Kastil Fantasi discussion

87 views
CerBul > [Lomba] CerBul Kasfan (Juni '15)

Comments Showing 1-20 of 20 (20 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Magdalena Amanda, Momod Usil (last edited Jun 17, 2015 07:35AM) (new)

Magdalena Amanda | 2330 comments Mod
“Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi – Edisi Juni 2015”

Lomba CerBul diadakan sebagai ajang latihan, eksperimen, sekaligus unjuk kreativitas, bagi teman-teman yang suka menulis atau pengen juga coba-coba mulai menulis. Lomba ini diadakan setiap bulan, dengan tema yang berbeda-beda.
Lombanya santai-santai saja, tidak perlu saling jotos atau gigit-gigitan, meskipun lempar-melempar cabe masih diperbolehkan dan memberi masukan/saran untuk perkembangan teknik menulis tentunya sangat dianjurkan.

Dan sebagai pemanis, layaknya perlombaan pada umumnya, pemenang CerBul juga akan mendapatkan hadiah!

Aturan main umumnya:

(Biar gak keliatan terlalu wall of text saya masukin tag spoiler)

(view spoiler)

=====

Dan soal kali ini adalah ...

Buatlah sebuah cerita yang berkaitan dengan DEADLINE .

Silakan ngobrol atau tanya lagi jika ada yang gak jelas di topik komentar.

Informasi terkait Penjurian Reguler oleh Momod, silakan dilihat di dalam tag spoiler.
(view spoiler)

Hadiah reguler Edisi Soal Moderator:

(1) Pemenang pertama edisi soal dari moderator berhak memilih 1 (satu) buku fiksi fantasi lokal atau terjemahan dari daftar buku currently reading grup.

Untuk CerBul edisi Juni, daftar currently reading yang termasuk ke dalam pilihan adalah currently reading bulan Mei, Juni, dan Juli.

Daftar buku currently reading diganti setiap awal bulan dan dapat dilihat di halaman muka/group home (di bawah/setelah bagian keterangan grup).

(2) Pemenang kedua akan mendapatkan hadiah hiburan. ^^

Tidak ada penjurian oleh juri tamu untuk edisi ini.

Keterangan terkait juri tamu dapat dilihat di edisi-edisi sebelumnya.


Timeline lomba :

Posting Cerita: 17 Juni - 10 Juli 2015
Masa Penjurian: 11 - 25 Juli 2015
Pengumuman Pemenang: 26 Juli 2015


Mari menulis fantasi!
;)

PS.
Kami, para momod, mengundang siapa pun yang tertarik untuk mendonasikan hadiah atau mempromosikan karyanya dengan ikut men-sponsori pelaksanaan lomba CerBul atau berpartisipasi dengan men-"juri tamu". Silakan menghubungi/mengirim PM ke moderator.
Terima kasih! :D


message 2: by Magdalena Amanda, Momod Usil (last edited Aug 02, 2015 07:43AM) (new)

Magdalena Amanda | 2330 comments Mod
1. Wajah Lelah oleh Ryan

2. BOREALIS oleh Andry

3. MENGEJAR GARIS MATI "A TRIBUTE TO CERBUL KASTIL FANTASI" oleh Dini

4. ASISTENSI oleh Stezsen

5. Penyelamatan Sebelum Fajar oleh Kayzerotaku

6. Prae oleh Tama

7. 17 MENIT oleh Shiki

8. Jemputan oleh Ivon (sepertinya baru masuk jam 1 dini hari)

9. Sinless oleh Fariz (sepertinya baru masuk jam 3 dini hari)

10. Krisis di Altheon oleh Kappa145 (ini cerita masuknya entah jam berapa :v)

Bonus gak tahu malu dari Momod:

34 Menit 49 Detik

Hehe.


message 3: by Ryan (new)

Ryan Dachna | 40 comments Wajah Lelah

Ada berbagai macam wajah lelah dan roman Daruin menampilkan yang paling umum: wajah seseorang yang lelah bekerja. Dalam seminggu ini ia hanya sempat tidur sekitar lima belas jam. Pipinya mati rasa tapi kelopak mata dapat merasakan tarikan gravitasi. Kepala agen Mata Perak itu terasa dihimpit dari enam sisi, tapi demi entah apa ia memaksa diri untuk melek selama beberapa jam lagi dan menyampaikan hasil temuannya.

Sidang kecil itu diadakan di bawah sebuah kedai minum yang adalah salah satu markas rahasia kelompoknya. Di sana ia berhadap dengan tiga agen lain. Satu berlaku sebagai penyanggah, satu sebagai saksi, dan satu sebagai pengambil keputusan. Semuanya agen senior dan Daruin menghormati mereka tidak lebih atau kurang dari dirinya sendiri. Dalam hati ia bersyukur. Setidaknya di hadapan mereka ini ia tidak perlu memilih kata dengan hati-hati.

“Jadi berdasarkan bukti-bukti ini, juga wawancara dan riset yang telah kulakukan, penilaianku adalah: tertuduh bukan Mistikus Sanguin. Kita harus melepaskannya atau membiarkan Kerajaan Verdici yang mengurusnya. Siena memenuhi semua kriteria yang kita tetapkan untuk menentukan seseorang bersih dari sihir darah. Ia tidak mengakui dirinya Mistikus, kita tidak menemukan Perkakas Mistikus dalam bentuk apapun pada dirinya,” Daruin jeda sejenak untuk menenangkan dentaman di kepalanya. “Dan ... dan ia lolos endusan Pengindera kita.”

“Ya ampun, Dar,” agen Mata Perak yang ditunjuk sebagai penyanggah memakai wajah lelah yang lain lagi: lelah dan kecewa karena sesuatu yang bertele-tele. “Kami ngirim kamu ke kastel Rokiakodrilo untuk membuktikan si tertuduh itu Mistikus, bukan sebaliknya.”

“Dan ketika berangkat ke kastel Tuan Nerio hanya itulah niatku, Tuan Vonpionsey. Tapi Siena ... seperti yang telah kukatakan tadi. Ia tidak mengaku Mistikus, mereka selalu mengaku bila sudah tertangkap. Selalu!”

“Tapi ia membunuh Tuan Agra Nerio dengan sihir, bukan? Apakah ia menggunakan Sihir Sens? Siapa tahu ia pewaris Darah Biru yang nama keluarganya terhapus dari sejarah?”

Daruin menggelengkan kepalanya dengan cepat dan menyesali perbuatan itu sedetik kemudian. Kepalanya terasa tertusuk dari dalam. Agen Mata Perak yang berlaku sebagai pengambil keputusan dalam pertemuan rahasia itu memberikannya segelas minum.

“Terima kasih Erdman. Entah apa yang lebih buruk, sakit kepalaku atau penyadaran bahwa aku sudah tidak muda lagi,” Daruin tertawa, dan menyesali hal itu juga. Ia mengatur nafasnya dan kembali menghadap Tuan Vonpionsey.

“Bukan Sihir Sens, Tuan. Ia menggunakan semacam sihir, memang, tapi bukan sihir yang Tuan bisa bangkitkan.”

“Jadi karena ini kamu enggak tidur? Karena ada sihir baru? Aku kenal kamu dari lama, Daruin. Rasa penasaran itu suatu saat akan menikammu dari belakang,” Tuan Vonpionsey menusuk Daruin dengan tatapan matanya.

“Aku sudah dengar nasihat serupa dari istriku hampir setiap malam. Tapi itu tidak mengubah apa-apa, Tuan. Kita tidak bisa mengeksekusi seseorang yang bukan Mistikus Sanguin. Bila Kerajaan Verdici ingin memenggal Siena karena telah melanggar Damai Raja di sini, silakan. Tapi jangan sampai kita yang memegang kapak algojo. Aku tidak perlu mengingatkan siapa pun di sini bahwa guild kita langgeng karena dukungan rakyat jelata. Bila tersebar berita bahwa kita mengeksekusi orang tidak bersalah sekedar untuk menuruti seorang raja ....”

Daruin tidak melanjutkan.

“Baiklah, kalau begitu biar aku gunakan koneksiku agar Kerajaan Verdici mau menerima si tertuduh ... siapa namanya? Siena, ya? Aku rasa aku bisa meyakinkan kakakku untuk ....”

“Kita tidak bisa mengeksekusi wanita itu. Guild kita memerlukannya,” si pengambil keputusan memotong si penyanggah. “Aku percaya sepenuhnya pada para Pengindera kita dan aku lebih percaya lagi dengan Kawan Daruin. Siena bukan penyihir darah, dan sihir yang digunakannya itu bukan Sihir Sens. Ini berarti rakyat jelata bisa mempelajarinya juga.”

Si pengambil keputusan berdiri dan berjalan pelan ke arah orang keempat di ruang itu: seorang wanita berkulit gelap.

“Aku bosan membohongi diri sendiri. Perang kita dengan para Mistikus ini sedang dalam keadaan remis. Bila kita tidak ada gebrakan baru, kita akan kalah. Sihir yang digunakan Siena bisa menjadi kunci kemenangan kita.”

Tuan Vonpionsey geleng-geleng, “Tidak semudah itu Erdman. Sihir itu tidak bisa ditebak. Percayalah bila aku mengatakannya karena aku dan para pewaris Darah Biru lainnya sudah mempelajari mengendalikannya sejak kecil. Ya, Siena membunuh Tuan Nerio dengan sihir. Tapi belum tentu sihirnya bisa mengalahkan Sihir Darah. Bahkan Sihir Sensku saja masih belepotan bila diadu dengan sihir para Mistikus.”

“Dalam hal ini aku setuju dengan Tuan Vonpionsey, kawan-kawan. Bila kita memang perlu gebrakan, mengapa kita tidak mencari cara untuk bekerja sama dengan para Garl? Kita bisa mengimpor bubuk kilat mereka dan melatih agen-agen kita dalam menggunakannya. Mereka sudah menyempurnakan temuan mereka itu selama bertahun-tahun.”

Erdman menatap ke agen keempat, si saksi. Wanita itu menunjukkan wajah lelah yang lain lagi: wajah lelah menunggu. Seorang agen lapangan yang terbiasa bertindak cepat, ia seperti ikan di daratan ketika harus mendengar tiga orang tua saling debat. Wajah itu perlahan berubah, karena sekarang gilirannya berbicara.

“Para Garl sudah berkali-kali memberitahu kita bahwa mereka tidak menginginkan apa-apa dari Mata Perak, kawan Daruin. Jangankan guild kecil kita, bahkan kerajaan-kerajaan kita pun hanya sedikit yang berdagang dengan mereka. Itu pun hanya untuk bijih besi.”

Ia menoleh kepada Tuan Vonpionsey, “Sedangkan soal efektivitas sihir Siena, aku yakin sihir itu dapat digunakan untuk melawan Sihir Darah. Aku yakin karena Tuan Nerio adalah seorang Mistikus Sanguin.”
“Pantat Gideon!” maki Daruin. “Mengapa ia sama sekali tidak menceritakan itu padaku?”

“Dari mana kau tahu ini, agen ... siapa namamu?” Tuan Vonpionsey masih perlu bukti.

“Difasia, Tuan. Aku mengetahui ini karena aku diutus Tuan Remi Paulard untuk menyusup ke kastel Rokiakodrilo setahun yang lalu. Beliau mendengar rumor bahwa pelayan wanita di kastel tersebut sering jatuh dari menara tertinggi ke laut. Nah, kakak perempuan Siena adalah salah satu dari pelayan tersebut. Ia yakin Nerio yang membunuhnya dan menunggu saat yang tepat untuk menghabisinya. Saat yang tepat itu muncul ketika Tuan Nerio mencoba membunuhku untuk tumbal bagi apapun itu nama Makhluk Kegelapan yang menjalin ikatan najis dengannya.”
Wajah lelah Daruin dan Tuan Vonpionsey diganti sejenak dengan wajah kagum.

“Seperti apa sihir wanita itu?” si penyanggah berharap jawaban dari Daruin dan Difasia.
“Ia mengaku padaku kalau tubuhnya berubah menjadi logam. Benar begitu, kawan Difasia?”

Si Saksi mengangguk mantap. “Mengetahui ia diserang tiba-tiba, Tuan Nario merapal mantra dan seluruh pedang di kamarnya menjadi ‘hidup’. Nah, Siena merapal mantra juga dan tubuhnya menjadi baja. Karena teknik pembangkitan sihirnya serupa dengan sihir darahlah aku meminta Penyidik dan Pengindera kita untuk memeriksa Siena.”

Difasia mendekati Daruin dan meremas pundaknya, “Tapi aku percaya kinerjamu, kawan. Bila menurutmu Siena bukan Mistikus maka sihirnya itu memang gebrakan yang kita butuhkan dalam perang rahasia ini.”

Wajah lelah Tuan Vonpionsey kembali. “Kalau kita ingin Siena hidup, berarti kita harus menyerahkan salah satu kastel kita kembali kepada kerajaan Verdici. Aku yakin itu.”

Wajah lelah Daruin juga kembali muncul. “Aku yakin mereka akan mengambil Rokiafalkone. Kastel terbaik kita di sini. Kapan mereka menunggu keputusan kita, Erdman?”

Si Pengambil Keputusan mengangkat dua jari, “Hari.”
Hening hinggap dan perlahan menyerap energi dari keempat agen itu. Roman Erdman menunjukkan wajah lelah yang lain lagi: wajah lelah memilih keputusan terbaik dari keputusan-keputusan buruk.

“Kita tidak bisa berbuat banyak dalam tiga hari. Kita bisa menunjukkan bukti bahwa Tuan Nerio adalah seorang Mistikus, tapi Siena toh bukan agen kita jadi kita tidak berhak membelanya. Pada sisi lain aku tidak mau dikenang sebagai agen yang membuat Mata Perak kehilangan Rokiafalkone.”


Tiga hari kemudian keempat agen Mata Perak tersebut berkumpul lagi, sekarang di salah satu menara Kastel Rokiakodrilo, menonton kerumunan di tengah kota. Sebuah eksekusi sedang berlangsung dan seorang wanita yang mirip Siena akan dipenggal kepalanya karena membunuh seorang bangsawan. Kejahatan aslinya adalah melindungi seorang Mistikus.

“Kalau kutanya dari mana kau menemukan wanita itu, apakah kau akan menjawabku?” Daruin bertanya pada Difasia.

“Pasti kujawab, tapi jangan bertanya soal kejujuran jawabanku.”

“Aku justru kuatir ada yang sadar kalau itu bukan Siena,” Tuan Vonpionsey ikut berbicara.

“Dengan wajah babak belur seperti itu, tidak akan ada yang curiga lah,” Erdman menghela nafas. “Di mana senjata kita sekarang?”

“Aman,” jawab Difasia singkat.

“Perang rahasia tidak punya garis depan yang jelas,” kata Daruin, “Aman itu tidak ada.”

Keempat agen itu pun terlihat lelah. Lelah berbohong.


message 4: by Andry (new)

Andry Chang (vadis) | 134 comments BOREALIS
Andry Chang

Aurora, bahtera terbang tempur pertama di Terra Everna telah musnah beserta hampir seluruh awaknya.

Sekembalinya dari Perang Suci di Sylvania, Negeri Malam Abadi, sang pencipta sekaligus pemilik Aurora, Erydos Crydias melewatkan hari-hari tuanya dengan menyendiri dalam kamar rumahnya di Kyrios, Ibukota Parthenia.

Wajah sang ilmuwan merangkap penyihir ruang-waktu itu tampak makin berkeriput. Kantung matanya membengkak, seolah badai depresi hebat telah menipiskan segala daya hidupnya. Rambut ubanan Erydospun banyak menipis, hanya kumis putihnya saja yang masih tampak panjang, melewati dagu.

Menyadari kondisi Erydos ini, kedua muridnya, Pylias Galfinakis dan Uriza Zynossos berlomba-lomba merawat pria tua-renta itu. Hingga kadangkala, kedua pria muda itu saling menjelekkan satu sama lain dan sibuk menonjolkan diri sendiri, dengan harapan sang guru bakal sudi mewariskan segala ilmu dan pengetahuannya pada salah satu dari kedua ilmuwan muda ini.

Melihat persaingan keras antara Uriza dan Pylias itu, Erydos makin sering batuk-batuk dan mengeluh sakit kepala. Puncaknya, suatu hari Erydos sempat pingsan saat berusaha bangun dari tempat tidurnya sendiri. Setelah sadar, ia langsung memanggil kedua muridnya untuk bertatap muka.

“Uri, Pylias,” kata Erydos dengan lirih. “Kurasa waktuku di dunia ini sudah akan usai. Yah, bisa dikata aku cukup beruntung telah mewariskan pengetahuanku tentang gabungan sains dan alkimia dan juga sihir ruang-dan-waktu pada kalian berdua. Namun, ada ganjalan besar dalam hatiku yang telah menggerogoti kesehatanku sampai saat ini.”

Pylias bertanya, “Ganjalan apa itu, guru?”

“Keinginan terbesarku dalam hidup ini adalah menghembuskan napas terakhir dalam salah satu bahtera terbang ciptaanku. Namun karena Aurora sudah tak ada, keinginanku itu jadi mustahil terwujud, bukan?”

“Itu tak mustahil, guru! Aku akan membangun bahtera terbang baru untukmu!” ujar Uriza.

Namun Pylias malah menghardik, “Enak saja! Aku yang akan membangunnya! Kau di sini saja terus dan merawat guru!”

Suara batuk-batuk Erydos mencegah perdebatan kedua pria itu jadi berlarut-larut. “Cukup! Kalian berdua harus bekerjasama untuk membangun bahtera itu! Dulu aku menghabiskan waktu bertahun-tahun, juga sumber daya dan dana yang luar biasa besar untuk membangun Aurora. Kali ini, aku kuatir waktuku yang bisa berakhir kapan saja ini takkan cukup untuk menyaksikan warisan terbesarku untuk Everna itu terwujud kembali.”

Pylias menghela napas. “Aih, nampaknya memang ini akan jadi pekerjaan yang mustahil.”

Uriza menatap sebal pada Pylias, lalu bicara, “Jadi, apa saja yang harus kami lakukan, guru?”

Erydos menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanak-kanakan kedua muridnya itu. Ia lantas memaksa diri bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan tertatih-tatih dipapah Uri dan Pylias. Erydos lantas menyuruh Uri membuka pintu kayu di tepi kamar dengan kunci yang selalu tergantung di leher pak tua itu. Erydos masuk, dan lama kemudian keluar membawa gulungan-gulungan kertas besar.

Pylias membeberkan kertas-kertas itu di meja, matanya terbelalak takjub.

“Nah, itulah rancangan Bahtera Terbang Aurora, mahakarya terbesarku,” ujar Erydos. “Kalian bangunlah bahtera baru berdasarkan rancangan ini. Tapi ingat, sebelum proyek ini bisa dimulai, kalian harus berbagi tugas dan mengikuti setiap langkah yang kutempuh terlebih dahulu. Jangan ragu untuk bertanya padaku bila ada hal yang tak kalian pahami.”

“Baik, guru!” ujar Uri dan Pylias serentak. Lantas mereka saling bertatapan, seakan kilatan persaingan memercik silih berganti antara kedua mata mereka.

Erydos lantas menutup pembicaraan dengan berujar, “Dan yang terpenting, batas waktu proyek ini adalah saat aku putus napas sewaktu-waktu. Yah, ada cucu perempuanku, Priscilla Crydias yang merawatku di sini. Namun bila yang terburuk terjadi, kalian tuntaskanlah demi kemajuan Terra Everna.”

Saat tubuh renta itu kembali berbaring di peraduannya, Erydos berkata lirih, “Tapi, akan baik pula bila si Erydos tua ini sempat menutup mata di bahtera terbang, bukan?”

==oOo==

“Jadi kau, Pylias Galfinakis adalah murid Erydos Crydias, salah seorang Ksatria Suci, pahlawan Laskar Terang?” sergah Sage Kelima, Kaisar Arcadia. Mata jingga dari wajahnya yang tampan nan belia menyorot tajam pada pria bertunik biru dan mengenakan selendang toga kuning dari Parthenia itu.

“Ya, Yang Mulia. Aku kemari membawa proposal untuk proyek pembangunan bahtera terbang baru pengganti Aurora.” Sambil membungkuk, Pylias menyerahkan surat proposal pada petugas. Sang petugas memeriksa kertas surat itu terlebih dahulu, baru menyerahkannya pada kaisar.

Sage membaca surat itu sekilas, mengusap rambut merahnya yang tersisir rapi lalu kembali bicara, “Humph, berani sekali kalian ini.”

“A-apa maksud Yang Mulia?” Pylias menelan ludah.

“Perang Suci baru setahun berakhir. Kami di Arcadia sedang mengerahkan segala sumber daya untuk membangun kembali negeri kami yang terlanda perang. Dan kalian malah mengajukan penanaman modal sebesar ini untuk membangun bahtera terbang yang belum jelas manfaatnya untuk jangka panjang?”

“Ampun, Baginda!” Pylias membungkuk rendah-rendah. “Guru Erydos berpesan, proyek ini ditujukan semata-mata demi kemajuan Everna. Dengan bahtera terbang, Arcadia akan cepat pulih perekonomiannya, juga akan mendapat keunggulan di bidang perdagangan, menjadi negeri paling makmur di dunia.”

Mata Kaisar Sage berbinar-binar. Untuk sesaat dirinya kembali menjadi seperti dulu, saat ia lebih dikenal sebagai pemburu monster bernama Cristophe Deveraux.

Namun saat berikutnya, Sage kembali mewakili seluruh Kekaisaran Arcadia dan berkata, “Bagaimana jika Arcadia tidak mengambil apa yang kalian sebut ‘kesempatan’ ini sekarang juga?”

“Terus-terang, Arcadia adalah negeri pertama yang kudatangi, karena Guru Erydos sangat menghormati Yang Mulia sebagai pahlawan besar dan pemimpin Laskar Terang,” ujar Pylias. “Bila Arcadia menolak, aku yakin salah satu negeri lain di Benua Aurelia seperti Lore, Escudia-Corazon, Borgia, atau bahkan Val’shka pasti mau bermitra dengan Parthenia yang menyediakan sumber daya untuk pembangunan bahtera terbang ini.”

Sang kaisar muda mengusap dagu sejenak, lalu bersabda, “Baiklah, aku akan membicarakan proposal ini dengan para penasihatku dulu. Silakan kau tunggu dulu di kota, Pylias. Kami akan mengabarkan keputusan akhirnya besok atau lusa padamu.”

==oOo==

Sementara itu, Uriza Zynossos sedang menghadapi ratusan orang bersenjata, di depan bekas galangan kapal di pantai tak jauh dari Kyrios. Sepelemparan batu di belakang Uriza, seratus prajurit Parthenia membentuk pagar betis, berbaris siaga.

“Sudah bertahun-tahun kami, kaum bandit menduduki galangan ini, sejak Erydos memindahkan pangkalan bahtera terbangnya ke Borgia,” kata si pemimpin bandit, pria berambut dan berjanggut panjang dan bertubuh amat kekar. “Sekarang kau, murid Erydos serta Dewan Tujuh Tetua, pimpinan tertinggi di Parthenia berniat menggunakan tempat ini lagi. Kalian pikir apa alasan kami pergi dari sini dan menyerahkan tempat tinggal kami pada kalian begitu saja?”

Uri menjawab dengan lantang, “Karena daerah ini bukan milik kalian. Kuperingatkan untuk terakhir kalinya, cepat angkat kaki dari sini, atau...!”

“Kau akan menempur kami dengan tentara sesedikit itu? Biar dengan tarikan napas terakhirmu kau sadar, kami tak bisa diremehkan! Ayo saudara-saudaraku, SERBU MEREKA SEMUA!” Perintah si pemimpin disambut teriakan-teriakan perang semua bandit lainnya, sambil menyerbu serempak ke arah Uri dan pasukannya. Terpaksa Uri yang hanya seorang diri itu berbalik lari menuju pasukannya.

Anehnya, Uri malah tersenyum. “Dasar bodoh, mereka belum tahu kekuatan seorang penyihir ruang-waktu! Chrono Veloce!” Ia merapal mantra Sihir Percepatan Waktu pada dirinya sendiri. Di mata para bandit, gerakan Uri jadi lebih cepat.

Sebaliknya, setelah jeda beberapa saat Uri kembali merapal mantra, kali ini diarahkan ke para pengejarnya. “Omni Chrono Lambretta!” Sihir Pelambatan Waktu Masal lantas membuat para pengejar tampak berlari lebih lambat daripada sebelumnya.

Beberapa detik kemudian, posisi Uri sudah cukup jauh dari para pengejar dan ia masih berada di depan pasukan Parthenia. Detik itu pula, Uri berbalik menghadap gerombolan musuh, mengacungkan Cakram Waktu warisan Erydos sambil mengumpulkan energi sihir alias mana.

Saat seluruh tubuhnya berpendar, Uri merapal mantra, “Megalon Zathr!”

Hampir seketika, Hujan Meteor dari langit “mengguyur” gerombolan bandit yang tak sempat menghindar lagi. Lebih dari separuh pasukan bandit bertumbangan, dan yang luput dari maut lari kocar-kacir ke segala arah.

“Gila, penyihir ini lebih kuat dari yang kukira! Lari!” Si pemimpin bandit yang terserempet dan terkena imbas jatuhan meteor berbalik dan lari. Namun Cakram Waktu Uri terbang dan menancap di punggung si pria besar itu, membuatnya jatuh terjerembab, meregang nyawa.

Uri melangkah dengan santai ke mayat si bandit, mencabut cakramnya. Nah, tugas ‘membebaskan tanah’ dan ‘menggusur pemukim liar’ telah tuntas. Harap saja si Pylias yang lebih pandai bersilat lidah daripadaku itu juga berhasil mendapatkan pemodal, pikir Uri. Guru Erydos tampak makin lemah. Seperti serbuan bandit tadi, kurasa tenggat waktu kami mendekat dengan cepat.

Masalahnya, tak pernah ada bahtera terbang yang rampung dalam hitungan bulan saja.

==oOo==

Kemajuan proyek bahtera terbang di Parthenia sungguh pesat. Ini semua berkat dukungan pasokan sumber daya tak terbatas dari Parthenia, asupan dana dari Arcadia dan kerja keras ratusan pekerja di bawah pengawasan Erydos Crydias dan kedua muridnya, Uriza dan Pylias.

Buktinya, bagian fisik luar bahtera yang terbuat dari gabungan kayu dan baja berkualitas terbaik telah separuh selesai dibangun, sudah tampak bentuknya yang anggun dan mirip pendahulunya, Aurora. Mesin utama bahtera itu yang bertenaga kristal gaib belum rampung, jadi belum dapat diletakkan di dalam lambung bahtera terbang.

Sebelum layak pakai, mesin harus diuji. Dan untuk mengujinya, bahan bakar berupa kristal gaib adalah kebutuhan utama. Terkait pasokan bahan bakar inilah, kendala terbesar dalam proyek ini muncul di saat yang sungguh tak terduga.

“Gawat, Guru Erydos, Uri!” teriak Pylias berlari terburu-buru memasuki ruang rapat di galangan. “Ada monster raksasa yang mengamuk dalam tambang kristal gaib dekat Gunung Olympus! Hampir semua pekerja tambang berhasil keluar dengan selamat, tapi mereka sama sekali tak bisa memasok kristal gaib kepada kita lagi!”

“A-apa?!” Walau sudah berusaha bersikap tegas, Erydos tetap tersentak dan terjatuh lemas. Kondisinya yang mulai membaik kembali berubah parah, semangat yang baru bangkit luruh seketika.

“Guru!” Pylias dan Uriza dengan sigap menahan jatuhnya tubuh si pria tua.

Setelah Erydos berbaring di ranjangnya, Uri berkata, “Pylias, kau rawatlah guru di sini. Biar aku yang pergi ke tambang dan mengusir monster itu.”

“Tidak!” Pylias malah membentak. “Kau sudah beraksi dengan mengalahkan ratusan bandit dengan sihirmu. Kali ini, giliranku membuktikan penguasaan sihirku tak kalah darimu! Kau saja yang rawat guru, aku yang pergi!”

“Tidak bisa! Sihirku lebih kuat darimu!”

“Mau coba-coba memborong jasa ya, Uri? Supaya guru menikahkan Priscilla denganmu? Kecerdasan dan pengetahuanku lebih unggul darimu! Hanya aku yang bisa membahagiakan Priscilla!”

“Enak saja! Aku yang akan melindungi Priscilla!” Uri menunjuk langsung ke wajah Pylias.

“Kalau kau coba macam-macam denganku, aku takkan segan-segan menghabisimu dengan Cakram Waktu warisanku ini!” Uri menghunus cakramnya, menantang Pylias terang-terangan.

Pylias balik menantang, mengulurkan telapak tangannya siap mengerahkan sihir. “Cukup sihir murni tanpa dukungan senjata dewata saja yang aku perlu untuk menghabisimu, bung!”

Ketika kedua penyihir sudah akan saling serang, terdengarlah teriakan seorang wanita, “Hentikan ini!” Mengenali wanita itu, Uri dan Pylias menghentikan aksi mereka seketika.


message 5: by Andry (new)

Andry Chang (vadis) | 134 comments Si penegur, Priscilla Crydias terus membentak, “Gila kalian, adu sihir di hadapan kakekku! Apa kalian ingin membunuhnya dan menghancurkan tempat ini, dan membuatku terbunuh pula? Pikir, dengan sikap kekanak-kanakan seperti itu, apa pantas kalian mewarisi seluruh ilmu Erydos Crydias? Apa pantas salah satu dari kalian menikahi aku, pewaris tunggal seluruh kekayaan Keluarga Crydias?”

Nada bicara Prissy, panggilan akrab untuk Priscilla membuat Pylias dan Uri mengerutkan dahi. Rasa penuh harap dan rasa sesak yang aneh seakan tercampur-aduk dalam jiwa kedua pemuda itu.

“Jadi cepatlah, Uri, Pylias. Tuntaskan tugas kalian! Lihat, napas Kakek Erydos tinggal satu-satu. Kurasa waktunya di dunia takkan lama lagi!” Priscilla bersedekap, air matanya terurai sambil ia memegangi pergelangan tangan kakeknya, memandangi kedua pemuda itu dengan tatapan mengiba.

Tanpa membuang waktu, Uriza dan Pylias bergegas ke tempat pusat masalah. Di Tambang Kristal Croeidas terdapat persediaan sumber daya kristal gaib peringkat tiga terbanyak di Everna, lebih dari cukup untuk menggerakkan ribuan bahtera terbang selama berabad-abad.

Saat ditemui kedua “langganan” itu, kepala mandor, pimpinan tertinggi di lokasi tambang berseru seperti terkena gangguan jiwa, “Dolos Kryx! Dolos Kryx yang mengerikan, Sang Pelahap Kristal dalam legenda-legenda telah merebut Tambang Croeidas! Kami sudah habis, tuan-tuan! Habislah sudah sumber nafkah keluarga-keluarga kami! Habislah sudaah!” Sang kepala mandor menjambaki rambutnya sendiri hingga rontok, lalu berlari bagai orang gila menjauhi Uri-Pylias.

“Wah, kelihatannya kita memang harus berjuang sendiri, Uri,” ujar Pylias.

==oOo==

Di Everna, tak ada gua dengan penerangan lebih baik daripada gua tambang kristal. Betapa tidak, cahaya kristal-kristal gaib penerang dalam gua itu dipantulkan oleh kristal-kristal warna-warni lainnya yang bertebaran di langit-langit, dinding bahkan lantai gua.

Tentunya pemandangan amat indah dalam Gua Tambang Croeidas ini tak membuat para penambang jadi gelap mata. Pasalnya, sudah banyak jiwa yang melayang karena mereka mengambil kristal-kristal gaib yang berbahaya, tanpa mengenali terlebih dahulu ciri-ciri kristal itu dari pola-pola cahaya yang dipancarkannya.

Namun, walaupun sudah sangat berhati-hati, ada saja penambang yang kurang beruntung. Pria itu mencabut sebuah kristal kuning bercabang empat yang dikiranya kristal lain. Akibatnya, kristal itu malah merasuk dalam tubuh si penambang dan mengubah wujudnya. Monster kristal raksasa, Dolos Kryx terlahir kembali!

Monster bertubuh seperti beruang, berkepala pohon-pohon bercabang kristal dengan kristal-kristal runcing warna-warni mencuat dari punggungnya inilah yang kini dihadapi oleh Uriza dan Pylias. Tepatnya, Dolos Kryx sedang mengejar kedua penyihir ruang-waktu itu melalui lorong-lorong gua yang seperti labirin.

Wajah Pylias memucat sambil ia berkata, “B-bagaimana kita mengalahkan si Kryx ini, Uri!? Gerakannya cepat sekali! Dia kebal sihir perlambatan waktu, seolah semua cabang pohon kristal itu melindungi kepala dan benaknya!”

Keringat Uriza deras bercucuran, bahkan memercik ke belakang. “Kalau begitu, harapan kita tinggal pada satu mantra saja, Tembakan Meteor!”

Pylias berteriak pula, “Itu juga sudah kita coba, ‘kan? Cabang-cabang kristal si Dolos itu seperti perisai! Meteor kita yang paling tajampun gagal menembusnya!” Ia menoleh ke belakang dan kembali ke depan lagi dalam sedetik.

Benar saja, perisai tanduk kristal itu terlalu kuat. Satu-satunya titik kelemahan mungkin adalah mata tunggal sebesar buah semangka tepat di tengah perisai itu.

Sayangnya, baik Pylias maupun Uri bukan pemburu monster, mereka sama sekali tak terlatih menembak seperti pemanah ulung. Menambah genting keadaan, monster raksasa yang semula masih jauh itu kini mulai menyusul mereka, sedikit demi sedikit.

Di depan kedua penyihir, tampak seorang pria berpakaian amat kotor layaknya penambang berlari secepat angin pula. Tak heran, ketiganya masih dalam pengaruh Sihir Percepatan Waktu yang sempat dirapal Uriza setelah mereka tahu benak monster itu tak mempan dipengaruhi sihir.

Sihir di tubuh mereka mulai luntur, dan derap kematian makin mendekat.

“Awas, tuan-tuan! Di depan sana ada dua jalan bercabang, dan cabang yang kanan menuju ke jurang!” teriak si penambang sambil menunjuk ke depan.

Kata-kata itu justru membuat wajah Pylias tampak lebih cerah. Ia lantas berseru, “Uri, kau dan pak penambang ambil jalan sebelah kiri lalu halangi jalan itu! Aku akan pancing si monster ke kanan!”

“Apa!? Jangan, Pylias, nanti kau malah masuk jurang!” protes Uriza.

“Tenang, aku sudah memikirkan segalanya. Aku janji kita akan pulang bersama-sama. Untuk kali ini, percayalah padaku, Uri!” Pylias tersenyum penuh arti.

“Agh! Baik, biar kupancing dia dulu! PolyMegalon!” Uriza menembakkan Rentetan Tembakan Meteor ke arah si beruang-pohon-kristal itu sambil terus berlari. Sayang, tak satupun peluru meteor tajamnya mengenai mata makhluk itu.

Sebaliknya, Dolos Kryx meraung murka dan berderap makin cepat. Dengan mudah perisainya menepis tembakan lawan. Ia lantas membalas dengan menembakkan peluru-peluru kristal gaib ke ketiga orang itu. Uri dan Pylias gantian menangkis dengan senjata-senjata mereka, namun si penambang yang bernasib malang tumbang dengan punggung penuh tertancap kristal.

Ironisnya pula, jalur bercabang tampak jelas di hadapan kedua manusia yang masih hidup itu. Tak sempat menyesali kematian si pemandu terakhir, Uri bergerak ke cabang kiri dan Pylias ke cabang kanan.

“PolyMegalon!” Giliran Pylias menembaki Dolos Kryx. Seperti dugaan, benak hewani monster beruang berkepala pohon kristal itu menggerakkan tubuh raksasanya mengincar si penembak di cabang kanan.

Sekali lagi, Dolos balas menembakkan peluru-peluru kristal tajamnya. Bukan penembak tepat, Pylias terpaksa menangkis dengan daya yang terpancar dari putaran duplikat Cakram Waktu, yang tersandang seperti perisai di pergelangan tangannya. Saat menoleh lagi, tampak ujung koridor yang sepertinya menuju jurang yang dimaksud. Mata Pylias terbelalak setengah panik, setidaknya ia harus memastikan hewan raksasa itu tak berhenti begitu saja di mulut jurang.

Terpaksa, Pylias nekad melakukan pertaruhan terakhir. Sambil melindungi diri dengan perisai Cakram Waktu, ia lagi-lagi menembakkan peluru-peluru meteor ke arah Dolos Kryx. Kali ini, satu peluru tajam telak menghunjam mata raksasa si raksasa.

Secara naluriah, Dolos meraung kesakitan dan memperlambat langkahnya, namun tanduk-tanduk cabang pohonnya telah lebih dahulu menabrak perisai cakram dan medan sihir daya pertahanan tubuh Pylias. Tak ayal, si manusia muntah darah. Tubuhnya terus terdorong makin dekat ke tepi jurang. Entah itu kabar baik atau buruk, Dolos Kryx berhenti pula tepat di bibir jurang itu.

Mati-matian Pylias mendorong si monster, padahal dirinya tahu manusia mustahil mengungguli kekuatan monster beruang itu. Dolos terus meraung, seakan ingin menghabisi atau menjatuhkan saja lawan yang telah membutakan matanya ini. Saat kaki Pylias hampir tergelincir di tepian jurang, barulah wajahnya memucat panik. Ia baru sadar, rencananya sudah berantakan dan ia terpaksa harus berkorban... mungkin tanpa bisa membasmi si pelahap kristal ini.

Tubuh Pylias sudah akan jatuh saat ia mendengar seruan Uriza, “Lepaskan Dolos sekarang! Magnamegalon!”

Dengan reaksi cepat, Pylias menjatuhkan dirinya, tangan dan cakramnya mencengkeram tanah persis di tepian mulut jurang. Di saat bersamaan, ia menegadah dan melihat si monster beruang terdorong keras oleh daya sihir Tembakan Meteor Raksasa. Tubuh Dolos Kryx melayang di atas kepala Pylias dan terdorong lebih jauh lagi, sehingga tak menimpa pria itu saat meluncur jauh, jauh ke bawah... ke kematian yang sudah menanti di dasar jurang sana.

Di waktu yang tak tepat, Pylias malah muntah darah lagi. Satu tangannya yang menyandang cakram terlepas dari pegangannya. Kini nyawanya hanya disambungkan dengan pegangan satu tangan lagi. Pylias baru akan menghunjamkan cakramnya ke dinding tepi jurang, namun tubuhnya sudah merosot turun, jari-jari tangannya berdarah dan pegangan satu-satunya lepas...

Hingga tangan Uriza terulur, menggenggam erat tangan Pylias. Uriza langsung menarik saudara seperguruannya ke atas. Mereka berdua lantas duduk di tempat aman, menghela napas lega.

“T-terima kasih, Uri,” ujar Pylias, masih gemetaran akibat pengalaman hampir mati tadi. “Guru Erydos pasti akan senang bila tahu kita sudah bisa bekerjasama...!” Tiba-tiba Pylias terkesiap. “Guru! Kita harus kembali secepatnya ke galangan!”

Pylias dan Uri bangkit seketika dan bergegas keluar dari gua pertambangan.

==oOo==

Kembali di galangan bahtera terbang di Kyrios.

Bahtera terbang yang hampir rampung itu masih belum dipasangi layar, namun tiang-tiang dan penampang sayap-sayapnya telah berdiri dan terbentang dengan kokohnya. Tinggal menambahkan sentuhan-sentuhan akhir dan pasokan bahan bakar kristal gaib dari Tambang Croeidas, wahana ini akan laik mengudara dalam hitungan minggu.

Namun, saat Uriza dan Pylias tiba di kamar kapten bahtera, mereka tercekat seolah jantung mereka tertusuk ribuan pedang. Erydos Crydias terbaring tak berdaya di ranjangnya, dengan wajah sepucat mayat, matanya terpejam dan kondisinya amat ringkih. Napasnya satu-satu dan terengah-engah, tubuhnya bergetar seperti terkena demam tinggi. Seakan tinggal semangat hidup yang menopang nyawa, berbentuk keinginan untuk memastikan satu hal sebelum meninggalkan dunia.

Priscilla bicara dengan suara halus di telinga Erydos, “Kakek, itu Pylias dan Uri sudah pulang.”

Mendengar kedua nama itu, perlahan-lahan kedua mata si pria tua terbuka. Bibirnya bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tak ada suara yang keluar.

Setegar apapun laki-laki, Uri dan Pylias tak kuasa membendung air mata yang menetes di pipi mereka. Maka Uri langsung ke pokok beritanya. “Guru Erydos, aku dan Pylias berhasil membasmi monster Dolos Kryx di Tambang Croeidas. Beberapa minggu lagi pasokan bahan bakar kristal gaib akan lancar kembali, dan kita akan langsung melangkah ke tahap ujicoba mesin...”

“Tapi kakek tak punya waktu sepanjang itu!” seru Priscilla sambil menangis sejadi-jadinya. “Ini semua salah kalian! Andai kalian bersedia bekerjasama selama tahun-tahun terakhir ini, kakek pasti masih sehat dan...!”

“Sudahlah... Prissy...!” Tiba-tiba Erydos memaksa diri bersuara di antara napas beratnya. “Kakek yang salah... menggunakan obsesi sendiri... untuk menguji... kedua murid kakek... “ Ia terbatuk-batuk.

Pylias menukas, “Guru, bertahanlah sebentar lagi! Bahtera terbang sudah mendekati rampung, dan kita akan terbang...”

Erydos memaksakan senyum. “Murid bodoh...! Kalian tahu aku tinggal selangkah lagi... mengetuk pintu akhirat... Untuk apa bertahan terus? Agar tenggat waktu kalian... diperpanjang? Agar... kalian puas? Tidak... jangan salah paham... Bukan kalian... tapi tenggat waktukulah... yang telah habis.”

“Apa maksud kakek?” tanya Priscilla.

“Uri dan Pylias... Tahu kalian pulang dalam keadaan hidup... aku tahu kalian sudah berhasil bekerjasama... menyingkirkan persaingan... yang percuma... Dan walaupun tidak sedang terbang... aku puas... berpulang dalam wahana ini...”

Ketiga insan muda itu tertunduk.

“Nah... Sebagai permintaanku yang terakhir... Berilah nama untuk bahtera terbang ini... Borealis. Karena sama dengan harapanku... pada pendahulunya, Aurora... Aku ingin... ke kutub-kutub Everna... menyaksikan sendiri... keindahan warna-warni... Aurora Borealis...”

Teriring hembusan napas terakhirnya, Erydos Crydias sang pahlawan besar merangkap ilmuwan paling ternama menutup mata untuk selama-lamanya. Senyum terkulum di mulutnya, tahu segala warisannya bagi Everna akan lestari hingga berabad-abad kemudian, selamanya mengarung semesta.


message 6: by Dini (new)

Dini Afiandri (dresco_alcione) | 544 comments MENGEJAR GARIS MATI
“A TRIBUTE TO CERBUL KASTIL FANTASI”



Setiap kali aku diajak orang tuaku makan malam dengan para kolega ayahku, satu pertanyaan yang tidak bisa kuhindari adalah “kerja di mana?”. Ayah atau ibuku yang biasanya menjawab apa adanya, “Dinny penulis.” Tidak ada sinar kebanggaan di mata mereka, seolah mereka mengatakan itu sekedar agar pertanyaan itu tidak berlanjut.

Ayahku berprofesi sebagai dokter, ibuku dulunya pegawai kantoran yang kini sudah pensiun. Aku tidak bisa bilang pada mereka kalau aku tercebur ke dunia tulis-menulis secara tidak sengaja. Masuk fakultas bahasa dan sastra, kemudian lolos sebagai peserta Akademi Menulis Novel, lama kelamaan aku lebih serius menekuni tulisan dibanding menyelesaikan skripsi. Pada akhirnya, menulis adalah satu-satunya hal yang bisa kusebut sebagai pekerjaan.

Ternyata, menulis adalah pekerjaan yang paling dekat dengan kesintingan.

Aku kerap kali bermimpi aneh, dan biasanya dari mimpi-mimpi itu aku terinspirasi untuk membuat tokoh atau jalan cerita dalam benakku. Inspirasi itu kalau tidak dituangkan akan membuatku bermimpi semakin aneh, liar, dan berulang-ulang tiap malam, seolah tokoh yang kuciptakan dalam imajinasi itu menuntut untuk dipetakan ke dalam tulisan. Ini cukup mengganggu karena kadang aku jadi tidak bisa berkonsentrasi pada hal lain, kecuali memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya pada tokoh fiksi itu.

Karena itulah, bayangkan bagaimana perasaanku ketika menemukan aplikasi bernama Fictionera, yang bisa diunduh di tablet atau gawai seluler. Aplikasi ini sangat hebat. Hanya tinggal memasukkan data nama, sifat-sifat, dan deskripsi fisik karakter, kita bisa bebas membuat tampilan animasi tiga dimensinya. Karakter itu akan otomatis bicara sesuai cerita yang dituliskan dan bagaimana sang penulis—Fictioneer—menciptakannya.

Di hari pertama memakai Fictionera, aku keasyikan menghidupkan hampir semua karakter dalam pikiranku hingga berjumlah lebih dari dua puluh, menikmati animasi mereka bergerak dan berbicara di proyeksi hologram, sesuai jalan cerita yang kutimpakan pada mereka. Ini membuatku lupa diri. Aku baru berhenti ketika kelelahan, dan kaget ketika sadar kalau tanggal sudah berganti. Nyaris dua puluh empat jam aku tidak keluar dari kamar.

Sejak saat itu, aku mulai menulis lebih teratur. Fictionera hanyalah sarana bagiku untuk memperlancar ide, imajinasi, dan membantuku menerakan tokoh-tokoh dalam pikiranku dengan lebih jelas. Selebihnya, aku sendiri yang harus membuat jalan cerita dan plot. Aku mulai menulis draft yang sudah bertahun-tahun hanya bercokol dalam benakku. Naskahku sebagian besar bergenre fantasi.

Agar apa yang kulakukan tidak sia-sia, aku mencoba mengikuti berbagai lomba menulis di internet. Ketika aku selesai mengikuti lomba menulis cerpen fantasi yang diadakan salah satu komunitas (tentu saja aku tidak menang), aku ikut bergabung di forum bernama Kastel Fantasi. Komunitas itu didirikan untuk para penggiat di genre fantasi. Aku sangat senang ketika tahu bahwa ternyata di forum itu diadakan kontes menulis bulanan yang biasa disebut Cerita Bulanan (Cerbul) Kastel Fantasi. Tema soal yang diberikan berbeda-beda setiap bulannya. Batas waktu menulisnya tiga minggu. Dengan semangat menggebu-gebu, aku membaca ketentuannya, yang berbunyi seperti sebuah sayembara kuno dengan sejuta kesempatan yang terbuka.


Lomba CerBul diadakan sebagai ajang latihan, eksperimen, sekaligus unjuk kreativitas, bagi teman-teman yang suka menulis atau pengen juga coba-coba mulai menulis. Lomba ini diadakan setiap bulan, dengan tema yang berbeda-beda.

Lombanya santai-santai saja, tidak perlu saling jotos atau gigit-gigitan, meskipun lempar-melempar cabe masih diperbolehkan dan memberi masukan/saran untuk perkembangan teknik menulis tentunya sangat dianjurkan.

Dan sebagai pemanis, layaknya perlombaan pada umumnya, pemenang CerBul juga akan mendapatkan hadiah!

Aturan main umumnya:

1) Cerita yang disertakan harus mengandung unsur fantasi/science fiction.

2) Penjiplakan karya orang lain dilarang keras.

3) Setiap peserta hanya boleh menyertakan satu entri cerita. Semua cerita di-post sendiri oleh penulisnya di topik ini. Entri-nya boleh juga di-post di tempat lain (misalnya di blog pribadi), namun diharapkan menyertakan juga keterangan dan link kalau ceritanya sedang dilombakan di grup Kastel Fantasi.

4) Panjang cerita maksimal dua post yang harus di-post secara berurutan. Tidak ada panjang minimal. Sebagai info, maksimal karakter (termasuk spasi) dalam satu post di Gutenreads adalah 12.000 karakter. Perlu diperhatikan kalau panjang karakter di software (MSWord, dll) dan Gutenreads bisa berbeda, misalnya saja tulisan dengan huruf miring/italic memakai kode HTML yang menghabiskan tujuh karakter lagi (untuk masing-masing bagian yang di-italic).

5) Cerita ditulis menggunakan tata bahasa yang baik. Tidak diperkenankan memakai bahasa singkat-singkat ala SMS, apalagi bahasa alay.

6) Semua cerita yang di-post akan tetap menjadi milik peserta. Bila ingin dikembangkan lebih jauh/serius (misalnya dibuat novel) atau dilombakan ke tempat lain, silakan saja.

7) Komentar untuk cerita yang dilombakan tidak dilakukan di topik soal ini, melainkan di topik komentar.

Apabila ada yang menulis komentar di sini, komentarnya akan dihapus oleh moderator. Kedua topik dipisah demi alasan kerapian.

8) Bila ada pertanyaan, bisa langsung dilayangkan ke
topik komentar.

Sejauh ini, syarat-syaratnya sangat memuaskan untukku. Aku langsung mantap untuk ikut. Tema soal bulan itu adalah komedi tentang dewa-dewi. Aku menulis dengan semangat membara. Terlalu bersemangat rupanya, hingga ketika mengunggahnya, aku baru sadar panjang ceritaku lebih dari dua post.

Aku berusaha mengedit dan memperpendek ceritaku, tapi merasa tidak tega untuk memotong adegan yang menurutku penting. Alhasil, dengan terlalu percaya diri aku membiarkan ceritaku lebih panjang dari entri yang diizinkan. Tentu saja, di hari penilaian, ceritaku dianggap melebihi ketentuan. Pengalaman pertama ini mengajarkanku kalau lomba Cerbul ini tidak main-main.

Bagaimanapun juga, para moderator masih berbaik hati mengomentari ceritaku. Aku sempat disembur Momod Panda karena aku belum mengerti penggunaan spasi ganda dan fitur mengedit di Gutenreads. Setelah masa terpuruk lewat, pengalaman itu memicuku untuk berusaha lebih baik di Cerbul selanjutnya. Dari sana, dimulailah petualanganku mengejar batas waktu Cerbul yang berulang setiap bulan.

Mungkin kalian bertanya-tanya, siapa itu Momod Panda yang kusebutkan sebelumnya. Nah, forum KasFan (singkatan yang kubuat seenaknya) dipimpin oleh dua moderator yang bertugas mengatur kelancaran percakapan, sekaligus merekalah yang membuat soal Cerbul tiap bulan. Agar terkesan lebih imut, istilah moderator disingkat menjadi Momod. Di Kastel ini, para moderator masing-masing punya julukan tersendiri. Yang pertama Momod Nael, julukannya Momod Galau, sering disingkat lagi menjadi Modlau atau Modgal. Moderator yang kedua seorang wanita, biasa dipanggil Modus atau Momod Usil. Kadang juga dipanggil Monda, Momod Manda, namun sering diplesetkan menjadi Momod Panda.

Karakter mereka berdua sangat kuat, kau bisa tahu siapa yang sedang berkomentar, nyaris tanpa harus membaca nama pengirimnya. Wawasan mereka juga luas. Tapi, tampaknya tak ada seorang pun yang tahu identitas mereka yang sebenarnya. Di pojok thread rahasia Kastel yang diperuntukkan khusus untuk para anggota mengobrol ngalor-ngidul, bahkan ada gosip kalau kedua Momod itu sebenarnya bukan manusia, tapi AI. Aku tidak tahu sejauh mana kebenarannya. Mungkin gosip itu muncul saking misterius dan ajaibnya para Momod. Atau mungkin ada yang dendam karena tidak pernah menang di Cerbul, lalu menyebar gosip itu untuk merusak citra mereka yang terlalu sempurna. Entahlah.


message 7: by Dini (new)

Dini Afiandri (dresco_alcione) | 544 comments Itu selintas tentang forumnya sendiri. Kembali lagi pada Cerbul, soal baru keluar setiap tanggal 17 tiap bulan, dan batas waktu tiga minggu untuk menulis itu sungguh membuatku jungkir balik dari bulan ke bulannya. Aku harus memeras otak mencari ide cerita yang bisa menjawab tema soal, membuat kerangka cerita, memastikan unsur fantasi atau fiksi ilmiahnya kuat, menuliskannya, mengedit ejaan, membaca ulang, baru mengeposkannya di forum setelah aku yakin dengan ceritaku. Belum ditambah harus mengedit formatnya di forum kalau ada huruf yang cetak miring atau tebal. Setiap bulan, menjelang akhir minggu pertama, aku pasti mengurung diri di kamar untuk menulis. Lalu, baru saja bisa sedikit menarik napas lega karena sudah selesai mengepos cerita, soal baru untuk bulan berikutnya sudah muncul.

Tanpa aku sadari, aku menjadi lebih produktif menulis. Cerita-cerita yang kuikutsertakan di Cerbul memang tidak semuanya langsung selesai atau menjadi pemenang. Kadang-kadang aku juga mangkir dari kewajiban kalau temanya terasa sulit. Jadi kadang aku tidak ikut, atau aku sudah menulis sesuai tema Cerbul, tapi tidak selesai. Namun, aku tetap menyelesaikannya lain waktu, menyimpannya untuk diikutsertakan di kompetisi yang lain, juga bisa mengunggah cerita lamaku ke blog kepenulisan yang kuikuti. Dalam hal ini, pelaksanaan Cerbul sangat membantu.

Dengan rajin mengikuti Cerbul, aku melatih benakku untuk terus bekerja dan terus kreatif menggali ide cerita yang mungkin takkan pernah terpikir olehku sebelumnya. Aku jadi lebih banyak membaca buku dan menonton film, bahkan berdiskusi dengan orang tuaku bila jalan cerita yang kutuliskan sedang macet.

Lama kelamaan, aku menyadari bahwa pekerjaan sebagai penulis bukan berarti dekat dengan kesintingan, karena justru aku menulis untuk mempertahankan kewarasan. Dengan menulis, pikiranku menjadi lebih terstruktur dan fokus, dan otomatis aku juga berbicara dengan lebih luwes. Dengan berjuang mengikuti Cerbul, aku jadi punya tujuan dan target setiap bulan untuk dipenuhi, dan yang terpenting, aku bisa mengisi waktuku dengan kegiatan yang positif.

Dari waktu ke waktu, aku menjadi semakin terbiasa memenuhi deadline Cerbul. Beragam tema sudah diberikan oleh kedua Momod. Aku sudah mengikuti tema slice of life, karakter yang bernasib tragis, pemusik sci-fi, monster dan musik, kisah cinta remaja, menulis dari tiga kata (tarian, mantra, perayaan), panas yang bisa menghangatkan tubuh, makhluk dengan tinggi badan 10-20 meter, anak kecil yang memiliki kemampuan istimewa, dan masih banyak lagi.

Aku selalu kagum dengan pengabdian kedua Momod yang seakan-akan tidak pernah kehabisan soal untuk diberikan. Kalau deadline kami adalah membuat cerita, maka deadline bagi para Momod adalah mengumumkan soal baru dan membaca serta mengomentari semua cerita yang dilombakan. Kami semua sama-sama berjuang.

Waktu berlalu, dan tanpa sadar, tiba-tiba saja sudah hampir tiga tahun aku mengikuti Cerbul KasFan, berjibaku mengejar batas waktu setiap bulannya. Selama aku mengikuti kompetisi ini, beberapa kali nasib baik berpihak padaku, dan aku menjadi pemenang atau terpilih sebagai cerita terfavorit Juri Tamu. Hadiahnya buku.

Pertama kali aku menang di Cerbul, aku bersorak ketika membaca pengumuman. Beberapa hari setelahnya, Momod Nael memberi selamat melalui pesan pribadi di Gutenreads dan memberiku daftar, buku apa saja yang bisa kupilih. Waktu mendengar kata “buku”, kukira hadiahnya berupa buku elektronik. Ternyata mereka mengirimkan buku sungguhan, buku asli dengan lembaran-lembaran kertas, dan bahkan mengirimkannya melalui pos udara setelah menanyakan alamat rumahku. Ini mengagumkan, mengingat betapa langkanya buku sekarang karena jumlah pohon sudah semakin sedikit. Aku amat berterima kasih.

Sahabat dekatku, Joey— satu-satunya orang sungguhan yang dekat denganku di dunia nyata selain tokoh fiksi yang kuciptakan— adalah writing buddy- ku. Ia sering menambal kelemahan-kelemahan di cerita yang kubuat, memberi solusi untuk akhir cerita, atau bahkan memberi ide untuk cerita baru.

Joey pernah satu kali berujar: “Cerbul Kastel Fantasi yang dibuat oleh kakak tiap bulannya itu bisa dianggap seperti seseorang yang terus berusaha kakak kejar dan impi-impikan, tapi kakak nggak pernah terpuaskan oleh pencapaian kakak.”

Kurasa ia benar. Cerbul ini telah membuatku mengabdikan hidupku untuk menulis. Dan meski melelahkan, mengejar garis mati Cerbul juga memberiku kebahagiaan tersendiri. Sama seperti jatuh cinta pada seseorang yang menuntutmu untuk mengeluarkan kualitas-kualitas terbaik dalam dirimu.

Hari ini adalah tanggal 17-ku yang ke sekian. Aku menatap layar tabletku. Di sana tertulis:


“Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi – Edisi Juni 2038”

Lomba CerBul diadakan sebagai ajang latihan, eksperimen, sekaligus unjuk kreativitas, bagi teman-teman yang suka menulis atau pengen juga coba-coba mulai menulis.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dan soal kali ini adalah ...

Buatlah sebuah cerita yang berkaitan dengan
DEADLINE .

Timeline lomba :

Posting Cerita: 17 Juni - 10 Juli 2038
Masa Penjurian: 11 - 25 Juli 2038
Pengumuman Pemenang: 26 Juli 2038


Mari menulis fantasi!
;)

PS.

Kami, para momod, mengundang siapa pun yang tertarik untuk mendonasikan hadiah atau mempromosikan karyanya dengan ikut men-sponsori pelaksanaan lomba CerBul atau berpartisipasi dengan men-"juri tamu". Silakan menghubungi/mengirim PM ke moderator.
Terima kasih! :D



Aku tersenyum sendiri membaca tema soal bulan ini. Sungguh tema cerita yang sempurna untuk menulis cerita penghargaanku tentang CerBul KasFan ini. Bagaimana aku berjuang setiap bulan untuk memenuhi garis mati, dan menikmati setiap detiknya.

Dan cerita yang kau baca inilah cerita itu.


*SELESAI*


message 8: by Stezsen (new)

Stezsen | 297 comments ASISTENSI

Coba tunjukkan judul di atas pada anak-anak Kriya dan lihat siapa yang tidak gemetar. Baiklah, ada jenis murid teladan yang selalu mengerjakan tugas sejak hari pertama diberikan dan mendapat nilai sempurna waktu ujian. Tapi berapa banyak, sih, mereka? Aku yakin di antara dua ratus siswa Kriya Padat yang mengerjakan tugas akhir tahun ini, sepuluh saja tidak ada. Aku tak termasuk - tentu saja. Ah, sebetulnya aku ingin sekali menjadi salah satu dari anak-anak rajin itu, kalau saja kepalaku cukup waras waktu memilih rekan kerja dulu. Sayang sekali aku terlanjur satu kelompok dengan Jeryane, murid-paling-malas-angkatan-ini. Pertama-tama, dia selalu bangun kesiangan sehingga kami terlambat mendaftarkan judul tugas akhir. Tema-tema gampang sudah diambil kelompok lain - mulai dari membuat kunci energi baru sampai tambang logam yang dapat menghantar suara jernih. Jadi waktu aku bingung memikirkan judul apa yang menarik, gampang dibuat, dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar, si Jeryane mengusulkan, "Buku panduan tatawarna pelangi semu intibenda."

Saat itu aku memelototinya setengah tidak percaya. Jenius! Kelompok lain terlalu sibuk menciptakan benda-benda keren yang berguna untuk orang banyak (dan bisa dijual mahal). Tidak satu pun yang berpikir untuk membuat buku panduan tatawarna pelangi semu. Padahal buku itu bakal sangat berguna untuk para Ahli Kriya Padat. Ayolah, cuma satu di antara sejuta Ahli Kriya yang dapat melihat pelangi intibenda. Sisanya mengandalkan lensa penglihat ciptaan Ahli Emeya-Ata untuk mengamati pelangi semu. Memang dengan mencermati warna-warna itu, kita bisa mengetahui tara intibenda secara lebih tepat dan teliti. Tetapi seperti yang dibilang Jeryane, "Sampai sekarang belum ada yang membuat tabel warna pelangi semu. Kita tahu unsur tanah-air-udara mempengaruhi rona, api mempengaruhi terang-gelap, dan hampa mempengaruhi kecerahan. Kita tidak tahu berapa besar perbandingan perubahan unsur tersebut terhadap warna yang dihasilkan. Jadi tetap saja kita harus meraba-raba berapa tara inti sesungguhnya dengan melihat pelangi semu. Yah, mendingan daripada kira-kira sudah memuai-mampat berapa lama, sih."

Aku menganggap idenya itu hebat. Langsung saja kita ajukan tema itu pada Guru Pembimbing pada asistensi pertama. Meski Pak Scaethor terkenal menyebalkan dan galak, si tua botak itu menerima judul tugas kami dengan mulut senyum lebar. Apalagi begitu kukatakan, "Kami akan memakai batu kumalalumut yang rentang muai-mampatnya diketahui paling panjang di antara semua benda padat."

"Bagus. Bagus. Seperti apa bentuk bukunya nanti?"tanya Pak Scaethor.

"Sampul keras dari serpih kayu," jelasku, "Untuk kertas kita pakai ardaper seratus gram. Selain tak terlalu tebal, juga bisa menampilkan warna lebih baik. Pewarna yang kita gunakan batu seemoyek dengan campuran rogubus cair. Halaman depan berisi pengantar dan dasar teori. Lalu penjelasan batu kumalalumut dengan ilustrasi. Baru tabel warna berurutan mulai dari perubahan rona 360 derajat, lalu terang-gelap, dan kecerahan."

Pak Scaethor manggut-manggut melihat proposal kami. "Siapa yang gambar ilustrasinya?"

"Saya." Jeryane mengacung tangan.

Begitulah kami mendapat stempel disetujui dengan mudahnya. Kupikir juga, tugas ini bakal selesai gampang dan jauh lebih cepat dari kerjaan anak-anak lain. Toh, kami cuma membuat buku. Aku sudah dua tahun berpengalaman memuai-mampat seemoyek. Dan kemampuan menggambar Jeryane sudah terkenal ke mana-mana. Kalau Pak Scaethor si Kepala Penguji saja manggut-manggut semangat begitu, nilai bagus sudah pasti di tangan, kan?

Tidak, saudara-saudara. Aku terlalu meremehkan tugas ini. Oh, bukan. Aku terlalu meremehkan JERYANE. Dua hari setelah asistensi pertama selesai, gadis itu seenaknya pelesir ke luar kota! Kurang ajar. Gelar murid-paling-malas-angkatan-ini bukan omong kosong ternyata.

Untungnya aku benar-benar berpengalaman dengan seemoyek itu. Jadi semuanya bisa kukerjakan sendiri (kecuali menggambar, tentu saja). Yah, sejujurnya aku berharap Jeryane mendadak muncul dan membantuku memuai-mampat kumalalumut, sementara aku mengurusi seemoyek dan rogubus. Tapi sepertinya harapanku tak lebih baik dari mimpi siang bolong. Masa malam sebelum asistensi kedua si Jeryane mengirimiku pesan lewat burung gagak kesayangannya. Isinya: "Ayahku buka rumah opera baru dan aku harus membuat kostumnya. Sebulan lagi balik, deh. Tolong urusi asistensinya dulu, ya."

Benar-benar minta dilempar panci. Sidang tugas akhir ini dua bulan lagi, tahu!

Apa boleh buat. Pak Scaethor menanyaiku soal Jeryane waktu asistensi kedua. Kujawab saja, "Aku tidak tahu."

"Wah, padahal kau benar-benar butuh bantuannya," kata Pak Scaethor. "Mana sketsa tata letak bukumu? Teman-temanmu yang lain sudah mulai mencicil kios presentasi. Ini sudah sebulan sketsa bukumu sama sekali tak ada. Terus ini apa? Kamu mau memasukkan referensi berantakan begini ke buku nanti? Disusun dulu yang benar! Ini apa, ada teori perkiraan perbandingan perubahan warna. Dapat dari mana ini?"

"Dari pengamatan, Pak. Saya sudah membuat lima puluh warna."

"Kamu ini belum jadi Ahli Kriya. Pengamatanmu belum boleh dijadikan dasar teori begini, tahu! Lima puluh warna apanya. Ini masih banyak yang tidak tepat. Makanya kau butuh Jeryane. Matanya lebih bagus dari matamu. Ini. Tara inti 2:7,4:3,1:6:8." Pak Scaethor menunjuk kotak warna kecil yang kubuat di baris keempat halaman sepuluh. "Aku sering memuai-mampat tara inti ini. Warna pelangi semunya tidak begini. Ronanya geser ke kiri sepuluh derajat. Tambahi terang tiga tingkat dan kecerahannya turunkan empat tingkat. Mengerti?"

Bisa apa aku? Pak Scaethor bicara panjang lebar sambil mencoreti pekerjaanku. Dari lima puluh halaman yang kukumpulkan, tak satu pun bersih dari coretan. Sialan. Gosip galak itu benar juga rupanya.


message 9: by Stezsen (last edited Jul 09, 2015 08:46AM) (new)

Stezsen | 297 comments Bisa apa aku? Pak Scaethor bicara panjang lebar sambil mencoreti pekerjaanku. Dari lima puluh halaman yang kukumpulkan, tak satu pun bersih dari coretan. Sialan. Gosip galak itu benar juga rupanya.

Aku pulang dengan lesu campur dongkol. Sampai rumah kutendang meja dan kuhamburkan kertas ke mana-mana. Aku melongok jendela, menunggu gagak Jeryane datang membawa kabar. Tapi sampai bulan menggantung di tengah langit burung itu tak muncul juga. Kalau kau tanya rasanya, sebetulnya aku mau menangis. Yah, wajar, kan, seorang gadis menangis.

Asistensi ketiga kuhadiri tanpa Jeryane. Pemalas itu melanggar janji, sudah lebih sebulan dan dia belum muncul juga di Perguruan. Terpaksa kuhadapai Pak Scaethor yang marah-marah itu seorang diri.

"Ini warna apa?" si botak tua membentak.

"Bapak yang bilang waktu itu rona -10, terang +3, cerah -4." Aku menatap lurus ke kertas.

"Kapan saya bilang begitu?" Pak Scaethor tidak terima. "Mana, lihat kertasmu yang lama."

Aku mencarinya dari tumpukan kertas penuh coretan. Sialnya, waktu itu Pak Scaethor memang tidak menuliskan angka jelas. Jadi waktu kusodorkan kertas itu, Pak Scaethor cuma merutuk, "Mendingan warna yang lama."

Kalau seandainya Bakatku macan pedang dan bukan kriya padat, pasti sekarang sudah kuterkam dan kucabik-cabik si botak itu.

"Saya kecewa berat dengan kalian," kata Pak Scaethor. "Saya punya harapan tinggi kalau ini bisa jadi tugas akhir yang bagus. Tapi jadinya cuma begini saja. Sudah. Tidak usah asistensi lagi. Kalian kerjakan saja sendiri, waktunya tinggal dua bulan lagi."

Sejujurnya aku mau bilang, "Terima kasih. Saya juga sebal ketemu Bapak." Tapi kalau begitu dijamin ujianku bakal tak lulus atau aku dikeluarkan dari Perguruan. Jadi kubereskan saja semua kertas dan pergi tanpa permisi.

Malam itu tak disangka-sangka surat dari Jeryane datang. "Bagaimana asistensinya? Maaf, ya, aku kena demam waktu mau balik tempo hari. Harus istirahat lama di rumah. Tapi aku sudah dengar kabar soal sidang dari Gered dan Jarhen. Tenang saja, kita pasti sukses. Aku ke rumahmu lima hari lagi, asistensi berikutnya kita sama-sama, ya." Ada gambar kucing pasang tampang imut di bawahnya. Grah!

Kutulis balasan. "Pak Scaethor marah dan melarang kita asistensi lagi, bodoh! Cepat sini! Apa yang kau maksud dengan kabar sidang?" Kuikat surat ke kaki gagak dan kulepas burung itu lewat jendela. Kukira Jaryane akan menceritakan semuanya saat datang kemari nanti. Tetapi besoknya dia mengirim balasan. "Kau tidak baca papan pengumuman?" tulisnya. Baiklah, aku terlalu marah sehabis asistensi waktu itu dan langsung pulang tanpa sempat toleh kiri kanan lagi. Surat Jeryane berlanjut, "Pengumumannya jadi gosip seangkatan, lho. Katanya ada tulisan: 'Baju bebas asal jangan pakaian yang mengganggu kejernihan otak. Diharap membawakan hidangan untuk makan siang para penguji. Hidangan itu tidak akan dianggap sebagai gratifikasi.'"

Sungguh, aku terbengong membacanya. Guru-guru Kriya memang terkenal antik. Tapi aku tak menyangka mereka bakal membuat pengumuman sebodoh itu. Aku penasaran apa maksud Jaryane dengan "kita pasti sukses" tempo hari. Jangan-jangan - dia mau kami datang ke sidang dengan pakaian seksi. Oh, tidak.

Empat hari kemudian, Jeryane benar-benar datang. Kali ini membawa koper kulit besar. Isinya? Oleh-oleh. Aku tak tertarik mendengar cerita panjang lebar Jaryane soal rumah opera yang baru dibuka ayahnya di Kota Urthak. Aku menumpuk lembar-lembar asistensi lama di meja depan matanya, berharap gadis itu berhenti mengoceh dan melihat betapa gawatnya keadaan sekarang ini. Tetapi Jeryane malah mengeluarkan gaun putih mengkilap.

"Bagus, kan. Aku yang memuai-mampat kainnya sendiri." Gadisitu mengenakan gaun putih tanpa melepas baju hitamnya dulu.

"Kita harus segera mengerjakan tugas, bodoh," gerutuku, "Aku tidak mau mengulang sidang tahun depan."

"Ini baju untuk sidang kita nanti. Cantik, kan." Jeryane malah berputar pamer.

Baiklah, kalau mau jujur. Sebetulnya gaun panjang yang dibawa Jeryane itu cantik - modelnya sederhana tanpa corak, potongannya pas, jatuh mulus dengan ekor belakangnya menjuntai ke lantai. Gadis itu melenggok dua kali, kemudian mengeluarkan botol kaca hijau dari kopernya. Barangkali oleh-oleh dari Urthak juga.

Ia mengambil gelas seenaknya dari mejaku, mengisinya dengan minuman dari botolnya. Jaryane menyodorkan gelas itu padaku. "Enak, lho."

Aku sebal. Tapi lebih baik kuturuti semua kebodohan ini secepatnya, lalu menyeret pemalas itu ke bengkel untuk mulai bekerja. Aku menghabiskan isi gelas itu sekali teguk. Jaryane tertawa terbahak lalu menunjuk cermin. "Lihat," ujar gadis itu. Aku menoleh. Dan melotot.

Gaun yang tadi putih mengkilat panjang, mendadak terlihat seperti balutan cahaya pelangi yang - um - tembus pandang. Aku bisa melihat baju dan celana hitam yang dipakai Jaryane di balik gaun itu. Minuman tadi pasti ada apa-apanya.

Jeryane terkekeh pelan dan berkacak pinggang. "Tidak percuma aku bantu Ayah buat kostum opera. Tinggal pakai gaun pendek di baliknya."

Sekarang aku mengerti apa maksud Jeryane.

Soal sidang akhir itu tak perlu kuceritakan panjang lebar. Yang jelas, buku kami laku keras sejak dicetak resmi oleh Perguruan. Dan, yah, nilai kami sempurna.


message 10: by Kayzerotaku (last edited Jul 09, 2015 08:06AM) (new)

Kayzerotaku | 320 comments Penyelamatan Sebelum Fajar

4373 N.D
Tengah malam di Metro Nevania

Metro Nevania nampak berkilauan dengan lampu-lampu, meskipun dengan langit malam. Berbagai macam gedung pencakar langit menjulang seakan menggapai bintang-bintang di langit. Di bawah, kendaraan-kendaraan futuristik lalu-lalang. Para penghuni metropolitan nampak sibuk dengan urusan mereka masing-masing, sehingga tidak memperhatikan kedua sosok tubuh di atas salah satu gedung .

Keduanya mengenakan zirah ketat berwarna gelap dengan lingkaran berwarna-warni pada kedua bahu, siku, paha dan lutut. Mereka juga mengenakan helm berbentuk runcing. Salah satu sosok berukuran lebih kekar dan tinggi daripada temannya. Sosok yang lebih kecil melihat kedipan lampu pada tangan kanannya dan memijit sebuah tombol sehingga sebuah layar hologram muncul di depannya. Di layar itu sesosok makhluk dengan wajah menyerupai macan tutul salju, tetapi dengan raut wajah mirip manusia berbicara.

“Kadan, intel menginformasikan bahwa Putri Elysia dan para pengiringnya tahan di pencakar langit di arah timur, tepatnya pada lantai ke 34! Kita memastikan bahwa ia tempatnya dijaga dengan ketat! Tim spesialis mencoba untuk membebaskannya, tetapi gagal. Sang teroris akan mengeksekusinya sebelum fajar merekah!”

Sosok yang dipanggil Kadan ,menjawab. “Mencapai tempat itu tidak sulit, hanya saja waktu kita terbatas. Aku harap zirah magitek ini dapat mengatasinya, Mervo!”

“Ingat, kalian harus memakaikan zirah tersebut pada Tuan Putri sebelum matahari terbit!” ujar makhluk yang dipanggil Mervo mengingatkan. “Jika Tuan Putri tidak memakai zirah tersebut dalam waktu yang ditentukan…”. Kadan mematikan hologram itu sebelum Mervo berbicara.

“Tak usah kau ingatkan itu.” gerutunya. Lalu ia berpaling kepada rekannya.

“Kau siap, Jorc?” Jorc menjawab dengan mantap.

“Kalau kau siap, akupun siap!” Walaupun ia tidak bisa melihat raut wajah di balik helm, pria itu merasa bahwa temannya tengah tersenyum. Diam-diam matanya melirik ke arah chronometer di lengan kanannya yang menunjukkan jam 00.00.

Kemudian Kadan mengalihkan pandangannya ke gedung tertinggi di Metro Nevania dan berseru.

“Mari kita selamatkan Sang Putri, Jorc!” ia mengucapkan sebuah kata dalam bahasa kuno Nevani. “Angin!”. Setelah berkata demikian, ia menjatuhkan tubuhnya dari ketinggian dan mencelat tinggi ke gedung berikutnya. Tindakannya diikuti oleh Jorc. Tubuh mereka mulai diselimuti cahaya biru dan Kadan ringan bagaikan angin. Tak seorangpun yang menyadari perbuatan mereka, kalaupun ada mereka hanya merasakan hembusan angin. Kadan dan Jorc meloncati gedung demi gedung hingga tiba di tujuan mereka.

Sebelum Jorc sempat melangkah, temannya segera mencegah.

“Tunggu!” Kadan berjalan perlahan seraya mengangkat tangan kanannya. Jari-jemarinya segera menyentuh sebuah medan pelindung yang kasat mata. Diam-diam ia merapalkan sebuah mantra, sehingga medan pelindung tersebut bereaksi. Untuk sesaat, medan yang terdiri dari susunan energi heksagonal terlihat mulai dari dasar hingga puncak gedung.

“Medan pelindung yang terbuat dari getaran?” celetuk Jorc. “Lawan kita tak jelek juga.”

Kadan menambahkan. “Walaupun tahan unsur api, bumi dan air, medan ini bisa dibuka paksa dengan unsur kilat. Aku rasa kita bisa membukanya dengan kekuatan zirah yang kita kenakan.”

“Biar aku saja, Kadan!” Setelah berkata demikian, orang bertubuh besar itu melangkah ke depan dan meregangkan kedua lengannya.

Kilat!” Ketika bundaran kuning di bahu Jorc berpendar, seluruh tubuhnya mulai diselimuti sinar kekuningan. Ia segera menggapai medan tersebut dan mencoba untuk merobeknya. Sesaat, medan tersebut mulai terlihat dan bergetar., dan nampak sebuah retakan pada medan tersebut. Melihat hal tersebut, Jorc mengerahkan seluruh usahanya sehingga retakan tersebut bertambah lebar. Akibatnya, integritas seluruh medan terganggu dan perlahan-lahan menghilang.

“Jorc!” panggil Kadan khawatir, ketika temannya jatuh terduduk. Yang dipanggil membalas.

“Aku tidak apa-apa, Kadan.”katanya. “Kita harus cepat, waktunya tidak lama lagi!” Kadan melihat chronometer telah menunjukkan jam 00.20.

“Kau benar!” Tanpa membuang waktu, mereka segera memasuki gedung.


=o00o=


Sementara itu di lantai ke-34 gedung tersebut.
Seorang gadis muda duduk dalam keadaan terikat. Ia mengenakan seragam biru putih dengan rok biru laut. Kepalanya tertunduk, sementara rambut putihnya tergerai menutupi wajahnya. Ia nampak terengah-engah. Kemudian terdengar suara pintu terbuka dan ia bisa mendengar seseorang masuk. Perlahan-lahan ia mengangkat kepalanya dan menatap ke depan.

Sosok yang ditatapnya mengenakan jaket panjang hijau gelap dengan garis-garis merah pada bagian depannya. Ia mengenakan masker bertopeng yang menyerupai tengkorak, namun kedua matanya merah menyala..

“Waktumu hampir habis, Tuan Putri.” ujarnya dengan suara berat. “Pihak berwajib Nevania sepertinya tidak akan memenuhi tuntutanku. Sayang sekali.”

Tanpa rasa takut, Elysia menjawab. “Itu sudah pasti, siapa yang mau memenuhi tuntutan orang tak waras sepertimu? Aku tidak takut mati!” Dengan perlahan, sosok bertopeng tersebut menunduk dan membelai rambut gadis tersebut. Elysia menunjukkan raut wajah jijik, ketika tangan sosok itu mengelusnya.

“Sungguh sayang.” kata orang bertopeng itu. “Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini pada putri Kerajaan Esturias dan para junjungannmu sudah melakukan apa yang mereka bisa perbuat, namun harus kulakukan agar dunia baru dapat lahir. Kau akan menjadi tumbal bagi dunia baru.” Mendadak, sebuah pedang panjang muncul dari lengan bajunya. Tanggapan Elysia hanyalah semprotan ludah pada topeng tersebut.

“Kau pasti gila, jika menginginkan pembebasan para ekstremis sepertimu. Langkahi mayatku dulu sebelum itu terjadi!” teriaknya marah. Gantinya emosi, sosok bertopeng itu menyapu ludah sang putri dari topengnya.

“Jika tuntutanku tidak dipenuhi hingga matahari terbit.” Katanya. “Maka Esturias harus mencari putri baru dan Nevani akan menanggung darahmu.” Tiba-tiba sebuah mahluk yang menyerupai kerangka manusia memasuki tempat mereka. Sosok bertopeng tersebut menoleh dan berbicara pada makhluk dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Elysia. Lalu ia segera memberi aba-aba pada makhluk tersebut yang segera meninggalkan mereka.

“Ah, rupanya junjunganmu sudah putus asa sehingga mereka melakukan tindakan drastis.” komentarnya. “Untuk sementara, aku harus meninggalkanmu Tuan Putri. Ini tidak lama.” Maka ia segera meninggalkan Elysia yang nampak lelah. Matanya melirik ke arah sebuah zirah yang telah rusak. Ia hanya menghela nafas.


=o00o=

Di lain tempat
Setelah menaiki lift, Kadan dan Jorc tiba di aula lantai 33. Balairung tersebut nampak kosong dan gelap, tak seorangpun yang terlihat.

“Terlalu sepi…” Jorc membuka suara. “Aku tidak suka ini.”

“Kau benar, Jorc.”timpal temannya. “Kita harus waspada, jangan-jangan ini sebuah…” Tiba-tiba lampu di balairung tersebut menyala serentak. Keduanya langsung bersiaga. Di sudut kiri mereka, sosok bertopeng itu menyambut mereka.

“Selamat datang, para pahlawan!” katanya dengan nada sarkastis. “Tadinya aku berharap banyak orang, tetapi hanya kalian berdua yang datang. Bagus! Bagus sekali!”

Tanpa mempedulikan celotehan sosok misterius itu, Kadan bertanya. “Jangan berbasa-basi! Dimana Tuan Putri Elysia serta para pengiringnya?”

“Putri Elysia baik-baik untuk saat ini.” ujar yang ditanya. “Para pengiringnya? Itu mereka datang!” Kemudian Kadan dan Jorc segera dikepung oleh sekelompok makhluk-makhluk aneh. Rupa mereka sudah tidak menyerupai manusia lagi, sekujur tubuh mereka terdiri dari logam dan kedua mata mereka berwarna putih dengan tatapan kosong. Tangan-tangan mereka berhiaskan cakar-cakar runcing. Tampak sisa-sisa pakaian pada mereka, yang menandakan bahwa mereka dulunya manusia.

“Apa yang kau perbuat pada mereka, Gestalt?” tanya Kadan gusar. “Kau anggap mereka sebagai bahan eksperimenmu?”

Sosok yang dipanggil Gestalt itu hanya membalas. “Dan kalian? Apa kalian menganggap diri kalian bukan kelinci percobaan, hm? Zirah magitek yang kalian pakai tidak cocok dengan kalian dan itu akan membunuh kalian!”

Kadan dan Jorc diam membisu ketika mendengar kata-kata tersebut. Ia benar, zirah magitek yang mereka kenakan itu tidak sempurna. Kekurangan zirah magitek tersebut adalah masa pakai yang terbatas. Begitu mereka memakai zirah tersebut, hawa kehidupan mereka diserap dan diubah menjadi mana untuk daya serang. Banyak yang meninggal karena tidak kuat menahan beban dari hasil rekayasa teknologi dan sihir. Hal itu disebabkan karena tidak sempurnanya sinkronisasi pemakai dengan zirah tersebut. Di lain pihak, zirah tersebut dapat menstabilkan mereka yang memiliki gen hybrid seperti Putri Elysia. Anggota kerajaan Esturias harus mengenakan zirah tersebut dalam waktu-waktu tertentu, jika tidak mereka akan mati.

Menurut data yang dikumpulkan dari sekian percobaan, zirah magitek hanya bisa dipakai selama 2 hari untuk keadaan biasa dan 12 jam untuk bertempur.

Lalu Gestalt melanjutkan. “Gantinya menolong mereka yang korup, bergabunglah denganku dan kita bisa melakukan hal-hal besar bersama. Apalah hidup seorang putri manja dibandingkan dengan kalian?” Kadan diam-diam mengepalkan tangannya. Ia mencoba mengingat alasan mengapa ia bersedia mempertaruhkan hidupnya untuk menyelamatkan Elysia. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Kadan menengadahkan kepalanya dan berkata lantang. “Gadis yang kau panggil ‘putri manja’ itu pernah menolongku, Gestalt! Justru itu aku bersedia untuk mengorbankan diriku untuk menolongnya!”

Mendengar ucapan tersebut, Gestalt terhenyak sebelum ia tertawa serak-serak basah.

“Bagus, kau tahu apa yang kumaksud! Mereka mengirim kalian untuk membawa zirah tersebut pada sang putri. Ia harus mengenakan zirah magitek selama 24 jam, agar tetap hidup. Eksekusi yang kumaksudkan adalah membiarkannya mati.” Teroris gila itu menepukkan tangannya.


message 11: by Kayzerotaku (last edited Jul 09, 2015 08:14AM) (new)

Kayzerotaku | 320 comments “Aku salut pada kepahlawanan kalian, untuk itu akan kupastikan bahwa kalian akan dikuburkan secara anumerta! Para corphse-ku, cabik-cabik mereka!” Makhluk-makhluk yang dipanggil corphse tersebut menggeram ganas. Tuan mereka hanya melengos pergi.

Jorc segera menarik Kadan dan berkata. “Kadan, ikuti orang gila itu! Aku akan menahan cecunguk-cecunguknya di sini!”

“Mereka terlalu banyak, Jorc! Kau tidak akan mampu!” protes Kadan.

“Tugas kita adalah menyelamatkan Putri Elysia dengan cara apapun. Aku akan melakukan bagianku dan kau lakukan bagianmu! Pergi!” Menyadari keteguhan hati temannya, Kadan mengangguk dan segera merapal mantra kuno.

Api!” Dalam sekejap, kobaran api muncul di sekujur tubuhnya dan ia segera menerjang para corphse. Makhluk-makhluk tersebut meraung kesakitan ketika api memangsa mereka. Kadan menggunakan kesempatan tersebut untuk meluncur ke langit-langit. Para corphse mencoba mengikutinya.

Logam!” Potongan-potongan tubuh berterbangan ketika Jorc mengayunkan kapak besarnya. Tidak hanya itu tubuhnya dipenuhi duri-duri logam.

“Hadapi aku dulu, jika kalian ingin mengejar Kadan!” teriaknya. Nafasnya mulai memburu, efek samping zirah tersebut mulai terlihat. Dengan senyuman di bibirnya, ia mulai menerjang makhluk-makhluk tersebut.

=o00o=

Kadan segera menerobos langit-langit lantai di atasnya dan tiba di sebuah ruangan. Ia segera mengambil sikap waspada dan memeriksa sekelilingnya. Kemudian pandangannya teralihkan pada seseorang yang duduk di sebuah kursi.

“Tuan Putri Elysia!” panggilnya. Sebelum ia mendekati Elysia, sesosok makhluk menyerupai kerangka manusia segera menghalangi jalannya. Tanpa berpikir panjang , Kadan segera menerjangnya.

“Minggirlah! Kilat!” teriaknya lantang. Ia segera menyarangkan pukulan yang berisi elemental kilat ke tubuh makhluk itu sehingga makhluk tersebut hancur berkeping-keping. Lalu ia segera mendekati wanita tersebut dan memegang bahunya. “Tuan Putri, apakah kau tidak apa-apa?”

Elysia mengangkat wajahnya. Wajahnya kini dipenuhi keriput dan suaranya terdengar lirih.

“Kadan…” panggilnya. Tanpa buang waktu, Kadan segera melepaskan ikatan pada Elysia. Sang putri yang kini tua renta mengangguk dan menjatuhkan diri padanya.

“Syukurlah, aku menemukanmu Tuan Putri!”Kadan menyadari bahwa waktunya tinggal sedikit. Ia harus memberikan zirah magitek miliknya pada Elysia.

“Yang Mulia! Aku akan memberikan zirah magitek ini padamu!” Ia segera melepaskan helmnya sehingga rambut hitamnya tergerai. Sebelum ia sempat menanggalkan zirahnya, seseorang mendatanginya dari kegelapan.

“Wah, pengabdianmu pantas dipuji!” celetuk Gestalt. “Namun fajar hampir menyingsing, waktunya hampir habis!” Tiba-tiba Elysia terjatuh seraya terbatuk, peluh dingin membasahi dahinya dan wajahnya nampak pucat.

“Tuan Putri!” teriak Kadan. Ia segera menangkap Elysia dan membaringkannya di lantai. Gestalt menambahkan.

“Yang harus kulakukan adalah mengulur waktu sehingga Yang Mulia meninggal. Tuntutanku terpenuhi atau tidak, itu bukan masalah.” Saat bersamaan, dua bilah pedang muncul dari lengan baju Gestalt dan ia segera menyilangkan kedua pedang tersebut di depan wajahnya. Dengan gerakan secepat kilat, teroris itu melesat hingga dekat dengan Elysia dan mengayunkan pedangnya. Kadan bertindak cepat dengan mengangkat lengan kanannya untuk menangkis ayunan pedang tersebut. Bunga api berpercikan ketika logam mengenai zirah magitek tersebut. Tindakan itu segera disusul dengan rapalan mantera.

Api!” Sebuah pedang api muncul dari lengan kanan Kadan. Ia segera mengibaskan pedang api tersebut sehingga Gestalt harus menghindar. Setelah itu Kadan segera mengambil helmnya dan berkata dengan geram.

“Hal itu takkan terjadi, Gestalt! Tugasku adalah menyelamatkan Putri Elysia dan aku akan melaksanakannya walaupun nyawaku taruhannya!” Ia segera menerjang lawannya yang segera menyerang balik. Gerakan mereka sangat cepat, jurus demi jurus berlalu. Tetapi keduanya seimbang dalam kekuatan dan kecepatan

Jantung Kadan berdegup kencang. Sesekali matanya melirik ke arah chronometer dan Elysia. Waktu berlalu cepat sejak mereka bertemu dengan Gestalt. Ia harus mengambil resiko dengan melakukan kombo sihir. Kalau tidak, ia takkan bisa menyelamatkan Elysia. Tiba-tiba ia segera mengambil jarak dan merapalkan dua mantra sekaligus.

Logam! Api!” Seketika itu juga, pedang api di tangan kanannya berubah menjadi pedang biasa dan tangan kirinya menggenggam cambuk yang terbuat dari api. Lawannya sempat terkejut melihat tindakan itu, tetapi Kadan tidak membuang waktu. Ia segera mengayunkan pecut api tersebut kearah Gestalt sehingga tubuhnya terbelit. Kemudian ditariknya Gestalt hingga masuk jangkauan serangnya. Kini serangan terakhir.

Bumi!” seru Kadan. Ia menyarangkan sebuah pukulan keras ke tubuh lawannya, sehingga tubuhnya bergetar kencang dan yang dipukul roboh dengan rintihan kesakitan. Walaupun demikian, Kadan merasa tubuhnya bagaikan diremas-remas. Ia segera mendekati Gestalt yang tak berdaya.

“Kenapa…membuang hidupmu hanya…untuknya?” tantang Gestalt. Yang ditanya tidak menjawab; ia hanya mengangkat tangan kanannya sambil berkata.

“Kau takkan mengerti.Logam!” Kepalan tangan Kadan berubah menjadi kepalan bola duri dan ia segera menghantam kepala Gestalt hingga hancur berkeping-keping. Gantinya darah dan daging, komponen-komponen sirkuit dan kabel-kabel keluar dari topeng yang pecah itu. Sosok tersebut terdiam.

“Mesin sepertimu takkan mengerti hubungan antara Putri Elysia denganku!” tambah Kadan. Dengan tertatih-tatih, ia kembali kepada Elysia. Wanita tua itu melirik ke arahnya.

“Kadan, kau tidak perlu berbuat ini.”katanya mengingatkan.

“Mari kita temui Jorc.” Ia segera mengangkat Elysia yang lemah, kemudian meluncur ke lantai terbawah.

=o00o=

Setibanya di lantai 33, mereka disambut oleh pemandangan mengenaskan. Jorc tergeletak di lantai, sementara potongan-potongan tubuh corphse milik Gestalt berserakan dimana-mana dan darah biru mereka membasahi lantai. Zirah milik Jorc juga basah oleh cipratan darah corphse. Kapak besarnya menancap di lantai.

“Jorc!” panggil Kadan cemas. Dengan lemah, sosok yang dipanggil memalingkan kepalanya ke arah mereka.

“Kadan…akhirnya kau temukan Sang Putri…” ujarnya. Kadan hanya mengangguk; ia buru-buru membawa Elysia kepada temannya yang terbaring. Kini chronometernya menunjukkan angka 05.56.

“Kita tidak punya banyak waktu, Jorc! Dua jam lagi fajar akan menyingsing!” katanya cemas. Ia segera melepaskan helmnya. Rambutnya yang tadinya hitam, kini berwarna putih. Jorc juga melepaskan helmnya dan menampakkan wajah seorang half-orc. Sementara temannya menjaga Elysia, Kadan memijit tombol pada lengan kirinya dan berbicara.

“Mervo, di sini Kadan! Kami sudah mengamankan Sang Putri, tetapi keadaannya kritis! Kami akan segera memakaikan zirah magitek milik kami kepadanya!”

Di seberang, Mervo menjawab. “Aku segera datang! Akan kuminta para ilmuwan Esturias untuk membantu! Mervo keluar!” Kadan berpaling pada Elysia yang nampak lemah. Ia segera mencabut zirahnya. Kini ia hanya mengenakan pakaian dalam ketat berwarna hitam.

Tanpa buang waktu, Kadan memasang zirah miliknya pada Elysia. Sang putri tertawa kecil melihat penampilan Kadan yang tak mengenakan apa-apa.

“Jika aku sehat nanti,” ujarnya. “Aku akan menamparmu karena tidak mengenakan pakaian di hadapan Putri Esturias.” Kadan membalas

“Tamparlah aku, jika kau sudah sehat kembali!”

“Akan kuingat itu…” Mata Elysia terasa berat. Sebelum ia jatuh tertidur, Kadan membentaknya.

“Bangun, Tuan Putri!” Gadis itu tersentak dan Kadan memasangkan helmnya pada Elysia seraya menambahkan.

“Sekarang tutuplah mulutmu, hingga proses penyembuhanmu berjalan lancar!” Setelah Elysia mengenakan zirah magitek miliknya, Kadan memijit tombol di bagian lengannya dan merapalkan mantra penyembuhan.

Angin! Kilat! Air!” Mendadak seluruh tubuh Elysia diselimuti hawa kebiruan dengan sepercik arus kilat. Di saat bersamaan, matahari mulai bangkit dari peraduannya dan sepasukan tentara bersenjata lengkap memasuki lantai dimana mereka berada. Para petinggi Nevani dan Esturias yang dipimpin Mervo yang berpakaian necis segera mendekati Kadan.

“Bagus! Tadinya aku mengira kalian tidak akan berhasil!” katanya.

“Kau terlalu menganggap enteng kami.” Kadan menanggapi. “Setidaknya kini Tuan Putri selamat.” Ia melihat Jorc yang tengah ditangani oleh para dokter. Beberapa menit kemudian, Elysia menggerakan jari-jemarinya dan ia mulai bangkit dari lantai. Melihat hal itu, Mervo bersujud di lantai sementara Kadan tetap berdiri. Sehat kembali, Elysia melangkah ke arah mereka dan mencabut helm yang menutupi wajahnya. Di hadapan mereka, wajah Elysia kembali muda seperti semula dan tidak ada tanda-tanda ketuaan. Rambut putihnya tergerai

“Tuan Putri.” ucap Mervo dengan takzim. Putri Kerajaan Esturias hanya mengangguk sebelum memalingkan pandangannya pada Kadan. Tiba-tiba tangannya segera melayang ke arah pipi sang penyelamat.

“Itu untuk berdiri tanpa busana di hadapanku!” ujar Elysia tegas. Sebelum Kadan sempat berkata apa-apa, gadis itu segera mencium bibirnya dengan mesra. Untuk sesaat, ia hampir-hampir tidak bernafas. Setelah selesai, ia mendengar Elysia berkata.

“Yang ini sebagai tanda terima kasihku.” Wajah Kadan bersemu merah.

=o00o=

Tamat?


message 12: by Magdalena Amanda, Momod Usil (last edited Jul 09, 2015 08:22PM) (new)

Magdalena Amanda | 2330 comments Mod
34 Menit 49 Detik

Gyo "Sage" Seul-gi melihat angka yang terus menghitung mundur di bagian visor helmnya. Tinggal 45 menit lagi sampai rombongan Yang Mulia Raja memasuki Ukinali Karesidenan Timur. Mungkin saat ini sang Adipati sedang marah-marah di ruang Komandan, menuntut agar lebih banyak unit Ket dikerahkan ke jalan untuk sesegera mungkin mencari dan menangkap Diwata yang setengah jam lalu terdeteksi di radar. Masalahnya, unit Ket--unit patroli Squad Ronshi--selalu mengerahkan seluruh unit untuk tugas patroli harian. Tidak ada yang namanya "pemain cadangan", kecuali jika unit Landung--unit robot dan drone--dan unit Macan--unit eliminasi--dikerahkan juga. Komandan hanya mengerahkan mereka untuk membantu unit Ket jika dan hanya jika situasinya genting serta mendesak. Keberadaan unit Landung dan unit Macan di kota seringkali membuat masyarakat resah.

Sekarang waktunya tinggal 43 menit lagi. Sage kembali menyimak percakapan di jalur komunikasi. Unit-unit lain silih berganti memberikan laporan, diselingi konfirmasi dari unit Bangkal, unit pemindai.

"Ket-70 melapor. Area bersih."

"Ket-75 melapor. Tidak terdeteksi di daerah kami."

"Ket-80. Bersih."

"Ket-69, tidak mene--tunggu. Ada yang bergerak."

"Bangkal-3?"

"Hanya samar-samar di radar ... Ah! Itu dia! Ket-69! Jangan sampai kehilangan dia!"

"Menurutmu Kapten perlu bantuan tidak?" Partner Sage, Greta Ingram, bertanya dari bagian depan motor.

Motor unit Ket berbeda dari motor biasa atau motor polisi, alih-alih memiliki jok normal yang bisa diboncengi, jok motor unit Ket hanya muat untuk satu orang sementara bagian belakang motor dipasangi landasan yang cukup lebar untuk ditumpangi dua sampai tiga orang (berdiri, bukan duduk). Sage berdiri di landasan itu, sementara Greta menyetir motor.

"Perlu kutanyakan?" tanya Sage.

"Boleh." Helm unit Ket yang hanya menutupi sebagian wajah tidak dapat menyembunyikan seringai lebar Greta. "Sudah sebulan kita tidak kebagian kerjaan mengurus Diwata satu pun."

"Baiklah." Sage menyambungkan komunikator ke jaringan. "Ket-77 di sini. Perlu back-up?"

Jawabannya tidak langsung datang. Sage menduga Kapten tengah mengecek lokasi mereka.

"Ket-77, ke area P. Sekarang."

"Siap."

"Roger!"

==

Area P adalah permukiman padat penduduk yang berada di tengah kota. Jalannya terlalu sempit untuk dimasuki motor unit Ket apalagi mobil unit Bangkal. Peta digital yang dilihat Sage di visornya pun tidak meyakinkan karena terlalu sedikit jalanan yang tercantum dibandingkan yang dilihat di dunia nyata.

Ada dua unit Ket selain unit Sage yang dimintai sebagai back-up, salah satunya Sage kenali sebagai temannya yang memang tinggal di area P ini. Kapten Hanz Ingram (kakak laki-laki Greta Ingram, lebih tua satu tahun) tengah mendiskusikan sesuatu dengan orang tersebut. Saat selesai, ia memanggil semua bawahannya mendekat.

"Markas mengirimkan satu unit Bangkal tambahan dan enam drone Limbur di bawah unit Landung," kata Kapten Hanz. "Komando diserahkan kepadaku, unit lain akan tetap beroperasi seperti biasa di bawah komando Letnan Dua."

"Kita menunggu bantuan dari markas datang?"

"Ada resiko kehilangan target jika kita menunggu terlalu lama," ujar Hanz. "Tapi, memulai lebih awal juga memiliki resiko yang sama."

Seraya menunjukkan peta area P yang telah diberi coretan tambahan di perangkat tabletnya, Hanz menjelaskan. "Permukiman ini kompleks dengan banyak jalan-jalan kecil. Rencana awal adalah menyebar drone Limbur ke sekitar jalan keluar dari area P." Sang kapten menggambar bulatan-bulatan yang menandakan jalan-jalan keluar dari permukiman. "Diwata ini kecil dan levelnya rendah, jadi persenjataan standar Limbur sudah memadai untuk menangkapnya."

"Tapi Limbur belum datang," kata Sage. "Apa tidak lebih baik kita memasang jebakan di titik-titik keluar itu?"

"Kita tidak mungkin memasang di semua titik."

"Yaa, waktu kita tinggal setengah jam lagi lho," sela Dirman "Deerman", partner Hanz.

"Aku tahu."

Sage jadi merasa gugup. Apa waktu setengah jam cukup untuk menangkap makhluk itu? Dari percakapan yang didengarnya, makhluk itu bertubuh kecil dan bergerak dengan cepat. Mungkin di antara mereka semua yang berkumpul di sini saat ini, hanya Deerman yang mantan atlet lari--larinya benar-benar cepat, itu menjelaskan kenapa dia memberi dirinya julukan "deerman" alias "manusia rusa" dan tak seorang pun memprotes--yang bisa mengejar Diwata target mereka.

"Kurasa kita harus mulai," kata Hanz akhirnya. Ia menunjuk petanya. "Kita mulai dengan pemindaian. Lakukan dari ujung-ujung perimeter terluar area P dan bergeraklah lurus menuju ke titik tengah. Pastikan kalian mem-pinpoint titik yang benar di penunjuk arah kalian. Koordinat-nya P-45-78."

Sage memunculkan peta di visornya dan menggumamkan perintah, "Pinpoint P-45-78. Lokasi saat ini aktif." Sebuah tanda seperti jarum muncul di titik pinpoint dan tanda lain berbentuk kepala panah muncul menandai lokasi Sage saat ini. "Minimalisir visual," gumam Sage lagi dan petanya mengecil, menyiksakan visualisasi berupa panah yang menunjukkan arah menuju pinpoint dan jarak antara Sage dengan titik tujuan.

Hanz membagi mereka berdelapan ke lokasi-lokasi yang berbeda. Dengan waktu yang kian menipis, semuanya bergerak cepat tanpa ada yang mempertanyakan rencana sang kapten. Mungkin bukan rencana terbaik yang pernah diajukan, tapi kedengaran lebih baik daripada sekedar menunggu sementara sang Adipati merecoki Komandan di markas.

Sage berjalan hati-hati menyusuri jalanan permukiman yang sempit. Ia berpapasan dengan beberapa penduduk sekitar yang sebagian besar langsung berhenti dan minggir memberi jalan. Saat ditanya, mereka mengaku tak melihat sosok Diwata melintas.

Sementara para remaja dan orang-orang dewasa cenderung bersikap hormat, anak-anak justru menunjukkan rasa penasaran. Kapan lagi coba melihat anggota unit Ket blusukan di daerah ini? Diwata yang muncul dari dunia lain biasanya lebih besar dan lebih memilih jalanan yang muat menampung badannya.

"Diwatanya kecil?" tanya salah satu anak laki-laki yang tadinya bergerombol bersama teman-temannya entah tengah merencanakan apa pada salah satu rumah di sekitar sana. "Kok bisa sampai masuk sini?"

"Begitulah."

"Apa dia galak?"

"Tidak. Tapi kalian jangan dekat-dekat kalau melihatnya."

"Hei! Kami bantu cari bagaimana?"

"Jangan--hei! Kubilang jangan!"

Tapi bocah-bocah itu sudah mengambil sepeda-sepeda kecil mereka dan anak lelaki yang kelihatan paling tua dan paling besar di antara mereka langsung memberikan arahan siapa harus pergi ke mana. Tidak seorang pun menggubris ucapan Sage.

Uh ... Dasar anak-anak …, batin Sage. Ia kembali mengarahkan perhatiannya ke visornya. Masih tidak ada apa-apa. Mungkin rekannya di lokasi lain lebih beruntung.

Sage mendongak, melihat betapa rapatnya jarak antar rumah di tempat ini dan betapa bercabang-cabangnya jalanan kecil ini.

Oh. Benar juga.

"Kapten?" Sage membuka jalur komunikasi pribadi dengan Hanz. "Boleh mengusulkan sesuatu?"

==

Waktu yang tersisa tinggal delapan bel--tujuh belas menit lagi. Dari semua pembicaraan yang masuk ke saluran komunikasi Sage, saat ini Deerman masih mengejar Diwata yang menjadi target mereka. Stamina dan kecepatan lari Deerman memang patut diacungi jempol; dia satu-satunya yang tidak kehilangan sang target sejak menemukannya.

"Deerman! Suarnya! Suarnya!"

"Aku sedang me-refill suarnya! Susah tahu refill sambil berlari!"

Sage menunggu dengan tegang. Suar yang harus ditembakkan Deerman adalah hal terpenting agar rencananya berjalan dengan lancar. Jika berhasil mengenai makhluk yang mereka kejar, suar itu akan mengeluarkan sinyal yang membuat lokasi Diwata lebih mudah dideteksi radar dan unit Bangkal bisa menyebarkan lokasi target mereka ke masing-masing unit Ket. Kedengaran tidak praktis, tapi apa boleh buat. Fitur di helm unit Ket hanya bisa menerima broadcast ulang dari unit Bangkal, tidak punya radar sendiri.

Suar yang dilepaskan Deerman kali ini mengenai sasaran. Sebuah titik merah berkedip-kedip menyala di peta di visor Sage.

"Dia menuju perangkap!"

Titik merah terus bergerak. Arahnya sesuai dengan prediksi yang dibuat--

Lho?! Kenapa Diwata-nya masih bergerak setelah melewati area perangkap?!

"Dia melompati perangkapnya!" teriak Deerman. "Siagakan semua drone!"

Kalau Diwata itu bisa melompati perangkap yang mereka pasang, Sage jadi tidak percaya para drone bisa menghentikannya.

Di visualisasi dalam visor, titik merahnya berbelok alih-alih menuju jalur yang dijaga drone.

Apapun penyebab Diwata itu berbelok, Sage harus bertindak sekarang. Diwata itu menuju ke arahnya.

Sage mengeluarkan empat benda yang terlihat seperti potongan sudut bingkai foto dari tas pinggangnya. Ia memasang dua di atas tanah, merapat ke dinding yang mengapit kedua sisi jalan. Dua sisanya dipasang di dinding bagian atas. Begitu Sage mengaktifkan jebakan itu, pendaran bidang menyerupai dinding transparan bergolak sesaat lalu diam, membuat bidang perangkap tak terlihat.

Sambil berharap si makhluk dunia lain menghindari jebakan pertama bukan karena bisa melihatnya, Sage mengeluarkan senjatanya dan bersiap-siap.

Makhluk itu datang.

Selintas, makhluk itu berwujud seperti kelinci. Kedua telinganya panjang seperti kelinci, namun ujungnya bercabang dua. Alih-alih hanya dua pasang kaki, "kelinci" ini memiliki ... Sage tidak yakin, tapi sepertinya lebih dari dua pasang. Laju makhluk yang badan putihnya berubah warna seperti sabun cair di bawah cahaya matahari itu sangat cepat.

Sesungguhnya Sage malu setengah mati ketika ia menyabetkan tonfa-nya ke arah si makhluk dan meleset dengan sempurna. Untung tidak ada yang lihat. Kenapa juga dia berpikir bisa mencoba melumpuhkan Diwata cepat ini dengan senjata?

Kabar bagusnya, Diwata itu melompat langsung menuju perangkap yang dipasang Sage.

Kiiikkk!

Bidang transparan perangkap bergelombang. Si Diwata membeku di tempat di mana ia menyentuh bidang perangkap, tubuhnya nampak berubah menjadi lebih cair dan bergulung. Detik berikutnya, dengan kecepatan mengejutkan, keempat bagian perangkap tertarik ke sosok Diwata dan menyatu dengan suara "klak" nyaring. Perangkap itu jatuh ke tanah. Kristal yang menghiasi bagian tengahnya menyala, tanda bahwa ada Diwata di dalamnya.

"Gyo Seul-gi melapor," kata Sage via komunikator seraya memungut jebakannya. "Target berhasil diamankan."

Terdengar sorakan di saluran komunikasi yang dengan segera dipotong oleh: "Lho, Sage, memangnya kau masih bawa jebakan bidang?"

"Masih kok."

"Oh ... Kau pake yang level tiga ya?"

"Tunggu! Memangnya--" Sage membalik jebakan di tangannya. Angka "3" tertera jelas di bagian belakangnya. "Ah ... Ya. Aku pakai yang tiga."

"Teguran untuk penggunaan alat yang tidak sesuai," kata Hanz. "Tapi, kerja bagus, Sage."

"Terima kasih."

Sage melihat angka hitung mundur di visornya sebelum mematikannya.

11:11

Oh, wow! Angkanya bagus! seru Sage dalam hati, merasakan kepuasan tersendiri karena berhasil menangkap basah hitung mundurnya menampilkan empat angka sama.


message 13: by Tama (last edited Jul 10, 2015 05:32AM) (new)

Tama Fandira | 19 comments Prae

Sesaat.

Sempat kulihat sosok gadis itu bergeming total walau sesaat.

Rambut cokelat kemerahannya yang disibak angin sore berdansa gemulai. Sementara kedua matanya menatap tanpa ujung. Kosong.

Dari bawah sini siluetnya terlihat kecil. Jauh dari signifikan. Sangat. Saking kecilnya hingga megah langit senja yang membelakanginya melimpah, nyaris menelannya utuh. Memang menyakitkan. Merasakan betapa remeh keberadaannya dihadapan rencana semesta. Dan tak ada yang bisa dia lakukan untuk membatalkan kutukannya.

Aku menghela nafas.

Sampai kapan gadis itu mau diam di tempat?

Aku lompat dari bangku taman yang sejak nyaris sejam yang lalu terus-terusan menopang bobotku. Memang terbatas hal yang bisa kulakukan untuknya, tapi…

Telapak tanganku membuat suara nyaring ketika keduanya kukatupkan di depan dada. Satu tepukan saja. Dan dari atap gedung lantai tiga itu, si gadis sadar dari lamunannya sebelum menatapku balik. Kedua mata kami bertemu. Secercah rasa ngeri menyedot warna dari wajah gadis itu sebelum dia lenyap ke balik punggung gedung.

Kuhenyakkan tubuhku kembali ke sandaran bangku. Begini saja cukup. Selanjutnya gadis itu akan keluar dari gerbang sekolah, menuju ke tempatnya mengambil part-time job, dan pulang sebelum jam sepuluh untuk makan malam. Yang harus kulakukan cuma memastikan kalau rutinitas hariannya itu tetap berjalan di relnya.

Kepalaku jadi penat.

Apa-apaan aku ini? Aku kan bukan babysitter-nya.

Sementara aku bergumul dengan pikiranku, sepasang sepatu buts bergemeletuk di permukaan batu-batu pijakan taman. Aku sudah sering mendengarnya dalam dosis harian. Tanpa menoleh pun aku tahu siapa pemilik langkah-langkah ringan namun sarat dengan rasa bangga pada diri sendiri itu.

Dan suara kalemnya, yang seperti biasa membalut manis kekurangannya atas rasa hormat, mulai menggerogoti udara bersih di sekitarku.

“Hati-hati kemana kamu arahkan sorot matamu, Prae. Kamu bisa bunuh seekor kucing cuma dengan mengerling, tahu.”

Aku memilih untuk mengabaikannya.

Laki-laki tinggi tegap yang baru saja tiba dan langsung berjongkok di depanku itu bernama Shaele. Kami bekerja untuk bos yang sama.

“Selesai?” ucapnya lagi setelah mengerling ke atap gedung sekolah. Memastikan kalau di sana benar-benar sudah tak ada siapa-siapa lagi.

Aku menggeleng. “Kamu mata-matai aku dari tadi?”

Shaele meringis. “Me-nyi-mak,” tegasnya.

“Menyimak dari balik sesemakan? Itu sama dengan menguntit. Mau kuantar ke pos polisi terdekat?”

Kali ini laki-laki itu melepaskan tawanya.

“Serius, Prae. Batas waktunya kapan?”

“Tiga hari,” jawabku singkat. Berharap dia akan pergi setelah rasa ingin tahunya terturuti.

“Lumayan.” Shaele menggaruk belakang kepalanya sebelum bangkit berdiri. Dia mengeluarkan suara tercekat ketika berusaha meregangkan otot-ototnya yang kaku. “Aku mau ke tempatnya Nael. Ikut?”

Aku menggeleng lagi. “Aku ambil lembur.”

Shaele mengangkat kedua alisnya. Entah kenapa jawabanku yang barusan berhasil menghiburnya. “Jangan lama-lama,” ujarnya sambil mulai mengambil langkah. Kali ini terdengar tulus. “Makin cepat makin mudah tugasmu.”

Kupandangi sosoknya yang berjalan agak bungkuk itu hilang diantara kerumunan pejalan kaki. Kelihatannya tugas hari ini menyita banyak tenaganya juga.

“Aku tahu.”

***

Minggu itu obyek tujuanku adalah sebuah rumah sakit di sisi utara distrik. Di depanku tak lain adalah gadis yang kemarin. Mengenakan baju kasualnya dan sebuah tas bahu. Satu pot kecil berisi gladiolus ditentengnya dengan dua tangan, bersama dengan sebuah kantung plastik.

Kali ini wajahnya kelihatan segar. Dua mata cemerlangnya, walau lelah akibat pekerjaanya semalam, tak sepenuhnya kehilangan cahayanya.

Satu pos jaga, lobi, empat koridor, dan tiga tumpuk lantai setelahnya, kami berdua sampai di depan sebuah kamar inap. Tanpa mengetuk, gadis itu menyelonong begitu saja. Kami memang tak mengharapkan siapapun untuk menyambut, ataupun keberatan kalau kami masuk tanpa peringatan.

Berjalan mengitari ranjang pasien, si gadis langsung meletakkan potnya di meja yang dekat dengan jendela. Setelah mundur selangkah dan mengamati hiasan kamar baru itu dari berbagai sudut, dia mengangguk puas.

“Sip! Memang cocok di sini. Kamu tidak mau tahu apa yang harus kakak lakukan supaya dapat diskon dari bibi yang jual,” ucapnya cerah. Kedua tangannya lanjut merogoh isi kantung plastik yang dia letakkan di samping pot.

“Ta-da!” lanjutnya ceria. Mengeluarkan sebuah boneka dari- ngg.. kalau ingatanku tidak salah itu adalah karakter maskot dari salah satu program gubernur yang jadi populer beberapa hari terakhir ini.

“Mm... kakak tidak terlalu mengerti barang-barang apa yang cowok seumurmu sedang suka,” lanjutnya. “Tapi karakter ini sedang populer kok, jadi kakak ambil saja waktu jalan-jalan ke distrik belanja. Ahaha, ketahuan deh. Kakak pergi sendirian lagi tanpa kamu.”

Tak ada yang membalas kata-katanya.

“Kakak masih berharap kalau suatu saat nanti kita bisa pergi sama-sama. Kakak ingin beli kue tart seperti saat itu.”

Namun dia tak keberatan sama sekali.

“Tapi...”

Tahu tak ada gunanya, gadis itu tetap berusaha sembunyikan getir diantara ucapannya.

“Sedih kalau harus habiskan kuenya sendirian.”

Dia tahu kalau mengharapkan sebuah balasan sama saja seperti mengharapkan hujan dari birunya langit.

Bersandar di bibir ranjang, gadis itu mengulurkan tangannya ke wajah yang terbaring di sana. Mengusapnya pelan. Seolah-olah wajah itu akan melebur jadi debu kalau dia menyentuhnya sedikit saja terlalu keras.

Dia memang tak pernah menunjukkannya, tapi aku yakin gadis itu juga tahu. Kedua mata itu sudah lama terpejam. Dan ketakutan bahwa hal itu akan berlangsung selamanya selalu membayang-bayang.

Aku meremas tanganku.

Semua akan lebih mudah kalau dia mau berpaling.

***

Sore hari pun tiba.

Oleh sebab tertentu aku kini ada di area kompleks sekolah. Duduk di undak-undakan yang mengelilingi lapangan serba guna. Berkat kompetisi olahraga yang datang menjelang, tempat ini tak kosong seperti biasanya. Sejumlah murid mengenakan pakaian bebas sedang mengambil istirahat tak jauh dari tempatku duduk.

Semuanya kecuali satu orang.

“Gigih, Prae,” Shaele yang sepertinya suka tahu-tahu muncul begitu saja tanpa peduli dengan konsep kausalitas langsung mengambil tempat di sampingku. Sekotak teh jahe tergenggam di tangan kanannya. “Harus kuakui gadis itu punya tekat titanium.”

Titanium.

Dan biar kutegaskan kalau laki-laki ini berhasil mengucapkannya dengan wajah yang lurus.

“Ada alasan kenapa kamu disini?” selidikku tanpa menoleh. Pandanganku tak lepas dari si gadis yang kini sudah lari 3 putaran lebih banyak dari rekan-rekannya.

“Tidak kenapa-kenapa,” jawab Shaele tak ambil pusing, sebelum menyedot sedikit isi karton tehnya. “Aku riset, tahu- sedikit.”

Antena angan-angan yang ada di kepalaku langsung tegak lurus.

“Gadis itu punya adik kandung yang dirawat di rumah sakit kan, Prae?”

Aku mulai ngeri dengan jaringan informasi yang dia punya. Kupikir aku berhasil tutup jejakku dengan baik.

Itu... atau dia adalah penguntit yang ulung.

“Lalu?”

“Lalu?” balasnya dengan sebuah penekanan. Bahunya turun beberapa senti ketika dia melepaskan desah lelah. “Berapa kali kalau dijumlah dengan yang ini? Rutenya ada banyak tapi kamu selalu ambil jalan yang paling panjang.”

“Anggap saja aku punya standar sendiri dalam bagaimana aku selesaikan tugasku.”

“Kecuali di bagian dimana kamu melanggar protokol.” Shaele meletakkan karton teh ke sisinya sebelum melanjutkan, “Aku tidak kaget kalau tiga hari yang kemarin kamu bilang itu maksudnya tiga hari sejak hari-h-nya.”

Tak ada sanggahan untuk yang itu. Luar biasa, Shaele. Aku akan lempar sebuah handuk keatas ring, andai aku punya.

Deduksi Shaele berhasil membuat beku atmosfirnya. Tak ada dari kami yang buka mulut lagi. Cuma kedua mata kami saja yang masih sibuk mengikuti obyek yang sama.

Dua pasang mata laki-laki di pinggir lapangan. Menontoni seorang gadis SMA dalam kaos dan celana pendeknya berlari mengitari lapangan sekolah sambil sesekali mengusap keringat yang memenuhi dahi dan leher remajanya.



Aku mungkin sudah menelepon polisi kalau saja tidak ada di pihak yang bakal diseret.

“Lihat orang disebelahku, mengorbankan energi keberadaannya sendiri demi memperpanjang milik seorang manusia,” kuliah Shaele berlanjut jadi keluhan. “Gadis itu ingin menang kompetisi dan tunjukkan tropi ke adiknya kan? Aku harap dia mengerti kalau waktu yang dimilikinya terbatas.”

“Gadis itu paham sepenuhnya,” sergahku lirih, membuat kedua alis milik Shaele berubah lurus. Mungkin responku barusan ada di luar katalognya. “Dia lakukan ini semua disamping sadar dengan semua itu.”

Shaele memijat pangkal hidungnya. “Kalau begitu kalian berdua tahu ini semua bakal berakhir bagaimana?”

Kuambil waktu sejenak untuk memproses kalimatnya. Aku memang tak pernah ambil pusing. Bukan. Mungkin memang tanpa sadar aku berusaha tak memikirkan hal itu. Shaele tak mengerti utuh ceritanya, tapi dia juga tak sepenuhnya salah.

Tidak ada Happy End bagi dia yang ditinggalkan.

***

Hari itu hujan di pertengahan minggu. Kompetisinya dijadwalkan empat hari lagi. Jadi murid-murid yang terdaftar di beberapa klub sekolah mulai menambahkan angka ke resimen latihan mereka. Untuk klub-klub outdoor, latihan dibatalkan berkat cuacanya.

Tapi gadis ini…

Walau sebagian permukaan lapangan dipenuhi genangan air, dia tak peduli. Begitu langit memutuskan untuk berhenti menuangkan muatannya ke bumi, dia langsung turun ke lapangan. Mengambil putaran sebanyak yang dia bisa sebelum hari ini usai.

Sayang tak satu pun teman seklubnya punya antusiasme yang sama. Lapangannya memang sepi dan gelap berkat mendung yang masih menggantung, tapi sejuk berkat temperatur udaranya yang belum kembali naik.

Memang menyedihkan tapi yang bisa kulakukan cuma menonton dari undak-undakan di bibir lapangan seperti biasa. Mengawasi usaha gadis itu dalam bertarung dengan keterbatasannya.

Shaele menguap di sebelahku.

Aku mulai berhenti mempertanyakan alasannya untuk muncul sewaktu-waku di sana-sini. Kelihatannya dia pun mulai kehilangan minat untuk menceramahiku lebih lanjut. Sebenarnya aku tidak keberatan. Shaele bukan teman duduk yang buruk andai dia mau lebih mengerti kalau sejumlah orang suka dengan ketenangan.

“Hei, Prae.”

Dan harapanku langsung ditembak jatuh setengah jalan meninggalkan landasan pacu.

“Hm?”

“Dia jatuh, tuh.”

Otot-otot ditubuhku langsung keluar dari mode idle mereka dan serempak membawa tubuhku bangkit. Tergopoh-gopoh aku menyeberang ke sisi lapangan yang lain. Baru berhenti begitu aku hanya berjarak tiga meter darinya.

Gadis itu bersimpuh diatas genangan lumpur yang mengotori kedua kakinya hingga paha. Aku tak bisa lihat ekspresi apa yang dikenakannya dari sini.

Perlahan-lahan kudekati sosoknya.

“Bagaimana?” tanyaku lirih, sambil berjongkok di sisinya. “Sudah merasa cukup?”

Gadis itu membatu.

“Aku tidak suka sarankan ini setelah lihat hal-hal yang kamu lakukan. Tapi aku tidak akan bohong. Lebih mudah kalau kamu putuskan untuk berhenti sekarang.”

Mataku bergulir ke arah kakinya. Kaus kaki yang dikenakannya gagal menyembunyikan sebuah luka bekas jahitan yang memanjang hingga nyaris sampai lutut. Berkat kecelakaan itu, seorang calon atlet lari dengan belasan pin emas sekarang berlatih mati-matian cuma untuk mendapatkan kesempatan bertanding disebuah kompetisi lokal.

“Kenapa...” rintihnya. “Kenapa aku tidak bisa lari lebih cepat lagi...”

Bukan nada rengek, melainkan amarah dan sesal lah yang kurasakan dari suaranya.

Ya, kenapa. Kamu memang punya hak bertanya.

“Kupikir aku sudah cukup berusaha...”

Lebih. Kamu sudah lakukan semua yang kamu bisa. Percayalah, bukan itu masalahnya.

Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan ke tanah basah. Lama-lama berada disini dan gadis itu pasti akan terserang demam.

“Ayo, bangun,” ajakku. “Tidak ada lagi yang bisa kamu lakukan sepanjang sisa hari ini."


message 14: by Tama (new)

Tama Fandira | 19 comments "Hal terburuk adalah kamu akan jatuh sakit dan melewatkan kesempatan bertanding di kompetisinya.”

Tampaknya suaraku berhasil sampai kepadanya. Geraknya memang kaku, tapi gadis itu mulai beranjak. Menyeret lankah-langkahnya, meninggalkan lapangan. Aku mengekor di belakang, mengamati bahu kecilnya yang saat ini kelihatan begitu rentan.

Bukan hal yang buruk.
Begini akan lebih mudah.


Begitu gadis ini menyerah dan kehilangan pijakannya, aku akan bantu goreskan kalimat terakhir di ujung ceritanya.

Shaele benar. Aku benci mengakuinya, tapi Shaele memang benar. Aku cuma memperpanjang derita gadis ini. Menjadi salah satu bagian dari instrumen yang membuat roda penderitaannya berputar. Dengan begini, tak ada lagi yang akan menambah retak hatinya. Dan aku bisa lakukan hal yang seharusnya sudah kulakukan sejak awal.

Namun begitu...

Kenapa-

Kenapa aku jadi jengkel sendiri?

Apa ini gara-gara fakta bahwa aku mengakui kalau Shaele lah yang selama ini benar? Kalau hal yang selama ini kukejar nyatanya tak lebih dari kisah dongeng?

Atau ini adalah wujud kekecewaanku pada si gadis? Bahwa aku, tanpa sadar, berharap kalau dirinya akan berhasil mencapai garis finish-nya.

...

Semuanya tidak penting lagi.

Kisahnya tamat.

Kuulurkan telapak tangan kananku ke arah gadis didepanku, berusaha meraih miliknya yang tergantung pilu.

Sedikit lagi. Sedikit lagi semuanya akan selesai. Biarkan kutunjukkan tempat dimana keajaiban yang selama ini kamu percayai merupakan hal yang nyata.

Aku akan benci diriku sendiri setelahnya, tapi kurasa ini lebih baik ketimbang terkubur dalam sesal.

Saat itu juga...

Satu jengkal lagi bisa kurasakan kehangatan tangannya yang rapuh diantara jari-jariku.

Tapi suara kecil di dalam batinku tak rela.

Terkutuklah hati nuraniku.

Bisa kubayangkan satu orang tertentu akan meledak dan mencekik leherku sebelum menggoncang-goncangkannya kuat-kuat setelah ini.

Tanganku berhenti di tengah jalan. Sebagai ganti, kuberikan dorongan pelan ke punggung gadis itu.

Langkah-langkahnya berhenti. Kilat cahaya baru saja kembali ke kedua matanya. Seakan-akan yang sejak tadi dilakukannya adalah berjalan dalam tidur, dan di detik ini barulah dia benar-benar bangun dari mimpinya.

Aku mengambil tempat untuk berdiri di sampingnya.

“Kenapa kamu ada di sini?” tanyaku.

Gadis itu menggigit bibirnya.

“Menang,” gumamnya pelan. “Aku harus menang.”

“Harus kah? Siapa yang sodorkan tanggung jawab semacam itu untukmu? Adikmu?”

Gadis itu tertunduk. Secercah senyum getir terukir di bibirnya ketika dia memanggil ingatan tertentu dalam benaknya. “Aku harus tunjukkan padanya. Disini aku sekarang, masih di jalanku walau sendiri. Dan nanti, suatu saat nanti, dia harus tempuh jalan yang sama. Ke tempat dimana aku tidak bisa ikut denganya.”

“Bagaimana, ya? Dari sini kelihatan beda. Memang adikmu butuh tropinya? Atau dia yang paksa kamu harus lari seperti dulu walau kedua kakimu tidak lagi bergerak di irama yang sama? Menurutmu apa yang adikmu akan katakan, setelah lihat kakaknya jalani sisa-sisa harinya memartir diri sendiri?”

“Aku...”

“Dan kesannya kamu lakukan itu semua demi adikmu. Apa kamu pernah berpikir kalau mungkin bukan ini yang dia inginkan?”

“Bukan... ini?”

“Kamu seharusnya tahu kalau harapannya jauh lebih simpel. Dan tentu saja sama sepertimu. Walau tidak bisa wujudkan bersama-sama, dia pasti ingin kakaknya membuat kenangan bahagia untuk dirinya sendiri. Sama seperti harapanmu untuknya.”

Gadis itu terisak.

Tapi aku sama sekali tidak bermaksud untuk berhenti disini. “Jangan seenaknya menentukan pilihanmu sendiri dan mengatas namakannya demi kebaikan adikmu.”

Kedua matanya berkaca-kaca. Diangkatnya kedua tangannya untuk menutupi separuh wajah. “Tentu saja... Kenapa aku gagal melihatnya? Bodoh... Bodoh. Pada akhirnya aku cuma pikirkan keinginanku sendiri. Tidak pernah kusertakan perasaannya dalam hitunganku.”

“Belum terlambat.”

“Belum.” Dia menggeleng. “Belum terlambat. Ada yang masih bisa kulakukan.”

“Jangan berlomba karena orang lain.”

“Aku akan berusaha. Untuk yang terakhir kali. Bukan untuk siapa-siapa.”

“Turunlah ke trek karena itu adalah hal yang kamu inginkan.”

Aku mengangguk lega.

Bersamaan dengan kehidupan yang kembali memenuhi kilau di kedua matanya aku jadi yakin.

Kisah ini masih kurang satu potongan lagi sebelum sampai ke epilognya.

***

Hari kompetisi pun tiba.

Taman kota, selain penuh dengan orang-orang yang terjebak euforia, ramai dengan stan-stan makanan dan ornamen gara-gara jadi titik pusat acaranya. Sayang aku tak sanggup ikut terlibat. Kekuatanku ada batasnya. Hari ini akan benar-benar jadi hari terakhir bagi gadis itu. Tapi ini bukan masalah. Aku masih bisa memberinya waktu sampai matahari terbenam.

Yah, asalkan aku diam saja di sini. Berbaring di rerumputan di sisi ujung taman yang hanya mendapatkan porsi kecil dari huru-hara acaranya. Menghemat apapun yang tersisa dari energiku.

Aku tak melihat Shaele dimana pun. Mungkin dia sibuk dengan beban kerjanya hari ini. Atau terlanjur dongkol dan memilih melihat-lihat festivalnya tanpaku. Kupandangi langit biru yang membentang tanpa ujung diatas sana. Ini adalah langit terakhir yang akan gadis itu saksikan. Hari ini. Angin yang berhembus ini.

Apa aku berhasil membuat saat-saat terakhir ini baik baginya?

Aku menutup mataku.

Semuanya terserah dirinya.

***

“He?”

Langit biru berubah senja begitu aku buka mata.

Sial! Aku lewatkan seluruh kompetisinya!

Buru-buru kuangkat punggungku dari atas rerumputan untuk duduk. Acaranya usai. Separuh stan-stan, yang tadi dipenuhi wajah-wajah cerah penjualnya dan rentetan pembeli yang mengantre, kini kosong. Beberapa petugas kebersihan sibuk memunguti sisa-sisa tempat makanan dan botol-botol plastik yang tertinggal. Sementara sejumlah kecil kru penyelenggara acara yang baru saja mendapatkan waktu senggang mereka kembali sedang bergurau di salah satu kursi taman yang kosong. Memakan sisa jajanan yang dibagikan oleh seorang pemilik stan.

Seseorang duduk di sebelahku.

Entah mulai kapan. Yang kutahu orang ini bisa saja ada di situ sejak separuh akhir waktu tidurku.

Dan di luar dugaanku, dia bukan Shaele.

“Kamu tidak sopan. Tidak tahu, kan, apa yang harus kulalui untuk mengumpulkan keberanian dan menghampirimu?” ujarnya bergurau.

Sebagian dari diriku bahagia, mendapati gadis itu berhasil menperoleh senyumannya kembali.

“Jadi... Ngg...”

“Hm?” responnya polos. Kedua mata cemerlangnya menatapku lekat-lekat.

“Bagaimana... kompetisinya? Berhasil menang?”

Gadis itu menghela nafas keras-keras. “Sama sekali tidak,” keluhnya jengkel. “Aku bahkan tidak sampai dapat perunggu.”

“K, kamu tidak kelihatan depresi tapi.”

Dia menggeleng mantap, sebelum mengalihkan pandangannya ke arah dimana gerbang taman berada. Tempat itu penuh dengan untaian-untaian pita dan potongan-potongan kertas warna-warni yang masih belum sempat dibersihkan. Kedua matanya menatap teduh titik yang tadinya merupakan garis finish dari perlombaanya.

“Aku memang tidak bawa medali apapun kali ini. Tapi tetap saja aku lega. Bisa merasakan terpaan udara di wajahku, sorak-sorai penontonnya, juga adrenalin yang membumbung ditengah persaingannya. Gara-gara perlombaan ini aku jadi ingat perasaan apa yang dulu memberiku dorongan untuk memulai. Untuk pertama kalinya sejak lama, aku merasa kehidupanku benar-benar kembali.”

“Begitu. Sayang kamu tidak bisa bawa bawa apa-apa untuk adikmu.”

“Memang sayang sekali, tapi aku sudah ada rencana sendiri untuk itu,” sergahnya dengan dada dibusung.

Diluar dugaanku lagi, gadis ini ternyata punya karakter yang cukup keras.

Ekspresi geli langsung mengambil alih wajahnya dalam satu kedipan. “Coba lihat ini,” ujarnya antusias sambil melambai-lambaikan beberapa lembar foto. “Teman satu klubku ambil beberapa gambar kami di perlombaan tadi.”

“Dan...?”

“Beberapa lembar dari foto ini kusisipkan ke dalam kado terakhirku.”

Kado terakhirnya.

Alasan gadis ini mengambil part-time job adalah untuk memberikan memento yang dia harap akan diterima oleh adiknya suatu hari nanti.

“Jadi, kamu belikan dia piano?”

Alis gadis itu berkedut. “Uwaahhh... aku memang ada firasat kalau aku tidak pernah punya privasi dihari-hari belakangan ini.”

Mungkin pandangan yang diberikannya padaku barusan setara dengan yang seorang wanita karir berikan pada laki-laki mesum di dalam kereta komuter yang sesak.

“Kamu tahu kan, seperti diriku terhadap olahraga lari, adikku mendedikasikan dirinya dalam bermain piano,” sambungnya kalem. “Sejak dulu memang fisiknya lemah. Karena itu, dia berusaha mengejarku melalui caranya sendiri. Tapi tentu saja dia masih belum bisa mengalahkanku dalam jumlah pin yang kami menangkan di tiap kompetisi!”

Aku mendengus geli.

“Disini aku bicara penuh perasaan, kenapa wajahmu malah berubah lucu?”

“Bukan apa-apa,” jawabku sambil buang muka. “Lalu... sekarang bagaimana? Mau bawa kadonya untuk adikmu sekarang?”

Gadis itu menggeleng. Sebelum melompat berdiri, dan mengambil langkah-langkah kecil.

“Sudah kulakukan tadi,” dari punggungya dia berkata. “Dan kunjunganku yang tadi itu untuk yang terakhir kan?”

Helai-helai rambutnya yang halus berdansa riang ketika dirinya berbalik kearahku.

“Aku tahu,” ujarnya lagi. “Aku selalu tahu. Beberapa kali aku lihat sosokmu. Kadang membaur di kerumunan, kadang berdiri diam di tengah sepi. Jujur aku sempat takut. Tapi entah kenapa seiring waktu, aku merasa tenang. Kamu selalu ada di dekatku kan? Membuatku aman dari bayang-bayang.”

Dibelakangnya, matahari mulai tenggelam dibawah langit orange. Aku bangkit berdiri. Kupandangi wajah gadis itu lekat-lekat.

“Karena itu, aku ingin ucapkan terima kasih untuk semuanya. Dan juga...

... aku siap.”

Kubawa telapak tanganku mendekat kepadanya. Pelan. Waktu serasa lambat. Dan berbeda dari sebelumnya, kali ini ada yang menyambut uluran tanganku. Senyum terakhirnya, yang nyaris tenggelam ditengah cahaya langit sore, kubenamkan kedalam memoriku.

Selamanya.

Karena dunia tak akan melihat lagi betapa polos dan tulus senyuman gadis itu yang sesungguhnya.

***

Kita semua memilikinya.

Paling tidak sebagian besar dari kita.

Kamu tahu? Satu orang teman yang entah berapa kali pun kamu memberikannya nasehat, namun batok kepalanya yang sekeras plat baja itu selalu berhasil memantulkannya balik.

Dan disinilah dia. Bersandar di sebuah pembatas kawat, menilik kedalam kompleks bangunan di dalamnya.

Laki-laki tanpa ambisi ini punya sepasang mata yang tak lebih bernyawa dari milik seekor ikan koi di atas meja jagal.

“Empat pakta suci dan sebelas pasal piagam pengabdian,” ucapku ketika kami berdua berdiri bersebelahan. “Aku nyaris tidak percaya saat mereka tidak memutuskan untuk melemparmu ke dasar ngarai.”

“Kupikir mereka sulit mencarikan penggantiku,” ujarnya tak ambil pusing.

“Atau seseorang di atas sana benar-benar sayang padamu. Satu lagi kasus yang sama dan tangan-tangan para inquisitor yang bakal diutus memburu lehermu.”

“Dan kalau ada indikasi hal itu akan terjadi, aku mohon bantuannya seperti biasa. Nanti kutraktir teh jahe kesukaanmu.”

Entah ada mur yang copot di kepalanya atau otaknya sudah lewat masa tenggang sehingga kesulitan memproses kalimatku, anak ini beranjak begitu saja meninggalkanku.

“Kali ini mau buat masalah dimana?”

Sebelah tangannya melambai padaku dari atas punggungnya yang menjauh. “Ada yang baru saja dapat ijin meninggalkan rumah sakit. Aku mau menemuinya.”

“Namanya muncul di lembar testamen?”

“Bukan. Yang ini kunjungan pribadi.”

Tentu saja dia tidak akan berubah untuk waktu yang lama.

Dia terlalu keras kepala untuk tidak mengulanginya lagi.

Dan seperti biasa aku akan langsung terjun membantunya tanpa tanya.

Mau bagaimana lagi?

Dia tipe yang sulit ditinggal sendirian.

Dan di saat-saat itu saja aku bisa melihat wajah zombienya berubah cerah penuh dengan luapan hatinya.

Aku cuma bisa berharap kalau dia mau mengenakan ekspresi itu lebih sering lagi.

Sungguh.


message 15: by Shiki (new)

Shiki (noirciel) | 878 comments 17 MENIT

Jim Salvatore sedang bad mood - semua yang ada di ruangan ini merasakan sekali hal itu, tanpa perlu melihat wajahnya. Lyle Mute, salah seorang bawahan kepercayaan Jim langsung menyesali keapesannya yang kebagian mendampingi Jim dalam pertemuan darurat ini. Pasukan kecil Jim tak punya hierarki yang jelas. Pokoknya selain Jim, semua adalah bawahan, titik.

“Aku hanya akan menjelaskan ini satu kali, jadi dengar baik-baik.” Mayor Veeno memecahkan keheningan. Kalau dia menyadari mood neraka Jim, dia tak mengindahkannya. “Seorang negosiator, beberapa petinggi dari pihak kita, dan seorang wartawan hilang kontak dalam perjalanan ke Moana. Dugaan terburuk, mereka diculik dan sudah dibunuh. Versi sedikit ada harapannya, mereka disandera. Sayang sekali, belum ada informasi lebih jauh tentang lokasi kejadian maupun persembunyian lawan.”

“Wartawan…” Lyle berkomentar tertahan. Takut-takut dia melirik Jim, yang masih membisu. Tak ada perubahan di wajah maupun mood-nya. Maka dia melanjutkan. “Apakah maksud Mayor… Wartawan yang mengunjungi kita tempo hari?”

Beberapa hari lalu sempat ada wartawan meliput kesatuan mereka. Dan Lyle mendengar banyak desas-desus bahwa wartawan itu mengatakan sesuatu yang tampaknya menyinggung Jim. Sesuatu tentang ‘anjing’ atau sejenisnya (dugaan Lyle dan rekan-rekannya, dia dikejar deadline dan ingin membuat scoop, apapun temanya). Tapi, seingat Lyle, Jim sama sekali tak mengungkit hal tersebut. Artinya, alasan komandannya berwajah seperti ini pasti berhubungan dengan ‘itu’...

“Begitulah. Jadi, kalau terjadi apa-apa padanya, nama kita akan semakin…” Mayor menghentikan ucapannya dan mengerutkan kening. Dugaan Lyle, ada yang mengirim pesan telepatis kepadanya. Dalam situasi biasa, itu bisa dipermasalahkan. Tapi ini - tempat dan kelompok ini - tak pernah biasa.

“Kabar baik. Lokasi para sandera dan pelaku ditemukan. Sungai Teal.”

“Sungai Teal… Kenapa di sana…”

Sungai Teal terletak kira-kira 90km dari tempat mereka berada. Wilayah yang cukup alami, dan dulunya sempat menjadi sorotan pemerintah untuk lokasi wisata - sampai kemudian perang dimulai.

“Bekas resor.” Jim angkat bicara. “Ada resor terbengkalai di sana. Persis di tepi sungai.”

“Tepat,” Mayor mengangguk. “Salvatore. Aku tahu apa perasaanmu tentang wartawan itu. Tapi aku ingin kau juga tahu, tak banyak monster yang selevel denganmu di kesatuan kita.”

“Terima kasih atas pujian Anda,” balas Jim datar. “ Jadi… Apa yang Anda inginkan?”

“Selamatkan para sandera, sebisa mungkin sebelum ada pengumuman atau pernyataan apapun dari pelaku.”

“Batas waktu kami..?”

“Besok pagi.”


***

“Kadang saya pikir, Mayor itu sengaja menyusahkan Komandan, deh.” komentar Lyle setelah tiba di lokasi. Seusai briefing, Jim memerintahkan Lyle untuk mengumpulkan Cyril yang merupakan personel pelacak terbaik mereka serta beberapa orang yang cukup senggang. Dan untuk menghemat waktu, Mayor memberi izin untuk menggunakan Unit Teleportasi. Lyle curiga berkat itulah mood Jim sedikit membaik. Sedikit.

“Merepotkan, memang. Tapi dia selalu lebih menyenangkan daripada penjilat.” balas Jim. “Lyle, suruh Cyril cari tahu sebisanya tentang para bajingan itu. Satu jam. Setelah itu, kumpulkan semuanya, kita tentukan langkah selanjutnya.”

“Siap!” Lyle tak mempertanyakan keputusan komandannya. Dan sejujurnya, dia senang bisa menjauh sedikit dari Jim yang sedang bad mood seperti ini.

Sepeninggal Lyle, Jim menghantamkan tinjunya ke pohon terdekat. Rasa nyeri langsung menyergap, tapi terlalu lemah untuk bisa mengalihkan kesewotan dalam benaknya.

Dari sekian banyak waktu luang, kenapa mesti hari ini!?

“Seingatku kau sudah naik pangkat jadi Juru Interogasi, kenapa masih ada di tempat macam ini?”

Jim menahan diri untuk tak menunjukkan keterkejutan. Dia kenal suara itu, dan menjelaskan kenapa tak merasakan adanya kehadiran orang lain mendekat.

“Kau sendiri, memangnya ada gosip menarik apa di sini?” balasnya agak ketus.

“Kebetulan aku sedang lewat, dan melihat beberapa orang dengan seragam Blue River sedang mengendap-endap di sekitar kompleks terbengkalai.” si pemilik suara mendekat - sama sekali tak terpengaruh dengan sikap Jim. “Dan dimana ada Jim Salvatore, biasanya aku akan mendapat berita menyenangkan.”

“Memangnya aku selebritis…” Jim menggerutu. Tapi, nada suaranya melunak. “Cukup bercandanya. Ada urusan apa kau di sini, Lilia?”

“Sudah kubilang, kebetulan saja.” Lilia tersenyum manis.

Siapa ya, yang dulu bilang tak ada kebetulan di dunia ini, Jim mendengus dalam hati. Si rambut putih satu ini terlalu banyak rahasia. Tapi Jim percaya padanya. Lilia tak pernah berbohong.

Jim berkenalan dengan Lilia dalam sebuah insiden di kota yang jauh. Banyak yang misterius tentang dirinya, tapi setiap muncul, dia selalu membantu Jim dengan berbagai informasi tak terduga. Masalahnya, dia sepertinya punya kode etik sendiri tentang ‘membagi informasi’, jadi Jim tak bisa terlalu mengandalkannya.

“Kalau begitu, kau bisa membantu?” tanya Jim setengah hati. Sesuai dugaan, Lilia menggeleng.

“Maaf. Seperti kubilang tadi, aku benar-benar hanya lewat. Malah aku yang ingin bertanya, apa yang terjadi di resor tidak beruntung itu?”

“Penyanderaan. Entah oleh siapa dan untuk apa. Yang pasti ada yang harus diselamatkan.” Jim menggaruk kepalanya dengan kasar. “Mudah-mudahan belum ada yang mati, karena aku tak sudi liburku besok ditunda… Sedang apa kau?“ dia mengernyitkan kening demi melihat Lilia berjongkok di tanah.

“Menggambar,” balas si rambut putih dengan ceria. Dengan cekatan dia membuat bentuk-bentuk di atas tanah dengan sepotong kayu. Jim menahan diri untuk tidak mengomel. Dan dia segera melupakan kemarahannya karena menyadari apa yang tengah digambar oleh Lilia.

Sungai. Rumah-rumah kecil - satu di antaranya cukup besar. Lalu sesuatu yang seperti menara di empat penjuru.

“Bekas resor itu…?” Jim menggumam.

“Kalau mau bermain-main, aku sih pilih rumah yang besar,” Lilia bersenandung tanpa mengiyakan dugaan Jim. Tangannya menggambar orang-orangan korek api. Lima orang di dalam bangunan besar - rumah utama resor ini, dan masing-masing dua di menara penjaga. “Apalagi ada air sungai. Bisa untuk bertahan hidup beberapa hari.”

Masuk akal, Jim memilin poninya, menimbang-nimbang berbagai kemungkinan.

“Tanpa cahaya, kalau malam pasti seram tapinya, ya.” Lilia memberi tanda silang pada dua menara yang menghadap ke sungai. “Dan karena sedang main petak-umpet, tak bisa menyalakan api pula. Aku sih selalu bisa minta bantuan sumber cahaya lain.” dia terkikik pelan. Jim bergumam mengiyakan. Otaknya sudah mulai menyusun kepingan informasi dari Lilia. Dia segera menyadari ada celah yang bisa dimanfaatkan untuk mendobrak mereka. Masalahnya, bagaimana?

“Memang. Apalagi jika malamnya ada hujan besar, seperti nanti malam.”

“Hujan? Padahal secerah ini?”

“Nanti malam, sebelum bulan naik, akan turun hujan besar. Hujan yang akan membuatmu mengatakan ember-ember pertama alih-alih titik-titik pertama.” Lilia menatap Jim dan tersenyum penuh makna.

Ketemu!

***


message 16: by Shiki (new)

Shiki (noirciel) | 878 comments Celah yang dimanfaatkan Jim adalah memanfaatkan sungai.

Seperti yang diutarakan Lilia tadi siang, para pelaku yang ingin menyembunyikan diri pasti takkan mengambil resiko dengan menyalakan api - setidaknya di dekat pintu atau jendela yang bisa terlihat dari luar. Singkatnya, jika malam tiba, mereka akan murni mengandalkan patroli. Tapi hujan mendadak ini akan membuat jarak pandang serta jangkauan patroli akan sangat menyempit.

Ada orang yang masih tetap bisa melihat dalam gelap. Ada juga yang mampu mendeteksi keberadaan orang lain walau situasi sekitar sangat bising. Tapi si penjaga yang berpatroli di tepian sungai jelas bukan keduanya. Dia sama sekali tak menyadari ada sesosok bayangan memanjat dari dermaga lapuk yang baru dilewatinya.

Bayangan itu - Jim - bergerak cepat, seolah tak terusik oleh derasnya hujan. Menjatuhkan si penjaga dengan satu tusukan telak di leher.

Tanpa menunggu tubuh si penjaga menyentuh tanah sepenuhnya, Jim mengendap-endap ke dekat bangunan utama resor. Sesuai perkiraan, tak jauh dari tempat si penjaga berpatroli ada pintu. Dan sekilas pandang, Jim tak melihat adanya cahaya yang berarti dari dalam sana.

Benar-benar cuaca yang tak bersahabat untuk berada di luar, pikirnya sambil mengusapkan pisaunya di celana. Hawa dingin menusuk, walau belum sampai menumpulkan benak. Dan jika ‘perkiraan’ Lilia tepat, hujan ini hanya akan bertahan selama 17 menit. Lalu, Jim kira-kira telah menghabiskan waktu...

Sepuluh… atau tujuh menit? Sisa waktuku kurang dari lima menit lagi.

Jim menarik nafas, memutar ulang informasi yang berhasil dikumpulkan Cyril dan yang lainnya. Menurut perkiraan kasar, para sandera dikumpulkan di ruang makan, dijaga empat orang bersenjata. Satu orang berpatroli di belakang - orang yang dihabisi Jim tadi. Sisanya, pasti fokus menjaga pintu depan yang notabene lebih masuk akal untuk diserang lawan.

Sayang sekali, yang tengah menyusup kemari bukanlah orang waras. Jim memastikan lilitan rantai di tangannya terpasang dengan mantap, kemudian membuka pintu perlahan.

Dua setengah menit.

Kegelapan menyambut segera setelah Jim masuk melalui pintu belakang.

“Ada apa? Giliranmu kan belum selesai?” ujar seseorang dengan suara tertahan, persis setelah Jim menutup pintu. Asalnya dari depan, kira-kira 2 meter dari tempat Jim berdiri. Tak sabar untuk membereskan ini secepatnya, Jim maju dan mendaratkan pukulan telak di kepala orang itu, sembari terus menghitung waktu.

Lima… Empat… Tiga… Dua… Satu… Nol!

Jim memejamkan matanya di hitungan nol. Bibirnya berkedut menahan senyum tatkala mendengar suara letupan keras, yang disusul ledakan cahaya yang menerangi seluruh bangunan. Menyapu bunyi derak disusul pekikan tertahan dari korbannya.

Bagus!

Taktik Jim sederhana saja; dia menyusup lewat belakang, sementara Lyle dan yang lain membereskan penjaga di luar, serta melemparkan suar sihir. Satu-satunya rintangan dalam taktik ini hanyalah timing. Meleset satu detik saja bisa menyebabkan kegagalan fatal, yang untungnya tidak terjadi.

Suar sihir memancar selama beberapa detik. Jim kembali menghitung, dan membuka mata perlahan. Cahaya masih sedikit memancar lemah. Lebih dari cukup bagi Jim untuk menemukan jalan ke ruang sebelah, dan memetakan medan.

Ruangan sebelah tadinya merupakan ruang makan yang cukup mewah, tapi sekarang semua diselimuti debu tebal. Kecuali di beberapa bagian, dimana korban dan para pelaku beraktivitas.

“Kenapa!? Apa yang—” salah seorang pelaku memicingkan mata. Tampaknya dia belum bisa melihat, dan menyangka Jim sebagai rekannya.

“Serangan mendadak,” balas Jim kalem. Dia mengayunkan tinjunya dengan cepat dan telak, menghantam ulu hati lawan. Mengirimnya langsung mencium lantai.

“Sialan!!” orang kedua berteriak begitu dan menghunus senjatanya. Gerakannya cepat, tak bisa dihindari. Tapi sejak awal Jim memang tak bermaksud menghindar.

Bunyi dentang keras menelan teriakan keterkejutan lawan yang tak menduga Jim menerima tebasannya dengan tangan kosong. Ketika dia menyadari adanya rantai yang membelit lengan Jim — yang juga bisa menjadi tameng, sudah terlambat. Bogem mentah Jim meremukkan hidungnya dalam hitungan detik.

Hawa panas ganjil yang mendadak menggelitik kuduk menggerakkan refleks Jim. Dia menunduk, tepat sebelum sebuah panah api menyambar lehernya.

“Siapa kau…” geraman tertahan membuat Jim memicingkan matanya.

Di sudut ruangan, di dekat para tawanan yang terikat, berdiri seorang pria muda. Mungkin sebaya dengan Jim.

Sihir api…

“Anjing Blue River, ya...” lawan kembali berkata dengan nada jijik yang tak ditutup-tutupi. Tampaknya dia mengenali Jim lewat seragam yang dikenakannya. Tapi, Jim tak peduli dengan itu semua.

Sihir api, oke. Tapi tak lebih kuat dari milik Lyle. Sandera… masih utuh. Batas waktuku...

“Enam belas… Tujuh belas menit…” gumamnya.

“Jawab pertanyaanku, bangsat!!” pria itu menembakkan apinya kembali. Kali ini, alih-alih panah, bentuknya lebih seperti meriam berukuran sedang.

“Berisik,” tanpa keraguan, tanpa kuda-kuda khusus, Jim mengayunkan tinjunya dan menghantam bola api lawan.

Sihir memang senjata yang tangguh. Tapi, Jim sejak kecil sudah bertahan hidup dalam kondisi sulit dengan tubuhnya semata. Dia tahu, seperti halnya semua senjata, intinya adalah yang lebih kuat pasti menang.

Dan kekuatan pukulan Jim takkan kalah dari sihir seperti ini.

Letupan keras dan angin panas memenuhi seluruh ruangan. Lawan terperangah melihat serangannya dihancurkan semudah itu — dengan tangan kosong pula. Dan kelengahan itu segera dimanfaatkan oleh Jim.

Mengacuhkan rasa panas di tangannya, Jim menyergap pria itu dan memiting lengannya. Tak ingin mengambil resiko, dia menekan lebih keras, mematahkan bahu lawan. Pria itu memekik kesakitan dan menggeliat, berusaha membebaskan diri. Tapi, Jim belum selesai.

Dengan satu gerakan cepat, tiada ampun, tangannya terayun untuk menusuk kedua mata lawan dengan jarinya.

“Aduh, Komandan, lagi-lagi menghancurkan mata.” keluh Lyle yang ternyata telah masuk ke dalam bangunan utama. Di belakangnya menyusul Cyril dan Misty — healer pasukan mereka — yang segera memeriksa para sandera.

“KIta toh hanya butuh mulutnya,” balas Jim kalem. Dia melepaskan tubuh lawan, yang langsung bergelung kesakitan memegangi matanya yang hancur dengan tangannya yang tak cedera. Jim tak mengindahkannya lagi. Ada hal lain yang lebih penting baginya.

“Lyle… Menurutmu, masih ada waktu untuk mencari hadiah?”

Tinggal delapan jam lagi sebelum pesta ulang tahun Leena, putrinya dimulai. Dan dia belum punya hadiah apapun. Berkat kehidupannya yang jauh dari kata normal, Jim harus mengakui, menghantam hancur sebuah bola api jauh lebih mudah ketimbang memilih barang untuk anak berusia dua tahun. Tapi, ini demi Leena, dan seperti yang selalu diutarakannya dengan bangga. Tiga pilar utama dalam kehidupannya adalah putri, putri dan putrinya.

Menghela nafas, Jim bersiap untuk misi selanjutnya sekembalinya ke kota nanti; mencari kado ulang tahun.


message 17: by Ivon (last edited Jul 10, 2015 12:34PM) (new)

Ivon (nagabenang) | 597 comments Jemputan



Dua orang itu pasti lelaki, hanya saja kepala mereka binatang. Satunya kuda, satunya banteng. Mereka duduk di atas atap halte bus kota, tampak tidak masalah dengan teriknya matahari yang pastinya membuat lempengan besi yang menjadi atap halte itu sepanas panci penggorengan.

Si kuda memainkan sebuah ponsel berlayar lebar, sementara si banteng menekuni sebuah buku kecil di tangannya. Ia mengecek jam tangannya, lalu menyikut si kuda.

“Hei.”

Si kuda mendengus, tidak berhenti dari permainannya. Si banteng menyikut lagi dan si kuda menggeram kesal sambil menutup ponselnya. “Apa?”

Si banteng menunjuk jam tangannya, “Sudah lewat waktu.”

“Paling telat sedikit.”

“Periksa sana. Kalau ternyata salah kita bisa langsung ke tempat lain.”

Si kuda menggeram, menyimpan ponselnya ke saku lalu berdiri. Ia menerawang ke sekitar, memisah-misah antara yang sudah tertanda dan belum tertandai. Saat si kuda sudah hampir berbalik, ia berkata, “Itu dia.”

Si banteng melihat ke arah yang sama. Mendekati halte itu adalah seorang lelaki. Ia memakai kemeja, celana jins, topi, jaket, dan tampaknya berusia antara duapuluh-tigapuluh. Lelaki itu menghilang dari pandangan mereka ketika bergabung dengan antrean lainnya di bawah halte.

“Oi, Mustang,” kata si banteng.

Si kuda berpaling, “Apa, KD?”

“Jangan lupa, taruhannya.”

Si kuda menyeringai. Giginya besar-besar dan putih. “Seolah yakin menang saja kau ini.”

~

Wanita itu yakin ia tidak mengenal lelaki itu. Namun si lelaki tampaknya berkeyakinan sebaliknya.

Ia melihat si wanita dengan pandangan yang berseri-seri, dan sudah berkali-kali mencoba bergerak lebih dekat ke arahnya. Desakan para pengantri di halte bus membantunya mendekat dengan lebih wajar.

Waspada pada niat si lelaki, si wanita mencoba menjauh, tetapi sia-sia. Tembok manusia di baliknya terlalu rapat, sehingga mencoba mundur akan berakibat kehilangan posisi di barisan depan para pengantri. Ia melirik si lelaki, mencoba memutuskan apa pengorbanan itu perlu. Mungkin si lelaki bukan melihatnya, tetapi orang lain di dekatnya.

Pandangan mereka bertemu. Tampaknya raut wajah si wanita jelas menunjukkan kehadirannya tak diterima baik. Si lelaki berhenti bergerak, lalu berpaling ke arah lain.

Jarak mereka tinggal tiga langkah. Si lelaki tidak maju lebih jauh.

Lalu seseorang berteriak: "Bom! Ada bom!"

Tidak ada yang sempat menjerit maupun lari. Ledakan terjadi.

~

Si wanita mencium bau minyak rambut, sebelum akhirnya bau busuk dari sesuatu yang gosong membuatnya hampir muntah. Ia membuka mata, dan melihat seorang lelaki ... memeluknya. Reaksinya yang pertama adalah mendorong jauh, tetapi berhenti ketika melihat si lelaki menutup mata, dan wajahnya berlumuran darah.

Ia takut, tetapi melihat luka membuatnya ingin menolong. Kebiasaan sejak lahir. Ia memanggil si lelaki berkali-kali, memintanya bangun. Ketika si lelaki membuka mata, ia memandang si wanita. Satu sudut mulutnya naik, entah tersenyum atau meringis sakit. Lalu ia terjatuh kembali. Si wanita melihat punggung si lelaki dan menahan jeritan di tenggorokan.

Suara keramaian. Orang-orang mendekat. Teriakan demi teriakan mengumpulkan massa di tempat.

~

“Dia belum mati?” Tanya si banteng.

“Belum. Urusi arwah-arwah yang kabur dululah. Repot kalau mereka masuk bumi dan gentayangan di sini nanti,” kata si kuda, sembari memberi batas-batas api pada arwah-arwah yang baru bangun agar tidak kabur lebih jauh, sekalian melindungi mereka dari pemangsa arwah. Sayang, usahanya tak terlalu dihargai. Lebih banyak yang memberontak ingin kabur dari lingkaran yang ia ciptakan. Wajar, mengingat hampir semua arwah di tempat itu bahkan tidak mengenal mereka. Tetapi yang tidak melawan melainkan berkali-kali menyembah sampai kepalanya berasap tiap kali menyentuh batas api menghiburnya sedikit.

Selesai memberi batas api pada arwah yang bisa ia temukan, si kuda memandang sekitar. Penjemput dari Langit lainnya telat. Mungkin gempa bumi, pikirnya, atau pesawat terbang. Selalu bencana alam kalau bukan perang. Atau bom.

Ah, manusia.

“Hei, hei, Mustang, pemandangan langka tuh!”

“Ha?” si kuda berpaling, dan melihat satu arwah mendapat jemputan spesial: angsa putih yang muncul sambil mengembangkan sayapnya yang lebar. Genangan biru gelap membentuk di kaki si arwah, dan perempuan/lelaki itu menunduk, seolah mengantuk, sebelum tercebur masuk ke genangan tersebut.

“Dari mana tuh asalnya?” tanya si banteng, sementara si angsa menutup sayap dan membawa genangan biru gelap serta arwah itu ke wilayahnya sendiri.

“Eh ... kurang tahu. Daerah barat sana, harusnya,” jawab si kuda sambil menandai satu arwah yang begitu bangun langsung ingin meninjunya. “Rambutnya pucat seperti rambut jagung. Jelas bukan orang sini.”

“Hebat juga, masih dijemput padahal jauh di sini.”

“Reputasi,” kata si kuda, “Dan kesempatan menyimpan cerita bagus. Si Penjemput dari benua utara masih belum bosan membanggakan pengalamannya di angkasa.”

“Bukannya ketiga jemputannya ternyata milik semesta?”

“Makanya dia selalu menghindar kalau ditanya detail. Oh, hei, lihat, dia sadar lagi.”

~

Si lelaki berusaha berbicara pada si wanita. Si wanita berusaha memintanya untuk tidak berbicara, tetapi si lelaki tetap membuka mulut, menggerakkan lidah, menghembus nafas melalui mulut untuk membentuk kata-kata.

“A-a-”

“Ambulans sudah datang. Kau akan—“

“T-ti-“

Sadar si lelaki tidak mampu berbicara normal, walau sangat ingin, si wanita mendekatkan kepala. Melakukan hanya untuk membuatnya tenang. Ia masih tidak mengenalnya.

“... Terima kasih ....”

Si lelaki tersenyum. Lebih pada dirinya sendiri. Lalu ia tidak lagi melihat cahaya dan matanya pun separuh menutup.

~

Sementara arwah si lelaki berdiri, si kuda menyerahkan segulung uang kertas pada si banteng. Yang menerima terbahak sambil melempar-tangkap gulungan tersebut bolak-balik di kedua tangan. "Sudah kubilang, kan? Dia pasti sempat menyatakan cintanya."

"Bah. Bedanya apa? Dia tetap mati. Mereka tak bisa bersama setelahnya."

"Yang beda adalah, kini separuh dompetmu pindah ke dompetku." Si banteng tertawa keras sambil memasukkan gulungan di tangannya ke dalam saku celana. Membiarkan si banteng menikmati kemenangannya, si kuda memanggil arwah-arwah yang sudah mereka pisahkan dari rombongan lainnya. Mereka memandangi si kuda dan kerbau dengan penuh hormat, nyaris mendewakan.

Entah kenapa ia tidak pernah bosan menerima pandangan seperti itu dari arwah yang mereka jemput.

“Oi, KD, sudah tandai bocah itu? Kita tinggal ... oh.” Si kepala kuda melihat si arwah lelaki yang menatap mereka kebingungan, sebelum akhirnya menatap kedua tangannya, yang perlahan lebur menjadi debu-debu kosmik.

“... Ternyata dia milik semesta,” gumam si banteng.

Si arwah lelaki sempat melihat pada si wanita masih terpekur di trotoar sambil tersenyum, sebelum akhirnya lenyap.

Si kuda menggeleng. “... Mereka makin banyak saja akhir-akhir ini.”

“Mungkin suatu saat nanti jumlah mereka akan terlalu banyak, dan akhirnya kita jadi pengangguran.”

“Bah, orang-orang butuh percaya, dan tradisi tidak akan mati semudah itu.” Si kuda membuka gerbang ke dunia bawah. Angin dingin yang ia kenal baik menyambutnya. “Ayo. Kakek tua itu akan mengomel kalau kita kelamaan.”

Si banteng melirik arwah-arwah yang masih tertutup batas api. “Bagaimana dengan mereka?”

“Tinggalkan saja. Nanti juga dijemput dari Sana-Sini.”

“Kau yakin mereka aman ditinggal begitu saja?”

Si kuda mengangkat bahu. “Kalau ada yang lepas dan jadi hantu, itu urusan para Manusia Terang, bukan urusan kita. Biarkan manusia mengurus sesama mereka sendiri.” Ia memimpin jalan. “Ayo, kalau begini kita bakalan telat ke tempat selanjutnya.”

Si banteng mengikuti, memastikan arwah-arwah yang mengikuti mereka tidak kurang dari jumlah catatan di buku kecilnya.

Gerbang itu tertutup.

~

Si wanita sudah aman di dalam ambulans. Ia tidak terluka, namun shock, dan seorang petugas kesehatan memberinya air dalam botol untuk diminum.

Ia masih tidak tahu lelaki itu siapa, tetapi ia tidak akan pernah dapat melupakannya.


message 18: by Fariz (new)

Fariz Rusli (aceofthesilver) | 24 comments Sinless


Matahari sudah berada di ufuk barat ketika kami baru sampai setengah jalan. Debu pekat yang mencekik paru-paru dan mengiritasi kulit melayang rendah di atas tanah.

Aku terus melangkahkan sepatu botku di atas aspal jalanan yang sudah setengah hancur dalam diam. Aku mengonsentrasikan pikiran, berusaha untuk mendeteksi adanya gerakan tak wajar dari segala tempat. Mataku menjelajah liar dibalik lindungan kacamata pengaman. Tanganku bersiaga di pistol revolver enam peluru yang kusarungkan di pinggang. Pilihan terakhir, tentu saja, karena melawan musuh menggunakan mainan ini sama saja memilih mati.

Hanya ada suara langkah dua pasang kaki yang diredam oleh debu jalanan dan napas terengah-engah kami yang telah setia menemani perjalanan di dunia yang telah mati ini.

Hanya kami berdua.

Tiba-tiba langkah kaki adikku terhenti.

Aku menoleh. “Ada apa? Kau terluka?”

Ia berjongkok, memijiti kakinya. “Cuman kecapekan, kak,” katanya sedikit parau.

Aku menggeleng.

“Sudah kubilang, jangan ikut kakak kalau memang tidak kuat. Kau tidak akan bisa bertahan hidup semalam pun kalau fisikmu seperti ini. Kalau terjadi apa-apa nanti—”

Tiba-tiba dia memegangi lenganku, lalu menatapku lekat-lekat dari balik kacamata pengamannya yang sudah penuh dengan debu.

“Aku sudah janji kan sama kakak kalau aku enggak akan ganggu pekerjaan kakak. Lagian,” ia berdiri tegap lagi, “aku bakalan ngelindungin kakak dari orang-orang jahat kok. Tenang aja!”

Meskipun tak terlihat, tapi aku hampir yakin tersungging senyum di balik syal tebal yang membalut separuh mukanya. Sebuah senyum dari anak berumur delapan tahun yang keras kepala.

Adikku ini mau menjadi kriminal sepertiku, batinku lucu.

“Terserahmu, lah. Jangan sampai memperlambat kakak nanti. Ingat, barang ini harus sudah sampai besok.”

Kami memutuskan untuk beristirahat dari perjalanan jauh ini, lalu mencari tempat bernaung yang aman untuk tidur. Kami baru menemukannya ketika matahari sudah benar-benar tak terlihat. Tempat itu adalah sebuah restoran siap saji yang terbengkalai di area pinggir kota. Kacanya yang pecah sebagian ditutupi papan, dan sisanya dibiarkan menganga. Pintunya dirantai, tapi terlihat rapuh karena rantainya sendiri penuh dengan karat. Kami baru saja mencoba membuka paksa rantai itu ketika mataku menangkap pergerakan yang asing di bahu jalan sekitar 200 meter dari tempat kami berada. Dengan refleks, aku menarik paksa adikku untuk bersembunyi di belakang mobil rongsokan yang teronggok di pinggir jalan, terlindungi dari pandangan sesuatu yang ada di bahu jalan itu. Sebelum adikku sempat protes, aku mengisyaratkannya untuk tak bersuara.

Di balik reruntuhan beton di bahu jalan, muncul sesosok makhluk ganjil. Makhluk itu berkaki delapan seperti laba-laba, tapi tubuhnya sebesar mobil. Perut dan kakinya hitam legam dengan guratan-guratan berwarna ungu terang. Taringnya yang sebesar belati mengkilat diterpa cahaya bulan. Dengan kaki-kakinya yang sangat panjang dan menjijikan, makhluk itu merayap pelan menyeberangi jalan, mencari mangsa.

Aku bisa merasakan tubuh adikku gemetar melihat makhluk jahanam itu merayap. Ia memegangi lenganku dengan sangat erat. Giginya bergemeletuk.

Dengan isyarat singat untuk tetap diam dan mengikutiku, aku menuntun adikku dengan sangat hati-hati menyusuri trotoar jalan, menjauhinya. Dengan cemas aku berkali-kali menoleh ke arah makhluk itu, memastikan keberadaanku dan adikku tak terdeteksi olehnya. Makhluk itu hanya berjalan mondar-mandir, terdiam sebentar, lalu kembali menghilang ke balik reruntuhan gedung. Dengan langkah kaki yang lebih cepat, aku menuntun adikku ke dalam gang sempit dan gelap. Setelah memeriksa keadaan sekitar dan merasa sudah aman dari bahaya, aku terduduk lemas. Badanku seperti kehilangan tenaganya sama sekali. Keringat dingin mengalir di seluruh badanku. Adikku sepertinya juga sama terguncangnya. Ia hanya duduk di aspal dan menangis dalam diam. Setelah sepuluh menit dalam diam dan isakan tangis, aku membantu adikku berdiri, lalu memutuskan untuk memeriksa gang sempit tempat kami berada sekarang. Beruntung, pintu belakang menuju dapur restoran siap saji yang kami rencanakan untuk dijadikan tempat bernaung tak terkunci, sehingga kami bisa masuk dengan mudah. Setelah mengecek keadaan di dalam dapur dengan menyeluruh dan memalang segala hal yang bisa dijadikan pintu masuk, aku mengeluarkan sebuah kantong tidur dari tas, lalu menyerahkannya kepada adikku.

“Tidur sekarang. Pagi-pagi sekali kita lanjutkan perjalanan.”

“Kakak enggak ikut tidur?”

Aku menggeleng. “Perlu ada yang menjaga kita selama kita beristirahat.”

“Aku mau ikut jaga juga! Kita bergantian saja berjaga—”

“Jaga? Kau bahkan tidak bisa memegang pistol dengan benar! Dan demi darah Para Hakim,” aku melihat sekeliling dengan waswas, lalu berbisik, “kecilkan suaramu! Kau tidak mau perutmu dikoyak makhluk tadi, bukan? Sekarang, cepat tidur!”

Adikku dengan agak enggan meraih kantung tidur yang kuserahkan, lalu memakainya. Aku pun duduk bersandar di tembok, lalu membakar lintingan hayclover yang kukeluarkan dari saku, dan menghisapnya dalam-dalam. Dengan rokok linting di tangan kiri dan revolver di tangan kanan, aku bisa merasakan kehangatan mengalir di pembuluh nadi dan paru-paruku, mengusir segala ketakutan dan kecemasan yang bersarang. Sayangnya, aku tidak membawa sebotol Radiating honey karena aku tidak boleh mabuk sama sekali. Bisa-bisa aku berbuat suatu hal yang fatal.

“Kak,” terdengar suara lirih dari kantung tidur. Kepala adikku menghadap ke arahku yang sedang duduk.

“Belum tidur juga?” aku menghembuskan kepulan asap dari mulutku.

“Be-belum kak. Aku…” suaranya terdengar semakin pelan sampai aku tak bisa mendengarnya. “Makhluk tadi itu… apa? Apa makhluk itu yang ada di setiap cerita Pendeta Ramon… Sinless?

Aku menghisap kembali rokokku, menatap adikku sebentar, lalu membuang asapnya dari paru-paruku.

“Itu… benar-benar Sinless, kan? Makhluk yang muncul dari tumpukan korban peperangan antara Tujuh Hakim, sebagai akibat dosa manusia yang begitu banyak dan keji. Pendeta Ramon pernah berkhotbah kalau—”

“Dengar,” dengan hisapan terakhir, aku membuang puntung rokokku ke lantai, lalu menginjaknya, “kakak tidak peduli apakah Pendeta Ramon menyikat giginya dengan sikat besi atau dengan apapun. Sinless ataupun bukan, yang terpenting adalah kita bisa tetap hidup sampai kita tiba di Gravemont besok, mengantarkan paket jahanam ini tepat pada waktunya, dan dibayar penuh. Jika aku telat satu jam saja, bisa-bisa organ tubuhku yang dijual,” aku mengeluarkan botol minumku, lalu meneguk isinya. Air dingin yang segar mengalir melewati tenggorokanku. “Sudah jelas? Sekarang cepatlah tidur.”

Terlihat tidak puas dengan jawabanku, ia akhirnya membalikan badannya. 10 menit kemudian, suara napasnya yang teratur menandakan ia sudah tertidur pulas.

Aku menatap kosong ke langit-langit yang diselimuti lumut dan jamur. Di dalam lamunanku, aku mengingat-ingat saat bagaimana aku dan adikku terpaksa memakan daging tikus di pinggir jalan, peluru-peluru berdesing tepat di atas kepalaku ketika merampok Joe’s Stone and Salt, dan bagaimana aku harus melakukan perjalanan jauh mengantarkan sebuah kotak yang dibungkus kertas coklat ini dari New Rodney ke Gravemont, dimana kami harus melewati kota mati ini. Dan semua itu kami lakukan tak lain hanya untuk bisa hidup sampai matahari terbit keesokan harinya.

Aku meneguk kembali air di botolku.

Mungkin aku harus tidur, gumamku perlahan.


message 19: by Fariz (last edited Jul 10, 2015 12:16PM) (new)

Fariz Rusli (aceofthesilver) | 24 comments Matahari sudah menyembul dari ufuk timur ketika kami keluar dari tempat persembunyian. Udara pagi yang dingin dan menusuk tulang kami tahan ketika kaki kami menapaki aspal jalanan dengan hati-hati, karena monster kemarin sama sekali tidak pernah tidur.

“Dari tempat ini sampai Gravemont seharusnya memakan waktu dua jam,” kataku pelan ketika berjalan menyusuri trotoar. “Dan ketika sampai disana, kita—”

Tiba-tiba mataku menangkap ada sesuatu yang bergerak di gang kecil di samping kami. Dari balik bayangan, muncul seekor makhluk merayap yang sama yang kami lihat semalam, tetapi ukurannya lebih kecil, seukuran anjing kampung. Matanya yang merah melotot, menatap kami berdua. Kedua taringnya bergerak-gerak tak tenang, mengeluarkan air liurnya. Tak salah lagi, ini anak makhuk jahanam itu, pikirku.

Aku segera mengisyaratkan adikku untuk lari sekencang-kencangnya, tetapi tubuh adikku kaku seperti besi. Dengan tangan yang gemetaran, aku mengeluarkan pistol revolverku dari saku, lalu mengacungkannya ke makhluk tersebut. Tetapi gertakanku tidak menghentikannya merayap mendekati kami. Aku mendorong adikku mundur pelan-pelan.

“Lari. Cepat lari sekarang,” perintahku, suaraku berubah mencicit.

“Ak—”

Tanpa kuduga, makhluk itu tiba-tiba menerkam ke arahku. Dengan teriakan histeris, aku terjatuh dan menekan pelatuk. Suara tembakan menggaung memenuhi jalanan. Makhluk yang mencoba memangsaku hidup-hidup kini tergeletak tak bergerak di hadapan kami berdua. Cairan berwarna ungu gelap mengalir deras dari perutnya yang kini berlubang.

Aku yang akhirnya menyadari apa yang telah terjadi, terburu-buru bangun. Dengan keringat dingin membasahi wajahku, aku mencengkram bahu adikku dengan keras.

“LARI! CEPAT LARI SEKARANG!”

Seakan jiwa adikku sudah kembali ke jasadnya, ia menuruti perintahku tanpa tanya, dan langsung berlari sekencang-kencangnya. Aku yang berlari mengikutinya dari belakang, bisa mendengar suara-suara ganjil dari gedung-gedung runtuh di sekitar kami; suara makhluk berkaki delapan itu merayap mengikuti kami. Makhluk berkaki delapan itu, menurut cerita penduduk lokal dan pemabuk di bar, sangat sensitif terhadap suara, dan ketika kau berbuat satu kesalahan kecil saja, kau akan diincar sampai jurang terdalam sekalipun.

Napas kami menderu-deru, perutku terasa mual dan kakiku rasanya seperti mau putus, tetapi kami terus berlari berusaha menjauhi maut yang tak bisa dihindari. Percuma kami berlari sekencang apapun. Ini adalah sarang mereka, rumah mereka.

Menyadari hal tersebut, akhirnya aku mengambil suatu keputusan.

“Lewat sini!” teriakku sambil mengenggam tangan adikku sendiri. Aku membawanya ke balik truk rongsokan yang terbalik di pinggir perempatan jalan. Keadaan adikku sangat mengenaskan; keringat sebesar biji jagung membasahi mukanya yang tidak ditutupi oleh syal, dan air mata membanjiri kacamata pelindungnya. Napasnya masih tersengal-sengal. Tanpa membuang waktu, aku merogoh saku jaket, mengeluarkan sebuah kotak kecil yang dilapisi oleh kertas coklat dan selotip, lalu kutaruh di kedua tangannya.

“Dengar kakak baik-baik,” bisikku serius sambil mengatur napas, “ambil kotak ini, jalan ke arah timur sekitar dua jam lebih perjalanan, dan kau akan berada di Gravemont. Pergi ke bar bernama Dan’s Beer, lalu berikan paket ini ke bartender yang bernama Harlton, dan bilang padanya kau butuh tempat tinggal. Ingat, berikan kotak ini HANYA kepada Harlton seorang, tidak boleh kepada orang lain. Mengerti?”

Anak itu menggeleng pelan. Kacamata pelindungnya akhirnya tak kuasa menahan air matanya yang mengalir deras.

“Kak…” suaranya begitu lirih.

“Dengar kakak!” aku mengenggam keras tangan adik malangku ini. “Waktu kakak tidak banyak. Kau harus selamat. Kau mengerti instruksi kakak tadi, kan? Ingat, Harlton seorang.”

Dengan sengukan pelan, ia perlahan mengangguk. Aku mendekap kepalanya di dadaku.

“Terima kasih. Kakak sayang kamu.”

Ia menjawabnya dengan isakan tangis. Tangisan yang begitu menyedihkan.

“Sudah, sudah. Sekarang cepat lari dari sini,” kataku tegas setelah melepaskan pelukan. Dengan enggan, ia akhirnya setengah berlari menyusuri jalan dan perlahan hilang dari pandangan.

Aku mengalihkan pandangan ke arah gedung-gedung runtuh tak jauh dariku. Makhluk yang kami temui semalam, bersama dengan anak-anaknya merayap turun dari atas gedung. Aku menelan ludah, mengacungkan pistolku ke sang induk, lalu menekan pelatuknya. Letusan tembakan kembali menggaung. Meskipun tembakanku menembus perutnya, hal itu tidak membuatnya mundur sama sekali. Aku menekan pelatukku berkali-kali hanya untuk menemukan tindakanku hanya sia-sia. Makhluk itu kini sudah turun ke jalan, dan mulai merayap menuju ke arahku. Dengan kaki yang masih bergetar, aku berlari menjauhinya, lalu masuk ke sebuah jalan sempit untuk menarik napas sebentar. Ketika aku sedang mengisi peluru revolverku, aku tak sengaja melihat ke atas, dan mulutku menjadi kaku seketika.

Apa yang kulihat dengan mata kepalaku adalah hal yang tak bisa kupercayai sama sekali. Makhluk yang ini tiga kali lebih besar dari monster yang tadi, dengan empat pasang mata merahnya memandang kosong diriku. Warnanya pun tak berbeda; hitam dengan guratan-guratan ungu terang. Aku pernah mendengar dongeng tentang kegemaran makhluk ini memakan anak-anak kecil yang nakal, salah satu dari 13 sinless yang menjelanak dari jurang terdalam bumi, tapi tak pernah aku anggap lebih dari omong kosong.

“Broodmother…” gumamku pelan.

=====

Di sebuah bar kecil, seorang pria paruh baya sedang duduk di meja bar, menikmati segelas minuman beralkohol disertai cerutu Blatterweiss. Kepulan asap tebal khas tembakau dari daerah Red Beaches menggantung rendah di udara, mengaburkan pandangan antara pria itu dengan bartender. Seorang wanita muda berambut hitam yang memakai jaket coklat duduk di sebelah pria tersebut, lalu bergumam pelan kepada bartender.

“Segelas Elf Whisky.”

Tanpa menjawab sepatah kata pun, bartender itu langsung menuang cairan dari sebuah botol berwarna putih ke sloki, lalu menyerahkannya ke wanita tersebut.

“6 Kants,” katanya singkat.

“Biar saya yang bayar,” kata pria paruh baya itu tiba-tiba. Dia mengeluarkan kepingan-kepingan tembaga dari saku celananya, lalu menaruhnya di meja. “Sebab, hari ini adalah hari spesial, bukan begitu, nona?”

Wanita itu tidak menjawab, sebagai gantinya ia mengeluarkan sebuah kotak seukuran kotak musik murahan yang terbungkus kertas coklat dan selotip dari saku jaketnya, lalu meletakkan benda itu di dekat asbak pria paruh baya tersebut.

“800 Kants,” katanya dingin.

“Nona,” pria itu tersenyum, “kau tahu keadaan kami sedang sulit, jadi…” tangannya bergerak ke arah kotak tersebut, tetapi dengan cepat dihalangi oleh wanita berambut hitam itu.

“800 Kants,” ulangnya dengan nada yang sama.

Seketika senyum pria itu memudar, dan dengan sumpah serapah ia mengeluarkan sebuah kantung kulit yang bergerincing, lalu menaruhnya di meja. Setelah mengecek isinya, ia memasukan kantung itu ke dalam saku, menghabiskan isi slokinya, lalu beranjak pergi.

“Hei, sampaikan salamku kepada Harlton, semoga si tua itu cepat mati,” ujarnya sambil tertawa terbahak-bahak.

Wanita itu berhenti sebentar, memandang ke arahnya, lalu berkata, “Tentu. Senang berbisnis dengan anda.”

Setelah menutupi separuh mukanya dengan syal dan memakai kacamata pelindung, wanita itu membuka pintu bar, lalu menghilang di kegelapan malam.


message 20: by Kappa145 (new)

Kappa145 | 34 comments Krisis di Altheon

***

Di Puncak Altheon, di dalam Kuil Kubah Biru, para dewa yang bersekutu sekali lagi duduk bersama di depan lingkar meja perundingan. Tempat di mana, secara teori, kedudukan mereka sama dan setara tanpa peduli seberapa luas wilayah kekuasaan mereka atau seberapa banyak manusia yang menggantungkan harapan yang dimilikinya pada mereka, meski pada realitanya, tak ada satu pun yang meragukan, bahwa Teuton::Nerthus dan Gaul::Dayus lah yang saat itu memiliki kekuatan dan pengaruh paling besar untuk menentukan jalannya perundingan. Juga tentu saja sang terdakwa: Aegea::Zeus; Yang saat ini sedang duduk gelisah di kursinya, berkeringat, sambil sesekali melonggarkan ikatan dasi dan jas biru cerah yang dikenakannya.

Semua ini tentang keajaiban, yang, sayang sekali, dalam situasi ini, sudah berada di luar kekuasaan para dewa untuk mewujudkannya.

"Kapan dan bagaimana?" tanya Nerthus dingin pada Zeus, "Kau bisa memperbaiki semua ini?"

Zeus mengangkat bahu, "Sejujurnya, aku, kami, masih belum bisa memberikan jawaban pasti untuk pertanyaan itu."

Dayus menarik napas panjang, "Mungkin perlu kuingatkan, ada sepuluh juta jiwa yang menjadi taruhan dalam persoalan ini."

Nerthus menganggukkan kepalanya, "Ini bukan tentang kita, ini tentang mereka," katanya sambil melemparkan tatapan tajam ke sudut ruangan dimana seorang pria berkulit pucat dengan setelan kelabu dan topi hijau cerah tersenyum ramah ke arah mereka.

Dan di belakang pria itu sebentuk gumpalan, bayangan, gerombolan, gelap dan suram, menatap buas ke arah para dewa tersebut dengan ratusan pasang mata mereka.

Semua ini tentang keajaiban, yang, sayang sekali, sudah sejak lama tidak benar-benar dimiliki secara eksklusif oleh para dewa.

"Kau seharusnya tidak menipu kami Zeus," desis Odin, yang duduk di samping Dayus.

"Kita tidak seharusnya berurusan dengan mereka," keluh El Cid yang sedikit banyak merasa simpati pada Zeus.

"Apa kita punya pilihan?" balas Odin. "Tanpa keajaiban, Para Jotun akan menyadari kelemahan kita dan perang besar akan terjadi."

El Cid memicingkan mata, "Seperti yang sudah diramalkan."

"Ini bukan tentang kami," Odin buru-buru membela diri, "Ini tentang jutaan manusia di benua ini yang menggantungkan harapan mereka pada kita semua."

Pria di sudut ruangan terbatuk saat mencoba menahan gelak tawanya.

Nerthus menyandarkan punggungnya ke kursi lalu memandangi lukisan peta dunia di langit-langit. Di sana tampak para Raksasa di singgasana mereka, juga dewa-dewa lain di timur dan selatan, dan bendera-bendera hitam para pahlawan yang semakin hari semakin sengit menunjukkan perlawanan mereka pada tata dunia kuno.

Kemudian, ada bercak-bercak kegelapan di mana-mana; licin, licik, liat, lihai: para wunderkin dengan tata dunia baru mereka.

Dahulu, para dewa mendapatkan keajaibannya dari kepercayaan yang diberikan oleh para manusia yang menjadi pengikut mereka. Lalu dengan keajaiban itu, para dewa menciptakan logos di wilayah kekuasaan mereka: tali yang apabila digunakan dengan bijak dapat mengikat dan menyatukan harapan yang ada di sana untuk mewujudkan hal-hal yang luar biasa, atau jika disalahgunakan bisa berubah menjadi rantai yang mengekang dan mencencang jiwa hingga muncullah tirani yang melahirkan kemuraman serta kemarahan.

Keajaiban pula lah yang membuat manusia tunduk, dengan suka ataupun berat hati, kepada para dewa.

Kecuali para para pahlawan, yang menyadari arti keajaiban yang sejati, yang dengan lantang menunjukkan penentangan dan perlawanan mereka kepada para dewa.

Maka perang pun berkobarlah. Dan bersama darah yang tertumpah, kegelapan yang dahulu sempat tercerai berai kembali menemukan wujudnya.

Ketika pertempuran akhirnya berakhir... banyak pahlawan menemui ajal mereka sementara beberapa yang berhasil membunuh dewa-dewa menjelma menjadi Raksasa yang memiliki kekuatan dan kekuasaan yang bahkan melebihi para dewa.

Tapi itu bukan masalah besar, karena sebelum perang berakhir, para dewa telah membuat perjanjian dengan para wunderkin.

"Tiga Ratus Juta keping Niskala!"

Nerthus mengedipkan mata. Seruan Dayus menyadarkannya dari lamunannya.

Entah sejak kapan sang pria pucat telah berdiri di atas meja, di tengah-tengah mereka, masih dengan senyum sinisnya yang menyebalkan.

"Tiga ratus dua puluh juta sekian lebih tepatnya," kata sang pria lirih, "tapi kami bukanlah tidak memiliki perasaan... dan persekutuan hanya perlu melunasi sepertiganya pada akhir minggu ini."

"Tapi bukan kami yang...," protes Odin sambil melemparkan tatapan tajam ke arah Zeus yang hanya bisa menundukkan kepalanya.

"Memang bukan." jawab sang pria, "Tapi salah satu anggota persekutuan yang menurut logos adalah bagian dari tanggung jawab semua anggota lainnya."

"Mungkin perlu kami ingatkan," lanjutnya sambil memandang El Cid dan Remus, "bahwa hal semacam ini bukanlah yang pertama kali terjadi semenjak persekutuan ini terbentuk."

Seketika terdengar gumaman pro dan kontra di antara para dewa.

Nerthus mengeluh. Jika mau ia dan dayus bisa saja dengan mudah menyiapkan tiga ratus juta keping niskala untuk menyelamatkan Zeus. Tapi itu bukannya tidak menimbulkan masalah baru.

Yang pertama tentang kepercayaan. Orang-orang Teuton tentu akan mempertanyakan mengapa ia lebih memilih menggunakan keajaiban untuk menyelamatkan manusia yang menjadi pengikut dewa lain daripada meningkatkan kesejahteraan pengikutnya sendiri.

Yang kedua tentang keteladanan. Nerthus tak sanggup membayangkan bagaimana jika masalah serupa lantas terjadi pada dewa-dewa lainnya; bagaimana jika keputusannya memaklumi kebodohan Zeus membuat dewa-dewa lain dengan enteng melakukan kebodohan yang sama. Karena para wunderkin tak akan pernah melewatkan kesempatan untuk memperkokoh kuasa mereka di benua ini.

"Kami mungkin bisa menyediakan seratus juta Keping Niskala..." kata Zeus perlahan, yang sesaat membuat dewa-dewa lain menghela napas lega, "tapi tidak dalam satu minggu ini..."

"Tidak?" sang pria mengangkat alis. Ia kemudian mengerutkan keningnya dan dalam sebuah gemuruh, berbisik dengan bayang-bayang gelap yang kini telah menggantung di langit-langit. "Jadi? Dua minggu? Tiga minggu? ... Satu Bulan?"

"Paling tidak satu tahun," jawab Zeus lirih yang dengan segera diikuti gelegar derai tawa sang pria.

"Sahabatku," katanya sambil tersenyum, "harus kami akui, itu tadi lelucon yang teramat sangat menggelikan."

"Tapi begitulah kenyataannya," kata Zeus, "Dengan bakti mereka, setiap jiwa di wilayah Aegea bisa menghasilkan satu sampai dua Keping Niskala setiap bulannya."

"Ah tentu saja, tapi dengan pengorbanan, setiap jiwa bisa berubah menjadi sekitar seratus Keping Niskala," ujar Sang Pria dengan senyuman yang makin lebar.

Wajah Zeus berubah merah padam, "Kau meminta kami mengorbankan Satu Juta jiwa pengikutku!?"

"Jika itu bisa menyelamatkan sembilan juta jiwa yang lain, mengapa tidak? Bukankah kalian pernah melakukan hal yang sama dengan Atlantis dulu?"

"Kami... Aku tak bisa mengambil keputusan itu sendirian."

"Tentu saja. Karena itu kami memberi kalian waktu sepekan untuk mengambil keputusan yang terbaik menurut kalian."

Nerthus kembali menyandarkan punggungya, kali ini sambil memegangi keningnya. Berbagai skenario dimainkan di benaknya tapi tak satu pun yang berakhir bahagia.

Dayus berdehem, "Kami mengerti Rumpelstilzchen," katanya pada sang pria, "jadi tolong kalian tinggalkan kami sementara kami berdiskusi sebelum mengambil keputusan."

"Dengan senang hati," kata sang pria ceria, "Dan kapan saja kalian membutuhkan, silakan sebut namaku."

"Tunggu," seru Zeus, "sebelum kau pergi, aku ingin menanyakan... apa yang akan kalian lakukan seandainya persekutuan mengabaikan kami dan aku menolak mengorbankan pengikutku?"

Mata Rumpelstilzchen berkilat-kilat saat ia berbisik pada Zeus, "Maka kami akan mendudukkan dewa lain yang mau mendengarkan kami di tahtamu... atau kami bisa menjadi mimpi buruk bagi para pengikutmu sampai akhirnya mereka akan saling mengorbankan diri mereka sendiri tanpa campur tanganmu."

Sang pria lalu berbalik, tersenyum ceria, kemudian mengangkat topinya sambil membungkukkan badannya kepada para dewa, "Sampai jumpa lagi tuan-tuan."

*** ***

Post Script:
Uh... aku sungguh-sungguh mengira deadlinenya tanggal 11 ...
Ya sudahlah...

Post PS:
Sekali lagi terinspirasi dari realita. Seperti kata seorang kawan: "Dunia ini suram"

Post PPS:
Pada awalnya ingin menulis Science Fiction, err sudah menulis beberapa paragraph, tapi setelah membaca berita, ternyata tema ini jadi lebih menarik.

Hmm ya sudahlah...

Wish you a good read >_<


back to top