Kastil Fantasi discussion

111 views
CerBul > [Lomba] CerBul KasFan (Maret '13)

Comments Showing 1-26 of 26 (26 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Fredrik, Momod Galau (last edited Apr 08, 2013 02:20AM) (new)

Fredrik Nael (fredriknael) | 2447 comments Mod
Waktunya soal dari para pemenang pengumpulan poin~! ^^

Seperti yang diumumkan di tautan, selama periode tahun 2013 ini akan ada 5x soal dari para peserta. Supaya gak menumpuk dan sekaligus untuk menambah variasi lomba, maka soal-soal dari para peserta ini akan dilaksanakan setiap dua bulan sekali (diselingi soal-soal reguler dari para momod) dan akan dimulai di edisi ini. :D

Langsung saja~!


“Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi – Edisi Maret 2013”

Lomba CerBul diadakan sebagai ajang latihan, eksperimen, sekaligus unjuk kreativitas, bagi teman-teman yang suka menulis atau pengen juga coba-coba mulai menulis. Lomba ini diadakan setiap bulan, dengan tema yang berbeda-beda.
Lombanya santai-santai aja, gak perlu saling jotos atau gigit-gigitan, meskipun lempar-melempar cabe masih diperbolehkan dan memberi masukan/saran untuk perkembangan teknik menulis tentunya sangat dianjurkan.

Dan sebagai bonusnya, setiap bulan akan diberikan poin untuk para peserta yang nantinya dapat ditukarkan dengan hadiah buku pilihan. :)
Tentang poin dan hadiah buku, baca keterangannya di: sini.

Aturan main umumnya:

1) Cerita yang disertakan harus mengandung unsur fantasi/science fiction.

2) Penjiplakan karya orang lain dilarang keras.

3) Setiap peserta hanya boleh menyertakan satu entri cerita. Semua cerita di-post sendiri oleh penulisnya di topik ini. Entri-nya boleh juga di-post di tempat lain (misalnya di blog pribadi), namun diharapkan menyertakan juga keterangan dan link kalau ceritanya sedang dilombakan di sini (grup Kastil Fantasi).

4) Panjang cerita maksimal dua post, yang harus di-post secara berurutan. Tidak ada panjang minimal. Sebagai info, maksimal karakter (termasuk spasi) dalam satu post di Goodreads adalah 12.000 karakter. Perlu diperhatikan kalau panjang karakter di software (MSWord, dll) dan Goodreads bisa berbeda, misalnya saja tulisan dengan huruf miring/italic memakai kode HTML yang menghabiskan tujuh karakter lagi (untuk masing-masing bagian yang di-italic).

5) Cerita ditulis menggunakan tata bahasa yang baik. Tidak diperkenankan memakai bahasa singkat-singkat ala SMS, apalagi bahasa alay.

6) Semua cerita yang di-post akan tetap menjadi milik peserta. Bila ingin dikembangkan lebih jauh/serius (misalnya dibuat novel) atau dilombakan ke tempat lain, silakan saja.

7) Pengomentaran cerita tidak dilakukan di topik soal ini, melainkan di topik komentar.
Apabila ada yang menulis komentar di sini, komentarnya akan dihapus oleh moderator. Kedua topik dipisah demi alasan kerapihan.

8) Bila ada pertanyaan, bisa langsung dilayangkan ke topik komentar.


======

Nah, untuk yang pertama ini, tantangannya datang dari Miss Lola Orett~! ^^

Soal CerBul edisi ini adalah:

Buatlah cerita yang berhubungan dengan jembatan.

Aturan tambahan:
1. Harus ada adegan yang berlangsung di jembatan, boleh seluruh cerita atau sebagian.
2. Jembatan yang dimaksud adalah jembatan secara fisik, bukan metafora atau ungkapan tersirat.
3. Tokoh-tokohnya boleh manusia, hewan, atau makhluk gaib.


Keterangan tentang edisi soal dari peserta:

1) Pembuat soal juga akan berpartisipasi dan membuktikan kemampuannya dalam menangani tema soal buatannya.
Cerita dari pembuat soal juga akan dilombakan dan dinilai para momod. ^^

2) Para momod juga akan berpartisipasi dan membuat cerita dengan tema soal yang sama, namun ceritanya tidak ikut dilombakan.
Bila ada momod yang mangkir (oops! xD) atau ceritanya melanggar ketentuan lomba, maka pembuat soal berhak mendapatkan bonus +1 poin CerBul untuk setiap momod yang melanggar. :D


Hadiah khusus untuk edisi ini:

Pemenang pertama akan mendapatkan buku spesial ini: A World Without Heroes by Brandon Mull

dan kelima peserta 5 besar akan mendapatkan +3 poin CerBul.


Testimoni dari para pembaca Beyonders (xP):

"... layak dapat 5 bintang."
- Momod Galau, Moderator Grup KasFan

"... lebih bagus daripada buku2nya Om Riordan dan Om Scott."
- Seorang penggemar buku-buku fantasi

"Aku harus segera baca lanjutannya!"
- Fredrik Nael, penulis fantasi
(Kenapa gak ada orang lain yg udah baca buku ini sih?!? @__@)


Catatan:
Seandainya pemenang pertama tidak tertarik dengan hadiah bukunya, maka hadiahnya bisa ditukarkan dengan +3 poin CerBul tambahan (total mendapatkan +6 poin di edisi ini).
Dalam kasus seperti ini, hadiah buku tersebut kemudian akan ditawarkan ke peserta 5 besar yang lain (dimulai dari pemenang kedua, dst) untuk ditukarkan dengan +3 poin yang telah diperoleh di edisi ini.

Informasi tentang poin CerBul dapat dibaca di: sini


Timeline lomba (updated):

Posting cerita: 16 Maret – 12 April 2013
Masa penjurian: 13 – 23 April 2013
Pengumuman pemenang: 24 April 2013


Mari menulis fantasi!
;)


message 2: by Fredrik, Momod Galau (last edited Apr 12, 2013 09:22PM) (new)

Fredrik Nael (fredriknael) | 2447 comments Mod
Daftar cerita:


1. Desires by Narita Amalia
2. Balada Si Oblak by throller
3. two summers, six bridges, and a handful of fairy dust by nur afifah
4. Lonely Bridge by Maximilian Surjadi
5. Sebuah Jembatan by Biondy
6. Di Antara by Daff
7. Jembatan by Abe Artmeza
8. Prahara Psychopomp by Lola
9. Sang Awatara : Dharmaputra Laga by Manikmaya
10. Dan Di Pinggir Sungai Mereka Tersesat by Dan T.D.
11. Mahkota Tanduk by Mahfud Asa
12. Bayang-Bayang Sungai by Han Asra


Cerita spesial dari Momod:

1. Three Billy Trolls Gruff by ModUs
2. ♥ (Heart) by ModGal

~


message 3: by Narita (last edited Mar 25, 2013 02:26AM) (new)

Narita | 289 comments Desires

Sore temaram di London. Matahari bersembunyi di balik awan mendung. Musim hujan baru saja dimulai. Anak-anak gelandangan dan pengemis berebut posisi strategis di atas jembatan Sungai Thames menguji keahlian untuk melempar batu. Meski tidak akan terlihat jelas akibat suram dan derasnya air sungai kala itu.

Seorang gadis cilik berpakaian compang camping tidak melewatkan kesempatan tersebut. Ia bersandar dekat teman-teman yang senasib dengannya sambil melantunkan sebuah lagu bermelodi sederhana. Suara-suara lainnya–gemerisik jas hujan, ketukan langkah sepatu, suara kendaraan yang melintas, bahkan celotehan-celotehan tak berarti–ikut memeriahkan senandung sederhana yang terdengar sumbang.

Sebuah kereta kuda berjalan perlahan memecah genangan air. Berlalu tanpa mempedulikan sekitar. Di dalamnya terdapat seorang bangsawan muda dan seorang gadis berkedudukan sama. Sesekali si lelaki muda merapikan rambutnya yang berwarna kuning keemasan.

“Kulihat kau menikmati perjalanan singkat ini, Thomas?”

“Ya, tentu saja. Ini semua karena kau ikut, Margaret.” Si pria mencium tangannya dengan lembut. “Pelayanan yang memuaskan.” Ia tersenyum nakal.

Kedua tangan Margaret sibuk membetulkan pakaiannya yang sedikit berantakan, “jamuan pesta lainnya, eh?”

“Ya, perdana menteri mengirimkannya padaku, lebih tepatnya padamu untuk kita berdua.” Si pria muda mengambil dua surat undangan dari balik saku dalam jas hitamnya. “Terdengar menyenangkan.” Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, sibuk melumat bibir tipis berwarna merah jambu. Tanpa sadar siku tangannya menyibak tirai yang sejak tadi tertutup rapat. Bola mata kanannya menyadari pemandangan yang terasa familiar : anak-anak gelandangan, jembatan, batu. Sorot matanya berubah tajam dan keras. Ia segera membenarkan posisi tirai tanpa melepaskan bibir si wanita.

Mereka berjalan perlahan, melewati dua tikungan, beberapa toko, serta kafe. Menyadari jaraknya semakin pendek, kedua manusia yang tersembunyi dengan baik dalam kereta bersiap berbenah diri. Memposisikan penampilan pada strata yang lebih terhormat. Kereta kuda berhenti tepat di sebuah bangunan berdesain klasik yang anggun. Pintu terbuka, seorang pelayan mempersilakan kedua bangsawan tersebut untuk turun berjalan melalui karpet merah tebal menuju pintu masuk teater.

Kedua tamu khusus itu digiring menuju sebuah tempat spesial dengan pemandangan yang lebih baik untuk menyaksikan pertunjukkan. Thomas menyibakkan tirai satin, mempersilakan Margaret untuk masuk terlebih dulu. Terdapat lima kursi kayu mahoni berukir halus. Kedua pasangan tersebut memilih untuk mengisi tempat duduk dengan jarak pandang strategis. Tirai tebal di atas panggung masih tertutup rapat. Thomas menyeret kursinya lebih dekat pada Margaret. Ia duduk bersandar pada bantalan empuk di belakang punggung, masih menanti tirai tebal sandiwara terbuka.

Kedua bola matanya yang berwarna biru laut menerawang ke langit-langit gedung teater, sedetik kemudian Thomas terjatuh dalam lamunan masa lalu. Hal itu terjadi karena ia melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat. Bersamaan dengan dimulainya orkestra pembuka, Thomas tenggelam semakin dalam pada ingatan yang ingin ia lupakan.

***

“Dasar gembel busuk! Matilah kalian!” Seorang lelaki tua berdiri di depan kios kecil miliknya. Ia mengepalkan tangannya ke udara seraya menyumpah. Sesekali ia melemparkan beberapa butir telur busuk yang telah disiapkannya ke arah anak-anak yang berusaha menyelamatkan diri.

Dalam perjalanan pelarian tersebut, 2 buah apel terjatuh dan berakhir terinjak oleh roda mobil. si anak lelaki berambut pirang kumal berpaling sejenak, wajahnya terlihat kecewa. Sebenarnya bukan masalah baginya untuk memungut daging buah yang telah bercampur dengan lumpur dan polusi kendaraan tersebut, karena ia pernah makan sesuatu yang lebih buruk dari itu, tapi sayangnya keadaan sedang memusuhi mereka. “Thomas?! Apa yang kau lakukan?! Cepat! Si tua Bangka itu semakin mendekat!”

Dua anak yang tertinggal di belakang segera mengambil langkah lebar untuk mengejar empat orang lainnya di depan. Mereka berlari memasuki gang sempit berbau menyengat: melewati bangkai hewan pengerat yang tengah melalui proses pembusukan, beberapa tong yang dipenuhi sampah organik beraroma tajam, dan kantong sampah yang berceceran. Dalam sekejap saja mereka sudah berada di bangunan tua usang–terdapat lubang besar menganga pada tembok, sebagian besar atapnya berlubang, jendela yang ditutup paksa dengan susunan kayu–yang berfungsi sebagai tempat tinggal.

Lima anak yang bekerja pagi itu mengumpulkan benda-benda yang berhasil mereka dapatkan untuk sarapan 14 anak lainnya. Ketua kelompok kecil itu menghitung dan berusaha membagi dengan adil 6 buah apel, 3 buah jeruk, dan 5 batang wortel. “Mary, mengapa kau mengambil wortel? Bukankah, di depanmu tadi ada satu bulat melon dan semangka, jika aku dapat memprotes.”

“Kita butuh sesuatu yang lebih berbobot, Dean. Buah-buahan itu tidak akan cukup.” Mary mengambil dengan kasar dari tangan Dean. Menyiapkan kaleng cukup besar, air, dan api dari kayu tak terpakai. Lalu dengan cekatan mengupasnya menggunakan pisau berkarat buatan sendiri. Memotongnya kecil-kecil sambil menanti air mendidih.

“Keputusan yang tepat, Mary.” Nada suara Dean berubah ketus. “Udara begitu dingin musim ini. Aku butuh sesuatu yang hangat. Tapi biar aku koreksi sesuatu,” –ia mengelus dagunya–“kita tidak memiliki mangkuk!”

“Ya, tuhan, Dean! Willie sedang sakit, sisanya menggigil kedinginan! Jika tidak ada hal lain yang kau ributkan, bisa tolong potong buah-buahan yang ada di hadapanmu itu? Nah, bagus begitu.” Mary begitu marah tapi ia tidak dapat mengeluarkan makian, itu hanya akan membuat keadaan semakin buruk. “Ngomong-ngomong, tuan-tuan, apa ada yang melihat Si Tua Fred?” –ia menuangkan botol air terakhir–“sepertinya kita kehabisan air bersih.”

Dean melemparkan sebuah koin dari saku celananya, “sisanya ikut aku. Waktunya bekerja.”

***

Kedua belas anak-anak tersebut terbagi menjadi 6 gerombolan lebih kecil yang terdiri atas dua orang tiap kelompok. Mereka menyebar di beberapa pusat keramaian London untuk mengemis belas kasihan. Dua orang lainnya tengah duduk di sisi lain jembatan Sungai Thames menanti recehan sisa keluar untuk menyokong kehidupan. Di tengah konsentrasi membuat wajah memelas, sebuah kereta kuda mewah berjalan dengan angkuh melewati mereka.

“Katakan Rajj, mungkin akan menyenangkan jika kita dapat bepergian menggunakan kendaraan seperti itu, eh?” Thomas tidak melepaskan pandangannya dari kereta tersebut.

“Jangan bodoh, Thomas.” Anak lelaki keturunan India itu berkata. “Sampai kapan pun tidak ada kesempatan untuk kita.” Ia memalingkan wajahnya ke jalanan. “Bahkan tidak ada seorang pun yang menginginkan keberadaan kita.” Rajj memaksakan wajahnya yang jengkel untuk tersenyum. Kulit tubuhnya yang gelap menciptakan gradasi warna pekat yang membuatnya memiliki aura yang lebih hitam dan suram.

“Pasti ada! Kita tidak akan seperti ini sepanjang hidup kita, Rajj! Aku tidak mau terus menerus dikejar orang yang sama hanya karena mencuri sayuran, aku juga sudah bosan memakai baju jelek ini, aku muak dengan semua aroma busuk itu! Aku ingin berubah!”

“Lalu apa yang akan kau lakukan? Jangan mengkhayal yang bukan-bukan! Sana, kembalilah bekerja!”

Setelah pembicaraan singkat yang membakar emosi itu berakhir tidak menyenangkan, Thomas bertekad untuk membuktikan ucapannya. Ia tidak tahu harus memulai darimana, tapi yang jelas, ia akan melakukan dan mengorbankan apapun untuk mendapatkannya. Sejak detik itu, semua berubah dalam sudut pandang Thomas. Tubuhnya yang kecil dan lemah harus menanggung beban hasrat kekuasaan yang besar.

Malam itu Thomas tidak bisa tidur. Ada begitu banyak hal yang tidak ia mengerti. Keberadaannya, mengapa ia bisa berada di sana, dan mengapa orangtuanya meninggalkan kardus dingin itu di atas jembatan. Mengacuhkan jerit tangisnya. Menyakitkan!

Ia menggigit bibirnya hingga berdarah. Melemparkan selimut, mengambil mantel, lalu berjalan keluar tanpa tujuan. Udara malam itu begitu dingin hingga terasa dari balik mantel tebal tua yang dikenakannya. Kabut menyelimuti London, tapi Thomas tidak memedulikannya. Ia terus berjalan melewati toko, kafe, bar, tikungan, dan beberapa apartemen murahan. Ia tidak sadar dua orang lelaki dewasa mengawasi dan mengikutinya dari belakang.

Salah seorang dari mereka berbisik, “bagaimana menurutmu dengan anak itu?”

“Entahlah, tapi kupikir, dia akan menyukainya.”

Langkah kaki semakin cepat, pikiran Thomas begitu kalut hingga membutakan indera pendengarannya. Pria dewasa sebelah kanan mengambil saputangan dari balik mantel yang dikenakannya. Dengan gerakan cepat, ia membekap Thomas. Membiarkannya menghirup obat bius yang disisipkan. Sedetik kemudian, gerakan panik bocah lelaki itu terhenti. Ia tertidur lemas dalam dekapan orang asing.

Jantungnya berdetak cepat, matanya masih berkunang-kunang, kesadarannya perlahan berkumpul, dingin merambat pada daging di tubuhnya yang kering. Thomas terbangun tanpa mengenakan selembar pakaian. Ia dimandikan secara paksa di ruang bawah tanah. Para pelayan wanita sibuk membersihkan tubuhnya dengan sikat yang biasa digunakan untuk menggosok lantai. Thomas meringis kesakitan. Tapi bukan ia saja yang mengalami itu, beberapa anak lelaki lainnya juga diperlakukan sama. Ia tidak bisa melawan. Tubuhnya membeku, Thomas hanya mendekap lututnya erat-erat. Berusaha memahami apa yang telah menimpanya.

Tidak lama kemudian mereka–termasuk Thomas–didandani dengan pakaian mahal seperti boneka yang dipamerkan dalam etalase toko. Dipaksa berdiri berjajar dengan rapi saling berhadapan dalam sebuah ruangan yang dipenuhi benda-benda mewah. Seorang pria bertubuh gempal memasuki pintu terbuka, wajahnya memerah akibat gerah. Seorang pria muda bertubuh tegap mencium tangannya, ia terlihat berbicara sopan dan membuat pria yang bertubuh tambun itu bahagia. Thomas memperhatikan hal itu baik-baik, ia berpikir kejadian ini merupakan takdir yang menjawab keinginannya.

Si pria bertubuh besar itu berjalan pelan sambil mengamati. Ia berbicara perlahan nyaris berbisik dengan nada kecewa, “tidak ada yang istimewa, eh?”

Thomas maju ke depan, ia berlutut dengan satu kaki di depan layaknya lamaran pernikahan. Menyentuh tangan gemuk itu lalu menciumnya dengan kasih sayang, meskipun wajahnya terlihat pucat. “Oh! Kalian mendapatkan ‘anak domba’ yang bagus!” Pria gemuk itu berseru girang. “Bawa ia ke kamarku, aku ingin dilayani malam ini.” Thomas menundukkan wajahnya, ia tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Sebelum sampai di tempat itu, telinganya banyak mendengar rumor. Sudah tidak ada kesempatan untuk kembali, ia tidak peduli jika harus merendahkan dirinya lebih hina daripada seekor babi.

***

Thomas berusaha bangun, terdapat beberapa luka lebam di punggung dan di lehernya. Malam yang menyakitkan, tapi itu harga yang pantas untuk mengejar kedudukan yang ingin ia raih. Thomas mengambil pakaian tidur tipis berjalan pelan mendekati jendela dengan tirai terbuka. Sorot matanya berubah kejam dan penuh ambisi.

Masih terlalu awal untuk berpuas diri. Ia harus belajar lebih banyak untuk mendukung tindak tanduknya kelak. Thomas menyentuh lembut tirai di sampingnya, lalu menutupnya perlahan.

“Tuanku, selamat pagi.” Seorang bocah lelaki berpakaian rapi membuka tirai. “Hari ini para pelayan menyiapkan teh dan juga makanan kesukaan anda. Kami berharap anda segera turun.” Bocah lelaki berambut kuning keemasan itu mengusap lembut tangan majikannya. Ia berbisik dengan nada menggoda, “apakah pelayanan semalam kurang memuaskan?”

“Ah, kamu, Th.. Th?”

“Thomas, Sir. Ah, anda tidak perlu seterkejut itu. Saya baru saja mempelajari ini semua dari pelayan-pelayan anda. Saya minta maaf jika pemilihan kata saya masih kasar. Jika anda berkenan, saya akan membantu anda untuk berpakaian.” Thomas tersenyum penuh hormat.


message 4: by Narita (new)

Narita | 289 comments “Oh, Thomas sayang, ini.. ini luar biasa! Bravo! Bagaimana kau dapat melakukan semua etika ini? ditambah lagi,” –si pria gempal menyentuh wajah Thomas–“kau begitu menawan.”

“Seperti yang anda lihat, saya mudah mempelajari sesuatu dengan cepat. Dan pernyataan anda barusan dengan senang hati saya terima, terima kasih, Sir.” Thomas menjilat tangan majikannya.

Wajah pria bertubuh tambun itu merona merah, “bakatmu! Aku harus menyalurkan bakatmu! Segera panggil Albert kemari. Oh ya, jika aku boleh tahu, siapa nama lengkapmu, Anakku?”

“Hanya Thomas, Sir”

“Oh, tidak, jangan panggil sir terlalu formal. Panggil aku Barney, aku beri ijin padamu untuk berimprovisasi saat menggunakannya. Well, jika begitu, mulai hari ini namamu Thomas Dwight. Nah ayo, sekarang pergi, panggil ia kemari.”

Akhirnya Barney memutuskan untuk memanggil seorang tutor pribadi untuk Thomas. Tubuh kekurangan asupan gizi itu kini terlihat berkelas dalam balutan setelan mahal. Di bawah bimbingan tutornya, Thomas mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, bahasa, politik, juga etika bangsawan. Tidak dapat dipungkiri, walau Barney manusia amoral, ia menyukai keteraturan. Apalagi jika peliharaannya dapat memperlakukannya sebagai seorang ratu.

Kini Thomas tumbuh sebagai remaja tampan berwibawa. Tutur katanya sopan dan yang paling penting ia mudah bergaul dengan orang-orang dari strata sosial yang lebih tinggi. Hal itu justru membuat Barney ketakutan akan kehilangan Thomas. Sedikit demi sedikit Barney membatasi ruang lingkup pergaulan Thomas. Bahkan pada tiap pesta, Barney selalu memerintahkan Thomas untuk mengenakan topeng serta memberinya peringatan untuk tidak menjauh dari sisinya. Bahkan yang paling ekstrem, mengunci Thomas di kamar ketika ia mengadakan pesta pribadi. Pemuda tanggung itu tahu dan belum waktunya ia bertindak. Ia masih menunggu saat yang tepat.

Matahari pagi bersinar hangat. Thomas duduk di halaman belakang. Bersantai menikmati teh dan membaca buku. Tiba-tiba kehadiran seorang gadis mengejutkannya. Barney berlari kecil, “Oh, Thomas, apa yang kau lakukan di sini?” Nada suaranya terdengar khawatir.

Thomas membungkuk memberi hormat, “saya tidak tahu jika anda tengah menerima tamu, Sir. Jadi hari ini saya keluar untuk menikmati udara pagi.”

Seorang pria paruh baya berjalan anggun mengikuti Barney. “Pemuda tampan yang sopan, Barney.” Ia ikut berkomentar.

“Oh ya, hampir saja lupa,” Barney berkata canggung. “Kenalkan Thomas, dia Baron Blackwood teman bisnisku dan gadis cantik ini adalah putrinya. Lady Michelle Blackwood.” Gadis polos itu memberi salam.

Thomas tersenyum, ia menyadari perubahan raut wajah Barney. “Baiklah, saya harap anda menikmati jamuan yang kami berikan, Sir. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya harus segera ke kamar saya,” –ia membawa buku dan cangkir teh–“ada hal lain yang harus saya kerjakan, permisi.” Thomas membungkuk memberi hormat, kemudian berlalu dengan langkah mantap. Gadis itu terpesona, ayahnya memahami hal tersebut, dan tentu saja Barney bertambah takut.

“Barney, aku tertarik dengan pemuda itu. Dapatkah kau mengenalkannya pada kami?” Baron Blackwood tidak melepaskan matanya dari punggung Thomas.

“Err.. iya tentu. Tentu saja, Sir.” Wajah Barney menampakkan emosi yang tidak dapat ia kendalikan.

***

Derap langkah menggema dalam lorong. Membuka dengan kasar sebuah pintu. Nafasnya berpacu tak beraturan. “Thomas! Aku sudah dengar semuanya! Mengapa kau mau pergi dari sini?! Aku sudah memberikan segala hal yang kau inginkan. Ini akan sangat menghancurkanku, kau tahu?”

Aku harus meraih kedudukan yang lebih tinggi!

“Thomas? Kau mendengarku?”

“Maaf Barney sayang, pikiranku agak kalut.”

Benar, aku harus menggapai tempat yang lebih tinggi!

Sorot mata Thomas berubah suram dan tajam. “Aku tahu Barney sayang, aku tahu. Tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku demi dirimu. Aku mencintainya, hanya itu yang kupahami. Jika kau menghalangiku, aku hanya akan mati. Lalu belatung-belatung menjijikkan yang kau benci itu akan menggerogoti tubuhku. Kau mencintai tubuhku, bukan? Apa kau mau, aku berakhir menjadi bangkai yang memuakkan itu?”

“Tidak, tentu tidak. Tapi kenapa harus jadi seperti ini?”

Thomas menghampiri wajah lesu itu, “jangan murung begitu.” Thomas mengecup bibir dari mulut beraroma busuk itu. “Sebagai salam perpisahan, aku akan menjadi milikmu malam ini. Bagaimana?”

Barney menyadari ada yang berbeda, tapi ia terlalu takut untuk mengungkapkannya, “tenanglah Barney sayang, aku bukanlah anak ayam yang tak tahu berterima kasih.” Ia memeluk tubuh gempal berbau masam. Lalu melirik sisi lain ruangan, senyum tipis tersungging di bibirnya.

***

Sebulan berlalu begitu lambat di kediaman Baron Blackwood. Bagi Thomas, ia telah mengenal lebih dari cukup sosok Michelle. Gadis yang manis, polos, dan tidak mengenal kerasnya dunia. Belum pernah hatinya tersentuh sedalam ini selama 12 tahun terakhir. Wajah Thomas melembut, ia memperlakukan Michelle dengan perlakuan seorang pria terhormat. Tidak menyentuhnya seperti ia menyentuh Barney. Tidak berbicara manis seperti yang ia katakan pada Barney, semuanya tidak sama. Apa yang Thomas lakukan untuk gadis itu, semua berasal dari sisi kebaikan dalam dirinya. Namun lama kelamaan ia sadar, betapa kotor dirinya jika bersanding dengan makhluk sesuci itu. Thomas hanya bisa memujanya dalam mimpi, seperti seekor iblis yang berharap tidur bersama seorang bidadari dalam surga. Dan hal tersebut diperparah dengan meninggalnya Baron Blackwood. Pria tua itu memercayakan seluruh harta benda serta putrinya pada Thomas. Sayangnya, Thomas kembali teringat dengan ambisi dan tujuannya. Ia memaksa Michelle untuk mempelajari bisnis ayahnya serta berencana menghilang setelah gadis itu dapat berdiri tegap di atas kedua kakinya.

“Lihat Thomas, aku membuat strategi perdagangan.” Ia berlari kecil dengan antusias menuju si pria yang tengah membaca buku sambil membawa beberapa helai kertas, dan pena dalam ruang kerja. “Jika meluaskannya ke sini, kita pasti akan mendapat untung besar.”

Thomas mengusap lembut kepala Michelle, “saya tahu, anda pasti dapat melakukannya.” Ia tersenyum simpul.

“Hei! Sudah kubilang untuk tidak berbicara formal seperti itu. Ya ampun, sudah berapa kali kau melanggarnya.”

“Sering, seingat saya.” Thomas beranjak dari sova.

“Ada apa? Kenapa wajahmu murung begitu?”

“Sebenarnya, kemarin saya mendapat surat dari sebuah perguruan tinggi. Mereka menerima saya menjadi murid di sana. Dan mulai besok, saya tidak akan berada di sini. Saya berencana menyewa rumah agar tidak terlalu jauh.” Michelle mengerutkan keningnya. Thomas memalingkan wajahnya dari ekspresi itu. Hatinya sakit.

“Tidak bisakah kau–”

“Keputusanku sudah bulat.” Thomas menjawab tegas tanpa berpaling. Gadis itu kecewa, ia berlari menuju koridor.

Mereka mendiskusikan hal tersebut selama berhari-hari. Thomas berusaha membuat Michelle mengerti, semakin keras ia mencoba, semakin dadanya terasa sesak. Ia harus segera keluar dari rumah itu. Hingga akhirnya tiba waktunya bagi Thomas untuk mengucapkan selamat tinggal.

“Kau harus mengirimkan surat padaku.” Mereka berjalan beriringan melewati pekarangan bunga.

“Tentu, saya sudah berjanji.” Thomas mengecup tangan Michelle sebelum menaiki kereta kuda.

Decitan suara sepatu, pintu tertutup, dan lambaian tangan. Thomas berlalu menutup tirai jendela rapat-rapat seolah ia menutup kisah hidupnya bersama Michelle.

Surat pertama datang, mengingatkannya kembali. Ia mengacuhkan surat itu, berharap Michelle bertemu orang yang tepat. Tapi surat berikutnya terus berdatangan, menggelitiknya untuk membalas.

“Thomas, surat dari siapa?” Suara wanita yang terdengar dalam sekaligus anggun.

“Dari Baron Blackwood, beliau bertanya mengenai keadaan saya.”

“Oh, bukankah Blackwood sudah mati?”

“Ini putrinya, dulu kami begitu dekat seperti saudara.”

“Tidakkah kau ingin membalasnya?”

“Tidak,” –Thomas memasukkannya dalam laci–“tidak sama sekali, Viscountess.”

Sebulan setelah surat terakhir yang diterima Thomas, datanglah surat lainnya. Ia membacanya dengan tergesa, meremas hingga kusut. Tepat hari ini pada tengah malam, gadis itu menuntut untuk bertemu di Jembatan London.

Matahari terbenam. Jarum jam sudah menunjukkan angka 11 lewat. Tanpa diketahui majikannya yang baru, Thomas bergegas menuju jembatan. Gadis itu berdiri, mencengkram pagar besi sedingin es, ia menatap alur air yang tenang. “Michelle!” Thomas berlari, nafasnya tidak beraturan. Ia menarik lengan gadis itu. “Apa yang kau pikirkan?! Kembali dan hiduplah dengan pria yang lebih baik! Berhenti mencariku!”

Penolakan tersebut membuat Michelle tercengang. Ia tidak menduga orang yang dicintainya akan bersikap ketus. “Aku mohon..” Tangan Thomas bergetar, matanya yang biru berkaca-kaca. “Jangan menuliskan hal yang mengerikan seperti itu. Kau tidak tahu siapa aku sebenarnya. Akan lebih baik jika kau terus melanjutkan hidupmu, melupakan aku.” Thomas menengadah. “Pulanglah.” Malam itu Thomas menemui Michelle sebagai dirinya sendiri. Mengungkapkan apa yang dirasakan hatinya.

Michelle mengangguk perlahan, ia kehabisan kata-kata. Kepalanya terasa kosong. Ia menundukkan wajahnya, berjalan perlahan meninggalkan Thomas. Setelah sosok gadis yang dicintainya dirasa cukup jauh, Thomas kembali dengan perasaan yang lebih hancur. Gadis itu menengadah, sorot kehidupan di matanya meredup. Ia melepaskan sepatunya, berlari menuju jembatan lalu melompat. Sedetik kemudian, suara kecipak air yang cukup keras terdengar. Wajah Thomas berubah pucat. Ia berlari ke sumber suara, namun tidak menemukan apa pun selain gelombang riak air. Si pria menjerit sekuat tenaga, mengepalkan tangannya, memukul pagar, menangis, tapi gadis itu tidak muncul ke permukaan.

Esok paginya, suara penjual surat kabar sibuk berlomba menjajakan berita terhangat. Thomas berkonsentrasi membaca tiap baris kata pada berita halaman utama. Ia menghempaskan surat kabar itu dengan wajah lesu.

“Oh, sayang,” seorang wanita paruh baya yang sama mendekap tubuh Thomas dari belakang. “Kau pasti merasa sedih dengan kabar ini.”

Nada suaranya terdengar lesu, “tidak kusangka ia akan pergi dengan cara setragis itu.” Thomas menyentuh tangan si wanita dengan lembut.

“Biarkan aku menghibur hatimu, Thomas.”

“Terima kasih, Viscountess Sarah.” Thomas beranjak dari sofa menuju tempat tidur.

***

Thomas terbangun dari lamunannya, ia melirik gadis berambut ikal warna coklat muda yang tertidur pulas bersandar pada bahunya yang lebar. Ia mengelus rambutnya dengan punggung telunjuknya lalu mencium beberapa helai rambutnya yang tebal. Ia berbisik pelan, “sayang sekali. Harumnya sudah memudar. Sudah saatnya mencari bunga dengan aroma yang lebih kuat, eh?” Thomas tersenyum picik.

Lambaian anggun tangan seorang istri Earl menarik perhatian Thomas. Ia mengangguk hormat menyambut kelinci kesepian lainnya.

Fin


message 5: by throller (new)

throller | 53 comments BALADA SI OBLAK

CERITA 1: Si Oblak

Nama panggung pemuda itu adalah ‘Oblak’. Dia adalah seorang pelawak papan atas, dan mesin pengundang tawa paling ampuh di negeri ini. Bukti paling sahihnya adalah, berbagai piala penghargaan yang kini berjajar di dalam rumah pemuda itu. Dan tentunya, segudang kontrak dengan nilai jutaan r****h dari berbagai stasiun TV besar.

Salah satu acara andalan pemuda itu adalah sebuah acara musik yang tayang setiap pagi, seminggu penuh. Di sana, Oblak bebas bereksfresi. Media apapun bisa digunakannya untuk menghibur setiap mata yang menonton acara itu. Dari mulai anggota tubuh, hingga ucapan-ucapan sarkastik yang memang menjadi senjata andalan dari pemuda(layu) itu.

Namun tak jarang juga, pelawak yang tengah menjadi idola sebagian besar masyarakat itu, menemui banyak hambatan. Macam KP*, FP*, hingga organisasi-organisasi kemasyarakatan yang lainnya. Tapi tentunya, seorang idola besar mempunyai segerombolan fans fanatik yang siap menyingkirkan hambatan-hambatan itu dari jalan sang ‘superstar’. Yang pada akhirnya, memang membuat pemuda itu bak sebuah kereta api yang tengah melaju. Apapun yang menghalanginya, pasti akan keok juga.

Suatu hari, seorang penyanyi yang terkenal di era sembilan puluhan, menjadi bintang tamu di acara si Oblak. Dan seperti biasa, pemuda itu mengeluarkan peluru-peluru panas dari mulutnya. Namun, tak disangka, salah satu peluru yang ditembakkan oleh pemuda itu, menyasar menuju hati sang bintang tamu. Hingga membuat perasaan penyanyi wanita itu agak tersakiti. Dan selanjutnya sudah bisa ditebak, berita perseteruan kedua pelaku hiburan itu menyebar dengan sangat cepat, dan sukses menjadi gosip panas selama berbulan-bulan.

“Apa komentar Oblak mengenai tuntutan maaf yang dajukan oleh (cencor) kepada Oblak?” tanya seorang wartawan.

Si Oblak sedang dikerumuni oleh segerombolan awak media. “Ah itukan cuman bercandaan doang! Semua orang juga tahu kalo Oblak itu suka bercanda, apalagi di acara itu Oblak dibebasin buat bercanda kok. Seharusnyakan ga diambil hati,” jawab si Oblak.

“Jadi Oblak ga bakalan meminta maaf?” tanya seorang wartawan yang lainnya.

Si Oblak menjawab pertanyaan wartawan muda itu, dengan mengambil langkah seribu, menembus belasan kamera dan puluhan mik yang bersiaga di hadapannya.

***

Hari ini, si Oblak dipastikkan terlambat menginjakkan kakinya di tempat kerja. Dia dan sopir pribadinya, terjebak di antara puluhan mobil yang juga tak bisa bergerak kemanapun. Mereka terperangkap macet dan banjir.

Untuk menghilangkan kejenuhan, Oblak mengeluarkan smartphone keluaran terbarunya. Kemudian, melakukan kegiatan yang rutin dilakukan oleh seluruh anak muda zaman sekarang. Yaitu, masuk ke halaman facebook atau twitter dan mulai berkicau meramaikan dunia maya. Dengan status-status yang sebenarnya, tak terlalu berpengaruh besar bagi kehidupan si pembacanya.

Terlalu lama menunggu, mata si Oblak akhirnya tak kuat melawan rasa kantuk yang sendari tadi menyerangnya. Kesadaran pemuda itu sempat tenggelam, hingga tak sampai semenit kemudian sesuatu menyadarkannya. Dua bocah kecil, tengah membunyi-bunyikan alat musik mereka, di samping pintu mobil si Oblak.

“Pak, beri mereka uang gih!” perintah si Oblak, kepada sang supir.

“Hmmm?” gumam supirnya itu.

“Beri mereka uang!” tegas si Oblak.

Sang supir yang duduk di sebelah si Oblak malah terkekeh. “Kenapa anda menyuruh saya? Bukannya saya juga digajih oleh den Oblak?”

Si Oblak mengernyitkan dahinya. Dia tak pernah mendengar kalimat semacam itu dari supirnya itu. “Hah?” Dia keheranan.

“Hah?!” Sang supir menggoda pemuda itu. Lelaki gendut itu tertawa sembari menjulurkan lidahnya dan menggoyang-goyangkan kepalanya.

Si Oblak mulai dilanda rasa bingung serta takut, melihat tingkah tak biasa yang ditunjukkan oleh supirnya itu.

“Jangan hanya mau mendapatkan uang aja dong den! Sekali-kali berbagi tuh sama orang-orang yang gak mampu kayak mereka. Jangan hanya di depan kamera aja mau berbaginya. Itu artinya, uang yang den Oblak dapet itu A....Aaah!” Lelaki berkumis tebal itu membuat tanda kutip dengan jari tengah serta telunjuknya.

“Maksud pak supir ini apa sih ah?” Si Oblak semakin mengkerutkan dahinya.

“Apa?! Apa maksudnya?!” seru lelaki itu. Dia mendekatkan wajah bulatnya ke arah wajah si Oblak sembari mengumbar senyum lebar dan cekikikannya.

Mata Si Oblak, hanya bisa terbuka lebar menanggapinya. Sedangkan sang supir, kembali memfokuskan pendangannya menuju ke jalan raya di hadapannya. Eksfresi wajahnya, seketika berubah menjadi datar. “Anda ingin tahu? Apa maksud saya?” dia cekikikan lagi. Lalu kembali memasang wajah datarnya lagi.

Si Oblak masih kebingungan, harus bagaimana menghadapi tingkah aneh dari supirnya itu. Dia kembali menggeserkan perhatiannya menuju ke jalan raya depannya. Tapi, ribuan tanda tanya langsung menyesaki hatinya, sesaat setelah dia melihat jalan di hadapannya itu.

Jalan itu, sekarang tampak seperti sebuah jembatan. Bangunan-bangunan yang tadi berdiri di sekitarnya, menghilang entah kemana. Daratan tempat jalanan itu dibuat juga lenyap begitu saja. Yang ada, hanyalah sekumpulan awan berwarna cerah serta mendung. Dan jalanan yang menjadi pijakan mobil si Oblak, tampak membentang di antara awan-awan itu.

Si Oblak semakin diselimuti oleh rasa takut. Kemudian dia menoleh ke arah sang supir. “Ad... ada apa nih pak?” tanyanya.

Sang supir menoleh. Eksfresi dinginnya, sontak digantikan oleh eksfresi ceria. Dengan mata besar dan mulut tersenyum. Senyum aneh. “Saya akan menunjukkan den Oblak apa maksud dari Mmmm.... “ lelaki itu kembali membuat tanda kutip dengan kedua jarinya. Sembari menunjukkan mimik wajah menggemaskan bak seorang personeel girl band.

Sang supir, kemudian memencet tombol kelakson yang tertempel di tengah-tengah stir kemudinya. Namun yang terjadi bukanlah terdengarnya suara kelakson mobil. Melainkan, terlepasnya atap mobil yang ditumpangi oleh lelaki gemuk itu dan juga si Oblak. Atap mobil itu, terlempar beberapa meter ke udara. Kemudian, benda itu meledak dengan suara yang terdengar seperti suara kentut. Sesaat kemudian, dari dalam asap putih tebal yang dihasilkan oleh ledakan itu, keluar beberapa benda yang tampak seperti bibir bersayap. Dengan lidah merahnya yang terjulur keluar sepanjang beberapa centi. Bibir-bibir itu berterbangan layaknya segerombolan burung, disertai dengan suara cekikikan dan kekehan.

Si Oblak, hanya bisa memasang mata terbelalak, menyaksikan kejadian yang terjadi di atas kepalanya itu. Saat wajah pemuda itu masih menengadah teruju kepada bibir-bibir itu, gumpalan-gumpalan berwarna cokelat, tanpa peringatan menghujani wajah putih mulusnya.

Si Oblak menurunkan wajahnya, kemudian tangannya memeriksa benda yang mengotori wajahnya itu. Dia mencium bau yang tidak sedap, sesaat setelah gumpalan-gumpalan itu menempel di permukaan kulitnya.

“Kyaaaa!!” Pemuda itu menjerit, sesaat setelah dia mengetahui benda apa yang menghujaninya itu.

Sang supir yang masih duduk di sebelah si Oblak, malah tertawa terbahak-bahak, sembari menunjuk ke depan hidung pemuda itu.

Si Oblak beranjak keluar dari dalam mobilnya. Sekarang, wajah pemuda itu benar-benar menunjukkan kelembekannya. Matanyapun mulai berkaca-kaca. Dia merintih. Merintih karena jijik, kebingungan dan juga ketakutan.

Tiba-tiba, segerombolan bibir bersayap itu mengelilingi si Oblak. Makhluk-makhluk itu sekarang terdengar seperti sedang menertawakkan penderitaan pemuda itu. Mereka tertawa ria.

Si Oblak mengebas-ngebaskan tangannya untuk menyingkirkan makhluk-makhluk itu. Dengan usaha yang keras, dia akhirnya berhasil mengusir bibir-bibir terbang itu. Namun, masalah wajah dan tangannya yang penuh dengan gumpalan, masih belum terselesaikan.

Si Oblak mengernyitkan dahinya. Dia merasa ada sesuatu yang merayap di permukaan tangannya. Dia lalu melihat tangan kirinya, yang dikotori oleh gumpalan-gumpalan bau itu. Gumpalan itu, sekarang tampak bergerak-gerak. Membuat si Oblak, sontak menggoyang-goyangkan tangan kirinya itu dengan cepat. Agar benda itu terlepas dari tangannya. Namun, sesaat kemudian, benda itu malah benar-benar bisa berpindah tempat. Makhluk itu tampak seperti seekor sifut tak bercangkang. Lengkap dengan jejak lendir yang ditinggalkannya.

“Kyaaaa!!!!” Pemuda itu sontak menjerit sembari melompat-lompat. Namun, semua itu tak mampu melepeskannya dari makhluk-makhluk berlendir dan bau itu.

Makhluk-makhluk itu merayap masuk ke balik baju yang dikenakan oleh si Oblak, dan berjalan perlahan menyusuri setiap jengkal kulit tubuhnya. Pemuda itu hanya bisa mengernyitkan wajahnya, sembari mematung dengan tangan dan kaki yang bergetar.
Si Oblak bisa merasakan setiap gerakan perlahan dari makhluk itu. Gumpalan-gumpalan itu, sekarang mulai merayap melewati bagian lehernya, dan terus berlanjut menuju ke bagian wajahnya.

Bibir, hidung serta bagian mata dari pemuda itu dilewati oleh makhluk-makhluk itu. Hingga gumpalan itu bergabung menjadi satu di dahi si Oblak.

Oblak masih menutup matanya rapat-rapat. Sesaat kemudian, dia merasa kalau makhluk itu sudah tak lagi menempel di dahinya. Kemudian dia membuka kedua matanya. Tapi ternyata, makhluk itu masih bergelantungan di sana. Tepat di dahi pemuda itu.

Ujung tubuh makhluk itu, tampak membulat dan masih berlendir seperti tadi. Lalu, sekumpulan bintik-bintik putih muncul di permukaan gumpalan itu. Bintik-bintik itu adalah ribuan mata mungil. Yang bergerak-gerak bak ribuan biji selasih.

“Kyaaaa.....!!!” Si Oblak kembali menjerit histeris. Dalam situasi seperti sekarang ini, dia lebih memilih untuk pingsan saja. Tapi, entah kenapa kesadarannya menjadi lebih kuat sekarang.

Tiba-tiba, wajah si Oblak dihantam oleh sekumpulan gas tebal berwarna putih. Dia lalu memajukkan kedua telapak tangannya, untuk melindungi wajahnya dari terpaan gas itu.

“Den ga pa-pakan?” tanya seorang lelaki, setelah gas itu berhenti.

Si Oblak membuka matanya. Dia hadapannya, supir pribadinya tengah memegang semacam tabung pemadam kebakaran. Ujung selang dari tabung itu masih mengepulkan asap berwarna putih.

Si Oblak terbatuk-batuk. Gumpalan yang tadi menempel di dahinya sendiri terjatuh ke permukaan aspal. Benda itu membeku, dan hancur berserakan setelah menghantam jalanan di bawah kaki si Oblak.

“Ayo saya antar den Oblak pulang. Kasihan den Oblak,” ucap lelaki gemuk itu, sembari cekikikan.

Oblak yang wajahnya kini menjadi putih karena gas tadi, tidak beranjak dari tempatnya. Dia benar-benar merasa takut setengah mati.

“Ayo saya antar den Oblak pulang! Masa mau diem aja di sini?!” seru sang supir yang kini sudah duduk dibelakang kemudianya lagi.

Si Oblak tidak mempunyai pilihan, selain ikut dengan supir anehnya itu. Dengan perlahan, dia kembali menempelkan pantatnya di sebelah sang supir.

“Siap?” tanya sang supir. Si Oblak tidak menjawab pertanyaan itu. Perasaannya masih terguncang, dengan segala macam kejadian yang dialaminya tadi.

Mobil sedan yang kini tak beratap itupun mulai melaju.

***

Si Oblak dapat melihat beberapa bentang jalan raya yang lainnya. Jalan-jalan yang membentang di sisi jalan raya yang dilalui oleh mobil si Oblak itu, ditopang oleh ratusan tiang penyangga yang tak tampak ujungnya. Si Oblak juga tak dapat melihat daratan di bawah jalan-jalan itu. Yang tampak, hanyalah sekumpulan awan putih dan hitam yang sesekali mengeluarkan kilatan cahaya serta suara gemuruh.

Tiba-tiba, dari balik beberapa gumpalan awan, keluar beberapa pulau yang melayang-layang di udara. Beberapa orang yang tampak masih berusia remaja, tengah asik berfose ria di atas pulau-pulau itu. Namun, mereka tak berfose di depan lensa kamera, melainkan berfose di bawah awan-awan berwarna hitam yang memayungi setiap pulau itu. Awan-awan hitam itu, kemudian menghadiahi para remaja itu dengan sambaran petir.


message 6: by throller (last edited Mar 26, 2013 07:46AM) (new)

throller | 53 comments Remaja-remaja itu benar-benar terbakar hidup-hidup. Kulit tubuh mereka nyaris hilang karena melepuh. Membuat permukaan daging para remaja itu tak tertutupi lagi. Daging-daging itu tampak berdenyut-denyut, merah muda dan juga berlendir. Sebagian dari mereka tak lagi memiliki bola mata, karena meleleh terserang oleh panas, dan hanya menyisakan lubang yang menganga. Tapi, ada juga beberapa remaja yang bola matanya menggantung di lubang matanya. Membuatnya terlihat seperti sebuah gantungan kunci. Beberapa dari remaja itu juga ada yang sampai kehilangan batok kepala mereka. Karena hancur saat tersambar petir tadi.

Si Oblak kembali hanya bisa terbelalak menyaksikan kejadian itu. Yang semakin membuatnya keheranan adalah, remaja-remaja itu masih tetap bisa bernafas. Bahkan remaja-remaja itu malah terlihat kegirangan. Mereka juga sempat mengabadikkan kondisi tubuhnya yang masih berasap itu dengan sebuah jepretan kamera, dan menguploadnya ke internet(mungkin?). Remaja-remaja itu juga masih bisa terdengar cerewet. “Ciyus... Mi apa?!”......... “Lo... Gue... Gosong!!!”

***

Si Oblak benar-benar tak diberikan waktu untuk bernafas. Sesaat setelah melewati remaja-remaja aneh itu, dia kembali dihadapkan oleh sebuah kejadian yang tak biasa. Segumpal awan yang berbentuk seperti sebuah wajah yang tersenyum, tampak menelan jalan di depan pemuda itu. Awan itu juga mengeluarkan kilatan-kilatan petir serta suara gemuruh.

Si Oblak menahan nafas, saat mobil yang ditumpanginya mendekati awan itu. Saat mobil yang ditumpangi oleh pemuda itu dan juga supirnya memasuki awan itu, kegelapan dan kesunyian langsung menelan keduanya. Kilatan-kilatan cahaya yang tadi tampak dari luar, sekarang lenyap. Suara gemuruh yang menyertai kilatan-kilatan itu juga tak terdengar lagi.

Tiba-tiba, mata si Oblak manangkap beberapa titik cahaya yang berjajar, beberapa meter di depannya. Si Oblak kini merasa seperti berjalan di dalam sebuah koridor. Dan benar saja, setelah cahaya mulai menerangi pengelihatan pemuda itu, tampaklah dinding-dinding berwarna muram, yang mengapit kedua sisi mobil yang ditumpangi olehnya.

Sayup-sayup, si Oblak dapat mendengar suara tepuk tangan dan tawa yang meriah. Terdengar seperti kemeriahan di dalam studio. Dan saat mobilnya mendekati kemeriahan itu, tampaklah sebuah panggung yang sama persis seperti panggung di acara musik yang biasa dibawakan olehnya.

Oblak mengernyitkan dahinya, setelah dia melihat apa yang sedang berkumpul di atas panggung itu. Sebenarnya dia tak ingin lagi melihat hal-hal aneh seperti sebelumya. Namun, entah kenapa kepalanya seperti bekerja dengan sendirinya, dan memaksa pemuda itu untuk menonton pertunjukkan yang ada di depannya itu.

Di atas panggung itu, berdiri tiga orang yang berpakaian selayaknya manusia biasa. Salah seorangnya mengenakan kaos berwarna ungu dengan lubang leher hingga dada, dan celana jeans sobek-sobek. Namun, kepala yang menempel di atas leher lelaki itu bukanlah kepala manusia. Melainkan tampak seperti kepala seekor kancil, dengan wajahnya yang terbalik. Mata kancil itu terletak di bawah, sedangkan mulutnya berada di atas hidungnya.

Sementara puluhan penonton, mengelilingi ketiga orang itu. Kepala mereka semuanya botak. Sedangkan bibir mereka tampak tersenyum aneh. Senyum itu, seperti terpahat di wajah mereka.

Si lelaki berkaos ungu, mulai beraksi. Dia mengangkat tangan kanannya, yang entah bagaimana, bentuknya sudah menjadi seperti sebuah pemukul berduri raksasa. Dia kemudian menghantam kepala salah seorang lawan mainnya dengan pemukul itu. hingga kepala wanita bertopeng itu hancur seperti sebuah semangka yang dipukul. Potongan-potongan otak serta darah bercipratan mewarnai panggung dan penonton.

Adegan itu, kemudian diikuti oleh tawa meriah dari para penonton. Kepala penonton-penonton itu tampak kembang kempis, seperti balon. Sementara lubang telinga serta hidung mereka, menyemburkan cairan berwarna merah yang bercampur dengan gumpalan-gumpalan berwarna krem. Saat tertawa, kepala puluhan penonton itu juga bergoyang-goyang, layaknya kepala boneka di dasboard mobil.

Lelaki berkepala kancil itu, kini membuka mulutnya yang terletak di bagian mata itu. Lidah lelaki itu tiba-tiba terjulur seperti seekor ular. Lidah itu juga memiliki mulut dan gigi-gigi taring yang berjejer bak puluhan mata gergaji. Dengan gerakan super cepat, lidah itu menggigit telinga dari lawan mainnya yang satu lagi, hingga daun telinga lelaki yang juga bertopeng itu lenyap tak bersisa.

Kemudian, dari dalam mulut lidah itu, keluar semacam mata pisau yang runcing. Lidah itu, mengayunkan pisau yang masih menempel di mulutnya itu ke arah perut si lelaki betopeng. Dan dalam sekejap, isi perut lelaki itu berhamburan keluar, berserakan di atas panggung. Namun, bukannya kesakitan, lelaki yang perutnya menganga itu, malah bertingkah sebaliknya. Dia meraih ususnya yang masih menggantung di dalam perutnya, kemudian membelitkannya di kepalanya. Setelah itu, dia menari-nari seperti orang yang kegirangan.

Gelak tawa dari para penonton, kembali bergemuruh memenuhi studio ini. Membuat panggung tempat mereka berdiri, digenangi oleh darah dan gumpalan-gumpalan berwarna krem. Namun tidak dengan si Oblak. Tak sedikitpun hatinya tergelitik untuk ikut tertawa. Yang dia inginkan, hanyalah secepat mungkin pergi dari dunia ini. Namun, sekarang, bukan hanya kepalanya saja yang berada di luar kontrolnya, melainkan juga seluruh tubuhnya. Memejamkan matanya yang masih terbukapun dia tidak mampu, apalagi beranjak pergi dari tempat ini. Sementara sang supir, dia malah tertawa terbahak-bahak, menyaksikan pertunjukkan di hadapannya itu.

Cahaya di dalam studio itu mulai meredup kembali. Hingga benar-benar hanya menyisakan warna hitam. Namun setitik cahaya menyebar dengan sangat cepat, bak sebuah ledakan bom. Mata si Oblak sempat dibuat silau oleh cahaya itu. Saat matanya kembali dapat melihat dengan normal. Pemuda itu, kini sudah berada di atas sebuah jembatan yang membentang di atas laut. Di ujung jembatan itu, tampak sebuah pulau yang dipenuhi oleh gedung-gedung tinggi.

Tiba-tiba, sebuah pusaran angin tornado meluluh lantahkan pulai itu. Angin itu, kemudian bergerak mendekati si Oblak dan supirnya, yang masih duduk di dalam mobil. Pemuda itu tersedot ke dalam pusaran angin yang berputar cepat itu.

Si Oblak ingin menjerit, namun seluruh tubuhnya masih tetap mematung. Dia hanya bisa membiarkan angin itu memutarnya dengan kecepatan yang melebihi laju sebuah lorel coaster. Si Oblak mulai kehilangan nafas. Sementara pandangannya mulai membiru. Dan sesaat kemudian dia kembali mengalami kegelapan.

“KYAAAAAA.....!!!!” Si Oblak menjerit, sesaat setelah dia terbangun dari tidurnya. Membuat supir pribadinya melonjak kaget.

“Ad... ada apa den?” tanya sang supir keheranan.

Si Oblak menatap sang supir, kemudian dia kembali menjerit ketakutan, sembari keluar dari dalam mobilnya.

***

CERITA 2: Penyanyi Wanita Yang Tenar Di Tahun Sembilan Puluhan

“Apa kau ingin melenyapkan sampah itu?” tanya makhluk berhidung bulat dan berbibir tersenyum itu.

“Jangan! Aku hanya ingin memberinya pelajaran saja. Aku tidak mau membunuh orang,” jawab wanita di hadapan makhluk itu. Wanita itu, adalah penyanyi yang namanya sempat meledak di periode sembilan puluhan.

Makhluk berkuncir itu, kemudian menyerahkan sebuah boneka kayu kepada wanita itu. Boneka seukuran tubuh bayi itu, berbentuk seperti manusia.

“Tulis saja nama orang yang ingin kau berikan pelajaran di wajah boneka itu dengan kapur atau pensil. Dan kau tidak akan kecewa,” ucap makhluk itu.

Wanita itu menyeringai. Kebenciannya terhadap lelaki melambay itu, telah menumpuk melebihi kapasitas yang dapat ditampung oleh hatinya. Dan kini, dia siap untuk mengeluarkannya. Agar hatinya kembali bersih dan tenang.

***

CERITA 1 part 2: Si Oblak Return

Sudah sekitar empat bulan, si Oblak tak lagi mengumbar lawakan-lawakan yang terlampau tajam. Membuat satu dua acara yang digawanginya, mengalami penurunan ratting. Hingga ada acara yang sampai melepas kontrak pelawak yang(masih) saja melambay itu.

Suatu hari, seorang produser sebuah acara talkshow, memperingati si Oblak, yang menjadi host acara tersebut. Dia meminta pemuda itu untuk mengembalikan ciri khas lawakannya yang dulu. Atau kalau tidak, umur talkshow yang dibawakan oleh pemuda itu tak akan berumur panjang.

Beberapa minggu kemudian, hampir semua produser yang membayar si Oblak menegur pemuda itu. Si Oblak tentu tak ingin kehilangan karirnya yang masih menanjak itu begitu saja. Dan dia, akhirnya memutuskan untuk kembali kepada gayanya yang dulu.

***

Oblak tengah membawakan sebuah acara talkshow yang memiliki jargon:

“Uleuk... alay gak sich?”

“Alay donk!”

Dia telah kembali menjadi dirinya sendiri. Dan ratting acara talkshow itupun otomatis kembali beranjak naik.

Si Oblak masih meluncurkan kalimat-kalimat sarkastiknya. Entah memang merasa lucu atau tidak, namun, semua bintang tamu yang hadir di dalam studio itu ikut tertawa mendengarnya. Begitupun dengan para penonton(bayarannya), yang juga tak ragu mengumbar tawanya saat mendengar lelucon dari pemuda itu.

***

CERITA 3: Pemuda Dengan Penyakit Aneh

Pemuda itu tengah mengarahkan tangannya yang dibentuk seperti sepucuk pistol ke arah layar TV di hadapannya. Hatinya, sedang dikacaukan oleh rasa jengkel dan amarahnya terhadap seorang host yang membawakan sebuah acara talkshow. Host yang merangkap sebagai seorang pelawak itu, hobi mengumbar kalimat-kalimat sarkastik dan aksi-aksi slapstick yang kelewat kasar sebagai ciri khasnya.

Tadi, pemuda itu baru saja bermimpi aneh. Dia bertemu dengan makhluk berwajah petruk yang memberinya kekuatan untuk membersihkan ‘sampah’ dari dunia ini. makhluk itu juga berjanji, jika penyakit kulit aneh yang diderita oleh pemuda itu, akan lenyap, setelah dia memakan biji berwarna merah yang keluar dari tangan makhluk itu.

Namun semua itu hanya mimpi. Membuat pemuda itu, semakin merasa jengkel saja. Dia masih mengarahkan tangannya ke layar TV.

“Dor!” gumam pemuda itu. Sesaat kemudian, dia merasa jantungnya meloncat, hingga membuat tubuh pemuda itu ikut terlonjak, dan terguling ke belakang sofa yang didudukinya. Sampai-sampai kepalanya membentur tembok.

Dia telah menghancurkan kepala si host itu. Sekaligus membuktikan kalau mimpinya tadi, bukan hanya sekedar bunga tidur biasa.

_END_


message 7: by Magdalena Amanda, Momod Usil (last edited Apr 05, 2013 09:22PM) (new)

Magdalena Amanda | 2330 comments Mod
Three Billy Trolls Gruff

Jembatan yang menjadi tujuan kami perlahan-lahan nampak di ujung jalan raya: sosok yang menjulang dengan jaringan pilar dan kabel-kabel baja menyangga sisi-sisinya. Kerlip-kerlip lampu menghiasi jembatan yang melintasi sungai terbesar kota ini. Tidak sebenderang lampu penerangan jembatan antar pulau di negara lain, memang, tapi masih cukup terang.

Jembatan itu sedang ditutup untuk sementara waktu. Bukan karena sedang diperbaiki, tapi karena … sebuah kasus.

Kasus pembunuhan brutal.

Ini kasus pertamaku sebagai asisten Niflheimsson bersaudara.

Aku duduk di kursi belakang mobil antik kira-kira pertama kali diproduksi tujuh puluh tahun silam. (Aku selalu khawatir mobil yang serba hitam ini mogok sewaktu-waktu dan tidak pernah hidup lagi, tapi sampai sekarang hal itu belum pernah terjadi.) Kedua majikanku, Harald dan Hilde, duduk di depan; Hilde yang menyetir.

Harald Niflheimsson adalah seorang pria yang tampak luarnya berusia tiga puluhan tahun. Rambutnya berwarna platinum alami, kulitnya kecokelatan seperti kulit orang sehat yang terbakar matahari—fakta yang kuketahui adalah warna kulit Master Harald lebih karena keturunan; dia tidak pernah berada terlalu lama di bawah cahaya matahari—dan tingginya yang hampir dua meter membuat pria itu seperti dijejalkan atau dilipat sedemikian rupa supaya muat duduk di bangku penumpang depan. Kacamata hitam berbentuk bulat nyaris tak pernah lepas menutupi kedua mata Master Harald. Jarang ada yang mengetahui warna mata Master Harald sebenarnya, kecuali aku yang telah tinggal sebulan bersama mereka, beberapa kenalan baik dua bersaudara ini, dan beberapa lainnya yang tidak hidup untuk memberitahu orang lain.

Hilde Nifleheimsson adalah seorang wanita yang tampak luarnya seperti remaja berusia tujuh belas-sembilan belas tahunan. Sama seperti Master Harald, rambut Mistress Hilde berwarna platinum, tapi kulitnya sangat pucat. Mata Mistress Hilde berbeda warna, yang kiri berwarna kelabu sedangkan yang kanan berwarna biru. Menambah kekontrasan di antara keduanya, tubuh Mistress Hilde tidak setinggi Master Harald. Tinggi Mistress Hilde hanya sekitar 150an senti, bisa tersusul dengan cepat ketika usiaku memasuki lima belas tahun nanti.

Apakah aku sudah bilang bahwa mereka berdua kembar? Belum? Ya, mereka berdua kembar.

Dan pasti aku tidak bilang tadi bahwa mereka berdua bukan manusia.

Mobil kami diparkir di tepi jalan sebelum memasuki jembatan. Sudah ada beberapa mobil lain di sana, tiga di antaranya adalah mobil polisi.

“Harry,” Mistress memanggilku seraya mematikan mesin mobil, “bawa turun kopernya”

Aku menyusul keduanya, baru sadar bahwa koper kulit yang diberikan padaku ketika berangkat tadi kupeluk sepanjang perjalanan.

Apakah aku takut?

Yah … sebulan tinggal dengan pasangan non-manusia sudah tidak membuatku takut lagi, tapi ini kasus pertama di mana aku terlibat dan aku tidak diberi tahu apa-apa selain bahwa kasus ini “sudah tak dapat dipecahkan oleh para manusia”.

“Mistress?” panggilku. Tinggal bersama dengan mereka mengajariku bahwa segala sesuatu yang perlu kutanyakan sebaiknya diajukan kepada Mistress Hilde. Master Harald sangat pelit mengeluarkan suara dan ketika mengatakan sesuatu, dia mengucapkannya dengan bahasa asing yang tak kupahami atau hanya satu patah kata yang dapat kupahami tapi malah membuatku semakin bingung.

“Yeah?”

“Tempat di atas sungai begini tidak masalah untuk kalian?”

“Aku dan Harald tidak bisa menyeberangi air mengalir secara langsung.” Mistress mengangkat bahu. “Tapi kalau melewati jembatan sih aman.”

“Oh …”

Papan-papan penanda untuk mencegah pengendara mobil memasuki jembatan, berjajar di ujung jembatan. Dua orang petugas polisi terlihat bergerak dari tempat jaganya masing-masing, berniat mencegat kami.

“Harald dan Hilde Niflheimsson, dari PBB, Biro Kontrol Spesialis Makhluk Non-Manusia, anggota Komite Non-Manusia,” kata Mistress Hilde. Saat si petugas melihat Master Harald dengan sedikit ngeri dan melontarkan pandangan kebingungan padaku, Mistress melanjutkan, “Kami diminta berbicara dengan Inspektur Hugo Barks dari bagian pembunuhan.”

“Ah … tunggu sebentar.”

Salah satu dari kedua petugas itu berlari ke tengah-tengah jembatan, menghampiri seorang pria berjas cokelat. Saat kembali lagi, si petugas kepolisian mempersilakan kami lewat dan menemui si pria berjas.

Pikiran pertamaku ketika melihat pria bernama Hugo Barks itu adalah kumisnya tebal sekali. Pikiran keduaku adalah model rambutnya kuno sekali. Mungkin itu masalah selera, mengingat usianya mungkin sudah empat puluhan tahun.

“Akhirnya kalian berdua datang juga,” gerutu Inspektur Hugo, terdengar seolah-olah ia mengucapkan setiap katanya setelah mengunyahnya terlebih dahulu. “Kenapa lambat sekali? Ini sudah korban kesembilan.”

“Kami hanya datang berdasarkan panggilan dari Kementerian Dalam Negeri kalian,” jawab Mistress. “Dan Kementerian biasanya baru menghubungi kami kalau kalian sudah menyatakan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Bukan salah kami kan?”

Inspektur Hugo menggeram. “Silakan. TKP ini milik kalian mulai malam ini. Kami akan membantu penyelidikan jika dan hanya jika ada permintaan dari kalian.” Ia tidak kelihatan senang ketika mengucapkannya.

Master Harald menggumamkan sesuatu pada Mistress Hilde.

“Ada mayat korban?”

“Yang terbaru, di sana.” Sang Inspektur menunjuk ke arah mobil ambulans yang terparkir tak jauh dari kami. “Oi! Jangan masukkan blankarnya! Ada yang mau lihat!”

Sementara Master Harald menuju ke tempat yang ditunjukkan Inspektur Hugo, Mistress Hilde menanyakan beberapa hal.

“Di mana mayat ketika ditemukan?”

“Digantung terbalik di atas sana.”

Aku mendongak, melihat ke puncak jembatan.

“Semua korban seperti itu?”

“Semuanya.”

“Pasti repot menurunkannya. Dengan apa mereka digantung?”

“Tali.” Inspektur menggosok hidung besarnya yang kelihatan berminyak. “Nah, itu. Talinya bukan tali tambang biasa. Hasil pemeriksaan kami menunjukkan tali itu terbuat dari ganggang. Jenis ganggang yang bisa ditemukan di sungai ini.”

“Sempat menelusuri jejak si pembunuh ke atas sana? Rutenya memanjat?”

“Nona.” Inspektur Hugo menarik napas. Aku otomatis melangkah mundur, dapat merasakan bahwa dia sedang menahan diri tidak meletus jengkel. “Salah satu anak buahku masih di rumah sakit karena tergelincir dan jatuh ketika dalam proses menurunkan tubuh korban. Anda berharap kami mempertaruhkan lebih banyak orang untuk mencari-cari sidik jari di atas sana?”

“Oh, maaf. Di luar batas kemampuan manusia ya.”

Mistress Hilde jelas tidak bermaksud menghina. Itu adalah salah satu spontanitasnya. Tinggal di antara manusia membuatnya lupa apa yang membedakan diri mereka dengan manusia dan apa yang membedakan manusia dengan diri mereka.

Wajah Inspektur Hugo merah padam ketika dia menjauh dari kami dan mulai merokok di pinggir jembatan. Master Harald kembali, membisikkan sesuatu pada Mistress. Aku dapat melihat petugas di dekat ambulans menutup kantong mayat kembali.

“Seperti apa kondisinya?” tanyaku, ngeri membayangkannya namun penasaran.

“Kau benar-benar ingin tahu?”

“Euh, ya …”

“Isi perutnya dimakan. Usus, lambung, pankreas, hati, ginjal.”

Gelombang rasa mual menghantam perutku begitu mendengar jawaban tersebut.

“Aku paham sekarang kenapa aku tidak boleh makan malam sebelum pergi tadi …,” kataku, memegangi perut.

Mistress melarangku menyantap makan malam. Sebagai gantinya, dia memotong sekotak keju cheddar menjadi empat bagian sama besar, memberikan dua untuk Master Harald, dan masing-masing satu untuknya dan untukku. Tambahan lainnya hanyalah segelas kecil anggur yang belum lama difermentasi, memberinya rasa manis-pahit yang dapat kutolerir.

“Perut yang kenyang tidak baik ketika sedang bertugas,” kata Mistress. “Pertama, kau jadi mudah muntah. Entah karena hal-hal seperti itu, atau karena kena tonjok di perut. Kedua, kau terjaga, tidak semengantuk jika kau kenyang. Ketiga, rasa lapar membuatmu mudah marah.”

“Hah? Apa bagusnya menjadi mudah marah?”

Mistress menyeringai.

“Rasa marah memberimu bensin untuk bertindak, tapi tidak berpikir. Rasa takut memberimu bensin untuk berpikir, tapi tidak bertindak. Yang terbaik adalah kombinasi dari keduanya. Pekerjaanmu mengharuskanmu berpikir dan bertindak. Paham, Harry?”

“Kurang lebih.”

Master Harald tiba-tiba melompat dari tempatnya berdiri. Ia melesat ke arah Inspektur Hugo yang tengah bersandar ke pagar pengaman jembatan. Bara rokoknya terlihat terang dalam suasana malam. Suara terkekeh aneh terdengar samar-samar …

Inspektur Hugo jatuh dengan keras akibat dorongan Master. Berdiri di tempat sang inspektur semula berada, Master tidak menghindar tepat pada waktunya, sesuatu dilemparkan dari sisi lain pagar pengaman, melingkari lehernya.

“Harald!”

Master mencengkeram sisi pagar, satu tangannya menahan tali yang menjerat lehernya, mencegah dirinya jatuh.

“Khek khek khek!”

Master menyentakkan tali yang menjeratnya sekuat tenaga, berbalik menarik si penjerat. Sosok si penjerat sempat terbentur salah satu pilar jembatan sebelum jatuh dan ditarik lagi oleh Master.

“Apa itu?!” teriak Inspektur Hugo. “Makhluk apa itu?!”

“Troll jembatan,” kata Mistress Hilde di sebelahku. “Jangan bengong, Harry.”

Tentu saja aku tidak sempat bengong.

Sementara Master Harald menghajar troll yang melompat berusaha menyerangnya, sosok lain melompati pagar pengaman jembatan, langsung melesat ke …

… arahku.

Makhluk cebol jelek itu membawa pisau kasar, hendak menikamkannya padaku.

“AGGGHHHH!!!”

Menjerit ngeri sekaligus kaget, otomatis aku mengangkat koper yang kupegang, melindungi diri dari tusukan. Pisau makhluk itu mengenai koper, mendorongku dengan kekuatan tusukannya.

“Khek khek—huuuugghhh!!!”

Tendangan Mistress Hilde mendarat telak di perut si troll, membuat tubuh makhluk itu terpelanting.

“Harald!” Mistress berseru memanggil kembarannya yang telah selesai mengurus troll yang pertama. Master baru saja selesai mengikat si troll dengan tali yang dipakai menjeratnya. “Bagianmu!”

Master berdiri, tak terburu-buru mendekati troll yang terkapar akibat tendangan Mistress. Begitu sudah dekat, Master Harald langsung menginjakkan kakinya ke punggung troll itu, lalu berlutut dan mengikat tangan si troll dengan sisa tali.

“Ayo kita ajukan sedikit pertanyaan pada mereka,” kata Mistress Hilde, menampakkan taringnya yang lebih panjang dari manusia normal ketika menyeringai.

Master Harald melempar troll terakhir yang telah terikat ke dekat troll pertama. Kami mendekati makhluk-makhluk itu. Inspektur Hugo bahkan ikut mendekat dengan revolver siap di tangan, kelihatan gugup dengan situasi ini.

Makhluk yang disebut “troll jembatan” itu bertubuh kecil, dengan perut buncit, kaki kurus berjari tiga, namun lengan yang berotot serta kokoh dengan tangan berjari lima. Rambut kasar menumbuhi sebagian kepalanya yang nampak licin berwarna kelabu-kehijauan dengan bintik-bintik hijau muda. Daun telinganya sangat kecil, lebih menyerupai jamur kuping ketimbang daun telinga sungguhan, sementara hidung mereka besar dan bulat. Saat membuka mulut, gigi mereka yang berantakan terlihat.

“Oke.” Tanpa meminta ijin, Mistress Hilde menyambar revolver dari tangan Inspektur Hugo. Sang inspektur gelagapan, hendak protes, namun mengurungkannya kemudian. Mistress mengarahkan moncong revolver ke kepala kedua troll jembatan secara bergantian. “Aturan pertama kaum seperti kalian adalah ‘tidak menyerang manusia, baik secara fisik maupun verbal’. Peraturan kedua adalah ‘tidak memakan daging manusia atau organ lainnya, kecuali jika manusia tersebut telah mati dan secara tertulis menyatakan diri bersedia dikonsumsi’. Apa alasan kalian melanggarnya, hm?” Ujung moncong revolver berhenti di troll yang lebih kecil.


message 8: by Magdalena Amanda, Momod Usil (last edited Apr 05, 2013 09:50PM) (new)

Magdalena Amanda | 2330 comments Mod
“Jangan. Jangan aku,” kata troll itu dengan suara seperti lumpur berdeguk. “Aku terlalu kecil. Ada yang lebih besar.”

Pertama kalinya bertemu makhluk bukan manusia selain kedua majikanku, beberapa vampir, dan beberapa manusia serigala, aku baru tahu bahwa selain makhluk-makhluk yang kusebutkan tadi, makhluk non-manusia lainnya pun bisa berbahasa manusia.

“Kau kalau begitu.” Mistress Hilde mengarahkan revolver ke troll yang satu lagi, yang tubuhnya memang lebih besar. “Hukuman untuk pelanggaran peraturan kaum non-manusia sangat berat.”

“Jangan aku. Jangan,” kata troll itu. “Aku terlalu kecil. Masih ada yang lebih besar.”

“HOI!” Mistress menyodokkan ujung moncong revolver hingga masuk ke mulut si troll, nyaris membuat makhluk itu tersedak. Inspektur mengerang jijik melihat perlakuan terhadap revolvernya. “Aku setengah vampir, tapi aku tidak sesabar mereka kalau mengurusi makhluk-makhluk dungu biadab seperti kalian. Jawab yang benar!”

BUM.

“Mistress …” Suaraku berubah menjadi cicitan. Tidak perlu spesialis untuk langsung menyadari bahwa suara itu berasal dari belakang kami. Sebuah hentakan kuat langkah-langkah makhluk berukuran besar.

Kami berbalik.

Jævla rasshøl …

Mistress Hilde baru saja mengucapkan kata-kata dalam bahasa asing, tapi aku sudah dikenalkan pada kata umpatan kasar yang satu itu.

Inspektur dan para petugas yang melihat kedatangan makhluk itu berteriak kaget.

“Sterilkan tempat ini!” perintah Mistress. “Cepat! CEPAT!”

Makhluk yang telah memanjat sisi lain jembatan ini yang lebih memenuhi bayanganku akan seperti apa troll itu.

Troll yang satu ini berkaki pendek, dengan tiga jari. Lengan-lengannya yang berotot panjang hingga menyentuh tanah, setiap jarinya hampir sebesar lenganku, kuku-kukunya tumpul seperti digigiti. Kepalanya botak, licin dan dihiasi banyak bercak dengan kulit berwarna kelabu-kehijauan. Mata merahnya menyala-nyala dalam keremangan.

Tinggi makhluk ini dua meter lebih sedikit, kurasa …

“HRAAAGGGHH!!!”

“Harry, menjauh!”

Aku berlari menjauhi Master dan Mistress, sesekali menoleh ke belakang. Meskipun diperintahkan untuk menjauh, itu bukan berarti aku diperintahkan untuk melarikan diri. Aku adalah asisten Master Harald dan Mistress Hilde. Tugasku adalah membantu mereka sebisa mungkin dan menuruti perintah mereka dengan akurat untuk kelancaran misi.

Sang troll raksasa menerjang. Master Harald maju meladeninya. Serangan pertama dilancarkan troll raksasa. Master mengelak, merangsek maju dengan kuda-kuda seorang petinju. Ia membalas dengan pukulan straight, telak mendarat di hidung sang troll. Sesaat ketika kukira Master telah memperoleh keunggulan dalam pertarungan ini, keadaannya berbalik.

Kedua tangan sang troll mencengkeram kepala Master, menariknya menjauh, dan kemudian menghantamkan wajah Master Harald ke dahi sang troll. Menariknya menjauh lagi, lalu hantamkan. Lengan panjang si troll raksasa memperparah efek serangan itu. Kacamata hitam Master remuk setelah dua hantaman.

“Harry! Gambar lingkaran sihir untuk segel!” Mistress Hilde membidikkan revolver yang masih dipegangnya, ragu-ragu untuk menembak.

“Tapi aku tidak bisa sihir!” sahutku.

Aku dilahirkan tanpa berkah sihir. Ketika teman-temanku dapat melihat gugus rune yang menghiasi langit malam, aku tak melihat apapun selain langit yang gelap gulita. Seluruh anggota keluargaku menerima berkah sihir. Kecuali aku. Kukira aku akan terpaksa menjalani hidup normal selayaknya manusia tanpa berkah sihir, tapi kemudian orang tuaku membawaku menemui beberapa orang, mengkonsultasikan kondisiku, hingga akhirnya tibalah aku di kediaman Nifleheim bersaudara.

Mereka berdua mengatakan bahwa aku “istimewa” dan aku diterima menjadi asisten mereka justru karena aku terlahir tanpa berkah sihir.

“Bukan kau yang akan mengaktifkan segelnya. Buat saja! Yang besar!”

Aku meletakkan koper di tanah dan berlutut. Ada nomor kombinasi yang mengamankan koper itu. Aku segera memutar nomor di kedua kunci sekaligus. Koper ini bukan koper biasa yang akan terbuka jika kombinasi di kunci kiri dan kunci kanannya sama. Kombinasi untuk membuka koper ini justru berbeda antara kunci kiri dan kunci kanannya.

DOR. DOR.

Dua letusan. Mistress menembak ketika akhirnya Master dihempaskan ke samping oleh si troll. Aku tidak dapat memastikan tembakannya kena atau tidak.

Kunci-kunci koper menjeplak terbuka. Instrumen-instrumen aneh yang diletakkan di ceruk yang pas dengan bentuk dan ukuran masing-masing instrumen terpampang di dalam koper. Aku mengambil wadah berisi kapur putih, mengeluarkan sebatang, kemudian mengeluarkan alat yang terdiri atas penjepit kapur dengan mekanisme sekrup untuk mengencangkan penjepit yang terhubung dengan sejenis pasak mekanik yang akan membuka membentuk kaki-kaki yang otomatis memancang posisi pasak jika aku menekankannya di permukaan padat. Aku memasang kapur, harus memposisikannya agar tidak mematahkan kapur ketika menggunakannya untuk menggambar sekaligus tak boleh menjepitnya terlalu longgar atau terlalu keras.

Aku sudah melatih ini … Aku sudah melatih ini … Jangan grogi …

“GROOOOOOAAAAAAAAARRRRRRRR!!!”

Raungan Master Harald membuatku terpaksa menutup telinga. Di kejauhan, sosoknya berubah dengan cepat. Sedetik yang lalu manusia, detik berikutnya bulu-bulu tumbuh di sekujur tubuhnya, dan dengan proses distorsi mengerikan kepala manusianya berubah menjadi kepala seekor serigala raksasa. Master Harald yang telah sepenuhnya berubah ke dalam wujud manusia serigalanya menerkam si troll. Raungan, geraman, dan salakan silih berganti.

“Lingkaran sihir,” gumamku pada diri sendiri, mengingatkan pada tugasku.

Aku menarik pasak dan penjepit kapur. Sebuah tali, yang tadinya tergulung di dalam pasak, terulur keluar, mirip seperti meteran pengukur. Aku memasang pasak dan mulai menggambar sebuah lingkaran besar, memanfaatkan alat tersebut seperti sebuah jangka.

Pertempuran antara Master Harald dan troll raksasa mulai menunjukkan posisi siapa yang lebih unggul. Mistress Hilde hanya dapat sesekali membantu dengan sihir api. Dalam kasus seperti ini, separah apapun kejahatan yang dilakukan oleh pelaku, kami dilarang keras membunuh tersangka kecuali diijinkan oleh Komite. Itu sebabnya Master dan Mistress menahan diri.

Selesai dengan lingkaran, aku melepaskan kapur dari “jangka” dan mulai menggambar sebuah heksagram.

Ya. Heksagram. Bintang segienam. Padahal biasanya lingkaran sihir menggunakan bintang segilima.

Sang troll mulai kewalahan. Tinggal langkah terakhir memancingnya ke dalam lingkaran sihir.

Aku belum hafal bentuk rune yang harus kutuliskan di antara sudut masing-masing bintang, jadi aku harus menggambarnya sambil meniru contoh di buku panduan yang termasuk dalam paket perlengkapan di dalam koper. Latihan menghafal dan menggambar rune sebulan ini membuatku sanggup mengerjakannya dengan cepat.

Selesai.

“Mistress!” teriakku. “Lingkaran sihirnya sudah siap!”

“Bagus! Harald! Dorong dia!”

Aku membereskan instrumen secepat mungkin, menutup koper, dan berlari menyingkir. Diiringi raungan ganas, Master Harald, masih dalam wujud manusia serigalanya, memukul dada si troll dengan telapak tangan. Makhluk itu terhuyung-huyung, tapi masih belum berada di dalam lingkaran. Mistress Hilde telah menunggu di dekat lingkaran, merapal serangkaian mantera yang membuat lingkaran sihir menyala.

Master membiarkan si troll menyeimbangkan diri sebelum menubrukkan bahunya ke dada si troll. Makhluk itu terjengkang ke dalam lingkaran sihir.

Cahaya garis-garis lingkaran sihir semakin terang. Aku memicingkan mata dan memalingkan wajah karena silau. Mistress Hilde mengucapkan satu kata terakhir untuk prosesi penyegelan.

“Nah, selesai sudah.”

Aku membuka mata.

Lingkaran sihir yang kugambar menghilang dari permukaan jalan, menyisakan asap tipis seolah-olah garis kapur yang tadinya ada di sana terbakar. Mistress meraih sebuah bola kristal sebesar bola bowling dari dalam bekas lingkaran sihir. Ada sesuatu yang terlihat seperti pusaran hitam dengan tepian bergradasi ungu di dalam bola kristal itu.

“Oke, Harry. Nomor 666 dan 999,” katanya mendiktekan sandi koper.

Aku memutar nomor sandi sesuai ucapan Mistress Hilde. Kunci koper sekali lagi menjeplak terbuka, tapi yang ada di dalamnya adalah …

… kehampaan.

Bagian dalam koper hitam, seperti sebuah lubang tak berdasar. Mistress mengambil ancang-ancang, lalu melempar bola kristal ke dalam koper seperti pemain bisbol. Begitu bola kristal memasuki lubang di dalam koper, koper menutup dengan sendirinya, lepas dari tanganku dan jatuh dalam keadaan terkunci dan nomor sandi teracak kembali.

“Biar Komite yang mengurus harus diapakan troll besar itu. Harald? Oi, mau ngapain lagi?”

Master Harald, telah kembali ke wujud manusia sepenuhnya—kemeja dan jasnya compang-camping nyaris tak bersisa—menghampiri dua troll kecil yang masih terikat. Dengan enteng, ia mengangkat kedua makhluk tersebut, dan melempar mereka ke sungai dari sisi jembatan, lalu kembali kepada kami.

“Kau kelihatan parah,” komentar Mistress. “Harry, 842 dan 470.”

Begitu koper terbuka, tampak di dalamnya satu stel kemeja putih, jas, dan celana panjang berwarna hitam. Mengeluarkan lebih banyak benda di dalamnya, aku menemukan pakaian dalam dan kacamata hitam berbentuk bulat persis seperti yang dikenakan Master Harald. Aku menyerahkan kemeja, jas dan kacamata pada Master Harald. Ia langsung mengenakan kacamatanya pertama kali, menutupi kedua matanya yang berwarna kuning dan berpupil kecil seperti seekor serigala.

“Dua troll kecil itu tidak apa-apa dibiarkan lepas?” tanyaku.

“Tidak apa-apa,” jawab Mistress. “Mereka tidak berbau darah manusia. Mereka hanya menjerat orang yang berdiri di pinggir jembatan atas perintah yang lebih besar. Yang lebih besar yang kita tangkap tadi yang memakan manusia.” Mistress Hilde mengetuk-ngetukkan jarinya ke dagu.

“Oh …” Indera penciuman Master dan Mistress sangat peka hingga dapat membedakan darah atau aroma dari makhluk apa yang tengah mereka endus.

“Apa aku sudah pernah bilang kalau perlengkapan membuat lingkaran sihir dan pakaian bukan hal magis, jadi kau harus selalu mengecek apakah sudah masuk koper atau belum?”

“Yang perlengkapan sudah. Tapi aku tidak tahu sampai ada pakaian di dalam koper,” kataku.

“Perlengkapan membuat lingkaran sihir dan pakaian kami berdua adalah hal terpenting yang harus kau persiapkan sebelum pergi bertugas.” Mistress Hilde menegaskan. “Transformasi kami akan sering mengorbankan pakaian dan kami bukan orang nudis yang suka bugil di sembarang tempat. Pastikan ada pakaian cadangan di dalam sana.”

“Baik.” Aku menatap koper yang kubawa.” Yang lubang hitam tadi itu?”

“Itu lubang antar dimensi, langsung terhubung ke kantor pusat Komite. Hanya bisa untuk mengirim, tidak bisa untuk menerima.” Mistress Hilde terdiam sejenak. “Oh, iya … Sedang ada anggota Komite di kantor tidak ya? Aku melempar bola kristal sebesar bola bowling sembarangan ke kantor, padahal tidak ada yang pernah bisa memastikan di bagian mana kantor ujung lubang dimensi akan muncul. Jangan-jangan ada yang kepalanya kena timpuk …”

“Terlambat, Mistress …,” kataku. “Mungkin memang sudah ada yang tertimpuk …”

“Yah … Aku akan minta maaf kalau ada yang mengeluh benjol nanti.” Ia mengangkat bahu. Master Harald telah selesai berganti pakaian, menyodorkan buntalan sisa-sisa pakaiannya padaku untuk disimpan dalam koper (kurasa aku akan minta ijin untuk menjadikan sisa-sisa kain itu sebagai lap). “Kasus selesai. Ayo kita pulang dan makan malam. Mau kaserol? Kaserol jeroan?”

“Ada menu lain?” desisku jeri mendengar kata “jeroan”.

“Kita mampir di restoran burger saja kalau begitu.”

“Lebih bagus.”


message 9: by Maximilian (new)

Maximilian Surjadi (maxorient) | 92 comments Lonely Bridge

Satu hembusan napas dari mereka yang telah meninggal akan membuat darahmu menjadi sungai es. John Glynt mengetahui dengan baik kebenaran dari pepatah itu. Tentu saja. Setiap detik ia harus merasakan hembusan napas sedingin es di tengkuknya.

Roh manusia biasanya akan pergi meninggalkan dunia ini ketika mereka meninggal, tapi John Glynt mempelajari bahwa ada beberapa pengecualian. Dalam kasusnya, seorang bodoh bersumpah untuk terus menemani dirinya selama ia hidup. Orang bodoh ini tidak lain adalah kawan dekatnya Alan.

Mereka berdua merupakan veteran perang yang terlupakan. Pahlawan-pahlawan yang ditipu dengan janji kemasyhuran atau begitulah kata Alan berulang-ulang. Pria itu tidak pernah lelah untuk terbang tepat di belakang dirinya dan membisikkan tentang bagaimana mereka seharusnya dikenang.

Walaupun pada kenyataannya John masih hidup, tetap saja ia tidak lebih dari hantu di mata orang-orang. Tidak ada yang peduli pada sosok masa lalu ini. Seorang veteran perang dengan jaket lusuh dan sepatu bot tua. Ia menyusuri jalan-jalan tanpa ada yang memperhatikan dirinya.

Saat ini kakinya telah membawa ia ke sebuah kota kecil di sisi sungai. Bangunan-bangunan batu dengan genting merah bata yang tersusun rapih mengatakan bahwa kota ini cukup makmur. Pedagang-pedagang membuka kedai di sepanjang sisi jalan, sibuk menawarkan barang mereka ke keramaian. Seluruh bangunan tertata rapih sesuai dengan jalan besar yang melintasi kota ini dan berlanjut hingga ke sebuah jembatan batu panjang yang menjadi batas akhir dari kota kecil ini.

Ketika John menelusuri jalan ini dengan hening, tanpa sengaja ia menabrak seorang tentara muda dan terjatuh. Wajahnya yang bersih tanpa bekas luka sedikitpun memandang John dengan jijik.

“Lihat kemana kau berjalan, gelandangan!” bentaknya dengan senyum yang menghina.

“Sungguh tidak tahu diri! Apakah kerajaan kita sekarang hanya dijaga oleh bocah ingusan seperti dirinya. Kita tidak menderita agar bocah-bocah seperti dia bisa berlagak sok hebat,” bisik Aslan tepat di telinga John, “Lihatlah baju besinya yang mengkilap. Lihatlah sepatu botnya yang masih mulus. Bocah ini belum pernah terjun ke pertempuran dan ia berani memperlakukan dirimu seperti ini. Apakah kau hanya akan diam saja?”

Pemuda itu masih melihat dirinya dengan pandangan penuh hinaan, “Dasar sampah. Kami sudah susah-susah menjaga kedamaian agar pengemis seperti dirimu bisa hidup tanpa kesulitan. Tunjukkanlah sedikit penghargaan,” cemooh dirinya.

Pemuda itu hendak menginjak John ketika Aslan menghentikannya.

“Itu sudah keterlaluan. Hajar dia!” kali ini Aslan sudah melayang ke belakang pemuda itu. Tentu saja pemuda itu tidak dapat melihat Aslan, tapi keberadaan Aslan langsung membuat wajah si pemuda berubah pucat.

Dengan kuat John langsung menarik kaki si pemuda hingga pemuda itu terjatuh.

“Bagus!” teriak Aslan bersemangat sementara beberapa tentara lainnya yang melihat hal tersebut langsung berdatangan.

John langsung bangkit, “Ini terakhir kalinya aku melakukan saran seorang hantu,” bisiknya sinis.
Tentara-tentara yang ada di sini hanyalah amatir yang tidak sebanding dengan John. Sebelum mereka sempat menghunus pedang mereka, John sudah menerjang salah satu dari mereka. Veteran ini langsung menghantamkan kepalanya ke hidung salah seorang tentara dan merebut pedangnya.

Tentara lainnya ia lumpuhkan dengan hantaman gagang pedang ke wajah. Sementara tentara terakhir yang ada di jalan itu ia jatuhkan dengan tinjuan ke perut. Dalam waktu sekejap hanya terdengar suara rintih kesakitan dari tiga orang tentara amatir tersebut.

Sekarang John berdiri dengan tegap di hadapan pemuda yang mencemooh dirinya. Pemuda lembek itu pucat pasi. Dengan wajah yang lebih keras dari batu karang dan pedang di tangan, siapa yang tidak takut terhadap John Glynt?

Dengan satu hentakkan, John menancapkan pedang itu tepat di antara paha si pemuda. Dalam sekejap pandangan pemuda itu menjadi kosong dan ia jatuh pingsan karena ketakutan.

Para penduduk berkerumun melihat hal itu. Keberadaannya yang seperti hantu langsung disadari setiap orang. Dan ia yakin ia tidak akan diterima di kota ini setelah apa yang ia lakukan.

Sambil menghela napas John menunduk dan menghindari tatapan para penduduk kota. Ia bergegas untuk meninggalkan kota kecil tersebut.

“Kerja bagus, Glynt. Kau menunjukkan pada mereka seperti apa tentara sesungguhnya,” bisik Aslan yang melayang di sisinya.

John hanya bisa menggerutu. Kenapa ia mengikuti saran Aslan? Ia seharusnya bersikap tenang dan sabar. Itulah perbedaan mereka. Itulah yang membuatnya tetap hidup sampai sekarang.

John melirik Aslan. Penampilan pria itu tidak pernah berubah sejak saat kematiannya. Masih gagah mengenakan baju besi lengkap dengan helmnya. Hanya saja perutnya terkoyak oleh seorang penombak berkuda. Pria itu tangguh, tapi ia selalu gegabah dalam menyerang.

“Hei! Tuan pengembara! Tunggu sebentar!”

Sebuah seruan membuat ia menghentikan langkah kakinya. Ia melihat seorang pria mengejar dirinya. Pria itu memiliki kumis yang diminyaki dan pakaian yang jelas-jelas mahal. John menebak ia merupakan seorang pedagang sukses.

Ia menghentikan langkahnya dan membiarkan pria itu menghampiri dirinya.

“Tuan pengembara, aku melihat dirimu mengatasi orang-orang tadi. Kau mengagumkan. Pemuda-pemuda congkak itu memang perlu diberi pelajaran sekali-kali.”

John langsung mencurigai kata-kata manis pria itu. Ia yakin pria itu punya agenda tersembunyi.

“Ah, di mana sopan santunku. Aku bahkan lupa memperkenalkan diriku sendiri. Namaku adalah Francis Iron. Aku adalah seorang pengusaha dari ibukota,” kata pria itu sambil membungkukkan tubuhnya.

“Glynt, John Glynt,” kata John singkat.

“Tuan Glynt,” kata Francis dengan nada dimanis-maniskan, “Anda memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. Apakah anda tertarik untuk sebuah pekerjaan? Anda tidak perlu menjawabnya dulu. Tinggalah di sini sebentar. Tenang saja akomodasi anda akan saya tanggung.”

“Sebuah kebetulan yang hebat, Glynt. Kita dapat memanfaatkan kantong uang berkumis ini.”

Glynt tidak menyukai ini, tapi ia harus mengakui bahwa Aslan benar. Pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk singkat. Francis langsung tersenyum lebar.

“Keputusan yang bagus, tuan Glynt. Anda tidak akan menyesalinya. Mari saya antar anda ke kamar anda.”

***

Francis mengantar John ke sebuah penginapan di sisi sungai. Ia dapat mengatakan ini bukan penginapan yang murah. Perabotannya merupakan hasil pengerajin yang rapih dan mead yang disajikan juga menyegarkan. Kamar yang John tempati terletak di lantai tiga dan memiliki pemandangan ke jembatan batu. Entah apa yang direncanakan Francis dan peran yang akan ia jalankan. John hanya bisa menunggu sampai pria itu membuka rencananya.

Untuk sesaat ia berdiri dan mengamati pemandangan tersebut. Ada satu hal yang menarik perhatiannya. Di tengah-tengah orang yang menyeberangi jembatan, terdapat seorang gadis muda. John dapat mengetahui dalam sekejap bahwa gadis itu merupakan roh yang masih menghantui dunia ini. Inilah kemampuan yang ia miliki sejak kecil. Ia dapat melihat dan mengenali roh-roh yang bergentayangan.

Ia sudah sering dan terbiasa melihat jiwa manusia, tapi ada satu hal yang berbeda dengan roh gadis tersebut.

Ketika matahari sudah mulai menenggelamkan dirinya di barat, anak-anak berlarian dari seberang jembatan dan kembali ke kota. Seorang anak tanpa sengaja tersandung di jembatan batu tersebut. Anak itu sudah pasti akan menghantam jalan batu dengan keras, tetapi hal itu tidak terjadi. Dalam keterkejutan John, ia melihat roh gadis itu menahan si anak sesaat sebelum tubuhnya membentur batu. Anak itu mendarat dengan amat pelan tanpa terluka sedikitpun.

Anak itu menangis dan ibunya dengan cepat menghampiri. Tentu saja sebenarnya hal yang membuat anak itu menangis adalah sentuhan dingin si roh. Roh gadis itu sendiri langsung menjauh, mengetahui bahwa keberadaannya mengganggu anak itu.

Pemandangan itu membuat John terkesima. Ia amat jarang melihat roh membantu orang yang masih hidup. Rata-rata roh penasaran hanya terobsesi dengan tujuan mereka yang tidak tercapai. Bilapun mereka membantu makhluk yang hidup, itu hanya untuk mencapai tujuan mereka. Seperti Aslan, walaupun pria itu lebih banyak mendatangkan masalah (bahkan dalam bentuk hantu).

Untuk sesaat John terus memandang ke arah jembatan batu tersebut. Meskipun malam sudah turun dan jembatan menjadi sepi, gadis itu terus berada di sana. Seakan-akan ia berpatroli, menjaga jembatan itu.

John menggelengkan kepalanya dan memutuskan untuk tidur lebih awal. Ia mengusir Aslan dari ranjangnya dan menyuruh hantu itu untuk tidur di lantai (lagipula Aslan tidak dapat merasakan bedanya).

Banyak hal menjadi misteri bagi dirinya hari ini, tapi bulu angsa yang lembut mengusir kewaspadaannya. Sudah lama ia tidak merasa senyaman ini. Ia memejamkan matanya dan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa malam ini adalah malam yang indah.

Keesokan paginya John bangun dengan segar. Seorang pelayan datang dan mengantarkan sarapan bagi dirinya. Hari tampak begitu cerah seakan tidak mungkin hal buruk dapat terjadi hari ini. Ia melahap roti bakar dan teh yang disediakan pelayan (sementara Aslan terus berkomentar tentang bagaimana kemewahan macam ini hanya didapat oleh petugas militer selama mereka bertugas).

Hingga saat ini Francis Iron sama sekali tidak terlihat. Karena hal itu, John memutuskan untuk meregangkan kakinya. Ia mengenakan sepatu bot tuanya dan berjalan keluar, menikmati udara pagi. Tentu saja dengan diikuti oleh Aslan.

Ia menemukan bahwa rasa penasarannya kemarin malam masih ada. Tanpa ia sadari, kakinya sudah membawa dirinya ke jembatan batu di sisi kota. Jembatan itu sudah dilalui oleh kereta-kereta kuda yang membawa berbagai barang dagangan.

Tanpa peringatan Aslan menghembuskan napas esnya, “Lihat, Glynt. Itu adalah seorang pria yang amat beruntung. Sama seperti Helen, oh, ia adalah wanita yang amat setia.”

John segera menemukan apa yang dimaksud Aslan. Pemandangan dua orang pasangan yang dipertemukan kembali. Seorang wanita berlari menyongsong suaminya yang baru saja pulang dari perjalanan jauh. Mereka berpelukan dan tampak tersenyum dengan penuh kebahagiaan.

“Kau tahu, Aslan. Seandainya kau bisa langsung pergi meninggalkan dunia ini, begitu saja, dengan damai, mungkin kau tidak perlu menjadi bahan kekhawatiran Helen,” sindir John, “wanita itu masih setia menunggu dirimu untuk pergi dengan damai.”

Aslan langsung menggerutu, “Tidak bisakah kau mengatakan bahwa aku sudah pergi.”

“Maaf, Aslan. Aku seorang pria yang jujur.”

“Ah, tidak apalah. Lagi pula aku tidak akan tahan melihat dia dengan pria lain.”

Saat itu John sudah tidak memperhatikan perkataan Aslan lagi. Matanya tertuju pada seorang gadis berkulit pucat yang duduk di pinggir jembatan. Gaunnya yang berwarna putih mengambang seakan tertiup angina yang tidak alami. Ia masih amat muda, mungkin baru saja beranjak masuk dalam usia kedewasaan. John tidak pernah menyukai pemikiran tentang anak-anak muda yang harus mati sebelum orang tua mereka.

Tanpa mempedulikan ocehan Aslan mengenai kehidupan romannya, John menghampiri gadis itu dan duduk di sisinya.

Gadis itu sama sekali tidak menyadari John. Pandangannya terpaku pada hal lain dan mulutnya menyunggingkan sebuah senyum. Bukan senyum yang menyenangkan, tapi senyum yang pahit.

“Apa yang dapat membuat seorang arwah tersenyum?” Tanya John sambil menatap gadis itu.

Gadis itu tersentak kaget dan balik menatap John. Ia tampak kebingungan sebelum akhirnya membalas, “K-Kau bisa melihat diriku?” bisiknya dengan amat pelan.

John tidak langsung membalasnya. Ia menoleh pada objek perhatian gadis itu, pertemuan kedua pasangan yang saling mencintai.


message 10: by Maximilian (new)

Maximilian Surjadi (maxorient) | 92 comments “Kelihatannya kau sangat akrab dengan jembatan ini. Mengawasi apa yang terjadi di atasnya sepanjang hari, bahkan mungkin menjauhkan orang-orang dari bahaya..” John membiarkan kata-katanya menggantung.

Gadis itu melihat John dengan gugup, “Apa yang kau i-inginkan dariku?”

“Membantumu untuk mendapatkan apa yang kau inginkan.”

Tiba-tiba John meraih tangan gadis itu, jemarinya seakan menyentuh kabut dingin yang pekat. Dalam sekejap pandangannya menjadi buram dan menghitam.

Dengan paksa ia telah masuk ke dalam kenangan gadis itu. Suara deru air bercampur dengan teriakan panik mengisi telinganya. Saat ini ia tengah melihat melalui mata si gadis ketika ia masih hidup.

Dua orang pria dewasa memegangi tangannya dan mengekangnya. Usahanya untuk membebaskan diri membuat perahu dayung yang ia naiki berguncang-guncang.

“Kita sudah sampai, cepat sebelum arusnya menjadi ganas!”

Tanpa peringatan mereka menarik dirinya secara paksa. Sekarang ia dapat melihat pemandangan di depannya. Para pria tersebut ingin memindahkan dirinya ke atas sebuah pilar batu di tengah sungai. Di atas pilar itu seorang pria berjubah putih sudah menunggu.

Mereka memaksa si gadis untuk berlutut di tengah permukaan pilar. Sementara itu pria tersebut tampak mengeluarkan sebilah pedang dari balik jubahnya. Pada saat inilah si gadis mengetahui nasibnya. Angin malam yang dingin menusuk kulitnya sementara ia terisak dalam ketakutan.

John terbangun dari bayangan tersebut. Tubuhnya sudah jatuh tersungkur dan kepalanya serasa berputar-putar tidak karuan. Aslan tampak melayang di depan dirinya dengan tangan disilangkan. Sementara itu si gadis masih duduk di sisi jembatan dan memandangnya dengan takut-takut.

Dengan buru-buru, ia berusaha bangkit. Ia langsung menatap tajam roh gadis itu.
“Kau. Kau dijadikan persembahan untuk menenangkan sungai ini. Karena itukah kau tidak bisa pergi?”

Gadis itu hanya membeku di tempat. Ia sama sekali tidak punya keberanian untuk menjawab.
“John, sebaiknya kau merapikan dirimu. Lihat siapa yang datang.”

Tiba-tiba Aslan memberikan peringatan pada dirinya. John menoleh dan dapat melihat Francis datang ke arahnya. Kali ini pedagang itu ditemani oleh seorang berjubah hitam dengan wajah bengis. Dengan dua bilah pedang yang terikat di sabuknya dan baju pelindung kulit di balik jubahnya, John dapat mengatakan si jubah hitam adalah seorang tentara bayaran, mungkin juga pembunuh.

“Tuan Glynt, senang bisa bertemu denganmu. Kau tampak kurang sehat, mungkinkah kau terlalu banyak minum anggur tadi malam?”

Francis membuka pembijaraan dengan kata-katanya yang manis.

“Apa kau yakin ia cukup bagus untuk tugas ini? Ia tidak terlihat meyakinkan,” potong si pria dengan jubah hitam.

“Tolong jangan langsung menghakimi, Tuan Slind. Aku pernah melihat ia menangani tiga orang penjaga kota tanpa meneteskan sebutir pun keringat.

Orang yang dipanggil Slind hanya mendengus, “Kita lihat saja nanti.”

Francis tertawa pelan, “Kelihatannya, Tuan Slind masih tidak yakin dengan keahlian dirimu. Mari, ikutlah dengan kami. Aku akan menjelaskan tentang pekerjaanmu hari ini.”

John sama sekali tidak mengatakan apapun. Ia hanya mengikuti kedua orang tersebut dan meninggalkan roh si gadis yang kebingungan di belakangnya.

“Seorang pengusaha jahat dan tentara bayaran jahat. Ini tidak kelihatan bagus, Glynt.”

“Kaulah yang pertama kali mengatakan ini ide yang bagus,” bisik John pada Aslan.

“Aku hanya mencoba untuk rasional,” Aslan membela dirinya.

“Akan mengagumkan bila kau dapat berpikir dengan kepalamu,” bisik John sambil menghela napas.

Kedua pria itu membawanya kembali ke penginapan, tapi kali ini alih-alih memasuki kamar, mereka masuk ke ruang bawah tanah penginapan. Tidak ada yang mengejutkan John. Diterangi dengan lentera dan obor, orang-orang berkumpul dalam ruangan itu. Bukan orang-orang yang bekerja dengan jujur tentunya.

Di tengah-tengah kerumunan kecil itu terdapat sebuah meja kayu yang cukup besar. Salah seorang dari kerumunan itu maju ke depan dan mengeluarkan sebuah gulungan perkamen dari tasnya. Ia membuka gulungan tersebut dan tampaklah sebuah gambar rancangan jembatan.

John melangkah sedikit ke depan, lembar perkamen itu telah menarik perhatiannya. Ia yakin itu adalah rancangan jembatan kota ini sendiri.

Pria itu memiliki tubuh yang menurut John, seperti tikus. Ia pendek, mengenakan tudung lusuh dan bicaranya seperti mencicit.

“Tuan, untuk merubuhkan jembatan ini kita memerlukan bubuk mesiu pada titik ini dan ini,” pria kecil itu menunjuk pada titik fondasi jembatan di denah.

“Apa kau memiliki cukup bubuk mesiu?” Tanya Francis dengan tenang.

“Didatangkan langsung dari tanah selatan, cukup untuk meledakkan sebuah kastil,” cicitnya sambil terkekeh licik.
“Tunggu, apa dia baru saja mengatakan bubuk mesiu dari tanah selatan!” Aslan berteriak panik, “Mereka bersekongkol dengan kerajaan musuh!”

John tetap memasang wajah datar seakan-akan ia tidak mendengar Aslan.

“Sekarang satu-satunya masalah adalah para tentara, tapi tentu itu dapat dikendalikan. Bukan begitu, tuan Glynt?” tiba-tiba Francis menoleh pada John, “Kau akan menangani para tentara, sementara yang lain menyiapkan bubuk mesiu. Kau akan menghajar para tentara tidak tahu diri itu, bukan?”

“Dengan senang hati,” jawab John cepat dan tanpa emosi.

***

Di tengah kegelapan malam, John berjalan perlahan menuju jembatan. Ikat pinggangnya berat oleh pedang baja dan kantung yang penuh koin perak. Aslan mengikuti dirinya dengan tidak senang. Ia sama sekali tidak suka dengan ide untuk membantu musuh mereka, tapi hantu itu terjebak untuk terus mengikuti John.

Udara yang dingin terasa berat dan kabut sudah turun dan memenuhi daratan. Hanya dengan bantuan sinar bulan, John melihat dua orang tentara berjaga di sisi jembatan.

Tanpa peringatan ia langsung menerjang. Rasa kantuk dan bosan sudah menyerang kedua tentara muda itu terlebih dahulu. Sebelum mereka sempat bereaksi, John sudah menggenggam gagang pedangnya dengan erat.

Pemuda pertama sedang menguap lebar ketika John menyodok perutnya kuat-kuat menggunakan gagang pedang. Dia memekik tanpa suara. Sebuah pukulan yang mantap dilayangkan oleh John dan merontokkan gigi pemuda itu.

Keributan kecil itu langsung membuat tentara yang lainnya waspada.

“Penyusup! Kriminal! Atas nama raja, berhenti!” teriaknya panik sambil mengarahkan tombaknya pada John.

Dengan mudah John menghindari tusukan tombak tersebut dan memukul bagian belakang leher si tentara.

Kedua orang tentara itu tidak sadarkan diri. John hanya bisa menghela napas berat dan berjalan ke sisi jembatan. Ia mengintip ke bawah. Tampak perahu-perahu sampan di sekitar pilar jembatan. Para awaknya yang picik tengah mempersiapkan tas-tas kulit berisi bubuk mesiu.

Tiba-tiba John merasakan udara dingin tidak alami menusuk kulitnya. Ia menoleh dan melihat roh si gadis perlahan-lahan muncul dari dalam lantai batu dan mengambang tepat di hadapannya. Wajahnya amat pucat dan ia menatap John dengan penuh kemarahan.
“Kau! Kau mendatangkan semua ini! Semuanya pasti ulahmu!” hardiknya dengan suara gemetar.

“Bukankah ini hal yang baik?” balas John dengan tenang, “Para warga desa ini mengorbankan dirimu. Mereka menjadikan dirimu tumbal untuk menenangkan roh sungai ini. Tidakkah kau menginginkan kebebasan?”

“Aku tidak menginginkannya,” desis si gadis dengan dingin, “Jangan mencampuri urusanku! Kau seharusnya malu pada dirimu sendiri.”

John sama sekali tidak terpengaruh dengan sikap gadis itu, “Tidak menginginkannya? Aku melihat bagaimana caramu memandang seluruh kehidupan damai di sekitarmu. Kau tersenyum bukan karena kau menyukai apa yang lihat. Kau iri terhadap apa yang kau lihat. Kau iri pada keharmonisan dari hidup.”

Dalam sekejap raut wajah gadis itu berubah. Mukanya yang keras sekarang malah menunjukkan kelemahan.

Suara gadis itu begitu lemah hingga nyaris tidak terdengar, “Tidak.. Kau tidak tahu apa yang kaukatakan. Kau salah..”
“Aku yakin bahkan saat ini tubuhmu masih ada di antara fondasi jembatan. Rohmu terikat pada jembatan ini. Satu-satunya cara untuk membebaskan dirimu adalah dengan membiarkan jembatan ini hancur.”

“Glynt,” tiba-tiba Aslan memutuskan untuk membuka mulutnya, “Apakah ini rencanamu dari awal?” katanya dengan pelan. Bahkan si hantu terkejut dengan rencana John.

Gadis itu jatuh berlutut dan mulai meratap.

“Aku tidak bisa membuatmu merasakan kembali kebahagiaan dari kehidupan,” nada bicara John menjadi lunak sekarang, “Tapi aku dapat menunjukkan padamu kesederhanaan dari kematian. Ketenangan yang abadi.”

Untuk sesaat gadis itu berhenti meratap. Ia hanya menatap lantai batu dengan pandangan penuh renungan. Melihatnya John hanya bisa tersenyum. Gadis itu akan berterima kasih pada dirinya ketika ia pergi meninggalkan dunia ini dengan tenang. Jembatan masih bisa dibangun lagi, tapi mereka yang telah meninggal, siapa yang akan mengurusi mereka?

“Tolong, tunggu!”

John merasakan hawa dingin menusuk di kakinya. Ia berbalik dan menemukan gadis itu memegangi kakinya. Ia menatap John dengan penuh penyesalan.

“Kau benar, aku memang iri terhadap seluruh kehangatan yang tidak pernah kurasakan… Tapi aku tidak mau menghancurkan kehidupan orang lain hanya karena itu!”

John berbalik dan menatap gadis itu, “Apa maksudmu? Ini hanyalah sebuah jembatan, bukan sumber air ataupun lumbung gandum yang dibutuhkan semua orang.”

Gadis itu menggeleng dengan liar, “Tidak. Ini tidak hanya sekedar sebuah jembatan. Tempat inilah yang memberikan kehidupan bagi orang-orang. Mempertemukan para kekasih, mengantar para pengelana dalam keamanan, membantu para pedagang menghidupi keluarga mereka. Jembatan ini bukan sekedar batu dan kayu. Jembatan ini adalah nadi kehidupan itu sendiri!”

Ini sungguh membingungkan bagi John. Gadis itu berlutut dan memohon pada dirinya… untuk melewatkan satu-satunya kesempatan jiwanya dapat bebas. Mata gadis itu tampak sayu dan berkaca-kaca. Penuh dengan perasaan yang tidak seharusnya ia miliki.
John sama sekali tidak mengerti. Ia juga tidak mengerti kenapa saat ini ia malah mencabut pedangnya dan melompat dari jembatan.

Para awak tampak kaget ketika ia mendarat di salah satu sampan. Perahu kecil itu berguncang keras menahan beratnya dan menjatuhkan awak-awak di atasnya.

Tidak ada yang mampu menghentikan dirinya. Satu demi satu para awak jahat itu menjadi korban keahlian berpedang John. Di saat bersamaan ia juga menyingkirkan bubuk mesiu yang sudah disiapkan para penjahat tersebut. Ia menendang kantung-kantung bubuk mesiu itu ke dalam air sungai.

Di tengah-tengah pembantaian tersebut ia melihat ada satu tempat yang terlewat oleh dirinya. Di salah satu pilar fondasi jembatan, sebuah sampan sudah tertambat. Tampak si pria kecil yang seperti tikus. Orang kecil itu tampak terburu-buru menyalakan bubuk mesiu yang sudah siap. John langsung mengambil kayuh dan mengayuh sampannya sendiri secepat mungkin ke sana, tapi ia terlambat. Sebelum ia sempat mencapai pilar itu, sumbu yang dinyalakan sudah habis.

Satu-satunya hal yang ia ingat hanyalah cahaya yang begitu terang. John mengangkat tangannya dan melindungi matanya. Untuk sesaat tubuhnya terasa begitu ringan dan ketika ia menurunkan tangannya, pemandangan yang berbeda menyambut dirinya.

Hamparan luas padang rumput menyambut dirinya. Ia sama sekali tidak dapat melihat kota kecil tempat persinggahannya yang terakhir. Aslan juga tidak terlihat dimana pun.

“John.”

John menoleh. Seorang wanita menatap dirinya dengan lembut, belahan jiwanya yang sudah lama meninggalkan dirinya ketika perang melanda.

“Alicia,” bisik John perlahan, “Aku sudah pulang.”

Ia berlari menyambut wanita itu dan merangkulnya. Jemarinya menelusuri rambut Alicia yang sehalus sutra. Tidak ada lagi yang membebani pikiran John. Pada saat itu seluruh beban duniawi telah menghilang dari punggungnya. Sebuah rasa rindu yang mendalam dipenuhi dan hanya ada kedamaian dalam dirinya.


message 11: by Biondy (last edited Apr 11, 2013 10:27AM) (new)

Biondy | 773 comments Sebuah Jembatan

Menjadi jembatan itu membosankan. Itu fakta, bukan pendapat. Percayalah, itu memang benar. Aku bisa memberitahukanmu dengan pasti karena aku adalah sebuah jembatan.

Namaku Helmar, Jembatan Helmar. Aku adalah sebuah jembatan batu yang menyandang nama penyihir yang membangunku serta kota Tyna, ibukota Kerajaan Bryar dan juga kota yang dapat dimasuki dengan melaluiku.

Tinggiku 12 meter. Panjangku 150 meter. Aku memiliki lengkung-lengkung yang membantu menompang jembatan serta membuatku terlihat lebih seksi. Serius loh, lengkung-lengkung antar pilarku membuatku, menurut banyak orang, seksi dan menawan dan itu membuatku lebih percaya diri.

Aku membantu orang-orang dari barat memasuki Tyna, atau orang dari timur keluar dari Tyna, tanpa harus melewati lembah dan sungai yang dalam serta berarus deras yang berada jauh di bawahku.

Kehidupan sebagai jembatan itu benar-benar statis. Semuanya sama dari hari ke hari. Rombongan pedagang dari barat dengan kereta-keretanya yang berisi rempah-rempah serta perhiasan, kuda-kuda pengangkut, orang-orang dengan berbagai bahasa dan warna kulit, para pedagang dari timur dengan garam atau mutiara. Kesibukan yang sama setiap hari. Berulang-ulang, berulang-ulang. Kadang-kadang aku ingin bisa melepaskan diri dan pergi berlibur ke pantai di timur barang sehari saja. Sayangnya aku jembatan dan akan terlalu menghebohkan kalau aku berpindah.

“Kau tahu cerita bagaimana jembatan ini dibangun?” tanya sebuah suara yang terdengar berat dan dalam.

Kulihat suara itu berasal dari seorang pedagang yang tengah mengendalikan kudanya. Kulitnya kecoklatan dan dia mengenakan topi yang tinggi dengan warna merah. Di sampingnya duduk seorang pria muda yang mengenakan topi yang sama dengan pedagang tadi.

“Tidak. Bagaimana?” tanya si pemuda. Orang baru tentunya. Mungkin ini perjalanan pertamanya ke Tyna.

“Dibangun batu per batu dan dikokohkan dengan mantra sang penyihir 200 tahun yang lalu.”

“Bohong. Jembatan sebesar ini?” tanya si pemuda takjub.

“Ya. Selesai dalam waktu 3 tahun dan memakan sedikitnya 80 orang korban. Kebanyakan terjatuh dari rangka jembatan dan tersapu sungai di bawah.”

Tidak sampai segitu. Setahuku hanya 22. Kenapa jumlahnya bisa mencapai 3 kali lipat lebih? Bahkan jumlahnya bertambah banyak dari satu mulut ke mulut lainnya.

“Dan yang paling ngeri adalah cerita tentang si penyihir yang menumbalkan anaknya sendiri sebagai ganti agar jembatan dan Tyna diizinkan berdiri oleh para dewa.”

BOHONG! Bohong besar!

“Benarkah?” tanya si pemuda bergidik.

Aku bilang bohong, anak ingusan!

“Itu cerita yang kudengar.”

Ingin rasanya kujungkir-balikkan kedua orang itu ke sungai di bawah sana. Sang penyihir tidak pernah menumbalkan anaknya sendiri. Itu kebohongan kotor yang tercipta entah karena apa. Mungkin rasa iri pada Kerajan Bryar, mungkin juga rasa benci pada si penyihir. Yang jelas hal itu tidak benar.

Si penyihir memang telah memiliki dua orang anak dan seorang istri saat kota dan jembatan mulai dibangun. Dia, bersama orang-orang lainnya yang terpaksa melarikan diri karena perang, memutuskan untuk mendirikan daerah mereka sendiri. Mereka tinggal di hutan selama 2 tahun sebelum akhirnya proses pembangunan jembatan dimulai. Lalu setelah itu kota Tyna mulai dibangun. Salah satu anaknya meninggal saat proses pembangunan itu, tapi bukan karena si penyihir menumbalkannya.

Ugh, kesal rasanya. Kuputuskan untuk menutup mata dan telingaku sepanjang sisa hari itu. Berusaha memadamkan amarahku karena fitnah mereka pada si penyihir.

* * *

Aku sudah pernah bilang belum sih kalau jadi jembatan itu membosankan? Oh, sudah ya? Yah, sejujurnya memang tidak banyak hal baru yang bisa kuceritakan. Kegiatan sehari-hari yang terjadi di atasku selalu sama dari waktu ke waktu. Paling minggu lalu terjadi sedikit perkelahian kecil, tapi segera dihentikan oleh para penjaga gerbang Tyna.

Hari ini awan gelap menaungi langit. Tampaknya hari akan hujan. Para pejalan kaki berjalan cepat-cepat. Orang-orang dengan kuda memacu kudanya lebih laju agar bisa sampai di tempat tujuan sebelum hujan turun. Semua bergerak dengan tergesa-gesa.

“Ah, Tuan Ryner, selamat sore.”

Nama Ryner menarik perhatianku. Kuamati seorang pria gendut dengan rambut yang botak di depan yang mengucapkan nama itu. Pria pendek yang tengah memegang payung. Segera kukenali dia sebagai Lat, salah satu pria terkaya di Tyna saat ini. Pria yang juga memiliki pengaruh di bidang politik. Orang yang dia panggil itu adalah seorang pria bertubuh tegap dengan wajah yang lancip dan rambut yang mulai memutih di dekat telinganya.

“Tuan Lat. Apa kabar?” jawab Ryner.

Ryner adalah salah seorang jenderal tinggi di Bryar. Usianya saat ini pada pertengahan 40-an. Kerut-kerut sudah mulai tampak di wajahnya, tapi selain itu dia masih tampak layaknya seorang perwira yang tangguh dengan otot lengan yang keras dan dada yang bidang.

“Baru pulang dari bertugas tentunya?” tanya Lat.

Sebuah senyum terkembang di bibir pria setengah botak itu. Dari dulu aku tidak pernah suka melihat senyum si Lat itu. Dia selalu terlihat seperti sedang meremehkan orang lain saat tersenyum.

“Begitulah,” jawab Ryner.

Lat mengangguk-angguk. “Hasilnya bagus, kukira.”

Ryner terdiam sesaat sebelum menjawab, “Ya.”

Lat kembali mengangguk-angguk. Saat itu tetes-tetes hujan mulai berjatuhan. Ryner masih tetap berdiri di tempatnya. Diam, bahkan ketika hujan turun semakin deras.

Lat kemudian menarik napas panjang dan berjalan melewati si perwira tua.

“Aku menunggu hasilnya,” kata Lat berbisik. Masih ada beberapa kata lagi yang dia ucapkan, namun suara angin menutupi suara pria itu.

Setelah Lat berjalan sedikit jauh, Ryner berjalan ke arah kota. Langkahnya tetap sama, tidak buru-buru. Tidak berusaha lolos dari hujan.

Itu pembicaraan yang aneh. Sangat. Tapi toh ada banyak pembicaraan yang aneh serta tidak masuk akal yang terjadi di atasku. Kurasa yang barusan itu salah satunya. Mungkin kapan-kapan aku bisa menceritakan percakapan-percakapan konyol yang kudengar pada kalian.

* * *

Ada banyak pertanyaan yang mungkin ingin kalian tanyakan pada sebuah jembatan. Seperti bagaimana rasanya diinjak-injak sepanjang hari atau apa yang dilakukan sebuah jembatan ketika dia merasa bosan. Yang pertama: menyenangkan. Serius. Mungkin karena aku memang tercipta untuk dijejak dan dilindas, sehingga aku justru merasa puas saat aku digunakan seperti itu. Untuk pertanyaan nomor dua: aku hobi mencuri dengar.

Beberapa hari ini gosip-gosip yang kudengar tidak begitu menyenangkan. Kerajan Arion yang terletak di barat laut katanya akan melancarkan serangan pada Kerajaan Bryar. Tampaknya raja baru Arion, yang baru bertakhta selama setahun terakhir, hendak melakukan perluasan wilayah. Dalam setahun ini dia telah menundukkan dua kerajaan lain yang berada di dekatnya dan kini menjadikan Bryar sebagai sasaran selanjutnya.

Suasana menjadi mencekam, baik bagi para pedagang, maupun penduduk sekitar.

“Kurasa sebaiknya kita berputar dan kembali pulang,” kata salah seorang pria dengan pakaian dari kulit.

Di sampingnya, sedang mengendarai kuda, seorang pria berkumis menggelengkan kepalanya. “Mau makan apa kita di sana? Kamu tahukan kalau barang-barang kita tidak akan laku di sana. Sudah ada terlalu banyak kain dan hiasan rambut seperti ini di kota. Timur adalah satu-satunya tempat peraduan kita.”

“Tapi bagaimana caranya kita akan pulang kalau sampai kota ini jatuh nantinya?”

“Kita bisa lewat sini lagi. Mungkin pajaknya akan jauh lebih tinggi dari saat ini, tapi aku yakin orang-orang Arion itu tetap akan membuka tempat ini sebagai jalur perdagangan. Atau kalau tidak kita akan memutari pegunungan.”

“Tidak! Jangan pegunungan. Tempat itu terlalu bahaya!”

Aku masih mendengarkan percakapan mereka saat suara berdebum dan pecah menarik perhatianku. Kulihat ada seorang pedagang yang barang-barang dagangannya berjatuhan dari dalam gerobak yang dia tarik. Beberapa guci yang dia bawa pecah. Kain serta gelang dan anting-anting yang dia bawa berhamburan.

“Anda tidak apa-apa?” tanya seorang pria yang membungkuk dan membantu si pedagang memungut barang-barangnya.

“Saya tidak apa-apa. Ah, sial betul saya kali ini. Talinya putus. Saya tidak sadar ada bagian yang sudah usang. Harusnya saya periksa dulu tadi. Beginilah kalau terlalu percaya pada anak buah,” kata pria itu sambil memasukkan anting-anting yang dia pungut ke dalam kotak.

Pria yang membantu si pedagang adalah Ryner. Dia tidak mengenakan seragamnya hari ini.

“Sudah semuanya?” tanya Ryner.

“Sudah. Kurasa,” jawab si pedagang. “Ini, sedikit tanda terima kasih dari saya. Isinya salep. Sangat ampuh untuk badan yang terasa lelah atau tidak enak. Anda pernah melihatnya, Tuan?”

Si pedagang menyodorkan sebuah guci kecil pada Ryner. Dia membuka tutupnya dan Ryner melongok ke dalam guci itu.

“Ah, saya pernah melihat salep ini,” kata Ryner mengangguk kecil.

Si pedagang tersenyum dan menutup kembali gucinya.

“Ini, untuk Anda. Tanda terima kasih dari saya,” kata si pedagang sambil menyerahkan guci itu ke tangan Ryner.

“Tapi—“

“Ah, tidak usah malu-malu. Saya permisi dulu. Terima kasih banyak, Tuan.”

Si pedagang kemudian berlalu. Ryner mendekapkan guci itu ke dadanya dan berjalan menuju kota. Dia santai juga untuk ukuran seorang jenderal yang kerajaanya tengah menghadapi ancaman perang. Apa tidak apa-apa nih?

Yah, aku hanya dapat berharap yang terbaik bagi kerajaan ini.


message 12: by Biondy (last edited Apr 11, 2013 09:33AM) (new)

Biondy | 773 comments Malam itu hujan kembali turun. Angin bertiup kencang dan petir menyambar-nyambar. Sebuah suara kembali bermain-main dalam ingatanku.

“Ayah, biarkan aku yang melakukannya,”

“Tidak, Kamer! Aku tidak akan membiarkanmu!”

“Tapi para dewa tanah ini meminta sebuah pertukaran bukan? Harga yang harus dibayar agar jembatan itu bisa berdiri? Agar kota itu nantinya dapat berdiri?”

“Tapi aku tidak akan membiarkanmu yang melakukannya.”

“Ayah, aku, uhuk—uhuk, sakit-sakitan. Usiaku sudah tidak panjang dan para dewa tidak, uhuk, tidak keberatan seperti bagaimana kondisi orangnya. Yang penting dia datang dari garis darahmu.”

“Apa yang kaukatakan? Ayahmu ini seorang penyihir yang hebat. Ayah akan menyembuhkanmu dan akan melakukan tawar-menawar dengan para dewa itu!”

“Ayah, aku juga seorang penyihir. Memang masih pemula, tapi aku tahu apa yang bisa dan tidak bisa sihir lakukan. Dan kesembuhanku adalah salah satu hal yang tidak bisa sihir lakukan kali ini.”


Itu adalah salah satu episode yang ada dalam kepalaku. Suara guntur terdengar menyayat di langit. Angin bertiup semakin kencang dan hujan semakin deras. Pikiranku maju ke episode berikutnya yang dapat kukenang.

“Kamer, Kamer, kenapa kau melakukan ini?”

“Jangan menangis ayah. Jangan menangis. Ini sudah keputusanku. Bukankah ayah menginginkan sebuah rumah yang tenang bersama ibu? Sebuah kota yang makmur dan aman? Aku yakin ayah bisa mewujudkan semua itu. Biarkanlah aku membantu ayah mencapainya.”

“Kamer—“

“Ayah, menjauhlah dari asap hijau ini. Cukup aku saja. Tolong jaga ibu dan salam untuk saudaraku.”

“Kamer! Kamer!”


Air hujan jatuh berderai-derai membasahi jalanku. Dalam kepalaku terputar lagi cuplikan-cuplikan lama yang masih dapat kukenang dengan baik. Aku adalah Jembatan Helmar. Simbol perjanjian antara para dewa dan sang penyihir.

* * *

Derap langkah pasukan Arion menghentak-hentak di atasku. Para pasukan berbaju zirah itu membawa pedang di pinggang dan tameng besar-besar di hadapan mereka. Mereka berderap sambil mengibarkan panji-panji perang mereka.

“Tembak!”

Hujan anak panah terjadi. Bryar memulai serangan pertamanya. Perisai-perisai terangkat, melindungi para tentara Arion dari serangan tadi.

“Tembak!”

Kembali hujan anak panah terjadi. Para prajurit Arion tetap memasang perisainya dan bergerak maju menuju kota secara perlahan.

“Gerbangnya! Jenderal, ada yang membuka gerbangnya dari dalam!” kata salah seorang prajurit.

“Keparat! Di mana Jenderal Ryner?”

Kudengar kepanikan terjadi dari arah kota, sementara para prajurit Arion semakin bersemangat menyerukan teriakan perang mereka. Kini mereka sudah menempuh lebih dari separuh perjalanan. Kondisi semakin kacau balau di Tyna dengan adanya kerusuhan yang ditimbulkan oleh orang dalam. Perhatian para prajurit Tyna terpecah antara musuh dalam selimut dan musuh dari Arion.

Awalnya aku hanya akan menunggu. Menunggu para tentara Tyna mempertahankan kota mereka. Menunggu para prajurit Arion terusir dari tanah Bryar. Menunggu hari-hariku yang membosankan yang dipenuhi dengan pedagang dan kuda serta kereta dagang mereka. Menungu anak-anak kembali berlari dan tertawa-tawa di atasku. Sayang, hari itu tampaknya tidak akan pernah datang. Tidak kalau aku hanya menunggu.

Kugetarkan sedikit tubuhku. Kulepaskan batu-batu pengunciku yang ada pada puncak tiap lengkungan. Kudorong mereka perlahan-lahan hingga terjun dan hilang oleh arus sungai.

“Jembatannya! Aaa!!”

Satu per satu batu-batuku runtuh. Satu per satu prajurit Arion beserta kuda dan perlengkapan perang mereka ikut bersamaku ke dasar sungai. Masih sempat kulihat wajah terkejut para prajurit Tyna. Untuk sementara mereka tidak akan bisa memakai jembatannya, tapi kurasa itu lebih baik daripada kehilangan kota mereka. Toh mereka masih punya akses ke timur.

Kurasa inilah hari terakhirku sebagai sebuah jembatan. Hari terakhirku menjalani hidup yang membosankan, yang begitu kunikmati. Aku menjaganya untukmu, Ayah. Aku menjaga kota yang telah kaubangun dengan mimpi akan sebuah kota yang makmur dan damai. Aku, anakmu, sebuah jembatan, telah menjaga Tyna.

Tamat


message 13: by Daff (new)

Daff | 19 comments Di Antara

Karya DAFF


Aku ada di sini karena ditemukan lagi tubuh termutilasi mengapung di sungai, dekat jembatan tua ini yang menghubungkan desaku dengan desa tetangga. Selalu, yang ditemukan hanya badannya saja. Kepala, tangan dan kakinya selalu hilang, tak pernah bisa ditemukan.

Katanya ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Saat ayahku masih kecil hal ini juga sudah terjadi. Bahkan katanya saat kakekku masih muda kasus mutilasi itu sudah sering berlangsung.

Pelakunya tak pernah ditemukan.

Dari sana orang mulai menghubung-hubungkan dengan hal gaib.

Kabut memakan mereka.

Makhluk yang tak dikenal memangsa mereka.

Setan.

Iblis.

Jin.

Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Aku ingin tahu kenyataannya jadi aku ada di sini. Malam-malam begini kabut selalu mengelilingi jembatan ini. Pandanganku hanya mencapai satu meter ke depan, selain itu hanya putih saja.

Dan di sini sepi. Dan si sini dingin. Dan tak terjadi apa-apa. Membosankan.

Beberapa jam berlalu dan tak ada yang muncul. Dan jelas, kabut tidak memakanku. Kecuali memakan artinya membuatku merasa bosan, tak ada yang terjadi.

Jadi aku menyerah.

Aku melangkah pulang.

Tapi tunggu sebentar. Ada yang salah. Kenapa aku belum sampai juga di ujung jembatan? Aku yakin tidak sejauh ini.

Kupercepat langkahku. Perlahan, langkahku berubah berlari. Aku berlari secepat mungkin namun jembatan itu seakan tidak berujung.

Aku berhenti. Angin dingin berhembus ke tubuhku yang basah oleh keringat.

Aku menatap sekeliling, segalanya putih. Jadi aku benar-benar di makan oleh kabut, eh? Aneh.

Dari samping kiriku kabut menipis dan kulihat cahaya. Aku berjalan ke sana.

Saat kabut semakin menipis, yang kulihat adalah rumah-rumah berbentuk kerucut aneh, dindingnya tampak tidak rata, meliuk dan tampak patah di ujung atapnya. Seluruh jendelanya terbuka, tanpa kaca, bisa kulihat seluruh isinya dengan mudah.

Tempat apa ini? Tak pernah kudengar ada perumahan seperti ini di dekat-dekat jembatan.

Aku mengintip ke salah satu rumah dan kulihat sebuah keluarga sedang makan di meja makan. Masakan mereka memang agak aneh—terlihat seperti rumput liar yang baru saja dipetik, tapi yang lebih membuatku tertegun adalah wujud keluarga itu.

Sekilas mereka terlihat normal—paling tidak bagian kepala, tangan dan kakinya, tapi tubuh mereka lain. Wanita tua yang mungkin ibu mereka, tubuhnya berbentuk zebra lengkap dengan belangnya.

pria yang mungkin suaminya juga sama, tubuhnya antara berbentuk seperti kuda liar atau rusa jantan.

Anak-anaknya bertubuh seperti domba lengkap dengan bulunya.

Aku seketika bersembunyi saat si istri menengok ke jendela, ke arahku. Kemudian cepat-cepat menjauh karena aku yakin mereka akan mengecek keluar.

Ternyata semua warga di sana tak ada yang normal. Sama anehnya dengan keluarga setengah hewan tadi. Bahkan mungkin lebih aneh. Bagaimana tidak, di dalam rumah lain kulihat satu keluarga bertubuh pohon.

Dan yang paling aneh adalah keluarga di rumah dekat lampu jalan. Mereka juga sedang makan malam. Itu biasa, tentu, kecuali fakta bahwa meja yang mereka gunakan untuk makan adalah tubuh sang suami. Istri dan anak-anaknya bertubuh kursi. Kepala mereka seakan penggal dan dipasang di sandaran kursi itu.

Tangan mereka tersambung ke sandaran tangan.

Tempat apa ini?

"Hey, anak muda." Seseorang berkata begitu dari belakangku. Tapi saat aku berbalik di sana tak ada siapa-siapa. Namun suara yang terdengar seperti suara pria tua seumuran kakekku itu melanjutkan. "Kau tahu fungsi jembatan?"

Kulayangkan pandangan ke sekeliling, masih belum kutemukan sumbernya.

"Fungsi jembatan," kata suatra itu, "adalah untuk menghubungkan dua hal yang terpisah, dua hal yang berbeda."

Saat kuperhatikan dengan baik, suara itu datang dari tiang lampu jalan di depanku.

Itu aneh. Bagaimana mungkin? Saat aku mendongak, wajah pria tua yang begitu kurus tampak menempel di bawah lampu jalan yang menyala redup.

"Lantas," kata wajah pria tua itu, "jika ada yang hidup di antara dunia itu, jika kau terjebak di dalam jembatan itu, apa yang terjadi?"

Apa yang dia bicarakan?

"Berpikirlah, anak muda," kata pria tua lampu jalan itu.

Melihatnya, seketika aku mengerti.

Jika tempat ini adalah dunia dalam jembatan, maka seseorang yang hidup di sini tidak sempurna berwujud manusia. Artinya, kedua bagian dirinya saling bertubrukkan. "Kalian jadi… makhluk yang setengah-setengah?"

"Kau bisa menyebutnya begitu," kata pria tua lampu jalan itu. "Dan satu hal yang harus kau pahami. Semua makhluk tidak suka dengan perbedaan. Jika kau menemukan sesuatu yang berbeda, kemungkinan besar kau akan menbencinya. Entah karena dia hanya berbeda atau karena dia jauh lebih istimewa darimu.

"Dan sekarang bayangkan saat bangsamu datang ke sini dengan tubuh yang sempurna," kata pria tua itu. "Menurutmu apa yang akan terjadi?"

Apa yang terjadi?

Seketika aku teringat dengan mayat termutilasi di sungai.

"Kalian membunuhnya?"

"Benar," kata pria tua itu muram. "Selama bertahun-tahun aku berusaha meyakinkan itu salah, tapi apa mereka mendengarkan? Tidak. Mereka menyebutku penghianat. Mereka membuatku tidak bisa bergerak seperti ini."

Aku menelan ludahku.

"Kau lihat gundukan itu?" Pria tua itu menggerakkan kepalanya, menunjuk ke arah bukit tak jauh di timur. "Perhatikan dengan baik."

Awalnya aku tidak mengerti. Namun saat cahaya bulan menyinarinya, itu bukan bukit. Itu tumpukkan berbagai benda. Dari bongkahan batu hingga meja atau pintu.

Dan yang membuatku tertegun adalah, ditiap benda itu tampak tengorak kepala, tangan dan kaki terpasang secara paksa.

Berbeda dengan pria tua itu, jelas tengkorak itu tidak terhubung dengan alami. Tengkorak-tengkorak itu di pasang dengan paku, rantai, tambang dan berbagai benda lain.

"Mereka berusaha menjadikan kalian sama seperti kami," kata pria tua itu. "Dan tentu saja itu gagal."

Jadi itulah kenapa mereka memutilasi tubuh korban. Itulah kenapa yang ditemukan cuma tubuhnya saja.

"Pergi dari sini, anak muda," kata pria tua itu. "Sebelum mereka sadar."

Terlambat. Mata, berpasang-pasang mata memandangku dari jendela rumah-rumah aneh itu.

Pria tua itu juga sadar. "Pergi," katanya. "Cepat, anak muda!"

Tanpa dia suruh juga aku sudah berlari.

Belasan makhluk setengah-setengah yang terlihat sangat aneh itu seketika berloncatan lewat jendela rumah masing-masing dan mengejarku.

Aku ingin mengumpat, tapi ini salahku sendiri. Aku yang cari gara-gara dengan datang ke jembatan itu. Jadi daripada mengumpat, yang bisa kulakukan hanyalah mempercepat langkahku.

Jalan di sana licin, aku hampir terjatuh. Tangan salah satu dari mereka sempat menyentuh punggungku. Untung saja aku sempat menghentakkan kakiku, sehingga dia gagal merenggut bajuku dan menangkapku.

Meski jumlah mereka banyak, aku masih lebih cepat dari mereka. Tapi akhirnya aku tersudut. Sungai menghentikanku. Arusnya deras. Jarak ke sebrang sekitar dua puluh meter.

Aku mengengok dan mereka menerjang.

Jika tertangkap aku mati.

Sial.

Kulemparkan diriku ke sungai. Membiarkan tubuhku terseret arus.

Aku berusaha keras untuk terus mengambang, kesulitan untuk napasku.

Tapi aku punya harapan. Jika dugaanku benar, aku akan berhasil kabur.

Potongan tubuh yang mereka bunuh bisa kembali karena terseret arus, 'kan? Jika aku melakukan hal yang sama, mungkin aku bisa kembali.

Itu dengan catatan aku belum mati tenggelam. Karena beruntungnya, aku tak bisa berenang.

Aku menelan air. Aku terbatuk-batuk, berusaha keras untuk tidak tenggelam.

Bertahanlah. Ini cara menyedihkan untuk mati.

Sayangnya aku mati. Atau katanya begitu saat seorang warga desa menemukanku tak sadarkan diri di pinggir sungai. Katanya aku sempat tidak bernapas.

Mereka menanyaiku, keluargaku menanyaiku, teman-temanku menanyaiku, apa yang terjadi? Lantas kuceritakan tentang manusia setengah itu.

Seperti yang kuduga, mereka tertawa terbahak pada awalnya. Tapi mereka berhasil kuyakinkan dan kusuruh membuktikannya sendiri.

Mereka tahu aku bukan pembohong, jadi saat mereka mencoba memastikan, mereka mengirimkan beberapa puluh orang untuk memastikan.

"Ini penemuan hebat," kata kepala desa padaku saat puluhan orang itu kembali dengan belasan manusia setengah di dalam kurungan. Karena mengirimkan orang cukup banyak, warga desaku berhasil mengalahkan mereka. "Jasamu atas penemuan ini akan dikenang selamanya."

Kemudian warga menjadikan mereka sebagai hiburan, sejenis binatang sirkus. Kau harus bayar jika ingin melihat mereka.

Cerita tentang manusia setengah menyebar dengan sangat cepat. Mungkin karena bisnis hiburan dengan makhluk super aneh seperti mereka menghasilkan banyak uang, dalam sekejap berbondong-bondong warga di desa-desa lain melakukan pemburuan di jembatan-jembatan, menyerang dan begitu tertangkap, memperbudak mereka.

Aku tidak pernah memintanya, tapi mereka dengan seenaknya menggunakan namaku di tiap pertunjukkan yang memamerkan sosok manusia setengah itu.

Dan aku mendapat uang banyak karenanya. Bukan berarti aku tidak suka—siapa yang bisa menolak jika diberi uang tiap bulan dalam jumlah banyak tanpa usaha, tapi ini tetap saja terasa tidak benar.

Memang, mereka pembunuh. Dan mungkin ini balasan untuk perbuatan mereka. Dan karena ini jugalah kurasa kenapa mereka setuju-setuju saja memperlakukan mereka seperti binatang. Tapi, tetap saja…

Jadi, saat muncul kelompok pembebasan manusia setengah itu, diam-diam aku menjadi pendukung. Menjadi donatur tanpa nama. Meski sampai saat ini belum ada hasilnya.

END


message 14: by agatha (last edited Apr 12, 2013 04:53AM) (new)

agatha (asrtedysad) | 20 comments Jembatan

Gadis itu memandang jauh kedepan. Tatapan kosongnya menatap ke arah jembatan di hadapannya. Sambil menyunggingkan senyum masam di wajah manisnya, dia meneteskan air mata, dan mulai menangis, meratapi sesuatu yang tidak bisa ia lupakan. Seakan sudah menjadi sebuah kewajiban, gadis itu selalu menghabiskan waktu berjam – jam menatap jembatan ini setiap harinya. Menangis hanya untuk membawanya kembali pada masa itu, masa dimana ia kehilangan seseorang yang sangat ia cintai.

***

Jawa Barat 1990. Pukul 01.00 Dini hari.

“Jangan ngebut – ngebut dong sayang, Helm aku mau coplok nih” Ujar gadis itu berteriak.

“Kalo aku nggak ngebut nanti kita kehujanan! Kamu nggak lihat, disini nggak ada tempat berteduh!” Pria yang membonceng gadis itu balas berteriak. Suara motornya yang bising memang membuat mereka berteriak secara tidak sadar.

“Ia, tapi aku kan takut..”

Seakan tidak mendengar keluhan pacarnya, pria itu memacu motornya lebih cepat. Mengabaikan gadis itu yang menangis ketakutan di belakangnya.

Jalan yang dilalui mereka lengang dan sepi, dan pada jam - jam seperti ini, sepertinya orang-orang tidak akan memlilih jalan pintas ini kalau tidak terpaksa, belum lagi suasana di sekitar mereka yang seakan-akan tidak berubah sejak 1 jam yang lalu, pepohonan rimbun yang berderet menutupi sisi jalan tanpa penerangan. Lengkap dengan auranya yang mencekam. Tidak heran pria itu memacu motornya dengan kecepatan 100 km/jam.

Sesekali mereka melewati beberapa rumah yang diselingi kembali oleh pohon – pohon sejauh beberapa ratus meter. Udara dan hujan yang menusuk tulang sudah tidak lagi mereka hiraukan, dan harapan mereka berdua saat ini hanyalah keluar dari bukit yang lebih cocok disebut labirin ini.

“Sayang, kenapa sih kamu lewat sini?” Gadis itu memecah keheningan yang terlalu sunyi. “Aku takut, disini sepi banget.”

“Ini jalan pintas, biar kita cepet sampai rumah. Takut apa, kan ada aku.” Jawab pria itu tidak jelas.

“Kalau ada apa – apa gimana?”

“Nggak ada apa - apa sayang, paling gerombolan perampok.” Pria itu terkekeh mendengar jawabannya sendiri.

“Tuh kan, kamu malah bikin aku takut!” Gadis itu menenggelamkan wajahnya pada punggung pria itu, mencoba melupakan jawaban pacarnya yang membuatnya semakin tidak nyaman.

Satu jam yang lain berlalu, dan motor mereka masih melaju di dalam hutan labirin ini. Pria itu mulai kelelahan dan hampir tertidur. Ketika motor mereka melalui jalan yang lurus, tampak sebuah jembatan agak jauh didepan diterangi dengan beberapa lampu penerangan. Tapi bukan itu yang menghilangkan rasa kantuknya. Terlihat dengan jelas puluhan motor terparkir dengan rapi di kedua sisi jalan.

Bendera dan spanduk sengaja dipasang di bagian depan motor mereka, dan pria itu baru menyadari dia berada di tempat yang salah ketika dia membaca dua kata yang cukup membuat jantungnya berdegup kencang.

Pelantikan Gangster.

Sialnya, motor pria itu tidak dapat melaju dengan kencang, banyaknya motor dan orang-orang yang memenuhi jalan memaksa dia memelankan laju motornya. Tentu saja hal ini menarik perhatian semua orang, suara knalpot yang bising merupakan peraturan nomor satu yang harus dihindari ketika berhadapan dengan anggota gang motor.

Jembatan ini cukup panjang, dan motor pria itu bahkan belum sampai setengah jalan melaluinya ketika sekumpulan lelaki menghadang motornya dengan membawa rantai dan balok kayu. Sekarang pria itu hanya bisa berdoa sebanyak mungkin atas keselamatannya dan pacarnya yang tertidur.

“Lu anak mana?!” Seorang pria berotot yang tampaknya pimpinan dari gerombolan tersebut bertanya dengan congkak.

“Bukan anak mana – mana bang, cuma kebetulan lewat aja.”

“BOHONG LO SETAN!!” Pria berotot itu mengayunkan balok kayu yang digenggamnya ke arah kepala pengemudi motor tersebut dengan sangat keras, menghempaskan pria itu dan juga pacarnya ke atas aspal yang kasar.

Seolah apa yang baru saja terjadi adalah hal yang heroik, tempat itu dipenuhi dengan suara teriakan kata - kata kasar dan sorakan penyemangat.

Menahan terpaan pusing yang meledak, pria itu segera bangkit, memaksakan diri untuk membantu pacarnya yang terjatuh karena kejadian barusan.

“Kamu nggak apa – apa sayang?”

“Ada apa ini Dimas, kenapa banyak orang?” gadis itu terbangun dan keheranan melihat suasana disekitarnya.

“Sayang, jangan panik. Jangan macem - macem, jangan ngomong apa - apa. Love you sayang.” Dimas sangat gugup, bahkan ketika ia mengecup dahi pacarnya, tubuhnya masi gemetar ketakutan. Tapi dia sedikit lega karena serangan pria tadi sepertinya tidak melukai Nadia, pacarnya.

Pria berotot itu menarik jaket Dimas dengan kasar, dan berdiri di antara Dimas dan Nadia. “Jadi lo berdua pacaran eh?” Pria itu bertanya didepan wajah Nadia, aroma alkohol murahan menyeruak dari mulutnya.

Nadia memalingkan wajahnya enggan.

“Bang, kita cuma mau lewat, tolong jangan ganggu kita.” Ujar Dimas memelas.

“DiEM LO!!” Kali ini pria itu menghujamkan sepatu bootsnya ke bagian depan helm Dimas. Ujung sepatunya yang bergerigi, telak mengenai kedua mata Dimas. Membuatnya tidak sadarkan diri.
Suara tawa dan ejekan seakan tanpa ampun melibas teriakan dan tangisan Nadia. Dia tahu, memohon hanya membuat segalanya semakin buruk, dan satu – satunya hal yang bisa dia lakukan hanyalah menundukkan pandangannya sambil menahan emosinya yang meletup - letup. Pria kejam itu memerintahkan anak buahnya mengikat tangan dan kaki Dimas pada tiang jembatan.

“Gue ada ide! Buat lo semua yang baru gabung sama gang ini, syarat penerimaan kali ini cuma satu!” Pria itu berteriak lantang, “Lo yang bisa patahin satu tulang dari cowo ini, baru resmi diterima gabung sama gang ini!”

Disambut oleh tepuk tangan dan teriakan dukungan, beberapa pria yang hanya mengenakan celana dalam berbaris menghadap ke arah Dimas. Satu persatu, mereka menghajar Dimas bergantian tanpa ampun. Membenturkan kepalanya ke tiang berulang kali hingga mengucurkan cairan berwarna merah pekat dari belakang kepalanya. Dan masing-masing dari mereka menekan jari tangan Dimas ke arah yang berlawanan, mematahkan setiap jarinya dengan rasa sakit yang tidak terperi.

Sedangkan Nadia sama tidak berdayanya. Tubuhnya tergeletak di jalanan tidak jauh dari situ, tangannya diikat, dan pakaiannya entah kemana. Beberapa lelaki yang mungkin petinggi dalam gang itu secara bergantian menghujam Nadia dengan cara yang berbeda. Gadis manis yang malang itu mungkin dapat menahan rasa malu dan perih yang dialaminya, namun melihat orang yang dicintainya disiksa dengan cara seperti itu benar-benar meremukkan hatinya.

Puncaknya, Nadia melawan. Ia mengayunkan kakinya sekuat tenaga, dan telak mengenai selangkangan pria bertubuh gempal yang berdiri telanjang di hadapannya, diserang secara tiba-tiba seperti itu membuat pria itu tersungkur dan menangis kesakitan.

Nadia tersenyum puas, setidaknya dia berhasil melampiaskan dendamnya yang bergejolak. Tapi senyumnya segera menghilang ketika aura mencekam terpancar dari wajah bengis para pemuda yang menghampirinya. Seakan tanpa beban, mereka menyiksa gadis itu sambil tertawa. Nadia harus merelakan tubuhnya dihujani pukulan dan injakan dari para pemuda yang kesetanan itu.

Kini, tubuh Nadia terlalu lemah untuk mempertahankan kesadarannya. Bahkan untuk bersuara pun Nadia tidak sanggup. Dia setengah tersadar ketika dihadiahi ludahan para pemuda yang pergi meninggalkan mereka berdua di atas jembatan ini.

Pagi hampir datang ketika Dimas tersadar. Fikirannya masih mengambang, belum ingat sepenuhnya dengan insiden yang terjadi. Rasa pusing yang meledak hebat tidak bisa membuatnya berfikir jernih. Dan Dimas terpaku ketika melihat sesosok gadis yang tergeletak tak berdaya di dekatnya.

Dimas terseok – seok menyeret tubuhnya yang babak belur ke arah gadis itu. Dimas berlutut di sampingnya, menatap sosok yang wajahnya tidak mungkin untuk dikenali lagi. Pria itu menatapnya lekat, tidak tersirat sedikit pun kesedihan pada wajah Dimas. Dia hanya mengusap wajah dan tubuh gadis itu yang dipenuhi dengan lendir. Dengan kecupan terakhir di dahinya, Dimas menutup sosok gadis di hadapannya dengan pakaiannya. Dan dibawah hujan yang malu-malu, Dimas meneteskan air matanya, dia menangis dan pergi berlalu meninggalkan Nadia di atas jembatan ini. Sendirian.

Tidak pernah ada pertolongan yang datang, dan hanya hujan yang selalu setia menemani Nadia hingga akhirnya dia dikuburkan tanpa nama oleh warga sekitar di bawah jembatan ini.

Jawa Barat 2013. Pukul 01.00 Dini hari

Dan malam ini, di ujung jembatan ini, gadis itu duduk di sebuah cabang pohon beringin, sambil mengayun – ayunkan kakinya yang tak kasat mata, ia masih setia menunggu kekasihnya datang. Mungkin hanya itu yang dapat menghentikan tangisan pilunya yang menyayat hati.


Tapi Dimas tidak pernah datang.


Bahkan sampai saat ini.


message 15: by Lola (new)

Lola (lolaorett) | 230 comments Prahara Psychopomp


Ini hanya berandai-andai.

Tapi seandainya seorang Penuntun bisa menderita penyakit, kurasa sekaranglah saatnya aku mengalami sakit kepala.

“Ini terlalu banyak, Angelo,” keluhku. "Jembatan Kematian tak bisa dilewati oleh arwah sebanyak ini dalam waktu singkat."

Angelo Mortis tertunduk malu-malu. “Kau bisa cepat mencapai target kalau aku menjemput banyak roh, Bridgette.”

Aku melirik jembatanku dengan malas. “Pasti kau lupa kalau aku tak peduli pada target.”

Sebagai Penjemput yang overachiever, Angelo luar biasa giat memenuhi daftar kerjanya sebagai entitas penjemput roh-roh orang mati. Tujuannya simpel: supaya ia dapat berjumpa sesering mungkin denganku—semata-mata karena ia naksir padaku.

Setiap kali melihat Angelo bekerja, rasa iri terbit dalam diriku. Ketimbang jadi Penuntun, aku lebih suka jadi Penjemput—yang populer di Dunia Kehidupan dengan sebutan malaikat pencabut nyawa, shinigami, el muerte, grey walker, grim reaper, whatever... Sayangnya, dua kali gagal dalam tes pindah kelas menjadi Penjemput membuatku terpaksa menjaga Jembatan Kematian ini untuk seratus tahun ke depan—lagi.

Jadi, sikap ogah-ogahanku itu sengaja kulakukan dengan harapan agar aku dipecat atau dimutasi ke kelas lain—apapun asal bukan jadi Penuntun.

Serius! Kegiatan rutin menyeberangkan arwah-arwah yang tak ada habisnya menuju Akhirat ini berpotensi membuatku gila. Tetapi, harus ada yang menjaga agar mereka tidak jatuh ke bawah Jembatan Kematian, atau diculik oleh para daimon yang berusaha menarik mereka ke Bangsal Penghukuman sebelum mereka diadili di Akhirat.

Aku menghela napas berat kala kulihat barisan roh yang membludak di ujung jembatanku yang berlabel: Kematian Akibat Kecelakaan Dalam Perjalanan. Kombinasi antara dedikasi hiper Angelo dengan etos kerjaku yang kedodoran telah menghasilkan gerombolan arwah yang menyesaki teras jembatanku.

Dengan langkah gontai, kuraih tongkat kerjaku yang digantungi lentera berapi biru pada puncaknya. Lalu, kubaca sekilas daftar nama roh yang disertai profil singkat kehidupan mereka.

Yang pertama adalah nama seorang pemuda berkaus abu-abu di depan barisan. “Hm, tewas terjebak longsor dalam mobilnya ketika pulang dari kampus, bla-bla... dan seterusnya... kedua temannya ditemukan masih hidup berkat pengorbanannya menahan bongkahan batu yang menimpa atap mobil…”

Sayang sekali, cowok sekeren ini menemui ajal begitu muda dengan cara yang mengenaskan. Melihat paras eloknya, aku langsung menyadari sesuatu.

“Ia rephaim?”

Angelo mengangguk. “Langka ya, menemukan rephaim di zaman sekarang.”

Aku setuju dengannya. Kami para Penuntun dan Penjemput tidak melihat rupa fisik. Kami tertarik dengan rupa rohani, terutama rephaim, roh manusia berlevel tinggi. Wujud rupawan mereka berasal dari banyaknya amal kasih dan kebaikan semasa hidup mereka.

Di deret kedua, berbaris arwah sepasang suami-istri. “Meninggal dalam kecelakaan pesawat… Oke, kalian bertiga ikut aku.”

“Tapi itu bahaya, Bridgette,” cetus Angelo. “Bukankah Penuntun hanya boleh membawa maksimal dua roh untuk diseberangkan?” Angelo memilin-milin manset jasnya dengan khawatir. Setelan eksekutif topnya membuatnya kelihatan seperti salesman properti mewah yang kebetulan kerja paruh waktu sebagai dewa kematian.

“Mau bagaimana lagi? Barisan roh ini sudah tak tertolong panjangnya seperti antrean penonton konser. Semua berkat keuletanmu memenuhi target sebulan dalam waktu seminggu,” gerutuku.

Kutarik tudung jubah menutupi kepalaku, lalu bergegas menuntun ketiga roh itu. Tanpa dikomando, mereka mengikutiku menyeberangi Jembatan Kematian sepanjang sekitar setengah kilometer—lebih tepatnya, mengikuti cahaya lentera biruku yang memesona mereka, bagaikan laron yang dimabuk cinta pada lampu pembunuh serangga.

Angkasa gelap yang menaungi Ruang Tunggu ditaburi bintang-bintang dan dihiasi aurora yang berkibar anggun ketika kami menyusuri lengkung Jembatan Kematian.

Sesuai namanya, Ruang Tunggu adalah persinggahan sementara bagi para arwah sebelum memasuki Akhirat. Roh-roh dibawa masuk oleh para Penjemput dari Gerbang Kedatangan, lalu diantarkan oleh para Penuntun melewati Jembatan-jembatan Kematian menuju ke pusat Ruang Tunggu, di mana Menara Akhirat berdiri.

Di kejauhan, kulihat rekan-rekanku sedang menyeberangkan roh berdasarkan penyebab kemangkatan yang jadi wewenang mereka. Salah satu seniorku, Val Freyja—ia lebih suka dipanggil Frey—sedang kerepotan di jembatannya. Pertikaian diwarnai kekerasan yang melanda sejumlah negara membuat jembatannya dipenuhi oleh para korban perang.

Perhatianku teralih oleh suara pertengkaran dari jembatan sebelah. Rupanya Niu Tou—Penuntun berkepala kerbau yang lama bertugas di timur jauh—sedang bertengkar dengan Nergal, Penuntun berwujud singa berkepala manusia yang dipuja bangsa Mesopotamia. Perdebatan mereka selalu terulang setiap kali kami kedatangan arwah korban malaria. Nergal bersikeras roh itu harus melewati jembatannya yang dikhususkan bagi yang Meninggal Karena Penyakit, sementara Niu Tou kukuh menganggapnya masuk dalam kategori Kematian Akibat Serangan Binatang. Pertengkaran itu diakhiri dengan Nergal yang mengambek dan pergi entah kemana.

Kejadian itu membuatku baru menyadari sebuah keanehan saat kami melewati puncak jembatan. Sepertinya, lantai jembatan yang tersusun dari batu-batu energi di bawah kakiku terasa goyah.

Apakah karena aku membawa lebih dari dua roh?

Ah, hanya perasaanku saja. Toh, aku sering curi-curi kesempatan membawa lebih dari dua roh tanpa terjadi apa-apa. Ini kan, bukan jembatan di Dunia Kehidupan.

Konstruksi tiap Jembatan Kematian disokong oleh energi Obor, yaitu kobaran api berwarna biru dalam sebuah mangkuk raksasa yang ditempatkan di bawah jembatan. Obor itu akan terus-menerus menumbuhkan batu-batu energi yang membentuk Jembatan Kematian, dan juga berfungsi menangkal energi gelap daimon. Apinya merupakan penjelmaan tertinggi dari seorang rephaim yang terpilih untuk berjaga selama satu abad, sebelum ia diadili di Akhirat.

Seingatku, Oborku baru bebas tugas lima tahun lagi. Jadi, dengan tenang kulanjutkan perjalanan.

Baik roh sepasang suami-istri yang bergandengan tangan di belakangku, maupun cowok rephaim di sampingku berjalan dengan gamang. Pandangan mereka kosong, seperti para arwah pada umumnya—tanpa keinginan dan perasaan. Mekanisme Ruang Tunggu telah menyegel segala niat dan emosi mereka.

Namun ketika kami menuruni lengkung jembatan, sebuah derak mengerikan mengiringi pijakan kakiku—mendahului lantai jembatanku yang mendadak amblas!

Di tengah kejutan tak terduga itu, tanganku masih sempat menghempaskan roh suami-istri itu ke teras Menara Akhirat. Celakanya, cowok rephaim itu terjatuh ke bawah jembatan dan menghilang ditelan kabut.

Sial!

Aku melongok ke bawah dari patahan jembatanku yang putus sepanjang tiga meter. Seratus meter di bawahku, terhampar lautan kabut yang bergerak lamban.

Hm, ada yang aneh… lautan kabut biasanya tidak segelap itu—

Ya, ampun! Obor jembatanku padam!

Serta-merta, lenteraku langsung kehilangan cahaya, demikian pula dengan lampu-lampu penerang jembatan. Sumber energi lentera para Penuntun terkoneksi dengan Obor. Tanpa nyala lentera, roh-roh takkan mau menuruti tuntunan kami. Dan jika obor itu mati, mau diperbaiki seperti apapun, jembatanku tak dapat tersambung dengan sempurna.

“Angelo, tolong jaga jembatanku sebentar!” teriakku. Prioritasku sekarang adalah mencari cowok rephaim itu.

Selekas mungkin, aku meluncur ke bawah jembatan. Hempasan angin menerbangkan jubah biru gelap yang menutupi gaun berwarna titaniumku. Rambut panjang perakku tersibak saat tubuhku melayang turun melewati lautan kabut.

Aku mendarat mulus di area bawah, tepatnya di dermaga Sungai Besar.

Sungai Besar adalah pemisah energi antara Dunia Kehidupan dan Akhirat. Itulah sebabnya kami harus menyeberangkan para arwah dengan jembatan atau perahu. Di tepi sungai itu, roh-roh manusia yang mengalami kematian dalam air lalu-lalang dituntun para Penjemput. Mereka dinaikkan ke sejumlah perahu untuk diseberangkan menuju Menara Akhirat, yang bangunannya berlanjut dari area atas.

“Bridgette—!”

Haros ‘Harry’ Charondale melambaikan tangan dengan penuh semangat dari atas speedboat-nya.

“Tumben kau datang ke sini,” kata Harry sembari memarkir perahu motornya di pinggir dermaga. Rupanya ia baru selesai kebut-kebutan perahu dengan para rephaim di waktu istirahatnya. Rambut peraknya yang gondrong sebahu tetap tertata penuh gaya, meski ia baru mengemudi ugal-ugalan—aku curiga, ia memakai hairwax dari lilin prosesi pemanggilan roh yang dicolengnya dari para medium amatiran.

“Hai, Harry," sapaku. Kusibakkan tudung jubahku. "Aku sedang mencari seseorang. Apa kau melihat arwah seorang remaja pria yang jatuh di sekitar sini?”

“Tidak, tuh.” Jubah biru gelap Harry tersingkap ketika ia turun dari perahu motor, memperlihatkan kemeja pantai bermotif cerberus imut dan celana santai selutut yang dipakainya. “Mungkin ia mendarat di salah satu perahu atau tercebur ke sungai tanpa ada yang melihat.”

Aku menggaruk kepala. Lantas, bagaimana mencarinya?

“Aku tak heran kalau ini terjadi pada Nergal yang jembatannya selalu penuh, tapi tak biasanya kau ceroboh begini,” komentar Harry.

“Jembatanku putus. Sepertinya kelebihan beban.”

“Apa kau membawa lebih dari dua?”

“Tiga roh.”

“Mestinya takkan putus begitu saja,” gumam Harry.

Aku mengangkat bahu. “Oborku mati.”

Senyum langsung raib dari wajah Harry. Aku khawatir ia akan pingsan kalau tahu bahwa yang jatuh itu rephaim.

“Ini masalah besar, Bridgette. Tanpa Obor, para daimon bisa menculik roh-roh. Kita harus secepatnya menemukan roh itu sebelum ada daimon yang menyerang jembatanmu,” ia memperingatkan.

Aku naik ke speedboat Harry dengan satu lompatan ringan.

“Argonya kupasang, ya. Lima koin perak sekali jalan,” ia melirik ke arahku, lalu meringis. “Hanya bercanda, Bridgette—jangan melotot seperti itu.”

Harry memacu perahu motornya menyisir Sungai Besar. Duduk di sampingnya membuatku sadar betul akan perawakanku yang kecil. Aku seperti gadis kecil berusia dua belas tahun yang berpesiar naik perahu bersama ayahnya.

“Bagaimana rupa roh itu?” tanya Harry.

“Berambut cokelat, pakai celana jins biru dan kaus abu-abu.”

“Maksudmu yang seperti itu?” Harry menunjuk ke tepi sungai.

Untung cepat ketemu, pikirku girang. Cowok rephaim itu sedang mengeloyor tak tentu arah, ketika kami merapat ke tepi sungai.

“Sebaiknya, segera cari tahu kenapa obormu mati,” saran Harry. “Api Obor adalah jelmaan rephaim, yang tak mudah dipadamkan begitu saja.”

“Maksudmu, ada yang sengaja memadamkannya?” tanyaku.

Bunyi tiupan sangkakala menyela pembicaraan kami, disusul kumandang merdu suara seorang perempuan. “Perhatian: Bridgette Cross ditunggu Angelo Mortis di jembatannya. Kami ulangi, Bridgette Cross ditunggu di jembatannya. Terima kasih.”

Bahuku langsung melorot.

Dasar Mortis! Namanya memang angker, tapi ditinggal sebentar saja ia sudah panik seperti nenek-nenek kehilangan kacamata.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada Harry, aku bergegas membawa rephaim itu kembali ke jembatanku—hanya untuk disambut dengan kekacauan di jembatan-jembatan tetanggaku.

Tergopoh-gopoh, Angelo menghampiriku. “Gawat, Bridgette—Obor-obor lain juga padam! Para daimon jadi berani menyerang jembatan.”

Dibantu para prajurit thanatos, kulihat Niu Tou dan partnernya yang berkepala kuda, Ma Mian, sedang menghajar beberapa daimon yang berusaha menarik roh-roh keluar dari jembatan mereka. Sedangkan Frey dan para Penuntun lain setengah mati menggiring para arwah tanpa nyala lentera. Untungnya, roh-roh dalam wewenangku sudah dibariskan dengan rapi oleh Angelo dan dipagari oleh para thanatos.

“Satu hal lagi...” Angelo menelan ludah sebelum ia melanjutkan, “Arwah suami-istri itu jatuh ke bawah jembatan setelah kau turun.”


message 16: by Lola (new)

Lola (lolaorett) | 230 comments Seandainya...

Ya—seandainya tindakan ini bisa membantu, aku ingin sekali menjedot-jedotkan kepalaku ke tiang lampu jembatan.

“Kejadiannya begitu cepat, aku tak sempat menjangkau mereka—” Angelo menciut, takut amarahku meledak.

Duh, benar-benar bikin repot!

Kuserahkan rephaim itu kepada Angelo dan berbalik untuk turun, tepat sebelum langkahku tertahan karena cekikan pada leherku.

Jubahku tersangkut sesuatu—oh, ternyata oleh si cowok rephaim.

Tangannya mencengkeram jubahku erat-erat seperti balita yang tak mau lepas dari ibunya. Angelo berusaha membawanya ke barisan, tapi rephaim itu bergeming.

Tatapan cowok rephaim itu membuatku terkejut. Ia memandangku dengan penuh minat, tidak hampa. Alisnya berkerut, seolah sedang berpikir. Ia memang bukan rephaim sembarangan. Bahkan segel Ruang Tunggu tak mampu menahan keinginannya untuk mencoba memahami semua ini.

Namun aku tak sempat memikirkan kenapa roh yang satu ini tak mau dituntun. Waktu mendesakku untuk secepatnya menemukan arwah suami-istri itu.

“Biar saja ia ikut denganku."

Kuabaikan seruan protes Angelo, lalu mengambil ancang-ancang untuk turun. “Pegang jubahku, ya. Jangan kaulepaskan,” tegasku pada rephaim itu.

Ia berkedip sekali diiringi anggukan samar, pertanda dirinya mengerti ucapanku.

Di area bawah, kulihat protokol keamanan telah dijalankan. Perahu-perahu dirapatkan, sungai disterilkan, dan para arwah dihalau sejauh mungkin dari dermaga.

Sepasang roh yang jalan sambil bergandengan pasti lebih mudah dicari, pikirku. Ternyata dugaanku benar.

Di parkiran perahu, sesosok thanatos sedang berupaya menarik sepasang arwah yang mencoba turun ke sungai. Aku segera turun tangan. Keduanya kunaikkan ke dermaga.

Namun sebuah tarikan kuat menahan punggung jubahku. Awalnya, kukira si cowok rephaim yang menahanku, tapi ternyata roh sang suami-lah yang menarik jubahku.

Dan detik berikutnya, tubuhku sudah terbenam separuh ke sungai yang gelap, ditarik oleh arwah itu. Tenaganya bukan tenaga roh manusia, tapi—

“Daimon!” teriakku.

Kuayunkan tongkat lenteraku ke arahnya, tapi makhluk itu berkelit, lalu merobohkanku dan menahanku di air. Aku bergulat hebat untuk melepaskan diri.

Thanatos itu berusaha menolongku, tapi ia langsung terburai menjadi debu putih, setelah roh si istri menjulurkan tangannya menembus tubuhnya.

Mendadak, perlawananku terhenti. Aku hampir lupa bernapas ketika kulihat kepala si daimon suami tiba-tiba terbelah dua. Dari masing-masing belahannya, terbentuk dua kepala baru berleher panjang dengan gigi-gigi tajam di seluruh tepian mulutnya.

Dengan panik, kuhantamkan lenteraku ke salah satu kepalanya, yang mengakibatkan kepalanya yang satu lagi langsung menukik murka ke arahku—

Lalu, bersamaan dengan derum mesin perahu motor yang melintas di sampingku, kedua kepala daimon itu hancur seperti buah semangka yang jatuh.

Aku menoleh ke arah penolongku. Harry sedang berdiri di geladak kapalnya, bergidik jijik pada tongkat lenteranya yang berlumuran darah hitam daimon itu.

“Di belakangmu!” pekikku.

Sebelum Harry berbalik, tongkat lenteraku sudah menumbuk kepala si daimon istri yang hendak melahapnya. Makhluk itu mendengking dan menjatuhkan diri ke sungai.

Serentak dengan menghilangnya daimon itu, pendar kabut di atas Sungai Besar mendadak meredup. Kegelapan yang mengejutkan mengisi area bawah. Dalam penerangan minim itu, aku hanya dapat melihat kilau kelabu mata Harry dan percik kilap rambut peraknya.

Sekonyong-konyong, debuman keras yang bertubi-tubi dari arah Menara Keberangkatan membuat kami terlonjak.

“Para daimon yang lebih besar berusaha masuk!” teriak seorang Penuntun.

Bangsal Penghukuman adalah salah satu jagat di Akhirat. Dengan padamnya Obor, para penghuninya dapat masuk ke Ruang Tunggu.

Bersama rephaim yang masih menguntitku itu, aku bergegas kembali ke jembatan. Genggamannya akhirnya kulepaskan dengan paksa dan ia kugabungkan dalam barisan roh.

Lalu seperti rekan-rekanku yang lain, aku mengambil posisi di puncak Jembatan Kematian. Di area atas, kegelapan terasa lebih pekat dan sunyi. Gerbang Kedatangan telah ditutup. Gemerlap bintang kemintang lenyap dan tirai aurora mengisut, menyisakan jagat yang nyaris gelap. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari Obor jembatan Nergal yang makin redup. Pantulan cahayanya membuat kepala-kepala perak para Penuntun yang bersiaga di jembatan bekerlip biru.

Dalam jeda yang mencekam itu, aku berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Seperti kata Harry, Obor tak bisa padam semudah itu—kecuali, jika rephaim yang bersemayam di dalamnya disingkirkan. Tapi ini jarang terjadi karena rephaim Obor sangat kuat dan sulit dipindahkan. Apapun penyebabnya, aku tak habis pikir bagaimana obor itu bisa mati tanpa sepengetahuanku. Selain itu, bagaimana caranya kedua daimon itu bisa menyusup dan tercantum dalam daftar?

Jawabannya hanya satu.

Angelo Mortis.

***

Pandanganku mengawasi sekeliling, mencari-cari Angelo.

Tapi mendadak fokusku ditarik oleh sebuah kejanggalan di jembatan sebelahku—Nergal tak ada di jembatannya.

Absennya Nergal menghenyakkan benakku dengan suatu kesadaran. Walau hampir tak memercayai pemikiranku sendiri, diam-diam aku turun ke mangkuk oborku.

Di seberangku, Obor milik Nergal meletup-letup ganjil. Ada seutas larik gelap yang turut bergoyang-goyang di tengah apinya, yang akhirnya kukenali sebagai ekor dari seekor binatang. Kala pandanganku mulai terbiasa dengan kegelapan, aku dapat melihat pemilik ekor itu dengan lebih jelas.

Nergal duduk di tengah mangkuk. Tongkat lenteranya terulur ke tengah-tengah Obor, menyedot rakus roh rephaim yang bersemayam di dalam apinya.

Aksi Nergal itu langsung terhenti ketika sudut matanya menangkap gerakanku yang menukik cepat tanpa suara ke arahnya.

“Sudah terlambat.” Kata-kata itu terucap dari mulut Nergal saat api rephaim itu berpindah seluruhnya ke lenteranya, yang dihantamkannya dengan sekuat tenaga ke tubuhku seperti pemukul bisbol.

Aku melambung jauh dan mendarat keras di Jembatan Kematianku.

Angelo dan para Penuntun menyerukan namaku, tapi tak ada yang dapat menolongku sekarang. Meski berjumlah banyak, kami tak berdaya tanpa lentera. Rekan-rekanku telah dipukul kalah dan ditawan oleh para daimon.

Nergal bertolak ke arahku dan menjejak ringan dengan keempat kaki singanya di susuran jembatan. “Aku terkesan kau bisa tahu, Cross. Padahal, kupikir kau akan menuduh Mortis.”

Nyeri hebat menguasai sekujur tubuhku ketika aku susah-payah bangun.

“Angelo tak dapat menginjakkan kaki di Jembatan Kematian. Wewenangnya sebagai Penjemput berakhir di teras Gerbang Kedatangan. Meski bisa menyusupkan daimon, ia takkan bisa turun memadamkan Obor,” kataku. "Kau sengaja meruntuhkan jembatanku, karena dari posisiku, aku bisa melihat tindakanmu memadamkan obor-obor itu.”

“Kau cukup pintar,” Nergal tersenyum mengerikan, “untuk seorang Penuntun yang malas.”

Aku bangkit dengan limbung. “Kenapa kaulakukan ini semua?”

Ia terkekeh, turun dari susuran jembatan.

“Menurutmu, ada berapa banyak manusia yang benar-benar menghargai hidupnya?” Nergal mondar-mandir di hadapanku seperti singa yang mengincar anak pelanduk yang tertinggal dari kelompoknya.

“Makhluk-makhluk rendahan itu sibuk dengan hal-hal yang tak berguna—tak perlu kujelaskan satu-persatu tentang bagaimana mereka menghabiskan waktu dengan aktivitas konyol, pikiran yang kotor dan keji, serta keserakahan yang tak pernah bisa dipuaskan. Sedangkan kita—roh-roh berlevel tinggi—malah harus mengantarkan mereka untuk menjalani proses hukum yang rapi.”

“Tidak semua manusia seperti itu,” bantahku. Misalnya, si cowok rephaim itu.

“Intinya—” ia mendesah bosan, “Menjadi bagian dari tim penyiksa arwah lebih menyenangkan. Tak perlu birokrasi hukum.”

Kepala manusianya berpaling ke barisan roh, lalu ia mengangkat salah satu kaki depannya. “Kemarilah.” Jemarinya membentuk ajakan yang membuat sesosok roh keluar dari barisan.

Aku terkesiap ketika si cowok rephaim mendekati Nergal.

“Tak terpikirkah olehmu bahwa ia juga daimon?" desisnya. "Akulah yang membuatnya terjatuh untuk memancingmu meninggalkan jembatan. Karena kau berhasil menemukannya dengan cepat, dua daimon lainnya terpaksa kuturunkan untuk menyibukkanmu.”

Napasku tercekat. Betapa bodohnya aku! Menilik statusnya sebagai rephaim, aku tak mencurigai cara roh itu menatapku dan bagaimana ia tak mau melepaskan diri dariku.

“Seharusnya kau lebih rajin seperti Mortis." Cahaya lentera Nergal berkobar hebat saat ia mendesakku ke tepi runtuhan jembatan. “Berkat ketekunannya menimbun roh di jembatanmu, aku punya kesempatan menyusupkan daimon. Ternyata mudah sekali, cukup dengan menulis biografi palsu para arwah.”

Tongkat lenteranya terangkat tinggi untuk mengakhiriku, saat aku menyadari sesuatu dari kata-katanya...

Riwayat hidup palsu.

Tatkala ayunan tongkatnya membelah udara ke arahku, tubuhku merunduk ke depan. Kutarik cowok rephaim itu hingga jatuh bersamaku ke bawah jembatan, menuju mangkuk Obor.

Di tengah udara, kutumpukan telapak tanganku ke dadanya. Secercah cahaya terang meluap, meliputi tubuh rohaninya. Rephaim itu melebur bersama ledakan cahaya, lalu berderai menjadi lidah-lidah api biru raksasa yang mengisi mangkuk Obor.

Kini, gelora Obor yang baru menjilat-jilat ganas ke atas Jembatan Kematian. Bagian jembatan yang putus mulai menyatu. Batu-batu energi bertumbuhan di tepi runtuhannya, membuat jembatan itu sedikit demi sedikit tersambung kembali.

Secepat kilat, kusulut lenteraku dengan apinya, lalu kutolakkan diriku kuat-kuat ke atas, melewati celah jembatan yang hampir menyatu dan kembali ke hadapan Nergal. Dari pantulan bola mata Nergal yang terbelalak tak percaya, kulihat tongkat lenteraku meluncur dengan kecepatan tinggi seperti tombak yang terhujam—menembus tubuhnya tanpa ampun.

Jeritan parau melambung ke seluruh jagat ketika Nergal meledak berkeping-keping.

Para rephaim dalam lentera Nergal terbebas dan kembali ke mangkuk masing-masing, kecuali rephaim oborku yang sebelumnya, yang kembali ke sisiku. Tanpa membuang waktu, segenap Penuntun yang memperoleh kembali nyala lentera mereka membabat habis para daimon dan merebut kembali kendali atas Ruang Tunggu.

***

Aku bersandar lemas di susuran jembatan saat rekan-rekanku datang.

Angelo melongok ke bawah. “Bagaimana kau tahu kalau ia bukan daimon?”

“Dari kata-kata Nergal," sahutku. “Penuntun yang benci manusia seperti dirinya takkan mau bersusah payah mengarang riwayat heroik seorang pemuda yang tewas karena menyelamatkan teman-temannya.”

“Kau hebat, Bridgette!” Mata Angelo berbinar dengan kekaguman, sementara aku mati-matian menahan diri untuk tidak mengikatnya di atas tiang lampu. Memangnya ini semua terjadi gara-gara siapa?!

Ironisnya, meski aku mendapat surat peringatan karena ketahuan menyeberangkan lebih dari dua roh, aku dinobatkan menjadi 'Penuntun Bulan Ini'. Sementara Angelo diskors selama sebulan karena workflow yang kacau dan kecerobohannya memasukkan daimon.

Ini kesempatan emas! Penghargaan ini pasti jadi referensi bagus untuk pindah ke kelas Penjemput.

Di luar dugaan, Frey kaget ketika kutanyakan hal itu. “Eh, memangnya kau belum tahu kalau kau ditunjuk sebagai anggota tim pembina Penuntun mulai minggu depan?” ia menanggapi dengan ceria.

Hm... Oke.

Setelah Frey pergi, sebaiknya aku segera menuju ke tiang lampu jembatan terdekat untuk mengantukkan-antukkan kepalaku.

“Bridgette...”

Aku melongok ke arah pemanggilku di bawah Jembatan Kematian.

“Jadi Penuntun itu keren banget, lho. Kalau tidak ada kau, siapa yang akan menjaga kami?” Sosok jelmaan cowok rephaim yang bersemayam di tengah api Obor tersenyum padaku—dengan senyuman yang membuat lututku lemas.

Ehem.

Sekali lagi, ini cuma berandai-andai.

Tapi seandainya aku jadi Penjemput, aku pasti akan kehilangan kesempatan berjaga bersama cowok sekeren ini selama seratus tahun, kan?


message 17: by Fredrik, Momod Galau (new)

Fredrik Nael (fredriknael) | 2447 comments Mod


It takes both sides to build a bridge.


“Nama avatarmu bagus.”

Pemuda meragu sesaat sebelum menekan tombol ‘kirim’. Gelembung percakapan berwarna biru langit di atas kepalanya kemudian terisi dengan aksara-aksara di angkasa.

Gadis di atas awan di sisi seberang akhirnya melihat ke arah sang pemuda. Perhatiannya tercuri juga. Dia mengetikkan sesuatu untuk membalas. Gelembung percakapan bewarna merah muda di atas kepalanya juga menarik aksara-aksara dari angkasa yang sama.

“Sudah berapa orang yang kamu puji begitu?”

Pemuda tersenyum. Ia menekan-nekan lagi panel tembus pandang yang melayang di hadapannya. Panel itu menangkap sinyal-sinyal dari fisiologi tubuh, dari perasaan, pikiran, indera-indera, baik yang ada di luar maupun di dalam tubuh, membaca kode-kodenya, menciptakan respons, lalu mengirimkan gaya tarik ke aksara-aksara tanpa makna yang bertebaran di angkasa raya dan membawa mereka kepada harmoni kata-kata yang mengisi gelembung-gelembung percakapan.

“Aku jarang memuji kok.”

Gadis di awan seberang melewatkan beberapa saat sebelum membalas. Aksara-aksara penyusun kata-kata yang sebelumnya bergulingan kocar-kacir ke dasar awan seperti disapu seseorang. Kalimat baru kemudian mengisi gelembung percakapan merah muda yang sama.

“Apakah sekarang aku harus mengatakan kalau nama avatar-mu bagus juga?”

“Hmm.... hanya kalau kamu memang merasa begitu. ;)”

Itu adalah tanggapan yang tepat, sang pemuda tahu, karena tak lama kemudian sekumpulan balon-balon berwarna merah menyala dan turunan-turunan dari merah melayang naik dari dunia bawah sambil membawa kepingan lego putih pertama yang melekat di sisi awan tempat sang pemuda berpijak. Potongan pertama yang menghubungkan kedua awan yang saling berseberangan.

“Ceritakan sesuatu tentang dirimu. Aku mau tahu.”

Kata-kata itu muncul di gelembung percakapan merah muda.

“Kamu mau tahu tentang apa?” Sang pemuda membalas.

“Apa saja. Kegiatan keseharianmu. Kesukaanmu. Peristiwa menarik yang pernah kamu alami sewaktu kamu masih kecil?”

Sang pemuda memulai beberapa kata pada panelnya, namun ia berhenti, menyapu aksara-aksara, dan memulai lagi dari awal.

“Suatu waktu, ketika aku masih sangat kecil, aku pernah menemani ibuku pergi berbelanja. Kamu pasti tahu apa yang terjadi bila wanita berbelanja. Mungkin butuh puluhan percakapan untuk menceritakan semuanya. :)”

“Pasti tidak separah itu, ‘kan?”

“Singkatnya, aku merasa bosan. Nah, di salah satu toko (toko sepatu kalau aku tak salah ingat), aku dipinjami komik oleh pemiliknya. Mungkin dia merasa kasihan pada anak kecil yang nyaris mati kebosanan sepertiku. ^^ Komiknya lucu dan aku benar-benar terlarut dalam ceritanya. Namun sialnya, sewaktu ibuku selesai memilih sepatunya, aku belum selesai membaca komik itu dan aku tidak rela membaca cerita tanggung-tanggungan seperti itu. Jadi aku memutuskan untuk tidak mau beranjak dari toko itu.”

Pemuda berhenti berkisah dan menantikan reaksi dari sang gadis di awan seberang. Butuh beberapa detik sebelum yang ditunggui membalas.

“Jangan bilang kalau ceritanya hanya sampai di situ...”

Sang pemuda tersenyum.

“Pemilik toko itu akhirnya malah menghadiahkan komik itu kepadaku.”

“Mungkin dia enggan melihat seorang anak nakal yang ditelantarkan ibunya nongkrong-nongkrong terlalu lama di tokonya.”

“Wah, kamu keji juga ya! :O”

Gadis itu terbahak. Dia memunculkan simbol-simbol tertawa dalam gelembung percakapannya, yang lalu diikuti dengan permintaan maaf.

Dan sekumpulan balon-balon kembali melayang naik. Kali ini warnanya biru menyala dan turunan-turunannya.

Rasanya aneh bagi sang pemuda, bagaimana apa yang ada di bawah awan dapat menanggapi perubahan emosi individu-individu yang berada di atas awan dengan tepat. Bagai sebuah keajaiban.

Begitu kepingan lego putih tersambung dengan sempurna pada pinggiran awan sang gadis, Gadis melanjutkan kembali percakapan mereka.

“Mengapa? Mengapa kamu memilih menceritakan cerita ini?”

“Kupikir kamu pasti akan menyukai cerita ini.”

“Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku akan suka?”

Gadis kemudian menyadari sesuatu.

“Dari nama avatarku?”

Pemuda membenarkan.

“Kok rasa-rasanya aku seperti ketinggalan beberapa langkah ya ....”

“Kamu harus mengejar kalau begitu.”

“Baiklah. Ceritakan padaku, mengapa pengalaman itu terasa spesial buatmu?”

Pemuda berpikir sejenak. Pada awalnya, ia memang ingin menarik perhatian sang gadis dengan cerita yang mungkin akan disukai oleh gadis itu. Namun ada banyak kisah yang bisa ia ceritakan bila hanya mengaitkannya dengan sebuah nama avatar. Bila pada akhirnya ia memilih bercerita tentang pengalaman masa kecilnya yang itu ....

“Mungkin ... karena kejadian di toko sepatu itu kemudian menyadarkanku, atau lebih tepatnya, membuat ibuku tersadar tentang kegemaran anaknya.”

“Tidak mau mengembalikan barang kepunyaan orang? >:)”

“Ka-ka-kamu memang jahat ... :O”

“Hahaha. Aku tak bisa menahan diri. Maaf, maaf. Tolong lanjutkan! xD”

“Yaaah ... aku membuat pilihan, ‘kan, pada saat itu? Aku memilih membaca. :)”

Sang gadis menghabiskan beberapa waktu sebelum membalas.

“Kamu yakin kalau cerita itu bukan rekayasa yang mendadak kamu ciptakan di dalam otak kreatifmu demi menarik perhatian seseorang?”

Kalimat pertanyaan itu bisa saja dimaknai sebagai candaan, namun di satu sisi, bagi sang pemuda, serasa tuduhan yang dibayang-bayangi banyak kecurigaan. Ia pernah berada pada posisi yang sama. Dan belajar dari pengalamannya, ia memilih untuk menanggapinya dengan serius. Lagipula setiap orang punya masa lalunya sendiri-sendiri. Kita tak berhak menilai.

“Ada banyak kisah yang jauh lebih menarik yang dapat diciptakan oleh otak kreatifku bila hanya demi menarik perhatian seseorang. Tapi aku memilih sesuatu yang ... mempunyai kebenaran. Karena pikiran mungkin dapat dibuat bingung, namun perasaan tidak.”

Pemuda menunggu balasan dengan perasaan tegang. Kalau saja ini sebuah permainan, maka permainan ini telah dimulai.

Setelah waktu yang terasa sangat lama—padahal mungkin kenyataannya hanya beberapa detik—aksara-aksara dalam gelembung percakapan sang gadis akhirnya berjatuhan dan kata-kata lain tersusun menggantikan yang sebelumnya.

“Itu kutipan, bukan? Aku yakin.”

Pemuda menarik napas lega. “Iya. Tapi aku tak ingat itu kutipan dari kata-katanya siapa. x)”

Kata-kata sang gadis berikutnya muncul bersamaan dengan balon-balon merah dan kepingan lego putih yang dibawa melekat dengan pas ke potongan pertama di sisi awan sang pemuda.

“Jadi, apa komik favoritmu?”

“Sebenarnya pada akhirnya aku tidak banyak membaca komik sih. Memang kejadian di toko sepatu itu membangkitkan minat bacaku, tapi kemudian aku lebih banyak membaca buku anak-anak, lalu berlanjut ke novel.”

“Ah, seharusnya bisa kutebak jawaban itu. Kamu tahu kalau aku suka membaca novel juga, ‘kan?”

Sang pemuda mengamati kembali nama avatar sang gadis yang terpampang di atas gelembung percakapannya. Ia kemudian mengiyakan. “Dan juga suka menulis, mungkin.”

“Jadi, apa novel favoritmu? :)”


***

Hari itu mungkin adalah hari tercerah di musim semi. Bunga-bunga bermekaran tampak di sepanjang jalan yang ditempuh sang pemuda ke ujung awan.

Pemuda dan Gadis telah menyepakati kapan-kapan mereka akan bercakap-cakap lagi di ujung-ujung awan. Namun sewaktu mengelap peluh akibat melintasi padang bunga matahari yang kelopak-kelopaknya terang benderang, sang pemuda tak pernah menyangka kalau pada pertemuan ke sekian kalinya ini, sang gadis tiba mendahuluinya di ujung awan miliknya.

Ketika menyadari kehadiran Pemuda, sang gadis bahkan tak lagi mempedulikan panel komunikasi dan gelembung percakapannya. Sekonyong-konyong dia berteriak, “Esai-ku diterima! Mereka akan menerbitkannyaaa~!”

Meletuplah gelembung percakapan merah muda milik sang gadis akibat teriakan itu. Kerlap-kerlip serupa pijar-pijar kembang api berjatuhan menghujani tubuhnya. Meski tidak menimbulkan sensasi panas, sang gadis tetap menunduk di depan panelnya. Setelah beberapa saat, dia kembali menghadap ke awan di seberangnya dan tersenyum.

“Kamu tak apa-apa?” tanya sang pemuda lewat gelembung percakapan miliknya.

Gadis menggeleng.

“Kalau kamu melaporkannya ke bagian pelayanan, mungkin besok gelembung percakapanmu sudah akan diganti. :D”

Gadis mengangguk lagi dan meneriakkan permintaan maaf.

“Aku turut senang untuk esaimu! Aku sudah yakin sedari awal kalau mereka tak akan sanggup menolaknya. Selamat ya! (y)”

Gadis membalas dengan mengacungkan kedua jempol tangannya ke angkasa. “Terima kasih untukmuuu~!” teriaknya lagi.

Dan sekumpulan balon-balon merah kembali melayang naik dan menambah kepingan lego lain di sisi awan sang pemuda.

“Sepertinya untuk sementara waktu kita tak bisa bercakap-cakap seperti biasa nih ...”

Sang pemuda kemudian melihat Gadis memberi kode dengan tangannya di kejauhan. Dia menunjuk-nunjuk ke arah panelnya dan menggerak-gerakkan jarinya seolah menekan-nekan sesuatu. Pemuda mengangguk, menunjukkan kalau ia tengah memperhatikan petunjuk dari sang gadis.

Gadis kemudian merentangkan tangan kanannya ke depan, membuka telapaknya menghadap sang pemuda, lalu perlahan-lahan menarik mundur tangannya. Dia mengulangnya beberapa kali.

Pemuda membayangkan beberapa hal sebelum menyadari kalau sang gadis tengah memintanya untuk mengaktifkan salah satu fitur panel komunikasi. Ia pun tersenyum, menarik telunjuknya melintasi panel, dan mengaktifkan fitur pemendekan jarak.

Pemandangan di hadapan sang pemuda mengedip satu kali, lalu tiba-tiba tampilan di hadapannya seolah-olah membesar. Setelah pemberian izin penggunaan fitur panel dilakukan oleh sang gadis, sekarang ia dapat melihat wajah gadis itu dengan lebih jelas dan lebih dekat. Seperti sedang menyaksikan sebuah layar transparan raksasa.

Aksara-aksara mengisi gelembung percakapan biru muda milik sang pemuda. “Ini jauh lebih baik lho. Kamu. Terlihat. Jauh. Lebih. Baik. >.<”

Membaca pernyataan itu, wajah sang gadis merona merah.

Maka sebelum hari itu berakhir, ada kumpulan-kumpulan balon-balon merah dan biru yang melayang lagi dari dunia bawah dan mewarnai musim semi tercerah di atas awan.

***


message 18: by Fredrik, Momod Galau (last edited Apr 12, 2013 06:52AM) (new)

Fredrik Nael (fredriknael) | 2447 comments Mod
Butuh waktu tiga hari sampai gelembung percakapan sang gadis kembali seperti semula. Hari-hari itu berlangsung lebih panjang dan lebih menyenangkan bagi sang pemuda karena dia dapat mengenal lebih jauh sang gadis lewat ekspresi dan gerak tubuhnya, tanpa kata-kata. Mereka mengumpulkan kepingan lego putih yang lebih banyak daripada biasanya pada waktu-waktu itu. Jembatan yang menghubungkan kedua gumpalan awan sudah semakin tampak jelas bentuknya.

Namun pada hari keempat dan kelima, terjadi hujan badai di atas awan. Tidak ada pertemuan dan percakapan yang dapat dilakukan, meskipun sangat diinginkan dan dirindukan. Pemuda mendapatkan berita yang kurang menyenangkan mengenai kesehatan ibundanya sehingga ingin sekali dia membagikan kecemasannya itu pada Gadis. Maka pada hari keenam, walaupun langit masih mendung dan hujan masih turun sesekali, Pemuda mengenakan jaketnya dan berangkat ke ujung awan.

Hujan badai yang terjadi selama dua hari tidak mengubah apa pun pada jembatan lego setengah jadi yang terbangun di antara awan. Lain halnya dengan aksara-aksara tanpa makna yang sepertinya baru saja mengalami hari-hari yang berat. Banyak aksara yang tercecer berantakan di atas awan. Sisanya bergantung dengan menyedihkan di angkasa. Sambil menunggu kedatangan sang gadis yang tidak pasti, Pemuda mengumpulkan aksara-aksara yang berjatuhan dan menaikkan mereka kembali satu per satu ke angkasa.

Hari telah menjelang sore ketika pada akhirnya sang gadis berjas hujan merah muda tampak di awan seberang. Bahkan sebelum sang gadis membuka percakapan, Pemuda dapat merasakan kalau ada sesuatu yang berbeda padanya. Mungkin dari bahasa tubuhnya. Mungkin dari ekspresi wajahnya. Yang jelas, dia tidak tampak seceria biasanya.

“Ketika meninggalkan rumah, aku sebenarnya tidak yakin kamu akan ada di sana.”

Sang gadis mengawali.

Pemuda sebenarnya ingin membalas dengan menyatakan rasa rindunya pada rutinitas mereka berdua ini, namun akhirnya ia hanya menyatakan, “Kita sudah berjanji. Setiap hari. Di waktu yang sama. Kecuali alam tidak menghendaki. :)”

Gadis mengangguk perlahan.

Melihat redupnya semangat sang gadis, Pemuda mengurungkan niatnya untuk menceritakan masalahnya sendiri. Ia pun menanyakan tentang hal apa yang tengah membebani gadis di awan seberang.

“Esai-ku sudah terbit kemarin.”

Namun ada yang salah.

“Ada masalah. Redaksinya memotong dua kalimat penekananku dan mengganti beberapa kata yang menurut mereka terlalu keras untuk dipublikasikan. Semua adanya di bagian yang pernah kamu komentari itu. Dan seluruh edit-mengedit ini terjadi tanpa sepengetahuanku.”

Pemuda mengingat bagian itu. Ada kata-kata seperti “kaum kapitalis”, “haus darah”, “korup”, atau “keuntungan tidak wajar” di sana. Ia memang sempat mendiskusikannya dengan sang gadis dan setelah memahaminya, ia kemudian menyadari betapa pentingnya esai itu bagi penulisnya. Bukan karena isinya yang kritis, tetapi lebih karena tulisan itu merupakan buah aspirasi dari banyak orang yang telah ditemui sang gadis dan mereka yang percaya akan kemampuan menulisnya. Esai itu adalah sebuah tanggung jawab.

“Aku yakin mereka tidak akan kecewa. Mereka akan dapat memahami apa yang telah terjadi.”

“Tidak, mereka tidak akan paham! Malaikat-malaikat kecil-ku ini... mereka mempercayaiku! Dan sekarang, aku telah mengecewakan mereka semua. Artikel itu tidak akan ada pengaruhnya lagi. Roda kehidupan akan berputar seperti biasa dan kami tidak akan pernah mendapatkan apa yang kami inginkan!”

“Kamu masih bisa membuat tulisan lain.”

“Aku tidak bisa! Kamu tidak paham, ya?! Ini adalah kesempatan itu! Yang hanya datang satu kali!”

Sang gadis sudah histeris sekarang. Meski tak tampak jelas di kejauhan, Pemuda yakin kalau Gadis menangis. Ingin sekali ia berada di awan seberang itu. Menenangkan sang gadis. Menghiburnya. Memeluknya.

“Aku meminta maaf, kalau begitu.”
“Tidak. Kamu sudah tahu sedari awal. Kamu telah mengkomentari hal yang sama. Kamu tahu aku akan gagal.”

“Tolong jangan putus asa.”

Pemuda mengetik kalimat itu di panelnya, namun tidak mengirimkannya. Ia merasa tidak dapat membalas isi gelembung percakapan sang gadis yang terakhir. Maka ia hanya menunduk terdiam dan membiarkan sang gadis melampiaskan kesedihannya dengan duduk sambil terisak di ujung awannya.

Sejumlah balon-balon berwarna merah dan biru mengempis bergantian dan beberapa keping lego putih yang telah menyusun jembatan akhirnya terlepas dari pasangan-pasangannya dan jatuh kembali ke kegelapan di dunia bawah.

Hujan rintik-rintik kembali turun. Awan badai bergemuruh membayangi langit di bagian utara.

Hari semakin menggelap ketika petang datang. Namun ada pepatah bijak yang menyatakan, akan selalu datang mentari sehabis hari-hari hujan.

Maka Pemuda pun memutuskan. Mereka akan menunggu.

***


“Bagaimana keadaan bundamu?”

Pemuda mengingat kembali wajah berseri-seri ibundanya sewaktu ia membawanya meninggalkan kamar perawatan tadi pagi. “Keadaan ibu sudah semakin membaik. Dia sudah boleh pulang hari ini. :)”

“Syukurlah! Dia akan baik-baik saja, aku yakin. Kamu jangan khawatir ya.”

“Aku sih sangat berharap begitu. Terima kasih. ;)”

Hari itu adalah hari pertama musim panas. Matahari bersinar terik, akan tetapi angin bertiup dengan kencang sehingga suhu udara tidak terasa terlalu panas. Suasananya cocok untuk bersenang-senang di luar ruangan.

Pemuda kemudian melihat sang gadis meniupkan sesuatu di kejauhan. Gelembung-gelembung sabun. Gelembung-gelembung sabun berukuran besar.

“Semoga dapat membantumu menyeberang kemari~ :D”

Dari tampilan fitur pemendekan jarak, Pemuda dapat melihat sang gadis tak berhenti tersenyum selama dia meniup gelembung-gelembung sabunnya. Layaknya seorang anak yang tengah berada di taman bermain.

“Kamu melakukan hal itu lagi.”

“Hal apa?” Sang pemuda bertanya.

“Kamu tahu, ‘kan, kalau menatap itu sebenarnya tidak sopan.”

Pemuda merasa ia seharusnya mematikan fitur jarak itu. Namun ia tidak melakukannya. Ia memutuskan kalau hari ini ia akan tetap membiarkannya menyala. Ia ingin memandangi sang gadis. Gadis berambut ikal kecokelatan sepanjang bahu. Matanya yang berwarna cokelat gelap, namun menggelorakan kehidupan. Bintik-bintik pada bagian-bagian pipinya yang dengan mudahnya teralihkan dari penglihatan sewaktu dia tersenyum. Yang terindah. Dari semuanya.

Sejumlah gelembung-gelembung sabun yang berukuran lebih besar terbang terbawa angin melewati jarak di antara awan, melintasi jembatan lego yang sudah semakin terbentuk. Sewaktu salah satu di antaranya mencapai sang pemuda, ia merentangkan telapak tangannya dan menyentuh gelembung sabun itu dengan lembut. Gelembung itu kemudian meletup dengan suara khas tepat di hadapannya.

“Sepertinya aku baru saja menghirup napasmu,” ketik sang pemuda pada panelnya.

“Tidak mungkin.”

“Baunya harum kok.” Pemuda menggoda.

Tampilan pada layar transparan menunjukkan sang gadis tersenyum lebih lebar sewaktu dia membaca tulisan itu. Wajahnya semakin berseri-seri.

“Aku akan menghembuskan lebih banyak lagi kalau begitu.”

“Tolong lakukanlah.”

***


“Jembatan marshmallow.”

Sang gadis tertawa sewaktu membaca tulisan yang tampil di gelembung biru muda itu.

“Kenapa ‘marshmallow’?”

Pemuda langsung membalas, “Warnanya yang putih. Dan bentuknya! Kamu tidak mengamati kalau tiap-tiap keping yang menyusunnya itu wujudnya seperti gumpalan-gumpalan yang ... empuk? Kalau aku membayangkannya sih, sesuatu yang bisa diangkat oleh serangkaian balon gas itu pastilah sesuatu yang tidak berat-berat amat, ‘kan? Jadi ya... seperti marshmallow. :D”

“Kalau memang jembatan ini terbuat dari marshmallow, lalu kenapa bentuknya tidak menyusut sewaktu kena air hujan? Marshmallow tidak tahan air, bukan? Lagipula, balon-balon itu pasti balon-balon yang super kuat berhubung kondisinya tidak banyak berubah pula semenjak mereka pertama kali muncul. Jadi ya ... tidak mungkin itu marshmallow. >:)”

“Ugh! Perusak imajinasi! Manusia kejaaam! :(”

“Hahahaha~!”


Rangkaian balon perpaduan dua warna melayang naik membawa kepingan lego putih terakhir di penghujung hari itu. Saat keseluruhan jembatan lego yang menghubungkan kedua gumpalan awan yang berseberangan itu terangkai dengan sempurna, seluruh balon yang selama ini melayangkan tiap-tiap kepingan penyusun pun akhirnya terlepas dengan sendirinya dan melayang pergi ke angkasa raya.

Pemuda dan Gadis bersama-sama menapakkan langkah pertama mereka di atas jembatan lego putih. Pijakan mereka rasanya tidak kokoh dan, entah bagaimana, jembatan itu memang sepertinya disusun oleh materi yang empuk. Rasanya seolah-olah sedang berjalan di atas kasur. Jembatan marshmallow.

Mereka berjalan perlahan-lahan sampai akhirnya tiba di tengah-tengah jembatan di antara dua gumpalan awan.
Keduanya berdiri berhadap-hadapan. Sang pemuda dan sang gadis.

“Hai,” sapa sang pemuda.

“Hai,” balas sang gadis.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat. Mereka hanya saling menatap. Menghabiskan waktu untuk meresapi perasaan dan menghargai segala hal.

Sang pemuda-lah yang pada akhirnya memecah keheningan itu.

“Sudahkah kubilang kalau nama avatarmu bagus?”

Mendengar pertanyaan itu, sang gadis pun tersenyum.

~


message 19: by Manikmaya (last edited Apr 12, 2013 08:46AM) (new)

Manikmaya | 1098 comments Sang Awatara : Dharmaputra Laga

(Nakula)


Hujan badai tengah turun dengan derasnya. Sebuah mobil sedan berwarna biru metalik tampak melaju kencang pada malam yang telah larut di sebuah jalur jalan yang sepi. Di sisi kanan dan kiri jalanan itu tampak aneka rumah sederhana berjajar serasi dengan petak-petak sawah dan tumbuhan perkebunan. Speedometer mobil itu menunjukkan kecepatannya telah mencapai 250 km/jam.

Pengemudi mobil itu menekan sebuah tombol di dasbor mobilnya di tengah kesibukannya mengemudi dengan kecepatan gila-gilaan itu. “Panggil,” katanya sembari terus menyetir.

Sebuah papan virtual tampil di atas dasbor mobilnya, menunjukkan sosok seorang pria yang mirip dengan dirinya, seorang pria berusia 20 tahunan berpakaian selayaknya seorang dokter dengan jaket putih dan sebuah stetoskop tersampir di lehernya.

“Sadewa, kau sudah berhasil mengontak Kang Dharmawangsa?” tanyanya pada sosok virtual itu.

“Belum. Badai ini menghalangi sinyal.”

“Sial!” umpatnya sembari memukul sebuah bagian dasbornya.

“Kau sendiri sudah sampai mana?”

“Negara (Negare – nama kota di Pulau Bali), sebentar lagi sampai di Denpasar.”

“Pergerakan terakhir yang kudapat mereka baru saja mencapai Tabanan.”

“Kalau saja ada helikopter.”

“Tidak ada helikopter atau pesawat yang bakal mau terbang di tengah hujan badai yang mendekat begini, Bung!”


(Yudhistira)

Pria itu tengah berdiri di balkon sebuah hotel yang berdiri di antara sekian banyak hotel yang berjajar di seputaran Pantai Sanur. Angin dingin masuk ke sela-sela jubah tidurnya, membuat pakaian itu berkibar-kibar diterpa angin. Pria itu berwajah teduh, dengan sorot mata yang mengesankan ia adalah sosok wajah yang ramah, kumisnya tipis terawat, dagunya tak berjanggut – dicukur rapi. Rambutnya dipotong pendek dan klimis oleh minyak rambut.

“Belum tidur, Mas?” tiba-tiba seorang wanita muncul dari balik sebuah pintu geser yang menghubungkan balkon itu dengan sebuah ruang keluarga.

“Belum ngantuk, Dik,” jawab pria itu.

“Tapi ini sudah malam lho. Sudah lewat jam 10 malam.”

“Tidur saja dulu, Dik. Aku akan ke jembatan dulu.”

“Ada apa kok buru-buru, Mas? Kan peresmiannya juga baru lusa?”

“Hanya melakukan pengecekan.”

“Ya sudah, hati-hati ya?”

“Oke,” pria itu langsung mengenakan sebuah celana panjang dan menyambar sebuah jaket yang digantung di kursi kemudian keluar dari kamarnya.

****

“Mau keluar Pak?” sapa seorang satpam hotel ketika melihat pria itu keluar dari lift.

“Ya, cari angin.”

“Hati-hati, Pak.”

“Terima kasih.”

Pria itu keluar dari lobi hotel sembari menekan beberapa tombol pada layar sentuh arloji digitalnya (yang sebenarnya lebih mirip mini i-pad yang dipaksakan untuk jadi arloji). Tak berapa lama muncullah sekumpulan pesan teks di layarnya.


4 Maret
Dharmawangsa,
Ajalmu sudah mendekat.

5 Maret
Dharmawangsa,
Tubuhmu sudah beraroma tanah.

21 Maret
Dharmawangsa,
Aku datang untuk menyongsongkan ajal padamu.

3 April
Dharmawangsa,
Jika mau istri-anakmu tetap hidup, temui aku di Jembatan Sarleda besok malam.


Pria bernama Dharmawangsa itu berjalan melalui jalanan yang masih hidup oleh lalu-lalang pejalan kaki serta keramaian turis-turis yang bersantai di kafe dan restoran meski malam telah larut. Kakinya menuju Jembatan Sarleda , sebuah jembatan baru saja selesai dibangun, yang menghubungkan Pulau Bali dengan Pulau Nusa Lembongan dan Pulau Nusa Penida. Sarleda sendiri adalah singkatan dari Denpasar – Lembongan – Penida.

Rencananya lusa depan ia akan turut hadir dalam peresmian jembatan ini, hadir sebagai undangan kehormatan atas statusnya sebagai anggota DPR-RI. Tapi surat-surat kaleng yang masuk ke alat komunikasinya ini membuatnya cukup terganggu. Jika surat-surat kaleng itu hanya mengalamatkan ancaman pada dirinya maka ia bisa tak mengacuhkannya, tapi kali ini ancamannya sudah mengarah ke keluarganya. Putra pertamanya bahkan sempat nyaris terserempet peluru beberapa waktu yang lalu, karena itu ia berniat menyelesaikan masalah ini malam ini juga. Secara logika Dharmawangsa seharusnya membawa pengawal, tapi itu bukan gayanya. Ia terbiasa ke manapun seorang diri tanpa pengawal.

Akhirnya pria itu tiba di jembatan itu. Perasaan aneh menyergap dirinya, didapatinya tidak ada seorang pun baik pekerja maupun satpam yang berjaga di sekitaran tempat itu.

Lurus saja, Dharmawangsa.

Sebuah pesan tiba-tiba masuk ke dalam alat komunikasinya sekali lagi. Dharmawangsa akhirnya meneruskan langkahnya menuju ke tengah jembatan. Jembatan itu tiba-tiba gelap karena seluruh listrik di daerah itu secara mendadak mati.

“Selamat malam Pak Dharmawangsa,” sebuah suara terdengar menyapa dari tengah kegelapan. Pria itu menarik keluar sebuah batang fosfor yang memancarkan warna biru berpendar yang menampakkan sesosok wajah.

“Wayan Syandana? ” Dharmawangsa tampak sedikit terperangah atas kehadiran orang itu, “Jadi kamu yang mengirim surat-surat kaleng itu?”

“Benar Pak Dharmawangsa,” katanya datar.

“Kenapa? Apakah saya memperlakukanmu dengan kurang baik selama ini?”

“Bukan begitu, Pak Dharmawangsa. Anda memperlakukan saya dengan sangat baik. Baik sekali malah. Tapi ... mohon maaf Pak, ini semua demi memuluskan jalan saya menjadi Satria.”

“Seorang menjanjikanmu kedudukan? Tak puaskah kau dengan kehidupanmu sekarang? Kenapa mengejar kedudukan sebagai seorang Satria?”

“Saya ...,” Wayan terdiam sejenak sebelum akhirnya merogoh kantong kemejanya dan menarik keluar sebuah benda mirip pena sepanjang 10 cm, “Anda tidak perlu tahu alasan saya, Pak. Yang pasti saya punya alasan lain yang cukup bagus selain alasan yang sudah saya kemukakan.” Benda itu memendarkan cahaya kehijauan dan berubah menjadi sebuah busur panah berwarna abu-abu dengan sedikit corak hijau berbentuk tumbuh-tumbuhan merambat di sekitar pegangannya. Didekatkannya tangan kirinya ke gagang busur itu dan dibuatnya gerakan seolah-olah ia sedang menarik sebuah anak panah. Ajaib! Terbentuk sebuah anak panah yang memendarkan cahaya keperakan di tangan kirinya, siap dilepaskan kapan saja.

“Turunkan senjata itu, Wayan. Kita tak perlu melakukan ini. Apa aku pernah salah padamu? Apa aku kurang menggajimu? Jika memang demikian maka maaafkan aku, sungguh aku tak bermaksud demikian,” ujar Dharmawangsa dengan irama datar dan tenang.

“Sayang sekali saya tidak bisa melakukan itu Pak. Bekerja di bawah anda memang menyenangkan, tapi tidak akan membawa saya ke mana-mana. Bekerja dengan sekutu saya yang sekarang, akan membawa saya selangkah lebih dekat pada mimpi saya.”

“Dengan membunuhku?” wajah Dharmawangsa tetap tenang, teduh seperti biasa. Sama sekali tidak menunjukkan ekspresi marah ataupun murka. Wayan Syandana sejenak ragu untuk melepaskan anak panah cahaya yang telah terbentuk di busur itu.

“Kau tahu bahwa jalan ini tidak benar kan, Wayan? Jika kau ingin menjadi seorang Satria, tak layak kau lakukan tindakan ini. Kau lihat? Aku tak bersenjata,” Dharmawangsa merentangkan kedua tangannya, “Dan membunuh orang tak bersenjata adalah sebuah tindakan adharma. Kau ingin menjadi Satria, Wayan? Jika ingin jadilah Satria yang menjunjung tinggi dharma.”

Wayan menurunkan panahnya sejenak dan menatap sendu pada Dharmawangsa, “Tapi di negeri ini Tuan, orang yang jujur adalah orang-orang yang hancur!” dan sebuah anak panah langsung melesat ke arah Dharmawangsa.

Sebuah keanehan terjadi begitu anak panah itu tinggal berjarak dua langkah dari Yudhistira, panah itu tiba-tiba sirna menjadi partikel cahaya yang menyebar ke segala arah.

“Apa?” Wayan Syudana terkejut dan mendekatkan kembali tangan kirinya pada busur panahnya, kali ini terbentuk sebuah busur api yang berkobar membara. Busur itu segera melesat ke arah Dharmawangsa tapi kembali busur api itu tiba-tiba padam ketika mendekati Dharmawangsa.

“Bagaimana anda melakukannya?” Wayan Syudana terperangah.

“Karena aku Yudhistira, sebagaimana kau dahulu adalah Jalasanda.”

“Ah, anda sudah tahu rupanya Pak Dharmawangsa, ah tidak ... Yudhistira.”

“Pertentangan kita terjadi di masa lalu, Jalasanda. Sudahi saja! Sudah tak ada alasan bagi Pandawa dan Kurawa untuk bertentangan lagi.”

“Tutup mulutmu Yudhistira! Karena kau dan saudara-saudaramu kami semua kini menjadi simbol orang-orang kalah yang dicaci-maki dari masa ke masa! Sebagaimana kalian dulu telah merendahkan derajat kami hingga menjadi sehina Sudra, kau dan saudara-saudaramu pun harus merasakan hal yang sama.”

“Dengan membunuh kami berlima? Cuma karena alasan itu? Lalu apa yang akan kalian lakukan setelah itu? Jika kami semua mati sekalipun kisah yang dinamakan Mahabaratha itu takkan bisa kalian ubah.”

“Siapa bilang?” Wayan Syudana tersenyum sinis.

“Kau terlalu keras hati, Jalasanda. Hentikan saja aksimu, aksimu tidak akan membawa keuntungan bagi kita berdua,” Dharmawangsa mulai beranjak pergi.

“Berlari seperti pengecut lagi Yudhistira? Hah, gosip itu benar ternyata. Kau hanya berlindung di belakang adik-adikmu. Tanpa mereka kau hanya seorang pengecut! Baiklah, aku memang tidak bisa membunuhmu, tapi ... bagaimana dengan Drupadi dan Pancawala?”

Dharmawangsa kini membalikkan badannya. Tapi kali ini tak ada lagi ekspresi tenang dan teduh di wajahnya, wajahnya kini menunjukkan ekspresi bengis – tak bersahabat – seperti seekor macan yang baru saja diganggu tidurnya. Ia rogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah buku saku berukuran 9 x 7 cm.

“Astra ... Kalimasada!” Dharmawangsa melemparkan buku bersampul kulit itu ke udara dan buku itu langsung berubah menjadi sebuah tombak bergagang logam berukir berwarna kecoklatan dengan bilah berwarna perak bersinar di tengah kegelapan malam.

“Maaf Jalasanda, bukannya aku hendak menyakitimu tapi ... Drupadi sudah pernah kalian permalukan satu kali. Aku tidak rela dia kalian permalukan lagi!” Dharmawangsa meraung bagai seekor singa yang terluka. Enam buah anak panah melaju ke arahnya. Tapi ia sigap, langsung mengayunkan tombaknya dan merontokkan anak-anak panah itu.


*****


message 20: by Manikmaya (new)

Manikmaya | 1098 comments (Jayadratha)

“Sasaran pada posisi,” kata pria itu setengah berbisik, mengarahkan teropong senapannya ke arah Dharmawangsa yang tengah sibuk bertarung melawan sosok tua bangka bernama Tedjakusuma itu.

“Jarak tembak 100 meter, kecepatan angin 0,5 meter per detik. Arah angin menuju tenggara, kecepatan angin tidak terlalu mempengaruhi laju peluru,” kata pria itu sembari melirik anometer digitalnya.

Tanda silang di teropongnya kembali ia arahkan ke arah Dharmawangsa yang sudah bergeser sejauh empat belas langkah dari posisinya semula. Ketika ia hendak menarik picu senapan sniper miliknya ketika sebuah timah panas ia rasakan menembus pundak kanannya. Dipalingkannya wajahnya ke arah belakang dan ia dapati sosok pria yang tak lain adalah Nakula sudah berada di belakangnya.

“Main jebol kepala orang dari atas, apalagi pakai senapan sniper itu sungguh tindakan tidak kesatria loh, Jayadratha,” ujar Nakula dengan ekspresi nakal, menggoda sekaligus meledek.

Pria yang ditembak itu hanya diam, diusapnya bahunya yang terluka itu untuk beberapa saat sebelum ia menarik keluar pada tangannya sebutir peluru yang tadi bersarang di bahunya. “Pengganggu yang datang di saat yang tidak tepat,” katanya sembari melempar peluru itu entah ke mana.

“Ralat! Mencegah, bukan mengganggu!”

“Bagiku sama saja.”

“Astra ... Madresa Gupita,” Jayadratha mengeluarkan setangkai mawar yang sedari tadi terselip di saku kemejanya. Mawar itu segera berubah wujud menjadi sebilah sundang – pedang dengan wujud bilah seperti keris lurus tanpa lekuk.

“Astra ... Sastrika,” giliran Nakula yang mengubah gelang kayu di tangan kanannya menjadi sebilah sundang pula.

Dua bilah sundang itu segera bertemu, percikan api tercipta dari benturan antar logam, dan ekspresi penuh nafsu untuk menghabisi lawan segera tercipta di wajah kedua orang itu.


*****
(Yudhistira)

Jalasanda tampak cukup terperanjat atas perubahan sikap Dharmawangsa yang tiba-tiba ini. Seumur hidupnya di masa lalu dan masa kini tak pernah sekalipun ia melihat sosok bernama Yudhistira ini marah. Tapi kini sosok Yudhistira di hadapannya mengamuk bagai banteng gila. Berkali-kali tusukan tombaknya nyaris mencelakakan dirinya, namun beruntung ia masih bisa terus menghindar dan menangkis. Diliriknya sebuah bangunan berjarak satu kilometer dari sana, sebuah bangunan bertingkat 15 yang konon akan menjadi basis bala bantuan baginya.

Kau pancing Dharmawangsa ke tengah jembatan Sarleda, sisanya aku urus.

Demikian perintah pria itu ketika ia menerima tawaran ini. Pria itu juga sempat memberinya senjata ini, senjata yang ia sebut sebagai astra – senjata mistis dengan kemampuan di luar nalar manusia – yang konon ditempa para Maharsi dan para dewata di masa lalu. Senjata ini memang luar biasa, terlebih ketika ia mengetahui bahwa seekor kerbau bisa dibuat pecah berantakan oleh anak panah yang dibentuk dari astra ini.

Tugas yang mudah! Begitu pikirnya saat itu.

Lawanmu adalah Yudhistira. Tenang saja! Ia akan mudah ditaklukkan.

Yudhistira?
Nama itu membuatnya kembali pada ingatan masa lalunya. Lalu muncullah bayangan itu, bayangan ketika ia adalah seorang pribadi bernama Jalasanda, satu dari 99 orang pangeran Hastina keturunan Dretarasta. Kembali terbayang akhir hidupnya di tangan seorang tinggi besar nan perkasa. Wajahnya seram dan mengerikan. Nama orang itu adalah ... Bimasena.

Aku ingat! Begitu pekiknya ketika ia sudah tahu siapa dirinya sebenarnya.

Bagus kalau begitu, habisi Yudhistira dan setelah itu Pandawa akan tamat riwayatnya.

Kenapa Yudhistira? Mana Bima?

Bima sudah mati. Jangan pikirkan dia lagi. Targetmu Yudhistira. Tenang saja! Pancing saja dia ke jembatan, kalau dia hendak melarikan diri – provokasi. Kalau dia melawan, bertahanlah sejenak sampai peluru ini bersarang di kepalanya.


“Bukankah marah itu adharma, Yudhistira?” Jalasanda mencoba membuka ruang negosiasi dengan Yudhistira.

“Marah pada orang yang mengancam akan membunuh anak-istriku bukanlah adharma! Aku adalah ayah dari anak-anakku, suami dari istriku. Di mata keluargaku aku pahlawan mereka! Membiarkan orang seperti dirimu menjamah mereka itu baru adharma, itu tugas seorang pahlawan keluarga!” kali ini sebuah tusukan tombak menembus batang tenggorokan Jalasanda dan mencabut nyawanya dari jasadnya.

Dharmawangsa mendesahkan nafas berat ketika sudah mencabut tombak Kalimasada dari batang tenggorokan mantan sekretarisnya ini. Dipandangnya jasad itu dengan tatapan penuh duka, sebuah penyesalan merayapi hatinya. “Oh Dewata, saya telah membunuh seorang manusia lagi,” keluhnya sembari menatap langit yang tengah bertabur bintang.

Busur panah yang dipegang Jalasanda perlahan mengecil dan berubah bentuk menjadi sebuah benda mirip pena sepanjang 10 cm. Dharmawangsa berjalan menghampiri benda itu, lalu berniat untuk memungutnya ketika sebuah bayangan hitam tiba-tiba merenggut benda itu dari dirinya. Bayangan itu akhirnya berhenti di belakangnya dan membentuk sosok seorang manusia, seorang manusia yang tua nan renta dengan kulit yang mengelupas di sana-sini seperti seorang yang kena kudis.

“Malam ini kau menang Dharmaputra. Selamat!” kata sosok renta tersebut.

“Siapa kau?”

“Oh, kau sudah tahu siapa aku, Putra Pandu.”

Kening Dharmawangsa mengernyit untuk sejenak sebelum berkata dengan lirih, “Aswathama?”

“Benar!” jawabnya sembari berubah wujud menjadi segumpalan asap tebal yang langsung terbang melayang, pergi dari tempat itu.

“Kang Dharmawangsa,” suara seorang pria terdengar memanggilnya dari ujung jembatan.

“Kang Dharmawangsa,” pria yang sama kembali memanggil Dharmawangsa.

“Nakula!” sahut Dharmawangsa yang mengenali suara itu.

Pria bernama Nakula itu menghampiri Dharmawangsa dengan langkah sedikit gontai, “Puji Dewata, Kangmas masih hidup!”

“Ya, kau ... kenapa?”

“Habis berkelahi dengan Jayadratha.”

“Dia ada di sini juga?”

“Dia kabur setelah melukai betis kiriku dan melemparku dengan bom gas air mata.”

Dharmawangsa kembali menatap langit yang kini sudah mulai diselimuti awan badai yang berarak mendekat, “Hari ini kita menang, tapi ... sampai kapan? Arjuna dan Bima sudah tidak ada, sementara di sini kita tak punya sekutu sama sekali.”

“Kita bisa terus berjuang sampai anak-anak kita cukup besar lalu ... .”

“Majukan mereka ke medan tempur? Nakula, kau sudah lihat apa yang terjadi pada anak-anak kita di masa lalu. Mereka mati untuk kita! Menyisakan kita berlima sebagai orang-orang tua bodoh yang seumur hidupnya menyesali kematian anak-anak yang kita cintai.”

“Jadi ... apa rencanamu, Kangmas?”

“Terus mencari sebanyak mungkin sekutu kita di antara sekian ratus juta rakyat Indonesia. Kita sudah menemukan Srikandi dan Arimbi, jika nasib baik masih berpihak pada kita mungkin kita akan temukan Drestajumena, Uttara, atau yang lainnya.”


==00==


message 21: by Dan (new)

Dan T.D. (dantd) | 386 comments Dan Di Pinggir Sungai Mereka Tersesat

Orang bilang, akhir-akhir ini di setiap jembatan selalu ada tiga orang aneh. Semuanya lelaki. Yang satu jangkung kurus. Jangkung seperti menara, kurus seperti tiang. Yang kedua gemuk berkacamata, dengan rambut yang tak pernah disisir. Yang ketiga, satu-satunya yang tampan di antara mereka, tangannya hanya satu tiga perempat. Tangan kirinya buntung sampai pergelangan tangan.

Ketiganya selalu mondar-mandir di semua jembatan yang mereka kunjungi. Biasanya si kurus akan minum cola atau kopi kaleng, sedangkan si gemuk makan keripik kentang yang selalu ia tawarkan pada si buntung dengan kata-kata seperti “Kamu lapar kan?” atau terkadang “Perutmu keroncongan tuh,” dan si buntung sendiri akan selalu menolak halus tawaran itu.

Si kurus biasanya bicara keras-keras; si gemuk sering mengingatkannya agar menghentikan kebiasaannya ini, tapi kalau tertawa dialah yang paling lantang. Si buntung hanya akan ikut tersenyum, tertawa sedikit melihat tingkah dua temannya, dan bicara paling pelan.

Mereka adalah anggota Klub Riset dan Apresiasi Jembatan Universitas Institut Negeri Nasional Agamis Teknik Seni Bojongsoak. Tidak ada ketua. Karena sebenarnya mereka lebih seperti tiga sahabat yang punya hobi sama dibanding sebuah organisasi resmi. Formalitas, katanya. Supaya tidak terlihat seperti main-main dan buang-buang waktu semata. Supaya terlihat serius! Terlihat keren! Canggih! Intelek!

Pastilah banyak orang yang mempertanyakan apa yang mereka lakukan. Lagipula, meskipun kata “apresiasi” dan “jembatan” adalah kata-kata yang sering ditemui di kehidupan sehari-hari, frasa “apresiasi jembatan” lebih terdengar seperti nama sebuah grup band indie yang memainkan aliran musik aneh dibandingkan nama sebuah hobi. Tidak, kalaupun itu disebutkan sebagai hobi, telinga yang awam tidak akan percaya. Kuping-kuping itu hanya akan menyuruh mulut berbunyi, “Kedengarannya seperti mata kuliah khusus di jurusan teknik sipil.”

Tapi kalau anda sekalian yang membaca cerita ini kebetulan melintasi sebuah jembatan dan bertemu ketiga lelaki ini, anda boleh saja meragukan mereka. Anda boleh saja bertanya atau meremehkan mereka terang-terangan. Yang akan anda dapat adalah sebuah pembelaan yang sangat detil, khas, dan berapi-api dari ketiganya.

Bagi mereka, apresiasi jembatan adalah hidup. Di saat orang lain membicarakan apakah paha penyanyi A lebih mulus dari paha penyanyi B, mereka membicarakan apakah penempatan tiang dan desain jembatan A lebih estetis dari jembatan B. Bukan, mereka bukan mahasiswa fakultas teknik. Ketiganya (agar anda tidak bingung, berikut nama mereka : yang jangkung itu Rondo Wheatstone, yang gemuk Busardi Ponton, yang buntung Dudu Gelagar. Ya, si jangkung seorang indo) mahasiswa fakultas seni.

Rondo seorang mahasiswa jurusan desain komunikasi visual, atau DKV. Atau dalam pengucapannya sendiri, yang jelas-jelas salah tapi tidak pernah mau dibetulkan, Dekapi. Ayahnya orang Inggris, asli dari Sheffield, tapi tidak ada sedikit pun sisa-sisa darah Inggris di wajahnya. Ada orang yang sampai berkata “Orang tuamu terlalu berharap tinggi-tinggi memberimu nama sebule itu,” padanya, padahal kenyataannya jelas tidak seperti itu.

Busardi Ponton, anak kedua dari klan pebisnis Ponton yang usianya hanya beda 5 menit dengan kakaknya, adalah mahasiswa jurusan seni lukis murni. Yang dia lukis : uang, keuangan, dan uang. Tak bisa dipungkiri bahwa lelaki gemuk ini sering sekali berandai-andai, kalau saja dia yang lahir duluan... (keluarganya penganut sejati paham primogenitur) meskipun kenyataannya justru fakta bahwa dia lahir belakanganlah yang membuatnya bisa lebih bebas mengejar mimpi.

Si buntung Dudu sendiri mahasiswa jurusan seni teater. Peran yang paling sering ia mainkan? Orang buntung. Tapi dia selalu terlihat menikmati perannya, sehingga suatu saat dosen yang melihat kelihaian aktingnya memutuskan untuk memberinya peran utama... dalam drama tentang orang-orang buntung.

Ketiganya pertama kali bertemu di sebuah jembatan di dekat kampus mereka. Nama jembatan itu aslinya Jembatan Prof. Dr. H. Murdiono Mulyadi Mistulu bin Muhammad Munarwan Mostar S.T.I.MBA, tapi semua orang menyebutnya Jembatan Galau. Julukan ini memang tidak berseni dan tidak membuat lidah anda meliuk bahagia, tapi wajar saja karena yang menamainya sama sekali tidak tahu apa-apa soal sastra. Nama tidak resmi itu tersemat karena tempatnya terkenal di kalangan mahasiswa sebagai suaka para forever alone dan orang-orang yang hubungannya baru berakhir untuk merenungi nasib.

Awalnya hanya Busardi yang ada di sana, berdiri di sisi kiri jembatan dan menatap sungai. Kalau anda kebetulan kenal padanya dan melihatnya seperti itu, anda pasti ingin bertanya “Bro, galau gara-gara perempuan ya?” sekedar untuk menggodanya. Jawaban yang akan dia berikan adalah : tidak, aku memikirkan berapa banyak uang yang kupunya kalau saja aku lahir 5 menit 1 detik lebih awal.

Tapi dari air mukanya bisa terlihat bahwa dia sedang membayangkan sesuatu yang lain. Yang bunyinya seperti “Kalau saja membunuh itu tidak melanggar hukum, akan kubunuh pacar si X agar aku bisa mendekatinya,” atau “Kalau aku tegaan, sudah kurebut gadis itu dari pacarnya,” padahal fakta bahwa gadis yang diincarnya sudah punya pacar atau belum tak akan mengubah realitanya. Kenyataannya, Busardi Ponton tidak punya keahlian mencintai wanita.

Setelahnya muncullah Rondo entah dari mana. Tahu-tahu saja dia sudah bersandar di sisi jembatan. Matanya menerawang ke arah langit. Asap dari rokok yang dihisapnya menjalar kemana-mana, seolah membungkus tubuhnya. Dia ingin hilang. Terbayang di benaknya, kalau saja dia bisa meleleh dan masuk ke dalam sungai. Atau melebur bersama tiang besi. Atau menjadi papan kayu. Tidak masalah baginya, yang penting dia bisa menghilang sementara.

Dia baru saja ditolak oleh seorang wanita. Dadanya terasa aneh karena ada perasaan lain yang menyelusup ke dalam hatinya selain kekecewaan. Ada rasa guilty pleasure yang menyeruak; jika dihitung sudah 70 wanita yang menolak cintanya. Memalukan? Iya. Rekor hebat? Iya. Ada rasa rendah diri. Ada juga bisikan-bisikan idealis yang menyusup ke dalam otak, membuat kegaduhan. Maka kali itu dia merokok.

Kalau anda ada di sana saat itu, posenya terlihat sangat bergaya. Padahal dia menahan batuk sekuat tenaga. Batuk perlawanan dari paru-paru terhadap invasi asap rokok. Dan pada akhirnya racun sekaligus obat sendu paling ampuh ini juga tidak bisa meredam kehancuran hatinya.

Tetap saja, setiap ditanya “Apa yang membuatmu merokok?” jawabannya persis sama : “Untuk menenangkan diri dari ejekan yang selalu datang kepadaku, tentang namaku ini.”

Dudu si buntung baru muncul setelah kedua pria tak laku lainnya agak lama merenung. Dia melihat kiri dan kanan, depan dan belakang, sambil mondar-mandir terus-menerus bak orang paranoid yang sedang diincar pembunuh bayaran. Itu caranya mengatasi kekalutan di dalam hatinya, mencegahnya menjalar dan meradang ke seluruh tubuhnya.

Masalahnya sama seperti kedua pria sebelumnya. Tak perlu disebutkan lagi detailnya karena tak jauh beda dengan yang lain, walau memang semua kegagalan punya caranya sendiri-sendiri. Bedanya, yang ini tidak menafikan ketidakberhasilannya.

Si buntung melihat tangan kirinya, berangan-angan. Berkhayal bahwa bagian yang tidak ada itu hanya hilang sementara. Bahwa perempuan, laki-laki, semua manusia memandangnya dari dalam. Bukan, dia bukan seorang pendendam. Orang ini juga bukan tipe yang suka larut dalam kesedihan. Dia optimis, sangat optimis.

Tapi tentu saja ada residu kenegatifan yang berdiam di sudut pikirannya, setiap saat bergerilya mencari celah untuk mengalahkan keceriaan dan kebahagiaan. Kelakuan kekanakannya adalah cara kepositifannya bertahan. Puas mondar-mandir Dudu pun bersandar, dekat Busardi.

Dengan ini mereka bertiga telah berada dalam satu panggung yang sama. Hanya mereka bertiga, tanpa gangguan siapa pun.

“Lu galau cewek juga?” tanya Rondo, pada siapapun yang ingin menjawabnya. Tak ada yang tahu kenapa terbersit kata seperti itu dari mulutnya. Tapi rupanya ada yang menjawab juga.

“Sama,” itu suara Busardi. “Lu gimana?” tanyanya, kali ini jelas pada Dudu.

“Iya, gue juga,” yang ini suaranya hampir tak terdengar, tapi ada.

Mereka bertiga saling pandang. Tahu-tahu saja mereka sudah bersandar di sisi jembatan yang sama, hampir berdempetan.

“Wanita itu... kompleks sekali ya,” kata Busardi.

“Orang bilang mereka dari planet yang berbeda dengan kita, para lelaki,” timpal Dudu.

“Dan bukan benda mati yang mudah ditebak seperti jembatan ini,” balas Rondo.

Hening beberapa saat.

“Berapa kali... kalian ke sini?” tanya si buntung setengah berbisik. Dua orang yang ditanya ini memandang Dudu lekat-lekat.

“Kau pikir kau tak tahu jawabannya?”

Ketiganya terkekeh-kekeh, tak tahu menertawakan apa. Setelah itu kembali diam, tak tahu mau membicarakan apa. Masih tak ada orang lain di jembatan itu. Akhirnya Rondo, yang di kemudian hari menjadi inisiator di antara mereka bertiga, kembali membuka percakapan.

“Jembatan ini desainnya bagus.”

Itulah awal mula dibentuknya Klub Riset dan Apresiasi Jembatan, sebagai bentuk pelarian dari hati yang patah.

******

“Bagaimana kalau jembatan di sini saja?” usul Dudu. Tangan kanannya menunjuk pada sebuah titik di sebidang peta. Peta yang dibentangkan di lantai kamar kos Rondo. Titik yang ditunjuk sendiri merupakan sebuah jembatan di pinggir hutan jati.

“Jembatan kayu tak bernama... hmm, ada pendapat, Bus?” lempar Rondo.

“Rasanya dari kapan gue udah bilang kalau nama gue itu Ardi, bukan Bus. Soal jembatannya, menarik sih. Dari gambar itu,” tunjuk si gemuk pada sebuah foto, “Kelihatan kan kalau jembatan itu beda? Lihat saja dari lekuk-lekuk penyangganya yang punya presisi itu!”

“Jangan lupa kayu coklatnya. Cocok benar dengan lanskap sekeliling,” tambah Dudu.

“Bentuk kotaknya juga rapi. Estetikanya sempurna,” kata si jangkung tak mau kalah.

Sepintas mereka terlihat tahu. Terlihat seperti ahli, atau setidak-tidaknya veteran. Jangan bilang siapa-siapa, tapi faktanya adalah mereka tak tahu apa-apa tentang jembatan. Dan begitulah yang mereka lakukan setiap waktu : kadang mereka memuji tidak jelas, kadang mengkritik bersama-sama agar terlihat kritis, sedikit jarang berbeda pendapat antar mereka sendiri agar tidak terlihat seperti paduan suara. Anehnya banyak orang percaya pada pendapat mereka.

Tidak, mereka bukan orang yang bersekongkol dalam kebohongan terencana. Tak ada unsur kesengajaan sedikit pun.

“Jadi besok jam 10 pagi kumpul di mana?” tanya Ardi.

“Depan Warung Soto Sotoy aja,” jawab Rondo. “Lu ada mobil kan?”

“Mobil gue lagi... lama-lama sikat gigi juga pakai odol gue kali.”

“Iya, iya, santai. Kalau pergi-pergi lagi mobil gue aja deh yang dibawa,” tangkis si jangkung santai.

******

Mobil itu diberhentikan di depan sebuah jembatan, nun jauh di dalam rimba hutan jati. Bukan jembatan tujuan mereka. Jembatan yang ini dari batu, amat pendek dan sempit. Tidak cukup untuk dilewati Landrover yang ketiga lelaki ini naiki.

“Lu gimana sih? Kenapa bisa jauh gini melencengnya?” itu suara Rondo, bersungut-sungut.

“Eh jangan salahin gue gitu aja! Lu tuh yang asal aja pas perempatan nyuruh belok kanan!” Ardi, yang menyetir, berusaha membela diri.

“Itu insting! Bukan asal!”

“Udah, udah, yang penting kita balik aja dulu. Tinggal susurin lagi jalan tadi kan?” Dudu seperti biasa paling tenang.

Si cungkring dan si bongsor mengangguk, tapi itu tidak menghentikan pertengkaran mereka.

“Bukannya lu tuh ga nurutin saran gue buat muter balik? Apaan kata lu, ‘tar juga jalannya nyambung ke situ-situ lagi’, hah?” Rondo menyerang lagi.

“Terus kalau lu ga setuju kenapa lu ga protes?”

Ini gawat, pikir Dudu. Dia tidak ingin melihat persahabatan ketiganya retak karena insiden kecil seperti ini. Maka dia mengalihkan perhatian mereka,

“Oi, itu kan ada jembatan! Gak kita coba riset di sini aja?”


message 22: by Dan (last edited Apr 12, 2013 09:19AM) (new)

Dan T.D. (dantd) | 386 comments Kali ini dia berhasil. Keduanya mengalihkan pandangan pada jembatan itu, jembatan yang, meskipun tidak ada apa-apanya dibanding ‘target operasi’ mereka tetap bisa menarik perhatian. Ketiga lelaki itu berjalan ke arahnya.

“Jembatan kecil begini...” kata si buntung.

“Memangnya bisa memuaskan kami?” kata si gemuk.

Dudu diam, tapi dia juga ragu apakah jembatan sekecil itu bisa memuaskan mereka. Tapi langkah mereka tetap maju, menginjak permukaan batu yang tidak rata. Tiba-tiba mereka merasa aneh. Tubuh mereka tidak bisa digerakkan sama sekali. Mulut terkatup, mata hanya bisa memandang lurus. Dan mata-mata itu menyaksikan dunia di sekeliling jembatan berubah.

Sekarang yang ada di hadapan mereka memang masih jembatan batu. Tapi jembatan batu tanpa ujung dan tanpa pangkal, panjang membentang entah sampai ke mana. Sisanya dikelilingi kabut. Tubuh ketiga lelaki itu bisa digerakkan lagi, mereka langsung melihat sekeliling dengan penuh kekagetan.

“Di mana ini?”

“Kenapa jembatannya jadi begini?”

“Ada apa tadi?”

Pertanyaan-pertanyaan mereka tidak ada jawabnya. Ketiganya saling pandang, tak mempercayai apa yang ada di hadapan mereka. Hening. Kabut pun tak bersuara.

“Siapa kalian?”

Ketiga lelaki itu terperanjat kaget. Ada sebuah suara muncul entah dari mana.

“Siapa kau? Tunjukkan dirimu!” Rondo menyahut, campuran keberanian dan kepanikan.

“Siapa aku?” tanya suara itu, yang ternyata sumbernya dari belakang.

Dari sesosok manusia aneh. Tidak, kata ‘aneh’ tidak tepat digunakan untuk menjabarkannya. Mungkin ‘menakutkan’ atau ‘absurd’ lebih enak. Atau campuran ketiga kata itu. Sosok itu punya tangan dan kaki yang terbalik. Kakinya berada di tangan, tangannya berada di kaki. Posisi indra-indra di wajahnya juga tak tepat. Hidungnya menggantung dari dagu, kedua telinganya menempel di antara mata dan mulutnya –oh, posisi kedua indra yang disebut terakhir itu juga dibalik.

“Waa!” teriak Dudu. Kedua lelaki lainnya memasang wajah jijik.

“Siapa aku?” tanya makhluk itu lagi.

“Justru kita yang harus tanya, siapa kamu?” tanya Rondo.
Tanyanya tidak mendapat jawaban lain selain ‘siapa aku?’ berulang-ulang, berkali-kali, begitu terus. Bahkan si buntung mulai kesal.

“Kamu tahu gimana caranya kita bisa keluar dari sini?” tanya Dudu.

“Apa aku tahu?” jawab si makhluk aneh.

“Jangan bercanda dengan kami!” raung si jangkung.

“Kenapa aku dituduh bercanda dengan kalian?”

“Karena mereka tidak tahu kau hanya bisa bicara seperti itu, Tuan Pertanyaan.”

Sesosok makhluk lain muncul. Yang ini tidak mau repot-repot mengambil wujud manusia. Makhluk ini memanifestasikan dirinya sebagai bentuk tiga dimensi yang berubah-ubah. Limas, kubus, balok, bola, prisma... begitu terus, berganti wujud setiap lima menit. Tapi warnanya tak berganti, bening.

Ketiga lelaki ini kembali dibuat kaget, tapi tidak jijik.

“Siapa kau? Siapa kalian?” desis Ardi.

“Siapa aku? Siapa kami?” tanya Pertanyaan seperti kaset rusak.

“Aku Jawaban. Dia Pertanyaan. Kami penjaga jembatan ini,” kata Jawaban lugas.

“Ini di mana? Kenapa kami ada di sini? Bagaimana caranya kami keluar dari sini?” si jangkung sudah sangat kesal dan tidak sabar.

“Tenang dulu. Jangan salahkan kami berdua. Kami cuma penjaga. Biarkan aku memberi kalian sebuah penjelasan,” sebelum ketiga lelaki itu bisa protes Jawaban melanjutkan, “Jembatan ini memang kelihatannya kecil. Kecil sekali. Mobil besar kalian tadi tidak bisa melewati jembatan ini, kan? Itu disengaja. Bukan, itu otomatis. Karena jembatan ini sendirilah yang mengharapkan kehadiran kalian di sini. Selama jembatan ini tetap ingin kalian ada, kalian tak bisa keluar. Tidak, justru situasi inilah yang kalian inginkan.”

“Kalau begitu kenapa jembatan ini ingin kita ada? Dan bagaimana caranya supaya kita tidak diinginkan lagi? Maksudnya kita menginginkan situasi ini apa?”

Baik Pertanyaan maupun Jawaban sama-sama diam. Mereka cepat-cepat menghilang seperti asap, bergabung ke dalam kabut. Hening beberapa saat.

“Gimana nih sekarang?” tanya si gemuk.

“Kita tembus,” jawab Rondo. Suaranya sedikit bergetar.

“Tembus? Caranya?” tanya Dudu, bingung.

Pertanyaannya tidak dijawab. Si jangkung berlari lurus ke arah kabut.

“AAAAAAAAAAAH!” masuk ke dalam kabut teriakannya jelas sekali terdengar.

“Do, kenapa lu?”

Tidak ada jawaban. Tanpa aba-aba Dudu dan Ardi langsung berlari menyusul. Memasuki kabut putih. Dan mereka berdua langsung tahu kenapa Rondo berteriak kesakitan. Kabut itu, tanpa disadari, terhirup oleh hidung, memasuki otak serta paru-paru mereka.

Memberikan gambaran. Membawa mereka kembali pada kenangan mereka masing-masing. Kenangan buruk tentu saja, yang tidak perlu dijelaskan di sini karena bisa menyakiti hati mereka. Si buntung sampai muntah-muntah. Si gendut menangis, si jangkung meraung-raung penuh amarah. Susah payah mereka berjalan keluar, hampir-hampir merangkak karena semua pasang kaki mendadak lemas, mati rasa.

Hela nafas kencang terdengar. Ketiganya berusaha mengumpulkan oksigen segar sebanyak-banyaknya, mengeluarkan sisa-sisa kabut keparat itu. Rasanya sesak luar dalam.

“Lu tadi liat apa?” tanya Dudu.

“Gue tadi lihat... masa lalu kelam gue. Waktu masih anak-anak, gue jatuh ke dalam sumur sampai dua hari. Orang tua gue... mereka sama sekali gak peduli. Mereka gak peduli!” Ardi pertama menjawab, kata-katanya melemah karena air matanya merangsek keluar membasahi pipi.

“Kalau gue, yang kelihatan tadi... kenangan waktu gue SMP, dibully senior. Cuma gara-gara nama gue! Salah apa? Tiga tahun penuh menderita terus-terusan! Sampai anak-anak seangkatan juga ikut-ikutan!” suara Rondo keras sekali. Matanya merah murka. “Lu gimana?”

Dudu tidak menjawab. Dia tidak ingin menjawab. Maka yang dia lakukan adalah mengacungkan tangan kirinya itu, menunjuk bagian pergelangan yang tidak ada dengan tangan kanan. Seketika dua lelaki lain mengerti apa yang dilihat si buntung.

“Jadi bagaimana kita bisa keluar?” tanya Dudu.

Semua diam, tidak menjawab. Dan menit demi menit, jam demi jam mulai berlalu. Mereka bertiga masih tanpa suara, terjebak dalam kenangan masing-masing. Diam di sisi jembatan. Tubuh mereka ada di sana, tapi pikiran mereka tersesat.

“Kau tahu, dulu pertama kali kita bertemu dalam keheningan seperti ini,” kata Rondo.

“Waktu itu kita juga sedang galau,” balas Ardi.

“Dan kita semua lari ke sini, ke jembatan,” timpal Dudu sambil tertawa getir.

“Kenyataan itu pahit ya,” kata Ardi. Mereka tertawa.

“Siapa yang kita tertawakan?” tanya si jangkung.

Kembali semua diam sesaat.

“Mungkin diri kita sendiri?” itu suara si buntung.

“Diri kita?” si gendut dan si jangkung bertanya balik bersamaan.

“Siapa lagi? Siapa lagi orang-orang yang lari dari kegalauan dengan membuat sebuah perkumpulan nyeleneh?” Dudu menjawabnya dengan pertanyaan retoris.

Hening lagi sebentar.

“Kenapa kita bikin klub aneh seperti ini? Padahal kita tak tahu apa-apa soal jembatan,” gumam Ardi.

“Heh, orang-orang di luar sana pasti sering menertawakan kita,” kata Rondo sinis. “Di mata mereka, kita ini orang-orang sok keren.”

“Tidak, kita tidak sedang mencoba jadi sok keren atau sok pintar,” bantah Dudu. “Kita ingin lari.”

“Lari dari kenyataan maksudmu?” tanya Rondo.

“Apa lagi? Buktinya saat beberapa jam lalu, kabut itu... dan reaksi kita, kau tahu kan reaksi kita seperti apa?” timpal Ardi.

“Mungkin itu benar,” kata Dudu sambil menelan ludah. “Terus kalau begitu, apa yang dimaksudkan makhluk-makhluk aneh itu dengan ‘jembatan ini menginginkan kita’?”

“Aku ragu soal hal itu. Jembatan yang ingin kita ada, atau kita yang ingin jembatan ada? Oke, kita membuat klub jembatan karena ingin melupakan kenyataan. Tapi kenapa kita bisa suka jembatan? Apa kita semua sebenarnya memang ingin dan masih terjebak dalam satu jembatan?”

“Jembatan apa?” yang bertanya ini bukan salah satu dari mereka bertiga. Pertanyaan dan Jawaban sudah muncul kembali di hadapan ketiga lelaki bujang itu.

“Jembatan dalam diri kalian sendiri,” kata Jawaban.

“Dalam diri mereka?”

“Ada jembatan yang belum mereka lewati.”

Tahu-tahu tubuh ketiga lelaki itu mengecil, kembali menjadi anak-anak seusia SMP.

“Itu potongan terakhir?”

“Ya. Sekarang ayo pergi.”

Dan kedua makhluk ini menghilang lagi.

“Aku tahu ini jembatan apa,” kata Rondo.

“Aku juga,” kata Ardi. Dudu juga mengiyakan dengan anggukan.

“Ini jembatan pubertas,” kata ketiganya berbarengan.

******

Setelah kejadian itu Klub Riset dan Apresiasi Jembatan bubar. Rondo, Ardi, dan Dudu tetap berteman, tapi mereka tak pernah lagi terlihat berkumpul di jembatan berjam-jam. Mereka juga berhenti membicarakan hal-hal yang tidak mereka ketahui. Sekarang masing-masing sering terlihat berjalan dengan wanita. Ada sebuah cerita yang selalu mereka kisahkan kepada pasangan mereka, kepada teman-teman baru mereka, kepada kenalan mereka. Kisah tentang jembatan pubertas yang harus dilewati semua orang sebelum dewasa.

Kali ini tidak ada yang percaya.


message 23: by Mahfudz (last edited Apr 12, 2013 09:51AM) (new)

Mahfudz D. (mahfud_asa) | 305 comments Mahkota Tanduk

Bagi seorang pemburu bayaran sepertiku, merencanakan sebuah hari libur ternyata sulit. Dua hari yang lalu aku baru saja pulang dari hutan di timur hanya untuk mengambil sekuntum bunga pesanan seorang istri saudagar kaya. Keesokan harinya aku berencana akan mengistirahatkan tubuhku, tapi malang tak bisa ditanggung. Kepingan uang pun cukup sulit dibiarkan berlalu begitu saja.

Kemarin, sebuah kereta kuda tiba-tiba berhenti di depan rumahku yang sederhana. Aku tengah menikmati secawan minuman hangat pagiku di beranda saat seorang laki-laki gemuk turun dari kereta kuda itu. Dari penampilannya, orang itu tampaknya orang kaya. Tentu saja ia kaya. Kereta kuda bukan kendaraan yang bisa digunakan oleh babu-babu untuk jalan-jalan pagi.

“Apa kau yang bernama Asung?” tanya pria itu padaku.

Aku langsung bangkit, meletakkan cawan minumanku di tempat dudukku. “Ya. Ada yang kau perlukan?”

“Ya,” jawab pria itu tampak lega. “Aku ingin memintamu…”

“Sebaiknya kita bicarakan di dalam,” potongku mempersilakan pria itu masuk. Aku tak pernah suka membicarakan perihal pekerjaan di luar rumah.

Aku mengambil minumanku, lalu mengajak pria itu masuk. Aku mempersilakannya duduk di kursi bambu sederhana di ruang tamu.

“Jika kau berkenan, aku punya secawan minuman hangat yang mungkin akan menghangatkan pagimu yang dingin ini,” ujarku menawarkan setelah pria itu duduk.

“Tentu saja,” jawab pria itu pendek.

Aku kemudian menghilang ke dapur yang hanya berbatas selembar anyaman bambu dengan ruang tamu. Menuangkan minuman untuk tamuku, lalu aku muncul kembali ke ruang tamu dengan secawan minuman hangat di tanganku.

“Silakan,” ujarku seraya duduk di depan pria itu.

“Terima kasih,” jawabnya. “Mengenai permintaanku?”

“Silakan katakan.” Aku menyeruput minumanku yang sudah hampir dingin.

“Aku ingin kau mencarikan Mahkota Tanduk untukku,” jawab pria itu langsung ke pokok permasalahan.

“Mahkota Tanduk?” Aku mengerutkan kening tanda tak tahu. Mahkota Tanduk―apa pun itu, pastilah bukan sesuatu yang biasa. Sebagai seorang pemburu yang sudah keluar masuk hutan puluhan bahkan ratusan kali, seharusnya aku tahu jika itu memang sesuatu yang ‘biasa’. “Apa itu? Aku belum pernah mendengar benda semacam itu.”

Pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam jubahnya. Sebuah gulungan kertas berwarna kecoklatan, lalu ia menyerahkan gulungan kertas itu padaku. Aku menerimanya dan langsung membaca isinya.

Di dalamnya, terdapat sebuah gambar seekor rusa dengan tanduk bercabang yang indah. Di sekeliling gambar rusa itu, berbaris-baris tulisan memenuhi setiap ruang kosong di kertas. Aku membacanya sekilas, hingga akhirnya aku tahu apa itu Mahkota Tanduk. Mahkota Tanduk adalah tanduk dari seekor rusa putih.

Oh, ini memang benar-benar bukan sesuatu yang biasa. Kata rusa putih saja sudah tak wajar. Apa lagi jika kau teruskan membaca keterangan tentang Mahkota Tanduk itu. Ada satu baris kalimat yang membuatku semakin enggan berurusan dengan Mahkota Tanduk ini.

Rusa Putih dipercaya sebagai jelmaan jiwa seorang gadis yang terasingkan.

Aku sebenarnya hendak menolak permintaan ini andai saja sekantung uang itu tak serta-merta dijatuhkan ke meja. Sejumlah uang yang akan menghidupiku sebulan lebih tanpa perlu bekerja.

“Kau akan mendapatkan sepuluh kali lipat dari itu jika kau berhasil mendapatkannya.”

***

Sekantung uang dan janji sepuluh kali lipatnya mengantarkan kalimat persetujuan keluar dari mulutku. Berkat kalimat persetujuan itu, di sinilah aku berada sekarang. Mengendap-endap di antara sesemakan dan pepohonan hanya untuk mengawasi segerombolan rusa putih bertanduk bercabang yang indah. Tak heran jika pria kaya itu begitu menginginkannya. Walau sampai sekarang aku tak tahu untuk apa pastinya pria itu menginginkan Mahkota Tanduk itu. Aku tak pernah merasa perlu untuk mencari tahu. Itu bukan termasuk dalam pekerjaanku.

Pria itu benar. Ternyata menemukan segerombolan rusa putih bukanlah hal yang sulit jika kau mau benar-benar mengikuti arahan dari gulungan kertas itu. Bahkan, ini benar-benar terlalu mudah untuk sesuatu yang dihargai begitu mahal. Walau, yah, hutan ini memang agak berbeda dari hutan mana pun yang pernah kumasuki. Hawa dinginnya terasa tak wajar.

Aku tinggal membidikkan anak panahku ke salah satu rusa itu, mengambil tanduknya, pulang, dan siap menerima kantung-kantung uang yang dijanjikan. Hah, ternyata akan semudah itu.

Aku sudah mulai membidik. Dari segerombolan rusa itu, ada seekor rusa yang tanduknya tampak begitu indah. Jika memang semudah ini, biarlah aku mempersembahkan tanduk terindah itu pada penyewaku. Siapa tahu ia akan terkesan dan upahku akan ditambah. Siapa tahu, tak ada salahnya berharap.

Rusa bidikanku tampak mondar-mandir, seakan menyadari bahwa ia tengah terancam. Aku tak ingin ia sampai sadar aku tengah membidiknya, sehingga setelah yakin bidikanku tepat, kuluncurkan anak panahku.

Dengan cepat, anak panah itu mendesing dan langsung menembus paha belakang rusa putih sasaranku. Rusa itu meringik kesakitan, membuat kawanannya kabur ke segala arah. Rusa itu juga tampaknya hendak lari. Sebelum itu, aku telah memasang anak panah kedua dan langsung meluncurkannya hingga mengenai sasaran yang hanya berjarak beberapa jengkal dari anak panah pertama.

Rusa itu masih mencoba untuk kabur, tapi ternyata ia tak sanggup. Hanya setelah langkah ketiganya, rusa itu terjatuh di rerumputan yang tebal. Hampir separuh tubuhnya terbenam dalam rerumputan. Sesaat aku menunggunya bangkit lagi sambil menyiagakan anak panah ketigaku. Tapi setelah cukup lama, tak terjadi apa-apa. Rusa itu tak terlihat bangun lagi.

Aku keluar dari persembunyianku. Setengah berlari, kuhampiri rusa itu sambil menyiapkan pisau untuk memotong tanduk rusa itu. Tapi jantungku langsung berdetak tak karuan saat aku sampai di tempat rusa itu seharusnya berada.

Tak kutemukan seekor rusa pun di tempat itu. Yang ada hanya seorang gadis cantik berambut hitam panjang dengan gaun putih berjuntai-juntai tengah merintih kesakitan memegangi kakinya. Kulitnya begitu pucat. Entah memang seperti itu, atau karena darahnya yang keluar begitu banyak. Gaun putih yang menutupi paha kanannya kini telah menjadi merah karena darah.

“Siapa kau?” tanyaku tak tahu hendak berkata apa. Baru kemudian aku menyadari sesuatu di kepala wanita itu. Sebuah mahkota yang tampak terbentuk dari kumpulan tanduk rusa dalam wujud kecilnya. Benakku langsung berlari ke segala hal yang tertulis dalam gulungan kertas pria yang menyewaku. Rusa Putih dipercaya sebagai jelmaan jiwa seorang gadis yang terasingkan. “Apa kau… ?” aku tak sanggup menyelesaikan kata-kataku.

Gadis itu menatap tajam padaku dengan mata hitam arangnya. “Ya, aku rusa yang kau panah.”

***

Entah kenapa tiba-tiba aku menggigil. Bukan. Aku tak menggigil karena angin, tapi karena tatapan gadis itu. Entah kenapa tatapan gadis itu benar-benar membuatku ketakutan.

“Makhluk apa kau sebenarnya?” tanyaku gemetar. Entah kenapa keberanianku lenyap. Aku tak tahu penyebabnya. Mungkinkah hanya karena tatapan tajam gadis itu? Tidak mungkin. Ini sama sekali tak masuk akal.

“Aku manusia,” jawab gadis itu masih memandang tajam padaku. Sedetik aku melihatnya mengernyit kesakitan. “Aku juga rusa. Tergantung sebagai apa aku ingin. Itu sama sekali bukan masalahmu. Yang jadi masalah adalah kenapa kau melukaiku?”

“Untuk mengambil tandukmu,” jawabku jujur. Aku tak tahu, di bawah tatapannya aku menjadi begitu ‘penurut’.

Aku melihat matanya membelalak lebar. Tampaknya apa yang kukatakan adalah hal paling menakutkan yang pernah didengarnya. “Untuk apa kau butuh tandukku?”

“Bukan aku yang butuh.” Aku masih berpikir kenapa aku berkata jujur seperti ini. “Aku hanya menuruti penyewaku. Dia ingin aku mengambil tandukmu untuknya. Aku tak tahu akan ia apakan tandukmu.”

“Kau tak tahu betapa berbahayanya tindakanmu.” Tatapan gadis itu tak lagi setajam tadi. Kini ada kilat ketakutan di mata itu.

“Memang, tapi aku tahu seberapa mahal bayarannya.”

Selesai mengatakan itu, aku langsung berjalan mendekati gadis itu, berusaha untuk menghindari tatapannya. Sebagian diriku mengatakan bahwa tatapannya melemahkanku dengan cara yang tak kuketahui. Begitu aku berada persis di sampingnya, kurenggut Mahkota Tanduk yang dikenakannya. Walau tidak dalam bentuk tanduk rusa sesungguhnya, tapi itulah satu-satunya benda yang menyerupai tanduk untuk saat ini. Entah nanti penyewaku akan menerimanya atau tidak, aku tak peduli. Satu-satunya hal yang aku inginkan adalah segera pergi dari tempat ini.

Mengambil Mahkota Tanduk itu bukanlah suatu yang sulit. Tapi sesuatu yang terjadi berikutnyalah yang menyulitkan. Membuatku memikirkan ulang keinginanku.

Sesaat setelah aku menyentuh mahkota itu, aku seakan kehilangan kendali atas diriku. Aku tak tahu apa yang terjadi. semua tiba-tiba terasa mengabur. Padanganku tak jernih. Saat akhirnya pandanganku kembali jernih, aku sudah tidak berada di tempatku sebelumnya.


message 24: by Mahfudz (last edited Apr 12, 2013 10:05AM) (new)

Mahfudz D. (mahfud_asa) | 305 comments Hutan dan pepohonan di sekelilingku telah hilang, berganti kumpulan orang yang tampaknya tengah marah pada sesuatu. Hampir semua orang membawa senjata berupa batangan kayu. Bahkan ada yang membawa golok. Mereka mengacung-acungkan senjatanya ke tengah kerumunan.

Hal itu menarik perhatianku. Aku berjalan mendekati kerumunan untuk mengetahui apa yang terjadi. Ada yang aneh terjadi dengan diriku. Saat aku merangsek masuk ke dalam kerumunan, alih-alih bersentuhan dengan kumpulan orang itu, tubuhku menembus tubuh mereka. Lalu aku menyadari bahwa diriku bukanlah bagian dari tempat ini.

Aku terus menembus kerumunan hingga akhirnya aku sampai di tengah kerumunan hanya untuk menemukan seorang gadis tengah bersimpuh di tanah, menangis. Gadis itu mendongak, seakan sengaja menatapku. Seandainya tatapannya tak begitu kukenal, aku mungkin tak akan mengenali siapa gadis itu. Tatapannya langsung mengingatkanku akan gadis rusa itu, walau wajahnya sangat berbeda. Alih-alih wajah cantik dan kulit putih, gadis yang kini bersimpuh di hadapanku bermuka cacat, bintil-bintil bernanah memenuhi seluruh wajahnya. Jujur saja itu membuatku jijik.

“Usir saja gadis itu sebelum ia menyebarkan penyakitnya di kampung kita,” seorang wanita yang entah berada di sebelah mana tiba-tiba berteriak, menyulut kebencian dan kemarahan orang-orang yang memang sudah marah sedari awal.

Teriakan persetujuan kemudian bersahut-sahutan memekakkan telinga. Membuat telingaku berdenging dan pandanganku mengabur.

Citra di sekelilingku mengabur dan berubah lagi.

***

Saat citra berikutnya memadat, kupikir aku sudah kembali ke hutan. Memang citra itu kini berada di tempat yang sempat kulewati. Kini aku tengah berada di sebuah jembatan bambu reot yang kulewati saat aku hendak menuju hutan tempatku memburu rusa putih itu.

Di kedua ujung jembatan bambu itu, kini berdiri dua orang. Seorang kukenali sebagai gadis kampung bermuka cacat, yang kini penampilannya masih sama. Hanya tambah kotor dan tambah tak karuan. Rambutnya awut-awuta. Tampaknya gadis itu akhirnya benar-benar terusir dari kampungnya. Seorang lagi aku tak yakin. Gaun yang dikenakannya persis dengan yang dikenakan gadis rusa di hutan tadi, putih bersih berjuntai-juntai hingga menutupi seluruh kakinya. Penampilannya juga tampak mirip dengan gadis rusa itu, rambut hitam panjang dan kulit pucat.

“Siapa kau?” tanya si gadis kampung. Nada suaranya benar-benar ketakutan.

“Aku Mohita,” ujar gadis bergaun putih itu lembut. Tampak sekali ingin menenangkan si gadis kampung. “Kau tak perlu takut padaku. Aku dan saudari-saudari kita yang lain juga pernah mengalami hal yang sama denganmu.”

Gadis kampung itu tampak ragu-ragu. Ketakutan jelas masih belum mau meninggalkan tubuh gadis itu.

“Seberangilah jembatan itu dan ambillah mahkota ini.” Mohita mengulurkan sebuah Mahkota Tanduk seperti yang bertengger di kepalanya. “Kau tak akan sendiri lagi.”

“Apa yang akan terjadi jika aku menyeberang ke sana dan menerima mahkota itu?” tanya gadis kampung itu dengan nada bergetar.

Mohita tiba-tiba menjadi sedikit muram. “Kau tak akan bisa kembali. Kau akan menjadi bagian dari kami.”

Setelah tak terjadi apa-apa dalam waktu yang lama, akhirnya gadis kampung itu menapaki setapak demi setapak jembatan bambu itu. Ia semakin mendekati seberang. Tapi belum juga citra itu selesai, pandanganku sudah kembali mengabur dan menjernih lagi. Kini, aku benar-benar telah kembali ke hutan tempatku seharusnya berada.

Keadaanku masih seperti sebelumnya, aku tengah menyentuh Mahkota Tanduk, hendak mengambilnya.

“Citra apa itu tadi?” tanyaku segera melepas tanganku dari Mahkota Tanduk itu. sebelum ada jawaban untuk pertanyaanku, yang sebenarnya aku sedniri sudah tahu jawabannya, aku memandang gadis itu. tak benar-benar yakin hendak mengatakan apa. “Kau gadis kampung itu.”

Gadis itu mengangguk. “Ya, dulu. Sekarang aku adalah gadis rusa.”

“Apa yang akan terjadi jika aku mengambil Mahkota Tandukmu?” tanyaku. Kali ini aku benar-benar merasa kasihan dengan gadis itu. Tanpa pengaruh tatapan tajamnya.

“Kukira kau sudah bisa menebaknya,” jawabnya.

Kemudian sebentuk jawaban terbersit dalam benakku. “Kau akan kembali menjadi dirimu yang dulu.”

Gadis itu mengangguk menyetujui.

***

Aku tak pernah mengalami kegagalan dalam perburuanku sebelumnya. Ini adalah yang pertama kali. Ternyata aku salah. Mendapatkan Mahkota Tanduk ternyata jauh lebih sulit daripada yang kusombongkan sebelumnya. Ada rasa yang terlibat yang membuat segalanya menjadi begitu rumit. Setelah benar-benar mengalami kerumitan itu, akhirnya aku memutuskan untuk tak mengambil apa pun dari hutan ini.

Yah, aku merelakan berkantung-kantung uang yang telah di janjikan. Jika aku benar-benar mengambil Mahkota Tanduk itu, tampaknya aku tak akan pernah bisa menikmati hadiah itu dengan tenang. Batin dan benakku pasti akan terusik oleh berbagai pikiran tentang gadis itu.

“Apa aku boleh menanyakan sebuah pertanyaan?” tanyaku pada gadis rusa itu. Ia berjalan tertatih di sampingku. Aku telah mencoba sebisaku mengobati luka akibat anak panahku, dengan bantuan beberapa gadis rusa yang lain―yang datang setelah aku berjanji untuk tak mengambil Mahkota Tanduk mereka. Hasilnya tidak buruk, ia sudah bisa kembali berjalan walau tertatih.

Ia mengangguk. “Ya.”

“Apakah kau pernah berpikir untuk mencoba menyeberangi jembatan, kembali ke seberang?” tanyaku agak ragu.

Ia tampak terkejut sebelum menjawab. “Mohita mengatakan aku tak bisa kembali.”

“Ya, aku melihatnya saat dia mengatakan hal itu,” balasku, kemudian aku berbalik.

Aku melangkah, menyeberangi jembatan untuk kembali. Aku terus melangkah. Saat hampir mencapai separuh jembatan, aku berbalik hendak menanyakan sesuatu pada gadis rusa itu.

“Tiba-tiba aku teringat satu pertanyaan lagi,” ujarku sedikit berteriak, memastikan gadis rusa itu mendengarnya. “Satu pertanyaan lagi, kau mau menjawabnya?”

Aku melihat ia mengangguk, senyum kecil mengembang di wajahnya. Sepertinya tindakanku ini terlihat lucu.

“Aku belum tahu namamu,” teriakku. “Siapa namamu? Aku Asung.”

Gadis itu tampak terkejut sebelum akhirnya senyum yang lebih lebar menghiasi wajahnya. Kemudian ia menyebutkan namanya, tidak dalam teriakan, tapi aku mendengarnya dengan jelas. “Aku Nareswa.”

“Baiklah Nareswa,” ujarku. Jantungku tiba-tiba berdetak lebih keras dari sebelumnya. “Karena kau tak bisa menyeberangi jembatan ini, suatu hari aku akan berkunjung ke hutan Ini.” Saat Nareswa terlihat terkejut, agak takut, aku buru-buru menambahkan. “Tenang saja. Bukan untuk mengambil Mahkota Tandukmu. Aku hanya ingin bertemu denganmu.”

Kelegaan benar-benar terlihat di wajah Nareswa. Senyum kembali terkembang di wajahnya.

Saat tak ada tanggapan apa pun darinya, aku berbalik melanjutkan perjalananku yang tertunda. Tapi belum juga aku melangkah sebanyak lima langkah, tiba-tiba aku mendengar Nareswa memanggilku.

“Asung,” panggilnya. Aku berbalik. “Aku akan menunggu hari itu tiba.”

***

Aku meralat kata-kataku. Aku tak gagal dalam perburuan kali ini. Aku memang gagal mendapatkan apa yang penyewaku inginkan, dan balasannya aku gagal mendapat berkantung-kantung uang itu. Tapi...

“Jadi kau gagal mendapatkan Mahkota Tanduk itu?” tanya penyewaku tampak kecewa.

Sekarang aku tengah berada di rumah penyewaku. Seperti perjanjian, sehari setelah aku pulang, aku harus datang ke rumah megah ini untuk memberikan hasil buruanku, yang sayangnya tidak ada.

“Ya, begitulah,” jawabku sekenanya. Aku tak ingin beralasan apa pun.

“Sayang sekali.” Pria itu memberi tanda dengan jelas ke tumpukan kantung berisi koin-koin uang, tampak sekali memameriku.

Jujur saja, ada sebagian diriku yang sangat tertarik dengan uang itu. Siapa sih yang tidak tertarik dengan uang sebanyak itu. Tapi sebagian diriku―dan itu yang jauh lebih besar―merasa uang itu tak lebih penting dari apa yang aku dapatkan dari perburuan kali ini. Ya, aku mendapatkan hasil buruan yang lain, sesuatu yang jauh lebih berharga. Cinta.

“Kupikir sudah tidak ada yang hendak dibicarakan lagi,” ujarku berpamitan.

“Ya, kupikir begitu,” jawab pria itu.

Aku bangkit, hendak meninggalkan rumah megah ini. Aku terus berjalan. Saat hampir mencapai pintu, aku mengingat sesuatu. “Oh, aku melupakan sesuatu,” ujarku. Aku merogoh saku dan mengeluarkan kantung berisi uang yang dulu diberikan pria itu. “Tampaknya ini pun tak berhak untukku.” Aku melemparkan kantung uang itu ke tumpukan kantung uang mantan calon hadiahku.

“Oh, mungkin aku bisa menyewa orang yang lebih jago lagi dengan uang-uang ini untuk mengambilkan satu Mahkota Tanduk untukku.” Pria itu tertawa mengejek.

“Jika memang seperti itu,” ujarku sambil berlalu pergi. “Aku sendiri yang akan memastikan kegagalan orang itu.”

Selesai~


message 25: by Han (new)

Han Asra (goodreadscomhanasra) | 417 comments Bayang-Bayang Sungai

Aku rasa siapapun yang tinggal di Heissburg tahu Jembatan Leonold. Bahkan para turis yang sekedar berkunjung pasti tahu karena ini merupakan salah satu lambang kebanggaan bagi Heissburg, membentang panjang di atas sungai Harts dengan gagah.

Bagaimana rupanya? Ya, bisa dikatakan cukup bagus. Kata temanku yang mengerti, katanya jembatan ini dibangun dengan gaya neo-safant, entahlah apa maksud dari itu. Apa yang penting bagiku, jembatan ini masih tetap indah walaupun warnanya jadi kusam karena uap dari kapal-kapal yang lewat dibawahnya dan juga mobil uap yang menyebrang diatas.

Walaupun indah dan menjadi simbol bagi Heissburg, tidak banyak orang, turis sekalipun, berada diatas jembatan lama-lama. Kalau menurutku, mungkin karena asap tebal dari kapal dan mobil, kerap menyelimuti Jembatan Leonold menjadi penyebabnya. Aku sendiri tidak ingin terlalu lama berada diatas jembatan terlalu lama.

Namun kali ini orang-orang ramai berkerumun, memperhatikan apa yang terjadi di bawah jembatan. Aku rasa asap mobil tidak cukup untuk menahan mereka untuk memenuhi rasa tahu mereka dan menonton evakuasi yang kami lakukan.

Di sampingku, berdiri Inspektur Kepolisian Heissburg, atasanku, Carl Wittgenstein. Dia menghisap pipanya sebelum mengumpat dan menengok kearahku.

Dan aku? Namaku Maria Hoessen, deputi I kepolisian Heissburg.

“Bah! Apa yang dipikirkan keparat malang itu?! Bisa-bisanya dia merepotkan kita atas kematiannya sendiri!”

“Setidaknya Inspektur, mayatnya masih mendarat di salah satu fondasi pilar, jadi kita tidak perlu repot-repot mencarinya sepanjang sungai.”

“Ucapanmu kali ini ada betulnya, Hoessen” Dia menghisap pipanya lagi, dan menghembuskannya. “Hoessen, menurut apa yang membuatnya orang ini lompat dari atas situ?”

“Entahlah, mungkin alasan biasa seperti himpitan hidup atau malah cinta.”

Mendengar jawabanku, Inspektur langsung meludah, “Bah! Kalau itu hanya alasannya, kita akan butuh kapal nelayan untuk mengangkut semua mayat!”

“Aku bisa sebutkan kemungkinan lain inspektur, kalau kau mau.”

Inspektur Carl hanya terdiam, dia menghisap pipanya lagi dan menghembuskan asapnya keluar. Wajahnya terlihat cemas dan resah.

“Ini sudah keberapa untuk minggu ini, Hoessen?”

“Kalau tidak salah, sudah yang ke-3.”

“Itu dia Hoessen! Aku tanya lagi, kenapa harus lompat dari atas jembatan ini?!”

Aku bisa mendengar atasanku begitu frustasi. Tentu saja tidak ada yang lebih mengherankan dari apa yang dihadapinya sekarang. Kasus bunuh diri di kota besar seperi Heissburg bukanlah hal yang aneh. Tapi lain hal jika 5 dari 7 kasus terjadi di satu tempat, dan 3 diantaranya terjadi dalam waktu satu minggu.

Sekembalinya kami ke markas, Inpektur Carl langsung memintaku mencari semua berkas yang berkaitan dengan kasus bunuh di Jembatan Leonold. Dia sepertinya menjadi penasaran dengan kasus ini.

Cukup sulit bagiku untuk melakukannya. Maksudku, bukan mencari tapi membawakan berkasnya. Dari 147 berkas bunuh diri yang terjadi pada satu tahun saja, 120 diantaranya terjadi di Jembatan Leonold. Fakta yang membuat terkejut karena baru menyadarinya.

Kuletakkan semua berkas yang kubawa diatas mejanya, “Apa perlu kubawakan lagi yang lain, Inspektur?”

Inspektur menatap berkas yang kubawa lekat-lekat. Lalu dia menatapku dan menjawab, “Tidak perlu, kurasa ini saja sudah cukup.”

Dengan berkas yang begitu banyak diatas mejanya, Inspektur menjadi tenggelam dalam penyelidikannya. Ketika aku menawarkan apalagi yang bisa aku bantu, dia malah menyuruhku untuk menyelesaikan kasus yang lain.

Ini hanya kasus bunuh diri, mengapa dianggap begitu serius? Maksudku, memang Jembatan Leonold sepertinya jadi tempat favorit untuk bunuh diri, tapi mengapa kasus lain seperti pembunuhan dan perampokan harus dia kesampingkan?

“Kau tidak mengerti Hoessen, kau masih hijau. Firasatku mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres disini, ada hal lain lebih dari sekedar putus cinta untuk membuat semua orang itu lompat bunuh diri” itu jawaban yang diberikannya untukku ketika kutanyai. Satu jawaban yang kerap kudengar ketika dia kutanyai mengapa suatu kasus dia terus kejar atau tiba-tiba dihentikan: Firasat, dan aku terlalu hijau untuk membantahnya dengan ocehan-ocehanku.

Namun tidak butuh lama sampai aku kembali lagi padanya dan memberikan laporan yang entah mengapa aku sendiri tidak terkejut mendengarnya.

“Ada apa? Bukankah sudah aku katakan kalau aku tidak waktu untuk melayani ocehanmu?” ucapnya sambil menatapku dengan pandangan mengusir.

“Tapi Inspektur, kau harus tahu ini. Seorang wanita baru saja melompat tadi pagi di Jembatan Leonold.”

***

Inspektur Carl menghela nafasnya dalam-dalam ketika mayat wanita itu diangkat dari sungai. Aku pun sedikit cemas melihat dalam waktu 4 hari saja, sudah muncul korban baru. Tapi ketika aku tanyai penyelidikan, Inspektur tetap menolak untuk membaginya padaku, deputi dia sendiri!

Beruntung mayat tersebut tidak terseret terlalu jauh dari tempatnya melompat. Ketika kapal yang membawanya merapat ke dermaga kecil, aku dan Inspektur langsung datang menghampiri untuk melihatnya langsung dari dekat. Untuk kali ini aku tidak perlu mengeluarkan isi perutku lagi, mengingat yang korban sebelumnya mendarat dengan keras sampai mengeluarkan isi perutnya.

Begitu aku melihat mayat korban, aku sendiri merasa heran karena dari penampilan, wanita ini jauh lebih dari cantik dari diriku. Dilihat dari pakaiannya pun, dia tidak bisa dibilang berkekurangan. Tapi ketika aku memperhatikan lebih lanjut, tangan wanita itu mengepal keras, seperti menggenggam sesuatu. Setahuku, tidak banyak mayat mati tenggelam mengepalkan tangannya ketika nafas mereka direnggut oleh air.

“Inspektur, coba kau perhatikan tangannya.”

“Apa maksudmu kali ini Hoessen?”

“Bukankah aneh tangannya mengepal seperti itu?”

Menyadari keanehan itu sendiri setelah memperhatikannya lebih lanjut, Inspektur Carl langsung mengangguk sambil bergumam mengiyakan. Dia kemudian mencoba membuka tangan wanita itu sendirinya, menolak bantuan patroli muda yang berdiri diatas kapal. Genggaman mayat wanita itu begitu keras sampai Inspektur Carl sendiri kesulitan. Ketika tangan itu terbuka, aku bisa melihat jelas apa benda yang digenggamnya. Selembar kertas yang basah dan kusut. Inspektur langsung mengambil dan membukanya dengan hati-hati.

Dia memperhatikan kertas itu dengan hati-hati. Alisnya kadang naik turun dan dia terdiam. Penasaran, aku langsung menghampiri dia.

“Kertas apa itu?”

“Entahlah, aku sendiri tidak tahu” jawabnya sambil memperlihatkan kertas itu padaku.

Walaupun basah dan kusut, aku bisa melihat sesuatu dengan jelas tertulis pada kertas itu. Masalahnya, aku sendiri tidak bisa membacanya. Kalimat atau apapun itu tidak ditulis dengan bahasa yang aku kenal.

“Apa dia orang asing?”

“Kurasa tidak. Maksudku, perempuan seperti dia ini bisa kita temui dimanapun di Wessterreicht.”

Inspektur Carl meniup-niup kertas itu sampai cukup kering, membungkusnya dengan sapu tangan milknya sebelum dimasukkan kedalam saku jaketnya. Aku bisa melihat ekspresinya terlihat sedikit senang ketika memasukkan bukti baru kedalam kantungnya. Ketika kutanyai, dia masih menolak tidak ingin memberitahu padaku apapun yang dia dapat dari penyelidikannya.

Dengan bertambahnya satu lagi korban, Inspektur Carl semakin memperdalam penyelidikannya. Merasa tidak cukup dengan tumpukan berkas diatas mejanya, dia kembali menyuruhku untuk mengambilkan berkas lain atas hal yang sama, tapi kali ini dia ingin dari kasus yang paling pertama. Permintaan yang berat menurutku, karena itu berarti aku harus membawakan hampir satu lemari penuh.

Ketika aku memegang berkas paling tua dari kasus bunuh diri di Jembatan Leonold, benakku penasaran jiwa malang mana yang melepas nyawa sendiri diatas jembatan itu. Begitu kulihat nama yang tertulis, dahiku mengenyit. Orang yang melepas nyawa sendiri pertama kali tidak lain adalah si perancang jembatan itu sendiri, Leonold Habermas.

“Inspektur, boleh aku bertanya?” tanyaku seraya meletakkan berkas-berkas yang kubawa diatas mejanya yang sudah. Dia menatapku, seolah aku seharusnya sudah tahu apa jawabannya. Kubalas tatapannya, setidaknya aku berhak memberikan pertanyaan.

Melihat aku yang begitu bersikukuh, dia menghela nafas, “Hoessen, aku pikir kau sudah tahu.”

“Aku belum pernah diberitahu motif penyelidikanmu.”

“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanyanya balik dengan nada yang lebih tinggi, mencoba menekanku dengan otoritas yang dimilikinya. Tapi aku tidak boleh mundur disini. Aku langsung perlihatkan dokumen yang sudah kusiapkan.

“Leonold Habermas, perancang Jembatan Leonold, mati bunuh diri disana dan jadi korban pertama.”

Tidak kusangka kalau Inspektur Carl menaikkan alisnya, seolah apa yang dia dengar itu baru didengarnya pertama kali. Dia mengambil pipa dan menyalakannya, lalu menghisapnya sebelum menjawab.

“Kau mengira kematian Leonold ada sangkut pautnya dengan motifku. Tapi tidak, sebenarnya aku sendiri baru tahu hal itu hari ini sekarang. Motifku, Hoessen, lebih daripada itu. Kau yang masih hijau tidak akan bisa mengetahuinya dan penemuanmu itu, membuktikan kebenaran motifku” dia menghisap pipanya lagi, dan menghembuskannya kesamping.

“Apa kau tidak butuh bantuanku?”

“Bukankah kau sudah kuberi kasus lain untuk diselidiki?”

“Untuk kasus ini, maksudnya”

Dia kembali menatap mataku dengan tajam, “Tidak untuk saat ini Hoessen.”

“Tidak bahkan dengan kertas yang kita temukan kemarin?”

“Apa kau tidak mengerti jawabanku barusan?” kali ini dia menggunakan nada ancaman yang lebih serius. Tidak ingin masalah lebih lanjut, aku menyimpan rasa penasaran dan membiarkannya sendiri pada penyelidikan rahasianya.

Selama waktu berlalu, kasus yang kupegang semuanya mengalami kemajuan. Beberapa kali ketika kutemui kebuntuan, aku datang bertanya pada Inspektur Carl untuk memintai pendapat, dia memberiku tatapan tajam mengusir tapi ketika dia tahu maksudku, dia langsung memberikanku pendapat terbaiknya. Dia tidak pernah menanyai pendapatku, dan kulihat dia masih berkutat di dokumen-dokumen yang sama berhari-hari. Begitu juga dengan kertas yang ditemukan, tergeletak semakin kumal diatas meja dengan coret-coretan tidak berhasil.

Sampai akhirnya kami kembali lagi ke Jembatan Leonold, ketika seseorang melompat lagi dari atas dan menenggelamkan dirinya. Kali ini korban berasal dari pihak kami sendiri, patroli yang ditempatkan oleh inspektur untuk mencegah bunuh diri lebih lanjut malah menambah jumlah korban dengan dirinya sendiri. Apa yang menggangu bagiku sebenarnya, bagaimana Inspektur Carl selalu mengajakku ikut tapi tidak sedikit pun aku diberikan hasil penyelidikannya sejauh ini.

Tubuhnya terseret cukup jauh oleh arus sungai Harts kali ini sehingga kami terus datang ke Jembatan Leonold selama beberapa hari untuk memantau pencarian mayatnya. Di hari pertama aku dan inspektur memantau patroli dari dermaga. Tapi kemudian, Inspektur Carl memutuskan untuk memantau dari atas jembatan.

Seperti biasa aku berdiri dibelakangnya, menunggu perintah. Aku hanya bisa terdiam, tidak bisa mengatakan pendapat kalau aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Merasa sedikit kesal dengan kesunyian dan ketidaktahuan ini, aku nekat bertanya pada dia. Diluar dugaanku, dia menengok dan menatapku dengan biasa. Dia lalu berbicara padaku tanpa ada rasa otoritatif.

+++


message 26: by Han (last edited Apr 15, 2013 12:55AM) (new)

Han Asra (goodreadscomhanasra) | 417 comments +++

“Kau sebegitunya ingin tahu?” aku hanya bisa mengangguk. Inspektur menghisap pipanya, bersiap-siap memberikan penjelasan yang panjang. Sepertinya dia sendiri membutuhkan pendapat orang lain untuk kasus ini.

“Dari semua berkas yang kubaca, korban-korban berasal hampir dari semua macam orang yang bisa kau ketahui. Tua-muda, pria-wanita, kaya-miskin, dan seterusnya, kecuali anak-anak. Walaupun begitu, aku menemukan bahwa ada kecenderungan yang melakukan bunuh diri disitu adalah mereka yang terkenal sukses, atau memiliki reputasi yang baik” Dia berhenti sejenak untuk menghisap pipa dan menghembuskannya, “Seperti patroli kita ini, Veroen, dia polisi brillian yang tinggal menunggu kenaikan pangkat. Hari ini seharusnya masa patroli terakhir kalau dia masih hidup.”

“Aku rasa mereka hanya tidak mampu menahan beban kesuksesan yang mereka terima.”

Mendengar pendapatku, Inspektur Carl hanya terdiam. Biasanya kalau dia rasa pendapatku salah, maka dia akan langsung mendamprat saat itu juga. Begitu pula kalau dia rasa benar, maka dia akan menghubungkannya dengan pendapat yang dia miliki. Tapi kali ini dia hanya terdiam bisu, hal pertama kali kulihat semenjak 4 tahun aku menjadi deputinya.

Tiba-tiba saja dia berbicara padaku, seolah pendapatku tidak pernah ada, “Hoessen, menurutmu, apa yang mereka liat dibawah sana ketika mereka hendak akan mati?”

Pertanyaan aneh yang sebenarnya tidak aku sangka sehingga aku sendiri kebingungan. Aku pun mencoba melihat kebawah jembatan, dan yang kulihat hanyalah sungai Harts yang sedang mengalir cukup deras.

“ Penyesalan? Keraguan?” jawabku pada Inspektur ragu-ragu, tapi aku tidak mendengar apapun darinya. Ketika aku menengok kearahnya untuk memastikan apa dia benar-benar mendengarku, saat itu aku melihat dirinya menatap sungai yang berada dibawahnya begitu dalam. Tatapannya yang terpatri pada sungai memantulkan aliran air di matanya. Sampai beberapa saat dia terus terdiam, lalu seolah tersadar, dia sedikit menggelengkan kepalanya, dan menanggapi jawabanku langsung.

“Aku rasa tidak Hoessen, kupikir tidak semudah itu.”

“Kalau begitu Inspektur, apa kau punya dugaan lain?”

Kulihat dia kembali terdiam menatap sungai. Aku bisa melihat mimik wajahnya menjadi sedikit lebih tegang dari sebelumnya. Seperti tersadar lagi, dia menjawab pertanyaanku dengan sangat membingungkan.

“Aku sendiri tidak tahu Hoessen.”

“Inspektur, apa kau kelelahan dengan kasus ini?”

“Tidak, aku biasa saja.”

“Kau tidak bisa membohongiku Inspektur. Mengapa kau tidak bisa membagi kasus ini agar aku bisa membantumu? Mengapa kau begitu terobsesi dengan kasus bunuh diri seperti ini?”

Pada saat itu juga dia langsung menengok kearahku, dengan seluruh wajahnya menjadi tegang dan merah. Dia naik pitam.

“Apa kau bilang?! Kasus bunuh diri biasa?! Sudah kukatakan ini kasusku, Hoessen, dan kau tidak akan bisa mengerti dengan pengalamanmu yang masih hijau itu! Jadi diamlah, dan hanya bicara ketika aku memintanya!”

Aku hanya bisa mengeluarkan helaan nafas panjang. Sepanjang hari aku hanya diam menatap kearah kapal patroli yang mencari sepanjang sungai. Keesokan harinya, Inspektur Carl menyuruhku untuk memantau langsung dari kapal, dan dia berada diatas jembatan. Dari apa yang aku lihat, dia tidak memperhatikan kami sama sekali, yang dia tatap hanyalah sungai dibawahnya.

Setelah pencarian berlangsung beberapa jam, akhirnya kami berhasil menemukan tubuhnya yang tersangkut batu didasar sungai beberapa ratus meter dari jembatan. Dari mayat yang mayat yang basah, aku menemukan jurnal miliknya, dengan tulisan aneh yang sama persis didalamnya.

***

Ada satu hal yang pasti yang terjadi sejak saat itu. Inspektur Carl sering terlihat berada diatas jembatan, menatap lekat-lekat sungai yang mengalir dibawahnya. Kadang dari jauh, aku bisa melihat dirinya bergumam, atau berteriak. Aku sendiri tidak bisa melakukan apa-apa karena takut akan menyulut amarahnya lagi.

Obsesinya pun semakin bertambah sampai dirinya terlihat tidak terurus. Dia akan mengusirku kalau diriku tidak dibutuhkan. Rekan-rekan yang lain tidak ada yang berani mendekatinya. Sampai suatu hari, dia memanggilku dengan wajahnya yang sangat frustasi.

“Hoessen, apakah kau mungkin bisa menerjemahkan tulisan ini?” Inspektur Carl memberikan secarik kertas yang berisikan tulisan aneh yang ditemukan di barang milik korban.

“Aku tidak bisa, tapi mungkin kenalanku yang ilmuwan tahu sesuatu.”

“Aah! Bagus, kau segera pergi, temui dirinya dan cari tahu apa maksud dari tulisan itu secepatnya.”

Sebelum aku pergi, aku menatap dirinya, berharap dia memberitahu sesuatu padaku.

“Apa yang kau lihat? Aku sudah memberikanmu perintah, kau cukup melakukannya!”

Aku hanya bisa mengerenyit kesal, melakukan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu maksudnya. Dan saat itu, ketika aku sudah membalikkan badanku, tiba-tiba Inspektur memanggil lagi.

“Hoessen, aku ingin bertanya. Apa yang kau lihat dari diriku?”

Pertanyaan yang begitu aneh dan tiba-tiba sampai aku sendiri bingung bagaimana harus menjawabnya. Baru saja aku hendak, dia malah mengusir.

“Sudah! Aku tidak perlu mendengar jawabanmu! Pergilah sana kerjakan tugas yang sudah kuberikan.”

Terlepas dari keanehan yang ditunjukkan Inspektur Carl, aku tetap berangkat memenuhi tugas yang diberikannya padaku, dengan menuju kota Zevich. Setibanya disana, aku langsung menemui temanku yang seorang ilmuwan, beruntung tidak masalah sehingga aku bisa cepat menunjukkan tulisan itu padanya.

Awalnya dia terdiam dan sedikit bingung melihat tulisan yang kuberikan. Aku takut kalau ternyata dia yang menjadi harapanku ternyata tidak tahu dan aku harus membawa pulang kekecewaan pada Inspektur. Sampai dia tiba-tiba tertawa dan mengatakan bahwa tulisan itu berasal dari bahasa kuno dari suatu peradaban yang hilang. Begitu kutanya dia bisa menerjemahkannya atau tidak, dia menjawab bisa namun membutuhkan beberapa hari. Daripada harus kecewa, aku lebih memilih menunggu.

Setelah beberapa hari, akhirnya kami bertemu lagi. Dia langsung memberikan terjemahannya padaku, tersenyum puas.

Dia yang tidak bisa menyebrangi bayangannya sendiri tidak memiliki nasib lain kecuali ditelan oleh yang merefleksikannya

Aku hanya bisa mengenyitkan dahi terheran, tidak bisa mengerti apa maksud dari ocehan ini. Ditengah kebingunganku, tiba-tiba saja temanku memberitahu bahwa bahasa dari tulisan itu biasa digunakan ketika mengolah tulpa, sesuatu yang malah menambah kebingunganku sendiri.

Ketika aku kembali ke Heissburg, aku langsung tahu tugasku tidak akan selesai. Karena Inspektur Carl Wittgenstein dinyatakan bunuh diri, melompat dari Jembatan Leonold.

***

Sebagai deputi inspektur, sudah seharusnya semua kasus yang ditangani Inspektur Carl pindah ketanganku, termasuk kasus yang sekarang kusebut Kasus Leonold. Dan ditanganku, kupegang jurnal dari semua ini.

Dari setiap halamannya, aku bisa melihat Inspektur Carl melajukan penyelidikannya dengan begitu rapi. Tapi perlahan-lahan, tulisannya semakin menjadi aneh. Kalimatnya menjadi seperti acak. Tidak ada lagi kerapihan yang kulihat sebelumnya. Bahkan, tidak ada hal yang bisa kumengerti di halaman terakhir.

“Setelah 15 tahun, akhirnya kejadian yang sama terulang lagi. Tidak mungkin Ayah dan Kakakku mengakhiri hidup mereka ditengah kesuksesan seperti itu! Aku yakin siapapun yang melakukannya, dia membuat perbuatannya tampak seperti bunuh diri, dan sekarang, dia kembali lagi mengklaim korban-korban baru.

“Kasus berkembang diluar dugaanku. Mengapa semua orang yang bunuh diri mereka yang mendapat kesuksesan lebih banyak dari yang hidup menyedihkan? Apa pelakunya semata-mata melakukannya atas dasar keirian?”

“Leonold Habermas, arsitek terkenal, perancang jembatan yang dinamai atas dirinya sendiri menjadi korban bunuh pertama di Jembatan Leonold, 80 tahun lalu. Lalu 5 tahun kemudian, terjadi lonjakan bunuh diri, dan begitu lagi setiap 15 tahunnya. Apa ini? Apa yang kuselidiki ini ternyata lebih besar dari yang kuduga? Apapun itu, siapapun itu, akan kubuat mereka bertanggung jawab.

“Veroen, patroli terbaik mati menambah jumlah korban dan misteri. Tulisan aneh yang sama dengan korban sebelumnya ditemukan di jurnal miliknya.Tapi itu bukan misteri terbesar. Aku tidak tahu apa yang kulihat hari ini. Bagaimana mungkin aku bisa melihat bayangan diriku di sungai dari tempat setinggi itu? Dan mengapa, sekilas bayangan itu begitu buruk?

“Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat ketika aku kembali kesana. Tidak mungkin, seharusnya tidak ada yang tahu apa yang dengan apa yang kuperbuat pada pencopet itu, dan mengapa bayanganku bisa protes? Aku melakukannya demi kebenaran, demi keadilan bukan omong kosong seperti si palsu katakan.

“Entah mengapa aku tidak bisa melupakan perkataannya begitu saja. Aku selalu kembali dan menemuinya. Semakin sering aku kesana, semakin banyak si palsu itu menunjukkan perbuatanku di masa lalu. Bayangan itu tidak bisa kusingkirkan. Tidak akan pernah hilang katanya kecuali aku meyakinkan si palsu itu kalau tindakanku benar.

“Ya Tuhan, mengapa harus gadis itu? Aku tidak sengaja melakukannya! Demi Tuhan aku melakukannya tulus demi keadilan! Mengapa, mengapa kau tidak mau berhenti?!

“Aku tahu apa maksud tulisan itu, tapi mungkin tidak juga. kau melihatnya kan? Dibawah jembatan! Aku benar tapi aku tidak akan benar sampai tahu apa itu sebenarnya! Bayangan itu! Kumohon pergilah dariku sampai Hoessen tiba”

“bayanganbayanganbayanganbayangan dia bilang aku bisa menghilangkannya! Dengan lompat! Bayanganbayangan”

Aku hanya bisa terdiam, membacanya. Dari sebagian itu saja, aku tahu dia melihat sesuatu di sungai, dan itu yang mendorong dia, dan mungkin lainnya, gila dan bunuh diri.

Ketika aku melihat bagian bawah jembatan, sesuai dengan apa yang Inspektur Carl tulis, aku bisa melihat sebuah plakat kayu tua dengan warna yang aneh. Walau sudah menua, aku bisa melihat jelas apa yang tertulis disitu sama dengan tulisan yang kutemukan.

Aku mencoba mengingat lagi perkataan temanku, tulpa. Walau aku tidak mengerti, tulpa ini aku yakini, ada kaitannya dengan apa yang terjadi di Jembatan Leonold. Maka, dengan otoritas seadanya, aku meminta agar plakat itu dicopot, dan dibakar, dengan harapan mungkin memang benar plakat itu adalah sumber semua ini.

Ketika aku berada di atas Jembatan Leonold, aku melihat kebawah sungai Harts. Di antara bayang-bayang sungai, samar aku bisa melihat diriku. Aku mengedipkan mataku, dan bayanganku tidak ada.


back to top