Kastil Fantasi discussion

103 views
CerBul > [Lomba] CerBul KasFan (September '12)

Comments Showing 1-21 of 21 (21 new)    post a comment »
dateDown arrow    newest »

message 1: by Kristy (last edited Oct 07, 2012 07:34AM) (new)

Kristy Tjong (kristytjong) | 507 comments Halo, halo~ Kembali bersama saya, Kristy S. Tjong si Moderator Boros~

Yak, dan berhubung bulan ini saya lagi happy karena suatu dan berbagai hal, jadi mari mengarang cerita dengan tema yg agak sinting happy ^o^

Let's loosen up a bit this month. Sekali-sekali ngarang cerita fantasi yg ceritanya not too serious XD

“Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi, Edisi September 2012”

Kegiatan ini diadakan sebagai ajang mengasah piso latihan, sekaligus unjuk kreativitas, buat teman-teman yang suka menulis atau pengen juga mulai-mulai coba menulis.

Lomba ini rencananya akan diadakan setiap bulan, dengan tema-tema berbeda yang telah disiapkan oleh panitia.

Lombanya santai-santai aja, jadi tidak perlu saling jotos atau gigit-gigitan, meskipun lempar-melempar cabe masih diperbolehkan, dan memberi masukan/saran untuk perkembangan teknik menulis tentunya sangat diharapkan.

Lalu sebagai pemanisnya, setiap bulan panitia akan memilih 1 pemenang yang berhak untuk mendapatkan 1 buku pilihan sebagai hadiah. ^^

Aturan main umumnya:

1) Cerita yang disertakan harus mengandung unsur fantasi/science fiction.

2) Penjiplakan karya orang lain tentunya dilarang.

3) Setiap peserta hanya boleh menyertakan satu entri cerita. Semua cerita di-post sendiri oleh penulisnya di topik ini. Entri-nya boleh juga di-post di tempat lain (misalnya blog pribadi), dengan catatan: menyertakan keterangan kalau ceritanya sedang dilombakan di sini, disertai link ke group Kastil Fantasi.

4) Panjang cerita maksimal dua post, yang harus di-post secara berurutan. Tidak ada panjang minimal. Sebagai info, maksimal karakter (termasuk spasi) dalam satu post di Goodreads adalah 12.000 karakter. Perlu diperhatikan kalau panjang karakter di MSWord dan Goodreads bisa berbeda, misalnya tulisan italic memakai kode HTML yang menghabiskan tujuh karakter lagi (untuk masing-masing bagian yang di-italic).

5) Cerita ditulis menggunakan tata bahasa yang baik. Tidak diperkenankan memakai bahasa singkat-singkat ala SMS, apalagi bahasa alay.

6) Semua cerita yang di-post akan tetap menjadi milik peserta. Bila ingin dikembangkan lebih jauh (misalnya dibuat cerpen atau novel) atau dilombakan ke tempat lain, silakan saja.

7) Pengomentaran cerita tidak dilakukan di topik soal ini, melainkan di topik komentar. Apabila ada yang menulis komentar di sini, akan di-delete oleh moderator. Kedua topik dipisah demi alasan kerapihan.

8) Bila ada pertanyaan, bisa langsung dilayangkan ke topik komentar.


======

[Lomba] CerBul KasFan (September 2012)

Soal untuk bulan ini:

Terinspirasi anime Binbougami ga! :P

Buatlah cerita mengenai dewa-dewi/malaikat-setan yang unik, tidak lazim, atau absurd entah sifat dan perilakunya (sering menguntit, gemar makan dan perutnya seperti black hole, suka mengoleksi bungkus permen, dll) dan/atau atribut kedewaannya (misalnya Dewa Toilet, Dewi Sial, dll).

Dewa/dewi-nya boleh ciptaan sendiri atau mengambil dari mitologi yang sudah ada.

Timeline lomba:
Periode posting cerita: 16 September – 06 08 Oktober 2012
Periode penilaian: 07 09 – 22 Oktober 2012
Pengumuman pemenang: 23 Oktober 2012

Daftar hadiah yang bisa dipilih pemenang (pilih satu):

1. Penakluk Dari Selatan/Anak-Anak Dunia Mangkuk/Di Tepi Sungai Ordelahr - R.D. Villam
2. Sang Penantang Takdir - Ardani Persada + Takdir Elir - Hans J. Gumulia
3. Hailstorm - Fachrul R.U.N. + Kristalisasi - Tim Vandaria Saga
4. Fantasy Fiesta 2010/2011 - Para Penulis Kastil Fantasi + Tales of the Deities - Riesling, Farid Abdul, Shou Jinbei
5. Zauri: Legenda Sang Amigdalus - Dian K + Akkadia: Gerbang Sungai Tigris - R.D. Villam
6. Garudayana Vol. 4 - Is Yuniarto (komik)
7. Domitor Leo #1: Pulihkan Segel Waktu + Domitor Leo #2: Air Mata Dewi Kebebasan - Kushima Michie (light novel; terjemahan oleh Oyabun Shiki ^^)
8. The Sword In The Stone - T.H. White (terjemahan) + The Boy Sherlock Holmes: Eye of the Crow - Shane Peacock (terjemahan)
9. Falcon Quinn and the Black Mirror - Jennifer Finney Boylan (terjemahan) + Avalon: Jalinan Sihir #2 - Rachel Roberts (terjemahan)
10. ParaNorman - Elizabeth Cody Kimmel (terjemahan)
11. The Devil's Graveyard - Anonymous (bahasa Inggris; edisi paperback)
12. Clockwork Angel - Cassandra Clare (bahasa Inggris; edisi paperback)
13. Brisingr - Christopher Paolini (bahasa Inggris; edisi hardcover)
14. Harry Potter and the Deathly Hallows - J.K. Rowling (bahasa Inggris; edisi hardcover)
15. Breaking Down - Stefan Petrucha & Rick Parker (komik; bahasa Inggris)
16. Manga: Step By Step - Ikari Studio (buku panduan; bahasa Inggris; edisi art paper paperback)

Penakluk Dari Selatan (Estarath Seri Quazar dan Ksatria, #1) by R.D. Villam Anak-Anak Dunia Mangkuk Meraih Awan by R.D. Villam Sang Penantang Takdir (Vandaria Saga) by Ardani Persada Subagio Hailstorm (Vandaria Saga) by Fachrul R.U.N. Fantasy Fiesta 2011 Antologi Cerita Fantasi Terbaik 2011 by R.D. Villam Tales of the Deities by Riesling Zauri Legenda Sang Amigdalus by Klaudiani Garudayana Vol. 4 by Is Yuniarto The Sword in the Stone by T.H. White Eye of the Crow (Boy Sherlock Holmes, #1) by Shane Peacock Falcon Quinn and the Black Mirror by Jennifer Finney Boylan All That Glitters (Avalon Web of Magic #2) by Rachel Roberts ParaNorman by Elizabeth Cody Kimmel The Devil's Graveyard (Bourbon Kid, #3) by Anonymous Clockwork Angel (The Infernal Devices, #1) by Cassandra Clare Brisingr (Inheritance, #3) by Christopher Paolini Harry Potter and the Deathly Hallows (Harry Potter, #7) by J.K. Rowling Breaking Down (Papercutz Slices, #2) by Stefan Petrucha

Komentar tentang cerita dan pertanyaan seputar lomba ini langsung ke:
[Komentar] CerBul KasFan (September ’12)

Mari menulis fantasi!
;)


message 3: by Awi (last edited Sep 20, 2012 08:35AM) (new)

Awi Chin (adorkableracer) | 158 comments Bujang Dara

Pemuda itu tidak bernama. Karena itulah kami bebas memanggilnya apa saja. Namun aku mempunyai satu panggilan khusus yang kusematkan hanya untuknya. Bujang Sungai, karena setiap kali aku mendayung sampanku untuk menjala ikan-ikan. Ia selalu muncul dari dalam sungai menuju bantarannya yang dipenuhi lumpur cokelat yang menjijikan.

Tidak ada yang mengetahui siapa ia sebenarnya. Tiba-tiba saja, di saat musim kemarau berkepanjangan berbulan-bulan yang lalu. Ia hadir di tengah desa kami. Dan kehadirannya membuat kami terheran-heran. Karena setelah sosoknya nampak. Sungai Kapuas yang hampir mengering selama tiga bulan penuh tiba-tiba saja memasangkan airnya dengan jumawa.

Setelah itu ia menghilang. Masuk ke dalam sungai. Di saat para warga mengira ia adalah Petara[1] yang mungkin saja memutuskan untuk mengunjungi buminya.

Beberapa hari kemudian para penduduk desa bergantian menemukan wujudnya. Entah di atas Pokok Kabu[2] yang tumbuh di ujung desa kami. Beberapa yang lain melihatnya berenang di tengah Sungai Kapuas. Semulanya aku sangsi atas apa yang mereka katakan. Namun suatu saat. Ketika aku menebar jalaku ke dalam sungai yang dalam. Mataku menangkap bayangan di tepian sungai. Lelaki itu tengah berjemur. Atau mungkin saja sedang berjemur? Aku tidak tahu pasti. Karena ia setengah berbaring dengan lengan menumpu bagian atas tubuhnya. Harus kuakui darahku berdesir halus. Ia hanya mengenakan cawat saat itu. Tubuh kecokelatannya tampak berkilau basah. Otot-otot terpahat sempurna di badannya. Aku terus memaku tatapanku ke tubuhnya saat ia menangkap basah perbuatanku dengan matanya. Cepat-cepat aku menarik jalaku dan mendayung pergi. Sambil menahan kuat keinginanku untuk memandanginya kembali.

Dan malamnya, aku bermimpi. Lelaki itu pun turut berperan di dalamnya. Dan ceritanya? Tak akan mungkin dapat kuceritakan.

***

Esoknya, ketika aku sedang membereskan jalaku di atas sampan. Inik memandangiku dengan tatapan ketidaksetujuan lagi. Aku hanya tersenyum sambil mengikat rambutku. Kemudian bergegas masuk ke dalam sampan dan mendayungnya jauh-jauh. Sebelum Inik[3] sempat mengicaukan nasehat yang sudah kuhapal karena seringnya ia dinyanyikan.

Aku terus mendayung. Setelah merasa cukup jauh dari desa kami. Aku memarkirkan sampanku di bawah pepohonan rindang yang menjulurkan salah satu tangannya sampai melewati tepian sungai. Entah apa yang terjadi, hari ini aku merasa malas sekali untuk menjala ikan.

Aku mencelupkan tanganku ke dalam air sungai. Entah mengapa, air Kapuas menjadi semakin keruh saja belakangan ini. Padahal waktu aku kecil dulu, ikan seluang yang beterbangan di dasar sungai yang dalam pun pasti nampak dari permukaan. Tapi sekarang, ikan tapah yang menjulurkan mulutnya di permukaan sungai akan sangat sulit terlihat.

Aku membuka ikatan rambutku. Merasa kegerahan walaupun sinar matahari sudah tertahan di atasku. Aku mengambil air sungai lalu mencipratinya ke lenganku yang terasa sangat kering. Ah, mengapa aku pergi secepat ini tadi. Harusnya aku menunggu sampai matahari condong sedikit lagi ke barat.

Tapi aku bersyukur, lebih baik aku bersantai di sini daripada harus belajar menenun bersama pemudi-pemudi lain di Rumah Betang[4] . Menenun adalah keterampilan wajib yang harus dikuasai oleh setiap wanita di kampungku. Namun entah mengapa, aku lebih tertarik untuk menebar jala daripada menenun kain. lagipula, ikan dan makhluk sungai lainnya lebih berguna. Mereka bisa dimakan untuk menyambung hidup. Memangnya ada manusia yang bertahan hidup dengan memakan kain tenunan.

Aku beranjak saat kulihat mendung sudah menyaput surya. Ketika sudah mencapai ke tengah sungai, jala warisan dari ayah kutebar. Kemudian kubiarkan beberapa saat sebelum akhirnya kuangkat. Namun aneh sekali, beberapa kali kutebar. Jalaku hanya menjala air. Tanpa sedikit pun jejak kehidupan tersangkut di benangnya.

Walaupun heran, aku tetap menebar jalaku. Sambil membiarkan aliran air mendorong sampanku ke hulu. Keanehan terjadi lagi, jalaku terasa berat. Mungkinkah tersangkut? Tapi tidak mungkin. Aku mengapung di tengah-tengah kapuas sekarang. Kedalaman air di tempat ini dapat mencapai beberapa meter dan jalaku tak mungkin sampai ke dasarnya. Aku terus berusaha menariknya sampai pada akhirnya, akulah yang tertarik.

Hantu Air! aku berpikir cemas. Namun tidak mungkin. Hantu air hanya akan menarik manusia yang berenang di dalam air. ketika otakku masih dipenuhi berbagai pikiran dan tanganku tetap dijabani oleh berbagai perlawanan. Sentakan keras menarikku ke dalam sungai. membuat sampanku terguling dan diriku menghantam keras ke dalam air.

Aku berenang panik ke arah sampanku. Tapi tanganku terus tertarik. Belitan tali jala telah menyimpul mati di pergelangan tanganku. Aku megap-megap menarik napas ketika diriku terdorong kebawah sungai. Susah payah aku mendorong diriku ke cahaya di atas kepalaku. Paru-paruku terasa memohon meminta udara. Tangan dan kakiku sudah kebas sampai-sampai aku merasa mereka telah tiada.

Aku berhasil! Dengan penuh kemenangan aku menarik napas sebebasnya. Aku meraba pergelangan tanganku dan mencoba melepas renggutan tali keras itu. Ketika tiba-tiba saja makhluk yang tersangkut di jalaku menunjukkan dirinya di permukaan sungai. Punggungnya yang bergerigi tajam tampak berenang mendekatiku. Aku berenang panik. Apalagi ketika mulut runcingnya membuka penuh napsu. Menampakkan gigi-gigi taring yang memenuhi sekujur tubuhnya.

Hal terakhir yang kutahu di tengah keterkejutanku adalah rambut pendek dan leher berotot yang tiba-tiba saja muncul dihadapanku. Sebelum akhirnya kesadaranku melarikan diri tanpa permisi.

***

Sinar….

Di dalam gelap mataku, berberkas-berkas sinar menyinari dengan lancangnya. Apakah aku sudah mati?

Basah....

Tubuhku terasa basah. Siapa yang sangka neraka akan sebasah ini. Atau mungkinkah aku berada di surga?

Buka matamu, Dara!

Suara berat penuh wibawa memasuki pikiranku. Siapa gerangan yang memanggilku.

Buka matamu, Dara!

Seperti tersihir, aku mengikuti perintahnya.
Yang pertama kali kulihat adalah mata sejernih Sungai Kapuas yang sering kulihat dulu. Dan percayalah, mata itu, adalah mata yang seakan-akan menuang tuak di dalam kesadaranku. Membuatku mabuk tanpa dapat kusadari. Aku terdiam lama. Sampai ia memundurkan wajahnya dari hadapanku.

Aku duduk dengan perlahan. Seribu kail pancing terasa mengait kepalaku seketika. Aku mendesis hebat. Pemuda itu menyentuhkan telunjuknya di keningku. Dan seketika itu pulalah, semua mata pancing itu terasa melepaskan diri dari kepalaku.

Apakah kau baik-baik saja?

Aku memandang kesekeliling. Hanya ada kami berdua di bantaran sungai berlumpur ini. Siapa yang berkata-kata di kepalaku? Karena laki-laki itu terus mengatupkan bibirnya sedari tadi.

Tidak perlu kau takut, Dara. Akulah yang berbicara padamu.

Aku memandang kembali mata itu, Kau?

Lelaki itu mengangguk.

Apa sebenarnya kau ini? aku bertanya dalam hati.

Aku tidak tahu.

Emosi dalam suaranya yang bergema di dalam kepalaku memang datar, tidak menunjukkan ekspresi apapun. Namun matanya memancarkan emosi yang berpijar sekuat mentari di terik siang. Sejujurnya aku masih ingin menanyakan siapa dirinya. Tapi matanya seakan mengomandoku untuk berhenti bertanya tentang gerangan dirinya.

Apa yang terjadi?

Seekor buaya terperangkap di jala yang kau tebarkan. Tentu saja ia marah. Tapi jangan khawatir. Aku sudah membuat perjanjian dengannya.

Apa yang ia bicarakan? Perjanjian? Bagaimana mungkin ia bisa bernegosiasi dengan buaya?

Jangan salah Dara. Semua makhluk hidup mempunyai pikiran. Hanya saja manusia sudah terlampau kotor untuk bisa mendengarnya. Bahkan rumput yang sedari tadi kau cabuti daunnya dengan tanganmu itu menangis pilu. Hanya saja kau tidak bisa mendengarnya.

Aku menghentikan kegiatan tanganku seketika.

Perjanjian apa yang kau buat?

Itu…, biarlah menjadi urusanku dengan buaya itu. Yang jelas, kau sudah aman sekarang. Ia tak akan mengejarmu sampai ke lanting[5] kalian.

Darimana kau tahu kalau aku tinggal di lanting? Dan darimana kau tahu namaku?

Aku tidak tahu, Dara. Aku hanya tahu.

Matanya menatap lekat ke arahku. Entah kenapa, mukaku tiba-tiba saja memanas.

Aku harus pulang. Inik pasti mencariku.

Ia menunjuk ke sungai di ujung kiri kami. Sampanku beserta dayung dan jala yang memerangkap buaya tadi telah terpasang rapi di dalamnya. Aku berdiri tergesa. Tanpa memperdulikan kalau lumpur telah mengering di rambut panjangku.

Kami berjalan berdua ke arah sungai. Dengan seksama ia memperhatikanku masuk ke dalam sampanku. Sebelum aku mendayung pergi. Aku kembali berujar ke dalam hati.

Bolehkah aku tahu siapa namamu?

Ia menatapku lekat sebelum suaranya kembali bergema di dalam kepalaku.

Nama yang kau berikan kepadaku sangat bagus. Lebih baik kau tetap memanggilku Bujang.

Kapan kita bisa bertemu lagi?

Besok, di tempat ini. Jikalau kau bersedia.

Entah mengapa, aku mengangguk pelan. Kemudian aku mendayung sampanku menjauh dari pinggiran sungai itu. Belum lama kami terpisah, suaranya kembali masuk ke dalam pikiranku.

Hati-hati, Dara.

***

Inikku bercerita kalau Kek Tung[6] tengah menyerang para pendatang yang baru beberapa hari menetap di kampung kami.

Aku hanya terdiam mendengar ceritanya. Sambil merasakan angin malam berhembus masuk di celah-celah papan kayu yang menutupi lanting kami. Nyala api yang mendesau suram dari lampu tempel tampak menambah keriput inikku menjadi berkali-kali lipat banyaknya.

Sejujurnya aku sudah mendengar cerita itu ketika berkumpul dengan kawan-kawan tadi pagi. Sambil mencuci baju kami di tepian sungai. Mereka berkata kalau salah seorang dari pendatang itu ditemukan pingsan dengan luka cakaran di sekujur tubuhnya.

Kalau boleh dibilang, aku memang membenci para pendatang baru itu. Mereka ingin membuka tempat penambangan emas baru di hutan yang ada di hulu sungai ini. pekerjaan mereka adalah satu-satunya alasan mengapa air Kapuas berubah warna. Aku yakin, beberapa tahun lagi, warna air Sungai Kapuas akan berubah menjadi hitam.

Inikku kembali bercerita kalau beberapa hari lagi hutan yang telah mereka survey lokasinya akan dibakar untuk membawa mesin masuk. Aku terdiam jengkel mendengarnya. Siapa sebenarnya mereka, seenaknya saja memberondong dan membabat hutan kami.

Pembicaraan terus berlanjut sampai inikku menanyakan kemana perginya ikan hasil tangkapanku hari ini. Aku menutup mulutku rapat. Tidak mungkin kuceritakan kalau aku diserang buaya hari ini. Bisa-bisa aku dilarangnya untuk kembali pergi menjala ikan. Dan yang pasti, tidak mungkin kuceritakan kalau aku diselamatkan Bujang. Akan ada banyak spekulasi yang bisa saja terbit dari pikiran tua di kepala Inikku.


message 4: by Awi (last edited Sep 20, 2012 08:33AM) (new)

Awi Chin (adorkableracer) | 158 comments di tempat yang sama keesokan harinya. Kami kembali menukar pikiran kami.

Dimana kau lahir, Jang?

Jauh…, jauh di pedalaman hutan yang tak tertembus manusia.

Dimana ayah dan ibumu?

Ayah dan ibuku adalah enggang dan naga. Dari hubungan merekalah aku lahir. Sesudah aku tercipta. Mereka tiada.

Maksudmu?

Kau tahukan legenda mengenai enggang dan naga bagi suku Dayak?

Ya, enggang adalah dewa penjaga sungai dan naga adalah dewa penjaga langit. Namun aku masih tidak mengerti. Apakah kau anak titisan dewa?

Hanya itu yang perlu kau tahu dan hanya itu yang dapat kuberitahu padamu Dara.

Dimana kau tinggal?

Selama pepohonan masih menghijau, sungai masih mengalir, dan para binatang masih dapat bernyanyi. Di sanalah aku tinggal. Tidak ada patokan pasti untukku berada. Alam adalah rumahku.

Hidupmu penuh dengan misteri, Jang.

Karena itulah sedari awal kukatakan padamu. Semakin kau mencari tahu tentang diriku, kau akan semakin tidak mengetahui apapun. Sekarang, bagaimana kalau kau ceritakan tentang dirimu.

Hidupku tidak menarik Jang. Kau pasti mati bosan mendengarnya.

Tidak apa-apa. Aku menemukan diriku tertarik pada semua hal yang ada di dirimu. Bahkan dalam kehidupanmu yang kau bilang sangat membosankan.



Baiklah kalau kau tidak mau bercerita, aku tidak dapat memaksamu.

Aku hanya seorang gadis Dayak biasa Jang. Abang beserta kedua orangtuaku meninggal ketika rumah yang kami tempati tertimpa pohon saat angin kencang memporak porandakan desa kami. Hanya aku satu-satunya manusia yang selamat dari peristiwa itu. Setelahnya aku dibawa ke tempat ini untuk tinggal bersama Inikku.

Hanya itu saja? Pasti masih ada yang lain.
Hmmm, aku bingung. Harus kuceritakan apa lagi kepada dirimu.


Mengapa kau menjala ikan? Maksudku, aneh sekali melihat wanita cantik sepertimu menantang teriknya mentari dan meremehkan ketenangan sungai setiap harinya.



Kenapa? Kenapa kau harus malu? Apakah salah jika aku berkata jujur. Karena sejujurnya, kau memang cantik.

Kau harus berhenti membaca pikiranku, kau tahu. Ada banyak hal dalam hidup wanita yang tak bisa diketahui oleh laki-laki secara cuma-cuma.





Maaf.

Tidak apa-apa.



Ah, menjawab pertanyaanmu tadi. Begitulah diriku, aku memang tak terlalu suka duduk-duduk di rumah Betang sana. Sambil bergosip tiada henti dan menenun kain. aku percaya kalau kami, para wanita, sebenarnya bisa berbuat lebih daripada menjalani hidup seperti itu. Namun sayang, kebanyakan di antara kami hanya menerima nasib turunan dari nenek moyang kami dengan begitu pasrah.

Sekarang kau percaya kan?

Apa?

Bahwa kau memang menarik!





A…, aku harus pulang. Kemarin aku sama sekali tidak membawa ikan ke rumah dan Inik terus saja menanyaiku.

Matahari saja masih enggan untuk pulang. Kenapa kau begitu terburu-buru untuk mendahuluinya.

Tapi aku harus menjala ikan. Kau tahu itu!

Bujang tidak menjawab perkataanku lagi. Ia hanya mengangkat telunjuknya ke arah sampanku. Kemudian menggerakkan telunjuknya ke atas dengan penuh tenaga. Seakan seekor babi hutan berdiri di atas jari itu. Tiba-tiba, dengan penuh ketidakpercayaan, mataku menyaksikan berbagai jenis ikan melompat masuk ke dalam sampanku. Menggelepar pasrah seakan-seakan sedang berpesta pora di dalamnya.

Apa yang….

Aku tersentak diam. Kesulitan untuk merangkai kalimat di dalam kepalaku.

Masalahmu selesai Dara. Ikan-ikan itu cukup kan?

Pandangan kami berdua tertumbuk mesra. Dapat kurasakan jantungku berdetak sumbang di dalamnya rongganya. Tak berapa lama, benda itu makin bertalu-talu dalam dadaku. Saat bibirku memetik manis yang menggeliat dari bibir si Bujang Sungai.

***

Sejak saat itulah, aku merindukan datangnya sore hari di dalam hidupku yang dulunya sangat membosankan. Kami bertemu setiap hari. Saling berbagi pikiran dengan keanehan-keanehan yang ia ciptakan. Namun entah mengapa, aku menyukainya.

Sudah berkali-kali aku menyuruhnya untuk datang ke kampungku. Membangun rumah di sana dan berbaur dengan masyarakat. Tapi sekian kali kulontarkan ide itu, sekian kali pula ia menolak. Pada akhirnya, aku menyerah. Biarlah keajaiban pemuda ini menjadi milikku saja. Kepunyaanku seorang yang tak akan kubagi dengan orang lain.

Kau tahu, para pendatang itu kembali diserang. Mereka bahkan akan memanggil dukun khusus dari seberang pulau.

Apapun yang akan mereka lakukan, mereka tak akan berhasil.

Maksudmu?

Mereka hanyalah tamu. Bayangkan ada orang asing yang seenaknya masuk dan merusak rumahmu. Apakah kau tidak akan marah? Alam ini adalah rumahku. Hutan yang akan mereka rusak ada istanaku. Tak akan kubiarkan mereka mengotorinya. Apalagi memusnahkannya.



Kenapa?

Apakah…



Apakah kau yang menyakiti mereka?

Tidak Dara. Aku tidak akan pernah menyakiti manusia lain. Asal kau tahu saja, bukan hanya aku makhluk yang berdiam di hutan-hutan ini. ada makhluk-makhluk lain, baik yang kasat maupun tidak, yang tak ingin rumah mereka dirusak. Beberapa makhluk itu bahkan membenciku karena terus menerus melindungi kalian!

Kami kembali terdiam. Memandang ke arah sungai yang mengalir tenang di depan kami. Tak berapa lama, dapat kurasakan tangannya memeluk erat tanganku. Segera saja tatapan kami bertumbukan, begitu juga bibir kami.

Kau mencintaiku!

Apa?

Kau mencintaiku!

Sudah kukatakan kepadamu. Berhentilah membaca pikiranku.

Aku menarik diriku lepas dari pelukannya. Rasa sebal yang tak bermuara tiba-tiba saja mengalir di nadi perasaanku.

Aku tidak membaca pikiranmu. Kau tahu, hanya dengan memandangmu saja aku sudah tahu bahwa kau mencintaiku.

Apakah… Apakah kau merasakan hal yang sama? Tunggu sebentar, jangan dijawab.

Aku memandang mata jernihnya. Merasakan kehangatan yang memancar keluar lalu merasuk dan memeluk hatiku erat.

Kau sudah tahu kan jawabannya?

Aku mengangguk malu.

Apakah kau…

Aku…

Tidak diperlukan pertukaran pikiran lagi. Hati kami seakan menyatu. Aku menelusuri otot yang menggumpal di lengannya. Terus turun sampai aku memegang cawatnya yang nampak lebih berisi.

Kau yakin?

Tangankulah yang bergerak memenuhi jawabannya.

***

Dukun dengan jenggot yang menyapu lantai itu tampak sibuk dengan mantra yang ia rapalkan. Satu tangannya sibuk memegang kendi yang mengeluarkan bau kemenyan dari dalamnya. Tangannya yang lain tampak menari-menari dengan ekspresif di udara. Di belakangnya, kendaraan warna kuning dengan pengeruk besar di depannya berbaris rapi. Sungguh, aku tak pernah melihat kendaraan yang sebesar dan semengerikan itu. Para warga kampung bahkan sudah memenuhi jalan sekarang
“BERHENTI!!!” Paman Sesang, ketua adat kampung kami berteriak menghadang karnaval aneh itu. Ini adalah kali pertama kami melihatnya meninggikan suara dengan penuh kemarahan dan kemurkaan.

Seorang lelaki tua berkemeja hijau dan mengenakan penutup kepala berwarna kuning turun dari kendaraan besar yang memimpin jalan. Dengan penuh percaya diri ia melangkah menghadap Paman Sesang.

“Ada apa ini Pak?” ia memang bertanya dengan nada halus. Namun kepongahan turut membumbui perkataannya.

“Jangan kau rusak alam ini. Kau tidak tahu apa yang kau perbuat, orang luar! Lebih baik kau pergi sekarang atau kejadian yang lebih buruk akan menimpamu lagi.”

“Apa kau mengancam kami, Pak Tua? Tanah itu sudah kami beli. Sertifikatnya masih ada jika kau ingin melihatnya.”

“Ini tanah kami!” Pak Sesang mendelik tajam. “Kau tidak bisa dan tidak akan bisa membelinya!”

Orang kota itu sudah akan berargumen ketika dukun itu berteriak kencang. Kendi yang ia pegang jatuh berhamburan di atas tanah ketika seekor harimau besar melesat dari dalam hutan dan langsung menerkamnya. Memiting tubuh tak berdaya itu ke tanah.

Para warga berteriak panik. Orang kota itu nampak kehilangan darah di mukanya. Tubuhnya berasap dalam sekejap. Paman Sesang yang berada tepat di hadapannya nampak mundur secara teratur. Inik menarik-narik tanganku. Mengajakku kembali turun ke lanting kami. Namun aku tertegun. Karena angin tiba-tiba mengamuk dan lelaki kembali muncul dari dalam sungai. Sama seperti waktu itu, saat ia pertama kali datang ke tempat ini.

Para warga yang sebelumnya panik tiba-tiba terdiam. Penasaran dengan kehadiran Bujang. Lelaki itu mengangkat telunjuknya menghadap langit. Seketika, semua terdiam. Benar-benar diam. Asap yang menguar dari tubuh lelaki kota itu terdiam. Sobekan daging dari sang dukun pun terdiam. Gerakan para warga membeku. Menunjukkan sejuta ekspresi dalam wajah mereka.

Dara, suara Bujang kembali terdengar di dalam kepalaku sementara ia berjalan ke arahku, aku harus pergi.

Apa yang kau bicarakan?

Aku harus pergi, Dara. Waktuku sudah habis di tempat ini!

Tapi mengapa?

Ini perjanjian lain, Dara. Aku harus pergi atau kekacauan ini akan bertambah berlipat ganda.

Tunggu, kau tidak boleh meninggalkanku seorang diri. Aku melarangmu melakukan hal itu.

Ia membawaku ke dalam pelukannya. Telingaku terasa penuh, air mata mulai menutupi mukaku .

Jangan khawatir Dara. Alam adalah rumahku. Jika kau merindukanku, pandanglah pepohonan hijau, sungai yang mengalir, dan para binatang yang bernyanyi. Aku ada di tengah mereka.

Aku tak rela, Jang. Jangan tinggalkan aku seperti ini.

Aku tidak punya pilihan lain. Ia melepas pelukannya, dan satu lagi, jagalah anak dalam kandunganmu. Ingat-ingatlah mimpimu malam itu untuk menjawab semua pertanyaan yang mengendap di pikiranmu.

Anak? Aku…, aku mengandung?

Ia tersenyum penuh damai, Jagalah anak kita Dara. Maaf, aku tidak bisa berada di sampingmu. Namun percayalah, aku akan terus menjagamu.

Aku belum sempat berkata-kata saat ia menjentikkan jarinya. Hal terakhir yang kuingat adalah matanya yang penuh haru dan sayang, lalu semuanya menjadi gelap.
Dan sejak saat itulah, Bujang menghilang dari kehidupanku.

***

Di dalam mimpiku, malam itu. Aku melihat kami berdua bersanding. Aku menyaksikan kami berdua berpadu menjadi satu. Aku memandang ketika kami berdua benar-benar tersahkan dalam mahligai. Dan aku menonton kehidupan kami bertiga dalam rumah kecil di dalam hutan. Dengan kedamaian dan kebahagiaan yang terus berkembang di dalamnya.

Sekarang aku sadar, tidak semua mimpi dapat menjadi kenyataan. Namun di dalam hati, aku terus menunggu. Menunggu sebuah janji yang dulu pernah ia ucapkan kepadaku. Terus menunggu sampai ia akan kembali lagi menunjukkan dari dalam sungai. Seperti waktu itu. Saat kami pertama bertemu.



Notes:
1. Tuhan.
2. Pohon Kapas.
3. Nenek
4. Rumah adat Dayak.
5. Rumah yang didirikan di atas sungai.
6. Makhluk mistis penjaga hutan. Wujudnya merupakan seekor harimau yang berbunyi kung, kung, kung.


message 5: by Shiki (new)

Shiki (noirciel) | 878 comments RUANG 666

Rasa nyeri dari duri yang menghunjam daging membuat Ash meringis tertahan. Ratusan abad sejak lahir, baru kali ini ia sadar bahwa belenggu duri—yang biasanya hanya jadi hiasan atau pagar rumah-rumah di Neraka—ternyata lebih dari cukup untuk menyakitinya.

Ash—alias Asmodeus atau Asmodai—tidak mengerti kenapa dia mendapat perlakuan ini. Seingatnya, dia tidak melanggar hukum Neraka. Memang ada sedikit pertikaian dengan beberapa Iblis atau Malaikat lain sehubungan dengan sumber makanan, tapi Ash selalu sukses menahan diri (atau memanipulasi situasi) agar tidak mendapat teguran langsung dari Matt, Sekretaris Pribadi sekaligus Juru Bicara Tuhan.

Jangan-jangan memulai bisnis prostitusi itu berlebihan, ya? pikir Ash sambil berusaha bergeming. Bernafas sekalipun rasanya menyiksa sekali jika tubuh dililit sulur berduri seperti ini. Sebagai tambahan, ia terkunci dalam posisi yang melelahkan. Terkadang tubuhnya oleng, hingga menambah luka.

Tetesan darah membentuk genangan gelap di bawah kursinya, membasahi lantai Ruang 666.

Ruang 666.

Ash dan keenam saudaranya dulu menggunakan tempat ini sebagai ruang pertemuan. Tapi kemudian Heaven’s Edge berdiri. Mereka semua sepakat tempat itu jauh lebih nyaman ketimbang ruangan apek dengan nomor jelek ini, sehingga tidak pernah kemari lagi setelahnya.

Suara letupan keras membuat Ash mengangkat kepala. Terheran-heran dia melihat seseorang—yang bertubuh kekar bagaikan binaragawan—muncul pada salah satu kursi yang mengelilingi meja konferensi di hadapannya.

“Booby? Kaukah itu?” tanya Ash.

“Ash?” si tubuh besar menyahut. Ia memang ‘Booby’ Beelzebub, Iblis Kerakusan, salah seorang saudara Ash. “Sedang apa kau... Kenapa kau terbelit seperti itu!?”

“Aku juga ingin tahu,” Ash mendesah tertahan. “Kau sendiri, kenapa kemari?”

“Bos,” Booby menjawab singkat.

“Jadi dia memang marah,” gumam Ash. “Seharusnya aku tidak menuruti saran Amon untuk buka bordil di Silicon Valley...”

“Kudengar bisnis barumu sukses, ya? Selamat.” ucap Booby tulus. Sebagai Iblis, Booby memang agak terlalu baik. Sepanjang ingatan Ash, satu-satunya kejahatan yang dilakukan Booby hanyalah membuat masakan yang tampak seperti produk akhir saluran pencernaan manusia.

“Yeah, sukses. Aku lupa bos kita tercinta itu benci kalau bukan jadi penggagas atau nomor satu.” Ash terkekeh.

Suara letupan kembali terdengar. Kali ini dua kali berturut-turut, masing-masing memunculkan seorang gadis berpakaian minim dan pria muda dalam setelan necis.

“He? Apa? Kenapa? Di mana ini?” gadis itu tampak bingung mendapati dirinya berada di Ruang 666. Si pria necis hanya melihat sekeliling, kemudian menatap Ash sambil tersenyum simpul.

“Benar kan kata-kataku? Tempat itu kepala naga bagi bisnis rumah bordil.”

“Hanya itukah kata-katamu melihat Ash penuh darah begitu!?” Booby menukas. Tapi Ash tidak heran. Amon alias M.Amon alias Mammon—si pria bersetelan mahal ini—adalah Iblis Keserakahan. Yang ada di benaknya hanya bisnis, bisnis dan bisnis. Terlepas dari akhirnya yang apes, Ash mengakui saran bisnis Amon tidak salah. Maka dia menyeringai dan menyahut, “Yeah. Sayangnya itu juga pantat penggorengan.”

“Kau memang kelihatan seperti gorengan baru diangkat,” celetuk si gadis. “Dan kenapa dengan sulur-sulur ini? Apa kami harus menontonmu ‘dimakan’ oleh Marquis de Sade?” Biasanya, nada sinis gadis itu—terutama jika berbicara soal ukuran dada, pinggang dan pinggul—terdengar lucu bagi Ash. Tapi kali ini tidak.

“Memangnya ini mauku!?” tukas Ash. “ Kalau tanya ‘kenapa’, aku sendiri juga ingin tahu. Apa ini tentang bisnis yang dimaksud Amon, atau...”

Ash meringis. Sentakan kata-katanya barusan membuat lehernya tertusuk lebih dalam. Tapi, dalam kesakitan pun dia masih bisa menemukan satu kejanggalan dari penampilan gadis itu.

“Oi, Leevy, sumpelan dadamu miring, tuh.”

“Hah!?” Leevy panik dan buru-buru melihat dadanya. Amon mendengus. Posisi dada gadis itu memang terlalu condong ke tengah. Sebenarnya, fakta bahwa Leevy mendadak terlihat seksi saja sudah merupakan kejanggalan. Semua tahu bahwa Leevy, alias Leviathan si Iblis Kedengkian, bertubuh lebih rata daripada permukaan danau Salar de Uyuni.

“Diam kau, Iblis Matre!” Leevy meraung kesal sambil mati-matian memperbaiki penyumpal dadanya. Diteriaki begitu, Ash dan Amon bertukar pandang dan menyeringai, sementara Booby berbaik hati memberi tahu Leevy apakah posisi dada palsunya itu sudah normal atau tidak.

Ash baru hendak bertanya kemana tiga Iblis lainnya ketika ledakan keras tiba-tiba mengguncang Ruang 666. Tak sampai semenit kemudian, pintu menjeblak terbuka. Seorang pemuda berambut merah masuk dengan wajah masam sambil mendorong gerobak.

“Setan alas mana yang memanggilku, sih!! Aku sedang sibuk, tahu!” ujar si rambut merah dengan sewot. Dengan kasar dia mendorong gerobak tersebut ke salah satu kursi yang masih kosong. Gerobak itu membentur kursi dan terguling, menumpahkan isinya: seorang gadis cantik berambut coklat muda yang tengah tertidur lelap.

“Marah-marah terus, kau bisa kena darah tinggi, Satan,” sapa Booby. Satan—si Iblis Kemurkaan berambut merah—mendelik ke arah Iblis bongsor itu. Mata kuningnya berkilat galak, tapi Booby tidak takut. Satan memang terlahir untuk marah-marah dan mengkritik apapun yang lewat di depan matanya.

“Kau tiba bersama-sama Bell?” Amon berjongkok di sisi gadis yang tertidur itu.

“Nggak. Aku menemukannya di luar sana!”

Dengan dua langkah panjang Satan mendekati Bell dan merenggut kerah bajunya. “HOI! Bangun, pemalas!! Panggilan darurat! BANGUN!!” Tanpa rasa hormat sedikitpun ia mengguncang-guncang tubuh Bell. Kasar terhadap wanita—Ash selalu mencela sikap Satan yang satu itu.

Untungnya, Bell—Belphegor—sama sekali tidak terusik. Gadis itu tetap saja memejamkan mata sambil mendengkur halus. Sebagai Iblis Kemalasam, tidur memang kondisi ‘normal’ baginya. Terakhir kali Bell terbangun adalah ketika Charles Perrault yang dimabuk cinta menciumnya dan—setelah kecewa karena ditolak dan ditinggal molor lagi—melampiaskan kesal dengan mengarang Dongeng Putri Tidur.

“Cih! Dasar AMPAS,” Satan sepertinya menyerah untuk membangunkan Bell. Dengan kasar dia menegakkan kursi yang terguling, kemudian duduk di sana. Keningnya berkerut saat melihat Ash yang terikat di tengah ruangan.

“Apa yang kau lakukan di sana?”

“Aku sudah bosan menjawab itu,” Ash meringis. “Intinya, aku membuat Bos marah, dan sepertinya kalian semua dipanggil sidang.”

“Haaa? Alasan apaan itu!? Padahal aku sedang sibuk! Ada penulis baru memberikan naskah yang... yang... menarik...”

“Menarik? KAU bisa tertarik pada karya manusia!? Yang benar?” Amon langsung terdengar antusias. Dugaan Ash, dia pasti mencium peluang bisnis baru. Mungkin franchise novel…

“Yeah... Kisah tentang seekor naga yang membantai sembilan pendekar...”

Ucapan Satan terpotong oleh kegelapan yang tiba-tiba menyelimuti Ruang 666. Nyaris bersamaan, aura yang sangat mereka kenal menyergap bagaikan angin ribut. Bell bahkan menggumam gelisah dalam tidurnya. Ash menahan nafas, menyadari bahwa penghakiman akhirnya tiba.

Seberkas cahaya tiba-tiba menyorot dari atas bagaikan spotlight dalam pertunjukan panggung. Di tengah-tengah cahaya itu, berdiri sesosok pria jangkung dengan rambut pirang keemasan dan jas merah. Pria itu membuka mata, menatap Ash tajam. Tangannya menunjuk dengan dramatis.

“KENAPA!?”

“Maaf, Bos, tapi saya...”

“JANGAN PANGGIL BOS!” pria itu kembali membentak. “Sudah kubilang, panggil aku ‘BANG LUCY’!”

Hening sejenak.

Kemudian…

“Uwah, kumat deh...” Leevy memasang wajah percampuran malas dan jijik. “Mentang-mentang kembarannya nggak mau manggil ‘Kakak’, kita yang dipaksa...”

“Tapi memang kita adiknya, kan?” bisik Booby.

“Euh...”

“DIAM!” Lucy membentak sekali lagi. Ash langsung yakin seratus persen kalau kakaknya memang sedang bad mood.

Lucy—alias Lucifer—biasanya tidak berbahaya. Sekalipun dikenal sebagai Bos Besar para Iblis, sebenarnya dia hanya benci kalah. Itu sebabnya Ash dan saudara-saudaranya tidak pernah menjamah ranah bisnis yang berpotensi menyulut kemarahannya. Namun, sekalipun mereka melakukan itu, biasanya Lucy hanya akan bad mood sebentar. Ia akan langsung pulih setelah tidur di pangkuan Lilith, istrinya.

“ASH!” Lucy kembali menuding Ash. “KENAPA KAU MENIDURI ISTRIKU!?”

Kembali hening. Satan sempat membuka mulut untuk berkomentar, tapi menutupnya langsung. Tanpa dikomando semua langsung menatap Ash, yang berkedip polos.

“Kok Abang tahu...?”

“Semua berawal kemarin malam,” Lucy menggeram. “Kami bersenang-senang di hotel yang baru dibuka di Hollywood. Bercinta, tepatnya. Ditemani absinthe kelas satu, pertama-tama kami mandi bersama, diselingi...”

“BANG!!” keempat Iblis selain Ash menjerit memotong penjelasan Lucy. “Plis deh, Bang! Gak usah pamer kegiatan ranjang loe napa!” maki Leevy dalam dialek yang terdengar asing.

“Uh... ahem, oke,” Lucy mengernyitkan kening, tampak kurang rela. Dia berpaling kembali pada Ash.

“Singkatnya! Begitu kami mencapai PUNCAK...”

BAAAAAANG!! Get TO THE POINT, dong!!”

“Iya! IYAAAA!” Lucy menyahut sewot. Dia kembali berdehem dan akhirnya berkata pendek, “Saat ITU, Ash, pada saat penting ITU, dia meneriakkan… namamu.”

Untuk kedua kalinya keheningan menyelimuti Ruang 666. Selama kira-kira setengah menit, hanya igauan gelisah Bell yang terdengar.

Kemudian Ash merespon dengan wajah maklum, “Aaaah… jadi ternyata itu masalahnya?”

Tidak perlu jadi jenius untuk tahu respon itu adalah pengakuan. Lucy kembali berteriak, “KENAPA!?” teriaknya. “KENAPA KAU MENIDURI LILITH!?”

Semua terdiam menatap Ash, tegang hingga lupa bernafas. Satan bahkan kehilangan hasrat sepenuhnya untuk mengkritik atau mengomel. Di dekat kakinya, Bell menggeliat pelan dan perlahan-lahan membuka kelopak mata.

“Yaa… mau bagaimana lagi, Bang,” Ash meringis polos. “Saya ini Iblis Nafsu. Meniduri istri orang itu ‘kan salah satu item dalam job description saya~♡?”

Detik berikutnya, kegelapan penuh angkara menyelimuti Ruang 666.

***


message 6: by Shiki (new)

Shiki (noirciel) | 878 comments Ash berdiri di depan cermin besar di kamar pribadinya. Wajahnya keruh. Hari ini hari istimewa. Dia akan kencan dengan Keith, gadis idamannya. Tapi, dia malah memimpikan masa lalu. Sungguh permulaan hari yang buruk.

“Sialan...!!” Ash meninju kaca keras-keras, muak melihat dirinya di cermin. Tepatnya, muak pada pakaian kulit hitam ketat dengan kancing-kancing logam yang membelit tubuhnya. Sebagai tambahan penyiksaan, ukuran baju itu amat sangat ketat, memaksanya menetap dalam wujud aslinya.

Laki-laki tampan.

Yang juga…. perempuan cantik.

Baju ini adalah hukuman dari Lucy. Ash tidak akan pernah lupa kata-kata Sang Bos Iblis itu tentang cara mematahkan kutukannya.

Temukan cinta sejatimu!

Iblis Nafsu disuruh mencari cinta sejati. Tak ada lelucon yang lebih buruk dari itu.

Hello, hello, Baby, you called? I can’t hear a thing…

Suara Lady Gaga membuyarkan lamunan Ash. Dengan sigap dia menyambar ponselnya (lungsuran Bang Lucy) dan langsung berubah ceria demi melihat nama Keith di layar panggil.

“Halo!?”

“Kenapa nafasmu memburu begitu?’ suara jutek khas Keith terdengar dari seberang. Sepertinya dia curiga Ash baru bermain-main dengan penghuni haremnya.

“Cuma bersalto sedikit ke tempat tidur untuk mengambil ponsel, kok. Ada apa, Keith?” tanyanya.

"Aku sudah di stasiun. Lima menit lagi aku sampai, cuma mau bilang itu, kok.”

“Oke,” Ash meringis.

Keith menggumamkan sesuatu yang kedengaran seperti ‘sampai nanti’. (Tapi mungkin juga “sampai mati’.) Sebelum ia memutus hubungan, Ash mendadak berseru tertahan,

“Keith!”

“Ya?”

“Kau lebih suka laki-laki atau perempuan?”

‘Haa!? Kenapa tiba-tiba tanya begituan, sih!?’

“Yaa, ingin tahu saja,” Ash mendesah. “Bagaimana… bagaimana kalau aku tidak... seperti bayanganmu?”

Hening sejenak, Ash mendengar Keith menghela nafas panjang sebelum menjawab dengan nada datarnya,

“Kalau kau lupa, KAU itu Iblis sinting yang merampas jantungku, tapi aku tetap hidup setelahnya. Kau pikir ada lagi yang bisa membuatku kaget setelah semua ini?’

Iblis berkelamin ganda? Ash menyahut dalam hati. Tapi dia memutuskan main aman dahulu.

“Tidak salah,” dia terkekeh. “Baiklah, aku akan segera ke sana. Sampai nanti, Keith.”

Ash melempar ponselnya kembali ke kasur, dan mulai berpakaian. Senyum kecil membayang di wajahnya.

Yah, apapun yang terjadi, terjadilah. MUDAH-MUDAHAN, kencan malam ini sukses!


message 7: by Fenny (last edited Oct 06, 2012 02:38AM) (new)

Fenny Wong (fennywong) | 389 comments Simfoni Dewata

Di antara kehampaan, banyak titik warna-warni muncul menghiasi. Kalau ibumu adalah seorang kolektor lukisan, mungkin kau akan menebak cerita ini adalah tentang karya George Seurat (tidak, jangan membuka mesin pencarimu di internet. Baca saja cerita ini, oke?). Sebaliknya, kalau keluargamu memiliki toko elektronik, mungkin kau akan terpikir bagaimana televisi mengeluarkan titik warna-warni ketika programnya rusak. Semuanya salah, karena yang menunggumu untuk alinea-alinea ke depan adalah sebuah pertunjukkan orkestra. Atau lebih tepatnya, sebuah kontes kecantikan. Tunggu — atau mungkin keduanya: orkestra kontes kecantikan.

Masuk akal?

Tidak.

Tapi tidak apa-apa. Cerita tidak perlu masuk akal untuk menjadi menarik.

Orang tuamu mungkin akan senang mendapatimu membaca cerita ini, karena di dalamnya ada pengetahuan tentang bagaimana segalanya bermula. Itu, 'kan, yang selalu dipertanyakan orang-orang dewasa? Kalau kau sepertiku, melewati jam-jam membosankan dalam kelas IPA, kau akan mengenal seseorang bernama Darwin — yang mencetuskan ide gila bahwa semua orang berasal dari primata. Itu, adalah salah satu usaha terpayah dalam mencari kebenaran tentang awal mula. Jika benar manusia berasal dari monyet, maka tidak perlu ada salon yang menyediakan wax. Tidak akan ada yang peduli jika kau berbulu. Darwin benar-benar harus membaca cerita ini.

Jadi di kehampaan sana, ada titik-titik warna-warni. Jika dilihat dari dekat, kamu akan mendapati sebenarnya hanya ada lima titik. Lima dewa-dewi, biarkan aku meralat. Mereka terlihat seperti titik karena dilihat dari jauh, tapi kini kita telah mendekat. Untuk mendengar menguping apa yang sedang mereka bicarakan.


Dan ternyata, mereka sedang bertengkar. Seperti yang dilakukan semua orang lain yang santai dan tidak ada pekerjaan. Akui saja, itu yang kaulakukan dengan adikmu ketika kalian bosan, bukan?

“Tapi, akulah yang tercantik,” kata Dewi Biola seraya melenggokkan pinggulnya. Bukan pinggul biola, tapi pinggul seperti manusia sebenarnya. Kau tidak bisa menyalahkannya untuk melakukannya, karena lekuk tubuhnya memang sempurna. Lebih sempurna daripada Barbie, jika boneka itu realistis. Biola yang tinggi aduhai mulai berjalan mengelilingi dewa-dewi lainnya, lalu berhenti di tengah lingkaran dewa-dewi lainnya, kedua tangannya bertolak pinggang.

“Tapi! Tapi! Aku paling lucu di sini! Imut! Bikin orang tidak tahan! Ya kan, ya kan?” Dewi Harpa tidak setuju. Dengan tubuhnya yang lebih pendek, dia maju dan mendorong Biola dari tengah-tengah lingkaran.

Matanya yang bulat dan besar berkaca-kaca meminta perhatian. Sebelum aku bisa mendeskripsikan lebih banyak tentang keimutannya, Dewa Piano segera menyela.
“Tidak ada yang peduli yang mana yang lebih cantik di antara kalian. Yang jelas, aku yang paling tampan! Muahahahahahaha! Bohohohohohoho! Ihihihihihi!” Piano tertawa penuh percaya diri, membuat yang lainnya menatapnya dengan tatapan kasihan. Ia memang tampan, dan tuxedo yang ia kenakan dapat menyaingi milik Topeng Tuxedo. Tunggu. Kalian tidak membayangkan mereka telanjang, ‘kan, sedari tadi?

Dewa Perkusi, yang paling kekar, berdiri tegap dan penuh gaya seperti binaragawan. Seakan tiga dewa-dewi yang aku sebutkan sebelumnya hanya anak kecil yang mempertengkarkan sesuatu yang bodoh. Tonjolan-tonjolan ototnya-lah yang berkata untuk Perkusi, Akulah makhluk Tuhan~ Yang tercipta~ Yang paling sexy—

Nyanyian tanpa suara dari otot Perkusi dipotong suara dengkuran Dewa Konduktor. Dia terduduk di ketiadaan, dengkurannya semakin kencang. Hanya Konduktor yang terlihat seperti kakek-kakek tua dengan janggut panjang, lebih seperti Gandalf daripada Santa Klaus. Harpa terjatuh dramatis di samping Konduktor, kemudian dengan satu jari, ia menusuk-nusuk lesung pipit pada pipi Konduktor.

Seketika, Konduktor melompat terbangun. Matanya menatap nanar ke kanan dan kiri.

“Kenapa?! Ada apa?! Di mana?! Apa?! Kalian sudah menetapkan yang tercantik di antara kalian berempat?!”

Piano menyela lagi, seakan itu adalah kebiasaan buruk yang disukainya. “Tidak, justru Harpa membangunkanmu untuk memilih siapa di antara kami yang paling menarik. Atau yang paling tampan, ehem, kau pasti mengerti. Ihihihi-hohoho-aha—”

“Oh,” Konduktor terduduk lagi, kini lebih jauh dari Harpa yang masih tergeletak dramatis. Konduktor berpangku dagu, janggutnya berserabutan ke mana-mana.
“Terakhir kalian memintaku menyelenggarakan orkestra. Memohon-mohon, hingga Harpa mencolok lesung pipitku dengan entah apa. Janji kalian, kalian akan berhenti bertengkar setelah orkestra selesai. Buktinya?”

Perkusi segera maju dan memasang gaya binaragawannya lagi di depan Konduktor. Otot dadanya berdenyut-denyut seakan ia berkata, I’m sexy and I know i—

“Justru karena orkestra, kita jadi lebih cantik dan tampan. Malah tambah susah memutuskan.”

“Dan kami bertambah bingung. Mungkin sebaiknya Konduktor yang memilih pemenang kontes kecantikan ini. Bagaimanapun, aku, Biola, tahu akulah yang pasti menang. Mana mungkin dengan gaya sok imut seperti yang dimiliki Harpa, dia bisa—!”

“HEI!”

Lalu mereka semua mulai bertengkar lagi. Konduktor terduduk lagi di kehampaan, kemudian mendesah. Ia menutup matanya, bersiap untuk tertidur lagi. Hanya sepersekian detik kemudian ia menghilang ke ketidaksadaran, tuli dari semua rengekan Harpa atau tonjolan-tonjolan otot Perkusi. Atau dari tawa mengerikan Piano. Konduktor tahu, jika saatnya sudah tiba, ia akan dibangukan lagi.

Dan Konduktor benar. Ketika ada yang menusuk-nusuk lesung pipitnya lagi, keadaan keempat temannya telah sangat berbeda. Lemak Biola telah menumpuk sangat banyak hingga dada, pinggang, dan pinggulnya terlihat seperti satu barel anggur besar. Kakinya terlihat terlalu kecil untuk menopang tubuh sebesar itu. Pipinya membengkak besar, membuat setiap kata-kata Biola terdengar seperti gumaman tidak jelas.

Kau pernah mendengar tikus yang terjepit, hampir mati? Seperti itu suara Piano sekarang. Dan penampilannya jauh dari tampan. Ia meringsut, pakaiannya menjadi yang paling dekil dan compang camping di antara semua. Kepalanya membotak hanya di samping, membuat sejumput rambut hitam-putih aneh berdiri di tengah-tengah kepalanya. Ia terlalu malu dan hancur untuk menyela pembicaraan apapun. Atau tertawa seperti orang bodoh.

Di samping Piano dan Biola, hanya ada seorang wanita cantik (lebih cantik dari Biola dan Harpa dalam kondisi prima mereka), yang menggendong bayi. Bayi itulah yang menusuk-nusuk lesung pipit Konduktor.

“Ah, Perkusi! Kau lebih cantik daripada biasanya! Keadaan kalian kali ini tampaknya lebih parah daripada kapan pun juga,” Konduktor tertawa bahagia. Perkusi hanya memberikan tatapan membunuh yang tidak dipedulikan Konduktor. Harpa yang digendongnya terkejut melihat tatapan membunuh Perkusi, mengeluarkan tangisan keras, kemudian pup pada popoknya.

Konduktor berdiri bersemangat dan mulai berjalan menyeberangi kehampaan. Keempat makhluk lainnya — menyebut mereka dewa-dewi bisa menghancurkan angan-angan semua anak-anak — mengikuti di belakang. Sebuah tongkat mengkilat muncul di tangan Konduktor.

Dengannya, Konduktor mulai mengetuk-ngetuk kehampaan seakan sekitarnya adalah jalanan di gang pinggir jalan.

Lalu setelah tidak lama, ia menemukan tempat yang tepat. Suaranya seperti air mengalir — tidak, seperti angin berdesir — atau lebih seperti daun melambai?

“Ah! Di sini sempurna!” Konduktor bertepuk tangan, janggutnya bergoyang dari kanan ke kiri. Ia berbalik memandang keempat temannya, bertanya, “Jadi, janji kalian?”

Biola mengeluarkan gumaman tidak jelas dari balik pipinya yang tembam. Piano mulai bersuara, tapi kemudian Perkusi mengangkat tangannya. Untung saja, kalau tidak kau dan aku mungkin akan tuli selamanya.

“Kita semua berjanji tidak akan bertengkar lagi setelah orkestra selesai,” kata Perkusi. “Kami mengerti pertengkaran membuat kami buruk rupa. Dan hanya kamu yang bisa menolong kami, Konduktor! Tolong!”

Harpa mulai menangis-nangis, berusaha membesar-besarkan matanya yang berkaca-kaca. Konduktor membuang muka dan berdeham.

“Yah, itu yang kalian janjikan setiap kali. Tapi setiap orkestra selesai, kalian selalu bertengkar lagi. Justru karena orkestra, kita jadi lebih cantik dan tampan. Malah tambah susah memutuskan!”

Perkusi sudah putus asa ketika ia berkata, “Tolong? Kami berjanji. Kembalikan ototku, tolong!”

Kecantikan perkusi membuat bahkan seorang Konduktor tidak tahan. Konduktor mengangkat tongkatnya, berdeham. Kemudian ia mulai mengayunkannya.
Lalu hal yang paling indah terjadi. Semua warna bercampur menjadi satu, seperti bagaimana seluruh suara alat musik membaur. Biola mengeluarkan suara gesekan-gesekan indah untuk memulai orkestranya. Pertama-tama lembut, kemudian dipercepat, menjadi bertambah bertenaga. Dari andante, menjadi allegro grazioso, lalu allegro apassionato. Setiap gesekannya seakan menggesek lemak biola sedikit demi sedikit. Dan sedikit demi sedikit juga, aliran angin terbentuk.

Ayunan tongkat Konduktor membawa serpihan-serpihan padat yang kemudian menyatu menjadi satu, diantar oleh angin-angin Biola. Mengikuti arahan Konduktor, kali ini Piano yang mulai membaur. Alunannya penuh dengan sentuhan-sentuhan yang melompat-lompat. Staccato! Dan pakaian compang campingnya dijahit kembali oleh warna yang menggeliat-geliat. Tuxedo wolnya sedang dibentuk kembali, diperbaiki, begitu pula dengan ketampanannya.

Gerakan Konduktor semakin bersemangat. Kini ada sesuatu yang padat untuk dipijaki, jadi Konduktor bisa melompat-lompat penuh semangat. Dentangan Piano menimbulkan gemuruh dari bawah kaki Konduktor. Bahkan tanpa membuka kelopak matanya, Konduktor tahu benih-benih tumbuhan sedang mengintip di balik padat, siap membentuk hutan hujan yang luar biasa.

Perkusi mulai berputar-putar, bertepuk tangan mengikuti hentakan. Tangannya kini bebas karena Harpa sudah mulai bisa berjalan, walau masih sering terjatuh. Bayi itu telah tumbuh tiga empat tahun kini. Ketika tubuhnya membesar — aku tidak ingin menjelaskan detil Perkusi berubah, terima kasih — Perkusi mengeluarkan xilofon, membentuk alunan yang menyatu dengan milik Piano dan Biola. Ia membuat kepadatan yang dipenuhi tumbuhan itu dihuni berbagai jenis binatang yang menyenangkan.

Lalu mereka sadar akan sesuatu. Lagu berubah menjadi mencekam, mengeluarkan amarah. Seperti segalanya yang baik-baik, juga diperlukan kehancuran untuk membuat segalanya seimbang. Harpa yang kini telah seumur dirimu mengeluarkan harpanya, memetiknya dengan tangan-tangannya yang kini cukup panjang.

Satu petik. Dua petik. Tiga petik.

Banjir datang, memporakporandakan. Namun tidak untuk lama, karena warna lagu berubah menjadi tenang. Lembut. Bahkan, manis, seperti Harpa yang sebenarnya. Dolce. Lalu air pun menjadi tenang, turun sebagai air terjun, membaur menjadi sungai dan laut.

Kini seluruh warna telah terbentuk. Tugas Konduktor adalah membuat lagunya lebih lama lagi, diakhiri dengan sebuah finale yang akan membuatmu menginginkan lagi dan lagi, bertepuk tangan terus dan terus — hingga mereka melakukan encore. Seluruh warna harus menyatu menjadi satu, membaur. Yang baik dan yang buruk, cepat dan lambat, anggun dan penuh gelora. Segalanya harus membentuk keseimbangan yang akan berputar bagai roda.

Agar ketika Orkestra Simfoni Dewata ini berakhir, dunia yang mereka bentuk dapat berjalan dengan semestinya. Tidak akan sempurna, karena yang menciptakan mereka juga sama tidak sempurnanya. Tapi cukup untuk membuat semua yang tinggal di dalamnya tersenyum puas, seperti setiap kali Konduktor menyelesaikan orkestranya. Lesung pipitnya akan muncul, menandai pipinya dalam-dalam.


message 8: by Fenny (new)

Fenny Wong (fennywong) | 389 comments Konduktor mengangkat tongkatnya, menggerakkan tangannya secara horizontal dengan perlahan. Dalam hati Konduktor tahu, kecantikan dan ketampanan yang keempat temannya dapat akan segera membuat mereka bertengkar lagi. Kemudian, perlahan-lahan mereka akan menjadi ‘buruk rupa’ sekali lagi, jauh dari fisik ideal mereka.

Tapi itu tidak apa-apa. Konduktor akan terbangun ketika ia dibutuhkan. Lalu ia akan mengetuk-ngetuk tongkatnya pada kehampaan lain, untuk memulai orkestra. Membentuk lagu penciptaan lain, untuk dunia yang sama sekali baru.

Diam-diam Konduktor menikmatinya.


message 9: by Narita (last edited Sep 23, 2012 06:35PM) (new)

Narita | 289 comments God’s Play

“Dari semua divisi yang ada, kenapa juga aku harus berada di bagian ini..”

“Hoi, anak baru! kerja yang betul!”

“Maaf tuan Vrill, saya juga saat ini tengah melakukan apa yang anda perintahkan. Dan terus.. saya juga punya nama, Cliey, Cliey Cexalliss. Anda tidak bisa terus menerus memanggil saya anak baru.” Anak lelaki berumur 17 tahun itu tengah membereskan ruangan berantakan tempatnya bertugas saat ini. Ia mengenakan kacamata dan jubah warna abu-abu sesuai dengan seragam divisi yang menaunginya.

“Aiih, jangan panggil tuan donk. Berasa formal banget, panggil ketua aja deh.. Dan terus, bagiku kamu tetap anak baru di sini.. ahahahahhaa”

“Baik ketua..” Ia kembali melanjutkan kegiatan bersih-bersihnya yang sempat terganggu. “Siiiaaaaal!! Padahal aku adalah lulusan terbaik yang lolos ujian dewa! Kenapa malah ditempatkan di divisi peringkat terendah?!!”

“Ini semua gara-gara orang itu!” Ia memicingkan matanya ke arah Vrill, “Benar, gara-gara orang konyol yang menjabat jadi ketua divisi lawakan ini! Seharusnya aku bisa menempati divisi dewa kematian yang merupakan divisi tertinggi di sini. Aaaarggghhh..! Benar-benar sial!!”

“Kalau diingat-ingat, kejadiannya masih belum terlalu lama. Sekitar 3 bulan yang lalu, saat penerimaan dewa baru karena banyak yang gugur akibat melawan pemakan jiwa Level Spesial… Tidak semua roh orang yang meninggal akan masuk surga atau neraka, beberapa diantaranya ada jiwa terpilih yang harus menjalani asrama yang akan menjadi dewa pemula. Salah satunya adalah aku.”

“Ah.. aku pikir Tuhan sedang bercanda karena semuanya berbeda dengan apa yang kupelajari selama aku hidup. Ternyata banyak rahasia Tuhan yang tidak kuketahui, salah satunya itu.. ah iya, aku adalah penganut agama yang taat, tapi tidak kusangka umurku cukup pendek. Siaaal! Padahal aku belum mengungkapkan perasaanku pada seseorang, ah oke, bagian itu dilewat saja..”

“Kemudian aku pun menjalani kehidupan asrama sambil menimba ilmu sebagai dewa pemula. Akhirnya semua itu dapat kuselesaikan dalam 2,5 tahun saja. Tidak lama kemudian, aku mengikuti ujian dewa. Semua tes yang kujalani berjalan lancar, kecuali 1 yakni wawancara. Padahal ketua bodoh itu hanya memandang foto dan hasil tesku, lalu tanpa mengajukan pertanyaan ia langsung memutuskan divisi badut ini! Arrrghhhh..!!”

“Lho?” Cliey berhenti sejenak. “Kemana yang lain?”

“Pertanyaan bodoh, hahaha.. tentu saja mereka sedang bertugas merefil upil manusia di seluruh dunia. Kita kan berada di Divisi Dewa Perefil Upil. Memangnya kayak kamu, gak ngapa-ngapain..”

“Ugh!” “A, apa?! Berani-beraninya dia bilang begitu!! Memangnya siapa yang nganggur selama ini, HAH?! Lihat meja ini!! Penuh dengan cangkang kacang dan kaleng minuman soda! Lagian dapat darimana juga benda-benda beginian, ini kan bukan dunia manusia!! Siaaal! Dibandingkan kantor pusat divisi, tempat ini lebih cocok tempat pembuangan sampah!!”

Seorang pria berjalan masuk sambil memegang sebuah kertas. “Ada fax nih ketua.” Ia langsung menyerahkannya.

Dalam sekejap wajah ketua berubah drastis. “Hoi, mata empat.. ada tugas untukmu.”

“Eh, ah..” Ia tidak dapat berkata apapun. Karena baru kali ini ia melihat wajah ketua seserius itu. “Ini, pertama kalinya aku melihat ketua seperti itu. Apakah sikap konyol, bodoh, dan plin plannya selama ini hanya kedok belaka? Entah mengapa rasanya jantungku berdebar lebih keras hanya karena ingin mendengar kalimat selanjutnya..”

“..belikan nasi padang..”

“Ba, baik..eh.. lho kok?” Cliey terdiam sejenak. “Hah?! Apa?! Apa yang barusan dia katakan?!”

“Ke,kenapa..?”

“Kok nanya? Sudah jelas ‘kan, memang itu yang tertulis di sini.” Ketua tertawa girang. “Lagipula, apa kamu tidak memikirkan kakak-kakak seniormu? Setelah merefil upil mereka pasti merasa lelah dan lapar. Jahat sekali jika junior baru sepertimu tidak memikirkan hal itu. Seharusnya kau juga lebih perhatian pada mereka demi mempererat solidaritas diantara kalian. Selain itu..” Belum selesai ketua melanjutkan ceramahnya, Cliey yang sejak tadi merasa kesal langsung memotong perkataannya.

“Iya, iya, saya paham,” Cliey bergegas meninggalkan ruangan itu dengan kekesalan yang semakin memuncak.

“Ng.. ketua.. bukannya tugas itu..”

“Hehe, belum, masih belum saatnya, Onigiri..”

***

“Siiiiiiiaaaaal!!! Kenapa juga harus aku yang beli?! Apa karena hanya tinggal aku seorang saja yang belum dapat tugas, HUH! Lagian kenapa juga harus nasi padang?! Memang setting cerita ini ada dimana sih?! Dasar ketua buuuuuodoh!!” Cliey menendang tong sampah yang berada di sisi jalan. “Ditambah lagi, aku harus menyamar jadi sesuatu hanya untuk mendapatkan nasi padang ini, dan aku baru sampai tingkat menyamar jadi hewan -dewa apapun tidak boleh menunjukkan wujud asli mereka karena dapat merusak keseimbangan alam, terutama dewa yang pernah hidup di dunia. Karena bisa terjadi kehebohan sebab dianggap bangkit kembali-. Ahh.. pikirkan kesulitanku hanya untuk memilih lauk dan sayur yang ada.. cih..” Cliey menghentikan langkah kakinya. Ia terpaku melihat sesuatu yang berada di hadapannya. Sesuatu bertubuh besar, bukan iblis maupun peri. Berbentuk buruk rupa, hanya dapat hidup dengan memakan jiwa manusia.

“Pe, pemakan ji..wa..”

Makhluk itu membuang tubuh seorang gadis dari cengkramannya yang kuat. “Dewa.. kematian?”

“Bu, bukan..! Aku hanya dewa dari divisi konyol yang gak penting, hehe.. Eh! Tu, tunggu dulu.. kau.. kau bisa berbicara? Pemakan jiwa level A, B dan C tidak mungkin dapat berbicara seperti itu..”

“Tepat, aku Level S dengan kemampuan spesial duplikasi. Level rendahan seperti itu tidak bisa disamakan dengan diriku.” Detik itu juga ia berubah menyerupai Cliey. “Namaku Jeyelle.” Cliey melempar sekantong kresek nasi padang yang baru ia beli. Dengan wajah pucat dan panik, Cliey berlari menjauhi tempat itu.

Nafas Cliey masih terputus-putus, ia berusaha untuk tenang menghadapi kondisi di hadapannya. Cliey mengintip dari balik tembok tempatnya bersembunyi, lalu kembali berpikir. “Ah, ini parah sekali. Hingga saat ini aku baru menghadapi pemakan jiwa level A, kenapa di saat seperti bisa bertemu hal begitu..” Cliey mengambil sebuah senjata dari balik jubah yang dikenakannya. “Stun gun ini tidak akan berpengaruh, mungkin akan terasa seperti sengatan nyamuk saja. Lagian, kenapa juga hanya aku yang diberi stun gun?!!.. aahh, ini benar-benar gawat..” Ia terjongkok lemas.

“Seandainya aku berada didivisi utama dewa kematian, hal seperti ini tentu dapat diselesaikan dengan mudah. Kenapa juga aku berada di Divisi Perefil Upil.. lagipula kenapa juga namanya perefil upil, lalu kenapa juga sekarang aku fasih melafalkan perefil upil?! Arrgghhh.. siiiiaaaal!!! Benar-benar menjijikan!!”

“Kutemukan..”

“Eh?” Cliey mendongak ke ujung tembok. Jeyelle tengah berdiri di bawah sinar rembulan.

“Kudengar, jika memakan jiwa dewa dapat meningkatkan kekuatan,” Jeyelle menarik deathscythe dari lengannya yang kurus, “..dan menambah kemampuan istimewa..” Ia melompat sambil mengarahkan ujung deathscythe ke kepala Cliey. “Seperti ini!!” Cliey tidak dapat berbuat apa-apa, ia hanya menatap benda tajam menuju dirinya. “Mati!.. aku pasti mati!”

Sebuah suara benturan benda logam menyadarkan Cliey. “Tu, Tuan Vrill..” Rambut perak Vrill sepanjang betis dibiarkan terurai tidak seperti biasanya diikat dengan sebuah pita tebal.

“Ah.. untunglah aku datang, ya anak baru..?” Wajah Vrill terlihat cemas. “Walaupun sama, kekuatannya berbeda jauh!” Vrill mengayunkan Deathscythe di tangannya membelah Jeyelle. Dia menatap Cliey yang setengah sadar lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Cliey berdiri. “Tidak apa-apa?”

“Ah iya..” Cliey merasa canggung, ternyata orang yang selama ini dianggapnya bodoh, konyol, dan plin-plan, begitu hebat dan kuat.

“Ah, bukan maksudku nasi padangnya tidak apa-apa ‘kan?” Vrill bertanya hal tersebut dengan polos. Tentu hal itu menyulut emosi Cliey. “Brengseeeeeeekk!! Aku salah! Orang ini benar-benar bodoh! Tolol! Tidak berperasaan! Siaaalaaan!!”

“Apa-apaan wajah merengut itu, anak baru? Seharusnya kamu dapat membereskan misi itu tanpa gagal. Aihh.. hari ini makan masakan Onigiri lagi deh, booseeeennn..”

Cliey membetulkan posisi kacamatanya, ia hanya berdiri melihat punggung Vrill. “Orang itu.. aku benar-benar tidak mengerti isi otaknya..”

***

Suara ketukan pisau terdengar nyaring dari dapur. “Dari tadi, aku bingung.. apa benar dewa butuh makan juga? Dan makanan ini benar-benar manusia banget! Apa tidak ada ‘makanan’ yang aneh seperti pemakan jiwa?”

“Yo!” Suara itu mengalihkan perhatian Cliey. “Kamu terampil dalam memasak ya, padahal yang bertugas di dapur ‘kan aku.” Pria itu tersenyum ramah.

“Ah! Kak Onigiri!”

“Aku Serravi, Serravi Houssell.. kamu orang kedua setelah dia, yang memanggilku begitu.. boleh tahu alasannya?” Tanyanya.

“Soalnya, kakak ‘kan hanya pandai membuat nasi onigiri.” Jawab Cliey singkat sedangkan Serravi, ia hanya bisa tersenyum canggung menerima jawaban Cliey.

“Oya kak, ada yang ingin kutanyakan soal ketua..” Cliey tidak mengalihkan pandangannya pada Serravi, ia masih terfokus pada wortel yang ada di tangannya.

“Pasti tentang perilakunya ‘kan?” Cliey hanya mengangguk meng-iyakan pertanyaan Serravi.

“Kalau boleh jujur, itu hanya kedok..” Serravi mengambil kentang lalu mengupasnya.

“Oh begitu.. aku pikir dia orang yang bodoh, konyol, plin plan dan tidak berotak.” Gumam Cliey.

“Iya benar, selain itu perilakunya juga susah ditebak dan kekanak-kanakan. Terus, norak dan gak jelas. Aahh.. aku sendiri jadi ragu, apakah kemampuannya yang keren dan hebat itu yang kebetulan ya..”

“Ehem! Bukan itu yang ingin kukatakan..” Serravi tersenyum canggung. “Meskipun seperti itu..” raut wajah Serravi melembut, “..ia adalah pemimpin Divisi Dewa Kematian selama 18 periode,”

“Kemudian, 5 tahun yang lalu entah apa yang ia pikirkan sewaktu beristirahat.. dia mengatakan ingin keluar dari Divisi Dewa Kematian. Ahh.. kupikir ia sedang bercanda, ternyata dia serius..” Serravi meletakkan kentang yang sudah bersih lalu mengambil yang lain. “Entah apa yang ia lakukan hingga Tuhan dapat menghendaki keinginannya.” Ia menghela nafas,

“Yak, hanya segitu yang bisa kukatakan Sudah yaa..” Serravi segera meletakkan pisau dan kentang yang baru setengah dikupas.

“Tu, tunggu sebentar kak! Ada yang ingin kutanyakan..”

Serravi membalikkan tubuhnya, “Hehe, kalau berbicara lebih dari ini, aku bisa dibunuh olehnya.” Ia berlalu meninggalkan Cliey sendiri.

“Ah.. apa aku disuruh mencari tahu sendiri..? Hegh! Menyebalkan!”

***


message 10: by Narita (last edited Oct 06, 2012 04:38AM) (new)

Narita | 289 comments “Seminggu sudah berlalu tapi pengintaianku sepertinya sia-sia. Tidak ada celah bagiku untuk mengetahui rahasia ketua.. ahh.. ini kelihatan sia-sia. Apa sebaiknya aku menyerah saja ya?” Raut wajah Cliey berubah drastis. Semangatnya menghilang karena ia tidak menemukan titik terang dari rasa penasaran yang mengganggunya. Namun saat Cliey akan kembali ke Divisi Perefil Upil, seorang gadis menyapa Vrill. Gadis itu begitu mirip dengan Vrill, hanya rambutnya saja yang berbeda. Ia memiliki rambut perak sepanjang bahu.

Tanpa sadar Cliey keluar dari tempat persembunyiannya. “Ke, ketua..?”

“Oh, hei anak baru,” Vrill bersikap kikuk, seperti seorang anak yang ketahuan melakukan hal buruk. “Ah, ini saudara kembarku, Vrillia.” Vrillia membungkukkan sedikit tubuhnya untuk memberi salam pada Cliey.

Cliey tidak bisa melepaskan pandangan matanya, Vrillia begitu anggun dan elegan dengan pakaian yang dikenakannya. Vrill menepuk pundak Vrillia, “Bukankah sudah saatnya kamu kembali ke asrama?” Vrillia hanya mengangguk, kemudian ia tersenyum dan melambaikan tangannya sebelum pergi dari lorong itu.

“Ia kehilangan suaranya akibat kesalahanku, seandainya waktu itu aku lebih hati-hati, kamu pasti bisa mendengar suaranya yang indah.” Cliey tidak mengatakan apapun, ia hanya memperhatikan raut wajah Vrill yang dipenuhi dengan rasa bersalah. “Itu sebabnya aku memutuskan untuk keluar dari Divisi Dewa Kematian, itu kan jawaban yang ingin kamu ketahui?” Tanya Vrill singkat sambil tersenyum.

Cliey tersenyum kaku sambil menggaruk kepalanya yang bahkan tidak terasa gatal, “Dewa dan dewi terlahir secara hermaprodit, tidak seperti kamu yang sudah ditakdirkan sejak awal menjadi laki-laki. Saat menginjak kedewasaan, para dewa dan dewi akan memutuskan mereka ingin menjadi siapa artinya kamu bebas memilih ingin menjadi perempuan atau laki-laki sesuai kecenderungan sifat masing-masing. Selain itu, tubuhmu tidak akan bertambah tua dan rusak bisa dibilang waktu penuaan berhenti dan kamu akan tetap berada pada kondisi yang sama setelah mengikuti upacara kedewasaan. Tapi aku yang terlahir kembar tidak bisa seperti itu. Salah satu dari kami harus menjadi laki-laki dan lainnya menjadi perempuan untuk menjaga keseimbangan. Kelahiran seperti itu hanya terjadi 1 perbanding 1 miliar. Hal tersebut bisa dikatakan keberuntungan dan sekaligus kesialan.” Mereka berbicara sambil berjalan melalui lorong Gedung Pemerintahan Pusat.

“Sisi beruntungnya kamu tidak akan pernah merasa sendiri, meskipun berjauhan kamu dapat merasakan kehadiran masing-masing. Kami bisa saling merasakan perasaan masing-masing bahkan berbagi kekuatan. Kelebihanku akan menjadi kelemahannya, dan kelemahannya akan menjadi kelebihanku, karena itulah kami bisa saling mengisi satu sama lain. Sampai akhirnya kami harus memutuskan untuk menjadi siapa di upacara kedewasaan. Aku ingin menjadi laki-laki dan juga ingin memiliki adik laki-laki, tapi tentu saja hal itu tidak bisa terwujud. Tapi dengan mudahnya dia memasrahkan dirinya untuk menjadi perempuan agar keseimbangan terus terjaga.”

“Sejak saat itu nama kami berubah, Vrillian dan Vrillia. Ia pun mulai membiasakan diri untuk ‘hidup’ sebagai wanita. Bagiku, semua terlihat memuakkan. Tapi Vrillia selalu memberiku semangat, tidak ada penyesalan di wajahnya. Tapi justru hal itu semakin membebaniku. Namun sedikit demi sedikit aku menyadari bahwa ia berusaha terlihat bahagia untukku, dia bahkan tidak menyalahkanku. Makanya aku pun harus bahagia demi dirinya yang sudah mengalah.” Vrill berdiri di sebuah ruangan, ia memutar gagang pintu lalu mempersilakan Cliey untuk masuk. “Akan lebih nyaman jika kita berbicara di sini, mungkin agak sedikit berdebu karena sudah lama aku tidak datang ke sini.”

“Ini..” Cliey memperhatikan ruangan tersebut.

“Dulu, ini adalah ruang kerjaku.” Vrill menarik tirai berwarna merah hati. Cahaya matahari yang terang masuk ke dalam ruangan berdebu dan terasa agak lembap. Pemandangan alam yang masih belum terjamah memuaskan rasa haus indera penglihatan. Cliey terkagum-kagum melihat hal tersebut, sewaktu masih hidup ia belum pernah melihat pemandangan yang menakjubkan itu. Karena semua keindahan alam yang didambakannya telah dirusak manusia pongah dan serakah.

“Ekspresimu sama sepertinya ketika dia kuajak masuk ke ruangan ini pada hari pertama pengangkatanku sebagai ketua Divisi Dewa Kematian.” Vrill menarik kain-kain berwarna putih yang menutupi perabotan yang berada di dalam ruangan tersebut. “Ada sisi positif dan juga negatifnya dari pertalian darah kami. Jika aku terluka, Vrillia pun akan merasakan apa yang kurasakan. Hanya saja aku dapat langsung sembuh dengan mengambil kekuatan Vrillia, sedangkan dia..” Tubuh Vrill bergetar, ia langsung meninju tembok di hadapannya. “Kenapa dia tidak bilang apa-apa kalau cedera yang kualami berpindah padanya, dia selalu saja tersenyum seakan tidak terjadi apapun! Padahal dia terluka, dia menderita, dia kesakitan! Sial!” Vrill berteriak, airmata keluar membasahi kedua pipinya. Tapi ia segera mengendalikan emosinya, Vrill segera mengatur nafas untuk menenangkan dirinya.

“Yang bodoh itu aku, seandainya aku lebih cepat menyadarinya, dia tidak perlu menderita..” Vrill menggosok-gosok matanya dengan punggung tangan yang dikepalkan. “Ahh, menangis seperti ini, kayak bukan diriku saja..” Ia tertawa dengan wajah masam. Vrill mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan menghadapkan punggung tangannya ke wajah. “Maaf ya Vrilli, tanganmu pasti terasa sakit sekarang.”

“Iya, memang tidak seperti ‘ketua’ saja. Orang yang kukenal itu, terkenal bodoh, konyol, dan seenaknya sendiri. Bukan cengeng seperti ini!” Cliey berlari meluncurkan sebuah tinju di pipi kiri Vrill.

“A, dasar bocah sial. Apa-apaan itu, ngomong seenaknya aja. Pukulanmu ini masih terasa seperti gigitan nyamuk tahu!” Vrill melempar Cliey keluar jendela ruangannya. “UWAAAAAAAA!! Ketua siaaaaal!!”

“Ah, sepertinya aku terlalu berlebihan. Ya sudahlah, dia kan pernah mati sepertinya tidak akan apa-apa.” Vrill berjalan keluar dari ruangannya, ia melihat jam di tangan kirinya. “Wah, wah, sudah saatnya kumpul pasukan.”

“Bocah, masih terlalu cepat 100 tahun bagimu untuk mengetahui kebenaran Divisi Perefil Upil. Seharusnya kamu bisa lebih menghargai dirimu sendiri yang sudah masuk divisi yang kukelola ini. Benar, divisi ini bahkan lebih tinggi dari Divisi Dewa Kematian yang kamu idam-idamkan itu. Mereka justru hanya back up bantuan. Di divisi ini, Tuhan pun bisa mati jika kuperintahkan.”

“Yah tidak dapat kupungkiri, walaupun sambutan para dewi untuk Divisi Dewa Kematian begitu meriah saat upacara penerimaan kemarin. Tapi mau bagaimana lagi, kita ini harus bergerak seperti bayangan.. hihihihi.” Vrill menarik deathscyhte dari balik punggungnya.

Seorang pria yang berwajah sama dengan Vrill berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di samping sebuah pilar. Kedua tangannya ditekuk seperti wajahnya yang terlihat masam.

“Hei, Vill -panggilan Vrillia-.. sudah lama menunggu?” Vrill mengacungkan deathscythe-nya.

“Iya, lumayan. Ngomong-ngomong kak, kenapa aku harus berpakaian seperti seorang wanita? Bahkan kakak tega menyuruhku memotong rambut..” Vill telah mengganti pakaiannya dengan seragam yang sama dengan Vrill.

“Hahaha, kamu ‘kan sudah tahu jawabannya, soalnya sudah lama aku menginginkan adik perempuan ‘kan? Aiihh soal itu, nanti juga rambutmu tumbuh lagi deh.” Vrill menjawab sambil memanggul deathscythe.

“Tetap saja, sebagai laki-laki aku ‘kan malu.” Vill merengut hampir menangis.

“Iya, iya, nanti kutraktir sarapan deh. Ada daftar tugas untuk malam nanti?” Vill langsung menyerahkan tumpukan kertas kepada kakaknya. “Hmm, ada banyak juga level S yang harus dimusnahkan, cukup berat jika ini dikatakan kerja sambilan. Ngomong-ngomong aku terkesan dengan aktingmu, kapan-kapan kita jailin bocah baru itu lagi, ya?”

Fin


message 11: by Manikmaya (last edited Oct 08, 2012 02:00AM) (new)

Manikmaya | 1098 comments TRANSMIGRASI

276.650.000 SM, Pangaea
Syahdan kepada seluruh jalma yang hidup di atas Dunya, namaku Bagawi, satu dari beberapa dewa yang namanya sudah tenggelam, hilang ditelan masa. Pada masa aku lahir hanyalah ada satu daratan dan satu Kahyangan yang ada di dunia yang kalian sebut Dunya, Bumi atau Arcapada. Kami berjumlah 120 dewa dan 104 dewi pada masa itu. Tunggu… kok jumlahnya tidak sama? Berarti ada dewa yang nge-jomblo dong? Yup! Ada dewa-dewa yang dengan ‘teganya’ dibiarkan nge-jomblo sampai statusnya jadi ‘bujang lapuk’.

“Lho, terus kenapa kalau ada bujang lapuk di Kahyangan? Kan sah-sah saja, Bathara Bagawi?” tiba-tiba ada suara nyeletuk entah dari mana.

“Situ berisik amat! Dan saya bukan Bathara woi! Saya dewa biasa! Mana jabatan saya di Kahyangan amit-amit menyedihkan pula!”

“Idih gitu aja ngambek?” jawab suara itu.

Oke, mari kita lupakan tokoh figuran yang iseng masuk tanpa izin itu. *smirk*

Lanjut ya? Saya adalah salah satu dari 16 dewa bujang lapuk di Kahyangan. Haloo… kebayang nggak sih bagaimana malunya menjadi seorang lelaki tak beristri di masa itu? Sudah dipandang sebelah mata oleh para dewi alias bidadari yang cantiknya aduhai dan montok-montok, pakai disindir para dewa-dewa ketika lagi sauna bareng-bareng pula!

“Situ kapan nikah, Bagawi?” tanya Helios, si dewa matahari.

“Idih! Mana mungkin saya menikah dalam waktu dekat? Kan dewi-dewi Kahyangan sudah habis diembat anda-anda semua!”

“Nanti anakku bakal kunikahkan denganmu, deh.”

“Saya nggak terlalu berharap deh. Tapi makasih,” jawabku tidak bersemangat. Aku yakin 100% jika nanti Helios punya anak pasti akan dikawinkan dengan Si Kalingga, dewa hujan. Itu pun kapaaann??? Siklus menstruasi dewi-dewi itu 10 juta tahun sekali loh!!!

200.000.190 SM, Pangaea
Apa jadinya jika seorang bujang tua tidak punya seorang wanita untuk diajak bercumbu ketika nafsunya sudah meninggi? Pastilah dia akan mencari seorang wanita. Tapi jika di negerinya tidak ada seorang wanita maka ke mana ia harus mencari? Ke luar negerinya pastinya! Dan itulah yang terjadi pada 15 bujang lapuk yang tersisa di Kahyangan. Lho, kok berkurang satu? Ya iyalah… si Helios itu sudah menikahkan Kalingga dengan putrinya. Persis seperti dugaanku!!! Dasar dewa suka ingkar janji!!!

“Eh, Bagawi. Turun ke bumi yuk!” ajak Baskara, asisten II dewa matahari. Asisten II hanya diperlukan jika baik dewa matahari dan asisten I dewa matahari berhalangan, jadi dia relatif ‘nganggur’.

“Memangnya ada apa di bumi?”

“Kudengar gadis-gadis bumi tak kalah cantik dengan dewi-dewi Kahyangan, Bro!”

“Terus?”

“Daripada ngejomblo terus kayak gini, kenapa kita tidak nikahi gadis-gadis bumi saja?”

“Eh? Serius loe mau nikahi anak-anak manusia?” tanyaku.

“Serius, Bro!”

“Mendingan jangan deh. Kalau ketahuan Sang Pastika Yang Agung bagaimana?”

“Bathara Pastika kan sedang tidak ada di tempat, kenapa kita harus takut?”

“Oi! Oi!” aku berusaha mencegahnya turun, tapi dia sudah menerjunkan diri ke bumi.

BLAAAMMM!!! Terdengar suara menggelegar di muka bumi. Baskara sudah tiba di sana dengan membuat sebuah kehebohan. Sip deh! Walau jabatannya cuma Asisten II Dewa Matahari tetap saja dia bisa bikin ledakan inti helium (pada masa ini kalian menyebutnya fusi nuklir).

“Buset! Ei!! Ada apa di bumi? Apa Antaboga dan Hades lagi main judi?” tiba-tiba terdengar suara pria dewasa nan genit dari arah belakangku.

“Tenang saja Baldur, itu cuma Baskara yang iseng-iseng main ke bumi.”

“Eeehh??? Ike ga bisa percaya, deh. Berani amat Baskara main turun aja ke bumi? Ih… ike mau lapor Bapa Odin lah!” dengan langkah gemulai nan dibuat-buat Baldur berjalan ke arah istana Dewan Dwarapala, sebuah istana di mana ada 7 dewa yang ditunjuk Sang Pastika Yang Agung untuk memerintah Kahyangan selama dia pergi.

SRET! Sebuah rantai segera keluar dari pergelangan tanganku dan menjegal langkah dewa banci ini. BUM! Dia terjatuh.

“STOP, Baldur! Biarkan dulu Baskara kembali dan jangan bicarakan ini pada siapa-siapa jika tidak mau mulutmu saya robek. Paham?” ujarku sembari menyunggingkan senyum (bukan senyum ramah dan tulus pastinya).

“Ih… oke deh, Bro. Ike… ike… pergi dulu ya… daaagg.”

Baskara memang salah, tapi juga tidak bisa disalahkan. Lagipula aku penasaran apa dia bisa dapat gadis untuk dia kawini di bumi sana?

*****

120.000.190 SM, Pangaea Yang Hilang – Mu dan Lemuria
Tindakan Baskara yang turun ke bumi untuk mencari istri ternyata membuahkan hasil yang ‘memuaskan’. Dalam 3 bulan turunnya dia ke bumi, ia sudah menikahi 40 orang wanita dan kini ke-40 wanita itu tengah hamil. Ketika ia kembali ke Kahyangan wajahnya sangat berseri-seri, sampai-sampai pintu gerbang selatan Kahyangan yang dibangun dari daun-daun perdu terbakar habis (Ingat, dia elemennya matahari! jadi jika sedang marah ataupun bahagia wajahnya akan mengeluarkan sinar UV intensitas tinggi!).

“Datang-datang dari bumi sudah bikin kebakaran saja dirimu,” ledekku ketika ia datang ke pos jaga Kahyangan untuk meregistrasikan ulang dirinya, kebetulan saat itu aku sedang piket di sana.

“Bagaimana aku tidak bahagia? Aku kini telah beristrikan 40 wanita!”

“Buset! Jumlah istrimu malah lebih banyak daripada jumlah istri dewa lainnya!”

“Kau mau ikut denganku ke bumi, Bagawi?”

“Nanti-nanti sajalah, aku masih punya banyak tugas.”

*****

Baskara segera menyebarkan ceritanya mengenai wanita-wanita bumi kepada setiap dewa-dewa yang dia temui, lalu terjadilah sesuatu yang tidak terduga sebelumnya. Di hari kedua Baskara tiba kembali di Kahyangan, aku mendapati seluruh dewa-dewa Kahyangan datang kepada atasanku, Atum.

“Lho, ini ke sini semua mau apa?” tanya Atum kebingungan.

“Kami hendak mengurus surat kuasa, Atum,” jawab salah seorang dari antara mereka.

“Surat kuasa untuk?” Atum masih tidak mengerti.

“Menyerahkan tanggung-jawab kami atas pengaturan dunia kepada istri-istri kami selama kami pergi.”

“Loh, memangnya kalian mau ke mana?”

“Melancong ke bumi.”

“Buset! Semuanya?”

“Iya, semuanya!” jawab mereka serempak.

Atum hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah dewa-dewa yang nyeleneh ini. Matanya segera menatap tajam ke arahku dan 3 asistennya yang lain, “Kalian… segera buat surat yang diminta Tuan-Tuan ini, dan harus sudah selesai siang ini!”

Kerbau Jahiliyah!” umpatku dalam hati, meskipun kita ini punya kemampuan menulis 1000 kata per-menit tapi disuruh membuat surat kuasa macam begitu untuk 100 dewa dalam setengah hari sama saja kerja rodi! Lagipula jangan kalian kira surat kuasa penyerahan urusan kedewaan itu singkat-singkat macam dokumen kantor pemerintah kalian loh! Surat yang dimaksud itu berupa segulung kertas sepanjang 1,2 meter dan terdiri dari 6000 kata berupa maklumat per lembarnya.

*****

Singkat cerita kami pun berhasil menyelesaikan pembuatan 100 surat kuasa yang diminta oleh sekumpulan dewa yang sudah sinting ini. Atum dengan cemberut menyerahkan 100 perkamen itu kepada mereka, “Nih! Tandatangani lalu bawa ke Dewan Dwarapala sana!”

Dengan penuh semangat mereka menandatangani surat-surat itu, dan segera setelah itu mereka langsung terbang ke arah gedung Dewan – menyerahkan surat kuasa. Tak butuh waktu lama untuk mendengar suara pekik dan gemuruh dari gedung itu sesudah mereka memasukinya.

"YAAAAA!!!!!! Gadis-gadis manusia yang cantik dan rupawan, kami daataaaang!!!" sorak mereka bersamaan.

“Wuiii!!! Tampaknya mereka akan turun dengan serempak tuh!” kataku pada Onyx, rekan kerjaku.

“Pasti Dataran Tunggal terbelah menjadi dua tuh!” jawabnya cuek, seolah tidak peduli – tapi sayangnya kata-katanya memang benar jadi kenyataan. Dataran Tunggal terbelah menjadi dua benua. Yang satu disebut Mu dan satu lagi Lemuria.

*****

4000 SM, Mu dan Lemuria
Kahyangan sekarang penuh sesak karena dewa-dewa yang turun ke bumi membawa serta anak-anak mereka yang jumlahnya sampai ratusan ribu orang. Untuk mengatasi masalah... uhuk… kependudukan ini, kami tidak lagi diperbolehkan memiliki rumah pribadi, dan sebagai gantinya 24 dewa teknik yang dikepalai Vulcan membangun rumah-rumah susun 100 tingkat untuk jadi tempat tinggal kami. Dan… demi segala ikan lele yang pernah lahir di muka bumi dan Kahyangan, dewa-dewa urusan administrasi macam saya malah ditempatkan di lantai 100! Membuat diri saya jadi terkena encok di usia muda!

Tingkat kelahiran anak-anak dewa (separuh dewa – red) menjadi semakin tinggi dari tahun ke tahun. Lebih parah lagi anak-anak dewa yang lahir dari rahim manusia-manusia itu selalu saja menuntut hak untuk tinggal di Kahyangan. Memang tidak semuanya diizinkan sih, tapi setidaknya setiap seabad ada 100 anak dewa yang diangkat ke Kahyangan oleh ayah-ayah mereka. Walaupun syarat pengangkatan seorang anak dewa menjadi dewa atau dewi sudah dipersulit sekian rupa, toh pada akhirnya tetap saja ada yang lolos ke Kahyangan. Seperti yang terjadi hari ini.

“Buset! Ada anak dewa baru lagi naik ke sini? Siapa tuh?” omelku ketika melihat sesosok pemuda tampan naik dari muka ke bumi dan mendarat di Kahyangan.

“Siapa lagi? Anak ke-2043 dari tukang main wanita dari Negeri Barat,Nut! Dia diperbolehkan naik Kahyangan karena sudah membantai 120 mamoth semasa hidupnya,” jawab Paharatnya – seorang partner kerjaku pada saat itu.

“Oi! Oi! Oi! Memangnya jumlah bayi yang mbrojol di Kahyangan masih kurang apa? Ketambahan anak itu mah bisa tambah sempit hunian kita!”

“Aku sendiri juga mau ngomong begitu, Bro ! Tapi aku kalah argumen dengan Dewan Dwarapala!”

Kahyangan kami memang sudah penuh sesak, men! Populasinya mencapai 500 jiwa/ kilometer persegi. Bukan sebuah kondisi ideal untuk sebuah Kahyangan. Yah… karena banyaknya dewa-dewi yang menghuni Kahyangan maka muncullah jabatan aneh-aneh untuk memberi pekerjaan pada dewa-dewi yang jumlahnya semakin banyak ini. Contoh paling konyol adalah dewa pengukur volume air hujan atau mungkin dewa penyapu jalan, dewi sensus ibu hamil, dewa pembuat tempat sampah, dewa urusan kloset dan sanitasi, atau mungkin… dewa urusan hak azazi cacing tanah. Jabatannya nggak penting banget kan?

“Lalu kau mau apa?” tanya Paharatnya.

“Aku hendak merubah ini semua.”

“Dengan?”

“Menulis proposal!”

Kening Paharatnya berkerut, “Proposal itu apa?”

“Ah sudahlah!” aku malas menjelaskan mengenai proposal pada dewa muda yang usianya belum 2000 tahun ini.

*****


message 12: by Manikmaya (last edited Oct 08, 2012 02:06AM) (new)

Manikmaya | 1098 comments Tak-tok-tak-tok! diriku menghabiskan malam itu untuk mengetik proposal dengan penuh semangat. Dewi bulan, Ratih, tampak sudah mengangkat bulan pada titik tertinggi di lintang utara. Tak-tik-tok-tak-tok-tok! Kecepatan mengetikku semakin meningkat.

PLOK! Ada sebuah sandal menimpuk kepalaku, telak lagi!

“Woi? Siapa yang lempar sandal ini?” aku berteriak marah.

“Ssst!!! Suara mesin ketikmu ganggu dewa-dewi yang lagi tidur tahu!” ujar seseorang dari atas kepalaku. Kudongakkan kepalaku ke atas dan kudapati seorang dewa bertubuh gemuk (mungkin hampir sebulat bola), berkulit hitam legam, dan membawa seruit (lembing) sedang melayang-layang di atasku. Dia adalah Nu, anak ke-1034 dari Amun. Sebenarnya dia hanyalah nelayan biasa yang kebetulan saja mampu membantai seribu kuda nil merah saat Amun membutuhkan kuda nil untuk perjamuan makan… dan… yah… kalian tahu sendiri cerita selanjutnya.

“Buset! Terserah saya dong! Emangnya ada aturan jam malam di Kahyangan?”

“Ya adalah Masbro!” (aku lupa mengingatkan bahwa segala kosakata 'kreatif' nan gaul yang kalian gunakan sekarang sudah kami gunakan semenjak dahulu.)

“Siapa yang bikin?”

“Saya!” ia menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.

“Buset! Sejak kapan?”

“Sejak saya diangkat Sang Pastika menjadi dewa penjaga malam,” jawabnya masih dengan ekspresi menyombongkan diri.

“Eh, bekicot dangdut! Sampean jadi hansip ronda malam Kahyangan saja sudah sombong, ga bisa saya bayangin deh kalau-kalau sampean jadi anggota Dewan Dwarapala.”

“Eh, jangan salah! Ini cuma jabatan sementara saja kok, hehe. Bentar lagi pasti saya jadi anggota Dewan.”

Alamaaakkk!!! Si gendut ini benar-benar membuat aku sebal.

“Pergi nggak sampean?” aku mencoba mengusir dewa ini.

“Eh, sudah bikin kosakata baru ya?”

“Maksudmu?”

‘Sampean’ itu?”

“Eh?” tanpa sadar saya sudah bikin kosakata baru.

“Ah sudahlah! Sana pergi! Saya masih banyak kerjaan!”

“Yee, dewa ketak-ketik ngambek!”

“WOI!!! Ralat WOI!!!! Asisten IV Sekretaris Kahyangan!!!”

“Tetep saja dewa ketak-ketik!”

Habis sudah kesabaranku pada gumpalan bundar yang sedang melayang-layang di atasku ini. Kutekan tombol merah di atas mejaku yang bertuliskan ‘JANGAN DITEKAN JIKA SUASANA HATI ANDA SEDANG BAIK!!!!’. KRIIIINGG!!!! Terdengar suara benda seperti alarm (di zaman kalian) membahana di sekeliling kantorku lalu muncullah enam phurba (pisau ritual) yang menancap di sekeliling Nu dan mengurungnya dalam jaring petir.

“Aduh! Ampun Tuan Bagawi. Bukan maksud hamba menjelek-jelekkan Tuan.”

Duh! Sekarang ia merengek-rengek seperti anak perempuan yang merajuk ketika minta dibuatkan boneka emas. Kadang-kadang aku pikir apa Dewan Dwarapala tidak salah pilih dewa keamanan?

“Tidak! Saya baru akan melepaskanmu ketika pekerjaan saya selesai. Jadi silakan sampean berdiam di situ selama beberapa saat,” jawabku tanpa basa-basi. Perkara nanti Amun mau marah-marah sama saya ya biar saja.

4000 SM, Kuil Dewan Dwarapala

“Bisa-bisa Kahyangan rubuh karena saban 1000 tahun ada saja anak-anak kalian yang naik kemari!” ujarku seusai menguraikan pemaparan panjang lebar mengenai pentingnya transmigrasi.

“Kahyangan tidak akan rubuh, Bagawi! Itu hanya ketakutan pribadimu saja!” bantah Baskara, yang sempat kusebut sebagai biang keladi segala masalah ini.

“Kata siapa? Tanyalah Bathari Pertiwi, Bathara Baruna, Olimpia Hades, dan Resi Antaboga. Mereka yang bertahta di dalam Pertiwi sudah pernah berkata jika ia melihat Kahyangan makin hari makin mendekati bumi. Itu artinya Kahyangan kita sudah kelebihan beban!”

“Apa solusi yang kau tawarkan, Bagawi?” tanya Freyja, sang dewi kekuatan.

“Transmigrasi! Seperti yang sudah aku paparkan sedari tadi!”

“Transmigrasi?” semua hadirin di ruangan itu mengulang kata-kataku dalam nada penuh tanya.

“Ya, kita harus membuat Kahyangan baru di tempat lain. Tapi tidak hanya satu Kahyangan, Dewa dan Dewi sekalian. Kita harus membangun setidaknya 10 Kahyangan di tempat berbeda.”

“Tapi bagaimana jika Kahyangan baru itu ditempatkan di sebuah tempat yang tiada penghuninya?”

“Sebagian manusia juga harus turut dibawa serta ke Kahyangan yang akan dipindahkan itu, dong! Kalau kita tidak mengawasi hidup umat manusia, di mana letak kemuliaan kita sebagai dewa-dewi?”

Semua dewa-dewi tampak kasak-kusuk mendiskusikan ucapanku. Aku menangkap tatapan meremehkan dari sebagian besar mata mereka, tapi tak aku hiraukan. Siapa yang bilang mereka lebih tahu soal urusan Kahyangan daripada diriku? Aku tahu inti masalah yang dihadapi kahyangan saat ini, dan aku punya solusinya! Mereka tahu aku benar! Pasti!

“Ada yang keberatan dengan usulan Sang Bagawi?” tanya Sang Pastika Yang Agung, yang tiba-tiba muncul di singgasananya.

Kemunculan Sang Raja Dewa itu kontan membuat semua penghuni Kahyangan bersujud sampai ke tanah, menghormati Sang Mahadewa.

“Berdirilah kalian semua!” sabda Sang Pastika, membuat kami semua bangkit dari sembah kami.
“Aku setuju dengan usulan Bagawi.”

“Terima kasih Sang Pastika Yang Agung!” jawabku takzim.

“Oleh karena itu aku akan membagi Daratan Pertiwi menjadi 10 bagian. Pada masing-masing bagian itu aku akan menciptakan Kahyangan baru, dan pada setiap Kahyangan aku akan menempatkan seorang raja. Dan kau Bagawi… adalah penanggungjawab dari kebijakan ini!”

*****

2012 M, Nusantara
Trek-trek-trek! Jari-jariku menari lincah di atas keyboard notebook. Mengetik sekumpulan catatan yang ditugaskan Kerajaan Pertiwi kepadaku. Oh ya! Perkenalkan aku Bathara Bagawi sekarang! Dewa Pencatat Sejarah Kerajaan Bumi – Pertiwi! Yah… errr… tetap saja dewa ketak-ketik, tapi kali ini aku tidak lagi mengetik untuk Kahyangan melainkan untuk Kerajaan Pertiwi.

“Masih sibuk mencatat sejarah yang terjadi di Pertiwi, Bagawi?” sapa seseorang yang tiba-tiba hadir di belakangku.

Aku tak menoleh ke arahnya, tapi aku menjawab saja, “Masih dong. Ini kan memang pekerjaanku, Namaan.”

“Seharusnya kau itu jadi Sekretaris Kahyangan saja… eeh… kau malah memilih jadi Sekretaris Pertiwi.”

“Lalu jadi bujang lapuk sampai habis masaku? No way deh! Terima kasih!”

“Kau kan bisa mengambil istri dari bumi?”

“Tapi jika aku hantarkan istriku ke Kahyangan maka umurnya akan lanjut. Itu bertentangan dengan prinsipku! Sudah cukup banyak manusia yang jadi dewa Kahyangan. Yah... paling tidak di sini saya jadi Bathara. Kalau di Kahyangan mah, saya alamat jadi asisten sekretaris melulu. BTW, bagaimana kondisi di Kahyangan?”

“Kayaknya kita butuh dirimu lagi deh, Dewa Transmigrasi.”

“Eh? Tunggu… tunggu… jangan bilang kalau…,” kata-kataku tercekat di tenggorokan mendengar gelar yang sudah lama tidak kupakai. Aku berbalik menatap lawan bicaraku. Ia yang tadi berbicara padaku hanya mengangguk lemah.

Aku bertanya, “Kepadatan penduduk Kahyangan?”

“Sepuluh dewa, dua puluh dewi, dan 14.000 anak-anak dewa per/km2.”

“Eh buset! Sekarang mereka sudah sampai pada tahap itu lagi?”

“Ya, dan setiap Kahyangan mulai penuh sesak. Kami membutuhkan dirimu lagi untuk memulai program transmigrasi, Bagawi.”

“Kurasa kalian tidak perlu program transmigrasi lagi deh.”

“Ayolah, Kahyangan bisa penuh sesak jika kau tidak bertindak.”

“Aku tentu saja akan bertindak, Namaan. Tapi kali ini bukan aku yang akan datang ke Kahyangan!”

“Lho terus siapa?”

“Mahendra!” aku berteriak memanggil seseorang.

“Sendika Rama Bathara!” jawab seorang pria muda yang muncul dalam balutan jas putih, celana panjang hitam, dan kemeja hijau bergaris-garis hitam. Pakaian khas dokter.

“Kamu pergi sana ke Kahyangan, bawa brosur KB, pil KB, poster-poster KB, alat kontrasepsi dan sebagainya lalu suruh para dewa-dewi itu ber-KB!”

“Siap Rama!”

Namaan hanya melongo saja mendengar ucapanku. Barangkali ia mengira aku sudah tidak waras menyuruh para dewa untuk melangsungkan program Keluarga Berencana. Tapi dalam hati aku tahu… bahwa dewa-dewi ini harus dipaksa untuk tidak punya anak dahulu… setidaknya selama sejuta tahun.

UHM...TAMAT??? :))


message 13: by Biondy (last edited Oct 06, 2012 09:03AM) (new)

Biondy | 773 comments Kristal Priapus

Hera berjalan mondar-mandir di dalam Pantheon tempat tinggalnya. Kepalanya pusing tujuh keliling melihat bencana yang saat ini tengah terjadi di dunia manusia. Kondisinya benar-benar gawat. Kalau kondisi ini terus berlanjut, bisa-bisa ini akan menjadi akhir dari manusia.

Dalam 48 jam terakhir, masalah ini tiba-tiba saja muncul. Saat ini memang belum menimbulkan kepanikan di antara para manusia, tapi Hera tahu hal ini harus cepat diatasi. Kalau tidak… Ini bisa lebih berdampak daripada saat terjadi kelaparan besar akibat Hades menculik Persephone dulu.

Lagipula, bagaimana bisa hal seperti ini terjadi? Begitu tiba-tiba. Datang tanpa adanya peringatan. Bagaimana bisa seluruh pria di muka bumi tiba-tiba tidak dapat berereksi?

Hera duduk pada singgasananya, lalu mengambil sebuah delima dari atas piring emasnya. Dia membelah buah itu, lalu perlahan mulai memakan isinya. Pikirannya perlahan mulai lebih tenang. Dia berusaha pelan-pelan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.

Dia kemudian ingat pada satu nama. Ya, satu dewa yang memungkinkan terjadinya seluruh masalah ini. Priapus, sang dewa genital pria.

Hera batuk-batuk ketika meningat nama itu. Dia memang punya sedikit masalah di masa lalu dengan Priapus. Anak pasangan Aphrodite dan Dionysus itu dulu, ketika masih berada dalam kandungan, pernah dia kutuk agar impoten selamanya. Alasannya? Uh… Itu isu yang sensitif bagi Hera. Dia tidak mau mengingatnya.

Apa mungkin dia marah akan hal itu dan melampiaskannya pada manusia? Seingat Hera kutukan itu sudah terlepas darinya beberapa ribu tahun yang lalu. Masa iya marahnya baru sekarang.

Dia harus mengkonsultasikan hal ini dengan Zeus, suaminya. Hera lantas bangkit berdiri dan pergi ke Pantheon sang dewa petir itu. Sesampainya di depan Pantheon emas dengan patung elang raksasa yang menghiasi depannya, Hera mendorong pintunya hingga terbuka dan melihat Zeus berada di sana.

“Hera, istriku! Mari masuk sayang,” sambut Zeus ketika melihat kedatangan Hera.

Hera merasa tindakan dan ucapannya itu terlalu… manis. Hera curiga Zeus baru saja bermain-main dengan salah satu wanita di bumi. Kebiasaan buruk suaminya yang begitu dia benci. Dia menatap suaminya dengan pandangan menyelidik tetapi kemudian memutuskan untuk mengabaikan hal itu untuk saat ini.

“Ada masalah besar di bumi. Kau sudah tahu?” tanya Hera.

“Masalah yang itu?”

“Ya, masalah yang itu.”

Zeus mengangguk. “Aku sudah tahu.”

Hera mengerutkan keningnya. “Dan tindakan apa yang akan kauambil?”

“Tidak ada.”

Hera melotot mendengar jawaban itu. “Apa maksudmu? Kenapa kau tidak akan melakukan apa pun?”

“Karena kurasa ini hukuman yang baik bagi mereka, Hera.”

Zeus melayangkan tatapannya ke luar jendela Panthenonnya. “Lihat para manusia itu. Mereka mulai melupakan keberadaan kita dan berbuat seenaknya. Kejahatan di mana-mana, perbuatan mereka sudah sama seperti binatang karena lupa akan ajaran-ajaran kita. Menurutku, ini hukuman yang bagus untuk memperingatkan mereka akan keberadaan kita, para dewa.”

“Lagipula, masalah ini berada di luar kekuasaanku,” kata Zeus menambahkan.

Hera mendengus kesal. “Kau ini kan penguasa Olympus. Raja para dewa! Masa tidak bisa melakukan apa pun. Baiklah, kalau kau memang tidak mau melakukan apa-apa, biar aku yang mengurus masalah ini!”

Zeus hanya mengangkat bahunya. “Aku tidak bisa melarangmu.”

Hera lalu meninggalkan kediaman suaminya itu. Dia terus mengomel dalam hati karena kesal akan sikap Zeus.

Dia sih enak. Dewa langit dan petir tidak akan terkena imbas langsung dari masalah ini. Tapi keadaan seperti ini akan mengganggu peranku sebagai dewi rumah tangga. Banyak pernikahan yang akan goyang karena masalah ini. Batin Hera.

Ketika Hera menjejakkan kaki di halaman Pantheonnya, dia melihat seorang wanita berjalan ke arahnya. Jalannya yang tergesa-gesa membuat rambut keemasan wanita itu tersapu ke belakang oleh angin. Matanya yang bulat dan berhiaskan bulu mata yang lentik tampak tajam dan penuh amarah. Wanita itu Aphrodite, si dewi cinta.

“Hera, coba jelaskan apa yang sedang terjadi di bumi,” kata Aphrodite.

Hera mengerutkan keningnya. “Sejak kapan kamu peduli dengan apa yang terjadi di bumi?”

Hera melihat Aphrodite mengeraskan kepalan tangannya. Dia yakin kata-katanya tadi tepat sasaran. Selain dirinya sendiri dan masalah cinta, Aphrodite memang tidak peduli akan masalah lainnya.

“Jangan membuatku marah. Jawab saja pertanyaanku.”

Hera memberikan pandangan mencela pada dewi itu. “Kurasa kau sendiri sudah tahu masalahnya. Tidak bisa main-main dengan pria di bumi gara-gara itu?”

Wajah Aphrodite memerah. Dia menggeram marah lalu berkata, “Beritahu Zeus soal masalah ini. Kekacauan ini harus segera diatasi.”

“Aku sudah memberitahunya.” Hera lalu menceritakan pembicaraannya dengan Zeus. Aphrodite meledak marah begitu Hera selesai bicara.

“Dia tidak akan melakukan apa-apa!?” raung Aphrodite. “Sikap macam apa itu? Dan dia menyebut dirinya dewa tertinggi?”

Aphrodite menggigit bibir bawahnya. “Kalau Zeus tidak mau bertindak, maka kita yang harus menyelesaikan persoalan ini.”

Kita? Hera bergidik ketika sadar bahwa Aphrodite akan turut serta dalam persoalan ini. Tambahan tenaga memang bagus, tapi kalau bisa bukan Aphrodite yang menjadi tenaga ekstra itu. Hubungan Hera dengan dewi itu belum pulih benar sejak Perang Trojan.

“Jadi, apa rencanamu?” tanya Aphrodite.

Hera menarik napas panjang. Sesuai dugaannya. Aphrodite tidak mau repot-repot memutar otaknya. Hera berjalan ke meja di samping singgasananya dan mengeluarkan sebutir kristal bening dari dalam sebuah kotak perak.

“Ini rencananya.”

Hera lalu melemparkan kristal itu hingga pecah berkeping-keping ketika menghantam lantai. Pecahan kristal itu perlahan menghilang seperti menguap. Uapnya bergulung-gulung naik dan saling bertabrakan satu sama lain. Kumpulan uap itu lalu saling menyatu dan warnanya yang semula putih mulai menggelap.

Terdengar suara menggelegar dari gumpalan uap hitam itu dan perlahan air mulai mengucur dari dalamnya. Kini uap itu tampak seperti awan mini dan awan itu tengah mencurahkan hujan. Setelah hujan turun sekitar 10 detik, perlahan pelangi mulai muncul. Awan hitam pun menghilang dan muncul sesosok makhluk yang begitu mungil.

Makhluk mungil itu berwujud seorang wanita dengan rambut panjang kemerahan. Dia tampak terbang mengambang walau tanpa sayap. Dialah Iris, si dewi pelangi, sekaligus pengantar pesan para dewa.

Hera sebenarnya merasa cara kemunculan ini sangat merepotkan, tapi Iris keras kepala dan merasa inilah cara kemunculan artistik yang sesuai dengan dirinya.

“Iris, tolong hubungkan aku dengan Priapus.”

Iris menutup kedua matanya sesaat. Ketika dia membukanya kembali, dia menggelengkan kepalanya.

“Sambungan tidak dapat terbentuk. Dewa Pan membentuk sihir yang menghalangi hal ini,” jawab Iris.

Hera mendesah. Priapus masih tinggal dengan Pan ternyata. Tambah lagi Pan masih senang menyepi seperti biasanya.

“Kalau begitu tolong beritahu aku dia ada di mana.”

* * *

Hera berjalan menembus hutan yang tampak begitu asri dan perawan. Pohon-pohon tampak tinggi menjulang dengan cabang-cabang yang kokoh dan dedaunan yang rimbun. Sesekali dia harus menggunakan sihirnya untuk membuka jalan yang masih tertutupi oleh semak-semak.

Aphrodite yang berjalan di belakangnya terdengar mengomel terus-terusan. “Tidak bisakah kita muncul di tempat yang lebih dekat dengan kediamannya?”

Hera menghitung sampai sepuluh dalam hatinya sebelum menjawab, “Sudah aku bilang tadi, Aphrodite, Pan memasang pelindung sihir yang menghalau kita untuk masuk lewat teleportasi. Kita hanya bisa muncul di luar pelindung itu dan berjalan masuk melewatinya. Lagipula kita sudah dekat. Aku bisa merasakannya.”

Hera kembali membuka jalan dan dia bisa melihat jalan ini tersambung ke bagian lainnya yang jelas sudah pernah dilewati makhluk lain.

Hutan terasa tenang. Hanya suara angin yang sesekali terdengar berpadu dengan suara dedaunan kering yang terinjak oleh Hera dan Aphrodite. Hera melewati dua batang pohon besar dan langsung tersenyum begitu melihat apa yang dia cari.

“Kita sampai,” kata Hera menunjuk ke depan. “Perkemahan Pan.”

Yang terpampang di hadapannya adalah sebuah daerah yang tertutup oleh gerombolan pohon raksasa dengan batang-batang berukuran besar dan kokoh. Akar pohon-pohon itu tampak gemuk-gemuk dan mencuat di atas permukaan tanah.

Hera menghampiri salah satu pohon dan meletakkan telapak tangannya pada batang pohon itu. Dia lalu menutup matanya sebentar, lalu berkata, “Dia ada di dalam sini. Hei, Priapus! Keluarlah! Aku tahu kamu ada di dalam pohon ini.”

Hening. Tidak ada jawaban.

“Jangan membuatku marah. Ayo keluar,” lanjut Hera.

Terdengar suara sesuatu yang bergesekkan. Kulit pohon di hadapan Hera mulai terkoyak terbuka dan membentuk lubang setinggi kurang lebih dua meter. Dari dalam lubang itu, seorang pria yang sedikit lebih tinggi dari Hera berjalan keluar.

“Lihat siapa yang datang,” kata pria itu. “Salam hormat bagi yang mulia, Dewi Hera.”

“Hentikan sikap sinismu itu,” kata Hera dengan tatapan marah. “Kalau tidak ada urusan denganmu, aku pun tidak mau datang ke sini.”

Priapus lalu mendekati Aphrodite, berlutut dan mencium tangannya. “Salam juga bagimu, hai Dewi Aphrodite. Kecantikanmu masih tetap tiada tara.”

Aphrodite tertawa kecil. “Oh, kuterima pujianmu, Priapus.”

Hera menarik Priapus hingga dewa itu berdiri dengan paksa. “Langsung saja. Apa yang kaulakukan pada para pria di bumi?”

“Aku tidak melakukan apa-apa. Mari, masuk dan lihat sendiri apa penyebabnya.”

Hera melepaskan cengkramannya dan membiarkan Priapus masuk kembali ke dalam pohon. Hera dan Aphrodite kemudian berjalan masuk mengikuti Priapus. Bagian dalamnya terlihat jauh lebih luas daripada ukuran batang pohon itu sendiri. Ada ranjang, kursi, meja, dan berbagai peralatan hidup sehari-hari di dalamnya. Hera yakin ukuran yang tidak wajar ini adalah efek salah satu mantra Dewa Pan.

Priapus lalu menuntun mereka ke bagian lain ruangan itu yang terpisah oleh tirai. Di sana, ada sebuah tongkat kayu kurus yang berukiran huruf-huruf kuno. Tongkat itu tampak tergeletak di atas lantai.

“Inilah penyebab semua masalah yang sedang terjadi saat ini.”

Hera menatap tongkat itu lekat-lekat. “Memangnya kenapa dengan tongkat itu?”

“Seharusnya ada kristal di bagian puncak tongkat ini. Itulah sumber tenaga untuk, ehem, kalian tahu,” jawab Priapus sambil menunjuk pada bagian rongga di atas tongkat. Tampak ada bagian-bagian menonjol di puncak tongkat yang menandakan ada sesuatu yang seharusnya tertahan di sana.

“Lalu, apa yang terjadi pada kristal itu?” tanya Hera.

“Hilang. Aku yakin ada yang mencurinya.”

“Apa!? Bagaimana bisa benda sepenting itu tidak kaujaga dengan baik?” kata Hera terkejut.

“Sudah kujaga dengan baik. Mantra yang Dewa Pan tebarkan di tempat ini bisa kubilang lebih dari cukup untuk melindunginya.”

“Kukira tidak cukup baik. Buktinya benda itu hilang. Kami bahkan bisa mencapai tempat ini tanpa halangan berarti. Di mana Dewa Pan saat ini? Aku mau bicara dengannya.”

“Itu dia. Sihir Dewa Pan mampu dipatahkan oleh si pencuri,” keluh Priapus. “Dewa Pan dan para satir sedang pergi selama seminggu untuk acara inisiasi satir tahunan. Aku satu-satunya yang berada di tempat ini.”

Hera menghela napas panjang. “Ada dugaan di mana kristal itu sekarang?”

“Ya,” kata Priapus. “Tidakkah kalian merasa hutan ini terlalu tenang?”

Hera dan Aphrodite saling berpandangan. Mereka lalu mengangguk serempak, menyetujui hal itu.

“Sama sekali tidak ada suara hewan. Seolah-olah tidak ada hawa kehidupan. Tambah lagi kemampuan yang begitu besar untuk melewati sihir Dewa Pan dan bahkan kehadirannya tidak terdeteksi olehku. Apa tidak ada satu nama yang muncul di kepala kalian?”

Hera berpikir sejenak. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menebak nama siapa yang Priapus maksud.


message 14: by Biondy (last edited Oct 03, 2012 08:19PM) (new)

Biondy | 773 comments “Jalanan ini, kenapa begitu susah untuk dilalui?” kata Aphrodite sambil memainkan kalungnya.

“Berhenti mengeluh dan jalan terus,” kata Hera tegas sambil berhati-hati menuruni bagian yang curam.

Hera mengacungkan jarinya dan dinding batu yang tampaknya membuntukan di hadapan mereka perlahan bergeser ke kiri dan ke kanan, membuka jalan bagi mereka.

“Ayo jalan. Kita harus cepat sebelum masalah ini menjadi suatu keributan besar di antara para manusia,” kata Hera.

“Oh, tenanglah. Aku yakin masalah ini akan menyebar lebih lambat dari perkiraanmu. Maksudku pria kan tidak saling menyapa dan berkata, ‘Hei, punyaku tidak bisa berdiri loh. Bagaimana punyamu?’ Benar kan?”

Hera batuk-batuk mendengar kalimat itu. “Berhentilah bicara sevulgar itu.”

“Vulgar apanya? Itu memang benar kan?”

“Lupakan. Kita sudah sampai.”

Mereka telah berjalan masuk ke dalam bumi. Sekeliling mereka saat ini adalah dinding-dinding batu kasar. Di hadapan mereka tampak sebuah gerbang raksasa berjeruji besi yang membuka, seolah-olah menyambut kedatangan mereka. Tampak ada beberapa sosok makhluk yang mengantri di depan gerbang itu.

“Oh, Dewi Hera, Dewi Aphrodite. Senang sekali melihat kedatangan kalian di sini.”

Hera menoleh dan melihat bahwa yang berbicara itu adalah sesosok makhluk bermata tiga dengan warna kulit keunguan dengan bentol-bentol merah di sekujur lengannya.

“Apa keperluan dewi-dewi sekalian hingga datang ke gerbang Dunia Bawah ini?”

“Kami ingin bertemu dengan bosmu, Hades,” jawab Aphrodite sebelum Hera sempat membuka mulutnya.

“Tuan Hades? Mohon maaf, saat ini Tuan Hades sedang sibuk. Dia bilang padaku untuk menolak setiap tamu yang datang untuk bertemu dengannya.”

“Dan apa yang membuatnya sibuk seperti itu? Bilang padanya kalau Aphrodite ingin bertemu dengannya,” kata Aphrodite.

Makhluk itu menggeleng. “Saya takut bahwa nama dewiku Aphrodite pun tidak mampu untuk menghentikan kesibukannya saat ini.”

“Ayolah,” rengek Aphrodite. “Kumohon.”

Makhluk itu mundur beberapa langkah. Hera sempat menangkap warna merah di wajah makhluk itu untuk beberapa saat.

“Sekali lagi mohon maaf, dewiku, saya tidak bisa berbuat apa-apa dalam hal ini.”

Hera melangkah maju. Dia rasa ini saatnya sedikit kekerasan beraksi.

“Bilang padanya bahwa kami ingin bertemu dengannya. Atau kamu mau kukutuk hingga bokongmu penuh bisul? Aku yakin itu setara dengan hukuman di Tartarus.”

Makhluk itu tampak sedikit panik mendengar ancaman itu. “Mohon maaf sekali lagi, Dewi Hera. Saya hanya menjalankan perintah.”

Hera baru saja hendak menjatuhkan kutukannya ketika Aphrodite maju dan menyemprotkan sesuatu yang berbau sangat wangi ke arah makhluk itu. Makhluk itu tampak terbatuk-batuk dan berusaha menghalau asap yang Aphrodite semprotkan. Setelah beberapa saat, makhluk itu membuka matanya dan Hera segera sadar apa yang baru saja Aphrodite gunakan.

“Oh, makhluk Dunia Bawah yang tampan, tolong biarkan kami lewat. Kami hanya perlu bicara dengan Hades sebentaaaar saja. Boleh kan?” ujar Aphrodite dengan irama manja yang membuat Hera ingin muntah.

Hera yakin yang Aphrodite pakai tadi adalah “Parfum Cinta” yang mampu membuat makhluk apa pun jatuh cinta pada Aphrodite kalau terkena semprotannya.

Makhluk itu tampak linglung dan memandang Aphrodite dengan tatapan berbunga-bunga. “Tentu saja, manis. Tentu saja aku akan mengizinkanmu bertemu dengannya. Mari lewat sini.”

Makhluk itu kemudian berjalan menuntun Hera dan Aphrodite melalui gerbang Dunia Bawah. Aphrodite memberikan senyum penuh kemenangan pada Hera.

Mereka berjalan berputar, mengambil jalur yang berbeda dengan jalur yang digunakan jiwa-jiwa yang datang ke Dunia Bawah. Mereka lalu masuk ke sebuah ruangan yang membuat Hera merasa tidak enak begitu tiba di sana. Dari kejauhan terdengar suara geraman yang membuat tubuhnya menegang. Begitu mereka berbelok, Hera dapat melihat makhluk dengan tinggi sekitar 5 meter dengan tiga pasang kaki dan tiga buah kepala. Keenam mata makhluk itu memandang lurus ke arah mereka dengan tatapan tajam.

“Cerberus,” desis Hera. “Bagaimana bisa makhluk itu ada di sini? Kukira dia berjaga di dekat Sungai Styx.”

Makhluk ungu yang dia tanyai itu tidak menjawab pertanyaannya dan malah melantur mengenai kecantikan Aphrodite.

“Lain kali buat parfum yang memungkinkan seseorang dapat menjaga kecerdasannya,” geram Hera.

“Cinta memang membuat orang bodoh, Hera.”

Terdengar lolongan panjang yang memekakkan telinga. Ketiga mulut anjing itu lantas mengarah pada mereka bertiga dan menyemburkan lidah api yang membara. Hera segera maju dan mengangkat kedua tangannya. Cahaya merah tipis membentang di hadapannya dan lidah api itu tertahan oleh perisai yang dia ciptakan itu.

“Aphrodite, gunakan parfummu pada makhluk itu!”

“Apa? Yang benar saja? Aku tidak mau. Lagipula parfum itu harus kusemprotkan tepat di wajah. Bagaimana caranya aku dapat mencapai wajah makhluk itu?”

“Tidak berguna seperti biasa,” kata Hera.

Begitu semburan api berhenti, Hera maju ke depan dan melontarkan cahaya putih terang ke arah makhluk itu. Cahaya itu mengenai kepala di tengah. Dengan cepat Hera melakukan hal yang sama pada dua kepala lainnya.

Cerberus melolong panjang lalu kembali membuka mulutnya, siap melontarkan api, tetapi kali ini tidak ada apa pun yang keluar.

“Rasakan itu. Aku sudah mengunci api dalam diri kalian.”

Makhluk itu menggonggong marah dan menyerbu maju ke depan. Hera terpaksa harus melompat ke samping untuk menghindari terjangan makhluk itu, sementara Aphrodite berhasil menarik si makhluk ungu tepat pada waktunya sebelum dia terlindas oleh Cerberus.

Cerberus lalu menggeram ke arah Aphrodite. Ketiga kepalanya maju menyerang dalam waktu bersamaan, menampakkan taring-taring Cerberus. Aphrodite mendorong si ungu ke kanan, sementara dia sendiri melompat ke arah yang berlawanan. Moncong-moncong Cerberus menabrak dinding di belakang tempat Aphrodite tadinya berdiri dan meninggalkan sebuah lubang yang amat besar.

Hera kembali mengeluarkan cahaya putihnya yang dengan sukses mengalihkan perhatian makhluk itu padanya. Hera mengumpat kenapa dia melakukan itu tadi. Sesaat sebelum makhluk itu menerjang ke arahnya, Hera melihat Aphrodite melepaskan kalung yang dia pakai dan mengayunkannya ke arah salah satu kaki Cerberus. Untaian kalung itu memanjang dan mengikat kaki Cerberus. Aphrodite lalu menekan salah satu batu permata berwarna kuning dan seketika tubuh Cerberus bergetar hebat seolah tersengat listrik bertegangan tinggi.

Tubuh anjing itu lalu terjatuh dengan bunyi berdebam. Kaki-kaki anjing itu tampak masih bergerak-gerak. Hera kemudian memunculkan sebuah delima di tangannya dan melemparkan buah itu masuk ke dalam mulut salah satu kepala Cerberus yang terbuka. Begitu delima itu masuk dan airnya merembes keluar, tubuh Cerberus tidak bergerak lagi.

“Mati?” tanya Aphrodite.

“Hanya pingsan. Itu delima penenang. Dari mana kamu mendapatkan kalung itu?”

“Kupinjam dari suamiku. Kupikir akan berguna,” kata Aphrodite sambil memakai kembali kalungnya.

Suami Aphrodite, Hephaestus, adalah dewa pandai besi yang membuat berbagai senjata bagi para dewa. Tidak heran memang kalau dia membuat benda seperti itu, walau Hera ragu bahwa Aphrodite memang “meminjam” kalung itu. Setahunya Hephaestus masih marah karena Aphrodite main-main dengan seorang manusia sekitar 3 tahun yang lalu dan belum mau bicara dengan istrinya itu hingga hari ini.

Hera menggelengkan kepalanya dan mengatakan pada dirinya bahwa ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal itu atau kenapa Aphrodite bisa secerdas itu untuk membawa senjata. Dia lalu mendorong gerbang besar di hadapannya hingga terbuka dan berjalan masuk ke dalam dengan Aphrodite di belakangnya. Si ungu pemandu mereka tampak tergeletak tidak sadar karena kepalanya terbentur batu.

Udara di ruangan yang mereka masuki terasa begitu berat dan tampak tulang belulang berserakan di lantai. Di ujung ruangan, terdapat sebuah singgasana dari berbagai jenis tulang yang disepuh emas. Di atasnya, duduklah sang penguasa Dunia Bawah, Hades.

“Hera, Aphrodite, senang melihat kalian datang ke sini,” kata Hades sambil bangkit dari takhtanya.

“Tidak usah pura-pura manis, Hades. Segera kembalikan kristal milik Priapus,” kata Hera.

“Aku… Tidak tahu apa yang kalian bicarakan.”

“Berhenti berpura-pura. Kami tahu kamu yang mengambil benda itu.”

“Bukti apa yang kalian miliki untuk itu?”

“Jejak aura kematian yang kautinggalkan begitu kuat di hutan itu. Bagaimana bisa kami melewatkannya?”

Hades mendengus. “Aku harus mencari cara untuk menyembunyikannya lain kali. Kalian, nona-nona, dengan terpaksa harus kuusir dari sini.”

Hades mencabut bident-nya, sebuah tombak bermata dua di satu sisi, dan mengarahkannya ke arah Hera dan Aphrodite. Seketika tulang-tulang yang berserakan di lantai mulai menyatu dan membentuk ratusan tengkorak hidup yang berjalan ke arah mereka.

Hera menghalau makhluk-makhluk itu dengan sihirnya, sementara Aphrodite sibuk melecuti mereka dengan kalungnya. Setiap kali tulang-tulang hidup itu jatuh berserakan, setiap kali juga mereka kembali bersatu.

“Mereka tidak ada habisnya,” erang Aphrodite.

Hades tertawa menyaksikan hal itu. “Nah, nona-nona, segera tinggalkan tempat ini.”

Hera memukul mundur beberapa tengkorak yang mendekatinya. Dia lalu menutup matanya dan mulai mengucapkan berbaris-baris kalimat dalam bahasa kuno. Dengan setiap baris katanya makhluk-makhluk itu berjalan mundur ke belakang dan semakin tampak kehilangan kekuatannya. Tulang-tulang mereka tampak mulai mengeropos dan kemudian mereka hancur lebur menjadi serpihan.

“Ba… Bagaimana bisa!?” seru Hades.

“Aku paling ahli dalam hal kutukan,” jawab Hera sambil bergerak maju. “Dan jangan membuatku mengutukmu, Hades.”

Hades berjengit. “Aku tahu betapa kreatifnya dirimu dalam hal mengutuk. Ambil ini.”
Hera menangkap benda yang Hades lemparkan. Dia membuka telapak tangannya dan melihat sebuah kristal hijau terang berpendar di tangannya.

“Kenapa kaucuri benda ini?” tanya Hera.

“Aku tidak mau bilang.”

Hera melotot penuh amarah pada Hades.

“Ada seorang wanita yang mempermasalahkan, eh, ‘kemampuanku’. Maksudku, bagaimana bisa aku direndahkan seperti itu? Aku dewa dan dia cuma manusia dan dia meragukanku? Makanya aku meminjam kristal itu. Kupikir itu bisa meningkatkan, eh, ‘kemampuanku’ dan membuktikan diriku pada wanita itu.”

Mulut Hera terbuka lebar. “Semua masalah ini hanya karena hal itu!? Dan lagi-lagi kamu main-main dengan manusia.”

“Ya… Jangan bilang apa-apa pada Persephone tentang hal ini. Bersumpahlah demi Sungai Styx.”

Persephone adalah istri Hades. Hera mengangguk. “Tapi kamu juga harus bersumpah demi Styx bahwa kamu akan melakukan satu perintah kami kalau kami minta.”

“Aku bersumpah demi Styx,” jawab Hades.

* * *

“Ini kristalnya. Terima kasih karena sudah memperolehnya kembali,” kata Priapus. “Kalian tahu kan dewa kecil sepertiku tidak akan bisa masuk ke Dunia Bawah. Ngomong-ngomong, Dewi Hera, kenapa kamu memakai topeng itu?”

Hera berdehem. “Tidak kenapa-kenapa kok.”

Hera tidak mau bilang bahwa wajahnya terlihat tua dan penuh kerutan karena efek kutukan yang dia gunakan. Dia bisa membayangkan apa reaksi para dewa nanti.

“Wah, besar dan panjang yah,” gumam Aphrodite.

“Hah? Apa?” tanya Hera yang sadar dari lamunannya.

“Tongkat tempat kristal itu,” jawab Aphrodite.

“Aku membuat tongkat yang baru. Tongkat yang dulu sudah 300 tahun lebih kupakai. Kalian suka desainnya?”

“Oh, tongkat,” kata Hera mengamati tongkat yang berukuran lebih besar dan panjang dari sebelumnya.

“Kini keadaan kembali normal,” kata Priapus.

“Kalau begitu kami akan kembali ke Olympus,” kata Hera.

Hera dan Aphrodite lalu berjalan meninggalkan perkemahan Pan. Hera menarik napas panjang. Satu masalah beres. Sekarang saatnya membuat perhitungan dengan Zeus.


message 15: by Mahfudz (new)

Mahfudz D. (mahfud_asa) | 305 comments PAN

Tak perlu seorang penyair handal untuk menentukan mana kisah yang layak dan tak layak untuk diceritakan. Dan kisah ini adalah kisah yang bahkan menurutku, seorang―atau seekor? terserahlah―satyr sebenarnya tak layak untuk aku kisahkan pada kalian. Tapi berhubung aku kesal setengah mati dengan tokoh utama kisah ini, maka akan aku kisahkan pada kalian.

Kuperkenalkan pada kalian tokoh utama kisah kita, Pan si Dewa Hutan konyol yang setiap tahun selalu membuat kekacauan karena kejelekan wajahnya. Sungguh, aku tak tengah menjelekannya. Itu memang kenyataan. Kalau kalian tak percaya lihat saja pria kekar yang kini tengah duduk muram di singgasana itu. Kalian bakal tahu persis kenapa aku mengatainya jelek setelah benar-benar memperhatikannya.

Kalian lihat tanduk kambing jantan itu? Tentu saja itu bagian yang tak akan terlewatkan dari penampilannya. Cambang keriting dan berantakan membalut sisi wajahnya yang tak sekali pun kulihat mengulas senyum. Itu baru wajahnya. Coba lihat tubuhnya. Kekar dan berotot? Memang. Tapi coba lihat tubuh bagian bawahnya yang merupakan tubuh seekor kambing. Perpaduan yang cukup buruk bukan? Ya, ya, ya aku akui aku juga seperti itu, tapi setidaknya wajahku cukup ramah untuk disukai. Juga, setidaknya aku tak sekuno Pan.

Stop. Jangan protes. Aku di sini bukan untuk membahas anggota tubuhku yang unik, tapi aku ingin menceritakan pada kalian tentang apa yang kami, para penghuni hutan sebagai sebut Pola Pan.

Kalian tahu apa itu Pola Pan? Haha, tentu saja tidak jika kalian bukan warga hutan.

Begini, Pola Pan itu adalah sebuah kejadian konyol yang selalu menimpa Pan setiap tahunnya. Penolakan cinta. Ya, itulah kejadian yang selalu menimpa Pan. Memang bukan peristiwa penting―setidaknya bagi penghuni hutan yang lain, tapi cukup untuk membuat kesal seluruh warga hutan. Bagaimana tidak, jika itu terjadi maka semua penghuni hutan akan terkena imbasnya. Hutan menjadi tak terurus saat Pan patah hati, bahkan ia selalu membiarkan Aeolus― sang Dewa Angin―dan para anemoi mengacak-acak hutan dengan seenaknya. Dan di samping itu semua, selalu ada seorang yang akan mendapat imbas paling besar di antara para penduduk hutan yang lain. Tentu saja, itu aku.

“Hai kambing jelek!” Lihat bagaimana Pan memanggilku. Kambing jelek? Kuharap ada cermin di hutan ini sehingga ia bisa melihat bagaimana wujud kambing jelek yang sesungguhnya. “Kau tak mendengarkan keluhanku?”

“Ya, Pan, aku mendengarkanmu,” jawabku malas. “Sayangnya aku sudah ratusan kali mendengar keluhan itu, sehingga aku nyaris menghapal setiap katanya.”

Pan hendak mengatakan sesuatu, tapi aku mendahuluinya. “Biar kuulangi apa yang tadi kau katakan sebagai bukti bahwa aku benar-benar mendengarkanmu. Kau ditolak lagi oleh peri pohon, kali ini bernama Raiona. Kau telah mengincarnya sekian bulan. Memberikan berbagai hadiah untuknya, dan saat kau menyatakan cinta padanya ia menolakmu. Dan aku yakin setelah ini kau menyuruhku untuk menemui peri pohon itu untuk memaksanya menerimamu. Apa ada yang terlewatkan?”

Lihat, ia mendengus. Tampaknya cukup kesal. “Ya, kau tak melewatkan apa pun, bahkan kau sudah bisa menebak apa yang akan kuminta.”

“Tentu saja aku bisa menebaknya,” jawabku malas. “Kau selalu meminta hal itu setelah mengeluh karena ditolak oleh perempuan. Tapi sayangnya aku tak akan melakukan perintahmu. Tunggu, jangan marah dulu. Aku baru akan mengusulkan hal yang mungkin lebih berguna untukmu daripada menyuruhku menemui peri pohon itu. Selain kujamin itu tak akan berhasil seperti biasanya, hal itu juga akan memperburuk citraku.”

“Lalu apa yang ingin kau usulkan?” tanyanya Nampak tak sabar.

Aku tersenyum bangga. “Kau harus merubah kebiasaanmu. Dari jaman manusia masih sangat percaya dengan kekuatan para dewa sampai sekarang―era di mana sesuatu yang disebut internet bahkan jauh lebih berkuasa dibanding kalian, kau tak pernah ada perubahan. Masih dengan cara kuno yang sama. Bagaimana mau berhasil kalau hal yang jelas gagal terus saja diulang?”

“Intinya?” Tampaknya Pan sudah mulai kesal padaku.

“Sesekali kau harus mengikuti perkembangan jaman.”

***
Seandainya ada audisi dewa paling tidak keren sedunia, mungkin aku akan mendaftarkan Pan untuk mengikuti audisi itu. Seorang dewa bertanduk, bertubuh setengah kambing, bermuka masam, ditambah lagi kini ia tengah memakai pakaian manusia dengan perpaduan warna-warni yang melelahkan mata. Coba kalian lihat kemeja hijau bunga-bunga yang ia pakai, dipadukan dengan celana kuning ketat dan sepatu merah. Penutup kepala rajutan yang ia gunakan untuk menutupi tanduknya adalah satu-satunya benda yang tidak membuatku ingin tertawa. Itu sama sekali tidak bisa dibilang keren.

“Kau pasti sedang menertawakanku,” ujar Pan tiba-tiba. “Ini kan usulmu?”

“Ya, memang usulku, tapi bukan aku yang memilihkan pakaian-pakaian itu untukmu,” sangkalku. Aku tak ingin disalahkan karena penampilannya. “Aku punya selera fashion yang lebih baik dari itu.”

“Terserah,” jawabnya marah. “Yang penting sekarang, sudahkah aku perlu mengetahui ke mana kita akan pergi? Atau setidaknya berapa lama lagi. Aku sudah tak tahan ingin keluar dari benda berisik ini.”

“Ini disebut taksi, tuan,” koreksi pria yang duduk di kursi kemudi. Kemudian ia melirikku dengan prihatin.

“Apa pun itu,” jawab Pan semakin kesal.

“Oke, Pan sebaiknya kau diam,” ujarku akhirnya, mencoba membuatnya diam. “Sebentar lagi kita akan sampai. Bahkan mungkin tak lebih dari lima puluh meter.”

Dan beberapa detik kemudian, taksi berhenti di depan sebuah gedung berlantai dua yang didominasi oleh warna-warna muda, merah muda dan biru muda. Di depan gedung itu tertulis sebuah nama yang akan membuat semua orang mengernyitkan dahi: GODDESS BEAUTY CENTRE.

“Tempat apa ini?” tanya Pan melongo memandangi gedung itu.

Aku hendak menjawab, tapi sang sopir tampaknya sudah tak sabar ingin kami enyah dari pandangannya. “Silakan, tuan-tuan.”

Aku menarik Pan yang kini tengah sibuk dengan sepatunya. Mungkin kuku belahnya belum bisa bersahabat dengan sepatu. Kami keluar, dan setelah membayar ongkos taksi, aku mengajak Pan masuk ke salon itu. Kami langsung menuju lanatai dua yang merupakan tempat perlakuan khusus dengan bayaran mahal.

Setibanya di lantai dua, kami langsung digiring ke sebuah ruangan. Di sana sudah menunggu seorang wanita cantik berambut hitam bergelombang. Wanita itu langsung memandang kami begitu kami masuk.

“Aku memang tak pernah bertemu denganmu, Pan,” ujar wanita itu. “Tapi aku tak menyangka selera berpakaianmu buruk sekali.”

Pan memandang bingung padaku. “Siapa dia?”

“Oh dia belum memberitahumu, ya?” kata wanita itu menyerobot apa yang akan keluar dari mulutku. “Aku Aphrodite, dewi kecantikan.”

“Aphrodite?” tanya Pan benar-benar terkejut. “Kukira….”

“Kukira aku masih berleha-leha di Olympus?” ujarnya memotong kata-kata Pan. “Tidak Pan, beberapa dewa sudah tak lagi menetap di Olympus. Mereka kini lebih senang berbaur dengan manusia.”

“Tapi….” Entah apa sangkalan yang akan keluar dari mulut Pan. Yang jelas sangkalan kembali terpotong oleh kata-kata Aphrodite.

“Sudahlah Pan, kau ke sini bukan untuk membahas kebiasaan baru para dewa, kan?” tanya Aphrodite. “Jika kau ingin berhasil menaklukan hati gadis-gadis hutan, ikuti aku.”

***

Aku hanya bisa tertawa saat Aphrodite menggarap Pan. Sesekali Pan meneriakkan makian padaku disela deru alat cukur yang tengah membabat cambang dan rambut keritingnya. Tapi aku tak peduli, karena ini adalah satu dari sedikit waktu menyenangkan selama kebersamaanku dengan Pan. Melihatnya Pan dirombak habis-habisan oleh Aphrodite sambil menikmati manisnya buah-buahan ranum yang dihidangkan oleh pelayan Aphrodite adalah sesuatu yang sangat langka.

“Kambing jelek!” Dengar Pan meneriakiku lagi.

“Kau juga kambing, bodoh,” balas Aphrodite kesal. Hahaha…sekarang aku tak perlu menjawab makiannya, karena Aphrodite sudah menggantikan tugasku. “Diam atau kau akan kehilangan telingamu. Menurutlah, aku sedang memperbaiki penampilanmu.”

Berikutnya debat antara Pan dan Aphrodite terus berlanjut di sela-sela perombakan penampilan Pan. Sampai sekitar satu jam berikutnya, Aphrodite telah berhasil menampilkan Pan dalam tampilan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Cambang di wajahnya telah terpangkas rapi. Harus kuakui tanpa cambang berantakan itu, Pan terlihat lebih tampan. Sayangnya wajah masamnya sepertinya tak bisa diubah. Rambutnya juga telah terpangkas rapi, sehingga tidak terlihat terlalu keriting.

“Sekarang hanya tinggal memperbaiki selera berpakaiannya,” ujarku pada mereka. Lalu aku berpaling pada Aphrodite. “Kau bisa membantunya?”

“Serahkan saja hal itu padaku,” jawab Aphrodite bangga. “Walau namanya Goddess Beauty Centre, tapi di sini kami juga memberikan pelayanan kepada dewa yang ingin tampil menawan. Asal kalian tahu saja, Apollo adalah pelanggan terbaikku. Ia selalu mampir ke sini sebelum tampil.”

“Apollo?” tanya Pan. “Tampil apa?”

Aphrodite mendengus, tampak tak berselera meladeni kekuperan Pan. “Ia sekarang menjadi musisi terkenal.” Aphrodite kemudian beralih memandangku. “Ingatkan aku untuk menunjukkan Album CD Apollo.”

“Apakah semua dewa-dewi beralih profesi seperti kau dan Apollo?” tanya Pan bingung.

“Tentu saja tidak,” jawab Aphrodite. “Zeus masih di Olympus, walau sesekali ia turun ke bumi untuk mencari mangsa. Yah, kau tahu lah apa yang kusebut mangsa. Poseidon masih di laut. Hades masih di dunia bawah, hanya beberapa dewa saja yang melakukan alih profesi. Biasanya mereka adalah dewa-dewi yang bisa melakukan tugasnya sebagai dewa sambil melakukan hal yang lain seperti bisnis.”

“Selain kau dan Apollo, apa ada dewa-dewi lain yang melakukan alih profesi?” tanya Pan. Sepertinya ia tertarik untuk melakukan alih profesi. Tapi tak terpikirkan olehku pekerjaan apa yang pas untuknya terkait tuga kedewaannya. Kalian punya usul? Oh iya, mungkin jadi polisi hutan cukup memadai untuk tugas kedewaannya.

“Setahuku tak banyak, terakhir aku tahu hanya sekitar empat atau lima dewa saja. Dionysius membuka pabrik anggur, Hephaentes memiliki bengkel, Hermes menjadi pemandu wisata di situs-situs Yunani kuno, Iris bekerja di perusahaan telekomunikasi, dan satu lagi Hera. Ia bekerja di LSM khusus perempuan korban kekerasan rumah tangga dan perceraian.” Aphrodite masih mencoba mengingat-ingat, kemudian menyerah. “Kenapa kita jadi melantur seperti ini? Oke Pan, sebaiknya kau mandi dulu sementara aku memilihkan pakaian yang mungkin cocok untukmu.”

***


message 16: by Mahfudz (new)

Mahfudz D. (mahfud_asa) | 305 comments Saat Pan selesai mandi―sesuatu yang entah masuk dalam kegiatan hariannya atau tidak, aku dan Aphrodite telah selesai memilih pakaian yang kami rasa tepat untuk Pan.

Pan terlihat mengernyitkan dahi ketika aku dan Aphrodite menunjuk pakaian yang harus ia kenakan. Sebuah celana jins sewarna tanah, kaus hijau terang dengan desain absatrak putih di bagian dada, dan sebuah jaket berwarna sedikit lebih terang dari celananya. Sebagai penutup kepala, sekaligus penutup tanduk, Aphrodite memilih tutup kepala seperti yang tadi dipakainya saat datang ke tempat ini. Dan satu lagi, sepatu tenis warna putih kusam.

“Kalian menyuruhku memakai semua itu?” tanya Pan tampak sekali tak setuju. “Apa itu tak terlau berlebihan. Kalian ingatkan aku tinggal di hutan?”

“Dengarkan dulu penjelasanku,” kata Aphrodite membalas keberatan Pan. “Kau terserah hendak memakai pakaian-pakaian ini atau tidak, tapi selama berada di lingkungan manusia kau harus tampak seperti manusia.”

“Terserah kau saja,” jawab Pan menyerah. Ia mengambil pakaian-pakaian yang telah kami siapkan. “Tapi aku tak berjanji akan terus memakainya. Benda-benda ini seperti membatasi gerakku.”

Aku mengarahkannya ke ruang ganti, dan menyuruhnya berganti pakaian di sana. Cukup lama ia berada di ruang ganti, mungkin ia salah memakai kaus untuk celana. Siapa tahu? Setelah cukup kebosanan menunggunya, akhirnya Pan keluar dari ruang ganti. Untuk sesaat aku hampir tak mengenalinya. Dengan tubuh bersih dan pakaian yang hanya memiliki sedikit kombinasi warna, ia benar-benar tampak berbeda. Jauh lebih baik.

“Jangan tertawa lagi,” cegah Pan begitu ia melihatku memandanginya. “Ini bukan pilihanku.”

“Sebenarnya kalau boleh aku jujur, kau tampak jauh lebih baik,” jawabku. “Mungkin Raiona akan mulai melirikmu. Bukan begitu, Aphrodite?”

“Ya, tepat sekali,” jawab Aphrodite menyetujui. “Garapanku tak pernah gagal.”

“Kalian pasti hanya sedang membuatku menerima pilihan kalian,” katanya curiga.

“Terserah jika kau tak percaya,” jawabku. “Kita buktikan saja setelah kita sampai di hutan.”

“Tak masalah,” katanya menantang. “Aku pastikan akan langsung melepas semua benda ini dari tubuhku. Dan itu berarti kau telah menandatangani hukuman yang akan kuberikan padamu karena membuatku tampak konyol.”

“Dan jika aku benar, maka kau akan memenuhi satu permintaanku,” tantangku balik.

“Apa itu?” tanyanya curiga.

“Biarkan aku mengundurkan diri dari tugasku sebaga asisten pribadimu,” jawabku.

Ia tampak berpikir sejenak, lalu memberikan kaliamat persetujuannya. “Baiklah, akan kukabulkan permintaanmu.”

Aku tersenyum, “Bersiaplah untuk mencari asisten pengganti.”

***
Baru beberapa puluh meter memasuki hutan, setelah kontak terakhir kami dengan manusia yang memberi kami tumpangan, Pan sudah mulai melepas sepatunya.

“Ini tidak termasuk dalam perjanjian Pan,” keluhku. “Kau berjanji tak aka melepas apa pun sebelum kita sampai di istanamu.”

“Benda ini tak akan berpengaruh besar pada penampilanku,” jawab Pan sambil menunjukkan mengangkat sepatunya padaku. “Begini saja, aku lepas sepatu ini dan akan kuperingan hukumanmu jika kau kalah.”

“Tetap saja itu tak adil,” debatku.

“Kuberi kau satu petak lahan khusus untukmu sebagai tambahan hadiah jika kau menang,” tambahnya menawarkan.

Aku tersenyum, “Itu baru terdengar adil.”

Setelah itu tak ada lagi perdebatan. Masing-masing dari kami berjalan dalam diam, tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Hingga tiba-tiba dari balik pepohonan muncul satyr gemuk yang tak kuketahui namanya, tapi aku pernah bertemu dengannya dalam beberapa pertemuan. Satyr itu memandangi Pan, lalu melongo tak percaya.

“Apakah itu anda, Tuan Pan?” tanya satyr itu ragu. Lalu satyr itu memandangku, meminta penegasan atas dugaannya.

“Tentu saja ini aku,” jawab Pan. “Aku tahu aku tampak konyol dengan ini semua.” Pan menunjukku. “Salahkan dia jika kau ingin menyalahkan penampilanku.”

“Bukan,” kata satyr itu buru-buru. “Bukan begitu maksud saya.”

“Lalu?” tanya Pan.

“Anda tampak benar-benar berbeda,” jawab satyr itu. “Maksud saya, anda tampak mengagumkan.”

Raut masam Pan tiba-tiba berubah cerah. “Benarkah itu?”

“Tentu saja,” jawabku memotong apa pun yang akan dikatakan oleh satyr itu. Aku menatap Pan dengan tatapan penuh makna. Kalian tahulah apa maksud tatapanku. “Semua orang tahu itu. Hanya saja kau tak mau mengakui bahwa kau salah.”

“Kalau begitu,” kata pan tiba-tiba menjadi semangat. “Kau…”

“Doran, Tuan,” jawab satyr itu begitu Pan tampak kebingungan hendak memanggilnya apa.

“Ya, Doran,” lanjut pan memanggil nama satyr itu. “Kabarkan pada para penghuni hutan untuk segera berkumpul di depan istanaku.”

“Baik, Tuan,” jawab Doran patuh. Kemudian ia pergi, dan dengan cepat menghilang di balik pepohonan.

Tiba-tiba aku tersenyum. Kalian tahu kenapa? Sepertinya Pan telah mendapat penggantiku. Doran tampaknya tak terlalu buruk untuk menggantikanku.

Kemudian tanpa banyak cakap lagi, kami langsung melanjutkan perjalanan. Bahkan Pan bersedia memakai sepatunya kembali, walau dengan begitu jalannya jadi sedikit melambat. Tapi, yang penting ia tidak lagi banyak mengelukan kostumnya.

Dalam beberapa menit berikutnya, akhirnya kami sampai di halaman luas istana Pan. Para penghuni hutan sudah berkumpul di sana. Bisik-bisik bingung menggaung dari kumpulan masa itu.

“Tugas terakhir untukmu jika kau memenangkan pertaruhan ini,” kata Pan tiba-tiba. “Umumkan pada mereka tentang kedatanganku dan perubahan yang aku lakukan. Jangan terlalu membanggakan dirimu.” Aku hendak mengucapkan persetujuan saat tiba-tiba ia memerintahkan perintah lain. “Juga panggil Raiona ke depan begitu aku muncul di hadapan semua penghuni hutan. Lakukan sedramatis mungkin.”

Oke aku putuskan ini adalah tugas terakhir yang tak terlalu sulit. Tapi perintah terakhirnya kurang begitu aku sukai. Dramatis? Oh tidak. Bisakah kalian bayangkan aku berdramatisasi untuk urusan Pan? Ah terserahlah. Yang jelas setelah ini berakhir, itu berarti kebebasan bagiku.

“Oke,” jawabku sambil menuju kerumunan. Lalu aku meneriakkan pengumuman bahwa Pan telah tiba dengan suara terkeras yang bisa kubuat.

Mendengar suaraku, para hadirin langsung menoleh kebelakang. Pertama memandangku, kemudian mata mereka―hampir serempak―memandang Pan yang berada tepat di belakangku. Aku benar-benar bisa melihat beberapa satyr melongo bodoh seperti tersihir. Oh, memalukan sekali.

Semakin kami berjalan mendekati pintu istana, Pan semakin banyak memakan korban. Mata melotot, melongo konyol, dan gumaman tak yakin adalah ekspresi hampir semua penghuni hutan begitu Pan Nampak di mata mereka. Dan setelah semua itu, akhirnya kami tiba di depan istana. Tempat tunggul-tunggul kayu menjadi panggung beranda istana Pan.

“Oke semuanya, diamlah!” teriakku. Semua hadiri langsung terdiam, dan memandang kami. “Aku ingin mengumumkan sesuatu pada kalian tentang raja kita, Dewa Pan.” Oh iya, aku lupa memberitahu kalian. Walau aku tak pernah memanggil Pan dengan sebutan Dewa Pan, tapi aku merasa tak perlu menunjukkan rasa tidak hormatku pada Pan di depan semua penghuni hutan. Sehingga dengan terpaksa aku menyebutnya dengan Dewa Pan. Tak apalah, menghormatinya di akhir jabatanku sepertinya cukup baik. “Kalian pasti bingung melihat penampilan Dewa Pan.” Bisik-bisik persetujuan mulai terdengar. “Itu hal yang wajar, karena ini adalah kali pertama dalam sejarah hidupnya ia tampil dengan begitu tertutup. Perubahan ini tidak serta merta terjadi. Ada seorang gadis yang mengispirasinya untuk tampil seperti ini. Kalian ingin tahu siapa gadis itu?”

Semua hadirin mulai menerukan persetujuan. Beberapa orang terlihat mulai menebak-nebak siapa gadis itu.

“Aku panggilakn saja gadis itu untuk kalian,” jawabku akhirnya setelah memberikan jeda cukup panjang. Kuharap itu bisa menambah kadar daramatisasiku. “Raiona, kemarilah.”

Puluhan kepala langsung menoleh ke sana-kemari mencari gadis yang kumaksud. Kemudian dari kerumunan muncullah seorang peri pohon. Dia terlihat cantik dengan kulit putih bersih dan rambut panjang tergerai yang dihiasi tanaman merambat. Ia berjalan―oh, bukan berjalan. Ia terbang sangat rendah. Hampir menyentuh tanah―ke arah kami. Gaun putihnya melambai-lambai seperti tertiup angin, padahal aku tak sedikitpun merasakan adanya angin. Dalam sekejap ia sudah bergabung dengan kami.

“Sekarang kukembalikan padamu, Dewa Pan,” kataku sambil membungkuk sok hormat pada Pan.

Pan tiba-tiba tampak bingung, salah tingkah seperti tak yakin hendak mengatakan apa. “Em…baiklah, Raiona.” Pan masih terlihat sekali bingung mencari kata-kata yang tepat. “Seperti yang telah kau dengar tadi, aku melakukan ini untukmu.”

“Saya sangat tersanjung mendapat perlakuan istimewa seperti ini,” jawab Raiona. “Dan aku harus mengakui kalau anda tampak mengesankan.”

Tepat sekali. Kalian dengar Raiona tadi bilang apa? Pan mengesankan. Hahaha… sepertinya aku memang tak salah rencana. Sebentar lagi aku akan bebas dari perbudakan Pan.

“Tapi,” lanjut Raiona. Tapi? Tunggu. Kenapa mesti pakai tapi. Jangan bilang itu hanya sanjungan kecil sebelum kritikan tajam. “Kupikir itu semua terlalu berlebihan bagi anda. Terlalu menghilangkan ciri khas anda.” Oh tidak. Raiona baru saja mengencangkan ikatan perbudakanku yang sudah mulai mengendur. “Kalau boleh jujur, aku mungkin lebih suka anda tampil seperti biasa dari pada tampil dalam keadaan seperti ini.”

Oh tidak. Apakah tadi Pan melirikku? Kalau iya, berarti ia telah memastikan hukuman yang akan aku terima adalah hukuman paling berat yang pernah ia berikan.

“Coba anda buka penutup kepala itu,” perintah Raiona lembut. Tanpa banyak tanya Pan menurutinya. “Benda itu menutupi tanduk agungmu. Sesuatu yang menunjukkan siapa anda. Tapi ngomong-ngomong, saya suka gaya rambut anda.” Oh angin segar, semoga itu bisa memperkuat pertaruhanku. Jika pun nanti aku harus menerima hukuman, semoga gaya rambutnya bisa meringankanku. “Jadi intinya, benda-benda itu benar-benar menghilangkan jati diri anda. Kecuali mungkin celananya, sepertinya itu bisa mengurangi pemandangan yang kurang menyenangkan.” Raiona tampak merona saat mengucapkan kalimat terakhir. “Sekarang bolehkan saya kembali?”

Pan masih mematung mendengar serentetan kalimat dari Raiona yang cukup mengulitinya. “Oh ya, kembalilah,” jawabnya akhirnya setelah tersadar. Raiona langsung pergi dan kembali menghilang di kerumunan. Pan langsung berbalik padaku. Ia menatapku marah, seperti hendak memakanku hidup-hidup.

“Bubarkan para penghuni hutan,” perintahnya galak. Ia berbalik hendak masuk ke istananya. “Aku tunggu kau di dalam.”

***

“Tapi, Pan. Bukankah ada beberapa hal yang Raiona sukai dari penampilan barumu? Ia suka gaya rambutmu. Juga celana yang kini kau pakai.”

Aku tengah mendebat Pan yang telah menjatuhkan hukuman padaku. Seperti dugaanku, hukuman bagiku sepertinya adalah hukuman terberat yang pernah ia murkakan. Selama kehidupanku, aku harus setia melayani Pan tanpa boleh membantah apa pun keinginannya. Bagiku, ini adalah hukuman yang sangat buruk. Jauh lebih buruk dari harus menyapu dedaunan gugur di sepenjuru hutan.

“Tak ada tawar menawar,” jawabnya angkuh. “Kau telah gagal, dan kau harus menerima konsekuensinya. Jadi buang jauh-jauh pikiranmu untuk mengundurkan diri dari masa baktimu, karena kini kau punya waktu seumur hidup untuk berbakti padaku.”

“Tapi, Pan…”

“Panggil aku Dewa Pan,” bentaknya. Apakah aku tadi memberinya ide untuk sebutan itu? “Berhenti mengeluh, dan laksanakan tugas pertamamu sebagai abdi seumur hidupku.”

“Tugas pertama?” tanyaku curiga. Aku merasa tugas ini bukan tugas biasa.

Dan aku langsung lemas saat kecurigaanku terkonfirmasi. Aku benar-benar ingin menonjoknya saat ia menyebutkan tugas aneh itu. “Carikan aku wanita yang mau menikah denganku.”

~Selesai~


message 17: by Kepak (last edited Oct 05, 2012 04:14AM) (new)

Kepak Kelelawar (KepakKelelawar) | 2 comments GodMail

Pria tegap jangkung itu membuka laptopnya. Ujung telunjuknya menekan tombol persegi di pojok kiri keyboard. Ia menekan tuts pada keyboardnya dengan cepat lalu—ha! Halaman website elektronik mail terpampang di hadapannya.

‘SELAMAT DATANG, HERMES! Anda memiliki 10 pesan baru!’

Jemarinya bergerak bebas di atas mousepad. Matanya bergerak-gerak memindai subyek setiap email yang diterimanya. Dua di antaranya spam, lima sisanya notifikasi jejaring sosial. Hermes menghembuskan napas kesal. Dihapusnya tanpa perasaan, menyisakan tiga email baru untuknya. Tiga sisanya email sungguhan. Pointernya menunjuk pada yang paling lama, tertulis dari Dionysus.

-----------------
Yo Om Hermes,
Papa Zeus minta akun email. Alamatnya: cokece17@godmail.com, passwordnya: z3usisinthehouse. Tolong, ya, Om. Tahulah aku sibuk, belakangan ini banyak undangan pesta.
-----------------

Hermes mengibaskan tangannya tak acuh. Zeus yang gagap teknologi, buat apalah membuat email segala. Lagipula tukang kawin begitu, jangan bilang mau menggunakan emailnya untuk registrasi website dating online?

Lupakan soal Zeus. Akun emailnya yang ini sebetulnya akun khusus penghubungnya dengan manusia fana. Ditekannya tombol ‘next’ untuk melihat email berikutnya.

------------------
Dear Dewa Hermes,
Apa benar ini Dewa Hermes sungguhan? Dewa Hermes yang terhormat, saya dengar bapak dewa ini dewa pencuri. Begini, saya mau konsultasi masalah metode korupsi. Kira-kira bisa bertemu dengan bapak dewa kapan, ya?

Trims.
GT
----------------

Delete. Next.

----------------
Woi, Hermes! Kerja yang becus! Internet apaan begini!
---------------

“BIAR AKU HAJAR DIA! AKU HAJAR!”

Sabar, Hermes, sabar.

“…grrr. Mortal!”

CTAR!

Cuma perlu setengah detik untuk Hermes untuk tiba di depan komputer si pengirim surat. Sok tanpa nama seakan mengirim surat kaleng. Mungkin mortal culun ini tidak tahu kalau Hermes bisa track IP address sehingga bisa menemui orang-orang yang menghubunginya lewat email.

Dia ada di mana?

Ah, sebuah kamar berukuran tiga kali empat meter. Pakaian bergantungan di belakang pintu, keripik tumpah di samping keyboard, guling yang jatuh ke bawah, selimut yang tidak dilipat, poster pemain bola besar-besar di dinding. Hermes bisa menyimpulkan pemilik kamar ini adalah laki-laki.

“Ah!”

Pintu kamar terbuka. Seorang remaja yang hanya mengenakan kaus dan boxer masuk kamar. Ia tampak terkejut awalnya melihat orang asing berada di kamarnya. Tapi dua detik kemudian, reaksinya berubah lagi. Dengan tenang, ia menarik kursi dari meja komputernya lalu duduk menghadap si dewa.

“Hermes kan?”

Hermes kelihatan bingung.

“Saya Yudha. Mahasiswa.”

Ha?

“Duduk dulu, silakan.”

Hermes memandang sekeliling. Satu-satunya kursi yang ada di kamar itu sedang diduduki mortal mahasiswa ini.“Kursinya?”

“Di lantai bisa kali.”

Hermes mengepalkan tangannya. Menahan diri untuk tidak berbuat rusuh di sini. Dalam kamar seorang mortal. Alih-alih, ia mengibaskan poninya lalu sebuah kursi muncul dari udara.

“Jadi, ada urusan apa Hermes kemari?”

“Jangan pura-pura bodoh. Kamu kan yang mengirim saya email tidak sopan?!”

“Oh itu. Iya, itu saya. Internet saya lamban. Payah. Sampah.”

“Bukan salah saya!”

“Lho bukannya kemarin mau reparasi?”

“Kamu pikir saya teknisi provider internet? Lagpula saya bilang bukan salah saya!”

“Salah siapa lagi?”

‘Salah providernya lah. Sialan!’ maki Hermes dalam hati.

“Salah siapa saja terserah, tapi bukan salah saya. Paham?”

“Tapi situ God of Messenger.”

“Ya, terus?”

“Saya bahkan nggak bisa sign in Yahoo! Messenger.”

“Tsk.”

Yudha menyingkir dari tempat duduknya, mempersilakan Hermes mencoba sendiri. Hal yang pertama dilakukannya adalah membuka situs foursquare. Belum sempat check in. Sayangnya, koneksi internet Yudha seakan menganggap foursquare adalah musuh sehingga tidak kunjung terbuka. Jangankan loading, Hermes bahkan perlu tiga kali refresh sebelum peringatan soal error koneksi di layar berhasil dilenyapkan.

Dewa itu melirik Yudha yang entah untuk alasan apa malah kelihatan bangga. Bangga buat apa? Bangga berhasil menggagalkan dewa browsing internet? Bangga karena berhasil menunjukkan pada Hermes betapa hancur koneksi internetnya? Oke, oke, Hermes merasa kalah. Meski ia juga tidak mengerti mengapa ia harus merasa kalah.

“Sudah berapa lama?”

“Dua mingguan.”

“Wew. Hebat, ya, bisa tahan. Saya sih pasti sudah banting-banting apa, begitu.”

“Loh nggak lihat itu tempat sampah kenapa terguling? Itu saya tendang waktu downloadan saya gagal. Itu bantal ada di lantai, saya banting gara-gara buka google butuh tiga menit.”

Hermes menghela napas. Semarah-marahnya ia tadi, tidak tega juga dengan nasib anak ini. Baginya, koneksi internet sangatlah penting. Hermes bisa terguncang jiwanya kalau dalam waktu 24 jam tidak bisa main game di facebook. Ia pun mengambil blackberry-nya dari dalam saku, menekan keypadnya beberapa kali sebelum meletakkan BB-nya di pipi.

“Aloha. Iris? Hermes di sini. Bisa kesini sebentar? Oh. Ya, ya. Oke deh….”

“Heh, telepon Iris ya? Apa katanya?”

“…omong-omong Iris sudah makan? Wah, untung belum. Mau ajak makan siang bareng nih…”

“Woi!”

“…eh, weekend ini kosong kan? Poseidon mau nobar Perahu Kertas katanya. Ahaha, iya, iya, kasihan ya, lebih populer Neptunus jadinya. Gara-gara Spongebob Squarepants kayaknya sih.”

“WOOOOI!”

“Eh, Ris, nanti disambung lagi, ya. Lagi kerja nih. Yuk, bye.”

Hermes memutuskan sambungan dengan kalem. Mengalihkan pandangannya pada Yudha yang sebetulnya berencana untuk melempar si dewa dengan remote televisi kalau dewa itu tidak mengindahkannya lagi.

“Menurut hasil investigasi saya barusan, koneksi internet memang lagi bermasalah.”

“Sedunia?”

“Se… Indonesia.”

“Apa? Kenapa cuma Indonesia?”

“…yah, Yudha, tahulah Indonesia ini negara kepulauan,” Hermes memulai penjelasannya dengan sesuatu yang tidak ada hubungannya. Betul. Hermes sadar, tapi ia memang tidak ada ide. “Dan karena Indonesia adalah negara kepulauan, saya rasa wajar kalau internetnya bermasalah.”

“Hubungannya?” Yudha membalas sinis, “Maaf ya, Hermes, tapi Indonesia jadi negara kepulauan sudah merupakan takdir yang tidak bisa dihindarkan. Kecuali kalau Poseidon mengamuk dan atlantis diangkat kembali ke darat.”

“Ya…”

“Saya mungkin kelihatan baik-baik saja dari luar. Tapi jiwa saya sudah keropos. Saya sudah tidak tahan lagi dengan semua ini! Saya bahkan semalam SMS massal ke orang-orang, minta doa supaya internet saya sembuh.”

“Bersabarlah.”

“Sabar bagaimana coba? Saya nggak bisa sabar kalau download boke—mmm-ma-maksudnya download materi kuliah perlu seharian. Gila!”

“Yudha, kamu harus bersabar. Dari informasi yang saya dapat dari Iris, pokoknya kamu dan pengguna internet lain harus bersabar. Oke, ya? Saya mau makan siang dulu, bye.”

“Saya—“

CTAR!


***

“Cuih, payah,” rutuk si dewa sembari menutup tab emailnya.

Sudah tiga hari ini ia tidak menerima email personal. Kalau tidak berisi spam atau notifikasi jejaring sosial (Hermes berjanji lain kali tidak akan mendaftar akun dengan emailnya yang ini), paling-paling isinya undangan Zeus via facebook untuk mencoba aplikasi tertentu.

Ah, ada satu rupanya. Terselip di antara spam email iklan penumbuh jenggot dan perawatan kulit. Email dari rekan dewanya.

-----------------
Hermes,
Baca deh berita online. Tiga karyawan ISP tewas gara-gara gedungnya dibakar pelanggan emosi (lol).


Ciao,

Ares
----------------

Hermes berdecak. Menekan reply kemudian mengetikkan jawabannya.

----------------
Heh, anak setan. Puas kamu lihat sudah jatuh korban? Lain kali jangan ganggu koneksi internet orang. Itu masalah serius!
----------------

END.


message 18: by Anindito (last edited Oct 06, 2012 07:33PM) (new)

Anindito Alfaritsi (alfare) | 519 comments

Bab DVD

(Terowongan Lapis Bawah - Missing Episode #1)

 

-

Pada 20 September 2006, aku memulai rutinitas baruku di perpustakaan kampus Taman Sari. Butuh kekuatan tekad lumayan besar untuk mengawalinya. Tapi setiap kali teringat perkataan Hania—ditambah lagi, perkataan Bapakku sendiri—rasa malas, malu, dan enggan yang semula meliputi lambat laun akan sirna.

Aku duduk di salah satu meja perorangan di sana. Di tengah jam kuliah. Dengan buku tulis, pulpen, kalkulator, serta buku pelajaran matematika dari zaman kelas 3 SMA—yang secara tak terduga sedemikian membantuku dalam memahami isi buku kalkulus yang tengah kubaca. Lalu, aku belajar.

Kenapa kalkulus?

Karena itu ilmu eksakta.

Maksudku, kupikir, buat aku yang masih belum juga menentukan jurusan apa yang hendak kupilih, kalkulus akan menjadi langkah awal pembelajaran yang bagus. Hania bilang itu mata kuliah wajib buat semua jurusan di kampus ini pada tingkat pertama. Jadi kupikir, itu pasti akan terpakai di jurusan manapun yang akhirnya akan kupilih. Di samping itu, sejak dulu aku memang tak percaya diri soal pemahaman dan hafalan. Jadi, yah, beginilah.

Kenapa aku belajar?

…Kau tahu, aku benar-benar enggan menjawab pertanyaan itu sesudah sampai ke titik ini. Memikirkannya saja sudah cukup untuk membuatku merasa depresi.

Kembali ke soal hari pertama rutinitas baruku, aku mulanya merasa sedikit tak nyaman dengan keberadaanku di sana. Sebab bagaimanapun, sekali lagi, statusku memang bukan mahasiswa. Tapi aku tetap melakukannya karena Hania telah berkata agar aku melakukannya. Lalu di samping itu, ternyata aku bisa asyik sendiri dalam melakukannya juga. Kurasa, pastilah ini yang mereka maksud dengan ‘kesenangan dalam belajar.’

Soal Hania, sudah hampir seminggu berlalu semenjak insiden kami dengan M. Sejauh ini, aku—dan nampaknya Hania juga—tak pernah melihat M mendatangi perpustakaan ini lagi. Aku bilang ‘nampaknya’ karena selama hampir seminggu ini pula, Hania masih belum juga menghubungiku. Jadi aku belum bisa memastikan apakah Hantu yang menempeli M sungguh-sungguh telah lepas atau tidak.

Hania masih belum menemukan petunjuk tentang kemampuan anehnya ataupun tentang Erli. Mungkin bisa dibilang, perbuatan kami ikut campur dalam urusan M pada akhirnya merupakan sebuah tindakan sia-sia.

Di samping itu, kurasa pengalaman Hania menyaksikan M dalam keadaan tak memakai celana sedikit banyak telah membuatnya syok. Selama bersamaku, gadis itu benar-benar punya sisi lain yang jauh lebih polos dari yang kubayangkan. Bahkan sekarangpun, aku masih berusaha sekuat tenaga untuk tak menyinggung-nyinggung soal hal ini di hadapannya.

Tapi apa yang selanjutnya berlangsung hari itu benar-benar membuatku berpikir sebaliknya. Kami sesungguhnya telah bergerak ke suatu arah. Hanya saja, kami masih belum menyadarinya.

Rasanya aneh.

Soal Hania, aku masih belum juga sepenuhnya yakin soal kenapa aku mau-maunya terlibat dalam semua ini. Tapi sesudah apa yang kami berdua lalui dalam kasus M kemarin…

Tunggu, jangankan soal kasus M. Soal hubunganku dengan Hania saja sebenarnya masih ada banyak tanda tanya. Aku tahu ini semua kelanjutan pertemuan aneh kami sepulang sekolah itu. Pertemuan aneh yang sedikit banyak mengubah nasib dan jalan hidup kami berdua. Tapi kasus M kemarin membuatku sadar kalau perkembangan semua ini akan semakin aneh dan aneh. Dalam artian, bahkan jauh lebih aneh dari bagaimana ini semua bermula.

Terlepas dari itu pula, memang ada hal aneh lain yang kemudian terjadi pada hari itu. Ya, persis pada hari pertama aku memulai rutinitas baruku. Bukan kasus baru yang melibatkan ‘Jejak Hantu’ bermasalah lagi sih. Oke, mungkin tak melibatkan sepenuhnya. Di samping itu, sebenarnya, pada awalnya kupikir kejadiannya juga lumayan sepele. Hanya saja, dampak kejadian ini ke depan ternyata jauh lebih signifikan untuk tak kuceritakan.

“Aku ngalamin ‘itu’ lagi kemarin.”

Aku berpapasan dengan Hania begitu usai menuruni tangga menuju lantai dasar perpustakaan. Secara tak terduga. Persis di depan pagar pembatas menuju pintu kaca masuk. Aneh, pikirku. Kenapa dia tak mengirimiku SMS kali ini? Dan di samping itu, aku sedikit terkesima karena dia tahu aku di sini—aku sama sekali lupa kalau ini tempat yang diusulkannya sendiri padaku sendiri.

Jam menunjukkan pukul empat. Buku kalkulus yang tadinya kupelajari telah kukembalikan ke rak. Aku bahkan sudah menyalin beberapa soal yang akan kupakai buat latihan. Lalu tanpa salam apapun, kalimat itu menjadi kalimat pertama yang diucapkannya begitu melihat kedatanganku.

“Hah?” Cuma seperti itu saja reaksiku.

Seperti biasa, menanggapiku, Hania hanya menunjukkan senyum kecut.

Lagi-lagi, rambut ikalnya ia tata dalam bentuk kuncir. Bahkan, di tengah lantai dasar perpustakaan sederhana yang seperti ini, aura bintang iklan yang aku yakini dimilikinya masih ada juga. Padahal pakaian yang dikenakannya pakaian biasa, dan tak ada riasan apa-apa yang dikenakannya di wajahnya. Ekspresi wajahnya juga jauh dari genit atau bagaimana.

Seperti yang pernah kubilang, Hania seakan memiliki kepribadian berbeda setiap kali bersamaku. Setelah sekian lama, aku akhirnya mulai terbiasa dengan hal ini sih.

“Itu, maksudku, ‘itu.’ Cuma aku enggak yakin.” kata Hania muram sembari mengantri untuk mengambil tas kami masing-masing dari tempat penitipan tas.

“Ngomong yang jelas.” Aku berkata dengan nada datar yang sebenarnya tak terlalu mencerminkan reaksiku.

“Hahaha.” Hania tertawa getir, kemudian memberi isyarat kalau kami akan membicarakannya di luar.

Kami tiba di tepi pelataran parkir sepeda motor yang tak jauh dari gedung perpustakaan. Ada banyak orang lalu-lalang melalui gerbang belakang. Tapi karena mereka semua cenderung bergerak di sore itu, relatifnya, takkan ada orang yang terlalu memperhatikan bagaimana aku dan Hania berdiskusi di taman kecil yang berada dekat sana.

“Aku pernah bilang soal gimana aku kadang ngerasa ada semacem ‘pola’ di mataku, ‘kan?”

“Iya.” jawabku, memperhatikan cara bertutur Hania baik-baik.

“Kadang aku ngerasa ‘pola’ itu terjadi memang untuk memperlihatkan sesuatu buatku.”

Aku mengernyit.

Benar, ternyata memang ada sesuatu yang membuat Hania resah. Dirinya menyembunyikannya dengan teramat baik sih. Tapi cara bersikap Hania hari itu agak kurang… sesuatu. Apa ya? Kurang ‘ketegasan’ yang biasanya dimilikinya. Mungkin.

Aku juga tak yakin.

Aku pernah cerita soal gimana aku tak tahan memandang wajahnya lama-lama ‘kan?

 “Sebenernya, waktu kita membuntutin M tempo hari, aku agak ngelihat ‘pola’ semacam itu lagi.”

“Di mana?”

“Di Taman Sari bawah. Waktu… kita ngejar M sampai ke koskosannya.”

Aku berusaha mengingat apa-apa yang terjadi hampir seminggu sebelumnya. Tapi kenapa pula Hania baru membicarakan hal ini sekarang?

“Ini pola paling aneh yang pernah kulihat.” katanya lagi. Tapi selanjutnya ia terdiam dan enggan mengatakan apa-apa lagi.

Sepertinya, masih ada sesuatu yang hendak dikatakannya. Tapi aku tak yakin apa. Aku juga tak mendesaknya. Karena selama satu sepersekian detik itu, aku kembali menyaksikan bagaimana kedua mata Hania tiba-tiba berpendar tanpa dapat dikendalikannya. Dan aku sudah lebih dari tahu bagaimana emosinya menjadi agak labil setiap kali hal itu terjadi.  

Satu hal yang pasti pada akhirnya kami lakukan, aku dan Hania harus kembali ke tempat di mana ia melihat ‘pola’ bersangkutan.

Hania, si gadis yang memiliki mata berpendar—mata berpendar yang memungkinkannya melihat jejak-jejak Hantu yang diklaimnya mempengaruhi jiwa dan keputusan hidup setiap insan manusia. Lalu aku, satu-satunya orang, sejauh ini, yang bisa melihat pendaran matanya itu. Sama-sama berbagi rahasia yang terlampau sulit untuk diceritakan pada orang lain. Sama-sama berada dalam keadaan yang terlampau sukar untuk dijelaskan pada orang lain. Bagaimanapun, bahkan pada titik inipun hubungan kami masih belum banyak berubah.

Hania membawaku menyusuri jalan Taman Sari. Ke bawah, melewati wilayah pasar Balubur dan wilayah pemukiman padat Pelesiran, hingga sampai ke area persimpangan menurun yang mengarah ke Wastukencana. Senja merah telah menjelang saat itu. Lalu kalau bukan karena segala kesuraman yang seperti biasa kami rasakan, ada sesuatu yang agak romantis dengan apa yang sedang kami lakukan.  

Ini memang jalur yang sempat kami lalui pada hari kami membuntuti M. Tapi tetap saja aku terperangah dengan tempat Hania membawaku.

Di ujung deretan pertokoan kecil di sisi kami—mulai dari warnet, binatu, sampai toko pernak-pernik—kami tiba di sebuah bangunan besar yang menampung beberapa toko sekaligus. Ada toko DVD (bajakan) di sudut bangunan itu, dan Hania terdiam beberapa lama di tempat parkirannya yang agak luas sembari menatapnya.

Sesudah mengikutinya dengan diam dari belakang, kusadari kedua bola matanya berpendar terang. Kali secara berkelanjutan. Konstan, tanpa terhentikan.

Aku terbelalak, karena belum pernah, sepengetahuanku, kejadian seperti ini terjadi sebelumnya. Mungkin pula itu alasan mengapa Hania resah hari itu.

Ada apa di dalam toko itu?

‘Pola’ macam apa yang ditemukannya hingga matanya terus berpendar seperti itu?

“Han? Han? Kamu baik-baik aja?” Aku bertanya.

Hania menggeleng lemah. Ekspresi wajahnya datar, tapi aku bisa melihat bahwa ia tengah berjuang menguasai emosinya. Ini kali pertama aku melihat wajahnya dalam keadaan mata berpendar konstan.

Lalu aku tersadar. Apa mungkin di dalam sana ada salah satu ‘orang istimewa’ yang dulu pernah Hania ceritakan? Si Raja Iblis seperti yang pernah ada di seminar yang Erli ceritakan dulu? Raja Iblis yang secara sepintas pernah Hania lihat di jalan, dan tak seperti manusia kebanyakan, justru berkemampuan untuk mengendalikan para Hantu?

Jantungku tahu-tahu saja berdegup lebih kencang.

Tak pernah kubayangkan kami akan bisa menemuinya secepat ini.

Bolak-balik aku memandang Hania dan toko itu. Namun sebelum aku sempat berkata lagi…

“Petunjuk soal Erli mungkin ada di sana. Ayo masuk.”

Di awal hubungan kami, Hania bertanya padaku apakah aku percaya akan hal-hal gaib. Hal-hal gaib yang dimaksudkannya bukan hanya fenomena energi misterius yang disebutnya sebagai ‘Hantu’; namun segala macam konsep yang pasti sempat diragukan kebenarannya oleh kebanyakan orang. Seperti soal ketuhanan; takdir. Lalu dalam konsep tentang takdir, Hania meyakinkanku bahwa ada suatu makna tersembunyi dalam setiap hal kecil yang terjadi di Bumi.  

Sehingga, pasti ada alasan tertentu pula mengapa ‘pola’ yang dilihat Hania membawanya ke tempat ini.

Ini salah satu hal yang terlalu janggal untuk disebut sebagai kebetulan.

Kemudian, meski hal ini telah mengganggu Hania semenjak seminggu yang lalu, ia menantikan kehadiranku untuk menemaninya masuk.

Dengan pikiran seperti itu, akupun menyusul Hania memasuki pintu depan toko.

Kesan pertamaku terhadap tempat itu: walau mungkin bisa digerebek sewaktu-waktu seperti yang belakangan kerap kudengar di koran, tempatnya lumayan nyaman. Ruangannya ber-AC, ada deretan rak yang memajang DVD film dari berbagai genre dan masa. Koleksinya agak lebih lengkap dari bayanganku semula. Tak seperti bayanganku, tak ada DVD porno yang kutemukan di tempat ini. Meski kutemukan pula DVD rekaman konser berbagai musisi, serta satu pojok khusus yang mengurusi DVD program-program komputer.




message 19: by Anindito (last edited Oct 06, 2012 07:31PM) (new)

Anindito Alfaritsi (alfare) | 519 comments

Saat aku terkesima dengan apa yang kulihat (kuakui, aku tak punya komputer ataupun pemutar DVD, jadi ini kali pertama aku mendatangi tempat seperti ini), Hania terus melangkahkan kakinya menuju wilayah belakang toko. Menuju pintu yang bertuliskan khusus karyawan, entah bagaimana diberi jalan masuk oleh pegawai yang berjaga di sana (sial, lagi-lagi aku melewatkan bagaimana Hania menggunakan bakatnya!), dan mempertemukanku untuk pertama kali dengan sosok yang sumber ‘pola’ yang Hania lihat.

Ada seorang… lelaki. Berusia 30-40 tahunan. Dia sedang duduk di belakang meja yang berisi berbagai macam catatan. Di sekelilingnya ada tumpukan DVD kosong yang belum diberi sampul maupun label. Kuperhatikan, ada juga komputer beserta beberapa mesin pencetak berada di dekatnya.

Hania terkesiap saat memandangnya, dan tanpa sadar melangkah mundur ke arahku.

Aku dibuatnya cemas setengah mati soal siapa kira-kira orang ini. Sebab kesan yang pertama kali terlintas di benakku adalah karakter-karakter bapak-bapak aneh yang kerap bisa ditemui dalam film-film horor Asia Tenggara.

“Ah, kalian datang juga.” Orang itu menyapa.

Aku semakin kebingungan. Wajah Hania tampak semakin memucat.

Orang ini… Raja Iblis-kah?

“Ah, tenang, tenang. Aku bukan orang yang kalian cari.” Orang itu berkata lagi seakan bisa membaca pikiranku. “Aku bukan Raja Iblis. Aku Dewa DVD.”

Hening sejenak.

“D-Dewa DVD?” tanyaku.

“Yea, itu aku.” Tambahnya dengan mimik muka sungguh-sungguh.

“Iv, Ivan.” Hania dengan suara kecil berkata, sorot matanya tak dilepaskannya dari sosok orang itu. “Ini cuma aku, ato memang enggak ada Hantu sedikitpun di sekeliling orang itu?”

Aku kembali terbelalak dan akhirnya memahami alasan Hania terguncang. Sebab Hania masih terus memandanginya, dan matanya masih belum berhenti berpendar.

Mungkin kalian sudah bisa menebak, tapi sebuah pembicaraan panjang dan aneh kemudian berlangsung.

Siapa dia? Bagaimana bisa dia tahu tentang kami?

“Dewa DVD. Ya tentu saja karena aku Dewa DVD.”

Hening sejenak.

“Maksudmu itu apa? Jelaskan yang jelas!”

“Aaa, mau dijelasin gimana? Emang kenyataannya kayak gitu. Yah, intinya kayak…” Dia berkata sembari menggaruk-garuk jenggot dan pantat. “Kayak gimana waktu kamu pertama dijelasin soal… apa itu namanya? Hantu? Oleh non satu itu. Kamu juga akhirnya terima gitu aja penjelasannya ‘kan?”

Mendengar itu, aku benar-benar terperangah.

Semestinya tak ada yang tahu tentang mata berpendar Hania serta apa yang bisa dilihatnya selain kami berdua. Hania bahkan merahasiakan hal ini dari keluarga dan teman-teman dekatnya sendiri.

Aku memandang Hania. Sorot matanya telah kembali tajam. Aku bisa melihat kedua tangannya terkepal, seakan menahan amarah.

Aku lalu tiba-tiba dikejutkan oleh suara yang terdengar dari belakang kami.

“Hei bos.”

Rupanya ada salah seorang pegawai toko ini yang masuk dan hendak bertanya soal kehadiran kami.

“Ah, nyantei-nyantei. Mereka gapapa. Mereka tamu nih.” ujar si Dewa DVD.

Si pegawai toko pun tunduk. Lalu ia keluar ruangan dan meninggalkan kami.

Sekali lagi aku terperangah.

Apa-apaan? Jadi orang ini adalah pemilik toko ini?

“Ya, tapi bukan cuma toko ini.” Aku seketika terlonjak karena si dewa kembali bisa membaca pikiranku. “Aku Dewa DVD. Malah aneh kalo yang kupunya cuma toko ini, ‘kan?”

Ia memperkenalkan dirinya secara dramatis.

“Aku punya toko ini dan setiap cabangnya! Aku yang mengatur stok DVD ke setiap pedagang di pinggir jalan dan semua yang ada di Pasar KK! Kamu boleh bilang, akulah yang menggerakkan peredaran DVD bajakan di seluruh dunia. Bagaimana orang memperoleh stok film mereka? Itu dari aku. Bagaimana orang memperoleh DVD berkualitas bagus saat DVD resminya malah belum keluar dari pasaran? Itu juga lewat aku. Singkatnya, kekuasaanku sudah bertambah semenjak aku jadi Dewa VCD. Jadi hendaknya kalian lebih menghargaiku sedikit.”

Apaaa?!

“Kalau gitu, akan kupanggil polisi.”

“Apa! Kenapaaa?!”

“Ya jelas karena kamu bos pembajak! Kamu dalang di balik pelanggaran undang-undang hak cipta!”

“Oh. Tenanglah. Ini bukan pertama kalinya hal seperti ini terjadi.” Wajahnya tenang kembali.

Hah? Apa itu maksudnya?

“Tapi daripada itu, bukannya kalian punya urusan lebih penting karena datang kemari?”  ujarnya lagi.

Aku terhenyak, dan seketika memandang Hania.

Ajaibnya, mata Hania sudah tak lagi berpendar, dan kelihatannya ia sudah dapat mengendalikan dirinya lagi.

“Kamu…” Hania berkata, tanpa mengindikasikan rasa hormat sedikitpun. “Apa kamu beneran manusia?”

Dewa DVD tampak senang mendengar pertanyaan Hania. Ada seulas senyum yang terlihat culas yang tiba-tiba tampak di wajahnya.

“Aku Dewa DVD. Buatmu, itu mestinya udah cukup penjelasan.”

“Apa maumu?”

“Menghancurkan industri perfilman dunia.” jawabnya lugas. “Apa kalian tahu gimana kapitalisme telah merusak keseimbangan alam dunia ini? Apa kalian tahu gimana paham itu paling cepat kesebar? Industri perfilman. Itulah titik awal dari segalanya. Sebelum teknologi informasi, sebelum pemanfaatan media massa, sebuah ‘citra’ terlebih dahulu harus dibuat, dan ‘citra’ itu berasal tak lain dari industri perfilman. Itulah alasanku melakukan semua ini. Itulah alasanku berusaha menjatuhkan industri bernilai milyaran dolar ini. Itulah alasanku berada di tempat ini sekarang! Sebagai ‘dewa’ yang mewakili kehendak alam, peranku di sini adalah untuk menjatuhkan hukuman langit.”

…Aku tak begitu yakin persisnya di mana, tapi rasanya ada sesuatu yang benar-benar aneh dengan argumentasinya deh.

Tapi terlepas dari itu, sejumlah pertanyaan seketika menyeruak ke dalam benakku. Aku berpikir, berarti mungkin benar bahwa dirinya salah satu ‘orang istimewa’ yang pernah Hania sebutkan. Salah satu orang yang tak terpengaruh oleh Hantu. Melainkan sebaliknya. Lalu dia menyebut dirinya ‘dewa’? Sebentar, maksudnya, sungguh-sungguh dewa? Aku percaya pada Tuhan, tapi… dewa angin, dewa laut, dan sebagainya?

“Bukan. Maksudku, lalu apa maumu dengan kami? Aku enggak peduli soal kenapa kamu bikin bisnis jualan DVD.” tanya Hania lagi.

…Dan dengan demikian, senyap penuh ketegangan itu terpatahkan.

Aku tak mengira dorongan seseorang untuk menceritakan obsesi pribadinya kepada orang lain bisa sampai sebesar itu.

 “…Oh.” kata Dewa DVD. “Bilang dari awal dong. Hei kamu, gimana kalo kuajarin gimana cara agar kamu bisa ngendaliin kekuatan matamu?”

Serta-merta, aku dan Hania sama-sama terperangah.

Metodenya sederhana. Jauh lebih sederhana dari apapun yang kami bayangkan. Kami diberinya beberapa judul DVD film pilihan. Namun syaratnya, aku dan Hania harus menontonnya sama-sama. Mendengar itu, Hania sempat lupa diri dan menyergahku di kerah sesudah membawaku ke sisi dan bertanya apakah ini semacam siasat matang yang telah kupersiapkan baik-baik untuk bisa mendekatinya. Dirinya sudah nyaris mengamuk dengan bayangan aku membocorkan soal mata berpendarnya kepada orang lain, makanya aku mati-matian menegaskan bahwa aku tak bersalah, dan aku bahkan baru kali ini melihat orang yang disebut Dewa DVD seumur hidup. Lalu kami memprotes soal kenapa kami harus menontonnya bersama-sama. Tapi kemudian Dewa DVD bersikeras kalau nanti kami akan tahu sendiri alasannya.

Saat kami dengan separuh canggung menyinggung soal Raja Iblis, wajah Dewa DVD berubah muram sebelum berkata sembari terkekeh, “Ya. Aku mengenalnya. Tapi enggak ada artinya kalian berurusan dengannya. Dia pura-pura jadi penyelamat, padahal dia memanipulasi Hantu-Hantu buat ngebawa kesengsaraan buat orang lain. Kehancuran besar-besaran yang mau dia bawa sudah pasti bakalan terjadi. Ngomong-ngomong, istilah ‘Hantu’ yang kalian ciptain ini, beneran praktis ya? Sebelumnya, enggak ada nama yang pas buat apa yang lagi kita omongin ini.”

Hantu juga sebenarnya bukan nama yang pas. Maknanya bahkan sama sekali lain dari makna kata ‘hantu’ yang ada di kamus. Tapi kurasa bagi Hania di masa kecil, wujud mereka mungkin memang menyerupai ‘hantu’, dan karenanya istilah itu melekat digunakannya sampai sekarang.

Aku dan Hania saling bertukar pandang mendengar keterangan ini.

Dirinya tahu tentang para Hantu saja sudah mengejutkan. Namun ia juga tahu tentang Raja Iblis…

Apa ia juga tahu soal orang-orang yang hilang sesudah mengikuti seminarnya itu?

Aku bertanya padanya soal mengapa ia mau membantu kami. Lalu ia menjawab, “Anggap saja buat balas budi. Aku perhatiin gimana kalian beresin masalah si M.”

Tindak-tanduk M sebelumnya ternyata mengganggu dia pada beberapa titik. Hingga sekarang aku masih belum tahu detilnya, Dewa DVD tampak enggan menceritakannya. Tapi mengingat M, sedikit banyak aku bisa agak membayangkannya.

 Karena kebingungan harus bagaimana, aku dan Hania akhirnya tunduk pada dorongannya untuk (membeli, dengan diskon, dan) menonton DVD-DVD yang telah ia pilihkan. Ia juga bilang bahwa dengan ini, ia akan semakin dekat untuk menjadi Dewa Blu-Ray. Apapun itu. Tapi karena hari sudah terlanjur malam, aku lelah sesudah belajar seharian, dan Hania juga masih ada tugas yang harus dikerjakan, kami undur diri dari toko itu hari itu. Berkata bahwa sesudah kami menonton DVD-DVD itu, nanti kami akan datang lagi.

Di depan toko, aku perhatikan bagaimana Hania memandang tempat sampah untuk beberapa detik, seakan mempertimbangkan untuk membuang DVD-DVD yang baru kami beli.

Aku tak bisa membayangkan perasaannya saat itu. Sesudah pembangunan suasana yang intens, akhir kejadiannya malah nyaris konyol seperti ini. Kami tak bertemu Dewa Iblis. Kami masih belum menemukan jejak Erli.

Tapi kami, hari itu, sebenarnya telah melangkah lebih jauh dari apa yang sebelumnya bisa kami bayangkan. Siapa dia sesungguhnya dan kenapa dia mau membantu kami, kurasa, itu akan terjawab dengan sendirinya belakangan.

Pikiran bahwa ada orang lain selain kami yang tahu tentang Raja Iblis seakan mempertegas betapa semua ini nyata sih. Itu juga sedikit banyak menambah keresahanku akan arti hidup yang kami jalani. Aku dan Hania memang sepakat bahwa menghadapi Raja Iblis, apapun upaya kami pada akhirnya akan sia-sia. Bila semua cerita yang kami dengar soal seminarnya itu benar, Raja Iblis pasti sudah bisa menguasai dunia seandainya ia mau. Kini ia malah mau menghancurkannya. Tapi mengetahui itu, tetap saja aku dan Hania terus berharap dan melangkah.

Mungkin motivasiku adalah karena aku memang tak punya hal lain untuk dikhawatirkan sih. Tapi Hania?

Kupertegas sekali lagi, pertemuan awal kami dengan Dewa DVD sama sekali tidak mengubah persepsi kami soal akan tibanya akhir zaman.

Sedikit banyak, itu memang memberi harapan kalau Erli masih mungkin bisa ditemukan kembali. Tetapi sesudah Erli kami temukan, lalu apa?

Sudahlah. Lupakan saja. Di samping itu, aku juga sudah mulai bertele-tele lagi. Dan mungkin sudah semestinya aku sejak tak terlalu banyak berharap.

“Jadi,” ujarku. “Kapan mau nonton bareng?”

Untuk suatu alasan yang tak kupahami waktu itu, dan jadinya malah berakibat konyol, Hania serta-merta menamparku.

Baru belakangan aku tahu kalau dua dari judul-judul DVD yang Dewa DVD pilihkan rupanya memang judul porno.




message 20: by Dini (new)

Dini Afiandri (dresco_alcione) | 544 comments Ketika Sial dan Beruntung Menyatu Seru

Cerita ini berawal dari sebuah kesialan. Dan seperti biasa, kesialan bisa berpangkat dua menjadi super sial, tapi tidak ada orang yang sesial aku. Karena akulah Aegis, si Dewa Kesialan. Rival utamaku adalah Phoebe, Dewi Keberuntungan, dan sifat kami memang selalu bertolak belakang. Aku pesimis dan hidupku semiris gelarku. Dia tentu saja optimis karena orang beruntung dapat memiliki banyak hal. Kami, para dewa-dewi lokal yang bolak-balik kahyangan dan bumi hanya sebagai kalangan bawah, tidak ada bedanya dengan manusia biasa. Setelah era dewa Yunani, Romawi, dan Eropa berlalu, kini para dewa-dewi dikutuk untuk menyaru dengan manusia karena dunia ini semakin sempit saja. Ah ya, kesialan yang aku maksud di awal paragraf ini adalah pesta celaka itu.

Sebulan sekali, diadakan konferensi sekaligus makan-makan di aula kahyangan untuk kalangan amatir, profesional berbayar, juga dewa-dewi yang baru terdaftar atau masih dalam tahap pendidikan. Bukan hobiku untuk bersenda gurau, tapi aku sering datang sendiri ke sana. Karena cerita dan kabar burung sudah biasa kami dapati sebagai kenistaan sehari-hari, baik dari mulut ke mulut maupun dari cara-cara rahasia kami, ketahuilah pembaca, bukan hal aneh kalau makin lama makin banyak yang kena kutukan Zooliath. Itu adalah kengerian pribadi bagi setiap pribadi di sini.

Di pesta itu, seperti tradisi saja kami bertanya: “Jadi apa kutukanmu?”

Lalu jawabannya beraneka ragam: “Aku dikutuk tukang salon karena memecahkan jimat hokinya. Zooliathku telinga keledai.” Itu tipe polos sekaligus jujur secara brutal. “Rahasia! Kamu kira dewa sepertiku akan sembarangan bicara? Jangan harap. Tanya orang lain saja!” Itu tipe menghindar dan main aman. Ada juga yang tertawa, baru kemudian matanya membelalak. “Emang kamu ga bisa liat apa aku punya tanduk segede gaban begini?” Kemudian yang tertawa akan digampar. Hal-hal seperti itulah sifat kami.

Pesta tersial dalam hidupku adalah ketika aku bertemu dengan Phoebe. Aku baru lulus dengan predikat terbawah dan masih dalam kecaman Penyihir Grubbly, kepala sekolah Akademi Alfa Centauri. Hukumanku adalah magang 300 tahun cahaya sebagai Dewa Notulen, satu-satunya profesi yang dianggap aman untukku karena aku dianggap suka cari gara-gara. Di pesta itu aku melihat Phoebe, yang memancarkan aura lembuuut sekali, dan tampak menarik dalam balutan baju sederhananya yang berwarna kuning mentega dengan tambahan aksesori hijau emerald. Matanya yang coklat madu itu membuat siapa saja luluh. Dan dengan tololnya aku terpesona.

Mana aku tahu kalau kejadian berikutnya adalah pecahnya Piala milik Odin! Phoebe yang menyenggolnya, dan ketika aku yang ada di sampingnya berusaha menangkapnya, aku malah kepeleset dan jatuh menindih gadis kampret itu! Piala itu menumpahkan puluhan batu rubi, safir, juga berlian yang amat keras, dan aku yang kena sialnya karena kepalaku yang jadi korban. Pelengkapnya adalah piala tembaga itu, yang jatuh menimpa pinggangku dan membuatku kena encok. Setelahnya, kami kena marah (itu sudah pasti!) lalu Altair si pemegang kunci dan penyelenggara pesta itu langsung men-split hukuman itu tanpa peduli air mata buaya Phoebe dan aku yang memohon-mohon ketika diikat.

“Mulai sekarang Karma kalian harus dibayar tidak dengan uang, tetapi pengabdian! Kau, Aegis Satoru, akan mengalami kesialan berlipat sepanjang hidupmu dan kau Phoebe Magnolia, akan mengalami kebalikannya, yaitu keberuntungan yang tidak pandang bulu! Titik!”

Dan dimulailah hari-hari yang seperti neraka bagiku. Aku diutus bekerja di bumi untuk mencatat dan mengatur semua keluhan manusia dalam sisi gelap mereka, dan Phoebe sebaliknya, mengatur agar manusia lain selalu bahagia. AKU BENCI WANITA JALANG ITU!

Sampai detik ini, ketika 650 tahun cahaya sudah lewat dan aku sudah mengalami beribu-ribu jenis kesialan dan menguji coba ilmuku kepada manusia dengan sejuta cara, tak pernah ada satupun usaha dari wanita itu untuk berbaikan denganku, tidak meski dalam bentuk tertulis sekalipun. Kudengar dari kenalanku Vicenna, dewa obat, Phoebe bekerja pada belahan bumi yang lain, dan aku selalu menghindar setiap kesempatan yang ada agar wilayah kami yang berseberangan tidak pernah bersinggungan. Tapi mustahil sebuah kesialan akan terus terjadi, karena Takdir yang dicatat Sang Maha tidak sesederhana itu, dan keadilan sendiri masih ada. Manusia ada yang terlahir untuk terus aku bina dengan Kesialanku, baik cacat fisik, finansial, dan kebobrokan lainnya, tapi ada juga yang lahir dengan garis nasib yang jadi urusan Keberuntungan. Aku benci sekali mengakuinya karena kerja kerasku kadang harus berbalik hingga mencoreng namaku, semua karena campur tangan Phoebe. Pada akhirnya, aku tak paham lagi apa itu kesialan karena semua menjadi wajar seperti kebiasaan.

Di lain pihak, kutukan Zooliath sekarang mulai diidap oleh semua orang, tanpa peduli dia makhluk apa. Semakin banyak dewa yang berseteru, saling kutuk, saling baku hantam, hanya karena masalah sepele. Manusia yang merusak alam, mulai merasakan kutukan ini juga. Dewa Kematian Azrael kebanjiran order karena kutukan Zooliath berubah menjadi virus dan baksil, juga senjata pemusnah massal termodern. Kutukan Zooliath kini bekerja sesuai sifat. Ada manusia yang mendadak punya daging tumbuh serupa belalai. Ada yang mendadak seolah terkena skoliosis di usia 30an, padahal kutukan Zooliath-lah yang mengenai tulang belakangnya. Itu semua menjadi semakin mengerikan, hingga ketika Zooliath bertransformasi dalam fase Radiasi, semua makhluk yang hidup, baik biologis hingga gaib, dijemput sakratul maut dan hidupnya berakhir sia-sia. Para malaikat menjadi hitam semua, seperti tersiram tinta. Para iblis, memenuhi neraka dan semua pintunya hingga banyak di antara mereka yang meloloskan diri dan masuk lagi jadi jiwa-jiwa di realita. Semua hukum kacau.

Aku? Aku melakukan hal yang dilakukan orang kebanyakan: Menghilang, dan mangkir dari tugas sama seperti mahasiswa yang bolos kuliah.

Pada suatu ketika, saat aku sedang bergeming tanpa melakukan apapun selain mengeluhkan nasibku, aku kesandung lagi sama kesialan, dan kesialan kali ini berbuntut panjang. Siapa lagi dalangnya kalau bukan keberuntungan, Sebenarnya aku sudah lama tahu. Kasas, yang bisa meramal, pernah berkata padaku bahwa setelah Kaliyuga atau kehancuran sudah terjadi, fase berikutnya adalah Satyayuga.

“Aduuuhh! Kamu lagi, kamu lagi! Maumu apa sih? Aku lagi ga mood!” Gerutuku sambil mencabut segenggam ilalang dan melemparkannya ke muka ajudan yang tolol songong bin sombong itu. Dia menyahut dengan congkak: “Aku ini atasanmu, tolol! Jaga mulutmu!” Lalu mukaku ditamparnya. Aku diam saja. “Cuih!” Mukaku diludahi oleh ajudan satunya lagi, dan ketika aku menghapusnya dengan tangan, mereka menginjak punggungku yang sudah terjerembab dari tadi. “Dewa Sial yang selalu sial! Hahaha! Bodoh, bodoh, Aegis bodoh!” Keduanya mengitariku dan bernyanyi mengejek. Rahangku gemeretak oleh kemarahan. Noi dan Mao adalah temanku sedari kecil, dan mereka selalu menindasku, menggilasku, dan memperlakukanku seperti talenan.

WADEZIG! Bukan, itu bukan bunyi perkelahian, tapi bunyi ide yang meniban otakku. Aku tersenyum culas. “Ajudan Noi dan Mao, sudah dengar gosip terbaru?” Aku berkata sepet sambil menatap mereka. “Gosip apa? Emangnya aku harus koprol sambil bilang “Wow!” gituh?” Mata Noi berputar-putar meremehkan.

“Ada seorang gadis nganggur yang amat cantik yang bisa kalian temui hari ini.”

Mao mendengus dengan hidung babinya, sementara hidung kerbau Noi mulai basah, tanda ngiler mendengar cetusanku. Lalu kubisikkan hasutan itu ke telinga mereka berdua, mereka langsung tertawa-tawa dan pergi setelah menepuk-nepuk pipiku. Aku tahu mereka sudah termakan ucapanku. Aku duduk lagi di tepian sungai itu, mencabut lagi sebatang ilalang yang beku oleh embun, dan mengisapnya. Ketika melamun itu, aku mendengar suara hati seseorang, seperti telepati mistis nan aneh. Hanya satu kata: Tolong.

Baru saja aku hendak membarikade pikiranku karena malas, sekelebat bayangan tampak di benak dan aku melihat hasil hasutanku tadi. Seorang maiden alias pembantu rumah tangga yang sedang diganggu oleh dua orang terberengsek sedunia. Aku terkekeh. Hiburan~! Ya, hiburan kesialan!

Noi sedang mengelus-ngelus muka maiden itu. Mao sedang meraba dan memukul pantat si gadis. Seakan belum puas, mereka makin kurang ajar. Kemoceng dan sapu mereka lemparkan ke belakang, lalu, yah, aku sudah hapal tingkah mereka jadi kubiarkan saja kesialan berikutnya menimpa para preman rese ngeres itu. Sebuah ember berisi cairan kotor habis ngepel terbang dan tumpah ke kepala keduanya. Maiden itu berhasil lepas, lalu kakek tua yang muncul di ruangan itu gabung dan membuat chaos makin rebut, makin menarik, sekaligus makin lucu. Noi dan Mao kaget bukan kepalang karena kakek itu guru mereka Wisanggeni. Aku ngakak sejadi-jadinya. Baguuuuss! Biar mereka tahu sekarang siapa yang tolol dan siapa yang pantas dilindas!

Kututup imaji tadi dengan enteng. Lalu berbaring. Kesialan itu nikmat. Balas dendam juga manis dan nikmat. Semanis mata seseorang yang--- Oh, sialan!

“Kamu ga berubah, Aegis.” Orang yang kutunggu datang. Aku tidak memeperbaiki sikapku meski hanya sekedar untuk duduk. Aku malah berguling ke samping agar tak melihat mukanya. “Kamu juga sama saja.” Ujarku kesal.

Aku merasakan sapuan lembut pada bahuku. Aku menepis tangan itu dengan marah dan langsung berdiri. “Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!”

Mata coklat madu itu sekarang berkaca-kaca.

“Maaf…”

“Tak sudi aku menerima maafmu! Maaf yang lemah!”

Wanita itu mengurungkan tangisnya, atau barangkali niatnya, karena kulihat dia menguatkan diri dan membuka mulut untuk menjelaskan. ‘Tapi aku sudah mencoba, Gis. Aku berusaha mendapatkan izin untuk kita berdua, tapi admin Nasuada tak menggubris…. Aku sudah lelah dengan surat serta segala tetek bengek kahyangan… Dan kulihat kau juga sama… Bantulah aku!”

Aku membuang muka. Harga diriku sekumal sandal jepit usang!

“Berkali-kali kubilang, bukan bagianku sebagai pengurus kesialan untuk bertarung hanya demi sebuah nama baik!”

“Ga adil! Kau yang lelaki!” Phoebe berputar dan muka kami sekarang bertatapan. Matanya nyalang, sedang mataku memicing setipis garis. “Kalau begitu maumu, aku akan mengutukmu lagi!” “Oh ya? Kutuklah aku dan akan kubalas dengan kutukan pula! Bosan aku bicara pada pria yang kejantanannya nihil!” Amarahku meledak, kucengkram bahunya dan kuguncang-guncang hingga ia ketakutan. Seorang perwira tinggi melihat, meringkusku, juga Phoebe, dan menjebloskan kami berdua ke penjara. SIAAAAALAN! TIDAK LAGI! PENJARA LAGI? Itu berarti puasa makanan dan hukuman Karma lagi! Dan kesialan kali ini berpangkat tiga, bukan dua. Malah sepertinya berpangkat kuadrat 108! Lebih nista daripada Teori Relativitas ilmuwan kribo! Lengkap sudah penderitaanku! Grrrrrrrrrh!


message 21: by Dini (new)

Dini Afiandri (dresco_alcione) | 544 comments (Bersambung ke Bagian ke dua yang sama seperti postingan di atas sebelumnya. Perubahannya mulai dari bagian ini, wahai para Moderator Cerbul KasFan September):

“Aku kangen dengan planet air biru itu. Itu rumahku, ralat, rumah kita berdua, Phoebe. Aku ikut andil dalam kutukan itu sendiri. Dan kamu tentu juga tahu, kalau orang-orang tersial yang aku kutuk hingga nyaris tewas selamat karena perlawananmu sebagai pewaris sah anugerah keberuntungan.” Phoebe berbalik, menatap dengan tatapan tercengang sekaligus tidak setuju. “Itu bukan karena aku! Umur mereka memang sudah habis. Wajar kalau Azrael sendiri marah-marah. Aku mengabdikan diriku dan membayar hutang Karmaku memang dengan menolong, tapi tentu saja aku tidak bersimpati pada semua orang! Aku tidak tolol sepertimu! Nasibku lebih sial dari yang kau pikir, Satoru! Banyak yang tamak begitu tahu dia beruntung. Semakin beruntung mereka, mereka meminta lebih dan lebih banyak lagi hanya demi memuaskan 7 Nafsu Dasar! Bejat betul mereka! Dan malas! Menceritakan ini padamu saja aku segan!” Monolog gadis itu keras. “Nasibku tak jauh beda. Semestinya dari dulu kita bicara begini. Mau tahu sesuatu yang lucu? Kesialan juga sama saja. Orang yang sial menjerit, mengemis-ngemis, tapi tidak pernah berdoa. Keluhan mereka bisa panjang x lebar x tinggi. Pada akhirnya mereka menggali kubur mereka sendiri. Jiwa mereka jadi arwah penasaran yang kabur dan terjebak antara langit bumi, surga neraka… Whatever! Aku yang kena getahnya! Selain itu, rahasia Kesialan terbesarku…Kau yakin mau tahu?”
“Eh? Tentu saja! Katakan!”
“Akulah pencipta kutukan Zooliath!”
“APA???” (Ala sinetron, red.)
“APAH??? (Ala sinetron Sunda oleh tahanan yang mencuri dengar, red.)
“Beeep!” (Terjemahan: WHAATT? Oleh android di pintu sel, red.)

Lalu sesudahnya, saya persingkat saja dengan hak saya sebagai Pendongeng. Satoru langsung bercerita berbusa-busa pada Magnolia. Zooliath dimulai dengan praktikum sederhana fakultas farmasi, termasuk Vicenna. Percobaan itu gagal, dan akhirnya laboratorium “locustrum” Akademi Alfa Centauri meledak. Sebagian cairan tumpah ke bumi dari kolong langit. Sisanya menyebar ke seluruh kahyangan melalui asap, udara, ozon, dan satu-satunya yang tidak tersentuh hanya kahyangan Lazuardi 7 tempat maharaja, maharani, dan malaikat paling suci.
Semua misteri terkuak sekarang, lalu apa kelanjutannya?
“Aku juga sudah lama ingin mengatakan ini dengan jujur padamu, Aegis.”
“Muntahkan saja semua, Phoebe!”

Pheobe menatapnya menembus cermin air terjun. Aegis sekarang sudah balas menatapnya. Pandangan mereka berdua dihablurkan pembatas itu, tapi semua sudah baik dan apa adanya sekarang.
Phoebe menautkan jemarinya di depan dada. Telapak bertemu dengan telapak.

“Aku minta maaf tentang insiden konyol Piala Odin itu. Perasaanku buruk sekali sesudahnya! Aku mencari kesempatan untuk mengatakannya, tapi yah, kau tak pernah memberiku kesempatan. Bahkan ada se-GUNUNG surat di kamar kerjaku di bumi. Semuanya tak pernah kukirimkan karena 1 alasan, ketakutanku! Mau kan maafin aku?”

“Itu sudah lama sekali. Ga perlu dibahas lagi! Kayaknya aku ga nyadar aku udah maafin kamu dari kapan tahu.”

“OHH!” Phoebe berdiri, melompat hendak memeluk pria itu. Aegis sontak mengulurkan tangan kanannya, hendak menyambut. Kontak fisik yang mereka coba spontan itu menembus cermin air terjun.

PLASSSHH! Sebuah cahaya menyilaukan dan panas yang luar biasa terasa oleh mereka berdua. Kali ini, meski kesilauan, Satoru tidak melepaskan genggamannya. Magnolia juga mempererat pelukannya, tak ingin kehilangan. Ketika cahaya itu mereda, & mereka berdua membuka mata, mereka melihat ruang kosong yang terang dengan warna putih pualam.

Dosa kalian sudah terampunkan.

Suara itu menggetarkan bulu kuduk Aegis maupun Phoebe, mereka langsung berlutut, meletakkan dahi mereka dengan khidmat di lantai. Detik berikutnya, pada sebuah singgasana raksasa, mereka melihat sebuah penampakan Maha Benar. Mereka bebas mengambil wujud sebagai apa saja, di antara 2 pilihan, kembali ke kahyangan, ataukah hidup fana lagi di planet baru, planet impian. Hanya beserta 1 syarat berat:

Salah 1 di antara mereka harus mengalah.

Aegis menoleh ke Phoebe. “Kau saja. Kahyangan tak pernah memuaskan kan?”

Phoebe menggeleng. “Tidak, Aegis, kini giliranku membayar semua rasa bersalahku yang menahun. Aku mengalah sejak awal. Kau yang lebih pantas. Pergilah. Nasibku di tangan-Nya.” Aegis menatap wajah cinta pertamanya. Ada secercah rasa tak ingin kehilangan, tapi dia juga tidak semerta-merta ingin hidup bersama gadis itu atau sebangsanya. Dia pun tahu diri dengan andil Zooliath. “Sepakat, dewiku.”

Maka, Aegis Satoru melepaskan namanya, tubuhnya, sejarahnya. Semuanya.

$$$$$

Seekor anjing Siberian Husky menangkap Frisbee dengan mulutnya. Majikannya, seorang bocah, tertawa girang bukan buatan. “Mama, lihat! Boris pintar sekali!” Di taman Kebun Raya Cibodas yang baru buka untuk umum ada banyak sekali pecinta hewan yang membawa peliharaan mereka untuk jalan-jalan ketika Pohon-pohon Sakura mekar mengembang dengan berbagai warna. Boris bisa melihat di Petting Zoo ada kambing dan ayam serta burung hantu dan kakaktua di kandang. Anjing, kelinci, kuda, semua mengenakan harness di tubuh mereka, ada juga yang dipakaikan baju serta syal unik nan lucu.


Pengeras suara menyalak, dengan lagu ceria techno komikal. Para manusia langsung bergerak serempak, berjoget heboh dengan iringan Oppa Gangnam Style. Kepala para anjing dan kucing bergerak seirama. Kuda meringkik dan berbaur ikut gila, bangga karena jadi sumber ide utama lagu itu. Diiringi embikan, cericit, kokok, dan segala rupa bebunyian sinting yang aduhai lebai dan alay! Yay!


back to top