Kastil Fantasi discussion

93 views
CerBul > [Lomba] CerBul KasFan (November '13)

Comments Showing 1-30 of 30 (30 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Magdalena Amanda, Momod Usil (last edited Nov 16, 2013 06:00AM) (new)

Magdalena Amanda | 2330 comments Mod
Berjumpa lagi dengan Momod Usil, rawr!

“Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi – Edisi November 2013”

Lomba CerBul diadakan sebagai ajang latihan, eksperimen, sekaligus unjuk kreativitas, bagi teman-teman yang suka menulis atau pengen juga coba-coba mulai menulis. Lomba ini diadakan setiap bulan, dengan tema yang berbeda-beda.
Lombanya santai-santai aja, gak perlu saling jotos atau gigit-gigitan, meskipun lempar-melempar cabe masih diperbolehkan dan memberi masukan/saran untuk perkembangan teknik menulis tentunya sangat dianjurkan.

Dan sebagai bonusnya, setiap bulan akan diberikan poin untuk para peserta yang nantinya dapat ditukarkan dengan hadiah buku pilihan. :)
Tentang poin dan hadiah buku, baca keterangannya di: sini.

Aturan main umumnya:

1) Cerita yang disertakan harus mengandung unsur fantasi/science fiction.

2) Penjiplakan karya orang lain dilarang keras.

3) Setiap peserta hanya boleh menyertakan satu entri cerita. Semua cerita di-post sendiri oleh penulisnya di topik ini. Entri-nya boleh juga di-post di tempat lain (misalnya di blog pribadi), namun diharapkan menyertakan juga keterangan dan link kalau ceritanya sedang dilombakan di sini (grup Kastil Fantasi).

4) Panjang cerita maksimal dua post, yang harus di-post secara berurutan. Tidak ada panjang minimal. Sebagai info, maksimal karakter (termasuk spasi) dalam satu post di Goodreads adalah 12.000 karakter. Perlu diperhatikan kalau panjang karakter di software (MSWord, dll) dan Goodreads bisa berbeda, misalnya saja tulisan dengan huruf miring/italic memakai kode HTML yang menghabiskan tujuh karakter lagi (untuk masing-masing bagian yang di-italic).

5) Cerita ditulis menggunakan tata bahasa yang baik. Tidak diperkenankan memakai bahasa singkat-singkat ala SMS, apalagi bahasa alay.

6) Semua cerita yang di-post akan tetap menjadi milik peserta. Bila ingin dikembangkan lebih jauh/serius (misalnya dibuat novel) atau dilombakan ke tempat lain, silakan saja.

7) Pengomentaran cerita tidak dilakukan di topik soal ini, melainkan di topik komentar.
Apabila ada yang menulis komentar di sini, komentarnya akan dihapus oleh moderator. Kedua topik dipisah demi alasan kerapihan.

8) Bila ada pertanyaan, bisa langsung dilayangkan ke topik komentar.

======

Rawr, baiklah, berhubung belakangan ini sedang ngetren tema berlatar belakang "seorang anak perempuan/gadis spesial"

Elizabeth-nya Bioshock Infinite, Ellie-nya The Last of Us, Kaname Madoka-nya Puella Magi Madoka Magica (MOVIE 3-NYA UDAH KELUAR DAN KATANYA DIDAFTARIN SEBAGAI CALON NOMINASI OSCAR LHO GUYS *gak nyante bin oot dot kom*), hingga yang baru premiere kemarin di bioskop Carrie

maka soal Cerbul kali ini--dasar ModUs hobinya kebawa tren--adalah:

Buatlah sebuah cerita dengan tokoh anak perempuan usia 5-16 tahun yang memiliki sesuatu yang spesial/istimewa

Spesial dan istimewa di sini sebenarnya seperti contoh2 yang saya jabarkan pake hiasan strikethrough di atas, rawr. Buat yang gak main/nonton/baca, dijabarkan dikit deh:

- Elizabeth: dapat membuka "Tear" yang menghubungkan dunia tempatnya berada dengan alternate universe

- Ellie: kebal terhadap wabah spora jamur zombie

- Kaname Madoka: protagonis anime bertema mahou shoujo*, tapi sampe 3/4 perjalanan menuju tamat belum bisa berubah jadi mahou shoujo (iya, ini termasuk "spesial/istimewa", rawr)

*mahou shoujo: genre per-Sailormoon-an ato per-Wedding-Peach-an ato per-Cardcaptor-Sakura-an ato per-PreCure-an

- Carrie: punya kemampuan telekinesis

Harap diingat bahwa pengertian "spesial/istimewa" di sini tidak selalu bersifat positif, rawr. Bisa saja sebenarnya sang anak perempuan itu pengidap autisme atau kelainan lainnya.

Anak perempuan "spesial/istimewa" ini tidak harus menjadi protagonis. Bisa juga sebagai tritagonis atau malah antagonis, tapi dia harus terlibat dalam konflik cerita, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Karakter anak perempuan ini bahkan tidak diwajibkan masih hidup ketika terjadinya cerita, rawr. :P

Gampang kaaaaaan? Gampang kaaan? :D :D :D

Hadiahnya:
Untuk pemenang pertama akan mendapatkan 6 poin dan untuk pemenang lainnya akan mendapatkan 3 poin. Seperti biasa, yang dipilih 5 cerita terbaik, rawr.

Untuk kegunaan poin cerbul, cek di sini.

Timeline lomba, rawr:

Posting cerita: 16 November 2013 - 10 Desember 2013
Penjurian: 11 Desember - 24 Desember 2013
Pengumuman: 25 Desember 2013

Selamat menulis, rawr~

Hehe.


message 2: by Magdalena Amanda, Momod Usil (last edited Dec 12, 2013 07:32AM) (new)

Magdalena Amanda | 2330 comments Mod
Kosongin buat list cerita, rawr.

1. PERTAMAX oleh Erwin Adriansyah

2. Wabah Penyihir oleh Kappa145

3. DARURAT RIMBA oleh Hasan Irsyad

4. Goo~ oleh Fachrul R.U.N

5. Arabian Nights oleh Dini Afiandri

6. Andara oleh Ian Hikari

7. NANTI oleh Dian

8. LAST MISSING WOMAN oleh throller

9. Jan, Piotr, dan Kazimir oleh Han Asra

10. Myohyang oleh Narita

11. You Must be Special Kind of-- oleh Closer2you

12. Great Power Doesn't Come Without Consequences oleh Khalda

13. Pria di Perempatan oleh Biondy

14. Perjanjian Aniel oleh Redtailqueen

15. Kenangan Waktu Berjalan oleh Anindito Alfaristi


--Last Minute Stories, sayangnya tetep gak masuk penilaian, rawr--

Utahime Rhapsody oleh Ivan

RAMUAN QUATOSCA oleh Shelly

Hehe.


message 3: by Erwin (last edited Nov 16, 2013 03:21PM) (new)

Erwin Adriansyah | 634 comments Tuhan kami adalah Api, bara suci yang menyala abadi.

Tuhan kami adalah Angkara, amarah murni yang membumihanguskan segala.

Tuhan kami … meminta anak kami.

Kami adalah abdi-Nya paling setia. Kami terima zat-Nya, kami imani sabda-Nya, kami bakar mereka yang menolak-Nya.

Kami simpan rahasia-Nya.

Tapi Dia meminta satu-satunya keturunan kami sebagai tanda bakti. Kami menolak dan diberi-Nya penyakit kepada putri kami. Kami memohon, mengiba, meminta belas kasih-Nya, mengingatkan budi dan jasa kami terhadap-Nya.

Namun Dia tertawa, jemawa bahwa kami kecil belaka di hadapan-Nya. Dan setelah dibuat-Nya putri kami menderita, diambillah napasnya oleh-Nya.

Belum puas, disuruh-Nya kami membakarnya karena menurut agama kami, Api memurnikan segala, termasuk mereka yang berpulang.

Tapi tidak putri kami. Dia telah mengambil hayatnya, pantang kami persembahkan jasadnya.

Akan kami tanam putri kami ke dalam perut bumi, biarkan dia memberi kehidupan bagi yang lain.

Sekarang kami masuk ke lubang itu, liang sempit yang dalamnya bahkan melebihi tinggi badan kami berdua. Kami mendongak, melihat betapa langit tampak kecil nun jauh di atas sana. Tidak mengapa, di sini, dia akan aman dari Tuhan kami.

Kami ulurkan lengan kami dan mereka, sanak terdekat kami, menurunkan bungkusan mungil itu. Kami sambut dia dengan isak tangis, kami peluk cium dia, dan kami baringkan dia di pangkuan ibu pertiwi.

Terpikir oleh kami untuk rebah di sini menemaninya, biarkan mereka mengubur kami dan melupakan segenap persoalan sial ini.

Tapi tidak … tidak sekarang … mungkin nanti ….

Untuk terakhir kalinya, kami kecup keningnya, katakan betapa kami menyayanginya.

Lalu kami sambut uluran lengan mereka yang angkat kami ke atas. Sepasang sekop menyambut kami. Penuh lara, kami tuangkan tanah ke dalam liang itu. Ulangi terus sampai yang tersisa hanya sepetak lahan gembur.

Selesai, kami berpaling, melangkah, dan mereka mengikuti kami. Mereka. Sebagian adalah keluarga. Banyak pula yang bersumpah setia jauh sebelum bersaksi atas nama-Nya. Segelintir cuma ingin kekacauan dan kehancuran.

Tidak mengapa, kami terima semua. Semakin banyak semakin baik, biar derap kami getarkan buana, ciutkan nyali-Nya. Dan bagaimana tidak?

Kami tahu rahasianya. Ya, ‘-nya’, ‘n’ kecil. Dia bukan Tuhan. Perkasa, agung, bukan Tuhan. Apa pun dia, kami akan meringkusnya, lalu kami aniaya sebagaimana dia menganiaya anak kami. Dan bila telah hilang kenikmatan kami menyiksanya, akan kami habisi dia.

Kenapa? Karena putri kami.

Lima tahun usianya ketika dihembuskannya napas penghabisannya. Lucu, cerdas, cantik, dialah dunia kami. Mungkin banyak anak yang jauh lebih unggul segala-galanya dengan berbagai kemampuan istimewa mereka, tapi dia putri kami, kebanggaan kami, kebahagiaan kami … dan sekarang … angkara kami.

Akan kami balaskan dendamnya, habis perkara!


message 4: by Kappa145 (new)

Kappa145 | 34 comments Wabah Penyihir


Intinya pada ketepatan waktu.

Demikian yang berkali-kali ditekankan para Instruktur di pusat pelatihan.

Idealnya, jarak antara tembakan pertama, yang berfungsi menetralisir F-Field, dan tembakan kedua, yang bertujuan melumpuhkan target, tak boleh lebih dari setengah detik. Karena lebih dari itu, perisai tak terlihat yang secara otomatis melindungi target dari serangan akan kembali terbentuk dan membuat tembakan kedua jadi sia-sia.

Begitu teorinya.

Dan pagi ini, untuk pertama kalinya, Duran menyadari ada jurang, yang sangat lebar, yang memisahkan teori dalam latihan, dengan fakta di lapangan.

Itu, ketika lima dari mereka, hampir setengah dari seluruh anggota kompi yang berjumlah dua belas orang, menjadi korban; Lebih dahulu tewas mengenaskan, sebelum mereka berhasil melumpuhkan dua [Pemburu] yang jadi target mereka.

Pun demikian, saat siangnya mereka kembali ke [Koloni] dengan wajah muram, kehilangan kebanggaan dan kepercayaan diri, Kapten Morgan, lelaki jangkung dan tegap, berambut kelabu panjang, berusia enam puluhan tahun, yang menjadi kepala kesatuan mereka, yang biasanya tegas dan keras, justru menyambut mereka dengan senyum ramah penuh pengertian, sambil bergantian memeluk mereka satu persatu, penuh kasih, hampir-hampir seperti seorang ayah, membiarkan mereka menangis emosional dalam prosesnya.

"Bagaimanapun juga," katanya, "Aku senang kalian kembali dengan selamat. Beristirahatlah. Nanti malam, akan ada upacara: untuk mereka yang gugur, juga untuk mereka yang tetap berdiri."


Dengan gontai, Duran melangkah, menyusuri lorong-lorong dingin dan gelap kembali ke kabinnya.

Ia ingat, beberapa orang yang berpapasan dengannya, sama mengucapkan selamat, sekaligus bela sungkawa, tapi pikirannya terlalu kusut untuk mengenali orang-orang itu ataupun menanggapi ucapan mereka.

Ia juga samar-samar ingat, kurang lebih setahun yang lalu, di lorong yang sama, saat masih seorang kadet, ia pernah bertemu dengan seorang [Ksatria] yang baru saja kembali dari misi pertamanya. Lelaki itu, sama sekali tak menyahut, saat ia, dengan penuh penghormatan, memberi salam dan ucapan selamat padanya. Alih-alih, sang [Ksatria] hanya balik menatapnya tajam dengan ekspresi wajah muram dan sinis.

Mungkin... sama seperti ekspresi wajahnya saat ini.


Sesaat kemudian, langkah Duran terhenti.

Di depan kabinnya, dua orang pria berseragam staff sipil(?), rupanya telah menunggunya beberapa lama.

Keduanya tidak lebih jangkung dari pada Duran, juga tidak lebih tegap ataupun kuat. Tapi sejujurnya, saat pertama kali melihat mereka tadi, sempat terlintas dalam pikiran Duran, keinginan untuk berbalik lalu berlari menjauh.

Lelaki yang lebih jangkung, malu-malu, menyapanya, sambil sekuat tenaga memegangi pundak kawannya yang lebih pendek, yang memilih tidak mengatakan apa-apa, menggigit bibir, dengan wajah merah padam menahan emosi, dengan mata berkaca-kaca

Duran melangkah.

"Kau..."

Lalu melangkah lagi.

"Kau bilang akan melindunginya..."

Duran membuka mulutnya. Tapi apa yang bisa ia katakan?

"Kau berjanji padaku!"

Satu langkah lagi, dan...

Sependar rasa sakit menyengat wajahnya, saat lelaki yang lebih pendek, tiba-tiba saja melepaskan diri dari pegangan sang kawan lalu melompat meninjunya.

"Arthur !" Seru sang kawan terkejut, "Kau tahu sendiri kan apa yang terjadi? Kau tak bisa menyalahkan Duran atas kematian Kai!"

Tapi Arthur yang benar-benar sedang emosional sama sekali tak mau mendengarkan. "Aku... Aku sungguh-sungguh membencimu...," gumamnya sebelum berlari pergi.

"Kau tak apa-apa?"

Duran mengedipkan matanya saat sang kawan meletakkan telapak tangannya di pipinya. Apa yang baru saja terjadi, sesaat membuatnya kehilangan orientasi pada realita.

Dan yang lebih menyakitkan daripada pukulan Arthur adalah senyuman di wajah sang kawan.

Tanpa sadar, sekali lagi air mata mengalir di pipi Duran.

"Ja-Jangan... Jangan menangis." kata sang kawan terbata-bata. Tapi saat ia mengatakan hal itu kedua matanya pun mulai berkaca-kaca.

Sesaat Duran ragu, tapi akhirnya, dengan lembut ia menarik sang kawan ke dalam pelukannya, di mana ia bisa sepuasnya menangis menumpahkan emosinya.

"Mengapa?"

"Maafkan aku."

"Mengapa kau membiarkan Kai mati?"

"Maafkan aku."

"Kau sudah berjanji!"

"Maafkan aku... Gill."

***

Tempat itu (dan juga beberapa tempat lain sejenis di seluruh penjuru dunia) mulai dibangun lebih dari tiga abad yang lalu, di penghujung abad ke-20, pada saat perang dunia ke-2 berlangsung. Pembangunannya sempat dihentikan beberapa lama, sebelum kemudian dilanjutkan kembali ketika perang dingin antara dua negara adidaya mencapai puncaknya dan sempat memunculkan kekhawatiran akan bencana yang mungkin timbul akibat penggunaan senjata nuklir.

Pembangunannya masih terus dilakukan bahkan setelah perang dingin berakhir dan berkembang pesat seiring kemajuan teknologi.

Ancamannya boleh berubah, tapi tujuannya tetap sama: Sebagai kompleks kota bawah tanah masa depan, tempat berlindung dan bersembunyi, saat situasi di permukaan tak lagi bersahabat.

Seperti yang akhirnya terjadi sekitar satu abad yang lalu.


***

Jacob menarik napas panjang.

Meskipun sudah berulang kali memimpin upacara semacam ini... tetap saja ia tak pernah benar-benar bisa terbiasa dengannya.

Mungkin karena ia bukan seorang [Ksatria].

Mungkin karena kromosom X dalam gennya.

Mungkin juga karena kesadaran bahwa sebagian besar mereka yang hadir pada upacara nanti adalah juga [anak]-nya sendiri.

"Kau baik-baik saja Ayah?"

Jacob menoleh. Dari seberang ruangan Hans menatapnya dengan ekspresi wajah muram. Sambil tersenyum, ia mengangkat sebelah tangannya sebagai isyarat bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan.

"Tolong tinggalkan aku sebentar," katanya, "aku ingin berbicara dengan [Ibu] kita."

Seperti biasanya.

Hans membungkukkan badannya. Tapi sebelum berbalik pergi, dengan malu-malu lelaki berusia tiga puluhan tahun itu berkata, "Mohon maaf Ayah... tapi kalau kau tak keberatan... tolong sampaikan salamku pada [Ibu]."

Jacob tersenyum lalu mengangguk.

Setelah Hans pergi, lelaki tua itu berjalan ke bilik kecil yang hampir-hampir tersembunyi di sudut ruangan.

Di sana ia berlutut.

Sesaat gelap.

Lalu sistem proyeksi tiga dimensi membawanya pergi dari realita.

Ia seolah-olah berada di dalam air.

Melayang di hadapannya sesosok gadis yang dari penampilannya tampak seperti seseorang berusia belasan tahun.

Gadis itu tertidur dan akan selalu tertidur.

Kedua matanya terpejam.

Rambutnya yang hitam panjang terus saja tumbuh dari tahun ke tahun.

Wajahnya... Jacob tak pernah sanggup berlama-lama menatapnya.

"Bagaimana kabarmu [Ibu]?" bisiknya. "Hari ini, sekali lagi, aku yang tak berguna ini akan memimpin upacara... untuk mereka yang gugur... untuk mereka yang tetap berdiri..."

Ia diam sejenak, "... untuk anak-anak kita."

***

Terjadi begitu saja.

Bermula di sebuah negara kepulauan kecil di pasifik, apa yang di kemudian hari disebut [Witch Syndrome]--[Wabah Penyihir], dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia.

***

Beberapa hari berlalu sejak upacara malam itu. Siang ini pun Duran menghabiskan waktunya duduk-duduk, setengah berpikir, setengah melamun, di taman kota.

Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali ia dan yang lain bersantai di sana.

Sungguh tempat yang nyaman sebenarnya. Luas dan lapang; Menggunakan teknologi proyeksi tiga dimensi dan sinar matahari buatan, juga sistem ventilasi untuk mensimulasikan hembusan angin, taman itu di desain sedemikian rupa, dengan pepohonan yang rimbun dan beberapa kolam air mancur, untuk sedekat mungkin menyerupai kondisi di permukaan bumi. Konon, hal itu dimaksudkan agar mereka yang lahir kemudian di bawah tanah--[New Born], bisa menghargai, bisa mencintai, bisa mengetahui, bagaimana kehidupan manusia, ayah-ayah mereka, di masa lalu.

Duran mengangkat kepalanya. Di lapangan, beberapa bocah sama berlarian, berkejar-kejaran, tertawa riang gembira, sementara sang pengasuh, di pinggir lapangan, sambil tersenyum penuh kasih sayang, sesekali berseru agar mereka berhati-hati.

Rasanya sudah lama sekali.

"Kau lama menunggu?"

Duran menoleh lalu tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya, lalu mempersilakan Gill duduk di sampingnya. Sampai beberapa lama, mereka berdua duduk dalam diam, menikmati sinar mentari, kicau burung, dan angin sepoi, sambil tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.

"Bagaimana kabar Arthur?" tanya Duran.

"Masih diam," jawab Gill, "ia tak mau membicarakannya. Mungkin untuk melarikan diri dari kenyataan, ia menghabiskan lebih banyak waktunya untuk bekerja... tapi kadang saat sedang sendirian..."

Duran mengangguk.

"Kuharap kau mau mengerti... Arthur sungguh menyayangi Kai."

"Begitu juga denganmu, kan?"

Gill tak menjawab.

Sekali lagi hening, lalu...

"Aku...," kata mereka bersamaan. Keduanya saling berpandangan lalu tertawa kecil.

"Aku membuat ini tadi pagi," kata Gill ceria. Ia menyodorkan sebuah keranjang kecil penuh berisi sandwich pada Duran, "sederhana memang, tapi kurasa cukup lezat."

"Umm terima kasih banyak," jawab Duran. Ia mengambil sepotong lalu dengan lahap memakannya.

"Bagaimana?"

"Ummu, enak kok. Kau semakin jago saja."

Gill kembali tertawa. "Jadi apa yang ingin kau katakan?"

Duran menarik napas panjang.

"Dua hari lagi. Aku... kami akan kembali bertugas."

"..."

***


message 5: by Kappa145 (new)

Kappa145 | 34 comments Beberapa tahun berlalu sejak [Wabah Penyihir] muncul lalu menyebar ke seluruh penjuru dunia. Mereka yang bersembunyi di bawah tanah mulai putus asa.

Bukan karena kekurangan sandang dan pangan, tapi karena belum adanya kepastian akan masa depan mereka. Tapi pada akhirnya, sekali lagi manusia membuktikan bahwa mereka adalah makhluk yang tahan banting dan sulit untuk dimusnahkan. Keunggulan yang justru semakin bersinar di tengah krisis yang mengancam.

Solusi pertama yang diajukan dan diuji coba adalah [Keabadian]. Tapi hal itu ternyata bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Dari sepuluh ribu subjek pilihan yang ikut serta dalam program awal, tak sampai seratus individu yang berhasil melaluinya, mereka yang kelak akan memimpin koloni dan mendapat sebutan [Patriach].

Usulan berikutnya yang muncul untuk mengatasi kemungkinan kepunahan adalah dengan melakukan kloning secara massal, yang hampir saja dijalankan, seandainya para [Ksatria], dalam misi bunuh diri mereka ke permukaan, tidak berhasil kembali membawa lima subjek istimewa: para gadis yang kurang lebih kebal terhadap [Wabah Penyihir].


***

Ditemani Hans, Jacob meninggalkan kota yang dipimpinnya, menggunakan sebuah sistem kereta api bawah tanah, meluncur menuju kota suci Ymir, untuk menghadiri rapat akbar para [Patriach].

Agenda yang dibahas masih sama dan tampaknya masih tetap akan menghasilkan keputusan yang sama pula.

"Salam Jacob," kata Lucas sinis, "Selamat atas keberhasilan [Ksatria] barumu kali ini. Berapa rasionya? 53% eh? Setidaknya itu lebih dari setengah. [Ibu] pasti bangga padamu."

Wajah Jacob langsung berubah. Hans bahkan hampir-hampir tak bisa menahan dirinya; hampir lupa bahwa lelaki berwajah licik di hadapannya itu adalah seorang [Patriach] juga. Tapi belum sempat ia bergerak, ajudan Lucas sudah menodongkan sebuah revolver ke arahnya.

"Abaikan dia Jacob," potong Samuel penuh simpati, "Mari duduk di sebelahku dan membicarakan hal-hal yang lebih berguna."

Jacob menglah. Ia lalu duduk, dan, mengikuti saran Samuel, membahas tentang krisis energi yang mereka alami.

"Perlu ada regulasi," keluh Samuel, "tentang berapa jumlah [New Born] yang boleh 'dilahirkan' tiap tahunnya."

"Aku mengerti," kata Jacob, "itu masuk akal. Tapi tidakkah menurutmu itu adalah bentuk lain dari kemunduran? Tidakkah kau membaca [Sejarah]? Ayah-ayah kita dahulu pernah melakukan hal yang sama di atas sana. Membatasi jumlah kelahiran karena takut kekurangan makanan... padahal realitanya sama sekali tak begitu. Maafkan aku, tapi dalam hal ini aku sependapat dengan Lucas. Sudah lama kita berlindung. Sudah lama kita bersembunyi."

Samuel menggelengkan kepalanya. "Di depan jurang, saudaraku, satu langkah ke depan bukanlah kemajuan."

***

Normalnya, seorang pria akan memiliki pasangan kromosom XY dalam DNA-nya, sehingga pada setiap sel sperma yang dihasilkan memiliki kemungkinan mengandung potongan kromosom X atau kromosom Y.

Sebaliknya, seorang wanita, memiliki pasangan kromosom XX dalam DNA-nya. Itu berarti, pada setiap sel telur, pasti (kecuali pada kasus-kasus khusus) akan terdapat potongan satu kromosom X.

Itu membuktikan bahwa sel sperma lah yang akan menentukan jenis kelamin si bayi.

Tapi dalam kasus [Wabah Penyhir], terjadi semacam mutasi pada DNA wanita yang terjangkit; Dalam kasus umum, bukan hanya pada pasangan kromosom XX (yang kemudian menjadi Y.Y.), melainkan juga pada pasangan kromosom lainnya.

...


***

Sekali lagi, Duran dan para [Ksatria] lain naik ke permukaan.

Beberapa hari yang lalu, Rapat Akbar memutuskan bahwa koloni perintis harus mulai dibangun di permukaan tanah dan itu berarti para [Ksatria] harus memastikan bahwa area yang menjadi pilihan harus aman dari serangan para penyihir.

Banyak yang menganggap sinis keputusan itu tapi banyak juga yang mendukung.

Duran sendiri memutuskan untuk tidak ambil pusing. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menjalankan tugasnya sebagai seorang [Ksatria].

Itu... dan bertahan hidup sebisanya.

Ia tak ingin membuat Gill menangis lagi.

Ia juga tak ingin mati sebelum Arthur memaafkannya.

Sang [Pemburu] berlari ke arahnya.

Duran memicingkan matanya.

Buas dan kejam, makhluk, yang sosoknya sepintas menyerupai seorang wanita telanjang, berkulit kelabu, berambut keperakan, dengan mulut penuh taring, dan tiga pasang mata serangga di wajahnya itu, melompat ke arahnya.

Beberapa hari yang lalu, tak salah lagi, Duran pasti sudah mati seandainya berada dalam posisi tersebut. Tapi tidak hari ini...

Tepat ketika peluru pelumpuh F-Field yang ditembakkan sang rekan mengenai sasarannya dan menetralisir perisai pelindung sang [Pemburu], dengan sigap Duran mengayunkan belatinya yang begitu cepat dan laju memotong leher makhluk tersebut.

*** *** ***

Post Script: Menyusul... (udah capek) Umm mohon maaf saja kalau-kalau ada typo dan sejenisnya (-__-)


message 6: by Hasan (last edited Dec 03, 2013 06:11PM) (new)

Hasan Irsyad (ha_iy) | 190 comments DARURAT RIMBA

Inilah rapat akbar masyarakat rimba. Puluhan binatang dari berbagai spesies berkumpul di satu titik. Di tepi sungai, di tengah rimba yang pekat dengan pepohonan.

Masing-masing kelompok mengirim satu hingga dua perwakilannya dalam rapat ini. Rapat akbar yang membahas hal penting, darurat. Harimau, si raja hutan, memimpin langsung jalannya kegiatan.

“Auumm!!!”

Aumannya menandai dibukanya rapat akbar. Dengan berdiri di bawah pohon mahoni besar nan rindang, dia segera berseru pada rakyat belantaranya.

“Saudara-saudaraku! Mungkin sudah tidak perlu lagi saya kabarkan. Semua sudah mendengarnya. Tapi, saya di sini hanya ingin menegaskan kembali. Hutan kita sedang terancam.”

Sekitar semenit para hadirin ribut. Monyet dan lutung melompat-lompat sambil memekik di atas pohon mahoni. Burung-burung beragam jenis bercelometan dipohon sebelahnya, membicarakan seruan raja hutan barusan. Binatang-binatang kecil berbisik-bisik di balik kaki gajah yang besar. Kerbau, rusa, babi hutan, serigala, dan macan tutul pun ribut sendiri. Semuanya baru tenang kembali setelah buaya berteriak dari tepi sungai.

“Woy, diam! Kita kan sudah tahu tentang itu. Kita ke sini untuk menemukan jalan selamat bersama-sama, bukan meributkan hal yang sudah kita ketahui.”

Di belakangnya, ikan-ikan berlompatan membenarkan.

Setelah semuanya diam, raja hutan berseru kembali.

“Baiklah, siapa yang memiliki usulan pemecahan masalah kita?”

Gajah mengacungkan belalainya. Setelah dipersilahkan, dia menyampaikan usulnya. “Di sebelah hutan ini, masih ada hutan lain yang bahkan lebih lebat. Kita migrasi ke sana saja!”

Belum sedetik gajah menghentikan ucapan, lutung langsung menyahuti. “Kau pikir hutan di sana kosong? Mereka punya penghuni juga! Mana mau mereka berbagi wilayah dengan pendatang baru.”

Semua monyet dan sejenisnya mengiyakan ucapan binatang yang konon sepupu jauh mereka itu.

“Kita berperang saja!” serigala menyelonongkan teriakan. “Kita usir binatang di sana, kita duduki wilayahnya.”

“Dasar kau serigala berotak serigala!” caci rusa jantan.

Rusa betina menimpali, “Ya, aku tahu apa yang ada di dalam otakmu itu! Kau binatang pemakan bangkai. Tentu saja kau senang kalau ada banyak korban mati di peperangan. Kau bisa menggemukkan badanmu dan anak istrimu.”

“Hei kenapa kau menuduhku begitu?!” serigala tidak terima dengan perkataan dua rusa itu.

“Sudah!” bentak macan tutul tiba-tiba. “Tidak mungkin juga kita berperang dengan mereka. Aku pernah keasyikan berburu hingga tidak sadar sampai ke hutan sebelah. Asal kalian tahu, aku bertemu dengan harimau jantan besar yang lebih besar dari harimau terbesar di hutan ini.”

“Apa katamu, macan tutul?!” raja hutan merasa tersinggung dengan ucapan macan tutul. “Kau pikir aku akan kalah jika melawan harimau sebelah itu?”

Macan tutul tidak menjadi takut meski harimau menunjukkan wajah berang. “kau pikir kau hebat, harimau?” malah dia kelihatan menantang.

“Ternyata benar, dugaan saudara-saudaraku sesama harimau, kau ingin merebut kedudukanku sebagai raja hutan,” harimau makin berang. Dia maju mendekati macan tutul dengan gigi menggeram, siap menyerang.

“Kalau kalian teruskan, aku lempar kalian ke sungai, dan aku yang akan jadi raja hutan!” Di saat yang tepat, gajah berteriak, menghentikan pertengkaran yang terjadi.

Macan tutul beringsut mundur. Harimau kembali ke tempatnya semula. Mereka sadar seberapa kuat gajah. Dia bisa melakukan apa yang diucapkannya dengan mudah.

“Baiklah, bagaimana sekarang? Ada yang punya usul lagi?” harimau kembali melanjutkan rapat yang sejenak tadi terhenti.

“Kalau kalian ingin bermigrasi, aku tahu sebuah pulau kosong disebelah selatan hutan ini.” Burung bangau mengutarakan pendapat. Lalu, dia menoleh pada ikan-ikan yang berada di sungai. Dan dia melanjutkan, “Di sana juga ada danau besar yang bening. Tapi sungai ini tidak terhubung dengan danau di sana. Jadi, kalau saudara-saudara ikan mau, biar aku dan bangau-bangau lainnya yang mengantarkan kalian ke sana. Terbang. Kalian belum pernah terbang, kan? Asyik, lho!”

Buru-buru para ikan menggeleng. “Kau pikir kami lupa dengan hikayat burung bangau penipu yang membohongi ikan-ikan? Kau ingin membodohi kami seperti nenek moyangmu, ya? Mengaku ingin membantu pindah ke danau lain, tapi malah memakan kami di tengah perjalanan. Kami tidak bodoh begitu saja percaya padamu.”

“Sudah, hentikan!” kali ini, tikus hitam kecil yang melerai. “Aku tahu, kita memang binatang-binatang yang berbagi posisi di rantai makanan. Ada hubungan makan dan dimakan di antara kita. Tapi, bisa tidak, sih, kita sejenak menyatukan diri kita untuk menghadapi masalah pelik kita sekarang ini?”

Meski suara tikus tidak sekeras harimau, serigala, atau macan tutul, ucapannya itu membuat semua hadirin terhenyak. Mereka menyadari kebenaran yang terkandung di dalamnya.

“Baiklah, sekarang, aku tanya, apa masalah kita?” tikus menanyakannya dengan suara lantang. Sebenarnya, dia sudah tahu apa jawabannya. Dia menanyakan itu hanya untuk memancing saja. Tampaknya hal itu akan ada hubungannya dengan solusi yang hendak dia tawarkan.

“Kita sudah tahu apa masalahnya,” harimau menjawab. “Manusia hendak merambah hutan kita, meratakannya, dan menjadikannya hunian mereka sendiri. Kita akan tersingkir.”

“Nah, masalah kita manusia, kan?” timpal tikus tanah.

“Ya, manusia!” babi hutan yang pertama-tama membenarkan ucapan tikus. Lalu, hewan-hewan lain ramai bersahutan menyampaikan kesenadaan.

“Manusia, memang!”

“Memang masalah kita adalah manusia.”

“Ya, manusia memang yang bikin masalah buat kita.”

“Ya, manusia!”

“Kalau begitu,” tikus melanjutkan, “Harusnya manusia yang kita urus. Bukan binatang-binatang hutan sebelah. Kita tidak layak mengungsi ke pulau seberang. Ini hutan kita, rumah kita. Kita tidak harus menyingkir. Manusia yang harus menyingkir!”

“Ya, manusia yang harus menyingkir!” lagi-lagi, babi hutan yang menyahut duluan. Yang yang lain mengikuti.

“Manusia harus menyingkir!”

“Singkirkan manusia!”

“Ya, manusia!”

Di tengah sorak-sorai yang menggelora, tikus berteriak lagi, “Kalau begitu, tunggu apalagi? Serang manusia! Kita berperang dengan mereka!”

Semuanya tampak bersemangat menyambut seruan tikus. Mereka beramai-ramai menyebutkan apa yang hendak mereka lakukan untuk menghancurkan manusia.

“Bagus, akan aku gorok leher mereka dengan taringku,” ucap macan tutul disusul dengan geramannya.

“Akan aku banting mereka semua, aku hancurkan rumah mereka dengan belalaiku!” seru gajah sambil jingkarak-jingkrak.

“Aku akan gigit bokong mereka dengan taringku!” seru babi hutan. Dan dia menguik panjang.

“Ya, bisaku bisa membunuh ratusan orang,” ular kobra yang dari tadi terdiam menyahut juga.

Buaya tidak mau ketinggalan, “Lempar mereka ke sungai, akan aku cabik mereka!”

“Tikus, apa yang akan kamu lakukan?” tanya buaya kemudian.

Tikus menjawab, “Jangan remehkan aku! Aku bisa menggigiti hidung dan telinga mereka hingga habis!”

Ramai sekali mereka. Mereka semua bersemangat. Se¬mua pamer keberanian. Auman, raungan, lolongan, lenguhan, nguikan, sampai cicit-cicitan bersatu dalam satu melodi lagu perang. Mereka berangkat, menuju kota manusia.

Tapi, seekor kelinci tua tiba-tiba menghentikan laju mereka.

“Hei, bodoh! Kalian mau mati, hah?!”

“Apa maksudmu, Kelinci Tua? Manusia yang akan mati melawan kami!” sebagai jendral, tikus yang menjawab.

“Tikus bodoh! Bocara apa, kamu?” maki kelinci. “Kau tidak tahu kekuatan manusia?”

“Manusia itu lemah, mereka lari ketakutan ketika berpapasan denganku di tepi hutan!” terdengar suara serigala menyahut.

“Cuma binatang bodoh yang menganggap manusia itu lemah. Kalian lupa, manusia-manusia punya mesin-mesin besar yang menakutkan? Mereka punya mesin gusur yang lebih besar dari gajah. Mereka juga punya senapan yang meski kecil, tapi suara letusannya lebih keras dari auman harimau. Dan sekali kena tembak, bahkan cangkang kura-kura bisa pecah!”

Semua terdiam.

“Tidak, kita pasti bisa menang!” tikus berusaha membangkitkan kepercayaan diri para binatang.

Tapi tikus tidak berhasil. Semua tetap terdiam. Dia pun harus menyerah.

Teriakan kerbau memecah keheningan. “Lalu, mau bagaimana lagi? Mereka hendak menggusur kita. Apa kita harus begitu saja merelakan tempat kita?”

Kelinci tidak langsung menjawab. Dia terlebih dahulu memandangi satu per satu mata para binatang. Setelah dirasa saatnya tepat, dia berkata, “Manusia memang tidak bisa kita lawan. Tapi, kita bisa mengajak mereka berbicara.”

“Omong kosong! Bicara apa, kau? Manusia tidak tahu bahasa binatang!” cela buaya.

“Tidak,” sanggah kelinci. “Kebanyakan memang tidak. Tapi aku tahu satu orang yang bisa.”

“Omong kosong!” kerbau ikut-ikutan mencela.

Kelinci menggelengkan kepala. “Tidak, aku tidak bohong. Aku bisa menunjukkannya. Aku sudah mengajaknya kemari. Dia ada di sini. Bahkan dari tadi dia mengintip rapat darurat kita.”

“Kau tidak bohong, kan?” sahut kerbau.

“Tentu saja tidak. Saat ini, anak-anakku sedang menjemputnya. Mereka dalam perjalanan kemari.”

***


Di sisi lain hutan, seorang gadis kecil berlari mengikuti lompatan-lompatan lincah dua ekor kelinci.

“Caca...! Cici...! Tunggu aku!” teriaknya.

Langkahnya yang kecil terlalu sulit untuk mengukuti gerakan lincah dua kelinci yang dipanggilnya Caca dan Cici itu. Beberapa kali kakinya harus tersandung sana-sini. Tapi, dia memaksakan diri terus berlari. Dia tidak tahu hendak ke mana dia akan dibawa. Sahabat-sahabat kelincinya itu hanya mengatakan hendak membawanya ke rapat binatang hutan. Dia sendiri heran, baru tahu kalau binatang juga bisa mengadakan forum rapat.

Setelah belasan luka gores dan beberapa memar dia dapatkan, baru kua sahabat kelincinya berhenti. Merka sudah sampai.

Kaget si gadis kecil melihat pemandangan dihadapannya. Puluhan binatang berbagai jenis berkumpul di satu tempat. Dan seolah mendapat komando, begitu dia datang, semua binatang itu menoleh dan menyorotkan tatapan mata ke arahnya. Dia jadi merasa canggung.

“Hai,” dia berusaha menyapa dengan ramah.

Semua binatang merasakan perasaaan yang sama. Manusia ini hanya gadis kecil. Meski dia bisa diajak bicara, tapi bisa apa dia? Tapi, masalahnya hanya satu inilah harapan mereka.

Raja hutan maju, mendekati gadis kecil. Dia mengendus-endusnya sejenak.

“Kau bisa bicara dengan binatang?” tanyanya kemudian.

Gadis kecil hanya mengangguk.

“Ikut aku, kita perlu bicara!”


***Hasan Irsyad


message 7: by Fachrul (last edited Dec 04, 2013 11:36AM) (new)

Fachrul R.U.N. (georgedfarmer) | 233 comments Goo~

Dino sedang menyantap makan malamnya saat anak buahnya menerobos masuk tanpa izin. Kumpulan bersetelan jas hitam itu membawa serta seorang gadis kurus berkacamata bundar dalam bekapan mereka. Rambut panjangnya kusam dan acak-acakan. Pakaiannya pun terkesan asal pilih, tak memikirkan keserasian masing-masing atribut. Baru pertama kali ini Dino melihat ada orang yang memadukan kemeja pink dengan dua dasi, rok kotak-kotak, celana olah raga panjang, dan sepatu bot untuk hiking.

"Badut dari mana nih?" Tanya Dino sambil menyeruput air putih.

"Tadi dia menggores pintu mobil Anda, Bos. Goresannya panjang sekali."

Urat amarah Dino langsung menegang. Jemarinya yang gemuk meraih pistol sembilan milimeternya dari meja kerjanya. "Yang lambo?"

"I-iya Bos."

"Kok bisa-bisanya bangsat ini masuk ke garasi gua? Sampai ngerusak mobil gua segala pula? Kalian ini gimana sih?!" Serunya sambil mendekati Si Gadis.

"Ma-maaf Bos, dia muncul mendadak sekali dan-"

"Karena aku manusia super," sahut Si Gadis. Air mukanya beku. Matanya menatap ke depan tanpa berkedip. Gaya bicaranya monoton dan kaku, seperti robot, tak menunjukkan sedikit pun ketakutan.

"Haaaa?" Dino berdiri tepat di depan Si Gadis, mencoba mengintimidasinya dengan sorot penuh amarah. Berapa tahun sih sebenernya ini cewek? Pikirnya. Kisaran yang ia perhitungkan adalah lima belas hingga enam belas. Dari ketiadaan emosi dan gaya bicaranya, ia perhitungkan anak ini juga autis. "Superhero? Yakin, dek?" Dino tertawa mengejek. "Sebenernya lu tau nggak sih lu lagi ngadep siapa?"

"Penjahat."

Dino tak perlu diberi tahu. Dia sudah menerima posisinya sebagai penjahat sejak dia pertama kali menjadi tukang pukul, setelah putus SMA. Memang sempat ada masa di mana ia menganggap dirinya sebagai penjahat romantis, ala mafia di film-film era lama: kumpulan perlente yang brutal, tapi masih terikat pada kode etik tertentu. Tapi ia pun sudah berhenti menganggap dirinya seperti itu.

Tak ada pahlawan super di dunia ini, karenanya tak masalah apa dia jadi penjahat. Toh, mereka yang memprotesnya hanya tinggal menyalakan TV untuk melihat para “penjahat legal” dibiarkan untuk terus berkoar dan meraup uang besar-besaran.

Moncong pistol menempel di dahi Si Gadis. "Gua ini rajanya penjahat, Bocah! Kalau gua tembak lu di sini, gak akan ada yang bakal ngurusin elu! Polisi sampai menteri-menteri di DPR itu temen gua! Gua tinggal ngomong, anak buah gua bakal ngebunuh ortu lu sekalian!"

"Tak masalah."

"Ngomong apa lu?" Sudah terbiasa merasakan kenikmatan saat lawan bicaranya takluk oleh ancamannya, nyali baja Si Gadis membuat Dino kian naik darah.

"Karena aku... adalah manusia super."

Dino menghajar pelipis lawan bicaranya dengan popor pistol. Kekuatan yang ia kerahkan begitu besar, hingga gadis itu langsung jatuh terduduk di karpet Turkinya. Sisa naruninya mengingatkan betapa berlebihannya membunuh seorang ABG hanya karena dia menggores mobil, yang kerusakannya bahkan belum ia tinjau. Tapi ia sudah terbiasa melakukan ini. Ia dapat mempertahankan kerajaan kriminalnya karena ia tak pernah membiarkan mereka yang macam-macam dengannya untuk terus hidup. Ia tak mau ambil pusing apa yang dihabisinya itu presiden atau anak SMP.

"Memangnya kekuatan super lu itu apaan sih, Autis? Coba tunjukin! Kalo emang keren, mungkin bakal gua ampunin lu!"

Gadis itu menatap lurus mata Dino. "Bahasa."

Tak mengerti apa yang Si Gadis katakan, Dino tertawa. "Apaan? Bahasa? Apaan lagi tuh maksudnya, lu mau jadi anak sastra?" Dia menendang pipi gadis itu, membuatnya terjatuh lagi.. "Ngomong yang bener, kampret! Lu ngomong aja nggak becus, masa kekuatan super lu cuma bahasa? HA?! Mati aja lu sana! Mati!”

Mulut Si Gadis kembali membuka. Kali ini, yang meluncur dari sana bukan satu-dua kata singkat.

“Apaan?” Dino berhenti menginjak. Pandangan matanya menjadi linglung. Gadis ini baru mengatakan sesuatu tadi. Cepat sekali, mungkin hanya sekitar enam kata, ditumpuk menjadi satu. Tapi saat otaknya menangkapnya, rasanya ia seperti baru saja memecahkan teka-teki alam semesta. “Dia ngomong apaan tadi?”

“Ti-tidak tahu, Pak,” jawab salah satu anak buah Dino dengan gugup. Wajah semuanya pucat, sama-sama mendengar kata-kata Si Gadis namun tak dapat mengingat tepatnya apa kata-kata itu.

Dino mencoba mengakses memorinya. Ia baru empat puluh, masih jauh lebih muda ketimbang kolega-koleganya. Tak mungkin ia sepikun itu, hingga ia sampai lupa apa yang dikatakan oleh seorang gadis ABG beberapa detik lalu. Apa itu bahasa Indonesia? Mungkin Inggris? Jerman? Latin? Aramaik?

Kejadian tadi kembali terputar di benak Dino, termasuk kata-kata Si Gadis. Ia mengingatnya sebagai... bunyi denging. Seperti yang tersaji di TV-TV tahun 90an awal, saat siarannya sudah habis. Tapi seharusnya tidak begitu. Ada kata-kata lain yang tersaji di balik denging itu.

Telinga Dino mengalirkan cairan hitam. Kakinya oleng, membawanya terhuyung ke belakang. Tak ada yang menolongnya. Anak buahnya semuanya mengalami pendarahan hitam di tempat yang sama, membuat mereka sempoyongan dan kehilangan keseimbangan.

Si Gadis berdiri. Seakan tak terjadi apa-apa, ia mengambil kembali kacamatanya yang sempat terlepas saat Dino menginjak-injaknya.

Pemandangan itu adalah hal terakhir yang Dino saksikan sebelum seluruh matanya turut menjadi hitam. Ia tak dapat melihat aliran hitam yang mulai membasahi pipinya dan turun ke jas kelabunya.

“Hi...”

Dino mencakar pipinya. Dalam kegelapan, ia dapat mengingat lebih jelas. Ya, Si Gadis tak hanya menyuarakan denging. Ada kata-kata yang disembunyikan otaknya dalam suara denging itu. Kata-kata dari bahasa yang telah lama dilupakan.

“Hiii...”

Hanya enam kata. Masing-masing menyimpan kekuatan tersendiri. Dipadukan, mereka mengungkap kenyataan yang tak pernah ingin Dino ketahui. Benaknya mulai menyusun kesimpulan yang paling tepat, berdasarkan kumpulan fakta yang tiba-tiba berterbangan di dalam otaknya. Ia isi sendiri alasan dari keganjilan-keganjilan yang seharusnya menyatakan pikirannya hanyalah omong kosong.

Ia tak melihat Si Gadis sudah meninggalkan ruangan, menganggap misinya sebagai superhero telah berakhir dengan sukses.

Ia tak merasakan munculnya retakan di tubuhnya, mulai dari wajah, tubuh, hingga kaki. Lebih banyak cairan hitam merembes keluar dari sana, kian mengotori jas, celana panjang, hingga sepatu pria itu.

Saat Dino akhirnya memahami sepenuhnya kata-kata gadis itu, yang tersisa dari dirinya hanyalah genangan hitam pekat.


message 8: by Dini (new)

Dini Afiandri (dresco_alcione) | 544 comments “Arabian Nights”


Namaku Ameera. Usiaku belum lagi genap sepuluh tahun. Sejak aku umur lima dan sudah mulai mengenal kata-kata, kakakku Hassan menjadi satu-satunya keluargaku, dan dia selalu membacakan dongeng 1001 Malam padaku. Aku begitu menyukainya hingga minta dibacakan setiap hari. Namun tak lama kemudian aku mengetahui bahwa aku bisa akrab dengan para tokoh-tokohnya, tidak hanya sebatas di dalam buku saja, tapi juga dengan cara yang tidak semua orang bisa mengalaminya.

Maka, bayangkan betapa terkejutnya aku ketika pada suatu malam yang cerah di bulan Juni, Sinbad sendiri mendarat di depan jendela kamarku dengan kuda terbangnya, mengulurkan tangan padaku dan berkata: “Ikutlah bersama ke negeri ajaib tempat peristiwa mengagumkan.... Mempesona namun kadang menyeramkan. ‘Buka Sesam,’ kawan! Ayo, kita berangkat!”

Kapan lagi petualangan seperti ini? Kulempar sisa roti pitta ke samping sheesh kebab, kurma-kurma di atas piring berlompatan. Dengan penuh semangat kudaki sadel di belakang Sinbad, memijakkan kaki pada sanggurdi, dan kami pun melesat ke angkasa penuh gemintang.

Malam di Arab seperti siangnya. Panas menyerang, hati menggersang, di tengah gurun yang menampakkan tak keterbatasan. Memang aneh benar..... Tapi suasana bertambah aneh karena Jin Lampu tiba-tiba melayang di sisi tunggangan kami. Ia menyapa Sinbad dan membawa kabar tentang Aladdin, si tikus jalanan, yang dinanti oleh sang Putri di balkon istana setiap malam dalam wujud Pangeran Ali Al-Rasyid.

“Hamba bosan, Sayyidi. Setelah menyihir gajah putih dari tikus untuk tunggangannya esok hari, hamba permisi. Ingin rasanya berdiam diri dalam lampu lagi, menenun permadani Parsi, andai saja lampuku tidak sedang diminyaki. Dua kali ia menyundut sorbanku karena lupa aku ada di dalamnya dan hendak menggunakan lampuku untuk membaca. Nikmati perjalanan anda malam ini. Assalama! ” Dan dia menghilang ditelan asap keperakan. Aku tertawa. Sinbad juga.

“Belum pernah dengar versi yang tadi dari dongeng itu, kan? Tunggu saja, yang kau lihat belum seberapa!”

Sinbad melecut kudanya dan memacunya meninggalkan siluet obor dinding istana dan kota di bawah sana. Kami menuju tepi barat padang pasir. Bukit-bukit batu.
Tampak kerumunan pasukan berkuda hitam yang mengepulkan debu ke arah perbukitan. Aku terkesiap.

“Empat puluh penyamun!”
Sinbad mengiyakan. “Kau membaca dengan teliti rupanya. Itu gua tempat para penyamun menyembunyikan harta mereka yang pernah dicuri Ali Baba.”

Aku memperhatikan kerumunan itu, agak heran.
“Kalau begitu, mengapa mereka masih ada? Bukankah keempat puluh penyamun itu sudah mati disiram minyak panas saat mereka menyamar, masuk di dalam guci?” tanyaku. Sinbad terbahak.
“Itu tak sepenuhnya benar. Kenyataannya lebih dari itu. Perhatikan!”

Rombongan itu berhenti di depan mulut gua yang tertutup sebongkah batu besar. Seseorang, yang tampaknya pemimpin mereka, maju dan melambaikan tangannya. “Buka Sesam!” ucapnya. Sedetik, aku mengharap sebuah sihir akan berlangsung dan batu itu akan membuka. Tapi detik-detik berlalu dan tak terjadi apa-apa. “Buka Sesam!!” seru pria itu sekali lagi. Batu itu tak bergeming.

Seseorang di deretan belakang berlari menghampirinya. “Master, kata ajaibnya bukan yang itu. Bukankah Tuan sendiri yang mengubahnya karena kata anda ‘Buka Sesam’ sudah ketinggalan zaman, dan banyak sekali orang yang tahu dari buku mengenainya?” Pria tua di depan itu melepas cadarnya. Disinari cahaya bulan, aku melihat ternyata Ali Baba-lah yang memimpin mereka semua. Ia meraba-raba jubahnya mencari sesuatu, dan mengeluarkan secarik kertas papirus.

“Ah ya, kata kunci untuk malam ini... Ini dia. ‘Buka Wijen!’”

Batu di hadapannya mengeluarkan suara gemuruh dan bergetar, tapi tidak terbuka. Terdengar bunyi sesuatu seperti diseret. Ali Baba menggeleng tak sabar. Anak buahnya yang tadi menyambar sebuah guci dari atas sadel, berlari ke pinggir bukit, dan menyiramkan isi guci itu ke bagian samping batu. Terdengar bunyi berdecit-decit dan akhirnya batu besar itu menggeser ke samping, memperlihatkan gua besar di baliknya. Ali Baba berkacak pinggang.

“Pintunya mulai berkarat. Sampai kapan kita harus menyiramkan minyak jagung supaya manteranya bekerja? Aku tak tahu.... Aku pencuri, bukan penyihir. Mungkin lain kali sebaiknya kukencingi saja engselnya biar terbuka dengan lancar.” Beberapa penyamun di kerumunan terkekeh.

“Ayo, kita tak punya banyak waktu. Cepat masukkan hartanya sebelum ada orang yang melihat dan kita kecurian lagi!” perintahnya.

Bergasak-gasak guci, karung, dan kotak harta dimasukkan ke dalam gua oleh mereka. Setelah selesai dan semua anggotanya telah berada di luar, Ali Baba berseru "‘Tutup Wijen!’" dan pintu gua mulai bergerak menutup. Terdengar derak-derak mengkhawatirkan dan pintunya berhenti di tengah jalan. Ali Baba menggerutu, berlari mendekat dan menendang sisi batu besar itu dengan sepatu larsnya. Pintu itu kembali bergerak dan menutup sempurna.

Dari atas pohon palem tempat kami bersembunyi menonton itu semua, aku tak dapat menahan tawaku. Sinbad tersenyum melihat aku tertawa sampai terbungkuk-bungkuk. “Aduh... siapa yang menyangka?” ujarku di tengah tawa. “Ali Baba menggantikan posisi kepala perampok, dan batu gua yang ternyata bisa berkarat setelah bertahun-tahun!” Aku terengah. Sinbad mengangguk.

“Tampaknya sihirnya sudah mulai luntur. Betapa pun kerasnya Ali Baba berusaha merahasiakan kata ajaibnya dari orang-orang, suatu saat pintu batu itu akan berhenti bekerja dan semua harta akan lenyap ditelan bukit. Itu akhir kisah yang lebih bijak ketimbang bahwa ia memenangkan semuanya.”

Kami memandangi para penyamun menderap pergi sebelum akhirnya Sinbad memutuskan bahwa kami harus kembali berangkat. Sekali lagi, kuda bersayap miliknya melejit ke awan.

“Aku telah berlayar tujuh kali mengelilingi dunia yang dengannya aku bertualang, mendapatkan harta, dan bertemu dengan berbagai orang, makhluk mendebarkan, dan menyaksikan keajaiban. Malam ini adalah pelayaranku yang ke delapan. Bersamamu menyusuri sisa yang nyata dari cerita terkenal dunia.” Ujar Sinbad. Aku merasa sangat terhormat karena ia ternyata memilihku.

“Kau seorang pembaca dongeng yang baik dan berbudi, Ameera. Aku berharap kau takkan melupakan kami selamanya.”

Ia mengarahkan pecutnya ke langit dan kami menderap lebih tinggi, ke arah bintang-bintang yang gemerlapan.

“Dongeng dibuat bukan sebagai penghibur atau pengantar tidur semata. Di dalamnya ada kebaikan dan keburukan, serta contoh yang bisa dipelajari anak-anak lebih dari sekedar pesan moral. Ratusan bahkan ribuan dari tokoh-tokoh dalam kisah yang tak terkenal telah dilupakan, dan mereka naik ke langit menempati rasi yang berpendar setiap beberapa masa sekali, berharap kisah mereka abadi di atas bumi. Andai ada yang mengerti....” Tatapan Sinbad menerawang. Kami melayang tinggi di antara Orion, Cassiopeia, Castor dan Pollux, Raja Midas, dan kelebatan tokoh-tokoh aneh yang tak kukenali.

“Belum saatnya kita menemui mereka dan keberadaan mereka dalam dunia dongeng pun tak begitu berarti. Sekarang sudah saatnya bagimu untuk kembali. ”

Pastilah aku terang-terangan tampak kecewa, karena Sinbad tersenyum dan berkata, “Masih ada sedikit waktu dalam perjalanan kembali ke kamarmu. Akan kuceritakan beberapa detil kisah kami padamu. Tahukah kau, Scheherazade, yang mana dari padanya semua dongeng Arab berasal, adalah seorang ahli meramu serbuk sheesha sebelum akhirnya diperistri Schahriar? Dan bahwa sandal Ja’Far pernah berisikan sekuntum bunga kaktus? Tahukah kau........”

Fakta-fakta yang diceritakan Sinbad membuai aku hingga aku tertidur di atas sadel, angin malam padang pasir memainkan rambutku. Ketika aku membuka mata, aku telah berada di kamarku, sisa pitta dan kurma masih ada diatas piring, pukul tiga dini hari. Aku tak yakin apakah aku bermimpi, karena kakiku masih bisa merasakan kerasnya sanggurdi, dan ketika kuraba, di antara helaian rambutku masih terselip butiran pasir yang tertiup angin ketika kami terbang di atas gurun.

Sambil meniup lampu minyak di sebelah kasurku, pikiranku mengembara mengulang perjalanan tadi. Apakah sang Jin Lampu mampu menyelesaikan permadani Parsinya sebelum Aladdin dinobatkan menjadi Sultan? Mungkin aku takkan pernah tahu. Tapi ingatlah, bagimu yang membaca ini, kapanpun kau merasa sendiri, dan imajinasimu menari-nari, bukalah buku dongeng kami, dan akan kuceritakan kisah yang belum pernah diceritakan padamu. Buka jendelamu, biarkan angin menjemputmu, dan terbanglah ke angkasa, di atas gurun, bertemankan Sahara, menuju malam keabadian.... Malam paling ajaib dalam sejarah hidupmu.

Di sini.

Di dunia abadi Seribu Satu Malam.



(Dini Afiandri)


message 9: by Yozora (new)

Yozora Hikari | 109 comments Andara

Pagi hari yang menyejukkan di kotaku, namun mata yang merasakan kelelahan disebabkan betapa larutnya aku beristirahat tadi malam tidak mau terbuka juga.

krrrriiiinngg...
hhh.. kudengarkan alarm jam tuaku yang berbunyi sangat nyaring, kubuat catatan kecil di ingatanku untuk meminta hadiah jam alarm digital kepada mama saat ulang tahunku besok.

"Andara, bangun sayang" sahut mamaku dengan lembut.

"...."

"Andara?"

Maaf ma, mata ini tidak mau terbuka.

"ANDARA ARINA! KALO TIDAK BANGUN JUGA, MAMA AKAN MASUK DAN MENYERETMU DARI TEMPAT TIDUR!"

Ancaman yang tentu saja sontak membuat mataku yang bandel akhirnya terbuka lebar.

"Ya ma, Andara sudah bangun!" Sahutku dari dalam kamar.

Saatnya mandi dan bersiap - siap berangkat sekolah, semoga saja Dandi tidak terlambat menjemputku hari ini, cemasku dalam hati.
Sesaat setelah sarapan pagi yang berupa telur mata sapi dan nasi goreng,salah satu sarapan khas mama, terdengar klakson mobil dari luar rumah.

"Andara, Dandi sudah datang tuh" kata mamaku sembari tersenyum.

"Mama tidak perlu tersenyum begitu, mama tahukan, Dandi itu sahabatku dari TK, dia sudah seperti kakak sendiri, jadi tolong jangan tersenyum seperti mangatakan bahwa yang diluar sana saat ini adalah seseorang yang lebih spesial daripada sahabat masa kecil"

"Baik, mama tidak akan tersenyum deh, jangan marah sayang" kata mamaku walau masih dengan senyum kecilnya yang khas.

Aku hanya melotot kepadanya sambil meraih tas sekolahku.

"jangan lupa Andara, hari ini pulang sebelum tengah malam yah, mama tahu hari ini kamu ada kegiatan osis lagi untuk festival band nanti,tapi untuk kali ini saja, tolong cepat pulang yah"

Merasa capek mendengar hal yang sama selama seminggu ini, aku cuman menjawab sambil melambaikan tangan "Mama sudah bilang itu beberapa kali, tenang aja ma, Andara sudah minta izin sama pak guru kok, untuk kali ini lebih cepat pulang"

Setelah masuk ke mobil yang dikendarai Dandi, aku menoleh kedalam rumah, disitu terlihat wajah cemas mamaku, yang tentu saja membuatku heran.

"Tante kelihatan tegang hari ini, biasanya dia akan melambaikan tangan kepadamu sambil tersenyum, ada apa?" tanya Dandi keheranan.

Aku cuman terdiam dan menggelengkan kepala, dan kamipun berangkat menuju sekolah.

Persiapan Festival Band yang akan diadakan 2 hari lagi menguras hampir seluruh tenaga dan waktuku, bahkan untuk sekedar makan siang saja harus aku lakukan sambil berdiskusi dengan ketua OSIS dan para anggota OSIS lainnya.

"Riky, bukannya waktu untuk penjadwalan acara sudah tuntas ditangani oleh seksi acara? mengapa membebankan diri dengan jadwal ini lagi?" Tanyaku dengan frustasi kepada si Riky ketua OSIS.

"Dara!"
wow, dia suka sekali menyebutku seperti itu, dapat kulihat dari sudut mataku bahwa Dandi mengerutkan alisnya kepada Riky si ketua OSIS karena sebutannya itu, bahkan Dandi tidak pernah memanggilku seperti itu.

"Seperti yang saya bilang tadi, kita masih harus mengecek segala sesuatunya agar terlihat sempurna, bukannya semua sudah setuju?" Kata Riky kemudian.

Aku menatap Riky erat-erat, hhhh.. andai saja dia tidak semanis itu dengan bulu matanya yang panjang dan kacamata berbingkai hitam yang menghias wajah itu, mungkin saja sudah akan terlempar kata-kata pedas dari mulutku,karena artinya kerja tambahan buat seksi acara yang kebetulan adalah bagianku dan Dandi, aku kemudian menatap Dandi yang hanya menaikkan bahu sambil tersenyum sabar kepadaku. sepertinya kami akan pulang larut lagi hari ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, telepon genggamku terus menerus dipenuhi panggilan tak terjawab dari mama, aku jadi takut mengangkat teleponnya karena mengingat wajah cemasnya tadi pagi dibalik pagar rumah. maaf ma, Dandi tentu saja akan mengantar sampai akhirnya aku masuk rumah, jadi tak perlu ada yang dicemaskan, sahutku dalam hati dan seperti ingin melemparkan telepati kepada mamaku, andai saja itu memungkinkan.

Pekerjaan yang melelahkan kami lakukan sembari diawasi oleh guru pengawas, hampir semua petugas OSIS pria kelelahan karena pekerjaan mendirikan panggung, dan para wanitanya mengerjakan dekorasi dan konsumsi.
Tak terasa waktu sudah hampir tengah malam,saat masih sibuk dengan pekerjaan mendekorasi panggung, kudengar suara Riky memanggilku.

"Dara, tolong temani aku mengambil beberapa kursi yang tertinggal di dalam gudang sekolah."

"Aduh, apa mesti aku yang pergi Riky? dan tolong berhenti memanggilku Dara, itu agak memalukan" kataku dengan enggan.

"Masalahnya hanya kamu yang tahu letak semua kursi itu, dan kamu bayangkan saja betapa luas gudang sekolah kita, Dara" Riky menjawab dengan keras kepala, dan dia masih memanggilku Dara.

"Baiklah, baiklah, ayo kita pergi, PAK KETUA OSIS!" Sindiran yang tidak pernah capek aku keluarkan pada Riky yang sepertinya selalu ingin menunjukkan kekuatan jabatannya kepadaku.

Senyum kemenangan tersungging di bibirnya dan kamipun berjalan menuju gudang sekolah.
kami melewati Dandi yang saat itu sedang sibuk menugurus sound system untuk festival,aku berkata berpamitan sambil lalu bahwa ketua OSIS ingin ditemani ke gudang untuk mengambil beberapa kursi.

"Tunggu dulu, kalian cuman berdua? kalo begitu aku juga ikut" Dandi mengejar dari belakang, dan menyelaraskan langkahnya dengan kami.

Gudang Sekolah, tempat kesukaan para siswa yang ingin bolos ataupun melakukan hal yang tidak diinginkan di sekolah, dikarenakan luas dan banyaknya tempat untuk menyelinap dan bersembunyi di dalamnya. Jujur saja, masuk kedalam gudang sekolah pada jam seperti ini bukan merupakan hal yang menyenangkan, jadi dengan adanya tambahan Dandi yang entah kenapa memutuskan untuk ikut,membuatku agak lega.

"Oke, dimana kursinya?" tanya Riky

"Sayangnya agak jauh di belakang sana? karena ada beberapa siswa yang menyalahgunakan kursi-kursi tersebut makanya tempat penyimpanannya dirubah"

Kata-kataku membuat Dandi dan Riky mengumpat pelan secara serentak, hal itu membuatku tersenyum geli, dasar cowok, pikirku.

Kami berjalan agak jauh kebelakang, sebelum aku merasakan sensasi aneh di dalam diriku. keinginan untuk muntah dan keringat dingin kurasakan dalam sekejap, wajahku menjadi pucat pasi dan gemetar.

"Andara?" kata Dandi dengan cemas sambil memegangku yang langsung jatuh berlutut, aku menyembunyikan mukaku secepatnya, begitulah cewek, tidak ingin terlihat bermuka aneh di depan cowok-cowok.

"Dara? ada masalah? kamu kenapa?" Riky yang akhirnya menyadari ada sesuatu yang tidak beres, berlutut di sampingku dan bertanya dengan tegas.

Aku hanya bisa menggeleng dan tetap berlutut sambil menyembunyikan mukaku, kemudian sensasi itu datang dengan lebih cepat, sensasi menggelitik seperti ada semburat tegangan listrik kecil di setiap tubuhku. kurasakan tanpa melihat kedua cowok yang kini berada di samping kiri dan kananku menjadi tegang.

"Dandi, kenapa semua lampu di ruangan ini?" Kudengarkan Riky bertanya kepada Dandi.

"Aneh, lampunya berpendar, Andara, kamu tidak apa-apa? mau kupapah keluar? aduh.." Dandi yang menjawab pertanyaan Riky sambil mencoba memegang badanku tersentak kaget. badanku seperti menolak disentuh seperti adanya listrik statis di tubuhku.

Kemudian dengan spontan aku berdiri dan menatap mereka berdua, betapa kagetnya aku melihat mereka berdua melongo menatapku, namun akhirnya aku sadar, karena saat ini aku tidak sedang berdiri menapak tanah, akan tetapi melayang beberapa sentimeter dari tanah.
Kuperhatikan kedua tanganku yang terasa geli,seperti ada kilatan kecil yang berpendar dari kedua belah tanganku.

"Ya Tuhan!!" Aku spontan berteriak kaget, yang entah kenapa memberikan efek yang terlalu besar, menyebabkan Dandi dan Riky terpental beberapa meter dari dekatku.

Tak beberapa lama, kilatan kecil yang berpendar dari kedua belah tanganku membesar hingga menyelubungi badanku, aku menatap tanah di bawahku, dan melihat ada pola rumit yang terlukis tepat di tanah, seperti penggambaran simbol yang indah dilukiskan dengan tinta berwarna emas menyala.

Dandi dan Riky yang untungnya dalam keadaan tidak apa-apa hanya bisa melihat dengan takjub apa yang terjadi di diriku, mata mereka menatapku seperti campuran kaget dan terkesan.

Petir menggema berulang-ulang di dalam ruangan, bohlam-bohlam lampu yang tadinya meredup akhirnya pecah bersamaan, gudang yang tanpa lampu namun tetap terang benderang karena adanya kilat yang muncul bertubi-tubi dan juga diriku yang diselubungi oleh bola energi listrik, dan kedua pasang mata yang masih melongo melihatku, tanpa memperdulikan kilat di sekitar mereka yang bisa menyambar kapan saja, aku tersenyum geli dan perasaan tidak enak yang kurasakan tadi menghilang, aku merasa kuat dan seperti dilahirkan kembali.

Saat itupun aku tersadar, hari ini aku tepat berusia 16 tahun.



Yozora


message 10: by Dian Achdiani (new)

Dian Achdiani | 85 comments NANTI

“Nanti pasti hujan!”

Wanita ayu berusia akhir tigapuluhan itu memandang heran gadis cilik di hadapannya.

Tapi si bocah tak peduli. Seusai mengucap tiga kata tadi, ia berlalu, menuju kumpulan rekan-rekannya, sebaya atau tidak, dan kembali merusuh dalam acara memeras pakaian-pakaian dan menjemurnya.

Matahari mulai naik dari Timur, tanpa awan sepotongpun di langit. Seluruh penghuni Panti Asuhan Damai, terutama pengurusnya, berharap langit tanpa awan ini akan mengeringkan semua cucian, yang seperti biasa dikerjakan beramai-ramai di akhir minggu.

-o0o-

Ayu, atau di Panti Asuhan Damai biasa dipanggil bu Ayu, mulanya bekerja di Panti Asuhan Damai utama. Panti Asuhan Damai itu ada di beberapa kota, dan khusus di kota ini, ada dua. Panti Utama, cikal bakal berdirinya Panti, dan Panti Asuhan Damai cabang Lingkar Utara. Sudah terlalu banyak anak yang harus diasuh, jadi diperlukan dua tempat untuk menanganinya.

Minggu lalu, bu Kusni, pengurus utama Panti Asuhah Damai Lingkar Utara, meninggal. Memang sudah sepuh. Jadilah Panti Asuhan itu tak punya pengurus yang mumpuni. Oleh Yayasan, Ayu dianggap mampu untuk memimpin, dan ditariklah ia ke cabang Lingkar Utara.

Sudah beberapa hari ini, Ayu tinggal di Lingkar Utara. Dengan karyawan-karyawannya, sudah kenal. Beberapa anak asuh, sudah ia ketahui kelemahannya. Ada yang harus dipeluk kalau hujan berpetir. Ada yang jika disuruh sesuatu tak mau mengerjakan, tapi kalau diminta dengan halus, langsung dikerjakan. Ada anak yang baru mau makan kalau disuapin oleh salah satu kakak. Dan banyak pernak-pernik lain lagi.

Ada satu yang diberi catatan khusus oleh mendiang ibu Kusni.

Bocah imut enam tahun itu tak diketahui nama dan asal-usulnya. Waktu masih bayi, disimpan begitu saja di depan pintu malam-malam, dalam box. Bagai kucing saja.

Ibu Kusni memberinya nama Laila—artinya malam.

Anaknya tidak rewel. Jarang menangis. Dan jarang bicara juga, walau selalu menjawab jika ditanya. Ia bergaul, bercanda, tertawa, biasa bersama anak-anak lain.

Ibu Kusni menduga—anak ini bisa ‘melihat’ sesuatu.

Tak jarang, saat sedang ribut tertawa-tawa bersama teman-temannya, ia tiba-tiba terdiam. Melihat ke satu arah. Beberapa menit saja. Sehabis itu ia biasanya kembali tertawa-tawa bersama yang lain.

Kadang ia memberitahukan apa yang ia lihat. Kadang tidak.

Seperti tadi.

Sedang berebut ember bersama sebayanya, tiba-tiba ia terdiam. Melihat ke arah langit. Mengucap tiga kata tadi—‘nanti pasti hujan’. Lalu kembali merusuh dan tertawa-tawa bersama rekan-rekannya.

Ayu memiringkan kepala, berusaha melihat seluas langit, apakah ada awan kelabu. Tidak ada.

Yah, mungkin nanti siang, atau menjelang sore, akan turun hujan. Tapi sekarang, sepertinya tak ada kemungkinan. Mending menjemur selagi ada matahari.

Ayu kembali ke ruangannya. Membereskan administrasi. Tetek-bengek semacamnya.

Perasaannya tak sampai sejam, tetiba angin yang bertiup menjadi dingin. Ayu mengangkat kepala. Melihat ke luar jendela.

Langit sudah dipenuhi awan kelabu.

Sementara anak-anak sedang asyik mengerjakan tugas masing-masing di aula, sementara karyawan-karyawan asyik memasak untuk makan siang.

Hujan bisa turun kapan saj~

~dan titik-titik hujan pun tercurah dari langit!

“HUJAAAAAAN!” seru seorang bocah, sambil berlari ke tempat penjemuran. Tak sampai sedetik, teman-temannya mengikuti, begitu juga mbak Siti dan mbak Tati, bergabung dalam Upaya Penyelamatan Jemuran Dari Curahan Hujan.

Kecuali Laila.

Ia tidak ikut serta bergegas menyelamatkan jemuran. Hanya berdiri, bersandar ke jendela. Mengamati.

Begitu semua jemuran sudah diamankan, ia menghela napas. Mengangkat bahu. Lalu kembali pada pekerjaannya tadi: mengelap meja.

Ayu mengerutkan kening.

Laila bisa melihat apa yang akan terjadi?

Ayu menutup pekerjaannya, dan mencari-cari catatan ibu Kusni di laci. Membacanya. Menarik!

Berarti ia harus waspada pada ucapan atau gerakan yang dilakukan Laila?

-o0o-

Bukan hanya mendiang ibu Kusni yang memperhatikan ternyata. Beberapa karyawan juga merasakan hal yang sama—Laila bisa meramal—begitu istilah mereka. Anak asuh yang terbesar—Yudi, empat belas tahun—juga merasakan hal yang sama.

Tapi karena dianggap tak mengganggu, mereka membiarkannya saja. Kadang menganggap hal itu menguntungkan. Mbak Siti misalnya, pernah mendengar Laila mengucapkan: ‘nanti ada yang demam’.

Mbak Siti menganggapnya setengah serius, tapi entah kenapa ia malah memasak bubur di samping masakannya yang biasa.

Malam harinya, benar saja ada yang demam. Tak bisa makan nasi, apalagi mbak Siti masaknya balado telur ceplok. Pedas. Untung tadi sore mbak Siti masak bubur...

Baiklah. Mulai sekarang, Ayu bertekad lebih memperhatikan Laila.

-o0o-

‘Nanti tangannya luka—‘

Dan mbak Siti teriris pisau saat merajang bawang. Tipis sih, tidak parah, tapi luka saat sedang memegang irisan bawang itu, ups! Perihnya!

‘Nanti kecebur—‘

Dadang tak hati-hati saat melompati genangan air di halaman, alhasil tersungkur dan sekujur badannya kuyup.

‘Nanti mati lampu—‘

Ayu bergegas menyuruh mbak Siti menyiapkan lilin. Untunglah.

-o0o-

Ada yang aneh.

Semakin hari, sepertinya Laila semakin sering memberikan peringatan. Menurut keterangan mbak Siti, mbak Tati, dan Yudi, dulu bisa seminggu berlalu tanpa ada peringatan apa-apa.

Sekarang? Tiap hari ada peringatannya. Dan selalu lebih dari sekali. Hari ini saja sudah tiga kali.

Adakah yang harus diwaspadai?

Ayu membuka-buka catatan harian ibu Kusni. Tak ada catatan tentang frekuensi peringatan Laila. Sama seperti keterangan kedua mbak dan Yudi, dulu bahkan kadang seminggu berlalu tanpa ada perilaku Laila yang aneh.

Menghela napas, Ayu menutup catatan ibu Kusni. Mungkin memang tak ada yang harus diwaspadai.

Mungkin.

-o0o-

Sudah malam. Anak-anak sudah tidur. Karyawan-karyawan juga sudah lelap. Tapi Ayu tak bisa tidur.

Jadilah ia keluar, menuju meja kerjanya. Merapi-rapikan. Tapi semua juga sudah beres tadi sebelum tidur.

Iseng, ia mengeluarkan buku tebal berisi data pengangkatan anak. Adopsi.

Dilembarinya satu-satu tanpa memperhatikan dengan serius.

Ada kecenderungan untuk mengangkat anak saat mereka masih bayi. Itulah sebabnya di sini jarang ada bayi. Begitu ada bayi, dalam hitungan bulan, pasti sudah ada yang mengadopsi.

Lebih aman, konon. Bayi masih belum punya kebiasaan jelek, dan masih mudah diajari kebiasaan-kebiasaan keluarga pengadopsi. Konon.

Anak-anak yang ada sekarang ini, apakah memang mempunyai cacat sehingga tidak ‘dipilih’ oleh para pengadopsi, atau diasuh Panti saat sudah agak besar. Sudah tidak ‘menarik’ lagi.

Tetiba Ayu sadar!

Laila, kenapa tidak ada yang mengadopsi?

Padahal anaknya lucu. Matanya bulat. Rambutnya ikal kriwil-kriwil hitam legam. Senyumnya manis. Anaknya tidak rewel.

Dan Laila ada di Panti sejak bayi.

Kenapa tidak ada yang tertarik mengadopsinya?

Kembali ditariknya kumpulan catatan harian ibu Kusni. Dibalik-baliknya halaman hingga sampai ke saat-saat Laila masih bayi. Catatan kedatangan pasangan-pasangan dan reaksi mereka pada anak-anak.

Ibu Kusnin memang rajin mengamati dan menuliskannya, Ayu merasa tertolong.

Dicermatinya catatan semua pasangan yang bermaksud mengadopsi saat sekitar setelah bayi Laila datang. Kening Ayu berkerut membaca catatan demi catatan. Makin berkerut, dan terus, hingga bu Kusni membubuhkan kalimat: sekarang Laila sudah bisa dibilang besar. Kemungkinan mendapatkan pasangan pengadopsi, kecil. Yah, kalau memang begitu, biarlah kita mengasuhnya—

Kenapa pasangan-pasangan calon pengadopsi itu mundur setelah melihat Laila? Ada yang beralih pada bayi lain—jika saat itu ada bayi lain—ada juga yang membatalkan niat.

Semua mundur teratur.

Ibu Kusni menulis dengan bahasa yang indah, tapi tersirat terbaca bahwa bu Kusni menyembunyikan sesuatu.

Pasangan-pasangan pengadopsi itu seperti—seperti takut menghadapi Laila!

Kening Ayu semakin berkerut. Ada apa sebenarnya?

Baiklah.

Hari semakin larut. Ayu membereskan berkas-berkas, dan menyimpannya di tempatnya semula. Besok, akan ditanyakan pada mbak Siti, mbak Tati, mungkin pak Karjo, mungkin saja mereka tahu ada apa sebenarnya.

Ayu menguap. Sudah saatnya tidur.

Berdiri, dan ia terkaget sendiri.

Laila berdiri di ambang pintu.

“Laila? Ada apa?”

Laila tak menjawab.

“Kau tak bisa tidur?”

Laila masih tak menjawab.

Ayu berjalan mendekatinya. Merendahkan tubuhnya hingga matanya dan mata Laila sejajar.

Mendadak Ayu merasa seluruh tubuhnya merinding. Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Bu Ayu—“

Ayu memaksakan diri menjawab, “Iya, Laila, ada apa?”

Laila maju hingga tak ada jarak lagi antara keduanya. Tangan kanannya diangkat, telunjuknya ditempelkan pada hidung Ayu.

“Nanti akan ada yang meninggal, bu Ayu—“

-o0o-

Hitam.

Gelap.

Kelam.

Sunyi.

Hanya itu yang bisa Ayu rasakan.

FIN


message 11: by throller (last edited Dec 09, 2013 01:48PM) (new)

throller | 53 comments LAST MISSING WOMAN

Pria kurus itu menjinjing kepala manusia yang masih mengucurkan darah di tangan kanannya. Dia lalu duduk di atas toilet dan mulai membuka celana yang dikenakannya. Kemudian dia... Tidak aku tidak sanggup lagi untuk melihat perbuatan hina orang ini. Aku harus kembali, aku tidak peduli dengan kasus ini lagi.

Pandanganku mulai berputar hingga akhirnya kegelapan benar-benar menelanku. Namun tak butuh waktu lama hingga mataku kembali dapat berfungsi seperti semula. Benda-benda yang berada di dalam jangkauan pangelihatan pun kini mulai jelas terlihat. Termasuk beberapa pria berjas yang tengah mengelilingiku.

“Kau mendapatkan sesuatu?” tanya salah satu pria yang kepalanya dipenuhi rambut yang sudah memutih.

“Bawakan dia segelas air, cepat!” salah seorang pria yang terlihat lebih muda berjongkok di sebelah kursi yang aku duduki. Dia adalah detektif Alex.

“Kau baik-baik saja?” ucapnya sembari menjulurkan segelas air putih kepadaku.

“Ya,” jawabku sembari menerima segelas air yang diserahkan oleh detektif Alex dan meminumnya. Aku menghembuskan nafas. Mencoba untuk menguatkan mentalku. “Namun aku tidak menemukan apa pun.” Aku tahu ucapanku ini bukanlah sebuah kabar yang baik bagi para pria berwajah tegas yang mengelilingiku ini. Tapi aku harus mengatakan semua yang aku lihat. Aku tidak ingin mengurangi ataupun melebih-lebihkannya. Aku hanya ingin mereka tahu jika orang yang aku lihat itu adalah orang yang benar-benar sakit.

“Apa maksudmu kau tidak menemukan apa pun? Apakah kau benar-benar bisa masuk ke dalam pikiran bajingan ini hah?” Si pria berambut putih kembali menanyaiku. Kali ini nada bicaranya benar-benar tidak aku sukai.

“Otak lelaki ini hanya dipenuhi oleh hal-hal sakit!” Aku benar-benar kesal, hingga tidak mengontrol nada suaraku. Aku tidak peduli jika pria yang aku teriaki di hadapanku ini berumur jauh lebih tua dariku.

“Dia!” ucapku, sembari menunjuk ke arah seorang pria kurus yang duduk tak sadarkan diri di hadapanku. “Aku tidak tahu apakah dia manusia atau bukan. Dia sangat menjijikan. Aku tidak akan masuk ke dalam pikirannya yang sakit itu lagi,” lanjutku, sembari beranjak dari kursi dan pergi menuju pintu keluar.

“Permisi, bisakah anda, Pak Polisi yang terhormat membiarkanku melewati pintu itu. Aku sudah tidak mau lagi menghirup udara yang juga dihirup oleh orang sakit jiwa itu. Biarkan aku keluar, tolong!” seruku saat langkahku untuk keluar dari ruangan interogasi dihadang oleh seorang petugas kepolisian berbadan besar.

Polisi berkepala botak itu melirik ke arah belakang. Sepertinya dia meminta persetujuan dari salah satu petugas yang ada di belakangku. Beberapa saat kemudian, dia akhirnya memenuhi permintaanku untuk membuka pintu yang dijaganya dan membiarkanku untuk pergi dari ruangan yang bercahaya remang-remang ini.

Aku menuju ke salah satu meja milik petugas kepolisian yang kosong dan duduk di atas kursinya. Aku ingin segera pergi dari tempat ini.

“Hei!” Detektif Alex menyusulku keluar dari ruangan interogasi.

“Aku tidak mau kembali ke dalam lagi. Aku hanya ingin pulang.” Aku tahu dia akan berusaha membujukku untuk kembali ke dalam ruangan interogasi itu.

“Ok dengar. Ayo bicarakan apa yang kau lihat tadi. Aku tidak akan memaksamu untuk memasuki pikiran orang itu lagi. Tapi kau harus menceritakan apa yang kau lihat tadi. Informasi seminim apapun sangat berharga bagi kami Helena. Kami membutuhkannya.” Nada bicaranya pelan.

“Detektif Alex, aku hanyalah seorang siswi SMU. Tidak seharusnya aku membahas mengenai hal-hal gila semacam ini. Aku tidak mau.”

“Tolong, aku benar-benar membutuhkan pertolonganmu,” ucapnya. Dia benar-benar terdengar memelas. “Dengar! Kau melihatnya di dalam pikiran pria itu bukan?”

Aku mempunyai firasat kalu detektif Alex akan membahas mengenai sahabatku, Rena, yang juga menjadi korban kegilaan orang sakit jiwa itu. “Anda membuatku semakin ingin pergi dari tempat ini detektif,” ucapku dingin.

“Tolonglah sahabatmu itu dengan… “

“Apa dengan menemukan korban yang terakhir akan membuat Rena hidup kembali?! Aku rasa tidak!” Aku kembali lupa untuk mengontrol nada suaraku. Aku baru sadar, tidak seharusnya aku meneriaki detektif Alex seperti itu. Apalagi di dalam kantor polisi yang masih ramai dipenuhi para petugas kepolisian.

Detektif Alex tampak menyerah. “Ok, aku akan memberikanmu waktu untuk memikirkannya. Ayo, aku akan mengantarmu pulang.”

***

Aku memang tidak ingin peduli lagi dengan kasus itu. Namun bayangan si wanita yang sekarang masih belum diketahui keberadaannya itu masih menghantui pikiranku. Sekarang aku merasa seperti orang yang telah melepaskan sebuah tanggung jawab yang besar. Aku merasa telah membiarkan wanita yang mungkin saja masih hidup itu menderita di dalam kesendirian. Bagaimana kalau dia sampai meregang nyawa karena aku menolak membantu polisi untuk menemukannya? Bagaimana perasaan keluarganya? Suaminya? Anaknya yang masih kecil itu? Atau orang tuanya?

Aku menyaksikan suami dan anak laki-laki wanita itu di TV pagi ini. Wajah anak –yang tampak masih belum mengerti dengan apa yang terjadi– itu, membuat konflik yang terjadi di dalam hatiku semakin menjadi-jadi. Sepertinya aku memang tidak mempunyai pilihan lain. Jalan satu-satunya agar pikiranku kembali tenang adalah dengan membantu para polisi itu untuk menuntaskan kasus ini.

Aku meraih ponselku dengan hati yang masih berat. Namun aku harus tetap melakukannya. Aku harus menghubungi detektif Alex dan memberitahunya jika aku ingin membantunya kembali. Aku harap dengan membantu menemukan wanita itu, pikiranku bisa benar-benar terbebas dari segala macam bayangan yang mengganggu.

“Aku akan menjemputmu. Jam berapa kau keluar dari sekolah?” Untunglah, detektif Alex sepertinya menyambut baik keinginanku untuk kembali membantunya.

“Jam pelajaranku sudah selesai. Anda bisa menjemputku sekarang di sekolah.”

“Ok, aku akan sampai di sana dalam lima menit.”

***

“Jadi anda sudah mendapatkan kemajuan?” Aku tidak mengharapkan jawaban yang menggembirakan.

“Dia masih tidak mau berbicara. Dan sekarang pengacara pria itu menuntut kepolisian untuk memindahkannya ke rumah sakit jiwa. Si pengacara sialan itu berkoar-koar mengenai berkas yang menunjukkan kalau orang itu melakukannya karena dia mengalami gangguan mental. Tentu saja mentalnya mengalami kerusakan. Orang manapun yang menghilangkan nyawa orang lain bukanlah orang bermental sehat. Sial…” ujar detektif Alex. Sesekali dia memukul setir mobil yang dikendarainya untuk menunjukkan kekesalannya. “Maaf aku berteriak-teriak kepadamu. Aku benar-benar kesal.”

Aku memang hanyalah gadis yang masih berusia lima belas tahun. Pengetahuanku tentang hukum juga masih jauh dari memadai untuk memberikan komentar. Namun aku mengerti dengan apa yang dirasakan oleh detektif Alex dan rekan-rekannya di kepolisian. Mereka bersusah payah selama berbulan-bulan untuk menangkap orang sakit jiwa itu. Dan sekarang mereka harus menyerahkannya ke rumah sakit jiwa. Membiarkan manusia menjijikan itu lolos dari hukuman berat yang mungkin saja menimpanya. Aku juga tidak akan setuju jika aku menjadi detektif Alex. Orang itu harus dihukum berat. Dia telah menghilangkan nyawa sahabat baikku, Rena. Dia tidak pantas dikasihani.

“Kau siap?” tanya detektif alex, saat mobil yang kami tumpangi berhenti di depan kantor polisi.

Hatiku masih tarik-menarik antara siap dan tidak. Namun aku telah memutuskan untuk datang lagi ke tempat ini. Aku tidak akan mundur lagi. Aku ingin semuanya cepat selesai.

“Kita bisa melakukannya di tempat lain jika kau mau. Kita bisa memindahkannya di tempat yang menurutmu lebih nyaman.” Detektif Alex masih membujukku agar aku tidak membatalkan niatku.

“Aku ingin tempat yang lebih terang. Dan… bisakah anda menjauhkam detektif cerewet itu dariku?” Detektif Alex mengangguk sembari tersenyum sumringah.

***

Aku tidak pernah merasa sugugup ini seumur hidupku. Sebesar apapun usahaku meyakinkan diri, rasa ragu itu selalu saja muncul di dalam hatiku.

Pria kurus itu kini tengah berbaring tak sadarkan diri di atas kasur, di dalam kamar apartemen milik detektif Alex. Aku duduk di atas sebuah kursi tepat di sebelah pria itu. Sementara detektif Alex dan seorang polisi wanita bernama Milla menemaniku menjalankan tugasku.

Aku menghembuskan nafas, mencoba menekan ketakutanku jauh ke dasar hatiku. Aku memandang pria itu sejenak lalu mulai mendekatkan tanganku ke pelipisnya. Aku tahu keyakinanku tak akan pernah sepenuhnya mengisi hatiku. Selalu ada sedikit ruang untuk rasa ragu di dalam sana. Dan aku tidak ingin mempedulikannya lagi. Karena semakin lama aku menunggu, rasa ragu itu malah akan semakin membesar.

Aku memejamkan mata dan menyentuh dahi si pria.

Jeritan-jeritan kesakitan itu kini silih berganti memasuki kepalaku. Wajah-wajah memohon yang putus asa, darah, penyiksaan, perkosaan dan semua hal buruk yang tak pernah terbayangkan olehku kini berebutan merangsek ke dalam otakku.

Melihat semua hal itu membuat hatiku seakan diiris-iris oleh pisau yang sangat tajam. Rasa ngilu yang dirasakan oleh hatiku kini mulai menjalar menuju ke bagian mataku. Aku dapat merasakan air mataku mulai merembes melalui sela-sela kelopak mataku yang tertutup rapat. Bagaimana orang ini bisa melakukan semua hal keji seperti ini? Kenapa Engkau menciptakan orang seperti ini Tuhan? Apa yang salah dengannya? Hingga dia melakukan semua hal mengerikan ini?

Pandanganku mulai berputar lagi. Tanpa sadar aku telah mengembalikan kesadaranku kembali ke permukaan.

“Kau tidak apa-apa?” tanya detektif Alex. Dia sudah berlutut di sebelahku.

“Ini, minumlah.” Detektif Milla memberiku segelas air.

Aku masih merasakan penderitaan yang dirasakan oleh para korban. Hatiku masih terasa ngilu, membuat air mataku terus mengalir membasahi wajahku.

Aku meminum air yang tadi diserahkan oleh detektif Milla. “Ya, aku tidak apa-apa. Aku akan melanjutkan. Aku masih belum menemukan korban terakhir itu,” ucapku.

“Baiklah,” ucap detektif Alex sembari melirik ke arah detektif Milla.

Rupanya aku telah terhanyut terlalu jauh ke dalam penderitaan yang dirasakan oleh setiap korban yang aku lihat dan telah melupakan tujuanku yang sebenarnya, yaitu menemukan si wanita terakhir.

Aku tidak ingin rehat terlalu lama. Hanya sedikit lagi hingga aku menemukan keberadaan wanita terakhir itu. Namun setelah aku kembali menelusuri ingatan si pria, aku malah mendapatkan sesuatu yang sama sekali tidak aku harapkan. Bagaimana mungkin semuanya berakhir seperti ini? Di mana wanita itu? Aku tidak dapat menemukannya di dalam ingatan pria ini? Bagaimana mungkin dia bisa menghilang dari ingatan orang ini?

“Tidak! Ini tidak mungkin!” pekikku saat aku kembali sadar. “Aku tidak bisa menemukannya. Aku melihat kekejaman orang ini. Aku bahkan melihat seluruh hidupnya. Tapi aku tidak bisa menemukan wanita itu. Aku tidak tahu apa yang salah denganku?!” Aku tidak tahu kemana perginya ingatan pria kurus ini mengenai si wanita terakhir. Ingatan itu seperti sengaja dihapus dari dalam kepalanya. Aku benar-benar tidak bisa menerimanya. Aku harus melihat berbagai hal buruk yang terdapat di dalam otak pria ini hanya untuk mengetahui jika dia tidak mengingat lagi di mana dia menyekap si wanita terakhir itu? Aku benar-benar tidak bisa menerima kenyataan itu.

***

“Apa kau pernah merasa bersalah atas sesuatu yang tidak kau perbuat? Maksudku, atas kejadian buruk yang tidak langsung disebabkan olehmu?” tanyaku kepada sahabatku Eva.

Gagalnya si wanita terakhir itu untuk ditemukan memang bukan sepenuhnya salahku. Detektif Alex mencoba mengatakannya kepadaku sesaat setelah aku gagal menemukan keberadaan korban terakhir itu. Aku juga telah meyakinkan hatiku untuk memaafkan diriku sendiri atas kegagalan itu. Walaupun begitu, masih ada sebagian kecil hatiku yang masih belum sepenuhnya memaafkan kesalahanku. Bayangan-bayangan penderitaan si wanita masih sesekali muncul di dalam kepalaku. Membayangkan dia meninggal secara perlahan-lahan dalam kesendiran benar-benar membuat hatiku tidak lagi setenang dulu.


message 12: by throller (last edited Dec 09, 2013 01:47PM) (new)

throller | 53 comments “Ya, kenapa?” jawab Eva, sembari mengalihkan pandangannya dari buku yang dibacanya kepadaku.

“Tidak, aku hanya merasa melakukan kesalahan kecil kepada orang lain. Walaupun secara tidak langsung,” jelasku.

“EKHEM!” Penjaga perpustakaan berdehem mendengar percakapan aku dan Eva.

Eva memelankan suaranya hingga setengah berbisik. “Minta maaf saja kepadanya. Aku pernah melakukan kesalahan yang sama saat aku tidak bisa mengantar adikku ke sekolah. Saat itu aku harus pergi ke rumah Alicia untuk mengerjakan tugas mendesak. Adikku patah kaki karena tertabrak mobil. Tapi dia memaafkanku. Jangan takut untuk meminta maaf.”

Aku akan melakukannya, jika wanita yang hilang itu masih diberikan kesempatan oleh Tuhan.

“Tiiit…Tiiit…Tiiit!” Suara alarm dari jam tangan eva berbunyi.

“Ow, aku harus pergi lebih dulu. Aku harus menemui Greg, kami janji makan malam di McDonald hari ini. Kau akan baik-baik sajakan? Maaf aku harus meninggalkanmu sendirian,” ucap Eva sembari sibuk mengemasi beberapa buku dan alat tulisnya.

“Ya, aku akan baik-baik saja,” jawabku sembari tersenyum. “Hati-hati!” ucapku kepada gadis berambut pirang itu. Dia mengedipkan matanya dan pergi meninggalkanku.

Kini tinggal aku sendirian, duduk sembari memandang beberapa buku di depanku tanpa membacanya sedikitpun. Bahkan tempat yang paling kosong dan tenang di sekolah ini pun tidak bisa membawa ketenangan yang sempurna untukku. Entah harus berapa lama lagi bagiku untuk benar-benar menghilangkan rasa bersalah ini dari dalam hatiku.

Aku mendengus dan melirik sejenak ke arah sebelah kananku. Sekitar enam bangku dariku duduk seorang anak lelaki yang rasanya pernah aku lihat sebelumnya. Dia duduk sendirian sembari sibuk menikmati bacaannya. Oh ya, dia adalah Edwar Harlenson, si pendiam dari kelas matematika.

Melihat anak itu membuatku teringat akan masa lalu si pembunuh yang juga sama pendiamnya. Mereka sama-sama menyukai kesendirian. Entahlah, atau mungkin mereka terpaksa sendiri karena tidak ada yang ingin berteman dengan mereka?

Kebetulan aku sedang ingin mengalihkan pikiranku. Setidaknya dengan mencoba untuk berkenalan dan berbicara dengan anak itu, pikiranku akan teralihkan untuk sejenak.

Aku beranjak dari kursiku dan duduk di depan kursi yang ditempati oleh Edward Harlenson. Posisiku berhadap-hadapan dengan anak yang mulai menunjukkan ekspresi canggungnya itu.

“Hai, kamu Edward kan? Aku Helena, Helena Wilson. Kita satu kelas di pelajaran matematika. Kau pasti pernah melihatku sepintas?” Aku mencoba untuk memulai percakapan.

Edward tampak kebingungan. Namun dia akhirnya membalas sapaanku. “I… iya, aku sering melihatmu. Dan aku juga tahu kau.”

“Jadi, kau sering menghabiskan waktumu di perpustakaan ya? Kau pasti tahu semua judul buku yang ada di sini. Kau mempunyai referensi buku yang menarik untukku? Aku sedang merasa bosan. Aku ingin mengalihkan kebosananku dengan membaca buku.” Aku mencoba mengurangi kecanggungan yang ditunjukkan oleh anak di hadapanku ini. Dia tidak mungkin membuka topik pembicaraan terlebih dulu.

“Ya… ada beberapa buku yang sering dibaca oleh gadis-gadis sepertimu. Novel remaja banyak di bagian fiksi populer.”

“Buku apa yang kau baca? Apa itu novel populer?” Aku mengamati buku yang dibaca oleh Edward harlenson. Tapi aku tidak dapat menebak judul ataupun genre dari buku itu. Buku itu tampak murahan dengan sampul karton tipis berwarna hijau. “Bisa aku melihatnya sebentar?” Edward tampak tidak ingin menyerahkkan buku yang tengah dibacanya itu kepadaku. “Aku tidak akan merebutnya darimu,” ucapku sembari tersenyum.

Dengan susah payah, Edward menyodorkan buku yang tengah dibacanya kepadaku. Entah apa yang membuatnya tampak sangat berat hati meminjamkan buku ini kepadaku walau cuma sebentar.

Aku mengernyitkan dahi saat melihat sampul buku yang berjudul ‘PLEASURE’ ini tak mencantumkan nama pengarang ataupun penerbit. Buku ini juga tak mempunyai cap perpustakaan sekolah. Aneh sekali, bagaimana buku ini bisa terselip di dalam rak buku yang ada di sini?

“Siapa pengarang buku ini?” tanyaku sembari mulai membuka buku yang lumayan tipis ini. Aku terkejut dengan apa yang aku lihat di dalam halaman per halaman buku ini. Gambar-gambar yang ditunjukkna oleh buku ini terlalu fulgar dan mengerikan untuk dinikmati. Buku yang menceritakan tentang seorang pembunuh ini menunjukkan apa yang disebut oleh si penulis sebagai ‘kenikmatan dalam membunuh’.

Yang menarik adalah adegan-adegan pembunuhan yang tergambar di dalam buku ini sama persis dengan yang aku lihat di dalam kepala si pria yang aku masuki dua hari yang lalu. Urutan kejadian dan cara mengeksekusi korbannya juga seragam dengan apa yang dilakukan oleh pria itu.

Mungkin aku memang hanya menebak-nebak saja, tetapi firasatku mengatakan kalau pria itu melakukan aksinya mengikuti urutan dan cara yang digambarkan oleh buku ini. Aku harus menghubungi detektif Alex lagi. Aku harus memberitahunya jika aku menemukan jawaban yang selama ini sedang dicari oleh pihak kepolisian. Yaitu tempat di mana pria itu menyekap si wanita terakhir. Tanpa mempertimbangkan apakah detektif Alex akan percaya dengan ucapanku atau tidak, aku langsung menghubunginya dari ponselku.

“Di mana kau menemukan buku itu? kami telah mencari di berbagai sumber untuk menemukan metode pembunuhan yang sama dengan yang dilakukan oleh pria itu. Kami juga telah menelusuri semua perpustakaan di kota ini, hingga menanyai petugas dan memeriksa arsipnya. Tapi hasilnya nihil,” ujar detektif Alex.

“Di perpustakaan sekolah. Buku ini berjudul pleasure. Aku juga mengira kalau buku ini ilegal. Karena tidak ada cap perpustakaan di sampulnya. Aku akan mengirimkan kopiannya kepada anda jika perlu.”

“Baiklah. Kirimkan kopian buku itu lewat fax. Aku tunggu sekarang!”

Aku mengkopi buku yang tak memiliki identitas ini dengan mesin fotokopi yang terdapat di perpustakaan dan mengirimkannya lewat fax yang juga tersedia gratis di sini kepada detektif Alex. Aku harap penemuanku ini akan membantu banyak. Paling tidak aku memberikan para polisi itu sebuah alternatif lain di mana mereka harus menemukan si wanita terakhir. Aku harap mereka akan menganggapnya serius, sama halnya dengan bukti-bukti yang lainnya.

Detektif Alex belum menghubungiku lagi. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Hingga sekitar sepuluh menit kemudian ponselku berbunyi. Dia akhirnya menghubungiku kembali.

“Kami sedang mempertimbangkannya. Tapi aku diberikan keleluasaan untuk bertindak. Aku harap buku ini akan membuahkan hasil.” Aku senang sekali mendengar ucapan detektif Alex itu.

“Terima kasih detektif.” Bukan hanya bibirku saja yang sekarang tersenyum sumringah, tetapi juga hatiku.

“Tidak, terima kasih.”

***

"Jadi di perpustakaan ini ya kau menemukan buku itu? Rasanya, kami juga sudah memeriksa tempat ini," ujar detektif Alex sembari meraih sebuah buku dari rak buku di hadapannya.

"Anda harus menelusuri satu persatu rak yang ada di sini detektif. Bukan hanya memeriksa arsip perpustakaan, karena buku itu memang tidak terdaftar. Mungkin saja ada beberapa buku yang sama yang tersembunyi di perpustakaan yang lain. Aku melihat buku itu karena temanku sedang membacanya. Aku kasihan juga kepadanya. Buku itu disita oleh pihak perpustakaan karena ilegal. Seseorang pasti menyelinap ke sini dan menyelipkan buku itu di antara buku-buku yang lain."

"Kau benar. Itu sebabnya kami tidak pernah menemukan buku itu."

"Menurut anda siapa yang menulis buku itu?"

"Entahlah? Mungkin orang gila kesepian yang ingin melampiaskan kesendiriannya. Seperti pecandu narkoba, kau tahu? Mereka selalu menggunakan obat-obatan terlarang untuk mendapatkan kenikmatan tertentu, hingga mereka bisa melupakan semua masalah yang mereka miliki. Walaupun para penyendiri itu tampak tidak peduli, tetapi mereka pasti merasakan kesepian yang sangat menyiksa. Jauh di dalam hatinya mereka juga menginginkan hidup seperti orang lain. Pergi keluar bersama sahabat atau pacar. Bukannya berdiam diri sendirian dibalik dinding kamar,” jelas detektif Alex. ”Atau mungkin yang menulis buku itu adalah si pria kurus. Dia lalu menyelipkan buku hasil karangannya itu di sini sebelum dia terkangkap. Dia juga seorang anti sosial. Selalu ada banyak kemungkinan," lanjutnya.

“Tapi aku tidak melihat pria itu pernah menulis buku di dalam ingatannya.”

“Mungkin dia menyuruh seseorang untuk menghipnotisnya dan menghapus ingatannya tentang buku itu. Sama halnya dengan yang dilakukannya mengenai keberadaan wanita itu.” Detektif Alex mengembalikan buku yang tadi diambilnya, lalu menarik buku yang lainnya.

“Tapi kenapa dia menyelipkan buku itu di tempat umum jika dia tidak mau ada seorang pun yang mengetahui keberadaan wanita itu?”

“Seperti yang aku katakan Helena. Dia hanya ingin memuaskan dirinya. Dia hanya ingin melampiaskan kesepiannya dengan membuat semua teka-teki ini.”

Aku mendengus. “Tapi sayang sekali. Kita tetap saja gagal menyelamatkan wanita itu.”

“Ya, seperti yang guruku dulu selalu katakan. Kita hanya bisa berusaha. Pada akhirnya kita memang harus mengalah kepada keegoisan Tuhan. DIA bisa memutuskan semaunya apa hasil yang harus kita dapat. Kita hanya bisa menerimanya, dan mencoba untuk melakukannya lebih baik dari sebelumnya.”

Detektif Alex kembali menyelipkan buku yang tadi diambilnya ke tempatnya semula. "Ngomong-ngomong kau sudah makan? Mau makan bersamaku? Jam pelajaranmu sudah berakhir kan?” ajak detektif Alex. “Jangan terus menerus menyalahkan dirimu. Kau harus terus melanjutkan hidupmu Helena. Lagipula semuanya bukan salahmu. Kau seharusnya memang tidak menanggung semua tanggung jawab ini. Jika ada yang harus menanggung rasa bersalah atas tewasnya wanita itu, orang itu adalah aku dan rekan-rekanku, bukan kau. Mengerti?” lanjutnya.

Ya, yang diucapkan oleh detektif Alex memang benar. Hidupku memang tidak akan berakhir dengan meninggalnya wanita itu. Aku harus berusaha memaafkan diriku dimulai dari sekarang. Betapapun sulitnya itu. "Mmm... Aku ingin pizza keluaran baru di king of pizza. Aku benar-benar ingin mencobanya."

"Aku senang mendengarnya. Ayo! Aku akan mentraktirmu. Kebetulan ini adalah tanggal muda."

_END_


message 13: by Han (last edited Dec 09, 2013 08:40PM) (new)

Han Asra (goodreadscomhanasra) | 417 comments Jan, Piotr, dan Kazimir

Kehangatan matahari pagi perlahan menyelimuti dinginnya fajar. Secercah cahaya menembusi celah-celah dahan dan daun pohon hutan yang tinggi. Sinar matahari semakin lebat menyelimuti hutan, sampai seberkas cahaya berhasil menyinari wajah seorang kulit putih yang tertidur di salah satu gubuk pedesaan, menerobos lubang-lubang kecil di atap kayu.

Laki-laki itu terbangun, matanya terasa berat karena kasur lapuk yang ditidurinya. Dia yang dulu tidak akan terbangun dari sekedar seberkas cahaya. Bahkan apabila seluruh matahari menyinarinya lansung, dia akan tetap terlelap sampai badannya berkata bangun. Tapi tidak selama lima tahun ini, ketika dari perut buncitnya tumbuh tiga pohon kecil, sedikit cahaya atau sepercik air akan cukup mengguncangkan perutnya hingga dia terbangun.

Tidak lama dia langsung berdiri, dan menghampiri baskom kayu diatas meja yang sudah dia minta untuk diantar tiap pagi. Dibasuhnya muka dan tanaman di perutnya dengan air dingin tersebut. Wajah dan badannya langsung terasa segar, namun dengan kesegaran yang berbeda, dimana embun pagi seolah langsung menyusuri seluruh tubuhnya melalui nadi, mendinginkan jiwa dan raganya sekaligus. Rasa yang selalu membuatnya terbangun dan tidak akan pernah melewatkan satu pagi pun tanpa sebaskom air.

Setelah kering, dia mengenakan pakaian safarinya, sebuah kemeja, celana pendek, kaus kaki dan sepatu, semuanya berwarna coklat. Kemeja dia kancingkan kecuali bagian perutnya, memamerkan perut buncitnya yang hijau ditumbuhi tanaman. Dia sama sekali terganggu dengan ini. Ada hal yang lebih penting baginya selain pendapat orang lain dan penampilannya. Selama dia bisa mengejar sains tanpa mengganggu orang lain, itu sudah cukup baginya.

Usai berbenah diri dia mengambil tas kulit disudut kamar dan langsung keluar dari gubuk yang biasa dipinjamkan kepala desa kepadanya. Selama 13 tahun dia menetap di pulau Jawanesia, menghabiskan sebagian besar waktunya itu menjelajahi pedalaman hutan dan mengoleksi spesimen mahluk eksotis untuk jurnal penelitiannya. Gubuk itu terasa lebih sebagai rumah dibandingkan pondokan yang diberikan padanya di kedutaan Ibukota. Bahkan setelah lima tahun, gubuk tersebut memberikan kenyamanan yang tak tergantikan.

Laki-laki itu bernama Mikhael von Grubin, seorang penjelajah, ilmuwan, dan duta Viestria untuk Keraton Pakunagara. Walau bertugas sebagai duta, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di Desa Cikeusik, menenggelamkan diri menjelajahi alam yang tidak terjamah. Penduduk Desa Cikeusik awalnya melihat Mikhael sebagai orang aneh, beberapa bahkan menganggapnya sebagai peranakan dewa atau suruhan iblis. Tapi tidak lama sampai Mikhael bisa berbaur dengan penduduk, dan mempelajari bahasa mereka. Bagi mereka, Mikhael sudah menjadi seperti bagian dari desa, sampai satu atau dua orang tetua berusaha menjodohkan putri mereka, tawaran yang Mikhael tolak dengan alasan bahwa dia tidak akan selamanya tinggal disana.

Delapan tahun dia menerima kehangatan, dan kali ini dia merasakan hal yang sama sekali berbeda. Seminggu dia kembali ke Cikeusik, tidak ada sambutan yang diberikan padanya. Orang-orang selalu berbisik ketika dia lewat. Beberapa bahkan meneriaki dia dengan umpatan, atau meneriakinya dengan bahasa tua, yang Mikhael bisa mengerti sedikit, sebagai ajian untuk mengusir iblis. Tempat yang familier baginya sekarang terasa asing, dan waktu satu minggu yang dihabiskan olehnya disana terasa begitu lama seolah kenyataan pun berusaha mengusirnya dari desa itu.

Rumah kepala desa Cikeusik tidak jauh berbeda dari gubuk lain yang menjadi tempat tinggal penduduk, kecuali ukurannya yang sedikit lebih besar, dan rupanya yang terlihat lebih kokoh. Tapi disampingnya terdapat sebuah bangunan yang nampak berbeda dari yang lain. Hampir semua sisinya ditumbuhi lumut, dan dirambati tanaman liar lainnya. Walau terlihat dilupakan, bangunan tersebut memiliki sesuatu yang berbeda. Malah, bangunan tersebut mengeluarkan sensasi yang menekan ketika Mikhael melihatnya, seolah bangunan tersebut ditinggali oleh sesuatu yang lain. Dia tidak pernah menyangka selama delapab tahun kalau itu merupakan Ruang Keramat yang hanya diperuntukkan untuk Titisan Hutan.

Seseorang yang sudah sepuh berdiri diambang pintu. Kedatangan Mikhael diperhatikannya dengan seksama, dengan matanya menatap 3 pohon di perut pria kulit putih tersebut. Ketika Mikhael menyalaminya, dia membalas, namun dengan sedikit kehangatan dibandingkan dengan apa yang biasa dia terima lima tahun yang lalu.

“Sepuh Ujang, apa anda sudah lama menunggu?” tanya Mikhael sembari menunduk, menggunakan bahasa wiwitan dengan logat yang sangat kental. “Tidak juga tuan, saya baru selesai sarapan, dan hendak menghisap tembakau bakar sebelum tuan datang” balas orang tua sembari tersenyum kecil.

Dari balik kantung kemeja Mikhael mengeluarkan selinting tembakau kering, lalu diberikannya gulungan daun kering itu pada Sepuh Ujang. Lelaki sepuh itu menerimanya sambil tersenyum dan malu-malu. Dinyalakannya tembakau itu langsung dengan korek api yang disimpannya, wajah Sepuh Ujang senantiansa tersenyum dan nampak lega. “Mari tuan, silakan masuk” ucapnya sopan pada Mikhael.

Sepuh Ujang masuk terlebih dahulu untuk mempersilakan tamunya. Mikhael dengan hati-hati melipat kakinya dan duduk. Dia menatap Sepuh Ujang yang lagi meninkmati tembakaunya bersama secangkir air putih dan ketan. Tidak ingin menghabiskan waktunya lebih lama, dia mengutarakan maksud kedatangannya hari ini.

“Sepuh, Apakah hari ini sudah siap?” tanya Mikhael dengan tatapan serius. Sepuh Ujang menatapnya balik, tapi dia nampak santai, bahkan sempat menghisap dan menghembuskan asap tembakau sebelum menjawab. “Kalau Cici belum keluar, berarti tuang harus tetap menunggu.”

Tiba-tiba dari luar sebelah rumah, terdengar suara berat pintu terbuka, membuat Sepuh Ujang berhenti menghisap tembakaunya, dan Mikhael mendongakkan kepalanya. Kedua laki-laki itu langsung berdiri dan menghambur keluar, dengan Mikhael membiarkan Sepuh Ujang duluan dihadapannya.

Pintu Ruang Keramat terbuka lebar, udara lembab terasa mengalir keluar. Udara sekitar terasa bergidik, menyebabkan rasa yang tidak nyaman bagi Mikhael. Bahkan Sepuh Ujang pun masih merasakan bulu kuduknya berdiri setiap kali pintu itu terbuka. Perlahan muncul sesosok manusia muncul dari dalam kegelapan Ruang Keramat. Sosok tersebut tidak lain adalah Cici, Titisan Hutan Cikeusik saat ini. Dia berjalan keluar dengan perlahan, melindungi matanya dari sinar matahari yang masih bersinar kuat.

Seketika gadis muda itu keluar, pintu Ruang Keramat dibelakangnya langsung tertutup secara perlahan. Gadis itu dengan santai berjalan ke Sepuh Ujang, menadahkan tangannya, “Abah, apa ada ketan? Cici lapar nih.”

===

Ketiganya duduk di ruang tengah, Sepuh Ujang menghabiskan tembakaunya dan Cici menjilati bumbu ketan di jemarinya. Sementara itu Mikhael sudah bersiap untuk kembali mengutarakan maksud kedatangannya kemari, tapi gadis itu mendahuluinya berbicara.

“Jadi tuan, aku sudah berbicara pada Sosok Ageng, Sang Hutan. Dia tidak lagi berbisik padaku, tapi malah berteriak bahwa ada seseorang yang dengan lancang mengambil dan memisahkan ‘anak-anak’ darinya.”

Hutan Ageng Cikeusik sudah ada di dunia jauh mendahului manusia, jauh sebelum dia memiliki nama. Setiap jiwa mahluk yang berada didalamnya membentuk kesatuan yang menjadikan Hutan Ageng tidak sekedar tempat tinggal, namun menjadi bagian dari hutan itu sendiri. Terkecuali manusia, yang Hutan Ageng anggap sebagai perusak, dan pembawa kehancuran serta kesengsaraan.

Tidak ada manusia yang diperkenankan tinggal di sekitar Hutan Ageng, apalagi sampai masuk kedalamnya. Segala daya alam akan bergerak untuk mengusir manusia dari kedamaian hutan yang terusik atas kehadiran mereka. Semua seperti itu sampai muncul seorang perempuan bernama Cici, dia yang bisa berbicara pada Hutan Ageng. Perempuan itu masuk kedalam Hutan Ageng, untuk memohon tempat tinggal padanya, serta membujuk bahwa dia serta keturunannya akan merawat Hutan Ageng sebaik mungkin.

Semenjak itu Desa Cikeusik berdiri, dengan seorang Titisan Hutan lahir setiap tahunnya. Titisan Hutan ini adalah mereka yang dipilih Hutan Ageng untuk medengar suara mereka, dan menyampaikannya pada manusia. Mereka yang memiliki kemampuan ini akan diberi nama Cici, mengemban tugas dan nama itu sampai Hutan Ageng menerima mereka melalui tanah.

“Jadi ini bukan kutukan atau santet salah satu dukun disini” tanya Mikhael dengan putus asa. Cici yang mendengarnya langsung tertawa terbahak, Sepuh Ujang sendiri mengeleng-gelengkan kepalanya. Dia berusaha berkata sebijak mungkin pada Mikhael. “Tuan sebaiknya mengaku saja. Tidak ada dukun disini, apalagi mereka yang sampai mampu melakukan itu pada tuan. Itu akan lebih baik, Hutan Ageng mungkin akan melepas tuan kalau tuan mau mengaku dari awal.”

Mikhael tertunduk, putus asa. Dia tahu persis apa yang dikatakan oleh Sepuh Ujang. Lagipula dia yang selalu mengingatkan padanya ketika dia hendak masuk kedalam hutan. “Janganlah tuan berani-berani mengambil apapun dari Hutan Ageng tanpa seizinnya” begitu kata si sepuh berulang kali. Mereka yang melanggar akan dikenai kutukan oleh Hutan Ageng. Anak-anak Hutan Ageng akan tumbuh dari perut para penista, dan tidak lama sampai mereka menjadi dikuasai anak Hutan Ageng dan menjadi bagian dari bumi kembali.

Datang dari negeri mesin dan tehnokrat, cerita itu bagai takhayul bagi Mikhael, yang digunakan untuk menakuti-nakuti masyarakat primitif oleh raja mereka. Tidak ada selama delapan tahun dirinya keluar dari hutan tanpa membawa spesimen mahluk-mahluk eksotis untuk dia pelajari dan bawa kembali.

Mungkin tumbuhan itu tidak akan tumbuh di perutnya andai kata salah satu rekannya tidak ada yang dipermainkan oleh jenglot milik salah seorang dukun dari keraton tetangga. Dia tidak akan percaya dan terikat oleh kekuatan tanah Jawanesia andaikata dia tidak melihat langsung bagaimana jenglot yang menganggu rekannya tersebut ditarik langsung dari mulutnya. Hal yang dia ketahui keesokan harinya adalah bagaimana tiga tunas tanaman tumbuh dari perutnya. Tidak bisa dicabut sebagaimana dia akan merasakan sakit, seolah tanaman tersebut menjadi bagian dari tubuhnya.

“Tuan, aku bisa dengar dari tanaman dari di perutmu kalau tuan sudah tahu semua ini akibat perbuatan tuan sendiri.” Cici masih sedikit terkikik sesekali, menertawakan sikap keras kepala Mikhael. “Apakah semua yang kamu ambil itu berharga sampai tuan rela tinggal disini sampai tanaman ditubuh mengambil diri tuan?”

Semua spesimen mahluk eksotis yang dikumpulkan oleh Mikhael memang sangat berharga adanya. Setibanya di negara asal, dia tidak akan menjualnya pada siapapun, seberapapun harga yang ditawarkan oleh kolektor mahluk eksotis. Dia ingin melihat wajah rekan sesama ilmuwan lainnya terpukau dan terpesona sekaligus bayang-bayang akan kemajuan dalam ilmu biologi, semua karena spesimen eksotis yang dia bawa.

Namun bagaimana dia bisa membawa itu semua kalau dirinya terjebak disini? Sebagaimana dirinya menaiki kapal, akar-akar tanaman dalam perutnya akan mengeras, memberinya rasa sakit yang luarbiasa. Seolah tanaman tersebut menolak untuk pergi dan hendak memaksanya tinggal di tanah ini, tanah Jawanesia.

+++


message 14: by Han (last edited Dec 10, 2013 05:04AM) (new)

Han Asra (goodreadscomhanasra) | 417 comments +++

Setinggi apapun keinginan Mikhael untuk termaktub dalam catatan sejarah, semua itu tidak akan gunanya kalau dia bahkan tidak bisa kembali. Dia memang cinta ilmu pengetahuan dan kejayaan yang bisa dapat dengannya, tapi dia begitu merindukan udara kering penuh polusi Viestria. Akhirnya didalam kepala dia memutuskan untuk melakukan hal yang sudah dia pertimbangkan selama seminggu ini, suatu hal yang seharusnya sudah dia lakukan sebagai ganjarannya.

Belum sempat Mikhael berbicara, Cici menyelanya dengan raut wajah puas, namun serius, “Nampaknya tuan sudah keukeuh dengan keputusan tuan. Apa yang aku butuhkan untuk menghadap Hutan Ageng hanyalah kerelaan tuan melepas apa yang telah tuan ambil serta pengakuan tulus atas perbuatan tuan yang salah.” Cici berdiri dan menghadap Sepuh Ujang yang daritadi menyimak. “Abah, antarkan kami sampai mulut hutan,” gadis itu menengok ke Mikhael sekali lagi “nah tuan, jangan lupa membawa apa yang tuan butuhkan ya, kalau tidak perjalanan kita nanti percuma.”

Sepuh Ujang mengantarkan mereka berdua sampai mulut hutan. Dari situ, hanya Mikhael berdua dengan Cici memasuki Hutan Ageng bersama. Sepuh Ujang memperingatkan Mikhael untuk tetap bersama Cici, tidak peduli seberapa sering dia sudah keluar masuk hutan. “Tempat yang tuan kunjungi akan berbeda” ucap lelaki tuan itu dengan serius.

Sepanjang perjalanan, Mikhael belum merasakan sesuatu yang berbeda dari hutan yang dulu dia biasa kunjungi. Semua terasa sama. Udara lembap yang dipenuhi titik air, ratusan suara mahluk hidup kecil, baik itu serangga maupun kadal memenuhi suasana hutan. Tiba-tiba saja Cici yang berada didepannya berbicara.

“Tuan sepertinya tidakpernah pergi kedalam hutan terlalu jauh ya?”

“Tidak, karena abahmu memperingatkan akan bahayanya.”

Cici kembali terkikik mendengar jawaban Mikhael. Dengan 3 pohon kecil yang menyembul dari perutnya, terlalu mudah bagi dia untuk mendengarkan kebenaran dari dalam pria kulit putih tersebut. “Kalau tuan tidak dihalangi oleh Hutan Ageng itu sendiri, tuan pasti sudah akan melanggar dan akan mencuri lebih banyak lagi, benar tidak?”

Lelaki itu hanya terdiam, mengakui bahwa apa yang dikatakan gadis itu adalah kenyataan. Bilamana semua hal ini tidak terjadi, sekembalinya dari Viestria dia sudah pasti akan membawa sekelompok penjelajah lebih besar untuk menerobos paksa kebagian hutan yang lebih dalam.

Walaupun suasana hutan sama seperti biasa, Mikhael semakin menyadari hal yang dia anggap aneh. Hutan Ageng biasanya sangat sulit untuk dia jelajahi. Banyak semak-semak, tanaman yang merambat liar sepanjang tanah, sampai dengan bukit-bukit licin yang basa karena hujan. Namun dia dengan Cici berjalan lurus tanpa hambatan, seolah Hutan Ageng membuka jalan untuk Cici.

Mereka masuk semakin dalam kehutan, dimana cahaya matahari semakin sulit menembus masuk, membuat sekeliling nampak menjadi malam walaupun mereka hanya berjalan selama beberapa jam. Keduanya terhenti dihadapan tembok tanaman berduri yang tumbuh sangat rapat, seolah menghalangi siapapun yang hendak masuk kedalam. Cici berjalan ketembok tanaman tersebut, menempelkan tangannya. Yang Mikhael tahu berikutnya adalah, sebuah jalan terbuka lebar dihadapan mereka.

“Nah tuan, sekarang pegang tanganku. Kehadiranku sendiri tidak bisa menjamin keselematan tuan dari Hutan Ageng, jadi jangan macam-macam ya” Cici memperingatkan Mikhael dengan serius. Laki-laki itu hanya menurut, dan memegang tangan si gadis seperti anak kecil dengan ibunya di pasar.

Pedalaman Hutan Ageng mewujudkan sosoknya yang lain. Mikhael tidak hanya melihat tanaman dan mahluk yang begitu janggal. Secara samar, dia bisa mendengar suara-suara berbisik disekeliling. Suara bisik-bisik itu terdengar seperti suara angin yang melewati celah kayu-kayu dalam pohon. Semakin jauh mereka berjalan, suara-suara itu semakin banyak terdengar di udara. Walau hanya sekedar bisik-bisik, jumlahnya yang semakin banyak membuat suasana hutan terasa menekan.

Suara-suara itu awalnya tidak berasa seperti apa-apa. Tapi Mikhael bisa merasakan rasa dengki serta amarah terdengar di bisik-bisik sekitarnya, seolah seluruh Hutan Ageng menistakan kedatangan dia. Lelaki menelan ludah, keringat dingin mulai bercucuran, dan hatinya terasa semakin ciut.

“Tuan bisa mendengarnya, suara-suara itu?” tanya Cici tanpa menengok.

“I-iya”

“Maafkan karena aku membuatmu bisa mendengarnya tuan, tapi Hutan Ageng bisa saja sewaktu-waktu menculik tuan tanpa sepengetahuanku kalau tuan tidak berpegangan padaku. Kuatkan dirimu, kita akan sampai sebentar lagi.”

Ketika suara-suara itu semakin banyak dan menekan diri Mikhael, mereka akhirnya tiba dihadapan sebuah pohon raksasa. Ratusan surai serta akar gantung bergelantungan dari atas, lumut, jamur, dan tanaman rambat yang jauh lebih kecil dengan subur tumbuh sepanjang kulit pohon tersebut.

Mikhael merasa sangat kecil dihadapannya. Ukuran bukan yang membuat dia merasakan demikian, tapi keberadaan pohon itu sendiri yang mengekerdilkan hati Mikhael. Pohon nampak begitu hidup, seakan selalu ‘bergerak’ dan sadar dengan apa yang terjadi diseluruh hutan.

Suara-suara berbisik disekitar mereka semakin banyak dan semakin kencang, sampai kemudian Cici berteriak dengan suara yang tidak dikenali Mikhael. Suasana pun menjadi sangat senyap, semesta terasa berhenti akibat teriakan tadi.

“Nah tuan bisa melepaskan tanganku sekarang.” Mikhael melepas genggaman, tangannya dipenuhi keringat dingin. Sementara itu Cici berjalan mendekati pohon tersebut, kemudian dihadapannya dia duduk, dan menutup mata.

Cici membuka mulut, terdengar suara seperti bisik-bisik hutan dari gadis itu. Dia mengucapkan rangkaian kata yang terdengar mustahil untuk dilafalkan oleh manusia manapun. Semakin lama Cici merapalkan kalimat-kalimat tersebut, suasana Hutan Ageng dirasakan Mikhael semakin ringan, tidak lagi menekannya sedashyat yang dirasakan daritadi.

Tiba-tiba Cici berucap dalam suara manusia tanpa menengok, “Tuan, mendekatlah kesini.” Tanpa pikir panjang, Mikhael menuruti perkataan gadis itu. Namun Cici terdiam, sama sekali tidak membuka matanya, sampai kemudian dia berucap lagi, “Jadi tuan ini selalu merawat ketiga pohon di perut tuan secara baik-baik?” Mikhael mengangguk.

Gadis itu lalu kembali merapalkan kalimat-kalimat dalam suara berbisik seperti sebelumnya. Tidak lama, dia kembali berucap dalam suara manusia, “Tuan beruntung. Hutan Ageng sepertinya tidak berharap ganjaran yang begitu setimpal atas perbuatan tuan karena perlakuan baik pada tiga pohon itu,” Cici terkikik kecil, tapi matanya masih tetap tertutup, “bahkan Hutan Ageng sendiri tidak menyangka akan ada seseorang merawat baik-baik pohon yang akan membunuh dirinya.”

Memang ketiga pohon diperutnya itu dirawat dengan baik oleh Mikhael. Hanya saja dia tidak tahu bahwa ketiga tanaman itu bisa membunuhnya suatu saat nanti. Selama ini ketiga pohon itu memberikan semacam kehadiran yang memberinya ketenangan batin, bukan kegelisahan. Maka dia merawat mereka sangat baik, bagai seorang botani merawat tanaman mereka.

“Hutan Ageng berkehendak untuk melepas kutukan dari tuan. Apakah tuan siap?” Mikhael mengangguk, tapi tetap diam. Cici entah bagaimana bisa mengetahui jawaban Mikhael. “Kalau tuan sudah siap, kuburkan semua mahluk yang telah tuan curi disini, duduk lah menghadap kuburan itu, dan tutup mata tuan. Jangan sekali-kali mengintip sampai aku memperbolehkannya.”

Mikhael langsung menggali sebuah lubang dihadapannya dengan sekop kecil yang selalu dia bawa. Setelah cukup dalam, dia mengambil semua spesimen yang telah dia awetkan, semua spesimen yang dia kumpulkan selama delapan tahun berada di kepulauan ini. Dengan berat hati dia memasukkan semua itu kedalam dan menutupnya kembali.

Pria itu kemudian duduk dan menutup mata, Cici pun memulai kembali rapalan kalimatnya. Ketenangan sekitar dan suara Cici membuat Mikhael jadi termenung. Dia merasakan kesedihan ketika memutuskan untuk melakukan semua ini. Setelah dia menguburkan semua spesimen tadi, dia sadar bahwa bukan karena itu dia sedih.

“Nah tuan sudah bisa membuka mata” ucap Cici menyela perenungan Mikhael. Ketika pria itu membuka matanya, perutnya terasa hampa, ketiga pohon itu sekarang berada dihadapannya, tumbuh diatas kuburan yang dia buat.

Cici pun berdiri, dan mengajak Mikhael untuk segera kembali. Laki-laki itu menggenggam tangan si gadis dengan erat, namun kali ini dia tidak merasakan tekanan berat dari Hutan Ageng.

Ketika mereka hendak keluar dari perkarangan pohon besar itu, Mikhael menghadap kebelakang dan menatap tiga pohon kecil yang tadinya bersama dirinya selama lima tahun dan berbisik,

“Jan, Piotr, dan Kazimir, selamat tinggal.”

***


message 15: by Narita (last edited Dec 09, 2013 10:03PM) (new)

Narita | 289 comments Myohyang

Aku membuka pintu, melirik ke kanan dan kiriku. Khawatir, kalau-kalau ada pelayan yang datang memergokiku. Aku berjalan perlahan menyeret rok tipis seringan gula kapas. Lalu duduk di tepi serambi kecil. Membuka kaos kakiku dan mencelupkan ujung jariku yang terasa perih ke dalam danau. Dinginnya air terasa begitu segar membawa semangat baru dalam diriku untuk berlatih lagi. Memandangi daun gugur yang hanyut. Aku menengadah memandangi dedaunan pepohonan yang berubah warna menjadi oranye. Tanah yang ditutupi rerumputan hijau kini berubah menguning. Aroma musim gugur yang menenangkan. Hingga suara yang akrab membuyarkan segalanya.

“Nona Myohyang! Apa yang sedang anda lakukan di luar sana?!” Seru kepala pelayan wanita dengan rambut kepang yang dililitkan sekitar kepalanya. Wajahnya menunjukkan rasa khawatir bercampur panik. Ia berlari tergesa melalui jalan setapak yang sempit mendekatiku, roknya yang lebar berkibar membelah angin.

Aku menyambutnya dengan cemberut. “Aku hanya ingin mencari udara segar. Aku bahkan tidak menyentuh apapun jika kau ingin tahu.” Bukan tanpa alasan aku mempertegas hal itu. Menyentuh jiwa elemen alam secara sembarangan akan mempengaruhi jenis keahlian Myohyang dalam memanipulasi kekuatan Majeong. Itu sebabnya, sejak diumumkan secara rahasia calon Myohyang berikutnya, aku harus ditempatkan di ruangan terpencil ini dengan pengawasan ketat.

Si kepala pelayan menggeleng kesal. “Sudah sekian kali saya ingatkan untuk membuka jendela jika anda memang ingin mencari udara. Tidak perlu keluar ruangan. Apakah anda sudah lupa? Anda sama sekali belum diizinkan untuk melakukan kegiatan di luar. Masuklah kembali.”

Aku menatapnya nanar, mencoba untuk merayu dengan menggelitik sisi terlembut seorang wanita paruh baya. “Hanya sebentar saja, kumohon. Lagipula seminggu ini aku telah berlatih keras dan menjadi gadis yang baik. Beri kelonggaran untuk satu hari ini, ya? Tidak akan ada yang tahu jika kita merahasiakannya.”

Si kepala pelayan merasa bimbang untuk sesaat sebelum wajahnya kembali terlihat tegas. “Kembalilah ke ruangan anda nona, saya akan segera menyiapkan sarapan.”

“Baiklah.” Aku mengalah. Aku berjalan masuk dengan lesu menuruti perintahnya. Pintu kembali tertutup.

Aku berbaring di tengah kamarku yang minimalis; kasur tipis, selimut tebal, lampu tempel, beberapa gulungan dan buku kuno, sebuah meja kecil serta dua buah jendela tertutup. Tidak ada yang menarik. Tapi ini lebih baik daripada tempat tinggalku dulu. Aku harus ikut membanting tulang dan berjuang di tengah kemiskinan. Hingga suatu hari, orang-orang berpakaian putih dengan penutup wajah mendatangi keluargaku untuk mengadopsiku. Menurut peramal di keluarga Park, akulah Myohyang selanjutnya. Mereka tidak mengambilku tanpa imbalan, sebagai gantinya keluargaku mendapat sekotak emas serta pekerjaan terhormat.

Myohyang merupakan sebutan bagi dukun wanita yang mampu mengendalikan dan memanipulasi inti roh elemen alam, Majeong. Musim semi tahun depan, tepat saat aku menginjak umur tiga belas, aku harus memimpin upacara pemanggilan Majeong yang akan menjadi abdi setiaku. Itu sebabnya, tidak ada lagi waktu untuk bermain-main dan bersantai karena aku harus mencari roh terkuat yang bisa kudapatkan. Meski begitu, aku ini masih anak kecil. Butuh hiburan.

“Samsin…” Panggilku lirih.

Sebuah bola cahaya turun perlahan dari langit-langit, berputar lalu menggeliat cepat berubah bentuk. Empat kaki menyembul, diikuti ekor dan kumis pendek. Seekor kucing setinggi satu meter dibalut api menyala kemerahan bersujud di sisi kananku.

“Tuanku..” Si kucing masih menunduk taat. Aku melirik puas. Samsin merupakan Majeong pertama milikku yang berhasil kupanggil tanpa diketahui. Sebenarnya aku hanya iseng menguji coba kemahiranku merapal mantra pada api lilin. Lalu sebuah letupan bersuara keras disertai asap tebal mengejutkanku–serta penghuni lainnya saat tengah malam. Dalam beberapa saat yang hening tidak terdapat tanda-tanda Majeong, aku bernapas lega. Setidaknya aku dapat berkelit saat diomeli. Namun setelah jeda panjang yang menegangkan dalam kamar, Samsin muncul di waktu yang tepat; ketika orang-orang telah kembali ke ruangan mereka masing-masing. Awalnya Samsin berwujud anak kucing kecil manis nan imut dengan balutan api muda kebiruan. Dalam setahun terakhir ia banyak berubah warna dan menjadi seperti yang sekarang ini.

Kami saling berpandangan, tidak ada yang bersuara. Jantungku berdetak keras, khawatir akan konsekuensi tidak menyenangkan yang sering disampaikan guruku. Meskipun pada dasarnya Majeong merupakan roh yang bangkit karena upacara pemanggilan, jika Myohyang bersangkutan lebih lemah dari Majeong yang dipanggilnya, maka yang terjadi adalah kebalikannya. Majeong dapat memanipulasi tubuh majikannya.

Aku memandang cemas. Si Majeong berlutut, menundukkan wajah yang dipenuhi bulu. “Kau, Majeong api?”

“Sesuai dengan tebakan anda.”

Tubuh kucing yang tadinya padat entah mengapa berangsur transparan. Terdapat sebuah nama di tengah bola sebesar kepalan tanganku. “Sam..sin?”

Si kucing mengeong dalam. “Tuanku, aku terikat dengan kehidupanmu. Penyebutan nama tersembunyi merupakan kontrak dan sumpah antara Majeong dan Myohyang. Mulai detik ini aku abdimu.”

“Baiklah Samsin, apa kau roh dari segala api?”

Si kucing menengadah, ia menggeleng sopan. Matanya yang berwarna kuning menyala menatapku. “Majeong merupakan inti jiwa penghuni elemen di sebuah tempat. Jika wadahnya berbeda maka penghuninya pun tak sama.”

“Begitukah…” Aku merenung sebentar. “Dengar, aku belum mendapatkan izin untuk pemanggilan. Dan yang terjadi padamu merupakan sebuah kecelakaan yang tak disengaja. Jadi dapatkah kau, yah, bersembunyi namun tetap waspada. Sewaktu-waktu aku mungkin akan membutuhkanmu.”

“Sesuai keinginan Tuanku.” Si kucing menggeliat, memuntir dan berubah menjadi nyala api lilin yang lembut namun tidak membakar minyak beku di sekitarnya. Jika siang hari aku tidak memerlukan nyala lilin, maka Samsin akan kembali ke bentuk lingkaran dan menanti tersembunyi di langit-langit kamarku. Selama satu tahun ini hal itu terus berulang tanpa diiketahui siapapun kecuali aku.

Aku bangkit dan duduk bersila. “Samsin, apa kau pernah melayani Myohyang sebelum aku?”

“Pernah, Myohyang Han Geum. Beliau seorang tabib yang ahli. Aku sama sekali tidak berpikir akan dipanggil lagi karena selama aku bersama tuanku yang dulu tidak ada Majeong yang sama bangkit dua kali. Begitu pula dengan sejarah Myohyang lainnya. Majeong memiliki satu kali kehidupan begitu terikat sumpah dengan Myohyang. Begitu Myohyang bersangkutan meninggal maka Majeongnya pun ikut mati.”

“Kudengar setiap Myohyang memiliki bakat alami yang akan menentukan masa depannya.” Aku melirik Samsin. “Aku pribadi tidak begitu mahir dalam bidang pengobatan, tidak memiliki pengetahuan luas, dan tidak dapat melihat masa depan seperti pada kebanyakan Myohyang sebelumnya.” Aku menyentuh tumpukan rendah buku sejarah yang berjajar rapi.

“Tidak adakah informasi yang lainnya?” Tanyaku penasaran.

“Pengetahuanku terbatas, Tuanku.” Si kucing menunduk menyesal.

Tentu saja pengetahuannya terbatas. Toh, kehidupan Samsin terbatas. Inti Majeong baru akan memiliki kesadaran saat ia dibangkitkan dari wadah yang membelenggunya. Lalu tumbuh dan mengalami perkembangan kemampuan saat bersama Myohyang pemanggilnya. Dan segalanya akan berakhir sia-sia begitu si Myohyang mati. Kekuatan, ilmu pengetahuan, kemampuan serta kehidupan Majeong menghilang saat sumpah yang mengikat melebur.

Aku terperanjat senang mengingat sesuatu yang penting terbesit di kepalaku. “Di rumah utama terdapat ruangan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan berkas. Di sana terdapat beberapa buku yang dilarang untuk kubaca. Guru Han Seong pernah memarahiku sewaktu secara tak sengaja aku melihat-lihat rak dengan tumpukan perkamen tua serta buku-buku bersampul hitam yang disegel. Dapatkah kau mengambilkan beberapa buku di sana? Mungkin terdapat catatan penting tentang keahlianku.”

“Sesuai keinginan anda, Tuanku.”

Aku merapal jampi. “Dengan begini, tidak akan ada yang akan melihatmu.”

“Terima kasih, Tuanku.” Samsin menghilang dari kamarku tepat saat ketukan lembut pada pintu.

“Nona Myohyang, saya membawakan sarapan anda.”

“Masuklah.” Aku merapikan pakaianku yang kusut dan berusaha duduk dengan berwibawa sambil berpura-pura membaca buku.

Tiga pelayan masuk, dua diantaranya membawa dua nampan makanan. Si kepala pelayan, Geum Jeong, menyiapkan meja kecil di hadapanku. “Tadi saya sempat mendengar anda berbicara.”

“Aku hanya menghapal mantra, tidak perlu dihiraukan.”

“Guru Han pasti bangga pada anda.”

“Terima kasih.” Begitu selesai menyiapkan makanan, para pelayan ke luar. Membiarkanku menikmati sarapan tanpa terganggu. Tidak lama berselang, terjadi keributan yang terdengar sayup di kejauhan. Mungkinkah…?

Gawat! Apa mungkin ruangan itu diberi Mantra Perlindungan? Aku sama sekali tidak memikirkan hal itu. Aku meletakkan mangkuk dan sumpit di meja dan bergegas mengintip dari jendela. Semoga saja aku dapat melihatnya.

Sesuatu melompat dari dahan pohon ke pohon. Ia melemparkan sesuatu untuk mengecohkan perhatian. Di bawahnya para prajurit mengepung sambil mengacungkan pedang. Syukurlah aku tidak melihat Guru Han dan seseorang dengan bakat khusus. Tapi cepat atau lambat masalah ini akan sampai padanya. Aku harus memikirkan alasan yang tepat. Menuduh Myohyang lain akan memicu peperangan, baiklah itu urusan nanti. Saat ini aku harus menyelamatkan Samsin dan tidak membiarkan siapapun melacaknya.

Aku segera mengacak-acak mencari buku bersampul kulit yang telah terkelupas. Membukanya, lalu melakukan ritual kecil dengan mengambil sedikit kemenyan di balik lengan bajuku yang lebar, sepotong daun herbal yang bisa kutemukan sebagai hiasan hidangan. Lalu menggebrak dengan kuat lantai kayu kamarku. Di balik telapak tanganku mengapung bulatan kecil inti jiwa Samsin. Tapi itu belum selesai, aku harus mengacaukan jejak Samsin dengan membuat jejak pelarian palsu ke luar. Hal itu lebih merepotkan lagi, karena membutuhkan syarat yang rumit. Aku mencongkel salah satu lantai kayu. Mengambil beberapa botol berisi serbuk kasar berwarna hijau gelap, sebatang dupa serta akar lalu mengendalikan tubuh kosong Samsin ke selatan.

Setelah perjuangan panjang yang berbahaya dan tanpa hasil, aku juga harus meminum pil pahit. Seperti yang dapat kuduga Guru Han dan beberapa lainnya mencurigaiku. Tapi mereka tak memiliki cukup bukti. Untuk sementara aku menidurkan Samsin hingga keadaan kembali aman. Syukurlah, setiap wilayah memiliki Myohyang, hal itu bisa kumanfaatkan untuk mengelak dari tuduhan. Pada akhirnya yang dapat kulakukan untuk mengisi sisa-sisa hariku sebagai gadis biasa berusia dua belas tahun, hanya berlatih hingga musim semi itu tiba.

***


message 16: by Narita (last edited Dec 09, 2013 10:40PM) (new)

Narita | 289 comments Udara pagi bercampur aroma dupa berbau menyengat. Aku berjalan perlahan dengan pakaian upacara tebal dan berat ke tengah alun-alun terbuka Seongyojang di pusat Gangwon-do. Sepuluh gendang berukuran raksasa berdiri di sekitar lapangan dipukul penuh khidmat menambah mistis suasana sakral yang jarang terjadi.

Aku berdiri di tengah lingkaran luas. Empat cawan tembaga raksasa diletakkan sesuai dengan arah mata angin utama. Tiga diantaranya berisi kobaran api, air, dan tanah. Satu cawan lagi dibiarkan kosong. Aku menggigit ujung jempolku hingga darah menetes yang menandakan aku telah siap memimpin upacara suci itu. Suasana berubah hening. Meski kegiatan tersebut hanya dihadiri beberapa orang, tapi kedudukan mereka membuatku tegang. Aku mulai merapal jampi yang telah kuhapal sejak lama dengan fasih. Dan berusaha menarik napas dengan teratur untuk menjagaku agar tetap fokus. Aku memanggil Samsin untuk menstabilkan staminaku yang mulai berkurang; ini karena aku juga dibebani pakaian serta ornamen hiasan kepala yang tidak diketahui fungsinya. Ia berdiri di sisiku dengan patuh, menyalurkan energinya padaku.

Duh, leherku pegal, tapi aku harus tetap berputar perlahan dan anggun untuk menggenapi prosesi yang melelahkan ini. Segalanya baik-baik saja begitu kusadari ekspresi mereka berubah. Raut wajah mereka menandakan aku telah melakukan sesuatu yang fatal.

“Hentikan upacaranya!!” Si kepala pendeta berteriak.

Terlambat.

Tanah yang kupijak bergetar hebat, gendang-gendang besar terlempar dari kayu penyangganya, empat cawan tembaga terhempas menumpahkan isinya. Si kepala pendeta memberikan instruksi. “Amankan Myohyang terkutuk itu!! Gagalkan pemanggilan. Bakatnya hanya akan membangkitkan Majeong dari kematian. Ia telah melanggar aturan!!”

“Tidak, bukan. Aku tidak sengaja melakukannya!! Samsin tidak berbahaya!” Angin kencang mulai berputar di sekelilingku, air danau di samping lapangan bergejolak, tanah retak membuka jurang dalam yang tak terlihat dasarnya. Dan yang paling mengerikan, Samsin. Ia berkobar dalam balutan api berwarna hitam pekat.

Tangan besar muncul dari dalam jurang, angin memuntir membentuk tubuh manusia, air danau meluap hingga setinggi pinggangku. Empat raksasa majeong dengan bentuk tak lazim hadir di depanku dengan tatapan murka. Mungkinkah, ini akhir dunia?


message 17: by Closer2you (last edited Dec 10, 2013 06:46AM) (new)

Closer2you | 20 comments You Must be Special Kind of--


My Magical Life.
Namaku Marriella Moonspectre Krystalspark, 16 tahun. Aku separuh elf dan separuh Nymph, tapi aku memiliki darah Siren dari Ibuku dan darah Demi-demon dari ayahku. Rambutku berwarna pirang, dengan serat-serat warna merah muda. Namun ketika aku mengalami gejolak emosi, atau menggunakan teknik tertentu, warna rambutku akan berubah. Biru dengan serat violet ketika aku sangat sedih dan/atau menggunakan sihir defensif/sihir cahaya; Merah dengan serat kuning ketika aku sangat marah dan/atau menggunakan sihir offensif/sihir kegelapan. Meski demikian, seorang Pixie pernah meramalkan bahwa jika aku benar-benar lepas kendali, rambutku akan menjadi perak dengan serat hitam dan pada saat itu, sihirku bisa saja menghancurkan dunia! Kuharap ramalan itu tidak benar-benar terjadi..

sebagai anak pemalu, aku tidak begitu populer di Akademi Sihir Choco-Vanilla tempatku belajar ini. Akademi Sihir Choco-Vanilla adalah tempat elit, kalau bukan karena beasiswa yang kudapat dari Pangeran Elf (yang sebenarnya pamanku!), aku tidak akan bisa sekolah disini. Mengingat keadaanku yang sedang susah... bahkan saat ini aku sedang berusaha memendam masa laluku yang kelam dengan senyuman.

Lima tahun lalu, mansion aku tinggal dengan kakak dan butler-ku dibakar dengan sihir api oleh anggota Organisasi Evil Dark Bussiness. Mereka benar-benar kumpulan orang jahat! Tidak cukup dengan mengambil nyawa kedua orang tua kami saat aku masih kecil, mereka kini memburu kami berdua. Untunglah Kakakku, Garry Sunblaster Krystalspark, berhasil menteleportku ke Nymph Realm. Sayang, karena membaca mantra dalam keadaan terburu-buru, kakakku Garry terpisah dariku... Sampai saat ini aku tidak tahu kabar berita darinya... Saat itu adalah masa-masa paling kelam dan galau bagiku. Semua penghuni Nymph Realm datang menghiburku, namun luka hati karena kehilangan rumah dan kakakku tidak bisa sembuh begitu saja.

Adalah James, Bard pengelana yang saat itu singgah di Nymph Realm, yang dapat mengobati luka hatiku. Darinya, aku mengasah bakat menyanyiku. Dari James pula, aku bisa menyanyikan mantra penyembuh. Sayang Evil Dark Bussiness tidak mau menyerah untuk mencariku. Nymph Realm porak poranda, dan aku kehilangan James... sekali lagi aku kehilangan orang yang kucintai....

Disaat genting itu, ketika aku terlunta-lunta di hutan, suruhan Paman Elf ku datang dan membawaku ke villanya. Dia memberitahuku soal beasiswa ke Akademi Sihir Choco-Vanilla yang diusulkan pamanku. Suruhan paman elfku mengenalkan namanya sebagai, Regoras. Kata Regoras, semester baru akan dimulai bulan depan, sementara itu, aku bisa tinggal di villanya. Dia juga berkata bahwa aku tidak perlu memusingkan Evil Dark Bussiness lagi, sebab seluruh pasukan gabungan dari Elf, Dwarf, dan Nymph berupaya untuk memburu mereka atau tragedi yang menimpaku. Meski begitu, aku tidak bisa santai-santai. Aku harus berusaha meningkatkan kemampuanku!

Begitulah episode-episode sebelum aku mulai bersekolah di Choco-Vanilla. Disini aku tinggal di asrama bersama teman sekamarku, Sue Amarilla Veriana. Dia kebalikan dariku, dia seorang yang gemar memberontak. Namun dia amat baik padaku. Dia bahkan satu-satunya orang yang membelaku ketika aku di bully oleh anggota cheerleader waktu itu.

Di hari pertama aku bersekolah, aku bertabrakan dengan kapten fire basket ball, sampai tidak sengaja berciuman! Aku sangat malu... aku kabur saat itu juga. Mungkin itulah yang membuat para anggota cheerleader geram dan menargetku. Yang lebih parah, kapter fire basketball itu ternyata anak utusan paman elfku! Namanya Alexander Ravenblood. Dia orang yang sangat liar dan semaunya sendiri. Ketika aku di villa juga, dia sangat cuek padaku. Jadi aku sedikit heran ketika kami mulai sering bertemu, dan entah kenapa, dia mulai memaksaku mengajarinya Alkimia. Jujur, ada perasaan aneh yang makin lama berkembang saat aku berdekatan dengannya...

Makin hari, para bully makin kejam dan bertambah jumlahnya. Satu sekolah menjauhiku, hanya Sue yang mau bersamaku. Sayangnya, sifat Sue yang suka memberontak menarik perhatian Ketua OSIS Joshua Nightlight, dan dia memaksaku untuk memantau Sue dan mulai membebaniku dengan berbagai paperworks. Ternyata aku baru tahu kalau Joshua juga menaruh hati padaku.

Pada suatu hari, aku tidak sengaja melihat Alexander dan Joshua bertengkar di koridor. Ternyata mereka memperebutkanku--


****

Goldilock memijat area antara kedua matanya, suaranya yang rendah sedikit menyerupai geraman dan gerutuan saat dia bicara, "Silvarina, tolonglah. Apa aku harus membaca ini sampai selesai??"

Diruangan kecil sangat sederhana dengan penerangan lentera ukuran sedang, Goldilock duduk di sebuah kursi kayu tua, kitab besar berwarna pink pucat dengan dekorasi berlebihan yang mencolok mata terbuka diatas meja kayu yang sama tuanya. Keseluruhan penampilan Goldilock dengan armor emas dan wajah tajamnya, dan rambut pirangnya yang terkuncir, dan segala properti yang melekat padanya, seakan menghanguskan isi ruangan ini jadi lebih tidak berarti, dan miskin, itu pun jika ruangan ini bisa jadi lebih miskin lagi. Lebih sederhananya, mahkota emas diatas bantal karung.

Seorang yang memakai gaun serba perak menjawab pasangan emasnya dengan nada lembut, separuh geli, "Sudah, baca saja!"

Kontras dengan Goldilock, aura Silvarina tidak menggerus lingkungan sekitarnya. Disekitarnya, ruangan terbungkus cahaya lembut. Tenang dan melankolis. Kemiskinan yang dimiliki ruangan ini seperti ditulis ulang dengan aksen pasrah, ketenangan hati, dan penerimaan.

Bisakah kalian bayangkan jika dua orang ini berada dalam ruangan sempit? Atmosfir ruangan akan bergerak secepat air dibidang mirip tergantung siapa yang berbicara.

Goldilock menggerutu sekali lagi, fokus kepada subjek awal, "Demi kewarasanku, jangan memintaku lebih dari skimming..."


****

Aku tidak mengerti kenapa Alex dan Josh memperebutkanku. Alex yang liar dan Josh yang intelijen.... Aku hanya anak pemalu yang tidak populer! Bahkan aku tidak terlalu cantik. Dan setiap hari bullying terus berlanjut dan semakin parah. Belakangan aku tahu, ternyata ketua cheerleader itu anak petinggi Evil Dark Bussiness! Tiap hari aku harus melakukan berbagai sihir baru untuk melawan bully yang ternyata di dukung oleh Evil Dark Bussiness. Ketua cheerleader itu menyalah gunakan kemampuan organisasinya untuk menjauhkanku dari Alex. Belum lagi wakil ketua OSIS yang menaruh hati pada Joshua secara diam-diam menghasut semua guru untuk galak padaku.

****

Goldilock mulai mengeluarkan suara campuran gerutuan dan rengekan setiap kali dia menyelesaikan satu kalimat, tanda tidak suka yang kentara. Silvarina, sambil menahan tawa, tetap meyakinkan Goldilock untuk terus membaca, karena 'ada sesuatu yang penting yang harus kamu ketahui'

Itu tidak membantu sama sekali.

****

-- dari semua guru, hanya Pak Clemente Stoneheart, guru alkimia, yang tidak menghakimi seperti guru lain. Dia memang orang yang suka menggerutu dan tidak ramah dan cenderung anti-sosial, tapi ternyata hatinya sangat baik. Ketika itu aku sedang flu berat tapi aku harus menyelesaikan membersihkan gudang oleh guru olah raga. Saat itulah para bully kembali datang dan menyiramku dengan berember-ember air. Disaat genting itu, Pak Stoneheart datang dan membawaku ke UKS (dia juga mengusir para bully itu) dan membuatkanku potion anti-flu. Sejak saat itu aku juga dekat dengan Pak Clemente. Dia berkata bahwa sebenarnya dia sering memperhatikanku atas kegigihanku untuk tegar dibawah tekanan bully dan guru-guru. Dia memberiku potion All-Cure yang isinya berubah-ubah sesuai mantra yang kubaca, dari obat penyakit, sampai obat penambah kekuatan. Anehnya, ketika mengatakan hal tersebut, Pak Clemente tersipu malu---

****

Kursi Goldilock kaget sampai terjatuh ketika dia dengan dramatisnya terkejut hingga berdiri. Teriakan 'Hah?!' nyaris menyamai teriakan perang yang sering dia lontarkan.

Silvarina membetulkan kursi agar Goldilock bisa duduk kembali untuk membaca, tapi lutut temannya itu seperti di segel sampai tidak bisa menekuk, alih-alih, dia mengangkat kitab yang dia baca sampai kurang dari 3 centimeter dari mukanya.


****

Lalu ada murid transfer dari Akademi Militer Runos Aegis, Faith Whitesky. Dia tersesat sampai ke asrama putri dan tidak sengaja tabrakan denganku. Dia orang yang sangat pemalu dan memintaku untuk berkeliling, mengenalkannya pada lingkungan. Setelah tur selesai, dia berterima kasih padaku dengan senyumnya yang mempesona---


****

"Ini kah yang ingin kau sampaikan?? Kamu kan tinggal bilang! Tidak perlu memaksaku membaca sampai sejauh ini!" Protes Goldilock.

Silvarina membimbing tangan Goldilock untuk meletakan kitap itu kembali, karena orang itu lupa kalau dia masih memegang buku itu didepan wajahnya, "Ah, alasan tidak penting. Sekarang kamu tahu kan kenapa aku memintamu membaca buku itu"

"Yeah... 'Karakter'ku Clemente Stoneheart dan 'Karakter'mu Faith Whitesky muncul di Storyverse lain tanpa permisi. Siapapun Author dari SToryverse ini, dia akan merusak stabilitas antar Storyverse!" Sambung Goldilock, "dia akan membayar karena telah mencuri Karakter dari Storyverseku! Sebagai sesama Author, akan kulabrak dia!"

"Sebagai sesama Author," Silvarina menyambung dengan hati-hati, "kita akan datang ke Desk-nya dan membicarakan ini baik-baik"

"Tapi Silvarina, Desk adalah cerminan hati Author, tempat dia bekerja untuk menciptakan dan mengatur Storyverse... aku tidak yakin ingin kesana--"

"Goldilock. Kamu ingin Karaktermu kembali atau tidak?"

Setelah mendapat 'Hmph' dari Goldilock, mereka menyegerakan diri untuk teleport menuju Desk author yang dituju.


****

Author yang ditemui Goldilock dan Silvarina memperkenalkan dirinya sebagai Princess Marrianette Akihime Primaluna Krystalette. Bermahkotakan rambut pink dan semburat biru dengan 7 jenis batu mulia yang menghiasi tiaranya. Baju dengan glitter dan dua sayap mungil, satu sayap malaikat, satu sayap kelelawar. Detil lainnya tidak usah di bahas, tapi Goldilock menjelaskan keseluruhan penampilannya seperti membuat matanya sakit gigi dan giginya kelilipan. Desk Marrianette pun berupa kastil megah diatas awan yang.... yah, menunjang penampilannya.

"Ahem," Silvarina berdeham. Oh ya, berdeham seperti itu adalah awalnya oke... Awal untuk sebuah diskusi panjang dan alot, pikir Goldilock, "Mari kita langsung ke pokok permasalahnnya, Princess Marrianette. Kami lihat dari salinan kitab Storyverse anda, kalau Karakter Goldilock, Clemente Stoneheart, dan Karakterku, Faith Whitesky, muncul dalam Storyverse anda. Mungkin ada kesalahan, tapi kami belum menyetujui permintaan anda, bahkan, kami belum mendapat permintaan, ijin, untuk menggunakan Karakter kami"

Suara Silvarina yang tidak basa-basi tapi tetap sopan dan lembut harusnya bisa membuat Princess whatever ini sungkan tanpa merasa malu berlebihan, dan segera merevisi Storyversenya... minimal, mengembalikan Karakter kami, renung Goldilock.

"Eh? Terus kenapa?" Tanya Marrianette ringan.

Silvarina bertikar pandang dengan Goldilock. Silvarina dengan pandangan 'Eh? dia belum tahu soal itu, ya?', sedangkan Goldilock dengan pandangan, ''Terus kenapa?' gundulmu!! Silvarina, beri aku lima alasan untuk tidak menjitak orang ini sekarang juga!'.

"Princess Marrianette, apakah anda sudah membaca RULES? Suatu Karakter tidak bisa berada dalam dua atau lebih Storyverse secara bersamaan tanpa ijin dari Author yang bersangkutan. Itu akan menganggu kestabilan antar Storyverse dalam Collective Dreamsphere ini." Jelas Silvarina, dengan sabar tentunya.

"Kenapa pakai ijin segala, kak?" Tanya Marrianatte.

"Agar Karakter bisa ada di luar Storyverse aslinya, diperlukan jembatan. Dan jembatan itu hanya Author penciptanya yang bisa membuatnya" Sekali lagi, jelas Silvarina dengan sabar.

(to part 2)


message 18: by Closer2you (last edited Dec 10, 2013 06:46AM) (new)

Closer2you | 20 comments "Kenapa kok begitu, kak? 'kan banyak yang tidak pakai ijin, mereka bikin begitu saja dan mengatakan sebagai apresiasi" Lanjut Marrianette.

"Itu namanya Fanverse... secara pribadi, aku tidak menentang keberadaan Fanverse... tapi ketika seorang Author memutuskan untuk membangun Storyverse, maka semuanya harus original" Jelas Silvarina lagi, masih dengan sangat sabar.

"yah, kalau begitu, aku minta ijin yah!" Dengan entenya, Sang Putri berkata demikian.

Suara bagai tabrakan meteor kebumi menggema ketika tangan Goldilock menghantam meja tempat mereka 'bercengkrama', diikuti dengan, "Ogah!! Jangan Bercanda! Mana mau aku membiarkan Karakterku menjilati kaki Karaktermu!!"

Silvarina mengeluarkan tawa renyah sambil memaksa Goldilock dengan satu tangan mulusnya yang berkekuatan gajah itu, "Maaf sedikit eksplosif, tapi sepertinya Goldilock sudah mengutarakan pendapatnnya"

Princess Marrianette langsung bereaksi serupa, hanya saja dia lebih memikirkan penampilannya yang mungkin rusak jika dia marah ketimbang Goldilock yang murka tanpa tanggung-tanggung, "Memangnya kenapa dengan Karakter saya?? Karakter saya itu unik dan spesial!"

Goldilock melepaskan diri dari Silvarina, sikap siap perang, "Ha! Karakter teridealisasi begitu kamu bilang unik?? Berhenti menipu diri sendiri, Princess. Membangun Storyverse itu bukan untuk memuaskan dirimu sendiri!"

"Berisik! Berisik! Berisik!! Ini Storyverse-ku sendiri! Ya suka-suka aku dong!!" Princess Marrianette berdiri sambil menghentakan kakinya.

"Tidak begitu kau curi Karakterku, pemula!!"

"Kamu cuma iri dengan keunikan Karakterku!"

"Oh??! Iri, hah?? Oke, aku kita tanding! Yang kalah akan menyerahkan Storyverse miliknya!"

"Baik! Siapa takut??"

Silvarina hanya bisa menghela nafas.

****

Begitulah, kedua Author keras kepala itu, Goldilock dan Marrianette 'bertarung', dengan membuat Naskah dan mengirim salinannya keseluruh Author untuk dinilai. Tentu saja, Goldilock menang telak, bukan hanya dari kemampuan, tapi juga pengalaman. Meski begitu, Goldilock menuai banyak celaan, kritik, hinaan, dan lain-lain karena menantang anak baru yang jelas-jelas masih hijau. Apalagi dengan taruhan atas hak Storyverse yang terlibat. Tapi perjanjian tetap perjanjian. Hari ini, Goldilock dan Silvarina berkumpul di Desk Marrianette untuk pemindahan hak atas Storyverse.

Goldilock tetap pada wajahnya yang sekeras batu, dengan bibir dikatupkan dan alis yang nyaris bersentuhan. Sementara Marrianette.... pernahkah anda melihat kucing menyebalkan yang selalu mencuri ikan dari meja, dan memecahkan piring? Bayangkan kucing yang sama tiba-tiba mengekerut, dengan mata besar dan sedih, dan ekor dan kuping yang turun.

Silvarina tidak mengatakan apa-apa ketika Marrianette menyerahkan kitab pink pucat miliknya (yang asli, bukan salinan) kepada Goldilock.

Marrianette tidak mengatakan apa-apa ketika Goldilock membuka kitabnya, menggantungnya di udara, lalu mengeluarkan pena emas miliknya dan menuliskan sesuatu.

Goldilock tidak mengatakan apa-apa ketika dia mengubah kitab itu menjadi beberapa buku catatan kecil.

Seketika itu, Desk Marrianette runtuh dan hancur menjadi ruang putih polos, begitu pula dengan gaun meriah dan tata rambut dan tiaranya. Kini dia hanya menggunakan baju terusan putih polos dan rambutnya menjadi pink pendek. Ketika Author kehilangan Storyversenya, dia kehilangan hampir seluruh kekuatannya.

"Nih" Goldilock melemparkan satu buku catatan yang paling kecil kearah Marrianette, yang ditangkapnya dengan canggung, "Aku dan sisa buku catatan ini akan menunggumu disepanjang Character Development Continent. Pergilah ke Ujung Utara benua itu, karena buku catatan terakhir akan berada disana"

Marrianette terperangah, "Kenapa?"

"Kamu ini suka sekali bilang 'kenapa' ya?? Gara-gara aku meladenimu, aku dicap Author yang suka menindas Author yang lebih lemah tahu!! Aku tidak suka!! Di Ujung Utara nanti kita akan tanding ulang, dan kupastikan predikat 'Author Tukang Tindas Anak Baru' lepas dariku pada saat itu!" Jelas Goldilock dengan gerutuan.

Marrianette membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun Goldilock menyelanya, "Aku belum selesai, anak baru! Untuk mendapatkan masing-masing buku catatan, kamu harus merebutnya dariku. Akan kulihat apakah kamu pantas mencuri dariku lagi, dan menyimpannya"

Marrianette sekali lagi berusaha membuka mulutnya, namun Goldilock langsung membentaknya, "Jangan berleha-leha disini!! Cepat pergi ke benua itu sebelum aku bosan dan membatalkan niatku!" Dengan jentikan jari, Goldilock memunculkan gerbang teleportasi menuju Character Development Continent.

Dengan suara mirip pekikan, Marrianette berlari kearah gerbang itu. Namun, tepat sebelum menyentuh gerendelnya, dia berbalik dan berujar pada Goldilock dengan suara yang diperas dari sedikit keberaniannya, "A-aku akan jadi lebih kuat! Lihat saja nanti! Akan kuambil kembali Storyverse-ku!"

"Ha! Anak baru yang banyak berlagak! Latihan dulu yang benar sana!" Balas Goldilock mengiringi Marrianette yang menghilang dibalik gerbang.

Setelah dengungan sihir dari gerbang itu menghilang, Silvarina tertawa kecil, "Ya ampun, Goldilock..."

"Apa??" Dengus Goldilock.

"Sedikit kasar dan arogan. Sebenarnya aku lebih suka anak itu mengambil fasenya sendiri dan tumbuh secara natural. Tapi, yah, aku mengerti maksud baikmu" Lanjut Silvarina sambil merjingkat pelan kearah Goldilock.

"Huh, orang seperti dia lebih cepat sadar lebih baik. Semakin Storyverse-nya berkembang, semakin dia akan disadari oleh Author sekitar. Dia akan merasa tambah malu kalau diserang oleh Author elitist yang lebih buruk" Tegas Goldilock.

"Oh? Jadi ada yang lebih buruk dari sifatmu?" Silvarina menyikut sisi Goldilock dengan pelan.

Dia kembali mendengus, lalu bergumam, "Aku hanya tidak mau dia kena kesalahan yang sama denganku" dia menambahkan, "Lagi pula, aku hanya mengikuti jejakmu dalam membimbing."

Silvarina mengamit lengan Goldilock, "Hey, aku tidak menantang Author yang lebih lemah untuk berduel, atau pun mereset Storyverse-nya, atau membentak-bentak Author itu"

"Kalau tidak suka caraku, kau harusnya hentikan aku waktu itu, Silvarina" Bantah Goldilock.

"Tapi aku suka caramu, atau lebih tepatnya, aku percaya niat baikmu" Jawab Silvarina.

Mereka terdiam selama beberapa saat sebelum Goldilock mengusulkan, "Mungkin... kita perlu berkolaborasi dalam waktu dekat ini... Kau tahu... sembari menunggu anak baru itu sampai pada check point pertamanya"




THE END.


message 19: by Khalda (last edited Dec 10, 2013 07:41AM) (new)

Khalda | 9 comments Great Power Doesn't Come Without Consequences

“Lice, kau tidak pulang?”

Gadis yang dipanggil namanya itu mendongak dari sketsa yang sedang dikerjakannya. Dilihatnya salah seorang temannya berdiri di samping mejanya.

“Ah, sebentar lagi aku pulang. Kau duluan saja,” jawabnya.

“Sedang menunggu seseorang, ya?” temannya balik bertanya. Alicia tertawa kecil.

“Ya, begitulah,” jawabnya ringan.

“Asyik ya, punya kenalan kakak kelas. Aku saja gak berani bicara sama mereka!”

“Coba saja bicara sama mereka. Mereka gak galak kok, kecuali kalau lagi benar-benar marah,” kata Alicia. Perhatiannya kembali tertuju ke sketsa setengah jadi yang ada di atas mejanya.

“Tetap aja takut. Aku duluan ya!” Alicia mengangguk untuk merespon perkataan temannya. Telinganya yang tajam menangkap suara langkah kaki temannya meninggalkan kelas. Setelah itu, ruang kelas berubah menjadi hening. Yang terdengar hanyalah suara goresan pensil Alicia.

Setidaknya, itulah yang akan didengar orang lain apabila mereka berada di sana.

“Arg! Aku kesal dengan dia! Kenapa gak ada yang bisa ngerti aku sih?”

“Panas-panas seperti ini enaknya makan di mana, ya?”

“Kenapa mereka pergi duluan? Bukannya mereka sudah janji? Apa mereka sengaja karena mereka tidak mau bersamaku?”

Alicia menghela napas. Seharusnya sekolah sudah sepi karena bel pulang sudah berbunyi sejak satu jam yang lalu. Tapi rupanya masih ada beberapa murid yang belum pulang. Memutuskan bahwa dia tidak bisa berkonsentrasi lagi, gadis itu meletakkan pensilnya dan menutup telinganya, berusaha memblokir suara-suara itu. Cukup membantu, tetapi dia masih bisa mendengar suara-suara itu.

Nanti juga kau akan terbiasa.

“Sampai kapan?” gumam Alicia, menjawab satu-satunya suara yang tak bisa dia blokir. “Lebih dari dua bulan sudah berlalu, dan akhir-akhir ini rasanya suara-suara itu menjadi lebih keras. Kalau tahu akan seperti ini jadinya, lebih baik aku jadi orang biasa saja!”
Ya, kau tidak punya pilihan selain mencoba untuk membiasakan diri.

“Yah, mungkin semuanya akan berbeda kalau kau tidak ada, Cal.”

Hey! Memangnya hanya kau satu-satunya yang tidak punya pilihan?

Alicia tertawa kecil untuk menanggapi perkataan Cal. Dia mulai merapihkan peralatannya dan memasukkannya ke dalam tas kecilnya.

“Alicia!”

Tanpa menoleh ke belakang, tangan Alicia dengan cepat menangkap sepasang tangan yang hendak menutup matanya dari belakang. Mendesah pelan, dia memutar badannya dan mendapati dirinya berhadap-hadapan dengan seorang gadis lain.

“Kak Sarah, seharusnya kakak tahu kalau trik itu tidak akan pernah berhasil,” Alicia berkata. Yang diajak berbicara, Sarah, hanya tersenyum geli.

“Habisnya, kau tampaknya sedang asyik berbicara dengan Cal. Jadi aku pikir aku punya kesempatan kali ini!” Sarah membalas dengan santainya. Alicia kembali mendesah. Kadang-kadang dia tidak habis pikir dengan sikap kakak kelasnya yang menurutnya terlalu santai dan ceria.

“Hey kalian berdua! Cukup ngobrolnya! Ayo pulang!” seruan seorang anak laki-laki menyentakkan Alicia kembali ke alam nyata. Dilihatnya dua orang anak laki-laki sedang berdiri di ambang pintu kelasnya, menatapnya dan Sarah dengan tidak sabar.

“Iya! Iya!”

***

“Jadi, ingatanmu belum ada yang kembali, Lice?”
Alicia menggelengkan kepalanya. Revi, kakak Sarah, menghela nafas dan memasang tampang menyerah. Mereka semua sudah mencoba berbagai macam cara untuk mengembalikan ingatan masa kecilnya yang hilang, tapi sejauh ini belum ada yang berhasil.

“Yah, kurasa ingatannya akan kembali seiring berjalannya waktu,” komentar Alex tanpa menatap Alicia. Tatapan mata sahabat Revi itu terpaku pada ponsel di tangannya, jari-jarinya sibuk mengetikkan kata-kata yang tidak bisa Alicia lihat.

“Tapi selama itu kita tidak akan bisa tahu bagaimana Alicia bisa mendapatkan kemampuannya,” sergah Revi.

“Kau yakin Cal tidak tahu apa-apa?”
Sudah berapa kali aku mengatakan kalau aku tidak tahu apa-apa, hah? protes Cal kesal. Tentu saja Revi dan Alex tidak bisa mendengarnya, jadi Alicia terpaksa menyampaikan protes Cal kepada kedua kakak kelasnya.

“Bukannya ada kasus ketika alter-ego seseorang sengaja memblokir memori orang tersebut?” tanya Alex, tangannya masih sibuk menari di atas keyboard ponselnya.

“Yah, memang ada sih,” jawab Revi sambil mengangkat bahunya. “Tapi sepertinya Alicia begitu yakin kalau Cal tidak melakukannya.”
Aku memang tidak melakukannya! Cal kembali protes. Alicia memutuskan kalau perkataan Cal kali ini tidak perlu disampaikan ulang.

“Jadi, kita hanya bisa menunggu sampai ingatanku kembali?” tanyanya.

“Sepertinya itu satu-satunya hal yang bisa kita lakukan sekarang. Vincent bilang dia sedang memeriksa arsip-arsip kasus anak hilang di kepolisian, jadi mungkin dia menemukan petunjuk,” jawab Revi.

Revi melirik ke arah pintu minimarket tempat mereka menunggu. Sarah tadi berkata kalau dia perlu membeli sesuatu, jadi mereka memutuskan untuk berhenti sebentar di minimarket pertama yang mereka temui.

“Sarah lama sekali,” gumamnya khawatir. “Tolong jangan bilang kalau dia lupa membawa dompetnya lagi. Sepertinya aku harus ke dalam untuk mengecek. Kalian mau ikut atau tetap di luar?”

“Aku menunggu di luar saja,” jawab Alicia. Alex mengangguk menyetujui.

“Oke! Jangan kemana-mana, ya!” ujar Revi sebelum dia memasuki minimarket.

“Memangnya kita mau kemana?” gumam Alex sembari memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.

“Mungkin dia takut kita pergi duluan,” tebak Alicia. Alex mengangkat bahunya untuk menanggapi perkataan Alicia, tetapi selain itu dia tidak berkata apa-apa.

Suasana segera berubah menjadi tidak nayaman untuk Alicia. Walaupun sudah mengenal Alex selama dua bulan lebih, Alicia tidak tahu bagaimana harus bersikap di sekitar Alex. Bukannya dia tidak menyukai Alex atau apa, tapi Alicia sering memergoki Alex menatapnya dengan tatapan yang tak bisa Alicia baca. Hal itu membuat Alicia merasa kalau Alex menyembunyikan sesuatu darinya.

Coba kau dengar apa yang dia pikirkan, Cal memberi saran.

“Cal, kau tahu kalau itu melanggar privasi orang,” Alicia membalas di dalam hati.

Yah, tapi kau kan bisa mendapatkan informasi.

“Tetap saja aku tidak suka melakukannya,” tukas Alicia. Alicia harus mengakui kalau dia merasa penasaran juga, tapi dia masih menghargai privasi Alex. Walaupun begitu, dia masih bisa mendengar pikiran Alex samar-samar karena daerah itu lumayan sepi.

Tunggu. Sepi?

Alicia mengerutkan dahinya. Seharusnya sekarang wilayah di sekitar minimarket tempat mereka berada tidak sesepi ini. Seharusnya banyak anak sekolah yang baru pulang berjalan di trotoar, atau beberapa anak kecil yang bermain, atau satu dua motor yang lewat, tetapi tidak seperti itu kenyataannya. Ini semua terlalu sepi, bahkan bagi Alicia.

Alicia menoleh ke arah Alex untuk menanyakan tentang kejanggalan itu, tetapi dia mendapati kalau Alex sedang menatap ke arahnya, lagi. Alex cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika dia mendapati kalau Alicia telah memergokinya, tapi Alicia sempat menangkap ekspresinya. Apa itu kesedihan? Rindu? Sesal? Alicia tidak tahu.

“Sial! Mereka terlalu mirip, terlalu mirip!” tanpa sengaja Alicia mendengar sekelebat pikiran Alex, yang otomatis terdengar semakin jelas. “Kalau saja dia…. Alex, stop! Alicia bukan dia!”

Aneh, Cal berkata, mewakili kebingungan Alicia.

“Lice, kau sedang mendengar pikiranku, ya?” tanya Alex karena Alicia terus terdiam. Alicia mengangguk perlahan, malu karena ketahuan. Alex mendesah.

“Kau benar-benar harus belajar bagaimana cara mengendalikannya, Lice. Tidak semua orang senang pikirannya dibaca seperti itu,” ujarnya. “Omong-omong, tadi kau mau bilang apa?”

Alicia nyaris saja melupakan tentang kecurigaannya. Dia mulai membuka mulutnya untuk berbicara, ketika dia mendengar sebuah teriakan,

“Serang mereka, SEKARANG!”

Alicia tersentak ketika dia mendengar teriakan mental itu. “Kak Alex! Awas!” pekiknya.

Ekspresi kebingungan muncul di wajah Alex, tetapi ekspresi itu segera tergantikan ketika dia melompat ke samping. Terdengar suara kaca pecah ketika sebuah peluru menembus dinding kaca minimarket yang tadi berada di belakang Alex.

“Sial,” umpat Alex. “Dari mana kau bisa mengetahuinya, Lice? Bahkan aku tidak bisa mencium mereka!”

Alicia tidak sempat menjawab, karena teriakan mental lain menyerbu pikirannya. “Mereka akan menyerbu kita secara langsung sekarang! Jumlah mereka enam orang. Mereka membawa pistol dan pisau!”

“Bukan perak, kan?”

“Aku tidak tahu! Mereka tidak memikirkan dari apa pistol dan pisau itu terbuat, jadi aku tidak tahu!” jawab Alicia.

“Lebih baik aku asumsikan kalau itu bukan perak,” gumam anak laki-laki itu. Dia berlutut dan mengeluarkan sebilah pisau dari sepatunya. Dia tersenyum ketika melihat ekspresi kaget Alicia.

“Tidak selamanya aku menjadi murid teladan,” guraunya. Alex melemparkan ponselnya ke arah Alicia. “Telpon Vincent, minta dia ke sini. Coba telpon Sarah atau Revi juga kalau bisa. Kapan mereka akan menyerang?”
Alica menutup matanya, mencoba untuk berkonsentrasi,

“Mereka akan menyerang, SEKARANG!”

Alex menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti umpatan ketika enam orang berpakaian preman melompat dari berbagai arah, semuanya memegang pistol yang larasnya teracung ke arah Alex. “Sarah, cepat telepon Vincent. Aku tidak yakin aku bisa menangani mereka semua sendirian. Dengan bantuan Revi dan Sarah, mungkin. Sendirian, aku tidak yakin. Beritahu aku kalau mereka merencanakan sesuatu. Aku akan coba untuk menahan mereka selama mungkin.”

“Roger!” balas Alicia. Dengan tangan gemetaran, dia mulai mencari nomor Vincent di ponsel Alex. Ini kali pertama dia menghadapi penyerangan seperti ini, walaupun dia sudah sering mendengarkan cerita ketiga seniornya tentang penyerangan-penyerangan yang mereka alami. Dari sudut jarak pandangnya, dia bisa melihat Alex menyerbu keenam penyerbunya.

“Sial,” umpatnya ketika dia mengalami kesulitan untuk bernavigasi di ponsel Alex karena jari-jarinya yang gemetaran terus tergelincir di atas keyboard.

Perlu bantuan? Cal menawarkan.

“Kendalikan saja tanganku!” jawab Alicia. Tangan Alicia segera berhenti gemetar ketika Cal mengambil alih fungsi tangannya. Alicia membiarkan alter-egonya mencari nomor Vincent sementara dia berkonsentrasi untuk mendengarkan pikiran keenam penyerang. Cukup sulit karena Alicia harus mendengarkan enam pikiran sekaligus.

“Kak Alex, yang paling kanan akan menembak!”

Alex dengan cepat menendang pistol yang terarah kepadanya hingga terlepas dari tangan pemiliknya.

“Awas, di belakang!”

Alex memutar badannya dan memukul bagian belakang leher penyerangnya, membuatnya tak sadarkan diri.
Lice, beres!

Alicia mengangkat ponsel itu ke telinganya, berdoa dengan sepenuh hati dan berharap Vincent akan segera mengangkatnya. Dia memekik frustasi ketika suara petugas operator yang sudah familiar terdengar dari speaker.

Suara tembakan yang diikuti oleh geram kesakitan Alex membuat Alicia menoleh. Rupanya Alex telah berhasil melumpuhkan dua penyerangnya, dan empat sisanya juga tampaknya menderita beberapa luka oleh pisau Alex. Sementara itu Alex kini berada di depan Alicia. Tangan anak laki-laki yang lebih tua dua tahun itu memegangi bahu kanannya, darah mulai merembes di seragam kemeja putihnya dimana peluru menembusnya.

“Kak Alex!” pekik Alicia. Dia menyalahkan dirinya karena tidak berkonsentrasi ketika menelpon Vincent tadi.

“Tidak apa-apa. Itu bukan perak,” ujar Alex menenangkan.

“Tapi…”

“Sarah! Alex! Awas!”

Alex segera mendorong tubuh Alicia ke bawah, memaksa gadis itu untuk berlutut sementara dia melakukan hal yang sama. Alicia bisa merasakan sesuatu melesat dengan cepat di atasnya, kemudian dia bisa mendengar pekikan kesakitan salah seorang penyerangnya.


message 20: by Khalda (new)

Khalda | 9 comments “Nah, kalau yang itu baru perak,” gumam Alex dengan nada muram.

Alex membantu Alicia bangkit kembali. “Kau terlambat,” ucapnya datar kepada Revi dan Sarah, yang baru saja keluar dari pintu minimarket yang kini rusak.

“Maaf, ada sedikit gangguan di dalam,” Sarah membalas. “Tapi, mereka semua sudah dibereskan.”

“Vincent?” tanya Alex kepada Alicia.

“Aku tidak bisa menghubunginya,” Alicia mengakui.

“Si pirang tak berguna itu mengganti nomornya minggu lalu,” kata Revi dengan nada kesal. “Sarah sudah menghubunginya. Dia bilang dia akan datang secepatnya.”

“Jadi, selama itu kita harus menahan mereka?” tanya Alex, tangannya mengisyaratkan ke arah empat orang yang masih tersisa, yang mulai pulih dari keterkejutan mereka.

“Tidak masalah,” Sarah menjentikkan jarinya dan seketika tangan kanannya terselubung oleh api biru.
“Tampaknya Kagami sudah tidak sabar untuk turut beraksi!”

Revi membuat sebuah gerakan dan bola-bola perak berdiameter dua centimeter yang tadi dia tembakkan kembali kepadanya, melayang-layang beberapa inci dari telapak tangannya. Alex menatap bola-bola itu dengan tidak suka.

“Hati-hati ketika menggunakannya!” dia memperingatkan.

“Tenang saja! Aku akan memastikan Black berhati-hati menggunakannya,” balas Revi.
Hey, kalian tidak akan bersenang-senang tanpaku, kan?

Seakan-akan dia bisa mendengar perkataan Cal, Sarah menoleh ke arah Alicia. “Biarkan Cal mengambil alih, Lice. Kau belum pernah membiarkannya mengambil alih lagi kan?”

“Tapi…” Alicia mulai memprotes.

Sudah lakukan saja! potong Cal.

“Ya sudahlah…”

***

Alicia menatap kedua tangannya yang terbalut perban dan meringis. Seperti yang sudah diperkirakannya, dia bukanlah tipe petarung seperti Revi dan Sarah, terbukti dengan kondisi kedua tangannya sekarang.

“Untung sekarang aku tinggal sendiri,” gumamnya. “Kalau aku masih tinggal di panti apa yang akan dikatakan oleh yang lain?”

Suara ketukan di pintu mengagetkannya. “Masuk saja!” serunya, sama sekali melupakan fakta kalau sekarang dia berada di kamar tamu di rumah Sarah dan Revi, bukan rumah kosnya sendiri.

Pintu terbuka dan Alex melangkah masuk. Dia sudah mengganti seragamnya dengan salah satu baju Revi yang dia pinjam. Vincent berkata kalau sebaiknya mereka berdua menginap dulu di rumah Revi dan Sarah hingga dia berhasil menemukan pelakunya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya anak laki-laki itu, mengisyaratkan ke kedua tangan Alicia.

“Baik-baik saja, kurasa,” Alicia menjawab. “Bagaimana dengan bahumu?”

“Sudah sembuh total sekarang,” balas Alex. Dia mendudukkan dirinya sendiri di atas tempat tidur. “Sepertinya Cal bukan tipe petarung, ya?”

“Dilihat dari bagaimana dia bisa membuatku menderita luka ini sedangkan Kak Sarah dan Kak Revi bisa lolos tanpa lecet sedikitpun, sepertinya iya.”

“Hmmm,”

Sekali lagi, suasana tak nyaman mulai terbentuk. Alicia mulai kebingungan tentang bagaimana dia harus menghadapi kesunyian itu ketika Alex berbicara.

“Kemampuanmu itu, kau bilang kau bisa mendengar pikiran orang, kan? Mendengar, bukan membaca?” tanyanya. Alicia berpikir sejenak, kemudian mengangguk. Dia memang tidak membaca pikiran, dia mendengar pikiran itu disuarakan.

“Kau juga bilang kau bisa sedikit memblokirnya apabila kau menutup telingamu, benar?” sekali lagi, Alicia mengangguk.

Alex merogoh sakunya, kemudian mengeluarkan sebuah earphone berwarna putih beserta music playernya. Dia menyerahkan kedua benda itu kepada Alicia, yang menatapnya dengan bingung.

“Coba pakai dan setel musiknya,” kata Alex.

Alicia menuruti. Dia memasang earphone itu di telinganya dan memutar salah satu lagu yang ada di music player Alex.

“Kau bisa mendengarku?” tanya Alex. Alicia kembali mengangguk mengiyakan, dia masih bisa mendengar suara Alex sejelas biasanya.

“Kau bisa mendengar pikiranku?”

Alicia hampir saja mengangguk kembali ketika dia menyadari kalau dia tidak bisa mendengar pikiran Alex sekarang, atau pikiran Sarah yang kamarnya berada tepat di sebelah kamar tamu. Sekarang yang bisa dia dengar hanyalah suara-suara normal dan musik yang bermain di earphonenya.

Dengan perlahan, Alicia menggelengkan kepalanya.

Alex tersenyum dan menepuk kepala Alicia, “Sepertinya kita sudah menemukan solusi sementara untuk mengatasinya. Kau boleh memilikinya sampai kau bisa mengendalikan kekuatanmu.”

Alex bangkit berdiri dan mulai melangkah meninggalkan kamar, tapi langkahnya terhenti ketika Alicia memanggilnya.

“Kak Alex? Terimakasih!”

Alex menoleh dan tersenyum kecil ke arah Alicia sebelum melangkah keluar kamar, meninggalkan Alicia bersama dengan musik yang masih mengalun di telinganya.

Kau tidak menanyakan tentang orang yang dia bilang mirip denganmu! Cal mengingatkan.

Alicia mengangkat bahunya. Kemudian dia merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan menutup matanya, menikmati kesunyian yang tidak pernah dia rasakan lagi sejak Cal hadir di hidupnya.

“Mungkin lebih baik kalau aku tidak tahu saja.”


message 21: by Biondy (last edited Dec 10, 2013 08:48AM) (new)

Biondy | 773 comments Pria di Perempatan

Aku bisa melihat hantu dan melakukan hal-hal di luar akal sehat. Yah, setidaknya selama seminggu tiap bulannya. Seperti saat ini misalnya, ketika aku melihat seorang pria berdiri di samping lampu lalu-lintas dan memandang kosong ke depan, sementara orang-orang di sekitarnya tampak buru-buru menyeberangi jalan.

Aku tertegun melihat pria itu. Dia tampak masih muda. Mungkin sekitar 20-an. Tingginya kira-kira mencapai 180 senti dan rahangnya tegas. Seseorang tanpa sengaja menyenggol lengan kananku dan aku kembali bisa berpikir dengan baik.

Aku berjalan dan berdiri tepat di samping pria itu. Tubuhnya transparan. Dia hantu, tidak salah lagi, dan jelas bukan hantu yang bersahabat. Aku sudah merasa tidak enak saat pertama kali melihatnya dan kini, saat berada di dekatnya, kepalaku mulai terasa sakit.

Kucoba untuk berkonsentrasi dan memanggil pria itu dalam kepalaku, tapi hasilnya nihil. Aku harus mencoba cara lain.

“Hei,” bisikku. “Hei, kamu yang di sampingku.”

Dia tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Kucoba memanggilnya sekali lagi, tapi dia tetap diam. Sial, memang belum bisa yah.

Lampu tanda pejalan kaki berubah hijau. Aku menoleh ke jam tanganku. Pukul 7:05. Sepuluh menit lagi aku sudah harus sampai di sekolah. Apa boleh buat. Untuk sementara, terpaksa kutinggalkan dulu pria ini.

Tepat saat kakiku menyentuh aspal jalan, perutku mulai terasa sakit. Aku mengerang dan terduduk mendekam sambil memegangi perutku. Pada saat itulah sebuah bayangan melintas di kepalaku. Bunyi berdecit dan teriakan terdengar dalam pikiranku.

Aku mendongak dan berseru, “Awas!”

Beberapa orang menoleh kepadaku. Sebuah mobil sedan melaju kencang dari arah kanan. Mobil itu tampak tidak berusaha menurunkan kecepatannya, walau lampu merah sedang menyala. Beberapa orang penyeberang menjerit dan mobil itu tampak berbelok ke kiri, tepat ke arahku.

Kakiku terasa beku dan lidahku kelu. Refleks aku menutup mata dan kedua tanganku menyilang di depan wajahku. Sesaat berikutnya, kudengar suara berdebam hebat dan orang-orang mulai menjerit.

“Non, Non, kamu tidak apa-apa?”

Kubuka mataku dan kulihat seorang pria berkumis duduk di sampingku. Aku memandang kepadanya, lalu pada mobil sedan tadi yang kini setengahnya telah masuk ke dalam dinding, 5 meter di kananku. Aku menoleh kepada hantu tadi, tapi kini dia sudah tiada.

“Non, tidak apa-apa kan?”

Aku kembali menoleh pada pria itu, lalu mengangguk. “Iya, Pak. Saya tidak apa-apa.”

Pria itu membantuku berdiri dan kulihat orang-orang mulai mengerumuni mobil tadi. Aku berputar dan menatap lampu lalu-lintas tadi. Hantu tadi, lalu mobil barusan. Apakah keduanya memang berhubungan?

* * *

“Jadi begitulah kejadiannya, Pak. Saya menjerit karena melihat mobil itu datang.”

Seorang polisi mengangguk-angguk dan menuliskan sesuatu di atas kertas.

“Baik, saya rasa sudah cukup untuk saat ini,” kata si polisi sambil menutup pulpennya. “Kami akan menghubungi kamu lagi kalau masih butuh pernyataan sewaktu-waktu.”

Si polisi berterima kasih pada wali kelasku, yang menjadi pendamping dalam tanya-jawab barusan, dan dia meninggalkan ruang tamu kepala sekolah. Polisi tadi datang ke sekolah untuk meminta pernyataan dariku. Kelihatannya aku sempat disebut-sebut oleh beberapa orang di tempat kejadian dan dengan bantuan kamera lalu-lintas, polisi berhasil menemukanku di sekolah.

Yah, bukan berarti aku tahu sesuatu yang betul-betul berhubungan dengan kejadian tadi pagi sih. Kecuali, mungkin, bahwa kejadian tadi tidak sepenuhnya karena ‘kelalaian pengemudinya dalam memeriksa rem mobil sebelum berkendara’.

“Pagi yang berat, Sinta?” kata Bu Erni, nama wali kelasku, sambil tersenyum. “Apa kamu mau pulang cepat saja hari ini?”

Aku ingin sekali sebenarnya. Hampir ditabrak mobil bukanlah cara yang baik untuk memulai hari.
“Kayaknya nggak deh, Bu. Saya ada ulangan bahasa Inggris setelah ini,” jawabku.

Bu Erni mengangguk. Bel sekolah berbunyi. Menandakan waktunya jam pelajaran ke-6 hari itu. Aku berterima kasih pada Bu Erni karena telah menemaniku barusan dan berjalan kembali ke kelas VIII A.

* * *

Keesokan paginya aku bangun dengan rasa nyeri di perutku. Kakiku terasa kram dan bagian tubuh bawahku tidak nyaman. Memang sudah waktunya ‘itu’. Apalagi aku sudah mulai bisa melihat hantu kemarin.

“Loh, kamu kenapa?” tanya Mama yang masuk ke kamarku.

“Biasa, Ma. Bulanan,” jawabku.

“Ooh,” kata Mama sambil duduk di ranjangku. “Sakit banget?”

“Terasa kram sih, Ma.”

“Bisa masuk sekolah?”

Aku coba untuk bergerak, tapi perutku rasanya melilit. Aku melingkarkan lututku ke dekat perut, lalu menggeleng. “Gak tahu nih, Ma.”

“Ini pertama kalinya kamu ngalamin kayak gini?”

Aku mengangguk.

Mama membelai rambutku dan berkata, “Ya sudah. Kamu izin aja dulu hari ini. Biar Mama kasih tahu ke sekolah. Nanti malam kalau masih terasa gak enak, kita ke dokter.”

“Iya, Ma. Oh, iya. Tolong kumpulin tugasku di sekolah dong. Harus dikumpul jam pertama nanti. Itu, buku yang di meja.”

Mama bangkit berdiri dan mengambil buku yang kumaksud. “Nanti Mama suruh si Mbok ambilin kamu botol air panas. Kamu kompres perut kamu pakai itu.”

Aku mengangguk. “Oh, iya. Ma...”

“Ya?”

“Hati-hati di perempatan besar dekat sekolah ya.”

* * *

Sore itu aku merasa jauh lebih baik. Perutku sudah tidak terasa kram dan badanku tidak lagi terasa sakit.

Aku mandi, berganti pakaian, lalu meninggalkan rumah. Siang tadi aku mendengar berita di radio. Ada kecelakaan mobil di perempatan itu. Kali ini lebih buruk dari yang kemarin karena ada dua orang pejalan kaki yang jadi korbannya.

Sesampainya di perempatan itu, kulihat polisi telah memasang pita kuning. Ada 2 orang petugas yang berjaga di tempat itu, menghalau orang-orang yang berhenti karena penasaran.

Kulihat pria itu, si hantu, sedang berdiri di dekat lampu lalu-lintas. Di tempat yang sama. Tatapan kosong yang sama.

Aku mendekati pria itu, berdiri tepat di sampingnya, dan memanggilnya dalam kepalaku.

“Hei, kamu yang di situ,” panggilku.

Pria itu menoleh kearahku. Pandangannya terlihat mengawang-ngawang, seolah dia sedang melihat sesuatu yang jauh di belakangku.

“Iya. Kamu,” panggilku dalam kepala, ”ini semua gara-garamu?”

“Ini semua?” jawabnya. Suaranya terdengar berat.

“Kecelakaan kemarin dan yang hari ini. Kamu pelakunya?”

“Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan.”

Aku menghela napas. Jenis yang tingkat kesadarannya rendah rupanya. Ini akan merepotkan.

“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanyaku.

Dia terdiam. Lama sekali. Butuh sekitar 10 menit sebelum akhirnya dia menjawab, “Aku menunggu.”

“Menunggu? Menunggu siapa?”

“Dia.”

“Dia?”

Tiba-tiba saja pria itu menghilang. Sesaat dia masih ada di sampingku, detik berikutnya dia menghilang. Aku ngomel di dalam hati karenanya.

Hantu yang merepotkan. Sangat merepotkan.

* * *

Keesokan paginya, aku buru-buru kembali ke perempatan itu. Sayangnya pria itu tidak ada. Aku menarik napas panjang.

Kekuatanku paling hanya bertahan sekitar 3 hari lagi. Sampai akhir siklus bulananku. Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah hantu ini. Dalam 2 hari terakhir saja sudah terjadi 2 kali kecelakaan. Tambah lagi aku harus melewati perempatan itu setiap hari untuk sampai di sekolah.

Memang sih, ada jalan lain, tapi makan waktu 15 menit lebih lama. Aku tidak mau lewat perempatan itu dan tiba-tiba ada truk gandeng yang remnya blong gara-gara hantu itu, lalu truknya menabrakku.

Hari itu kugunakan jam pelajaran olahragaku untuk berinternet di ruang komputer. Kugunakan tamu bulananku sebagai alasan untuk tidak ikut olahraga minggu ini. Aku mencari berita kematian yang terjadi di kotaku belakangan ini.

Selama ini perempatan itu baik-baik saja. Jadi, kemungkinan terbesarnya adalah: si hantu itu meninggal belum lama ini. Masalahnya aku tidak tahu pasti apa penyebab kematiannya. Kecelakaan? Dibunuh? Tambah lagi berita-berita di internet biasanya tidak menyertakan foto semasa hidup korban. Aku jadi kesulitan dalam mengira-ngira berita mana yang mungkin ada hubungannya.

Pulang sekolah hari itu, kembali terjadi kecelakaan di perempatan itu. Sebuah mobil kembali kehilangan kendali dan menabrak sisi jalan. Aku tidak ada di sana saat itu terjadi. Saat aku sampai, tepi jalan sudah ramai dengan orang-orang yang menonton, polisi yang bertugas, dan sebuah mobil bak terbuka yang bagian depannya menghantam dinding.

Pria itu. Dia ada di tempatnya. Aku berlari menyeberangi jalan dan langsung bicara dalam pikiranku.

“Kamu, kamu yang melakukannya kan! Apa maumu sebenarnya?”

Pria itu tidak menoleh padaku. Dia hanya melihat lurus ke depan. “Aku tidak mengerti apa yang kaumaksudkan.”

“Sebenarnya siapa sih yang sedang kamu tunggu?”

“Dia.”

Lagi-lagi. Aku tidak suka melakukan ini, tapi apa boleh buat. Waktu semakin sempit dan aku takut dia tiba-tiba menghilang lagi seperti kemarin.

Kugapai lengan pria itu. Terasa dingin. Tanganku menembusnya. Dalam sekejab kepalaku dipenuhi dengan berbagai suara dan gambar. Seorang pria. Seorang wanita. Suara-suara. Teriakan. Sepasang pria dan wanita. Teriakan. Pria dan wanita. Bisikan. Sesuatu yang bergerak cepat. Perasaan melayang. Hitam.

Saat berikutnya aku membuka mata, kulihat ada seorang pria berpakaian cokelat di hadapanku. Ada suara-suara di sekitarku. Kepalaku terasa pusing setelah semua kilasan tadi. Pria tadi menyodorkan air mineral botol padaku. Aku mengambilnya dan meminumnya. Saat itu aku baru sadar kalau tubuhku terduduk bersandar pada tiang lampu lalu-lintas.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya pria itu.

“Iya,” jawabku.

“Kamu Sinta, kan?”

“I... iya. Kok bapak bisa...” Wajahnya seperti kukenal. “Bapak polisi yang kapan hari di sekolah ya?”

Dia tersenyum. “Benar. Kamu masih ingat rupanya. Kamu kenapa sampai bisa pingsan?”

“Hanya kurang sehat.”

Dia mengangguk-angguk. Polisi tadi membantuku berdiri, lalu memanggil salah seorang polisi lainnya untuk membawaku pulang dengan mobil. Aku menolak karena rumahku sudah dekat, tapi dia memaksa.

“Daripada kamu kenapa-kenapa di tengah jalan,” katanya.

Akhirnya aku diantar pulang dengan mobil patroli. Sisa hari itu kuhabiskan dengan mengira-ngira arti kilasan yang kulihat tadi. Aku punya dugaan, sayang aku tidak bisa yakin.

Aku butuh bantuan. Polisi tadi. Ya, polisi tadi. Ah, namanya saja aku tidak tahu. Bagaimana mau minta bantuannya?

* * *


message 22: by Biondy (last edited Dec 10, 2013 09:20AM) (new)

Biondy | 773 comments Di luar dugaan, ternyata cukup mudah bagiku untuk memperoleh kontak ke polisi itu. Namanya Hermawan. Anggota penyidik Unit Laka Lantas. Bu Erni punya nomor teleponnya.

“Ditinggalkan, kalau sewaktu-waktu kamu ingin melaporkan sesuatu,” kata Bu Erni.

Apa perasaanku saja, atau wali kelasku itu sesaat terlihat tersipu saat membicarakan soal nomor telepon itu?

Aku menghubungi Pak Hermawan dan memberanikan diri untuk menceritakan semuanya. Ya, soal hantu itu, soal aku yang bisa melihatnya, dan kemungkinan bahwa hantu itulah biang kerok semua kejadian ini.

Pak Hermawan lama terdiam di ujung sana. Untung saja aku pakai telepon sekolah. Bukan ponsel pribadi. Jadi tidak rugi pulsa dengan keheningan ini.

“Sinta...”

Oh, akhirnya. “Ya?”

“Pulang sekolah nanti, apa bisa datang ke kantor polisi? Kita perlu membicarakan ini lebih lanjut.”

“Tentu. Di mana kantornya?”

“Biar kukirim orang untuk menjemputmu.”

Siang itu aku duduk di sebuah ruangan bersama Pak Hermawan. Kuceritakan kembali apa yang telah kukatakan di telepon.

“Dan... menurut dugaanmu, hantu itulah penyebab semua kecelakaan ini?” tanya Pak Hermawan.

“Ya,” jawabku. “Aku pertama melihatnya 3 hari yang lalu dan aku hampir saja ditabrak mobil di pagi yang sama. Lalu setelah itu, 2 hari berturut-turut, terjadi kecelakaan yang serupa.”

Dia mengangguk-angguk. “Lalu, dugaanmu yang berikutnya?”

“Kemungkinan dia meninggal belum lama ini dan mungkin penyebabnya adalah kecelakaan mobil. Hantu dengan kesadaran rendah sepertinya sering begitu. Tanpa sadar menarik orang-orang ke arah kematian yang sama dengan yang dia alami.”

Pak Hermawan mengangkat alisnya. “Kamu sudah punya pengalaman dengan hantu model ini?”

Aku mengangguk. “Pernah bertemu yang setipe beberapa kali.”

“Sudah berapa lama kamu, ah, berurusan dengan hal-hal seperti ini?”

“Sejak aku kedatangan tamu pertamaku 4 tahun yang lalu,” jawabku.

“Tamu pertamamu?”

“Siklus bulanan,” jawabku.

Pak Hermawan tampak salah tingkah. Dia lalu bangkit berdiri dan berkata, “Tunggu di sini,” lalu keluar ruangan.

Sekitar 15 menit kemudian dia kembali dengan segunung map. Dia letakkan map-map itu di atas meja, lalu berkata, ”Ini berkas kasus-kasus kecelakaan mobil yang terjadi sebulan ini. Beberapa dilengkapi foto korban semasa hidup. Apakah kamu bisa mengeceknya? Mungkin ada petunjuk.”

Aku menatap tumpukan map itu, lalu pada pria itu. “Bapak, percaya pada saya?”

Pak Hermawan duduk di kursinya. “Ya. Empat hari berturut-turut, kecelakaan serupa di tempat yang sama? Terlalu aneh untuk kebetulan. Lagipula, aku juga merasa ada yang salah di tempat itu. Ada perasaan yang tidak mengenakkan.”

“Empat hari?” tanyaku.

“Ya. Terjadi 1 lagi sekitar pukul 11 tadi.”

Napasku tertahan. Aku harus bergegas. Kuambil 1 map dari tumpukan itu dan kubuka isinya. Hanya ada catatan tentang kecelakaan dan foto-foto TKP. Aku berjengit melihat foto-foto itu.

Selama 3 jam berikutnya kuhabiskan untuk melihat berkas-berkas itu. Awalnya kubaca pelan-pelan, tapi kemudian kuputuskan untuk melihat yang ada foto korban semasa hidup dalam catatannya saja. Sayangnya, aku tidak menemukan apapun.

“Apa ini sudah semuanya?” tanyaku.

“Ya. Untuk yang ditangani Polsek ini.”

Aku menghela napas. “Tidak ada di sini.”

“Aku akan coba mengeceknya di Polres. Bisa kamu berikan ciri-ciri hantu itu?”

Kuberitahukan padanya. “Hanya saja itu tidak pasti. Aku pernah bertemu hantu bertampang remaja, padahal saat hidup dia sudah 40-an.”

Dia mengangguk. “Tidak ada pilihan lain. Harus kita coba.”

* * *

Perempatan itu ditutup untuk sementara waktu. Sejak kemarin sore tampaknya. Aku terpaksa bangun lebih pagi dan mengambil jalan berputar dengan naik ojek ke sekolah. Setidaknya, selama tempat itu ditutup, tidak akan ada lagi kecelakaan mobil.

Siang itu Pak Hermawan datang ke sekolah.

“Maaf karena mengganggu pelajaranmu, Santi, tapi kurasa kita harus bertindak cepat. Perempatan itu tidak bisa ditutup terlalu lama. Aku membawa berkas-berkas kecelakaan lainnya, tapi, mungkin sebaiknya kamu mengecek yang ini dulu.”

Pak Hermawan memberikan sebuah map. Aku mengambil salah satunya dan berkata, “Apa isinya?”

“Kasus satu setengah bulan yang lalu. Saya kepikiran tentang perasaan melayang yang kamu rasakan dalam penglihatanmu itu. Saya pikir, bagaimana kalau itu perasaan melayang dalam arti sesungguhnya. Seperti, jatuh dari tebing?”

Aku membuka map itu dan membaca bagian pengantarnya, lalu kemudian aku melihat foto 2 orang korban dalam peristiwa itu. Mataku melotot ketika melihat foto pria yang tertera.

“Ini. Ini dia orangnya! Tidak salah lagi. Pria ini,” kataku.

Wajah Pak Hermawan terlihat senang. “Benar? Kamu yakin?”

Aku mengangguk.

“Lalu bagaimana dengan semua kecelakaan di perempatan itu? Kamu bilang hantu sepertinya sering menarik orang ke arah kecelakaan yang sama. Bukankah kecelakaan di perempatan itu dan kasus ini berbeda?”

“Aku juga tidak tahu,” jawabku. “Beberapa kasus yang pernah kualami selalu seperti itu.”

“Begitu... Baiklah. Toh itu tidak terlalu penting saat ini,” kata Pak Hermawan.

“Ini, kasus bunuh diri?” tanyaku setelah membaca isi berkas itu lebih lanjut.

“Ya. Mereka berdua sudah berpacaran lama dan hendak menikah, tapi orang tua mereka tidak setuju,” kata Pak Hermawan, “ada masalah lama di antara kedua keluarga itu. Akhirnya mereka memutuskan untuk terjun dari tebing dengan mobil.”

Aku melihat foto wanita yang ada di situ. Seorang gadis muda dengan rambut panjang sebahu dan wajah yang sedikit lonjong.

Aku kembali membaca laporan itu. Mataku tertuju pada salah satu paragraf. “Wanita ini masih hidup?”

“Ya. Si pria meninggal saat ditemukan, tapi si wanita selamat. Kondisinya kritis, tapi berhasil tertolong.”

“Berarti... Wanita inilah yang pria itu tunggu,” kataku.

“Lalu, selanjutnya bagaimana?”

“Kita harus mempertemukan kembali kedua orang ini. Mungkin dengan begitu kita bisa menenangkan si hantu.”

Pak Hermawan mengangguk. “Saya akan coba menghubungi rumah sakit. Alasan soal hantu ini mungkin akan terdengar tidak masuk akal, tapi akan saya coba.”

“Tolong usahakan secepatnya,” kataku,” besok mungkin adalah hari terakhir. Siklusku biasanya 5 harian. Aku tidak bisa berhubungan dengan hantu itu kalau masa bulananku sudah berakhir.”

“Baik. Akan saya pastikan besok bisa,” kata Pak Hermawan sambil bangkit berdiri. Dia menghela napas panjang, lalu berkata, “Hah, dasar Romeo dan Juliet kesiangan. Merepotkan saja.”

* * *

Besoknya Pak Hermawan menepati perkataannya. Wanita itu berhasil dia datangkan dari rumah sakit. Dia turun dari ambulans dan seorang pria paruh baya mendorongnya di kursi roda.

Wanita itu tampak pucat. Matanya terlihat sembap. Dia berusaha tersenyum saat menyalami tanganku. Kania, itu namanya.

“Sudah siap?” tanyaku padanya.

Dia mengangguk. “Aku siap.”

Pria tadi, mungkin ayah Kak Kania, lalu kembali ke ambulans yang diparkir agak jauh dari tempat itu. Biasanya ‘ritual’ seperti ini akan lebih efektif jika dibuat seintim mungkin, dengan orang sesedikit mungkin.

Aku menutup kedua mataku lalu berusaha mengingat rupa hantu itu.

Datanglah, batinku. Dia yang kamu cari ada di sini.

Tidak terjadi apa-apa. Aku dapat merasakan jantungku berdetak lebih cepat dan ada peluh yang mengalir dari dahiku.

Ayo, datanglah! Dia ada di sini!

Saat aku membuka mata, pria itu telah berada di tempatnya. Kini tidak lagi menatap ke jalanan, tapi tepat ke arah kami.

“Dia ada di sini,” bisikku pada Kak Kania. Aku menggenggam tangannya dan berkata, “Bicaralah padanya. Apa saja.”

“Iksan,” suara Kania bergetar. “Kamu ada di sini kan? Ini aku, Kania.”

Iksan, hantu itu, terus menatap kosong ke arah kami.

“Teruskan,” bisikku.

“Ini... Ini tempat kita pertama ketemu dulu kan, San? Aku masih ingat.”

Masih tidak ada reaksi.

“Maafin aku, San. Maafin aku.” Kulihat mata Kak Kania mulai berkaca-kaca. “Harusnya... Harusnya gak kayak gini, San.”

Kulihat mulai ada perubahan pada Iksan. Matanya tetap memandang hampa pada kami, tapi aura yang kurasakan padanya mulai bergerak.

“Seharusnya kita terus bersama, San. Kita harusnya terus hidup dan gak melakukan itu.”

Seketika itu kurasakan ada kekuatan yang menarik kami begitu hebatnya. Aku berpegangan erat pada kursi roda. Begitu juga Kak Kania.

Kurasakan kakiku mulai terangkat dari tanah. Begitu juga kursi roda itu. Ban-bannya mulai melayang bersamaku dan kami semua meluncur cepat ke arah Iksan.

Kucoba untuk menahan tubuh kami. Kubayangkan Kak Kania, kursi roda itu, dan aku diam di udara dan berhasil. Kami berhenti separoh jalan dan mengambang sekitar 2 meter di atas trotoar.

Tapi ternyata Iksan jauh lebih kuat dari dugaanku. Sedetik kemudian tubuh Kak Kania terangkat dari kursi roda dan meluncur ke arahnya. Kak Kania menjerit keras dan aku terlambat untuk menolongnya. Tubuh Kak Kania bertabrakan keras dengan tiang lampu lalu lintas. Dia terjatuh ke jalan dan mengerang kesakitan. Kurasakan kekuatan Iksan mengendur padaku dan kugunakan kesempatan itu untuk mendarat.

“Jauhi dia! Kamu sudah mati. Kak Kania masih hidup. Biarkanlah terus seperti itu!” seruku sambil berlari ke arah Kak Kania.

Kurasakan suara berdesing di sampingku dan kulihat kursi roda tadi terbang ke arah Kak Kania. Kali ini aku lebih siap. Kubuka telapak tangan kananku dan kubuat gerakan memukul ke kiri. Kursi roda itu berbelok arah dan menabrak dinding dengan suara berdebum.

Iksan mendongak ke atas dan bersamaan dengan itu, tubuh Kak Kania terbang ke atas.

“Maafin aku, San! Maafin aku!” kata Kak Kania dengan suara tercekat. “Aku juga ingin mati waktu dengar kamu sudah mati, San. Tapi, tapi aku... Aku kemudian melihat Mama nangis. Papa juga. Aku gak pernah lihat Papa nangis, San. Itu pertama kalinya aku lihat dia nangis. Dan aku, aku, aku nyesel San waktu lihat mereka nangis kayak gitu.

“Aku... Aku mau terus hidup San setelah lihat mereka kayak gitu. Aku ingin hidup dan memperbaiki kesalahanku ke mereka. Kesalahan kita, San. Aku ingin terus hidup.”

Air mata? Apakah aku melihatnya menangis? Aku tidak sempat memperoleh jawabannya karena Iksan tiba-tiba menghilang setelah Kak Kania melayang turun dan terduduk di jalan.

Kak Kania terisak-isak dan terus-terusan berkata, “Maafin aku, San. Maafin aku,”

Air mataku ikut bergulir dan aku memeluknya. “Kak Iksan sudah pergi, Kak. Aku sudah gak bisa merasakan kehadirannya.”

“Makasih, Santi. Makasih,” katanya sambil terus menangis.

Dua orang pria dan seorang wanita berseragam putih-putih datang dan menolong Kak Kania naik ke atas tandu. Pak Hermawan datang dan menepuk bahuku.

“Dia sudah benar-benar pergi?” tanya Pak Hermawan.

“Ya. Aku sudah tidak merasakannya lagi. Biasanya aku masih bisa merasakan jejaknya kalau dia menghilang, tapi sekarang sudah tidak ada.”

“Kami akan mengurus sisanya. Kerjamu bagus.”

Aku menggeleng. “Masih banyak yang harus kupelajari. Kak Kania sampai terluka seperti itu. Aku beruntung tidak terjadi sesuatu yang lebih parah.”

Pak Hermawan kembali menepuk pundakku. “Yang penting semuanya sudah selesai. Tidak akan ada lagi kecelakaan karena hantu di perempatan ini.”

Aku mengangguk. Dalam hati aku berdoa supaya aku tidak terlibat masalah serumit ini dulu untuk sementara waktu. Masih banyak yang harus kupelajari. Masih sangat banyak.

Tamat


message 23: by Redtailqueen (new)

Redtailqueen | 90 comments Perjanjian Aniel



Semua ini bermula pada siang hari yang terik. Saat itu aku sedang terjebak dalam kemacetan lalu lintas akibat aksi unjuk rasa para buruh yang meminta kenaikan gaji. Udaranya benar-benar panas, penuh debu dan asap kendaraan. Aku sangat tergoda untuk mengikuti puluhan kendaraan lain yang menerobos memasuki jalur busway. Tapi ini akhir bulan, pembayaran sepeda motorku saja masih dicicil, sebaiknya aku tidak mengambil resiko. Maka terpaksa aku hanya pasrah menerima keadaanku, terpanggang mentari, bermandikan peluh, teracuni polusi. Betapa aku berharap saat itu aku berada di tempat lain.

Harapanku terwujud.

Mendadak kegelapan mencekikku. Sekujur tubuhku membeku. Gemuruh aneh menggelitik pendengaranku, seolah aku dihantam ombak ganas. Aku menjerit. Aku panik. Aku tak bisa bergerak. Aku tak bisa bernapas!

Lalu sensasi aneh itu menghilang begitu saja.

Begitu sadar aku telah berdiri di tengah ruangan bundar beratap kubah kaca. Semua dinding dan lantainya juga terbuat dari kaca yang memancarkan pendar cahaya kebiruan. Udara di tempat itu sangat menyegarkan. Sekilas aku bisa melihat tempat tidur, lemari, meja dan kursi, semuanya berbentuk bundar berwarna ungu gelap. Tepat di bawah kakiku ada lingkaran yang dibentuk oleh rangkaian helaian bulu ekor merak berwarna merah yang ditumpuk sedemikian rupa menyerupai lambang sihir. Dengan kebingungan aku menatap gadis kecil berambut ungu dan bermata jingga yang sedang menyeringai di hadapanku.

“Berhasil!!” serunya riang.

“Apa? Apa yang terjadi!?” tanyaku agak terkejut mendengar suaranya yang melengking nyaring.

“Aku berhasil!! Aku berhasil memanggil Satan!!” Gadis kecil itu masih berteriak sambil berlari mengelilingiku.

“Hey! Berhenti!! Aku.. Sebenarnya ada apa ini!? Di mana aku? Siapa kau!?” Aku sungguh kebingungan.

“Tolong dengarlah permintaanku, Tuan Satan.” Akhirnya gadis itu berhenti dan menatapku penuh harap.

“Siapa? Aku!? Namaku bukan Satan!”

“Eh!? Apa? Kau bukan Tuan Satan? Tapi.. Tapi aku yakin tadi sudah melakukan upacara pemanggilanya dengan benar.. Apa ada mantra yang salah? Atau masih ada bahan yang kurang?” Gadis itu meraih sebuah kitab tebal di dekatnya dan membuka setiap halamanya dengan cepat.

“Hey, jawab dulu pertanyaanku. Tempat apa ini? Siapa kau? Apa kau alien?”

“Alien? Apa itu? Nama makanan?” Pertanyaan gadis itu membuatku tambah bingung.

“Bukan.. Hmm.. Siapa namamu?”

“Aku Stylleca. Umurku 8 Stern. Rasi bintang Sireus. Suka makan sirup sayur dan minum nasi permen. Aku juga sudah tujuh kali mengalahkan gawang dalam permainan lompat lempar!” Setiap katanya terdengar sangat tidak masuk akal bagiku.

“Stilka? Bagaimana cara kau mengejanya?”

Gadis itu mengambil kuas dan selembar kain putih lalu menulis sederet simbol asing yang tak bisa kubaca.

“Baiklah, Stilka. Tempat apa ini?”

“Ini rumahku, di kamarku.” jawabnya penuh semangat. “Aku memanggil Tuan ke sini agar bisa mendengar dan mengabulkan permintaanku.”

“Maksudmu seperti.. Sinterklas? Pria tua yang selalu mengunjungi anak kecil di akhir tahun untuk memberi mereka hadiah?”

“Bukan!! Itu Pieter Merah! Yang kupanggil memang Tuan Satan. Penampilanya sama sepertimu. Bajunya hitam, celananya hitam, sepatunya hitam, kulitnya hitam, matanya hitam, rambutnya juga hitam! Katanya siapapun yang bisa memanggil Tuan Satan, apapun permintaanya pasti akan dikabulkan!” seru gadis itu membantahku.

Aku sungguh tak mengerti apa yang sedang dibicarakan anak itu. Dia benar-benar aneh. Kamarnya aneh. Keadaan ini juga aneh.

“Baiklah, baiklah! Apa maumu?”

“Aku ingin.. Tunggu dulu! Apa benar kau Tuan Satan? Tadi kau bilang namamu bukan Tuan Satan!!”

Arrgh, gadis kecil ini mulai membuatku kesal.

“Maaf, tadi aku hanya bercanda. Aku memang Tuan Satan. Jadi apa permintaanmu?” Terpaksa aku berbohong agar bisa segera menyelesaikan urusan ini dan cepat kembali ke duniaku yang menyengsarakan tapi normal.

“Tapi.. bukankah Tuan Satan harus membuat perjanjian dulu dengan orang yang memanggilnya?” Stilka masih memandangku tak percaya.

“Baiklah, baiklah! Aku berjanji akan mengabulkan permintaanmu,” sahutku tak sabar.

“Tidak bisa seperti itu! Tuan Satan harus mempertaruhkan sesuatu dalam perjanjian. Biar aku mulai lebih dulu. Aku, Stylleca, berjanji atas nama rasi bintangku, akan berusaha menjadi Aniel yang baik dalam satu purnama. Aku tidak akan mengganggu kerdil lagi, tidak akan berdusta lagi, dan akan selalu menuruti ajaran asuhanku. Bila aku gagal, maka permintaanku pada Tuan Satan tidak akan terkabul,” ucap gadis kecil itu perlahan sambil memejamkan matanya. “Nah, sekarang giliran Tuan Satan!”

Aku tak tau sumpah seperti apa yang harus kuucapkan. Sebaiknya aku mengikuti caranya saja. “Aku, Tuan Satan, berjanji atas nama bintang, akan mengabulkan permintaan Stilka bila dia berhasil menjadi A.. Anil yang baik dalam satu purnama. Bila aku gagal, maka aku akan..”

“Maka Tuan Satan akan menghilang dari semua semesta!” Gadis itu seenaknya saja memotong kalimatku. “Baiklah, perjanjianya sudah lengkap! Tuan Satan sudah bisa kembali ke alam Namusia. Setelah satu purnama aku akan memanggil Tuan Satan lagi untuk menggenapi perjanjian kita. Sampai jumpa lagi, Tuan Satan!”

“Tu.. Tunggu dulu!!”

Sekali lagi kegelapan meremas paru-paruku dan membekukan tubuhku. Sensasi aneh yang sama seperti saat aku dipanggil ke alam Stilka. Gemuruh ombak menghantarkanku kembali pada cahaya matahari yang terik, udara tercemar, dan kebisingan kendaraan yang terjebak kemacetan di tengah kota.

Aku memandang sekelilingku dengan kebingungan. Apa yang baru saja terjadi? Apakah yang tadi itu hanya mimpi atau halusinasiku saja? Apakah sebenarnya pertemuan dan perjanjian dengan gadis kecil itu hanyalah hasil permainan otakku yang kepanasan? Aku tak tau. Jadi kuputuskan untuk melupakanya saja dan kembali pada kehidupanku yang menyengsarakan.

Tapi kenyataanya tak semudah itu. Berhari-hari setelahnya aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Setiap malam aku selalu bermimpi tentang perjanjian itu. Mimpi-mimpi yang sangat mengerikan. Aku mulai merasa perjanjian itu sangat tidak adil. Keberadaanku di alam semesta dipertaruhkan, namun gadis kecil itu hanya mempertaruhkan permintaanya. Aku juga mencoba menduga-duga sebenarnya permintaan seperti apa yang akan diajukan Stilka. Apakah itu permintaan yang sangat penting sampai harus memanggil Tuan Satan? Apakah sepenting itu sampai harus mempertaruhkan keberadaanku? Kalau begitu mau tak mau aku harus mengabulkan permintaanya.

Lalu aku teringat bahwa dia juga membuat perjanjian. Bila dia melanggarnya maka aku berhak untuk tidak mengabulkan permintaanya. Atau meskipun aku ingin mengabulkanya, permintaan itu tetap tidak akan terwujud. Pemikiran itu membuatku sedikit lega. Kuharap gadis kecil itu yang lebih dulu melanggar janjinya. Kuharap dia masih mengganggu si kerdil atau melawan perintah asuhanya. Dunianya memang aneh.

Kira-kira apa yang diinginkan gadis aneh seperti Stilka? Tak mungkin dia hanya menginginkan hal remeh seperti baju baru, boneka atau mainan baru, atau hanya memintaku mengerjakan tugas matematika. Bagaimana kalau dia memintaku untuk melakukan sesuatu yang mengerikan? Seperti membunuh asuhanya? Tidak. Walaupun aneh menurut pandanganku dia gadis yang baik. Ya, dia pasti akan meminta sesuatu yang baik. Mungkin saja dia meminta perdamaian dunia. Aku memang tidak bisa menjamin akan langsung mengabulkanya, tapi bila dia membuat permohonan seperti itu, dengan senang hati aku pasti akan membantunya untuk mewujudkanya.

Tak terasa waktu satu purnama berlalu dengan cepat, setidaknya menurut perhitungan waktu di duniaku. Dengan gelisah aku menunggu Stilka memanggilku. Beberapa kali aku menertawakan diriku sendiri karena berpikir ini sungguh konyol. Mungkin saja perjanjian itu memang Cuma hayalanku. Tapi dari lubuk hati yang paling dalam aku yakin Stilka memang nyata. Sebentar lagi dia pasti akan memanggilku.

Dugaanku terbukti benar.

Sensasi perpindahan dimensi yang tak menyenangkan membawaku kembali pada alam tempat Stilka tinggal. Seperti sebelumnya, gadis itu menyambutku dengan seringai lebar.

“Selamat datang kembali, Tuan Satan!!”

“Hai, kita bertemu lagi..” jawabku masih terengah akibat efek perpindahan dimensi.

“Waktunya sudah tiba. Aku sudah menepati janjiku, aku sudah menjadi Aniel yang baik selama satu purnama ini!” Entah kenapa firasat buruk kembali menyerangku saat mendengarnya berkata seperti itu.

“Belum tentu, siapa tau kau lupa pernah sekali membantah ajaran asuhanmu. Yah, kita lihat saja nanti,” jawabku agak meledeknya. “Jadi.. apa permintaanmu?”

“Hmm..” Stilka tampak ragu. “Sebelum itu aku ingin menceritakan sebuah rahasia padamu, Tuan Satan..”

“Apa itu?” Aku jadi penasaran.

“Sebenarnya.. aku tidak suka pada Namusia. Aku saaaaaaaaaangat membenci Namusia!! Mereka makhluk yang sangat jahat, juga sangat egois. Mereka sering menyiksa dan bertingkah seenaknya pada makhluk lain, juga suka menghancurkan alam mereka sendiri. Akibatnya asuhanku yang jadi repot. Asuhanku yang harus selalu memperbaiki kesalahan mereka. Padahal asuhanku sudah sering memperingatkan mereka dengan berbagai bencana, tapi mereka tetap saja tidak jera. Aku bercita-cita untuk memusnahkan Namusia!!”

Aku tercengang, tak tau harus berkata apa untuk membalas atau membantahnya. Aku sangat yakin Namusia yang dimaksudkanya adalah manusia!

“Tapi saat ini aku masih kecil, kekuatanku belum cukup untuk menghancurkan mereka. Aku hanya bisa memanggil Tuan Satan dan yang lainya ke sini untuk mengikat perjanjian denganku. Aku ingin.. Tuan Satan menjadi salah satu kerdilku.. agar bisa membantuku memusnahkan Namusia saat aku besar nanti.” Stilka mengucapkan permohonanya dengan senyuman manis.

“Jadi.. apakah Tuan Satan mau mengabulkan permintaanku..?”

Tidak. Aku.. Tidak mungkin! Mustahil aku mengabulkan permintaan itu! Aku tak mau menghancurkan kaumku sendiri!

“Jangan lupa.. Tuan Satan akan menghilang dari semesta bila melanggar janji. Lihat, di atas sana. Itu rasi bintangku, bintang Sireus. Rasi bintangku bersinar terang karena aku telah melaksanakan janjiku. Rasi bintang Mentari milik Tuan Satan masih meredup. Tuan Satan tinggal mengucapkan apakah Tuan bersedia mengabulkan permintaanku atau menolaknya. Oh, aku lupa menyebutkan satu hal lagi. Di alam Aniel, hukum perjanjian berada di atas segalanya.” Mata jingga Stilka berkobar penuh kegembiraan.

“Aku..”

Kupejamkan mataku erat, tak sanggup mendengar kalimat yang akan terucap dari mulutku sendiri. Sinar matahari di atas kepalaku berpijar terang.

“Aku bersedia mengabulkan permintaanmu, Stylleca..”


message 24: by Anindito (last edited Dec 10, 2013 09:18AM) (new)

Anindito Alfaritsi (alfare) | 519 comments Kenangan Waktu Berjalan

Kenapa kecelakaan-kecelakaan di dunia terjadi?

Kenapa Tuhan membiarkan kemalangan menimpa seorang manusia?

Aku pertama melihatnya saat pertanyaan-pertanyaan semacam itu masih menghantui pikiranku.

Bagi orang lain, mungkin pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah hal sepele. Bukan sesuatu hal yang perlu diurusi. Namun bagiku, pertanyaan-pertanyaan tersebut telah menjadi bagian dari masa kecilku. Sesuatu yang sudah tak terpisahkan dari struktur kerja mentalku. Sesuatu yang menjadi bagian dari kerangka biologis di mana otakku berpikir.

Dunia ini suram. Lalu dunia ini untuk seterusnya masih akan terus bertambah suram, karena selama jumlah manusia di muka bumi bertambah, maka akan semakin banyak pula ‘ternak’ yang dapat diperoleh sang Iblis. Semakin besar kesempatan baginya untuk menuntaskan misinya dalam menghancurkan hidup umat manusia.

Aku mempercayai keberadaan sang Iblis. Mungkin karena aku memang jenis orang yang seperti itu.

Lalu di dunia yang telah penuh dengan bangunan dan polusi ini, yang telah sesak oleh individu-individu yang tak saling mempedulikan satu sama lain, kenapa pula Tuhan masih menambah-nambah kesuraman yang ada dengan membiarkan kecelakaan-kecelakaan tak berarti terjadi?

Apa caraku memandangnya yang salah?

Bukan sekalinya pertanyaan itu kuajukan. Soalnya, aku sendiri sadar betapa aku tak memiliki motivasi atau alasan apapun untuk sebegitu mempermasalahkan hal-hal ini. Kehidupanku berkecukupan. Keluargaku tak miskin. Aku memperoleh akses ke sumber pendidikan. Kebanyakan orang awam seusiaku yang aku tahu berasal dari kalangan masyarakat kelas bawah normalnya akan merasa iri padaku. Maka tentunya, cara pandangku normal saja bila dipandang secara skeptis. Sebab aku sendiri pun tak paham.

Kenapa aku begitu mempermasalahkannya? Apa yang menyebabkan aku sedemikian terganggunya oleh penderitaan orang lain? Apa aku terlalu empatis.

Ini tak adil. Demikian dari dulu aku seenaknya berpikir. Kenapa orang lain harus menderita sementara aku bahagia?

Keadaannya membuat aku terdengar seperti semacam karakter antagonis di opera-opera sabun tahun 90an.

Bahkan pada waktu itu, saat aku mendatangi rumah Kania bersamanya, pertanyaan-pertanyaan itu masih menghantui.

Rumah Kania terletak di suatu kompleks perumahan yang berada di wilayah kota yang datar. Rumah-rumah di sana cukup besar dan kelihatannya ditempati oleh keluarga-keluarga berada. Jadi sebenarnya tak banyak pemandangan di sekitarnya yang bisa dilihat.

Sebenarnya, satu hal yang agak mengherankanku adalah kuatnya aura kesunyian di sana. Sejauh aku memandang, aku hanya bisa mendengar derik serangga-serangga di sela-sela pepohonan; mengisi udara panas hari itu. Lalu tak terdengar bunyi-bunyian kendaraan-kendaraan bermotor. Tak ada suara musik atau televisi. Tak ada suara-suara percakapan. Bahkan bunyi tok-tok dari tukang baso tahu seperti yang sering lewat di depan rumahku pun tak ada.

Jalanan perumahan di sana lebar dan berlapis aspal. Keadaannya jelas-jelas lebih bagus dibandingkan keadaan jalanan di kota ini secara umum. Memperhatikannya, aku jadi berpikir: apa ini juga pertanda akan betapa sedikitnya jumlah kendaraan yang lewat?

Suatu perasaan berat seketika melandaku saat itu.

Sebuah pikiran yang melintas di kepalaku berkata: jadi di dunia seperti inilah Kania mengurung diri.


Di lingkungan yang sepi dan seolah terputus dari luar dengan aliran waktu seakan berhenti seperti ini.

Kania adalah teman sekelas kami yang sudah lama tak masuk sekolah. Awalnya, kudengar dirinya mengalami semacam komplikasi pada ususnya yang membuatnya mengalami sakit berkepanjangan. Pokoknya, jenis perih yang akan membuatnya menangis dan stres dan tak bisa mengikuti pelajaran. Mungkin semacam maag. Mungkin juga semacam penyakit dalam. Tapi belakangan, setelah setengah tahun, kelihatannya alasannya tak masuk sekolah berubah menjadi bukan cuma itu…

Teman-teman sekelasku kebanyakan bahkan sudah hampir lupa Kania siapa. Bagaimanapun, Kania terlanjur sakit bahkan sebelum mereka sempat mengenalnya secara dekat.

Tapi keputusanku datang kemari bukan cuma karena aku jenis orang payah yang sering tak bisa tidur gara-gara memikirkan kesulitan orang lain. Sebenarnya, belum lama ini, aku juga mendengar dari wali kelasku soal kenyataan bahwa Kania, sebenarnya, sudah sakit-sakitan jauh lebih lama dari itu...

“Jadi karena sakit lama itu Kania pernah enggak naik kelas sebelumnya? Lalu sehabis enggak naik kelas itu, dia pindah sekolah ke sekolah kita? Terus berhubung dia mulai SD dulu juga di usia lebih awal, beda usianya hampir enggak ada sama kita?”

Teman sekelas perempuan yang kubawa untuk menemaniku berkata demikian.

“Iya.” Aku membenarkan perkataannya.

Salah satu faktor yang melandasi kunjunganku kemari adalah karena aku—orang sepertiku—mengira kalau aku takkan sanggup membayangkan besarnya beban mental yang pastinya Kania tanggung. Ada orang yang bilang kalau masa remaja semestinya menjadi masa yang bahagia. (Itu bullshit.) Suatu masa yang seharusnya berarti. (Aku pengen ngebunuh siapapun itu yang mengatakannya.) Tapi apa bisa masa itu dijalani bila setiap hari yang bersangkutan mengurung diri karena sakit yang tak ia pahami di dalam rumah?

Tentu saja, mengingat aku jenis orang kayak apa, kalau maksudnya cuma untuk menjenguk, aku takkan sampai memutuskan untuk mendatangi rumahnya begitu saja. Untuk orang yang sudah sedemikian lama sakit seperti Kania (Tentu saja yang berikut ini cuma asumsi, berhubung akupun sebenarnya masih belum terlalu mengenalnya.), kurasa takkan banyak artinya bila cuma menjenguk. Menjenguk semata takkan memberinya pengharapan untuk sembuh. Kesannya malah mungkin seperti menabur garam di atas luka. Kami masih belum terlalu saling mengenal. Menjenguknya semata sama sekali takkan memberinya sesuatu untuk di-to look forward to.

Karena itulah, cewek yang berjalan di sebelahku ini kubawa.

Memandangku, mungkin karena aku terlihat kebingungan soal mana jalan berikutnya yang harus kami ambil, gadis cantik berambut ikal panjang di sebelahku bertanya dengan nada sinis, “Yakin kamu tahu jalan? Tadi kamu bilang kamu juga belum pernah ke sini kan?”

Aku hanya balas memandangnya, sebelum akhirnya menghela nafas.

“Denger. Aku tahu aku mungkin enggak pantes ngomong gini sesudah ngebujuk-bujuk kamu selama berhari-hari. Tapi terus terang aja, aku enggak mau memaksa kamu ngelakuin ini.” ujarku.

“Ohoo. Kayak kamu belum melakukannya aja.” tanggap gadis itu dengan sarkastis. Ada senyuman mencibir yang muncul di wajahnya. “Tapi tenang. Aku enggak bilang aku enggak mau.”

“Lalu kenapa?” Aku bertanya lagi soal apa masalahnya.

“Kamu sendiri kenapa?” Namun ia malah balas bertanya dengan nada naik, mengungkapkan kekesalan yang sepertinya telah lama terpendam. “Kenapa kamu segitu-gitunya maksa aku buat dateng ke sini? Aku ngerti Kania temen sekelas kita juga. Tapi trus apa urusannya sama kamu? Kenapa kamu kayak enggak bisa tidur karena ini? Memang apa yang bikin kamu ngira aku bisa-bisanya ngebantu?”

“Tapi sebenernya kamu bisa kan?” Nada ucapanku tak kalah naik.

Gadis itu untuk sejenak hanya menggigit bibir. Sepasang matanya ia alihkan ke arah yang lain.

“Sebelum bisa ditolong terlebih dulu dia mesti menolong diri sendiri.” gumamnya pelan.

Aku mendengar gumaman itu. Aku menangkap setiap patah katanya. Namun aku tak yakin aku menangkap keseluruhan maknanya. Aku ingin bertanya. Tapi jelas terlihat dia masih mau menghindari tatapanku. Maka aku hanya melanjutkan langkahku kembali. Lalu kemudian gadis itu, Elisa, teman sekelasku tersebut, mengikutiku dari samping.

Pikiranku berseliweran.

Apa iya aku sedang melakukan hal yang benar?

Aku pertama melihat Elisa sewaktu aku masih duduk di bangku kelas VI SD. Atau setidaknya, aku kira aku pertama melihat Elisa sewaktu masih SD. Padahal yang waktu itu aku lihat, sebagaimana yang aku ketahui belakangan, adalah ibunya. Seseorang yang sosoknya pada waktu itu mungkin takkan bisa kubedakan dari sosok Elisa sekarang.

Ibunya menggunakan… semacam kekuatan ajaib untuk menolong seorang anak kelas II yang berlari ke jalanan dan hampir ditabrak sebuah mobil besar. Ada semacam pola-pola cahaya. Ada semacam pakaian indah yang kemudian tiba-tiba dikenakannya, yang kemudian memancarkan semacam kekuatan yang menahan laju mobil dengan kecepatan berlebihan itu, secara efektif memuntir dan melentingkannya sampai tegak lurus ke udara, dengan cara sedemikian rupa hingga keadaan pengemudianya tak terluka, sekaligus secara efektif mencegah terjadinya suatu kecelakaan.

Ada bunyi berdecit. Ada suara-suara teriakan, langkah-langkah berlari saat orang-orang berkumpul. Lalu hal berikutnya yang kutahu, tahu-tahu saja segala sudah terkendali dan aman. Banyak orang yang meragukan apa yang terjadi. Banyak orang yang bertukar kesaksian tentang potongan-potongan adegan yang mereka lihat, yang bahkan semakin simpang siur sesudah insiden aneh tersebut sampai diliput TV.

Tapi hanya aku seorang yang nampaknya menyaksikan semuanya dari awal hingga akhir.

Hari itu menjadi hari pembagian rapot yang takkan pernah kulupakan seumur hidupku.

Lalu, terhadap perempuan yang kulihat waktu itu, mungkin dia kemudian menjadi semacam cinta pertama. Karenanya, aku langsung mengira aku mengenalinya saat secara mengejutkan aku melihat ‘wajahnya’ kembali bertahun-tahun kemudian saat aku pertama masuk kelasku di SMA.

Tentu saja, sebagian besar dari yang terjadi dalam kasus ini merupakan kesalahpahaman dari pihakku sendiri.

Sial. Aku sulit percaya betapa ibunya awet muda. Tapi mungkin kenangan lama yang kuingat dari masa waktu aku SD mungkin memang agak mempermainkan persepsiku.

Ditambah lagi, aku juga butuh berbulan-bulan untuk sampai mengungkapkan hal ini ke Elisa secara langsung. Aku sempat ngeri sekaligus kebingungan soal bagaimana dirinya tak menua. Sempat kupikir dirinya bahkan makhluk berbahaya macam vampir. Hingga akhirnya aku sampai menguntitnya (secara sukses) dan kemudian mengetahui dirinya ternyata memiliki kekuatan serupa yang diwarisinya dari ibunya.

Elisa rupanya adalah semacam gadis penyihir ajaib.

Kekuatan yang mungkin dapat digunakannya untuk membantu orang.

Lalu tiba-tiba saja aku menyadari apa maksud perkataannya.

“Karena aku penasaran.” Tiba-tiba saja aku merasakan dorongan luar biasa untuk membeberkan apa yang ingin diketahuinya. “Sori. Tadi, yang kamu maksud itu soal kenapa aku begitu ingin ikut campur soal urusan orang lain kayak gini ‘kan? Alasannya, cuma karena aku dari dulu penasaran sekaligus enggak ngerti soal kenapa Tuhan membiarkan kecelakaan-kecelakaan terjadi di dunia.”

“Kenapa Tuhan biarkan kecelakaan-kecelakaan…?” Elisa mengernyit

“Iya! Atau nasib buruk! Kenapa ada orang yang selamat dan enggak? Kenapa ada orang yang ditolong dan enggak? Pokoknya… sesuatu kayak gitu.” Aku hampir menghardik, tapi aku berhasil menahan nada suaraku agar tetap terkendali.

Perkataanku mungkin terdengar ganjil bagi Elisa. Karena di saat berikutnya, ia memberiku tatapan tercenung.

“Aku udah cerita tentang gimana dulu aku bertemu ibumu ‘kan? Aku cuma… pengen tahu. Soal kenapa ada yang beruntung dengan hadirnya orang kayak ibumu waktu ngalamin musibah, dan kenapa ada yang enggak. Aku penasaran, memang apa yang menentukan? Takdir? Emang itu cukup alasan? Kenapa ada yang boleh bahagia sementara yang lain ada yang mati? Memang apa yang dulu diperbuat yang mati sehingga dia jadi layak mati? Apa aneh kalo aku penasaran karena ini? Atau memang cara berpikirku yang salah?”

Aku pasti menjabarkan itu semua dengan cara yang lebih antusias dari yang kuharap. Karena Elisa kini melihatku dengan cara yang sama sekali berbeda. Bahkan mungkin dengan agak menjaga jarak.

“Karena itu, kalau memang ada orang seperti kamu di sana, kalau bisa aku pengen nolong mereka yang bisa ditolong. Eh bentar, yang nolong pada akhirnya itu kamu ya? Argh. Maksudku…”

Aku kebingungan. Lalu kini giliran Elisa yang menghela nafas.


message 25: by Anindito (last edited Dec 10, 2013 05:44PM) (new)

Anindito Alfaritsi (alfare) | 519 comments “Hei. Sekarang gini deh.” ujarnya. “Aku ngerti. Sekarang aku ngerti. Biar ntar di rumah Kania aku tunjukin alasannya. Nanti akan aku tunjukin jawaban yang kamu cari.”

Aku nyaris mengira aku salah mengartikan kata-katanya. Sebab pada saat yang sama, aku mendadak tersadarkan akan sesuatu.

“Tunggu. Bentar. Memang, alasan apa sebenarnya yang bikin kamu selama berhari-hari enggak mau waktu kuajak ke sini?” Kalau kupikir, pasti aku benar-benar keras kepala dalam mengajaknya bila akhirnya ia sampai mau sekarang.

“Ada dua alasan. Satu, ‘baju ajaib’ yang kau bilang muncul saat kupakai kekuatan itu kuanggap memalukan.”

“Maksudmu pas kamu berubah wujud.” selaku.

“Aku bukan berubah wujuuud!” sergahnya. “Dan lagi aku enggak mau denger komentar soal itu dari orang mesum yang karena gagal dapetin si ibu akhirnya malah nyasar si anak.”

“A-APA KAMU BILANG? SIAPA?! Mesum? Nya… nyasar…” Aku terbata-bata.

Saking mengejutkan apa yang diucapkannya, aku sampai kesulitan memprosesnya dalam kepala. Tapi Elisa mengabaikan protesku dan melanjutkan kata-katanya.

“Dua, karena sebenarnya yang ‘nolong’ bukan ‘kekuatan itu’.”

Perkataannya ini serta-merta menyedot perhatianku dan membuatku memandangnya.

Ekspresi wajahnya, untuk sesaat, kulihat sekilas tampak sedih. Tapi kemudian kulihat masih ada senyum tipisnya tersungging di wajah.

“‘Kekuatan itu’ kata Ibu enggak boleh terlalu sering kuandalkan. Soalnya semakin kuandalkan, semakin gampang itu bisa kusalahgunakan.”

Aku bertanya-tanya soal apa maksud kata-katanya. Tapi sebuah pertanyaan lain tiba-tiba ingin kuajukan.

“Lalu alasan kau akhirnya mau?”

“Hahaha. Karena aku ingin nunjukin ke kamu kalo kamu enggak perlu ‘kekuatan itu’ untuk menolong orang.”

Pada detik itu, aku serasa seperti akan menyadari sesuatu yang benar-benar penting.

Tapi sebelum aku sempat memahaminya, kami telah tiba di jalan di mana rumah Kania berada; suatu jalan perumahan yang di kiri-kanannya ditumbuhi cukup banyak pohon tinggi—namun tak rindang karena cenderung tumbuh ke atas dengan jarak-jarak berjauhan. Kami saling pandang dan tanpa kata-kata mencari-cari untuk beberapa jenak. Sampai saat kami berada di hadapan sebuah rumah besar bertingkat dua yang di halamannya tumbuh salah satu pohon sejenis itu, kami akhirnya menemukan plat nomor yang mengindikasikan nomor rumah Kania.

“Ini ya?” tanya Elisa. Kini nampak antusias oleh apa yang akan dilakukannya.

“Iya.” Aku mengangguk. Walau sejujurnya, pada waktu itu, aku sudah hampir kehilangan kata-kata. Sesuatu pada perkataan Elisa benar-benar mengganggu pikiranku. Tapi, menelan keraguanku sendiri, tombol bel pintu yang berada di balik pagarnya kemudian kutekan.

Singkat cerita, kami datang dengan alasan ingin mengantarkan materi-materi pelajaran yang Kania telah ketinggalan. Prosesnya, agak aneh. Soalnya, dalam semester ini, Kania hanya datang ke sekolah seperti hanya setiap beberapa minggu sekali. Absensinya jelas takkan mencukupi. Mungkin dirinya akan diberi tugas-tugas untuk susulan. Jadi…

Ibunya yang menyambut kami dan membukakan pintu.

Lalu baru pada titik itu dengan sialnya aku menyadari kemungkinan kalau kami salah dikira berpacaran. Sial. Apa nanti Elisa bakal mengamuk dengan kekuatannya bila ditunjukkan soal hal ini? Tapi lebih dari itu, apa di mata Kania nanti kami akan terkesan seperti sedang pamer?

Sesuai yang harusnya kukira, kejadiannya sama sekali tak selancar itu.

Kania tak (mau) keluar. Ia mengunci diri di dalam kamar. Ia tak menyahut sekalipun dipanggil-panggil. Ibunya tak menghardik. Ibunya tak meninggikan suara. Seakan tak ada, seakan tidur, dirinya terus mendekam di dalam sana. Lalu aku dan Elisa hanya berdiri selama hampir 20 menit di koridor depan kamarnya yang berlapis kayu dan terlihat mewah, secara canggung, tak yakin harus berbuat apa.

“Maaf ya, padahal udah jauh-jauh main ke sini.” Ibu Kania, di luar dugaan seorang ibu rumah tangga yang terlihat biasa, terlihat menyesal. “Tadi sih masih bangun.”

Tapi walau begitu aku kurang lebih bisa memahami perasaannya sih.

“Enggak apa-apa kok, Bu.” Elisa berucap. “Sebetulnya salah kami juga datengnya tiba-tiba.”

Tapi mau gimana? Emang mesti nelepon dulu ke rumahnya? Enggak ada satupun dari kami yang tau nomer hape Kania.

Akhirnya, kembali ke ruang tamunya, aku dan Elisa ditinggal untuk menyesap teh hangat yang sengaja disuguhi, saat ibunya kembali beranjak ke dapur karena suatu urusan. Aku tak begitu yakin urusannya apa. Tapi aku bisa merasakan kalau ibu Kania mungkin juga tertekan dengan keadaan anaknya.

Aku berpikiran, mungkin dengan kami di sini, Kania saat ini juga merasakan perasaan terancam yang sama. Mungkin penyakitnya sedang kambuh, dan dirinya sedang memegangi perutnya yang perih, seperti yang pernah kulihat dilakukannya di kelas dulu. Kurasa bagus karena menjadi bawaan sifatnya untuk tak mengusir kami sambil mengamuk-amuk.

Kembali, situasinya canggung. Pikiranku buntu. Aku mulai kesal pada diriku sendiri. Sudah merasa heboh sendiri dengan berkoar-koar ingin menolong. Tapi pas sesampainya di sini pada akhirnya malah tak tahu harus berbuat apa. Perasaan tak berdaya itu sedemikian kuatnya sampai aku merasa ingin menggali lubang dan mengubur kepala. Tapi sikap tenang Elisa yang sedang menikmati teh dan kue masih memberiku harapan. Apa ada suatu langkah tertentu yang sudah direncanakannya?

“Gimana pendapatmu?” tanyanya.

“Aku enggak tahu.” tukasku jujur. “Aku sempat harap ada kayak kemajuan gitu dari semenjak kali terakhir kita melihatnya. Tapi, kayaknya keadaannya masih sama aja.”

Perasaanku muram. Elisa, yang menangkap hal itu, tersenyum simpul dan kembali menghela nafas. Mungkin dia sedang menertawakan ketakberdayaanku.

Aku punya firasat kalau apa yang Kania alami bukan hanya sekedar persoalan medis. Mungkin ia mengalami sesuatu yang bersifat psikis juga. Makanya, kukira dengan datang kemari, pasti sekurangnya ada sesuatu yang bisa kulakukan. Tapi rencanaku berantakan karena aku tak bisa membantah alasan mengapa Elisa takkan mau menggunakan kekuatannya.

Aku pun paham dalamnya bobot kata-kata seorang ibu.

“Rumahnya kelihatan berusia, tapi juga kelihatan terawat.” Tanpa sadar, aku berkomentar. “Tapi apa ya? Aku ngerasa kayak… enggak banyak yang terjadi di sekitar sini. Pemandangan yang sama. Pohon yang sama. Sama kayak gimana waktu berhenti. Kayak terjebak di masa lalu. Aku beneran enggak bisa bayangin perasaan si Kania kalo setiap hari, setiap waktu, selama berbulan-bulan, dia terus berada dalam lingkungan kayak gini. Apa orang enggak jadi gila?”

“Zaman sekarang kan ada Internet.” Elisa menambahkan. Tapi melihat wajah masamnya, kurasa dia mengatakan itu bukan dengan maksud bercanda. “Tapi sudahlah. Kalau waktu memang seakan berhenti, kita tinggal kasih dia penanda kalau waktu sebenernya terus berjalan ‘kan?”

Mengernyit, aku tak mengerti apa yang ia maksudkan, tapi bahasa tubuh Elisa mengisyaratkan kalau nanti juga aku akan paham sendiri.

Kami berpamitan pada ibu Kania tak lama kemudian. Prosesnya lancar. Kami sudah menitipkan fotokopi materi pelajaran yang bisa kami berikan. Ada kelegaan yang kurasakan begitu kami melewati ambang pintu. Mungkin ini cuma perasaanku, tapi walau ibunya berterima kasih, beliau juga terlihat menahan diri untuk suatu alasan. Seperti ada sesuatu yang mungkin tak nyaman kalau diungkapkan. Kania sepertinya anak tunggal? Mungkin beliau hanya membayangkan bagaimana seandainya Kania bisa melewatkan waktu bersama kami.

Elisa mendahuluiku keluar pagar, dan aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri saat menyusulnya. Karena itu, aku tak menyadari apa yang tengah dilakukannya selanjutnya.

Hal pertama yang kurasakan adalah angin kencang yang tiba-tiba saja berhembus dan berpusar. Namun yang mengerjutkanku, angin tersebut bercahaya. Dan saat aku menoleh, apa yang kulihat nyaris membuatku terbatuk. Angin tersebut berpusar mengitari Elisa. Lalu seketika kusadari…

Itu pemandangan serupa dengan yang kulihat di waktu SD dulu.

“E, Elisa? Kamu…! Kamu mau berubah wujud di sini?” Kukira dia takkan mau menggunakan kekuatannya!

“Singkirin bayangin mesum apapun yang kamu punya soal itu! Bentuknya cuma kamisol dan mantel aja kok.”

Dan pakaian bercahaya berupa kamisol dan mantel itu benar-benar muncul pada dirinya; bercahaya sekaligus transparan, seakan ‘menimpa’ seragam sekolah yang ia kenakan. Pemandangan tersebut memukauku karena benar-benar mengingatkanku akan masa lalu, pada hari saat nyaris terjadi kecelakaan itu…

Daripada seperti perubahan wujud dalam animasi-animasi gadis penyihir yang kerap kulihat, sejujurnya prosesnya lebih seperti saat seseorang berubah menjadi Super Saiyan.

Aku hanya melihat sosok Elisa dengan baju ajaib itu hanya beberapa jenak. Karena selanjutnya, ia mengibaskan tangannya yang bercincin, dan keajaiban yang diciptakan kekuatannya pun terjadi.

Pohon yang tumbuh di halaman rumah Kania tiba-tiba saja mekar. Mekar secara sepenuhnya. Berbunga. Dan daunnya menari-nari oleh irama angin. Aku tak bisa menggambarkannya. Karena bahkan pada waktu itu pun, aku mengira seluruh iklim di tempat itu berubah dan bahkan pohon itupun berubah jenisnya.

Kejadiannya begitu menakjubkan, sampai-sampai ibu Kania yang hendak menutup pintu sesudah kami pergi membukanya lagi. Lalu ada salah satu jendela di lantai dua yang tiba-tiba terbuka, dan kepala seorang gadis kurus bertubuh kecil dan rambut berantakan menjulur dengan penuh takjub keluar.

Perubahan itu seakan menandai pergantian musim; seakan menandai berjalannya waktu.

“Kaniaaa!”

Aku tak tahu bagaimana persisnya. Tapi aku dan Elisa tahu-tahu berteriak berbarengan. Namun Elisa kemudian menoleh ke arahku, dan menyuruhku mengutarakannya.

“Ntar kami dateng lagi! Pastiin kamu udah baikan sesudahnya yaaa!”

Dan Elisa kemudian menyeretku pergi sebelum efek kekuatannya sirna.

Aku masih tak yakin bagaimana efek yang kuharapkan berhasil tercapai. Tapi memang beberapa hari kemudian, Kania mulai masuk sekolah kembali. Awalnya kesusahan, tapi dia melewati semuanya dengan lebih banyak menempeli Elisa.

Aku tak begitu yakin. Tapi kelihatannya Elisa meminta Kania untuk menjaga agar soal kekuatannya tetap menjadi rahasia. Lalu lewat rahasia tersebut, kedua gadis itu terhubung, dan dari sana semacam persahabatan antara mereka terjalin. Kurasa Elisa, yang semula kulihat tak dekat dengan siapa-siapa secara khusus, seperti membebani diri sendiri dengan ini. Tapi kurasa juga itu sebuah pilihan sekaligus konsekuensi yang diambilnya secara sadar.

Aku juga lega kekhawatiran berkembangnya cinta segitiga, akibat Kania mulai memandangku sebagai penolongnya, akhirnya tak terjadi. Tapi kurasa Elisa bakal meninjuku bila aku sampai mengungkapkan ini.

Kania, pada hari-hari ke depan, sekitar dua tahun kemudian, kemudian berkata bahwa bahkan hingga saat itupun ia masih belum melupakannya. Hari saat aku dan Elisa mengunjungi rumahnya itu. Ia akan menggambarkan ulang aksi yang Elisa lakukan dengan kekuatannya, serta soal bagaimana kenangan tersebut sedemikian membekas di dalam pikirannya.

Aku serius tak sanggup membayangkan apakah Elisa memang telah memperhitungkannya sampai sejauh itu. Tapi mungkin ini bukti akan cakupan ‘kekuatannya’ yang sesungguhnya.

Soal pertanyaanku sendiri, soal kenapa Tuhan membiarkan kecelakaan-kecelakaan di dunia terjadi, Elisa dengan mudahnya memberi jawabannya, pada hari kami pulang dari rumah Kania waktu itu.

“Itu buat ngasih kesempatan buat orang-orang lain yang ada di sekeliling yang celaka buat nolongin ‘kan? Dengan gitu mereka bisa mulai saling kenal ‘kan?”

Jawabannya tersebut selama beberapa detik membuatku kehilangan kata-kata.

“Lalu… Lalu gimana soal orang-orang yang gagal atau bahkan enggak ketolong?”

Kemudian dengan nada lebih dingin, Elisa menjawab.

“Mungkin karena mereka emang pantes, atau bahkan lebih baik, celaka terus mati.”

Sesuatu pada cara Elisa mengatakannya agak sedikit membuatku merinding. Tapi aku terdiam, karena kurasa mempunyai jawaban belum pasti lebih baik daripada tak mempunyai sama sekali.


message 26: by Magdalena Amanda, Momod Usil (last edited Dec 10, 2013 09:26AM) (new)

Magdalena Amanda | 2330 comments Mod
--POSTING PENUTUP DARI MOMOD--

Semua cerita yg diposting setelah posting ini tidak termasuk ke dalam penilaian, rawr.

Tapi barangsiapa udah bikin entry dan pengen minta feedback dari orang lain, monggo aja kalo mau tetep posting.

Hehe.


message 27: by Ivan (new)

Ivan (vanhisa) | 362 comments Utahime Rhapsody

~ Intro ~
“Kau lihat saja, aku pasti akan menjadi seorang Utahime!”

“Suara cempreng seperti itu mana mungkin kau bisa jadi seorang Utahime! Week!”

“Biarin saja. Tunggu di ulangtahunku ke 15, sebuah undangan Debut Oratio ku sebagai Utahime pasti akan kukirimkan ke tempatmu! Dimanapun kau berada!”

“Kalau sampai ulang tahunmu ke 15, kau tidak mengirimkan undangan?”

“Sebagai gantinya, aku akan menikahimu!”

“Eehhh!”

“Tapi kalau aku berhasil menjadi seorang Utahime, kau harus menuruti permintaanku apapun itu!”

“Hei, tunggu dulu! Siapa yang mau menikah denganmu! Hei!”

***
Utahime Rhapsody - 1st Movement

Dan tepat di saat itu mimpiku berakhir. Suara keras lagu pembuka konser Putri Melodi membangunkanku dari tidurku. Aku mengucek-ucek mataku sambil berusaha mengingat kembali mimpiku barusan. Tetapi sekuat apapun aku mengingatnya, hanya detail-detail samar yang masih tersisa di ingatanku. Mimpi itu mengingatkanku kembali akan janji yang tidak akan pernah kulupakan.

Janji itu, apakah dia masih mengingatnya? Menjadi seorang Utahime. Benar-benar mimpi anak kecil yang naif. Kudengar dari satu juta gadis yang mengikuti seleksi, hanya satu yang memperoleh hak untuk dapat ikut ritual pemurnian jiwa. Dan dari 100 gadis yang mengikuti ritual, hanya satu yang bisa menemukan Esensi Nada, Oto no Kokoro. Dan hanya mereka yang bisa menemukan esensi itu yang bisa menjadi seorang Utahime, satu-satunya penghubung dunia ini dengan negeri para dewa yang tersisa di jaman nanoteknologi dan superkomputer. Satu-satunya fenomena yang belum bisa dijelaskan oleh ilmuwan terbaik Esthar sekalipun. Utahime, pelantun kidung para dewa.

Dan gadis kumel yang setiap hari mainannya lumpur itu ingin menjadi Utahime? Mimpi saja!

“Tuan Kuroko, tuan Kuroko, ada kiriman,” suara asisten elektronik pribadiku menyadarkanku dari lamunanku. Aku bergegas bangun dari tempat tidurku dan membuka pintu apartemenku. Di sana terlihat sebuah drone pengirim tanpa awak milik perusahaan kargo multinasional. Dia membawa sebuah kotak merah yang entah isinya apa. Setelah aku meyakinkan diriku sendiri bahwa robot pengirim ini tidak salah alamat, aku memberikan kode sidik jariku, dan mengambil kirimannya. Setelah itu sang kurir pun pergi meninggalkan berbagai pertanyaan.

Aku masuk kembali ke dalam apartemen sambil bertanya-tanya paket apakah ini. Aku memperhatikan kotak ukuran 10 sentimeter kubik yang tanpa ornamen apapun. Aku tidak tahu bagaimana cara membukanya, karena tidak ada tombol atau panel instrumen apapun.

“Hei, Aya? Kau tahu ini benda apa?”

“Tuan Kuroko tidak tahu? Itu undangan tribun VVIP Oratio Utahime. Dan dari metadata yang dikirimkan robot tadi, itu adalah konser debut. Hanya sedikit orang yang bisa mendapatkannya. Makanya aku memastikan berkali-kali apakah ini benar untuk tuan Kuroko. Yah, mau menabung dua tahun pun belum tentu tuan Kuroko bisa mendapatkannya kan?”

“Tidak bisakah kau cukup mengatakan informasi penting tanpa menghina?”

Undangan konser Utahime? Yang benar saja! Masak dia benar-benar jadi seorang Utahime!

***
Utahime Rhapsody – 2nd Verse

Kuroko, apa kabar? Kudengar kau cukup sukses menjadi seorang ilmuan komputer ya? Aku membaca namamu di majalah bisnis nasional, walau beritamu cukup menyempil.

Hahaha, tahun-tahun kita berpisah karena kepindahanku rasanya seperti mimpi. Berlalu begitu cepat. Karena yang kupikirkan hanyalah untuk menjadi seorang Utahime. Tetapi perjuanganku yang berat selama seleksi tidaklah sia-sia. Sebentar lagi ulang tahun ke 15 ku, dan konser debutku. Kuharap kau bisa menghadirinya.

P.S. Aku tidak akan memaafkanmu bila kau melupakan tanggal ulang tahunku!

***

Begitulah isi surat digital yang ditautkan bersama undangan VVIP yang kuterima. Singkat, tetapi aku bisa merasakan perasaan yang kuat darinya.

Dan di sinilah aku, duduk dengan tenang di kursi terdepan, menanti penampilan perdananya. Kekuatan kotak kecil merah itu sungguh luar biasa. Saat penonton dengan tiket biasa harus mengantri dan melewati pengawasan berkali-kali, aku hanya perlu melambaikan kotak itu dan kesatuan pelindung Utahime mengantarkanku secara pribadi ke tempat tunggu khusus, lalu ke Rakuen, aula konser utama Utahime.

Menonton konser Utahime. Bagi penduduk Eigami, ini adalah mimpi yang bagai kenyataan. Sosok yang selama ini hanya bisa dilihat melalui televisi kini bisa di saksikan langsung dengan mata kepala sendiri.

Masih ada setengah jam sebelum Oratio pembuka, jadi aku menghabiskan waktu di kursi beludru yang empuk ini dengan membalik-balikkan majalah yang berisi profil para utahime. Dan di kover majalah itu terlihat fotonya. Foto seorang Utahime yang melakukan debutnya hari ini. Putri Aria. Tidak salah lagi, Putri Aria itu adalah gadis itu. Aria. Nama yang bagus. Seorang Utahime dengan nama Aria seringkali membawa perubahan besar dalam sejarah. Memimpin perang, membawa perdamaian, menyelamatkan banyak orang. Karena nama itu begitu besar, belum ada Utahime dalam puluhan tahun belakangan yang memakai nama yang juga digunakan sebagai katalis Oratio Utahime itu.

Dan kini dia menyandang nama itu.

Aria. Nama yang begitu indah. Dan senyum yang terpancar dari fotonya di majalah ini benar-benar menyejukkan hatiku.

Lalu lampu aula Rakuen dimatikan. Perlahan tabir dibuka, dan musik pengantar mengayun pelan, perlahan, bagaikan sungai. Lampu sorot secara perlahan bergerak ke tengah panggung yang kini dipenuhi asap. Dan dari tengah panggung itu, muncullah sosok Utahime baru.

Dengan gaun putih bercorak merah yang begitu sederhana dan rambut panjang yang terurai bebas, Utahime tersebut bergerak anggun memutari panggung.

Musik pengantar mengalun semakin cepat. Entah sejak kapan suara bas yang keras dan tegas mulai mengiringi nada piano yang nari tadi sendirian bernyanyi.

Utahime tersebut mengarahkan tangannya ke penonton, yang telah terbius penampilannya, dan sebuah benda kecil melayang pelan. Itukah Aria? Esensi pecahan jiwa dewi yang menjadi katalis penghubung dunia ini dan dunia para dewa?

Kotak kecil tersebut mulai melayang pelan sambil memancarkan cahaya temaram. Sang putri ikut bergerak bersamanya. Musik mengalun, semakin keras, semakin cepat. Nada-nada tinggi mulai dimainkan para seniman pengiring, dan pada saat nada tersebut mencapai puncak, lagu pembuka Utahime akan dimulai.

***
Utahime Rhapsody – Bridge

Akhirnya tiba saat yang dinanti! Sesuatu yang selama ini hanya bisa kulihat di televisi. Seorang Utahime akan bernyanyi langsung dihadapanku, atau itulah yang seharusnya terjadi.

Musik pengiring berhenti di nada tertingginya, dan seharusnya kekosongan nada itu di isi oleh vokal sang Utahime. Tetapi sepuluh detik, duapuluh detik berlalu. Hening. Tidak ada lagu. Tidak ada musik. Lalu penonton sadar akan apa yang terjadi di panggung.

Aria, sang Utahime baru, dicekik dari belakang oleh sosok tidak dikenal! Lampu Rakuen segera di hidupkan. Ksatria-ksatria pelindung dengan sigap mengambil langkah dan menghunuskan pedang ke arah sosok misterius tersebut. Sosok itu berpakaian serba hitam.
“Sebutkan identitasmu wahai orang kurang ajar yang berani menodati kesucian altar upacara Utahime!” suara perempuan yang bagaikan es memenuhi ruangan Rakuen. Itukah Kagaki, sang pedang Es, satu dari 3 Meijin pelindung Utahime?

“Suci! Bah! Kalian telah merusak esensi dari Utahime itu sendiri! Mengotorinya dengan omong kosong kapitalisme. Melacurkan putri dewi demi penjulalan album dan konser! Dan kalian masih berani mengatakan Utahime ini suci! Jangan omong kosong!” kata sosok itu dengan suara yang telah dimodifikasi mesin, sehingga tidak jelas dia laki-laki atau perempuan.

“Negeri ini tidak butuh Utahime yang menjadi budak kapitalisme! Kami Tangan kanan Dewi akan memurnikan gadis-gadis malang yang menerima apa yang tidak seharusnya dialami manusia hanya demi menciptakan Utahime-utahime palsu! Dan hanya kematian yang dapat memurnikannya!” sosok tersebut lalu menusuk Aria. Menusuk! Tepat di jantung! Darah segar bermuncratan di sekitar panggung. Ksatria-ksatria pelindung sang Utahime hanya bisa diam tak bergerak. Tubuh sang putri jatuh, dalam panggung.

Apa kerja kalian! Kataku dalam hati. Kalian harusnya melindugi Utahime tersebut.

“K-kau! Beraninya!” sepuluh orang ksatria pelindung mulai menyerang mengikuti sang pimpinan yang terlebih dahulu menerjang sang penyusup.

Kerjasama yang kurang baik dari para ksatria karena syok atas kejadian sebelumnya dan kemampuan sang penyusup dalam bertarung membuat pertarungan yang harusnya tidak seimbang berkembang ke arah yang tidak mengenakkan.

Dan aku hanya terdiam menyaksikan satu-satu anggota kesatuan elit Kishi-dan, pelindung Utahime, jatuh satu persatu. Hingga tersisa sang pemimpin, Kagaki, yang terlihat kesusahan menandingi permainan pisau ganda dari sang penyerang.

“Hanya seginikah kemampuan Kishi-dan kelas Meijin itu! Aku kecewa. Ksatria pelindung Utahime yang sejati bisa melawan satu batalion pasukan musuh demi melindungi putrinya? Dan kau, Kagaki sang Pedang Es, tidak pantas menyandang nama itu!”

“Aku tidak tahu siapa kau! Tetapi aku tidak akan mengampunimu!” sang Ksatria wanita itu menyerang dengan ayunan yang besar. Pedang es kebanggaannya bersinar terang di aula Rakuen. Tetapi itu adalah kesalahan. Dengan sebuah serangan balik yang efektif, serangan itu dipatahkan, dan sang Ksatria terhempas ke pilar panggung. Tak bergerak.

“Dengarkanlah penduduk Eigami! Sudah saatnya era idola palsu kalian Berakhir! Kami sang Tangan Kanan Dewi akan mengembalikan kejayaan Utahime yang sejati!”

Penonton yang dari tadi belum bisa dengan jelas memproses apa yang terjadi kini mulai panik. Terdengar tembakan senapan di sekeliling aula. Lalu dari berbagai pintu masuk Aula, sosok dengan pakaian serba hitam mulai masuk.

“Jika kalian tidak ingin sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi, sebaiknya kalian diam di tempat!”

Kegelisahan mulai timbul di hati para penonton yang jumlahnya ribuan orang tersebut. Kami terjebak. Petugas keamanan di sekeliling aula telah lama gugur. Kini sekelompok orang yang mengaku anggota Tangan Kanan Dewi mengambil paksa aula ini. Saat keamanan di Rakuen hanya sepertiga, karena beberapa Prima Utahime sedang menjalankan tugas di luar kota Eigami.

Debut Utahime baru, benar-benar panggung yang tepat untuk kelompok ekstremis ini.

“Dan sebagai tanda dimulainya era ini, aku akan memamerkan kepala Utahime kacangan ini di hadapan seluruh negeri!” sang penyerang mulai bergerak ke tubuh Aria yang telah bersimbuh darah.

Entah setan apa yang merasuki tubuhku, aku bergerak menaiki panggung yang jaraknya hanya beberapa meter dariku ini dan melakukan hal yang tidak bisa diterima akal sehatku. Di tengah gedung yang dikuasai teroris, aku, seorang ilmuan komputer yang telah menghabiskan waktunya di depan layar dan tidak pernah sempat melatih tubuhku, mengantarkan tubuhku yang lemah ini ke pembunuh profesional yang bahkan tidak bisa dikalahkan Kishi-dan kelas Meijin.

Tapi tubuhku, dan hatiku, bergerak melampaui logika dan perhitungan otakku. Aku segera mengambil sosok Aria, dan menariknya sejauh mungkin.

“Ho, menarik. Keberanianmu pantas kuacungi jempol, lelaki muda. Bolehkah aku mengetahui namamu sebelum kematian menjemputmu.”

“Aku Fuuin Kuroko! Ilmuan resmi negara! Siapa kau yang beraninya mengambil nyawa gadis tak berdosa ini!” kataku masih melindungi tubuh Aria di belakang tubuhku. Sementara sang malaikat kematian mulai mendekat.

“Aku Rokudaime Shinigami. Aku eksekutor ke enam Tangan Kanan Dewi. Sampai jumpa di Nirvana!”

“Tidak semudah itu!” aku mengangkat tubuh Aria yang mulai lemas dan berlari sekuat tenaga menghindari sang Dewa kematian.

“Aya! Lakukan tugasmu!” aku meneriakkan sesuatu ke Aya. Semoga dia bisa mengerti pikiranku. Aku sudah mengembangkannya susah payah untuk situasi seperti ini.

“Siap tuan Kuroko! Aku telah lama mendapat akses gedung ini dan menunggu perintah Tuan.”


message 28: by Ivan (new)

Ivan (vanhisa) | 362 comments Benar-benar AI yang bisa diandalkan. Aku berlari sekuat tenaga, mengendong tubuh penuh darah, sementara sang eksekutor terlihat tidak terlalu bersemangat mengejarku. Lalu seluruh lampu di aula ini mati. Aya melakukan tugasnya dengan baik.

“Skema gedung ini telah aku unduh dalam jaringan komputer pribadi tuan Kuroko. Ikuti tanda panah!” aku mengaktifkan fitur realitas teraugmentasi di kacamataku. Lalu skema seluruh gedung ini muncul dengan jelas.

“Menarik. Mangsa yang menarik!” aku terus berlari. Sepertinya aku membuat sang eksekutor serius. Aya lakukan tugasmu!

“Kau kira mainan elektronik seperti ini bisa menghentikanku Kuroko?” sepertinya robot-robot pembersih yang dikirim Aya untuk menghentikan sosok pembunuh tersebut tidak cukup untuk merepotkannya. Tapi asal itu memberiku cukup waktu aku sudah sangat bersyukur.

Aku berlari. Memaksa jantungku berdetak lebih kuat, memaksa kakiku yang telah berteriak kesakitan bekerja lebih cepat. Pintu keluar, sedikit lagi pintu keluar.
***
Utahime Rhapsody – Reffrain

Lalu aku tiba di pintu keluar Aula Rakuen. Aku melompat bagaikan seorang atlit yang akan mencetak nilai di permainan rugby dan berguling beberapa kali di tanah. Tubuhku kesakitan.

Aku melihat sosok tubuh Aria. Wajahnya terlihat kesakitan. Darah kini membuat seluruh gaunnya berwarna merah. Di luar aku melihat pasukan polisi berjaga dan membuat perimeter. Aku selamat, pikirku.

Tetapi di belakangku terdengat suara langkah kaki yang kutakutkan. Apakah polisi biasa bisa menghentikannya?

Pintu keluar dibuka. Dia berjalan pelan. Lalu menjentikkan tangan kanannya. Seketika itu juga dari atap Aula Rakuen muncul pasukan entah darimana. Mereka semua bersenjatakan lengkap dan berpakaian serba hitam.

“Sebaiknya kalian tidak macam-macam dengan Tangan Kanan Dewi!”

“Tembak!” kata seorang komandan polisi. Polisi yang beberapa saat lalu ragu mulai menembakkan pistolnya. Peluru-peluru dari pistol tangan sang polisi mulai menghujani pasukan Tangan Kanan Dewi. Pasukan tersebut pun mulai membalas tembakan. Baku tembak terjadi, dan aku hanya bisa tiarap menghindari peluru liar, sementara sosok Rokudaime mendekatiku sambil sesekali menangkis peluru dengan pisaunya. Dia bukan manusia. Dia monster.

“Kau benar-benar tikus yang merepotkan. Tetapi aku tak pernah melepaskan mangsaku. Tidak pernah. Demi kejayaan Utahime yang sejati, darahmu akan menjadi martir kebangkitan kami!”

“Diam kau teroris!”

Aku hanya bisa pasrah. Mengharapkan Aya yang sedang bersusah payah mengendalikan situasi di dalam Rakuen adalah sebuah hal yang mustahil.

Suara tembakan demi tembakan memekakkan telingaku. Aku, yang selama ini tidak pernah jauh dari kedamaian akademi dan apartemenku, kini begitu dekat dengan maut. Semua gara-gara janji masa kecil bodoh itu!

Sosoknya makin dekat! Aku memejamkan mata. Berdoa kepada semua dewa dan dewi yang kukenal. Semoga kematianku cepat dan tidak menyakitkan. Aku menunggu, dan menunggu, tetapi langkahnya berhenti. Aku membuka mataku. Dan melihat, sesosok manusia menghalangiku dan sang pembunuh.

Sosok itu. Aria! Seorang putri yang bermandikan darah.

“Kau masih hidup! Tidak mungkin!”

Sang putri berdiri tegak. Sebuah sinar terang yang mengalahkan sinar matahari berbutar cepat mengelilingi sang Utahime. Aria. Itu Aria milik Aria. Kotak yang berisi pecahan jiwa dewi. Esensi Nada sang Utahime.

Sang Utahime memandangku sambil mengelap wajahnya yang penuh dengan darah. Dia tesenyum. Dan matanya memandangku dalam. Tanpa berkata-kata, aku sudah mengetahui isi hatinya. Terima kasih, katanya.

Lalu dia berbalik memandang sang pembunuh. Sementara entah sudah berapa lama baku tembak berhenti karena melihat sosok dewi yang penuh darah ini.

Lalu, sang Utahime melipat kedua tangannya seolah berdoa. Cahaya yang terpancar dari Aria-nya kini mulai melingkupi seluruh tubuhnya. Darah yang berceceran di sekujur tubuhnya mulai terangkat, dan mewujud, menjadi sebuah tongkat, bukan, sebuah mic. Rambutnya yang panjang kini terurai dan melayang-layang, membentuk sepasang sayap.

Lalu sang dewi bernyanyi.

“Diam kau Utahime palsu! Diam!”

Saat sang dewi mulai bernyanyi, tak ada yang dapat menghentikannya.

“Diam. Di-am.” Utahime melantunkan Orationya, Oratio yang seharusnya dinyanyikan di panggung megah, kini dinyanyikannya di medan pertempuran.

“Di...am,” sang pembunuh kehabisan kata-kata. Utahime mendekati tubuhnya yang kini tersungkur, mengangkat kepalanya yang dilindungi topeng, lalu topeng tersebut pecah, menampilkan sosok wajahnya yang terlihat menangis. Sosok wajah seorang remaja wanita. Tidak lebih tua dari Aria maupun diriku.

Saat sang dewi bernyanyi, semua kegiatan terhenti. Tidak ada yang sanggup melakukan apapun, karena hal apapun di dunia ini tidak sanggup disamakan dengan nada mistis yang keluar dari suara sang dewi.

Oratio milik Aria terus melantun dengan nada-nada yang tidak mungkin ditemukan di dunia. Mendengarnya secara langsung memang tak bisa dibandingkan dengan mendengar rekaman. Getaran ini. Debaran jantung ini. Dan kehangatan yang terdengar di tiap getaran nada merupakan pengalaman surgawi.

Untuk sesaat, Nirvana seolah turun ke bumi.

Untuk sesaat, tidak ada apapun di alam semesta ini, kecuali seorang dewi yang bernyanyi.

***
Utahime Rhapsody – Outro

Seorang Utahime, adalah sosok dewi yang turun kebumi melalui tubuh seorang gadis. Sebagai wakil surgawi di bumi, tugasnya adalah memandu umat manusia di bumi berdasarkan zamannya.

Kadang sebagai komandan, kadang sebagai biarawati, kadang sebagai ratu, dan kini sebaga idola.

Dan harga yang harus dibayar untuk itu adalah suara dan jiwanya. Suara Utahime tidak bisa digunakan lagi selain untuk Oratio. Dan jiwa seorang Utahime kini tidak lagi berada di tubuhnya, melainkan berada di sebuah kotak kecil bernama Aria, bersama dengan pecahan Esensi Nada Dewata.

Karena itu pulalah, sang Utahime kini berbincang padaku dengan sebuah telepon genggam yang bisa memancarkan citra hologram ke udara.

“Terima kasih sudah datang Kuroko. :D :D Maaf ya konsernya berantakan. Hehehe. Padahal aku dah berharap bisa menampilkan Oratio yang megah bagi Kuroko,” tulisnya dengan beberapa ornamen emotikon.

“Tidak apa-apa. Penampilan mu di medan pertempuran tadi adalah Oratio terbaik yang pernah kusaksikan. Kau hebat bisa mencapai mimpimu.”

“Kuroko sendiri hebat, di usia 15 tahun sudah meraih tiga gelar di bidang sains. Dan menjadi salah satu ilmuan negara. Dibandingkan Utahime yang memang persyaratan umurnya seperti itu, Kuroko lebih hebat.”

“Ah, biasa saja.”

“Terima kasih sudah menyelamatkanku Kuroko.”

“Bukan apa-apa,” kataku menutup rasa maluku.

“Ngomong-ngomong, kau masih ingat janji kita kan?” tulisnya. Gawat. Ternyata dia ingat.

“Eh, janji apa ya?”

“Kuroko jahat pura-pura lupa! T_T”

“Eh, maaf-maaf. Aku ingat kok. Iya, aku kalah taruhan, jadi apa permintaanmu?”

“Ra-ha-si-a! :p”

Setelah tersenyum misterius, sang Utahime berbalik badan dan meninggalkanku begitu saja dengan penuh kebingungan.
***


p.s :
Utahime = Putri Lagu/Songstress
Kishi-dan = Kesatuan Ksatria
Meijin = Master
Aria = Katalis lagu utahime
Oratio = Lagu Pujian


message 29: by Shelly (last edited Dec 12, 2013 04:50AM) (new)

Shelly (shelly_fw) | 133 comments RAMUAN QUATOSCA

Orang-orang berkumpul di ruangan yang luas. Kamar yang luas, lebih tepatnya. Kebanyakan dari mereka hanya berdiri menatap ranjang dengan tatapan hampa. Di atas ranjang itu berbaring sesepuh yang dikenal dengan Ki Amar.

Wajahnya terlampau pucat. Badannya kurus kering. Keriput-keriput yang dimilikinya juga tampak sangat jelas. Ia memang masih bernafas; dadanya kembang kempis serta denyut nadinya terasa meski amat lemah. Kepalanya sengaja disangga beberapa bantal dan bibirnya yang kering dibiarkan setengah terbuka.

Setelah meneteskan air mata pada ramuan seperti yang biasa Fiona lakukan, ia mengaduk-aduk ramuan itu dan meminumkannya pada Ki Amar. Suara cairan tertelan terdengar dari tenggorokan pria tua itu. Fiona bernafas setengah lega karena akhirnya ramuan terakhir telah ia berikan pada Ki Amar.

“Berapa lama lagi kita harus menunggu?”

“Aku tidak yakin. Kurasa dua hari.” jawab Fiona.

“Bisakah kau menunggu disini sampai ia tersadar?”

“Tent—”

“Biarkan saja. Biarkan saja dia pulang dulu.” sanggah seorang pria. “Sudah dua hari ia tidak tidur.” lanjutnya.

Fiona bukan satu-satunya yang tercengang akan pernyataan itu. Vincent bahkan langsung berusaha menemukan tanda-tanda tidak beres pada mata Fiona. Setelah menemukannya, alisnya tertaut naik. “Bagaimana ia bisa tahu aku tidak tidur?” batin Fiona. “Tidak apa-apa, Ki Daud. Lagipula ramuannya sudah selesai. Kalau—”

“Sudahlah, Fiona. Lebih baik kau bermalam di rumahmu malam ini. Semoga saja Ki Amar bisa langsung sadar dan kembali pulih jadi kau tidak perlu bermalam disini lagi.”

Senyum mengembang di bibir Vincent.

“Baiklah. Saya pamit pulang.” Fiona bangkit dari kursi dan memasukkan semua peralatannya ke dalam keranjang. “Semoga Ki Amar bisa cepat kembali pulih.”

Ki Daud mengangguk ringan. “Terima kasih banyak, Fiona.”

“Sama-sama,”

Ditinggalkannya kamar itu sambil memastikan bahwa orang-orang selain Ki Daud memiliki ekspresi yang ia harapkan. Betapa ia tidak ingin melihat ekspresi kecewa sedikitpun...

“...dia tidak lebih baik dari ibunya.” ucap seseorang di ruangan lain. Terbesit niatan untuk menguping lebih lanjut, namun Fiona sudah lelah. Ia pun membalikkan badan untuk kembali berjalan pulang sesaat sebelum seseorang menghentikannya untuk memberinya buah-buahan. Awalnya ia menolak, namun wanita itu bersikeras agar Fiona mau membawanya.

Fiona baru saja meninggalkan halaman depan rumah Ki Amar ketika Vincent menghentikannya.

“Kau pasti sangat lelah,” kata pemuda kecil itu.

Gadis itu hanya tersenyum. “Bibimu memberiku banyak buah-buahan...Oh, Skalki!” Fiona mengulurkan tangannya pada burung yang baru saja bertengger di bahu Vincent. Skalki pun mengeluarkan nada senang dan kemudian hinggap di atas keranjang Fiona.

Tidak semua penduduk Desa Almoehr mengetahui bahwa Skalki adalah satu-satunya hewan yang pernah disembuhkan oleh Fiona. Yang penduduk desa ketahui hanyalah bahwa nama Skalki diambil dari nama pegunungan Skalki, tempat di mana Vincent menemukan burung itu dalam keadaan terluka sehingga ia membawa hewan itu pada Fiona.

Sepanjang jalan mereka berdua mengobrol, membahas penampilan langit, membicarakan makanan yang dibenci Skalki, hingga bersenda gurau. Kemudian Vincent berkata, “aku sangat ingin menjadi sepertimu, Fiona. Tegar.”

Kedua pipi Fiona bersemu merah. “Kau tahu kau bisa lebih tegar dariku.”

“Tegar. Dan spesial.”

Spesial? Kalau saja aku tidak lahir karena hubungan terlarang antara ibu dan ayahku sehingga meninggalkan bekas kentara pada kedua mataku kau memang benar.” batin Fiona. Betapa ia sangat membenci warna biru pada mata kirinya. Ia bahkan tidak pernah menganggap pria yang tidak pernah ditemuinya itu ada.

“Terima kasih.” Itulah yang terlontar dari bibir Fiona. “Oya, jamur-jamur yang kautanam itu kurasa sudah tumbuh semua. Bunga-bunga ketangi juga sudah bermekaran,” Fiona kemudian mengalihkan pembicaraan.

“Fiona?” panggil Vincent setelah mereka hampir sampai menuju Rumah Fiona.

“Ya?”

“Percayalah satu hal padaku.”

“Bahwa...eyangmu akan pulih?“

Vincent menggeleng. Fiona memiringkan kepala.

“Bahwa apapun yang terjadi, apapun itu, baik atau buruk, adalah yang terbaik.”

Fiona mengangguk. “Dan jika sesuatu terjadi padaku atau tanaman-tanamanku...”

Vincent menghentak menjauh. “Bukan itu maksudku,”

“Aku belum selesai, Vincent. Ada sesuatu yang harus kau ketahui juga. Maksudku, jika ramuanku tidak bisa lagi—”

“Maka kau harus mencari sesuatu yang baru.” lanjut Vincent dengan nada mantap. “Untuk ramuanmu, maksudku. Dan seperti yang kubilang, mulai sekarang aku akan terus menemanimu.”

“Baiklah.” hanya itu yang terlontar dari bibir Fiona namun hatinya masih bertanya-tanya apa maksudnya.

“Istirahatlah yang banyak. Kau mau pulang?”

Terdapat jeda yang cukup panjang. Skalki tampak bingung.

“Kau tidak keberatan ‘kan jika ia bersamaku?” tanya Fiona.

“Tentu.” ucap Vincent. Fiona pun tak lupa berterimakasih pada pemuda kecil itu.
***

“Apa lagi yang kau tunggu?” tanya Fiona dingin. “Kau sudah menyampaikan kabar baik dan buruk. Sekarang kau boleh pulang.” Tukasnya. Fiona marah. Wajar saja sebenarnya, apalagi ia tidak pernah mendapati ramuannya tidak berhasil seperti ini.

Pemuda di hadapannya masih membeku di tempat.

Fiona mendengus kesal.

“Dengar, Fiona. Aku tahu ini pasti berat bagimu, tapi situasi keluargaku lebih buruk sekarang. Begitu juga ibuku. Kuharap kau mengerti.”

“Aku amat sangat mengerti, Bram.”

Pemilik nama Bram menghela nafas panjang. “Bagus. Dan kalau kau ingin pergi ke suatu tempat, aku tidak keberatan untuk menemanimu. Terutama, untuk menyiapkan ramuan untuk eyang. Kemanapun itu.”

Fiona tercengang. Ia tidak percaya sesosok kakak yang keras kepala rela menjadi ‘orang lain’ bagi adiknya.

Kenyataan bahwa Vincent tidak diizinkan ibunya untuk pergi dari rumah dan kesediaan Bram mengantarnya menghasilkan jawaban mantap dari Fiona. “Baiklah. Kebetulan aku ingin pergi ke desa Toscahr.”

Empat hari adalah waktu yang harus ditempuh dari desa Almoehr. Penduduk di desa Toscahr juga tidak banyak, terlebih di sana suhunya cukup tinggi. Berhubung mereka pergi dengan berkuda, kurang dari tiga hari mereka sudah sampai di desa yang mereka tuju. Tentu saja ini sangat menghemat waktu, mengingat Fiona hanya diberi waktu selama seminggu oleh Ibunda Bram. Kira-kira seperti itulah kabar baik yang disampaikan Bram kemarin. Membayangkan wanita itu melarang Fiona bertemu dengan Vincent dan Skalki untuk selamanya membuat Fiona seakan kehilangan harapan; ia hanya akan menjadi sebatang kara yang amat kesepian.

Tapi ini bukan hanya mengenai keakraban Fiona dengan Vincent atau Skalki. Ini menyangkut harga diri ibunya.

“Kita sudah sampai,” ucap Fiona pada Bram.

“Jadi ini Desa Toscahr?” tanya Bram tidak percaya. Ia bahkan langsung turun dari kudanya dengan semangat.

“Ya. Dan tidak ada yang...berubah.”

Semua yang dilihat Fiona persis seperti yang selama ini diingatnya. Bahkan semua inderanya merasakan hal yang sama. Beningnya aliran sungai yang seakan membiaskan cahaya langit, pepohonan besar nan rimbun, dan, dan...ibunya. Terakhir kali ia datang ke tempat ini adalah ketika ia menemani ibunya melukis di tepi sungai. Anehnya, kali ini ia merasa seolah ‘terpanggil’ ke tempat ini karena beberapa kali mendapati sungai ini dalam mimpinya.

“Fiona, kau tidak apa-apa?”

“Y-ya.” jawab Fiona singkat, lalu dengan anggun kedua kakinya kembali berpijak ke tanah. “Cantik, bukan?” Fiona menyisir pemandangan di sekitarnya.

Entah kenapa Bram merasa tersinggung. Mungkin karena ia belum pernah berada di tempat ini sebelumnya. “Secantik dirimu.” ucap Bram agak sinis.


Fiona masih terlalu sibuk menikmati keindahan sungai. Perlahan ia mendekati perairan yang langsung merefleksikan dirinya dengan jelas di permukaan. Fiona tersenyum, seolah ia dapat melihat ibunya juga disana. Mengagumi bentuk-bentuk di wajahnya yang ia warisi dari sang mendiang ibu. Rambut panjang lebatnya. Hidung tajamnya. Mata hijaunya yang sewarna batu hijau permata. Hampir semuanya. Kecuali warna biru pada mata kirinya.

Dengan cepat Fiona menggelengkan kepala, kedua tangannya meraih cukup air untuk menyegarkan wajah. Menyegarkan pikiran, batin Fiona. Betapa ia ingin sekalian berenang disana, namun keberadaan Bram menyadarkan Fiona akan alasan sekaligus maksud mereka datang kesini meski sebenarnya Fiona masih tidak yakin akan apa yang akan dilakukannya disini.

“Kau belum pernah menggunakan tanaman-tanaman di sekitar sini sebelumnya?” tangan Bram meraih tanaman berbunga. “Aku bisa membantumu mengeluarkan air mata jika perlu” Bram kembali mengejek.

“Aku punya cadangan. Tapi mungkin kau benar,” Fiona mendekati tanaman di dekatnya. Kuning dan berduri. Tidak jauh dari sana, banyak tanaman berjamur. Semua tanaman di sekitar sini tidak jauh berbeda dengan tanaman-tanaman yang biasa digunakannya dan ibunya.

Diraihnya botol mungil dari tas kecilnya yang sebenarnya berisi air matanya. Dibukanya tutup botol itu dan dengan amat hati-hati ia meneteskan isinya pada bunga tersebut.

“Hei! Ini cantik sekali!” teriak Bram kagum. Pemuda itu memperlihatkan sesuatu hingga kedua mata Fiona membelalak marah.

“Kau—”

“Tenang, Fiona. Aku hanya bermain-main.” ucap Bram sembari mengembalikan ikan yang sempat diraihnya itu ke sungai. “Aku juga paham ini bukan tempatku memancing, kok.” Namun Bram tidak beranjak dan masih berada di tengah sungai.

Fiona mendengus kesal. “Terserah! Aku tidak peduli!” Kemudian Fiona terus mencurahkan kekesalannya pada Bram sembari menutup botolnya dan mengembalikan botol itu pada tasnya..

Di belakangnya, Bram merasakan sesuatu yang tidak beres. Entah kenapa sebelah kakinya tersangkut sesuatu dan tak dapat bergerak. Beberapa kali ia mencoba menarik kakinya namun nihil.

Bram pun menenggelamkan kepalanya agar bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi, namun yang ia dapati malah kakinya tidak tersangkut apapun meski kakinya masih tidak dapat digerakkan. Persis seperti magnet.

“Kita harus pergi dari sini!” teriak Bram.


message 30: by Shelly (last edited Dec 12, 2013 04:45AM) (new)

Shelly (shelly_fw) | 133 comments Sayangnya Fiona tidak mendengar perkataan Bram. Ia hanya fokus pada peralatannya dan menunggu agar Bram menyusulnya hingga akhirnya ia mendapati sepasang tangan yang dikenalnya menggapai-gapai di permukaan sungai.

Tanpa ragu-ragu Fiona langsung menghampiri keberadaan Bram.


Aliran sungai saai itu memang tenang, namun entah kenapa kedua kaki Bram seakan tertarik searah aliran sungai. Fiona akhirnya menarik kedua tangan itu sekuat tenaga. Awalnya memang nihil, namun keduanya kemudian terjatuh dan terbatuk.

“Apa yang—“

“Tidak ada waktu. Kita harus segera pergi dari sini.” kata Bram sembari menarik tangan Fiona dan berjalan melawan arus sungai.

“Apa kau baik-baik saja?”

“Kurasa kita baik-baik saja,”

“Apa kau mendengarnya?” tanya Fiona bingung. “Hei!” ia mencoba melepas cengkraman tangan Bram.

“Kau tidak mengerti!” tukas Bram. Kini keduanya terdiam di tengah sungai. Berdebat. Lagi. Menyalahkan satu sama lain. Mengumpat. Dan sudah terlambat bagi mereka untuk mencoba menghindar.

Kejadiannya sangat cepat dan sangat tak terhindarkan. Sungai yang selama ini Fiona kenal berubah menjadi ancaman besar baginya. Kini aliran sungai tidak lagi lambat dan bahkan Fiona merasa tubuhnya terdorong mengikuti aliran sungai. Sungainya memang cukup dangkal, namun rasanya mencapai permukaan saja sangat mustahil. Barulah setelah tidak lama kedua matanya terbuka, perubahan kecil terjadi. Dorongan keras yang tubuhnya rasakan mulai hilang, dan perlahan pemandangan di sekitarnya mulai jelas. Fiona mendapati Bram berada tak jauh darinya.

Sekitar satu meter lagi mereka memutus jarak, aliran sungai kembali menjadi tidak stabil. Bahkan sekelompok ikan mengelilingi mereka berdua dan tidak menyisakan pemandangan apapun. Mereka berdua terdorong lebih pelan, lebih terarah namun justru lebih membingungkan. Aliran perairan bahkan jauh lebih tenang sekarang. Ikan-ikan di sekitar mereka berpencar dan seolah menghilang.

Keduanya terbatuk-batuk sesampainya di permukaan. Tidak ada tanah atau pasir di tepian. Yang ada hanyalah bebatuan besar.

“Mahafkan akhu,” ucap Bram sambil menyandarkan kepalanya pada salah satu batu. “Kukira—”

Tangan Fiona mendarat di sebelah pipi Bram dengan mantap. Dipegangnya pipi yang kesakitan itu.

“Ini semua gara-gara dirimu!” Fiona memukul-mukul air di sekitarnya dengan marah. “Sudah kubilang jangan macam-macam!”

Sementara Fiona memarahinya, Bram masih memiringkan kepala, namun kali ini karena apa yang dilihatnya. Ia pun menyisir pemandangan di sekitarnya sampai-sampai ia menengadahkan kepala.

“Fiona, apa kau pernah berada di sini?”

Gadis itu mendengus. “Aku sendiri bahkan tidak peduli! Satu-satunya yang harus kita pikirkan adalah jalan keluar dari sini, Bram!”

Kali ini kedua tangan Bram menangkap wajah Fiona. “Lihatlah, Fiona. Perhatikanlah. Semuanya persis matamu. Sebiru matamu,” Sebelah tangan Bram memiringkan wajah Fiona sehingga ia dapat melihatnya.

Di hadapannya terhampar perairan tenang yang sarat akan warna biru laut yang cukup luas. Alirannya tenang. Bentuknya bulat sempurna. Di atas, bebatuan di sekeliling membentuk dua sudut yang berhadapan.

Sulit bagi Fiona untuk percaya. “Tidak mungkin,” gelengnya. “Apapun itu, ini bukan tempatku,”

“Benarkah?”

Kali ini Fiona malah melihat ekspresi Vincent pada wajah Bram. Hal ini mengingatkannya pada perkataan Vincent. “carilah sesuatu yang baru,

Sesuatu dalam diri Fiona bergejolak. Kali ini ia berdebat dengan dirinya sendiri. Matanya. Apa yang dilihatnya. Serta dengan apa yang selama ini dirasakannya. Fiona bahkan lupa bahwa selama ini ia sebenarnya belum menemukan jawaban atas semua ini. Apa yang tersembunyi di sana. Apa yang ada di balik warna mata birunya. Fiona pun menanyakan pada Bram bagaimana caranya mencari tahu.

“Sambil mencari jalan keluar, kurasa.” jawab Bram.

“Oke. Sebaiknya kita berpencar.” Detik berikutnya Fiona sudah menyelam.

Butuh waktu yang cukup lama bagi Fiona untuk menemukan jawaban yang ia tunggu-tunggu. Awalnya ia tidak menemukan apapun dan bahkan tidak memerhatikan sedikit perubahan yang terjadi; sebuah warna mencolok yang seolah menari-nari di dasar perairan.

Didekatinya warna itu, yang lebih mirip dengan rambut yang dikepang. Spiral. Ungu cerah. Belum pernah ia melihat warna secantik itu. Tergoda dengan pemandangan di hadapannya, Fiona mencoba meraih benda itu dengan hati-hati.

Warna berikutnya muncul. Kali ini Fiona mengenal bentuknya. Bunga. Biru adalah warna yang diwakilinya.

Belum sempat ia mengamati lebih teliti, Fiona dikejutkan oleh perubahan di sekelilingnya. Layaknya bermain petak umpet, warna demi warna muncul dari tempat persembunyiannya. Dasar perairan yang sebelumnya berwarna gelap, kini seolah menjadi surga bagi matanya.

Bunga-bunga yang bermekaran. Tumbuhan menjalar menari-nari. Bahkan terumbu karang yang umumnya berada di perairan laut kini tampak lebih indah di hadapan Fiona. Gadis itu membalikkan badan, dan mendapati dasar perairan dipenuhi spesies yang akrab dengannya.

Seakan belum puas dengan yang ia lihat, jemarinya mulai memain-mainkan tanaman di dekatnya. Berbunga, namun lebih mirip tulip; kurus dan lebih mirip tanaman merambat. Sentuhan dari Fiona ternyata menghasilkan reaksi dari tanaman itu. Lima detik berikutnya, tanaman berbunga ungu tua sudah melilit di sekitar tangan Fiona.

Hal terakhir yang membuat Fiona terharu adalah cara para tumbuhan itu kembali ke persembunyiannya; menguncup dan menenggelamkan diri. Kini dasar perairan telah kembali seperti semula.

Senyum mengembang pada wajah Fiona. Harapan. Ia melihat harapan untuk semuanya. Bagi dirinya, bagi harga diri ibunya, dan khususnya bagi sang sesepuh.

Jadi, ketika Ki Amar bertanya mengenai nama ramuannya dalam acara jamuan makan malam besar di rumahnya, tanpa ragu-ragu Fiona menjawab.

“Ramuan Quatosca.”


back to top