Goodreads Indonesia discussion

782 views
Buku & Membaca > Abidah El Khalieqy: "Saya cinta kyai dan pesantren."

Comments Showing 1-45 of 45 (45 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Dikutip dari Koran Tempo (Edisi 15 Februari 2009)

Tamu
"Saya Cinta Kiai dan Pesantren"

Abidah El Khalieqy
# Sastrawan

Abidah El Khalieqy tidak hanya dikenal sebagai penyair, tapi juga novelis yang produktif. Lima novel telah ditulisnya, selain buku kumpulan puisi dan kumpulan cerita pendek. Salah satu novelnya, Geni Jora, memenangi Lomba Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta 2004. Perempuan kelahiran Jombang, 1 Maret 1965, yang mulai menulis sejak usia 12 tahun ini pernah memperoleh penghargaan seni dari Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (1998). Tahun lalu ia menerima Ikapi dan Balai Bahasa Award.

Melalui karya-karyanya, istri penyair Hamdy Salad ini menyuarakan persoalan perempuan. "Dalam benak saya, perempuan di Indonesia masih termarginalkan. Jadi, menurut saya, kondisi perempuan sudah sangat parah," ujar ibu tiga anak ini.

Namanya melambung setelah novelnya, Perempuan Berkalung Sorban (2001), diangkat ke layar lebar oleh sutradara Hanung Bramantyo. Apalagi setelah film tersebut menuai kontroversi. Beberapa adegan di film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) dianggap melecehkan pesantren dan kiai.

"Mana yang melecehkan? Ini adalah kritik bagi kiai dan pesantren yang kami cintai," kata perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Putri Modern Persis, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, ini.

Di kediamannya, kawasan Maguwoharjo, Yogyakarta, Abidah menerima wartawan Tempo Muhammad Syaifullah untuk sebuah wawancara, Rabu lalu. Berikut ini petikannya.

Bagaimana proses kreatif Perempuan Berkalung Sorban?

Pada awalnya ini ide YKF (Yayasan Kesejahteraan Fatayat), LSM milik Nahdlatul Ulama Yogyakarta, untuk membuat suatu novel tentang pemberdayaan perempuan. Maka dirancang novel Perempuan Berkalung Sorban ini dan saya sebagai penulisnya.

Tujuan menulis PBS?

Novel ini untuk mensosialisasi hak-hak reproduksi perempuan yang sudah diratifikasi oleh PBB. Jadi saya ketika itu diminta mengadakan riset tentang hak-hak reproduksi perempuan selama hampir dua tahun. Riset lapangan untuk memberi setting tempat dan yang fisik-fisik selama tiga bulan, di Kaliangkrik, Kajoran, Magelang, Jawa Tengah. Di satu kampung ada banyak pesantren salaf. Lokasinya di pegunungan. Saya juga menemukan orang-orang yang naik kuda.

Sesudahnya, mengikuti seminar-seminar yang dilakukan oleh YKF selama hampir dua tahun, kemudian saya menulis selama sembilan bulan. Karena kontraknya hanya satu tahun, dua tahun saya lakukan di luar kontrak.

YKF dan Ford Foundation yang membiayai proyek ini. Saya mau bekerja sama dengan Ford Foundation karena saya sebagai sastrawan dalam menulis, apa isinya, saya memiliki otoritas pribadi. Mereka tidak boleh ikut campur tangan. Sebetulnya semua isi dan teknik penulisan murni dari saya sebagai sastrawan. Ini memang sifatnya pesanan soal reproduksi perempuan. Tetapi kenapa saya mau--yang sebagai sastrawan memiliki independensi--karena yang diinginkan mereka adalah yang selama ini tema-tema yang menjadi sorotan saya. Kebetulan misi dan sorotannya sama.

Apa yang Anda sampaikan dalam PBS?

Saya ingin perempuan memiliki kemandirian, perempuan harus menguasai ilmu. Ilmu pengetahuanlah yang akan menjawab nasib perempuan. Derajat ditentukan dengan ilmu.

Kenapa memilih tema feminisme?

Awal-awal saya kuliah, saya aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan kemudian saya tidak tertarik masalah politik. Ketika itu, isu tentang feminisme yang ditulis dalam novel seperti Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Sadawi dibahas di mana-mana. Saya juga mulai tertarik untuk membahas persoalan perempuan.

Dan dalam benak saya, perempuan di Indonesia masih termarginalkan. Jadi, menurut saya, kondisi perempuan sudah sangat parah. Memang harus dicari akar permasalahannya dan disuarakan sekeras-kerasnya. Artinya, harus ada revolusi pemikiran bahwa ini adalah sesuatu yang sangat mendesak. Selama ini soal perempuan memang sudah banyak ditulis, soal penderitaan mereka dan keterpinggiran mereka. Tetapi bagaimana solusi ke depan untuk menyikapi kondisi seperti ini kan belum ditulis.

(bersambung)


message 2: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Bagaimana Anda menanggapi kontroversi PBS?

Ini lucu dan ironi. Kenapa? Yang dikontroversikan mereka itu, ya, itu yang dikritik dalam film dan buku (novel). Anehnya, para pengkritik tidak mau nonton. Mereka tidak tahu sebetulnya dialog itu sebuah dialog (dalam novel dan film).

Misalnya adegan oleh para pelakon protagonis dan antagonisnya. Dalam film tersebut ada antagonisnya yang selalu menjawab. Contohnya, dalam Islam perempuan tidak boleh naik kuda. Menurut (dalam dialog) Annisa, perempuan boleh naik kuda. Zaman Nabi saja perempuan boleh naik kuda. Jadi dalam film itu adalah dialog antagonis dan protagonis. Mungkin yang mengkontroversikan tidak menyimak dialog yang katakan Annisa (tokoh protagonis dalam film PBS yang diperankan Revalina S. Temat).

Dalam PBS, yang mengatakan perempuan tidak boleh bepergian kecuali ditemani muhrimnya, meskipun untuk belajar, itu dikatakan oleh Kiai Hanan, yang menjadi oknum kiai yang antagonis. Ini pribadi, seorang manusia yang mengatakan, meskipun kiai, dia adalah manusia biasa. Meskipun dia kiai, bisa juga menjadi oknum.

Untuk memahami PBS dengan teori dekonstruksi, bahwa sesuatu yang baik itu tidak hanya bisa dimunculkan oleh tokoh protagonis, tapi antagonis pun bisa. Kalau yang disampaikan Kiai Ali Mustafa (KH Ali Mustafa Yaqub, imam besar Masjid Istiqlal), mestinya yang diucapkan kiai itu harus yang baik-baik. Kalau itu, semua orang juga sudah tahu. Tapi dalam film itu ada kiai yang seperti itu. Ini yang kita kritik dalam film PBS. Ini kan juga kritik untuk kiai yang seperti itu.

Kalau berani mengkritik dan berkukuh tidak mau menonton, kan (dia) tidak tahu. Dalam teori seni, ada teori dekonstruksi. Kalau saya dikatakan melecehkan pesantren, di mana letak melecehkannya? Tokoh utamanya kembali ke pesantren kan, untuk memperbaiki pesantrennya.

Apakah film ini melecehkan Islam?

Tidak. Ini tidak melecehkan Islam. Justru film dan novel PBS mengkritik para kiai dan kitab kuning, khusus untuk hadis-hadis misoginis, hadis-hadis yang berkarakter menyudutkan perempuan. Di beberapa pesantren salaf, masih ada buku-buku yang diajarkan, seperti Kitab Uqudullujain fi uqudizzujain. Seakan-akan kitab-kitab seperti Riyadlussholihin, yang kesahihannya sudah dijamin, malah dikesampingkan, meskipun juga diajarkan dengan porsi sedikit. Yang akan kita kritik, ya, itu. Kenapa mengkritik para kiai dan kitab kuning? Karena saya cinta mereka, mosok saya bisa membiarkan ini berlanjut turun-temurun dari abad ke abad. Pesantren adalah satu institusi tempat pola pikir dari zaman ini dibentuk. Karena pesantren merupakan agen perubahan untuk zaman ini. Kalau mereka melakukan seperti itu, mereka bisa menciptakan pola pikir yang keliru dari zaman ke zaman. Novel PBS menawarkan upaya reinterpretasi Al-Quran dan rekonstruksi fikih.

Maksudnya?

Bahwa fikih kita yang diajarkan di pesantren sudah kedaluwarsa. Fiqih merupakan hukum-hukum yang menjawab tantangan zaman dari para ulama. Dan zaman ini selalu berubah. Tetapi fiqih kita dari zaman tabiuttabiin sampai sekarang tidak berubah. Itu yang perlu direkonstruksi.

Kenapa sampai sekarang perempuan masih tertindas? Karena ada referensinya, ketika para ulama mengartikan "arrijalu qowwamuna alannisa". Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Benarkah kata qowwamuna di sini berarti pemimpin? Ternyata para tokoh feminis Muslimat, baik dari Pakistan, Maroko, maupun Saudi, melakukan penelitian dan terbukti kata-kata itu dalam kamus kuno bukan berarti pemimpin. Artinya adalah pembimbing atau mitra sejajar.

Yang dipakai oleh orang Arab sendiri dari kata qoum, yang berarti pembimbing, teman sharing, mitra sejajar. Tapi selama ini para ulama, terutama yang menafsirkan Al-Quran, masih mengartikannya sebagai pemimpin. Itu sudah dari abad ke abad. Ini jadi landasan bagi para laki-laki menganggap dirinya sebagai pemimpin. Maka perempuan menjadi kelas dua, konco wingking (teman di belakang). Pola pikir ini membentuk pola pikir zaman dan ini membentuk kebudayaan.

Adakah adegan yang tak ada di novel tapi ada di film?

Ada beberapa: pembakaran buku, adegan rajam. Kalau dialog dalam bahasa Arab, untuk keperluan penggambaran pesantren biar lebih hidup.

Bagaimana kalau film dan novel ditarik dari peredaran?

Sebelum di-launching, film PBS kan sudah lulus sensor melalui LSF (Lembaga Sensor Film), sedangkan di LSF kan juga ada unsur dari MUI, ya, para kiai. Dan itu tidak disensor.

Apa ada permintaan novel PBS ditarik?

Tidak. Banyak yang menganggap dilarang. Malah sudah 13 ribu eksemplar dibagikan. Sekarang dicetak lagi. Dalam tiga minggu sudah lebih dari 50 ribu kopi terjual. Tapi royalti belum dibicarakan, sampai sekarang belum ada.

Apa pengaruh pesantren dan pendidikan Anda di Universitas Islam Negeri dalam tulisan?

Pemikiran dari pesantren yang saya serap, saya berawal dari pesantren dan kuliah di UIN (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta). Mungkin saya kesulitan menulis PBS jika tidak didasari dua institusi itu. Basis pesantren memudahkan saya mengetahui karakter pesantren.

Bagi Anda, lebih sulit mana, menulis novel atau puisi?

Menulis novel lebih bebas mengekspresikan ide. Menulis puisi itu mewah; memerlukan energi yang luar biasa. Butuh kesiapan, intensif dengan refleksi. Lebih berat menulis puisi. Dari sekian gagasan harus dikristalkan dengan beberapa kata. Tetapi banyak yang mengkritik novel saya puitis.

BIODATA

Nama: Abidah El Khalieqy

Lahir: Jombang, 1 Maret 1965

Pendidikan: Fakultas Syariah IAIN (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 1990

Pekerjaan: Penulis

Status: Menikah (suami Hamdy Salad, dengan tiga anak)

Karya:

* Ibuku Laut Berkobar (puisi, 1997)
* Menari di Atas Guntingv (cerita pendek, 2001)
* Perempuan Berkalung Sorban (novel, 2001)
* Atas Singgasana (novel, 2002)
* Geni Jora (novel, 2004)
* Mahabbah Rindu (novel, 2007)
* Nirzona (novel, 2008)
* Mikraj Odyssey (cerita pendek, 2009)



message 3: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments sungguh aneh. Belum ntn filmnya tp sdh bisa memberikan kritik :D


message 4: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Yups...makanya aku pas nonton filmnya malah jadi penasaran ma bukunya, Mbak...seperti ada yang kurang. Untung dibuku kejawab...aku lebih suka bukunya lebih banyak dialog yang bagus tapi film juga membantu memvisualisasi tokoh-tokohnya...meski endingnya agak didramatisir yah...hehehehe.


message 5: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments Hehe.... kalo aku memilih tidak membaca dan tidak menonton filmnya


message 6: by Roos (last edited Feb 15, 2009 07:14AM) (new)

Roos | 2991 comments Yah gak pa-pa Mbak Nurul...:D


message 7: by Rika (new)

Rika | 47 comments kalau aku jadi pengen nonton dan baca bukunya, tapi kalo bisa gratisan aja hehehehe..


message 8: by Femmy, Pendiri GRI (new)

Femmy | 647 comments Mod
sayang rika belum baca ataupun nonton. padahal aku pengen tanya pendapat rika, sebagai jebolan pesantren jombang juga :-)


message 9: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments aku mogok baca bukunya :D
Tetapi aku kasih 3 bintang utk filmnya.


message 10: by Sylvia (new)

Sylvia (sylnamira) | 512 comments Kalo aku udah nonton filmnya *ih sapa yg nanya* :D dan sedang menunggu bukunya yg msh di jalan.. semoga spt Roos jg dapet pencerahan.


message 11: by Rika (new)

Rika | 47 comments Femmy wrote: "sayang rika belum baca ataupun nonton. padahal aku pengen tanya pendapat rika, sebagai jebolan pesantren jombang juga :-)"

femmy mau ngasih bukunya? aku malas beli karena baca yang geni jora aja mogok tuh..tanya aja mbak endah hihihi


message 12: by Femmy, Pendiri GRI (new)

Femmy | 647 comments Mod
aku juga belum punya bukunya :-p


message 13: by Rika (new)

Rika | 47 comments Nurul wrote: "Hehe.... kalo aku memilih tidak membaca dan tidak menonton filmnya"

kenapa mbak nurul? *jadi pengen tau*


message 14: by Rika (new)

Rika | 47 comments Femmy wrote: "aku juga belum punya bukunya :-p"

beli fem..nanti ceritain yah..hehehe..


message 15: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments @Rika: Hmmm...kenapa ya? Jadi terpaksa mencari2 alasan nih jadinya. Tapi kira2:
1. Saya punya kecenderungan tidak suka ikut arus (ato klo ikut arus justru telat hehehe....).
2. Genre feminisme agama memang gak pernah suka soalnya feminismenya terasa gak kemana2, mentok sendiri. Sepertinya cuma jadi harapan2 semu saja. Hehe, tapi tentu saja ini pemikiran pribadi saya dari jumlah sampel yang baru sedikit.

Anyway, saya udah baca juga reviewnya Roos, Dahlia, dan Jati ya kalo gak salah. Masih kekeuh...gak tertarik. Seperti nomer 1 tadi, barangkali respon saya ntar telat banget. Mohon jangan diikuti ya... :D


message 16: by Rika (new)

Rika | 47 comments Mbak nurul
1. Hampir sama dong dengan saya.. Kalo saya suka (sok) nggak ikut arus ternyata malah lebih sering ketinggalan arus hihihi
2. ohya? menarik nih..apakah ini berarti kalo genre feminisme yang bukan agama memiliki arah yang lebih jelas? *berhubung saya ga tau banyak soal feminisme*


message 17: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments Karena saya gak suka, maka saya malas mendiskusikannya....hahaha.......


message 18: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments ada 3 hal yg sering menjadi faktor penghambat lajunya proses upaya kesetaraan gender: agama, tradisi, dan negara.


message 19: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments Nah, tuh udah dijelasin mbak Endah. Ooo...negara juga bisa ya jadi faktor penghambat. Saya pikir lebih ke sosial dan policy. Kok jadi inget kisahnya si Marjane Satrapi ya....


message 20: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments justru negara yang paling kejam, sebab dialah yang punya kekuasaan mengeluarkan kebijakan2. Dalam hal ini negara diwakili oleh pemerintahnya, ya. Bukan begitu? :D

Marjane Satrapi yg Embroideries ya?


message 21: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments Yang Persepolis


message 22: by Coqueline (new)

Coqueline | 608 comments Agama besar menjadi besar (akan tetap menjadi besar) selama posisi wanita tidak sejajar dalam hal rumah tangga dan reproduksi. Agama yg mendogma posisi wanita adalah di rumah melahirkan dan membesarkan anak akan menghasilkan generasi penerus lebih banyak, dan hence, lebih banyak penerus agama tersebut.

Karena dari itu tidak dalam best interest dari agama untuk memperjuangkan kesetaraan wanita, terlebih dalam hal kebebasan reproduksi.

Dalam hal ini gue setuju sama Nurul, feminisme agama ga bakalan kemana2, mentok di harapan dan pengagungan semu.


message 23: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Itulah perlunya peran orang2 seperti abidah, musdah mulia, maria hartiningsih, Nawal el saadawi, fetima mernissi, dll. Mereka terus berusaha melakukan upaya-upaya penyadaran. aku sih optimis, suatu hari apa yang sudah mereka lakukan hari ini akan ada hasilnya.


message 24: by Rika (new)

Rika | 47 comments soalnya aku mikir feminisme itu emang susah berkembangnya..tapi aku juga malas mendiskusikan hihihi..*lebih suka diskusi agama daripada diskusi feminisme*


message 25: by Nanny (new)

Nanny SA | 1353 comments Memang dalam agama juga agak susah mendiskusikan tentang gender ini, karena kebanyakan sudah terpatri semacam dogma dari orang yang "dianggap" lebih tau. Selain nama2 yang disebut Endah di atas Shinta Abdurachman wahid juga berupaya memberikan penafsiran yang lain tentang pandangan agama terhadap wanita.
Ya mudah2an suatu hari nanti entah kapan akan ada hasilnya.


message 26: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments Betul mbak Nanny. Nawal El Saadawi aja hidupnya naik turun begitu.... Tapi memang tetap perlu sih penulis2 perempuan yang menulis tentang ini.

Eh, thread ini yg ngisi perempuan semua yak....


message 27: by Pra (new)

Pra  (vlatonovic) | 1187 comments yang laki-laki cuma mengikuti sambil makan kacang
he...he...he...


message 28: by Andri (new)

Andri (ClickAndri) | 665 comments Lanjut neeng..


message 29: by Rika (new)

Rika | 47 comments Endah wrote: "justru negara yang paling kejam, sebab dialah yang punya kekuasaan mengeluarkan kebijakan2. "

sepakat..



message 30: by [deleted user] (new)

lapor, gue cowok. lanjut teman2 :)


message 31: by Nanny (new)

Nanny SA | 1353 comments Satu lagi penulis tentang feminisme Islam, Irshad Manji, bukunya yang terbaru "Beriman Tanpa rasa Takut" banyak menimbulkan kontroversi. Siapa yang udah baca ?


message 32: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments aku salah satu yang percaya bahwa lewat gerakan literasi (sastra), ide-ide tentang kesetaraan akan lebih mudah dipahami dan diterima masayarakat luas dibanding lewat buku2 teks yang biasanya lebih banyak memuat teori2 yang njelimet. Itulah sebabnya, pemerintah di banyak negara sering merasa terancam oleh karya-karya sastra. Contoh paling jelas ya buku2nya Nawal yang dilarang beredar di negerinya (Mesir).

Dahsyat sekali ya kekuatan sastra itu? *pencinta sastra*






message 33: by Rika (new)

Rika | 47 comments Nanny wrote: "Satu lagi penulis tentang feminisme Islam, Irshad Manji, bukunya yang terbaru "Beriman Tanpa rasa Takut" banyak menimbulkan kontroversi. Siapa yang udah baca ?"
aku udah baca..





message 34: by Rika (last edited Feb 26, 2009 11:33PM) (new)

Rika | 47 comments Endah wrote: "aku salah satu yang percaya bahwa lewat gerakan literasi (sastra), ide-ide tentang kesetaraan akan lebih mudah dipahami dan diterima masayarakat luas dibanding lewat buku2 teks yang biasanya lebih ..."

aku juga percaya :-D *banyak2 komen mumpung kuota internet masih banyak*


message 35: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments iya nih, kuotaku juga baru terpakai 40%. Rugi daaaah.....:P


message 36: by Nanny (new)

Nanny SA | 1353 comments @ Rika
o udah baca ya "beriman tanpa rasa takut", gimana komen nya ? kl ga keberatan riview nya dong


message 37: by Rika (new)

Rika | 47 comments Buku ini sudah kureview, Nanny. Sebenarnya tinggal cari aja review buku ini di gudrids, tapi memang sih aku bukan penulis review yang baik..biasanya kalo bikin review sangat personal. "Perbintangan" buku-bukuku juga didasarkan pada kesan saat membaca (jadi kalo pas baca mood-ku lagi romantis, novel romantis ya jadi lima bintang semua hehehe)
tapi isinya kurang lebih begini: kalo dari segi pemikiran keagamaan, buku itu miskin hal baru dan irshad sendiri kayaknya memang ga punya latar belakang islamic scholar yang cukup untuk menawarkan sesuatu yang mencerahkan dalam khazanah keislaman.
Kalo dari segi feminisme aku ga tau, ga terlalu merhatiin..
Tetapi aku tetap kasih tiga bintang untuk kisah pengalaman keagamaan Irshad Manji pribadi. Menarik kok..Kontroversial? yah itu tergantung sudut pandang..



message 38: by Nanny (new)

Nanny SA | 1353 comments Thanks Rieka penjelasannya, aku coba cari bukunya.


message 39: by [deleted user] (new)

@ Nanny dan semuanya,
versi Indonesia buku Irshad Manji bisa diunduh (resmi dan legal) di situs dia:
http://www.irshadmanji.com/indonesian...

tapi dalam format mentah, belum dilayout buku


message 40: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments Thanks Ron. Baru mulai baca. Menarik nih


message 41: by Rika (last edited Feb 27, 2009 09:25PM) (new)

Rika | 47 comments btw, di atas tautan untuk pengunduhan (aku sedang mencoba membiasakan pakai istilah indonesia baru hihi) terjemahan bahsa indonesia itu ada tulisan: "Free Translations for where the book is difficult to access, censored or banned"
aku ketinggalan info nih, memang di indonesia dilarang ya? aku dulu baca versi inggrisnya..


message 42: by [deleted user] (new)

nggak juga. Ada ketakutan awal bakal rame, tapi terbukti orang Indonesia lebih dewasa rupanya.
Buku ini emang unik riwayatnya. Random House AS ga berani nerbitin karena takut bakal diprotes, dan akhirnya yang nerbitin: Random House Kanada! Ga jelas banget deh hehe
Manji menuliskan kecenderungan ini sbg 'pre-emptive cencorship' di kolomnya yg bagus ini: http://www.campus-watch.org/article/i...


message 43: by Wirotomo (new)

Wirotomo Nofamilyname | 2394 comments tautan = link
unduh = download
unggah = upload
ratron = e-mail
lema = entry
salin sinar = fotokopi
acang = gadget

mantap deh bahasa kita sekarang ... lagi mengingat-ingat biar nggak lupa.



message 44: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments Rupanya ada film dokumenternya juga ini "Faith without fear"


message 45: by Rika (new)

Rika | 47 comments @ Ronny: Ohya? cerita itu ada di blognya irshad manji kah? soalnya di tautanmu si manji malah cerita soal buku lain..
eh ada soal bukunya juga ding sekilas, tapi cuma cerita pas ditolak oleh sebuah penerbit di UK (ga jelas penerbit apa)
Soalnya kupikir memang dari awal dia kasih ke randomhouse canada, lha kan dia orang canada..hehehe..




back to top