Goodreads Indonesia discussion

25 views
Kegigihan Para Pemberdaya

Comments Showing 1-4 of 4 (4 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Pra (new)

Pra  (vlatonovic) | 1185 comments Jawa Pos [ Senin, 09 Februari 2009 :]

Kegigihan Para Pemberdaya

Mereka ini adalah orang-orang yang memberdayakan orang lain dengan caranya sendiri. Ada yang telaten mengajari menulis hingga menghasilkan buku, ada pula yang mendirikan sekolah alam.

Nama Asma Nadia kondang sebagai penulis novel. Dalam tujuh tahun, 33 novel telah lahir dari tangannya. Salah satu yang terkenal berjudul Catatan Hati Seorang Istri. Kemampuan menulis itu dia bagikan ke para kaum hawa, terutama ibu-ibu se-Indonesia.

Prinsipnya, ibu beranak dua itu ingin memberdayakan kaumnya melalui menulis. Caranya, dia menggunakan jaringan internet bernama milis. Dengan media itu, Asma melakukan kontak dengan para ibu di seluruh penjuru tanah air.

Awalnya, milis itu menampung ribuan curhat ibu rumah tangga. Beragam persoalan dan kepelikan hidup berumah tangga dia layani. Ada yang menanyakan bagaimana mengelola rasa cemburu yang efektif, trik menghadapi suami selingkuh, hingga tangis pekerja migran di negeri seberang.

Mereka yang ingin bergabung, cukup mengakses ke: pembacaanadia.yahoogroups.com. Terakhir, anggotanya tercatat 1.800 orang. Sedikitnya, 80 persen aktif mengikuti aktivitas Asma di dunia maya itu.

Melalui media itulah, Asma mendorong ibu-ibu yang curhat kepadanya agar mau menuliskan apa yang dia rasakan. Dengan telaten Asma mendampingi mereka agar mampu menulis. Dia mengajari bagaimana ibu-ibu itu membuat outline tulisan agar lebih berisi dan enak dibaca.

Berkat ketelatenan Asma, ada beberapa ibu yang berhasil membukukan jeritan hatinya dan karyanya siap diterbitkan. Awalnya mereka masih menggandeng nama Asma. Maklum, apa pun jualannya, kalau di buku tercantum nama Asma Nadia, pasti laku di pasaran.

"Saya merasakan sendiri bagaimana mereka yang tadinya hanya berkutat di balik komputer tiba-tiba menulis buku," ungkapnya saat ditemui di rumahnya kompleks Kemang Swatama Residence, Depok.

Melalui dunia maya itulah, Asma terus meyakinkan para ibu bahwa ada sesuatu yang mudah dilakukan mereka. Profesi penulis cukup luwes. Yakni, bisa dilakukan sambil mengasuh anak di rumah. Dan itu sudah dibuktikan Asma. Dari tangan dinginnya, lahirlah buku-buku menarik. Di antaranya Catatan Hati di Setiap Sujudku, La Tahzan for Brokenhearted Muslimah, dan Karenamu Aku Cemburu. "Sebagai bisnis, ini sangat prospek," terang wanita bernama asli Asmarani Rosalba itu.

Tak melulu berbincang di milis, Asma juga kopi darat (bertemu langsung) dengan ''pengikutnya'' ke seluruh pelosok negeri. Yang dibicarakan tentu spirit memberdayakan ibu rumah tangga itu. "Saya sampai melayani kopi darat ke Balikpapan, ke Sumatera, dan ke mana pun," ungkap wanita yang namanya masuk dalam buku 100 Perempuan Pengarang, Peneliti, Penerbit Indonesia yang disusun Corrie Layun Rampan ini.

Kesibukan Asma lainnya, saat ini dia merintis pendirian sebuah yayasan, yang bakal dinamai Emak. Tujuannya cukup mulia, yakni memberangkatkan haji para muslimah. Mereka adalah para ibu yang terhambat secara ekonomi, tapi sangat ingin pergi ke Tanah Suci. "Kami ingin para emak bisa berangkat berhaji," jelas ibu muda berumur 36 tahun ini.

Asma juga akan mengalokasikan seluruh royalti yang didapat dalam penerbitan buku untuk yayasan itu. "Nanti kalau ada buku yang terbit bisa dialokasikan ke sana," terang wanita yang akan menerbitkan buku Jilbab Travelers itu. (aga/git/kum)



message 2: by Pra (new)

Pra  (vlatonovic) | 1185 comments Jawa Pos [ Senin, 09 Februari 2009 :]

Bangun Rumah Dunia dari Kata-Kata
Nama kondangnya Golagong. Penulis novel berambut gondrong itu memiliki komunitas belajar yang cukup dikenal: Rumah Dunia. Komunitas tersebut berdiri di atas lahan seluas 1.000 meter persegi, tak seberapa jauh dari rumahnya di Kompleks Hegar Alam, Ciloang, Serang, Banten.

Rumah Gong -panggilan akrab Golagong- di depan, sedangkan Rumah Dunia di belakang. ''Rumah Dunia. Aku bangun dengan kata-kata," kata lelaki 44 tahun, bernama asli Heri Hendrayana Harris ini saat ditemui di Rumah Dunia pekan lalu.

Rumah Dunia memiliki beberapa bangunan. Yakni, berupa dua perpustakaan. Satu untuk anak dan satunya lagi untuk remaja. Selain itu, ada panggung pertunjukan, plus jajaran tempat duduk di depannya. Ada pula plaza mini, musala, toilet, ruang bermain, dan toko buku. Bangunan tersebut sengaja dibuat mengelilingi pinggir lahan. Tepat di tengah lahan itu, dibiarkan kosong sebagai arena bermain dan pusat aktivitas. Peserta belajarnya bisa siapa saja. Mulai sopir angkot, anak kuliahan, sarjana, sampai guru honorer.

Rumah Dunia menyediakan berbagai bentuk pembelajaran. Mulai menulis, belajar teater, belajar broadcasting, hingga bermusik. Namun, yang paling dikenal dari komunitas belajar itu adalah pembelajaran menulis. Gong sendiri rupanya lebih menekankan pada jenis pembelajaran itu. Sebab, mereka yang belajar di Rumah Dunia bisa memilih latihan penulisan apa saja yang mereka inginkan. Bisa belajar menulis puisi, cerpen, jurnalistik, hingga menulis skenario dan skrip.

Para ''siswa'' Gong tak hanya dari sekitar daerah Banten. Mereka datang dari berbagai daerah di Jawa. Ada juga yang dari Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Mereka umumnya anak kuliahan yang nekat cuti dari kampus selama berbulan-bulan hanya untuk ngendon di Rumah Dunia, apalagi kalau bukan belajar menulis. ''Biasanya mereka ngekos di sekitar Rumah Dunia,'' kata penulis novel terkenal Balada Si Roy itu.

Rumah Dunia memang tak main-main mendidik para penulis muda. Enam bulan sekali mereka membuka pelatihan menulis intensif. Gong mengatakan, hingga tahun ini, sudah ada 13 angkatan pelatihan menulis yang digelar. Tiap angkatan biasanya dipadati 30 hingga 40 peserta. "Kami maunya sih membatasi 25 orang saja. Biar efektif," katanya.

Selalu ada penulis muda yang dihasilkan tiap angkatan. Jumlahnya, kata bapak empat anak itu, minimal lima hingga tujuh penulis muda dilahirkan. Jumlah itu, kata Gong, sudah sangat lumayan. "Menghasilkan penulis muda tidak gampang," kata pria yang pernah bersepeda keliling Asia itu. Para penulis muda itu akhirnya berkiprah di tempat-tempat berbeda. Ada yang menjadi wartawan, penulis skenario, scriptwriter, penyiar radio, dan penyiar televisi.

Beberapa sastrawan ikut nimbrung membagi ilmu di Rumah Dunia. Antara lain penyair Taufik Ismail, Gunawan Mohamad, penulis novel Ayat-ayat Cinta Habbiburahman El Shirazy, dan nama penulis beken lainnya.

Produk dari angkatan penulis itu adalah buku. Biasanya, berupa buku kumpulan cerpen. Buku-buku itu lantas dilempar ke pasaran melalui penerbit. "Hasil penjualannya kemudian kami gunakan untuk pembiayaan Rumah Dunia," katanya.

***

Rumah Dunia didirikan pada 2002. Saat itu Gong melihat banyak remaja Banten yang justru lebih terinspirasi menjadi "jawara". Bagi masyarakat Banten, jawara berarti jagoan berkelahi yang tiada tandingannya. Pandangan ini harus dikikis. Gong bercita-cita agar Banten harus lebih berdaya. Dia juga menilai budaya menulis dan membaca masyarakat Serang tak terlalu membanggakan. Karena itulah dibangunan Rumah Dunia.(aga/git/kum)



message 3: by Pra (last edited Feb 09, 2009 02:29AM) (new)

Pra  (vlatonovic) | 1185 comments Jawa Pos [ Senin, 09 Februari 2009 :]

Sekolah Kreativitas Tanpa Batas Usia
Nama Dick Doank sudah cukup dikenal di kalangan remaja dan ABG (anak baru gede). Pemilik nama asli Raden Rizki Mulyawan Kertanegara Hayang Denda itu dalam beberapa tahun ini memang concern pada anak-anak dan remaja. Di Kandank Jurang Doank (KJD), tempat yang dia dirikan di Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang, 15 tahun lalu, dia menyediakan berbagai program bermain menarik untuk anak-anak dan ABG.

KJD berdiri di atas lahan sekitar 1.000 meter persegi. Letaknya persis berada di mulut jurang tepat di depan kediaman Dick Doank. Awalnya, KJD memang sebuah lahan miring mirip jurang. Lokasinya curam dengan kemiringan yang ekstrem. Tak ada bangunan di tempat tersebut, kecuali sawah. Lahan tidur itu lantas dibeli oleh Dick Doank.

Lahan yang miring tersebut lantas disulap menjadi lahan datar. Di atasnya, berbagai ''wahana'' permainan berdiri. Di antaranya, Museum Pustaka, ruang broadcasting, ruang media, panggung pertunjukan lengkap dengan tempat duduk yang melingkar. Di tengah KJD, dibikin lapangan bola ukuran lapangan futsal.

KJD memang didesain untuk anak-anak dan ABG. Banyak program yang ditawarkan. Program-program itu dibuat seperti kelas-kelas. Di antaranya, kelas fotografi, kelas menggambar, kelas puisi, kelas media, dan kelas menulis. Mereka yang ikut tak bisa asal keluar masuk kelas.

''Yang ikut didata. Jadi, ini seperti belajar sekaligus bermain,'' kata Dick saat ditemui di KJD kemarin (8/2). Lelaki 40 tahun itu masih berpenampilan muda. Rambutnya yang mulai menipis disemir cokelat. Dia mengenakan kaus Scooby Doo & Batman. Untuk bawahannya, mantan presenter sepak bola tersebut mengenakan celana berbahan denim dengan suspensi yang dibiarkan menggantung.

Dick menuturkan, pada awal berdirinya KJD, ada 2.500 anak-anak dan ABG yang ikut. Mereka tak hanya berasal dari kampung kompleks. Bahkan, ada anak-anak yang berasal dari Depok, Bekasi, dan Bogor.

KJD pun overload. Program tidak berjalan karena banyaknya peserta. ''Kami akhirnya mengurangi jumlah mereka sampai hanya 500 anak,'' kata Dick Doank.

Awalnya, ''sekolah'' di KJD berlangsung Sabtu dan Minggu. Lambat laun, jam belajar itu meningkat. Tiap Senin sampai Jumat kegiatan berlangsung. Biasanya, kegiatan tersebut dilakukan pada sore setelah anak-anak belajar di sekolah formal. Di salah satu pintu masuk salah satu ruangan, terdapat tulisan adik-adik main ke sini setelah sholat ashar.

Tiap tahun, kata Dick, KJD membuka pendaftaran ''murid-murid'' baru. Ada batasan usia? Lelaki 40 tahun itu menggeleng. ''Umur berapa pun boleh ikut.''(aga/gen/kum)




message 4: by Pra (new)

Pra  (vlatonovic) | 1185 comments Jawa Pos [ Senin, 09 Februari 2009 :]

Bangkitkan Semangat Belajar Anak Pemulung
Nama panjangnya RAy Tri Wahyuniati Subali. Hampir seumur hidupnya dia abdikan untuk masyarakat kurang mampu. Melalui Gerai Merah Putih yang didirikan, dia gencar mengentaskan kebodohan di kalangan kaum dhuafa. Khususnya masyarakat yang mengais rezeki di tempat sampah.

Awalnya Yuni -panggilan akrab Tri Wahyuniati- kesulitan mengajak anak-anak tak mampu itu untuk belajar membaca dan menulis. ''Saya harus iming-imingi uang dulu, baru mereka mau belajar," kenang nenek kelahiran 13 April 1953 yang dikaruniai dua cucu itu.

Semangat membantu orang kurang mampu didapat Yuni dari orang tuanya, Raden Ngabei Abdul Hamid Subali, seorang anggota TNI berpangkat jenderal dan Raden Ayu Sri Andawiyati yang sempat menjabat ketua Laskar Wanita Indonesia. ''Ibu saya pianis, ayah saya violis. Jadi, saya dilahirkan dari seni,'' terang lulusan master dari Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran itu.

Semasa hidup, Yuni bercerita, ayahnya mempunyai 20 anak asuh dan mayoritas menjadi orang sukses. ''Sebagian besar ada yang menjadi jenderal, terkenal juga,'' imbuhnya, enggan menyebut nama.

Gerai Merah Putih didirikan Yuni dua hari setelah tsunami di Aceh pada 2004, namun baru dideklarasikan 13 April 2005. ''Gerai Merah Putih adalah satu gerakan orang tua dan anak-anak Indonesia dengan semangat Merah Putih. Ini lembaga yang dilandasi pemenuhan hak anak dan perempuan Indonesia,'' jelasnya.

Dia menambahkan, organisasi tersebut tidak komersial. Karena itu, tidak ada anggota yang digaji. Sebab itu pula awal berdiri, struktur organisasinya dihuni keluarga sendiri. ''Kecuali yang mau ikhlas membantu.''

Meski begitu, sekarang sudah dibantu kalangan profesional. Selaku ketua hubungan antarlembaga dan internasional dipercayakan kepada Dr Makarim Wibisono, mantan duta besar Indonesia di Swiss.

Yang diajarkan di Gerai Merah Putih, menurut Yuni, semacam membangun karakter dan entrepreneurship. Soal membaca, menulis, dan berhitung hanya 30 persen. ''Kami juga tidak menekankan pada pendapatan sertifikat,'' imbuhnya. Markas Gerai Merah Putih seluas 1,4 hektare terdapat di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. (gen/kum)




back to top