kiri. Vionna telah berada di belakangnya, dan Endril membidik cepat dengan busurnya, menembakkan anak panah ke wajah si naga, berharap bisa mengenai matanya.

Harapannya tidak terpenuhi. Naga tersebut menutup kelopak mata yang Endril sasar sehingga anak panahnya memantul ke tanah. Tapi, tindakannya memberi mereka waktu: selagi si naga berhenti karena menutup matanya, mereka berlari secepat-cepatnya.

Suara raungan terdengar mengejar dengan kecepatan yang luar biasa. Endril telah berhasil menyusul Arthur, dan kini berlari sejajar dengan Vionna. Sekali, dia menoleh ke belakang, membidik cepat dan menembakkan anak panahnya: tak ada yang berhasil mengenai mata sang naga, tapi cukup untuk memperlambatnya.

"Kita akan ke mana?" tanya Arthur dari belakang, terengah-engah berusaha mengikuti.

Vionna melemparkan sebuah pisau ke salah satu cabang pohon. Gagang pisau tersebut terikat dengan tali yang terhubung pada sistem mekanis di balik jubahnya. Alat tersebut menggulung tali, dan dia melompat, membiarkan dirinya ditarik naik, dan saat ia sudah cukup tinggi, ia melempar pisau bertali berikutnya ke cabang yang lebih di atas. Dia kembali meluncur.

Melesat cepat, ia muncul di atas pepohonan dan melihat pemandangan di hadapannya: sebuah tebing besar, putih tertutup salju seperti seisi hutan, berdiri menjulang. Cair Hahn, perbatasan kerajaan. Tebing tersebut membentang ke kanan dan kiri sejauh ribuan mil bagai tembok raksasa benteng pertahanan.

Vionna meluncur turun ke bawah, mendarat, dan kembali berlari di samping Arthur. Di depan mereka, Endril berlari mundur, menembakkan anak panahnya ke naga. Sekali, raungan keras terdengar dari belakang, namun Vionna tak menoleh. Dia mengumpulkan sisa udara di paru-parunya untuk berkata keras-keras pada mereka, "Kita harus berbalik arah! Di depan kita sudah perbatasan! Kita harus berbalik!"

"B-berbalik ke mana?" tanya Arthur, terengah dan menoleh ke pengejar mereka.

"Kalau kita terus berlari ke depan, kita akan terjebak di tebing! Kita akan menjadi mangsa empuk si naga! Kita harus -"

Tepat saat itu juga, sang naga menyemburkan napas apinya, membakar hutan di belakang mereka. Arthur berteriak, lidah api membakar bagian belakang jubahnya. Vionna menarik jubah tersebut dan jubah miliknya sendiri lepas, melemparnya. Dia menoleh ke depan, namun Endril tidak ada.

Ia mengerjap. "Ke mana-"

Saat itu juga, Endril mendarat di sebelahnya. Ada patahan-patahan ranting di jubahnya dan goresan di pipinya. Anak panahnya, tinggal tersisa satu, ia pasang di busurnya.

"Aku melihat ada gua tepat di depan kita!" katanya keras. "Terus lari!"

"Apa yang kaulakukan?" tanya Vionna, namun Endril tidak mendengarnya. Ia berbalik, busur di tangan, dan membidik.

Mereka keluar dari hutan, dari barisan rapat pepohonan, dan langsung berhadapan dengan Cair Hahn. Menjulang demikian tinggi, tepat di bawah kakinya, tepat di hadapan Vionna dan Arthur, adalah sebuah mulut gua yang kecil. Arthur menambah kecepatannya dan masuk lebih dulu, Vionna menyusul di belakangnya. Saat ia masuk, sebuah suara raungan keras terdengar, seperti lolongan anjing yang kesakitan.

Ia menoleh, dan langsung disambar oleh Endril yang menariknya masuk. "Jangan berhenti!" teriak si peri, membawa Vionna lebih jauh ke dalam gua. Mereka mendengar suara tubrukan, merasakan getaran keras, serta erangan frustasi sang naga di belakang mereka. Dinding gua bergemuruh karena tubrukan tersebut.

"Ia takkan bisa masuk ke sini," kata Vionna. "Tempat ini terlalu sempit!"

Segera setelah ia selesai mengatakannya, sang naga menyemburkan napas apinya ke dalam terowongan. Napas api tersebut menyambar jubah Endril, namun ia tak berhenti berlari. Api tak berhasil mencapai mereka setelah itu, tidak cukup jauh disemburkan untuk bisa membakar seluruh gua.

Akhirnya, mereka bertemu dengan Arthur yang bersandar di dinding gua, terengah-engah dan memegangi perutnya. Ia mendongak saat mereka sudah cukup dekat, dan menganga melihat Endril.

"K-kau..." ia berbisik. "Jubahmu -"

"Tenang," kata Endril. Dia melepas jubahnya dan menghamparkannya di lantai gua, tepat di hadapan mereka. “Jubah peri memakan waktu sangat lama untuk bisa terbakar habis. Duduklah, Arthur, Vionna. Istirahatlah."

"Kita... tak sebaiknya memadamkan api ini?" tanya Vionna.

"Sebaliknya," kata Endril, melepaskan jaketnya dan melemparnya ke api yang membakar jubahnya. "Gunakan ini untuk menghangatkan diri. Kalau kalian memiliki kayu atau bahan yang mudah dibakar, lempar ke sini."

Vionna menatapnya, kemudian menatap api tersebut. Dia bertanya, "Apa sebenarnya... yang mau kita lakukan?" 

Menoleh padanya dengan wajah terluka, Endril menjawab, "Menunggu."


message 9: by Ahmad (last edited Jan 02, 2014 04:54AM) (new)

Ahmad Alkadri (alkadrii) | 157 comments -a-

Mereka tak tahu apakah matahari sudah tenggelam atau belum, tapi dari udara dingin yang mulai bertiup masuk ke dalamnya, mereka menduga malam telah tiba. Satu-satunya sumber cahaya dan kehangatan di dalam gua tersebut hanyalah api unggun kecil yang mereka miliki, sehingga mereka duduk mengelilinginya. Nyala api yang menari-nari menimbulkan bayangan mereka di dinding gua.

Angin dingin bertiup lagi, membawa butiran-butiran salju dari luar. Vionna menggigil, bahkan Endril membuka telapak tangannya, menghangatkannya di hadapan api. Arthur telah melepaskan baju besinya. Dalam udara sedingin itu, logam zirahnya hanya akan membuatnya semakin membeku.

“Mungkin dia sudah pergi,” kata Vionna pelan.

“Tidak mungkin,” gumam Endril. “Naga bisa menunggu sangat lama demi mendapatkan mangsa. Mereka bisa mengubur diri mereka dalam tanah, menunggu kita keluar.”

“Kecuali… ia menemukan mangsa lainnya,” ujar Vionna berharap.

“Sepertinya, tidak ada ‘mangsa lainnya’ di hutan ini selain rusa tersebut,” kata Endril, menatapnya. “Kau tahu itu, Vionna. Hutan ini selalu mati selama musim dingin. Binatang-binatangnya berpindah, menjauh dari malam-malam bersalju yang membeku. Aku sudah berkata bahwa aku merasa heran masih ada rusa tersebut, dan bahwa sebaiknya kita pergi, Vionna.”

“Rusa itu tidak berani pergi,” ujarnya pelan.

“Karena dia tahu ada naga di dekatnya,” kata Endril. “Dia tak berani mengejar kawanannya yang bermigrasi. Dia terjebak di sini, di hutan beku ini.”

Vionna mengangguk. Dia tahu - sangat tahu, malahan - mengenai hal tersebut. Ia telah mendengar cerita mengenainya selama bertahun-tahun, bahwa ia harus menghindari hutan di kaki Cair Hahn selama musim dingin. Namun, perjalanan mereka mengharuskan mereka semua melintasi hutan demi mencapai Kerajaan Hahnlandreen. Seharusnya mereka masih menempuh perjalanan menyusuri Cair Hahn hingga menemukan Sella Hahn, sebuah bukaan sempit di Cair Hahn sekaligus satu-satunya jalan belakang untuk memasuki Hahnlandreen.

“Kau merasakannya, ‘kan?” tanya Vionna, menatap Endril. “Keberadaan naga tersebut?”

Peri itu mengangguk.

Vionna mengernyit. “Kenapa kau tak memberitahu kami, kalau begitu?”

“Karena aku tidak yakin,” jawab Endril pelan. “Ia bersembunyi di bawah tanah, dan aku - para peri sepertiku - tidak terlalu baik dalam merasakan apa-apa yang terdapat di bawah tanah, Vionna.”

Tentu saja, pikir Vionna. Seharusnya ia ingat hal tersebut. Peri, sebagai makhluk udara dan kayu, selalu kurang sesuai dengan tanah. Berbeda dengan Ent yang merupakan makhluk kayu dan batu, sangat terikat dengan tanah. 

“Salahku,” Vionna berkata pelan. “Aku tidak mencaritahu lebih banyak lagi mengenai hutan ini sebelum datang ke dalamnya.”

“Bukan salahmu. Bahkan aku tidak menyangka masih ada naga di daerah ini,” kata Endril. “Hahnlandreen adalah negara dengan pencapaian teknologi. Sihir sudah menipis di sini, Vionna.”

Mendengar hal tersebut, Vionna mendongak. “Karena itulah Adalbert agak enggan datang ke sini, ‘kan?”

Endril mengangguk. “Tentu saja. Kaumnya sudah terpinggirkan di sini, hampir semuanya telah bermigrasi. Penyihir, bagaimana pun juga, takkan… bisa… berada…”

Mereka bertatapan. Sesuatu terbangun di kepala mereka, sesuatu yang telah membekas lama, mengendap, dan menunggu untuk dipanggil. Mereka mengerjap.

“ADALBERT!”

“DIA MASIH DI LUAR!”

“Syukurlah,” kata Vionna, bangun buru-buru. “Kalau dia masih di luar, dia bisa mengusir naga tersebut dan menyelamatkan kita!”

“Permasalahannya, apakah ia bisa menemukan kita?” tanya Endril.

“Kita bisa memanggilnya ke sini. Berikan… isyarat…”

Vionna mengerjap. Pandangannya menjadi buram, dan sekelilingnya terasa berputar.

“Vionna?” panggil seseorang di kejauhan.

Namun ia tak mendengarnya. Kakinya lemas, ia mencoba melangkah namun tersandung dan akhirnya terjatuh. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi tangannya, kakinya, tak bisa dia rasakan. Dia terbaring miring, menatap lantai gua, merasakan dinginnya permukaan gua merayap dengan cepat ke tubuhnya.

Angin bertiup, dan dia menggigil, namun tubuhnya tak bergerak. Perutnya terasa sangat panas, menusuk-nusuk, dan ia memejamkan mata, meringis.

“Kau demam,” kata Endril, menyentuh dahinya. “Kau kelaparan, Vionna.”

Dalam hati, ia mencoba menghitung sudah berapa lama waktu berlalu sejak terakhir kali mereka makan. Dua hari? Tiga hari? Waktu terasa sulit dihitung setelah menempuh perjalanan melewati hutan dan pegunungan. Endril sendiri, seorang peri, dan Adalbert, seorang penyihir, tak begitu terpengaruh akan hal tersebut: mereka lebih sanggup menahan lapar dibandingkan manusia.

Di lain pihak, Vionna hanyalah manusia biasa. Meski ia berusaha tegar, Endril tahu bahwa sudah beberapa hari terakhir Vionna dan Arthur lebih tidak sabaran dalam mencari buruan. Mencari makanan. Mereka sudah berada di ambang batas.

“Kau tak boleh mati, Vionna,” kata Endril, menatap gadis pencuri tersebut. “Kami akan membawamu bertemu keluargamu. Kamu akan bertemu ayahmu yang sesungguhnya.”

Namun Vionna tak mendengarnya. Matanya perlahan-lahan menutup, tenaga pergi dari dirinya seperti air dari genggaman tangan.

Menoleh ke rekannya yang satunya, Endril bangkit dan menghampirinya dengan langkah panjang. Dia berkata, “Arthur. Arthur, bantu aku. Vionna sakit, kita harus membawanya keluar.”

Berlutut di hadapannya, si peri melihat pendekar pedang tersebut, ksatria Hahnlandreen yang termasyhur, tidak bergerak. Ia menjulurkan tangannya, mendorong bahu Arthur, dan rekannya jatuh miring, rebah di lantai gua yang membeku.

Endril berjongkok di atasnya, memeriksa denyut nadi, napas, semuanya. Dada Arthur masih naik-turun, namun sangat lamban dan lemah. Kemudian, Endril melihat ke belakang, ke Vionna yang juga terbaring. Keduanya kelaparan, keduanya sudah hampir tak memiliki tenaga yang tersisa.

Berjalan ke tempat Vionna berada, ia merogoh saku gadis tersebut dan mengeluarkan sebuah belati. Kemudian, ia menatap wajahnya, sang putri kerajaan yang terusir dari rumahnya sendiri dan dipaksa menjalani hidup sebagai pencuri selama bertahun-tahun. 

Endril menelan ludah, membelai wajah Vionna.

“Maafkan aku.”

-a-

Sesuatu yang hangat dan cair masuk ke dalam mulutnya. Vionna membuka matanya sedikit, melihat sebuah sendok yang disuapkan kepadanya. Dia mengedip lemah, mengecap sup tersebut, merasakan potongan daging, dan mengunyahnya. Dia menelannya, mengecap sisa-sisanya di lidahnya.

Kehangatan dan tenaga menjalari tubuhnya, begitu nikmat hingga ia tersenyum.

“Endril…?”

“Jangan bicara dulu, Vionna. Makanlah,” kata peri tersebut. “Makanlah.”

Maka ia mematuhinya, menelan sup tersebut sesuap demi sesuap.

-a-

Adalbert Waffling, penyihir dari pegunungan Selatan, pemilik tongkat api dan pedang cahaya, melangkah terburu-buru ke dalam gua.

Ia menoleh ke belakang, ke naga yang masih tidur. Dia tahu waktunya takkan lama sebelum naga tersebut bangun lagi, sebelum mantra biusnya memudar, sehingga dia harus memeriksa gua tersebut dengan cepat. Jubahnya, basah kuyup karena semalaman menerobos badai salju, membuatnya nyaris tersandung berkali-kali.

Dia tahu sebaiknya tak berteriak di dalam gua - siapa yang tahu apa yang ada di dalam kegelapan seperti itu? Sehingga, ia hanya bisa mengangkat tongkat sihirnya, menggunakan ujungnya yang bersinar untuk menyinari bagian dalam gua.

Tanah dan dinding sedikit hangus. Apakah sang naga mencoba menerobos masuk? Menyemburkan apinya ke dalam gua? Sangat mungkin, yang berarti pastilah ada sesuatu yang naga tersebut sedang kejar. Masalahnya, apa? Hewan biasa? Atau mungkin dua orang manusia dan seorang peri?

Akhirnya, cahaya tongkatnya menyinari dua sosok orang. Satu bersandar di dinding gua, satu berbaring. Ia mendekati mereka dengan hati-hati, waspada meski ia sudah bisa melihat wajah mereka.

“Adalbert,” sapa Endril pelan.

“Endril,” jawabnya. Dia menatap Vionna, kepalanya terbaring di pangkuan Endril, tampak sepenuhnya baik-baik saja.

“Kau lama,” kata peri tersebut.

“Maaf,” jawab Adalbert. Dia tak tahu apa lagi yang bisa ia ucapkan. “Syukurlah kalian selamat.”

“Ya,” jawab Endril pelan.

Si penyihir mengangkat alisnya, menyadari nada ganjil dari si peri. Dia menyinari tanah gua, melihat sebuah jubah peri yang sepenuhnya telah terbakar dan beberapa potongan kayu. Di dinding di seberang keduanya terdapat baju zirah, ditumpuk sembarangan.

Kemudian, cahaya tongkatnya jatuh kepada sebuah mangkuk kecil, tak diragukan lagi yang biasa Endril pakai, tergeletak di dekat jubah yang terbakar. Tambahkan dengan wajah Vionna yang lebih bercahaya dan lega dibandingkan hari-hari sebelumnya, Adalbert langsung paham.

“Kalian menemukan makanan,” dia berkata. “Kau sudah memberi Vionna makan.”

Endril mengangguk.

“Baguslah. Syukurlah,” kata Adalbert, tersenyum. Dia menoleh ke sekelilingnya, mengamati baju zirah dan pedang berkilau di tanah gua. “Di mana Arthur?”

Endril tidak menjawab. Dia menutup mulutnya rapat-rapat, sedemikian kuatnya hingga dagunya menegang. Adalbert menoleh kembali kepadanya, senyum di wajahnya perlahan memudar.

“Endril, kawanku,” kata Adalbert. “Di mana Arthur?”

Menelan ludah, si peri mengedikkan kepalanya ke arah mangkuk kecil miliknya. Adalbert mengamatinya, berlutut dan mengangkatnya. Di dekat mangkuk tersebut, setengah tersembunyi di bawah jubah peri yang telah terbakar, adalah sebuah pisau milik Vionna. Dia meraihnya, menariknya keluar dan mengangkatnya.

Sama seperti bagian dalam mangkuk, bilah pisau tersebut diselimuti warna merah darah.


message 10: by Dini (last edited Dec 27, 2013 09:13AM) (new)

Dini Afiandri (Dresco_Alcione) | 544 comments ASISTEN ISTIMEWA


Musim telah berganti warna, dari merahnya semangka musim panas ke coklatnya dedaunan musim gugur, hingga kini kota kecil itu memasuki putihnya musim dingin. Udara membekukan tulang, juga memudarkan semangat orang-orang. Salju ringan serupa gula putih turun menjelang sore hari, membuat para karyawan yang baru pulang kantor tidak tergesa pulang ke rumah, melainkan mampir dulu ke kedai sake atau warung oden untuk menghangatkan badan. Seolah tak cukup, persediaan bahan bakar menipis dan listrik pun menjadi sering padam. Maka di tengah kemurungan dan kesuraman seperti itu, siapapun tentu akan merasa heran melihat sebuah tempat makan yang mengklaim diri sebagai “penjual kebahagiaan”, dan berhasil membuktikannya karena para pengunjung kedai ramen itu selalu keluar lagi dengan wajah-wajah penuh senyuman dan tawa riang, tak peduli sesedih apa wajah mereka sebelumnya.

Kedai Mafuya. Itulah nama kedai yang kini ramai dibicarakan orang. Menurut desas-desus, Chef Fao—pemilik tempat itu—punya resep rahasia untuk ramennya, dan kecantikan Marnis, pelayan tunggal di kafe itu, juga sudah menjadi buah bibir. Tapi yang dibanggakan oleh para pelanggan setianya adalah keramahan mereka berdua, telinga yang bersedia mendengarkan keluh kesah apapun, dan betapa baik Marnis maupun Fao begitu mengenal wajah dan kebiasaan setiap pelanggan mereka. Tak sedikit orang yang merasa curiga, kemudian datang ke kedai itu dengan wajah masam hanya untuk mencemooh, tapi semua itu berubah begitu mereka mencicipi ramen kebahagiaan racikan Fao.

Bisnis mereka berjalan dengan lancar, sampai suatu hari Marnis menempelkan selembar kertas pengumuman di pintu kedai. Pengumuman itu berbunyi:

DICARI: ASISTEN KOKI
KRITERIA: Pemuda berusia di atas 16 tahun, diutamakan yang bisa memasak.
SYARAT KHUSUS: Bersedia bekerja dan berlatih dengan keras, tidak keberatan dengan hal-hal yang sulit diterima logika.
BAGI YANG BERMINAT SILAHKAN MENDAFTAR UNTUK WAWANCARA PRIBADI PADA AKHIR MINGGU INI

Tertanda,
Fao

*Tambahan: Karena alasan tertentu, Kedai Mafuya akan libur selama 3 hari, terhitung mulai hari ini.


Selesai menempelkan pengumuman dan menyapu bagian dalam kedai, Marnis naik ke lantai atas yang merupakan tempat tinggalnya dan Fao. Fao sedang berbaring di tempat tidurnya, meskipun saat itu siang hari. Dahinya mengernyit menahan sakit.

“Bagaimana keadaanmu, Pak Tua?” tanya Marnis.

“Jangan panggil aku begitu,” Fao terbatuk-batuk sebelum melanjutkan. “Aku tak apa-apa. 3 hari lagi juga sembuh. Ini cuma...”

“... rematik,” potong Marnis. “Dan cukup parah menyerang pinggangmu, sampai dokter melarang Sensei berdiri lama-lama apalagi memasak. Nah, jangan membandel. Aku sudah menempel pengumuman itu di pintu depan.”

“Sudah kubilang, aku tak butuh asisten!”

“Oh ya, kita perlu.” Pipi Marnis yang sudah merah oleh perona pipi kini lebih memerah. “Sudah kutuliskan dengan syarat khusus, untuk berjaga-jaga kalau-kalau nanti ada pertanyaan.” Fao tampak semakin tidak suka mendengarnya. “Kau hanya akan mengundang gosip. Kujamin akan ada orang-orang aneh yang mendaftar di hari wawancara nanti,” gerutunya.

Marnis membuka mulutnya hendak membantah, namun tiba-tiba saja badannya menyusut dan ia berubah menjadi seekor kucing putih. Fao terkejut dan langsung duduk. Kucing putih itu melompat ke atas tempat tidur dengan sisa-sisa kekuatannya, lalu bergelung lemah di pangkuan Fao.

“Maaf, sensei... Aku lelah sekali. Dua hari ini aku terus-terusan dalam wujud manusiaku dan aku—“

“Jangan bicara lagi, Pasqual. Tidurlah.” Fao membelainya lembut. 2 hari ini Marnis alias Pasqual sibuk merawat Fao dan mengurus kedai. Fao merasa bersalah. Penampilan Fao memang tampak seperti pria 30 tahunan, tapi usianya yang sebenarnya tidak bisa menolak penyakit, yang diperburuk pula oleh dinginnya udara musim dingin.

3 hari kemudian, di hari penerimaan pegawai baru, kekhawatiran Fao terbukti. Ada mantan Yakuza yang mendaftar meski sama sekali tak punya kemampuan memasak, yang dari penampilannya saja langsung ditolak mentah-mentah oleh Fao. Ada juga orang yang mendaftar karena ingin mencuri rahasia ramen kebahagiaan. Fao berdiri di sudut dengan disangga tongkat, menguji mereka semua satu persatu. Tapi tampaknya tak ada yang memenuhi kriteria pribadinya. Seorang pemuda lulusan sekolah masak ternama menunjukkan kemampuannya membuat beraneka masakan Prancis kelas satu, tapi dia pun ditolak. Ketika Marnis kesal dan bertanya mengapa, Fao menjawab simpel:

“Kedai ini menjual ramen, bukan masakan barat. Yang paling penting, aku juga tak merasakan kebahagiaan sedikit pun pada masakan yang dimasaknya.”

Antrian orang yang hendak melamar kerja semakin menipis, hingga akhirnya hanya tersisa seorang pemuda berusia awal dua puluhan. Rambutnya hitam sebahu, kurus, mengenakan kemeja putih lusuh. Dia berdiri gelisah menunggu giliran.

“Siapa namamu?” tanya Fao.
“Ka-Kazuma.”
“Apa keahlianmu? Masakan apa yang bisa kau buat?”
“Telur mata sapi.”
“Apa?”
“Te-telur mata sapi,” ujarnya terbata. Pemuda itu berdeham, mencoba mengusir rasa gugupnya. “Kalau anda mengizinkan, saya akan membuatnya dengan cara yang tidak biasa.”

Marnis yang memperhatikan jalannya wawancara dari salah satu meja, mendengus. Dia yakin Fao akan kembali menolak pemuda yang satu ini. Terlebih, kelihatannya dia yang paling payah di antara semua peserta.

Fao mengusap dagunya, memindahkan tusuk gigi yang dikulumnya ke sebelah kiri.

“Cara yang tidak biasa? Maksudmu?”
“Itu—”

Tiba-tiba, lampu mati. Penghangat ruangan juga berhenti bekerja. Ruangan kedai itu menjadi gelap, hanya ada sedikit cahaya dari luar.

“Listriknya padam. Tunggu sebentar, sensei. Akan saya ambilkan lilin.” Terdengar suara kursi digeser ketika Marnis beranjak dari tempatnya.

“Tak usah. Serahkan padaku!”

Mendadak ruangan diterangi nyala api. Api itu berasal dari tangan Kazuma. Langsung dari telapak tangannya, tanpa korek atau apapun juga. Menyala begitu saja.

Fao berdecak, sebelah alisnya terangkat, tanda tertarik.
“Kau... Punya kekuatan pyro?” tanyanya.

Kazuma hanya mengangguk. Ia melepas api di tangannya menjadi bola api yang melayang di udara sebagai penerang. Kemudian, ia menyambar sebutir telur yang tersedia di atas meja dapur, memecahkannya ke atas telapak tangannya. Telur itu berdesis tersambar api, dan dalam sekejap menjadi matang. Diletakkannya telur yang sudah jadi itu ke atas piring.

Marnis dan Fao mendekat, melihat hasil karya Kazuma. Telur mata sapi yang bentuknya rapi dan tidak gosong. Sekadar penasaran, Marnis menyentuh bola api yang melayang di dekat kepalanya. “Wah, hangat, tapi tidak membakar,” serunya kagum.

“Ya, saya sudah berlatih. Di restoran-restoran tempat saya bekerja sebelumnya, saya dipecat karena selalu menghanguskan sesuatu. Tapi sekarang saya jamin semua aman,” Kazuma memandang Fao dengan takut-takut. Fao meliriknya galak. Tapi kemudian dia mengambil garpu dan mencicipi telur itu. Ia terdiam sesaat ketika kehangatan telur itu terasa menjalar di mulutnya, hingga ke perutnya.

“Sa-saya juga bisa mendidihkan sup! Selain itu, kemampuan saya pasti bisa berguna pada musim dingin seperti ini! Saya akan bekerja dengan rajin, karena itu—”
Fao mengangkat tangannya, memotong ucapan Kazuma.

“Telur mata sapi cocok dengan ramen. Kau diterima, anak muda. Cobalah untuk tidak membakar apapun selain yang kau masak,”pungkasnya.

“Terima kasih, sensei!”

Marnis bertepuk tangan. “Selamat! Yah, sudah jelas kau memenuhi syarat khusus tentang hal-hal di luar logika. Selamat datang, anak baru. Jangan sampai kau membakar hatiku, ya.” Marnis memberinya kedipan sebelah mata.

Wajah Kazuma langsung merah sampai ke telinga.


message 11: by Dini (last edited Dec 27, 2013 09:21AM) (new)

Dini Afiandri (Dresco_Alcione) | 544 comments Sudah seminggu Kazuma bekerja di Kedai Mafuya. Hari itu, kedai tidak begitu ramai. Seharian itu, baru ada sepuluh tamu. Tamu ke-10 baru saja menyalami Fao dengan bersemangat, kemudian berlalu ke pintu keluar, menembus tirai kain merah hitam khas kedai ramen. Kepergiannya diiringi gema lonceng angin di atas pintu, yang melenyapkan beberapa gelembung sewarna pelangi.

Kazuma memperhatikan kepergian orang itu dengan penuh minat.

“Ah, nona Marnis. Sebentar.” Kazuma menyapa Marnis yang sedang mengelap meja tak jauh darinya. Gadis itu mendongak. “Maafkan aku, tapi sejak beberapa hari yang lalu sebetulnya aku ingin bertanya. Kenapa ada gelembung-gelembung warna-warni yang beterbangan dan hilang ditelan lonceng angin?”

Marnis tersentak kaget. Ia menoleh pada Fao yang sedang mengaduk kuah kaldu ramen di sisi kiri dapur. Fao diam saja.

“Kuperhatikan, gelembung itu sepertinya keluar dari kepala para pelanggan yang sedang makan, lalu terbang ke arah pintu masuk dan lenyap setiap kali lonceng berbunyi. Awalnya kukira itu dekorasi kedai, tapi...” Kazuma tampak rikuh. Sepertinya dia sadar kalau dia baru saja mengajukan pertanyaan yang tidak boleh ditanyakan.

“Itu esens kebahagiaan.” Tiba-tiba saja Fao menyahut di tengah kesibukannya. “Semestinya, orang biasa tidak bisa melihatnya. Tapi ternyata kau bisa.”

“Uh... Itukah ‘hal-hal di luar logika’ yang disebutkan di syarat khusus kemarin?”

“Gelembung-gelembung itu tidak berbahaya. Sensei sudah bertahun-tahun mengumpulkan esens kebahagiaan. Kami menggunakannya untuk membuat eliksir awet muda. Esens itu juga bumbu rahasia ramen di sini. Kami mencampurkannya ke dalam kuah untuk menyebarkan lebih banyak kebahagiaan kepada semua orang.” Marnis menjelaskan dengan hati-hati.

“Cara kerjanya sebetulnya sama seperti telur buatanmu,” tukas Fao sambil mengiris daun bawang. “Apimu punya kekuatan untuk memberi kehangatan pada makanan yang kau masak. Kehangatan itu bisa menghangatkan tubuh orang yang memakannya. Kau pikir, kenapa aku mau menerimamu bekerja di sini?”

Kazuma tampak tercengang.

“Tapi kalau kau tak suka dengan kenyataan ini, kau boleh berhenti. Pintu keluar ada di sebelah sana.” Fao menunjuk dengan pisau seolah tak peduli.

Marnis menatap Kazuma. Pemuda itu bimbang sejenak, tapi kemudian ia mengangkat bahu. “Yah, aku sendiri sama anehnya dengan kalian. Aku suka bekerja di sini. Lagipula...” Kazuma tersenyum malu-malu. “...Aku yakin kalian sebenarnya orang baik. Tak ada salahnya menyebarkan kebahagiaan.”

Marnis meraih sebelah tangan Kazuma dan menggenggamnya.

“Terima kasih. Kami belum pernah bercerita pada orang lain sebelum ini. Kuharap kau mau merahasiakannya.”

“Tentu saja. Jangan khawatir.”

Fao menggerutu pelan.

“Tunggu. Berkaitan dengan penjelasan tadi, kurasa aku punya ide bagus,” lanjut Kazuma. “Kau bilang masakanku punya kekuatan menghangatkan sedangkan ramen buatanmu bisa membahagiakan? Kenapa tidak menggabungkannya dan membuat menu baru?”

Fao memandang Marnis. Marnis balas memandangnya. Keduanya lalu menatap Kazuma dan mengangguk setuju.


* * * * * * *


2 minggu kemudian, kedai Mafuya memperkenalkan menu baru, khusus untuk musim dingin. Kazuma telah mengembangkan kemampuannya dan berhasil membuat 2 jenis minuman. Yang pertama adalah Coklat Peri Salju, minuman coklat hangat dengan serutan coklat putih di atasnya. Coklat putih ini dilelehkan dengan api tepat sebelum disajikan (tentu saja dengan memakai kekuatan Kazuma). Lalu ada Rice Liquor, minuman beralkohol yang dibuat dari campuran sake beras dan disajikan hangat-hangat beserta gelas khusus yang tak kalah panasnya. Sedangkan untuk makanan pencuci mulut, mereka bertiga berhasil mengembangkan resep orisinil Samurai Pudding. Puding ini mirip puding roti isi kismis, namun menggunakan susu kedelai sehingga rasanya jauh lebih lembut. Semua menu itu amat cocok untuk menghangatkan tubuh di musim seperti itu. Dengan inovasi dari Kazuma, kedai mereka menjadi semakin laku. Semakin lama, semakin banyak orang yang bahagia di kota itu. Kebahagiaan menyebar dengan cepat, sehingga ketika orang-orang yang membutuhkan kebahagiaan semakin sedikit, Fao memutuskan untuk pindah ke tempat lain yang lebih membutuhkan bantuan mereka. Ia menyampaikannya pada Marnis ketika mereka sedang berdua saja di lantai atas. Kedai baru saja tutup setengah jam yang lalu, dan Kazuma sudah masuk ke kamar yang disediakan untuknya di gudang belakang.

“Kurasa itu keputusan terbaik. Ah, aku akan merindukan anak muda itu.” Marnis mendesah pelan, matanya menerawang keluar jendela.

“Buat apa kau kangen padanya? Bocah itu juga akan kuajak.” Fao menyahut ketus.

Marnis tertawa. “Kadang aku tak mengerti keputusan sensei. Tapi, ada satu hal yang kumengerti.”

“Apa itu?” Fao bertanya tak acuh.

“Sensei tak suka kalau aku akrab dengan Kazuma dalam wujud perempuan.”

Fao memalingkan muka. “Pikiran bodoh.”


TAMAT


message 12: by Brenda (last edited Jan 02, 2014 04:57AM) (new)

Brenda | 21 comments Harapan

Jauh di dalam hutan, seorang pengemis duduk termenung menunggu ajalnya. Kulitnya pucat kebiruan, dipenuhi keriput – keriput kasar. Tidak ada binar kebahagiaan dalam matanya, seolah kehidupan telah lama meninggalkan dirinya. Pakaiannya compang – camping dan terkoyak, tidak dapat melindungi dirinya dari dinginnya angin malam.

Ia tidak dapat melakukan apa – apa lagi.

Ia hanya dapat menunggu kedatangan malaikat pencabut nyawa.

Ia telah kehilangan harapan.

Jauh di dalam hutan, seorang pria tua yang juga seorang penyihir, sedang menempuh sebuah perjalanan panjang. Dalam perjalanan tersebut, ia melihat sang pengemis. Karena rasa iba, sang penyihir menghampiri pengemis tersebut, hendak menolongnya.

Katanya, “Apa yang kau lakukan di tengah hutan di malam hari seperti ini?”

Pengemis itu hanya balik menatap si penyihir, tidak mampu mengatakan apapun. Sang penyihir memandangi pengemis itu. “Rupanya kau telah kehilangan harapanmu,” penyihir itu berkata, “apakah kau ingin mendapatkan yang baru?”

Sang pengemis mengangguk lemah. “Baiklah,” ujar si penyihir tua sambil menjentikkan jarinya. Api kecil berwarna putih terbentuk di ujung jari telunjuknya. Salur – salur berwarna merah mengitari api tersebut.

Api putih yang tadinya berukuran sekecil kerikil berkobar semakin besar. Sekarang ukurannya sebesar kepalan tangan. Lingkaran cahaya menyelubungi api tersebut. Panasnya menguar, kehangatannya dapat dirasakan dari jauh.

Sang penyihir menyerahkan api itu ke tangan sang pengemis. “Ini adalah api harapan. Gunakanlah ini sebaik – baiknya. Mungkin harapan itu tidak akan bertahan selama – lamanya, tetapi itu cukup untuk menambah umurmu beberapa hari lagi. Setelah itu, kau harus belajar untuk berharap sendiri.”

“Semoga berhasil,” salam sang penyihir, yang kemudian melanjutkan perjalanannya.

Pengemis mendekatkan api harapan ke dadanya. Api itu merambat masuk ke dalam tubuhnya. Panas menjalar, semakin lama semakin hangat rasanya. Tubuhnya tidak lagi kedinginan, rona merah muncul di kedua pipinya. Matanya tidak lagi hampa, melainkan penuh semangat hidup. Hangat dan memberikan harapan untuk terus hidup.

Ia pun keluar dari hutan dan pulang dengan bahagia ke rumahnya di desa.

Hari – hari pun berlalu. Sang pengemis menghabiskan waktunya dengan bahagia. Tetapi, tanpa disadarinya, ia telah membuat kesalahan. Tidak satupun nasihat dan peringatan dari sang penyihir diingatnya. Petuah yang didengarnya tidak lebih dari sekedar angin lalu.

Tujuh hari setelah pertemuannya dengan sang penyihir, api harapan itu hampir padam. Dengan panik, ia kembali lagi ke hutan dan mencari penyihir itu. Namun, penyihir itu tidak dapat ditemukan dimanapun.

Api harapan yang ada di dalam dirinya sebentar lagi padam. Pengemis itu melihat bahwa ukurannya tidak lebih besar dari jari kelingkingnya. Ia hampir merelakan harapannya itu untuk pergi, kalau ia tidak melihat asap mengepul dari kejauhan.

Pengemis langsung berlari ke arah asap tersebut. 'Asap itu pasti berasal dari rumah si penyihir,' pikirnya. Semakin dekat dengan rumah itu, sang pengemis menyadari bahwa rumah tersebut tidak terbuat dari kayu atau bata, atau bahan yang biasanya digunakan untuk membuat rumah.

Dindingnya terbuat dari roti dan kue, dan jendelanya terbuat dari gula. Sang pengemis mengetuk pintu, tetapi tidak ada yang membukakan pintunya. Padahal, pengemis itu dapat mendengar suara – suara dari dalam rumah. Maka, ia pun mengintip dari balik jendela.

Di dalam rumah, tidak ada penyihir yang kemarin ditemuinya. Hanya ada seorang wanita tua yang terlihat jahat, sedang berteriak kepada seorang anak perempuan. Sang pengemis juga melihat anak laki – laki yang terkurung di dalam jeruji. Kedua anak itu mirip satu sama lain, kemungkinan besar mereka bersaudara.

Yang berbeda dari biasanya adalah ada api yang berkobar di dalam tubuh ketiga orang itu. Api yang sama persis dengan yang didapatkan sang pengemis. Dan pengemis itu dapat melihatnya.

Api kedua anak itu sama besar, lebih besar dari api yang dimiliki wanita tua. Pengemis itu melihat api harapannya sendiri, yang hampir mencapai batasnya. Sang pengemis tahu bahwa ia harus mendapatkan api harapan yang baru.

Api harapan yang baru. Sebuah ide terlintas di dalam benak sang pengemis. Mengapa ia harus susah – susah mencari si penyihir, ketika di sini ada harapan yang bisa diambilnya?

Dalam hitungan detik, sang pengemis menerobos masuk ke dalam rumah. Ia mencuri harapan anak perempuan itu, dan berlari pergi. Semuanya berlangsung begitu cepat, dan sepertinya anak perempuan tersebut tidak sadar ada yang hilang dari dalam dirinya.

Pengemis itu memasukkan api harapan yang baru ke dalam dadanya, dan dapat memperpanjang hidupnya.
Sekarang, ia tahu bagaimana caranya mempertahankan hidup. Yang ia tidak ketahui adalah akibat yang disebabkannya.

Ia tidak tahu bahwa anak perempuan itu sedang berusaha membebaskan dirinya dan saudaranya dari penyihir jahat. Penyihir jahat itu ingin memakan kedua anak itu.

Tanpa harapan untuk bertahan hidup, anak perempuan itu menjadi hampa. Sang anak perempuan hanya dapat menyerah dan membiarkan dirinya jatuh ke dalam perangkap penyihir jahat.

Pada akhirnya, kedua anak itu dimakan, sementara sang pengemis dapat melanjutkan hidup beberapa hari lagi, menikmati hangatnya api harapan yang baru didapatkannya.

Api harapan itu hanya bertahan selama tiga hari.

Sang pengemis kembali panik, karena api harapannya hampir padam. Kali ini, ia tidak mencari sang penyihir yang dulu membantunya, melainkan orang lain yang api harapannya cukup besar.

Ketika ia kembali ke hutan tersebut, ia menemukan seorang perempuan. Rambut perempuan itu sehitam kayu eboni dan kulitnya seputih salju. Parasnya sangat cantik, kalau saja mukanya tidak kotor terkena debu dan tanah. Pakaiannya juga indah dan mahal, sayangnya sudah tercabik dan kotor. Sepertinya perempuan itu tersesat di dalam hutan. Api harapan berkobar, memberikan perempuan itu kekuatan untuk terus berjalan.

Sang pengemis memutuskan untuk mencuri api harapan tersebut. Ketika perempuan tersebut jatuh terjembab, sang pengemis merenggut api harapan tersebut. Perempuan itu tiba – tiba menggigil, matanya tidak lagi berbinar dan pipinya tidak lagi merona merah. Sang gadis hanya dapat duduk dengan lemas, tidak sanggup melanjutkan lagi.

Pengemis itu memasukkan api harapan yang baru ke dalam dadanya, dan dapat memperpanjang hidupnya.

Sekarang, ia tahu apa yang terjadi kepada orang – orang yang api harapannya dicuri. Yang tidak diketahuinya adalah kehilangan harapan dapat berarti kehilangan nyawa.

Ia tidak tahu bahwa perempuan itu sebenarnya adalah putri kerajaan yang sedang melarikan diri. Ibu tirinya, sang ratu, iri akan kecantikannya dan berusaha membunuhnya. Ratu jahat itu mengirim seorang pemburu untuk membunuh putri itu.

Tanpa harapan untuk melarikan diri, sang putri tidak dapat melanjutkan lagi dan tidak mendapat belas kasihan dari sang pemburu.

Pada akhirnya, putri itu meninggal di tangan sang pemburu, sementara sang pengemis dapat melanjutkan hidup beberapa hari lagi, menikmati hangatnya api harapan yang baru didapatkannya.

Api harapan itu hanya bertahan selama satu hari.

Penyihir itu kembali panik, karena api harapannya hampir padam. Kali ini, ia keluar dari hutan dan pergi ke desa. Selain karena udara sudah terlalu dingin di hutan, di desa juga ada banyak orang yang memiliki api harapan.

Salju pertama tahun itu mulai turun. Bintang di langit bersinar dengan terang. Pohon – pohon natal dan hiasan natal dipajang dimana – mana. Lagu natal berkumandang di dalam toko - toko. Sang pengemis berjalan sambil berusaha mempertahankan api harapan tersebut.

Ketika ia berjalan menyusuri toko – toko, seorang gadis kecil memanggilnya. “Tuan, apakah kau ingin membeli korek api?” tanya gadis kecil yang membawa sebaki penuh korek api. “Lumayan untuk menghangatkan diri di tengah udara dingin seperti ini,” katanya meyakinkan.

Si pengemis tidak mengiginkan api biasa, tetapi api harapan yang dapat mempertahankan hidupnya. Dan api harapan gadis kecil itu besar. Sang pengemis memutuskan untuk mencuri api harapan gadis itu.

“Aku tidak mau korek api yang menghasilkan api biasa itu, nak,” kata sang pengemis mengulur waktu, “Aku hanya ingin api harapanmu.”

Ketika gadis kecil itu menatapnya keherenanan, ia mengambil api harapan gadis kecil tersebut. Seketika itu juga, gadis kecil itu pun menangis dengan putus asa. Ia tidak lagi menawarkan korek api kepada orang – orang yang melintas. Dibuangnya baki berisi korek api itu dan terduduk lesu di depan toko.

Hawa dingin salju mulai menusuk tubuh sang gadis kecil, mengingat gadis itu hanya mengenakan pakaian yang tipis. Tubuhnya menggigil dengan parahnya, dan kulitnya semakin keriput. Gadis itu sekarat, bagai bunga yang hampir layu. Si pengemis hanya dapat memandangi selama ber jam – jam, saat gadis kecil itu akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

Pengemis itu memasukkan api harapan yang baru ke dalam dadanya, dan dapat memperpanjang hidupnya.

Sekarang, ia tahu bahwa kehilangan api harapan dapat berarti kehilangan nyawa. Namun, pengemis itu telah kehilangan kasih terhadap orang lain, sehingga ia tidak peduli akan hal buruk yang telah diakibatkannya.

Ia tidak peduli bahwa gadis kecil itu sudah kehilangan ibunya, dan memiliki ayah yang pemarah juga pemalas. Hari itu, sang gadis kecil yang lemah disuruh ayahnya menjual korek api agar mereka bisa makan.

Tanpa harapan untuk mendapatkan kasih sayang dari keluarganya, gadis kecil itu berhenti menjual korek apinya. Korek api tersebut dibuangnya, dan ia tidak memiliki alat untuk menghangatkan tubuhnya. Tubuhnya yang rentan, terkena penyakit karena kedinginan.

Pada akhirnya, gadis penjual korek api itu meninggal karena kedinginan, sementara sang pengemis dapat melanjutkan hidup beberapa hari lagi, menikmati hangatnya api harapan yang baru didapatkannya.

Api harapan itu hanya bertahan selama satu malam.

Sang pengemis kembali panik, karena api harapannya hampir padam. Kali ini, ia merasa lelah.
Lelah karena hidupnya bergantung pada api harapan orang lain. Lelah karena dirinya harus seringkali mengambil api harapan orang lain. Namun, ia juga tidak ingat bahwa ia harus berharap. Kalaupun ingat, ia tidak tahu caranya, karena selama ini dirinya bergantung pada orang lain.

Sang pengemis yang serakah ini pun sudah mulai kehilangan akalnya. Ia mengambil api harapan setiap orang yang dilewatinya. Entah itu anak kecil sampai kakek – kakek. Dari satu orang hingga berpuluh – puluh orang. Kemudian, ia melarikan diri ke dalam hutan.

Pengemis itu memasukkan berpuluh – puluh api harapan yang baru ke dalam dadanya, dengan harapan dapat memperpanjang hidupnya sampai selama – lamanya.
Awalnya, panas dari api – api terasa biasa saja. Panasnya merambat ke seluruh tubuhnya, memberikan perasaan hangat yang nyaman. Memberikannya semangat untuk hidup. Namun, yang terjadi selanjutnya sangatlah mengerikan.

Hangat berubah menjadi panas. Panas itu membakar tubuh sang pengemis, melumpuhkan saraf dan inderanya. Membakar tulang, daging, dan kulitnya. Semakin lama api semakin besar, melahap sang pengemis yang serakah.

Berpuluh – puluh api harapan di dalam satu orang berakibat kematian. Tubuh si pengemis tidak dapat menampung harapan sebanyak itu tanpa melihat sedikitnya salah satu dari harapan tersebut terkabul.

Pengemis itu menjerit, meronta, dan berusaha membebaskan diri. Ia berlari, tetapi api itu terus mengikutinya. Pengemis itu hangus terbakar api harapan yang bukan miliknya.

Pada akhirnya, pengemis itu meninggal karena api harapan yang dicurinya.

Dan kali ini, api harapan itu bertahan sampai selama – lamanya.

***


message 13: by Fachrul (last edited Jan 07, 2014 07:34PM) (new)

Fachrul R.U.N. (GeorgeDFarmer) | 233 comments Burn

Dengan bersemangat Faris menumpahkan bensin ke tubuh tangkapan terbarunya: seorang gadis kurus berambut panjang bergelombang, berkacamata bundar. Sosok itu tidak bisa dibilang cantik. Malah, jerawat yang menumbuhi wajah gadis itu membuatnya terlihat memuakkan di mata Faris. Tapi, mengingat saat ini ia sedang gencar diburu oleh kepolisian ibu kota, Faris tak bisa lagi sembarang memilih korban. Setidaknya gadis itu masih terlihat feminin, muda, dan tidak kegemukan. Untuk sekarang, itu saja cukup.

Bibir Faris melengkung membentuk seringai lebar. Ia sudah tidak sabar ingin segera menyulut gadis itu dan menikmati pertunjukan api yang akan tercipta kemudian. Bahkan organ kejantanannya pun ikut menegang, membuat celana dalamnya terasa terlalu sempit.

Pria “sakit” ini menikmati saat sosok-sosok cantik yang angkuh dan menyebalkan itu memohon ampun kepada dirinya, yang biasanya hanya akan mereka tertawakan karena "jelek," "nggak gaul," dan "miskin." Kenikmatannya akan meningkat drastis saat ia menyadarkan para korbannya kalau ia tak akan melepaskan mereka. Kemudian, ketika fisik mereka yang menawan itu digerogoti panas membara, Faris bisa mengalami orgasme tanpa perlu menyentuh batang kejantanannya sama sekali. Ia selalu merasa takjub melihat bagaimana sosok yang awalnya begitu indah bisa diubahnya menjadi seonggok tulang hitam dengan tangannya sendiri.

Tapi ada satu masalah dengan korban terbaru Faris ini: dia tak kunjung menjerit. Bahkan, sejak ditangkap tadi sore, mulut gadis itu terkatup rapat, tak menyuarakan apapun. Meski besin sudah menyelimuti tubuhnya, raut wajah sosok jerawatan itu tetap datar, tak menunjukkan rasa takut yang begitu Faris dambakan. Gairah Faris jadi berkurang karenanya.

“Kalau kau memohon ampun, aku akan melepaskanmu,” kata Faris, berharap ucapan itu bisa memancing reaksi. Ia sempat berpikir untuk meminta gadis itu bersujud sekalian, tapi, mengingat gadis itu kini terikat kuat di pasak kayu, ia rasa itu tidak mungkin.

Tetap tak ada reaksi. Faris geram. Ia benar-benar salah pilih target kali ini.

Setidak-tidaknya, ia pasti masih bisa menikmati jeritan kematian gadis pendiam itu. Mustahil gadis itu akan terus membisu sementara panas menyelimuti tubuhnya.

“Ooh, sok tegar ya?” Faris mundur sambil menuangkan sisa bensin di jirigen, membentuk jejak mudah terbakar yang bisa disulutnya. Dengan begitu, kemungkinannya terkena jilatan api akan berkurang. “Sampai jumpa deh. Aku sudah ngasih kamu kesempatan hidup. Salahin dirimu, yang sudah menyia-nyiakannya.”

Jejak bensin selesai dibuat, Faris mengangkat wajahnya, melihat korbannya untuk terakhir kali sambil berharap ia bisa mendapatkan reaksi yang ia inginkan. Namun ternyata tidak. Tetap saja gadis itu bungkam. Matanya yang lebar menatap Faris tanpa sedikit pun rasa takut, memberi kesan ia tak peduli akan apapun yang menimpanya.

Bukan hanya itu. Setelah mengamati gadis itu beberapa saat, Faris menangkap kesan lain: gadis itu meremehkannya, menantangnya untuk menyakitinya habis-habisan karena ini hanya membuatnya bosan. Kesan itu membangkitkan kenangan-kenangan tidak enak, di mana emosi Faris dibuat membara oleh ucapan sekumpulan gadis berbahasa sok gaul di sebuah mall. Ia ingin mendekati dan merengkuh salah satu dari mereka, namun mereka terasa seperti makhluk dari dunia lain, yang tak dapat disentuhnya.

Kalau memang itu maumu, boleh deh!

Tanpa keraguan, Faris mengeluarkan pemantik dari saku dalam jaketnya dan menyulut jejak bensin. Api merambat cepat, menyentuh gadis berkacamata itu dalam sekejap. Kulit gadis itu mulai memerah dan melepuh. Tekstur rok dan kemeja ungu yang ia kenakan mulai menghitam seiring terbakarnya mereka, menyakiti bagian tubuhnya yang terbungkus oleh atribut itu. Tak lama, lensa bundar kacamata gadis itu pun retak, dan kemudian pecah dengan suara berisik. Asap hitam merebak, memaksa Faris untuk mundur sedikit agar tidak tercekik olehnya.

Faris menunggu dan menunggu, namun gadis itu tetap tak memberinya kenikmatan yang ia harapkan. Bahkan di dalam kobaran seperti itu, korbannya lebih memilih untuk diam seribu bahasa. Faris mendecak. Apa pita suara gadis itu sudah rusak? Atau jangan-jangan klorofom yang ia gunakan untuk menculiknya kelebihan dosis, hingga sebenarnya gadis itu mengalami masalah otak? Kalau sudah begini, ia harus menculik dua gadis sekaligus untuk dapat mengobati kekecewaannya.

Tambang yang mengikat tubuh gadis itu sudah terlepas karena nyala api. Namun tubuh hangus sosok itu tidak terjatuh, seperti seharusnya. Ia tetap berdiri tegak, dengan wajah lurus terarah ke Faris.

Lalu, dia melangkah.

“HAH?!” Faris terkejut bukan main. Walau ia harus agak memicing, ia dapat melihat kulit gadis itu sudah mulai mengelupas dan menghitam. Tidak mungkin ada manusia yang bisa melangkah setenang itu dalam kondisi demikian, terutama karena seharusnya asap yang menyelimuti tubuhnya sudah terlebih dahulu membuatnya terhuyung dan pingsan.

Tapi, bagaimana kalau ternyata gadis itu bukan benar-benar manusia?

Satu tentakel menyeruak, menembus sisi kepala gadis itu. Panjangnya kira-kira sekitar dua lengan pria dewasa, dengan warna keunguan. Tak seharusnya tubuh manusia menyimpan organ seperti itu.

Satu tentakel serupa menembus dada gadis itu. Disusul kemudian dengan satu tentakel lagi, yang merusak daging di punggungnya dan mulai menggeliat santai.

“A... apa...” Faris mengeluarkan satu lagi obyek yang ia sembunyikan di balik jaket kulit hitamnya: pisau lipat. Tapi, bahkan ia sendiri pun sadar benda seperti itu mungkin tidak berguna untuk menghadapi makhluk di hadapannya.

Sisa kulit dan daging gadis itu meleleh, memperlihatkan apa yang tersembunyi di baliknya. Faris tidak yakin apa sebenarnya yang ia hadapi sekarang. Benaknya hanya dapat menerjemahkan wujud sosok itu sebagai kumpulan cacing, ular, atau tentakel yang saling bertumpuk-tumpuk, mencoba membentuk siluet manusia. Bebas dari kekangan wujud manusia, beberapa tentakel itu mulai bangkit dan bergerak-gerak santai, hendak meraih Faris.

Yakin kalau ia memang tak akan bisa melawan makhluk seperti itu, Faris memaksa kakinya yang gemetaran untuk mengambil langkah seribu. Baru sempat mengambil lima langkah, ujung dari tentakel-tentakel gadis di belakangnya berubah menjadi bibir manusia. Kesemuanya mengucapkan satu kata, dalam bahasa yang sudah lama terlupakan.

Seketika itu juga Faris berhenti. Ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Insting bertahan hidupnya masih berpacu, memaksanya untuk cepat menjauh. Namun seluruh ototnya menolak untuk bergerak. Air matanya mulai berlinang, menyadari kalau maut pasti sudah sangat dekat dengannya. Merasakan api yang ia ciptakan sendiri mulai menghangatkan punggungnya, selangkangan celana kainnya mulai dikotori noda hitam.

“Ya Allah...” Faris mulai menyebut nama Tuhan yang ia puja, mengharapkan pertolongan dari-Nya. Putus asa, ia mencoba melafal ayat kursi, yang telah ia lupakan bunyi lengkapnya sejak lama sekali.

Seribu bibir berbicara, “Tuhanmu... tidak bersamamu... sekarang.”

“Diam setan...” sekujur tubuh Faris gemetaran keras. Kehangatan api semakin mendekatinya.

“Bukan. Aku adalah pahlawan.” Makhluk mengerikan itu berhenti melangkah. “Dan kau adalah... penjahat.”

Faris tertawa getir. “J-jadi... kamu salah satu dari mereka itu? A-apa namanya... s-s-superhero? K-kalau begitu... kau akan... kau akan menangkapku kan? Y-y-ya, tangkap aku. A-aku... ini sakit. Hukuman yang paling tepat untukku adalah... rumah sakit jiwa. Ya.”

“Tidak,” seribu mulut menjawab tegas. Ia lalu mengucapkan dua kata.

Seketika itu juga, Faris berbalik. Langkahnya justru membawanya mendekati sosok membara di hadapannya. Kewarasannya menjerit, melihat wujud makhluk itu yang kini terlihat seperti tumpukan rahang yang ditahan oleh tentakel kehitaman.

“A-ampuni saya!” teriak Faris parau. Kegugupannya membuat kata-katanya kemudian bertubrukan, “Berisayakesempatanuntuk-“

“Apa kau... memberi korbanmu kesempatan untuk hidup?”

Tidak. Tak satu pun. Mereka yang sudah dijeratnya tidak akan ia biarkan lolos, hingga ia bisa memperoleh kenikmatan.

Karenanya, Faris tahu ia sudah celaka. Ia coba berteriak, memanggil siapa pun yang mungkin berada di dekat area sepi ini. Kalau makhluk seperti ini saja ada, siapa tahu ada superhero yang mendengar panggilannya dan menyelamatkannya. Ia tak peduli kalau superhero itu kemudian membawanya ke kepolisian. Hukum Indonesia kalah seram dibanding makhluk ini.

Seribu mulut mengucapkan satu kata. Bibir Faris terkunci sebelum ia sempat berteriak lagi.

“Sekarang...” seribu tentakel menyeruak, memeluk Faris dan menariknya ke dalam api. Bibir Faris tetap terkunci, meski bara neraka mulai menyelimuti sekujur tubuhnya. Dua belas suara korbannya memasuki telinganya bersamaan, memekakan gendang telinganya tanpa membuatnya merasakan kenikmatan apapun.

Satu bibir bergerak tepat ke depan wajah Faris untuk mengucapkan kata terakhir, “Hukuman.”


message 14: by Shelly (last edited Jan 10, 2014 05:32AM) (new)

Shelly (shelly_fw) | 133 comments CERITA SANG AYAH

“Ayah, akankah kita melihat matahari terbit lagi?”

“Tentu. Ayah janji kali ini kita bisa melihatnya lebih lama,”


---------------------------------

“Nah. Sekarang bukalah kedua matamu.” ucap sang ayah pada anaknya.

Sedetik kemudian terdengar helaan nafas; keheningan yang sarat akan kekaguman, lebih tepatnya. Tak lebih dari itu.

Di hadapan mereka, langit tampak jelita. Fenomena khas ufuk timur terlukis disana. Lengkap dengan bias warna lembayung jingga sang mentari. Seakan langit menunjukkan keelokannya.

“Cantik sekali,” ucap si bungsu penuh kagum.

“Ya. Dan ayah tidak keberatan bila kau ingin mengamati sedikit lebih lama,”

“Benarkah?”

“Tentu. Apapun untuk hari ulang tahunmu, Nak.”

“Asyiiiiiiiik,” kedua kaki mungil si bungsu memantul-mantul ringan di atas dahan yang ia pijak.

“Hahaha..tapi kau harus ingat, kita harus segera kembali menuju sarang,”

“Baik, ayah.”

Menit-menit berlalu. Pagi menjelang. Cahaya kemerahan berganti menjadi kekuningan; ini berarti mereka harus segera pergi ke sarang dan menunggu hingga matahari tenggelam seperti biasa.

Perjalanan mereka menuju sarang tidaklah terlalu jauh. Di atas warna-warni tanaman berbunga yang dikelilingi rerumputan liar dan pepohonan yang rimbun, mereka terbang melewati beberapa hewan lain seperti serangga, burung-burung, dan bahkan hewan-hewan ternak seperti ayam dan sapi. Sesekali si bungsu juga memerhatikan beberapa manusia dari kejauhan yang mengawali hari mereka.

Si bungsu menelan ludah. Ada sesuatu yang janggal yang perlu ia bicarakan dengan ayahnya namun ia memilih untuk melanjutkan mengepakkan sayap, kembali ke tempat gelap bersama yang lain.

Sesampainya mereka di sarang, setelah mendarat di tempat yang manusia kenal dengan sebutan langit-langit gua, si bungsu berkata, “Ayah, aku ingin nanti ayah bercerita lagi.”

Sang ayah tertawa ringan. “Hari belum akan berganti setelah kita bangun nanti. Tentu. Cerita apa yang ingin kau dengar, Nak?”

Si bungsu berpikir sejenak. Ia tampak tidak yakin ingin memberi jawaban apa.

“Cerita tentang serangga tersesat! Oh, tunggu. Cerita tentang manusia pemburu ular berbisa kalau tidak salah kemarin belum selesai, kan yah?” timpal kelelawar lain.

Si bungsu berkata dengan kesal. “Kemarin kau tidur lebih cepat, Kak. Lagipula hari ini hari ulang tahunku jadi aku bebas ingin diceritakan tentang apa saja.”

“Baiklah.” Si sulung mengalah. “Tapi aku boleh ikut mendengar ceritanya juga, kan?” godanya.

Sang ayah hanya menatap si bungsu seolah memberi kesempatan baginya untuk menjawab.

“Tentu saja. Aku hanya ingin mendengar cerita tentang kelelawar malang.”

“Kelelawar malang?” tanya si sulung heran. “Cerita tentang kelelawar yang menyelinap keluar di siang bolong sehingga akhirnya sayapnya terbakar itu? Itu kan cerita kuno!”

“Aku tahu. Hanya saja kali ini ceritanya dihubungkan dengan...cerita serangga yang tersesat! Bagaimana, yah? Bisa kan?”

Sang ayah tertawa pelan. “Tentu. Mau sekalian dihubungkan dengan kisah tanaman teratai?”

“Wah, boleh, boleeeeh!” seru si bungsu riang yang kemudian disusul dengan suara protes dan gerutu dari beberapa kelelawar lain yang terganggu tidurnya. Ia lantas meminta maaf.

Si sulung kemudian berbisik, “Ugh. Lebih baik aku memangsa serangga di tepi danau bersama ibu saja nanti malam,” kemudian ia berlalu dan bergelantung persis di samping ibunya yang sudah tampak tertidur.

“Ayah?” bisik si bungsu tak lama kemudian, setelah ia dan sang ayah bergelantung berdampingan. Dari langit-langit samar-samar terlihat cahaya buram memasuki dasar gua.

“Ya?” balas ayahnya berbisik.

“Sebenarnya aku ingin...”

“Katakan saja pada Ayah, Nak. Pertanyaan, keinginan, apapun itu.”

Si bungsu merasa sedikit lega sekarang. Ia pun berbisik. “Ayah, adakah kisah yang menjelaskan alasan kelelelawar tidak bisa keluar pada siang hari? Atau semacam...asal-usul yang menjadikan kita makhluk malam?” bisiknya.

Si bungsu berdusta di hadapan si sulung, ia mengerti. Mengajukan pertanyaan sekaligus keinginan, tentu tidaklah masalah. Ia bahkan mengakui bahwa si bungsu lebih cerdas dibanding si sulung meski di sisi lain kelebihan si sulung yaitu lebih gesit dan peka dibanding si bungsu. Namun ia tak pernah dibuat sekaget ini. Ia bahkan langsung membuka kedua matanya lebar-lebar begitu mendengar pernyataan anaknya.

Tapi justru sifat inilah yang sang ayah kagumi dari makhluk jantan satu ini. “Tentu saja ada, Nak.”

“Benarkah? Apa judul ceritanya, yah?” tanya si bungsu, tak lupa merendahkan suaranya.

“Kelelawar dan matahari” jawab sang ayah.

***

Dari luar, gua tampak seperti biasa. Dinaungi langit berhiaskan bintang-bintang dan dilatari suara berbagai satwa, kemeriahan kecil yang berasal dari dalam gua kali ini juga seakan turut membenamkan kesunyian malam.

Ada semacam perayaan kecil di dalam gua itu. Adalah perayaan ulang tahun si bungsu yang keempat, yang tak lain yaitu berbagi kebahagiaan dan macam-macam serangga tentunya. Serangga yang paling kecil hingga yang berukuran cukup besar pun siap untuk dilahap. Keluarga si bungsu hanyalah sebagian kecil yang turut dalam pesta. Bisa dibilang hampir seluruh penghuni gua itu memakan serangga sepuas mereka. Pesta tersebut berlangsung cukup lama.

Si bungsu baru saja menghabiskan potongan buah mangga ketika ia menyadari bahwa ayahnya sudah tak ada di sampingnya. Dicari-carinya sosok ayahnya hingga akhirnya seekor kelelawar memberitahunya.

“Ayahmu menunggumu di luar gua, Nak. Sebaiknya kau segera ke sana.”

“Terima kasih, Ibu.” Kemudian si bungsu membentangkan sayapnya dan segera menemui ayahnya.

Sesampainya di luar gua, ia langsung berseru “Ayah! Tadi Pak Tua memberiku potongan buah mangga yang baru matang! Rasanya lezat sekali! Sayang sekali ayah tak mencicipinya.”

Sang ayah balas berseru. “Tidak apa-apa. Itu bagus! Kau lebih kenyang dari yang ayah harapkan! Hahaha...” diusap-usapnya ubun-ubun si bungsu dengan moncongnya.

“Bagaimana? Kau sudah siap mendengarkan ceritanya?”

“Siap!”

Gua lain, gua tanpa penghuni yang ukurannya empat kali lebih kecil dibanding gua tempat mereka beristirahat menjadi tempat yang cukup nyaman untuk berbagi cerita. Letaknya memang agak jauh dari rumah mereka namun tidak ada yang protes. Si bungsu malah senang diajak berkelana jauh. Terutama ayahnya. Ia tentu akan melakukan apa saja untuknya.

“Ayah, akankah kita melihat matahari terbit lagi?”

“Tentu. Ayah janji kali ini kita bisa melihatnya lebih lama,”

“Benarkah?”

“Ya.” Jawabnya sembari mengusap-usap kaki depannya pada dinding batu di hadapannya, menyibak sesuatu di baliknya. “Cepatlah cari posisi yang paling nyaman.” lanjutnya.

Si bungsu membenarkan posisinya; menyandar pada dinding batu di belakangnya. “Sud—”

Si bungsu terpana akan sesuatu di hadapannya. Sebuah pola. Gambar. Tentu saja mengenai kelelawar. Begitu lengkap dan berangkai sepanjang dinding tembok di hadapannya. Disisirnya pemandangan gambar-gambar itu. Ia pun menggumam takjub.


“Gambaran ini memang sudah tua, Nak. Hahahaha. Jangan khawatir. Ayah akan menjelaskannya sedetail mungkin. Baiklah. Mari kita mulai.”

Si bungsu memperhatikan.

“Kau lihat gambar apa ini?” kaki depan sang ayah menunjuk pada gambar yang ada di hadapannya.

Si bungsu memiringkan kepala sejenak. “Kelelawar...besar?”

“Ya. Nenek moyang kita.”

Sang ayah pun memulai bercerita.

Pertama-tama, ia menjelaskan mengenai nenek moyang mereka. Bertubuh besar, bersayap kuat, dan cengkraman yang kuat pula. Sang ayah menjelaskan bahwa tubuh nenek moyang itu dahulu kala bahkan empat kali lipat dari tubuh manusia yang biasa mereka lihat sekarang. Kuat. Tak tertandingi.

Makanannya pun sangat beragam. Mereka menjadikan sari tanaman sebagai makanan pembuka. Lalu darah dan daging hewan seperti burung menjadi santapan utama, dan buah-buahan sebagai makanan penutup.

“Serakus itukah?” tanya si bungsu.

“Tepat sekali. Dan sombong! Mereka adalah predator dari semua predator. Bukan hanya burung, mereka juga memakan daging gajah, sapi, kerbau, jerapah, pokoknya banyak.”

Si bungsu bergidik mendengarnya. “Sombong?”

“Mereka jelas memakan lebih dari yang seharusnya mereka makan. Dan ya, mereka sombong. Kebanyakan predator lain memiliki dua pilihan: menyingkir atau lawan. Dan kebanyakan dari mereka memilih untuk menghindar.” Sang ayah mengangkat bahu.

“Tapi mereka tidak memakan daging manusia?”

“Nak, nenek moyang kita itu sudah ada jauh sebelum manusia hidup di dunia ini.”

Si bungsu mengangguk. “Aku jadi teringat pada cerita ayah mengenai manusia dan pohon kaktus.”

“Benar sekali. Itulah salah satu cerita mengenai asal-usul manusia. Nah, kita kembali pada nenek moyang kita...”

Selanjutnya ia menjelaskan mengenai betapa dibencinya nenek moyang mereka oleh predator-predator lain. Burung-burung predator sekalipun bahkan menyerah untuk menyerang pada akhirnya.

Kemudian sang ayah menelan ludah. “Hingga akhirnya...”

Si bungsu hanya memiringkan kepala, menyimak gambaran selanjutnya yang ditunjuk ayahnya. “Matahari?”

“Ya. Awalnya nenek moyang kita kembali memangsa satwa-satwa di siang bolong. Mereka juga mengepung kawanan sapi! Seperti ini...” sang ayah kemudian membuka sayapnya, menyatukan kedua ujung sayapnya seakan mengepung sesuatu.

“Waaaah,”

“Seringnya mereka memangsa dengan cara seperti itu. Setidaknya, selama sekitar ribuan tahun mereka seperti itu. Kemudian, alam murka dan menghukum mereka. Suatu hari turunlah hujan lebat. Saaaaaaaangat lebat hingga sayap mereka tiba-tiba lemah dan mereka semua terkapar di tanah!

“Nah. Kau tahu apa yang selanjutnya terjadi? Panas. Terik. Matahari. Secara perlahan, memang. Awalnya memang tidak berbahaya namun tiba-tiba saja...seolah matahari menyengat seputaran bumi!” sang ayah melingkari nenek moyang-nenek moyang yang ia gambarkan.

“Apa yang terjadi pada mereka, yah? Mereka mati? Sayap mereka terbakar?”

“Tidak mati. Dan lebih dari sekadar terbakar! Lebih tepatnya terpanggang. Ya, mereka semua. Seluruh tubuh mereka. Begitulah kira-kira...” tuturnya.

“Lalu?”

“Lalu mereka berubah. Muncullah spesies seperti kita. Makhluk malam kecil pemangsa serangga dan buah-buahan. Bersayap tipis. Mudah dehidrasi.” kini sang ayah menunjuk pada gambar kelelawar di ujung gambar itu.

“Tapi gerakan kita cepat kan yah?”

“Ya. Kita cepat dan gesit.”

“Seperti kakak,” lanjutnya.

“Dan sangat peka, seperti ibumu.”

Sejenak gua kecil itu diwarnai oleh kesunyian. Begitu hampa, hingga si bungsu membuka mulut mungilnya.

“Ini adalah cerita terbaik dan terhebat yang pernah aku dengar, yah. Terima kasih banyak, Yah!” sanjung si bungsu. Dipeluknya sang ayah dengan erat.

Sang ayah tersenyum. “Kau beruntung bisa mendengar cerita ini, Nak. Kau berhak mengetahuinya. Sangat berhak.”

Belum sempat si bungsu menanyakan maksudnya, ayahnya berkata, “Jangan lupa bilang pada yang lain bahwa ayah hanya menceritakan kisah kelelawar malang dan serangga tersesat, oke?”

“Oke!” jawab si bungsu riang.

***

Fajar berikutnya telah tiba. Gua lebar yang berada tidak jauh dengan pemukiman warga desa itu kini tampak sunyi dan damai.

“Selamat tidur,” ujar sang ayah.

“Selamat tidur,” balas si bungsu, si sulung, dan sang induk.

Tidak ada satu pun dari mereka yang merasa tidak bahagia. Terutama sang ayah. Ia lega akhirnya bisa menepati janjinya untuk menemani si bungsu menyaksikan fenomena matahari terbit. Bukan hanya dengan si bungsu, tapi juga dengan si sulung dan sang induk. Tidak pernah ia merasa sedamai ini.

Tapi entah kenapa sang ayah merasa sulit untuk jatuh tertidur. Merasa ada yang tidak beres, kedua matanya mendapati seekor kelelawar, begitu kentara mengawasi keluarganya dari mulut gua.


message 15: by Shelly (last edited Jan 10, 2014 05:30AM) (new)

Shelly (shelly_fw) | 133 comments Sang ayah menelan ludah, memastikan seluruh keluarganya telah lelap dibalik katup sayap mereka, lalu kemudian menghampiri kelelawar itu diam-diam.

“Kurasa aku belum berterima kasih atas potongan buah mangga yang kau berikan pada anakku.” ucap sang ayah begitu mereka mendarat di atas salah satu dahan pohon. "Ia sangat menikmatinya."

“Baguslah. Kau tahu, di sekitar sini ada beberapa buah mangga yang baru matang. Kau mau?"

Sang ayah menolak dengan halus.

"Kau yakin? Percayalah, itu akan menjadi santapan lezat terakhir untukmu. Bukankah begitu, Baron?"

Kelelawar yang bernama Baron itu menelan ludah. "Ma-maksudmu?"

Pak Tua melanjutkan dengan sinis. "Omong-omong, seandainya bisa," ia menekankan kata 'seandainya'. "Aku akan dengan senang hati menceritakan kisah yang berjudul ‘anak beruntung dan kisah terhebat dari ayahnya!’ pada cucu-cucuku.” Ia mondar-mandir dengan tenang di hadapan Baron.

Sang ayah bergeming. Nyaris kehilangan keseimbangannya. Sekujur tubuhnya lemas. Ia tak menyangka ada kelelawar lain yang mengetahui perbincangannya dengan anak bungsunya. Ia menarik nafas dalam-dalam. “Pak Tua, aku mohon...”

Sedetik kemudian moncong Sang Pak Tua berada tepat di hadapan sang ayah yang malang. Ia tampak menikmati ketakutan yang menguasai kelelawar di hadapannya—mata terbelalak, nafas terengah-engah, tubuh menggigil ketakutan.

“Beri...aku waktu. Kumohon.”

Pak Tua tertawa getir. “Kau lupa siapa aku? Berapa umurku? Jawab!” tanyanya, memamerkan taringnya seakan ia siap memangsa kapan saja.

“D-dua puluh enam,”

“Bagus,” ucap Pak Tua sinis. “Sudah berapa kelelawar yang mati di tanganku karena telah menceritakan kisah tentang nenek moyang? Jawab!”

“De-delapan belas,” jawab Baron lirih.

“Dan apa yang kuminta darimu sejak lima tahun lalu?”

“Menghapus…gambar-gambar nenek moyang d-di gua itu.”

“Lanjutkan!” desaknya.

“D-dan bukan malah...menceritakannya.” Kelelawar malang itu bahkan tak sanggup membuka kedua matanya. Sudah sekian lama ia tak melihat keganasan ini.

Pak Tua mendengus. Memperlihatkan keganasannya. Menikmati ketakutan yang dirasakan kelelawar di hadapannya. “Kau siap menjadi yang kesembilan belas?”

Kelelawar malang itu menundukkan kepalanya. “Aku mohon berjanjilah satu hal padaku.”

“Apa?”

“Jangan kau hukum anakku. Kau boleh lakukan apa saja padaku, tapi jangan hukum keluargaku. Kumohon…” pintanya. “Anak bungsuku…ia selalu menepati janjinya. Ia takkan bicara pada siapapun tentang hal ini. Dia—”

“Baiklah. Dan aku akan memastikan hal itu. Kawanaaaaaaaaaaaan!” Pak Tua memanggil kawanannya.

Baron hanya bisa pasrah ketika kedua kaki depannya dicengkeram dua kelelawar lain, membawanya ke suatu tempat. Melawan, sia-sia. Memohon, tak ada yang peduli lagi. Ia pun memejamkan kedua matanya...

Terjatuh. Lemas. Inikah yang dirasakan kedelapan belas kelelawar itu? Terperangkap di antara bebatuan tinggi yang kokoh, menatap langit melalui lubang-lubang? Baron bertanya-tanya. Langit di siang hari pun tak sanggup dilihatnya.

Dan inilah akhirnya. Akhir hidupnya. Satu per satu lubang di gua itu membiarkan sinar mentari masuk. Penghukumnya. Pencabut nyawanya, harapannya. Benda kuning raksasa yang dikagumi putra kesayangannya. Perlahan ia merasakan sengatan-sengatan itu.

“Apa yang terjadi pada mereka, Yah? Mereka mati? Sayap mereka terbakar?”

“Tidak mati. Dan lebih dari sekadar terbakar! Lebih tepatnya terpanggang.



Tidak mati. Itu benar. Terbakar. Seolah kau merindukan rasa panas. Tersengat. Seakan sesuatu menarikmu dengan paksa. Terpanggang. Solah kau memang pantas merasakannya.

Adakah yang lebih buruk dari itu semua?


message 16: by Magdalena, Momod Usil (new)

Magdalena Amanda (juunishi_master) | 2330 comments Mod
Kitty

Breiv tidak suka hawa dingin. Saudari kembarnya, Strou, juga.

Masalahnya, suara eongan anak kucing di luar itu benar-benar mengganggu, jadi kedua bocah berusia tujuh tahun itu keluar dari kamarnya, mencari-cari sumber suara di halaman rumah mereka. Udara malam terasa menggigit meskipun keduanya telah mengenakan jaket.

“Di mana sih anak kucingnya?” gerutu Breiv. “Di atas pohon? Harusnya kita bawa senter.”

“Sst.” Strou mendesis. “Jangan berisik. Ibu kan sudah bilang kita harusnya tidak boleh keluar malam-malam.”

Breiv ingat itu. Ibu mereka sudah memberi peringatan supaya keduanya tidak meninggalkan rumah—bahkan untuk pergi ke halaman—setelah matahari terbenam. Konon katanya, jin padang pasir suka menculik anak-anak di malam hari. Itu sebabnya Breiv dan Strou menyelinap keluar diam-diam tanpa membawa senter.

“Suaranya makin keras di sini,” kata Strou, mendekati salah satu pohon di halaman. Anak perempuan itu mendongak ke atas, memicingkan mata. “Tidak kelihatan.”

“Ambil kursi ke dalam?”

“Jangan.”

“Aku tidak mau disuruh memanjat pohon malam-malam begini,” protes Breiv. Memanjat pohon di malam hari, menurut Ibu mereka juga, akan bisa membuat jin yang menghuni pohon—jika mereka menghuni pohon yang dipanjat itu—marah dan menjatuhkan si pemanjat.

Strou menghela napas.

“Kayaknya memang di atas sana,” kata Breiv lagi, berusaha melihat apa yang ada di atas pohon. “Bagaimana?”

Saat Breiv berpaling kembali pada Strou, kembarannya itu telah mewujudkan suatu bentuk kotak semi-transparan dengan rusuk berwarna kekuningan lembut. Satu kotak lagi muncul di sebelah kotak pertama, lebih tinggi dari kotak pertama, membentuk dua anak tangga.

“Naik itu saja,” kata Strou.

Breiv melompat ke anak tangga pertama, lalu anak tangga kedua. Permukaan kotak berpendar singkat dan beriak di tempat Breiv memijakkan kakinya.

“Masih tidak kelihatan,” desis Breiv. “Tinggikan lagi dong.”

“Tidak bisa. Aku baru bisa membuat yang setinggi itu.”

Strou memiliki Bakat untuk membuat bidang-bidang semi-transparan yang berfungsi sebagai perisai—terhadap pukulan dan lemparan batu, Breiv tidak tahu apakah benda yang lebih keras bisa ditahan karena ia tidak berani mencobanya, tapi mungkin bisa. Selain sebagai perisai, Bakat Strou bisa dimanfaatkan untuk hal-hal kecil seperti membuat pijakan.

Breiv dan Strou diam mendengarkan sejenak. Suara eongan itu terdengar jelas. Breiv kembali berusaha melihat ke atas pohon, berjinjit dan menjulurkan leher sejauh yang ia bisa. Akhirnya anak lelaki itu berhasil melihat sosok si anak kucing di salah satu dahan.

“Masih kurang tinggi kalau mau membawanya turun,” lapor Breiv.

“Hmm …”

“Bagaimana sekarang?” desak Breiv. “Kalau kita tidak cepat masuk, kita akan ketahuan. Aku juga sudah kedingingan.”

“Potong dahannya,” ujar Strou.

“Hah?”

“Pakai Bakat-mu. Potong dahannya.”

Breiv tidak keberatan dengan ide itu. Itu ide yang bagus dan bisa dilakukan dengan cepat. Anak lelaki itu mulai membayangkan sebuah bentuk dalam benaknya … sesuatu yang tajam … pisau—bukan … gergaji—jangan …

Pedang.

Garis-garis cahaya kekuningan muncul di dekat Breiv, menjalar di udara, terhubung, dan akhirnya mewujud menjadi sebuah pedang semi-transparan saat Breiv menggenggamnya. Pedang itu jauh lebih besar serta lebih panjang dari pedang-pedang yang biasa disandang para tentara padang pasir, tapi Breiv mengangkat dan mengayunkannya dengan mudah.

“Jangan sampai kena kucingnya.” Strou memperingatkan.

Breiv menggerakkan pedangnya ke arah dahan, memotong dahan pohon tanpa kesulitan berarti, seringan menggores permukaan hamparan pasir. Anak lelaki itu melenyapkan pedangnya dan menangkap dahan yang jatuh beserta si anak kucing.

“Ayo masuk!” geram Breiv. Ia membuang potongan dahan ke tanah dan menyelipkan si anak kucing ke balik jaketnya.

Tanpa banyak bersuara, Breiv dan Strou bergegas masuk ke dalam rumah, kembali ke kamar mereka di lantai atas. Untung saja tidak ada yang memergoki mereka menyelinap melalui pintu dapur dan ruangan utama sedang kosong.

Saat Breiv mengeluarkan si anak kucing dari balik jaketnya, ia baru menyadari betapa mungilnya makhluk itu. Jika tidak ribut mengeong-ngeong, anak kucing itu terlihat sangat manis.

“Kita pelihara dia yuk,” usul Strou.

Strou langsung terlihat jatuh hati pada anak kucing itu—Breiv tahu dari tampang saudarinya itu. Anak perempuan kan memang suka yang imut-imut.

“Besok pagi kita bilang pada Ibu deh,” ujar Breiv.

Malam itu, si anak kucing merayap naik ke perut Breiv dan tidur di atasnya. Tubuh si anak kucing terasa hangat. Breiv yang awalnya keberatan perutnya dijadikan tempat tidur akhirnya mengalah dan membiarkan si anak kucing beristirahat di sana.

Rasanya hangat.

Dan cukup menyenangkan.


message 17: by Katherin (new)

Katherin (KatherinHS) | 111 comments SONGSTRESS

Derai tawa kembali terdengar, menggema dalam aula kuil yang diapit oleh deretan kolom-kolom raksasa dari batu marmer dengan ornamen ukiran pada kedua sisinya. Erangan hasrat dan dengusan kenikmatan terdengar sayup-sayup di antara alunan musik.

Namun terselip di antaranya terdengar pula nada-nada sumbang jeritan hati memohon ampun dan gemeretak rahang menahan sakit.

Elpis membuka matanya, menatap pemandangan di hadapannya dari dipan tempatnya berbaring. Kaumnya sedang berpesta, menikmati perjamuan yang disiapkan para manusia atas keberhasilan panen tahun ini. Dan seperti biasa, pesta Kaumnya merupakan pelampiasan hasrat duniawi mereka.

Anggur yang disediakan manusia dan Ambrosia yang dibawa oleh Kaumnya dituangkan tanpa henti pada piala-piala yang tak pernah kosong oleh para wanita yang melayani mereka. Berbagai macam hidangan terus dikeluarkan susul-menyusul oleh oleh para pria yang bertubuh kekar.

Semua manusia yang melayani Kaumnya hari ini adalah mereka yang dipilih dengan hati-hati. Hanya yang tercantik dan tertampan. Hanya yang istimewa dan menggugah selera.

Namun semuanya memiliki tatapan kosong, tatapan mereka yang bersembunyi jauh dalam sudut hati mereka sendiri sehingga tak perlu merasa. Karena semuanya berada di sini oleh keinginan mereka sendiri.

Mereka berada di sini karena Takdir memilih mereka.

Wanita yang duduk di sisi kiri Elpis menerima piala yang disodorkannya. Wanita di sisi kanannya memetik buah anggur dari nampan di pangkuannya lalu menyuapi Elpis dengan tangan gemetar. Wanita lain berlutut di kaki Elpis, menunduk, sibuk melayaninya dengan tubuh tegang.

Seharusnya Elpis merasakan kenikmatan.

Namun yang dirasakannya hanyalah kejenuhan.

Seluruh pelampiasan hasrat duniawi ini membuatnya jenuh.

Kaumnya sendiri membuat jenuh.

Desahan Elpis membuat tubuh ketiga wanita yang melayaninya menegang. Berbarengan, tatapan ketiganya melecut ke arah Elpis, penuh rasa takut dan ngeri.

Namun Elpis mengabaikan mereka. Perhatiannya teralihkan pada sosok gadis yang melangkah ke dalam kuil. Sebuah guci tanah liat penuh ukiran berada dalam pelukannya.
Pendeta yang mempersiapkan seluruh perayaan ini bagi Kaumnya, mengikuti dari belakang.

Gadis yang baru masuk memiliki rambut bergelombang berwarna hitam seperti bulu gagak, berkilat dalam cahaya obor yang menari-nari. Wajahnya yang masih belia berbentuk oval sempurna dengan sudut mata terangkat seperti kucing.

Tidak cuma Elpis, perhatian seluruh Kaumnya juga beralih. Beberapa bahkan tampak menjilat bibir dengan lapar. Tidak mengherankan, gadis itu memang sangat lezat. Dan Elpis menginginkannya untuk dirinya sendiri.

Elpis melambaikan tangannya, membuat para wanita yang melayaninya tergesa-gesa bangkit untuk menjauh. Dari sudut mata, dia melihat para wanita itu langsung ditarik ke dalam pelukan Kaumnya yang lain.

“Siapa yang kau bawa, Pendeta?” cetus Elpis.

Dalam sekejab suasana menjadi hening. Perhatian semua makhluk hidup dalam kuil tertuju pada Pendeta dan gadis yang dibawanya.

Elpis bangkit dari dipannya lalu melangkah mendekati mereka. Sang Pendeta langsung berlutut diikuti si gadis. Keduanya menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Pendeta.”

“Anesidora, sang pembawa hadiah, Tuanku. Dia membawakan hadiah untuk Anda sekalian,” jawab si Pendeta dengan suara bergetar. “Dia juga dapat memberikan Anda sekalian hiburan dengan suaranya. Hambamu sengaja mendatangkannya dari jauh, namun dia baru saja tiba.”

Elpis mengulurkan tangannya mencengkram dagu Anesidora lalu mengangkat wajahnya. Mata violet gelap balas menatapnya.

“Hadiah apa yang kau bawa?” Tatapan Elpis bergerak ke guci yang dibawa Anesidora sambil menarik kembali tangannya.

Anesidora menelengkan kepalanya lalu membuka penutup guci. Aroma yang harum menguar dari guci, menyebar ke setiap sudut ruangan terbawa angin semilir, menerbitkan air liur semua yang menghirupnya.

Elpis mengerutkan kening. “Apa itu?”

“Ini masakan khas tanah kelahiran hamba, Tuanku. Bukan untuk dimakan, namun untuk membangkitkan selera makan,” Anesidora melirik ke bawah pinggang Elpis, “…dan selera yang lain.”

Seketika itu pula Elpis merasakan tubuhnya bangkit. Dari suara-suara yang terdengar di sekelilingnya, bukan hanya dia yang merasakan hal yang sama. Perayaan gairah yang sempat terhenti kembali berlanjut, lebih keras dan buas dari sebelumnya.

“Sepertinya semua akan sibuk dengan urusan mereka masing-masing untuk beberapa saat.” Anesidora mengedarkan tatapannya berkeliling sebelum kembali ke bawah pinggang Elpis. “Dan tampaknya yang tersisa untuk melayani Anda saat ini… hanyalah hamba.”

Elpis menoleh ke Pendeta sambil meraih lengan Anesidora. “Biar aku yang mengurus dia.”

Pendeta menatap Anesidora sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan meninggalkan mereka. Elpis menarik Anesidora menuju dipannya. Anesidora mengikutinya dengan patuh walaupun matanya mengamati seisi kuil.

Elpis memerintahkan Anesidora duduk lalu melambai ke arah salah satu pria yang langsung menghampiri dengan piala berisi anggur. Anesidora meletakkan guci yang diambilnya lalu mengambil alih piala anggur yang dibawakan.

Untuk sejenak tatapan Elpis tertuju pada guci di lantai. Ukiran pada guci itu pernah dilihatnya. Aroma lemak dalam guci juga pernah diciumnya.

Kapan? Di mana?

Sementara itu Anesidora mereguk piala dalam anggur. Gerakan tenggorokannya saat menelan menarik perhatian Elpis. Leher Anesidora yang jenjang tampak putih, tampak begitu menggoda.

“Bagaimana rasa anggurnya?” tanya Elpis.

Anesidora menoleh. “Semanis dosa.”

“Biar kucicipi,” cetus Elpis.

Anesidora berkedip menatap Elpis sejenak sebelum bergerak menghampiri Elpis untuk menunduk. Bibirnya menyapu bibir Elpis. Sekali. Dua kali. Menggoda. Membujuk.

Elpis membuka bibirnya dan manisnya anggur yang sudah hangat oleh panasnya mulut Anesidora mengalir dari bibir Anesidora ke dalam rongga mulut Elpis. Saat anggurnya berhenti mengalir, lidah Elpis masih dengan rakus menyapu, mencecap, menghisap, seakan tidak rela kehilangan setetespun dari anggur dalam mulut Anesidora.

Sementara itu jemari Anesidora bergerak menyapu pundak Elpis, menelusuri lekuk-lekuk dada Elpis yang bidang, lalu terus turun. Membelai semakin ke bawah.

Elpis mengerang dalam mulut Anesidora.

Tiba-tiba tawa keras terdengar membuat Anesidora mengangkat wajahnya. Pesta terhenti untuk sesaat. Semua yang hadir menoleh, termasuk Elpis. Salah satu Kaumnya telah memaksa seorang manusia untuk meneguk Ambrosia. Manusia itu kini terbaring tak bernyawa.

Kaumnya tertawa terbahak-bahak sambil bergulingan sementara para manusia berjengit dengan raut ngeri. Tak lama kemudian beberapa manusia bergerak memindahkan tubuh yang sudah tidak lagi utuh.

Dan festival kebiadaban inipun kembali dimulai seakan tidak ada apapun yang terjadi.

Elpis mengernyitkan hidung. Hiburan yang menjijikkan.


message 18: by Katherin (new)

Katherin (KatherinHS) | 111 comments “Kaum Anda menyukai hiburan yang aneh.” Anesidora mengamati genangan darah di lantai. “Waktu itupun Kaum Anda tampak lebih menikmatinya sebagai hiburan daripada pembalasan atas penghinaan.”

Elpis menoleh kembali pada Anesidora. “Waktu itu?”

Anesidora menatap Elpis dengan wajah tanpa ekspresi. “Saat desa hamba dihancurkan dan seluruh penduduknya dibantai.”

“Ceritakan.” Elpis menyandarkan tubuhnya di dipan.

“Pada mulanya hanyalah sebuah lelucon antara para pemuda. Mereka menukar isi guci-guci persembahan yang dipersiapkan dengan tulang. Untuk menutupi tulang-tulang itu, mereka melapisinya dengan irisan lemak yang sudah dipanggang sampai harum.”

“Mereka berbuat bodoh.” Elpis tidak dapat menahan diri untuk menoleh pada guci di lantai.

“Mereka hanya bermaksud mengusili para wanita yang mempersiapkan persembahan itu,” Anesidora tersenyum sendu sekilas sebelum sinar matanya meredup. “Namun para Pendeta yang tidak memperhatikan isi guci yang mereka bawa, mempersembahkan guci-guci itu pada Kaum Anda.”

“Bisa kubayangkan Kaumku pasti sangat marah.” Elpis menghentikan ucapan Anesidora. “Biar kutebak. Keusilan itu dianggap penghinaan besar lalu Kaumku turun untuk memberikan pelajaran bagi desamu.”

Anesidora mengangkat bahu.

“Bagaimana kau bisa selamat.”

“Hamba baru saja pulang dari pergi bermain bersama kakak hamba saat Kaum Anda mulai membunuhi penduduk desa. Kakak menyembunyikan hamba di bawah tumpukan jerami dalam istal sebelum pergi untuk mencari Ayah dan Ibu. Itu saat terakhir hamba melihatnya dalam keadaan utuh.”

Elpis mengernyit. Dia sangat akrab dengan hasil kerja Kaumnya. Membunuh saja tidak cukup bagi mereka yang sangat menyukai hujan darah.

“Sepertinya istal tidaklah menarik bagi Kaum Anda, karena hanya satu dari Kaum Anda yang masuk ke istal dan langsung pergi setelah melihat sekilas isinya.”

Elpis meringis. “Berburu hewan tidak memberikan kenikmatan yang sama dengan berburu manusia. Kaumku menikmati emosi yang meluap keluar dari mangsanya saat perburuan. Dan hewan tidak memiliki emosi sekompleks manusia.”

Anesidora hanya tersenyum. “Itulah yang juga telah hamba simpulkan. Lebih tepatnya Kaum Anda mendapatkan kekuatan dari emosi. Karena itulah, emosi juga yang akan menjadi kehancuran Kaum Anda.”

Alis Elpis terangkat. “Maksudmu?”

Anesidora mengangkat satu jarinya ke depan bibirnya lalu memejamkan mata. Awalnya hanya terdengar senandung lembut Anesidora. Mengikuti suaranya, riuh rendah perayaan menghilang saat perhatian Kaumnya beralih pada Anesidora.

Pendeta tidak melebih-lebihkan, suara Anesidora memang indah, lebih manis dari madu, lebih menghanyutkan daripada air, merobek-robek seperti raungan hewan buas, dan menenangkan seperti desau angin, sarat dengan emosi.

Di tengah-tengah keheningan, dendangan Anesidora menggema ke setiap sudut kuil. Kesunyian dirobek-robeknya dengan nada-nada manis. Kemudian mata Anesidora terbuka, bola mata violet yang dipenuhi emosi memaku tatapan Elpis.

Bibir Anesidora masih bergerak, menandakan dia masih tetap bernyanyi namun Elpis tidak dapat mendengar apapun. Dia tidak mampu berpaling dari mata Anesidora, tenggelam, terseret menuju kedalaman emosi yang bergelora di dalamnya.

Kemudian Elpis tenggelam semakin dalam, sampai kegelapan menyelimutinya.

Elpis berkedip saat tiba-tiba kegelapan digantikan cahaya terang. Yang pertama disadarinya olehnya adalah suara nafas memburu Anesidora. Kemudian erangan dan jeritan lemah yang menggema di sekeliling aula.

Elpis mengedarkan pandangan. Anesidora berlutut di hadapannya sementara Kaumnya tergeletak bergelimpangan dengan wajah pucat pasi dan tubuh gemetar. Para wanita yang sebelumnya melayani hanya berdiri mengamati Kaumnya. Para pria bergegas meraih pisau-pisau pemotong daging dari antara piring-piring hidangan.

Kemudian gelombang rasa sakit menghantam Elpis, membuat lututnya melemas dan nafasnya terhenti. Dia terpuruk di lantai, menarik nafas yang rasanya tidak dapat mencapai paru-parunya. Tubuhnya kehilangan tenaga sampai Elpis hanya bisa berbaring dengan mata terpejam.

Dari luar kuil terdengar suara derap langkah kaki mendekat. Elpis membuka mata, menatap Pendeta dan para manusia yang memasuki kuil sambil membawa benda apapun yang dapat dijadikan senjata. Para manusia langsung memasang sikap waspada mengelilingi Kaumnya.

“Kau baik-baik saja?” Pendeta menghampiri Anesidora lalu membantunya bangkit.

Anesidora mengangguk sebelum tubuhnya kembali merosot. “Kau harus membereskan mereka sebelum kekuatan mereka kembali.”

Satu lambaian tangan memberikan perintah bagi para manusia. Elpis hanya dapat menatap dengan nanar sementara manusia mengangkat senjata mereka tinggi-tinggi dan mengayunkannya pada Kaumnya.

Erangan lemah berubah menjadi jerit kengerian dan teriakan meregang nyawa. Satu persatu Kaumnya dibantai seperti mereka membantai manusia. Seharusnya Elpis merasa gusar akan kekurangajaran manusia, namun anehnya dia tidak merasakan apapun. Tidak juga rasa sedih melihat tubuh Kaumnya berubah menjadi asap hitam.

Pendeta meraih salah satu tombak lalu melangkah mendekati Elpis. Tubuh Elpis menegang, bersiap untuk menerima kematian menyusul Kaumnya.

Namun sebelum Pendeta cukup dekat, Anesidora merangkak ke depan Elpis, melindungi Elpis dengan tubuhnya. “Kau sudah berjanji,” Anesidora bergumam pada Pendeta.

Pendeta mengamati Elpis sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan berbalik pada para manusia. Sekejab kemudian aula kuil menjadi kosong, menyisakan sisa-sisa hidangan yang berserakan dan genangan anggur bercampur Ambrosia yang tumpah di lantai.

Perlahan-lahan rasa sakit yang mendera Elpis menghilang. Beberapa lama kemudian, dia sudah dapat menarik tubuhnya untuk duduk. Namun Elpis sadar, kekuatannya masih lenyap.

Elpis menatap tangannya. “Apa yang telah terjadi?”

Anesidora duduk di sisi Elpis sambil menarik nafas panjang. “Emosi yang gelap memberikan Kaum Anda kekuatan.”

Elpis mengangguk “Karena itulah Kaumku selalu menyebarkan ketakutan dan kengerian ke segala penjuru. Menekan dan membuat manusia tenggelam dalam keputusasaan.”

“Sebaliknya emosi yang cerah menghisap kekuatan Kaum Anda.” Anesidora mengedarkan pandangan ke sekeliling kuil. “Hamba dianugerahi suara yang mampu menyalurkan emosi lebih baik dibandingkan orang lain. Lagu adalah sarana untuk mengungkapkan emosi yang paling kuat. Dengan nyanyian, hamba bisa menyalurkan seluruh emosi hamba.”

“Membuat kami tidak sama sekali tidak berdaya saat kalian membantai kami.”

Anesidora mengangguk.

“Apakah kau tahu apa yang telah kau lepaskan? Selama ini Kaumku menjadi perwujudan dari semua hal yang buruk. Dengan melepaskan mereka dari wujud fisik mereka, kau mencerai-beraikan seluruh hal yang buruk itu ke dunia.”

“Tapi dengan begini, setidaknya kaum manusia akan memiliki kebebasan. Apa yang terjadi setelahnya juga…” Anesidora menatap ke pintu kuil. “Adalah tanggung jawab kami sendiri.”

Elpis mengikuti arah tatapan Anesidora. Di luar para manusia tampak berpesta. Memuaskan diri dengan anggur dan makanan. Dengan… tubuh yang sesamanya.

Tatapan Elpis kembali terarah pada Anesidora. “Dengan masa lalumu yang begitu buruk, aku tidak percaya kau belum tenggelam dalam emosi-emosi yang gelap.”

Anesidora menoleh dan tersenyum.

“Kenapa kau tidak membiarkan Pendeta membunuhku?” tanya Elpis.

Mata violet gelap Anesidora menatap Elpis tanpa berkedip. “Karena malam itu Anda menatap hamba. Anda menatap hamba yang bersembunyi di balik jerami. Dan Anda berbalik seakan hamba tidak berada di situ.

Elpis mengerutkan kening. “Aku tidak ingat melihat anak kecil malam itu. Kau pasti hanya membayangkannya.”

Anesidora mengangkat bahu. “Hamba tidak peduli apakah itu hanya bayangan saja atau bukan. Bagi hamba, malam itu Anda memberikan Harapan. Harapan untuk bisa tetap hidup. Harapan yang membuat hamba tidak kehilangan segalanya ke dalam keputusasaan. Harapan yang saat ini juga dibutuhkan kaum manusia.”

***


message 19: by Redtailqueen (new)

Redtailqueen | 90 comments Pieter Merah


Anak itu bicara tak masuk akal, lagi. Terpaksa aku harus menghukumnya, lagi. Aku harus selalu menghukumnya. Anak bodoh itu tidak akan pernah mengerti kalau aku tidak menghajarnya. Saat ini pun isakanya masih bergaung dari kamarnya. Sungguh menyebalkan!

“Murni..” sahutku perlahan, namun gadis itu malah bergidik ketakutan. “Hey, sudahlah. Jangan menangis lagi.. Mana yang sakit? Tanganmu? Kakimu? Kasihan..” lanjutku memeluknya.

“A-aku tak sakit, Bun.. A-aku.. tidak menangis..” jawabnya berusaha menahan isak.

“Bagus.. Anak pintar.. Kau harus mengerti, bunda melakukan ini untuk kebaikanmu. Bunda tak mau kalau kau tumbuh besar jadi seorang pembohong..”

“Tapi aku tidak berbohong!”

Serentak tamparanku menyambut bantahanya. Anak ini sungguh berani melawanku! Terpaksa aku harus memukulnya lagi, berulang kali. Dia mengerang mohon ampun. Tapi aku tak berhenti sampai amarahku reda.

“Harus berapa kali kubilang, Pieter Merah itu tidak ada! Itu hanya khayalanmu, anak bodoh! Sinterklas, negeri salju, hantu, alien, mereka itu tak nyata! Kau harus berhenti menipu dirimu sendiri! Orang-orang akan menganggapmu aneh! Gila! Berhentilah berbohong, Murni!!”

“Maaf.. Maafkan aku, Bunda.. Ampuun.. A-aku.. tidak akan berbohong lagi.. Ampuunn..” ratapnya dibanjiri air mata.

Aku hanya bisa mendesah kesal. Sekali lagi aku memeluknya, membelai lembut rambutnya. “Baguslah.. Berjanjilah pada bunda, bahwa kau tidak akan bicara tentang teman khayalanmu itu lagi. Kau tau kan, bunda sangat menyayangimu.. Bunda hanya menginginkan yang terbaik untukmu, Murni. Berjanjilah..”

“A-aku.. Murni janji..”

---

Pagi ini udara terasa sangat dingin, seolah sekujur tubuhku membeku. Mungkin semalam turun hujan lebat saat aku terlelap. Namun kesadaranku terus memaksa ragaku bangkit dari tempat tidur. Aku harus segera menggoreng kue-kue itu dan membawanya ke pasar, ke sekolah, ke warung-warung. Sekarang harga BBM naik, harga sembako naik, bahkan harga gas juga ikut naik, apalagi dalam beberapa bulan aku harus mulai memikirkan tambahan biaya untuk Murni yang akan masuk sekolah. Kehidupanku terasa makin berat dan menyusahkan. Sungguh menyebalkan!

“Bunda! Bunda! Cepat lihat ini! Ayo!” Belum juga rasa kantukku hilang, gadis berisik itu sudah menarik-narik tanganku.

“Apa? Ada apa?”

“Lihat, Bunda! Di luar!” Setelah mengajakku berdiri, gadis kecil itu membuka jendela kamarku selebar mungkin.

Aku tercengang. Rasanya seperti mimpi. Langit tampak sangat kelam, pekat. Namun menambah keindahan butiran-butiran kristal itu. Kecil, rapuh, berkilau. Bertumpuk membentuk hamparan putih menyelimuti semua permukaan. Sensasi dingin menyegarkan membelai kulitku, berusaha merengut semua kehangatan di dalamnya.

Tidak. Tidak mungkin. Salju? Di negeri khatulistiwa? Aku pasti sedang bermimpi. Atau berhalusinasi. Atau.. ini memang nyata?

“Ternyata benar.. Negeri salju.. Seperti yang dia katakan..”

“Apa?” tanyaku menoleh pada gadis kecil itu.

Murni langsung menggeleng. “Bu-bukan apa-apa, Bunda. A-aku mandi dulu..” Dia bergegas keluar dari kamarku.

Aku tau apa maksud perkataanya tadi. Dia hanya takut mengatakanya di hadapanku karena janjinya semalam. Pasti dia mau bilang bahwa kejadian ini sesuai dengan pesan teman khayalanya. Makhluk tak nyata itu telah meracuni pikiran putriku dengan ramalan bahwa dunia akan segera berakhir. Bahwa segala bencana dan fenomena aneh akan menandai kedatangan mereka. Para Penuai. Katanya Pieter Merah akan datang menjemputku. Sungguh konyol.

Itulah sebabnya aku harus selalu menghukumnya. Kalau tidak dia akan selalu memikirkan hal-hal tak berguna. Lalu dia akan terus melawanku, menjadi semakin liar, semakin gila, seperti ayahnya. Aku tidak suka. Setiap anak harus selalu menuruti orang tuanya! Murni harus selalu mematuhi perintahku! Semua ini kulakukan karena aku menyayanginya.. Selalu mencintainya..

---

“Perhatian!! Perhatian!! Bagi semua warga!! Badai salju akan segera datang!! Kami ulangi, badai salju akan segera datang!! Harap tetap tinggal di rumah anda masing-masing..!!”

Sudah dua kali aku berpapasan dengan kendaraan yang mengumumkan bencana itu. Belum pernah aku melihat suasana kota yang seperti ini. Hampir tak ada manusia, tenang, sepi, dingin. Hujan serbuk es menutupi pandanganku. Setiap langkahku terbenam sampai lutut, maka aku bergegas menyusuri jalur yang dibuka oleh kendaraan tadi. Harusnya aku juga memakai jas hujan. Tujuh lapis pakaian tebal yang menyelimuti tubuhku telah basah kuyup. Seluruh tubuhku gemetar, gigiku bergemeletuk, rasa sakit menyengat tulang-tulangku.

Kue-kue daganganku telah membeku. Tak ada yang mau menjualnya, atau membelinya. Semuanya berlibur, semuanya takut. Hampir semua orang mengurung diri di rumah mereka, sambil berkumpul bersama keluarga mereka, mungkin sambil berpelukan agar tetap hangat. Aku juga ingin cepat pulang. Sepertinya otakku juga ikut membeku, aku kesulitan berpikir, kesulitan bernapas, susah menjaga keseimbanganku. Mungkin sebentar lagi kaki-kakiku akan retak, pecah. Kalau bisa aku ingin berhenti di sini saja. Duduk. Meringkuk. Tidur..

---

“Rudi?”

Aku tak percaya. Mengapa pria itu ada di sini? Bahkan dia tersenyum padaku. Senyuman yang sudah lama tak kulihat sejak..

“Bukankah kau sudah mati?” tanyaku keheranan.

“Apa maksudmu? Hey, jangan bangun dulu. Kau masih demam tinggi..” Pria itu menekan kain basah yang menutupi keningku.

“Apa yang terjadi? Barusan.. aku terkubur dalam salju?” tanyaku lagi sambil kembali membaringkan tubuhku di ranjang yang hangat.

“Salju apa? Semalam kau kehujanan, kau sampai di depan pintu dalam keadaan basah kuyup, lalu pingsan. Padahal aku sudah mengingatkanmu untuk membawa payung. Dasar keras kepala,” jawabnya tersenyum miris.

“Bagaimana dengan Murni? Di mana anak itu!?”

“Siapa?” tanya suamiku dengan wajah melongo.

“Murni!! Anak kita!!”

“Hey, tenang dulu! Aku sungguh tak mengerti apa yang kau bicarakan. Kita tak punya anak, apalagi yang bernama Murni. Mungkin kau hanya terbawa mimpimu saja?”

“A-apa? Mimpi?” sahutku tercengang. Tidak mungkin. Murni adalah mimpi? Badai salju itu hanya mimpi? Tapi.. rasanya begitu nyata.

“Benar, kau hanya bermimpi.. Istirahatlah.. Sebentar lagi kita sampai..”

Bunda!!

“Sampai..? Di mana..?” Sepertinya suhu tubuhku malah makin meningkat. Tenggorokanku terasa perih.

Bunda!!

Pria berpakaian serba merah itu hanya tersenyum menjawab pertanyaanku.

“Pieter Merah!! Jangan!! Jangan bawa Bunda-ku!!” jerit gadis itu merobek gendang telingaku.

“Diamlah, Murni! Bukankah kau sudah berjanji tidak akan berbohong lagi tentang makhluk tak nyata itu!?” teriakku memarahinya.

Anak bodoh itu! Berapa kali aku harus menghajarnya agar dia bisa mengerti!? Aku harus menghukumnya lagi! Tapi..

Tunggu! Aku baru menyadarinya. Aku tidak berada di kamarku, tidak berbaring di ranjangku, dan tidak dirawat oleh suamiku. Tempat ini.. neraka! Serpihan-serpihan salju merah melayang berpijar, berkumpul jadi kobaran menggelak di atas kepalaku. Sementara iblis berkulit merah, bertanduk merah, berpakaian serba merah, yang tadinya menjelma menjadi suamiku, tergelak riang. Dia menjeratku dengan rantai besi membara. Rasanya sungguh panas! Terlalu panas! Tubuhku terpanggang, kulitku meleleh, mencair serupa boneka lilin. Tolong! Tolong aku!!

“Bundaaa!! Tolong jangan bawa Bunda!! Pieter Merah, tolong lepaskan Bundaaa!!” pintanya sambil menangis.

“Sudah terlambat, Murni. Penuaian telah dimulai. Lihatlah, kami akan segera membersihkan dunia ini dari semua hama seperti ibumu. Lalu kau, dan makhluk-makhluk baik sepertimu bisa menempati dunia baru yang dijanjikan dan menjalani hidup damai,” seru setan merah itu di sela seringainya.

Di sekelilingku, aku bisa melihat jiwa-jiwa lain ditarik dengan paksa oleh setan-setan beraneka warna. Dengan cepat mereka menyeret kami menuju kobaran di langit.

“Tapi Bunda bukan hama!! Bunda juga makhluk baik!!” Murni berusaha membelaku.

“Makhluk baik mana yang tega menyiksa anaknya sendiri!?” Pieter Merah terbahak.

“Bunda tidak menyiksaku!! Bunda memukulku demi kebaikanku!! Bunda menyayangiku!! Aku juga selalu mencintai Bunda!! Jadi kumohon.. lepaskan Bundaaa!!” Hatiku tercabik mendengar tangisanya.

“Selamat tinggal, Murni. Selamat menempuh hidup baru..” setan merah itu melesat membawaku pada penyiksaan abadi.

Aku hanya bisa menangis mendengarnya menjerit memanggilku. Suaraku lenyap. Aku bahkan tak sempat mengucapkan maaf, atau selamat tinggal.

Putriku, di bawah sana. Meratap memanggilku. Aku menyesal. Aku sungguh menyesal karena tidak mempercayainya. Aku malah menyebutnya pembohong. Putriku.. terlalu baik.. terlalu bodoh.. Aku selalu menghukumnya, meskipun dia tak pernah berbuat salah.. Kupikir.. aku harus selalu menghajarnya.. membuatnya jadi kejam.. sepertiku.. agar dia bisa bertahan di dunia yang kejam.. Tapi aku yang salah.. Semua ini memang salahku.. Aku memang pantas menerima hukuman ini.. Mungkin memang ini yang terbaik.. Tanpaku, dia bisa menemukan kebahagiaanya..

Bunda selalu mencintaimu, Murni..


message 20: by Hasan (last edited Jan 12, 2014 01:38AM) (new)

Hasan Irsyad (ha_iy) | 190 comments Kisah April di Musim Dingin


1864
Paris, Prancis. Sebuah kota besar, salah satu yang terindah di Eropa. Tapi, tidak pernah ada kota besar yang tidak memiliki sisi lain. Kehidupan minoritas—seberapa minor pun itu—selalu ada. Kaum miskin yang terlunta-lunta. Tunawisma dengan kehidupan nista.

Gadis kurus menggigil di malam musim dingin yang membekukan. Januari tahun ini serasa menjadi puncak terdingin dari seluruh musim dingin yang pernah dilaluinya. Ini pertama kali dirinya melalui musim dingin sebagai gelandangan.

April selalu membenci musim dingin. Dia tidak kuat dingin. Dulu ketika masih memiliki orang tua dan rumah kecil yang hangat, dia lebih suka di rumah kalau musim dingin seperti ini. Duduk di ranjang dengan selimut tebal membaca buku. Bacaan kesukaannya adalah kisah tentang putri cantik dan pangeran tampan berkuda putih. Kalau tidak membaca, dia suka bercengkrama dengan mamanya yang cantik di depan perapian. Mamanya akan membelai rambutnya yang pirang. Lalu, mamanya akan menyanyikan lagu merdu hingga sepasang mata coklat April tertutup oteh kelopak mata yang terkatup, tertidur.

Dia tidak pernah suka bermain salju, apa lagi membuat boneka salju. Baginya, wajah bulat boneka salju lebih menakutkan daripada labu halloween. Dia tidak pernah tahu kenapa. Mungkin karena dia lahir di bulan April, musim semi hangat yang penuh dengan bunga-bunga. Atau mungkin, dia memang ditakdirkan bermusuhan dengan musim dingin. Papanya tewas tertabrak kereta api pada musim dingin 1858. Mamanya, meninggal karena radang paru-paru pada musim dingin dua tahun setelahnya.

Setelah kedua orang tuanya meninggal, dia sempat diasuh oleh keluarga bibinya, adik perempuan mamanya yang tidak kalah cantik dengan mamanya. Bibinya sangat baik dan sangat menyayangi April. Rasa sayangnya hampir sama dengan rasa sayang seorang mama. Apalagi, dia tidak punya anak perempuan. Ketiga anaknya semua laki-laki. Bersama Mrs. Doughner—begitu namanya—atau Bibi Lucy—begitu April memanggilnya—April merasa punya mama yang baru.

Jika Lucy Doughner sangat baik pada April, tidak demikian dengan Anthony Doughner, suami Lucy Doughner. Dia memang suami yang bertanggung jawab pada istri dan anak-anaknya. Mr. Doughner seorang pekerja keras. Tapi, dia orang yang kasar, dan dia membenci April. Dia sering marah-marah dengan keberadaan April di rumahnya. Baginya, April adalah beban ekonomi bagi keluarganya yang miskin. Mr. dan Mrs. Doughner sering bertengkar karena April. Dan akhirnya, seperti biasa, seorang istri harus mengalah pada suami. Mr. Doughner menjual April kepada keluarga kaya. Keluarga yang kemudian membawa pergi April dari desa kecilnya di Yorkshire, Inggris, jauh ke kota Paris, Prancis. Mrs. Doughner tidak bisa berbuat apa-apa.

April ingat. Saat itu juga musim dingin. Februari 1861. Dia mengawali kehidupan baru sabagai pembantu yang nista dikeluarga kaya. Majikannya bukan orang baik. Meski mereka kaya raya, tidak sepeser pun April pernah digaji. Hanya makan tiga kali sehari, pakaian compang camping, dan sebuah kamar kumuh di loteng rumah yang dia dapatkan.

Selama hampir tiga tahun April menjalani kehidupan bersama keluarga kaya itu. Tiga bulan yang lalu, dia kabur.

Jaketnya terlalu tipis untuk musim dingin. Apalagi, tubuh kurusnya mendapat terlalu sedikit asupan makanan beberapa hari ini. Dia hanya bisa meringkuk di salah satu sudut stasiun, di bawah gerbong kereta yang sedang berhenti.

Dia mengeluarkan sebuah bungkusan dari balik jaket tipisnya. Ada empat keping biskuit di dalamnya. Tadi pagi, seorang wanita baik hati memberikan itu padanya. Seorang wanita berambut hitam dengan mata hitam pula. Warna bola mata itu berbeda dengan coklat mata Mama ataupun Mrs. Doughner. Tapi, kehangatan yang ada di dalamnya mengingatkan April pada malikat-malaikat kasih sayang dalam hidupnya itu. Mendadak, dia rindu pada Mama dan Bibi Lucynya.

Tadinya biskuit itu ada delapan keping. Empat lainnya sudah dia makan siang tadi.

Dia mengambil sekeping biskuit, lalu mengunyahnya pelan-pelan. Dia tidak ingin makanannya cepat habis. Itu makanan terakhir yang dia punya. Dan dia tidak punya uang untuk membeli yang lainnya esok. Kalau bisa, dia ingin menyisakan barang satu atau dua keping untuk esok hari. Namun, apa daya. Pada akhirnya, perut laparnya memaksa tangannya untuk menghantar keempatnya larut di dalam kunyahan mulutnya.

Ketika biskuitnya sudah habis, dia kembali meringkukkan tubuhnya. Matanya menatap ke arah rel kereta api. Dia teringat Papa. Papanya mati di atas benda seperti itu. Dan tiba-tiba dia merasa, mungkin sebentar lagi dirinya akan menyusul papanya, juga mamanya. Tidak mungkin dirinya mampu bertahan lama dari dinginnya salju dan angin Januari.

Meski sama sekali tidak bisa tidur, April memejamkan matanya. Dia mencoba membayangkan dirnya kembali bersama Papa dan Mamanya di rumah kecilnya yang hangat. Sangat sulit melakukannya. Setiap kali dia hampir berhasil mendatangkan bayangan Papa dan Mama, angin dingin bertiup membuyarkan mimpi kecilnya. Tapi, dia berhasil. Bayangan Mama, Papa, buku bacaan kesukaannya, perapian hangat dirumahnya, hadir dalam bayangannya. Dia merasakan sebuah kehangatan kecil, sebelum akhirnya harus bubar kembali. Kali ini, sebuah suara ketukan pada roda gerbong kereta yang membangunkannya. April membuka mata dan dia menemukan sebuah wajah laki-laki yang mengintip keberadaannya di bawah gerbong kereta.

Laki-laki itu membuat gerakan jari yang meminta April keluar dari benteng kecilnya. April mengikuti keinginan laki-laki itu. Laki-laki itu membantunya. Lalu, mereka berdua berhadapan, masih dengan saling diam.

April mengamati wajah laki-laki itu. Tampan. Matanya biru dan berambut coklat panjang sampai ke punggung, bergelombang. Dia memakai setelan jas musim dingin rapi berwarna hitam. April memperkirakan dia pemuda dari keluarga kaya di kota Paris ini. Tapi, April yakin tidak pernah melihat wajah pemuda itu. Untuk apa dia memanggilnya dan memintanya keluar dari bawah gerbong kereta?

Pemuda itu masih diam, memaksa April lebih dulu buka mulut.

“Maaf, Tuan siapa? Ada perlu apa dengan saya?”

Mata biru pemuda itu menatap syahdu ke arah April. April tahu itu bermakna sesuatu, tapi saat itu dia belum berhasil menerjemahkannya. Lalu, dengan suara lembut pemuda itu menjawab, “Namaku Angelo.”

“Angelo?” entah kenapa April merasa perlu memastikan pendengarannya menangkap suara dengan benar. Mungkin karena dia merasa nama yang didengarnya agak aneh.

“Ya, Angelo. Aku seorang malaikat.”

Hampir saja April tertawa, kalau saja dia tidak menangkap keseriusan di dalam tatap mata Angelo. Dia merasa harus mempercayainya.

Sudah hampir sebulan ini Angelo memperhatikan gadis kurus yang sering berkeliaran di sekitar stasiun. Dia malaikat yang sangat menyukai salju dan musim dingin. Tiap kali musim dingin datang, dia akan turun ke bumi untuk berjalan-jalan. Tapi, musim dingin kali ini dia menemukan sesuatu yang lain. Gadis kurus itu, April, Angelo memperhatikannya. Gadis berambut pirang dengan mata coklat yang sebenarnya sangat cantik, hanya saja tersembunyi di balik pakaian kumal yang penuh kotoran dan sobekan.

Angelo benci mengapa harus ada gadis kurus yang membenci musim dingin. Dia sudah menelusurinya. Dan dia semakin tidak terima, mengapa ada seorang manusia yang harus mengalami sekian banyak tragedi setiap tahunnya di musim dingin. Apalagi, dia mendengar dari Azrael gadis itu harus mengalami satu tragedi lagi musim dingin tahun ini. Tiga hari lagi, takdir hidup April menuliskan dia harus mati kedinginan di tengah putih salju musim dingin.

“Malaikat? Kalau benar kau malaikat, untuk apa kau menemuiku? Apa sudah waktunya aku mati?”

Angelo tidak menjawab. Meski tidak ada suara keluar dari mulut Angelo, April tahu dugaannya benar. Lagi-lagi, sorot mata Angelo yang mengatakannya.

Entah mengapa April tidak merasa tertekan dengan itu. Dia tertawa kecil tertahan. “Hah. Musim dingin, lagi-lagi musim dingin. Tapi tidak apa-apa. Mungkin, bagiku memang lebih baik aku segera mati. Mungkin dengan begitu aku bisa bertemu lagi dengan Mama dan Papa.”

Sorot mata Angelo berubah, mengatakan sesuatu. Sebuah pernyataan iba.

“Silahkan, Tuan Malaikat! Ambil saja nyawaku sekarang! Aku sudah siap!”

April tersenyum. Senyuman yang semakin membuat Angelo merasakan hatinya miris teriris. Matanya menunjukkan itu.

“Kau memang akan mati, tapi masih belum sekarang,”ucap Angelo “Lagi pula, bukan aku yang bertugas menjemput nyawamu. Tanpa persetujuan Azrael, aku tidak bisa mencabut nyawamu.”

Mimik wajah April malah menunjukkan rasa kecewa.

“Lalu, untuk apa kau kemari?”

Kali ini Angelo segera menjawab, “Aku ingin membuatmu merasakan kehangatan di musim dingin kali ini, sebelum kau mati.”

“Kehangatan musim dingin?” sahut April sinis. “Mustahil!”

“Aku akan memberimu tiga permintaan. Kau bebas meminta apapun.”

“Aku tidak butuh tiga permintaan itu,” tolak April. “Aku hanya ingin segera bertemu Papa dan Mama.”

“Kau akan segera bisa bertemu Papa dan Mamamu setelah kau mati. Tapi tidak bisa sekarang.”

“Heh! Kalau begitu, aku tidak butuh meminta apa-apa darimu.”

April berpaling dari Angelo, lalu duduk bersandar pada gerbong kereta. Angelo masih berdiri di tempatnya, menunggu April. April sebisa mungkin berusaha tidak mengacuhkan keberadaan Angelo. Tapi, lagi-lagi mata itu, tatapannya, sorotannya, meluluhkan April.

“Baiklah, aku akan mengunakan satu permintaan,” ucap April kemudian. “Aku sangat lapar. Aku ingin makanan yang enak-enak.”

“Ada yang lain?” Angelo tampak senang menerima permintaan itu.

“Tidak ada, sementara hanya itu.”

Angelo berjongkok di depan April. Dengan sebuah gerakan membalik telapak tangan, muncul sebuah tikar kecil indah tergelar di tengah-tengah mereka. Lalu dengan menjentikkan jarinya, Angelo memunculkan beraneka ragam makanan enak di sana. Sangat banyak. Terlalu banyak untuk dihabisakan April seorang diri.

April terbelalak melihat keajaiban yang terjadi di depan matanya. Sejenak dia terbengong. Dia baru tergugah setelah Angelo mempersilahkannya makan. Awalnya dia menyentuhnya dengan ragu-ragu. Tapi begitu satu suapan sudah masuk ke mulut, dia makan dengan rakus. Parut laparnya berteriak minta diisi. Dan lagi, seumur hidup dia tidak pernah makan seenak ini.

Angelo hanya memperhatikan saja April makan. April pun seolah tersihir dengan kelezatan santapannya hingga lupa kalau di sana masih ada malaikat berwajah tampan itu. Dia makan dengan cara yang terlalu rakus. Begitu ingat di sana ada Angelo, dia jadi malu sendiri.

April mengajak Angelo ikut makan bersamanya. Awalnya dia menolak. Tapi kemudian April mendesak, “Anggap saja ini permintaan kedua. Sudah lama aku tidak makan bersama seseorang. Aku ingin ditemani makan.”

Akhirnya, Angelo pun mengalah, “Baiklah, aku tidak akan menghitung ini sebagai permintaan.”

Setelah selesai makan, Angelo menghilangkan kembali tikar dan piring-piring bekas makan. Dan dia menanyakan tentang permintaan kedua.

“Aku sangat rindu pada Papa, Mama, dan Bibi Lucy. Aku akan bisa bertemu dengan Papa dan Mama setelah mati. Apa bisa aku menemui Bibi Lucy sebelum aku mati?”

“Pegang tanganku, aku akan mengantarmu ke sana!”

April melakukan apa yang diminta Angelo. Lalu, Angelo memintanya memejamkan mata. April tidak tahu apa yang terjadi. Dia merasa tubuhnya melayang dan berputar-putar. Begitu dia membuka mata, dia sudah berada di sebuah ladang di tepi sungai. April sangat hapal ladang dan sungai itu. Itulah ladang di pinggir sungai Swale, dekat rumah bibinya di Yorkshire. Untuk mencapai rumah keluarga Doughner, dia hanya perlu mengikuti jalan setapak yang terlihat dari tempat dia berdiri saat ini.


message 21: by Hasan (last edited Jan 10, 2014 09:24PM) (new)

Hasan Irsyad (ha_iy) | 190 comments .
“Temui bibimu! Kalau sudah selesai, aku menunggumu di sini.”

April sangat terharu saking gembiranya. Berkali-kali dia mengucapkan terima kasih pada Angelo.

“Berapa waktu yang aku punya untuk menemui Bibi Lucy?” tanyanya kemudian.

“Sebelum pukul sepuluh malam tiga hari lagi, aku harus membawamu kembali ke Paris,” jawab Angelo.

Tiga hari. Itu waktu yang lebih lama dari perkiraan April. Sekali lagi dia mengucapkan terima kasih, lalu berlari pergi menuju rumah bibinya.

Malam sudah sangat larut. Ketika berjalan membuka pintu, suara keluhan keluar dari mulut Mrs. Doughner. Mengapa ada orang yang bertamu segini larutnya? Tapi, dia begitu bahagia hingga meneteskan air mata ketika melihat keponakan kesayangannya berdiri di depan pintu. Mereka berpelukan sekian lama, melepas kerinduan.

Di rumahnya, Mrs. Doughner hanya tinggal berdua dengan anak bungsunya yang masih bayi. Perempuan, yang dia beri nama April, sama dengan nama keponakannya yang dipisahkan darinya oleh Mr. Doughner. Mr. Doughner sedang mencari pekerjaan tambahan di London dengan mengajak ketiga putranya. Ladang di desa mereka tidak bisa ditanami selama musim dingin.

Selama tiga hari April berada di sana. Dia bersenang-senang. Dia membantu bibinya mengerjakan pekerjaan rumah, memasak bersama bibinya, dan yang paling menyenangkan adalah menggendong April kecil, sepupu barunya. Kebahagiaan yang dia rasakan ketika itu begitu melimpah hingga dia seolah bisa merasakan kehangatan musim dingin. Seandainya bisa, dia ingin mengulur waktu. Tiga hari terasa begitu singkat kali ini. Tapi, apa boleh buat. Dia tahu, dia harus mati beberapa jam lagi di Paris.

Sungguh. April tidak sedih karena harus mati. Justru dengan kematian yang akan dia jalani nanti, dia akan bisa bertemu dengan Papa dan Mamanya. Yang membuat hatinya berat adalah harus meninggalkan Bibi Lucynya. Mrs. Doughner begitu bahagia selama April berada di sana. April tidak kuasa jika harus berpamitan padanya. Apalagi berpamitan untuk mati.

Pukul delapan malam, April cepat-cepat mengajak Mrs. Doughner tidur. Jam segitu belum masuk jam tidur pada hari-hari biasanya. Tentu saja Mrs. Doughner merasa ada yang janggal. Apalagi, dia sangat mengenal keponakannya, April. Dia tahu ada yang April sembunyikan darinya. Dengan berbagai desakan, akhirnya April mengakui dan menceritakan apa saja yang terjadi pada dirinya.

Siapa yang tidak akan sedih jika mengetahui orang yang dia sayangi akan mati? Begitu pula Mrs. Doughner. Hatinya hancur mendengar penuturan April. Tapi, dia bisa mengerti. Terpaksa harus mengerti. Dia hanya bisa menitipkan terima kasih pada Angelo karena bersedia mempertemukannya dengan keponakan kesayangannya sebelum keponakannya itu menemui Papa dan Mamanya di Syurga. Mrs. Doughner tidak mau menggunakan istilah mati.

Dengan gontai, April berjalan kembali ke tempat Angelo menunggunya. Dari jauh malaikat itu tidak terlihat. Tapi dia langsung muncul begitu April sampai.

Angelo membawa kembali April ke Paris. Lalu, dia segera menanyakan tentang permintaan ketiga.

April terlihat tidak bersemangat menghadapi permintaan ketiga.

“Aku tidak menginginkan apa-apa lagi,” ucapnya sambil menatap mata Angelo yang sejak pertama kali bertemu lebih banyak bicara daripada mulutnya. Lalu, dia membuang pandangan ke arah tumpukan salju di depan stasiun. “Aku selalu membenci musim dingin semumur hidupku,” ucapnya tiba-tiba. “Sepertinya, akan lebih baik kalau aku mati tanpa meninggalkan kebencian. Mau menemaniku bermain salju?”

“Itu tidak bisa dihitung sebagai permintaan,” jawab Angelo.

“Aku tidak peduli kau menghitungnya atau tidak. Aku hanya ingin membuat sebuah boneka salju. Untuk yang pertama dan terakhir dalam hidupku.”

April berjalan setengah berlari ke tengah lapangan yang penuh salju. Untuk pertama kalinya, dia berlari dengan senyum mengembang di tengah malam musim dingin. Untuk pertama kalinya, dia bermain bulir salju, menggenggamnya, menepuk-nepuknya, dan membentuknya menjadi bulatan-bulatan bola salju. Untuk pertama kalinya dia membuat boneka salju, dan dia menikmatinya.

Dia membuat tiga bola kecil untuk mata dan hidung boneka salju pertamanya. Lalu, dia menggambar sebuah senyuman di wajah boneka saljunya. Dia sendiri ikut tersenyum lebar setelahnya.

“Taraaa...! Ini boneka salju pertamaku,” ucapnya sambil tersenyum pada Angelo.

Angelo tersenyum kecil membalas senyuman April. Dia memuji moneka salju buatan gadis kurus itu. Tapi, matanya mengatakan yang lain. April melihatnya.

Sejenak, senyum di wajah April menghilang. Tapi kemudian dia memaksakan muncul sebuah senyuman lain yang lebih lebar.

“Kenapa?” tanyanya. “Apa waktunya sudah tiba?”

Mulut Angelo diam. Matanya mengatakan ‘Ya.’

“Aku tidak melihat Azrael yang kau ceritakan itu?”

“Dia ingin aku yang mencabut nyawamu.”

“Kalau begitu, tunggu apalagi?” April mempersilahkan Angelo melakukannya, mencabut nyawanya.

“Apa kau sudah siap?”

“Aku siap kapan pun waktunya harus tiba.”

“Kau masih punya satu permintaan. Mintalah sebelum aku mencabut nyawamu.”

“Aku tidak ingin apa-apa lagi. Aku hanya ingin bertemu Papa dan Mama.”

“Kau gadis yang baik. Pikirkan satu permintaan. Pikirkan apa yang kamu senangi!" pinta Angelo, "mintalah! Aku ingin memberimu hadiah.”

“Kau malaikat yang baik.”

“Pikirkan hal menyenangkan yang kau inginkan!”

Sebenarnya April sudah tidak ingin apa-apa lagi. Tapi, lagi-lagi dia melihat sorot mata Angelo berkata-kata. Kali ini, perkataannya adalah sebuah permohonan agar April mengucapkan permintaan terakhirnya.

April mulai berpikir. Dia memejamkan matanya dan membayangkan hal-hal indah yang dia inginkan. Dia membayangkan Papa dan Mamanya. Tapi dia sudah beberapa kali mengutarakannya, dan Angelo mengatakan tidak bisa menerimanya sebagai permintaan. Lalu, dia memikirkan Bibi Lucy. Yang ini dia sudah memintanya. April berusaha memikirkan hal menyenangkan yang lainnya. Angan-angannya berlari kembali ke rumah kecilnya, tempat dia dulu hidup bersama Papa dan Mamanya. Dia mencari-cari apa hal menyenangkan yang pernah dia lakukan di sana, dan hal apa yang pernah menjadi impiannya di sana. Dia ingat dia pernah menginginkan seorang adik. Tapi, dia merasa hal itu pun tidak bisa dimintakan karena ibunya kini sudah di Syurga. Angan-angannya berusaha mencari hal apa yang sangat disenanginya, hal apa yang diingininya.

Dia menemukan bayang-bayang kamar masa kecilnya. Tempat dia biasa menghabiskan hari ketika musim dingin datang seperti saat ini. Kala itu, dia sangat senang membaca buku di sana. Dan buku kesukaannya saat itu adalah buku cerita tentang putri cantik dan pangeran tampan berkuda putih. Tiba-tiba dia tertawa geli dan membuka matanya.

“Pangeran tampan berkuda putih,” ucapnya tiba-tiba ketika membuka mata.

Angelo tersentak. Dia terkejut mendengar ucapan April yang dia angap sebagai permintaan ketiga.

“Karena aku sudah terlanjur berjanji, aku akan mengabulkannya,” ucap Angelo. Lalu. tiba-tiba dia menghilang.

April terkejut karena Angelo menghilang dari hadapannya. Terlebih lagi, dia tidak menyangka bahwa Angelo akan menganggap ucapannya tadi sebagai permintaan. Dia tidak bermaksud begitu.

Belum hilang keterkejutannya, tiba-tiba dihadapannya muncul cahaya putih yang sangat menyilaukan. April melindungi matanya dengan kedua telapak tangan. Dan setelah kilau cahaya putih itu agak meredup, perlahan-lahan April bisa melihat sosok Angelo ada di sana. Kali ini dengan memakai setelan pakaian kerajaan berwarna putih, dengan mengendarai kuda putih bersayap dan bertanduk satu. Cahaya menyilaukan tadi berasal dari tanduk kuda itu.

“A....angelo, kau...,” April kesulitan berkata-kata melihat pemandangan di depan matanya. Sebuah pemandangan yang menakjubkan.

“Aku datang sebagai pangeran berkuda putihmu. Aku menjemputmu.”

Kali ini, mulut April benar-benar tidak bisa bicara. Justru mata coklatnya yang lebih banyak mengungkapkan perasaannya. Dia gembira, takjub, dan haru.

“Putri April, maukah kau ikut denganku, hidup bersamaku di Syurga?” Angelo mengulurkan tangannya pada April.

April benar-benar bisu. Hanya matanya yang mengatakan ‘Ya.’

Angelo menjentikkan tangannya. Pakaian kumal April berubah menjadi gaun putih nan anggun. Lalu, Angelo membantu April menaiki kuda putih bersamanya.

Kuda putih menjejak-jejakkan kakinya. Sayapnya mengepak. Dia terbang. Mereka pergi ke Syurga.


***Hasan Irsyad


message 22: by Biondy (last edited Jan 13, 2014 08:45AM) (new)

Biondy | 773 comments Orang-Orang Biasa

“Keegan, tidak bisakah kau memberitahuku dulu kalau kau mau terbakar?” kata Yukiko melemparkan ransel di tangannya pada pria yang sedang berlutut di balik tempat sampah. “Cepat berpakaian sebelum ada yang lihat.”

“Aku tahu, Yukiko. Tolong lindungi aku. Lima belas detik. Seperti biasanya,” kata Keegan sambil menarik keluar pakaian dalam dari ransel itu.

Yukiko mendengus dan berbalik saat Keegan mulai memakai celana dalamnya. Dia tahu 15 detik setelah tubuhnya kembali terbentuk adalah saat yang penting bagi pria itu.
Yukiko memicingkan matanya dan melihat seekor burung hitam berparuh emas terbang ke arah mereka. Yukiko berdecak dan membiarkan burung itu terbang semakin dekat ke arah mereka.

Saat burung itu hanya berjarak 5 meter dari mereka, Yukiko menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya kembali secara lembut. Seketika hawa dingin menyembur dari mulutnya dan menerpa burung itu. Secara perlahan, butir-butir es menyapu tubuh burung hitam itu. Makhluk itu berusaha mengubah arah terbangnya untuk menghindari serangan Yukiko, tapi dengan sigap Yukiko mengikuti arah burung itu. Dua detik kemudian, burung itu jatuh ke tanah dengan tubuh yang membeku.

“Sudah selesai,” kata Keegan sambil menarik ritsleting jaketnya.

“Hanya 1?” kata Yukiko terkejut. “Ini rekor!”

“Tidak banyak roh liar berkeliaran di daerah ini. Aku yakin kamu bisa merasakannya,” kata Keegan sambil menyampirkan tudung jaketnya di kepala. “Bagaimanapun juga, ini wilayah Si Penyihir.”

Yukiko mengangguk-angguk. Roh-roh liar yang ingin mengambil alih kekuatan Keegan. Lima belas detik setelah ‘bangkit kembali’ adalah saat ketika kekuatan pria itu paling lemah. Tubuhnya jadi mudah disusupi dan roh-roh itu bisa menghisap kekuatannya.
“Kuharap keadaannya selalu seperti ini. Yang terakhir aku harus menghadapi selegion peri sayap hitam yang bisa mengeluarkan petir,” kata Yukiko.

“Oh, kumohon. Jumlahnya paling 50-an,” kata Keegan mengencangkan tali sepatunya. Dia lalu menyodorkan kembali ransel super besar tadi pada gadis di hadapannya. “Tolong bawa. Seperti biasanya.”

Yukiko mendengus. Dia mengambil ransel itu dari tangan Keegan. “Harusnya kau coba rasa sengatan petir mereka. Tangan kiriku tidak berhenti gemetar selama seminggu.”

Keegan hanya tersenyum mendengar kata-kata gadis itu. “Bagaimana kalau aku menciummu sebagai ucapan terima kasih?”

“Wow, simpan untuk nanti. Aku tidak mau meleleh gara-gara itu,” kata Yukiko sambil mundur beberapa langkah.

“Kenapa?” tanya Keegan. “Ciumanku terlalu panas untukmu?”

“Ya,” jawab Yukiko sambil kembali melangkah mundur. “Bahkan sekarang saja aku sudah merasa gerah dekat-dekat denganmu. Untungnya sedang musim dingin saat ini. Kurasa suhu tubuhmu semakin meningkat setelah pembakaran dirimu barusan.”

Keegan tersenyum simpul. “Kita lanjutkan perjalanan? Seharusnya sudah dekat.”

Mereka berdua keluar dari lorong dan mulai menyusuri jalanan Moskow. Salju putih terhampar di bawah kaki mereka dan Keegan mengamati bagaimana salju di bawah kakinya sedikit mencair saat dia injak.

Mungkin suhu tubuhku memang naik, batin Keegan. Mereka sudah berada di kota itu dan mengakrabi saljunya sejak beberapa hari terakhir, tapi ini pertama kalinya jejak yang dia tinggalkan adalah bundaran-bundaran basah. Bukan replika sol sepatunya.

Dia mendongak ke atas dan dia melihat Yukiko tengah bicara dengan seorang wanita berambut pirang. Terdengar logat Rusia yang kental dalam bahasa Inggris wanita itu. Yukiko tampak tersenyum, lalu melambai pada wanita itu.

“Sudah dekat. Kita harus ke arah Kanal Vodoo... Argh, bagaimana cara membacanya? Vodootvoodnyy, kurasa. Jembatannya menyeberangi kanal itu. Wanita itu sudah memberitahu arahnya. Ayo,” kata Yukiko.

Keegan mengangguk dan membiarkan gadis itu memimpin perjalanan.

“Kurasa kita sangat menarik perhatian yah. Aku merasa orang-orang memperhatikan kita,” kata Yukiko sambil menoleh pada Keegan.

Pria itu mengangkat bahunya dan berkata, “Kita hanya memakai kaus—dan jaket dalam kasusku, celana jins, dan sepatu bot, padahal suhunya hampir turun ke bawah 0 derajat Celcius saat ini. Tentu saja menarik perhatian”

“Yah, aku suka saat angin dingin berhembus di kulitku. Dingin membuatku merasa hidup,” kata Yukiko.

Keegan hanya tersenyum. Memang lazim bagi Yukiko, yang merupakan keturunan sempurna seorang gadis salju, untuk bersentuhan langsung dengan udara dingin. Dia tahu bahwa gadis itu sebenarnya punya cita-cita untuk hidup di daerah Kutub Selatan yang sangat dingin, tapi urung Yukiko lakukan karena dirinya.

Keegan menarik napas panjang dan diam-diam menyesali kenapa dia terlahir sebagai keturunan parsial roh api. Hal ini membuatnya tidak bisa mengendalikan panas dan api secara sempurna. Membuatnya mengalami peningkatan suhu tubuh secara bertahap dan pembakaran diri secara tiba-tiba.

“Kita sudah sampai. Itu jembatannya,” kata Yukiko.

Mereka berhenti di salah satu pohon metal dengan banyak gembok warna-warni tergantung di dahan-dahannya. Tree of Love—Pohon Cinta. Itulah nama beken pohon-pohon di sepanjang jembatan ini. Banyak pasangan datang ke sini untuk memasang gembok bertuliskan nama atau inisial mereka. Sebuah penggambaran dan harapan agar cinta mereka selalu terkunci bersama.

Juga tempat favorit untuk menikah. Yukiko menghitung ada setidaknya 3 pasang pengantin di jembatan itu. Dia merasa sedikit kagum pada orang-orang yang berani mengadakan acara pernikahannya pada cuaca seperti ini. Apalagi mereka itu manusia. Tidak sama seperti dirinya.

Aku juga ingin menikah di udara sedingin ini, batin gadis itu. Tapi kemudian dia teringat bahwa kalaupun dia bisa menikah nanti, dengan Keegan, keadaannya tidak akan sama lagi seperti saat ini.

“Kita pasang di sini saja?” tanya Keegan.

“Hah? Oh, oke,” jawab Yukiko sambil memalingkan wajahnya dari pasangan pengantin yang kini sedang berfoto.

Keegan mengunci gembok warna merah mereka di salah satu dahan. Ada ukiran huruf ‘K’ di kiri lubang kuncinya. Sementara di sebelah kanannya, terdapat ukiran hufurf ‘Y’. Pria itu menoleh pada Yukiko yang berdiri di sampingnya.

“Aku sudah tidak terasa panas?” tanya Keegan.

“Masih,” jawab Yukiko, “tapi aku berusaha menahannya. Aku harus berkonsentrasi menarik energi salju di daerah ini, kalau kau mau tahu.”

“Kita kembali ke hotel?” tanya Keegan.

“Ya. Kita perlu menyiapkan diri untuk malam ini.”

* * *

Pintu elevator terbuka dan sebuah ruangan luas menyambut Keegan dan Yuriko. Seorang pria berwajah 20-an dengan setelan jas berdiri menyambut mereka. Rambut pria itu hitam legam dan disisir ke belakang. Berbeda dengan gambaran penyihir yang sering digambarkan berkumis dan berjanggut lebat, wajah Si Penyihir justru tampak bersih.

“Ah, kalian sudah datang. Mari, duduk,” kata Si Penyihir menunjuk sofa panjang yang baru saja dia duduki.

“Terima kasih,” jawab pasangan itu sambil duduk di tempat yang ditunjukkan. Keegan duduk di sofa kecil di ujung kanan, sementara Yukiko mengambil jarak 3 dudukan darinya.

“Vodka?” tanya Si Penyihir sambil menuangkan minuman itu ke dalam tiga buah gelas. “Aku memaksa.”

Tanpa menunggu persetujuan mereka, Si Penyihir melambaikan tangannya dan dua buah gelas melayang ke hadapan mereka.

“Terima kasih,” kata Keegan.

“Mari kita bersulang. Untuk kesuksesan proses pelepasan Roh Alam,” kata Si Penyihir sambil mengangkat gelasnya.

Yukiko dan Keegan melakukan hal yang sama. Gelas mereka bertiga saling adu dan mengeluarkan suara dentingan, lalu disusul suara tegukan.

“Ok, biar kuulangi lagi kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi,” kata Si Penyihir sambil meletakkan gelasnya. “Kalau sial, kalian bisa mati saat proses pelepasan berlangsung. Aku sudah pernah melakukan hal ini beberapa kali sebelumnya, tapi tetap saja. Pelepasan roh adalah proses yang rumit. Apalagi Roh Alam. Tidak ada jaminan kalian akan seratus persen selamat.”

Si Penyihir menepuk tangannya dua kali dan gelasnya kembali terisi dengan cairan bening.

“Aku selalu minum dua gelas,” kata Si Penyihir sambil tersenyum. “Sampai mana aku tadi? Ah, ya, aku ingat. Kalau pun kalian berhasil bertahan, pelepasan Roh Alam berarti pelepasan hak-hak khusus kalian. Hidup abadi, wajah dan tubuh yang selalu berada pada kondisi puncak, serta kemampuan mengendalikan elemen alam. Kalian akan hidup sebagai manusia biasa.

“Bagi pria ini, usaha pelepasan adalah hal yang tepat,” katanya sambil mengangguk pada Keegan. “Kalau tidak dia coba, dia pasti akan mati karena tubuhnya tidak kuat menanggung kekuatan api dalam dirinya. Tapi kamu, Nona manis. Apa kamu yakin ingin melakukan ini?”

Yukiko menoleh pada Keegan. Pria itu menatap balik padanya dan berkata, “Aku tidak akan keberatan atau marah padamu kalau kamu mau mundur sekarang.”

“Aku sudah mengambil keputusan,” kata Yukiko pada Si Penyihir. “Anda meminta Roh Alamku sebagai bayaran untuk proses ini kan? Nah, aku akan membayarnya.”

“Baiklah. Kalian sudah seratus persen yakin?” tanya Si Penyihir yang disambut dengan anggukan Keegan dan Yukiko.

Si Penyihir menepuk tangannya dua kali. Dua lembar kertas dan pulpen muncul di hadapan mereka.

“Tolong tanda tangani itu. Itu perjanjian bahwa kalian membiarkanku melakukan proses pelepasan ini dan bahwa kalian, atau pihak lain yang ada hubungan dengan kalian, tidak akan menuntutku kalau sesuatu yang... buruk terjadi,” kata si Penyihir sambil menunjukkan tempat yang harus mereka tanda tangani.

Keegan dan Yukiko membaca sepintas isi perjanjian itu, lalu menanda tanganinya. Keegan menyodorkan kertas itu pada Si Penyihir. Dapat dia rasakan kalau tangannya sedikit gemetar. Dia melirik pada Yukiko dan dilihatnya gadis itu mencengkeram lututnya kuat-kuat.

“Baiklah, sudah oke,” kata Si Penyihir setelah melihat isi kertas mereka. “Ikut aku.”

Keegan dan Yukiko bangkit dan mengikuti Si Penyihir. Keegan terkejut saat dia merasakan tangan Yukiko menggenggam tangannya. Dia menoleh dan melihat gadis itu mengibas-ngibaskan tangannya. Keegan tersenyum canggung melihat itu.

“Sial, lebih panas dari sebelumnya,” kata Yukiko sambil tersenyum.

“Kita bisa melakukannya setelah ini,” kata Keegan.

Yukiko mengangguk. Si Penyihir membuka sebuah pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Ruangan itu berdinding putih bersih dan Keegan melihat dua buah lingkaran sihir di lantai.

“Yang pria duduk di kanan, yang wanita di kiri. Jangan sampai salah. Mantra yang kutulis di situ khusus untuk masing-masing orang,” kata Si Penyihir.

Yukiko dan Keegan mematuhinya. Mereka duduk di tempatnya, lalu Si Penyihir berdiri di hadapan mereka. Si Penyihir melantunkan sesuatu dan sebuah lingkaran hijau muncul di hadapan mereka.

“Perhatikan lingkaran itu. Tarik napas yang dalam, lalu hembuskan perlahan-lahan. Dalam 5 detik, aku akan memutus gelombang otak kalian dan kalian akan kehilangan kesadaran. Siap? Lima-empat-tiga-dua-satu...”

Lalu semuanya gelap bagi Keegan dan Yukiko.

* * *

Keegan merasa telinganya berdenging. Perlahan dia membuka matanya dan seorang gadis berambut hitam panjang adalah hal pertama yang dia lihat.

“Akhirnya kau bangun. Pemalas,” kata gadis itu sambil tersenyum.

“Yukiko?” erangnya. “Pelepasannya... berhasil?”

“Ya. Dengan sempurna,” kata Yukiko.

Keegan tersenyum dan perlahan tangannya menggapai tangan gadis itu. Digenggamnya tangan itu erat-erat dan dia tertawa pelan saat Yukiko tidak buru-buru menarik tangannya menjauh.

Tamat


message 23: by Levif (last edited Jan 10, 2014 11:58PM) (new)

Levif | 36 comments MEMANGGIL WINN

Aku terpana melihat sosok itu. Dia tampak seperti apa yang selalu aku bayangkan. Bahkan jauh lebih baik karena dia benar-benar ada di sini. Dalam pandangan mataku. Berdiri di depanku. Dia benar-benar nyata.

Tubuh tegapnya menjulang tinggi dengan kulit kecoklatan. Wajahnya sangat tampan dengan hidung mancung dan rahang yang keras. Matanya yang hijau itu begitu tajam, menggetarkan, memacu denyut jantungku lebih cepat dari biasanya. Rambut hitamnya megar, tidak lepek, tidak terlalu rapi ataupun terlalu kusut. Seperti inilah pria yang aku idam-idamkan. Aku tidak pernah menyangka akan bisa menatapnya seperti ini.

“Halo, namaku Velma. Aku orang yang memanggilmu untuk datang ke sini…”

Aku tersentak mendengar suara itu. Velma yang semula berdiri di sampingku menghampiri sosok pemuda itu dan mengulurkan tangan. Winn, pemuda itu mengulurkan tangannya dan mereka salaman.

“Hei… namaku Winn Ardion,” ucapnya sambil tersenyum.

Ya Tuhan senyumnya sangat menawan tapi dia tersenyum pada Velma, bukan padaku! Aku tidak terima. Winn selalu ada dalam kepalaku selama ini. Aku yang memberinya nama. Aku yang menggambar sketsa dirinya. Aku bahkan yang memberinya karakter serta latar belakang kehidupan.

“Winn, aku yang menciptakanmu,” tuturku sambil melangkah medekati mereka dan menyikut Velma agar tidak terlalu dekat dengan Winn.

Winn mengerjap memandangku. “Oh ya, bagaimana bisa?” tanyanya bingung.

“Tidak-tidak. Bukan seperti itu. Tunggu sebentar!” ucap Velma lalu menarik tanganku, membawanya keluar dari kamar.

Velma menutup pintu kamar asrama kami. Aku menarik tanganku dari cekalannya dengan kesal. Sebaliknya wajah Velma tampak merah padam.

“Apa maksudmu bicara begitu?” tanyanya.

“Aku mengatakan yang sebenarnya. Kamu juga bilang kalau kamu yang memanggilnya,” jawabku tidak mau kalah.

“Itu lain,” sergah Velma. “Memanggil tidak sama dengan mencipta. Lagipula tanpa kertas sihir yang aku miliki, Winn tidak mungkin akan bisa datang ke tempat ini.”

“Maksudmu, kamu yang menciptakan dia? Kamu bilang tanpa gambaran dan imajinasi yang nyata, Winn tidak akan pernah bisa terwujud!”

Selama beberapa saat kami saling tatap. Aku sadar ada yang salah. Seharusnya ada kesepakatan dulu sebelum kami memanggil Winn untuk datang.

“Sher, kita tidak boleh bertengkar. Kamu mungkin tidak paham dengan apa yang kumaksud…” ucap Velma.

“Apa?!”

Velma menarik napas dalam sebelum bicara, “Asal kamu tidak berteriak padaku, akan aku jelaskan.”

Aku mencoba menahan emosi. Dia benar kalau kami tidak boleh bertengkar. Bagaimanapun tanpa kertas sihir yang Velma miliki, Winn hanyalah angan-angan.

“Oke,” ucapku pelan.

“Kita jangan membuat Winn merasa kalau dirinya itu tidak nyata. Kalau kita bilang memanggil, bisa saja kan dia datang dari dunia pararel. Pelan-pelan kita akan membuat dia betah di sini dan terbiasa dengan dunia kita ini. Dalam hal ini kita butuh untuk bekerja sama, Sher.”

Aku manggut-manggut. “Oke-oke. Aku mengerti. Kurasa sebaiknya kita tidak terlalu lama membuat Winn bingung,” ucapku.

Aku tidak tahan untuk bisa melihatnya lagi. Tapi tiba-tiba terdengar suara kaca pecah dari dalam. Aku dan Velma tersentak. Segera kubuka pintu kamar dan masuk ke dalam.

Kami berdua terkejut. Kaca jendela kami pecah dan Winn telah raib dari kamar itu. Velma berlari mendekati jendela dan melihat ke luar sana.

“Ceritakan padaku lebih banyak lagi tentang Winn!” pinta Velma gugup.

“Di…dia punya ilmu kesaktian yang tinggi… tapi jelas dia tidak jahat!”

“Kenapa kamu tidak mengarang cerita drama saja?!” umpat Velma lalu berlari dan melintasiku menuju pintu. Aku segera menyusulnya.

Kami tentu harus ke bawah karena letak kamar kami ada di lantai tiga gedung asrama. Untunglah semua penghuni asrama sedang liburan hingga tempat ini sepi. Hanya aku dan Velma yang tinggal dan tentu saja dengan Pak Henry dan Bu Emma, dua penjaga asrama. Mereka pasti mendengar bunyi kaca pecah tadi.

***

Kami kini berada di pekarangan belakang. Velma sedang bercakap-cakap dengan Pak Henry membicarakan kalau kita sedang bermain tangkap bola di atas sana dan tidak sengaja memecahkan kaca jendela. Aku sendiri menelusuri pekarangan yang luas itu sambil mengitarkan pandangan kalau-kalau menemukan Winn atau jejaknya sekalipun.

Kucoba menelusuri perasaan Winn. Apa yang sebenarnya dia coba lakukan. Alih-alih mencari kami, dia malah menerobos jendela seperti itu. Tidak mungkin Winn melakukannya tanpa alasan. Dia seorang yang sopan, rasional, dan lembut. Dia seharusnya bertanya pada kami apa yang terjadi.

Aku sama sekali kehilangan jejaknya. Tentu saja dia bukan orang biasa yang bisa menghilangkan jejak dengan mudah. Tapi kini dia berada di dunia yang berbeda. Aku harus segera menemukannya sebelum dia benar-benar tersesat.

Ketika aku berdiri di dekat pohon, tiba-tiba tubuhku seperti melayang. Aku heran dan ketika kulirik kakiku, ternyata aku benar-benar terbang! Aku nyaris menjerit kalau tidak kututupi mulutku sendiri. Kulihat ke atas sana. Ternyata Winn duduk di dahan pohon itu. Gila! Telekinesisnya ternyata telah mampu membuat orang lain terbang.

Aku menggapai dahan pohon lalu duduk di sampingnya.

“Winn, apa yang terjadi? Kenapa kamu menerobos jendela?” tanyaku.

Sekalipun tatapannya penuh rasa curiga, tapi mata itu tetap membuatku meleleh. “Ceritakan padaku kebenarannya,” ucapnya.

“Em… kamu berasal dari dunia yang berbeda dengan kami. Semacam dunia pararel. Aku dan Velma memanggilmu dengan kekuatan sihir.”

“Kenapa? Untuk apa?” tanyanya.

Aku tercekat. Tidak mungkin kukatakan kalau kami hanya iseng saja. Kami kesepian lalu ingin ketemu cowok yang jauh lebih ganteng dari Adam Scoot. Dan menunjukkan pada si Lolla yang sombong itu kalau kita sama sekali bukan pecundang. Kami tidak perlu rok mini atau dandanan menor untuk bisa mendapatkan cowok keren. Apalagi dengan tingkah menyebalkan yang selalu merendahkan orang lain.

“Em… aku… maksudku kami hanya ingin berkenalan denganmu. Lalu kita saling memperkenalkan dunia masing-masing,” jawabku.

“Oh ya?” tanyanya dengan nada skeptis.

“Itu yang sebenarnya, Winn. Kamu bisa sedikit santai di sini. Tidak ada musuh. Hanya ada kesenangan…” ucapku sambil tersenyum lebar.

“Nona Gigi Kawat…” ucap Winn membuatku tersentak dan mengatupkan bibir rapat-rapat. “Kamu lupa ya, ilmu apa saja yang pernah kupelajari?”

Sesaat aku terdiam kemudian terkejut. Winn serta teman-teman dalam kelompoknya mempelajari ilmu yang bisa menajamkan indera mereka masing-masing termasuk indra pendengaran. Bukan tidak mungkin dia mendengar percakapan aku dan Velma dari balik pintu lalu aksinya menerobos jendela.

“Aku sengaja mencari perhatianmu agar aku bisa mendengar sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Benarkah aku adalah tokoh yang kamu ciptakan? Teman-temanku, ayahku, musuh-musuhku semuanya tidak nyata? Bahkan aku sendiri tidak nyata?”

“Ah… eh…” Aku gelagapan tidak tahu harus bicara apa.

“Sherly!!!”

Suara Velma mengejutkanku.

“Winn, walau begitu kamu di sini nyata…” kupegang tangannya. “Lihat. Kita bisa bersentuhan. Aku dan kamu sama… Kamu pasti bisa tinggal di sini, Winn.”

Winn meremas tanganku pelan. Tangan kirinya terulur menyentuh rambutku yang kering dan gimbal. Dia tersenyum sambil meraba bagian wajahku yang lain.

“Hei! Apa yang sedang kalian lakukan di atas sana?!”
***


message 24: by Levif (last edited Jan 10, 2014 09:44PM) (new)

Levif | 36 comments Seharusnya aku sadar dan mengerti apa yang dirasakan Velma waktu dia menemukan kami duduk bersama di atas pohon. Suara itu jelas mengandung kemarahan dan mata itu, ketika aku melihatnya, terbakar kecemburuan yang sangat kental. Aku tidak tahu kalau hari-hari berikutnya, Velma tidak lagi menjadi sahabat yang menyenangkan. Dia tidak lebih dari ular berkepala dua, musang berbulu domba, atau musuh dalam selimut.

Di depanku dia masih bersikap seolah memegang kesepakatan kami untuk tidak merayu Winn atau berkencan dengannya. Tapi di belakangku, ketika dia sedang bersama Winn, tak hentinya dia menjatuhkanku dan mencoba untuk merayu Winn. Lihat saja cewek yang gemar memakai baju hitam dan berdandanan ala gypsi itu kini memakai baju-baju berwarna pink, hijau, marun, ungu, atau warna-warna cerah lainnya. Lihat juga bibirnya yang dipoles lipstik berwarna pink itu. Dia monyong-monyongkan kalau sedang bicara dengan Winn. Bulu mata palsu dan eye shadow warna-warni membuatnya terlihat aneh ketika berkedip. Sudah seperti itu, dia mengelak mengatakan kalau dirinya berubah untuk merayu Winn!

Katanya dia hanya mengikuti nasihat Winn untuk berubah. Oh… soal itu aku memang mengerti. Satu dua kali Winn pernah memberikanku saran untuk meluruskan rambut atau merawat wajah. Aku tidak mau. Aku tahu Winn walaupun menyukai gadis cantik tapi melihat wanita dari dalam hatinya. Buktinya dia masih baik padaku. Tanpa sepengetahuan Velma, kami berjalan-jalan ke sungai Waltz. Dia membawaku terbang – sebenarnya hanya melompat – atau menggedongku dan berjalan di atas air sungai itu. Luar biasa. Aku sangat bahagia.

Hanya saja sekarang aku melihat Velma sedang merayunya. Dia pikir aku jadi pergi belanja dengan Bu Emma. Padahal aku sengaja ingin memergoki tingkah lakunya yang memalukan. Kini mereka sedang berada di beranda samping asrama. Tentu saja Velma sudah memastikan kalau Pak Henry sedang sibuk dengan pekerjaannya memperbaiki saluran air yang tiba-tiba bocor. Selama ini kami memang menyembunyikan Winn dari Pak Henry dan Bu Emma. Kami berencana memasukkan Winn ke sekolah ketika musim libur berakhir.

“Sherly memang payah,” ucap Velma membuat kupingku panas. “Dia pikir penampilan udik bisa membuatnya bahagia,” ucapnya. “Atau yah, selama ini dia memang bahagia seperti itu.”

Velma tertawa. Aku masih menahan diri berdiri di balik tiang. Aku ingin tahu apa yang dikatakan Winn tentang diriku.

“Setiap orang memang mempunyai cara masing-masing untuk bahagia,” ucap Winn menyejukkan hati.

“Ya-ya. Aku mengerti maksudmu. Sudahlah. Tidak perlu membicarakan dia. Dua hari lagi tempat ini akan ramai. Bagaimana permintaanku? Sudah kamu pertimbangkan?” tanyanya.

Aku ingin melihat ekspresi mereka tapi aku yakin gerakanku akan mudah membuat diriku ketahuan. Setelah beberapa saat terdengar Winn bicara.

“Aku tidak keberatan berkencan denganmu…” ucap Winn membuatku terhenyak.

“Benarkah, Winn? Aku yakin Lolla akan benar-benar iri padaku.”

Aku tidak bisa lagi untuk tetap berdiam diri. Kulangkahkan kaki menghampiri meja mereka. Winn melirikku sambil meminum jusnya. Dia hanya tersenyum setelah meletakkan gelas jusnya. Aku yakin dia tahu aku ada di balik tiang dari tadi.

“Velma! Teganya kamu mengkhianati kesepakatan kita!” hardikku.

Velma terkejut dan berbalik. “Sherly… kamu tidak pergi dengan Bu Emma?”

“Tidak! Aku di sini untuk melihat betapa kotornya kamu!”

Velma berdiri dengan wajah merah padam. “Apa kau bilang? Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan dengan Winn diam-diam? Kamu mengajaknya berjalan-jalan bukan? Aku bahkan tidak tahu apa yang kalian lakukan di dalam hutan sepanjang sungai Waltz!”

Aku menggigil dan melirik Winn. Benarkah dia tidak menjaga rahasia yang kuminta?

“Kurasa, Velma pernah mengintip kita juga, Sher. Sepertimu tadi,” jawab Winn tanpa ditanya.

Wajahku terasa panas. Apalagi melihat Velma dengan wajah mencemooh seperti itu.

“Sudahlah Sher, terima saja. Winn sudah bilang kalau dia mau jadi kencanku. Kuharap kamu tidak mempermalukan dirimu sendiri. Aku tahu sekali kenapa kamu tidak pernah mengajak Winn berjalan-jalan ke kota.”

“Karena Winn dan aku suka hutan!”

“Bukan!” balas Velma sengit.

“Karena kamu tidak mau ketemu orang bukan? Kamu minder kalau kamu berjalan bersama Winn kalian bagai langit dan bumi. Tidak akan ada seorangpun yang menyangka kalau kalian berkencan!”

Aku terhenyak. Seketika dadaku seperti ditikam oleh sesuatu yang begitu tajam dan menyakitkan. Itu kenyataan. Aku tahu. Kalau Velma masih punya keberanian untuk menjadikan Winn pacarnya, tidak dengan diriku. Air mataku berjatuhan. Winn menatapku dengan wajah kasihan. Velma tampak terdiam kaget.

Aku berbalik dan berlari pergi dengan isak tangis yang tidak lagi tertahankan. Kudengar Velma memanggil dan mengejarku dengan setengah hati.

“Aku tidak bermaksud begitu, Sher…!”

Tapi Velma tidak benar-benar menyusulku. Hingga aku menangis di dalam kamarku sendirian. Tengkurap di atas tempat tidurku sendiri sampai tiba-tiba Winn berjongkok di sebelahku sambil menatapku.

“Winn… kamu datang untuk menghiburku?” tanyaku.

“Mungkin. Kurasa aku harus membalas budimu.”

“Ya benar. Kamu berasal dari pikiranku. Seharusnya kamu milikku. Kamu menyukaiku dan tetap bersamaku seburuk apapun aku…” ucapku sambil tetap menangis.
Winn mengulurkan tangan menyentuh wajahku.

“Kamu bilang aku sekarang ini nyata dan kita bisa bersentuhan. Kurasa, bukankah itu artinya aku orang yang merdeka?”

Aku terkejut mencoba memahami apa yang dia katakan.

“Terus terang aku tidak menyukai kalian berdua. Kalian terlalu kekanakan dan egois. Kenapa aku harus mengurusi kalian yang seperti ini? Aku bukan seorang pengasuh. Apa yang kalian perdebatkan hanyalah sebuah bungkusan kosong.”

Brak!!

Winn menabrak lemari ketika aku meninjunya. Bukan karena kekuatanku tapi karena dia yang mencoba menghindari seranganku.

***

Gambarku sebenarnya tidak terlalu bagus. Tapi Winn benar-benar tampan. Garis-garis yang kubuat dengan pensil ternyata bisa membuat garis wajahnya begitu memesona.

“Benarkah kita harus melakukannya?” tanya Velma yang kini kembali mengenakan busana hitamnya. “Bukankah kita cukup membuatnya kembali menjadi sketsa?”

Aku menggeleng lalu kumasukan sketsa gambar Winn ke dalam perapian. Api segera melahap kertas sihir itu. Velma merelakan kertas sihirnya terbakar. Begitu pula aku merelakan sketsa Winn menghangus.

“Aku tidak bisa memaafkan dia berkencan dengan Lolla,” tuturku.


message 25: by Dian Achdiani (new)

Dian Achdiani | 85 comments Warna Panas

“Komputer, suhu 20º, cahaya 25%—“

Perlahan ‘ruangan’ kecil itu cahayanya berkurang, jadi temaram. Suhu khusus untuk ruangan itu juga mendingin. Anak—masih bisa dibilang anak karena umurnya baru dua belas tahun—yang tadi memberi perintah pada komputer lalu membaringkan diri pada kasurnya. Memejamkan mata.

Tertidur.

Ruangan itu sebenarnya sangat besar. Disekat-sekat menjadi dua puluh ruangan kecil, jadilah ruang tidur asrama putra. Tiap ruangan, 2,5 m x 3 m, berisikan sebuah tempat tidur dan sebuah lemari. Lemari itu juga berfungsi sebagai meja belajar: tarik bilah sejajar rak keduanya, bisa dipakai untuk menulis.

Kalau kau ingin menulis di kertas atau buku, karena kegiatan primitif—anehnya masih banyak yang suka—ini sudah digantikan oleh komputer. Mau pakai yang mana, mengetik di papan kunci tradisional, mengetik di papan sentuh holografis, atau rekam suara. Kalau perlu rekam video sekalian. Praktis.

Satu komputer untuk satu siswa, terhubung dengan satu sistem keseluruhan di asrama sekolah ini. Gerak-gerik siswa teramati.

Di malam-malam sekolah, pukul sepuluh semua ruangan kecil itu akan mematikan lampu—mengecilkan cahaya—otomatis. Tergantung keinginan masing-masing yang sudah disetel dari awal tahun ajaran: ada yang suka gelap total, ada yang suka temaram 10%, dan sebagainya. Yang penting tidak boleh melewati 30%.

Suhu diatur, juga menurut kesukaan masing-masing anak.

Jaringan Intranet menutup diri. Tak bisa diakses. Hanya jalur darurat terbuka, untuk melaporkan keadaan luarbiasa tentu saja.

Tapi, hari ini hari Jumat. Er, tepatnya sudah malam Sabtu. Malam Sabtu dan malam Minggu, anak-anak bebas tidur jam berapa mereka suka. Selama pukul duabelas mereka sudah berada di ruang tidur. Jadi, bisa jalan-jalan ke ruang musik, ruang film, ruang olahraga, ke mana saja sesukanya sebelum pukul duabelas malam, setelahnya kembali ke ruang tidur asrama. Mau langsung tidur, boleh banget! Berselancar di komputer masing-masing sesukanya, juga boleh. Terserah, selama semua ada di ruangan masing-masing.

Jam sudah menunjukkan pukul satu, dan sebagian besar ruangan tidur sudah gelap atau temaram. Tinggal satu-dua ruang tidur yang masih menyala lampunya.

“Willy, kau belum tidur?”

Dua ruangan bersebelahan lampunya masih terang benderang. Yang satu penghuninya sedang membaca buku—perangkat primitf juga karena umumnya sekarang orang membaca langsung dari gawainya. Penghuni kamar sebelah, tadinya sih sedang berselancar di internet, tetapi sekarang sepertinya sudah akan tidur.

“Belum. Belum selesai membaca—“ sahut yang ditanya. Matanya tetap menuju pada bacaannya.

“Ya sudah. Aku tidur dulu ya! Komputer, suhu—“

“Michael—“

“—ada apa?” bocah yang sudah bersiap akan tidur itu terpaksa bangun lagi.

“Pernahkah kau melihat warna panas?”

“Warna panas?”

Willy mengangguk. Jelas, anggukan tak akan kelihatan dari kamar sebelah! “Iya. Warna panas. Merah, kuning, biru—“

“Willy, selama ini kita memanggang dengan panas dari komputer! Tak kelihatan dan tak berwarna. Cuma panasnya saja yang terasa—“

“Tapi, buku ini menjelaskan begitu detail—“

Tak ada jawaban dari kamar sebelah, dan Willy tak menghiraukan, ia malah membacakan kalimat-kalimatnya: ‘...bara api itu kemerahan. Sandra meniup-niupnya hingga api membesar, merah kekuningan. Api unggun malam itu begitu ceria.

Berbeda dengan di dalam tenda. Astrid seorang diri, ditemani birunya api lampu spiritus, kesal memaki dirinya sendiri. Ia tahu ia salah...’


Willy berhenti membaca. “Kebayang nggak, Mic?”

Tak ada jawaban.

Willy berdiri melongok kamar sebelah. Oh. Sudah gelap. Michael sudah tidur.

Ya sudah. Ia menutup bukunya setelah diselipi pembatas buku. Menurunkan suhu dan intensitas cahaya. Membaringkan diri, menyelimuti diri. Menutup mata.

Membuka mata lagi. Duduk. Menyalakan lampu.

Ia tidak bisa tidur!

Kira-kira... komputer bisa tidak ya, membuat panas berwarna merah, kuning, dan biru begitu?

-o0o-

Sepi malam terpecahkan bunyi sirine meraung-raung. Dua kendaraan layang untuk pemadam kebakaran segera menuju TKP: asrama 2 Putra, lantai tiga.

Sepertinya tidak begitu parah.

Hanya kebakaran kecil. Satu kamar tidur. Untung bisa segera diisolir, sebelum api menjalar ke kamar tidur sebelah-sebelahnya.

Walau demikian, seluruh siswa yang punya kamar di ruangan itu, terbangun sebagai akibatnya. Sempat terjadi kepanikan, sebelum akhirnya bisa diatasi. Kerusakan hanya terjadi di satu kamar tidur.

Willy Damocles gemetar tak henti.

“Syukurlah, api sudah dipadamkan. Kau harus diperiksa dulu ke ruang kesehatan, atau—kupikir sebaiknya kau juga tidur di ruang kesehatan saja malam ini, sebelum besok kamar tidurmu diperbaiki—“

Petugas pemadam kebakaran itu mengantar Willy ke ruang kesehatan.

Tapi Willy tak henti gemetar.

“Willy?”

Matron sudah selesai memeriksa kesehatan Willy, dan tak ada kelainan. Mungkin Willy shock. Jadi, Matron membuatkan coklat panas untuknya.

Tapi ia masih gemetar.

“Ada apa Willy?”

“A-apakah petugas pemadam kebakaran sudah menemukan penyebab kebakaran?”

Matron menggeleng. “Mungkin besok baru akan diumumkan. Sekarang pergilah tidur—“

“Apakah aku akan dikeluarkan?”

Raut wajah Matron menampakkan keheranan, “Kenapa memangnya?”

Willy menelan ludah. Semenit-dua menit ia tak bisa bicara. Sebelum akhirnya,

“Ka-karena a-aku yang me-menyebabkan kebakaran itu—“

Kening Matron berkerut.

“A-Aku hanya ingin tahu warna-warna panas. Merah, kuning, dan biru—“ kembali Willy menelan ludah, “—dan yang biru indah sekali—“

Matron belum bisa berbicara.

“—dan ternyata biru itu yang terpanas, dan—dan—dan aku tak bisa menghentikannya—“ kini getar-gemetar Willy berganti menjadi sedu-sedan.

Matron memeluk Willy. “Besok, katakan itu pada Peneliti Kejadian Khusus. Aku yakin itu tak sengaja,” ia banyak mengalami kejadian yang diakibatkan oleh rasa ingin tahu anak-anak asramanya, “—paling-paling hanya ada skors beberapa hari. Ya?”

Sedu-sedan Willy mulai berkurang.

Matron membaringkan Willy di dipan. “Komputer, suhu 20º, cahaya 10%”

Dan ia meninggalkan kamar tidur saat dipikirnya anak didiknya sudah terlelap.

Sayup terdengar suara lirih dari kamar tidur ruang kesehatan, “Warna panas biru itu indah sekali—kapan aku bisa membuatnya lagi—“

SELESAI


message 26: by Rifani (new)

Rifani Magrissa (RifaniMagrissa) | 16 comments You are My Sunshine

Chloe memasuki kafe yang biasa ia kunjungi. Ia melepaskan mantel coklatnya, dan berjalan lunglai menuju meja di sudut ruangan. Ia selalu duduk di sana, karena terdapat lilin berbau lavender yang ia sukai. Ia mendesah putus asa. Beberapa jam yang lalu, ia berdiri di ambang pintu kamar ibunya. Ia memandang tubuh yang terbaring beku di atas ranjang. Semua itu disebabkan oleh faery—peri dengan tubuh sebesar manusia. Hanya orang-orang tertentu yang dapat melihat faery, karena mereka adalah makhluk tak kasatmata.

Seorang pelayan bertubuh tegap dengan rambut kemerahan mendatanginya. Perawakannya tidak seperti manusia pada umumnya. Chloe melihat bahwa ada pancaran layaknya matahari dari tubuh itu. Pikiran- pikiran aneh di benaknya segera terjawab ketika seorang faery mengikuti laki-laki itu dari belakang.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah. Chloe menunjuk makanan yang terdapat di daftar menu tanpa melihat laki-laki itu. Perasaannya tidak enak. Ia meringis perih saat faery yang mengikuti laki-laki itu membelai pipinya. Tindakannya terhenti ketika laki- laki itu berdeham pelan.

“Baik, mohon tunggu sebentar.” ucap laki-laki itu, dan pergi meninggalkannya.

***

“Apa kau sudah gila??” bisik Fredi saat berada di ruang ganti pada faery yang mengawalnya.

“Aku sengaja melakukannya, dia adalah bagian dari kita. Dia dapat merasakan apa yang kulakukan padanya.” ujar faery itu.

“Walaupun begitu, kau harus bisa menahan diri. Kita tidak boleh sampai ketahuan di sini. Kau ingat?? Aku bertaruh nyawa untuk ini semua!” ucapnya masih menjaga frekuensi suaranya.

“Aku punya firasat gadis itu mengetahui keberadaan liontin Petinggi Musim.” ucap faery itu lagi.

Liontin Petinggi Musim adalah nyawa bagi keseimbangan musim di dunia faery dan manusia. Walaupun semua faery memiliki liontin untuk nyawanya, tetapi Petinggi Musim dapat menciptakan musim dengan liontin itu. Jika liontin terlepas dari Petinggi Musim, tidak akan terjadi pergantian musim. Petinggi yang masih menggunakan liontin adalah Raja Musim Dingin. Akibatnya, tiga tahun terakhir ini dunia manusia dan faery mengalami musim dingin tiada henti.

“Baiklah, kita akan mengikuti gadis itu.” ucapnya memutuskan.

***

Chloe membayar makanannya, dan melenggang meninggalkan kafe. Ia merapatkan mantel karena udara dingin semakin memenuhi tubuhnya. Sudah beberapa hari ini, ia mendapat kabar bahwa temperatur untuk satu minggu ke depan dapat mencapai enam derajat celcius.

“Faery-faery! Awas kau!” rutuknya dalam hati. Ia membenci faery. Makhluk-makhluk bersayap itu menyebabkan ibunya membeku. Ia sadar, bahwa ia adalah bagian dari mereka. Ibunya adalah Ratu Musim Gugur di dunia faery, sedangkan ayahnya adalah manusia.

Ia menghela napas saat melihat empat orang faery berjalan mendekatinya. Ia tetap berjalan tanpa mempedulikan keberadaan mereka yang semakin dekat dengannya. Faery itu mencegat lengannya. Ia berusaha melepaskan, tetapi ia tak berdaya. Ia merasakan pergelangan tangannya mati rasa. Tangan faery itu menjalar ke seluruh persendian tubuhnya sampai pada lehernya, lalu mencekiknya kuat. Sekujur tubuhnya perlahan membeku, dan kuatnya cekikan faery menyebabkan ia tak mampu lagi merasakan apa-apa. Tubuhnya membeku.

***

Fredi sengaja mengikuti gadis itu. Ia ingin tahu kaitan liontin Petinggi Musim dengan gadis yang diikutinya. Tiba-tiba langkahnya terhenti, ketika empat orang faery —faery musim dingin berjalan mendekati gadis itu. Ia mundur, dan bersembunyi dibalik pohon bersama faery yang mengawalnya. Ia menyaksikan apa yang dilakukan faery terhadap gadis itu. Ia melangkah hendak menyelamatkan gadis itu, tetapi lengannya dicegat oleh faery pengawalnya.

“Jangan ceroboh! Kau tidak ingin ketahuan menyamar sebagai manusia kan? Ketahuan, berarti kau harus siap mati. Itu hukum faery!” ucapnya memperingati. Fredi kembali bersembunyi, dan melihat faery-faery itu terbang entah kemana.

“Tunggu, aku akan memastikan mereka benar-benar pergi.”

Setelah mendapat pertanda dari pengawalnya, Fredi berlari menggapai tubuh gadis itu dan memeluknya. Ia tahu, bahwa kekuatannya mampu mencairkan kebekuan tubuh gadis itu. Ia adalah anak dari Raja Musim Panas—faery musim panas.

***

Chloe membuka matanya perlahan, dan tak menyangka jika ia berada dalam pelukan laki-laki yang tidak dikenalnya. Ia merasa tubuhnya menghangat. Ia menghirup bau bunga matahari dari tubuh laki- laki itu, dan mulai berpikir aneh lagi.

“Kau sudah sadar?” tanyanya sambil melepas pelukan pada Chloe. Ia terdiam beberapa saat, dan menyadari bahwa laki-laki itu adalah pelayan kafe yang dimasukinya. Tiba-tiba ia teringat tentang faery yang menyentuh pipinya.

“Apakah kau...” ucapannya menggantung saat laki-laki itu tiba-tiba memakaikan mantel yang ia kenakan pada Chloe.

“Sebaiknya aku antar kau pulang. Nanti kita bicarakan, bagaimana?” ucapnya. Chloe mengangguk, dan berjalan bersamanya menuju rumah. Fredi meraihnya tangannya, dan mengenggam tangannya.

“Kau kedinginan, biarkan aku melakukan ini.” ucapnya mempererat genggamannya.

***


“Baiklah, kau harus menjelaskan semua ini kepadaku. Kenapa kau menyamar menjadi manusia? Bukankah hal itu terlarang?” Chloe bertanya lebih dahulu ketika berada di rumahnya.

“Apa salah seorang keluargamu petinggi faery?“ tanya Fredi to the point tanpa mempedulikan pertanyaan Chloe.

“Hah? Bagaimana... kau tahu? Kau mematai-mataiku? Kau juga tahu ibuku Ratu Musim Gugur?” jawab Chloe gugup. Chloe berdiri dari kursinya, dan mengisyaratkan agar laki-laki itu keluar dari rumahnya.

“Tunggu, Ratu Musim Gugur?” tanya Fredi tak menyangka. Ternyata ia berada di tempat yang benar. Tujuannya ke bumi adalah mencari keberadaan Ratu Musim Gugur. Saat Raja Musim Dingin mengambil liontin Petinggi Musim, Ratu Musim Gugur kembali ke tempatnya yaitu bumi. Ia telah menikah dengan manusia yang menyebabkan tempat kembalinya adalah dunia manusia, sedangkan petinggi yang lainnya tetap di dunia faery.

“Aku butuh ibumu. Aku tahu cara untuk membangunkannya.” ucapnya sungguh-sungguh.

***


message 27: by Rifani (new)

Rifani Magrissa (RifaniMagrissa) | 16 comments Tiga bulan yang lalu...

“Aku akan mendapatkannya. Aku akan menguasai dunia.” ucap Raja Musim Dingin. Ia tersenyum licik pada tiga orang Petinggi Musim.

“Kau penghianat!” teriak Raja Musim Panas.
Ketiga Petinggi Musim telah disandra oleh Raja Musim Dingin. Ia berniat menguasai dunia dengan kekuatannya. Ia berjalan mendekati Ratu Musim Gugur, dan membelai pipinya.

“Ternyata, kau masih secantik yang dulu. Sayang, aku tak mampu memilikimu.” ucapnya berpura-pura sedih.

“Diam kau! Apa tidak puas membunuh suamiku?” sergahnya marah.

“Oh tidak! Aku belum puas sebelum melihatmu hancur, termasuk putrimu.” ucapnya dengan tatapan tajam.

“Jangan pernah menyentuhnya!!” larangnya dengan berteriak.

“Siapa kau? Kau dan dua raja di sini, berada dalam cengkramanku. Apa yang bisa kau lakukan? Menyihirku? Hahaha, bahkan kau sendiri tak mampu bergerak. Sungguh, kau melukai hatiku.” ucapnya lagi.

“Ah, sepertinya aku banyak bermain-main dengan kalian.” sambungnya. Ia berjalan mendekat, dan merenggut liontin permata dengan lambang daun di lehernya. Detik itu juga, sekujur tubuh Ratu Musim Gugur membeku dan menghilang dari tempat itu.

“Apa kau sudah gila!!!!” teriak Raja Musim Panas.

“Apa? Kau akan ikut mati.” ucapnya sekaligus merenggut liontin berlambang bunga matahari dan tulip.

***

“Kau hanya perlu berjalan di belakangku.” suruh Fredi. Mereka memulai pencarian liontin untuk menghidupkan petinggi-petinggi itu kembali.

“Apa kau yakin ada di sini?” tanyanya ragu. Chloe melihat dua gundukan es yang terletak berseberangan dengannya.

“Jejak perjalanan ibumu mengatakan liontin itu digantung di sini. Gundukan itu.. aku rasa adalah Raja Musim Panas dan Musim Semi. Tunggu.. apa kau melihatnya?” tanyanya. Fredi menunjuk ke arah kawah yang berada dibawah tempat itu.

“Astaga.. bagaimana bisa kita?” Tiga liontin itu tergantung di atas kawah kematian. Kawah kematian adalah tempat membunuh para penghianat faery. Tidak ada yang dapat selamat apabila jatuh ke sana. Fredi telah melangkah mantap, dan detik berikutnya ia telah berubah menjadi faery. Tetapi langkahnya terhalang dikarenakan kurang lebih dua puluh faery tiba-tiba menghadangnya.

“Chloe.. pergi dari sini!” teriaknya. Chloe panik, dan kesulitan untuk keluar. Ia ketakutan, karena banyak faery juga ikut menghadangnya. Faery-faery mendekat padanya, menyentuhnya. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia tidak memiliki kekuatan sedikitpun.

“Chloe.. lari! Jangan hiraukan mereka!” teriak Fredi lagi. Ia berusaha untuk melawan semua faery yang menghadangnya. Ia tidak berniat mengambil liontin itu sekarang, ia ingin berlari pada gadis itu. Namun, jumlah faery semakin banyak mengemung sisinya. Ia tetap melawan mereka semua, sambil melihat Chloe yang berlari menjauh dari tempat itu. Ada sedikit kelegaan baginya karena faery-faery tidak mengikutinya. Tetapi Raja Musim Dingin muncul tiba-tiba, dan melumpuhkan gadis itu dengan serangan salju raksasa. Gadis itu tak berdaya, dan kulitnya memutih layaknya mayat dengan darah segar keluar mulutnya.

“Chloe!!!” teriak Fredi. Tubuhnya tiba-tiba panas, dan membuat ia bertindak tanpa berpikir lagi. Amarahnya telah tiba dititik tertinggi. Ia hanya ingin mengejar gadis itu. Tidak seharusnya gadis itu berada di sini, bersamanya. Harusnya ia melarang gadis itu untuk datang ke sini. Ini salahnya.

***

Chloe menggandeng ibunya keluar rumah. Ia tersenyum melihat ibunya telah sadar. Fredi berhasil menggambil liontin Petinggi Musim, dan membunuh Raja Musim Dingin dengan memasukkannya ke dalam kawah kematian. Satu minggu yang lalu, ia pergi ke dunia faery bersama ibunya untuk menghadiri penobatan Raja Musim Dingin yang baru. Tetapi, ia takkan pernah berjumpa dengan Fredi—laki-laki yang memberikan nyawa untuknya.

Ia menghirup udara di musim semi pertama sejak tiga tahun terakhir ini. Ia kini merasakan tubuhnya berbau bunga matahari seperti Fredi. Ia memegang liontin itu, dan tersenyum lirih. Tubuhnya menghangat oleh liontin itu. Chloe merindukan faery itu—Fredi.

***

#TAMAT


message 28: by Ameru (last edited Jan 12, 2014 12:28PM) (new)

Ameru (ameruu) | 33 comments Aku dan kamu, keluarga

“Apa kau roh?”

“Bukan.”

“Lalu, kau apa?”

“Aku iblis.”

…itu adalah pertemuanku yang pertama dengan Zetsu, keturunan Dewa Kematian.

***

“Jadi selama ini kamu bisa melihat kami dan tidak ketakutan?” Zetsu melayang di atas sofa sambil menonton tayangan komedi dinamik duo di TV.

“Um,” jawabku singkat. Pertanyaan yang selalu ditanyakan berulang kali sambil lalu. Tanganku sibuk menggoreng daging dan memasukkan bumbu. Aku senang memasak sendiri makanan yang kumakan karena selain menyehatkan, bisa menghangatkan hati juga jika dimakan. Mengalahkan makanan instan dari minimarket. Zetsu tiba-tiba tertawa kencang melihat lawakan dari pembawa acara TV. Aku bingung mengapa ada iblis yang suka komedi. Mungkin neraka tempat yang membosankan, makanya Zetsu senang menghabiskan waktu di rumahku.

Sudah seminggu setelah pertemuan aneh dengan Zetsu di pemakaman Gortbon. Salahku, kukira dia adalah salah satu orang yang mengunjungi pemakaman pada hari itu dan memarahinya karena duduk di salah satu nisan dengan muka arogan. Sebagai orang yang dapat melihat makhluk dari dunia lain, kadang aku tidak bisa membedakan mana yang manusia dan mana yang roh karena terlalu terbiasa. Kadang ‘mereka’ mengambil penampilan yang sama dengan manusia. Entah apa maksudnya. Untuk bersenang-senang?

“Zetsu, apa kau tidak rindu rumah? Err, maksudku…”

“Huwahahaha. Pertanyaanmu lucu.” Tiba-tiba iblis lelaki itu muncul di belakang dan membuka kulkas. Aku hampir membalikkan wajan saking kagetnya. “Hei, kau tidak punya cola?” Zetsu menggaruk dagunya tampak berpikir.

“Iblis macam apa yang suka cola, heh. Hahaha. Bagaimana kalau jus? Di rak kedua ada jus jeruk.” Aku mematikan kompor dan melihat Zetsu mengambil gelas, 2 gelas. “Hei, sekalian ambilkan piring untuk teriyakinya,” mintaku sembari membereskan alat-alat masak lain ke tempat cuci piring.

“Yang mana? Yang besar atau yang kecil?”

Aku menyadari bahwa peralatan makan sudah ditata di atas meja makan, tepat di depanku. Piring, gelas, teko jus jeruk, sendok, dan aku tersenyum sesaat karenanya. “Yang besar. Rak atas.” Aneh memang, Zetsu bergerak di dalam rumah ini dengan luwes. Seolah dia sudah tinggal sangat lama denganku.

Entah kenapa, jantungku berdegup sekali gara-gara pemikiran barusan dan pipiku memanas. Cepat-cepat aku menggelengkan kepala.

Zetsu menyodorkan piring dengan motif bunga, “kau kenapa? Ada nyamuk?”

Hah?

“Ti-tidak.” Aku buru-buru mengisi piring dengan daging teriyaki.

Pikiran konyol! Apa yang kupikirkan sih. Lupakan, lupakan.

Aku memberikan piring tadi ke Zetsu yang langsung berteleport (dia menghilang dan muncul lagi kemudian dalam sekejap, aku tidak tahu harus memanggil kemampuannya itu apa) ke meja makan. Badanku bergerak cepat memindahkan salad dan sup ke atas meja makan. Zetsu sudah duduk duluan, menungguku untuk selesai meletakkan makanan.

“Mari kita berdoa,” katanya.

Sungguh lucu. Saat pertama kali Zetsu melakukan itu ketika kami makan, aku sampai terbengong-bengong dibuatnya. Doanya pun unik.

“Terima kasih, Papa, tidak membuatku dan Paulie kelaparan hari ini. Jangan membuat kami tersedak. Amin.”

Kan? Haha.

Kami makan dalam diam, sesekali suara TV memecah kesunyian. Tumben, biasanya Zetsu sudah berbicara panjang lebar. Dia itu iblis yang cerewet.

“Paulie,” Zetsu tiba-tiba berhenti makan. “Pertanyaanmu soal rumah barusan…” Pemuda iblis itu tampak ragu.

“Eh, maaf. Apa aku menyinggungmu? Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya penasaran.” Aku berujar dengan cepat, takut Zetsu merasa tidak enak.

“Aku senang kau ada di sini, Zetsu. Aku tidak keberatan kau berada di rumah ini. Kau sudah menemaniku. Selama ini aku selalu kesepian sendirian di rumah ini, sejak orangtuaku meninggal ketika aku SMA. Lalu kau tiba-tiba muncul dan selalu berada di sini. Aku bersyukur. Sungguh, aku bersyukur kau ada di sini. Hehehe.”

Aku hampir meneteskan air mata, mataku berkaca-kaca. Sejak kecelakaan yang menewaskan ibu dan ayah, aku selalu kesepian. Rumah hanya jadi tempat untuk tidur dan singgah sebentar. Aku selalu kalut saat pulang ke rumah dan mendapati ruangan yang kosong dan gelap. Tapi seminggu ini, setiap hari selalu kuhabiskan di rumah jika tidak ada kuliah dan kerja part time. Entah kenapa aku merasa nyaman bersama Zetsu. Aku selalu menanti-nanti saat pulang ke rumah sekarang. Dan setiap melihat Zetsu, hatiku hangat. Aku kini punya seseorang yang menungguku pulang.

Kami sama-sama terdiam.

Lalu Zetsu memecah keheningan. “HAHAHAHA, dasar bodoh. Kurasa karena masakanmu enak-enak, jadi aku malas pulang ke rumah. Lagipula, mana ada teriyaki di neraka coba. Mereka cuma bisa memasak mie instan. Mie instan! Percaya padaku. Aku juga heran.” Lagi-lagi Zetsu menggaruk dagu, ciri khas ketika dia berpikir.

“Mungkin karena ada petunjuk cara memasaknya,” kataku singkat sambil menyendok salad ke piring dan meringis geli.

“Hahaha. Betul-betul.”

Kami lagi-lagi terdiam.

“Hei, terima kasih sudah memuji masakanku.” Aku tersenyum padanya. Aneh, pipi Zetsu memerah. “Hei! Pipimu merona! Hahaha! Kau ternyata bisa merona juga.”

Zetsu mendengus dan berkata dengan suara keras. “Hei, aku normal tahu. Kamu pikir aku tidak bisa merona? Kamu pikir aku apa?” Zetsu melempar kubis ke kepalaku, yang kutangkis dengan tanganku yang bebas.

“Kamu membuang-buang makanaaan. Rasakaaan!” Aku mengayunkan-ayunkan sendok, Zetsu melayang-layang menghindar sambil terbahak.

Kami bermain-main sebentar, lalu melanjutkan makan. Berbicara mengenai apapun yang terpikirkan oleh kami. Aku memandang Zetsu yang tertawa-tawa sedang bercerita soal sepupunya waktu kecil yang gendut gara-gara sering mencuri kue dari toko manusia.

Bibirku tersenyum, berpikir bahwa ada tambahan satu orang lagi di rumah itu membawa perbedaan yang amat besar. Aku bahagia. Hatiku hangat.

Ini, yang namanya keluarga.

Fin.


back to top