Tomi Pakei's Reviews > Pesona: Bahasa Nusantara Menjelang Abad ke-21
Pesona: Bahasa Nusantara Menjelang Abad ke-21
by
by
Poesaka Persatoean yang kesepian
Dengan 700-an suku/puak, bahasa Nusantara yang kita punya kira-kira tak kurang dari itu pula (termasuk dialek). Dari 700, berapa yang diajarkan di sekolah? Hanya 30(!). Oh-oh..!
Bisa dibilang, buku ringkas ini membedah segalanya--dari informasi 'besar' seperti di atas, kreativitas nylenèh ala Dagadu (nama merk dari Yogya), hingga.. (Maaf, silakan lihat sendiri halaman 34-35, agak sensitif soalnya).
Pendeknya, sebuah buku yang cerdas, kaya informasi, serta relatif bijak menimbang kapan memberikan pendapat dan kapan sebaiknya mencukupkan diri dengan wacana.
Dengan layout yang menyegarkan, kita jadi tidak merasa bahwa karya hasil kerjasama LIPI, Gramedia dan The Ford Foundation (dengan Parakitri sebagai penyusun) ini pada dasarnya adalah sebuah 'laporan penelitian'.
Sekarang tinggal bagaimana kita saja, bahasa Nusantara (harta) sebanyak itu kita sikapi sebagai kekayaan atau justru beban? Atau, jangan-jangan bahkan dalam berbahasa Indonesia pun (Bahasa Persatoean) kita demikian nggak PD jika tak sesekali mengeluarkan kata Inggris (meski tidak sedang perlu)?
Sneak-preview:
https://www.goodreads.com/photo/work/...
Dengan 700-an suku/puak, bahasa Nusantara yang kita punya kira-kira tak kurang dari itu pula (termasuk dialek). Dari 700, berapa yang diajarkan di sekolah? Hanya 30(!). Oh-oh..!
Bisa dibilang, buku ringkas ini membedah segalanya--dari informasi 'besar' seperti di atas, kreativitas nylenèh ala Dagadu (nama merk dari Yogya), hingga.. (Maaf, silakan lihat sendiri halaman 34-35, agak sensitif soalnya).
Pendeknya, sebuah buku yang cerdas, kaya informasi, serta relatif bijak menimbang kapan memberikan pendapat dan kapan sebaiknya mencukupkan diri dengan wacana.
Dengan layout yang menyegarkan, kita jadi tidak merasa bahwa karya hasil kerjasama LIPI, Gramedia dan The Ford Foundation (dengan Parakitri sebagai penyusun) ini pada dasarnya adalah sebuah 'laporan penelitian'.
Sekarang tinggal bagaimana kita saja, bahasa Nusantara (harta) sebanyak itu kita sikapi sebagai kekayaan atau justru beban? Atau, jangan-jangan bahkan dalam berbahasa Indonesia pun (Bahasa Persatoean) kita demikian nggak PD jika tak sesekali mengeluarkan kata Inggris (meski tidak sedang perlu)?
Sneak-preview:
https://www.goodreads.com/photo/work/...
Sign into Goodreads to see if any of your friends have read
Pesona.
Sign In »

