Goodreads Indonesia discussion

267 views
Buku & Membaca > Benarkah Novel Lebih Digemari Ketimbang Kumpulan Cerpen?

Comments Showing 1-50 of 100 (100 new)    post a comment »
« previous 1

message 1: by Endah (last edited Feb 05, 2009 11:58PM) (new)

Endah (perca) | 658 comments Beberapa waktu lalu, seorang teman cerpenis di Bandung, curhat. Katanya dengan nada masygul, ia baru saja mendapat penolakan dari salah satu penerbit untuk naskah calon buku kumpulan cerpennya. Alasan penerbit, buku kumpulan cerpen seret pemasarannya. Kurang diminati, tidak seperti novel.

Teman saya bertanya kepada saya (karena katanya saya kan senang baca fiksi), apa benar demikian? Apa benar novel lebih disukai ketimbang kumpulan cerpen?

Setelah pura-pura mikir beberapa saat, saya menjawab, bisa jadi. Sebab, kalau diingat-ingat lagi, saya juga ternyata memang lebih banyak membaca novel daripada kumcer. Nah mengapa demikian, ya?

Hmm, barangkali karena cerpen itu ceritanya singkat. Lagi seru-serunya, eh..malah sudah harus berhenti. Belum lagi, emosi kita harus terpotong-potong karena jenis ceritanya yang beragam. Tetapi, sebenarnya kalau cerpennya menarik seperti "Ripin" atau "Brokeback Mountain", kayaknya sih asyik-asyik saja ya? Dan sebaliknya, biar pun itu novel, kalau buruk, ya tetap saja ngeselin membacanya.

Sebenarnya bukan cuma teman saya yang cerpenis itu saja yang kecewa. Salah seorang teman dari sebuah penerbit juga pernah berkeluh-kesah untuk kasus yang sama. Buku kumpulan cerpen yang mereka terbitkan ternyata jeblok di pasaran. Padahal ditulis oleh seorang cerpenis kelas dunia yang memenangi beberapa penghargaan internasional. Dia gemas ketika mendapati realita justru buku-buku guyonan yang malah laku keras. Katanya dengan pedih sembari gusar, "Maunya apa sih pembaca kita ini?"

Saya akhirnya cuma bisa garuk-garuk kepala (walaupun sebenarnya nggak gatal) :D



message 2: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments Hehe.... aku termasuk yang gak terlalu suka cerpen. Bisa dihitung dengan jari kumpulan cerpen yang aku beli. Soalnya keterbatasan kata-kata dan halaman kadang membuat ceritanya dibengkokkan menjadi terlalu absurd. Gak menolak sih bahwa banyak cerpen yang baik dan kuat ceritanya. Tapi untuk beli... ntar dulu...

Silakan garuk2 kepala lagi mbak Endah.... :D


message 3: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Baiklah *garuk2 kaki* :D


message 4: by Mel (new)

Mel | 720 comments saya garuk2 bodi deh. secara guguk.
tapi sekalian garuk2, sekalian jawab,
kebetulan saya juga bukan penyuka kumcer. merasa lebih suka baca tipe novelet atau novela [yang lebih panjang dari cerpen dan lebih pendek dari novel:]. mungkin karena penyuka durasi yang lebih lama (halah), karena saya juga penyuka film. ini kembali ke masalah selera ya.


message 5: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments *bantuin mel garuk2 ekor*
kalau cerpennya keren gimana?


message 6: by Mel (last edited Feb 05, 2009 10:00PM) (new)

Mel | 720 comments baca lah. masa yg keren2 ditolak. haram hukumnya.
seperti robohnya surau kami misal. nah tapi ya gitu..sisa cerpen2 lainnya kalo saya disuruh pilih, saya pilih satu itu saja. hehe
*sambil menebar kutu disini*


message 7: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments hihihihi...*semprot2 baygon (wah ngiklan deh*
apa lantaran kumcer kita yg beredar skrg nih lbh banyak berupa kumpulan cerpen koran yang memang jumlah karakternya dibatasi? Shg sering ceritanya jd nanggung (belum kenyang sdh harus berhenti, ga bisa nambah)


Ordinary Dahlia (ordinarydahlia) | 775 comments Kumcer lebih sering bikin g manyun!!!


Dahlia
Naga yang baru selesai baca kumcer


message 9: by Mel (last edited Feb 05, 2009 10:10PM) (new)

Mel | 720 comments *jangan baygon, endah. yang mahal belum tentu lebih bagus.

entah dari sisi cerpennya sendiri, entah memang cara pikir si pembacanya ini yg sudah kadung suka hal2 yg panjang dan lama kayak coki2, suka yang sedikit lebih kompleks, atau masih betah buat ngayal & berimajinasi (sambil baca di toilet) tapi tau2 dihentikan krn memang sudah habis ceritanya, dan seterusnya...lol



message 10: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments *ganti hit yang murahan*

tapi aku lebih suka baca "Sepotong Senja untuk Pacarku" daripada "Negeri Senja" :D *nyambung ga sih?


message 11: by gieb (new)

gieb | 743 comments saya adalah salah satu penikmat cerpen. alasan tidak pentingnya adalah membaca cerpen tidak perlu waktu yang lama. tetapi apa yang didapatkan kadang lebih panjang dari teks cerpennya sendiri.

membuat cerpen itu, menurut saya, tidak semudah membuat novel. tidak semua penulis bisa membuat cerpen yang bagus. di indonesia, bisa dihitung dengan jari, cerpenis yang benar-benar menguasai 'emosi' cerpen. selainnya cuma bikin cerita pendek. tidak ada kedalaman pikir di sana.

seorang novelis belum tentu bisa membuat cerpen. seorang cerpenis biasanya bisa membuat novel. itu sih analisa saya.

cerpen menuntut penulis untuk bermain dengan 'segala'-nya. sebuah kegamangan yang seolah-olah menemui akhir. padahal itu baru awal. inilah indahnya cerpen. meledak-ledak. serba setengah dan nanggung. ejakulasi yang tertahan yang membuat ketagihan. selalu dan selalu. buka tutup. buka tutup. setengah telanjang. seperti membayangkan kaki kendedes yang tersingkap sedikit tapi bikin konak ken arok. doh. apa coba.

hidup cerpen lah!


message 12: by Mel (new)

Mel | 720 comments nyambung kok endah.
karena saya lebih suka malam meski saya tetap suka matahari yang tenggelam di kala senja.
*pasti yg garuk2 sekarang makin banyak. hahaha

@gieb
nah justru itu. situ membedakan cerpen yang bagus, dengan yg sekedar 'cerita pendek'. disitu kuncinya. makanya saya hanya bisa menikmati cerpen yang tidak sekedar jadi cerita pendek saja.


message 13: by gieb (new)

gieb | 743 comments bacalah cerpen yang bagus kalau begitu, mel. rekomendasi: kuntowijoyo.


message 14: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments atau Budi Darma


message 15: by Roos (new)

Roos | 2991 comments Aku suka kumcer ma novel...gimana dung?...hehehehehe.


message 16: by Endah (last edited Feb 05, 2009 10:46PM) (new)

Endah (perca) | 658 comments kok postinganku yg ES Ito ga ada ya?



message 17: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Aku pernah ngobrol sm ES Ito. Katanya nih, kalau diibaratkan petinju, penulis novel itu menang angka; penulis cerpen, menang KO, dan penulis puisi, menang TKO :)


message 18: by Mel (new)

Mel | 720 comments @roos
gpp roos. ditambah saja dengan kumcar (kumpulan pacar) dan wakuncar (waktu kunjung pacar) biar lebih lengkap :D


message 19: by gieb (new)

gieb | 743 comments mbak endah, sori tadi gak sengaja kehapus. karena dua kali posting. maaf ya.


message 20: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments hihihihi...tak apa, gieb :D


message 21: by [deleted user] (new)

Katanya dengan pedih sembari gusar, "Maunya apa sih pembaca kita ini?"

Hihi, kok jadi kesel sendiri gitu ya
saya pikir tren ini adalah tuntutan dari pembaca bhw penulis kini harus bisa nulis panjang/novel. Memang benar Gieb, bukan berarti cerpen itu lebih mudah. Tapi ga ada salahnya juga pembaca kini menuntut lebih banyak novel. Anak2 sekarang dari kecil terbiasa membaca ratusan halaman Harry Potter dan sastrawan kita cuma bisa bikin cerita 4 hlm? Wah ya tentu saja tidak dilirik


message 22: by Andri (new)

Andri (clickandri) | 665 comments gieb wrote: "saya adalah salah satu penikmat cerpen. alasan tidak pentingnya adalah membaca cerpen tidak perlu waktu yang lama. tetapi apa yang didapatkan kadang lebih panjang dari teks cerpennya sendiri.

memb..."


Gw dari kemarin2 mau bikin thread 5 cerpen Indonesia yang paling berkesan selama ini.. tapi gw berusaha mengingat2.. yg keingat baru 3, jadi masih gw pending. Tentu dilengkapi dengan alasannya. List gw sementara :

1. Robohnya Surau Kami - AA Navis
2. Saksi Mata - Seno Gumira Ajidarma
3. Salome - Danarto
4-5 menyusul.

Gw sih nggak ngebedain antara cerpen ataupun novel. Masing2 memiliki kekuatan. Selama menarik, gw akan baca.

-andri-


message 23: by Truly (new)

Truly (uyi_adi) | 1687 comments Jadi ingat jaman dahulu, ada majalah yang khusus memuat cerpen. Banyak penulis pemula yang terpacu untuk mulai belajar menulis dan berusaha agar tulisannya diterbitkan.

Kasihan juga yah kalo penulis puisi dianggap kalah TKO, padahal puisi itu menurutku jadi awal seseorang mulai berlajar membuat suatu tulisan.Seperti juga diary....










message 24: by Mel (new)

Mel | 720 comments ..selama menarik..
sama aja dong dulz. gue juga gak ngebedain. tetep baca kok. tapi, selama menarik, selama keren, dst.
*keukeuh lol


message 25: by Nurul (new)

Nurul (noonathome) | 409 comments Barusan nemu bundel majalah Kawanku tahun 72. Masih ejaan lama. Isinya banyak cerpen2 Arswendo, Djokolelono dengan ilustrasi Ipe Ma'aruf. Cerpen anak2/remaja yang sederhana namun cantik


message 26: by Coqueline (new)

Coqueline | 608 comments Ngaku, gue juga emang lebih suka baca novel dibanding cerpen. Buku kumpulan cerpen itu susah bikin excited dan pengen baca, soalnya review dan sinopsisnya biasanya ringkas banget, dan ga mencakup satu2 isi cerpennya (biasanya cuman 1-2 yg dijagokan), jadi lebih susah mereka2 apakah isinya bakal bagus semua, cuman 1-2 yg bagus sisanya filler, atau malah jelek semua. Buku cerpen biasanya emang dipromosikan pake nama pengarang dibanding isi, sedangkan gue bukan pembaca yg percaya nama doang (walaupun nama penulis yg buku2nya pernah gue baca dan nikmati sekalipun).

Kalo novel bisa baca review yg lebih detil, lebih bisa diraba apakah ini jenis2 cerita yg gue demen atau bukan.


message 27: by Wirotomo (new)

Wirotomo Nofamilyname | 2396 comments lebih suka kumpulan cerpen sih ... karena alasan praktis, gampang "motong" mbacanya. 1 hari bisa 1-2 cerpen, selesai, terus bisa kembali ke kehidupan nyata. :-)

Cerpen yang aku suka kebanyakan yg lucu2 dan aneh aja idenya (buatku):
1. Robohnya Surau Kami (AA Navis) dari kumcer Robohnya Surau Kami
2. Jodoh (AA Navis) dari kumcer Jodoh
3. Nasihat-nasihat (AA Navis) dari kumcer Robohnya Surau Kami
4. SMS (Djenar Mahesa Ayu) dari kumcer Mereka Bilang Saya Monyet

untuk cerpen no. 4, pasti selalu ada yg protes mengapa ku suka yg ini, nggak selevel sama yg punyanya AA Navis.
Tapi aku suka idenya. Cerpen yg bentuknya sms berbalasan menurutku sangat menarik untuk dibaca, karena nama sender yg ditulis kan tergantung memori hpnya sang penerima sms. Selama membaca kita harus nyocokin nomor dan menebak2 hubungan antar tiap orang yg bersms-an.
Walau sebenarnya kalau kita teliti, ada kesalahan juga sih. Di sms kelima dari bawah, yang dari Robert, terlihat dikirim pada pukul 14:13:27 padahal sms berikutnya yang menjawab sms itu (smsnya Jo) tertulis pukul 13:55:33. Dan pada pukul 14:03:19 (smsnya Vira), Robert dan Jo secara tak sengaja sudah bertemu dgn Vira. Jadi nggak mungkin sms dari Robert itu ditulis pada pukul 14:13:27.
Editornya agak selip mata sepertinya. :-)

Kesimpulan:
cerpen atau novel, sebenarnya tergantung selera (kalau sudah ngomong selera susah kan mbahasnya. aku selalu bilang: "Adalah hak asasi setiap manusia untuk punya selera rendah") :-) dan kebutuhan pembacanya saat itu. Kalau lagi banyak waktu, mungkin novel lebih menyenangkan. Tapi kalau lagi nggak punya banyak waktu, mungkin kumcer lebih "siap pakai". :-)


message 28: by Isman (new)

Isman | 67 comments Wirotomo wrote: "untuk cerpen no. 4, pasti selalu ada yg protes mengapa ku suka yg ini, nggak selevel sama yg punyanya AA Navis. "

Mungkin perlu ditelaah, apakah hal ini (membeda-bedakan cerpen berdasarkan "level") merupakan karakteristik mayoritas pembaca kita bukan? Kalau ya, apakah ada kemungkinan itu yang bikin penikmat kumcer jadi minoritas?

Menurut survei Litbang Kompas bulan Mei 2008, salah satu alasan utama pembaca membeli buku adalah mencari hiburan (16,5%; sementara berbagai alasan lain tidak mencapai 10%). Jika produk kumcer yang ada dinilai dari kualitas atau levelnya, bisa jadi ini nggak selaras dengan alasan orang mencari bacaan fiksi.

Kasarnya gini: yang menganggap cerpen "level tinggi" itu menghibur adalah para penikmat cerpen yang merupakan sebagian kecil saja dari para pembaca fiksi. Ceruk pasar yang kecil. Pembaca lain mungkin suka baca cerpen, tapi malas beli buku kumcer, karena kumcer yang ada sebagian besar mengarah ke ceruk pasar kecil itu.

Kata kuncinya "mungkin". Kalau memang benar, berarti masalahnya adalah di persepsi cerpen (atau kumcer) itu sendiri. Kalau senantiasa dikaitkan dengan "level tinggi", jadinya kumcer dipersepsikan merupakan kategori yang sama dengan novel-novel yang dimasukkan dalam rak berjudul "sastra" (di berbagai toko buku).

Padahal cerpen sendiri hanyalah bentuk penceritaan. Ada cerpen untuk remaja (karya Paul Jennings), untuk anak-anak (kumcer pilihan Bobo), untuk pembaca horor atau misteri (Alfred Hitchcok, Roald Dahl), dll.

Di sisi lain, simak juga bahwa contoh kumcer yang laris (cetak ulang minimal sekali) justru tidak menonjolkan kekumcerannya (istilah apa pula ini?), melainkan label muatannya. Badman Bidin! terbitan FLP, misalnya, menjual label "humor"-nya. Ratu Jeruk Nipis dan cerita-cerita lain yang asam-manis terbitan GPU menjual label "teenlit"-nya.

Dari kedua sisi itu tampak saling mendukung: bahwa kumcer pun sama diminatinya dengan novel, saat pembaca bisa menangkap muatan apa yang ditawarkan dalam buku itu. Saat mereka bisa tahu bahwa cerita di dalamnya memang sesuai dengan selera mereka.

Namun itu pendapat saya. Bisa saja salah.


message 29: by Rika (new)

Rika | 47 comments kalau aku sebenarnya lebih suka kumpulan cerpen. Bacanya ga terlalu menguras stamina, ngga banyak menyita waktu. Kadang kalo lagi baca novel berhenti di tengah2, aku suka kehilangan mood ;-(
tapi, kalo dihitung2 sih aku lebih banyak baca novel, karena kayaknya itu lebih banyak ada di pasaran...
beberapa penulis yang kunikmati cerpennya: seno gumira (aku malah ga menuntaskan novelnya), puthut ea, kuntowijoyo, romo mangun, budi dharma (novelnya juga ga selesai), dll


message 30: by nanto (last edited Feb 06, 2009 10:49AM) (new)

nanto (nantosriyanto) | 712 comments ada situs yang memuat cerpen di koran Indonesia

http://sriti.com/story.php

dulu sih ada rubrik puisinya. mayan buat baca cerpen koran tanpa perlu beli buku kumcer :D


message 31: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Truly wrote: "Jadi ingat jaman dahulu, ada majalah yang khusus memuat cerpen. Banyak penulis pemula yang terpacu untuk mulai belajar menulis dan berusaha agar tulisannya diterbitkan.

Kasihan juga yah kalo penu..."


Truly, bukan kalah TKO, tp menang TKO malah :)




message 32: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments cerpen yang berkesan buatku salah satunya : "Ripin". Duuh, sakiiiit banget setelah selesai membacanya. Padahal Ugoran menuliskannya dengan bahasa dan alur yang sederhana,tetapi sangat menyentuh. Atau karena aku penyuka tema2 realis, ya?

Contoh lainnya lagi, "Pilot Bejo"-nya Budi Darma. Sinis. Jenaka. Tapi tajam sindirannya.

Kalau dari khasanah "klasik", aku suka cerpen "Seribu Kunang-Kunang di Manhattan" (Umar Kayam).


message 33: by rati (new)

rati | 12 comments Saya sih lebih suka baca cerpen karena ngga terlalu banyak makan waktu, bisa dibaca sedikit-sedikit. Tapi memang tidak banyak buku kumcer yang bagus. Mungkin itu sebabnya pembeli enggan membeli kumcer. Penulis Indonesia yang cerpennya bagus juga hanya beberapa, a.l Budi Darma, Umar Kayam, Sitor Situmorang, AA Navis. Kumcer terjemahan yang bagus misalnya kumcer Korea Kupu2 dan Laut, dan kumcer dari berbagai negara yang diterbitkan yays Obor bertahun2 lalu.


message 34: by Rika (new)

Rika | 47 comments oh iya..dulu ada kumcer dari berbagai negara terbitan yayasan obor. Saya ingat terkesan oleh kumcer dari India..




message 35: by Suryati (new)

Suryati | 220 comments Sebelum baca novel dimulai dari suka cerpen-cerpen. Jadi aku suka dua-duanya, cuma kalo koleksi memang lebih banyak novelnya.


message 36: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments semalam aku baru menamatkan "Cinta di Atas Perahu Cadik" (kumpulan cerpen kompas terbaik 2007). aku suka "Sepatu Tuhan" Ugoran Prasad.


message 37: by Rika (new)

Rika | 47 comments coba mbak endah tinggal di dekatku (ngga sebaliknya, soalnya belum rela ninggalin jogja hehe), aku bisa pinjem buku-bukunya....*mengkhayal*


message 38: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments untung ada internet ya, Rik? Jarak jd tak berarti rasanya. Biar jauh kan tetap bisa ngobrol :)


message 39: by Rika (new)

Rika | 47 comments lhoo..yang penting itu minjem bukunya je..kekeke...
iya sih..untung ada internet..


message 40: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments oooh...pinjam buku? :D
yah, kamu ke sini deh. Baru Vera doang tuh yg jadi pelanggan. Itu juga baru sekali.


message 41: by nanto (new)

nanto (nantosriyanto) | 712 comments saya baru baca cerpen pak kunto yang judulnya Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi


message 42: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments Kunto, "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga"


message 43: by Rika (new)

Rika | 47 comments Endah wrote: "Kunto, "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga""

aku juga suka..



message 44: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments kalau Seno, " Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi". Hehehe. Aku suka juga.


message 45: by Pra (new)

Pra  (vlatonovic) | 1185 comments aku suka cerpen-cerpennya Seno Gumira, Kuntowijoyo, Ahmad Tohari, Umar Kayam

kalau novel banyak yang tak selesai kubaca, mandeg di tengah jalan


message 46: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments kok mandeg, Pra? kenapa? Apakah berlaku utk banyak novel?


message 47: by Pra (new)

Pra  (vlatonovic) | 1185 comments gak banyak sih, karena aku memang jarang beli novel. biasanya mandeg karena ketika baca kurang cocok dengan gaya bahasanya (biasanya ini novel terjemahan) atau baru baca beberapa bab tapi gak tertarik lagi untuk meneruskan.


message 48: by Rika (new)

Rika | 47 comments seno yang kusuka: saksi mata dan sebuah pertanyaan untuk cinta (hehe..padahal dua kumcer ini beda banget temanya).


message 49: by Endah (new)

Endah (perca) | 658 comments oh, aku juga suka tuh : Sebuah Pertanyaan untuk Cinta.


message 50: by Pra (last edited Feb 09, 2009 07:43AM) (new)

Pra  (vlatonovic) | 1185 comments Jadi pengen nonton filmnya Sebuah Pertanyaan untuk Cinta. Dulu waktu diputer di Semarang International Film Festival tahun 2001 gak sempet nonton


« previous 1
back to top