Tomi Pakei's Reviews > Pintu-pintu Menuju Tuhan
Pintu-pintu Menuju Tuhan
by
by
Meneguhkan iman, membuka wawasan
Dalam pengantarnya, Goenawan Mohamad mengatakan bahwa setiap kali mendengarkan Nurcholish Madjid (Cak Nur), ia merasa ada yang terselamatkan dalam imannya.
Kata-kata indah itu rasanya mewakili, karena buku ini memang sungguh mencerahkan: menyegarkan dahaga keingintahuan sekaligus menjernihkan kesalahkaprahan.
Uraian Cak Nur memotivasi kita untuk lebih bersemangat mendekati-Nya karena Tuhan digambarkan sebagai Sesuatu yang hadir pada setiap insan (dan bukan sosok angkuh yang sibuk menjaga jarak). Dan agar manusia mudah mendekati-Nya, Yang Maha Esa menyediakan banyak pintu (bukan satu).
Dari pendekatan Cak Nur ini, beberapa hal bisa kita catat.
Dengan banyaknya pintu, Yang Maha Pengasih dan Penyayang sungguh luas dalam memberi kemudahan (dan bukan justru gemar membuat hidup manusia menjadi sulit--dengan hanya menyediakan satu pintu yang sarat penderitaan, misalnya).
Dengan pintu yang demikian majemuk, kita sungguh tak perlu berebut desak mengklaim kebenaran, karena pemahaman kita [tentang berbagai 'pintu' yang ada] toh (sangat) parsial. Jauh lebih penting adalah bagaimana menjadikan keterbatasan itu agar membuahkan manfaat [bagi sebanyak mungkin orang].
Pintu yang plural menyiratkan bahwa kita mempunyai pilihan, mengemban tanggung jawab. 'Menuju Tuhan' adalah suatu 'aktivitas dinamis' (dalam rangka mencari pemahaman yang lebih baik), bukan sebuah 'kemandegan statis' (dalam keyakinan membuta yang terkungkung pemahaman sempit).
Memang, kebebasan membuat pilihan terus-menerus sepanjang hidup adalah kuasa (baca: karunia) yang rasanya hanya relevan diberikan kepada mahluk berakal budi--manusia, karena bukankah (nanti) itu yang harus kita pertanggungjawabkan?
-------
Sneak preview:
Kelugasan Cak Nur dan pendeknya tulisan (rata-rata hanya dua halaman/satu lembar) membuat buku ini sungguh ringan dibaca.
Dalam 'Lebaran' (Pintu Etik dan Moral) misalnya, secara mudah kita akan diajak untuk memahami substansi hari raya umat Islam itu, agar tidak justru terjebak dalam hiruk-pikuk fisiknya. Sedangkan 'Sejarah sebagai Laboratorium' (Pintu Sejarah) akan membantu kita memahami mengapa di negara-negara maju, museum (dan segala sesuatu yang berhubungan dengan database atau sejarah) mempunyai 'nasib' yang jauh lebih baik daripada di banyak negara lain (yang tidak maju-maju).
Dan jika Anda termasuk orang yang harus membaca barang sedikit terlebih dahulu sebelum membeli, cobalah satu/lebih dari yang ini: 'Kebebasan Beragama' (Pintu Pluralisme dan Kemanusiaan), atau 'Bumi Allah itu Luas', 'Hikmah Perhitungan Tahun Rembulan', 'Ulama Bukanlah Pendeta' (Pintu Tafsir).
Sebagai sebuah kumpulan tulisan, buku ini tak harus dibaca urut. Tetapi topik-topik yang terbagi menjadi beberapa bab (seperti tentang 'takdir' dalam Pintu Tawhid dan Iman--empat tulisan) sebaiknya tidak dibaca secara sepotong-sepotong.
Selamat menikmati :)
Dalam pengantarnya, Goenawan Mohamad mengatakan bahwa setiap kali mendengarkan Nurcholish Madjid (Cak Nur), ia merasa ada yang terselamatkan dalam imannya.
Kata-kata indah itu rasanya mewakili, karena buku ini memang sungguh mencerahkan: menyegarkan dahaga keingintahuan sekaligus menjernihkan kesalahkaprahan.
Uraian Cak Nur memotivasi kita untuk lebih bersemangat mendekati-Nya karena Tuhan digambarkan sebagai Sesuatu yang hadir pada setiap insan (dan bukan sosok angkuh yang sibuk menjaga jarak). Dan agar manusia mudah mendekati-Nya, Yang Maha Esa menyediakan banyak pintu (bukan satu).
Dari pendekatan Cak Nur ini, beberapa hal bisa kita catat.
Dengan banyaknya pintu, Yang Maha Pengasih dan Penyayang sungguh luas dalam memberi kemudahan (dan bukan justru gemar membuat hidup manusia menjadi sulit--dengan hanya menyediakan satu pintu yang sarat penderitaan, misalnya).
Dengan pintu yang demikian majemuk, kita sungguh tak perlu berebut desak mengklaim kebenaran, karena pemahaman kita [tentang berbagai 'pintu' yang ada] toh (sangat) parsial. Jauh lebih penting adalah bagaimana menjadikan keterbatasan itu agar membuahkan manfaat [bagi sebanyak mungkin orang].
Pintu yang plural menyiratkan bahwa kita mempunyai pilihan, mengemban tanggung jawab. 'Menuju Tuhan' adalah suatu 'aktivitas dinamis' (dalam rangka mencari pemahaman yang lebih baik), bukan sebuah 'kemandegan statis' (dalam keyakinan membuta yang terkungkung pemahaman sempit).
Memang, kebebasan membuat pilihan terus-menerus sepanjang hidup adalah kuasa (baca: karunia) yang rasanya hanya relevan diberikan kepada mahluk berakal budi--manusia, karena bukankah (nanti) itu yang harus kita pertanggungjawabkan?
-------
Sneak preview:
Kelugasan Cak Nur dan pendeknya tulisan (rata-rata hanya dua halaman/satu lembar) membuat buku ini sungguh ringan dibaca.
Dalam 'Lebaran' (Pintu Etik dan Moral) misalnya, secara mudah kita akan diajak untuk memahami substansi hari raya umat Islam itu, agar tidak justru terjebak dalam hiruk-pikuk fisiknya. Sedangkan 'Sejarah sebagai Laboratorium' (Pintu Sejarah) akan membantu kita memahami mengapa di negara-negara maju, museum (dan segala sesuatu yang berhubungan dengan database atau sejarah) mempunyai 'nasib' yang jauh lebih baik daripada di banyak negara lain (yang tidak maju-maju).
Dan jika Anda termasuk orang yang harus membaca barang sedikit terlebih dahulu sebelum membeli, cobalah satu/lebih dari yang ini: 'Kebebasan Beragama' (Pintu Pluralisme dan Kemanusiaan), atau 'Bumi Allah itu Luas', 'Hikmah Perhitungan Tahun Rembulan', 'Ulama Bukanlah Pendeta' (Pintu Tafsir).
Sebagai sebuah kumpulan tulisan, buku ini tak harus dibaca urut. Tetapi topik-topik yang terbagi menjadi beberapa bab (seperti tentang 'takdir' dalam Pintu Tawhid dan Iman--empat tulisan) sebaiknya tidak dibaca secara sepotong-sepotong.
Selamat menikmati :)
Sign into Goodreads to see if any of your friends have read
Pintu-pintu Menuju Tuhan.
Sign In »
Reading Progress
Finished Reading
July 4, 2013
– Shelved
August 6, 2013
– Shelved as:
divine-spirit
August 29, 2013
– Shelved as:
1-ďŀ

