Kastil Fantasi discussion

83 views
Diskusi Naskah/Konsep > [Konsep dan Komentar] Sang Awatara

Comments Showing 1-41 of 41 (41 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Manikmaya (last edited Dec 23, 2012 01:42AM) (new)

Manikmaya | 1098 comments Jadi ... saya mau minta saran mengenai konsep novel saya : Sang Awatara

Genre: Low-fantasy, supranatural, petualangan, sci-fi.

Setting waktu : Nusantara, Republik Indonesia, 2116 Masehi

Plot :

Dari darah seorang Rsi akan lahir sesosok Daitya!

Pasca Bharatayudha, Aswathama, putra Rsi Drona menyusup ke dalam perkemahan Pandawa dan membunuh Drestajumena, Srikandi, serta Pancawala (putra Prabu Yudhistira). Merasa marah atas kejadian itu, Pandawa dan Sri Kresna segera memburu Aswathama yang lari ke dalam hutan. Pandawa (Arjuna) berhasil membunuh Aswathama tapi Sri Kresna menambahkan kutukan kepada sukma Aswathama sehingga sukmanya tidak bisa bereinkarnasi selama 3000 tahun dan akan terus mengembara di bumi.

Kutukan Sri Kresna memang berlangsung demikian, tapi sukma Aswathama yang terombang-ambing di bumi selama 3000 tahun memberinya sebuah kekuatan yang sangat besar : kebencian. Ia benci kepada Pandawa, ia benci kepada Dewata, dan ia benci kepada segenap manusia yang lebih berdosa daripada dirinya namun tidak mengalami kutuk yang serupa dengan dirinya. Kemarahannya membuat ia bertransformasi menjadi sesosok Daitya (iblis) dengan kekuatan yang cukup besar sehingga kahyangan dapat diterobos olehnya. Ia mencuri kitab Jiptasara, kitab di mana para dewata menuliskan takdir atas peristiwa besar yang terjadi dari setiap zaman.

Para dewata yang menyadari bahwa Jiptasara telah hilang langsung kebingungan. Satu-satunya yang dapat melawan Daitya semacam itu adalah Bathara Wisnu, tapi belum saatnya Wisnu turun menjadi Awatara ke-10, sementara Bathara Siwa belum saatnya berperan dalam dunia sehingga diputuskanlah untuk menurunkan kembali Baladewa (kakak Sri Kresna – Raja Mandura) ke bumi untuk mengejar Daitya Aswathama.

Baladewa dan Aswathama bertarung sengit di langit, namun Aswathama dengan cerdik langsung menuliskan bait-bait yang ia rencanakan di kitab Jiptasara yang intinya : Keturunan Bharata (Kurawa dan Pandawa) akan melangsungkan kembali perang yang pernah terjadi (Bharatayudha) di sebuah negeri yang disebut Nusantara.

Sesudah ia melakukan itu, ia menelan buku itu ke dalam mulutnya lalu menghantam Baladewa dengan kerasnya sehingga Baladewa terhempas ke bumi Mayapada sementara senjatanya – Nenggala terlempar entah ke mana.

Mengetahui Baladewa telah gagal dan sukma Pandawa dan Kurawa telah mengalir kembali ke bumi tanpa bisa dicegah oleh Bathara Yamadipati, maka Narada mengajukan diri untuk turun kembali ke bumi guna membimbing Awatara (manusia titisan)Pandawa dalam menghadapi Kurawa sekaligus Aswathama.

Baladewa sendiri kehilangan ingatannya sama sekali ketika dihempaskan ke bumi, karena itu para dewa menitiskan Baladewa ke dalam raga seorang bayi yang akan lahir dan menunggu saat yang tepat untuk memajukan kembali Baladewa dalam perang melawan Daitya.

==00==

Tahun 2100, seorang jurnalis bernama Hariwangsa bertemu dengan 4 orang di sebuah kafe. Entah untuk alasan apa mereka cepat akrab. Setiap bulan mereka bertemu di kafe yang sama dan berbincang dengan akrab layaknya saudara, hingga suatu hari seorang misterius yang mengaku bernama Darsa memberikan mereka 5 buah benda yang ia sebut Astra. Hariwangsa – sang jurnalis mendapatkan gelang logam berukir yang disebut Sarotama. Dharmawangsa – sang poilitikus, mendapatkan sebuah buku saku bersampul kulit yang disebut Kalimasada. Rudi Alfaris – sang Sersan TNI AD, mendapatkan sebuah kalung besi yang disebut Rujapala, sementara dokter kembar Nakula dan Sadewa mendapatkan sebuah gelang berliontin yang disebut Seta. Segera setelah memberikan kelima benda yang ia sebut astra tersebut, Darsa menghilang.

Tahun 2104, muncul pemberontakan makar terhadap NKRI yang disebut Laskar Pralaya. Pemberontakan ini memiliki kekuatan militer yang luar biasa sehingga banyak menewaskan prajurit TNI. Pemerintah akhirnya memberlakukan wajib militer. Tahun 2105, pasukan pemerintah semakin terdesak oleh kekuatan Laskar Pralaya, sehingga perekrutan makin diintensifkan. Pada tahun ini Hariwangsa ditemukan terbunuh di dalam apartemennya di kota Bogor. Laporan resmi menyatakan bahwa ia terjebak di gedung apartemen yang terbakar, tapi 4 kawannya yang sekaligus juga saudaranya di masa lalu tahu bahwa Laskar Pralaya – yang tidak lain adalah prajurit-prajurit milik Awatara para Kurawa-lah yang telah membunuh Hariwangsa yang tak lain adalah Awatara Arjuna.

Tahun 2106, Rudi Alfaris terbunuh saat markasnya diserang oleh segerombolan Laskar Pralaya. Tahun 2107, Dharmawangsa ditembak dari jarak dekat oleh seorang pembunuh bayaran saat selesai makan malam bersama rekan-rekannya di Jimbaran, Bali. Di tahun yang sama pula dokter kembar Nakula dan Sadewa memutuskan untuk pensiun dini dari kedinasannya di RS. Cakrawala Jakarta lalu keberadaan mereka seolah menghilang ditelan bumi.

==00==

Pandawa sudah mati! Kini giliran anak-anak mereka yang harus meluruskan takdir!

Tahun 2115, pada PON di Jakarta, BAyu Sutawijaya-seorang pelajar SMU dari Surakarta berhasil menggondol medali emas di bidang olahraga panahan, diikuti Faiz Hamizan dari Jakarta, dan Mahesa Werdaya yang juga satu sekolah dengan Bayu Sutawijaya. Dalam aturan, Bayu adalah satu-satunya atlet yang berhak dikirim ke Olimpiade 2116 di Vancouver – Kanada, namun satu bulan menjelang keberangkatanya, Bayu menghilang dari rumahnya bersama ibunya. Faiz Hamzah sendiri sudah tidak ada lagi di Indonesia karena sedang menempuh kuliah di Singapura dan tidak mau diganggu-gugat soal itu. Akhirnya Mahesa Werdaya-lah yang dikirim ke Olimpiade.

Tahun 2116, saat Mahesa selesai mengikuti upacara pembukaan, kamar gantinya diserbu seorang misterius yang menghabisi nyawa pelatihnya dan 2 orang atlet Indonesia lainnya. Akhirnya ia pun melarikan diri sementara sosok misterius itu terus mengejarnya bersama sekawanan pria yang sama misteriusnya. Ketika ia sudah merasa tak ada harapan lagi, seluruh pengejarnya roboh diterjang sekumpulan anak panah. Ketika ia menoleh ke arah datangnya anak-anak panah itu, ia melihat rival terbesarnya, Bayu Sutawijaya-lah yang menolongnya. Sempat ia protes dan menanyakan apa maksud dari semua ini, tapi tanpa banyak bicara, Bayu sudah menyeret Mahesa dari lokasi itu.

Mahesa dipertemukan dengan kelompok yang bernama Ksatria Dakara, sebuah kelompok yang terdiri dari Awatara-Awatara dari masa Bharatayudha yang telah lewat. Dari situ ia baru sadar bahwa Bayu itu kakaknya (walau lain ibu) dan ia sendiri pun seorang Awatara, Awatara Abimanyu.


message 2: by Manikmaya (last edited Dec 23, 2012 01:38AM) (new)

Manikmaya | 1098 comments TOKOH :
Tokoh Protagonis (Dakara):
1. Mahesa Werdaya (Awatara Abimanyu)
Atlet panahan berusia 15 tahun. Juara 3 Lomba Memanah PON tahun 2115. Kehilangan ayahnya saat berusia 6 tahun dan fakta yang terkuak kemudian menyatakan bahwa ia pernah hidup sebagai Abimanyu.
Astra : Sarotama

2. Kartawijaya (Awatara Baladewa)
Berprofesi sebagai Direktur Operasional sebuah perusahaan produksi alat-alat pertukangan, Kartawijaya seharusnya merasa hidupnya sudah sempurna, namun ada sebuah kegundahan yang selalu menghantuinya. Kegundahan itu akhirnya terjawab ketika ia bertemu dengan Darsa.
Astra : Nenggala

3. Markus Passaharya (Awatara Gatotkaca)
Reserse Polisi kota Surabaya keturunan Ambon. Rasa keadilannya tinggi dan taat hukum. Ia difitnah oleh atasannya sehingga mendapat sanksi penundaan kenaikan pangkat dua kali. Hal ini menyebabkan dirinya belum berani melamar tunangannya sebab ia tidak ingin tunangannya itu hidup menderita.
Astra : Brajamusti – Brajadenta

4. Bayu Sutawijaya (Awatara Irawan)
Rival utama sekaligus kakak lain ibu Mahesa. Sikapnya secara terang-terangan seolah tidak menyukai Mahesa, tapi setiap kali Mahesa dalam bahaya, maka ia adalah orang pertama yang turun tangan menolong adiknya itu.
Astra : Taksaka

5. Ranta Janggala (Awatara Wisanggeni)
Debt hunter, versi khusus debt collector dari sebuah korporasi raksasa dalam menangani pihak-pihak tertentu yang memiliki hutang dalam nominal milyaran rupiah pada korporasi tersebut. Penanganannya terhadap penghutang itu bisa dengan mengancam, menyiksa, bahkan sampai mengambil paksa salah satu organ tubuh ‘korban’nya untuk dijual sebagai penebus hutang. Ia dibuang sejak kecil di sebuah panti asuhan sebelum akhirnya ‘dijual’ karena terlalu sering membuat ulah.
Astra : Wihaya

6. Pastika Agung Prayoga (Awatara Pancawala)
Motto : Ex me ipsa renata sum (Dari diri sayalah, saya dilahirkan kembali)
Pemilik klub malam di Gianyar Bali. Orang sering salah mengira ia hanya sekedar germo para pelacur, tapi pada prakteknya ia adalah broker informasi. Ia mengetahui segala seluk-beluk dunia hitam dan berdiri di tengah-tengah (ia tidak memihak aparat ataupun kriminil). Prinsip yang ia junjung adalah keseimbangan. Ia adalah putra pertama Dharmawangsa (yang hidup setelah istrinya keguguran 4 kali) dan merupakan Awatara Pancawala (putra Yudhistira dengan Drupadi).
Astra : Kalimasada

7. Purwadi Jiwandono (Awatara Yamadipati)
Merasa Bathara Narada bekerja sangat lambat, Yamadipati pun turut menjelma menjadi Awatara untuk memburu Daitya Aswathama.
Astra : Rantai Kramakala


Tokoh Antagonis Utama (Pralaya):
1. Faiz Hamizan (Awatara Laksmana Adiputra)

Seorang anak jenius, putra seorang CEO perusahaan multi-bidang, sekaligus juara 2 PON 2115 Cabang Panahan. Serius dan goal-oriented tapi memiliki rasa dengki yang luar biasa kepada Bayu Sutawijaya. Ia adalah Awatara Laksmana Adiputra – putra mahkota Hastina, putra Duryodhana yang dibunuh Abimanyu pada saat Bharatayudha.

2. Iksa Manggala (Awatara Jayadratha)
Paman Faiz sekaligus saudara ipar Satrio Yuwono. Ia adalah mantan instruktur IMAB yang dipecat dengan tidak hormat dari kesatuannya karena suatu tindakan indispliner.

3. Satrio Yuwono (Awatara Duryodhana)
CEO sebuah perusahaan nasional skala besar Hastinaputra Corp. yang bergerak di banyak bidang usaha, mulai dari produksi gadget, percetakan, rumah produksi, media pertelevisian, provider internet, dan peternakan. Perusahaan ini juga memiliki saham pada PT. Pindad Indonesia.

4. Sapto Cakrawedaya (Awatara Dursasana)
Salah satu anggota komisaris dalam Hastinaputra Corp., sekaligus adik kandung Satrio Yuwono. Bersama 98 Awatara Kurawa lainnya (yang seluruhnya bekerja di bawah naungan Hastinaputra Corp.) bekerja secara paralel antara mengembangkan perusahaan sekaligus memperkeruh kemelut politik antara pemerintahan NKRI dan Laskar Pralaya.

5. Rudra Danutirta (Daitya Aswathama)
Aswathama meskipun berhasil mengalahkan Baladewa, sempat terluka cukup parah akibat hantaman Nenggala, karena itu ia mengambil rupa seorang manusia dan bersama Awatara Kurawa bermaksud mendirikan Hastina baru di atas bumi Nusantara dengan jalan memicu kemelut sebagai pendahuluan untuk melakukan kudeta.

Sekutu Dakara :
1. Sudrajat Budiharjo (Awatara Ekalawya)

Seorang anggota BIN yang punya dendam pribadi pada Hariwangsa (ayah Mahesa dan Bayu) setelah memergoki bahwa istrinya selingkuh dengan Hariwangsa. Membantu kelompok Dakara karena ia tidak ingin NKRI diperintah kembali oleh seorang diktator.
.
2. Sarwadi Ariwibowo (Awatara Drestajumena)
Kakak kandung dari ibu Prayoga sekaligus paman dari Prayoga, berprofesi sebagai komandan sebuah peleton Komando di wilayah Denpasar.

3. Lastri Padmaningsih (Awatara Srikandi)
Merupakan seorang Polwan yang dahulu (saat SMA) jatuh cinta pada Hariwangsa, tapi terpaksa menelan pil sakit hati karena Hariwangsa sudah punya 2 istri, dengan satu istri yang telah diceraikan. Ia diajak Baladewa untuk membantu Dakara dan ia langsung bersedia melakukannya. Bersama suaminya Sarwadi, ia menyediakan segudang info yang berguna bagi Dakara.

4. Ratri Amalia
Teman semasa kecil Mahesa yang ditaksir berat oleh Mahesa. Ia menjaga dan menghibur ibu Mahesa selagi Mahesa diumumkan menjadi buronan negara atas tindakan pengkhianatan yang dilakukannya.

5. Awatara Antasena
(belum terpikirkan nama dan profesinya)

6. Awatara Antareja
(belum terpikirkan nama dan profesinya)


Sekutu Pralaya :
1. Sasmita Corporation

Perusahaan yang bergerak dalam bidang penerbitan dan percetakan. Penyumbang dana yang cukup besar kepada Laskar Pralaya.

2. Sewaka Group Corporation
Sebuah perusahaan Private Security yang menyediakan jasa pengawalan bagi pejabat-pejabat penting di parlemen. Dari sini Laskar Pralaya mendapatkan info-info penting.

3. Bonifasius Tejakusuma (Awatara Sangkuni)
Anggota Parlemen yang memiliki keahlian yang sangat hebat dalam berdiplomasi dan bernegosiasi. Merupakan pendukung utama agenda kudeta yang akan dilakukan oleh Laskar Pralaya. Satu-satunya Awatara dari pihak Kurawa yang tidak ditemui Aswathama sebab dengan sendiriya ia sudah menyadari siapa dia sebenarnya.

4. Kartika Marta
Sosok wanita misterius yang selalu menghalang-halangi investigasi Markus Passaharya.

5. Laskar Pralaya
Kelompok yang mengadakan makar pada NKRI. Mula-mula merupakan sebuah kelompok kecil yang sekedar melakukan penyerangan kecil-kecilan serta menebarkan teror di masyarakat. Tapi menjadi sebuah kekuatan yang melebihi militer Indonesia ketika Hastinaputra Corporation dan kroni-kroninya menyuplai kelompok ini dengan kucuran dana dan informasi.

Pihak Netral :
1. Mallombasi (Awatara Yuyutsu)
Seorang pegawai kantoran di Jakarta, keturunan Makassar yang juga berprofesi sebagai penulis beberapa buku yang kurang laku di pasaran.
Astra : Saraba

2. Rizky Adiputra (Awatara Karna)
Seorang direktur pemasaran di Sasmita Corporation. Begitu menyadari bahwa perusahaan ini menyuplai dana cukup besar bagi Laskar Pralaya, ia memutuskan berhenti.
Astra : Kontawijayandanu

3. Darsa (Awatara Narada)
Tugas utama Narada adalah mengembalikan ingatan Baladewa serta menyerahkan kembali Nenggala kepada Baladewa. Selain itu ia jugalah yang menyadarkan para Awatara Pandawa akan jati diri mereka meski itu agak sedikit terlambat.
Astra : -

Pandawa :
1. Dharmawangsa (Awatara Yudhistira – dead)
‘Politikus putih’ – itulah julukan bagi Dharmawangsa semasa hidupnya. Ia kalem dan tenang, dan pantang mencela orang lain walaupun itu lawan politiknya. Ia terbunuh oleh pengawalnya sendiri yang berkhianat pada Laskar Pralaya.

2. Rudi Alfaris (Awatara Bratasena – dead)
Sersan Panzer, Banteng Ketaton, Sersan yang ditakuti malaikat maut, itulah julukannya . Sersan sebuah kesatuan komando yang sudah 20 kali ditugaskan di misi ‘bunuh diri’ dan selalu sukses kembali hidup-hidup meski rekan-rekannya tewas semua. Ia terbunuh oleh seorang anak didiknya di akademi militer dengan menggunakan sebuah astra pula.

3. Hariwangsa Permana (Awatara Arjuna – dead)
Jurnalis playboy. Tidak peduli siapapun dia, kalau wanita itu mempesona sudah pasti ia akan mencari 1001 akal untuk membuat hubungannya dengan wanita itu berakhir di ranjang. Terbunuh pada saat menyelamatkan istri keduanya, Isnani, pada saat Laskar Pralaya menyerang kompleks tempat tinggalnya.

4. Panji Nakula dan Panji Sadewa (Awatara Nakula dan Sadewa – alive)
Dokter kembar! Saking miripnya amat sulit dibedakan mana yang Nakula dan mana yang Sadewa. Nakula berprofesi sebagai dokter bedah sementara kembarannya sebagai ahli patologi forensik. Nakula memiliki keahlian menyetir setara pembalap pro dan sering mengikuti kontes balapan liar semasa mudanya. Kedua dokter ini juga ahli bermain pedang.


Yang saya ingin tanyakan:

1. Apa nama dan profesi yang cocok untuk Awatara Antareja dan Antasena?
2. Lebih baik saya fokus dulu pada penceritaan latar belakang Awatara Pandawa di awal-awal novel atau langsung ke bagian Dakara sehingga kisah Awatara Pandawa nanti hanya sebagai flashback?
3. Tanggapan lain juga ditunggu ^_^.

Terima kasih atas perhatiannya :))


message 3: by Magdalena Amanda, Momod Usil (new)

Magdalena Amanda | 2330 comments Mod
...

Gw lebih concern ke arah ini karakternya banyak (banget ...

Jadi ...

1. Akan seberapa panjang ceritanya (perkiraan jumlah kata ato dibagi menjadi berapa buku ato berapa "arc cerita")

2. Gimana caranya memperkenalkan karakter2 yg jumlahnya banyak itu sehingga nempel di kepala pembaca? Serta gimana membagi peran bagi mereka agar dalam cerita mereka mendapatkan porsi yang kurang lebih seimbang?

Gitu, rawr.

Saya nggak akan ngomentarin dulu soal nama dan profesi yang cocok utk Awatara Antareja dan Antasena soalnya pengetahuan saya minim banget soal Mahabharata meskipun dulu pernah baca komiknya (berhenti tengah jalan) waktu SD.

Hehe.


message 4: by Klaudiani (new)

Klaudiani (dian_k) | 481 comments First thing, I like this concept.
Sepintas saja sudah bisa terasa cerita ini akan jadi epik, dan bisa sangat menarik karena settingnya di masa depan. Pilihan nama-namanya juga bagus, tapi hati-hati ini bisa jadi pertanyaan pembaca karena sekarang saja sudah mulai berkurang orang yang menamai anaknya dengan nama berbau sanskerta. Nama2 'barat' cenderung lebih populer.

Soal profesi, tidak harus selalu sesuai dengan profesi si awatara pada zaman bharatayudha, kok. Yup, memang harus logis karena mereka akan berperang, tapi satu-dua karakter dgn profesi tak terduga dan peran tak terduga bisa jadi twist yg bagus nantinya. Tergantung cara kamu meramu cerita. Jangan terlalu mudah ditebak pembaca, IMO.

Hanya mengingatkan, ini akan jadi cerita yang panjang mengingat banyaknya karakter yang terlibat. Saranku fokus saja ke bagian dakara, sementara semua flashback ceritakan singkat dalam satu bab. Mungkin sebagai prolog, sekedar informasi untuk mereka yg tidak mengikuti cerita bharatayudha. Jangan bolak-balik di flashback, nanti malah membingungkan.

Ada satu kalimat mengganggu: entah untuk alasan apa mereka cepat akrab. Ini aneh karena orang akan akrab kalau ada alasan--kesamaan hobi atau tujuan, misalnya. Harus ada alasannya. Pun orang misterius yg tiba2 memberi astra, harus punya alasan untuk melakukannya. You dont give away precious things without reason, right?

Terakhir, hubungan antara para pandawa yg tewas dengan inti cerita. Kalau tidak begitu berperan lebih baik skip ke cerita Mahesa.

Good luck :)


message 5: by Magdalena Amanda, Momod Usil (new)

Magdalena Amanda | 2330 comments Mod
Ah, setuju di bagian pilihan nama yg disebut ama Senior Dian. :-? Jaman sekarang udah sedikit orang yang ngasih nama berbau Sansekerta dan nama2 barat (bahkan katanya keponakannya Calvin ada yang dikasih nama karakter dari Game of Thrones :v) lebih lazim.

... Kecuali ada perubahan tren naming di masa yang akan datang, entahlah.

Hehe.


message 6: by F.A. Purawan (new)

F.A. Purawan | 244 comments Konsep udah siiiip! Terus-terus-terus,.... kapan dan bagaimana anak-anak G-5 tersangkut dengan hal ini, sih? Atau jadi cameo aja? Hehehehe

Satu catatan untuk penamaan, terlalu banyak yang bernuansa Kawi, dan terlalu banyak berakhir dengan huruf 'a'. Coba bikin variasi, gak usah takut menggunakan nama-nama bernuansa modern. Tahun 2013 aja banyak anak lahir dengan nama-nama westernish atau arabicish. Harusnya hal semacam ini juga ada bekasnya di setting kamu.

Jawaban nomor 1: Antareja: Cave explorer, pecinta alam, atau inspektur MRT (Jakarta udah punya MRT doong?); Antasena: Operator Multi Vehicle, Pesawat terbang, helikopter, traktor, ekskavator, mini submarine dll, you got the idea.

Jawaban nomor 2: Akan terlalu panjang dan membosankan, menceritakan latar belakang di depan. Buka dengan konflik aja dulu, latar belakang di buku 2 atau di bagian 2, hehehe.


message 7: by R.D. (new)

R.D. Villam (villam) | 716 comments 1. Really dont know. Gue cuman bilang, 100 persen gue percaya nama2 orang di tahun 2100 gak akan setipe seperti di atas. Kecuali pemerintah memaksa semua bayi yg lahir di indonesia harus diberi nama kayak gitu. Hehe.

2. Prolog tergantung target pembaca yg dituju. Kalo gue prefer prolognya adalah di tahun 2100 saat Darsa muncul ngasih barang2 misterius. Bab satu langsung ke tahun 2116 saat Mahesa diserang orang2 misterius. Udah, titik awalnya di sana. Latar belakang cerita nanti bisa dimunculin di tengah, lewat perbincangan dg orang2 yg tahu.


message 8: by Klaudiani (last edited Dec 23, 2012 03:06AM) (new)

Klaudiani (dian_k) | 481 comments Vil, kalo prolognya di darsa nanti ceritain zaman bharatayudhanya bisa ngebingungin karena panjang dan harus runut. Menurutku soal darsa lihat dulu relevansinya dengan inti cerita karena ini lebih mudah disisipkan dalam dialog atau narasi dibandingkan topik bharatayudha.


message 9: by Chasm (new)

Chasm Myth | 77 comments manteb bang


message 10: by F.A. Purawan (new)

F.A. Purawan | 244 comments Perihal kutukan Aswatama sampai pertarungan dengan Baladewa itu sudah oke koq jika dikembangkan menjadi prolog

:)


message 11: by Manikmaya (new)

Manikmaya | 1098 comments F.A. wrote: "Konsep udah siiiip! Terus-terus-terus,.... kapan dan bagaimana anak-anak G-5 tersangkut dengan hal ini, sih? Atau jadi cameo aja? Hehehehe

Satu catatan untuk penamaan, terlalu banyak yang bernuans..."


Dakara didirikan saat negeri ini pertama kali berdiri kok Om. Jadi Dakara yang ada di fanfic dengan Dakara yang ada di sini adalah orang-orang yang sama sekali berbeda.


message 12: by Manikmaya (last edited Dec 23, 2012 04:16AM) (new)

Manikmaya | 1098 comments @Mbak Panda

Kayaknya bakal jadi Tetralogi deh Mbak :P
dan ...
Err ... saya menulis ini punya misi mempopulerkan kembali nama-nama yang sudah 'terlupakan' ini :P


message 13: by Magdalena Amanda, Momod Usil (new)

Magdalena Amanda | 2330 comments Mod
*tidak bisa tidak memikirkan "dakara" yang bahasa Jepang ...*

Tetralogi?

Oke ...

Awas lu ye kalo terbitnya cuma satu, tiga buku sisanya entah ke manaaaaaa~!!! Masa sampe sekarang yang kelar -logi2annya cuma Xar&Vichattan dan Ther Melian?!

*lempar todongan ke oknum lain*

Mas Pur! Mana G-5-2???

*end of todong2an*

Hehe.


message 14: by R.D. (new)

R.D. Villam (villam) | 716 comments Klaudiani wrote: "Vil, kalo prolognya di darsa nanti ceritain zaman bharatayudhanya bisa ngebingungin karena panjang dan harus runut. Menurutku soal darsa lihat dulu relevansinya dengan inti cerita karena ini lebih ..."

Biar penulisnya nulis dulu ceritanya. Baru keliatan nanti ngebingungin ato enggak. Panjang ato enggak. Dsb. Kalo skrg sih belon ada yg bisa dibuktiin atau dikomentarin. :-P


message 15: by Feby (new)

Feby Anggra | 1 comments Ugh. Baiklah. Dari kemarin saya mau komentarin ini tapi baru bisa masuk gutrids sekarang. Dan kebanyakan komentar saya udah dikomentarin teman2 di atas. O..TL

Ini konsep bagus. Konflik dasarnya cukup fokus. Keliatan banget, si andreas tau apa yang mau diceritain. Tapi saya agak khawatir dengan banyaknya karakter. Takutnya keramean gini malah bikin jalinan ceritanya jadi kurang bs dinikmati pembaca. Kurasa, dikau mesti pinter-pinter milih timing tepat memunculkan masing-masing karakter.


message 16: by F.A. Purawan (new)

F.A. Purawan | 244 comments Missi memasukkan nama2 lokal, itu gue dukung 100%. Tapi masuknya juga harus cantik. Jangan paksain pembaca. Kalau memang harus, di samping nama-nama klasik itu, gunakan juga nama panggilan yang membumi. Mudahkan lebih dulu otak pembaca dalam memasangkan nama dan karakter.

Pengalaman baca buku sabdapalon nya Damar Sashangka, terlalu banyak nama Jawa menyerbu otak, jadi susah diingat.

Juga mengenai link antara para karakter dengan tokoh pewayangan. Banyak pembaca awam dengan tokoh2 wayang. Lo harus bisa memasukkan penjelasan yg memadai tanpa terjerumus infodump.

Anyway, ini pondasinya udah kuat. I'm excited as well :)


message 17: by Dan (new)

Dan T.D. (dantd) | 386 comments bang Jagatnata punya gambaran soal sejarah dunianya?
IMO soal nama gpp, nothing's wrong karena hey, everything can happen 100 years from now. Bisa jadi misalnya tahun 2050-2060an ada semacam cultural revival yang perlahan-lahan, atau justifikasi-justifikasi lain, dsb dsb dsb.

justru gue lebih penasaran gimana sejarah dunianya. menarik, PON masih ada. apa manusia bisa menghindar dari environmental disasters yang mengancam? gimana dengan global warming? terus nuklir? kemudian peta geopolitik dunianya gimana? kedudukan Indonesia di mata dunia? teknologinya? kenapa tahun 2100 masih ada buku saku, sedangkan tahun 2012 aja udah ada tren buku beralih jadi bentuk digital, koran di luar negeri udah ada yang online only, dan science marches on, bung.

IMO, karena bang Jagat ini milih tahun 2100 (alias pastinya gabungan antara sci-fi/alt-history + fantasy) harus ada benang merah yang jelas dari 2012 hingga tahun itu. sci-fi punya... semacam "syarat tambahan" dalam world buildingnya, btw :)


message 18: by Luz (last edited Dec 24, 2012 06:15AM) (new)

Luz Balthasaar | 364 comments If I may chip in, saya baru melihat kronologi dan daftar tokoh plus sistem naming. Saia belum liat premis dan konflik utama dan penokohan, selain shorthand bahwa mereka adalah titisan tokoh wayang.

Menurut saia, ini dah masuk detail dan kuat secara ide detail. Tapi dasarnya belum kuat.

Pertama, saia nggak tau ini cerita mau nyampaikan apa, Bang. Mungkin coba tulis premisnya dulu, apa 'message' atau 'poin' yang mau disampaikan cerita ini, sebisanya nggak lebih dari 1-3 kalimat.

Kedua, konflik, setting, dan karakter utamanya saia belum 'ngeh'. (Edit: Oke, mungkin Mahesa, ya? atau Kartawijaya? Saia ga yakin)

Saia juga ga masih ga yakin bagaimana hubungan mereka akan berjalan, dan apa yang menggerakkan. Tambah lagi ada terlalu banyak persoalan yang disampaikan di atas. Tiap persoalan bisa jadi konflik, dan itu baru di backstory.

Gimana kalau coba tuliskan konflik, setting, dan karakter utamanya, dalam batas 15 kalimat?

Kalau Bang Manik belum yakin bagaimana mengolah setumpuk gagasan ini menjadi outline sederhana, saia kira konsep ini belum cukup matang dalam arti akan nyaman dikerjakan. Bagus detailnya, mungkin, tapi penopangnya belum ada. Ibaratnya bikin orang, hidungnya dah jadi sempurna, tapi tulangnya nggak ada. The devil is in the details, but you have to be able to see the big picture first.

Edit 2: Saia dah baca 2 kali lagi. Message, saia belum dapat. Premis, pertentangan 2 kubu manusia super titisan para tokoh Mahabharatha.

Konflik, satu kubu mau makar terhadap NKRI. Kubu lain mau mencegah. (Hanya ini? After all the details and the buildup?)

Settingnya Jakarta, tipe Utopian Future.

Salah gak? Maaf, saia kayaknya susah nangkep karena gelontoran detailnya.


message 19: by Kristiyana (new)

Kristiyana Hary Wahyudi (dejongstebroer) | 758 comments hmmm,, menurutku kurang logis aja karena kisah Mahabharata aslinya bersetting di tanah India.. Bagaimana mungkin tokoh2nya (yg seolah2 nyata itu) "ber-awatara ria" di Indonesia???


message 20: by F.A. Purawan (new)

F.A. Purawan | 244 comments Ini pakai mahabarata yg sudah versi jawa :). Ada beberapa detail yg beda dari versi india. Contohnya antareja dan antasena different person, itu versi jawa :p


message 21: by Shiki (new)

Shiki (noirciel) | 878 comments Ngg...
Saya sejujurnya capek baca semuanya, jadi...
Coba deh, dijabarkan dalam tiga kalimat ^^;;;a

Serius, kalau panjang gini, tapi intinya nggak jelas, malah sulit lho jadinya orang mau suka atau attach


message 22: by R.D. (new)

R.D. Villam (villam) | 716 comments Hehehe... selamanya konsep akan terlihat mengerikan, membingungkan atau terlalu besar jika ceritanya belum mulai ditulis. Semakin dibahas sekarang akan semakin mengerikan dia. Hahahah.


message 23: by F.A. Purawan (new)

F.A. Purawan | 244 comments Namanya konsep ya begini ini. Besar, lebar, detailnya juga detail yg besar. It's a big picture untuk mewadahi sebuah ide yg melingkup bagai helicopter view. Belum ada POV tokoh di dalamnya, sebab konsep bisa di wujudkan melalui pengalaman tokoh manapun, dari sisi manapun sesuai missi cerita (missi pengarang)

Menurutku sih bagian terpenting dari konsepnya adalah pondasi layout settingnya udah jelas tergelar. Basic premis, bla bla bla udah ada. Pengarang tinggal memainkan.


message 24: by F.A. Purawan (new)

F.A. Purawan | 244 comments Ngelanjutin pembahasan, layout teknologinya mungkin perlu dielaborasi lagi? Tahun 2116, berarti 103 tahun setelah 2013. Kalau ngikutin moore's law, teknologi udah kayak apa? Bagaimana 'membenturkan'nya dengan konsep titisan? Siapa tahu teknologi pemindai DNA udah canggih banget even konsep titisan udah bisa ditelusuri dari situ?

(Frankly speaking, gue lebih nyaman not too distant future, lebih gampang membuatnya terasa 'real' bagi pembaca, untuk merelevansikan kontras antara kehidupan masa kini/ depan dengan karakter-karakter pewayangan. Karena pastinya nilai-nilai pewayangan akan digunakan dalam setting, bukan?)


message 25: by Dan (new)

Dan T.D. (dantd) | 386 comments ^nah ini yang saya tanyain dari tadi, om Pur. Aneh, kok tahun 2100 masih ada buku saku, dan dari tulisan bang Jagat asumsi saya tahun "2100" ini masih... seperti tahunnya aja yang 2100, dan sisanya masih masa kini -____-"

emang kalau ga diniatin bikin setting sci-fi yang ekstensif (belum lagi repotnya bikin sejarah dunia yang logis dan believable, mengingat kondisi Bumi masa kini yang penuh tantangan) mendingan "masa depan" yang ~5-20 tahun lagi aja, atau malah dari konsep yang diberikan bang Jagat masa kini/tahun ga disebut juga jadi kok.


message 26: by R.D. (new)

R.D. Villam (villam) | 716 comments Ho. Manipulasi DNA vs titisan?
Kayaknya bakal menarik tuh.
Bisa menjelaskan kenapa semua titisan orang penting di masa lalu bisa berkumpul di tempat dan waktu yg sama, bahkan setelah 3000 tahun! Semuanya ada di indonesia, di tahun yg sama!
Tangan dewata dan secret society yg telah berumur ribuan tahun kayaknya benar2 beraksi tuh mengatur semuanya. Hehe.


message 27: by Luz (last edited Dec 24, 2012 07:01PM) (new)

Luz Balthasaar | 364 comments Un... Om, "Konsep" nggak berarti besar, lebar, detail. Sebaliknya malah. Saia baca buku Rework-nya Fried & Hanson yang bilang kalau konsep itu mirip tulang. Dia sedikit dan sangat general. Akan tetapi, dia menggambarkan nyaris semua poin penting yang muncul di cerita. Ini sebabnya dia disebut big picture. Karena dia menggambarkan semuanya. Bukan karena dia penuh detail.

Kayak penelitian, poposalnya seringkali cuma 5-6 halaman, tapi dia gambarin poin-poin inti yang kira-kira ada di dalam karya itu.

Detail selalu menyusul belakangan.

Kalau konsep Bang Manik ini, ada bagiannya yang menurut saia udah beyond konsep. Banyak detail yang sebetulnya bisa difix belakangan, dan itu ditumpahkan disini.

Akibatnya, yang kita perdebatkan (dan bahkan cela dan sindir dengan asyiknya, saia lihat,) jadinya malah detail. Seperti teknologinya harus gini dan gitu. Apa DNA bisa main peranan apa nggak, apa mungkin gak nama-nama macam ini dipake di Indonesia.

Padahal detail macam itu nanti juga ga masalah sambil jalan. Frankly, selama dasarnya, konsepnya, kuat dan kelihatan jelas poinnya apa, ada yang namanya "acceptable breaks from reality."

Jadi saia rasa mungkin nggaknya teknologi A dan B lain-lain yang nggak vital, jangan dipusingin dulu karena ga akan selesai-selesai. Apalagi kalau sambil dicela dan disindir-sindir. Kerangkanya dulu deh.


message 28: by Dan (new)

Dan T.D. (dantd) | 386 comments hmm, ocedeh *berharap banyak gara2 jarang banget liat novel SF bikinan orang Indo*

duduk nunggu konsep yang disebut sis Luz aja :3


message 29: by Manikmaya (new)

Manikmaya | 1098 comments @Mbak Luz dan Oyabun

Inti ceritanya saya jabarin dalam tiga kalimat aja :P

1. Yang berdiri di pihak dewata belum tentu orang-orang yang lurus hatinya.
2. Satu masalah yang dianggap rampung pasti akan menghasilkan masalah baru yang lebih pelik.
3. Saudara itu hanya orang lain yang kebetulan punya hubungan darah, jangan heran jika saudara terkadang tak patut untuk dibela.


Yang menyatukan orang-orang ini cuma satu : 'Dibunuh atau Membunuh'


@Dan :
Saya ambil sedikit bagian dari Mass Effect di mana buku saku di sini adalah sebuah koleksi benda antik, tidak lagi digunakan untuk media tulis melainkan hanya sebagai 'pajangan'

Dan konsep sejarah dunianya:
1. 2050 - Departemen Kebudayaan mencanangkan program 'Menemukan Kembali Indonesia' - yang pada intinya membuat masyarakat kembali bangga menamai anak-anak mereka dengan nama-nama daerah sebagai identitas kebudayaan mereka.
2. 2080 - NASA mulai melakukan penambangan Helium-3 di bulan, sementara Indonesia mulai melakukan pembangunan reaktor nuklir.
3. 2060 - kendaraan anti-gravitasi seukuran mobil ditemukan, lalu lintas kendaraan dibagi menjadi dua : di darat dan di udara. Tentu saja kebanyakan masyarakat masih memakai transportasi darat.
4. 2100 - penduduk Indonesia mencapai jumlah 1 Milyar sehingga gedung-gedung pencakar langit banyak dibangun di perkotaan untuk menampung penduduk Indonesia yang semakin banyak. Masalah pengangguran mulai timbul, lebih-lebih hasil panen sangat jauh berkurang akibat perubahan curah hujan (30 % lebih sedikit di musim kemarau dan 15 % lebih banyak saat musim hujan).
5. 2100 - Laskar Pralaya dibentuk sebagai bentuk protes pada ketidakmampuan pemerintah menangani pengangguran.


message 30: by F.A. Purawan (new)

F.A. Purawan | 244 comments Luz, menurutku sih merancang konsep dalam bentuk fishbone juga gak salah, tapi gue mmg lebih suka yg seperti ini: besar lebar detail. Lets say ini pakai metode mindmap.

Dan mana yg benar, adalah yg works by sang pengarang itself. Buat gue sendiri, gue hanya ambil sekitar 20% dari konsep yg udah dibikin/ dipikirin. Sisanya mungkin gak actually keluar di cerita, tapi it gives depth into sang pengarang sendiri, bagian dari inner processnya untuk membentuk gambaran mental yg lengkap.

Mungkin buat yg gak familiar dengan sistem cerita pewayangan akan mudah dibuat overwhelmed dengan segitu banyak detail, sehingga even feel lost in the details. Sementara kita ingat bahwa dunia pewayangan yg luas itu dengan mudah dicabang cabangkan dengan banyak cerita carangan. Menurut gue, seni carangan itu baru bisa berhasil apabila para dalang sudah menguasai sang babon pakem cerita dengan lengkap.

Dan spekulasi yg diajukan temen2, menurut gue sih bukan sindiran atau upaya mengacak mindset si pengarang. Gue lebih liatnya as brainstorming. Toh Manik bakal bisa memfilter mana yg cocok.


message 31: by Xeno (new)

Xeno Prasetyo (princexeno) | 676 comments Nimbrung. ^^/
Ah, sepertinya koreksi dan saran sudah banyak disampaikan teman-teman.

Err... Tapi, kayaknya ada yang janggal di timeline perkembangan teknologinya tuh.

- Tahun 2080 Indonesia baru melakukan pembangunan reaktor nuklir (klo gak salah di berita ada yang bilang jauh lebih cepat dari itu).

- Tahun 2060 sudah ada mobil anti-gravitasi yang bisa digolongkan ke transportasi udara.

Hmm, apa gak ada yang kebalik, tuh? ^^a
Maksudnya mungkin tahun 2090 baru ada mobil anti-gravitasi kali, ya?


message 32: by Luz (last edited Dec 24, 2012 08:50PM) (new)

Luz Balthasaar | 364 comments Hmm... mindmap perasaan gak gini deh. Dia pake nodes dan keywords. Saia sering liat adek saia pake soalnya, jadi tau.

Dan saia bukan overwhelmed karena saia gak familiar pewayangan. Familiar kok. Hanya saja, memang ini kebanyakan detail, dan tema pewayangan bukan free pass untuk nggak bikin inti yang jelas.

Like u said yourself, kuasai 'babon pakem' dulu. Atau dalam bahasa anak sekarang, kuasai canon dulu baru fanfic. alias, kuasai INTI dulu baru hiasannya. Ini yang saia liat di konsep, malah banyak detail carangannya deh.

Dan bukan spekulasi dikau yang saia bilang menyindir kok. Bukan Dan punya juga.

Soal ini,

1. Yang berdiri di pihak dewata belum tentu orang-orang yang lurus hatinya.
2. Satu masalah yang dianggap rampung pasti akan menghasilkan masalah baru yang lebih pelik.
3. Saudara itu hanya orang lain yang kebetulan punya hubungan darah, jangan heran jika saudara terkadang tak patut untuk dibela.


Kalau dirangkum dikit lagi ini bisa menjadi message cerita.

Jadi ijinkan saia merangkumnya menjadi konsep yang mengandung premis, message, dan konflik.

Ini sebuah cerita berlatar Jakarta, era masa depan maju yang utopis. (Dan saia gak bilang utopis = buruk. Ini deskripsi tipe setting, menggambarkan setting masa depan yang maju dan more-less 'jalan', kalau bukan ideal. Ini lawan dari setting distopia yang disfungsi dan ancur-ancuran.)

Ceritanya tentang pertentangan 2 kubu manusia istimewa pengguna astra (kekuatan/senjata super) yang merupakan titisan para tokoh Mahabharatha. Satu kubu mau makar terhadap NKRI. Kubu lain mau mencegah.

Tokoh utamanya adalah Mahesa (atau kartawijaya, silakan diswap karena saia masih ga tau siapa tokoh utamanya), seorang atlet muda yang terlibat di dalam konflik antara dua kubu tersebut, dan merupakan salah seorang manusia istimewa.

Konflik kemudian akan mengungkapkan kebenaran-kebenaran bahwa ksaria dewa belom tentu baik, masalah akan melahirkan masalah baru, dan saudara sejati belum tentu berarti terikat oleh darah.


More-less tujuh kalimat, tidak 'wah', tetapi kita bisa lihat ini cerita ngarahnya ke mana, 'suasana'-nya gimana, berpotensi dijadiin apa, dengan target market apa. Konspirasi politik untuk dewasa bisa, aksi untuk remaja plus bisa, pertumbuhan karakter Mahesa sebagai seorang anak muda yang memelajari nilai ksatria, bisa juga.

Kalau udah tahu tulangnya, detailnya bisa kita sesuaikan. Mau untuk remaja? Jangan terlalu rumit latar karakternya, dan kalau bisa pembukaannya exciting. Mau dewasa? Suasana gelap ala film Noir mungkin bagus.

Sedikit usul, kalau ini settingnya "Alternate jakarta", maka nggak perlu ada penjelasan, "Departemen Kebudayaan mencanangkan program 'Menemukan Kembali Indonesia'" Toh ini Jakarta yang lain. Ya bisa-bisa aja namanya pada begitu. Sama seperti kenapa Scott Westerfeld bisa bikin Jepang ikut Perang Dunia I pake Pasukan Kappa di buku ini:

Goliath (Leviathan, #3) by Scott Westerfeld


message 33: by F.A. Purawan (new)

F.A. Purawan | 244 comments Exactly thats whats mindmaps do. Karakter2 itu jadi nodes, atributnya jadi keywords. Ya abis itu dirangkai jadi konsepnya spt Manik punya. Gue sering pakai. Dan memang kecenderungannya jadi ngelebar sesuai karakteristik mindmap yg kayak gurita. Beda sama fishbone yg sdh menuju ke satu arah fokus.

Anyway, semua adlh tools aja.

Back to konsep (cerita) yg kamu sdh summarykan, itu dia. Itulah salah satu arah yg bisa diambil oleh pengarang dalam men-storykan konsep (dunia) yg dia susun.

Selain ambil POV si Bayu, kan bisa juga kita ambil posisi cerita dari sudut POV Aswatama sebagai sang terkutuk abadi, atau sebagai Baladewa sang polisi kayangan,... Dari arah manapun, konsep dunia nya Manik sudah cukup mapan utk pengolahan selanjutnya.

Aku mmg belum lihat Manik mau garap dari mana. Dia belum nyodorin POV, baru semata latar belakang. Yg lengkap. Dan itu yg gue analogikan dengan babon pakem. Saat pengarang memilihkan POV dan plot design dll, itulah saat dia mulai membuat carangannya.

Anyway, gw lebih demen yg remaja, tapi noir. Hihihihi.... :)


message 34: by R.D. (new)

R.D. Villam (villam) | 716 comments Jagat,
Laskar dibentuk tahun 2100 dan dalam waktu 5 tahun udah bisa bikin TNI berantakan dan memaksa bikin wajib militer?
Bener2 sesuatu tuh.
*tambahin kecap* :-D


message 35: by F.A. Purawan (new)

F.A. Purawan | 244 comments Pakai Astra kan Vil :)

Kalo gak bikin lebih cepat, ya mendingan tuh Astra dilelang di ebay aja..... :D


message 36: by R.D. (new)

R.D. Villam (villam) | 716 comments Maksudnya bisa membunuh ribuan orang lebih cepat?
Spektakuler.

Ah. Oke. Mulai deh ditulis.
Dan jangan berhenti. :-)


message 37: by Manikmaya (last edited Dec 26, 2012 05:04PM) (new)

Manikmaya | 1098 comments PROLOG
Suatu hari di Tahun 2054


Ruangan itu berarsitektur kerajaan kuno, dibangun menggunakan batu-batu pualam berukir bentuk daun dan hewan – sesuatu yang disebut orang awam ‘gaya ukir Jepara’. Enam sosok pria bersenjatakan perisai bulat dan tombak tengah berjaga di sana. Sebuah selubung transparan berwarna keemasan menyelubungi bagian tengah ruangan itu – menyelubungi sebuah kitab kuno bersampul kulit.

Suasana di sana seolah tenang dan damai, dan tampaknya akan terus begitu sampai … kepala-kepala penjaga itu berjatuhan dengan tiba-tiba di lantai. Tidak ada jeritan, tidak ada erangan. Sunyi! Mereka terbunuh tanpa sempat berteriak. Dan setelah semua usai masuklah sesosok bayangan hitam tak berbentuk ke dalam ruangan itu. Berdiri ia sesaat di hadapan selubung itu sebelum selubung itu akhirnya pudar secara perlahan.


“Hmm, kitab Jiptasara …,” sosok bayangan itu mengambil sebuah buku tua bersampulkan kulit hewan yang tampak sudah usang, “Akhirnya!”

“Hei! Ada penyusup!” dua orang pengawal pria segera menghadang di depan pintu.

“Gandarwa? Apakah para dewata sudah hilang akal sehingga hanya tempatkan Gandarwa untuk menjaga benda ini?” kata-katany mengalun sinis sebelum akhirnya ia berubah menjadi segumpalan asap hitam dan terbang melampaui dua orang penjaga tadi.

“Penyusup itu kabur!” seru seorang dari antara mereka, memanggil kawan-kawannya untuk turut berdatangan ke tempat itu.

“Kau, lapor kepada Sang Hyang Bathara Indra! Sekarang!” seorang Gandarwa segera menunjuk seorang rekannya untuk melapor kepada sang raja kahyangan itu.

“Ada penyusup?” tiba-tiba seorang pria berpewarakan seram dan bersuara menggelegar bertanya kepada sekumpulan Gandarwa itu.

Seluruh Gandarwa itu langsung bersujud sembah di hadapan sosok itu, “Benar Prabu Baladewa!”

“Kalian lihat wajahnya?”

“Tidak Tuan!”

“Apa yang ia ambil dari sini?”

“Ki-kitab Jiptasara, Tuan!”

“Apa?” suara Baladewa semakin menggelegar, “Apa kerja kalian ini hanya tidur sampai-sampai penyusup itu berhasil mencuri benda sepenting itu?”

“A-ampun Tuan! Tapi musuh kita ini sangat sakti, sehingga kami tak sanggup melawannya.”

“Mana dia? Biar kuurus penyusup itu!”

“Bathara Candra sudah menemukan penyusup itu, Kakang Baladewa!” suara lembut seorang pria terdengar di belakang Baladewa, “dan sekarang sedang bertempur dengannya.”

“Kau turut juga, Adik Bathara?”

“Tidak, kali ini tidak. Penyusup itu telah lari ke Arcapada, dan jika aku masuk ke sana berarti aku telah mengingkari kehendak Sang Hyang Widhi.”

“Kalau begitu biar aku saja yang urus dia,” Baladewa segera terbang keluar dari kahyangan, lalu melintasi gerbang menuju dunia manusia.

*****

Di antara awan-awan putih yang berarak perlahan dalam tuntunan sang bayu, Baladewa menyaksikan seorang pria berkulit putih seperti pualam – Bathara Chandra, sedang beradu-tanding dengan sesosok bayangan hitam, berbentuk abstrak dan berukuran tiga kali lipat dari ukuran manusia. Baladewa tahu, Sang Dewa Bulan tidak akan sanggup melawan makhluk macam itu. Dari penampilannya yang seperti itu serta aura hitam yang mengelilinginya, Baladewa sudah tahu bahwa makhluk itu adalah sesosok Daitya – iblis berkekuatan setara dewata.

“Minggir Chandra!” Baladewa langsung melesat ke tengah medan laga dan menghantam makhluk itu dengan kedua tangannya. Makhluk itu mundur beberapa jengkal sambil meraung-raung dengan suara mengerikan, tapi baru sebentar saja makhluk itu sudah kembali tegak. Dua buah bulatan cahaya merah yang tampak seperti bola mata menatap Baladewa dengan tatapan yang boleh dibilang tidak ramah dan tidak bersahabat.

“Ayo maju!” seru Baladewa yang kembali terbang melesat ke arah makhluk itu, berniat menghadiahi makhluk itu satu-dua pukulan tambahan. Tapi kini alih-alih menghadiahi makhluk itu pukulan, Baladewa justru terhempas – dipukul oleh sebentuk tangan yang keluar dari sosok itu.

“Wuah! Kurang ajar benar!” amarah Baladewa mulai naik.

“Saudara Baladewa, jangan lawan dia sendirian! Berbahaya!”

“Bah! Berbahaya? Kurasa tidak cukup berbahaya jika aku gunakan ini!” Baladewa mengusap-usapkan kedua telapak tangannya sehingga kedua telapak tangannya kini berpendar cahaya keemasan. Ia kembali melesat dan menghantam makhluk itu dengan telapak tangannya dan menghempaskan makhluk itu cukup jauh.

KROAAAA!!! Makhluk itu membentuk dirinya menjadi sosok mirip Garuda Wisnu Kencana – wahana milik Bathara Wisnu, dan langsung menyerang Baladewa dan Bathara Chandra. Bathara Chandra tidak tinggal diam, dikeluarkannya sebuah cakram dari balik jubah putihnya lalu dilemparkannya ke arah sosok hitam tersebut. Cakram itu berhasil menggores sedikit leher makhluk tersebut namun dengan cepat bagian tubuhnya yang tercabik itu menyatu kembali.

“Sial!” dewa bulan itu segera melesat – menghindar dari serangan sang garuda. Tak terlalu berhasil, garuda hitam itu sukses menggores lengan kanannya.

“Astra … Nenggala!” suara Baladewa menggema lirih di keheningan malam. Dua sosok naga berwarna emas dan hitam tampak keluar dari kedua telapak tangannya, kemudian bersatu membentuk sebuah tombak tiga bilah (trisula) berwarna paduan hitam dan kuning emas di tangan kanannya. Begitu di tangannya sudah terpegang senjata itu, Baladewa segera melesat dan menghantam makhluk itu dengan kekuatan penuh sehingga koyaklah sebagian besar tubuhnya.

KAAAAAA!!! Makhluk itu mengerang seram lalu membalas serangan Baladewa dengan paruhnya, Baladewa yang sigap dengan serangan itu langsung menghindar dan menusukkan Nenggala ke leher makhluk itu. Tapi makhluk itu masih belum menyerah juga, sayap kirinya yang masih utuh mengepak keras dan menampar Baladewa sehingga ia terpelanting. Burung raksasa itu tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan bersiap menyambar Baladewa dengan cakarnya. Melihat saudaranya dalam bahaya, Bathara Chandra melempar kembali cakramnya ke arah burung raksasa itu. Cakram Sang Bathara sukses memutuskan sayap sang garuda. Baladewa yang telah bangkit kembali, segera melemparkan Nenggala ke arah kepala makhluk itu dan meledaklah tubuh makhluk tersebut.

Asap hitam membumbung ke langit, menciptakan suasana suram dan menyesakkan nafas bagi setiap makhluk hidup yang menghirupnya. Burung-burung di sekitar daerah itu mati lemas dan jatuh ke bumi. Serangga-serangga yang turut melintas pun tak luput terenggut nyawanya. Malam itu telah terjadi hujan, hujan bangkai-bangkai burung dan serangga.

Baladewa menghampiri tempat di mana sosok hitam itu tadi berada, di sana ia dapati sebuah kitab bersampul kulit hewan yang tampak telah usang. Dipungutnya kitab itu namun sebuah genggaman kuat mengejutkan dirinya. Genggaman itu adalah sebentuk tangan yang terbentuk oleh bayangan hitam.

“Sial! Nengga-!” Baladewa mencoba memanggil senjatanya yang teronggok tak jauh dari situ namun sosok hitam itu segera mengibaskan tangannya dan melemparkan Nenggala dengan jauhnya.

“Siapa kau!” bentak Baladewa.

“Ah, Prabu Baladewa. Tampaknya anda sudah melupakanku ya?”

Mata Baladewa dan Bathara Chandra membelalak menyaksikan sosok hitam itu perlahan-lahan membentuk sebuah rupa menjadi sosok yang mereka kenali. Sosok dari masa di mana Bharatayudha terjadi. Sosok sang putra Brahmana yang telah dikutuk jiwanya untuk mengembara selama 3000 tahun di dunia. Sosok yang bernama … Aswathama!

“Aswathama!” pekik Baladewa yang langsung melayangkan tinju tangan kirinya ke arah sosok itu. Tapi sosok itu dengan enteng menangkap pukulan Baladewa dan dengan tenaga yang luar biasa langsung menghempaskan Baladewa ke arah Bathara Chandra.

Bathara Chandra dengan sigap menangkap tubuh Baladewa yang terlempar ke arahnya. Baladewa pun dengan cepat turun dari pangkuan Bathara Chandra dan kembali berdiri menantang lawan.

Aswathama menyeringai licik, “Tanpa Nenggala, Prabu Baladewa, kurasa kau tak akan bisa mengalahkanku.”

“Sombong kau! Kau sudah bukan lagi seorang manusia. Kau sudah menjadi Daitya! Yang derajatnya bahkan lebih rendah daripada hewan!”

“Sebegitu berdosanyakah aku sehingga aku layak dikutuk seperti ini? Kurasa dari masa ke masa ada banyak orang yang bahkan lebih berdosa daripada aku. Tapi apakah kutuk yang sama terjadi pada diri mereka? Tidak! Tidak sama sekali! Aku membunuh orang-orang itu untuk membalaskan dendam ayahku! Tapi Pandawa dengan gusarnya langsung memburuku bagai binatang buruan dan Sri Kresna dengan kejamnya menjatuhkan kutuk ini padaku! Daitya? Oh ya! Mungkin aku kini Daitya, tapi karena itu …,” Aswathama tidak melanjutkan kata-katanya lalu dengan tersenyum mengejek memperlihatkan sebuah halaman buku yang disebut Jiptasara itu sudah bertorehkan tulisan yang tampak baru, ditorehkan oleh tinta hitam yang masih tampak basah.

Wahai Arcapada! Ucapkan salam kepada keturunan Bharata! Sebab anak-anak dari dua ayah akan melanjutkan kembali perseteruan yang telah lalu! Kepada Kurawa kuanugerahi harta kekayaan dan segenap Astra. Kepada Kurawa kukembalikan segala aji-aji yang telah terlupa dimakan zaman! Nusantara adalah tempat keturunan Bharata tumpahkan darah! Nusantara akan menjadi kuburan bagi keturunan Bharata yang tidak layak! Nusantara akan menjadi negara bagi keturunan Bharata – Hastina baru!

“Bajingan!” Baladewa mengumpat dan langsung menerjang ke arah Aswathama, tapi dengan tenang Aswathama langsung meletakkan kitab Jiptasara di depan dadanya lalu sebuah lubang hitam muncul dan menelan kitab itu ke dalam raga Aswathama.

“Sialan!” Baladewa melayangkan tinju tangan kanannya ke Aswathama, tapi pria itu berkelit lalu mencengkeram kepala Baladewa dan mengucapkan bait-bait mantra sebelum akhirnya menghempaskan dirinya ke daratan.

“Saudara Baladewa!” Bathara Chandra terbang melesat ke bawah untuk menangkap tubuh Baladewa yang terjatuh bebas ke daratan Arcapada.

“Mau ke mana, Bathara Chandra?” Aswathama tiba-tiba sudah berada di samping dewa bulan itu.

“Astaga!” Bathara Chandra segera berkelit, menghindar dari tangan Aswathama yang hendak mencengkeramnya.

“Kenapa Bhatara Yang Agung? Takut terjadi apa-apa dengan dirimu? Bukankah kalian semua itu abadi? Kenapa mesti takut oleh sentuhan seorang Daitya!”

“Iblis! Apa yang kaulakukan pada Baladewa?”

“Aku? Bukan apa-apa. Mungkin hanya sedikit mengacaukan ingatannya, ha ha ha!!”

“Iblis!”

“Apakah seorang Bhatara hanya bisa mengutuk?” ledek Aswathama.

“Chandra! Awas!” sesosok Bathara dari Kahyangan tiba-tiba berseru dari atas mereka, Bathara Chandra langsung terbang ke arah lain, sementara Aswathama yang terlambat menghindar langsung dihujani ribuan halilintar dari sekumpulan awan mendung yang menggantung di atas kepalanya sedari tadi tanpa ia sadari.

*****
“Ke mana perginya dia?” tanya seorang Bathara kepada Bathara Chandra ketika kakinya menjejak bumi.

“Aku tidak tahu, Kanda Bhatara Indra. Seharusnya ia jatuh di sini.”

“Mengenai kitab Jiptasara?”

“Aswathama menelannya!”

“Tunggu! Aswathama? Aswathama putra Rsi Drona?”

“Ya! Aswathama yang sama, yang dikutuk Sri Kresna untuk terus mengembara jiwanya selama 3000 tahun!”

“Astaga, itu berarti …,” kata-kata Bhatara Indra tak sempat selesai, seorang pria seram berkulit merah dan berjanggut hitam dengan pakaian dominan warna hitam mendekat ke arah Sang Raja Dewa.

“Bhatara Indra, saya punya kabar buruk.”

“Katakan!”

“Atman Seratus perkasa keturunan wangsa Kuru, Pandawa, dan anak-anak mereka telah menitis kembali ke Arcapada.”

“Ya ampun! Itu berarti takdir telah dirusak!” Bhatara Chandra menatap ke arah kota di mana segenap bangunan bertingkat – tempat tinggal manusia – berdiri megah di kota yang gemerlapan.

“Apa langkah kita selanjutnya? Memohon Bathara Wisnu untuk menitis kembali sebagai Awatara?” tanya pria berkulit merah itu.

“Tidak! Kita tidak akan memohon Bathara Wisnu untuk menitis kembali!”

“Lalu?”

“Kita akan menitiskan Baladewa!”

“Baladewa?” ujar Bathara Chandra dan pria berwajah merah itu tak percaya.

“Ya!”


message 38: by Manikmaya (new)

Manikmaya | 1098 comments Sosok lain mendekat ke arah tiga dewata yang sedang berbincang serius itu. Pria itu berdehem sejenak sebelum akhirnya mulai bicara, “Baladewa telah dikacaukan pikirannya oleh Aswathama. Jika kita hendak menitiskan ia kembali sebagai Awatara, kita harus menemukan Nenggala terlebih dahulu!”

“Ah, Narada. Apakah kau bersedia mencarikan Nenggala bagi Baladewa?”

“Hamba bersedia saja. Tapi hamba juga mohon berkah dari para dewa untuk para Pandawa. Sebab Aswathama telah menurunkan segala berkah dewata kepada Kurawa, tapi tidak sedikit pun kepada Pandawa. Jika Aswathama sukses mengangkat derajat Kurawa pada masa ini maka bencana yang kita takutkan selama ini tak akan terhindarkan lagi!”

“Aku mengerti akan kekhawatiranmu, Narada. Tapi satu-satunya yang bisa kita lakukan sekarang … hanyalah memberikan ini kepada mereka,” Bathara Indra melemparkan sebuah bungkusan kepada Bathara Narada, “Bawalah itu kepada para Pandawa. Mereka akan membutuhkannya, selagi Baladewa belum mendapatkan kembali Nenggala.”


message 39: by Manikmaya (last edited Dec 26, 2012 05:19PM) (new)

Manikmaya | 1098 comments BAB I : TENGGARA
Republik Indonesia, 2115 M.


Malam telah turun di Tenggara, sebuah kota baru yang dibentuk di provinsi Jawa Barat. Seperti namanya – Tenggara, kota ini berada sebelah Tenggara kota Jakarta. Kota metropolitan yang seolah adalah surga, tapi juga menyimpan segudang masalah.

Seorang pria bertubuh kekar, berbalut jaket hitam selutut berjalan di tengah keramaian kota Tenggara. Mobil-mobil hilir mudik di jalanan beraspal juga di udara. Suara musik terdengar berdentum-dentum di pertokoan yang berjajar di sepanjang jalan. Beberapa wanita tuna-susila menjajakan diri pada setiap orang yang mereka temui, termasuk kepada pria itu.

“Tidak!” jawabnya tegas sembari melambaikan tangan, tanda ia tidak bersedia.

Kakinya terus melangkah hingga ia tiba di muka sebuah gang sempit dan gelap. Dimasukinya gang itu tanpa rasa ragu sedikit pun. Tampak di beberapa sisi gang, sekelompok muda-mudi bergaya punk sedang memadu kasih. Pria itu tak mempedulikannya, ia menaiki sebuah tangga di sisi sebuah bangunan. Terus naik hingga ia tiba di lantai 4 bangunan tersebut.

Lantai 4 bangunan yang ternyata merupakan apartemen murah, tempat tinggal yang bagi mereka yang mendamba untuk mencicipi gemerlap perkotaan tapi tak punya cukup uang untuk menghuni suatu tempat tinggal yang layak. Dinding apartemen ini berlumut dan retak di sana-sini. Hidung yang peka akan menangkap aroma apak yang luar biasa kuatnya, kombinasi antara kondisi tempat itu yang lembab dan tumbuhnya cendawan-cendawan di langit-langitnya.

Pria itu berhenti di depan sebuah kamar bernomor 4E. Diketuknya pintu kamar itu perlahan.

“Siapa?” tanya seseorang dari dalam kamar itu, tapi sang pria tidak menjawab.

“SIAPA?” pria di dalam kamar itu membuka pintu dengan kasar sembari menghardik sang pengetuk pintu dengan pongahnya.

Sang pria yang mengetuk pintu tidak menjawab apa-apa selain mengambil sebuah benda mirip selembar kaca tipis. Ia goyangkan benda itu sedikit dan muncullah sekumpulan tulisan pada kaca tipis itu :

Complete Name : Ranta Janggala
Position : Debt Hunter
Satyawati Finance Corp.


Dan langsung pucat-pasilah wajah pria penghuni apartemen itu. Dipersilakannya tamu yang tidak ia harapkan itu untuk memasuki tempat tinggalnya dengan penuh keterpaksaan. Sang pria bernama Janggala itu tersenyum penuh kemenangan dan langsung memasuki apartemen itu tanpa ragu-ragu.

“Anda punya tempat tinggal yang menawan Pak Broto,” ia menyindir sang tuan rumah atas kondisi tempat tinggalnya yang kumuh, bau, dan jorok. Kecoa berlalu-lalang di lantai kamarnya yang buram karena tidak pernah disaput kain pel, piring kotor bertumpuk di mana-mana – tak pernah dicuci tampaknya.

“Terima kasih,” sang tuan rumah menjawab getir dengan senyum yang kentara sekali dipaksa-paksakan, “Ngomong-ngomong … ada yang bisa saya bantu, Pak Janggala?”

“Tentu saja ada, Pak Halim. Ini soal …,” Janggala memainkan benda mirip kaca tipis itu tadi – mini tablet – dan seketika benda itu menampakkan sejumlah besar deretan angka yang bermuara di satu jumlah, “daftar hutang anda.”

“Gila! Mampus aku! Habislah aku!” pria bernama Halim itu bergumam ngeri dalam batin, diliriknya tamunya itu dengan takut-takut, seolah tamunya itu adalah seorang iblis pencabut nyawa.

Tapi memang pria bernama Halim itu punya alasan untuk takut. Sudah setahun ini ia telah lari dari kejaran para penagih hutang yang terus memburunya. Ya! Ia diburu para penagih hutang atas hutangnya yang telah menggunung. Salah memang ia menempuh hidupnya dulu. Salah memang ia habiskan duitnya untuk bermain perempuan. Salah memang jika ia dahulu tidak sadar bahwa ia hidup mewah di atas gunung hutang sampai-sampai ia lupa bahwa ia tak sanggup membayar itu semua.

Lari dari kejaran para debt collector – penagih hutang – menjadi solusi terakhir bagi dirinya. Ia tinggalkan anak-istrinya di suatu tempat dalam lindungan keluarga dan kerabatnya sementara ia sendiri pergi dari satu kota ke kota lainnya. Ia bekerja apa saja asalkan bisa hidup, bahkan mencuri ataupun menipu pun ia bersedia lakukan itu demi mendapatkan cukup uang untuk terus hidup dan bergerak dari satu kota ke kota lainnya. Tapi kini ia berhadapan dengan momok terbesar para penghutang yang mangkir dari kewajibannya, debt hunter – debt collector dengan kemampuan khusus dalam bidang investigasi dan pelacakan orang hilang. Kemampuan investigasi mereka dapat disetarakan dengan kemampuan seorang penyelidik kepolisian, dan mereka juga terkenal tak segan-segan merenggut apa saja dari seorang penghutang yang mangkir.

“Jadi … berapa duit yang anda punya sekarang?” Janggala bertanya dengan intonasi yang tenang, datar, namun terasa mengancam bagi Halim.

“A-anu, saya baru pu-punya uang satu juta.”

“Wuah! Hutang Bapak ini empat milyar kok Bapak mau bayar cuma satu juta?” Janggala menunjuk ke angka yang berada di baris paling bawah – yang menunjukkan nominal Rp. 4.310.400,-.

“A-ampun Pak! Saya janji! Saya akan bayar!” Halim bersimpuh di hadapan Janggala dan dengan penuh menghiba memohon-mohon tambahan waktu.

Janggala hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kalau Bapak memang berniat membayar, kenapa harus tunggu sampai setahun?”

“I-itu karena saya butuh waktu untuk mengumpulkan uangnya, Pak.”

“Oh ya?” Janggala bangkit berdiri dari kursinya dan mengamati sekelilingnya, tampaknya ada sesuatu yang tengah ia cari.

“Punya barang berharga?” tanya Janggala.

“A-ada Pak. Saya punya TV!”

“Yang lain?”

“Cu-cuma itu, Pak!”

Seulas raut kecewa tampak muncul di wajah Janggala namun tak berapa lama kemudian senyum sinisnya kembali terkembang, “Kalau begitu … Bapak bayar saja dengan nyawa Bapak!”

“Hah? Maksudnya?”

“Usia Bapak masih muda, masih 30 tahun. Sedikit perokok tapi secara umum anda sehat! Organ tubuh anda masih bagus! Mahal kalau dijual!”

“A-apa? Anda tak bisa melakukan itu! Negara ini adalah negara hukum! Ini merupakan suatu pelanggaran hukum!”

“Hooo? Seorang pelanggar hukum berbicara soal hukum? Apa telingaku tak salah dengar?”

“Saya memang pelanggar hukum Pak! Tapi jika anda dengan semena-mena mencabut nyawa orang lain, saya yakin anda takkan bisa lolos dari hukum!” Halim mencoba mengancam Janggala dengan sedikit pengetahuan hukum yang ia dapatkan saat dirinya masih berjaya dahulu.

“Saya rasa polisi tidak akan ambil pusing dengan kematian seorang bajingan di sebuah tempat kumuh seperti ini. Polisi kita … lebih tertarik untuk kasus-kasus besar dan fenomenal, lebih tertarik lagi kepada kasus-kasus yang bisa hasilkan uang. Polisi tak akan pernah ambil pusing atas kematian anda. Peduli setan mereka pada anda, jadi … saya sarankan anda segera serahkan nyawa anda!” Janggala segera menarik keluar sepucuk pistol dan menodongkannya ke arah Halim.

“Tidak!” Halim segera merogoh bagian belakang celananya dan menarik keluar sepucuk pistol pula.

DOR! Halim menembak lebih dulu, tapi Janggala berkelit dan langsung mencengkeram tangan Halim lalu memelintirnya sehingga jatuhlah pistol sang tuan rumah ke lantai. Ditodongkannya pistol miliknya ke tengkuk Halim dan tak sampai lima detik sebuah letusan pistol merenggut nyawa pria malang itu.

Jasad pria malang itu jatuh terbalik di lantai yang kotor penuh debu, Janggala menarik sebuah kubus kaca berwarna biru dari balik mantelnya. Sebuah lingkaran merah berpendar-pendar di bagian atas kubus tersebut. Janggala menekan lingkaran merah itu dan kubus itu segera berubah menjadi sebuah kotak plastik pipih berwarna hitam. Dibukanya kotak pipih itu dan di dalamnya terlihatlah sekumpulan pisau bedah yang biasa dipakai para dokter.

“Saatnya ‘panen’!” Janggala segera membelah dada dan perut pria malang itu dengan pisau bedahnya.

*****

Janggala menarik keluar tiga kubus lagi dari balik mantelnya. Ketiga kubus itu berubah menjadi kotak berpendingin hidrogen yang umum dipakai untuk mengawetkan organ tubuh, kotak ini lazim disebut portable cyro box (PCB). Janggala menarik keluar hati, jantung, pankreas, dan ginjal milik jasad yang tadinya bernama Halim itu lalu memasukkan semua organ itu ke dalam tiga kotak portable cyro box yang ia bawa dan ia letakkan agak jauh dari tempatnya membedah Halim. Sesudah itu selesai ia lakukan, ia keluarkan sebuah sarung tangan baja dari balk mantelnya, ia pasangkan sarung tangan itu di tangan kanannya lalu dicengkeramnya wajah jenazah sang korban.

“Wihaya!” Janggala berujar lirih sebelum jasad itu tiba-tiba diselubungi oleh nyala api yang membara yang dalam dua detik langsung padam. Apa yang tersisa dari jenazah Halim tidak lain hanyalah seonggok abu hitam yang semakin menambah kotor lantai apartemen itu.

Janggala kembali bangkit, berjalan ke meja di mana ia meletakkan ketiga PCB itu lalu dengan langkah tenang keluar dari apartemen sang ‘korban’, menuju kembali ke jalanan yang ramai. Tc-earphone - sebuah benda mirip earphone yang berfungsi sebagai telepon – yang menempel di telinga kirinya ia aktifkan.

“Misi selesai! Tebusan sudah kudapat! Siapkan komisinya!”


message 40: by Erwin (last edited Dec 26, 2012 09:15PM) (new)

Erwin Adriansyah | 634 comments Iseng.

Complete name tuh nggak sepenuhnya salah, cuma dia rada aneh dan nggak lazim.

Yang lazim tuh Full Name.


*Edit*

Tadi udah baca prolognya sekilas dan segelintir bab 1. Menurut gw, sangat berpeluang membingungkan pembaca yang nggak terlalu paham sama bharatayudha. Terlalu banyak menyebut istilah/hal asing yang terlalu spesifik. Dan nama-nama mereka nggak memudahkan pembaca untuk "masuk" ke dalam cerita, setidaknya itulah yang gw alami.

Dan terus terang, "KROAAA", "KAAA" dan "DOR" dengan huruf kapital itu bukan penulisan yang baik, benar dan enak.

Come to think of it, mengingat kaca tipis itu berfungsi kurang lebih kayak kartu nama, bagian ini tuh terasa nggak enak:

Complete Name : Ranta Janggala
Position : Debt Hunter
Satyawati Finance Corp.


Kartu nama umumnya nggak make bagian "full name", "position" atau apa. Biasanya langsung aja nama dan jabatan. Kurang lebih kayak gini:

Ranta Janggala
Debt Hunter
Satyawati Finance Corp.


*ketahuan sering ngeliatin kartu nama orang padahal sendirinya nggak punya kartu nama, heuheuheu*


Again, debt hunter? Ini istilah legit? Gw kok familiarnya sama debt collector atau sesekali denger debt buyer. Debt hunter ... dia memburu ... utang?

Debtor Hunter somewhat makes sense, karena dia memburu si pengutang. Debt hunter, not so much. Konteksnya dalam bahasa Inggris jadi membingungkan karena seolah dia sangat ingin punya utang dia bahkan sampai memburu utang. Again, mungkin ini karena gw nggak familiar sama debt collecting process.


Daan, entah kenapa nama Tenggara itu terasa nggak pas, mungkin karena dia bukan Jakarta Tenggara, melainkan sebuah kota di Jawa Barat. Mungkin itu sebabnya Depok disebut Depok dan bukan ... Selatan, terlepas dari letaknya yang di sebelah selatan Jakarta.


Segitu aja dulu komen gw. Semoga bermanfaat.


message 41: by F.A. Purawan (new)

F.A. Purawan | 244 comments Hmmmm. Aku ada komen, spesifik adegan. Kukomen langsung ke email aja deh. Salam.


back to top